Idul Adha di Hari Minggu, dari Gereja Saya ke Masjid

Hari Raya Idul Adha tahun 2019 ini jatuh pada hari Minggu. Saya ke gereja dulu, lalu ke masjid. Begitulah.
Ruteng

Idul Adha di Hari Minggu, dari Gereja Saya ke Masjid


Saya tinggal di Ruteng. Belum tahu tentang kota kecil di Flores ini? Mampirlah sesekali ke tulisan ini: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng. Atau jika sempat, datanglah. Karena tempat ini asyik. Terutama dalam soal-soal agama. Atau yang kalian biasa sebut 'hal toleransi' itu. Kami asyik sekali.

Yang juga asyik adalah berita-berita yang viral itu. Tentang misa pada hari Minggu yang diundur karena pelataran gereja dipakai sebagai tempat beribadah umat Islam yang sedang merayakan Idul Adha 1440 H. Indah sekali, bukan?

Minggu, 11 Agustus 2019 adalah Hari Raya Idul Adha 1440 H. Idul Adha sering juga disebut Hari Raya Kurban. Juga Lebaran Haji. Sebutan yang terakhir saya kenal di Bari dulu. Saya tidak tahu mengapa disebut begitu dan juga tidak merasa harus tahu karena saya selalu senang setiap kali ada orang merayakan sesuatu dan tidak mau terlampau bersibuk diri dengan usaha menjawab pertanyaan mengapa mereka merayakannya dan mengapa menamai perayaan itu demikian?

Seorang teman memilih mengganti sebutan hari ulang tahun dengan "hari yang menyedihkan karena kita semakin tua" dan saya pikir sah-sah saja.

Oh, iya. Saya Katolik. Karena itulah pada Hari Raya Idul Adha tahun ini, yang jatuh pada hari Minggu, saya ke gereja dulu baru ke masjid. Bukan karena ingin dapat jatah daging, tentu saja. Sebuah tugas mengharuskan saya ke sana pada saat hewan-hewan kurban itu disembelih. Tetapi tulisan ini bukan tentang mengapa saya ke masjid. Ini tentang kurban itu.

Baca juga: Koor Misa yang Selalu Bikin Saya Iri dan Merasa Kecil di Kursi Umat

Di Alkitab, ada kisah tentang Bapa Abraham yang berniat mempersembahkan anaknya yang bernama Ishak itu, yang mereka dapatkan pada usia Sarah yang mustahil, kepada Tuhan. Tuhan berbelas kasih dan 'membatalkan' niat tulus Abraham yang berlandaskan ketaatan (yang saya anggap) tak masuk akal itu.

Saya lalu ingat masa-masa ketika saya kecil dan merasa permintaan (atau perintah?) bangun pagi dan segera bersiap ke sekolah adalah sesuatu yang tidak masuk akal karena pukul enam pagi adalah waktu yang paling indah untuk terus berada di tempat tidur. Tetapi saya taat saja. Sekolah terus, lalu lulus kuliah, lalu kerja.

Dan, pada Idul Adha tahun ini saya ke Masjid Baiturrahman. Masjid besar di Ruteng, kota kecil dengan seribu gereja ini. Menyaksikan penyembelihan hewan-hewan kurban. Saya sering menyaksikannya. Dan mendengar penjelasan, yang juga telah saya dengar cukup sering, bahwa Hari Raya Kurban adalah kesempatan berbagi kepada orang-orang yang tidak cukup beruntung hidupnya. Sesuatu yang juga tidak masuk akal rasanya, karena siapakah yang benar-benar beruntung hidupnya?

Maksud saya, pikirkan saja, apakah kau benar-benar merasa lebih beruntung dari orang-orang di sekitarmu atau justru lebih sering merasa bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau?

Kemudian, setelah hewan-hewan kurban itu disembelih dan saya pulang, dalam perjalanan saya memikirkan bahwa seberapapun tidak beruntungnya saya, selalu ada yang jauh lebih tidak beruntung. Untuk itulah kita wajib berbagi.

Aduh, indah sekali. Bukankah indah kalau kita berhasil bersyukur--dan karenanya rajin beramal--karena hidup kita baik-baik saja hari ini?

Baca juga: Belajar Menulis Pada William Forrester

Di Manggarai ada ungkapan neka conga bail bokak yang kira-kira dapat diterjemahkan sebagai nasihat untuk 'omong jangan tinggi-tinggi, jangan anggap remeh orang lain'. Barangkali saja telah disiapkan sebagai isyarat bahwa jangan terlalu sering 'lihat ke atas'.

Sesekali, memandanglah kau ke bawah. Ke dalam diri? Mungkin. Bahwa, sesungguhnya, dirimu (dengan segala kesombongannya) patutlah kau kasihani pula.

Sampai di sini, saya tidak tahu sesungguhnya mau omong apa. Tetapi saya tahu, saya harus bilang: Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya. Bukan karena saya ingin tampak toleran, tetapi karena semangat berkorban--memandang diri sendiri dengan cara yang lebih jujur; bahwa kita tidak sehebat yang kita duga--yang ada di setiap hati memang wajib mendapat ucapan selamat.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Versi awal tulisan ini disiarkan di facebook pada Hari Raya Idul Adha 2019.

Baca juga: Yubileum, Presiden SBY, dan Celana Goni

Setelah Kasus 'Cinta Kandas Hakim Bertindak' di Maumere, Flores

Di Maumere, seorang pemuda menuntut ganti rugi pada mantan kekasihnya sebesar lebih dari empat puluh juta rupiah. Saya menyebut kasus ini sebagai 'Cinta Kandas Hakim Bertindak'. Terjadi di Maumere, Flores.
Cinta yang kandas?

Setelah Kasus 'Cinta Kandas Hakim Bertindak' di Maumere, Flores


Ketika seorang pemuda di Maumere-Flores jadi 'percakapan nasional' karena tuntutan agar mantan pacarnya mengganti lebih dari empat puluh juta rupiah kerugiannya, saya menduga kotak pesan saya berisi pesan dari teman-teman di tempat jauh.

Biasanya begitu. Hal-hal yang viral di Flores mereka langsung tanya ke saya. Mau di Larantuka, di Labuan Bajo, di Riung, mereka tanyanya ke saya. Mereka, teman-teman dari jauh itu, selalu berpikir bahwa antarkota di Flores itu sepelemparan batu saja jauhnya, macam jarak antara Sinto Gendeng dan Wiro Sableng ketika keduanya bermusuhan. Halaah...

Pokoknya begitu. Warganet yang tampak mahatahu dorang ternyata sebagian besar benar-benar butuh belajar peta buta. Selain baca Wiro Sableng, tentu saja.

Sekadar berpanjang-panjang cerita, beberapa dari teman-teman saya itu bahkan benar-benar percaya bahwa kokok ayam-ayam dari Australia bisa terdengar di Flores—saya pernah, saking kesalnya atas pemahaman mereka yang buruk tentang peta buta, berbohong demikian: kami bangun pagi itu karena kokok ayam dari ostrali. Ampuni saya, Tuan Deo!

Bahkan pernah, sebab buruknya pengetahuan akan peta buta, seorang teman bertanya apakah saya baik-baik saja, ketika terjadi aksi penembakan di Papua. Aduh… Tentu saja saya tidak baik-baik saja karena ada aksi penembakan itu. Tetapi itu bukan karena soal jarak. Murni soal kemanusiaan semata.

Secara geografis, Flores dan Papua itu jauh. Kalau tidak percaya, silakan lihat di peta. Peta yang besar. Yang ukuran kertasnya A3. Kalau A4, bisa jadi kamu masih keliru karena semua tempat hanya berjarak seperempat jengkal. Sudah lihat di kertas A4? Jauh, bukan?

Tetapi secara kemanusiaan, saya jelas tidak baik-baik saja kalau ada yang ditembak. Di Palestina, di Sumba, di Papua, di Jogja, di mana saja. Maksud saya, bisakah kita melihat dengan lebih jernih segala persoalan itu dan sejenak mengabaikan faktor geografis?

