Birding, Birdwatching, Pengamatan Burung; Pekerjaan Macam Apa Itu?

Pengamatan burung atau birdwatching atau birding adalah sebuah jenis rekreasi dengan bentuk kegiatan mengamati burung. Apakah Anda pernah melakukannya? Rekreasi jenis ini barangkali belum banyak kita ketahui. Kenapa? Halaaah...

Image: Courtesy of jagarimba.id

Birding, Birdwatching, Pengamatan Burung; Pekerjaan Macam Apa Itu?

Oleh: Ucique Jehaun

Sampai tahun 2012 saya pikir profesi khusus pengamat burung hanya ada di Amerika atau Eropa. Pokoknya negara-negara yang sering muncul di acara Wild Life atau National Geographic pada televisi berbayar. Tidak pernah terbesit dalam bayangan saya bahwa warna warni pengetahuan tentang fauna aves ini akan begitu dekat dengan saya. Birder-istilah untuk pengamat burung, menjadi familiar di telinga, I even married to one.

Menurut Wikipedia, pengamatan burung (bahasa Inggris: birdwatching atau birding) adalah sebuah jenis rekreasi dengan bentuk kegiatan mengamati burung. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengamati burung di alam bebas melalui mata telanjang, menggunakan alat bantu seperti teleskop atau teropong binokular, atau sekadar mendengarkan suara ciutan burung.

Banyak orang yang masih merasa aneh dengan kegiatan mengamati burung di alam liar. Maklum, sebagian orang Indonesia, suka menjadikan burung sebagai peliharaan dalam sangkar, paling banyak saya lihat di Jawa. Bahkan jual beli binatang ini punya tempat khusus yang disebut "pasar burung". Selain itu kata burung lebih sering diasosiasikan dengan genital pria atau hal-hal yang berbau seksual. Tak anyal saat omong burung mulai sudah pelesetannya macam-macam, apalagi kalau yang omong perempuan. Aduh saya tak bisa bayangkan nasib pengamat burung perempuan kalau datang ke Manggarai.

Saya pernah sekali ikut birding. Entahlah... Saat itu memang saya hanya mengekor birder kami dari rumah ke hutan di kawasan Golo Lusang, Ruteng dengan sepeda motor. Setelah parkir di pinggiran jalan dekat hutan kami mulai berjalan mengikuti setapak kecil berumput. Saya merasa agak geli, soalnya banyak yang bilang kalau area tersebut sering dipakai buat pojokan oleh pasangan yang ingin berduaan. Padahal saya perginya sama suami. Maklumlah, meski kelahiran 84 wajah kami memang masih 94.

Baca juga: Ngkiong, Kancilan Flores Bersuara Merdu dan Intel yang Tak Suka Pamer

Setelah beberapa menit memasuki area hutan, kami berhenti dan saya disuruh untuk tidak bersuara. Peralatan dipasang, sebuah tripod kamera dan speaker kompatibel kecil diambil dan sang birder sibuk dengan teropong. Beberapa kali Yovie, nama birder yang adalah suami saya itu, menggumamkan sesuatu. Saat itu saya kesan saya adalah: sangat membosankan. Di mana letak "rekreasi"-nya? Tidak berapa lama kami bertahan dan kemudian pulang. Saya tidak pernah ikut birding alias birdwatching alias pengamatan burung lagi setelahnya.

Foto: Yovie Jehabut

Birding
dan kisah kehidupan bangsa aves sudah jadi hal yang setiap hari dibahas di rumah kami. Kami bahkan punya proyek Kalender Burung- burung Endemik Flores tahun 2021. So many stories are discovered everyday. Jurnal, buku, situs, dan jalinan pertemanan tiba-tiba hadir seperti jaring hologram yang ada di dalam rumah. Istilah-istilah macam birding, inaturalist, endangered, pandemik dan beberapa lainnya kadang saya ucapkan dalam obrolan seolah-olah saya juga seorang birder. Padahal saya awam, penikmat cerita dan kisah mengenai keunikan burung di alam ini. 

Jika ingin baca cerita-cerita tentang pengamatan burung bisa baca di jagarimba.id

Pengamat Burung (Birder) sebagai Profesi 

Pertanyaan yang sering saya dapatkan sebagai istri seorang pengamat burung adalah, "Kut coon hia ngo lelo agu foto burung eta puar?" dengan nada ingin tahu bercampur dengan rasa aneh yang kental; untuk apa dia ke hutan melihat burung dan mengambil gambar burung-burung itu? 

Atau kadang ada yang menyalahartikan kegiatan melihat burung di hutan ini untuk pergi berburu burung dengan pertanyaan: "senapan de run ka'e?" (pakai senapan milik sendiri, kak?). Hal yang sangat kontradiktif--bagaimana mungkin seorang pengamat burung pergi berburu/menembak burung? Saya hanya bisa jawab bahwa itu dilakukannya adalah hobi. Sungguh tak memberikan kepuasan bagi si penanya. Sebab ada juga yang merasa aneh kalau saya bilang profesi suami saya adalah "pengamat burung". Gelap sekali pasti bagi orang untuk bisa memahami hal ini, apalagi pertaliannya dengan penghasilan (baca: uang). Untuk mempermudah biasanya saya jelaskan kalau foto burung tersebut akan dijual online

Menjadi pengamat burung bukan sekedar duduk-nonton-foto-upload foto-orang beli-kirim uang-tarik uang dan kemudian beli nasi padang. Tidak semudah itu, Fergusso. Alur yang dilakukan panjang, harus sabar dan intinya benar-benar mencintai dunia alam. Itu pun masih tidak cukup. Harus baca jurnal, melakukan penelitian mandiri, rajin ke lapangan, ikut komunitas pengamat burung, dan aktif untuk melaporkan hasil penemuan. Salah satu aktivitas reguler adalah Asian Waterbird Census (AWC). 

Asian Waterbird Census (AWC) merupakan kegiatan tahunan yang bersifat sukarela yang dilakukan setiap minggu ke-2 dan ke-3 di bulan Januari (lihat tentang AWC di sini). AWC merupakan kegiatan pemantauan burung air yang dikoordinasi oleh Wetlands International dan merupakan salah satu kegiatan bagi upaya konservasi burung air dan habitat lahan basah mereka.

Baca juga: Analisis Cerpen tentang Ngkiong, Nada-Nada yang Rebah

Di Indonesia, pengamatan burung sudah mulai semarak. Banyak kegiatan, komunitas, dan bahkan wisata khusus untuk para pengamat burung. Di Flores, kegiatan pengamatan secara khusus awalnya muncul karena program wisata.

Kesadaran akan bahaya penembakan liar masih sangat minim, sehingga masih sering ditemukan orang-orang yang melakukan penembakan liar kemudian dengan bangga menggunggah fotonya di media sosial. Alasannya cenderung untuk senang-senang karena kalau untuk dijadikan lauk, toh dagingnya tak seberapa. Padahal burung tersebut hampir punah. Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa burung-burung di hutan adalah penyebar biji-bijian yang menumbuhkan pohon-pohon di hutan. Jarang kita, manusia, ingat bahwa keberadaan satwa di sekitar kita sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia. Paling sedih kalau ada yang tembak atau tangkap induk burung atau mengambil sarang burung yang ada anak-anak burungnya. Naluri alami sebagai ibu tidak hanya ada pada manusia, tapi juga pada hewan. 

Peralatan Birding/Pengamatan Burung

Saya sendiri masih heran kalau melihat Yovie mulai online window shopping. Lihatnya kamera, teropong, mikrofon (yang bentuknya silinder lengkap dengan bulu-bulu persis seperti alat cat labur tembok), GPS khusus yang terhubung dengan jaringan jurnal penelitian, alat perekam khusus, dan baju kamuflase. Beberapa barang tersebut di rumah kami, tersimpan dalam kotak kontainer khusus.

Pernah ada pengamat burung dari Amerika yang datang dengan peralatan dan asesoris yang terasa aneh dan di luar dugaan, misalnya label penomoran yang dibuat khusus yang bisa dililitkan di kaki burung. Bahannya aman dan dibuat khusus. Nah suatu saat burung ini terbang atau bermigrasi dan kebetulan ada pengamat burung lain yang menemukannya, nanti dicatat dan terhubung dengan sistem yang kemudian akan menjadi bahan pemetaan pergerakan burung. Ini adalah salah satu bentuk instrumen penelitian.

Pengamatan Burung sebagai Hobi 

Sekarang saya mulai ikut-ikutan follow akun media sosial yang berkaitan dengan pengamatan burung. Ternyata banyak juga pengamat burung yang sangat amatir dan melakukannya hanya sebagai pengisi waktu senggang. Apalagi saat pandemi. Beberapa artikel berbeda saya temukan dengan kata kunci "birding in my backyard"

Kalau kaitannya dengan hobi, kita seringkali menemukan hal yang unik. Ada seorang pengamat burung, kalau tidak salah dari Amerika, pernah datang dan meminta Yovie untuk memandu selama kegiatannya berlangsung di Flores. Dia mengaku akan mati dengan tenang karena telah melihat langsung seekor burung di Sanonggoang, Manggarai Barat yang telah lama menjadi bucket list dalam hobi pengamatan burungnya. Padahal mengambil foto juga tidak! Hanya melihat dan membuktikan apa yang pernah dia baca mengenai burung tersebut. Ckckck!

Lalu bagaimana saya? Setelah birding pertama yang berkesan membosankan, saya belum pernah melakukannya lagi. Saya lebih senang menikmatinya melalui tulisan di jagarimba.id. Semoga kita semua selalu sehat dan pandemi segera selesai sehingga aktifitas wisata termasuk pengamatan burung bisa hidup kembali. 

Mari kita jaga alam kita!

.

Ruteng, Maret 2021

Ucique adalah anggota Klub Buku Petra, Ruteng.  

Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

 Mojok menyiarkan artikel berjudul Nama-nama Anak Orang Manggarai yang Selalu Melampaui Zamannya. Penulisnya, Salimulloh Tegar Sanubarianto, bukan orang Manggarai, sehingga tulisan yang (barangkali) dimaksudkan untuk jadi dark joke, malah jatuh-jatuhnya ke bullying. Saya orang Manggarai dan merasa tidak enak hati membacanya. Saya menulis artikel ini untuk menambah perspektif kita tentang bagaimana kami, orang-orang Manggarai, melakukannya: memberi nama pada seseorang.


Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

Artikel yang disiarkan Mojok itu merupakan tulisan pertama Salimulloh di media itu. Tulisan pertama yang ditayangkan; saya tidak tahu telah berapa kali dia mencoba dan saya senang sekali bahwa media itu, yang menayangkan tulisan-tulisan nan santai, memberi ruang pada Salimulloh. 

Sebab Salimulloh tinggal di NTT (berdasarkan keterangan di profil Mojok) dan saya orang NTT, saya ikut senang juga. Tetapi lalu merasa sedikit sedih. Dia, penulis itu, tidak terlampau baik (IMHO) menyampaikan sesuatu yang (barangkali) dimaksudkan sebagai dark joke (saya berusaha menjelaskannya nanti di bagian akhir tulisan ini). 

Kalau saja Salimulloh Tegar Sanubarianto mau lebih banyak ngobrol dengan orang-orang Manggarai--yang punya nama belakang yang membuatnya tercengang, mengambil waktu lebih bertanya-tanya (sebab begitu sebaiknya laku seorang yang ingin menulis), dia pasti tidak akan berani menulis kalimat ini di artikelnya: Nama-nama anak di Manggarai betul-betul diracik secara acak oleh orang tua mereka.

Baca juga: Inspirasi Menulis dari Hal-hal Remeh di Sekitar Kita

Tidak ada yang acak, Kak. Sebab siapakah yang berani melakukan sesuatu yang acak pada sebuah ritual yang tata upacaranya terwariskan dari ratusan/ribuan tahun lampau? Jumlah dan paduan warna bulu ayam jantan yang dipersembahkan tidak boleh asal. Titik tempat penyembelihan tidak boleh serampangan. Doa-doa puitis (torok) yang didaraskan dalam go'et, dengan rima kata dan huruf, tidak boleh tersendat; tersendat berarti pertanda akan ada bala dan kau perlu seekor ayam hitam untuk menolaknya. Masih banyak lagi, hal-hal bukan random, pada upacara pemberian nama bagi orang Manggarai. 

Cear cumpe adalah nama ritual itu. Sesuatu, yang dalam terminologi Dave Pelzer adalah It (lihat buku pertama trilogi Dave Pelzer), setelah upacara itu resmi menjadi seseorang. Seseorang bernama Robot, Samsung, Supervisi, Peristiwa, Jutnadin, Hormat, dan lain-lain. Mereka menyandang nama itu. Juga harapan-harapan yang terkandung di dalamnya, harapan yang hanya diketahui oleh orang tua selaku pemilik anak yang mendapat panduan/persetujuan dari opa-oma si anak bersama tua adat yang mempersembahkan doa-doa. Si tua adat mendapat kemampuan itu melalui wahyu: mimpi, tanda alam, dan lain-lain. 

Tidak acak, Kak. Nama itu, yang juga dikenal dengan istilah ngasang manuk (nama ayam)--sebab untuk disematkan pada si it, seekor ayam jantan dipersembahkan kepada leluhur--bisa saja berarti: agar anak lelaki itu kelak sekuat robot, agar anak perempuan itu bisa sehebat Cut Nyak Dien, agar saya bisa menjadi anak yang baik; Nak, jadilah good --> Nagut.

Baca juga: Anda Kritik Karya Saya, Karya Anda Sudah Bagus?

Harusnya, kalau Salimulloh mau bersabar bertanya tentang semua itu sebelum menulis artikel itu, dia tidak akan tega menyebutnya sebagai: kecerdasan verbal para orang tua Manggarai inilah yang saya sebut melampaui zaman. Ah, iya. Saya bilang tega sebab meski sepintas terlihat sebagai pujian tetapi terbaca juga niat mengolok-olok; semoga saja tidak dimaksudkan demikian.

Maksud saya, bahwa kemudian dirasa melampaui zaman, ritual pemberian nama pada seseorang di Manggarai (dan di seluruh dunia fana ini, saya kira) adalah sesuatu yang kontekstual. Sehingga, meski nampak lucu, tidaklah untuk dijadikan lelucon. Lelucon tentang nama orang tidak pernah lucu, sama tidak lucunya dengan menjadikan kearifan lokal sebagai materi lawakan (kecuali jika dark joke itu dilakukan 'orang dalam').

Salimulloh harus tahu juga bahwa sebelum diberi nama, kami, bayi-bayi di Manggarai disebut ta'i (tahi) ketika lahir; dilakukan untuk mengelabui setan yang berniat mengambil nyawa anak-anak manusia. Setan tentu tidak berniat mengambil tahi, kan? 

Kearifan-kearifan demikian, sekali lagi, meski nampak lucu dan aneh, sesungguhnya adalah sesuatu yang sakral dengan tujuan mulia: pro-life; sebuah kehidupan mesti diselamatkan dan bullying bukanlah salah satu tindakan yang mendukung kehidupan.

Baca juga: Tentang Proses Penciptaan Karya Seni, Apakah Tukang Plagiat itu Bersalah?

Namun, bisa saja saya yang overthinking. Salimulloh barangkali hanya ingin meneruskan lelucon teman-teman Manggarainya. Sebuah niat yang mulia. Yang sayang sekali tidak diikuti oleh kesadaran lain: yang boleh menyapa Nigga kepada orang Afro-Amerika adalah orang Afro-Amerika sendiri; yang bikin Mop Papua adalah orang Papua; yang boleh merasa sedikit lucu dengan keterbatasan gerak fisik adalah orang-orang berkebutuhan khusus. Di luar itu? Jika kau bukan orang dalam, tertawalah di ruang privat. Atau tertawa bersama kami ketika kami menceritakannya sebagai lelucon.

Sebab begini. Lelah juga rasanya melihat orang-orang melakukan/mengatakan sesuatu untuk/tentang kami dengan perspektif mereka: orang-orang membangun taman mewah untuk Komodo yang liar--terlihat seperti menyelamatkan tetapi tentu saja mencerabut mereka dari akarnya; membuat sesorang bernama Jutnadin menyalahkan para leluhur yang merestui namanya sebagai kaum yang menempatkan pada obyek lelucon: cie cie cie... pahlawan nasional ni yeee.

Di Ruteng, bersama-sama teman-teman Saeh Go Lino, kami kerap main plesetan. Lucu. Tetapi jika plesetannya sudah menyebut nama orang, pelakunya dapat sanksi. Sebab nama adalah doa. Begitu.

Salam

Robertus Bellarminus Nagut

Surat Keberatan Atas Surat Keberatan Hendra Eiger

Sebab ini adalah surat keberatan atas surat keberatan Hendra Eiger maka baik juga rasanya kalau kita tahu siapa si Hendra Eiger itu. Hendra Eiger adalah seseorang bernama Hendra yang bekerja di Eiger. Halaaaah...

Henda Eiger

Surat Keberatan Atas Surat Keberatan Hendra Eiger

Sampai sekarang, tiap ketemu orang yang salah satu bawaannya adalah produk Eiger, saya selalu bilang (dalam hati), horang kayaaah ini. Ini tanggapan warisan tempo doeloe sih sebenarnya. Yaitu pada zaman kuliah berabad-abad silam. 

Begini ceritanya. Sebab ingin menjadi bagian dari kerumunan mahasiswa-mahasiswi keren di kampus, saya membeli satu produk eiger. Eh... ralat. Sebelum kata membeli, harusnya ada kata bermimpi/berkhayal/berniat. Dan kita tahu, mimpi selalu hanya berujung pada bangun pagi dan menyesal; tak ada eiger hari ini, Aan. Eh?

Pokoknya begitu. Mimpi membeli produk Eiger bagi anak dari jauh macam saya, yang datang dari timur dan kuliah di Jawa, itu rasanya terlalu besar. Ya, iyalah... Ekonomi pas-pasan, uang tiket dari kampung ke tempat kuliah saja bisa sebesar biaya hidup sebulan setengah, mau beli barang mahal hanya agar bisa bergaul? Pikir-pikir lagi, Kak.

Padahal, kalau dipikir-pikir, konsepnya gak begitu juga, kan Hendra? Maksud saya, zaman itu dan setelahnya dan hingga kini, produk-produk Eiger memang paten kuatnya. Artinya, secara ekonomi, membeli satu produk mahal dan bisa dipakai tembus tahun dan musim (dan tetap keren) itu jauh lebih menyelamatkan keuangan daripada harus terus menganggarkan setiap tiga bulan untuk produk sejenis dengan harga yang lebih murah tetapi masa pakainya tidak sampai satu semester kan? 

Tetapi, ya... meski berhasil memainkan hitung-hitungan begitu di kepala, tetap saja tangan tak sampai memeluk tas merk kenamaan itu. Maka beralihlah kita (apa? kita?) ke emperan toko, tempat berbagai merk berhasil ditembak, meski kadang urutan hurufnya jadi salah; egier, ieger, eger, eit...geer, eiger r-nya dua, dan lain-lain. Duh... Situasinya jadi mirip dengan ketika SMA di pertengahan 90-an, saya berbangga sekali mengenakan sepatu sekolah merk Kasogi (terkenal sekali pada masa itu dan ehm... lumayan mahal juga) dan mendadak hilang rasa sebab seorang teman memakai sepatu yang mirip sekali tetapi merk-nya Kosagi. Mama e...

Baca juga: Kota Ruteng dalam Koper

Hanya saja, ungkapan ada uang ada barang itu memang benar adanya. Dalam arti, kalau ada uang yang cukup, kau akan dapat barang yang tahan lama. Eiger ada di level itu. Mau pakai barang yang tembus zaman? Beli Eiger, Kak. Bahkan ketika sudah bulukan, kau tetap bisa melangkah dengan kepercayaan diri yang tinggi ketika mengenakannya. Dan itu dipahami. Oleh siapa saja yang hendak membeli. Tidak ada tawar-menawar. Sebab tawar-menawar harga pas tancap gas hanya ada di lagunya Iwan Fals. Om Polisi yang saya temui tidak pernah begitu. Catat!

Artinya? Kalau konsumen sudah sampai di level kepercayaan diri (dan percaya pada brand) sebesar itu, harusnya produsen rileks-rileks saja. Rasanya begitu. Dulu. Eiger tidak pernah protes pada mahasiswa yang tetap keukeuh memakai produk mereka dan foto-foto walau produk itu sudah terlihat pucat pasi dimakan ganasnya angin gunung dan dinginnya lembah ngarai... Ahaiiii... Eiger memang lebih akrab dengan mahasiswa pencinta alam. Dan mencintai alam itu keren sekali. Di zaman kami begitu. Entah sekarang.

Eh.... Iya... 

Sekarang beda. Eiger, melalui HCGA & Legal Manager bernama Kak Hendra tidak suka kalau produk mereka ditampilkan dengan warna yang tidak sebagaimana mestinya. Ah, Hendra Eiger yang budiman. Mereka melayangkan protes kepada beberapa youtuber yang me-review produk mereka dengan menggunakan peralatan yang tidak baik. 

Jagad twitter langsung ramai doooong. Pastinya. Sebab salah seorang youtuber yang dapat surat cinta itu mengunggahnya, dan beberapa youtuber lain yang juga mendapat surat yang sama ikut unggah, dan mahabenar netizen langsung bersatu-padu mengolok-olok. Yang tidak pernah sanggup beli produk mereka juga ikut. Mungkin sekadar membalaskan dendam saja; barang kok tidak bisa ditawar harganya.

Di tengah keriuhan semacam itu, saya coba mengingat-ingat lagi hal-hal seputar review. Salah seorang youtuber/influencer di luar negeri pernah juga dapat masalah. Masih ingat Elle Darby? Youtuber asal Inggris mengajukan proposal untuk bermalam gratis di Hotel Charleveille Lodge di Dublin Irlandia. Dia, dalam proposalnya mengajukan akan membuat review positif sebagai kontra prestasi.

Pemilik hotelnya menolak dooong. Pakai acara menghina pula. Ya... diunggahlah penolakan cum bully-an macam itu. Ramai kita. 

Penginapan mewah di Dublin, Irlandia tersebut merasa dirugikan? Iya, pasti!

Tetapi mereka tidak hilang akal. Darby dikirim tagihan senilai 5.289.000 Euro. Lebih dari 80 miliar kalau dirupiahkan. Ceritanya, pihak hotel merasa Darby mendapat keuntungan dari publikasi persengketaan mereka yang jadi viral. Invoice Charleveille Lodge menyatakan biaya itu ditagihkan untuk “114 artikel di 20 negara dengan jangkauan potensial ke sebanyak 450 juta orang”. Wow... Hmmm... masuk akal. Masuk akal? Heh...

Baca juga: Menjadi Blogger Tidak Akan Buat Seseorang Mendadak Keren (Bagian 11)

Tim legal begitu kira-kira yang diperlukan Eiger. Iya kah? Jangan. Surat tagihan itu hanya lelucon. Jangan ditiru. Tim Legal macam Kak Hendra Eiger juga sebaiknya jangan ditiru. Tidak baik menghina kualitas kamera dari orang-orang yang me-review positif produk Anda, Kak.

Kecuali kalau surat semacam itu Kak Hendra Eiger kirim sebagai motivational message; kalau salah satu sumber pendapatanmu adalah dengan menjadi youtuber, ayo invest, kak. Nanti dipakai buat ng-endorse. Misalkan begitu. 

Apakah memang harus begitu? Maksudnya, youtuber yang mau cari hidup dengan me-review produk, atau youtuber apa saja, harus pakai kamera yang nyaman mata ini dan adem hati ini? Harapannya sih begitu. Paling tidak di mata Kak Hendra. Hendra Eiger. Apa kabar Kak Hendra kalo Kak Alip Ba Ta yang tetap bertahan dengan poster penjumlahan dan alfabet di belakang video permainan gitarnya yang ciamik itu memakai jam tangan Eiger di salah satu videonya? Eh, poster itu sudah hilang ya?

Tetapi, judul suratnya jangan pakai kata keberatan lah. Pakai kata lain. Jadinya "Surat Lain". Halaaah.... Pokoknya begitu. 

Dan taraaaaa... Eiger lalu membuat surat yang lain. Agar kisruh ini segera berhenti. Tetapi tetap saja sih. Lagu-lagunya sama juga: surat pertama memang ditujukan agar youtuber bersangkutan naik kelas. Begitu kira-kira poin kedua di surat kedua Eiger. Ih... Eiger ada rencana bikin PH Audio Video kah, sampe segitunya?

Rasanya tidak enak sekali; sudah berhasil menabung buat beli Eiger, eh Eiger-nya sedang menabung masalah. Bikin Hendra, eh, bikin heran, bukan? 

Eiger yang terkenal di kalangan anak muda, malah memakai cara yang tidak anak muda dalam manajemen konfliknya; meremehkan usaha baik orang lain yang mungkin memang belum terlampau baik hasilnya. Jelas saya keberatan atas dua surat Eiger itu. Sebab harganya memang selalu mahal. Halaaah... (*)

Salam

Armin Bell - Ruteng, Flores

Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020; Plagiarisme?

Ada karya yang membahas buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan karya Puji Pistols di daftar pemenang. Karya yang sebagian besar pernah kami siarkan di bacapetra.co.

Materi Promo Sayembara Kritik Sastra Badan Bahasa 2020

Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020

 

Ruteng, 19 Desember 2020

Bahan bacaan untuk tulisan ini ada di tautan ini: SEPULUH LOMPATAN PUITIK PUJI PISTOLS.

Pekan terakhir bulan September 2020, Grup WhatsApp Redaksi Bacapetra.co agak ramai, ramai yang sedikit lain, sebab rasanya kami seperti sedang bergosip, sesuatu yang tidak sering terjadi di grup yang jika tidak berisi laporan hasil kurasi maka akan berisi siraman rohani (eh?). 

Saat itu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengumumkan nama-nama dan karya pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020. Ada karya yang membahas buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan karya Puji Pistols di daftar pemenang, dan ada yang ingat bahwa bacapetra pernah menyiarkan ulasan yang juga membahas buku itu, dan penulisnya adalah orang yang sama. 

Saya lalu membaca pertanggungjawaban juri dan bertemu penjelasan yang membuat dugaan bahwa "kayaknya ini karya yang sama yang kita su muat e" semakin kuat. Tentu saja hal semacam itu bukan masalah andai tidak ada syarat 'naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme' dalam salah satu syarat sayembara itu. 

Baca juga: Buku Harian atau Diary; Sejarah Pengertian dan Manfaat

Namun, modal dugaan semata bukan alasan yang baik untuk menyalahkan siapa pun. Iya to? Maka kami, Tim Redaksi Bacapetra.co--media literasi yang bergerak dari Ruteng, NTT--memutuskan untuk tanya baek-baek ke panitia melalui alamat surel penyelenggara.

Surat yang dikirim tanggal 30 September 2020 itu sebagai berikut:

Salam, 

Sehubungan dengan diumumkannya Penetapan Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, di mana karya Sucipto atau naskah nomor. 9 berjudul: "Poetika Pelenyapan Diri ala Zhang Daqian dan Lompatan Puitik Puji Pistols", terpilih sebagai Terbaik III (Sumber: Pemetapan Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020) serta menimbang salah satu syarat bahwa: naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme (Bdk.: SAYEMBARA KRITIK SASTRA 2020), maka melalui surat ini kami memohon kesediaan Panitia/Juri untuk memastikan kembali orisinalitas tulisan dimaksud. 

Kami menduga bahwa tulisan tersebut sama/mirip/mengambil tulisan yang sebelumnya telah disiarkan di media kami (www.bacapetra.co) dengan judul: Sepuluh Lompatan Puitik Puji Pistols, yang ditulis oleh penulis dimaksud (dengan nama pena Dwi Cipta).

Surat ini kami kirim agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, termasuk kemungkinan bahwa Panitia/Juri akan dianggap mengingkari syarat lomba yang ditetapkannya sendiri.

Kami memohon maaf manakala dugaan kami ini ternyata tidak terbukti benar.

Begitu. Suratnya begitu, dikirim dari email redaksi dengan nama saya tertera di bagian akhir lengkap dengan jabatannya halaaaah....

Kami menunggu. Tak ada kabar dari penerima surat. Mungkin sedang membalas surat yang lain. Kami pikir begitu sehingga memutuskan untuk meneruskan surat yang sama ke DM IG Badan Bahasa. Juga tak dibalas. Sekretaris redaksi, yang rajin sekali membalas surat-surat yang masuk ke email kami itu, agak sedih. Barangkali merasa diabaikan. Duh... 

Tetapi sesungguhnya kami semua merasa (atau berharap?) bahwa surat kami sudah dibaca dan tidak dibalas sebab apa yang kami duga sama sekali tidak terbukti.

Baca juga: Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Hari ini, 19 Desember 2020, pagi-pagi sekali, grup redaksi berisi foto-foto. Yang saya sertakan di sini. Dan, ya. Tulisan yang jadi salah satu pemenang sayembara itu memang adalah tulisan yang pernah kami siarkan di bacapetra.co bulan Desember 2019. Setengah bagian pertama. Bagian selanjutnya yang "Poetika Melenyapkan Diri...." itu tidak ada di tulisan yang kami siarkan dulu. 

Tetapi setengah bagian pertama itu, Kak. Sudah kami siarkan dan tentu saja disiarkan setelah penulisnya ngobrol dengan redaktur ulasan; ada proses penyuntingan dan lain sebagainya to? Lalu apa kabar persyaratan naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme itu?

Saya menulis ini hanya sebagai curhat saja. Panitia, juri, penulis, dan siapa saja yang terlibat dalam sebuah sayembara, sebaiknya benar-benar hati-hati. Itu saja. Agar tidak lagi ada situasi yang seperti ini. Seperti apa? Ya, seperti ini.

Terkait juri dan pengabaian pada kriteria, bisa baca tautan ini: LOMBA BLOG EXOTIC NTT DAN JURI YANG MENGABAIKAN KRITERIA PANITIA


Salam

Armin Bell - Pemimpin Redaksi Bacapetra.co

*** 

Tambahan:

Oleh karena postingan ini sebelumnya saya unggah di status facebook saya, maka saya sertakan juga interaksi kami dengan penulis naskah tersebut yang saya ambil dari kolom komentar, sebagai berikut:

Penulis: Haloo Pak Armin Bell: saya dulu memang mengirim resensi buku ke baca petra. panjangnya sekitar 5 halaman spasi 1,5 kalau tidak salah. Esai saya yang masuk dalam lomba ini adalah pendalaman dari resensi buku itu. Memang ada bagian yang sama antara resensi buku itu dengan esai sastra yang saya kirim ke lomba. Kesalahan saya adalah tidak menyebutkan sumber tulisan. Namun sependek yang saya pahami, naskah kritik sastra yang saya kirim ke panitia lomba lebih luas cakupannya.

Namun diproses penulisan rujukan, itu memang baru diminta panitia setelah pengumuman. Saya punya keterbatasan waktu untuk melacak sumber-sumber tulisan.

Saya: Siap, Pak. Di bagian awal status saya, sudah disertakan juga tautan ke tulisan Bapak di bacapetra. Di bagian akhir status saya bilang bahwa setengah bagian tulisan yang menang sayembara adalah tulisan yang sudah kami siarkan. Saya kira, jumlah setengah (atau justru lebih?) ini cukup besar untuk sebuah tulisan yang disertakan pada lomba yang salah satu syaratnya adalah belum pernah disiarkan dan bukan plagiarism. Tetapi saya bisa saja keliru atau tidak terlampau memahami aturan dan bagaimana penyelenggara 'membaca' aturan yang mereka buat sendiri. Terima kasih (telah) mengirim tulisan ke bacapetra. Salam.

The Soundtracks of My Life

Kira-kira begini. Beberapa lagu favorit kita ternyata tidak tepat untuk situasi-situasi tertentu. Sebab situasi-situasi itu memerlukan lagu favorit kita yang lain. Sampai di sini, bisa terima? Kalau belum, mari.... Halaaah.

Image dari Pinterest

The Soundtracks of My Life 

 

Oleh: Eusebia 

Every moment has a song. Saya setuju dengan hal ini, karena rasanya banyak momen dalam hidup saya yang sesuai dengan lagu-lagu tertentu. Jadi, saat saya mendengar sebuah lagu, biasanya saya teringat akan memori yang paling berkesan saat saya mendengar lagu itu. 

Banyak memori dan perasaan yang dapat dibangkitkan kembali hanya dengan ingatan akan satu lagu. Memori dan perasaan ini menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Bahkan, saya menamai beberapa folder lagu di komputer dan daftar putar saya di sebuah platform musik daring sesuai dengan suasana lagu-lagu yang ada di dalamnya. Misalnya ‘Broken Heart’ atau ‘Future Looks Good’ (bisa tebak maksudnya to… hehehe). 

Yup! Semua itu demi kemudahan menemukan lagu-lagu yang tepat untuk menemani saya di saat-saat tertentu. Music is a reflection of what I go through and what my feelings sound like

Momen dalam hidup kita semua tak terhitung jumlahnya, namun pasti selalu ada yang menggembirakan, menyedihkan, membuat gamang, membuat galau, atau kombinasi berbagai perasaan lainnya. 

Baca juga: Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Berikut ini adalah pengalaman saya:

Playlist 1: Money Money Money 


Salah satu masa yang paling ditunggu dalam bulan adalah tanggal gajian. Mari akui, melihat jumlah saldo bertambah di akun rekening sungguh menyenangkan hati, bukan? Saat melihat pesan dari sebuah bank tempat saya memiliki rekening, hati saya pun berbunga-bunga, dan yang terlintas dalam benak saya adalah tembang dari Gwen Stefani yang judulnya Rich Girl. Saya membayangkan diri saya berbaring di atas tumpukan uang sambil mendendangkan lagu ini.

Dengan adanya modal tersebut, saya berani berselancar di aplikasi e-commerce via gawai saya yang seperti sedang menyanyikan potongan lagu My Hump-nya Black Eyed Peas: spending all your money on me and spending time on me…. Hih... Dasar e-commerce “racun duniaaa… karena ia butakan semuaaaaa…

Lain halnya apabila saya sedang mengalami defisit anggaran—meminjam istilah canggih agar terlihat cerdas—alias kere. Lagu yang terngiang-ngiang adalah Rainy Days and Mondays dari The Carpenters.

Well, sebenarnya ini adalah lagu patah hati, tapi bagi saya, lagu ini adalah musik latar yang pas saat melihat jumlah saldo tabungan yang terjun bebas karena ada istilah Rainy Days-nya. Rainy Days sendiri adalah istilah kiasan untuk masa-masa sulit dalam keuangan. Ditambah dalam lagu tersebut terdapat kalimat nothing to do but frown. Pas kan? 

Kalo lagi kere biasanya orang suka cemberut. Apakah Anda mengalami hal yang sama? Saya sih begitu. Maaf ya, Karen dan Richard Carpenter. Bukannya saya tidak menghargai kesedihan yang mendalam di setiap kata dalam lagu (yang menyayat hati) ini, tapi sungguh, saat saya memandang informasi mutasi rekening yang tertera di aplikasi mobile banking di ponsel saya, atau saat saya memeriksa dompet dan hanya menemukan beberapa lembar uang dua ribu rupiah, yang saya senandungkan (dalam hati) adalah lagu kalian yang satu ini. 

Playlist 2: Girl Power 


Apakah gaes-gaes-ku di sini pernah mengalami rasanya tidak dianggap? Entah seperti direndahkan atau dianggap tidak mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat kita kuasai? Saya pernah. Saya marah. Tetapi tak berani mengungkapkannya. Jadilah saya melampiaskannya dengan mengunci kamar, bergoyang sendiri sambil turut menyanyikan lagu yang rilis pada awal tahun 2000 dari Madison Avenue yang judulnya Don't Call Me Baby

Ingin rasanya saya menyanyikan lagu itu dengan suara lantang di hadapan orang yang meng-underestimate saya dengan potongan lirik lagunya: behind my smile is my IQ, I must admit this does not sit with the likes of you...but didn't mama ever tell you not to play with fire. Nah! Kena tampar kau! Tak perlu aksi fisik, pakai lagu pun jadi!

Pun ada beberapa lagu (sebenarnya banyak) yang menjadi anggota dalam playlist "Girl Power" saya. Saya sebutkan beberapa ya….

Unwritten dari Natasha Bedingfield, Roar dari Katy Perry, Extraordinary dari Mandy Moore. Tiga lagu tersebut adalah contoh untuk musik latar saat saya membutuhkan asupan energi untuk memaknai kekuatan seorang wanita. Girls-girls-ku yang tangguh, cobalah dengarkan tiga lagu itu.

Baca juga: Naskah Drama Musikal "Ombeng" Babak 1

Playlist 4: Broken Heart


Tak lengkap rasanya kalau saya tidak menyebutkan lagu-lagu yang bertema patah hati. Let me tell you... it's gonna be a long list. Jadi saya rangkum saja (berdasarkan pengalaman pribadi).

Entah kenapa, saat saya merasa sedih—karena patah hati, saya selalu mengingat lagu dari Eric Clapton yang judulnya Blue Eyes Blue. Si Eric ini makan apa sih saat bikin lagu ini? Melancholy at its highest form! Kena banget di hati yang sedang hancur-hancurnya loh Om Eric. Memang banyak lagu lain yang mengiris, membelah, merobek hati, tapi potongan lirik lagu ini selalu berputar di kepala saya pada momen patah hati. Hiks.
 

(Lagu yang bertema kebahagiaan saya lewati. Terlalu banyak. Saya tak ingin para pembaca yang budiman bosan membacanya. Apabila ada waktu, bolehlah nanti kita berbincang tentang ini sambil menengok daftar putar lagu yang membuat saya seperti yang Brian Adams katakan: up on cloud number nine. Iya, saking gembiranya.)

Playlist 5: I Wish I Could


Ada juga lagu yang membuat saya bermimpi dan berniat untuk memiliki atau membuat benda tertentu. Saat saya masih berada di bangku kuliah, saya membeli DVD konser Carole King yang berjudul Welcome To My Living Room

Ada satu lagu yang bahkan sampai sekarang masih terus saya dengar. Judulnya Upon The Roof. Lagu ini membuat saya berniat jika suatu hari nanti sudah memiliki rumah sendiri, saya akan membuat sebuah teras di lantai paling atas rumah yang bisa menjadi pelarian saya setelah seharian lelah beraktivitas sembari menyaksikan pertunjukan gratis, yaitu mengamati langit malam yang bertabur bintang. Menikmati me time tanpa diganggu oleh hiruk-pikuk yang ada di bawah sana. Super sekali!

Baca juga: Bagaimana Ivan Nestorman Melihat "World Music"

Pada akhir cuap-cuap saya ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang besar pada Musik. Tanpanya hidup saya sungguh hampa. Andaikan si Musik ini adalah seorang manusia, saya akan mencari dan mencium tangannya sebagai wujud rasa terima kasih saya, diiringi lagu You Decorated My Life dan Thank You for the Music

Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis. Tetapi mungkin lain kali. Saya mau mendengarkan Overjoyed dari Stevie Wonder dulu. Mari....


Nekang, 15 Agustus 2019, tanggal pertama saya mulai mengetik tulisan sebelum mendapat ‘sentuhan kembali’ pada 25 Januari 2021.

Eusebia-Ranting Kayu

Ps: Punya tulisan personal nan asyik seperti ini? Kirim ke [email protected] em. Tirada honor. Tapi kita bisa sama-sama belajar bercerita. Iya to?

Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Tulisan ini adalah ‘pecahan’ dari tulisan saya sebelumya tentang lagu-lagu yang mengisi berbagai pengalaman hidup saya (tulisan pertama ini akan juga disiarkan di sini, ed). Namun kali ini saya persempit dengan membahas lagu-lagu dari satu penyanyi saja. Dan saya memilih The Carpenters. Mengapa The Carpenters? Mereka kan penyanyi jadul. Karen, si vokalisnya saja sudah meninggal puluhan tahun lalu. Mari, Nyak, Babe, Ncang, Ncing, Asé, Ka’é sekalian, sini duduk berkumpul..Saya jelaskan mengapa..*eh belum boleh ya bikin kerumunan?

The Carpenters | Source: richardandkarencarpenter.com

Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Oleh: Eusebia

Saya sudah akrab dengan lagu-lagu duo ini semenjak masih usia SD (tahun 90-an). Memang, belum banyak lagu-lagu The Carpenters yang saya ketahui saat itu. Wajah kedua kakak-beradik ini pun tak pernah saya ketahui. Maklum, saya mulai mengenal karya-karya mereka melalui VCD karaoke yang klip videonya kalau bukan pemandangan alam ya ciwi-ciwi bule berkacamata hitam yang rambutnya ditiup angin, sedang berjalan dengan gerakan lambat atau merenung di bangku taman atau dermaga.

Saya harap visual tersebut cukup ya..., adik-adikku yang menyebut diri generasi milenial…

Nah, setelah mengenal internet dengan segala kecanggihan yang ditawarkannya, saya pun ‘membalaskan dendam’ untuk menuntaskan rasa penasaran saya akan duo ini; baik tentang lagu-lagunya maupun potretnya. Ah, akhirnya saya tahu seperti apa wajah mereka berdua.

Kembali ke alasan saya memilih The Carpenters sebagai pengisi tema berbagai momen dalam kehidupan saya dalam tulisan ini (ada beberapa penyanyi sebenarnya yang menempati posisi ini tetapi Carpenters tetap no.1). 

Baca juga: Mimpi-Mimpi yang Menepuk Pundak

Pertama, saya sangat menyukai karakter vokal Karen. Mungkin ia bukan penyanyi dengan kemampuan meraih nada tinggi yang luar biasa, tetapi dalam kesederhanaannya bernyanyi saya menemukan bahwa ia sungguh istimewa. Ia bernyanyi dengan indah sekali, tanpa banyak akrobat sebagai penghias aksinya.

Kedua, karena memang lagu-lagu mereka sangat ‘kena’ di hati. Ada yang mengatakan: when you are happy, you enjoy the music, and when you’re sad, you understand the lyrics. Nah, pas banget itu sama saya.

Ketiga, karena Karen ini juga berjasa dalam bidang akademik saya, terutama mengenai ‘pronunciation’ alias pengucapan bahasa Inggris saya. Bagi saya, pronunciation si Karen ini ‘gurih’ sekali (maaf, saya hanya bisa menerangkannya dengan kata tersebut). Setiap kata dalam lagu yang ia dendangkan terdengar ‘manis’ dan ‘sopan’ sekali di telinga saya. Krenyes krenyes begitu. Jadi ketika mendengar lagunya, saya juga berusaha mengikuti caranya menyebutkan kata-kata dalam bahasa Inggris(ya iyalah!). Hasilnya? Menurut guru bahasa Inggris saya sih pronunciation saya bagus. Ini menurut beliau ya... hehehe.. sombong dikit boleh ya… 

Intro tulisan ini kepanjangan ya? Kapan mulai membahas sesuai judul nih? Baiklah, kita ke isi tulisan yang disebutkan di judul ya....

The Carpenters dan Momen Jatuh Cinta


Sebelum jatuh cinta kan pedekate dulu, yakhaan? Nah pas pedekate, ada tuh yang pas lagunya. Judulnya Please Mr. Postman. Hah? Hare gene masih ada yang pake surat-suratan dan nungguin pak pos yang rajin sekali mengantar surat naik sepeda mendatangi semua rumah tanpa memilih miskin dan kaya kring kring pos? Ya... ga gitu juga... 

Pak Pos sekarang sudah digantikan sama aplikasi chat bernama WhatsApp. Surat-suratannya ya lewat bunyi kring si aplikasi. Eh, ada chat yang ditunggu-tunggu dari gebetan yang bikin senyum-senyum sendiri. Membaca obrolan sambil memutar lagu I’ll Be Yours atau Maybe It’s You, tetap sembari tersenyum sama ponsel yang katanya pintar itu. 

Lalu saat ditembak si gebetan lagunya Top Of The World. Namanya orang lagi jatuh cinta, berbunga-bunga, berasa di puncak dunia. Lalu, saat malam datang, wajah si mbak atau mas terbayang terus. Di situlah lagu You’re The one atau Sweet, Sweet Smile. Yah bisa dikatakan saat sedang bahagia begitu, air muka biasanya selalu ceria dan tersenyum. Pokoknya I Can’t Smile Without You, dan tak ingin jauh-jauh dari si pujaan hati. Maunya Close To You terus. Hadeh.... Dasar orang mabuk! Orang yang sedang terbang ke langit, yang entah keberapa tersebut, perlu disuruh mendengar lagu We’ve Only Just Begun; Sayangku.... perjalanan baru saja dimulai, jalan masih panjang.

The Carpenters dan Momen Konflik


Hayo..., siapa yang pernah pacaran tanpa berantem? Saya rasa tidak ada. Konflik, mulai dari yang remeh sampai yang bikin pengen ngacak-ngacak kasur atau lemari pasti ada. Kan konon katanya hubungan yang sehat juga harus ada konfliknya agar kita bisa lebih mengenal satu sama lain eaaaaaaaa. Tapi siapa yang bisa bertahan marah-marahan, diem-dieman

Coba deh dengar lagu For All We Know, Where Do I Go From Here, Rainy Days And Mondays, atau I Won’t Last A Day Without You. Ambil tisu, jongkok di pojokan. Nangis dah tuh sampe mata tinggal segaris. Perasaan baru berapa lama jadian kok bikin kesel. Biarkan Karen dan Richard mengemas perasaan-perasaan itu ke dalam melodi dan lirik yang bikin persediaan air mata berkurang.

The Carpenters dan Momen Perpisahan


Kalau saat berantem persediaan air mata berkurang, pada saat ini air mata rasanya terkuras habis. Mari akui: patah hati itu pasti berat. 

Nah, sebelum berpisah, biasanya, biasanya loh ya, ada masanya di mana hubungan renggang. Di situlah kita berpikir apakah sebuah hubungan layak dipertahankan atau tidak. Lagu Hurting Each Other seperti mewakili perasaan tersebut. Liriknya membuat kita bertanya pada diri sendiri: apakah bisa kita (hah, kita?) berhenti menyakiti satu sama lain? 

Belum cukup galaunya dengan status hubungan yang masih mau dilanjutkan atau tidak? Dengarkan lagu Caught Between Goodbye And I Love You. Dari judulnya sudah ketahuan ya, isinya bakal seperti apa. Setelah lagu ini, biar makin mantap ambyarnya, dengarkan lagu Love Me For What I am. Nah ini! Jleb banget, kena di hati yang lagi perih-perihnya (trus disiram air perasan jeruk; kurang perih apa coba?). 

Fase ini ditutup dengan perpisahan, pokoknya benar-benar berpisah. Akhiri dengan Goodbye To Love. Menangislah sampai puas, asal jangan pernah lupa makan. Hey, kesehatan harus tetap dijaga yakaaan?

The Carpenters dan Momen atau Fase Move On


Move on: melanjutkan hidup tanpa si mbak atau mas yang pernah mengisi hati.

Penting untuk disadari terlebih dahulu bahwa move on bukan berarti mendapatkan pengganti, tetapi lebih ke menerima keadaan. Ikhlas melepas, begitu. Biasanya dalam proses melepas, ada orang-orang yang setia mendampingi dan mendukung setiap usaha untuk bangkit dari keterpurukan. Bisa keluarga atau sahabat. 

Good Friends Are For Keeps merangkum betapa kehadiran orang-orang terdekat dan sahabat dalam masa-masa sulit adalah obat yang sangat manjur dan mampu mengembalikan kepercayaan diri serta kebahagiaan yang hilang. Setuju? Dan kalau saatnya tiba, dan kita siap, orang yang kita nantikan pasti akan datang(dengan cara yang tidak pernah kita duga). Mendoakan hal tersebut juga adalah hal yang baik. 

Seandainya sudah siap, biarkanlah masa lalu menjadi masa lalu yang membuat kita makin dewasa, dan anggaplah kita sedang membuka sebuah buku yang baru dan masih kosong untuk kita tuliskan kisah yang baru. Seperti yang dikatakan Karen dan Richard dalam lagu Make Believe It’s Your First Time; lepaskan kesedihan yang telah berlalu--then is then, now is now.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik...

Hmmm.... Tidak cukup rasanya hanya menyebutkan lagu-lagu di atas. Rasanya masih banyak karya-karya The Carpenters yang harus saya ‘bedah’. Namun menyelesaikan tulisan ini saja sudah membuat saya sedikit pusing dan bingung karena harus mengingat-ingat kembali lagu mana untuk momen yang mana (ya karena saking banyaknya lagu yang harus disortir tentunya).

Akhirnya, untuk menutup ocehan tak jelas saya ini, saya hanya ingin bilang..bilang apa e? Tuh kan bingung lagi. Baik, dengarkan lagu Look To Your Dreams saja. Begitu saja.


Nekang, 13 Juni 2020

Eusebia-Ranting Kayu

Ps: Punya tulisan personal nan asyik seperti ini? Kirim ke [email protected] em. Tirada honor. Tapi kita bisa sama-sama belajar bercerita. Iya to?

Dongeng Brothers Grimm - Hansel dan Gretel

Kali ini kita akan menikmati Hansel dan Gretel. Dongeng yang disiarkan di sini sedapat mungkin adalah penceritaan ulang, bukan pengalihbahasaan, dengan memertimbangkan kenyamanan membaca. Alur asli cerita tetap dipertahankan. 
Tentang dongen Brothers Grimm

Dongeng Brothers Grimm - Hansel dan Gretel


Pada zaman dahulu kala, hiduplah satu keluarga yang bahagia. Terdiri dari Ayah, Ibu, dan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Kedua anak itu bernama Hansel dan Gretel. 

Namun sayang, kebahagiaan keluarga itu tidak berlangsung selamanya. Suatu ketika Ibu mereka meninggal dunia karena sakit. Sejak saat itu Hansel dan Gretel selalu bersedih. Ayah mereka mencoba menghibur dua anaknya itu, namun tidak berhasil. Bahkan ketika Ayah mengambil istri baru dengan harapan akan mampu menceriakan hari-hari mereka, semua hal malah menjadi semakin buruk.

Ibu baru mereka sangat jahat. Dari pagi hingga petang Hansel dan Gretel disuruh terus bekerja. Mereka hanya diberi makan satu kali. Hidup kedua anak itu menjadi semakin menderita.

Ketika musim kemarau tiba, dan keluarga mereka tidak mempunyai pasokan makanan, Ibu baru mengusulkan kepada Ayah agar Hansel dan Gretel dibawa ke hutan. Tinggalkan mereka di sana, katanya pada Ayah. Ayah sangat terkejut mendengarnya.

"Kau ingin anak-anak mati?" Tanya Ayah.
"Kau ini memang bodoh. Kalau kita tidak melakukannya, kita semua yang akan mati!"
Ayah akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena istrinya terus mendesaknya.

Dari balik kamar, Hansel dan Gretel mendengarkan percakapan itu. Mereka sangat ketakutan, dan Gretel pun menangis. "Apa kita akan mati di hutan?" Tanya Gretel. "Aku punya ide," kata Hansel. Dia lalu keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih. Batu-batu itu akan bersinar bila terkena cahaya bulan.

Keesokan paginya Ibu membangunkan Hansel dan Gretel, memberitahu bahwa mereka sekeluarga akan pergi ke hutan. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada dua anak itu. Sambil berjalan Hansel membuang batu kecil putih yang telah dikumpulkannya. Dibuangnya batu-batu itu satu per satu. Karena Hansel berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayahnya menjadi curiga.

"Sedang apa, Hans?" Tanya Ayah.
"Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hans berbohong.


Tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi menjauh dengan alasan akan menebang kayu. Saat itulah Hansel dan Gretel ditinggalkan. Mereka menjadi sedih. Tetapi tak lama.

Di tengah hutan, Hans menemukan seekor kupu-kupu dan mengejarnya dengan ceria. Gretel asyik membuat kalung dari bunga. Mereka semakin gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru. Kelinci, bajing, dan burung-burung kecil. Tanpa terasa waktu berlalu. Matahari pun mulai tenggelam dan hari menjadi gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir. Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hans berkata menenangkan. “Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat," katanya pada adik perempuannya itu.

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon, cahaya bulan menerobos menyinari bumi. Hans segera mengajak Gretel pulang ke rumah, memegang tangannya dan menyusuri jalan tanpa ragu.
"Bagaimana Kakak bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap begini?” Gretel bertanya heran.
“Oh. Batu-batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang. Mereka bersinar karena cahaya bulan. Itu akan menolong kita pulang ke rumah.”

Mereka tiba di rumah dengan selamat. Sang Ibu heran melihatnya dan segera mencari tahu bagaimana dua anak kecil dapat pulang dengan selamat dari hutan yang jauh. Dia akhirnya tahu ketika membuka pintu dan melihat batu-batu kecil putih yang bersinar. Aku tahu cara kalian. Besok kita akan pergi lagi, tetapi kalian tidak bisa mengandalkan batu-batu kecil putih itu lagi, kata Ibu dalam hati. Hansel dan Gretel disuruhnya masuk ke kamar mereka, menguncinya dari luar, lalu tidur.


Keesokan harinya, rencana meninggalkan dua anak itu di hutan kembali dilakukan. Mereka melalui jalan yang lain. Hansel panik karena tidak sempat mengumpulkan batu-batu kecil putih. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti bekal mereka, dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.
Sampailah mereka di tengah hutan dan Ayah dan Ibu meninggalkan mereka seperti sebelumnya. Hansel dan Gretel bermain-main seperti kemarin sampai malam tiba. 

Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah mereka mencari potongan-potongan roti sebagai petunjuk, namun tak kunjung menemukannya. Hansel tidak pernah tahu bahwa jejak yang dibuatnya dengan susah payah, telah dimakan oleh burung-burung kecil.
"Kakak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu?" Gretel berteriak cemas. "Kita akan mati. Aku takut," teriaknya lagi dan mulai menangis.
"Jangan khawatir, Dik. Ibu yang ada di surga pasti menolong kita," Hansel menghibur adiknya sambil berusaha berjalan menembus malam.

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur di bawah pohon. Ketika cahaya matahari mulai bersinar, Hansel dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung. Tiba-tiba mereka mencium aroma masakan yang lezat.

Mereka segera berlari ke arah datangnya aroma lezat itu. Seperti mimpi, mereka melihat rumah kue. Atapnya terbuat dari tart, pintunya dari cokelat, dan dindingnya dari biskuit. Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. 

Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar. “Siapa yang berani memakan rumah kue kesayanganku?” Sesaat kemudian muncullah Nenek Sihir Tua. Wajahnya seram, matanya memancarkan sinar berwarna merah. Hansel dan Gretel segera ditangkap. "Anak-anak yang lezat. Sebagai hukuman karena telah memakan rumah kue kesukaanku, aku akan memakan kalian," katanya sambil tertawa. Tawa yang menyeramkan.

Dengan kasar, Nenek Sihir Tua itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara. Setelah itu ia berkata kepada Gretel, “Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya. Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak."

Nenek Sihir itu sudah tua sekali. Matanya mulai rabun. Pada saat itu Hans dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah. "Tabahlah Gretel. Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita."

Beberapa waktu kemudian, Nenek Sihir Tua mendekati penjara Hans. Dia ingin melihat apakah tubuh Hans sudah menjadi gemuk. “Aku lapar. Sudah seberapa gemuk tubuhmu? Ayo ulurkan tanganmu," kata Nenek Sihir Tua itu di depan pintu penjara Hansel.


Hansel anak yang pintar. Dia tidak kehilangan akal. Ia tahu mata Nenek Sihir Tua itu sudah rabun. Segera diulurkannya tulang sisa makanan kepada Nenek yang rabun itu. Betapa kecewanya Nenek karena Hans tidak bertambah gemuk.

Karena kecewa, ia lalu bermaksud untuk memakan Gretel. Disuruhnya Gretel membakar roti. Ketika Gretel menyalakan api di tungku, Nenek Sihir Tua itu mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel dapat menebak maksud jahat itu. Dengan cepat ia berbalik.
"Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini,” katanya sambil meminta Nenek Sihir Tua itu membantunya. Nenek tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel. Ia pun membuka tutup tungku. Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong Nenek Sihir Tua itu ke dalam tungku.

Nenek berteriak kesakitan. "Tolong. Ini panas sekali," jeritnya. Gretel tidak peduli. Dengan cepat ia menutup pintu tungku. Setelah memastikan bahwa pintu tungku tak bisa dibuka dari dalam, Gretel berlari ke arah penjara untuk menolong Hans. “Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Mereka berpelukan dan berencana segera pergi dari rumah Nenek Sihir Tua itu.

Ketika akan pergi, tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Mereka membawanya serta.
Mereka bergegas tetapi segera berhenti ketika sadar bahwa jalan yang mereka lalu melintas sungai yang besar. Tak ada jembatan, dan sungai sedang banjir. Mereka menjadi bingung. Saat itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul seekor angsa cantik. "Naiklah ke punggungku," ucap angsa itu ramah. Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberangi sungai.

Tidak hanya sampai di situ, angsa menemani mereka dalam perjalanan pulang. Dari langit dia menunjukkan jalan pulang pada Hansel dan Gretel hingga tiba di batas hutan. Tanpa mereka ketahui, angsa itu sesungguhnya adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang.

Pada saat itu, muncullah Ayah mereka yang sangat cemas. “Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi." Lalu diceritakannya bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal dunia. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

Selesai

Disclaimer: Dongeng Hansel dan Gretel yang saja Anda baca adalah hasil tulis ulang berdasarkan sejumlah tulisan dan kisah lisan yang telah didengar dan cukup banyak versi. Bukan terjemahan atau alih bahasa. Pernah didongengkan di LG Corner Ruteng pada kegiatan Sore Cerita - Dongeng untuk Anak.

* * *

Beberapa Cerita di Balik Dongeng Brothers Grimm - Hansel dan Gretel


Hansel dan Gretel adalah salah satu dongeng paling terkenal di dunia. Dongeng ini ditulis oleh Brothers Grimm (Jacob dan Wilhel Grimm) dua penulis kenamaan Jerman di abad ke-19.

Dongeng Hansel dan Gratel ini juga dikenal dengan beberapa judul lain, seperti: Hansel and Grettel, Hansel and Grethel, dan Little Brother and Little Sister. Secara keseluruhan, dongeng ini berkisah tentang dua bersaudara yang diculik oleh seorang kanibal yang hidup di tengah hutan.

Linda Raedisch, penulis The Old Magic of Christmas: Yuletide Traditions for the Darkest Days of the Year (2013) dalam analisisnya menulis kemungkinan tahun asal dongeng dan lingkungan sosial saat ini. Menurut Raedisch, Hansel dan Gratel sangat mungkin berasal dari abad pertengahan pada era the great famine (kelaparan besar).

Pada masa yang berlangsung antara 1315 – 1321, derita kelaparan membuat orang-orang putus asa dan terpaksa meninggalkan anak-anak untuk menjaga diri mereka sendiri. Ada yang bahkan terpaksa melakukan kanibalisme.

Dongeng karya Brothers Grimm ini telah diadaptasi ke berbagai medium, termasuk sebuah opera karya Engelbert Humperdinck pada tahun 1893. Cerita-cerita yang dihasilkan Grimm Bersaudara ini banyak dianggap sebagai kisah-kisah yang tidak ditujukan untuk dongeng anak. Beberapa pemerhati mengemukakan pandangan bahwa kisah-kisah yang ditulis Brothers Grimm pada versi aslinya adalah cerita-cerita yang kejam.

Cerita-cerita Jacob dan Wilhelm Grimm yang dikenal dewasa ini telah mengalam perubahan serius, baik pada ending maupun pada bagian-bagian kejam yang lalu dihaluskan agar dapat menjadi bacaan keluarga. (*dari berbagai sumber)

Mendidik Anak Menjadi Juara atau Menjadi Baik?

Setiap orang tua mestilah berharap agar anak-anak mereka berprestasi cemerlang. Masalahnya adalah, kita akan mendidi mereka menjadi juara atau menjadi baik?




Mendidik Anak Menjadi Juara atau Menjadi Baik?


Ruteng, 12 Agustus 2016

Sembari menikmati makan malam, kami ngobrol. Berdua saja. Rana dan Bapa. Bapa itu saya.


Lino, anak kami yang pertama, sudah tidur. Mama Celestin sedang ke luar kota. 
Saya lalu ditagih, bercerita tentang masa kecil.

Rana, sebagaimana anak-anak yang tak sering pergi ke hutan, selalu terkagum-kagum dengan kisah-kisah kampung; mencari kayu bakar, menanak nasi di tungku, berlari-lari di padang ilalang, atau mencuri gula merah yang disembunyikan Oma Yuli Rego. 

Matanya berbinar mendengar setiap bagian cerita dan tertawa pada babak Armin kecil mendapat sedikit sial karena lumayan nakal.

Malam ini saya ubah sudut pandangnya. Bahwa selain kegemaran mencuri gula merah, Ayahnya ini punya prestasi juga di masa kecil. Maka saya bilang: "Waktu SD dulu Bapa selalu juara." Rana tersenyum. Nah, kau lihat Ayahmu ini pernah keren, kan? Pikir saya dalam hati dengan sedikit bangga setelah menduga bahwa senyum perempuan kecil itu adalah tanda kagum. Tetapi meleset.

Setelah selesai dengan senyumannya, Rana bilang: "Bapa tidak kasihan dengan Bapa punya teman-teman?" Saya jawab tidak, dan tanya kenapa harus kasihan?

Rana menjawab, "Harusnya sesekali Bapa pura-pura tidak tahu, supaya Bapa punya teman yang juara. Biar mereka juga bisa senang."

Agak panjang obrolan kami setelahnya. Juga berisi bagian ketika saya berusaha menjelaskan bahwa juara kelas itu harus diperjuangkan semua pelajar, tidak harus dibagi-bagi seperti dia dan Mamanya yang kadang membawa sepiring nasi untuk seorang dengan gangguan jiwa yang biasa tidur malam di emperan toko dekat rumah kami.

Usaha yang sia-sia. Rana tetap tidak setuju. Mungkin kalau dia nanti SD, dia akan mengerti ketika saya menjelaskannya lagi. Otak diurus kemudian barangkali. Setelah hati.

Setelah semua urusan cerita tentang sang Ayah juara itu, saya berjuang memahami alur percakapan kami. 
Kira-kira begini:
Semua anak berhak bahagia. Kalau menjadi juara adalah kesempatan berbahagia lebih sekali dalam setahun, semua anak berhak mendapatkannya. Tidak boleh ada monopoli juara.

Begitu? Mungkin begitu. Kita bicarakan itu nanti.

Saya lalu ingat bahwa saya sering bilang: ketika dunia telah penuh orang pintar (atau merasa mereka pintar), anak-anak sebaiknya disiapkan menjadi orang baik. (*)

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Blog itu terpaksa ditutup sebab pengelolaannya tidak berjalan sesuai rencana dan kini sebagian besar materinya dipindahkan ke ranalino.id.