Semua Ayah yang Beruntung

Semua Ayah adalah orang-orang yang beruntung. Kepada mereka, Tuhan menganugerahkan anak-anak yang hebat. Jika bukan hebat bagi dunia, setiap anak pasti hebat di mata orang tua mereka.

Lino | Foto: Haris Saputra

Semua ayah yang Beruntung

Ruteng, 3 Februari 2017

Sebulan terakhir saya menyibukkan diri dengan ranalino.id, anak baru di semesta internet. Mengurus kelahiran anak maya itu membuat saya kehilangan banyak waktu bermain dengan Rana dan Lino. Saya hanya sekali jalan-jalan dengan mereka ke taman kota. Untunglah Ruteng itu kota hujan dan hujan itu selalu ada di Januari. Minimal di bagian jalan-jalan ini saya diselamatkan hujan. 

Tetapi di rumah, saya juga tidak banyak bermain dengan mereka. Hanya satu atau dua jam sebelum mereka makan malam. Setelahnya saya ada di depan laptop, login ke dashboard ranalino.id dan terpaku di sana sampai dinihari. Tidak ada dongeng sebelum tidur karena saya selesai utak-atik konten blog ketika mereka sudah lelap.

Pagi hari adalah waktu yang pendek karena saya selalu bangun terlambat dan menggunakan lebih banyak waktu untuk mencari kaus kaki. Kaus kaki ketemu, langsung cabut ke kantor. Sepanjang Januari begitu.

Baca juga: Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Sekarang Februari dan ranalino.id sudah mulai terindeks mesin pencari. Urusan selanjutnya hanya tinggal mengisinya dengan konsisten dan periksa lagi draf kumcer #PerjalananMencariAyam. Waktu di depan laptop sudah bisa dikurangi.

Malam ini adalah yang pertama saya mendongeng lagi, juga mendengar cerita Rana tentang harinya di sekolah. Dia cerita soal beberapa temannya yang suka mengganggunya yang susah minta maaf meski sudah diberitahu bahwa itu salah atau telah membuatnya sedih. "Tapi saya sudah kasitau mereka bahwa saya tidak suka, Bapa," tuturnya. Saya bilang itu sikap yang baik.

Saya lalu bilang bahwa saya adalah orang paling beruntung di dunia karena memiliki Rana, Lino, dan Celestin. "Bukan hanya Bapa yang beruntung," katanya, "Semua ayah di dunia beruntung karena mereka juga ada anak, istri, rumah tinggal, keluarga, dan semua yang mereka perlukan."

Rana lalu berdoa. Doa sebelum tidur, dan setelahnya siap mendengar dongeng. Saya tiba-tiba lupa mau cerita apa. (*)

---

Baca juga:

- Di Kampung Ada Satu Televisi: Pemirsa Nonton dari Balik Jendela, Ada yang Terlibat Cinta Lokasi

- Menabur Benih-benih Puisi di Halaman Pondok Baca Tapo Naga

- Kota Ruteng Dalam Koper, Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Pertama

Sanggar Tari di Ruteng: Awit Te Sae

Ini cerita tentang Sanggar Tari di Ruteng. Sanggar Tari Nusantara Awit Te Sae namanya.


Sanggar Tari di Ruteng: Awit Te Sae

Ruteng adalah kota kecil di Flores, Nusa Tenggara Timur. Geliat keseniannya berkembang baik. Banyak pegiat seni muda yang berusaha dengan caranya masing-masing membangun "cinta seni" bagi anak-anak. Claudia Febriani Djenadut, salah seorang koreografer muda di Kota 1000 Gereja ini, misalnya. Setelah bersama Komunitas Saeh Go Lino Ruteng menciptakan beberapa karya tari yang dipentaskan, tahun ini Febry memutuskan membuka sanggar tari. Sanggar tari milik Febry ini bernama Awit Te Sae, panggilan atau ajakan atau undangan agar menari. Siapa saja yang diundang untuk menari? Yuk, simak cerita Febry berikut ini. 

Mari Menari Bersama Sanggar Tari Awit Te Sae, Ruteng!

Hallo, saya Claudia Febriani Djenadut dan saya sangat suka menari. Ketika kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja, saya berkesempatan belajar beberapa tari tradisional Nusantara. ada tari Saman, Blantek Betawi, Dayak, dan beberapa lainnya.

Saya bahkan bergabung dengan salah satu sanggar tari profesional (spesialisasi tari Dayak) bernama Sanggar Bukonk Betaja. Di sini kemampuan saya terasah. Mulai dari tarian, organisasi, dan cara mengelola sanggar dengan baik. Saya berkesempatan mengikuti beberapa festival tari bersama sanggar ini; jalan-jalan gratis plus dibayar karena suka menari.

Hal ini yang kemudian memotivasi saya untuk membuka Sanggar Tari Tradisional Nusantara di Ruteng. Selain agar bisa terus menari, saya juga ingin menularkan semangat cinta budaya khususnya tari tradisional Nusantara kepada masyarakat Manggarai. Hal ini juga bukan tanpa alasan. Saya melihat, banyak sekali minat dan potensi dari masyarakat Manggarai khususnya para pemudi dan pemuda di Ruteng, Flores dalam bidang ini.

Dalam beberapa kesempatan, saya bersama Armin Bell mengorganisir pentasan dari beberapa naskah. Ada Sail Komodo 2013, Opera Wajah Pertiwi, Drama Musikal Ombeng, dan beberapa naskah kecil untuk acara-acara kecil.

Baca juga: Ombeng Itu Berarti Menari Kah?

Saya lalu membuka Sanggar Tari Nusantara di Ruteng bernama Awit Te Sae. Pada permulaannya, sanggar ini berisi dua tarian. Pertama, Tari Pendet dari Bali, dalam Kelas Diklat. Kelas ini diperuntukkan bagi yang belum pernah belajar tari sama sekali. Kedua, Tari Jaipong dan Blantek Betawi. Yang kedua dinamakan Kelas Komunitas; diperuntukkan bagi yang pernah belajar tari dan ingin belajar lebih lanjut.

Namun tidak menutup kemungkinan bagi yang sudah pernah belajar tari untuk masuk dalam Kelas Diklat apabila ingin belajar tari Pendet. Satu kelas berisi maksimal lima orang penari. Fasilitas yang didapatkan ketika belajar di sini adalah kain, korset, dan berlatih di depan cermin studio tari, sehingga bentuk penari akan lebih maksimal.

Sanggar Tari Awit Te Sae, Ruteng menerima siswa mulai dari usia minimal enam tahun, tanpa batas usia maksimal. Mengapa enam tahun? Ada beberapa alasan.

Pertama, pada usia ini anak sudah bisa menentukan keinginannya, mau ikut sanggar tari atau tidak, dan bukan karena paksaan orang tuanya. Dengan demikian, anak mengikuti kelas tari ini dengan senang dan merdeka.

Kedua, dengan alasan pertama maka anak akan lebih sepenuh hati belajar di sanggar ini. Saya pribadi bercita-cita agar output dari sanggar ini akan benar-benar punya “bentuk” penari, dalam arti tidak hanya sekadar bergerak dan memakai kostum tari yang cantik. Penari harus melakukan semuanya dengan hati sehingga wiraga, wirasa, dan wiramanya bisa diterima lalu menghasilkan bentuk yang indah.

Ketiga, sejak usia enam tahun, anak juga sudah lebih mudah diarahkan. Situasi ini memungkinkan proses 'transfer ilmu' akan berjalan lancar (dan sesuai dengan alasan kedua). Dengan ini penari akan lebih disiplin dan bertanggung jawab. 

Disiplin misalnya, rentangan tangan dalam tarian harus dilakukan dengan benar sesuai sudutnya yakni 45’, 60’, 90’, lurus, diagonal. Bertanggung jawab misalnya, dalam menyelesaikan hitungan gerakan. Seringkali dalam gerakan stakato (gerakan patah-patah atau gerakan cepat), penari khawatir tidak dapat mengejar gerakan selanjutnya sehingga melakukan kecurangan dengan tidak menyelesaikan hitungan. Hitungan yang seharusnya 1 sampai 8 hanya ditarikan 1 sampai 6. Hal ini kemudian membuat tarian terlihat terburu-buru, tidak selesai, bahkan yang terburuk adalah makna gerakan tidak akan sampai ke penikmat tarian. Ini menjadi salah satu dari banyak gol yang ingin dicapai bersama di sanggar ini.

Tentang Nama Sanggar: Awit Te Sae

Mungkin ada yang bertanya mengenai pemilihan nama Awit Te Sae? Di Manggarai, awit berarti memanggil dengan gerakan tangan--dilakukan dengan lembut. Te artinya untuk. Dan, sae merupakan salah satu gerakan dasar tarian Manggarai. Jadi ketika digabung akan menjadi sebuah ajakan untuk menari. Mari menari!

Baca juga: Tentang Proses Penciptaan Karya Seni; Apakah Tukang Plagiat Bersalah?

Selanjutnya, dalam setiap unggahan di media, akan menggunakan tagar (tanda pagar) atau hashtag (hestek) #AwitTeSaeh. Seperti pada umumnya, hashtag (hestek/tagar) berfungsi untuk menandai sebuah label secara spesifik. 

So, mari bergabung bersama #AwitTeSae. Untuk informasi lebih lanjut mengenai biaya pendaftaran dan biaya berlatih dapat langsung menghubungi saya via facebook messanger di akun Febry ‘Djiboel’ Djenadut. 

Selamat datang di #AwitTeSae.

Setelah Membaca Buku Puisi Perdana Felix K. Nesi

Sebagian besar tulisan ini telah ada di akun facebook saya; sebuah caption foto yang panjang berjudul "Kita Pernah Saling Menghibur".

Buku puisi Felix K. Nesi Kita Pernah Saling Mencinta

Setelah Membaca Buku Puisi Perdana Felix K. Nesi

Felix K. Nesi baru saja menerbitkan buku puisi. Itu adalah buku puisinya yang pertama, berjudul Kita Pernah Saling Mencinta (GPU, 2021). Sebelumnya, Felix telah menerbitkan dua buku. Kumpulan cerpen Usaha Membunuh Sepi (Pelangi Sastra, 2016) dan novel Orang-Orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019). Orang-Orang Oetimu sendiri adalah naskah yang adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. 

Ulasan tentang Orang-Orang Oetimu dapat dibaca di sini!

Buku puisi Kita Pernah Saling Mencinta sendiri dijelaskan sebagai: ...buku puisi perdana Felix K. Nesi. Dalam buku ini terangkum jejak kepenyairan Felix selama rentang 2008-2019. Persoalan keluarga, kerontangnya alam, dan peliknya menjadi yang bukan diutamakan adalah tema-tema yang digaungkan dalam buku puisi ini (GPU, 2021)

Saya dapat buku ini, beredisi bertanda tangan penulis, lengkap dengan ucapan. "Selamat membaca, berhentilah bersedih. Semua akan baik-baik saja." Felix menulis demikian dan saya senang sebab harapan itu, bahwa semua akan baik-baik saja, adalah yang diperlukan semua orang. Bukankah memang harus begitu? Dalam setiap persoalan keluarga, kerontangnya alam, dan segala peliknya, yang ingin kita dengar adalah suara yang dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. 

Maka saya lalu membaca buku puisi itu, sambil berharap bahwa setelahnya saya akan mampu mengatakan pada diri sendiri atau siapa saja yang pernah dan sedang bergelut dengan kesedihan (setiap orang memiliki kesedihannya masing-masing) bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi ternyata tidak. Tidak segera. Mungkin setelah berjarak beberapa hari setelah membaca buku itu, saya akan mampu mengatakannya. Pada kesempatan pertama? Saya ragu.

Baca juga: Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020: Plagiarisme?

Sebagaimana yang kerap terjadi--harapan dan kenyataan kadang tak berjalan beriringan, saya kira saya harus berhenti sejenak selesai membaca beberapa puisi; berusaha merumuskan dalam bahasa yang paling mudah dimengerti tentang apa yang sedang saya rasakan? Mungkin kesedihan, tetapi semoga saja keyakinan bahwa semua akan benar-benar baik-baik saja, atau sesuatu yang sama sekali lain. 

Usai membaca "Di Rumah Seorang Asing yang Tak Henti Membicarakan Rambut dan Warna Kulit" saya ambil waktu berhenti lebih banyak. Felix menulis puisi ini di Malang, pada tahun 2015. Sebuah protes barangkali. Atau curahan hati. Atau yang menggabungkan keduanya. Atau sesuatu yang mungkin sedang disiapkan sebagai landasan harapan (atau doa?) agar perkara identitas: diskriminasi-curiga-ketidakadilan-pengabaian segera selesai; ....// Di perhentian berikut/ kita berpandang-pandangan/ Tak ada persimpangan/ tetapi kita/ tak ingin beriringan.//

Dan bahkan setelah memutuskan mulai lanjut membaca puisi-puisi yang lain, rumusan yang paling mudah dimengerti tentang apa sebenarnya yang sedang saya rasakan tentang yang baru saja selesai saya baca itu tetap saja tidak pasti; mungkin kesedihan, tetapi semoga saja keyakinan bahwa semua akan benar-benar baik-baik saja.

Baca juga: Hoiiiii....

Saya berhenti lagi. Lebih lama. Pada satu puisi yang lain. Dan sepertinya akan selalu berhenti. Cara membaca seperti ini barangkali akan terjadi sepanjang menikmati Kita Pernah Saling Pencinta ini. Ah, iya. Keterwakilan. Saya kira itu yang saya rasakan. Kira-kira begitu. Felix menulis tentang kita. Oleh sebab itulah buku yang di dalamnya ada puisi "Doa Kakak" ini menjadi wajib ada di rak-rak buku kita semua:

Doa Kakak

Potong tanganku, Aina

Bawa ke atas ke awan-awan

Tunjukkan jalan menuju surga.