Baca juga: Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019

Tetapi tentu seharusnya saja saya tidak perlu terkejut kalau ada yang tanya ke saya soal kasus ‘percintaan gagal berujung tuntutan pengadilan’ yang terjadi di Maumere itu—dan memang ada.
Mamamia e, sa tetap saja terkejut ternyata.

Hei, Ferguso dan Rossalinda! Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai tempat saya tinggal sekarang dan Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka tempat kasus viral itu terjadi, memang sama-sama di Flores. Tetapi saya di barat dan si pemuda yang menggugat pacarnya dengan nilai 40 juta rupiah itu di timur.
Bukan ujung-ujungnya memang, hanya saja di antaranya terdapat empat kabupaten—Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende—dan setiap kabupaten harus ditempuh lebih dari dua jam perjalanan darat.

Jarak tempuh Ruteng-Maumere, jika ditotal dengan makan siang di Aimere dan makan malam di satu tempat antara Ende dan Maumere itu kurang lebih, lebih dari dua belas jam perjalanan darat. Hanya karena kami sama-sama tinggal di Pulau Flores-lah saya fine-fine saja ketika ada yang tanya ‘itu gimana, Min, saudaramu bisa tuntut kerugian pacaran segitunya?’.

Saya tidak berkeberatan sedikitpun ditanyai seperti itu meski juga tidak bisa memberi jawaban yang maksimal. Toh, saya juga pernah berdoa begitu khusyuk untuk keselamatan teman saya di Bandar Lampung ketika terjadi gempa di Aceh lebih dari sepuluh tahun silam—silakan lihat peta A4 itu lagi untuk tahu betapa lucunya kisah ini, meski doa, jika dilakukan dengan tulus, tidaklah boleh dianggap lucu.

Baca juga: Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?

Artinya, masuk akal saja rasanya bahwa orang-orang dari jauh merasa bahwa seharusnya saya lebih tahu soal perkara perkara percintaan yang kandas berujung tuntutan pengadilan yang terjadi di Maumere itu, padahal kita tahu bahwa tidak harus demikian.

Maksudnya, di era nir-jarak oleh karena seluruh penghuni jagat ini boleh mengakses informasi yang sama dalam detik yang sama, saya yang di Flores tentu saja tidak harus lebih tahu dari teman-teman yang di luar Flores soal kasus di Maumere itu. Iya to?

Oh, iya. Sampai lupa. Mungkin ada di antara pembaca yang belum tahu soal kasus ini?

Begini. Di Maumere, seorang pemuda bernama Alfridus menggugat mantan pacarnya yang bernama Fransiska ke pengadilan. Dia bilang bahwa ia berpacaran dengan Fransiska di Surabaya sejak Januari 2015. Kemudian, pada Februari 2015, Fransiska pulang dan tinggal di Maumere.

Menurut Alfridus ini, pada Maret 2015, Fransiska meneleponnya dan meminta dikirimi uang untuk membangun rumah yang akan jadi tempat tinggal mereka setelah menikah. Selain itu, Fransiska juga meminta Alfridus mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari–hari. Ditotal-total, angkanya mencapai Rp. 40.825.000,-. Si Alfridus ini berhasil menghitung angka itu setelah ditinggalkan, si Fransika memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

Tak ingin mengalami dua kali kesedihan, yakni hati dan dompet sekaligus, tokoh kita ini mengajukan mantan kekasihnya itu ke pengadilan. Viral sudah berita ini. Dan seperti tidak mau selesai, si Fransiska kabarnya sudah menghitung biaya sewa toilet di rumahnya yang pernah dipakai Alfridus.

Saya sungguh cemas mengetahui berita ini. Untuk dua alasan.

Pertama, karena harus meladeni pertanyaan dari teman-teman yang jauh soal kasus ini padahal sa tir tau apa-apa karena Ruteng-Maumere itu jauh sekali, dan kedua, karena kasus-kasus seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi jika kita terbiasa membuat surat kontrak untuk soal-soal begini.

Untuk soal yang pertama, leraiannya cuma satu. Belajar peta buta. Biar tahu bahwa Flores dan Papua itu jauh, bahwa Sumba dan Sumbawa itu ada di dua provinsi yang berbeda, bahwa kemampuan Bu Risma membersihkan Surabaya itu belum tentu bisa membuatnya mampu membersihkan DKI Jakarta dari sampah. Eh?

Untuk soal kedua? Begini, Kaka. Dalam masa pacaran, jika kau tidak siap mengalami kerugian finansial, sebaiknya jangan pacaran menjaga pengeluaran. Untuk permintaan tidak masuk akal macam ‘biaya membangun rumah yang kita tinggali bersama saat menikah nanti’, bikin surat kontrak. Kami di Manggarai biasa bilang ‘hitam di atas putih’.

Bikin itu barang daripada akhirnya malah berhitung soal laba rugi. Maksud saya, apa kabar Luna Maya yang telah mengorbankan banyak hal dan akhirnya menyaksikan Syahrini berbahagia? Halaaah….

Baca juga: Tiga Langkah Mengatasi Patah Hati

Kasus Alfridus vs Fransiska ini tentu bukan yang pertama. Ada pasutri yang ketika memutuskan cerai juga kena soal-soal begini. Sampai-sampai istrinya minta ganti rugi keperawanan senilai seratus juta rupiah. Tuan Deo e! Sampai kapan kalian pikir bahwa kisah cinta itu transaksional?

Pokoknya begitu. Pelajaran penting dari kasus percintaan kandas berujung tuntutan pengadilan di Maumere-Flores itu memberi kita pelajaran-pelajaran tadi. Peta buta dan surat kontrak. Dan (terutama) mempercakapkan kembali kebutuhan kita akan informasi. Benarkah kita ingin mengetahui soal-soal percintaan orang lain? Itu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Cerpen Suatu Hari di Rumah Idrus ini disiarkan pertama kali di Radar Selatan pada tanggal 8 Juli 2019. 
suatu hari di rumah idrus cerpen di radar selatan
Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan


Oleh: Armin Bell

Sekali waktu Ratna memintaku mengupas mangga. Yang kusajikan padanya adalah daging mangga dengan bercak-bercak merah. Darahku ada di daging kuning yang lezat itu karena pisau ikut mengupas sedikit kulit dari jempol kiriku. Di waktu yang lain dia memintaku membetulkan gantungan pakaian di kamar mandi. Berhasil, tapi jempolku bengkak terkena palu.

Sejak saat itu Ratna mengambil alih semua pekerjaan rumah yang memerlukan kecermatan tangan dan memintaku belajar melakukan sesuatu yang membuat tanganku berguna—apa saja asal tidak menjadikannya terluka atau memar. Aku memutuskan belajar mengetik dan sejak saat itu menjadi penulis cerita. Aku pernah bilang ingin belajar angkat senjata dan terjun ke medan perang, Ratna tak setuju. “Mengupas mangga saja kau tak bisa,” katanya.

Pernah kuduga istriku yang cantik itu menyesali keputusannya melarangku ke medan perang. Dugaan saja, oleh karena tak sekalipun dia membaca karanganku meski menikmati hasilnya. Honor-honor dari surat kabar yang memuat cerita-cerita itu. Kupikir Ratna pernah berpikir, barangkali, lebih baik suaminya ikut angkat senjata saja. Jika gugur akan disebut istri pahlawan, jika selamat dia akan menikmati uang pensiun veteranku. Dia tak tahu saja veteran perang tidak sebahagia itu. Tentu semua hanya dugaanku yang sekali waktu kuceritakan padanya, dia nampak bersedih. Katanya aku harus sesekali berhenti menulis. Bagaimana bisa?

Baca juga: Mencari Penulis Surat - Cerpen di Lombok Post

Pagi tadi seorang perempuan hamil mengetuk pintu rumah kami. Kubuka, dan perempuan itu tersenyum ramah, mengucapkan salam, bertanya apakah aku melihat suaminya. Namun seolah tak mendengar pertanyaanku tentang nama suami yang dia cari itu, dalam sekejap senyum menghilang dari wajahnya. Dia lalu bercerita tentang suaminya yang pergi dari rumah karena mengira dirinya berselingkuh.

“Apakah Anda melakukannya?” Kepalanya segera menunduk. Pamit lalu pergi dengan kepala yang tetap menunduk. Kulihat bahunya berguncang. Mungkin dia sedang menangis.

Meski tidak sempat memperkenalkan dirinya, kuduga dia Wartini. Perempuan dari cerita yang kutulis beberapa tahun silam. Kusampaikan itu pada Ratna, tapi rencana kepindahan kami yang memusingkannya dan baginya sikapku banyak tak masuk akal—Ratna menuduhku tak lagi mampu membedakan fiksi dan hidup sesungguhnya—membuatnya tak segera memberi pendapat. Dia hanya memberi segelas air dan beberapa butir pil yang harus kuminum. Kuturuti saja sembari mengingat peristiwa pagi tadi.

“Rasanya itu tadi Wartini.” Kukatakan lagi beberapa menit kemudian. Ratna masih mengabaikanku. Dia sedang merapikan buku-buku lama yang beberapa waktu terakhir kubaca-baca lagi, susunannya menjadi amburadul di rak buku. Ratna tak pernah nyaman dengan kekacauan urutan abjad pada deretan buku-buku, sesuatu yang kurasa aneh karena dia tak gemar membaca. “Bagaimana kau bisa dengan tepat memilih buku yang ingin kaubaca kalau tak dideret seturut abjad?” Tanyanya.

Baca juga: Analisis Cerpen "Lelaki dari Malaysia"

“Ya. Wartini. Perempuan dari Ave Maria.” Pertanyaannya yang telah berulang kali kudengar tak kujawab karena tahu dia tak perlu jawaban. Toh jika kujawab jujur, seperti ketika dulu kusampaikan bahwa buku-buku itu memanggilku, dia hanya tersenyum kecil dan mengulang hal lain, yang juga berulang-ulang dia sampaikan, bahwa aku harus lebih sering istirahat.

“Dan Ave Maria adalah?” Dia kini berbaik hati menimpaliku. Bahwa dia tak tahu apa-apa tentang cerita Ave Maria, aku tak heran. Juga cerita-cerita lainnya. Maka sekali lagi tak kujawab pertanyaannya—Ratna kembali sibuk dengan buku-buku lama itu—dan memutuskan sendiri bahwa perempuan yang tadi datang adalah benar-benar Wartini.

Andai benar demikian maka yang dicarinya pasti Zulbahri, lelaki patah hati yang bergabung ke Jibaku. Benar bahwa dia bersedih karena istrinya mencintai lelaki lain, Syamsu, tetapi bukan karena itu Zulbahri menjadi anggota pasukan bunuh diri itu.

***
Syamsu adalah adik kandung Zulbahri. Suatu ketika, dari Shonanto, Syamsu mengirim surat. Mengabarkan dia akan segera pulang karena tak lagi betah kuliah di kota itu. Berencana menyelesaikan pendidikan di Jakarta, Syamsu meminta izin untuk tinggal di rumah mereka. Zulbahri cemas tetapi tak disampaikannya perasaan itu pada Wartini. Istrinya itu tak sedikitpun merasa keberatan menampung Syamsu, dan Zulbahri mendapat janji bahwa tak akan terjadi apa-apa lagi di antara Wartini dan Syamsu meski mereka adalah sepasang kekasih di masa lalu.

Syamsu benar-benar pulang dan apa yang dicemaskannya terjadi. Ada cinta lama yang bersemi kembali di rumah mereka ketika suatu malam Wartini dengan piano dan Syamsu dengan biola, memainkan lagu Ave Maria karangan Gounod, dan Wartini menangis, bertanya padanya apakah tak mungkin seorang perempuan mencintai dua lelaki sekaligus?

Zulbahri memikirkan pertanyaan itu sekian lama, berjalan tak tentu arah sekian lama, selama itu dianggap sudah gila oleh orang-orang di sekitarnya, kembali ke rumah dan mendapati Wartini telah hamil entah telah berapa lama. Tiba-tiba Zulbahri merasa bebas, menjadi lebih ringan hatinya, memutuskan meninggalkan rumah selama-lamanya. Dia terjun ke medan perang, menjadi anggota pasukan bunuh diri, yang disebutnya sebagai: pembayaran utangku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri.

***
Memikirkan perempuan yang pagi tadi datang mencari suaminya—kuyakin dia Wartini—lalu pergi dengan bahu yang berguncang pagi tadi itu, kupikir dia memang mencintai dua lelaki seperti yang dituduhkan suaminya yang menghilang itu.

“Apakah seorang perempuan dapat mencintai dua lelaki sekaligus dengan sama besarnya?” Kutanyakan itu pada Ratna. “Bisa lebih banyak sekaligus,” jawabnya, “seperti aku. Mencintaimu, mencintai Nirwan, mencintai Slamet, mencintai Rizal, mencintai Taufik dan tidak berani memutuskan mana yang kucintai paling besar.”

“Bukan itu. Bukan seperti kau padaku dan anak-anak kita. Tetapi seperti Wartini pada dua lelaki itu. Zulbahri dan Syamsu. Kakak beradik. Yang kakak sudah dinikahinya dan yang adik adalah mantan kekasihnya.”

Baca juga: Mengandung (di Luar) Sastra

Ratna menatapku seperti penuh iba. “Kau harus segera berhenti memikirkan orang-orang dalam cerita-ceritamu. Biarkan mereka di sana saja,” keluhnya. Dia telah berulang kali mengingatkanku agar melepas nasib tokoh-tokoh dalam ceritaku segera setelah menulis ‘tamat’ di bagian akhir lembar terakhir. Sebuah permintaan yang kupikir tak perlu karena memang telah kulakukan demikian.

Namun telah beberapa bulan terakhir ini mereka sesekali datang—sejak saat itu, Ratna rutin memberi obat-obat yang didapatnya entah dari mana; katanya, “Kau tak lagi mampu membedakan fiksi dan hidup yang sesungguhnya.”

“Kau yakin yang pagi tadi itu Wartini?” Tanyanya lagi sebelum bercerita tentang tetangga baru kami. Pasangan suami istri. Baru seminggu terakhir pindah ke lingkungan ini. Suaminya bercerita bahwa istrinya sedang hamil dan mengalami gangguan kecemasan.

“Maksudmu perempuan pagi tadi itu bukan Wartini?”

“Maksudku perempuan pagi tadi itu bukan Wartini atau siapa saja dari ceritamu, Idrus,” jawabnya lalu melanjutkan pekerjaan membereskan rak buku. Kukatakan padanya agar berhenti melakukannya karena kami akan segera pindah, katanya: “Kau harus menyelesaikan beberapa hal lagi sebelum kita ke meninggalkan negeri ini.” Dari radio umum kedengaran lagu Menuetto in G ciptaan Beethoven.

(Selesai)

Belajar dari Danhil Aznar, Kerja Tidak Harus Sesuai Ijazah

Buat yang sekarang sedang kuliah dan berpikir bahwa di dunia kerja nanti ijazah mereka akan terpakai penuh, ini ada cerita menarik. 
belajar dari danhil aznar kerja tidak harus sesuai ijazah
Jurusan apa?

Belajar dari Danhil Aznar, Kerja Tidak Harus Sesuai Ijazah


Saya kira begitu. Setelah melihat, memperhatikan, menimbang, dan seterusnya, akhirnya saya memutuskan untuk menulis catatan ini sebagai (sebut saja) tambahan bekal bagi teman-teman yang sekarang di bangku kuliah.

Di masa-masa kuliah, mimpi tentang pekerjaan di masa depan biasanya tidak jauh dari jurusan di kampus. Kuliah di FKIP? Jadi guru. Di FT? Jadi konsultan atau arsitek. Di jurusan IT? Jadi programmer. Pokoknya harus dekat-dekat dengan apa yang sedang dipelajari sekarang ini.

Tetapi ternyata tidak selalu demikian, Rossalinda! Lihatlah Danhil Aznar. Kuliah di jurusan ekonomi, sekarang jadi juru bicara partai. Masih banyak contoh lain, tetapi tulisan ini memang mau ambil contoh kasus itu saja. Biar lebih aktual hihihi.

Baca juga: Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat...

Sebelum sampai ke bagian tentang Om Danhil itu, kita mulai dari suatu masa di kala itu saja em.

Begini. Dulu, di zaman saya kuliah—saya ingin memakai frasa pada zaman dahulu kala tetapi gengsi juga—di  hampir semua kampus yang ada Fakultas Ekonomi-nya, anak-anak FE kerap dihubung-hubungkan dengan tajir dan cakep/cantik.

Parkiran ekonomi selalu mudah dikenali (karena tajir tadi) dan mahasiswa-mahasiswi cakep/cantik dari fakultas lain harus berjuang mati-matian menjelaskan bahwa biar kata bukan mahasiswa ekonomi, mereka tetap berhak cakep/cantik. Halaaaah…

Mungkin tidak terjadi di masa-masa sekarang ini, tetapi dalam semangat Jas Merah alias jangan sekali-kali melupakan sejarah, biarkan saya ceritakan saja pengalaman yang dulu itu.

Saya kuliah di Malang. Di Universitas Merdeka. Dan kita akan segera merayakan ulang tahun kemerdekaan negeri ini. Apa sih? Lanjut ya?

Sebagai akibat dari betapa lekatnya keunggulan finansial dan penampilan di atas rata-rata dari para mahasiswa ekonomi itu, mau tidak mau yang dari fakultas lain berjuang menonjolkan keunggulan yang lain. Maka dikenallah kemudian para mahasiswa dengan predikat per fakultas.

Mahasiswa Teknik itu asyik karena penampilan yang selengekan, mahasiswa Hukum umumnya sangat tertib, mahasiswa FISIP biasanya jago omong dan jadi tempat asal para aktivis, mahasiswa lain sedang di kamar-kamar kos—sibuk membicarakan bagaimana nasib anak-anak mereka nanti ketika jadi mahasiswa sambil berdoa semoga tidak mengulang perbuatan orang tuanya—eh?

Khusus untuk anak-anak FISIP (atau saya saja?), usaha agar dapat tampil maksimal tanpa mengandalkan tampang dan harta—begitu kami menuduh mahasiswa ekonomi, sebuah tuduhan yang datang dari ketakberdayaan semata—maka kemampuan terbaiknya yakni ‘jago omong’ atau sering ikut demo haruslah diasah sungguh-sungguh.

Maka terjadilah demikian. Dalam banyak forum atau kegiatan-kegiatan di mana seluruh fakultas bergabung, yang jadi seksi acara pasti dari FISIP, seksi dana dari FE, seksi perkap dari FT, dan lain-lain. Yang seperti itu dibawa terus ke hari-hari hidup berikutnya. Yang sudah S.Sos biasanya jadi ketua panitia. Yang SE di seksi penggalangan dana. Yang SH berurusan dengan kontrak kerja. Yang ST belum datang. Masih pada kuliah. Ooops... Monmaap!

Saya tidak tahu, situasi seperti itu dimulai dari zaman yang mana dan benar-benar berharap bahwa segala dikotomi (cie cieee istilah ini…) jurusan ini harus segera selesai.

Baca juga: Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Maksud saya, di zaman seperti sekarang ini, di mana semua mahasiswa bisa sama-sama tahu tentang apa saja karena memakai sumber mesin pencari yang sama, dan semua mahasiswa bisa sama belaka tajir dan cakep/cantiknya karena media sosial hanya diisi foto-foto terbaik, penunjukan tanggung jawab berdasarkan jurusan sudah tidak boleh dipakai lagi. Yang harus dipakai adalah sejarah medsos.

Karena itulah saya akhirnya mampu menyambut dengan biasa-biasa saja ketika Dahnil Aznar ditunjuk sebagai juru bicara Ketua Umum Partai Gerindra. Ya, Dahnil yang S1 sampai S3-nya tidak jauh-jauh dari ilmu ekonomi itu, menjadi juru bicara sebuah partai politik—hal yang menjadi salah satu cita-cita para mahasiswa FISIP jurusan komunikasi (atau saya saja?).

Toh, ketika kuliah, Danhil juga adalah seorang aktivis mahasiswa. Bahwa mantan aktivis mahasiswa itu menjadi sangat dekat dengan tokoh yang oleh sebagian aktivis di masa dulu sangat ditakuti disegani, kita bisa apa selain bilang “people change”? Apalagi, Danhil di socmed-babe.

Dan, hei! Dahnil adalah antitesis dari seluruh pemetaan predikat berdasarkan fakultas tadi. Meski kuliah di Fakultas Ekonomi dan banyak orang berpikir bahwa anak-anak ekonomi itu tajir-tajir, Dahnil sebenarnya pernah mengalami masa-masa sulit secara finansial.

Meski demikian, ia tidak menyerah. Dahnil bersama teman-temannya membuka kursus Bahasa Inggris bernama Garis English Center Club (GECC). Selain itu, Dahnil juga menjadi tukang parkir demi mencukupi segala kebutuhannya. Kurang antitesis apa, coba?

Dan hanya pribadi-pribadi seperti itulah yang mampu keluar dari seluruh prediksi dan teori. Orang-orang yang hidupnya tidak biasa-biasa saja. Tidak bermain di standar umum macam ‘kalau belajar ekonomi pasti lebih paham soal ekonomi’ atau ‘mantan aktivis mahasiswa pasti tidak sudi dekat dengan orang-orang dekat Pak Harto suka kemapanan’.

Baca juga: Ketika Tuhan Campur Tangan pada Kisah Pius Lustrilanang

Lihat sepak terjang Danhil, bukan? Di televisi, dia pernah jadi narasumber di bidang ekonomi, politik, hankam, budaya, dan masih banyak lagi. Bagaimana bisa? Ya bisa saja. Dia belajar. Dari berbagai sumber. Tentu saja saya tidak berniat menuduhnya belajar dari google. Sama sekali tidak. Meski kita sama-sama tahu, google memang membuat kita (seperti) menguasai segala hal, tetapi untuk sampai di posisi seperti Danhil, perlu usaha yang jauh lebih keras.

Oleh alasan-alasan itulah, bahwa Danhil telah berhasil membuktikan dirinya sebagai antitesis konsep-konsep kuno nan aneh di zaman kami kuliah itu—saya merasa penunjukannya sebagai juru bicara oleh Pak Prabowo adalah keputusan yang tepat sekaligus pelajaran bahwa pekerjaan bisa sangat jauh larinya dari jurusan kuliah.

Baca juga: Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan Tentang Para Perantau Digital

Akan selalu ada titik balik mengejutkan dari langkah pribadi-pribadi seperti mereka (dan kita semua suatu saat). Karena itulah kita dilarang terlampau cepat terkejut.

Misalkan di pihak lain Pak Jokowi akan menunjuk Fadly Zon sebagai menteri di kabinetnya, juga jangan terkejut. Hentikan juga segala keterkejutan soal Surya Paloh yang bertemu Anies Baswedan. Mereka, dengan segala kemampuan yang dimiliki, dan sekian banyak tahun yang dipakai untuk belajar, hanya ingin menunjukkan kepada kita bahwa tak ada yang tahu bagaimana nasib bangsa ini seorang anak manusia lima tahun dari sekarang dan bahwa tak ada yang abadi selain kepentingan!

