Aktivis Juga Manusia, Mereka Berhak Tampil Sangat Lucu

Di masa seperti sekarang ini, hari-hari politik, beberapa aktivis akan sering tampil di linimasa kita. Menawarkan perubahan tetapi dengan wajah (keyakinan) yang lama. Mereka juga manusia.
Ratna Sarumpaet dan temannya | Image dari: infmenia.net

Aktivis Juga Manusia, Mereka Berhak Tampil Sangat Lucu


Ketika pertama kali mendengar kasus hoax yang melibatkan seniman dan aktivis Ratna Sarumpaet, saya menduga sempat menduga bahwa Bu Ratna baru saja selesai membaca buku Tanah Air yang Hilang. Di buku itu, Martin Aleida menulis hasil wawancaranya dengan beberapa aktivis di era Sukarno. Yang kehilangan bangsanya. Bangsa Indonesia.

Bagi sebagian pembaca, kisah-kisah dalam buku itu tentu saja mencengangkan; bagaimana negara mencabut hak anak-anaknya sendiri pulang ke tanah air. Tetapi bagi yang lain, kisah-kisah yang ditulis Martin Aleida di sana akan mengingatkan mereka pada cerita-cerita lainnya.

Membaca satu kisah di buku itu, saya langsung membayangkan kecantikan Lintang Utara di novel Pulang karangan Leila S. Chudori. Juga tentang ayahnya yang rindu pada bau tanah selepas hujan di Karet, setelah sekian lama mengganti identitasnya sebagai orang Prancis. Ayah Lintang adalah aktivis yang kehilangan kewarganegaraan Indonesia menyusul gonjang-ganjing politik sekitar tahun 1965.

Baca juga: Novel "Pulang" Leila S. Chudori, Melawan Lupa

Kisah lain yang mirip juga ada di Larung. Di novel itu, Ayu Utami menggambarkannya dengan sangat dramatis. Ada aktivis (tahun 1998) yang terpaksa dilarikan ke luar negeri agar tidak hilang. Belakangan saya menduga, lelaki yang ditulis Ayu itu sesungguhnya sudah kembali. Jadi orang partai. Namanya Pius Lustrilanang.
Tetapi namanya dugaan, saya bisa saja salah. Seperti ketika saya menduga bahwa Ratna Sarumpaet baru saja membaca buku Om Martin tadi. Bu Ratna mungkin belum membacanya, tetapi kisah-kisah tentang aktivis yang mengalami kekerasan dia tahu dari riset.
Tentu saja Ratna Sarumpaet sering melakukan riset. Jika tidak, bagaimana dia bisa menulis sejumlah naskah yang bagus? Ingat! Ratna Sarumpaet adalah penulis naskah sekaligus sutradara teater. Kisah Marsinah pernah dipentaskannya. Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh itu. Juga kisah-kisah heroik lainnya.

Atas hasil interaksinya dengan riset-riset itu, Ratna meyakini bahwa aktivis barulah aktivis kalau dikasari negara. Entah bagaimana, keyakinan itu selanjutnya tumbuh menjadi obsesi. Wow! Karena itulah Ratna mengarang cerita itu. Kebetulan dapat momen yang tepat. Beberapa saat setelah operasi plastik, wajahnya bengkak-bengkak. Mirip korban pemukulan. Pas sudah!

"Wajah bengkak ini akan menjadi gerbang ke kesahihan saya sebagai aktivis. Tinggal karang cerita, sebar ke media daring pemburu klik, akan ada pihak yang diserang. Syukur-syukur kalau itu adalah pemerintah.” Barangkali begitu pikirnya. Pikiran macam apa itu? Para aktivis dalam arti sebenar-benarnya pasti terluka sekali.

Baca juga: Ratna Sarumpaet, dari Seniman ke Aktivis ke Bandung dan Dipermalukan Generasi Z

Tetapi perkiraan Ratna tepat. Sebagai sutradara teater, dia tidak mengalami kesulitan berperan sebagai korban di depan kamera. Serentak kabar tentangnya menyebar. Ungkapan iba datang dari berbagai kalangan. Juga dari politisi senior asal NTT yang menyampaikan kemungkinan tentang mengapa negara diam pada kasus pemukulan Ratna.

Di twitter dia menulis tiga kemungkinan itu dalam satu cuitan. Termasuk menduga bahwa Ratna dipukuli preman-preman Presiden Jokowi. Ckckckck... Di kemudian hari, setelah Ratna bercerita bahwa kisah heboh itu adalah karangan belaka, politisi kami ini menyesal. Di twitter, beliau bilang bahwa dia masih berpikir Ratna adalah aktivis tetapi ternyata sudah tidak lagi. Politisi ini menyesal.

Sekarang saya yang kesal. Apakah menjadi aktivis itu ada masa berlakunya? Kalau benar Ratna dipukuli, apakah itu karena dia aktivis? Astagaaa. Ada apa dengan obsesi kekerasan ini? Haissss....

Baca juga: Hamka, Cinta Kami Sering Kandas

Pokoknya begitu. Saya pikir, bahaya terbesar dari para aktivis zaman now adalah menyiapkan skenario bahwa dirinya akan dikasari negara. Ketika negara tak kunjung kasar, skenario itu lalu dimainkan sendiri agar negara dapat dituding. Kan uaseeem itu namanya.
Mereka harusnya tahu bahwa di era yang sangat terbuka ini, akan semakin sedikit jumlah kekerasan fisik pada aktivis. Yang paling mungkin hanyalah pengabaian. Seperti diabaikannya begitu saja kematian pemilik lahan di Sumba, atau di beberapa tempat lainnya. 
Yang mengabaikannya adalah wakil-wakil mereka yang dulu aktivis dan sekarang jadi anggota dewan. Yang ketika kampanye mengaku akan berjuang untuk rakyat kecil dan ketika terpilih menjadi pejuang untuk kelompok kecil. Yang jurkamnya adalah mantan aktivis mahasiswa juga. Kadang, aktivisme bisa selucu itu.

Jadi begitu. Aktivis juga manusia. Mereka berhak tampil sangat lucu. Pilihan ada di tangan kita. Mau pilih aktivis yang jadi politisi dan menjadi lucu, atau yang aktivis dan mengerjakan ide-idenya dengan sungguh-sungguh. Demikian.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Jangan Berhenti Jualan Buku, Felix

Felix K. Nesi, penulis yang juga menjalankan Toko Buku Fanu mengumumkan rencana berhenti jualan buku. Melalui laman facebooknya, Felix mengobral beberapa koleksi terakhirnya. Sedih juga rasanya mendapat kabar seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi?
jangan berhenti jualan buku felix
www.ranalino.id

Jangan Berhenti Jualan Buku, Felix


Terlepas dari beragam alasan kita membeli buku, membeli buku tetaplah berarti menambah jumlah buku yang tersebar. Tidak menumpuk saja di gudang penerbit, di toko buku, atau di lemari milik Felix. Selanjutnya buku-buku yang ada di tangan para pembaca akan dibaca. Ini situasi ideal: buku dibeli, dibaca (hingga tuntas), dipahami.

Ada juga dua situasi tak enak yang mungkin terjadi. Pertama, buku itu tidak selesai dibaca pembelinya. Kedua, buku itu tidak dibaca pembelinya tetapi oleh temannya. Meski masuk dalam 'hal tak enak' tetapi sebagai penganut konsep minus malum, dua hal itu menunjukkan bahwa ada buku yang dibaca.

Kita pindah sejenak.

Ketika melakukan pencarian di google dengan kata kunci hasil riset tentang hubungan membaca buku dengan kecerdasan, SERP halaman satu berisi beberapa tautan hasil-hasil penelitian tentang hubungan membaca dengan: kecerdasan verbal, motivasi belajar, kecerdasan emosional, prestasi belajar, prestasi akademik, dan keterampilan menulis narasi.

Rata-rata penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa hal-hal tadi berjalan lurus dengan kebiasaan membaca. Tentu saja tidak lantas berarti bahwa yang tidak membaca itu tidak cerdas.
Ada yang (merasa) cerdas hanya dengan mendengar. Ada juga yang tak kunjung cerdas meski telah banyak membaca. Misalnya kawan-kawan saya yang hanya membaca judul lalu merasa telah banyak tahu. Atau membaca tetapi sudah telanjut memiliki konsep sendiri (yang salah) dan tidak mau 'diganggu'.
Tetapi apa pun kemungkinan yang terjadi pasca-buku sampai ke tangan pembeli, kita wajib optimis--merujuk penelitian--jumlah orang yang semakin cerdas akan bertambah.

Baca juga: Cinta yang Terlalu dan Plagiarisme yang Berlalu

Karena itu saya kaget ketika Felix K. Nesi mengumumkan tentang Toko Buku Fanu akan segera berhenti jualan buku. Hampir setahun terakhir, Toko Buku Fanu ada di NTT. Selain berjualan di berbagai event di Kupang dan sekitarnya, Felix menjual buku-buku secara daring via laman facebook dan instagram: @fanubooks.

Langkah berjualan daring, merujuk pada pandangan bahwa masa depan penjualan buku adalah toko daring independen sebagaimana ditulis Tirto, adalah sesuatu yang hebat. Felix membaca tanda-tanda zaman. Lalu mengapa dia menutup toko bukunya?

Saya belum sempat menanyakan hal tersebut kepada Felix K. Nesi. Tetapi memantau beberapa status facebooknya, dan berdasarkan pemandangan 'hidup enggan mati tak mau'-nya beberapa toko buku di NTT, saya menduga alasan utamanya adalah daya beli kita yang rendah. Buku tidak laku, uang tidak jalan, untuk apa jualan?

Ini tentang buku. Bukan tentang hal-hal lainnya. Maksudnya, tidak 'terlampau' berhubungan dengan kondisi ekonomi. Toh, kita masih bisa beli gadget mahal, baju natal, dan cinta palsu. Daya beli buku yang rendah, di NTT, barangkali berhubungan dengan hal-hal berikut ini.

Pertama, minat baca yang buruk. Sayang sekali saya tidak menemukan hasil riset tentang minat baca di NTT. Mungkin memang belum ada. Ini tentu saja tugas para peneliti. Atau para pegiat literasi yang bagi-bagi buku gratis. Di mesin pencari google, kata kunci minat baca NTT malah mengarahkan kita pada artikel tentang minat baca Indonesia. Yang memang rendah.
Survei Most Littered Nation In the World tahun 2016 menampilkan hasil: minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 Negara. Beberapa tahun sebelumnya, UNESCO melansir hasil surveinya yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Hanya satu orang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. 
Bagaimana kita berharap Felix K. Nesi dan toko-toko buku kecil di NTT (atau Indonesia?) bisa hidup di tengah masyarakat yang tidak gemar membaca?

Baca juga: Cukup Sudah Bagi Buku-buku Gratis, Maria

Kedua, harga jual yang tidak adil. Ini barangkali alasan tambahan saja. Tetapi penting untuk dipikirkan bersama. Saya juga baru menyadari ini setelah membaca salah satu status panjang Felix. Kalau harga BBM bisa seragam dari Sabang sampai Merauke, kenapa harga buku tidak bisa?

Status itu tidak persis membahas tentang 'keadilan harga' tetapi keheranan Felix tentang bagaimana toko buku besar macam Gramedia dorang bisa hidup? Saya juga heran. Kok bisa?

Kalau tesis pertama tadi 'ditarik' ke sini, Gramedia di Kupang itu sudah menaikkan harga jualnya loh. Tetapi masih bisa hidup, masih ada yang beli buku. Hmmm... tentu saja ini karena sistem jaringan. Yang sangat kuat. Yang membuat banyak toko buku kecil itu mati. Tambahkan sedikit dengan gaya hidup; merasa keren kalau berhasil mengunggah foto buku dalam kresek Gramedia di instagram. Akhirnya bisa ke Gramedia dan beli buku di sini #kalabukukalagramedia. Begitu caption foto mereka.

Ada juga dugaan lain mengapa banyak toko buku yang tutup. Pemiliknya ingin menjalankan pekerjaan lain. Silakan 'tarik garis' ke soal hidup tadi. Atau ke arah lain, bahwa Felix ingin berkonsentrasi sepenuhnya menjadi penulis. Kita tidak bisa bilang apa-apa selain mendukung keputusan itu. Meski saya sungguh berharap bahwa Toko Buku Fanu tidak mati, pemilik toko buku ini adalah Felix.

Kalau dia memutuskan berhenti, jangan dilarang. Itu melanggar hak asasi manusia. Kita hanya bisa berharap bahwa akan ada toko buku lain yang mampu menjual buku semenarik cara Felix berjualan. Ada penjelasan singkat tentang isi buku. Agar kita tidak terjebak membeli buku karena endorse penulis besar atau karena buku itu diterbitkan penerbit besar.

Pada saat yang sama, marilah berdoa agar harga jual buku sama dengan harga jual BBM. Seragam se-Indonesia. Tentu saja kalau negara ini sepakat bahwa kecerdasan masyarakat mengendarai sepeda motor dan memanfaatkan trotoar juga dipengaruhi oleh keseringan mereka membaca. Baca buku. Bukan baca status atau judul-judul artikel click-bait seperti di ranalino.id ini.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Disclaimer: Kalau Toko Buku Fanu tidak jadi ditutup, catatan ini bisa dibaca sambil memikirkan nasib toko buku lain yang mungkin akan segera tutup.

KBBI adalah Prolog, Alkitab itu Inti Cerita, Sepak Bola Jadi Epilog

Di Indonesia Timur, menyaksikan tayangan sepak bola di televisi FTA (free to air) adalah kemewahan. Semewah harapan agar orang sadar bahwa lagu Roman Picisan yang ditulis Ahmad Dhani adalah lagu yang keliru. Barangkali kami harus selalu menjadi Bartimeus. Atau Tomas?
kbbi adalah prolog alkitab itu inti cerita sepak bola jadi epilog
Di Ruteng | Foto: Armin Bell

KBBI adalah Prolog, Alkitab itu Inti Cerita, Sepak Bola Jadi Epilog


Tulisan ini dibuat pada bulan Oktober. Di Indonesia, bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa. Sebuah bulan khusus memuliakan bahasa Indonesia. Sekaligus mengenang peristiwa besar 90 tahun silam. Sumpah Pemuda. 28 Oktober 1928. Waktu dari mana Bahasa Indonesia ini berasal.

Omong soal bahasa Indonesia mau tidak mau berarti membawa KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sepakat? Jika iya, maka kalian harus percaya bahwa noda atau bercak-bercak putih pada kulit manusia (biasanya berasa gatal kalau berpeluh) itu namanya panau. Bukan panu. Acungkan jari kalau kalian baru tahu sekarang padahal selama ini sering menggosipkan teman kalian yang kulitnya bernoda dan penuh bercak-bercak putih.

Kalian juga harus percaya bahwa meski Memes adalah penyanyi terkenal di masa lalu, namun lagunya Terlanjur Sayang yang populer itu sebenarnya salah secara bahasa Indonesia. Yang benar adalah Telanjur Sayang.

Dalam hal lagu, mungkin karena alasan telanjur sayang tadi, penggemar Ahmad Dhani percaya saja bahwa busur panah itu tajam. Di Roman Picisan, Dhani menulis: tatap matamu bagai busur panah yang kau lepaskan ke jantung hatiku.
Dhan, yang ditembakkan Cupid itu kan (anak) panahnya. Busurnya tetap dia pegang, lho. Kalau dia lepas (lempar) juga, tidak mungkin juga menancap ke jantung. Kenanya ke hidung, dagu, dan dada. Atau dalam kasus tertentu, untuk sebagian orang, bisa kena gigi.
Itu perihal pertama. Melihat dan percaya pada KBBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Perihal pertama ini sengaja disampaikan agar kita paham konteks untuk melihat perihal yang lebih penting. Semacam narasi eksposisi (cie cie… istilah ini) untuk melihat kisah tentang perihal melihat dan percaya dalam Alkitab.

Alkitab itu Inti Cerita!

Jadi begitu. Tulisan ini sesungguhnya ingin membahas tentang perihal melihat dan percaya yang sedang jadi topik sangat penting di negeri ini. Kita telah mengetahui bagaimana melihat dan percaya ini kemudian memaksa Bapak Prabowo meminta maaf hanya beberapa saat setelah dia mengkritik negara yang dianggapnya melakukan kekerasan pada Ratna Sarumpaet.

Lihat juga arus besar warganet sebangsa dan setanah air yang dengan mudah menjadi penyebar ujaran kebencian hanya karena meme. Apakah itu hoax, apakah itu fakta, apakah itu plagiarisme, pokoknya saya datang, saya lihat, saya bagikan.

Baca juga: Cinta yang Terlalu dan Plagiarisme yang Berlalu

Artinya, melihat dan percaya adalah perkara yang pelik. Untuk itulah saya harus menggunakan Alkitab sebagai sumber bacaan. Tetapi atas dasar saya merasa bahwa banyak yang tidak paham apa itu Alkitab, maka saya terpaksa membawa KBBI. Sekali lagi, ini soal konteks. Dan konteks adalah sesuatu yang penting agar kita tidak mudah melakukan justifikasi. Ngomong opo to?

Begini. Menurut KBBI, Alkitab berarti kitab suci agama Kristen. Alkitab /Al•ki•tab/ n 1 kitab suci agama Kristen, terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; 2 Isl Alquran.

Mengapa saya merasa bahwa banyak yang tidak paham apa itu Alkitab? Lha, di DPR sana ada yang keliru yang massal soal agama Kristen dan cara mereka beribadah. sekolah minggu dan katekis mau diatur dalam Undang-Undang Pesantren. Itu karena tidak paham, bukan? Kalau agamanya saja tidak dipahami secara massal, apalagi kitab sucinya. Iya to?

Ada yang mulai kesulitan mengikuti tulisan ini. Horeee. Saya semakin mirip para penulis kenamaan itu berarti. Semakin sulit dipahami semakin baik. #eh? Tetapi agar kerut di keningmu tidak telanjur abadi, saya mulai saja bahasan penting ini.

Dalam Alkitab, ada banyak kisah dalam topik melihat dan percaya. Dua di antaranya yang paling dikenal adalah kisah tentang Tomas dan pengalaman Bartimeus. Tomas adalah orang yang menolak percaya bahwa Yesus telah mengalahkan kematian dan bangkit dari kuburNya. Tidak, sampai dia melihatnya sendiri. Di akhir cerita, Yesus akhirnya datang dan meminta Tomas mencucukkan jarinya pada lubang bekas paku di telapak tangan Yesus. Tomas kemudian percaya.

Bartimeus lain lagi. Dia tidak pernah melihat Yesus. Bartimeus seorang yang buta. Tuna netra. Tetapi dia percaya bahwa Yesus bisa menyembuhkannya. Kejadian berikutnya memang demikian. Bartimeus—setelah tidak mau diam meski telah berusaha didiamkan oleh orang-orang di sekiarnya—akhirnya berhasil minta tolong pada Yesus. Karena dia percaya, Yesus menyembuhkannya. Bartimeus dapat melihat.

Setelah itu? Harusnya Bartimeus menjadi lebih percaya. Tetapi tidak ada lanjutan kisahnya. Nanti saja. Saya bikin di cerpen. Dalam cerpen itu, Bartimeus akan mewartakan kabar gembira Yesus ke mana-mana, kemudian ditangkap dibenci oleh lawan politik Yesus. Bartimeus dilenyapkan ketika naik pesawat ke Amsterdam.

Bagaimana hubungan Tomas dan Bartimeus dengan bangsa dan negara ini? Baik-baik saja. Maksudnya, ribuan Tomas dan Bartimeus ada di sekitar kita. Tentu saja dengan perbedaan-perbedaan di belakangnya.
Pada kisah Pak Prabowo dan Ratna Sarumpaet misalnya, yang berbeda adalah akhir cerita. Setelah melihat dan percaya, Pak Prabowo kemudian sadar bahwa dia telah grasa-grusu. Pada kisah penyebar meme, akhir cerita bisa lebih macam-macam lagi. Paling sering adalah perkelahian. Minimal melawan meme dengan meme.
Pada kisah Memes dan Ahmad Dhani? Nasi sudah menjadi bubur. Kita yang sudah telanjur sayang ini diminta untuk percaya saja bahwa busur panah bisa menancap di jantung. Yang perlu dipikirkan adalah mencari jantung yang besar agar busur menancap dengan mantap. Atau mengecilkan busurnya. Atau meminta seluruh dunia sepakat bahwa busur itu tajam dan anak panah itu berbentuk busur. Bisa dicoba. Siapa tahu berhasil. Toh tak ada yang mustahil.

Baca juga: Menjadi Blogger Tidak Akan Buat Seseorang Menjadi Keren Bagian Ketiga

Nah, omong-omong soal mustahil inilah akhirnya kita sampai di percakapan tentang sepak bola. Timnas U-19 akhirnya kalah. Tidak jadi melaju ke putaran final Piala Dunia U-20 di Polandia nanti. Penggemar berat Jokowi mungkin sedikit kecewa. Materi kampanye tambahan lenyap begitu saja di tangan timnas Jepang.

Tetapi sesungguhnya lebih berat nasib kami di Indonesia Timur. Yang seolah seperti Bartimeus. Tidak melihat namun percaya. Dengan perbedaan di bagian akhir cerita, tentu saja.

Siaran sepak bola di televisi free to air kami kami selalu diacak. Alhasil, tak sempatlah kami menyaksikan anak-anak asuh Indra Sjafri itu bermain. Baru saja berniat memiringkan antena parabola atau mencari kode acakan televisi berbayar, terdengar kalimat-kalimat panjang dari anggota rumah penggemar sinetron azab.

Jangan heran kalau saat membaca berita tentang Todd Rivaldo Ferre, wajah yang kami bayangkan adalah Bambang Pamungkas. Atau Kurniawan Dwi Yulianto. Itu masih baik. Saya khawatir, Guru Don, ayah saya itu, justru akan memasang muka Ricky Yacobi ketika mendengar nama Todd.

Sebenarnya, kalau saja ada capres yang berkampanye bahwa siaran-siaran sepak bola akan disiarkan juga di televisi kami, saya yakin mayoritas pemilih akan mencintainya. Tetapi secara politis, jumlah pemilih di kawasan ini tidak menggiurkan. Terlalu sedikit. Abaikan saja. Toh beritanya bisa dilihat di media daring. Atau via meme. Sampai kapan keharusan menjadi Bartimeus ini berakhir?

Padahal selain bahasa, para pemuda pada tahun 1928 juga bersumpah tentang tanah air dan bangsa yang satu, Indonesia. Dalam KBBI: Indonesia/In•do•ne•sia/ /Indonésia/ n 1 nama negara kepulauan di Asia Tenggara yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia.  Dalam lagu, Indonesia diceritakan sebagai wilayah yang sambung menyambung menjadi satu dari Sabang sampai Merauke.

Atau mungkin hak melihat televisi disesuaikan dengan zona waktu? Lucu juga kalau begitu. Tidak apa-apa. Asal tidak dianggap sebagai bercak-bercak di kulit saja. Tidak baik. Karna (kami) su sayang dengan bangsa ini.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan ringan lainnya dapat disimak di tautan ini.

Menuju Flores Bebas Rabies (Bagian 3): Minta Maaf, Beta Talalu Sayang

Ini bagian akhir dari catatan berseri Yeris Meka tentang Flores Bebas Rabies. Bagian yang penting. Sebagai simpulan dari dua seri sebelumnya, Yeris bercerita tentang persahabatan anjing dan tuannya. Selamat menikmati.
menuju flores bebas rabies bagian ketiga beta talalu sayang
Menyayangi anjing | Foto: Yeris Meka

Menuju Flores Bebas Rabies (Bagian 3): Minta Maaf, Beta Talalu Sayang


Oleh: Yeris Meka

Dua seri sebelumnya:


Flores Bebas Rabies, Kampanye yang Tak Ramai


Sejak rabies merebak dua puluh tahun silam di Pulau Flores, total sudah 300 nyawa melayang akibat virus ini. Jika dirata-ratakan, lima belas korban meninggal setiap tahun selama dua dekade. Jumlah yang besar. PENYEBABNYA RABIES.

Belum lagi kerugian ekonomi yang diakibatkan. Korban gigitan HPR (Hewan Penular Rabies) wajib divaksin, bahkan bila anjing yang menggigit terlihat sehat. Apalagi yang sudah tertular rabies. Ini Flores. Pulau yang masih belum bebas rabies. Hati-hati!
Rabies itu mematikan. Tidak boleh dianggap main-main. Lalai pada penanganan awal, maka ketika gejala muncul, penanganan menjadi percuma. Kemungkinan terburuk? Ya, kehilangan nyawa. Bukan menakut-nakuti. Memang begitu.
Unicef malah sudah menetapkan tanggal 26 September sebagai hari rabies. Untuk diperingati. Tidak untuk dirayakan sebagaimana hari ulang tahun kelahiran. Supaya kita eling. Sadar. Virus mematikan ini ada. Di dekat kita. Bahkan mungkin sering bermain dengan anak atau cucu kita. Atau menginap. Dia makhluk pertama yang menyambut di pintu rumah ketika pulang kerja.

Pikiran Yang Kusut


Dulu. Saat sekolah menengah pertama saya pernah menjadi cuek-cuek saja. Ketika masih awam dengan rabies. Ada rencana eliminasi masal waktu itu. Saya merasa perlu melarikan anjing-anjing ke padang. Beberapa pemilik anjing juga. Tujuannya sama. Supaya anjing-anjing kami tidak mati.

Konon katanya, tentara dan polisi dikerahkan. Bakal dibedil anjing-anjing kami bila tidak diungsikan. Bagi kami, seekor anjing yang sudah berbagi setia, pantas diselamatkan. Begitu kukuh semangat itu. Malah sebagian dari kami meyakini: ini sudah seperti tugas Bapa Yosef menyelamatkan Bunda Maria dan bayi Yesus.

Dan ada kisah lain lagi. Sepasang suami istri hidup di ladang. Bercocok tanam. Jagung. Ubi jalar. Singkong. Pepaya dan banyak lagi. Pagar bambu kokoh di sekeliling ladang. Beberapa ekor anjing juga dipiara. Beranak pinak di sana.

Celeng tak akan mudah menerobos masuk. Terlalu rapat pagarnya. Belum lagi taring-taring tajam anjing penjaganya. Siapa yang hendak bertandang ke ladang, perlu memanggil tuannya dari jauh. Bila tak hendak dikejar anjing-anjing itu.

Suaminya punya hobi berburu. Celeng. Landak. Musang. Juga tupai. Anjing-anjingnya sudah terbiasa. Memburu, mengepung lalu membuat buruannya terpojok untuk ditangkap tuannya. Ya, petani itu.

Baca juga: Jadi Petani, Anak Gunung, Sepatu dan Burung Besi di Langit Kampung

Orang awam menyebut lelaki itu melatih anjing-anjingnya jadi pintar. Mereka punya ikatan batin dan budi. Anjing-anjing setia pada petani. Kebun petani tak pernah dijebol hewan liar. Jelas, anjing-anjing itu punya peran besar. Itu di kampung saya.

Agak susah merayu beliau melepas anjingnya dengan harga berapapun. Tapi, bila anjingnya mati, entah karena usia atau cacat waktu berburu, siap saja anjing bakal jadi er-we. Diajaknya kawan dan kenalan. Melahap daging anjingnya. Tak pernah dipersengketakan. Oleh siapa pun jua.

Rasa Memiliki


Saya meraba-raba sendiri. Tentang rasa memiliki yang kadang begitu. Milik sendiri rusak atau habis, tak apa. Asal dibikin sendiri. Tidak oleh orang lain. Kalau sampai begitu, bisa ada perkara baru. Ada semacam pengkhianatan di sana.

Saya perlu meralat anggapan ini. Tentang orang-orang yang mencintai anjing. Banyak. Kelompok pencinta anjing. Bahkan beberapa tingkat di atasnya lagi. Pembela hak-hak anjing. Itu mulia.

Ah, yang terakhir itu akan susah ditemukan di Flores. Kalau ada satu orang yang mengumumkan diri sebagai pembela hak anjing, tugas itu berat. Terlalu berat. Bagaimana meyakinkan yang sudah mengamini enaknya daging anjing untuk murtad dari kenikmatan itu?

Saya juga suka anjing. Seperti kebanyakan orang. Sebatas anjing itu masih lucu, segar dan menggemaskan. Kalau sudah lemah, malas, dan menjengkelkan, saya jadi seperti petani tadi. Kadang-kadang. Kalau anjingnya mati, ya sudahlah. Itu dulu.

Hari-hari belakangan, ruang untuk pencinta dan pembela hak anjing mulai terpupuk. Setidaknya, saya sudah beberapa kali jadi saksi. Kisah antara tuan dan anjing-anjing mereka di tempat kerja saya. Rumah Sakit Hewan.

Suatu pagi seorang pemuda datang ke tempat kami. Berbaju dinas. Lengkap. Tampak panik. Anjingnya sekarat. Sembari kami memberi penanganan, ia bercerita tentang kelucuan-kelucuan anjingnya itu.

Suasana ruang periksa jadi agak ramai. Matanya tidak pernah lepas dari anjing kesayangannya. Saya perhatikan. Pemandangan ini, tidak lazim. Saya yang cuek atau orang ini memang kadar pedulinya tinggi?

“Dia bisa sembuh ko?” Tanyanya berkali-kali.
“Agak berat, tapi kita usaha saja dulu.” Dokter coba menjelaskan setelah infus terpasang. Akhirnya diputuskan. Anjing dirawat inap.

Singkat cerita, setelah dua hari dirawat anjing itu tidak tertolong. Mati. Si pemuda, tuan anjing itu, menangis sejadi-jadinya. Ruang rawat inap Rumah Sakit Hewan seketika jadi ruang pemulasaran. Duka dan sedih berkubang di situ.

Kami semua diam. Pemuda itu masih terus mengenang anjingnya di sela-sela tangis. Itu pertama kali saya menyaksikan kesedihan yang begitu mendalam untuk seekor anjing.

Baca juga: Fenomena Rakat: Dari Sinisme, Humor Gelap, Hingga Medan Investasi Sosial

Pada kesempatan lain, seekor anjing dibawa. Warna hitam. Tambun tapi bau. Keadaannya parah.Terserang parvo. Mencret darah. Sepertinya seluruh dinding ususnya sudah tergerus.

Tuannya, pasangan muda. Yang lelaki bertato di lengan kanan, tindik di telinga kiri. Penampilannya cukup meyakinkan saya bahwa tidak ada kesedihan akan keluar dari mahluk sesangar itu jika anjingnya mati. Tapi bayangan saya lenyap.

Ketika anjingnya meregang nyawa, ia meraung. Memanggil nama anjingnya. Bajunya dilepas. Anjing dibungkus pakai baju sendiri. Jadi sudah. Ia setengah telanjang. Di ruang periksa. Lalu mulai bertubi-tubi ia mencium bangkai anjingnya itu. Buru-buru wanita yang bersamanya membawa jaket. Dipakaikan kepada yang sedang menangis.

“Aduh kaka, minta maaf. Beta talalu sayang. Dia anjing yang pintar.” Katanya setelah sedihnya terurai. Lalu mereka pamit. Pulang membawa anjingnya yang sudah mati. “Biar dikubur di rumah,” katanya.

Kami terkesima. Kemudian larut dalam diskusi ringan. Membanding-bandingkan. Antara pemilik anjing yang satu dengan yang lain. Antara yang datang kemarin atau hari ini. Semua tentu beda. Tapi kami sepakat. Pencinta hewan sejati terlihat saat piaraannya sekarat, kawan sejati hadir saat teman melarat.

Saya coba menghubung-hubungkan. Tabiat para pemilik anjing. Dengan situasi dan kegiatan vaksinasi. Alasan tidak diserahkan anjing untuk divaksin oleh beberapa pemilik yang terlanjur disesatkan informasi yang salah.

Memang kampanye perlu kembali digencar. Agar Flores Bebas Rabies. (Habis)

Yeris Meka |
Dari Mangulewa, tinggal di Kupang. Petugas Medik Veteriner.

Tulisan menarik dalam kategori Dari Desa dapat disimak di tautan ini.

Menuju Flores Bebas Rabies (Bagian 2): Mapitara, Ahu Noran Koe ’On?

Dalam catatan Menuju Flores Bebas Rabies bagian pertama, Yeris Meka berbagi cerita tentang alasan warga menolak menyerahkan anjing peliharaan mereka divaksin oleh paramedik veteriner. Di bagian kedua ini, Yeris meneruskan ceritanya. Tentang masyarakat di pelosok yang jauh lebih mengerti dari yang tinggal di dekat kota.
menuju flores bebas rabies bagian dua ahu noran koe on
Di Mapitara, petugas medik veteriner bertugas dari rumah ke rumah | Foto: Yeris Meka

Menuju Flores Bebas Rabies (Bagian 2): Mapitara, Ahu Noran Koe ’On?


Oleh: Yeris Meka

Semalam Om Serafim sempat cerita. Tentang orang-orang Desa Natakoli. Juga Mapitara pada umumnya. Sependek yang ia tahu. Sejak ia mengabdi, entah sebagai relawan maupun sebagai tenaga honorer dinas peternakan.

Mapitara belum jadi kecamatan sendiri ketika Om Serafim wara-wiri di wilayah ini. Masih dalam wilayah administrasi Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka. Kondisi jalan di Mapitara jangan ditanya. Lebih buruk dari keadaan sekarang.

Bila ada pemberitahuan serupa surat resmi ke wilayah ini, harus sudah beberapa minggu sebelumnya disampaikan. Kadang-kadang kalau terlambat, suratnya sampai ketika kegiatan yang dijadwalkan sudah lewat.

Sekarang sudah berubah banyak. Lebih baik. Setiap hari truk kayu masuk, mengangkut penumpang. Lewat Bola, lewat Waigete juga bisa. Hanya medannya lebih curam dan tidak cukup lebar untuk dilalui truk berbadan lebar. Sepeda motor lebih banyak memilih lewat cabang Waigete. Lebih hemat waktu. Melalui Bola bagus juga hanya selain lebih memutar, juga sedang ada perbaikan jalan. Makan waktu.

Dari Om Serafim pula kami tahu, masyarakat Mapitara sudah menunggu kedatangan tim vaksinator. Menunggu kami ini. Surat sudah sampai di kantor desa seminggu sebelum kami datang. Juga sudah diumumkan gereja. “Yang tidak mau divaksin, kasih mati saja!” Begitu kata Om Serafim mengulang pengumuman yang disampaikan di mimbar gereja. Berita bagus.

Baca juga: Di Langa Bajawa, Orang Muda Meramu Masa Depan Desa Wisata

Besoknya. Pagi-pagi sekali, kami sudah siap. Istri kepala desa bahkan sudah sejak lebih pagi lagi. Menyiapkan semua. Sarapan dan kopi. Kami tidak enak merepotkan. Yang empunya rumah juga tidak enak kalau kami bertempur tanpa amunisi. Sarapan pagi itu penting. “Makan dulu. Minum kopi dulu baru jalan!” Kami dicegat ketika baru punya rencana untuk bergegas. Puji Tuhan. Terima kasih, Mama.

Setelahnya kami harus beraksi sejak pagi agar realisasi vaksinasi bisa lebih banyak. Kalau telat, sudah banyak warga yang ke kebun. Anjing-anjingnya juga dibawa. Ini musim jambu mete, monyet-monyet turun gunung, merampok kebun-kebun penduduk. Mau tidak mau warga harus lebih giat menjaga kebun. Di musim begini, jambu mete menjadi komoditi yang diandalkan untuk menyangga ekonomi.

Desa mengerahkan Pamong untuk mendampingi kami. Juga Kepala Dusun. Rupanya hari ini akan berujung baik. Kami membagi tim. Dusun Umatawu, Dusun Wolomotong, Dusun Natakoli, diutus berdua-dua di tiga dusun itu. Lancar.

Di Natakoli warga sudah menunggu di pinggir kiri kanan jalan. Juga anjing-anjing mereka yang hendak divaksin. Tidak susah. Semua lancar. Pamong desa bertindak sebagai penggerak juga penerjemah. Tugas ini penting sekali. Warga, rata-rata lebih fasih berbahasa daerah. Lebih welcome dan luwes dengan pendekatan ini.
Saya berani menyimpulkan, sukses kegiatan vaksinasi sebagian besar bergantung pada peran ini. Ada intervensi pemerintah desa. RT terlibat, dusun terlibat, warga digerakkan.  
Menjelang siang, sebagian populasi anjing di Natakoli sudah tervaksin. Minus beberapa ekor yang keburu bunting ketika kami datang. Beberapa lagi tak berani ditangani. Galak. Tuannya tidak di rumah. Nobody can handle it, Guys. Believe me!

Mama (induk, ed) yang bunting, nanti lahir dulu baru vaksin e!” Kami titip pesan itu dan kegiatan berlanjut. Rumah ke rumah. “Ahu noran koe ’on?” Tanya pamong desa yang mendampingi kami. Mendengarnya beberapa warga tergopoh-gopoh. Anjing dibawa. Kami vaksin. Lalu, sisir lagi. “Ahu noran koe ‘on, Mama?” “Anjing ada atau tidak, Mama?”

Tugas Kami Kecil, Kesadaran Masyarakat Lebih Penting


Apa yang terjadi di Mapitara dan Alok banyak bedanya. Setidaknya menurut saya. Di Alok vaksinator bergerak sendiri, tidak didampingi pegawai kelurahan. Padahal cukup banyak populasi hewan yang berpotensi sebagai penular rabies.

Mapitara di pelosok. Rumah jarang-jarang. Akses informasi dan transportasi tentu tidak selancar di Kecamatan Alok yang masih di sekitaran kota Maumere. Tentang yang terakhir ini, banyak akibatnya. Informasi yang salah, buntutnya jadi panjang.

Baca juga: Jadi Petani, Rabies dan Pagar Betis

Begini. Pasca-vaksinasi, terjadi kasus. Anjing mati. Pemilik anjing yakin, haqqul yaqin, ini karena cairan vaksin yang disuntikkan. Tersebarlah berita. Dari mulut ke telinga. Dari telinga ke mulut. Belum lagi media sosial. Terus begitu. Tak tertahankan. Vaksin mematikan anjing. Vaksin membunuh anjing. Iklan yang buruk untuk usaha memberantas rabies dari pulau Flores.

Kabar burung terus tersiar. Tanpa klarifikasi, masyarakat percaya. Bisa ditebak setelahnya, ketika petugas vaksinator datang lagi, telah tersedia banyak cara agar petugas tidak betah. Oh, Gusti. “Kami tidak mau vaksin. Nanti anjing kami mati,” kata mereka berapi-api.

Petugas lapangan harus berbusa-busa menjelaskan. Tapi siapa peduli? Berita buruk sudah dibiarkan melaju tanpa kekangan. Ini sederhana. Sepele. Tapi, ketidakpercayaan  jenis ini jelas punya anak kandung: petugas enggan datang lagi.

Tanpa pemeriksaan laboratorium, asumsi bahwa anjing bisa mati karena divaksin, jelas tidak benar. Terlalu dini. Kalaupun mati karena vaksin, justru dapat berarti baik. Ada kemungkinan anjing sudah terpapar virus. Gejalanya saja yang belum muncul. Menunggu gejalanya terbit, sama saja dengan membiarkan api dalam sekam membakar rumah  sendiri.

Mapitara, Epang Gawan!


Setelah melewati pagi ini, semua menjadi lebih jelas. Tentang peran dan tugas. Kami para vaksinator, perannya teknis saja. Seupil.
Membebaskan pulau ini dari rabies tidak semata tugas medik dan paramedik veteriner. Peran masyarakat, gereja, dan pemerintah dari tingkat paling kecil mutlak dibutuhkan. Ini misi serius. Membebaskan Flores dari rabies. Kita membasmi virus rabies, bukan anjingnya. Maka akan cukup terhambat, bila batu sandungan justru datang dari tuan anjing. 
Lha, berapa harga seekor anjing dibanding nyawa kalau tiba-tiba-tiba anjing berubah jadi monster gara-gara rabies? Berapa harga yang harus dibayar? APA? COBA HITUNG? "Epang Gawan, Mapitara!" Bana say. (bersambung)

Yeris Meka |
Dari Mangulewa, tinggal di Kupang. Petugas Medik Veteriner.

Tulisan menarik dalam kategori Dari Desa dapat disimak di tautan ini.

Menuju Flores Bebas Rabies (Bagian 1): Kami Tiba di Kaki Gunung Egon

Sebagai seorang paramedik veteriner Yeris Meka kerap berbagi atau menyelipkan informasi seputar pekerjaannya itu dalam beberapa catatan terdahulu di ranalinoid. Kali ini, Yeris bercerita tentang perjalanan bersama teman sejawatnya dalam usaha membebaskan Flores dari rabies. Cerita ini akan hadir dalam tiga bagian berurutan. Simak bagian pertama ini.
menuju flores bebas rabies bagian 1 kami tiba di kaki gunung egon
Kami tiba di kaki Gunung Egon | Foto: Yeris Meka

Menuju Flores Bebas Rabies (Bagian 1): Kami Tiba di Kaki Gunung Egon


Oleh: Yeris Meka

Setelah operasi vaksinasi rabies di Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka tuntas, kami ke tempat berikutnya. Menurut informasi petugas kabupaten, tersisa dua kecamatan yang populasi anjingnya belum divaksin rabies tahun ini. Kecamatan Palu’e dan Mapitara.

Jatah kami di Mapitara. Kecamatan di bagian selatan Sikka. Berjarak sekitar 80-an kilometer dari Maumere. Kira-kira tiga jam perjalanan. Dengan sepeda motor. Maumere - Waigete - Mapitara. Titik tuju adalah kaki gunung Egon.

Setelah sampai di desa Egon Gahar, tim pertama ditempatkan. Tugas mereka menyisir populasi anjing di dusun-dusun desa ini. Kami tim kedua. Masih harus melahap beberapa  kilometer lagi. Ke Natakoli. Desa di sebelahnya.

Hari sudah gelap. Medan juga ekstrim. Curam. Tebing di kiri, jurang di kanan. Jalan masih berupa rabat beton. Daya cengkram ban tidak sama di jalan aspal. Saya rasa begitu. Kami perlu lebih hati-hati. Salah perhitungan, tergelincir.

Beberapa petugas yang biasa di Mapitara menjadi penunjuk jalan. Malam gelap begini, salah jalan bisa bikin keadaan jadi lebih buruk. Jangankan pemancar sinyal telepon seluler, tiang listrik saja baru dipasang. Sinyal tak ada, bagaimana menghubungi kawan kalau nyasar?

Baca juga: Mora Masa: Menabung Rumput Menuai Rupiah

Dua kilometer setelah tim pertama ditempatkan, kami berbagi jalan dengan petugas setempat. Mereka ke kiri. Kami ke kanan. Kawan-kawan petugas Mapitara ini, harus ke desa selanjutnya lagi dengan tugas yang sama. Melakukan vaksinasi rabies di daerah ini. Berharap bebaslah sudah Flores dari rabies. Kenapa? Apakah kami lelah masuk keluar kampung? Tidak. Sama sekali tidak. Itu bukan masalah.

Setelah medan berat ini, saya mengimani, tugas ini berat. Bukan karena medan yang kami lalui. Meyakinkan pemilik anjing untuk dengan sukacita menyerahkan anjingnya divaksin lebih menguras emosi. Pengalaman di Alok, cukup membuat kami percaya.

Pada hari sebelumnya, di Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, kawan-kawan vaksinator yang beberapa hari giat melakukan vaksinasi harus kembali ke rumah-rumah yang karena beberapa alasan dilewatkan pada jadwal sebelumnya. Kami ikut.

Pemilik rumah adalah seorang perempuan yang menolak anjing miliknya divaksin. Enggan kami berlama-lama. Bahkan untuk sekedar berdiri di halaman rumahnya. Bertanya-tanya apalagi. Kesal. Pasti.

“Anjingnya mau ada acara. Anak saya ulang tahun,” katanya singkat. Tangan kanannya menahan jendela. Tangan yang lain membelai ujung rambut. Matanya sibuk mencari wajah sendiri dalam kaca jendela.  Ya Tuhan, makhluk apa kami ini diabaikan sampai begini rupa?

“Mama, sudah banyak yang mati gara-gara rabies. Baru-baru ini mati lagi. Anak kecil. Karena rabies.” Kami coba menjelaskan. Ia keukeuh. Berbusa-busa percuma kami ini. Di beberapa rumah, sama alasannya. “Anjing mau dipotong. Anak saya ulang tahun. Dua hari lagi.” OK! SELAMAT ULANG TAHUN!

Ada juga alasan lain yang membuat mereka ‘kepala batu’. Tidak mau anjingnya divaksin. Nanti mati, setelah divaksin. Sudah sering terjadi. Kata mereka. Pokoknya tidak mau anjingnya divaksin. SELAMAT JUGA BAPAK. SELAMAT.
Saudara-saudari sekalian, digigit anjing—kalau ada kemungkinan anjingnya sudah terinveksi—lalu korban tidak ditangani dengan benar, lalu gejalanya muncul, tak ada jalan kembali. Nyawa sudah diijon. Apa itu tidak cukup mengerikan? Berapa sih harga seekor anjing dibanding biaya yang harus digelontorkan bila sudah ada korban gigitan? HITUNG!
Baca juga: Kampanye HIV/AIDS, Konsep atau Resep?

Berangkat dari pengalaman beberapa hari lalu itu, saya pesimis. Mungkinkah masyarakat di pedalaman akan lebih peduli dengan misi ini? Tugas kami teknis sekali. Kalau ini adalah perang, kami adalah pasukan di garda paling depan. Mengisi amunisi lalu ditembakkan ke sasaran. Kemungkinan diserang balik? Ada. Ketakutan digigit? Ada. Kami belum di-VAR.

Bertemu Om Serafim


Beberapa kebetulan terjadi. Medan baru, gelap-gelap, satu kilo rasanya jauh sekali. Setiap bertemu warga pasti tanya.
“Rumah Bapa Desa Natakoli, masih jauh ka?”
“Dekat saja.” Beberapa menjawab.

Yakin? Di sini, dekat bisa berarti masih beberapa kilo meter lagi. Kalau masih siang bolong, kata itu bisa saja merujuk sebuah tempat di sebelah bukit yang masih kebiru-biruan itu. Masih jauh. Jauh sekali.

Saya tiba-tiba lebih suka mendengar yang lebih spesifik meski itu berarti masih sangat jauh. “Lima puluh kilo lagi!” Misalnya. Itu lebih membangkitkan semangat. Sudahlah. Mungkin ada yang bisa lebih membantu di perpapasan selanjutnya. Yakin saja.

Dan benar, kami bertemu Om Serafim. Beliau alumnus SPMA Bo’awae. Lulus tahun 1994. Sudah 9 tahun jadi relawan vaksinator yang bertugas di lapangan. 2015 kemarin diangkat jadi honorer Kabupaten Sikka.

Beliau mengantar kami ke rumah Kepala Desa Natakoli. Di Wolomotong. Om Serafim bilang, Mapitara sudah jadi wilayah tugasnya. Masyarakat di sini sudah mengenalnya. Sering, beliau bermalam di rumah warga kalau memang tidak memungkinkan kembali ke rumahnya di Kecamatan Bola.

Ok. Lelah ini harus dibebat dulu. Kami mau istirahat. Om Serafim juga mau ke desa sebelah. Masih beberapa kilo lagi. Perjalanannya agak terhambat karena tadi kami ‘membajaknya’.  Istirahat dulu. (bersambung)

Yeris Meka |
Dari Mangulewa, tinggal di Kupang. Petugas Medik Veteriner.

Catatan menarik Yeris Meka juga dapat disimak di tautan ini.

Memori Penderitaan dan Karya Sastra

Dalam esai ini, Rio Nanto mengajak kita melihat cara kesenian bekerja merawat ingatan terhadap peristiwa di masa lalu. Peristiwa-peristiwa besar. Seperti tsunami di Maumere tahun 1992 silam. Yang tidak cukup diingat hanya dengan membaca data statistik. Kesenian adalah salah satu pintu ke sana.
memori penderitaan dan karya sastra
Rio Nanto

Memori Penderitaan dan Karya Sastra


Oleh: Rio Nanto

Gempa dan tsunami yang menerjang Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah hari Jumat, 28 September 2018 menyimpan duka yang mendalam. Data terakhir  yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Selasa, 2 Oktober, sebanyak 1.234 orang tewas. Gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang Palu dan Donggala diikuti tsunami mengejutkan para ahli dari sisi daya rusaknya.

Berhadapan dengan bencana Palu ini, Penulis yang sekarang berdomilisi di Maumere tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi kami sadar, Palu dan kota lain di Indonesia sama seperti kota kami memiliki potensi besar terjadi bencana.
Sekitar 26 tahun lalu, terjadi gempa tsunami yang menghancurkan hampir seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Maumere. Hari itu 12 Desember 1992 lautan berguncang menutupi kota Maumere dan sekitarnya. Sebanyak 2.080 orang tewas akibat tsunami itu, 1.490 korban berasal dari Maumere dan 590 korban berasal dari pulau Babi.
Memaknai peristiwa bersejarah ini, apa yang bisa kita buat? (Baca juga: Tsunami dan Bencana Kemanusiaan di Flores, Catatan Jelang Maumerelogia III)

Kalau kita memperhatikan kejahatan genosida pembantaian massa G30S PKI 1965, merawat ingatan menjadi suatu opsi fundamentalis. Intensi utama agar kejahatan itu tidak terulang di masa depan. Misalnya kita lihat seperti tertulis di depan Relief Patung korban G30S PKI: Waspada ... dan mawas diri agar peristiwa semacam ini tidak terulang lagi.

Apakah merawat ingatan peristiwa tsunami di Palu dan Maumere menjadi suatu yang urgen? Artikel ini berusaha mengantar kita untuk memahami esensi kedua pertanyaan mendasar itu.

Merawat Ingatan Tsunami, Mungkinkah?


Dalam bahasa Indonesia, mengingat berasal dari kata “ingat” yang berarti “berada dalam pikiran; tidak lupa; timbul kembali dalam pikiran; menaruh perhatian; memikirkan akan;. Kata “mengingat” dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang lebih luas apabila kita bandingkan dengan kata “remember” dari bahasa Inggris. Kata “remember” berarti menjaga dalam ingatan, tidak melupakan dan membawa kembali ke dalam pikiran kita”.

Bahasa Indonesia menunjuk bahwa mengingat bukan hanya ketika kita memanggil sesuatu untuk kembali dalam pikiran, namun juga menyangkut peringatan dan hal yang berhubungan dengan aksi nyata di masa yang akan datang. Jadi, menurut arti katanya, mengingat adalah sebuah tindakan untuk memanggil kembali peristiwa yang terjadi di masa lampau ke dalam pikiran kita masa kini (Binsar J. Pakpahan, 2013: 253-277).

Avishai Margalit, seorang filosof memelopori pentingnya merawat ingatan. Dia percaya bahwa mengingat sejarah di masa silam menjadi suatu cara mengubah masa depan. Mengutip Binsar J. Pakpahan, dalam Jurnal Ledalero, Margalit menulis “Striking examples of radical evil and crimes against humanity, such as enslavement, deportations of civilian populatioan, and mass exterminations”. Margalit tidak menggambarkan cara mengingat sejarah kelam masa silam. Tetapi baginya, mengingat itu adalah suatu seni untuk mengelola sejarah masa silam.

Baca juga: Soal Pengarang NTT dari Persepektif Sejarah dan Sosiologi Sastra

Pada dasarnya diskursus tentang ingatan akan tsunami bukan membangkitkan energi yang negatif dari duka masa silam. Memang, ingatan akan peristiwa tsunami pertama-tama tertimbun di dalam hati dan pikiran korban, dan dapat mewarnai seluruh hidupnya. Tetapi apabila hendak membicarakan pengalaman ini pada forum rasio sebagai sebuah pengkomunikasian gagasan tentang penderitaan, kita membutuhkan ingatan kolektif akan penderitaan itu sendiri.

Berkaitan dengan ini, Paul Budi Kleden (2006: 24) dalam bukunya “Membongkar Derita” menegaskan bahwa yang dicari dalam pengalaman kelam masa silam adalah ungkapan kolektif, ingatan yang ditunjukkan keluar, ingatan yang mengundang orang lain untuk mengingat. Bentuk ingatan itu dapat mencegah menghilangnya penderitaan dan para korban dari ingatan kolektif.
Di dalam pengertian ini, bentuk yang paling sanggup mengungkapkan ingatan kolektif akan pengalaman kelam masa silam adalah karya-karya seni dan sastra, sebab kesenian menekankan pada orisinalitas. Bagi Budi Kleden yang dimaksud adalah kesenian secara relatif lebih dapat dijadikan rujukan untuk menemukan ingatan kolektif sebuah masyarakat dan zaman akan penderitaan. 
Kalau demikian, kita juga perlu menciptakan sebuah kerangka pemikiran yang mendasarkan pengungkapan penderitaan di dalam kesenian dan terus-menerus mempertahankan warta kesenian ini dari kooptasi kepentingan lain.

Karya Sastra dan Solidaritas Terhadap Korban


Pengandaian tentang seni dan sastra sebagai ingatan kolektif akan penderitaan tidak berarti menafikkan kebenaran fakta empiris. Menempatkan kesenian sebagai bentuk ingatan kolektif akan penderitaan juga tidak dimaksud membatalkan studi ilmiah tentang penderitaan.

Kekuatan seni dan sastra terletak pada bentuk penuturan tentang penderitaan di dalam karya sastra lebih mengendap ke dalam ingatan masyarakat kolektif. Walaupun karya tersebut merupakan hasil karya seorang penulis novel atau seniman, dan bukan karya bersama, tetapi karena sensitivitas perasaannya, mampu membangkitkan ingatan orang lain akan penderitaaannya sendiri dan penderitaan orang lain.

Gambaran data objektif seringkali mengingatkan kita akan penderitaan korban. Dalam fakta itu terpampang jelas prinsip transparansi yang mengetengahkan data-data berupa angka dan grafik. Tetapi kedinginan transparasi itu kurang menyentuh sisi psikologis korban. Liputan fakta empiris hanya bergerak pada taraf rasio. Sementara korban membutuhkan sentuhan emosi yang mampu mengenangkan malum dalam sebuah mantel keindahan.

Karya sastra lebih tepat mengungkapkan, membahasakan dan menyimpan kenangan akan penderitaan, sebab karya sastra menyapa fantasi dan perasaan manusia. Lebih lanjut menurut Aristoteles dalam Poetics-nya menganggap sastra baik dan berguna karena mampu menimbulkan Katharsis pada emosi. Karya sastra mengundang subjek korban untuk terlibat; mereka lebih menggugah subjek untuk turut masuk ke dalam peristiwa dibandingkan dengan fakta empiris yang menitikberatkan pada angka dan data statistika.

Karya sastra melalui tutur kata dan tulisan para penyair membuka mata kita untuk melihat penderitaan yang dialami orang lain. Dengan itu, kepekaan dan solidaritas diasah, serta kita didorong untuk melenyapkan semua bentuk penderitaan, atau minimal menguranginya. Melalui tulisan para para penyair atau novelis, solidaritas yang didasarkan atas imaginasi atas penderitaan bersama dapat tercipta.

Baca juga: Catatan tentang Teater di NTT (Bagian 1): Rekonstruksi

Menurut Antonius Watimena (2011: 250), hanya melalui puisi dan novellah kita bisa sungguh-sungguh mengenali penderitaan dan mampu solider dengan korban. Para penulis fiksi seperti Dickens dan Elie Wiesel mampu menggambarkan secara detail penderitaan manusia dan secara perlahan menggubah kesadaran orang.

Lebih lanjut menurut Rorry, cara merawat ingatan yang diekspresikan melalui imajinasi dan bukan akal budi adalah fakultas manusia yang paling utama adalah suatu bentuk realisasi dari kemampuan orang untuk berbicara berbeda dan bukan untuk berargumentasi secara baik, yang sekaligus merupakan eleman utama solidaritas terhadap korban.

Penting diingat di sini bahwa cara merawat ingatan terhadap korban tidak hanya menuntut objektivitas. Penderitaan membutuhkan keterlibatan. Karena itu, kontribusi karya sastra menjadi sebuah memoria keindahan untuk mengungkapkan sejarah dengan gaya yang baru.

Solidaritas sosial terhadap korban melalui karya sastra bukanlah tanda menutup penderitaan dengan kosakata indah tetapi merupakan perubahan cara menggunakan metafor untuk mengungkapkan penderitaan dengan unsur seni. Bahasa seni dalam sastra sanggup menggerakkan sesuatu yang mesti terjadi kalau hendak berbicara tentang penderitaan: keterlibatan seluruh diri manusia.

Bahasa karya sastra dapat memberikan kehidupan baru kepada peristiwa masa lampau dan dengan demikian menyentuh sisi sensitivitas masyarakat untuk membangun solidaritas dengan korban.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap korban, cara merawat ingatan melalui sastra tidak hanya pada slogan Art for Art’s Sake, Dulce et Utile akan tetapi membantu korban untuk menjawab pertanyaan sulit tetapi riil tentang posisi sastra berhadapan dengan pengalaman batas seperti tsunami dan berbagai rangkaian penderitaan yang ditimbulkannya.

Berdasarkan uraian tersebut dapatlah kita sampai pada jawaban atas pertanyaan awal tulisan ini. Bahwa, merawat ingatan adalah suatu bentuk devosi untuk berdamai dengan sejarah penderitaan di masa silam sekaligus menjadi suatu cara mengubah masa depan. Cara merawat ingatan tersebut dapat digunakan melalui karya sastra.
Peranan karya sastra, selain mereproduksi solidaritas sosial, sekaligus menjawab pertanyaan esensial untuk berdamai dengan penderitaan serentak berdimensi transformatif untuk masa depan. 
Rio Nanto |
Bernama lengkap Yohanes De Brito Nanto. Anggota Serikat Sabda Allah. Selain dipercayakan sebagai Ketua Kelompok Menulis di Koran dan Diskusi Filsafat Ledalero, juga bergiat di Komunitas Teater Aletheia Ledalero, Arung Sastra Ledalero (ASAL), dan Komunitas KAHE Maumere.

Esai menarik lainnya dapat disimak di tautan ini.