Malang, 2014

Namun tentu saja, resepsi kita atas setiap bacaan sangatlah subjektif. Ada istilah frame of reference dan field of experience dalam Ilmu Komunikasi yang turut serta memberi pengaruh pada bagaimana kita menanggapi sesuatu. Termasuk di dalamnya adalah tanggapan siapa saja yang telah membaca Kita Pernah Saling Mencinta akan sangat berbeda dengan apa yang saya ceritakan tadi. Tetapi di luar semua itu, Felix K. Nesi selalu menulis dengan enak. Ini bahasa yang tepat kah? Pokoknya begitu.

Terima kasih, Felix. Semangat selalu. Semua akan baik-baik saja! Saya masih tunggu kiriman Tua Kolo. (*)

Salam dari Ruteng

Armin Bell

Birding, Birdwatching, Pengamatan Burung; Pekerjaan Macam Apa Itu?

Pengamatan burung atau birdwatching atau birding adalah sebuah jenis rekreasi dengan bentuk kegiatan mengamati burung. Apakah Anda pernah melakukannya? Rekreasi jenis ini barangkali belum banyak kita ketahui. Kenapa? Halaaah...

Image: Courtesy of jagarimba.id

Birding, Birdwatching, Pengamatan Burung; Pekerjaan Macam Apa Itu?

Oleh: Ucique Jehaun

Sampai tahun 2012 saya pikir profesi khusus pengamat burung hanya ada di Amerika atau Eropa. Pokoknya negara-negara yang sering muncul di acara Wild Life atau National Geographic pada televisi berbayar. Tidak pernah terbesit dalam bayangan saya bahwa warna warni pengetahuan tentang fauna aves ini akan begitu dekat dengan saya. Birder-istilah untuk pengamat burung, menjadi familiar di telinga, I even married to one.

Menurut Wikipedia, pengamatan burung (bahasa Inggris: birdwatching atau birding) adalah sebuah jenis rekreasi dengan bentuk kegiatan mengamati burung. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengamati burung di alam bebas melalui mata telanjang, menggunakan alat bantu seperti teleskop atau teropong binokular, atau sekadar mendengarkan suara ciutan burung.

Banyak orang yang masih merasa aneh dengan kegiatan mengamati burung di alam liar. Maklum, sebagian orang Indonesia, suka menjadikan burung sebagai peliharaan dalam sangkar, paling banyak saya lihat di Jawa. Bahkan jual beli binatang ini punya tempat khusus yang disebut "pasar burung". Selain itu kata burung lebih sering diasosiasikan dengan genital pria atau hal-hal yang berbau seksual. Tak anyal saat omong burung mulai sudah pelesetannya macam-macam, apalagi kalau yang omong perempuan. Aduh saya tak bisa bayangkan nasib pengamat burung perempuan kalau datang ke Manggarai.

Saya pernah sekali ikut birding. Entahlah... Saat itu memang saya hanya mengekor birder kami dari rumah ke hutan di kawasan Golo Lusang, Ruteng dengan sepeda motor. Setelah parkir di pinggiran jalan dekat hutan kami mulai berjalan mengikuti setapak kecil berumput. Saya merasa agak geli, soalnya banyak yang bilang kalau area tersebut sering dipakai buat pojokan oleh pasangan yang ingin berduaan. Padahal saya perginya sama suami. Maklumlah, meski kelahiran 84 wajah kami memang masih 94.

Baca juga: Ngkiong, Kancilan Flores Bersuara Merdu dan Intel yang Tak Suka Pamer

Setelah beberapa menit memasuki area hutan, kami berhenti dan saya disuruh untuk tidak bersuara. Peralatan dipasang, sebuah tripod kamera dan speaker kompatibel kecil diambil dan sang birder sibuk dengan teropong. Beberapa kali Yovie, nama birder yang adalah suami saya itu, menggumamkan sesuatu. Saat itu saya kesan saya adalah: sangat membosankan. Di mana letak "rekreasi"-nya? Tidak berapa lama kami bertahan dan kemudian pulang. Saya tidak pernah ikut birding alias birdwatching alias pengamatan burung lagi setelahnya.

Foto: Yovie Jehabut

Birding
dan kisah kehidupan bangsa aves sudah jadi hal yang setiap hari dibahas di rumah kami. Kami bahkan punya proyek Kalender Burung- burung Endemik Flores tahun 2021. So many stories are discovered everyday. Jurnal, buku, situs, dan jalinan pertemanan tiba-tiba hadir seperti jaring hologram yang ada di dalam rumah. Istilah-istilah macam birding, inaturalist, endangered, pandemik dan beberapa lainnya kadang saya ucapkan dalam obrolan seolah-olah saya juga seorang birder. Padahal saya awam, penikmat cerita dan kisah mengenai keunikan burung di alam ini. 

Jika ingin baca cerita-cerita tentang pengamatan burung bisa baca di jagarimba.id

Pengamat Burung (Birder) sebagai Profesi 

Pertanyaan yang sering saya dapatkan sebagai istri seorang pengamat burung adalah, "Kut coon hia ngo lelo agu foto burung eta puar?" dengan nada ingin tahu bercampur dengan rasa aneh yang kental; untuk apa dia ke hutan melihat burung dan mengambil gambar burung-burung itu? 

Atau kadang ada yang menyalahartikan kegiatan melihat burung di hutan ini untuk pergi berburu burung dengan pertanyaan: "senapan de run ka'e?" (pakai senapan milik sendiri, kak?). Hal yang sangat kontradiktif--bagaimana mungkin seorang pengamat burung pergi berburu/menembak burung? Saya hanya bisa jawab bahwa itu dilakukannya adalah hobi. Sungguh tak memberikan kepuasan bagi si penanya. Sebab ada juga yang merasa aneh kalau saya bilang profesi suami saya adalah "pengamat burung". Gelap sekali pasti bagi orang untuk bisa memahami hal ini, apalagi pertaliannya dengan penghasilan (baca: uang). Untuk mempermudah biasanya saya jelaskan kalau foto burung tersebut akan dijual online

Menjadi pengamat burung bukan sekedar duduk-nonton-foto-upload foto-orang beli-kirim uang-tarik uang dan kemudian beli nasi padang. Tidak semudah itu, Fergusso. Alur yang dilakukan panjang, harus sabar dan intinya benar-benar mencintai dunia alam. Itu pun masih tidak cukup. Harus baca jurnal, melakukan penelitian mandiri, rajin ke lapangan, ikut komunitas pengamat burung, dan aktif untuk melaporkan hasil penemuan. Salah satu aktivitas reguler adalah Asian Waterbird Census (AWC). 

Asian Waterbird Census (AWC) merupakan kegiatan tahunan yang bersifat sukarela yang dilakukan setiap minggu ke-2 dan ke-3 di bulan Januari (lihat tentang AWC di sini). AWC merupakan kegiatan pemantauan burung air yang dikoordinasi oleh Wetlands International dan merupakan salah satu kegiatan bagi upaya konservasi burung air dan habitat lahan basah mereka.

Baca juga: Analisis Cerpen tentang Ngkiong, Nada-Nada yang Rebah

Di Indonesia, pengamatan burung sudah mulai semarak. Banyak kegiatan, komunitas, dan bahkan wisata khusus untuk para pengamat burung. Di Flores, kegiatan pengamatan secara khusus awalnya muncul karena program wisata.

Kesadaran akan bahaya penembakan liar masih sangat minim, sehingga masih sering ditemukan orang-orang yang melakukan penembakan liar kemudian dengan bangga menggunggah fotonya di media sosial. Alasannya cenderung untuk senang-senang karena kalau untuk dijadikan lauk, toh dagingnya tak seberapa. Padahal burung tersebut hampir punah. Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa burung-burung di hutan adalah penyebar biji-bijian yang menumbuhkan pohon-pohon di hutan. Jarang kita, manusia, ingat bahwa keberadaan satwa di sekitar kita sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia. Paling sedih kalau ada yang tembak atau tangkap induk burung atau mengambil sarang burung yang ada anak-anak burungnya. Naluri alami sebagai ibu tidak hanya ada pada manusia, tapi juga pada hewan. 

Peralatan Birding/Pengamatan Burung

Saya sendiri masih heran kalau melihat Yovie mulai online window shopping. Lihatnya kamera, teropong, mikrofon (yang bentuknya silinder lengkap dengan bulu-bulu persis seperti alat cat labur tembok), GPS khusus yang terhubung dengan jaringan jurnal penelitian, alat perekam khusus, dan baju kamuflase. Beberapa barang tersebut di rumah kami, tersimpan dalam kotak kontainer khusus.

Pernah ada pengamat burung dari Amerika yang datang dengan peralatan dan asesoris yang terasa aneh dan di luar dugaan, misalnya label penomoran yang dibuat khusus yang bisa dililitkan di kaki burung. Bahannya aman dan dibuat khusus. Nah suatu saat burung ini terbang atau bermigrasi dan kebetulan ada pengamat burung lain yang menemukannya, nanti dicatat dan terhubung dengan sistem yang kemudian akan menjadi bahan pemetaan pergerakan burung. Ini adalah salah satu bentuk instrumen penelitian.

Pengamatan Burung sebagai Hobi 

Sekarang saya mulai ikut-ikutan follow akun media sosial yang berkaitan dengan pengamatan burung. Ternyata banyak juga pengamat burung yang sangat amatir dan melakukannya hanya sebagai pengisi waktu senggang. Apalagi saat pandemi. Beberapa artikel berbeda saya temukan dengan kata kunci "birding in my backyard"

Kalau kaitannya dengan hobi, kita seringkali menemukan hal yang unik. Ada seorang pengamat burung, kalau tidak salah dari Amerika, pernah datang dan meminta Yovie untuk memandu selama kegiatannya berlangsung di Flores. Dia mengaku akan mati dengan tenang karena telah melihat langsung seekor burung di Sanonggoang, Manggarai Barat yang telah lama menjadi bucket list dalam hobi pengamatan burungnya. Padahal mengambil foto juga tidak! Hanya melihat dan membuktikan apa yang pernah dia baca mengenai burung tersebut. Ckckck!

Lalu bagaimana saya? Setelah birding pertama yang berkesan membosankan, saya belum pernah melakukannya lagi. Saya lebih senang menikmatinya melalui tulisan di jagarimba.id. Semoga kita semua selalu sehat dan pandemi segera selesai sehingga aktifitas wisata termasuk pengamatan burung bisa hidup kembali. 

Mari kita jaga alam kita!

.

Ruteng, Maret 2021

Ucique adalah anggota Klub Buku Petra, Ruteng.  

Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

 Mojok menyiarkan artikel berjudul Nama-nama Anak Orang Manggarai yang Selalu Melampaui Zamannya. Penulisnya, Salimulloh Tegar Sanubarianto, bukan orang Manggarai, sehingga tulisan yang (barangkali) dimaksudkan untuk jadi dark joke, malah jatuh-jatuhnya ke bullying. Saya orang Manggarai dan merasa tidak enak hati membacanya. Saya menulis artikel ini untuk menambah perspektif kita tentang bagaimana kami, orang-orang Manggarai, melakukannya: memberi nama pada seseorang.


Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

Artikel yang disiarkan Mojok itu merupakan tulisan pertama Salimulloh di media itu. Tulisan pertama yang ditayangkan; saya tidak tahu telah berapa kali dia mencoba dan saya senang sekali bahwa media itu, yang menayangkan tulisan-tulisan nan santai, memberi ruang pada Salimulloh. 

Sebab Salimulloh tinggal di NTT (berdasarkan keterangan di profil Mojok) dan saya orang NTT, saya ikut senang juga. Tetapi lalu merasa sedikit sedih. Dia, penulis itu, tidak terlampau baik (IMHO) menyampaikan sesuatu yang (barangkali) dimaksudkan sebagai dark joke (saya berusaha menjelaskannya nanti di bagian akhir tulisan ini). 

Kalau saja Salimulloh Tegar Sanubarianto mau lebih banyak ngobrol dengan orang-orang Manggarai--yang punya nama belakang yang membuatnya tercengang, mengambil waktu lebih bertanya-tanya (sebab begitu sebaiknya laku seorang yang ingin menulis), dia pasti tidak akan berani menulis kalimat ini di artikelnya: Nama-nama anak di Manggarai betul-betul diracik secara acak oleh orang tua mereka.

Baca juga: Inspirasi Menulis dari Hal-hal Remeh di Sekitar Kita

Tidak ada yang acak, Kak. Sebab siapakah yang berani melakukan sesuatu yang acak pada sebuah ritual yang tata upacaranya terwariskan dari ratusan/ribuan tahun lampau? Jumlah dan paduan warna bulu ayam jantan yang dipersembahkan tidak boleh asal. Titik tempat penyembelihan tidak boleh serampangan. Doa-doa puitis (torok) yang didaraskan dalam go'et, dengan rima kata dan huruf, tidak boleh tersendat; tersendat berarti pertanda akan ada bala dan kau perlu seekor ayam hitam untuk menolaknya. Masih banyak lagi, hal-hal bukan random, pada upacara pemberian nama bagi orang Manggarai. 

Cear cumpe adalah nama ritual itu. Sesuatu, yang dalam terminologi Dave Pelzer adalah It (lihat buku pertama trilogi Dave Pelzer), setelah upacara itu resmi menjadi seseorang. Seseorang bernama Robot, Samsung, Supervisi, Peristiwa, Jutnadin, Hormat, dan lain-lain. Mereka menyandang nama itu. Juga harapan-harapan yang terkandung di dalamnya, harapan yang hanya diketahui oleh orang tua selaku pemilik anak yang mendapat panduan/persetujuan dari opa-oma si anak bersama tua adat yang mempersembahkan doa-doa. Si tua adat mendapat kemampuan itu melalui wahyu: mimpi, tanda alam, dan lain-lain. 

Tidak acak, Kak. Nama itu, yang juga dikenal dengan istilah ngasang manuk (nama ayam)--sebab untuk disematkan pada si it, seekor ayam jantan dipersembahkan kepada leluhur--bisa saja berarti: agar anak lelaki itu kelak sekuat robot, agar anak perempuan itu bisa sehebat Cut Nyak Dien, agar saya bisa menjadi anak yang baik; Nak, jadilah good --> Nagut.

Baca juga: Anda Kritik Karya Saya, Karya Anda Sudah Bagus?

Harusnya, kalau Salimulloh mau bersabar bertanya tentang semua itu sebelum menulis artikel itu, dia tidak akan tega menyebutnya sebagai: kecerdasan verbal para orang tua Manggarai inilah yang saya sebut melampaui zaman. Ah, iya. Saya bilang tega sebab meski sepintas terlihat sebagai pujian tetapi terbaca juga niat mengolok-olok; semoga saja tidak dimaksudkan demikian.

Maksud saya, bahwa kemudian dirasa melampaui zaman, ritual pemberian nama pada seseorang di Manggarai (dan di seluruh dunia fana ini, saya kira) adalah sesuatu yang kontekstual. Sehingga, meski nampak lucu, tidaklah untuk dijadikan lelucon. Lelucon tentang nama orang tidak pernah lucu, sama tidak lucunya dengan menjadikan kearifan lokal sebagai materi lawakan (kecuali jika dark joke itu dilakukan 'orang dalam').

Salimulloh harus tahu juga bahwa sebelum diberi nama, kami, bayi-bayi di Manggarai disebut ta'i (tahi) ketika lahir; dilakukan untuk mengelabui setan yang berniat mengambil nyawa anak-anak manusia. Setan tentu tidak berniat mengambil tahi, kan? 

Kearifan-kearifan demikian, sekali lagi, meski nampak lucu dan aneh, sesungguhnya adalah sesuatu yang sakral dengan tujuan mulia: pro-life; sebuah kehidupan mesti diselamatkan dan bullying bukanlah salah satu tindakan yang mendukung kehidupan.

Baca juga: Tentang Proses Penciptaan Karya Seni, Apakah Tukang Plagiat itu Bersalah?

Namun, bisa saja saya yang overthinking. Salimulloh barangkali hanya ingin meneruskan lelucon teman-teman Manggarainya. Sebuah niat yang mulia. Yang sayang sekali tidak diikuti oleh kesadaran lain: yang boleh menyapa Nigga kepada orang Afro-Amerika adalah orang Afro-Amerika sendiri; yang bikin Mop Papua adalah orang Papua; yang boleh merasa sedikit lucu dengan keterbatasan gerak fisik adalah orang-orang berkebutuhan khusus. Di luar itu? Jika kau bukan orang dalam, tertawalah di ruang privat. Atau tertawa bersama kami ketika kami menceritakannya sebagai lelucon.

Sebab begini. Lelah juga rasanya melihat orang-orang melakukan/mengatakan sesuatu untuk/tentang kami dengan perspektif mereka: orang-orang membangun taman mewah untuk Komodo yang liar--terlihat seperti menyelamatkan tetapi tentu saja mencerabut mereka dari akarnya; membuat sesorang bernama Jutnadin menyalahkan para leluhur yang merestui namanya sebagai kaum yang menempatkan pada obyek lelucon: cie cie cie... pahlawan nasional ni yeee.

Di Ruteng, bersama-sama teman-teman Saeh Go Lino, kami kerap main plesetan. Lucu. Tetapi jika plesetannya sudah menyebut nama orang, pelakunya dapat sanksi. Sebab nama adalah doa. Begitu.

Salam

Robertus Bellarminus Nagut

Surat Keberatan Atas Surat Keberatan Hendra Eiger

Sebab ini adalah surat keberatan atas surat keberatan Hendra Eiger maka baik juga rasanya kalau kita tahu siapa si Hendra Eiger itu. Hendra Eiger adalah seseorang bernama Hendra yang bekerja di Eiger. Halaaaah...

Henda Eiger

Surat Keberatan Atas Surat Keberatan Hendra Eiger

Sampai sekarang, tiap ketemu orang yang salah satu bawaannya adalah produk Eiger, saya selalu bilang (dalam hati), horang kayaaah ini. Ini tanggapan warisan tempo doeloe sih sebenarnya. Yaitu pada zaman kuliah berabad-abad silam. 

Begini ceritanya. Sebab ingin menjadi bagian dari kerumunan mahasiswa-mahasiswi keren di kampus, saya membeli satu produk eiger. Eh... ralat. Sebelum kata membeli, harusnya ada kata bermimpi/berkhayal/berniat. Dan kita tahu, mimpi selalu hanya berujung pada bangun pagi dan menyesal; tak ada eiger hari ini, Aan. Eh?

Pokoknya begitu. Mimpi membeli produk Eiger bagi anak dari jauh macam saya, yang datang dari timur dan kuliah di Jawa, itu rasanya terlalu besar. Ya, iyalah... Ekonomi pas-pasan, uang tiket dari kampung ke tempat kuliah saja bisa sebesar biaya hidup sebulan setengah, mau beli barang mahal hanya agar bisa bergaul? Pikir-pikir lagi, Kak.

Padahal, kalau dipikir-pikir, konsepnya gak begitu juga, kan Hendra? Maksud saya, zaman itu dan setelahnya dan hingga kini, produk-produk Eiger memang paten kuatnya. Artinya, secara ekonomi, membeli satu produk mahal dan bisa dipakai tembus tahun dan musim (dan tetap keren) itu jauh lebih menyelamatkan keuangan daripada harus terus menganggarkan setiap tiga bulan untuk produk sejenis dengan harga yang lebih murah tetapi masa pakainya tidak sampai satu semester kan? 

Tetapi, ya... meski berhasil memainkan hitung-hitungan begitu di kepala, tetap saja tangan tak sampai memeluk tas merk kenamaan itu. Maka beralihlah kita (apa? kita?) ke emperan toko, tempat berbagai merk berhasil ditembak, meski kadang urutan hurufnya jadi salah; egier, ieger, eger, eit...geer, eiger r-nya dua, dan lain-lain. Duh... Situasinya jadi mirip dengan ketika SMA di pertengahan 90-an, saya berbangga sekali mengenakan sepatu sekolah merk Kasogi (terkenal sekali pada masa itu dan ehm... lumayan mahal juga) dan mendadak hilang rasa sebab seorang teman memakai sepatu yang mirip sekali tetapi merk-nya Kosagi. Mama e...

Baca juga: Kota Ruteng dalam Koper

Hanya saja, ungkapan ada uang ada barang itu memang benar adanya. Dalam arti, kalau ada uang yang cukup, kau akan dapat barang yang tahan lama. Eiger ada di level itu. Mau pakai barang yang tembus zaman? Beli Eiger, Kak. Bahkan ketika sudah bulukan, kau tetap bisa melangkah dengan kepercayaan diri yang tinggi ketika mengenakannya. Dan itu dipahami. Oleh siapa saja yang hendak membeli. Tidak ada tawar-menawar. Sebab tawar-menawar harga pas tancap gas hanya ada di lagunya Iwan Fals. Om Polisi yang saya temui tidak pernah begitu. Catat!

Artinya? Kalau konsumen sudah sampai di level kepercayaan diri (dan percaya pada brand) sebesar itu, harusnya produsen rileks-rileks saja. Rasanya begitu. Dulu. Eiger tidak pernah protes pada mahasiswa yang tetap keukeuh memakai produk mereka dan foto-foto walau produk itu sudah terlihat pucat pasi dimakan ganasnya angin gunung dan dinginnya lembah ngarai... Ahaiiii... Eiger memang lebih akrab dengan mahasiswa pencinta alam. Dan mencintai alam itu keren sekali. Di zaman kami begitu. Entah sekarang.

Eh.... Iya... 

Sekarang beda. Eiger, melalui HCGA & Legal Manager bernama Kak Hendra tidak suka kalau produk mereka ditampilkan dengan warna yang tidak sebagaimana mestinya. Ah, Hendra Eiger yang budiman. Mereka melayangkan protes kepada beberapa youtuber yang me-review produk mereka dengan menggunakan peralatan yang tidak baik. 

Jagad twitter langsung ramai doooong. Pastinya. Sebab salah seorang youtuber yang dapat surat cinta itu mengunggahnya, dan beberapa youtuber lain yang juga mendapat surat yang sama ikut unggah, dan mahabenar netizen langsung bersatu-padu mengolok-olok. Yang tidak pernah sanggup beli produk mereka juga ikut. Mungkin sekadar membalaskan dendam saja; barang kok tidak bisa ditawar harganya.

Di tengah keriuhan semacam itu, saya coba mengingat-ingat lagi hal-hal seputar review. Salah seorang youtuber/influencer di luar negeri pernah juga dapat masalah. Masih ingat Elle Darby? Youtuber asal Inggris mengajukan proposal untuk bermalam gratis di Hotel Charleveille Lodge di Dublin Irlandia. Dia, dalam proposalnya mengajukan akan membuat review positif sebagai kontra prestasi.

Pemilik hotelnya menolak dooong. Pakai acara menghina pula. Ya... diunggahlah penolakan cum bully-an macam itu. Ramai kita. 

Penginapan mewah di Dublin, Irlandia tersebut merasa dirugikan? Iya, pasti!

Tetapi mereka tidak hilang akal. Darby dikirim tagihan senilai 5.289.000 Euro. Lebih dari 80 miliar kalau dirupiahkan. Ceritanya, pihak hotel merasa Darby mendapat keuntungan dari publikasi persengketaan mereka yang jadi viral. Invoice Charleveille Lodge menyatakan biaya itu ditagihkan untuk “114 artikel di 20 negara dengan jangkauan potensial ke sebanyak 450 juta orang”. Wow... Hmmm... masuk akal. Masuk akal? Heh...

Baca juga: Menjadi Blogger Tidak Akan Buat Seseorang Mendadak Keren (Bagian 11)

Tim legal begitu kira-kira yang diperlukan Eiger. Iya kah? Jangan. Surat tagihan itu hanya lelucon. Jangan ditiru. Tim Legal macam Kak Hendra Eiger juga sebaiknya jangan ditiru. Tidak baik menghina kualitas kamera dari orang-orang yang me-review positif produk Anda, Kak.

Kecuali kalau surat semacam itu Kak Hendra Eiger kirim sebagai motivational message; kalau salah satu sumber pendapatanmu adalah dengan menjadi youtuber, ayo invest, kak. Nanti dipakai buat ng-endorse. Misalkan begitu. 

Apakah memang harus begitu? Maksudnya, youtuber yang mau cari hidup dengan me-review produk, atau youtuber apa saja, harus pakai kamera yang nyaman mata ini dan adem hati ini? Harapannya sih begitu. Paling tidak di mata Kak Hendra. Hendra Eiger. Apa kabar Kak Hendra kalo Kak Alip Ba Ta yang tetap bertahan dengan poster penjumlahan dan alfabet di belakang video permainan gitarnya yang ciamik itu memakai jam tangan Eiger di salah satu videonya? Eh, poster itu sudah hilang ya?

Tetapi, judul suratnya jangan pakai kata keberatan lah. Pakai kata lain. Jadinya "Surat Lain". Halaaah.... Pokoknya begitu. 

Dan taraaaaa... Eiger lalu membuat surat yang lain. Agar kisruh ini segera berhenti. Tetapi tetap saja sih. Lagu-lagunya sama juga: surat pertama memang ditujukan agar youtuber bersangkutan naik kelas. Begitu kira-kira poin kedua di surat kedua Eiger. Ih... Eiger ada rencana bikin PH Audio Video kah, sampe segitunya?

Rasanya tidak enak sekali; sudah berhasil menabung buat beli Eiger, eh Eiger-nya sedang menabung masalah. Bikin Hendra, eh, bikin heran, bukan? 

Eiger yang terkenal di kalangan anak muda, malah memakai cara yang tidak anak muda dalam manajemen konfliknya; meremehkan usaha baik orang lain yang mungkin memang belum terlampau baik hasilnya. Jelas saya keberatan atas dua surat Eiger itu. Sebab harganya memang selalu mahal. Halaaah... (*)

Salam

Armin Bell - Ruteng, Flores

Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020; Plagiarisme?

Ada karya yang membahas buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan karya Puji Pistols di daftar pemenang. Karya yang sebagian besar pernah kami siarkan di bacapetra.co.

Materi Promo Sayembara Kritik Sastra Badan Bahasa 2020

Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020

 

Ruteng, 19 Desember 2020

Bahan bacaan untuk tulisan ini ada di tautan ini: SEPULUH LOMPATAN PUITIK PUJI PISTOLS.

Pekan terakhir bulan September 2020, Grup WhatsApp Redaksi Bacapetra.co agak ramai, ramai yang sedikit lain, sebab rasanya kami seperti sedang bergosip, sesuatu yang tidak sering terjadi di grup yang jika tidak berisi laporan hasil kurasi maka akan berisi siraman rohani (eh?). 

Saat itu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengumumkan nama-nama dan karya pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020. Ada karya yang membahas buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan karya Puji Pistols di daftar pemenang, dan ada yang ingat bahwa bacapetra pernah menyiarkan ulasan yang juga membahas buku itu, dan penulisnya adalah orang yang sama. 

Saya lalu membaca pertanggungjawaban juri dan bertemu penjelasan yang membuat dugaan bahwa "kayaknya ini karya yang sama yang kita su muat e" semakin kuat. Tentu saja hal semacam itu bukan masalah andai tidak ada syarat 'naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme' dalam salah satu syarat sayembara itu. 

Baca juga: Buku Harian atau Diary; Sejarah Pengertian dan Manfaat

Namun, modal dugaan semata bukan alasan yang baik untuk menyalahkan siapa pun. Iya to? Maka kami, Tim Redaksi Bacapetra.co--media literasi yang bergerak dari Ruteng, NTT--memutuskan untuk tanya baek-baek ke panitia melalui alamat surel penyelenggara.

Surat yang dikirim tanggal 30 September 2020 itu sebagai berikut:

Salam, 

Sehubungan dengan diumumkannya Penetapan Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, di mana karya Sucipto atau naskah nomor. 9 berjudul: "Poetika Pelenyapan Diri ala Zhang Daqian dan Lompatan Puitik Puji Pistols", terpilih sebagai Terbaik III (Sumber: Pemetapan Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020) serta menimbang salah satu syarat bahwa: naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme (Bdk.: SAYEMBARA KRITIK SASTRA 2020), maka melalui surat ini kami memohon kesediaan Panitia/Juri untuk memastikan kembali orisinalitas tulisan dimaksud. 

Kami menduga bahwa tulisan tersebut sama/mirip/mengambil tulisan yang sebelumnya telah disiarkan di media kami (www.bacapetra.co) dengan judul: Sepuluh Lompatan Puitik Puji Pistols, yang ditulis oleh penulis dimaksud (dengan nama pena Dwi Cipta).

Surat ini kami kirim agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, termasuk kemungkinan bahwa Panitia/Juri akan dianggap mengingkari syarat lomba yang ditetapkannya sendiri.

Kami memohon maaf manakala dugaan kami ini ternyata tidak terbukti benar.

Begitu. Suratnya begitu, dikirim dari email redaksi dengan nama saya tertera di bagian akhir lengkap dengan jabatannya halaaaah....

Kami menunggu. Tak ada kabar dari penerima surat. Mungkin sedang membalas surat yang lain. Kami pikir begitu sehingga memutuskan untuk meneruskan surat yang sama ke DM IG Badan Bahasa. Juga tak dibalas. Sekretaris redaksi, yang rajin sekali membalas surat-surat yang masuk ke email kami itu, agak sedih. Barangkali merasa diabaikan. Duh... 

Tetapi sesungguhnya kami semua merasa (atau berharap?) bahwa surat kami sudah dibaca dan tidak dibalas sebab apa yang kami duga sama sekali tidak terbukti.

Baca juga: Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Hari ini, 19 Desember 2020, pagi-pagi sekali, grup redaksi berisi foto-foto. Yang saya sertakan di sini. Dan, ya. Tulisan yang jadi salah satu pemenang sayembara itu memang adalah tulisan yang pernah kami siarkan di bacapetra.co bulan Desember 2019. Setengah bagian pertama. Bagian selanjutnya yang "Poetika Melenyapkan Diri...." itu tidak ada di tulisan yang kami siarkan dulu. 

Tetapi setengah bagian pertama itu, Kak. Sudah kami siarkan dan tentu saja disiarkan setelah penulisnya ngobrol dengan redaktur ulasan; ada proses penyuntingan dan lain sebagainya to? Lalu apa kabar persyaratan naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme itu?

Saya menulis ini hanya sebagai curhat saja. Panitia, juri, penulis, dan siapa saja yang terlibat dalam sebuah sayembara, sebaiknya benar-benar hati-hati. Itu saja. Agar tidak lagi ada situasi yang seperti ini. Seperti apa? Ya, seperti ini.

Terkait juri dan pengabaian pada kriteria, bisa baca tautan ini: LOMBA BLOG EXOTIC NTT DAN JURI YANG MENGABAIKAN KRITERIA PANITIA


Salam

Armin Bell - Pemimpin Redaksi Bacapetra.co

*** 

Tambahan:

Oleh karena postingan ini sebelumnya saya unggah di status facebook saya, maka saya sertakan juga interaksi kami dengan penulis naskah tersebut yang saya ambil dari kolom komentar, sebagai berikut:

Penulis: Haloo Pak Armin Bell: saya dulu memang mengirim resensi buku ke baca petra. panjangnya sekitar 5 halaman spasi 1,5 kalau tidak salah. Esai saya yang masuk dalam lomba ini adalah pendalaman dari resensi buku itu. Memang ada bagian yang sama antara resensi buku itu dengan esai sastra yang saya kirim ke lomba. Kesalahan saya adalah tidak menyebutkan sumber tulisan. Namun sependek yang saya pahami, naskah kritik sastra yang saya kirim ke panitia lomba lebih luas cakupannya.

Namun diproses penulisan rujukan, itu memang baru diminta panitia setelah pengumuman. Saya punya keterbatasan waktu untuk melacak sumber-sumber tulisan.

Saya: Siap, Pak. Di bagian awal status saya, sudah disertakan juga tautan ke tulisan Bapak di bacapetra. Di bagian akhir status saya bilang bahwa setengah bagian tulisan yang menang sayembara adalah tulisan yang sudah kami siarkan. Saya kira, jumlah setengah (atau justru lebih?) ini cukup besar untuk sebuah tulisan yang disertakan pada lomba yang salah satu syaratnya adalah belum pernah disiarkan dan bukan plagiarism. Tetapi saya bisa saja keliru atau tidak terlampau memahami aturan dan bagaimana penyelenggara 'membaca' aturan yang mereka buat sendiri. Terima kasih (telah) mengirim tulisan ke bacapetra. Salam.

The Soundtracks of My Life

Kira-kira begini. Beberapa lagu favorit kita ternyata tidak tepat untuk situasi-situasi tertentu. Sebab situasi-situasi itu memerlukan lagu favorit kita yang lain. Sampai di sini, bisa terima? Kalau belum, mari.... Halaaah.

Image dari Pinterest

The Soundtracks of My Life 

 

Oleh: Eusebia 

Every moment has a song. Saya setuju dengan hal ini, karena rasanya banyak momen dalam hidup saya yang sesuai dengan lagu-lagu tertentu. Jadi, saat saya mendengar sebuah lagu, biasanya saya teringat akan memori yang paling berkesan saat saya mendengar lagu itu. 

Banyak memori dan perasaan yang dapat dibangkitkan kembali hanya dengan ingatan akan satu lagu. Memori dan perasaan ini menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Bahkan, saya menamai beberapa folder lagu di komputer dan daftar putar saya di sebuah platform musik daring sesuai dengan suasana lagu-lagu yang ada di dalamnya. Misalnya ‘Broken Heart’ atau ‘Future Looks Good’ (bisa tebak maksudnya to… hehehe). 

Yup! Semua itu demi kemudahan menemukan lagu-lagu yang tepat untuk menemani saya di saat-saat tertentu. Music is a reflection of what I go through and what my feelings sound like

Momen dalam hidup kita semua tak terhitung jumlahnya, namun pasti selalu ada yang menggembirakan, menyedihkan, membuat gamang, membuat galau, atau kombinasi berbagai perasaan lainnya. 

Baca juga: Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Berikut ini adalah pengalaman saya:

Playlist 1: Money Money Money 


Salah satu masa yang paling ditunggu dalam bulan adalah tanggal gajian. Mari akui, melihat jumlah saldo bertambah di akun rekening sungguh menyenangkan hati, bukan? Saat melihat pesan dari sebuah bank tempat saya memiliki rekening, hati saya pun berbunga-bunga, dan yang terlintas dalam benak saya adalah tembang dari Gwen Stefani yang judulnya Rich Girl. Saya membayangkan diri saya berbaring di atas tumpukan uang sambil mendendangkan lagu ini.

Dengan adanya modal tersebut, saya berani berselancar di aplikasi e-commerce via gawai saya yang seperti sedang menyanyikan potongan lagu My Hump-nya Black Eyed Peas: spending all your money on me and spending time on me…. Hih... Dasar e-commerce “racun duniaaa… karena ia butakan semuaaaaa…

Lain halnya apabila saya sedang mengalami defisit anggaran—meminjam istilah canggih agar terlihat cerdas—alias kere. Lagu yang terngiang-ngiang adalah Rainy Days and Mondays dari The Carpenters.

Well, sebenarnya ini adalah lagu patah hati, tapi bagi saya, lagu ini adalah musik latar yang pas saat melihat jumlah saldo tabungan yang terjun bebas karena ada istilah Rainy Days-nya. Rainy Days sendiri adalah istilah kiasan untuk masa-masa sulit dalam keuangan. Ditambah dalam lagu tersebut terdapat kalimat nothing to do but frown. Pas kan? 

Kalo lagi kere biasanya orang suka cemberut. Apakah Anda mengalami hal yang sama? Saya sih begitu. Maaf ya, Karen dan Richard Carpenter. Bukannya saya tidak menghargai kesedihan yang mendalam di setiap kata dalam lagu (yang menyayat hati) ini, tapi sungguh, saat saya memandang informasi mutasi rekening yang tertera di aplikasi mobile banking di ponsel saya, atau saat saya memeriksa dompet dan hanya menemukan beberapa lembar uang dua ribu rupiah, yang saya senandungkan (dalam hati) adalah lagu kalian yang satu ini. 

Playlist 2: Girl Power 


Apakah gaes-gaes-ku di sini pernah mengalami rasanya tidak dianggap? Entah seperti direndahkan atau dianggap tidak mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat kita kuasai? Saya pernah. Saya marah. Tetapi tak berani mengungkapkannya. Jadilah saya melampiaskannya dengan mengunci kamar, bergoyang sendiri sambil turut menyanyikan lagu yang rilis pada awal tahun 2000 dari Madison Avenue yang judulnya Don't Call Me Baby

Ingin rasanya saya menyanyikan lagu itu dengan suara lantang di hadapan orang yang meng-underestimate saya dengan potongan lirik lagunya: behind my smile is my IQ, I must admit this does not sit with the likes of you...but didn't mama ever tell you not to play with fire. Nah! Kena tampar kau! Tak perlu aksi fisik, pakai lagu pun jadi!

Pun ada beberapa lagu (sebenarnya banyak) yang menjadi anggota dalam playlist "Girl Power" saya. Saya sebutkan beberapa ya….

Unwritten dari Natasha Bedingfield, Roar dari Katy Perry, Extraordinary dari Mandy Moore. Tiga lagu tersebut adalah contoh untuk musik latar saat saya membutuhkan asupan energi untuk memaknai kekuatan seorang wanita. Girls-girls-ku yang tangguh, cobalah dengarkan tiga lagu itu.

Baca juga: Naskah Drama Musikal "Ombeng" Babak 1

Playlist 4: Broken Heart


Tak lengkap rasanya kalau saya tidak menyebutkan lagu-lagu yang bertema patah hati. Let me tell you... it's gonna be a long list. Jadi saya rangkum saja (berdasarkan pengalaman pribadi).

Entah kenapa, saat saya merasa sedih—karena patah hati, saya selalu mengingat lagu dari Eric Clapton yang judulnya Blue Eyes Blue. Si Eric ini makan apa sih saat bikin lagu ini? Melancholy at its highest form! Kena banget di hati yang sedang hancur-hancurnya loh Om Eric. Memang banyak lagu lain yang mengiris, membelah, merobek hati, tapi potongan lirik lagu ini selalu berputar di kepala saya pada momen patah hati. Hiks.
 

(Lagu yang bertema kebahagiaan saya lewati. Terlalu banyak. Saya tak ingin para pembaca yang budiman bosan membacanya. Apabila ada waktu, bolehlah nanti kita berbincang tentang ini sambil menengok daftar putar lagu yang membuat saya seperti yang Brian Adams katakan: up on cloud number nine. Iya, saking gembiranya.)

Playlist 5: I Wish I Could


Ada juga lagu yang membuat saya bermimpi dan berniat untuk memiliki atau membuat benda tertentu. Saat saya masih berada di bangku kuliah, saya membeli DVD konser Carole King yang berjudul Welcome To My Living Room

Ada satu lagu yang bahkan sampai sekarang masih terus saya dengar. Judulnya Upon The Roof. Lagu ini membuat saya berniat jika suatu hari nanti sudah memiliki rumah sendiri, saya akan membuat sebuah teras di lantai paling atas rumah yang bisa menjadi pelarian saya setelah seharian lelah beraktivitas sembari menyaksikan pertunjukan gratis, yaitu mengamati langit malam yang bertabur bintang. Menikmati me time tanpa diganggu oleh hiruk-pikuk yang ada di bawah sana. Super sekali!

Baca juga: Bagaimana Ivan Nestorman Melihat "World Music"

Pada akhir cuap-cuap saya ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang besar pada Musik. Tanpanya hidup saya sungguh hampa. Andaikan si Musik ini adalah seorang manusia, saya akan mencari dan mencium tangannya sebagai wujud rasa terima kasih saya, diiringi lagu You Decorated My Life dan Thank You for the Music

Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis. Tetapi mungkin lain kali. Saya mau mendengarkan Overjoyed dari Stevie Wonder dulu. Mari....


Nekang, 15 Agustus 2019, tanggal pertama saya mulai mengetik tulisan sebelum mendapat ‘sentuhan kembali’ pada 25 Januari 2021.

Eusebia-Ranting Kayu

Ps: Punya tulisan personal nan asyik seperti ini? Kirim ke [email protected] em. Tirada honor. Tapi kita bisa sama-sama belajar bercerita. Iya to?