Btw, ini catatan soal apa sih? (*)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Daripada ke Blog Ranalino, Kirim Tulisan Kalian ke Media Lain

Mulai hari ini, Blog Ranalino tidak lagi menerima sumbangan tulisan dari luar/penulis lain. Mohon maaf!
Sa baca semua surat yang masuk. Asli! Foto: Kaka Ited

Daripada ke Blog Ranalino, Kirim Tulisan Kalian ke Media Lain


Setelah memikirkannya dengan cukup serius, mulai hari ini, www.ranalino.id tidak lagi menerima kiriman tulisan dari luar. Saya sedang menata ulang konsep pengelolaannya dan merasa, jika harus dilakukan bersamaan dengan memeriksa tulisan kawan-kawan sekalian, sa tir-akan sanggup. Sa baru pikir soal itu hari ini.

Selain itu, hingga hari ini, sungguh banyak website yang dikelola dengan baik dan siap menerima tulisan bapa-ibu-sodara-sodari sekalian--dan mereka akan melakukan seleksi dengan sungguh-sungguh; tulisan kita akan ditayangkan jika benar-benar layak dan sesuai selera redaktur serta arah kebijakan mereka. 

Seandainya di hari-hari berikutnya bapa-ibu-sodara-sodari sekalian menemukan tulisan baru dari penulis lain di blog ini, saya pastikan bahwa tulisan itu adalah yang sa sengaja minta, entah karena semangat yang sama dengan apa yang saya pikirkan sebagai 'menata lagi konsep pengelolaannya' atau karena saya menikmati tulisan itu dan ingin mendokumentasinya di #ranalinoid, dan diizinkan penulisnya.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengirim tulisan selama ini, baik yang sudah tayang maupun yang belum (dan tentu saja berarti tidak akan ditayangkan). Berapa banyak? Cukup banyak. Yang membuat saya terharu, bahwa ternyata teman-teman merasa blog ini layak untuk karya kreatif mereka.

Baca juga: Ruteng: Kota Sejuta Tenda Labu, dan "Sweet Potato" Kesukaan Kita dan Babi

Saya sudah baca tulisan-tulisan itu, dan untuk yang sa tir kasi naik di sini, saya pikir, sudah saatnya dikirim ke para redaktur di website-website yang dikelola dengan serius tadi. Tulisan-tulisan itu sudah baik. Meski barangkali tidak akan dimuat, percayalah, mereka membaca tulisan-tulisan yang kita kirim. Jangan lupa perhatikan tanda baca dan aturan-aturan penting lainnya. 


Alasan tulisan kita mereka tir pili, bisa jadi bukan karena tulisan kita buruk, tapi karena mereka tidak se(atau ber)selera dengan gaya kita menulis. Santai saja. Seperti di pantai. 

Toh, sampai saat ini, selain menulis secara tidak terlalu teratur untuk blog ini, saya tetap mengirim tulisan untuk media-media lain. Beberapa dimuat, beberapa diabaikan, beberapa dikirim pulang, beberapa mungkin tidak terkirim karena saya lupa tekan tombol send. Keterlaluan sekali

Khusus untuk tulisan yang tidak dimuat, biasanya saya periksa lagi dengan serius, melakukan perbaikan juga dengan serius karena dengan segera menemukan 'cacat' yang saya duga sebagai alasan para redaktur yang mahakuasa itu tidak berselera. Tetapi menuduh mereka tidak paham gaya kita yang kita anggap telah mutakhir jelas bukan sikap yang baik. Tulisan-tulisan yang sudah saya perbaiki, kadang saya coba kirim lagi, kadang saya 'selesaikan' di ranalino.id

Aduh... 

Kenapa jadi panjang sekali ini tulisan sudah? Pokoknya begitu. Daripada dikirim ke blog ranalino.id yang dikelola serampangan ini, coba kirim tulisan ke media lain. Tentu saja para penulis favorit saya, yang karena satu dan lain hal malas mengirim tulisan ke website-website yang dikelola secara sangat serius, tetap saya harapkan kebaikan hatinya menyumbangkan tulisan kalau suatu saat saya minta. Jangan kamu yang kirim. Tunggu sa minta. Supaya kita sama-sama enak. 

Baca juga: Media Massa Daring dan Masalah Akut Bernama Penyuntingan


Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Asli, tentang keputusan ini, sa baru pikirkan hari ini setelah mengecek kotak surat saya. Bukan karena sa tir berselera dengan tulisan-tulisan yang masuk. Tidak, Geraldo. Seperti yang sa su bilang tadi, sa su baca semua tulisan yang masuk dan sa pikir, sudah waktunya teman-teman kirim itu tulisan dorang ke redaktur yang bekerja dengan serius. Kamu bisa.

Pilihan lain, jika tidak sabar dengan (apa yang biasanya kita anggap) kemalasan para redaktur, bikin blog. Menjadi blogger itu menyenangkan. Kita bisa sesukanya saja. Seperti saya yang dengan sesukanya bikin peraturan di blog ini. Tulisan ini saja, sesungguhnya diniatkan sebagai status di Fanpage Ranalino. Tetapi berhubung ternyata jadi panjang, sa posting di sini. Lihat to, bagaimana sa urus ini barang seenak-enaknya? Mohon maaf!

Salam hangat
Armin Bell
Ruteng, Flores

Siapa Mr/Mrs X Versi LSI Denny JA di Pilpres 2024?

LSI Denny JA mengeluarkan 14 nama dan satu sosok rahasia yang diprediksi akan berpotensi maju sebagai capres/cawapres 2024 mendatang. Gesit sekali Denny JA, eh, lembaga ini!
siapa mr mrs x versi lsi denny ja di pilpres 2024
Siapa? Denny JA? Siapa itu?

Siapa Mr/Mrs X Versi Denny JA di Pilpres 2024?


Hanya sedikit orang yang gesit di negeri ini. Dari jumlah yang tak banyak itu, ada Denny JA.  Kok bisa? Ya, pasti bisa. Dia memang gesit. Buku puisi esainya saja sudah gila-gilaan banyaknya. Lalu apa hubungannya dengan Pilpres 2024 yang masih lama itu?

Pokoknya begitulah. Pilpres 2019 belum juga selesai gaungnya, Denny JA melalui LSI-nya sudah mulai utak-atik calon presiden yang layak maju tahun 2024. Gesit betul. Ini lembaga survei atau partai politik sebenarnya e? Belum belum, sudah bikin penelitian saja.

Ada 15 sosok yang menurut penelitian lembaga itu akan berpeluang besar maju di Pilpres 2024. Nama Jokowi tidak termasuk. Joko Widodo juga tidak. Tentu bukan karena Denny tersinggung atas kekalahan mereka di MK beberapa waktu lalu. Eh? Itu Denny yang lain ya? Ooops… Maaf e, Kaka. Tir sengaja. Sa biasa begitu kalo ada orang yang kelakuannya namanya mirip-mirip.

Ya, jelas saja Jokowi tidak masuk dalam 15 daftar LSI Denny JA itu karena sudah tidak berhak lagi mencalonkan diri. Aturannya, dua kali kemenangan sudah cukup. Kalau dipaksakan jadi tiga kali, terus apa seksinya angka 2-1-3? Lebih seksi 2-1-2. Dua kali walikota, sekali gubernur, dua kali presiden. Angka dibalas simbol. Publik sekalian tau sa pu maksud to? Enaaak!

Mendesain Mr/Mrs X


Sayang sekali, penelitian itu hanya berterus terang soal 14 nama. Yang seorang disembunyikan sebagai Sosok Rahasia versi LSI Denny JA: Mr/Mrs X. Mammamia e. Sudah seperti orang yang mau menikah saja. Sebagian besar kisah masa lalu diceritakan ke pasangan, sebagian lain disembunyikan. Eh?

Baca juga: Kita, Anti-Asing Tetapi Tetap Cinta

Dalam strategi public relations, yang dilakukan LSI Denny JA itu bisa jadi adalah usaha agar lembaga survei mereka terus dipercakapkan, misalnya: 
  1. Wah. Penasaran deh sama nama ke-15-nya LSI Denny JA.
  2. Kita harus follow laman medsos Denny JA. Siapa tahu di kasi bocoran nama ke-15 dari penelitian LSI-nya.
  3. Taruhan yuk. Siapa nama ke-15 di survei capres 2024 versi LSI Denny JA.
  4. Denny JA itu sama gak sih sama Denny Indrayana?
  5. Hidup, LSI Denny JA!
Itu baru lima. Bisa jadi ada 15 jenis percakapan tentang hasil penelitian itu yang melibatkan nama LSI Denny JA (atau Denny JA saja) di dalamnya. Yang ke-15 dilakukan oleh Mr/Mrs X dalam dialog yang hanya mereka sendiri yang mengerti, tetapi pasti ada nama LSI itu di percakapan itu.

Misalnya: Hi-Denny-JA-go-aeh. Co-tara-manga-kat-capres-ga-tadang-kin-2024. Hitu-keta-pe!

Sebagai akibat dari bertebarannya dialog-dialog serupa itu, LSI Denny JA pun jadi trending topic karena semua orang penasaran pada Mr/Mrs X tadi. Lembaganya trending, pemiliknya—yang begitu jujur memakai namanya sendiri sebagai nama lembaga—juga pasti ikut-ikutan trending. Sudah tahu arahnya, bukan?

Dengan demikian, pada kesempatan berikutnya, setelah Denny JA semakin populer dipercakapkan, nama Mr/Mrs X itu lalu terisi. Oleh siapa hayooo… Ya, oleh Denny JA-lah. 

Peneliti LSI Denny JA lalu akan bilang bahwa Denny JA merupakan sosok yang punya tingkat popularitas di atas 25 persen di mata seluruh responden. Su paham sa pu karang-karang to?

Begini. Kegesitan mengumumkan 15 nama tersebut, yang lantas bikin saya terharu, saya duga sebagai pekerjaan by design. Denny JA ingin namanya masuk dalam daftar itu dan oleh karenanya, merancang sebuah kerja yang terstruktur dan sistematis, dengan memanfaatkan seluruh instrumen yang dibutuhkan: strategi riset, media sosial, media dan psikologi massa, serta kepala-kepala yang haus informasi tetapi merasa telah sanggup menyembuhkan dirinya dengan gosip semata.

Namun, ini hanya dugaan. Meneba-nebak. Hanya sa pu ide-ide sa. Kalau meleset, tidak apa-apa. Tidak semua mimpi kita tentang hal-hal ideal bisa berujung kenyataan, bukan? Kalau tidak percaya, silakan tanya Denny Indrayana yang menulis buku tentang cara menang sidang di MK tetapi pada sidang kemarin justru kalah. Iya to?

Apakah Denny JA Layak Jadi Mr X?


Tentu saja Denny JA bisa jadi calon presiden. Dia bisa saja adalah sosok rahasia yag sedang disembunyikan LSI-nya itu. Dengan atau tidak dengan by design, Denny yang ini sudah terkenal. Paham peta politik, bermodal cukup, dan gesit.

Sa su bilang di awal to? Beliau itu sosok yang gesit sekaligus paham bagaimana memanfaatkan setiap potensi untuk sebesar-besarnya namanya sendiri pengetahuan umum seluruh negeri dan kemaslahatan bersama.

Ketika dulu publik di negeri ini dilanda kebingungan hebat tentang siapa-siapa saja orang yang membawa pengaruh besar bagi sastra Indonesia, Denny JA dengan gesit dan dermawan membiayai sebuah proyek yang melibatkan beberapa tokoh sastra mengumumkan “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”. 

Ada Denny JA di antara 33 nama itu. Dia seperti Mr X dalam wajah sastra kita karena tidak sering dibicarakan tetapi berhasil masuk dalam daftar. Bukan Denny JA yang salah. Kita saja yang tidak tahu soal puisi esai yang menjadi konsentrasi Denny JA itu. Btw, bagian yang ini satir ya. Hihihihi…

Baca juga: Ibu, Maafkan Kami Para Warganet di Seluruh Negeri

Namun, jika bukan Denny JA—dan semoga bukan, eh?—yang disebut sosok rahasia oleh LSI Denny JA itu, kita tentu diberi peluang untuk memikirkan nama lain, atau mengajukan usulan lain. Bisa jadi Om Rafael, Om Tinus, Kaka Endah, atau Reinard L. Meo. 

Soal popularitas, mereka bisa didesain agar segera menjadi terkenal. Bisa dengan memakai strategi Denny JA, bisa juga dengan membuat laman shitposting di media sosial. Mereka akan segera populer, meski, tentu saja kita tahu, untuk jadi capres dan memenangkannya, populer saja tidak cukup. Ngotot juga tidak. Bukan begitu, Tuan Prabs?

Siapa 14 Nama Capres 2024 Versi LSI Denny JA?


14 nama yang diumumkan LSI Denny JA adalah tokoh-tokoh yang telah sekian banyak dikenal. Nama Prabowo Subianto kembali masuk dalam daftar, dan bersamanya (yang oleh LSI dimasukkan dalam kategori "capres jenjang pimpinan parai politik") ada Sandiaga Uno, Airlangga Hartarto, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Puan Maharani, dan Muhaimin Iskandar.

Dengan metode yang sama, di kategori lain, pemetaannya adalah sebagai berikut: Capres jenjang pemerintah daerah: Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Prawansa; dan capres jenjang jabatan pemerintahan: Sri Mulyani, Budi Gunawan, Tito Karnavian, dan Gatot Nurmantyo.

Apa sebenarnya yang sedang ingin dicapai LSI Denny JA melalui pengumuman itu? Jika bukan karena ingin memasukkan Denny JA ke dalam bursa, tentu saja mereka sedang menggali lubang 'bunuh diri lembaga' seandainya 14 nama yang sudah disebutkan justru tidak termasuk dalam daftar 2024 mendatang; mereka akan dianggap sebagai lembaga yang tidak akurat memprediksi. Lagipula, mengapa mengumumkannya sekarang?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Tiga Langkah Mengatasi Patah Hati

Ada banyak cara mengatasi patah hati. Bisa sampai seribu langkah. Kalau pada catatan ini yang muncul hanya tiga, itu karena panduan mengatasi patah hati lainnya disiapkan untuk konten selanjutnya. Eh?
tiga langkah mengatasi patah hati
Dokumentasi Saeh Go Lino Ruteng

Tiga Langkah Mengatasi Patah Hati


Setiap hari pasti ada cerita patah hati di dunia yang fana ini. Beberapa waktu lalu, jumlahnya meningkat drastis menyusul kabar perceraian Song Hye Kyo dan Song Joong Ki. Wajar. Keduanya adalah pasangan kesayangan seluruh penggemar drama Korea dan tidak ada yang pernah menduga bahwa mereka akan berpisah.

Di negeri kelapa ini, jumlahnya bertambah pasca-pilpres sebagai akibat dari beberapa peristiwa: putusan MK menolak semua gugatan BPN Prabowo-Sandi, sesuatu yang sesungguhnya telah dipredi… eh… yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, dan rekonsiliasi yang dianggap mengkhianati proses.

Begitulah. Situasi patah hati biasanya terjadi karena datangnya peristiwa menyedihkan. Misalnya kekalahan, perceraian yang terjadi tanpa pernah kita duga, seorang idola pindah agama, dan lain sebagainya.

Seperti seorang teman saya. Yang meraung-raung meratap sambil menatap senja yang, sepertinya matanya, memerah. Dia menangis dan marah. Menurutnya, kekasihnya telah memutuskan hubungan cinta mereka tanpa alasan yang kuat. Tiba-tiba minta putus.

Baca juga: Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?

Dia merasa kalah dan karenanya sangat menderita. Kurang apa? Untuk apa kami kumpulkan berkarung-karung barang bukti beralbum-album foto romantis jika hasilnya seburuk ini? Kira-kira begitu bunyi protes itu dalam rangkuman.

Dia sampaikan pada saya, setelah sebelumnya dia sampaikan pada pacarnya itu, yang menjawab dengan template: “Su tir bisa diperjuangkan lagi, Kak. Jika dilanjutkan ke mahkamah internasional, kita mungkin akan kehilangan segalanya di masa-masa yang akan datang. Rekonsiliasi juga belum waktunya." Halaaah...

Kita semua mafhum belaka, pertanyaan semacam 'kok bisa?', 'tapi kenapa?', 'apakah bukti cinta saya tak cukup kuat?', hanya akan membuat jawaban super-klasik itu didendangkan berulang-ulang. Kalau toh berubah versinya, paling banter hanya tambahan kata ‘pokoknya’ di bagian awal, atau ‘begitu’ dan ‘sa harap kau mengerti’ di bagian akhir.

Tentu saja situasi atau jawaban seperti itu sulit dimengerti. Sebagaimanapun kerasnya usaha, menerima hasil akhir yang buruk setelah sebuah perjuangan panjang lengkap dengan pengerahan massa dan biaya yang tak sedikit bukan perkara mudah.

Kalau tidak percaya, silakan tanya teman kita yang sudah el-de-er-an sekian lama lalu mendapat undangan pernikahan yang dikirim via WA; nama kekasihnya tertera di sana bersama nama orang lain. Pakai tinta emas pula. Mamamia e. Yang akan jadi reaksi bersama ketika mengetahui cerita seperti itu adalah pertama-tama penghakiman. Kejam betul Song Jong Ki, eh MK, eh maksudnya, kekasih yang seperti itu.

Reaksi yang wajar karena peristiwa-peristiwa tadi sangat tiba-tiba. Meski, kalau mau jujur, tidak ada yang tiba-tiba dalam situasi kalah-menang-jadian-putus-pacaran-nikah-cerai.

Kecuali, sekali lagi, kecuali kalau dulu, ketika awal jadian, kau tidak pe-de-ka-te dulu. Tiba-tiba jadian. Di lorong kampus, bertabrakan dengan seseorang tak dikenal, buku berhamburan, sambil bereskan buku, alih-alih minta maaf kau malah bilang: sepertinya kita cocok deh. mau jadi pacarku? Lalu dia langsung mengangguk dan kalian segera pacaran.

Peristiwa seperti itu mungkin saja terjadi, tetapi tidak umum. Langsung jadian setelah tabrakan pertama itu semacam anomali dari seluruh kisah percintaan yang biasa kita tahu. Tahu anomali, kan? Contoh anomali paling sering diceritakan adalah Bill Gates dan Mark Zuckerberg: drop out dari bangku sekolah tetapi berhasil menguasai dunia.

Baca juga: Tahukah Kamu Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video Viral "Will You Marry Me?"

Kalah di sidang MK karena bukti-bukti yang diajukan tidak kuat, eh maaf, maksud saya perceraian dua kesayangan kita di Korea dan peristiwa teman saya diputus secara sepihak itu tentu bukan anomali. Dia bermain di jalur yang umum, seseorang (atau dua-duanya) merasa tidak cocok lagi >> berusaha bertahan >> hampir berhasil >> didoakan agar menang tetap langgeng >> barang bukti alasan untuk bertahan kurang kuat >> tak berhasil.

Harusnya, jika dia bermain di template umum, hasil akhir yang buruk mestilah sudah teprediksi. Artinya, kemungkinan patah hati sudah dapat diduga sehingga cara menghadapinya sudah disiapkan; waktu yang dibutuhkan untuk move-on tidak terlampau lama.

Namun, kenyataannya tidak begitu, bukan? Nasihat-nasihat dalam tema usaha menyembuhkan patah hati akan dijawab dengan kalimat menyedihkan macam: hidup tak semudah cocot-e Mario Teguh. Pasti begitu. Maksud saya, hidup memang tak semudah komentar-komentar Mario Teguh, tetapi move-on, pada beberapa kasus, akan mudah jika tiga hal berikut ini dilakukan.

Pertama, sadar bahwa bukan kita yang rugi tetapi dia!


Ya, jelas! Pikirkan saja begitu. Yang rugi itu pasti dia. Yang meninggalkan kita, orang yang telah setia menjaga hati untuknya, yang telah merelakan segalanya: waktu-biaya-tenaga-ambulans-batu-lengan agar bisa memenangkan hatinya.

Kita semua pasti merasa begitu, kan? Merasa telah menunjukkan bukti terbaik tetapi dicampakkan begitu saja seperti sampah di area open dumping. Nah, orang yang melakukan itu pada kita-lah yang seharusnya bersedih. Bukan kita. Mengapa mereka yang harus bersedih? Karena mereka tak akan lagi mendapatkan orang sebaik kita.

Katakan itu secara terus-menerus. Ya. Dan seterusnya dikatakan. "Kita yang terbaik dan melepaskan kita adalah sebesar-besarnya kerugian!"

Lagipula, kalau kita benar-benar hebat dan telah mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku, ada dua situasi yang seharusnya terjadi: 1) kita tidak akan kalah dan dipermalukan begitu saja, dan 2) kita akan segera dapat yang jauh lebih istimewa daripada sekadar jadi presiden di hatinya. Iya ka tida?

Kedua, hindari hal-hal yang membuat kau memikirkannya


Asli! Ini harus. Untuk apa menyusuri lorong-lorong kenangan di kotamu hanya jika setiap pohon, jembatan penyeberangan, warung pinggir jalan, tembok belakang kampus, kedai kopi, dan lain-lain membuatmu terjatuh dan tak bisa bangkit lagi lalu tenggelam dalam lautan luka?

Baca juga: Membedakan Kritik dan Ungkapan Sakit Hati Bertopeng Kritikan

Kau hanya boleh melakukannya, berjalan ke tempat-tempat itu, bersama seseorang yang lain; yang lebih baik darinya! So? Daripada menangis, berusahalah dengan cepat mendapatkan pengganti. Masa sih ketika dulu kalian pacaran, engkau telah begitu setianya sampai tak sempat flirting dan ditanggapi positif. Hmmm...

Kejar jalan itu secepatnya, Kakak. Atau siapkan lagi strategi yang lebih matang untuk lima tahun berikutnya. Berhenti pakai cara-cara lama. Eh? Apa sih?

Ketiga, tampil sebagai pribadi yang bahagia


Kau membutuhkannya. Selain baik untuk kesehatan fisik dan mentalmu, juga sebagai penjelasan pada seluruh bangsa bahwa kau baik-baik saja, Pak Prab… eh, Song Hye Kyo dan seluruh penggemarnya. Kalau dia meninggalkanmu dalam posisi sebagai orang yang kalah karena niat ingin membuatmu bersedih, dia akan sangat menderita melihatmu bahagia.

Angkat kepalamu tegak. Melangkah dengan penuh kepercayaan diri. Menjadi bahagia kan tidak harus dengan menjadi presiden berada di sisinya senantiasa.

Eitsss... Jangan menangis lagi. Cup cup cup... Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang tiba-tiba, Kakak. Mungkin kemarin, waktu Pemilu hidup bersama, tanpa sengaja, kau telah menamparnya, mencubit terlalu kencang, atau melotot berulang-ulang. Coba diingat-ingat. Jika benar, kekalahan adalah sesuatu yang harus diterima dengan rela. Semangat, Kakak.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Jogja yang Murah dan Sudut-Sudut Kota yang Merindukanmu

Di Jogja, entah bagaimana, semua harga terasa lebih murah dari kota lain yang pernah saya kunjungi. Paling dekat barangkali Malang. Atau keduanya sama?
Jogja. Sa lupa nama tempat ini. Ada yang tahu?

Jogja yang Murah dan Kami yang Kaya


Misalkan harus memilih, apakah Malang atau Jogjakarta, saya pikir saya butuh waktu yang cukup lama untuk memikirkannya. Malang jelas telah punya tempat sendiri di hati saya. Kurang lebih lima tahun tinggal di sana, cari uang makan di kota itu, pernah agak terkenal di udara karena saya pernah jadi penyiar di sana, saya sedang tipu diri kalau bilang tidak ingat itu kota. Asli!

Tetapi Jogjakarta atau Jogja atau kota yang oleh Jokpin disebut terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan itu adalah sesuatu yang juga tidak bisa terlepas begitu saja dari lemari ingatan. Cie cieee... Yang pernah punya 'cerita' di sana pasti agak memerah mukanya sekarang. Tir apa-apa. Sante. Tirada yang liat. Lanjut?

Begini. Tulisan ini tidak akan membuat dadamu sesak karena rindu yang penuh oleh lampu jalan, Malioboro, Amplaz, atau kamar kos, eh?

Saya hanya sedang ingin mengenang cerita dari beberapa kali berkunjung ke sana. Ya. Beberapa kali saya berkesempatan main ke Jogja. Dalam rentang waktu yang cukup panjang di antara setiap kunjungan itu. Tentu saja akan ke sana lagi suatu saat.

Namun yang paling diingat adalah ketika akhirnya berkesempatan mengunjungi kota itu bersama Celestin, Mamanya anak-anak. Ehmmmm... Ini adalah perjalanan yang paling saya ingat, selain karena kami pergi berdua saja (you know what i mean), juga karena itu adalah satu-satunya perjalanan yang seluruh biayanya berasal dari kantong sendiri. Hihihi...

Begitulah. Beberapa kali mengunjungi Jogja, saya jarang keluar uang sendiri. Kalau bukan ditanggung panitia, ya pasti dibiayai teman-teman, atau, ternyata panitia adalah teman-teman sendiri. Banyak yang begitu. Sante sa.

Baca juga: Dari Ruteng ke Jogja ke Borobudur Writers and Cultural Festival

Oleh karena itulah, perjalanan di tahun 2013 itu (What? Itu sudah lama sekali, Roberto!) sejak awal dirancang dengan baik. Maksudnya, merancang waktu liburan yang disesuaikan dengan ketersediaan biaya. Kami tidak ingin jika terpaksa harus pulang jalan kaki karena kehabisan uang. Jalan kaki dari Jogja ke Ruteng dan di tas ada oleh-oleh asbak dari Borobudur. Itu mungkin akan masuk dalam rekor nasional – Pasutri asal Ruteng-Flores berjalan kaki antar-pulau demi menemui anak mereka – tetapi kami tidak ingin begitu.

Pasal biaya inilah yang membuat saya tiba-tiba merindukan Jogja. Saya pikir, Jogja juga merindukanmu. Ya. Semua yang pernah tinggal di Jogja entah untuk berapa lama, pulanglah sesekali ke sana. Tidakkah kalian merindukan angkringan dan musisi jalanan mulai beraksi mengiring lara kehilangan halaaah...

Sebagai orang yang tinggal di Ruteng, yang biaya makan di warungnya lumayan mahal, saya terkaget-kaget ketika istri saya mengajak banyak sekali ade-ade dorang setiap kali kami hendak pergi makan. Jadi su kami pulang jalan kaki ini ta, pikir saya. Tetapi ternyata semua baik-baik saja. Biaya yang biasa kami keluarkan untuk makan berdua di Ruteng (kami biasa sesekali begitu), ternyata bisa untuk traktir cukup banyak orang.

"Mereka punya harga beras di sini berapa, Ma?"
"Tir tau lagi, Pa. Murah im..."
"Iya, Ma. Murah sekali. Berarti sa bisa beli buku cukup banyak im."
"APA? TIDAK! SA PERLU SEPATU!"
"Tapi, Ma. Buku itu penting."
"Kalau ada yang diskon sampai 70%, kita beli."
"Tirada, Ma."
"SU JELAS TO?"

Begitulah kira-kira dialognya. Kami akhirnya beli sepatu. Haissssh....

Demikianlah, di Jogja, kami bisa jalan ke mana saja dengan santai. Terlihat sebagai orang kaya karena selalu bisa traktir Dion, Ronys, Djiboel, Danil, Iwan, Induk, Ican, Endak, Uchy, dan masih banyak lagi. Padahal, asli, kami tir kaya. Itu uang yang dipakai untuk traktir itu adalah uang yang sudah dianggarkan untuk biaya makan berdua; kami pakai standar harga Ruteng dan beberapa kota lain ketika merancangnya.

Kelak, ketika sekali lagi mengunjungi kota itu sendiri, saya juga tetap berlaku sama pada Ronys, Jento, Dion, Fadfad, Andrian, dan Colin. Trakteeeer. Beli bukuuuu. Sambil terngiang-ngiang pesan di telinga: INGAT! SEPATU! Hadeeeeh... Mamanya anak-anak juga tetap bisa tampil sebagai horang kayah ketika mengunjungi kota itu sendiri.

Sampai sekarang, saya tetap merasa, Jogja adalah salah satu destinasi yang ramah kantong. Entah bagaimana pemerintah di sana melakukannya, tetapi rasanya selalu lebih murah biaya hidup di Jogja daripada di kota-kota lainnya. Seperti di Malang, kira-kira. Ya. Secara biaya.

Karena alasan itu, saya kira, dalam setiap pencarian dengan kata kunci destinasi wisata murah di Indonesia, Jogja ada di urutan pertama dan Malang ada di urutan berikutnya. Tidak jauh. Bisa cek di sini dan di sini.

Yang mengherankan adalah, kenapa keramahan biaya seperti itu tidak bisa diterapkan di tempat lain padahal kita masih sama-sama Indonesia? Tentu saja akan ada yang dapat menjelaskannya secara rinci; soal ekonomi makro dan mikro, pasokan bahan, jalur distribusi, dan lain sebagainya. Tetapi, bisakah kita belajar dari sana?

Jika biaya barangkali adalah soal lain yang rumit, keramahan adalah soal penting yang harus dipelajari. Saya dan Celestin tidak merasa sebagai orang asing di kota itu. Karena itulah saya selalu berusaha membuat siapa saja yang berkunjung ke Ruteng tidak diperlakukan sebagai orang asing. Memangnya bagaimana?

Begini! Setiap orang wajib mendapat harga yang sama, apakah dia baru berkunjung atau sudah lama tinggal di sini. Itu berlaku untuk semua. Dari ojek, penginapan, kopi, dan lain-lain. Jangan karena yang datang itu 'muka baru', kita mulai pasang harga lebi-lebi. Itu namanya cari untung sembarang. Jangan begitu!

Baca juga: Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Setiap orang yang melakukan perjalanan, tidak melakukannya karena dia telah kaya. Tidak. Dia ingin menikmati suasana yang lain. Dan karenanya dia menabung. Menghitung seluruh biaya hidupnya di lokasi yang hendak dikunjunginya secara cermat dan membawa uang yang cukup untuk itu. Cukup, ya. Bukan berlebih. Karena itu, ketika mereka merasa dirampok akibat kebijakan harga sekenanya karena model cari untung sembarang tadi, dia tidak akan berkunjung lagi. Su mengerti?

Kalau belum, mungkin kau perlu jalan-jalan. Ke Jogja-lah sesekali. Lalu kau akan pulang dengan rindu pada angkringan yang murah. Yang membuatmu tampak kaya, sebuah perasaan yang membuatmu liburanmu akan terasa lebih menyenangkan.

"Ma. Asyik ini liburan im."
"Iya. Menyenangkan."
"Kita liburan dalam rangka apa, Ma?"
"Wisudanya Djiboel tah!"
"Oooo... makanya kita traktir dia terus im. Maka dia lagi yang pilih menu. Issshhh!"

Begitulah. Di Jogja, kami merasa senang. Jogja juga seharusnya merasa senang karena kami termasuk orang yang tertib sampah. Setiap kota pasti senang jika yang berkunjung tidak menyampah di sembarang tempat. Bukankah begitu? Harusnya begitu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores