Tentang Proses Penciptaan Karya Seni; Apakah Tukang Plagiat Itu Bersalah?

Apakah tukang plagiat itu bersalah? Hmmm... Tidak ada yang baru di bawah kolong langit. Tetapi tentu saja tidak berarti bahwa kita boleh mengakui karya orang lain sebagai karya kita. Kenapa? Karena memang tir boleh begitu. Halaaah!
Claudia Febriani Djenadut saat pementasan perdana tarian "Saeh Go Lino Ge" (2015) | Foto: Kaka Ited

Apakah Tukang Plagiat Itu Bersalah?


Yang main facebook dan tinggal di sekitar tempat kami tinggal sekarang, juga yang senang cek-cek whatsapp story tentu saja, bebeberapa waktu terakhir mungkin agak akrab dengan soal penjiplakan karya tari. Pasukan Saeh Go Lino melihat gerakan, ide cerita, konsep busana dan musik yang mereka pilih untuk tarian mereka, dibajak komunitas lain; diunggah ke youtube dan menjelaskannya sebagai 'hasil kreasi' mereka. Dengan segera, video itu jadi percakapan ramai di komunitas kami.

Tentang Proses Penciptaan Karya Seni


Sebelum menduga (atau memastikan?) bahwa video itu adalah jiplakan atas karya yang sudah kami pentaskan sebelumnya, beberapa penari yang pernah membawakan tarian-tarian produksi Saeh Go Lino, bersama koreografer kami Claudia Febriani Djenadut, mengingat-ingat lagi karya cipta tari yang sudah kami buat sejak tahun 2015 silam.

Ada beberapa. Saeh Go Lino Ge, Natas Labar Cama, Naka Naring Mose, dan apa lagi? Lupa. Tetapi saya tahu adalah bahwa dalam menciptakan tarian-tarian itu, Febry bersama tim memulainya dari merumuskan ide cerita, kemudian melakukan riset, lalu merumuskan simbolnya (baik dalam bentuk gerak, musik, maupun busana) pada tarian yang akan diciptakan. Setelah memastikan semuanya--membuat (sebut saja) storyboard hingga pola lantai--barulah proses latihan dimulai, musik di-mix, dan lain-lain.

Yang saya ingat betul adalah ketika hendak menciptakan tarian Saeh Go Lino Ge yang kemudian dipilih sebagai tarian utama (kami sebut anthem) komunitas kami. Video tarian itu sudah ada di kanal youtube Saeh Go Lino dan akan saya sertakan di bagian-bagian akhir catatan ini, di kolom deskripsinya juga disertakan narasi sinposis tarian itu.

Singkat cerita, untuk mendapatkan gerakan mengepak-ngepak sayap untuk tarian itu, kami belajar tentang Ngkiong (Kancilan Flores), burung endemik di Manggarai; kecantikannya, keindahan gerakannya, kebiasaannya, dll. Maka jadilah. Proses penciptaan itu terbantu karena musik yang dipilih adalah lagu Ngkiong Le Poco karya Ivan Nestorman. Tarian ini kami sebut sebagai tarian bumi karena mulai dari kisah penciptaan (pohon-pohon tumbuh), dan untuk itulah, sebagai simbol, pada bagian awal tiga orang penari diam (duduk, rebah). Dua gerakan itulah yang paling sering kami temukan ada di karya orang lain setelahnya. Semoga saja mereka paham maknanya. Atau, jika mereka menginginkannya untuk makna yang lain, semoga berhasil.

Sedangkan untuk tarian lainnya, Natas Labar Cama, kami bercerita tentang satu dari lima hal penting dalam hidup orang Manggarai yakni: Mbaru Bate Ka'eng (Rumah), Uma Bate Duat (Ladang), Wae Bate Teku (Mata Air), Natas Bate Labar (Halaman/Tanah Lapang), Compang Bate Takung (Altar Persembahan). Tarian ini, yang seperti "Saeh Go Lino Ge" juga diciptakan pada tahun 2015, bercerita tentang pentingnya harmoni. Lagu yang dipilih adalah Ngkiong sebuah lagu tradisional Manggarai yang diaransemen dengan indah oleh Ivan Nestorman, dan Cau Lime Taude (diciptakan oleh Ivan Nestorman) dan ada di album milik Tohpati. Relasi muda-mudi diceritakan dalam tarian itu, dan gerakan dansa double step kami pakai di bagian akhir. Pilihan musik ini juga ada di video tari di youtube yang saya ceritakan di bagian awal tadi.

Baca juga: Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Apakah yang mereka lakukan itu plagiat? Barangkali tidak benar-benar diniatkan begitu. Kami bisa saja telah keliru. Tetapi bisa diperhatikan lagi? Fakta-fakta ini: dua gerakan penting pada Saeh Go Lino Ge (mengawali tarian dengan duduk dan rebah), konsep busana/wardrobe daun-daun, dan pilihan musik yang sama persis dengan yang ada di Natas Labar Cama. Dua tarian tersebut telah dipentaskan berulang, termasuk lima kali pada tahun 2015 ketika dua tarian itu masuk dalam pentas Drama Musikal Ombeng. Artinya, tarian itu sudah jadi 'pengetahuan umum' sebagai produksi komunitas kami.

Namun, kami hanya bisa mempercakapkan itu--bahwa karya kami dibajak--karena belum pernah menyiarkan videonya kepada publik. Meski demikian, cukup banyak pihak, yang pernah menyaksikan "Ombeng" atau pementasan kami di beberapa tempat, dengan segera terhubung pada karya komunitas kami itu ketika melihat video youtube itu. Maka ramailah beranda Facebook dan WA-Story. Itu plagiat! Mereka bilang begitu, kami juga berpikir begitu.

Apakah Tukang Plagiat Itu Bersalah?


Ketika tiba di bagian ini, saya sesungguhnya mau sekali bilang: ya! Tetapi mungkin tidak bisa begitu di mata orang-orang yang merasa bahwa menciptakan sesuatu itu sama dengan "kau lihat beberapa orang punya karya lalu kau gabung-gabung lalu kau unggah di youtube lebih awal lalu kau jelaskan bahwa itu karyamu". Begitulah.

Baca juga: Ucapan Terima Kasih Setelah Pementasan Drama Musikal Ombeng

Masih banyak yang merasa bahwa sepanjang tidak mengambil selurus-lurusnya, kau berhak mengakui karya orang sebagai karyamu sendiri. Tentu saja itu bukan soal. Bahkan, itu biasa. Tetapi ada satu hal penting dalam proses mengumumkan karya yang kau ciptakan dari hasil menonton-membaca-mendengar karya orang lain yakni menyertakan nama pencipta pertamanya dalam pengumuman itu.

Apakah kalimat terakhir tadi terlalu sulit dimengerti?

Begini. Ketika kau merayu pacarmu dengan kalimat "aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu", dan pacarmu memelukmu erat karena berpikir kau romantis sekali, kau harus dengan segera mengakui bahwa kalimat itu kau ambil dari puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono.

Atau begini. Ketika kau menulis cerita, tentang seorang pemilik kebun yang membebaskan dua penjaga kebunnya memetik buah apa saja kecuali dari pohon apel di tengah kebun itu, jangan tersinggung dan berapi-api menjelaskan bahwa itu adalah karya orisinalmu ketika ada yang bilang bahwa kau menulis cerita itu berdasarkan kisah Adam dan Hawa di Kitab Suci Perjanjian Lama.

