Bagaimana Ivan Nestorman Melihat "World Music"?

Artikel ini ditulis oleh musisi Ivan Nestorman dan disebar via WhatsApp. Tentang bagaimana Ivan melihat world music. Saya menemukannya pertama kali di WAG yang saya dan Ka Ivan sama-sama jadi anggotanya. Membaca artikel ini pertama kali, saya langsung menghubungi seniman kebanggaan kami ini dan meminta agar artikel ini boleh saya unggah ulang di ranalino.id. Beliau setuju. Saya senang. 

Artikel ini berjudul asli "World Music dari Sisi Praktisi", judul yang menjelaskan isi artikel secara utuh: Ivan Nestorman menggeluti 'jenis' musik ini dan ingin berbagi cerita tentang apa yang dia rasa dan tahu tentang world musik ini. Yuk, kita simak!

Ivan Nestorman, Trie Utami, dan Ramlan Ponggo di Toto Kopi | Foto: Kaka Ited

World Music dari Sisi Praktisi

Oleh: Ivan Nestorman

World music adalah rumah, sebuah konsep musik yang memberi ruang kepada musik-musik etnis untuk berkembang dalam konteks industri. World adalah istilah marketing, industrial; terinspirasi World Harmony (harmonia mundi) yang menampilkan musik dari lima benua pada sebuah iven olahraga di Jerman dan juga beberapa iven budaya yang memberi ruang untuk musik-musik non-Eropa tampil.

World music hadir dalam dua kutub yaitu Eropa dan Amerika.

Di Eropa, world music lebih cenderung kepada upaya menghadirkan suatu peradaban musik dunia yang menggabungkan eksotisme oriental dan tradisi oksiden. Eksotisme musik Timur dianggap sebagai energi baru untuk satu sajian hybrid yang bernama suguhan musik dunia (world music); berangkat dari kegelisahan pemusik untuk terus berkarya melampau batas-batas peradaban yang diketahuinya.

Oleh karena itulah, kemudian, world music menjadi rumah, sebuah konsep musik yang mempunyai banyak bilik di dalamnya, seperti jazz yang merupakan sebuah konsep juga, bukan pola irama. Tidak ada irama world music atau irama jazz.

Di Amerika, umumnya istilah world music adalah (untuk) musik-musik dari sisa dunia, budaya lain selain Amerika Serikat. Atau, musik primitif, namun bukan dalam pengertian yang peyoratif, lebih kepada pengertian antropologis.

Baca juga: Ivan Nestorman Bicara tentang Pemajuan Kebudayaan di NTT

Bilik bilik World Music


Begitu beragam kamar kamarnya:

  • Musik indigenous (primitive): Musik-musik asli masyarakat;
  • Kreasi baru atau gaya baru: Contohnya musik Brazilyang dalam bahasa Portugis dinamakan bosanova yaitu upaya menggabungkan jazz dan slow-samba; tokohnya Carlos Jobim;
  • Etnis kontemporer: Suatu penyampaian musik etnis dengan lebih kontemporer, keluar dari pakem yan ada namun meninggalkan nuansa etnis.
  • New Age: Lebih ditandai musik-musik elektronis dengan hadirnya ritmik-ritmik elektronis dari looping-an mekanis atau sampling ritmis. Sesekali dikombinasikan dengan vokal-vokal unik dari bangsa lain, ditempel ke dalam teknologi rekaman. Kitaro merupakan contoh yang kita kenal.

Namun terkadang penamaan suatu genre merupakan hasil kerja tim marketing atau media. Pemusik selalu bekerja dengan hatinya berdasarkan inpirasi yang didapatkannya. Pihak lain yang cendrung melabelisasi dalam frame industri.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik...


Neo Tradisi (dari Sisi Praktisi)


Ini adalah salah satu kamar dalam world music yang saya geluti:

Neo tradisi sejatinya adalah sikap minimalis dalam bermusik dengan upaya memberi interpretasi ulang terhadap motif-motif asli dan terutama memberikan nuansa inovatif di dalamnya. Universalitas rasa digodok.

Pengertian minimalis bisa juga dalam bentuk non-material dengan tidak harus menghadirkan alat-alat etnik asli di dalam penampilannya. Yang diutamakan adalah idealisme nuansa atau spirit yang dihadirkan. 

Misalnya dengan memainkan slendro (kadang kala dieja sebagai saléndro) pada gitar-gitar atau piano dapat juga menghadirkan nuansa etnis tertentu, dan sebagainya. Contoh irama sawah dari drum. Gilang Ramadhan bisa memainkan motif-motif Tebe (Timor) dari puluhan penabuh likurai, misalnya. Banyak contoh lainnya dan hal itu berpulang kepada misi masing-masing pemusik.

Sisi lain dari world music sebagai katalog industri adalah produk yang radio friendly/ramah radio. Mungkin sekarang ramah anak muda. World  music membuka peluang hadirnya nuansa ekspresi genre lain seperti jazz atau reggae/rock, dan lain-lain. 

Di situlah upaya kita menghadapi tantangan dengan membangun keseimbangan antara art dan commerce. Kita tidak melulu memikirkan sisi art tetapi juga sisi commerce. Meskipun itu berpulang pada pilihan masing masing pemusik. 

Di Indonesia, pemusik (baca: world music) berada pada posisi berat; berdiri pada kutub art atau commerce. Seperti orang normal lainnya, para pemusik world music juga berhadapan dengan masalah domestik. Sandang, pangan, papan, tentu saja menjadi kebutuhan dasar hidup. Mempertahankan idealisme di tengah arus kehidupan merupakan pilihan super-berat dari sisi finansial di daerah-daerah. Di situlah 'musik idealisme' itu kadang ditinggal. 

Itulah yang saya jumpai, di Labuan Bajo misalnya. Mengapa?

Ekosistem world music di Indonesia, dalam bingkai industri hiburan, masih belum selesai terbentuk. Dia masih menjadi musik komunitas dengan segelintir penikmat. Masyarakat kita asing terhadap musik tanahnya sendiri. Alhasil, nuansa art harus mengalah pada commerce: banyak  pemusik akhirnya tidak fokus dengan world music.

Baca juga: Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan!

Padahal, dari sisi demografi, akan ada saatnya banyak anak muda berubah juga taste-nya. Mereka ingin menukik lebih dalam, dalam pencarian jati dirinya.

Belum adanya label-label khusus yang seperti Putumayo di AS mengakomodasi katalog musik world music di Indonesia juga merupakan kendala tersendiri, belum lagi radio-radio swasta yang tidak memutar lagu berbahasa daerah misalnya; seakan-akan musik etnis itu musik daerah yg hanya boleh diputar di RRI Pro 4. Langkanya sponsorship (kecuali ada hubungan baik) juga jadi kendala dalam menggelar konser-konser. 

Di sisi lain, kita, para pemusik harus memikirkan telinga audiens juga. Ini sedikit dari sisi commerce. Musik etnis kita harus bisa lentur juga, sesuai situasi dan kondisi. Ini perlu kreativitas dan musikalitas yang mendukung agar penguatan nuansa tertentu terjadi. Misalnya, dalam sebuah iven jazz, aransemen etnis diberi nuansa jazz yang cukup. Karena, orang datang menonton jazz, bukan etnis.

Dalam event-event luar negeri, saya menggunakan pendekatan lain lagi. Beruntung karena world music adalah sebuah konsep seperti jazz, happening art bisa saja terjadi sesuai sikon setempat. Kolaborasi bisa menjadi gimmick yang menarik. Contoh rekaman seperti yang saya buat dengan kang Dwiki Dharmawan yang seorang pejazz, dalam lagu "Benggong" pada albumnya. Ketika menyodorkan lagu tersebut, chord-chord jazz saya masukan untuk dasar lagu itu. Namun tentu harus cermat dan hati hati menggarap chord dan harmoninya.

Dalam grup Nera, bersama Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Adi Darmawan, kami padukan instrumentasi modern dengan spirit etnis. Apakah itu ada unsur new age, neo tradisi, bisa saja. Ada pula yang menyebutnya jazz etnis, moderen etno, dan  lain sebagainya.

Pada akhirnya hanya ada dua jenis musik. Musik enak dan tidak enak. Itupun bisa disanggah karena, soal rasa tidak bisa diperdebatkan.


Posisi Tawar World Music pada Destinasi Pariwisata


Indonesia yang beragam budaya musiknya, jelas merupakan sebuah kekuatan di tengah  gelombang musik yang terdengar generik saat ini. Ketika dunia jadi kampung global, identitas diri itu yang justru dipertegas di destinasi wisata kita. Keotentikan musik yang ada niscaya mempunyai posisi tawar yang tinggi. Orang ke Brazil ingin nikmati sambanya boda novanta. Ini membuktikan kekuatan musik lokal itu benar adanya pada sebuah destinasi.

Namun sekali lagi, perlu dipertimbangkan rasa “enak atau tidak”-nya dalam konteks universalitas rasa. Itu dari pengalaman pribadi saya. Referensi perlu terus diperkaya. Niscaya world music bisa jadi tuan rumah di radio-radio kota besar yang merupakan acuan dan referensi musik nasional.

Dari pengamatan terhadap teman-teman di Labuan Bajo atau NTT umumnya, pilihan untuk melakukan world music ini sesuatu yang berat. Dari sekian banyak hotel atau kafe musik yang ada, belum ada yang berani tampilkan musik-musik etnis atau world music. Dari keluhan keluhan mereka, nyata bahwa audiens/pemilik tempat hiburan masih keberatan lagu-lagu etnis dimainkan.

Di daerah pariwisata pantai di Indonesia saya melihat sudah menjadi habitat komunitas musik reggae. Nah itu bisa diolah dgn memasukan unsur tropical reggae itu ke dalam musik etnis. Sebagai salah satu bentuk ekpresi selain jazz atau rock misalnya.

Sebuah kenyataan adalah genre benar-benar melebur dewasa ini menjadi satu musik dunia saja dengan rupa rupa ingredient.(*)

----

Bonus dari Youtube Nestornation Channel


Saeh Go Lino, 7 Tahun dan Berlipat Ganda

13 September 2020, Komunitas Saeh Go Lino, Ruteng masuk ke usia yang ketujuh. Ya. 7 tahun. Kami sudah siap masuk Sekolah Dasar. Normalnya begitu. Usia manusia. Tetapi komunitas tentu saja tidak begitu. 7 tahun seharusnya bukan 'anak baru' lagi. Lalu, kami di mana?

Saeh Go Lino, 7 Tahun dan Berlipat Ganda

Saeh Go Lino, 7 Tahun dan Berlipat Ganda

Judul ini barangkali terlampau bombastis. Ya. Macam talalu lebe, kalau orang kami bilang. "Berlipat ganda apanya? Baru sampai di usia tujuh tahun jugaaa... Hisssh!" Ada dengung begitu di kepala. Tetapi saya abaikan saja sebab hati ini sedang melonjak-lonjak kegirangan.

Ini adalah catatan tentang 7 tahun Saeh Go Lino, komunitas (lebih tepat kami rasa sebagai rumah) yang cikal bakalnya muncul tahun 2013 silam. 13 September 2013. Tentang bagaimana 'hari cikal bakal' diputuskan sebagai 'hari lahir Saeh Go Lino', ceritanya panjang dan anak-anak rumah telah memahaminya. Ada beberapa benang yang sudah dititipkan beberapa artikel di ranalino.id ini perihal itu: Ora The Living Legend di Sail Komodo 2013 dan Saeh Go Lino Menjadi Nama Komunitas.

Tentang usia tujuh tahunlah yang hendak saya ceritakan kali ini. Tentang hati saya yang melonjak-lonjak kegirangan; kami sampai di usia yang ke-7 juga akhirnya. Why so happy? 

Begini. Saya, sebagaimana sekian banyak manusia yang senang berkumpul, telah bergabung bahkan turut serta mendirikan banyak komunitas. Komunitas-komunitas itu hidup baik sekali di satu dua tahun pertama, beranggota banyak sekali, lalu perlahan ditinggalkan atau meninggalkan anggotanya. Soal-soal kesamaan atau ketidaksamaan arah pikir biasanya jadi alasan utama. Alasan kurang utama? Kadang soal uang. Ada beberapa yang menikmati keuntungan finansial berlebih, ada yang seperti menghidupkan lagi nuansa romusha (lalu sadar bahwa Perang Dunia II telah selesai dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa), ada yang karena telah bertemu dengan kekasih yang lain... halaaah.

Atas dasar pengalaman-pengalaman itulah, saya dan beberapa teman yang memutuskan membangun rumah bernama Saeh Go Lino, tidak terlampau menyiapkan diri untuk sampai di usia yang ketujuh. Juga karena alasan itu maka tidak ada perayaan-perayaan besar pada ulang tahun 1, 2, atau 3 (sebagaimana biasanya komunitas-komunitas tempat saya bergabung sebelumnya). 

Jalan saja dulu. Toh, ini bukan komunitas dalam arti yang sama dengan komunitas sebelum ini. Ini rumah. Artinya, sebagai rumah, dia bisa saja ditinggalkan tetapi akan tetap jadi tempat kembali. 

Begitu pikiran awal dulu dan itulah yang terjadi. Tak seorang pun dari rumah bernama Saeh Go Lino ini yang dilarang pergi atau dilarang kembali. Sebab, bukankah begitu seharusnya sebuah rumah; kau siapkan orang-orang di dalamnya agar ketika pergi tetap membawa semangat rumah dan ketika kembali akan tetap disambut dengan pelukan hangat. Tujuh tahun ini begitu.

Dan berlipat ganda!

Sejauh yang saya ingat, pasukan awal Saeh Go Lino tidak sebanyak sekarang. Sekitar sepuluh orang. Yang pertama kali bertemu tak sengaja di pentas opera Ora The Living Legend di Pede, Labuan Bajo dan sehari-hari bergabung di OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng. Oleh karena tidak setiap 'keinginan kreatif' dapat ditampung di kelompok kategorial paroki, rumah ini dibangun, dipelihara, dan diisi perlahan.

Berikutnya adalah bercerita melalui mulut dan tingkah laku tentang rumah ini. Berakibat baik. Satu, dua, tiga, empat orang datang. Semula berkunjung saja. Lalu dijerat (paksa?) untuk ikut membantu satu-dua kegiatan. Lalu mereka suka. Menerima begitu saja tawaran menjadi anggota rumah, memberikan seluruh kemampuan terbaiknya, dan rumah ini menjadi semakin kuat pondasinya. Perlakuannya sama saja: kau bisa sesekali pergi tetapi kau tentu saja akan kembali. Barangkali karena itulah Saeh Go Lino berlipat ganda anggotanya. Dan kami semua senang. Sepanjang mereka 'membawa' pelajaran rumah ke tempat lain dan tidak 'menjual' rumah untuk kesenangan pribadi.

Di Saeh Go Lino kami saling mengingatkan. 

"Besok saya ikut kegiatan bla bla bla..."

"Sip. Sukses. Jangan pake baju Saeh Go Lino em."

"Siap."

Dialog pendek semacam itu menjadi penting sebab di Saeh Go Lino, preferensi politik atau hobi seseorang sama sekali bukan urusan komunitas/rumah. Urusan rumah adalah bersama-sama terlibat sesuai kapasitas masing-masing untuk menyukseskan apa yang telah jadi rencana bersama. Urusan lain yang tak kalah pentingnya adalah sama-sama belajar menggunakan media sosial dengan baik; media sosial haruslah menyenangkan dan tidak jadi ladang untuk benih-benih kebencian. Untuk urusan terakhir ini, kami biasanya 'saling hajar' di WAG ketika seorang dari kami terlihat mulai memanfaatkan media itu untuk hal-hal yang berpotensi buruk.

Lalu apa yang kami lakukan ketika ada 'anak rumah' yang berkegiatan di tempat lain? Kami mendukungnya. Membekalinya dengan nasihat-nasihat, harapan-harapan, doa-doa; dia dilarang mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri dan kami melarang diri kami sendiri mengakui keberhasilan personalnya sebagai keberhasilan komunitas. Dia harus sukses. Sebab kalau dia gagal, kami sekeluarga yang akan sedih. Kalau dia berhasil? Kami bergembira bersama. Semalam penuh. Atau bermalam-malam. Sebab kami biasanya kumpulnya memang malam. Hihihi...

Dan...

Di rumah ini, semua orang mendapat kesempatan memimpin. Oh, iya. Tentu saja ada badan pengurus. Sebab Saeh Go Lino sudah memiliki akta komunitas. Tetapi dalam setiap kegiatan, selalu ada yang jadi (kami sebut) project manager. Tugasnya adalah memastikan bahwa kegiatan itu berjalan. Dan project manager ini tidak pernah orang yang sama, tidak pernah selalu orang yang kalau diskusi omongannya terdengar hebat, tidak pernah memandang tingkat pendidikan. Sebab jika memandang yang terakhir ini, mungkin project manager kami hanya satu atau dua orang saja.

Anehnya, kami semua, termasuk yang sudah berusia agak dewasa seperti saya, mau saja diatur-atur oleh project manager yang kadang usianya terpaut belasan tahun. Hiks.... Kadang sedih, tetapi terutama senang. Bahwa rumah yang kami ciptakan sebagai tempat belajar benar-benar menjadi tempat tumbuh kembang. Selama tujuh tahun terakhir ini. 

Bahwa ada pelajaran-pelajaran yang keliru, karena itulah kami membuka (atau menyerahkan?) diri pada begitu banyak orang baik di luar kami; yang kehadirannya selalu tepat waktu, tepat guna, tepat betul. Terlalu banyak nama sehingga memaksakan diri menulisnya satu per satu akan sangat mungkin membuat saya melupakan beberapa nama. Ingatan itu pendek, bukan? Tetapi doa akan panjang. Doa-doa dari kami semua kepada siapa saja yang telah membantu, yang telah memenuhi undangan kami, membeli produk-produk kami, menasihati kami, mengikuti kami di media sosial. Astaga! Kalian baik sekali. God must have spent little more time on you!

Begitulah... Kami berlipat ganda. Bukan semata jumlah anggota tetapi juga tanggung jawab. Dan, agar kami tidak terlipat kecil-kecil menjadi kenangan saja beberapa tahun ke depan, doakan agar rumah ini semakin kokoh. Terima kasih 1000, semuanya!

Salam dari Ruteng

Armin Bell

Hoiiiii....

Apakah ada yang sedang tidak tahu mau melakukan apa? Kita harus tos. Hi5, Kakak. Kita sama. Sa ju tir tau mau tulis apa padahal sa mau sekali tulis sesuatu. Bukan karena blog ini harus diisi tetapi karena blog ini harus mewartakan sesuatu. Hmmmm....

Hoiiii...

Hoiiiii....


Keharusan mengisi blog dan kewajiban mewartakan sesuatu via blog itu adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama mewajibkanmu mengisi blog secara reguler sedangkan yang kedua berarti isi blogmu harus berisi sesuatu yang (sebut saja) mampu jadi penambah pengalaman atau pengetahuan atau apa saja.

Nah... Soalnya persis di sana. Di yang kedua itu. Saya mau begitu. Bahwa setiap konten di blog ini sebaiknya mewartakan sesuatu. Sulit. Sebab mewartakan sesuatu di tengah pandemi--seperti saat ini--hanya berkonsekuensi dua: menjadi pengkotbah yang menjemukan atau menjadi pencerita yang membantu meringkankan beban. Mammamia!

Namun, menghabiskan waktu dengan memikirkan positioning macam itu akan buruk sekali akibatnya pada produktivitas. Maksud saya, misalkan mau menulis dan yang ingin saya tulis adalah kasus JRX, apakah saya sedang menjawab keharusan mengisi blog atau sedang ingin mewartakan sesuatu? Sila ganti JRX dengan nama lainnya. Dan selamat berputus asa, Kakak.

Maka saya putuskan untuk menulis saja. Tentang hal-hal random.

 Pertama, tentang perjuangan.

Saya, ketika sedang menulis ini, sedang kumpul bersama pasukan Saeh Go Lino. Sintus, Dodo, Adenk, Nathan. Kami sedang menikmati lagu baru MukaRakat. "Nona". Itu lagu bagus sekali. Kami semua suka. Video clip-nya, liriknya, vibe-nya, dan terutama "kami"-nya. 

Sa tir tau apakah Lipooz dan kawan-kawan sedang 'berjuang' tentang Indonesia Timur, tetapi percayalah, kami terwakili. Dalam banyak hal, single itu sedang menjelaskan tentang apa saja yang kami alami. Pesta, mau tampil prima di depan nona-nona dorang, gara-gara banyak, dan percaya diri full!

Di luar seluruh hal yang ada di lagu itu, hal di belakang lagu justru menjadi titik pusat obrolan kami. Tentang Lipooz dan perjuangannya.

Baca juga: Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan tentang Para Perantau Digital

Saya kenal Lipooz sejak lama. As a person. Sebagai pelaku industri kreatif juga sudah lama. Sa ikut dia pu perjalanan dengan serius. Dengan senang hati juga sebab karyanya selalu membuat saya terkagum-kagum.

Bahwa sekarang dia ada di level yang sangat baik, sa senang matipunya. Apa yang dia (dan MukaRakat) capai saat ini adalah sebuah penjelasan paling terbuka tentang apa yang selalu saya bilang dalam percakapan-percakapan spiritual kami di Saeh Go Lino: KONSISTENSI! Kau hanya bisa tepuk dada kalau kau konsisten. Lain tidak, Kaka! Sintus, Dodo, Adenk, Nathan angguk-angguk. Antara mengerti dan mengantuk. Tipis sekali bedanya. Tapi kita bisa apa?

Kedua, tentang meniru.

Sa lupa siapa yang bilang. Tapi sa ingat samar dia pu kalimat: seniman yang baik adalah yang mampu curi dan bikin lebi!

Kita semua sedang begitu sekarang ini to?

Di masa pandemi ini, semua orang berusaha menjadi kreator konten. Youtube sedang ramai-ramainya dengan pendatang baru. Ramai-ramai bikin konten. Sebagian menjiplak, sebagian menjiplak dan menambahi, sebagian lagi sibuk latihan bikin judul pemancing klik. Mammamia e!

Pada saat-saat tertentu saya seperti sedang menonton sampah-sampah digital. Sekian banyak orang melakukan duplikasi alih-alih replikasi. Sekian banyak media tumbuh. Dan menyampah!

Baca juga: Media Massa Online dan Soal-Soal di Sekitarnya

Lalu saya sadar bahwa di tengah situasi seperti ini kita tak bisa apa-apa. Apa yang kau harapkan dari orang-orang yang tidak tahu mengapa mereka dilarang berkumpul?

Ketiga, tentang kita.

Kau mau jadi apa?

Pertanyaan itu mengganggu sekali. Kita mau jadi apa? Kita barangkali bisa menjawab pertanyaan kau mau jadi siapa? Tetapi pertanyaan kau mau jadi apa adalah yang paling sulit dijawab. Jawaban paling normatif akan paling sering muncul: mau jadi diri sendiri. Tentu saja itu jawaban yang bagus kalau tidak ada pertanyaan lanjutan: diri sendiri yang bagaimana?

Sa ingat betul beberapa bagian yang sering sa bilang dulu waktu masih mengajar. Kepada para peserta didik sa minta: tulis di kau pu buku catatan, kau akan jadi apa sepuluh tahun dari sekarang?

Sa kira, pertanyaan itu sedang sa ajukan pada diri sendiri sekarang. Juga pada kita semua. Kaka dorang akan jadi apa sepuluh tahun dari sekarang?

Ini pertanyaan yang penting sekali. Setelah sekian banyak geliat aktivisme yang kau lakukan dengan penuh percaya diri itu, apakah kau yakin suatu saat tidak akan kapitalis?  (*)

Salam dari Ruteng

Armin Bell

Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?

Ini catatan lama. Bukan di blog ini. Tapi di akun facebook saya. Tanggal 17 Juli 2015. Judulnya aslinya bukan "Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?" seperti sekarang ini, tetapi ""Tentang Beribu-ribu Liter Air yang Kami Minum Ketika Tidur Sebulan Penuh". Saya unggah di blog ini bukan semata untuk kepentingan dokumentasi. Ini adalah pengingat. Untuk masa depan yang baik.

Photo by George Becker from Pexels

Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?

 

Ruteng, 17 Juli 2015

Tentang Beribu-ribu Liter Air yang Kami Minum Ketika Tidur Sebulan Penuh

Siang tadi saya menulis status tentang biaya rekening air yang harus saya bayar. Rp. 913.100,- untuk periode pemakaian Mei sampai Juni 2015. Sebulan. Dalam penjelasan yang saya terima di PDAM Tirta Komodo, Ruteng, angka sebesar itu untuk penggunaan sekitar 40 hari (karena pencatatan yang terlambat). Angka hampir sejuta pada rekening kami adalah hasil 'pemakaian' 242 meter kubik air dalam kurun tersebut. Jenis tarif kami adalah Niaga Besar--kompleks pertokoan Ruteng--dengan biaya Rp. 3.750,- per meter kubik.

Tertera pada rekening bertanggal 20 Juli 2015, angka awal meteran adalah 6.554 dan angka akhir, yang menurut petugas dicatat tanggal 27 Juni 2015, adalah 6.796; maka benarlah sudah jumlah meter kubik yang selama sebulan itu kami 'pakai', sehingga tepatlah pula jumlah uang yang harus kami bayar untuk air beribu-ribu liter itu.

Kami sama-sama bingung. Ya saya, ya petugasnya. Mengapa? 

Karena, dari mereka saya tahu bahwa, sesibuk-sibuknya atau sebanyak-banyaknya penggunaan air oleh lima orang dewasa dalam satu rumah sebulan, biasanya hanya mencapai 30 meter kubik. Dalam kasus saya bulan ini, ke mana 212 meter kubiknya? 242 - 30 = 212. Ya, 212 meter kubik siapa yang pakai?

Baca juga: Om Rafael Indonesianival

Dugaan awal adalah kebocoran yang tak diketahui. Dugaan tersebut terbantahkan dengan segera karena pipa air di rumah kami, sejak dari meteran sampai ke kran terakhir, tergeletak di atas lantai, tidak dikubur, terlihat; sesuatu yang akan dengan jelas kita ketahui bersama sebagai: kalau bocor pasti kelihatan.

Apakah meterannya bermasalah? 

Teknisi PDAM, saya kenal, teman saya, siang tadi bersama saya memeriksa. Meterannya baik-baik saja. Artinya, dugaan kedua juga terbantahkan.

Dugaan berikutnya adalah kesalahan pencatatan. Maka saya mengusulkan agar kami sama-sama melihat riwayat rekening kami. Semua normal, dalam arti: di bawah 30 meter kubik per bulan. Yang paling mencengangkan adalah bahwa dari 27 Juni - 20 Juli 2015, jumlah meter kubiknya kembali normal. Angka di meteran adalah 6.812 meter kubik. Jika dikurangi 6.796 berarti 16 meter kubik. Normal kan?

Pertanyaannya adalah ke mana 200 meter kubik air itu kami salurkan bulan lalu? Pada periode itu penggunaan air di rumah kami normal; mandi, makan, minum, pel, dan lain-lain. Misalkan ada kelalaian seperti lupa mematikan kran air, jumlahnya pasti tidak mencapai ratusan meter kubik. Karena kalau iya, rumah kami pasti kebanjiran dan tetangga kanan kiri akan ikut berenang. Iya to?

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, Di Koperasi Kita Menolong

Lalu saya menduga: benar, telah terjadi kekeliruan pencatatan, bukan pada bulan Juni tetapi sejak lama. Dugaan ini, sebagaimana dugaan lainnya tentu bisa salah, berawal dari obrolan bahwa cukup sering terjadi, petugas pencatat meteran tidak benar-benar mencatat setiap bulan. Kadang mereka alpa mengunjungi rumah-rumah pelanggan dan ketika menghitung rekening, asal menjumlahkan saja dengar pertimbangan logika sederhana: "Palingan bulan ini mereka hanya pakai sekian meter kubik." 

Maka didapat(terka)lah angka rekening kami pada periode sebelum-sebelumnya di kisaran 9 sampai 15 meter kubik per bulan. Misalkan pada kondisi sebenarnya kami memakai 20 sampai 25 meter kubik sebulan, bukankah itu berarti telah tidak dicatat 5 sampai 10 meter kubik setiap bulannya? Kalikan dengan 20 bulan, maka angkanya ya 200-an meter kubik tadi. Ya, kan? Sehingga terasa masuk akal saja ketika pada bulan Juni lalu petugas benar-benar mencatat dan ada foto meterannya juga pada komputer PDAM, angkanya telah mencapai hampir 6.800 itu tadi. 

Sekali lagi ini dugaan. Artinya, biaya hampir mencapai sebulan gaji saya di tagihan kami siang tadi adalah kekurangan pembayaran selama ini.

Baca juga: Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Saya baru pikirkan dugaan ini setelah membayar saja rekening air tak masuk akal itu. Saya memang tidak membayar penuh. "Hanya" Rp. 563.500,- sebuah angka yang tidak saya ketahui persis asalnya dari mana. Saya tanya: "Siapa yang bayar selisihnya?" Jawaban: "Petugas pencatat meteran di wilayah itu!"

Saya bingung. Mau kasihan pada diri sendiri atau petugas pencatat itu? Menurut keterangan, dia baru-baru saja (sejak Januari 2015) menjadi petugas pencatat dan (ini paling genting) dia hanya punya catatan meteran saya yang tanggal 27 Juni itu. Dia tidak punya catatan sebelumnya. Patut diduga, dia memang tidak benar-benar datang mencatat selama ini, meneruskan 'kekeliruan' masif bertahun sebelumnya.

Ya, ini dugaan, juga karena di PDAM siang tadi, kami memeriksa bersama riwayat meteran kami di buku catatan petugas pencatat sebelumnya, tidak diketahui jelas kapan catatan terakhir dibuat, lalu kosooong, sampai Juni lalu ketika pencatat yang baru menggunakan handphone dan merekam meteran dengan foto; PDAM Tirta Komodo sekarang menggunakan teknologi ini untuk pencatatan meteran pelanggan.

Berangkat dari dugaan ini, saya ikut-ikutan menduga, soal seperti yang kami alami hari ini mungkin akan (atau pernah?) dialami pelanggan lain. Jika dugaan saya benar, adalah baik jika manajemen PDAM memberi perhatian lebih pada soal catat mencatat ini.

Karena ini dugaan--saya menduga tidak dengan marah-marah--tentu saja kita semua diijinkan menduga kemungkinan penyebab lain. Misalnya, air yang 200-an meter kubik itu tanpa sadar kami minum ketika tidur malam dan terjadi setiap malam selama sebulan. Sah. Namanya juga dugaan. Iya to?

Ya begitulah...

Btw, terima kasih telah membaca catatan ini sampai selesai, silakan dibagi jika ingin disebarluaskan untuk kebaikan bersama. Jangan lupa periksa kran air anda sebelum tidur tetapi jangan biarkan kran berpikir ditutup terlampau lama. (*)

Salam

Armin Bell, Ruteng - Flores

Ps: Status facebook ini ramai dikomentari. Sebagian besar adalah kisah yang mirip tentang bagaimana kekeliruan di penyedia mau tidak mau harus ditanggung oleh pelanggan. Sesuatu yang tentu saja harus segera dibenahi. Saya lupa pernah membaca di mana, tetapi saya ingat satu informasi: di sebuah negara, jika penyedia listrik sengaja atau tidak sengaja mematikan listrik, maka pelanggan yang mengalami situasi itu dibebaskan dari biaya pembayaran sebulan. Ada hitung-hitungannya tentu saja. Hal yang begitu pasti baik sekali untuk meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan penyedia layanan publik di negeri ini. 

Apoly Bala yang Saya Tahu

Tanggal 24 Januari 2020, saya menulis tentang Apoly Bala. Salah seorang komposer yang saya kenal namanya ketika saya masih tinggal di Pateng, Rego. Saya masih kecil dan ini adalah cerita tentang Apoly Bala yang saya tahu. Saya menulis ini ketika mendapat kabar bahwa pencipta lagu dan pemimpin kor itu meninggal dunia. Rest in Peace, Maestro!
apoly bala yang saya tahu


Apoly Bala yang Saya Tahu


Di tangannya nada-nada Sopran mengalun bergelombang mengungkapkan keagungan Tuhan beriringan dengan Alto yang memberi sentuhan keindahan yang sempurna pada lagunya. Akord bas ia gubah bagai kijang yang berpacu lincah, melompat naik dan menukik turun, meliuk-liuk menjadi latar belakang yang harmonis bagi Tenor yang melambung tinggi menggapai cakrawala nada setiap lagu gubahannya. Mendengarkan karyanya adalah mendengarkan keindahan suara ciptaan yang memuliakan Penciptanya.

Paragraf di atas saya ambil dari cakrawalantt.com. Mereka menyiarkan artikel yang memuat paragraf di atas beberapa saat setelah Apoly Bala kembali ke panguan Ilahi. Siapa Apoly Bala?

Saya dengar namanya ketika saya masih SD di Pateng. Apoly Bala

Guru Don dan Muder Yuliana, Bapa dan Mama saya, menceritakannya di sela latihan kor keluarga pada suatu sore di Bulan Maria. Saya lupa tahunnya tetapi tidak lupa bagaimana dua orang itu bercerita tentang Apoly Bala dengan kagum. 

Mereka (dalam pengakuan keduanya) mengenalnya saat kami sekeluarga masih di Kupang dan Guru Don bersama Muder Yuliana mengingat Apoly Bala sebagai pemimpin kor yang hebat. Cerita itu, tentang komposer hebat itu, dikisahkan sebab hari itu kami sedang latihan satu lagu ciptaan Apoly Bala.

Saya lupa judul lagu itu tetapi saya ingat--dan masih bisa menyanyikannya dengan lancar terutama bagian suara tiga di refrein--liriknya: "perawan murni yang murah dan penuh cinta/ doakanlah kami semua/ yang memuji kesucianmu/ oh bunda doakanlah kami selalu//" 

Saya kira saya tahu baca not, dan mengerti bahwa di satu ketukan dapat saja diisi oleh lebih dari dua not, ketika di rumah kami lagu itu sering dinyanyikan. Lumini Alwy Petronela, saudari kami yang cantik itu (semoga dia beristirahat dalam damai surga) mengajarkannya dengan baik karena dia seorang dirigen. Guru Don juga dirigen. Muder Yuliana itu seperti metronom dalam setiap latihan. 

Dan mereka semua mengagumi Apoly Bala.

Demikianlah satu lagu ciptaannya itu dan nama Apoly Bala, kuat sekali menancap di ingatan saya. 


Bisa saja saya salah ingat. Bahwa, mungkin itu bukan komposisi orisinil Apoly Bala dan dirinya hanya sebagai pengaransemen. Tetapi saya tetap merasa bahwa lagu itulah yang membuat saya terhubung dengan namanya. Apoly Bala.

Pada tahun-tahun itu, nama Paul Widyawan dan Fredy Levi sedang kuat-kuatnya--terpujilah Tuhan atas karunia besarnya bagi kita melalui orang-orang ini.

Oh, iya. Lagu yang saya ceritakan tadi, tidak lagi sering saya dengar sekarang ini. Mungkin karena notasinya yang sulit (?) atau teks-nya yang tidak banyak dipegang para dirigen saat ini. Tetapi, sungguh, itu lagu yang bagus sekali. Liriknya, saya pikir, bagus sekali: (ayat 1) "salam yang penuh rahmat/ salam bunda juru selamat/ salam junjungan para raja/ dst...."


Lalu hari ini, 24 Januari 2020, saya dapat berita duka. Di WAG Dusun Flobamora, Linda Tagie mengabarkan bahwa Ayah dari salah seorang teman, bernama Oan Wutun, meninggal dunia. Apoly Bala

Sebelumnya, di dinding facebook saya lihat ucapan duka cita dari beberapa teman kepada Oan Wutun dan menulis harapan semoga Pak Apoly Bala beristirahat dalam damai. Membaca pesan Linda, saya langsung tanya: "Pak Apoly Bala yang komposer itu ka?" Linda bilang iya, dan lagu Maria itu segera ada di kepala; doakanlah kami semua/ yang memuji kesucianmu/ oh bunda doakanlah kami selalu//.

Saya sedih...

Tentang Apoly Bala, website Majalah Hidup (hidupkatolik.com) menulis begini:

"Apoly (Bala) banyak berkarya dalam diam dengan tujuan utama membangkitkan jiwa umat yang tidur dan malas. Dan sejak awal karyanya di bidang Musik Liturgi, lagu-lagu ciptaannya sudah tersebar ke berbagai sudut negeri dan dunia ini, dinyanyikan oleh kelompok-kelompok Katolik diaspora di berbagai belahan dunia. Selain sebagai dirigen, organis dan pencipta lagu, mantan Kepala Sekolah SMPK St. Yoseph Naikoten ini adalah anggota Dewan Paroki selama beberapa periode di Paroki Santo Yoseph Naikoten, Kupang. Dia sepertinya tidak mengenal lelah dalam urusan melayani Tuhan. Requiescat In Pace!"

Terima kasih, Apoly Bala. Beristirahatlah dalam damai.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan

Ah..., iya. Beberapa waktu silam saya tulis ini. Saya senang telah menulis ini dan terutama sangat senang karena akhirnya menemukan lagi tulisan ini dalam masa memindahkan konten di Blog Ineame ke ranalino.id. Ya, begitulah. Oleh karena blog tersebut--yang pada mulanya diniatkan sebagai parenting blog keroyokan--tidak lagi bisa dirawat, sebagian besar konten dipindahkan ke sini. Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan, ini adalah salah satunya.  

sebuah telepon pintar kumatikan
Lima Strategi Menggunakan Smartphone di Rumah

Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan


Judul tulisan ini berutang pada judul buku puisi Dorothea Rosa Herliani, Sebuah Radio, Kumatikan. Ada tujuh fragmen di bawah "judul" itu yakni fragmen ke-2, 9, 21, 22, 23 kepada XG, 24, dan 25, di samping beberapa (sebut saja) bab dalam buku KILL THE RADIO - Sebuah Radio, Kumatikan (Indonesiatera, 2001).

Radio yang dipakai Dorothea barangkali adalah analogi untuk 'dunia luar' yang tidak seharusnya menjadi 'seluruh dunia' dan hanya boleh menjadi sebagian. Pada titik tertentu, beberapa hal dari dunia luar justru menyesatkan persepsi. Di sini 'dunia dalam' menjadi penting. Termasuk menyadari bahwa yang semula dikira sebagai Beethoven ternyata bukan Beethoven, seperti pada fragmen ke-9 berikut ini.

Sebuah Radio, Kumatikan
-fagmen ke 9
kukira tadi beethoven yang mengulurkan tangan
: sepi yang sedih telah beku di engsel pintu, lalu dekap
yang lengkap
aku belum tidur, untuk sebuah kantuk yang berat.
ada kudengar langkahlangkah mendekat,
tapi terlalu lirih untuk kerinduan menunggu.
kamar ini telah jauh dan ngelangut: berapa kilometer
deru mobil--menuju rumah di separo perjalanan jauh.
lalu sepi yang tua--amat tua, menarinari sendiri.
dan ia bukan beethoven.
Jakarta, 1999

Atas semangat yang sama--bahwa semakin banyak orang tua yang menjadikan telepon pintar (smartphone) sebagai titik pusat hidup--judul tulisan ini memakai pola Dorothea di atas. Selanjutnya, smartphone akan lebih sering muncul dalam tulisan ini sebagai pengganti telepon pintar. Meski adalah bahasa asing, namun smartphone jauh lebih populer dalam percakapan kita dibanding telepon pintar.


Berhubungan dengan judul buku puisi Dorothea tadi, smartphone dapat dibaca sebagai gawai favorit masa kini. Berposisi seimbang dengan radio pada zaman puisi di atas lahir. Sedangkan, dunia dalam pada uraian awal tadi adalah rumah dan segala isinya.

Namun, meski meminjam pola dari judul buku puisi yang hebat, tulisan ini sesungguhnya akan tampil biasa-biasa saja. Dalam arti, peristiwa-peristiwa rumahlah yang akan menjadi pusat cerita, rumah kami. Agar memudahkan proses membaca (dan terutama proses saya menyelesaikan catatan ini), alur pikirnya saya bagi tiga bagian, yakni: Anak yang Meniru, Kesepakatan Rumah, Smartphone Sesekali Hidup.

Pertama, Anak yang Meniru

Sudah jamak bahwa anak memiliki kecenderungan meniru yang besar. Peniruan biasanya terjadi pada peristiwa sekitar. Artinya, kebiasaan anak akan terbentuk (dibentuk) berdasarkan kejadian yang dialaminya sehari-hari.

Ketika masih berumur dua tahun, Rana, anak kami terluka. Dia menangis hebat melihat darah mengalir dari garis vertikal yang menghubungkan hidung dan bibir itu di cermin. Tangisannya terdengar sampai jauh ke tempat saya dan Mamanya sedang menonton televisi.

Saya segera berlari kencang. Ke kamar. Rana memandangi wajahnya sendiri di cermin. Di tangannya ada alat cukur saya dan bercak darah terlihat jelas di atas warna kuning kulitnya. Saya segera sadar, Rana baru saja "mencukur kumisnya".

Tentu saja Rana tidak punya kumis. Dia anak perempuan kecil yang berumur dua tahun, yang setiap pagi melihat pemandangan Ayahnya membabat kumis di depan cermin. Suatu ketika dia bertanya mengapa saya selalu mencukur kumis.

"Supaya Bapa jadi lebih ganteng," jawab saya.
"Kalau Mama, ganteng juga?" Tanyanya.
"Mama perempuan, Nak. Kalau perempuan itu cantik. Kalau laki-laki, apa tadi?"
"Ganteeeeng," serunya girang mengetahui kata barunya hari itu.

Tentu saja selain mendapat kata baru, informasi bahwa seseorang mencukur kumis agar terlihat ganteng--yang terekam dalam rekaman anak: jika perempuan melakukannya maka akan cantik--adalah pengetahuan lain yang Rana dapatkan dari percakapan itu. Maka terjadilah peristiwa dia mencoba mencukur kumis.


Pekerjaan pertama saya adalah memeriksa luka di bagian atas bibirnya itu. Hanya sedikit tergores. Tidak berbahaya. Saya bersihkan segera sambil mendengar 'kalimat-kalimat' Mamanya tentang kebiasaan saya meletakkan alat cukur di tempat yang bisa dijangkau Rana. Saya meminta maaf pada keduanya. Pada Rana dan pada istri saya.

Pengobatan selanjutnya ditangani oleh Mamanya. Tugas saya adalah menjelaskan tentang perempuan umumnya tidak berkumis, dan Rana adalah anak yang cantik.

"Seperti Mama?"
"Iya, Nak. Cantik seperti Mama. Mama tidak pernah cukur kumis, to?"

Kesepakatan Rumah

Kali lain, ketika Rana sudah besar, anak kedua kami lahir. Namanya Lino. Lino tumbuh sehat, dan sampai juga di usia dua tahun. Usia di mana anak mencoba apa saja dan meniru apa saja. Rana sudah memiliki sangat banyak informasi, termasuk dari cerita-cerita yang dia peroleh dari koleksi buku-bukunya.

Ini babak baru dalam parenting yang menjadi sedikit lebih sulit karena terjadi kala teknologi informasi berkembang pesat. Kita semua mafhum bahwa pada situasi seperti itu, sebagian besar orang dewasa menghabiskan lebih banyak waktu untuk tersenyum pada layar smartphone.

Saya dan Celestin istri saya juga tiba di masa itu. Bermain girang dengan smartphone dan menjadi lupa bahwa anak belajar dengan meniru. Untunglah pada masa-masa Rana bertumbuh, kami menciptakan kegirangan yang lain. Dia pada buku. Maka dia tidak terlalu mendapat pengaruh dari 'kelupaan-kelupaan' kami. Tetapi Lino, anak kami yang kedua, melihat bagaimana kami berlaku terhadap telepon pintar itu.

Sekarang saya ingin berbagi tentang perjuangan kami melawan smartphone. Kami adalah saya dan Celestin. Orang tua Rana dan Lino. Pengalaman Rana dengan alat cukur tentu saja sangat membantu; bahwa sesuatu yang berbahaya bagi anak sebaiknya tidak dilakukan di depan mereka.


Soal smartphone atau telepon pintar itu. Kami menyadari bahwa beberapa pekerjaan kami mau tidak mau membuat kami harus 'berinteraksi' dengannya, kami menyepakati skema sebagai berikut:

  1. Jika harus menggunakan smartphone untuk mencari informasi atau berselancar di media sosial dan diprediksi akan memakan waktu yang lama, jangan melakukannya di depan anak-anak;
  2. Jika harus menggunakan smartphone di depan anak maka itu hanya untuk menerima telepon agar anak-anak mengerti bahwa fasilitas itu dipakai untuk berkomunikasi dengan orang di tempat yang jauh;
  3. Jika harus membalas pesan WA (ngobrol di grup untuk sesuatu yang penting) maka sebaiknya didahului dengan menyampaikan informasi dimaksud--seberapa penting itu harus dilakukan segera--kepada anak. "Mama minta maaf e. Mama harus balas ini dulu." Katakan demikian bahkan kepada anak yang belum banyak mengerti;
  4. Mengakses hiburan via smartphone bersama-sama (youtube for kids);
  5. Mengenalkan manfaat smartphone dengan contoh, misalnya mencari gambar bunga raflesia, atau zebra; hal-hal yang sulit ditemukan di lingkungan sehari-hari. "Oh. Zebra. Yuk, kita lihat di HP Bapa."

Apakah kami berhasil melakukannya? Well, pada beberapa situasi barangkali berhasil, tetapi pada situasi lain kadang kami lupa. Maka, anak-anak, akhirnya tergoda untuk melakukan hal yang sama. Pada titik inilah aturan menjadi penting. Mau main HP? Tiga puluh menit, ya. Atau: Setelah makan, ya. Atau batasan-batasan lainnya.

Smartphone Sesekali Hidup

Melarang anak bermain (belajar menggunakan) smartphone jelas sangat tidak disarankan. Bahwa ribuan ulasan menjelaskan tentang bahaya smartphone bagi anak, toh, ada ribuan ulasan lain yang juga menjelaskan tentang manfaatnya. Mereka akan tumbuh dengan fasilitas itu juga, kan?

Yang salah barangkali, kalau smartphone diletakkan pada tingkat tertinggi dalam daftar kebutuhan (menyenangkan diri) anak. Akibatnya, fasilitas itu dipakai sebagai obat penenang ketika anak mulai merengek. Anak-anak diiming-imingi smartphone asal tidak menggangu tidur siang kita. Soal bisa muncul dari sana. Lalu bagaimana?

Baca juga: 


Saya selalu percaya bahwa interaksi anak dengan lingkungannya (teman, pengasuh, buku-buku) adalah bagian terhebat di masa tumbuh kembang mereka. Hanya saja selalu banyak yang merasa kesulitan membuat anak-anak mencintai lingkungannya dan karenanya memilih smartphone sebagai solusi.

Atas dasar itu, dan seiring dengan perkembangan literasi digital, pola pemanfaatan smartphone untuk anak dapat dimodifikasi. Tentu saja langkah awal adalah mengaturnya ke mode aman. Pada saluran Youtube misalnya, telah tersedia fasilitas pengaman bernama restricted mode

Fasilitas pengamanan lain juga bisa diatur pada gadget secara keseluruhan dengan catatan bahwa orang dewasa (orang tua, kakak, pengasuh) tetap melakukan pengawasan. Menyerahkan sepenuhnya hak memilih konten pada anak barangkali bukan pilihan yang bijak. Banyak penyedia konten yang memiliki kemampuan mengakali mesin pencari agar dapat lolos sensor.

Seorang teman pernah mengingatkan tentang pentingnya membersihkan riwayat pencarian (chache, dll) agar smartphone tetap dalam keadaan nol ketika hendak digunakan pihak lain, terutama anak-anak. Selain itu, modifikasi penggunaan smartphone untuk anak-anak dapat dimulai dengan "membentuk selera". Beberapa strategi berikut ini dapat dicoba.

Pertama, orang tua harus senang dengan tayangan yang ingin diberikan/ditunjukkan pada anak. Tampakkan wajah gembira dan seruan sukacita. Misalnya, "Horeee, kita mau nonton teletubies."

Dengan demikian, anak akan berpikir bahwa tayangan tersebut sungguh menggembirakan. Menggunakan alur pikir AIDDA (Attention, Interest, Desire, Decision, Action), pada tahap selanjutnya, anak-anak akan beraksi memilih tayangan teletubies sebagai kegiatan menggembirakan.

Kedua, membuat perjanjian dan disiplin menjaga perjanjian itu. "Kita nonton tiga puluh menit ya." Anak-anak tentu belum tahu rentang waktu dengan baik. Tetapi orang dewasa pasti tahu. Di menit kedua puluh lima, ingatkan anak-anak. "Nak, tinggal lima menit ya."

Dalam pengalaman, strategi seperti itu akan membuat anak segera memanfaatkan lima menit terakhir mereka dengan maksimal. Di menit ketiga puluh: "DONE!" Lalu ambil smartphone dan simpan. Anak-anak akan merajuk, tetapi juga akan belajar banyak hal dari sikap tegas orang tua.

Ketiga, membawa smartphone ke layar televisi. Maksudnya, sajian Youtube, jika dapat, ditayangkan (disambung) di televisi yang diakses bersama. Bukan televisi di kamar anak. Dengan demikian, anak-anak terhindar dari "dunia sendiri" dan belajar menikmati "dunia bersama".

Teknologi modern memungkinkan kita menghubungkan perangkat-perangkat tersebut. Smartphone ke televisi, smartphone ke laptop ke televisi, atau berlangganan internet-tv.

Keempat, menawarkan dunia yang lebih menarik setelah smartphone. Ini berarti bahwa setelah kita berhasil membuat anak-anak melepaskan waktu bermain dengan smartphone, orang tua harus mengajak anak terlibat dalam kegiatan lain yang lebih menyenangkan.

Strategi pertama di atas wajib diterapkan. Orang tua menampakkan wajah gembira (bahkan lebih) ketika menawarkan dunia lain itu. "Kita nanti menggambar kuda ya. Horeee... gambar kuda, gambar kuda, kita gambar kuda." Lakukan dengan melompat-lompat kecil sampai anak benar-benar berpikir bahwa itu lebih menyenangkan daripada menonton Teletubies.

Kelima, menjelaskan dalam bahasa yang sederhana tentang akibat negatif jika terlalu lama berinteraksi dengan smartphone. Pada tahap ini, interaksi dapat dibangun melalui cerita yang menarik. Gunakan contoh, pakai bahasa tubuh yang baik, tidak perlu menghakimi atau menakut-nakuti, memakai metode mendongeng.

Hemat saya, jika lima strategi tersebut ingin diterapkan, soal kita bukan lagi tentang mengkhawatirkan perkembangan anak karena smartphone tetapi tentang seberapa mau kita mendisiplinkan diri sendiri menjalankannya. Karena bagaimanapun, kita tidak bisa menjauhkan anak-anak dari smartphone.

Anak-anak akan tumbuh bersama gawai canggih itu--dan yang lainnya yang akan terus lahir. Yang dibutuhkan adalah pengaturan. Smartphone dapat membantu. Hanya membantu. Bukan seluruh dunia. Karena itu, pada titik-titik yang telah diatur, orang tua harus berani bilang: sebuah telepon pintar, kumatikan!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Sepuluh, 12 Juli 2020

Catatan ini dibuat setelah beberapa menit berlalu dari tanggal 12 Juli 2020. Tengah malam sekali. Saya terbangun lagi setelah pengaruh sopi benar-benar hilang.


Sepuluh, 12 Juli 2020


Sesekali pada saat kumpul-kumpul dan saya ikut minum sopi, ada saja yang tanya: hae, ibu dokter tida marah ka? Biasanya saya bilang: jan kasitau dia ka. Tentu saja mereka tidak akan kasitau Mama Rana sebab mereka teman yang baik. Dan, tentu saja kalau mereka kasitau, saya tidak akan dapat marah yang begitu hebat.

Kami, saya dan istri, sejak awal telah bongkar-bangkir seluruh cerita. Dari yang paling ingin disembunyikan hingga ke yang paling mewah dan harus diketahui seluruh dunia oleh sebab kami dua punya jiwa mau tampil agak mirip-mirip frekuensinya.

Saya dengan bangga pernah cerita bahwa saya 'sudah puisi' sejak SD. Saya memang merayunya dengan beberapa puisi kala itu, dan agar bagi dia puisi saya meyakinkan, saya tambahkan CV soal saya juara dua lomba deklamasi puisi "Surat dari Ibu" ketika saya masih kelas dua SD. Juara dua tingkat kecamatan. Saya sempat merasa hebat sampai dia bilang bahwa dia sudah masuk TV dan jadi reporter cilik ketika SD.


Maksud saya, jika hal-hal membanggakan telah kau ceritakan pada istrimu, mengapa kau takut dia mengetahui hal-hal tidak membanggakan yang kau buat? Menikahi seseorang adalah menerima dia dalam satu paket utuh. Kami memutuskan menyepakati itu sejak awal dan berjuang menjaganya. Marah-marah tentu saja ada, karena siapakah yang kuat hidup menikah tanpa marah-marah? 

Saya pernah marah karena dia tidak segera sadar bahwa saya sudah gunting rambut. Dia tertawa saja. Lalu bilang, "botak atau gondrong, kaka min su ganteng sejak dulu." Sa bisa apa kalau begini?

Ah, iya. Saya kira itu. Yang membuat kami senang. Kalau satu marah, yang lain lebih sering memilih diam. Bisa diam yang singkat, bisa diam yang sehari dua. Lalu berbaikan dan saling minta maaf; mau lari ke mana? Kita serumah, sekamar, seranjang, terlalu kalau tidak pernah bekelai, tidak pernah saling minta maaf, tidak pernah bilang terima kasih.

Terima kasih, Ma. Sa bilang begitu tiap kali dia bikin kopi untuk saya dan tidak tergoda ikut meminumnya juga. Sama-sama, Pa. Dia bilang begitu sambil minum itu kopi lalu buru-buru minta maaf. Deee... ndeee...


Itu kira-kira. Bahwa rebutan kopi masih terjadi di pernikahan kami. Bahwa kami baik-baik saja juga karena kami ada di lingkungan yang baik; orang-orang yang sesekali memberitahukan kepada istri saya hal tidak membanggakan yang saya buat, juga sebaliknya, sehingga kami, di kamar, bisa saling mengingatkan. Bahwa kami telah sepuluh tahun menikah dan berterima kasih kepada siapa saja yang telah turut serta membesarkan kami sekeluarga melalui tegur-sapa-kritik-saran dan doa-doa.


Pada ulang tahun pernikahan kami, saya menghadiahi diri sendiri dengan sopi dan dia dengan sepatu baru. Kami saling marah. Dia marah karena saya limbung--dia mengkhawatirkan kesehatan saya--dan saya marah karena dia membeli sepatu yang murah--saya mengkhawatirkan kemungkinan bahwa dia akan beli sepatu baru lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Lalu kami saling memaafkan dan saling bilang: terima kasih sudah ada untuk saya selama ini.

Selamat sepuluh tahun, Celestin.

Salam dari Ruteng

Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Dongeng dapat membantu pembentukan kemampuan anak memahami perintah sederahana. Pada kegiatan mendongeng, anak-anak akan lebih tenang, mendengar, lalu melaksanakan perintah.
Tulisan ini, sebelumnya ada di Blog Ineame. Blog tersebut kini tidak lagi aktif dan sebagian besar kontennya (tentang anak dan keluarga) dikumpulkan dan disunting lagi untuk ranalino.id. Blog Ineame sendiri akan hadir dalam format yang lain (audio dan video). Salah satu video akan kami tayangkan di bagian akhir tulisan ini.

Image dari public domain vectors

Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Oleh: Armin Bell

Ada pendapat ahli. Tentang pengaruh pendengaran yang lebih baik dari visual. Perbandingan kekuatan audio dan visual dalam merangsang kepekaan anak--dan selanjutnya membangun kemampuan empati sebagai human being--mestilah menjadi salah satu sebab para pegiat gambar gerak beralih dari film bisu ke versi motion picture saat ini.

Kita perlu suara. Seperti gerakan pertobatan yang dimulai dari seruan Yohanes barangkali. Bahwa pada bagian berikutnya contoh dalam perbuatan menjadi penting, agar seperti Thomas yang melihat untuk percaya, seruan tetap dianggap sebagai awal gerakan.

Atas dasar itulah, kebiasaan mendongeng diharapkan menjadi agenda keluarga. Anak-anak diajak bergerak setelah mendengar. Tanpa memahami perintah (simple order) seperti ayo makan, tolong buang ini di tempat sampah, mari berhitung, anak-anak tentu sulit memulai. 

Beberapa gerakan (baca: tindakan, perbuatan) sangat mungkin terjadi karena inisiatif. Namun terdapat kecenderungan "tanpa batas" pada gerakan demikian. Berlari, melompat, memukul, dan beberapa lagi adalah hasil inisiatif (intuisi). Tanpa arahan--melalui suara, gerakan-gerakan itu akan cenderung (sebut saja) liar. Pada titik itulah perintah sederhana menjadi penting.

Mari kembali ke pendapat ahli tadi. Tentang audio yang lebih kuat dari visual. Hubungkan dengan kebiasaan mendongeng yang diharapkan menjadi agenda keluarga. Di mana irisan antar-keduanya terjadi?

Berdasarkan beberapa riset, diketahui bahwa stimulasi melalui dongeng akan mampu merangsang kepekaan anak usia 3-7 tahun terhadap berbagai situasi sosial. Anak-anak akan mampu belajar untuk lebih berempati pada lingkungan sekitarnya. Katakanlah, ketika mendengar kisah Gadis Korek Api, anak-anak akan belajar tentang perjuangan hidup, menolong sebelum terlambat, dan lain sebagainya.

Melalui dongeng dunia karya H.C. Andersen itu anak-anak akan membangun kerangka pikirnya dengan baik (karena melalui imajinasi tanpa batas). Perangsangan atau stimulasi visual melalui televisi atau game gambar gerak, meski mampu membangun kepandaian visual, dianggap tidak akan merangsang kepekaan perasaan dan empati anak.

Dengan pendengaran, dan melalui cerita-cerita yang mendidik, anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai positif dan berempati dengan orang lain.

Pada titik inilah dongeng menjadi fasilitas terbaik yang dapat digunakan orang tua. Pada dongeng, orang tua terhindar dari kewajiban mengajarkan atau menggurui. Nasihat pada anak tidak lagi berupa pewarisan teori-teori moral. Pembentukan karakter anak justru dilakukan melalui tokoh-tokoh dalam dongeng.

Bukankah akan sangat aneh jika kepada anak berusia empat tahun kita menjelaskan tentang dampak lingkungan akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan? Butuh usaha ekstra keras jika kita ingin melakukannya. Namun melalui dongeng, tokoh dongeng dapat kita ciptakan. Tentang seorang anak yang membuang semua sampah ke kali. Pada musim hujan, air sungai meluap. Kampung kebanjiran.

Pada saat mendongeng, anak-anak diberi kesempatan untuk membangun imajinasinya sendiri. Pada saat menyaksikan tayangan televisi, dunia imajinasi itu dikekang oleh yang disajikan di layar. Karena itulah dongeng menjadi sangat penting. Pada saat menuturkannya, pencerita atau pendongeng wajib memberi jeda atau pertanyaan yang merangsang atau menstimulasi daya pikir anak.

Baca juga:

Bagi anak, manfaat dongeng tentu tidak terbatas pada membangun imajinasi. Yang jauh lebih penting adalah, selama proses mendengar itu, anak-anak belajar menjadi lebih tenang, diam, mencermati perintah-perintah sederhana, dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Karena itulah, mendongeng sebaiknya dilakukan sebelum tidur, ketika anak-anak sudah lebih tenang. Kita tidak bisa mendongeng pada anak-anak yang sedang bermain. Tahap selanjutnya adalah pembiasaan. Dari dongeng sebelum tidur, menjadi dongeng yang terjadwal, dan ketika jadwal mendongen itu tiba, anak-anak menyiapkan dirinya agar menjadi lebih tenang.

Selanjutnya mari berharap bahwa, dalam ketenangan anak-anak membangun imajinasinya dengan baik sekaligus belajar membuat refleksi sederhana. Pertanyaan panduan orang tua sangat dibutuhkan.

Apa manfaat dongeng? Tulisan ini tidak ingin menyajikan poin per poin. Cerita di atas sengaja dibangun dalam pola narasi. Seperti dongeng. Selanjutnya kita membuat kesimpulan-kesimpulan.

Blog Ineame di Youtube:




Salam
Armin Bell
Ruteng - Flores