Bisa juga begini. Ketika ada yang setelah menyaksikan video di youtube itu segera menuduhmu membajak tarian Saeh Go Lino, kau tidak perlu repot-repot bilang: siapa yang pertama kali upload di youtube adalah pemilik karya sesungguhnya.

Percayalah! Kita tidak akan pernah menjadi kecil hanya karena tampil dengan karya orang lain. Tidak. Kita hanya menjadi kecil ketika tidak mengerti bagaimana cara memberikan kredit atas proses penciptaan orang lain dan menjadi semakin kecil ketika kita dengan jumawa mengakui karya orang lain sebagai karya kita sendiri.

Di dunia bernama penciptaan karya seni, kita semua adalah 'pencuri' sebab tidak ada yang benar-benar baru di bawah kolong langit. Kami 'mencuri' gerakan burung Ngkiong untuk tarian Saeh Go Lino Ge dan berjuang membuatnya tetap indah kalau tidak bisa lebih indah. Karena jika membuatnya lebih buruk, Sintus, salah satu penari kami pasti akan marah dan bilang: tidak masalah plagiat ka, tapi jangan bikin itu tarian jadi lebih buruk dari aslinya ka deee. Sa setuju!

Selebihnya? Berterima kasih kepada kreator sebelum kita bukan hanya soal sopan santun belaka tetapi terutama adalah penghargaan atas sebuah proses penciptaan. Sebelum sa tutup ini tulisan, kita nonton video tari Saeh Go Lino Ge dulu em.


Bagaimana. Su paham ceritanya? Terima kasih. Selanjutnya, izinkan saya menyiapkan diri untuk menangkis hujatan dari pasukan Saeh Go Lino setelah mereka baca tulisan ini. Mereka akan bilang: kae eee aeh, harus skali tulis dengan sopa-sopan ka? Hiks.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Sebagai bagian kecil dari gerakan besar "save our planet", Komunitas Saeh Go Lino mengisi akhir tahun 2019 dengan menyiapkan kado bernama Kalender untuk Bumi.
saeh go lino dan kalender untuk bumi
Kalender untuk Bumi dari Saeh Go Lino

Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi


Aksi selamatkan bumi terjadi di mana-mana. Di Ruteng, seperti juga di kota-kota lainnya di Indonesia, banyak komunitas yang melakukannya. 


Dalam banyak cara, baik cara-cara lama, cara-cara baru, cara-cara lama yang diperbaharui, semua bergiat di atas satu fondasi yang sama: membuat lingkungan menjadi lebih sehat agar kota semakin layak dihuni dan menjadi tempat tumbuh kembang yang baik.

Saeh Go Lino, sebuah komunitas kecil dengan semangat yang menggebu-gebu untuk berpartisipasi dalam apa saja yang baik, juga sesekali terlibat dalam kegiatan-kegiatan serupa. Pungut-pungut sampah di Gua Maria, bersih-bersih lapangan Motang Rua selepas acara besar di tempat itu, tanam-tanam bunga di beberapa tempat publik agar kota ini lebih indah, dan terutama saling mengingatkan agar setiap anggotanya berlaku baik pada lingkungan: tir buang sampah sembarang, kemasan permen disimpan di saku baju atau celana kalau tidak ada tempat sampah di sekitar, dll.

Namun, tentu saja hal-hal baik tadi belum cukup. Belum cukup besar? Entahlah. Pokoknya, rasanya belum cukup jika ditujukan untuk sesuatu yang lain: membuat bumi tetap baik-baik saja. Perlu ada sesuatu yang lain. Apa itu? Modelnya bagaimana? Apakah kita bisa? Untuk siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu mampir di kepala sejak akhir tahun 2018 silam.

Dalam perjalanannya, beberapa ide mampir. Mulai dari membuat jadwal reguler bakti lingkungan, ikut challenge-challenge yang macam di IG-IG itu, dan masih banyak lagi. Lalu gagal di jadwal. Beberapa orang memutuskan melakukannya sendiri-sendiri. Sembari tetap memikirkan kegiatan bersama yang kira-kira dibuat sesuai dengan apa yang disukai, dapat dikerjakan setiap anggota, dan berdaya-tendang panjang dan luas.

Baca juga: Asyiknya Berkelahi di Era Milenial, Tak Ada Penonton Tak Ada Perkelahian

Hal-hal itu penting: (1) kegiatan yang hendak dipilih haruslah kegiatan yang disukai karena kita sudah terlampau sering melakukan sesuatu dengan terpaksa sehingga meskipun itu sesuatu yang baik tetap saja tir bisa bikin kita bahagia; (2) dapat dikerjakan oleh anggota karena ini community project dan kita harus berhemat anggaran; (3) berdaya-tendang panjang juga perlu dipikirkan agar tidak selesai di linimasa media sosial tapi menjangkau lebih banyak orang.

Kemudian kami melihat kekuatan anggota. Ada fotografer, ada desainer grafis, ada penata tari, ada sutradara, ada perupa, dan masih banyak lagi. Kita buat apa dengan modal manusia-manusia ini?
"Foto-foto!" "Muat di IG!" "Bikin infografis kampanye!" "Tetapi itu biasa!" "Su banyak yang buat!" "Kalau begitu kita bikin kalender!" "Sepakat!" "Kenapa?"

Kalender untuk Bumi


Pertengahan November 2019, diskusi tentang pembuatan kalender dimatangkan. Mulai dari percakapan grup, hingga ke pertemuan di markas. Nama program ini menjadi "Kalender untuk Bumi", dengan alasan-alasan berikut ini.

Pertama, kalender akan dipajang sepanjang tahun, dilihat setiap hari, dan berada di tempat yang sangat strategis di rumah/ruang kerja kita masing-masing. Untuk itu, bentuk kalender itu haruslah menarik: diisi pesan-pesan terkait lingkungan hidup, kutipan-kutipan dari tokoh-tokoh dunia (tentang plastik, tentang bumi, tentang relasi manusia dan lingkungan, dll.).

Kedua, sebab dipasang di dinding, narasi lingkungan hidup itu akan dapat dibaca setiap hari oleh bapa-mama-kaka-ade dan kita semua, pesan-pesan yang dibaca setiap hari akan jadi 'naskah hidup' dan selanjutnya berubah menjadi 'panduan'. Bagi anak-anak sekolah, kalender ini bisa memiliki banyak fungsi, mulai dari latihan membaca hingga merenungi!

Ketiga, kita bisa mengerjakannya dengan biaya yang murah; didanai sendiri. Foto-foto dalam kalender ini, yang fotografer dan modelnya adalah pasukan Saeh Go Lino, adalah foto-foto satire, tentang apa yang mungkin terjadi kalau kita tak peduli lingkungan; setiap foto dan narasi berhubungan tetapi juga dapat dinikmati sendiri-sendiri.

Keempat, bagi Saeh Go Lino sendiri, project ini adalah self-reminder: agar kami tidak semena-mena pada lingkungan.

Seluruh tim terlibat mengerjakannya. Melakukan riset foto (terutama yang berada dalam keyword "stuck in plastic"), merumuskan ide cerita, menentukan tim kerja, mengumpulkan modal produksi, mencari properti pendukung, riset lokasi, hingga penentuan tanggal pemotretan: Jumat, 29 November 2019. Daftar tim kerja tertera di halaman pertama kalender. Macam di poster-poster film dorang.

Kami memilih Golo Lusang sebagai tempat pemotretan setelah tim riset lokasi berkeliling ke seluruh penjuru kota. Tim lain bekerja untuk hal-hal lain termasuk menentukan tempat percetakan, kertas yang akan digunakan, dan hal-hal lain agar kegiatan itu tidak selesai di 'foto-foto' saja. Saya yang mendapat tugas itu dan segera memutuskan Surabaya sebagai tempat kalender ini dicetak sebab saya bisa meminta bantuan seorang teman di sana. Ya, kami bekerja juga dalam dunia jaringan.

Baca juga: Setelah Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam, Ucapan Terima Kasih Ini Ditulis Terburu-buru

Popind Davianus, Pemimpin Redaksi Tabeite.com saya kontak. Dia setuju membantu seluruh prosesnya dengan tambahan pesan: Jangan kasi saya uang bensin, Kae. Sa siap bantu untuk kegiatan baik begini. Dan dia memang melakukannya. Membantu mengurus segala proses percetakannya, pake tahan diap uang untuk depe, berdiskusi tentang jenis kertas yang ramah lingkungan, dll. Saya berutang sepiring nasi babi dan kopi yang benar untuk ini anak atas kerja baiknya. Beberapa orang kemudian ikut terlibat. Ada Rian yang mengurus pengirimannya, dan seorang lagi yang membawa kalender ini ke Ruteng sebab biaya pengiriman lewat jasa pengiriman yang besar ternyata mahal sekali.

Begitulah. Seluruh kerja produksi telah selesai. Kalender untuk Bumi itu sudah ada di Ruteng. Ya! Kalender untuk Bumi, dengan spesifikasi: (1) dicetak menggunakan kertas ramah lingkungan; (2) berisi kutipan tokoh dunia tentang lingkungan dan data kerusakan lingkungan plus upaya mengatasinya, serta foto-foto satire yang dikerjakan fotografer dan aktor Saeh Go Lino; (3) tersedia dalam bentuk kalender meja dan kalender dinding.

Dengan membelinya, Anda berpartisipasi dalam kampanye bersama menyelamatkan bumi, juga mendukung kegiatan komunitas kami. Kontak pasukan Saeh Go Lino sekarang. Kalender ini dicetak 100 eksemplar saja. Dana yang Anda keluarkan adalah 100 ribu rupiah. Di Kalender untuk Bumi ini, selain bertemu pasukan Saeh Go Lino, Anda bisa bertemu dengan cerita tentang Greta Thunberg, John Paul II, Sartre, Joko Pinurbo, data-data kerusakan lingkungan, cara sederhana menyelamatkan bumi, dan lain-lain.

Salam
Armin Bell
Ruteng

Tulisan lain tentang Komunitas Saeh Go Lino dapat dibaca di tautan ini!

Desember Ini di Ruteng

Tirada hujan yang turun sepanjang hari pada bulan Desember ini di Ruteng. Tetapi kota ini tetap kota Natal. Di Aula Assumpta Katedral Ruteng akan ada Christmas Song Festival. Begitu!
desember ini di ruteng
Ruteng

Desember Ini di Ruteng


Saya kira, siapa saja yang pernah merasakan hawa Ruteng pada bulan Desember akan ingat satu hal: hujan sepanjang hari. Tapi itu beberapa tahun lalu. Sekarang tak begitu. Kalau tidak percaya, datanglah.

"Macam bukan Desember im!" "Macam belum mau Natal saja!" Kau akan mendengar kalimat itu dalam percakapan kami beberapa waktu terakhir ini. Barangkali karena perubahan cuaca global dan kita tidak bisa apa-apa. Iya to? Agak lain, memang. Maksud saya, agak lain dalam arti yang agak lain. Halaaah.

Begini! Hujan, meski oleh sebagian penikmat puisi dianggap gerbang menuju pintu yang romantis, toh, tetap saja bikin sekian ribu orang menggerutu. "Hiissssh... hujan lagi. Tir bisa pi jalan-jalan memang sa. Bikin sap maskara/pomade luntur." Pernah dengar yang begitu? Yang jengkel dengan hujan. Pernah to? Tapi hujan juga penanda kota. Dan kota itu adalah Ruteng. Dan karena itulah dia dirindukan di sini. Apalagi pada bulan Desember seperti ini, saat di mana dia, meski kadang bikin jengkel tetapi tetap saja telah dianggap sebagai tanda. Ruteng, Desember, tirada hujan, kita tinggal di mana sebenarnya? Sa sempat pikir begitu.

Tetapi kita tetap tinggal di Ruteng, kawan. Ruteng yang berada di ketinggian 1.188 meter dpl, yang adalah ibukota Kabupaten Manggarai, yang kenanganmu tercecer di sepanjang jalan dan kau tercekat ketika melihat sebagian kisah itu tertinggal di genangan air setelah hujan, yang Lipooz bilang sebagai kota kecil dengan 1000 gereja, yang para wisatawan bilang cool climate for relaxing, yang adalah kota Natal.

Ya. Ruteng kota Natal. Dengan atau tidak dengan hujan, Natal di Ruteng selalu bikin bahagia. Lipooz juga pernah bilang begitu: Mori ca kanang ngoeng daku ntaung hoo/ Toe ngaji te bora mosem anak mo../ Cala nganceng ngo cumang ise ende ema/ Nganceng onto cama du wie natal one Ruteng ee.

Dan, di Ruteng, Natal selalu menyenangkan di Paroki Katedral Ruteng. Bukan tentang misa sebab misa Natal selalu menyenangkan di mana saja kita merayakannya. Ini tentang kegiatan-kegiatan.

Beberapa tahun terakhir, selalu ada kegiatan menarik di Paroki Katedral Ruteng. Entah di pelataran parkir, di aula, di LG Corner, atau di wilayah-wilayah. Ada Kuliner Natal di Aula Assumpta beberapa tahun lalu. Ada lomba menghias pohon Natal. Ada kandang Natal di setiap KBG. Dan lain-lain.


Tahun ini, Desember ini, di Katedral Ruteng, ada yang baru dan lebih meriah. Natal Ceria 2019 namanya. Lebih meriah karena sejak September 2019 lalu hingga September 2020 mendatang, Paroki Katedral Ruteng menyiapkan diri—melalui aneka kegiatan—menyongsong usia 100 Tahun paroki itu. Paroki St. Maria Assumpta - St. Yosef, Katedral Ruteng. Dan di bulan Desember ini, Panitia 100 Tahun Paroki Katedral Ruteng melaksanakan acara itu. Ada Christmas Song Festival, Bazaar dan Kuliner Natal, dan banyak kemeriahan lainnya: paduan suara, vokal grup, penyanyi solo-duet-trio-kwartet, tari, sendratari, drama, puisi, stand-up comedy, dan kita. Ya, kita.

Natal Ceria 2019 di Katedral Ruteng
Kita. Kita memang harus hadir di event yang akan dilaksanakan di Aula Assumpta Katedral Ruteng mulai tanggal 15 Desember sampai 20 Desember 2019 itu. Dibuka mulai pukul 16.00 Wita dan berlangsung sampai pukul 21.00 Wita selama enam hari. Belum sempat belanja kue natal? Di sana ada. Mau lihat lagu-lagu Natal dinyanyikan dengan indah? Di sana ada. Jadi?

Jadi begitu! Tentu saja sa ju rasa agak lain karena hujan tir turun selebat Desember-Desember sebelumnya—sa macam ada rindu ju dengan hujan yang begitu—tetapi di Ruteng, Desember tetap sama: ini kota Natal, kawan. Sunggumati. Misalkan setelah selesai ikut Natal Ceria 2019 itu kau mau lihat lampu-lampu Natal, di Gang Israel - Tenda, tetap ada lorong-lorong cahaya seperti tahun-tahun sebelumnya. Di rumah-rumah tetap ada wangi kue seperti sediakala. Di pusat-pusat perbelanjaan tetap ada antrean panjang sebagaimana seharusnya. Di hatimu, tentu saja, sesekali akan ada kisah yang terpanggil pulang: Deee... sa ingat skali dia e aeh. Biasanya kami pi misa sama-sama. Iya to?

Pokoknya begitu. Light up the light, karena ini Ruteng, kota Natal. Jangan lupa datang ke Aula Assumpta Katedral Ruteng. Kami tunggu di sana. Mau curhat? Sa tunggu di belakang aula. Ehmmmm...

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ps:
Cerita-cerita menarik lain dari Ruteng dapat dibaca di sini.

Agnez Mo Begitu, Kita Begini, Tidak Sama

Agnez Mo dan pernyataannya tentang Indonesian Blood menuai percakapan luas. Ramai sekali kita bercakap-cakap. Menjadi pembela. Menjadi Pencela. Tetapi kita tidak sama!
agnez mo begitu kita begini tidak sama

Agnez Mo Begitu, Kita Begini, Tidak Sama


Beberapa jam saja setelah penggalan video dari BUILD Series di Youtube episode Indonesian Pop Artist Agnez Mo Talks New Music, Including Her Single, "Diamonds" beredar, beranda media sosial ramai oleh percakapan-percakapan. Tentang DNA, nasionalisme, pribumi - nonpribumi, dan lain-lain.

Kita semua tahu, di penggalan video itu, Agnez Mo bilang dua hal.

Pertama, dia tidak punya darah Indonesia sama sekali; bahwa dia sebenarnya campuran Jerman, Jepang, dan Chinese. "Saya hanya lahir di Indonesia," begitu kata Agnez Mo kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kedua, bahwa dia beragama Kristen, dan di Indonesia mayoritas adalah Muslim. Agnez Mo tidak bilang bahwa dia tidak berasal dari sini (Indonesia), karena sesungguhnya dia merasa diterima. Tetapi dia merasa tidak seperti yang lain.

Jutaan orang mendadak gelisah. Ada yang gelisah sebab Agnez Mo seperti mengkhianati Sumpah Pemuda—ini kegelisahan yang besar sekali rasanya; ada yang gelisah sebab sebagai seorang seniman yang memulai segala sesuatunya di Indonesia, Agnez seperti lupa akar; ada juga yang gelisah bahwa jawaban Agnez soal minoritas-mayoritas di acara bincang-bincang itu akan menimbulkan (atau meningkatkan?) stigma bahwa menjadi minoritas di Indonesia itu (memang) susah.

Soal kegelisahan yang dikaitkan dengan Sumpah Pemuda, tentu saja benar (hanya) jika kita menafsir bahwa "Indonesian Blood" yang Agnez Mo sampaikan itu berarti bahwa dia menolak mengakui dirinya sebagai Indonesia. Artinya, kita mengabaikan hal 'sederhana' dari teks Agnez Mo itu: darah yang mengalir/menjadikan dia ada. Ya, dia lahir di Indonesia, darahnya tumpah di Indonesia, yang berarti bahwa Indonesia adalah tanah tumpah darahnya. Tetapi bukankah darahnya yang tumpah itu adalah campuran Jerman, Jepang, dan Chinese?

Baca juga: Jogja?

Namun, soal darah ini kemudian berkembang ke masalah DNA, sesuatu yang kemudian membuat teks Agnez Mo menjadi begitu rumit. Karena itulah saya merasa kegelisahan pada bagian ini besar sekali!

Perihal Agnez Mo dianggap lupa akar? Hmmm... Seharusnya yang berkomentar demikian menyempatkan diri melihat talkshow itu secara lengkap. Pada bagian sebelumnya, Agnez Mo bicara tentang keragaman budaya Indonesia dan bahwa itu semua tetaplah bagian dari dirinya. Sesaat setelah menyampaikan hal itu, dia mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting: inklusivitas—sesuatu yang hemat saya adalah bagian yang dipikulnya dengan kesadaran bahwa Indonesia adalah bagian dari seluruh dunia.

Tentang kegelisahan ketiga, barangkali, adalah bagian yang paling menarik: teks yang secara implisit disampaikannya untuk menjelaskan (sebut saja) ketidaknyamanannya sebagai minoritas. Kita reaktif. Warganet +62 barangkali khawatir bahwa pernyataan tersebut adalah semacam interteks (pada dunia internasional) tentang nasib kamu minoritas di negeri ini; sesuatu yang sesungguhnya ingin 'disembunyikan' karena akan berdampak kurang baik bagi iklim investasi atau turisme? Kenyataan bahwa hal itu disampaikan oleh seniman asal Indonesia yang kini berkarir internasional seperti membuka lebar-lebar 'pintu stigma'.

Artinya, atau paling tidak menurut saya, artinya, sebagai orang Indonesia dengan privilese sebesar itu, tugas Agnez Mo adalah menceritakan kepada seluruh dunia bahwa Indonesia adalah negeri yang hebat, tanpa harus menggumamkan masalah minoritas-mayoritas.

Sampai di bagian ini, saya tiba-tiba ingat lagi berita yang saya baca sebelum mulai menulis ini. Di thejakartapost.com. Media itu mengutip (menerjemahkan) cuitan Teddy Setiawan Kho (@ted_ko): "When you’re an Indonesian of Chinese descent, you are teased for being Chinese when you’re just a mediocre, but when you’ve achieved something, people will say that you’re Indonesian.”

Begitukah? Maksud saya, bukankah begitu? Orang dalam posisi sebesar Agnez Mo, yang perjalanan kesenimanannya telah mendunia memang sudah seharusnya "membawa panji-panji Indonesia" dan harus mampu melupakan situasi saat dia tidak dianggap sepenuhnya orang Indonesia ketika tidak sedang menjadi siapa-siapa. Itu yang kita harapkan, bukan?

Baca juga: Yubileum, Presiden SBY, dan Celana Goni

Karena itulah, Agnez Mo dirisak. Dari sekian banyak risakan, yang paling menarik (atau lucu?) adalah yang berisi 'pengingat': Hei Agnez Mo yang dulu adalah Agnes Monika, kau jadi sebesar itu karena makan nasi di Indonesia—dan kalimat-kalimat sejenis; kau tidak boleh mengakui bahwa kau pernah merasa kurang diterima di negeri ini! Ini menarik (saya pikir, saya sebut menarik saja daripada menganggapnya lucu).

Menarik karena, soal makan di Indonesia dan menjadikan kau harus Indonesia ini agak kurang pas lagi pada situasi sekarang: pintu investasi dibuka, siapa saja dan dari mana saja boleh cari makan di sini. Di Labuan Bajo, banyak restoran, hotel, motel, dan usaha-usaha turisme lainnya yang dimiliki oleh orang-orang dari luar Indonesia. Mereka cari makan di sini. Di Indonesia. Apakah kita akan marah-marah jika pada suatu talkshow dia akan bilang bahwa dia memang cari makan di Indonesia tapi dia tidak pernah merasa sebagai orang Indonesia?

Namun, contoh yang saya pakai soal cari makan tadi tentu saja bukan hal yang penting. Yang sesungguhnya paling penting adalah bukankah kita semua memang memiliki kecenderungan yang oleh Teddy Setiawan Kho dibahasakan dengan: "Chindo kalau biasa-biasa aja dikatain Cina, harus berprestasi baru diaku-aku Indonesia"?

Saya tiba-tiba ingat seorang teman. Dari etnis Tionghoa. Ketika kecil, ciri fisiknya, yang berbeda dari anak-anak Manggarai lainnya, membuat dia diolok-olok. "Hoi Cina. Pulang kau ke Cina sana!" Padahal dia lahir di sini. Di Manggarai. Di kampung pula. Dia tetap dianggap bukan Manggarai. Dia sudah besar sekarang. Menjadi seorang dokter. Dan masuk dalam hitungan sebagai satu dari beberapa dokter asal Manggarai. Can relate?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Jogja?

Peristiwa yang saya ceritakan ini terjadi di Bantul. Bantul ada di Propinsi DIY. Demikianlah alasan tulisan ini saya beri judul Jogja.
Foto: Kaka Ited

Jogja?


Saya kira, berita atau cerita tentang orang-orang yang ditindas pasti selalu bikin kita bersedih. Jika terjadi berulang-ulang oleh orang (atau di tempat) yang sama, reaksi berikut yang akan muncul adalah perasaan jengkel. Orang-orang yang jengkel, biasanya akan dengan mudah mengeluarkan pendapat. Dikeluarkan saja tanpa perlu dipikirkan dengan baik. Asal bisa bikin kita sedikit senang, kita hajar saja dulu.

Saya mengalaminya beberapa waktu terakhir. Melakukannya, maksud saya. Mengeluarkan begitu saja pendapat bahwa Jogja adalah tempat yang buruk toleransinya. Peristiwa yang viral tentang larangan beribadah kepada sekelompok orang karena mereka tidak memiliki izin penyelenggaraan ibadah itu membuat saya berpendapat begitu.

Tahu peristiwa itu, bukan? Ada petugas polisi duduk dan memberi penjelasan bahwa ibadah yang sudah direncanakan sebelumnya, tidak boleh dilanjutkan. Harus ada izin. Bukan hanya dari Ketua RT setempat. Izinnya harus datang dari propinsi juga. Saya jengkel sebab itu adalah ibadah di rumah. Seperti tahlilan, doa rosario, dan ibadah-ibadah dalam skala sekecil itu. Izin dari propinsi rasanya adalah aturan yang keterlaluan sekali ribetnya. Peristiwa itu terjadi di Kabupaten Bantul, Propinsi DIY.

Saya tidak tahu persis, apakah peraturannya memang seperti itu atau itu hanya penjelasan yang keliru saja, tetapi saya dengan segera menjadi jengkel. Dan karena itu terjadi di Jogja, ingatan tentang peristiwa serupa pada tahun-tahun yang telah lewat segera datang. Jumlahnya cukup banyak. Doa rosario dibubarkan, pertemuan ini dan itu dibubarkan, perantau diintimidasi, aduh!

Kemudian saya menyesal bahwa dengan begitu mudah memberi label pada kota yang menyenangkan itu sebagai tempat yang buruk toleransinya. Saya menyesal sebab saya tahu, di sudut-sudut yang lain, begitu banyak penghuni Jogja yang baik hatinya. Kota ini punya banyak sekali perusahaan penerbitan. Yang menerbitkan banyak buku bagus. Juga buku-buku tentang indahnya keragaman dan manisnya toleransi.

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat Tentang Ruteng

Yang saya pikirkan adalah, bahwa di tempat yang derajat literasinya tinggi (pandangan soal derajat literasi yang tinggi ini saya ambil dari fakta bahwa di tempat itu ada banyak aktivitas perbukuan), tingkat toleransinya juga pasti baik. Sudah sering kita dengar bahwa orang-orang yang rajin membaca, dan membaca banyak buku, adalah orang-orang yang tingkat penghargaannya pada sesama manusia juga pasti tinggi. Menghargai sesama manusia ini mestilah sepaket dengan menerima perbedaan cara sembahyang dengan segala kelapangan dada. Mencegat rencana sembahyang jelas tidak termasuk di dalamnya. Tetapi mengapa di Jogja situasinya jadi lain?

Tentu saja saya manggut-manggut ketika membaca penjelasan Wakil Bupati Bantul di media-media bahwa itu adalah persoalan miskomunikasi dan bukan intoleransi. Saya manggut-manggut saja barangkali karena agak sulit mengerti.

Soal sulit mengerti itu, saya memang sering mengalaminya akhir-akhir ini. Saya sulit mengerti bahwa semakin banyak buku soal toleransi diterbitkan, situasi intoleransi masih sering terjadi. Saya sulit mengerti perbedaan antara miskomunikasi dan intoleransi. Saya sulit mengerti bahwa ada yang merasa terancam ketika melihat orang lain berdoa. Saya sulit mengerti bahwa kita harus mengerti alasan orang-orang berkumpul dan jika tidak maka kita wajib menanyakannya. Saya juga sulit mengerti, mengapa saya mudah sekali jengkel lantas memaki-maki kesewenang-wenangan?

Seharusnya, kalau mau main aman--dan saya pikir akan lebih sering memikirkan peluang melakukan permainan aman itu--saya santai-santai saja dengan situasi begitu. Karena, kemarin itu di Jogja, besok bisa di mana saja, dan setelahnya akan tetap aman-aman saja, bukan? Duh, drama. Sekarang saya sulit mengerti, mengapa saya bersedih ketika menuliskan paragraf terakhir ini?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Arie Hanggara

Arie Hanggara meninggal dunia pada tanggal 8 November 1984. Dia korban kekerasan dalam rumah tangga.
ist

Arie Hanggara


Tanggal 8 November 2019 kemarin, Tirto menyiarkan satu tulisan menarik. Kisah Arie Hanggara dan Kekerasan yang Menghantui Anak-Anak. Begitu judul artikel itu. Membahas kisah Arie Hanggara, seorang anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Arie Hanggara, yang lahir pada tanggal 31 Desember 1977, meninggal dunia pada tanggal 8 November 1984.

Saya berumur 4 tahun lebih beberapa bulan ketika peristiwa itu terjadi sehingga tidak tahu persis berlangsungnya kejadian itu. Selain alasan umur yang masih terlalu kecil, alasan lain adalah karena kami tinggal di Pateng, kampung yang begitu jauh dari sumber-sumber informasi atau bacaan-bacaan lain. Maksudnya, misalkan peristiwa duka itu terjadi pada saat saya sudah bisa baca-tulis, rasanya butuh waktu cukup lama setelah kejadian baru saya bisa dapatkan ceritanya.

Maka ketika pada tahun 1985, kisah sedih Arie Hanggara itu diangkat ke layar lebar, butuh waktu beberapa tahun lagi setelahnya sebelum akhirnya cerita itu sampai ke Pateng.

Sejauh yang saya ingat, kakak perempuan saya, Lumini Alwi Petronela (almarhumah) adalah yang pertama membawa cerita itu ke rumah. Dia sekolah di Ruteng kala itu. Ruteng adalah ibukota Kabupaten Manggarai, dan karena dia kota maka lebih cepatlah segala informasi sampai ke tempat itu.

Muder Yuliana adalah orang berikutnya yang menceritakan kisah Arie Hanggara. Mama kami itu membaca kisahnya, mungkin di koran Suara Karya atau di Majalah Kartini, dan membagi ceritanya pada suatu kesempatan.

Saya sedih sekali kala itu, dan oleh sebab itulah rasanya, mau tidak mau, saya mengingat Arie Hanggara hingga sekarang: seorang anak jadi korban kekerasan orang tua--kisah yang saya anggap adalah anomali (terjadi satu di antara seribu, sepuluh ribu, atau seratus ribu lebih rumah tangga) dan karena itulah dia meninggalkan luka, ada anak mati disiksa.

Baca juga: Menolonglah Seperti Ibu Piara

Setelah menjadi orang tua, juga setelah berteman dengan sangat banyak anak (muda), saya sadar bahwa kekerasan dalam rumah tangga oleh sebab relasi kuasa bukan anomali melainkan hal yang 'sehari-hari'. Yang anomali dari kasus Arie Hanggara barangkali adalah akibatnya yakni kematian, sedangkan kekerasannya terjadi begitu sering. Dalam bentuk verbal atau siksaan fisik, kita sering menemukannya di sekitar kita, atau bahkan kerap melakukannya.

"Kau bodok skali tah!", "Anak tir ada guna!", "Bikin malu keluarga!" "Kau tidak seperti si X anak tetangga yang rajin itu!", adalah contoh kekerasan verbal orang tua pada anaknya yang semula ditujukan sebagai motivasi namun pada waktu-waktu berikutnya justru seperti pisau tumpul yang diasah dengan rajin dan akhirnya menjadi pembunuh yang cepat.

Saya tentu saja beruntung bahwa Guru Don dan Muder Yuliana tidak tergoda membanding-bandingkan kami dengan anak-anak dari keluarga lain, yang lebih rajin, misalnya. Mereka punya cara lain (entah apa) yang membuat kami berjuang menjadi baik tanpa harus berusaha 'mengejar secara memaksa kemampuan' prestasi anak-anak lain.

Kalau saya diminta mendeskripsi Guru Don dan Muder Yuliana dalam satu kata, maka kata itu pastilah demokratis. Maksudnya, sejauh yang saya sadari hingga sekarang, dua orang itu membiarkan kami menjadi apa saja dan tugas mereka hanyalah mengingatkan dan mencurahkan cinta kasih secara terus menerus.

Baca juga: Mora Masa, Menabung Rumput Menuai Rupiah

Soalnya adalah, saya sekarang menjadi orang tua dari dua orang anak. Oleh karena merasa bertanggung jawab atas masa depan mereka serta keterbatasan kemampuan mendidik atau pendeknya kesabaran, saya pikir saya kadang melakukan kekerasan. Verbal, tentu saja. Dan saya menjadi khawatir.

Kekerasan verbal juga berbahaya, bukan? Sulli merasakannya beratnya (dari para netizen) dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Kisah kematian Sulli dapat dibaca di sini. Beberapa cerita di sekitar saya juga menguatkan fakta itu: orang-orang menjadi patah arang karena dirisak orang dekat mereka.

Membaca lagi kisah Arie Hanggara ini membuat saya sedih sekali. Entah pada bagian apa, tetapi menjadikan seseorang lebih baik (sesuai yang kita pikirkan), bukankah dapat saja menempatkan orang itu pada situasi yang buruk sekali? Solusinya? Saya tidak tahu. Maksud saya, saya tidak tahu persisnya. Tapi saya kira, cinta kasih yang tulus dan memerdekakan adalah panduannya. Semoga kita semua bisa. Amin!

Oh, iya. Tirto.id menyiarkan artikel tentang kisah sengsara tersebut sebagai peringatan atas hari kematian Arie Hanggara. Saya merasa, itu adalah keputusan yang baik sekali. Bahwa, kita, dalam posisi sebagai apa saja, penting mengenang hal-hal demikian; agar menjadi lebih mawas.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Be Happy, You!

Be happy, You! Saya senang mengatakannya sekarang. Saya senang kalau lihat orang-orang hidup dengan senang. Be happy, You. Yes, you, my friend!
be happy you
Image: Courtesy of Saeh Go Lino, taken by Lisa Djeranu

Be Happy, You!


Saya tahu Kunto Aji dari lagunya yang "Terlalu Lama Sendiri". Saya suka lagu itu karena liriknya bagus dan Kunto Aji adalah penyanyi yang hebat. Juga karena lagu itu, salah satu bagiannya asyik juga dipakai buat olok-olok; sudah terlalu lama sendiri... Yang jadi sasaran adalah teman-teman sekomunitas yang masih jomlo. Yang jadi target utama adalah mereka yang jomlonya telah panjang sekali.

Awalnya itu terasa menyenangkan karena lucu. Namanya juga olok-olok di antara orang-orang yang sudah besar. Biasanya memang bukan untuk saling menyakiti tapi biar ada bahan untuk tertawa bersama-sama. Makanya saya heran kalau ada orang besar yang saling olok lalu berubah ke perkelahian. Harusnya ya buat ditertawakan saja. Seberapa sulit tertawa pada orang-orang yang mengolok-olok kita dengan berpikir bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang kita? Bukankah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tetapi ngotot itu memang pantasnya jadi tertawaan saja?

Idealnya begitu. Tetapi dunia ini barangkali ini sudah lama tidak ideal, atau kita sudah tidak ideal lagi untuk dunia yang bergerak maju dengan pesat seperti ini. Soal ini harus dibicarakan lagi dengan serius; mencocokkan ideal gerak maju dunia dengan sikap/pikiran/perkataan kita.

Tetapi olok-olok tidak lagi menyenangkan ketika telah meninggalkan luka yang besar. Menganga, tak terobati, semakin lebar karena bumbu olok-olok ditambah kepedasannya; yang semula lucu menjadi tidak lagi lucu, yang semula diniatkan sebagai pendatang tawa malah menyisakan perih. Yang tak terkatakan. Yang mendekam di ingatan. Yang menjadi beban. Dan yang mengolok-olok tak jua kunjung berhenti.

Kembali ke soal Kunto Aji tadi. Setelah "Terlalu Lama Sendiri" itu tidak viral lagi sebab dalam sekian waktu saja sebuah lagu akan mudah digusur oleh lagu lainnya--entah apa yang merasuki para penggemar musik kita--saya tidak banyak lagi mendengar cerita tentang penyanyi yang pernah adu nasib di Indonesian Idol ini. Saya merasa itu hal yang biasa-biasa saja, yakni seorang mantan 'artis Indonesian Idol' lantas lenyap dari percakapan pencinta musik. Joy, Delon, Iksan, siapa lagi?

Namun ternyata tidak persis demikian. Bahwa mereka hilang dari percakapan, mungkin hanya perasaan saya saja. Perasaan yang lain tentu beda. Buktinya? Kunto Aji tetap ada setelah "Terlalu Lama Sendiri". Saya mengetahuinya beberapa hari yang lalu.

Kunto Aji dan Pilu Membiru


Untuk kepentingan yang barangkali tidak terlampau penting, suatu malam saya menghabiskan banyak waktu dengan Mantra Mantra, album yang rasanya begitu personal dari Kunto Aji. Ah, iya. Awalnya saya terjebak di twitter. Ada akun @tidakadasalju yang posting video bagus sekali. Personal tapi baik. Dan lagu yang dia pakai di video itu adalah "Pilu Membiru", salah satu lagu di album Mantra Mantra. Saya sedang mengumpulkan bahan cerita, sesungguhnya. Tentang kehilangan, tentang perasaan ditinggalkan, tentang diam yang bahaya, dan lain-lain; depresi rasanya berawal dari unfinished situation: hal-hal yang (sesungguhnya) belum selesai tetapi kita diamkan saja.

Setelah twitter, malam itu juga saya ke Youtube, ke akun resmi Kunto Aji. Lalu membaca komentar para netizen (bukan jalan ninja saya tetapi kerap saya lakukan untuk 'tambahan suasana'). Di sana saya melihat ratusan komentar tentang Pilu Membiru yang orang-orang pakai untuk menyembuhkan luka. Beberapa orang mengaku menangis deras sekali selama mendengar lagu itu (sebab mengingat orang-orang tercinta mereka yang telah pergi) lalu merasa lega setelahnya karena tangis yang deras ternyata itu baik untuk release/healing.

Dari komentar para netizen itu saya akhirnya tahu bahwa Kunto Aji pernah diundang ke Narasi TV dan membuat Najwa Shihab menangis. Ya, Narasi TV adalah kanal youtube yang di dalamnya ada Najwa Shihab. Di kanal itu, pada suatu ketika di bulan Desember 2018 silam, Najwa ngobrol dengan Kunto Aji. Tentang album "Mantra Mantra".

Lagu-lagu di album itu, seperti juga album dia sebelumnya, Suara dan Gema, adalah kisah-kisah dari ruang privat. Dan, karena kisahnya sebagian besar adalah tentang bagaimana menyelesaikan 'soal-soal pribadi' (di album itu, juga di wawancara Najwa dan Aji), saya lalu ingat betapa banyak orang yang memutuskan mendiamkan soal-soal mereka-- menyimpan semua perkara dalam hati seperti Maria--padahal mereka tak sekuat Ibu Yesus itu.

Kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang menyimpan semua perkara dalam hati padahal mereka tak sekuat Bunda? Depresi! Kau tahu apa yang harus kau lakukan ketika kau tak sekuat Bunda? Berbagi!

Baca juga: Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Saya pernah kehilangan seorang adik yang "memutuskan pergi" karena tak banyak bercerita padahal dia mengalami situasi yang sulit dalam beberapa masa hidupnya. Saya bersedih. Hingga sekarang, setiap kali mengingatnya, saya menyesal karena tidak berhasil memaksanya bercerita. Saya juga membaca begitu banyak berita tentang orang-orang yang berusaha menyelesaikan soalnya dengan 'kekuatan sendiri' lalu gagal dan akhirnya melakukan sesuatu yang buruk.

Mendengar "Mantra Mantra", juga mendengar cerita-cerita tentang hal-hal yang mirip, saya pikir, bercerita adalah hal terbaik untuk menyembuhkan; yang harus kau pikirkan terutama adalah dirimu sendiri.

Saya bertemu banyak orang yang sedang berjuang membahagiakan orang-orang di sekitar mereka dan oleh karena usaha itu begitu keras mereka lakukan mereka lantas depresi; saya sedih. Be happy, You! Setelahnya baru kau pikirkan nasib orang-orang di sekitarmu. Kau harus bahagia dulu. Bukan. Kau harus kuat dulu. Ah. Tidak persis begitu. Orang-orang bahagia adalah orang-orang yang kuat. Orang-orang yang kuat adalah mereka yang percaya bahwa telinga orang-orang di sekitarnya adalah tempat mereka bercerita.

Bisa paham jalan cerita ini?

Lalu, masihkah kita boleh tertawa ketika seorang teman datang dan menceritakan kesedihannya? Tidak adil sekali. Mereka datang, bercerita, menangis. Tugasmu adalah menyiapkan telinga. Itu saja. Bisa? Jangan hakimi siapa pun kalau kau tidak pernah jadi telinga.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Pesta Emas SDK Ruteng V; Pa Galus Ganggus, Alvand dan Ited, dan Paulo Freire

Pa Galus Ganggus pernah meraih penghargaan Guru Teladan Republik Indonesia. Kini dia telah pensiun. Pensiun dengan gembira. Kami bertemu di Pesta Emas SDK St. Theresia Ruteng V, Sabtu, 12 Oktober 2019.
pesta emas sdk ruteng v pa galus ganggus alvand dan ited dan paulo freire
Pa Galus Ganggus, Mama Rana, dan Rana di Pesta Emas SDK Ruteng V

Pesta Emas SDK Ruteng V; Pa Galus Ganggus, Alvand dan Ited, dan Paulo Freire


Hari ini saya bertemu Pa Galus Ganggus. Saya mengenalnya pertama-tama sebagai pemain saxophone. Harap dimaklumi, karena saya bukan anak kota. Anak-anak Ruteng, terutama yang pernah sekolah di SDK Ruteng V tentu saja mengenalnya sebagai guru. Guru yang cerdas. "Pintar betul dia, Kae," kata seorang alumni Ruteng V yang saya temui di sela kemeriahan Peringatan 50 Tahun SDK Ruteng V.

Bahwa pintu masuk perkenalan saya adalah melalui saxophone, adakah yang bisa melarang? Tidak ada. Saya SD di kampung dan mengenal guru-guru SD di kota bukan sebuah kewajiban. Bukankah begitu? Lagipula, ketika saya mengenalnya pertama kali beberapa tahun silam, Pa Galus tidak mengajar lagi. Dia pindah kerja. Dari guru ke 'pegawai kantoran'. Jalan hidup, bukankah kadang begitu?

Sekarang beliau telah pensiun. Tetapi tetap sehat dan bersemangat. Pertemuan kami hari ini terjadi di SDK Ruteng V. SDK St. Theresia Ruteng V, tepatnya. Pada perayaan emas. Ya. Sekolah itu sudah berusia 50 tahun dan hari ini, Sabtu, 12 Oktober 2019 adalah puncak perayaannya. Ada misa, ada pentas seni, ada Pa Galus Ganggus, ada Alvand Ndagu dan Kaka Ited. Dua nama terakhir adalah teman seangkatan saya di SMA. Mereka alumni SDK Ruteng V sehingga kehadiran dua anakota itu di sana adalah sesuatu yang masuk akal.

Saya, meskipun bukan anak kota dan tidak pernah sekolah di Ruteng V, tetap saja harus hadir di sana untuk paling tidak dua alasan. Pertama, istri saya adalah alumni di sekolah itu. Kedua, Rana, anak pertama kami, sekarang sekolah di sana. Demikianlah, sehingga akhirnya saya bertemu Pa Galus. "Dia pernah jadi Guru Teladan, Kae," kata Erlan Dugis, seorang alumni yang lain tentang Pa Galus.

Bahwa akhirnya saya memutuskan menulis tentang Pa Galus, sama sekali tidak berhubungan dengan fakta bahwa Uchy, salah seorang anaknya adalah anggota jauh Komunitas Saeh Go Lino. Tidak. Itu hal lain.

Hal utama adalah karena beberapa alumni yang duduk melingkar dengan saya terus menerus menceritakan Pa Galus sebagai guru yang hebat. Tentu saja semua guru telah dengan sendirinya hebat di mata para murid, tetapi jika ada seorang yang namanya sering disebut, maka mestilah ada sesuatu.

"Sehebat apa?"
"Kami mengenal pikiran Sukarno (yang lain) dari cerita-ceritanya di kelas."

Hmmmm... Berarti dia unik, pikir saya dalam hati, karena kami sekolah di era Orde Baru dan di era itu yang lebih sering diceritakan adalah hal-hal tentang Suharto, senyumnya, gelarnya sebagai Bapak Pembangunan, Ibu Tien, dan hal-hal lain di sekitar Cendana. Nama Sukarno hanya akan dikenal pada zaman itu sebagai Presiden Pertama RI dan Bapak Proklamator.

Baca juga: Kalau Mau Jadi Guru, Kamu Harus Lucu

"Bapa dulu di kelas cerita tentang Sukarno di kelas?" Saya akhirnya tanyakan itu kepada Pa Galus. Setengah berteriak, karena Alvan dan Ited juga sedang teriak-teriak menceritakan tentang sepatu Bruce Lee yang selalu mereka pakai di pelajaran Orkes supaya bisa 'potong tidur' lawan saat main sepak bola. Aneh. Mereka dua cerita tentang bola kaki padahal ketika SMA mereka lebih dikenal sebagai pemain bola kasti. But, people change, iya to? Lupakan dua figuran itu sejenak dan kita kembali ke Pa Galus Ganggus.

"Bapa dulu di kelas cerita tentang Sukarno?" Tanya saya. "Ya. Sukarno, CIA, Amerika, apa saja. Saya selalu senang menceritakan hal-hal tambahan di luar buku-buku pelajaran. Semua hal. Yang saya tahu dari buku-buku yang saya baca, (yang pantas untuk anak SD) pasti saya ceritakan di kelas," jawabnya. Bahagia sekali Alvan dan Ited, pikir saya. Tetapi pikiran itu tidak bertahan lama karena dua orang itu tampaknya lebih tertarik pada Bruce Lee dan Mahabaratha dan Kior dan Pepen yang senang bekelai di kelas. Begitulah.

Namun, saya sungguh memikirkan itu sekarang. Seorang guru membaca. Membaca banyak. Lalu menceritakan bacaannya kepada murid-muridnya. Membuatnya dikenang sebagai gudang cerita. Itu satu hal. Hal lain adalah bahwa cerita-ceritanya di kelas membuat beberapa orang di antara murid-muridnya mencari bacaan lain. Tentang yang diceritakan oleh gurunya. Kemudian menjadikan membaca sebagai 'kegiatan yang menyenangkan'. Dan semakin banyak orang menyukai buku. Aduh... Indah aeh.

Baca juga: Penetrasi Digital pada Generasi Milenial dan Urgensi Pendidikan Kritis

"Apa yang membuat seorang guru merasa senang telah menjalani profesi itu?" Saya menanyakan hal itu kepada sangat banyak guru di berbagai kesempatan. Dan, sebagian besar jawaban mereka adalah: melihat murid-murid kami berhasil jadi orang. Setelah menjawab demikian, deretan nama 'murid-murid yang berhasil' tadi akan disebut, lengkap dengan profesi mereka; si ini sudah jadi dokter, si itu sekarang di kejaksaan, kepala dinas itu dulu murid saya, bupati ini sekolahnya dulu di sini, pemilik toko besar di sana itu saya punya anak wali, kemarin saya punya murid muncul di tivi dan ikut debat. Hal-hal seperti itu.

"Apa yang membuat seorang guru merasa senang telah menjalani profesi itu?" Saya menanyakan hal itu kepada Pa Galus. "Ketika mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri dan bahagia," jawabnya. Lalu dia cerita tentang betapa nikmatnya menjadi orang yang merdeka. Yang menjalani pilihan hidupnya dengan sadar. Yang menikmati jalan hidupnya dengan sungguh. Sesuatu yang saya pikir didapatnya dari bacaan-bacaan. Barangkali tentang Sukarno, tentang Tan Malaka, tentang tokoh-tokoh yang 'merdeka itu'.

Pa Galus sudah pensiun. Dari guru dan dari pegawai kantor. Pekerjaan terakhirnya adalah memimpin sebuah dinas di Kabupaten Manggarai Timur. Tetapi tidak pensiun dari saxophone. Sesekali, dia berkolaborasi di panggung, bersama beberapa muridnya yang sudah jadi musisi. Bukan Alvand dan Ited. Dua orang itu tidak tahu main musik meski kadang kalau sudah duduk melingkar memiliki kecenderungan cari gitar; mereka bukan musisi. Mereka orang-orang merdeka. Tentu saja karena Pa Galus juga. Yang saya sebut sebagai musisi (dan pernah berkolaborasi dengan Pa Galus itu) adalah Ramlan, Eman, dan Ivan Nestorman.

"Apa yang kau pikirkan tentang Pa Galus, Ma?" Tanya saya pada Celestin, istri saya yang dulu adalah murid Ruteng V. "Rasanya, dia tidak pernah membiarkan otaknya beristirahat. Kecuali kalau sedang tidur," jawabnya. Istri saya pernah bercerita bagaimana Pa Galus tiba-tiba "bicara sendiri" ketika sedang mengajar.

Tentu saja, bagi alumni SDK St. Theresia Ruteng V, Pa Galus bukan satu-satunya guru yang dikenang dalam percakapan-percakapan. Semua guru mereka ceritakan. Semua kenangan mereka bagi-bagi. Tentang guru-guru yang paling sering mencubit, tentang guru-guru yang paling disiplin, tentang guru-guru yang berhasil mereka kelabui, tentang guru-guru yang selalu mereka hindari tatapannya, tentang guru-guru yang mereka rindukan kehadirannya, dan semua hal tentang guru.

Bahwa pada saat ini saya menulis tentang Pa Galus Ganggus, barangkali karena saya kaget saja. Jawabannya tidak biasa sama sekali. "Apa yang membuat seorang guru merasa senang telah menjalani profesi itu?" "Ketika mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri dan bahagia."

Baca juga: Dua Tawaran Menyiapkan Generasi Antikorupsi

Saya tiba-tiba ingat Paulo Freire. Seorang Brasil. Yang pikirannya dikena(ng)l sampai saat ini: pendidikan yang membebaskan. Pa Galus mestilah pernah membaca bukunya; Educação como prática da liberdade (Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan). Apakah semua guru pernah membaca buku itu juga? Atau pikiran-pikiran lain tentang kemerdekaan manusia? Harusnya begitu. Agar yang mereka kenang sebagai sumber kebahagiaan tidak lagi semata 'murid-murid yang sudah jadi orang' tetapi semua murid yang berhasil bahagia.

Saya kira, Pa Galus bahagia sekali hari ini. Melihat murid-muridnya semua bahagia di Pesta Emas SDK Ruteng V. Alvand, Ited, Mozakk, Sintus, dan semua yang lain. Mereka bahagia ketika duduk melingkar. Eh? Pokoknya begitu. Seharusnya begitu. Bukan duduk melingkar. Tetapi setiap murid semestinya dididik agar mencintai pilihan-pilihan mereka; tidak memberatkan pikiran anak didik dengan 'ini profesi elit dan yang itu tidak elit'.

Selamat Pesta Emas, SDK St. Theresia Ruteng V. Jaya selalu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores