Lomba Blog Exotic NTT dan Juri yang Mengabaikan Kriteria Panitia

Tulisan ini dibuat dalam keadaan setengah sadar. Saya berangkat tidur terlampau sedu dan terbangun jam sebelas malam karena lapar. Periksa facebook, notifikasi banyak sekali. Tentang lomba blog Exotic NTT yang 'gagal' itu.
lomba blog exotic ntt dan juri yang mengabaikan kriteria panitia
Nihi | Foto: Armin Bell

Lomba Blog Exotic NTT dan Keputusan Juri yang Mengabaikan Kriteria Panitia


Sebelum mengunggah tulisan ini ke ranalino.id ini, yang pertama saya lakukan adalah menghapus beberapa tagar yang saya tambahkan pada tulisan yang saya ikutkan pada lomba blog yang sedang saya bahas ini. Tulisan itu ada di sini. Ada dua alasan saya menghapus tagar itu.

Pertama, tagar itu ditambahkan ketika saya berniat mengirim tulisan lama tersebut ke panitia lomba. Salah satu persyaratan lomba adalah menyertakan tagar-tagar dimaksud di akhir tulisan. Artinya, agar tulisan tersebut lolos persyaratan dasar, saya harus menyertakannya. Saya menghapusnya (lagi) sebagai pernyataan bahwa tulisan itu saya tarik dari lomba tersebut.

Kedua, setelah dipikir-pikir, tagar sebenarnya tidak 'terlalu berarti' untuk blog. Tagar baru bermanfaat di media sosial seperti facebook, twitter, IG, dan lain-lain; digunakan sebagai (sebut saja) tautan untuk memeriksa percakapan pada topik yang ditagarkan. Tentang tagar dan sejarahnya, bisa dibaca di sini.

Juri Mengabaikan Kriteria


Kata 'mengabaikan' mungkin kurang tepat. Saya hanya tidak menemukan kata yang lebih tepat dan lebih nyaman digunakan. Maksud saya, ketika pengumuman para juara lomba blog itu disiarkan, dua pemenang pertama pada lomba blog itu justru mereka yang tulisannya tidak memenuhi syarat 'minimal kata' dan syarat 'penyertaan tagar' pada share yang diumumkan penyelenggara.

Rusni Tage melakukan penelusuran dan menemukan hasil bahwa blog post yang meraih juara pertama 'hanya' berisi 520 kata dari 1.000 kata yang disyaratkan. Yang berhasil meraih juara dua hanya berisi 629 kata.

Bagaimana dengan pemenang ketiga? Hmmm... saya tidak tega membahasnya di sini. Benar kata Rusni, tulisan itu memang tidak layak dipakai sebagai media promosi pariwisata. Tulisan itu (mengutip Rusni) dibuka dengan ALAY DAN TIDAK JELAS. Saya sendiri melihatnya sebagai tulisan yang tidak akan mampu bersaing di mesin pencari (search engine).

Kenapa mesin pencari dibawa-bawa? KARENA INI LOMBA BLOG, GUYS! Dan tujuannya adalah promosi pariwisata. Memenangkan kata kunci di mesin pencari itu hukumnya wajib bagi seorang blogger. Tulisan seburuk itu, dengan tanda baca titik [.] yang bertebaran secara berlebihan di akhir kalimat adalah salah satu sinyal bahwa blog itu akan diabaikan search engine. Kecuali kalau blogernya adalah jagoan search console dan lain sebagainya.

Tetapi yang ini tampaknya terlampau teknis. Juri juga mungkin tidak mau repot dengan urusan-urusan begini. "Mesin pencari? Makhluk apa itu?" Barangkali mereka sedang berpikir demikian. Tetapi untuk yang ingin serius ngeblog, bisa baca beberapa bahasan tentang dasar-dasarnya di seri Menjadi Blogger di ranalino.id ini.

Tentang juri yang tidak mau repot dengan tata penulisan yang baik dan benar, saya juga tidak berniat mengutak-atiknya. Ini mungkin soal kepengrajinan. Yang mau tahu tentang kepengrajinan ini, silakan baca pertanggungjawaban juri lomba novel DKJ tahun 2018. Hal ini dibahas dengan bagus sekali.
Soal saya adalah bagaimana mungkin naskah yang tidak memenuhi standar minimal kata itu ikut dinilai? Jadi pemenang pula. Juara satu dan dua pula. Memenangkan uang berjuta-juta. Uang yang disiapkan negara untuk sesuatu yang diperkirakan akan menambah devisa. Astaga.
Saya tentu saja tidak bermasalah dengan blog para pemenang. Bukan salah mereka kalau mereka akhirnya menang. Mereka hanya orang-orang yang seperti kami, mengirim tulisan dan siap menerima hasil, sepanjang hasil itu tidak mengangkangi syarat yang telah disiarkan penyelenggara. Saya bahkan mengenal beberapa pemenang secara pribadi. Mereka memang senang menulis. Ada beberapa cerpen dan tulisan lain mereka yang pernah saya baca.

Artinya, tulisan ini dibuat tidak dalam 'kapasitas' mengolok-olok karya para pemenang. Sama sekali tidak. Tulisan ini semata-mata ingin mengingatkan para juri bahwa apa yang mereka buat itu salah. Jahat. Memenangkan blog yang tidak berhasil melampaui standar kata minimal yang disyaratkan itu adalah kebodohan besar untuk sebuah lomba yang total hadiahnya puluhan juta rupiah.

Maka hasil itu dikritik. Melalui akun facebooknya, Rusni Tage memaparkan hasil penelurusannya. Maria Pankratia ikut membaginya dalam bentuk 'status baru'. Daaaaan... mereka dilaporkan. Facebook, dengan kebijakannya yang tidak bisa digugat itu, menghapus status dua teman saya itu dengan alasan: Melanggar Standar Komunitas Kami.

FYI, tim facebook akan melakukan hal seperti itu jika unggahan kita DILAPORKAN oleh orang lain. Sampai di sini, paham? Dua status yang mengkritisi hasil penilaian lomba blog itu telah DILAPORKAN oleh pengguna facebook yang lain. Siapa yang tega melaporkan status-status mencerahkan seperti itu? Saya menduga, yang melakukannya adalah mereka yang tidak, dan menolak dicerahkan.

Guys, tayang yang harus dilaporkan itu adalah yang benar-benar tidak pantas. Child abuse, hate speech, hoax, dan sejenisnya. Kritik itu wajar. Untuk apa dilaporkan? Sakit kalian ini!

Baca juga: Kritik Tak Pernah Sepedas Kripik

Please, Dude! Kalian tidak perlu secemas itu menghadapi kritik. Kalau kalian begitu, sekarang kami yang harus cemas. Ketika sebagian besar anak muda sedang berjuang dengan caranya masing-masing meningkatkan kecerdasan literasi di NTT tercinta ini, kalian malah dengan buruk memertontonkan tembok pertahanan diri dengan cara yang memalukan. Kenapa tidak menulis naskah pertanggungjawaban saja? Itu akan membantu para peserta lomba untuk paham cerita di balik pengumuman itu.

Saya Peserta Lomba


Ya. Saya ikut lomba blog itu. Mengikutkan tulisan lama. Mengapa saya ikut? Karena saya melihat bahwa ini adalah perhelatan yang baik. Sebagai orang yang sudah lama menekuni dunia blogging, saya pikir saya harus ambil bagian dalam apa yang saya sebut sebagai Pesta bagi Para Bloger di NTT.

Tetapi saya sedang tidak punya bahan tulisan baru. Makanya saya kirim tulisan lama. Kepada Maria yang saat itu sudah mengirim tulisannya saya bilang, "Kalau kau menang, kau akan puas karena bersaing dengan banyak bloger bagus." Saat itu saya sudah melihat tulisan Rusni Tage yang disertakan pada lomba itu. Tulisan yang bagus. Juga blog post yang di-share Eka Putra Nggalu.

Pokoknya begitu. Rata-rata yang sudah saya baca blognya adalah mereka yang menulis dengan baik (teknik penulisan, kepatuhan EYD, kemampuan narasi) dan memenuhi persyaratan minimal kata. Saya bahkan harus bekerja keras 'menambah bahan' agar tulisan saya lolos syarat dasar.

Tetapi saya tentu saja tidak menang. Saya 'hanya' menulis tentang peluang para investor melibatkan (tumbuh bersama) masyarakat lokal dalam pengelolaan destinasi wisata di NTT. Seperti apa yang dilakukan oleh Nihi Sumba Island. Ada kritik-kritiknya begitu. Tulisan seperti itu umumnya jarang menang. Apalagi kalau tujuan penyelenggara adalah promosi destinasi wisata baru.

Maka ketika mengirimnya, kepada Maria yang sedang jadi anakkos di rumah kami, saya bilang: "Kau bisa menang, Maria. Bersaing dengan Rusni dan Eka." Dalam hati saya berharap dia bisa menang supaya bisa dapat uang banyak dan belikan saya sebotol minuman mahal. Kemenangan besar membutuhkan perayaan besar apalagi jika diraih dengan benar.

Juri Segala Hal


Saya menduga, para juri menilai blog-blog ini dari foto-foto yang disertakan dalam tulisan. Ini tentu saja agak berbeda dengan apa yang saya pahami sebagai kekuatan utama blog. Sejauh yang saya tahu, blog pada umumnya berisi kata-kata. Kekuatannya adalah pada narasi. Teks. Kalimat-kalimat.

Karena jika yang dilihat pertama kali adalah foto-foto, bukankah Dinas Pariwisata NTT selaku penyelenggara lomba juga menggelar lomba foto pariwisata pada waktu yang sama? Maksud saya, jika juri memang lebih jago melihat foto dan tidak punya kemampuan menilai tulisan, seharusnya mereka menjadi juri lomba foto.

Tetapi barangkali mereka juga menjuri lomba foto. Toh, selain lomba blog, tiga juri tersebut adalah juga penilai di lomba vlog. Ya. Tiga juri yang sama. Telah 'berhasil' mengumumkan pemenang untuk dua lomba yang berbeda. Blog dan vlog. Bagaimana mereka bisa menjaga kualitas penilaiannya pada dua tipe lomba yang sama sekali berbeda? Hanya mereka dan panitia yang tahu.

Epilog


Sekali lagi, tulisan ini tidak sedang bermaksud mengolok-olok karya pemenang. Mereka telah mengirim materi lomba, dinilai, dan menang. Yang menilai adalah para juri, dan yang mengumumkannya adalah panitia/penyelenggara lomba. Tetapi mereka sebaiknya bersedih karena telah menang padahal tulisan mereka tidak memenuhi syarat-syarat dasar.

Para peserta lomba yang lain seharusnya menjadikan situasi ini sebagai diskusi serius. Situasi ini maksudnya: 1) pemenang yang tidak memenuhi syarat, 2) panitia/juri yang antikritik sehingga merasa terganggu dengan kritik di facebook dan meminta bantuan facebook menurunkan status Rusni dan Maria. Harus didiskusikan atau kita membiarkan kebodohan serupa ini berlanjut.

Saya bahkan tidak berniat mengutak-atik soal EYD dan PUEBI dalam ulasan ini. Rasanya percuma. Untuk mendebat karya yang menang berdasarkan kepantasan bahasa Indonesia, kita harus telah 'bersih' dari syarat utama. Itu level yang berbeda. Bagaimana kita bisa naik level kalau di level satu saja kita sudah game over? Kalau yang menang adalah blogger seperti Maria, Rusni, Eka, dan beberapa peserta lain, catatan saya pasti akan ada di level itu.

Semoga Pak Gubernur berkenan membaca tulisan ini dan melihat ulang penggunaan uang negara pada lomba yang hasilnya menyedihkan ini. Untuk yang antikritik, pesannya cuma satu: Berhenti! Dan saya harus segera tidur. Masih setengah sadar. Begitulah blogger. Menulis di blog kapan saja ide itu datang. Kalau buruk, siap dikritik, besok disunting lagi.

Oh, iya. Saya heran. Bagaimana mungkin penyelenggara abai terhadap kriteria yang telah mereka tetapkan? Idealnya, naskah yang masuk ke juri adalah naskah yang sudah lolos kriteria. Karena jika tidak, kita harus berani mengakui bahwa lombablog_exoticntt ini gagal.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Cerpen Lee Risar - Cerita di Rumah Makan Singgalang Niki

Cerita di Rumah Makan Singgalang Niki adalah cerpen pertama sekaligus tulisan pertama Lee Risar di ranalino.id. Selamat menikmati.
cerpen lee risar cerita di rumah makan singgalang niki
Lee Risar

Cerita di Rumah Makan Singgalang Niki-Niki

: kudedikasikan untuk Elin Saka

Oleh: Lee Risar
“Putus Cinta Itu Biasa Tetapi Putus Rem Mati Kita”
Aku tersenyum lebar pada sebuah tulisan kecil dengan warna mencolok pada pintu mobil. Pernyataan tersebut seolah menjadi ucapan selamat datang padaku. Aku memang sedikit tertegun dalam senyum saat hendak memasuki pintu mobil Paris Indah yang siap membawaku dari Kupang menuju Atambua.

Beberapa penumpang lain hanya menatapku dengan wajah datar. Namun ada satu yang duduk pas di belakang pintu masuk, menyembulkan senyuman ramah. Mungkin dia mengerti kalau tulisan itu membuatku tersenyum.

Pi Atambua ko, Kaka?” Ia bertanya dengan senyum yang belum luntur dari wajahnya.
Ho...,” jawabku sambil tersenyum.

Kami berpapasan dan saling menyapa lalu aku maju menempati tempat duduk yang letaknya pas di belakang sopir. Mobil meluncur menuju Atambua diiringi lagu-lagu nostalgia dan beberapa lagu baru yang lagi tenarnya. Ada beberapa lagu barat namun rata-rata lagu-lagu lama.

Rumah Makan Singgalang Niki-Niki. Masih seperti yang dulu. Memang ada beberapa pelayan baru. Yang sudah lama dua orang. Pemuda hitam manis dari Oinlasi dan pemudi bermata oval itu berasal dari Besikama. Aku kenal betul mereka, karena memang selain mereka banyak kisah yang aku tulis di rumah makan ini.

Sesekali menguping percakapan-percakapan para konjak dan sopir mulai dari hal yang konyol sampai yang kotor, lalu kutuangkan dalam catatan kecilku. Catatan ini yang lebih banyak menemaniku dari buku-buku lain. Kadang aku tertawa sendiri ketika mengunjungi halaman-halaman lama yang lucu atau kadang aku bersedih ketika catatan itu adalah goresan-goresan pilu yang selalu memintaku untuk merasakan betapa perihnya sebuah perjalanan hidup.

Aku memesan nasi ikan. Sudah lama sekali aku tidak pernah menyantapnya. Aku makan dengan sangat lahap. Sesekali membaca pesan masuk pada aplikasi WhatsApp dari beberapa teman yang ingin menanyakan keadaanku. Pada meja kiri di sudut ruangan, aku melihat seorang gadis sawo matang berambut ikal. Ia sedang makan sendiri sambil menghadap dinding.

Menurutku, bahasa tubuhnya sedang mengirim informasi sedang ingin sendiri, atau ia sedang tak peduli dengan orang-orang sekitar, atau mungkin ia sedang galau. Aku pandangi dia dengan teliti dari cara ia makan dan membuang tatapan ke depan. Seolah aku sedang mencerminkan diri. Ah… memang aku sedang melihat diriku pada dirinya.

Baca juga: Yang Bangkit di Hari Keempat – Cerpen di Pos Bali

Beberapa tahun lalu aku seperti gadis itu. Waktu itu aku sedang mengajar pelajaran Bahasa Inggris di salah satu SMA swasta di Atambua. Menjadi guru dengan gaji pas-pasan. Itu pun hampir tidak mencukupi semua kebutuhan hidup. Saat kuliah dulu memang akal dipenuhi idealisme-idealisme yang rimbun dengan keinginan-keinginan yang tidak sesuai kenyataan saat ini. Hidup ini keras. Seperti apa yang dikatakan bapa dan mama namun aku setengah percaya, karena toh hampir semua kebutuhan kuliah dipenuhi walau kadang tersendat.

Kerasnya hidup membuatku lebih giat berusaha. Aku mendengar ada jalur beasiswa S2 yang ditawarkan pemerintah luar negeri bagi yang berminat. Beasiswa yang ditawarkan lebih banyak untuk orang-orang Indonesia Tengah dan Timur. Lamaran aku kirimkan lengkap dengan berbagai data sesuai permintaan lembaga penyelenggara yang menyeleksi kandidat-kandidat yang masuk.

Beberapa hari sebelum ujian aku sudah tiba di salah satu penginapan di Kota Kupang. Datang dari Atambua. Memang saat itu aku tidak memberitahu siapa pun untuk mengambil jalur beasiswa ini. Aku begitu percaya diri bahwa aku pasti lulus apalagi aku sendiri guru Bahasa Inggris. Dugaanku ternyata jauh panggang dari api. Apakah aku patah arang? Ah tidak mungkin. Bahkan aku lebih berusaha meningkatkan kualitas Bahasa Inggrisku.

Mama kadang berpikir aku sudah mulai gila karena stres. Kesempatan kedua masih ada dan aku melayangkan lamaran ke Kupang. Tuhan semoga aku lulus kali ini. Demikian doaku yang terus berulang saat sebelum atau setelah belajar. Aku ke Kupang lagi untuk tes dan hasilnya ternyata gagal juga. Sampai pada tes ketiga aku menerima kegagalan yang sama. Aku semakin malas berdoa, menjadi marah dan putus asa, namun mama seperti air yang menyejukkan di tengah panasnya gurun di dalam diriku.

Waktu itu aku memang mulai stres namun tetap berusaha menetralkan diri dengan lebih banyak waktu kuhabiskan menonton filem Korea sepulang mengajar. Aku juga membaca buku-buku cerita anak berbahasa Inggris terutama bukunya C. S. Lewis dan beberapa buku yang berhubungan dengan IELTS. International English Language Testing System. Di sisi lain aku tahu Bahasa Inggrisku tidak akan berkembang karena di dalam rumah tidak ada yang mampu berkomunikasi dalam bahasa yang kurang ajar itu.

Sepertinya ibu memahami kegalauanku namun ia hanya berlama-lama mendaraskan doa dengan Rosario di tangannya yang mulai rapuh.

Suatu kesempatan entah ilham apa yang tumbuh di dalam kepalaku saat sedang berkaca di kamar. Kuperhatikan mataku yang bulat dengan alis yang tipis, hidung yang tidak terlalu mancung dengan pipi yang sedikit kurus. Kuperhatikan rambut lalu perlahan ke tubuhku, jari-jariku yang runcing dan bekas kapur tulis masih bersangkar di kukuku.

“Etta!” Aku memanggil namaku sendiri di hadapan cermin.
“Kamu pasti bisa lulus dan mendapatkan beasiswa itu. Semua orang di dalam rumah memang tidak bisa berbicara Bahasa Inggris namun kamu dapat berbicara dengan bayanganmu sendiri. Bertanya jawablah padanya.Ia dihadapanmu ini adalah dirimu sendiri. Untuk menjadi pemenang atau pecundang itu tergantung dirimu, Etta.”

“Ingatkah kamu pada tulisan yang kau kutip dari bukunya Charlotte Eriksson itu. Masih ada dalam catatanmu kan? So many people will tell you ”no”, and you need to find something you believe in so hard that you just smile and tell them ”watch me”. Learn to take rejection as motivation to prove people wrong. Be unstoppable. Refuse to give up, no matter what. It’s the best skill you can ever learn. Jadi sekarang lakukan itu Etta! Lakukan!”

Baca juga: Cerpen Elvan de Porres – Cerita tentang Sepeda Bapak

Saat itu aku memang sempat menjadi seperti motor kehabisan bensin. Bagaimana aku gagal tiga kali berturut-turut, tentu ada kekecewaan. Namun setelah percakapan aku dan diriku dalam cermin, aku seolah mendapatkan bensin yang baru. Full tengki tentunya. Aku tersenyum pada bayangkanku sendiri. Mulai saat itu aku berbicara dalam bahasa asing dengan orang yang tidak asing dalam cermin.

Kadang ketika mama menyuruhku untuk menjaga sapi di padang, aku pun berbicara bahasa Inggris dengan sapi. Aku tidak peduli mereka memahamiku atau tidak. Suara moo.. moo… dari mulut sapi sudah cukup menimpal percakapanku. Atau saat aku memberi makanan babi aku memberi perintah dalam bahasa Inggris. Mereka mengangguk, Tentu saja bukan karena mengerti. Saat melihat makanan semua babi mengangguk-angguk.

Lamaran pun kulayangkan lagi lalu datang ke Kupang, kota yang mungkin sudah muak melihat kehadiran gadis Atambua yang gagal tiga kali dan pernah kepada Kota Kupang aku katakan: “Hei Kota Karang, aku ini gadis Atambua dengan tekad yang lebih keras dari karang. Aku akan terus datang untuk mengikuti tes ini sampai berhasil.”

Usai tes aku langsung kembali ke Atambua. Tentu selalu berhenti di rumah makan ini. Kupasrahkan semuanya pada Tuhan. Entah lulus atau tidak terserah pada kehendak-Nya. Menunggu hasil pun dengan dada yang lapang, dengan sedikit stres, tentu saja.

Mama pernah bilang kegagalan yang aku alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan aku dicobai melampaui kekuatanku. Aku percaya saja apa kata mama dan bapa pasti mendoakanku dari surga sana. Ia telah berpulang beberapa tahun lalu.

Hasil tes aku terima dengan rasa bangga yang luar biasa. Aku lulus. Air mataku tak kuasa menyembunyikan kebahagiaanku. Orang-orang mungkin menangis karena kesusahan namun saat itu aku menangis karena suka cita.

Baca juga: Cerpen Yeris Meka - Orang Asing

“Kaka, kita mau jalan su.” Suara seorang yang pagi tadi berpapasan denganku di pintu masuk mobil Paris Indah. Aku kaget dan cepat-cepat menghapus beberapa tetes air mata yang merembes dari sudut-sudut mataku sambil berlari-lari kecil memasuki mobil. Gadis itu? Sudah di manakah dia? Dia mau ke Kupang atau Atambua?

Aku bertanya-tanya di dalam hati. Apakah dia ingin mengikuti tes beasiswa itu atau ada agen di Kupang  yang siap menerima dia sebagai calon tenaga kerja wanita di luar negeri? Apalagi akhir-akhir ini berita kematian tenaga kerja asal NTT meningkat. Aduh, mama sayang e.

Rasa bersalah mendera lubuk hatiku karena tidak sempat menanyakan ke mana ia pergi, bahkan namanya pun aku tidak tahu. Aku sangat kasihan padanya. Aku seolah sedang mengasihani diriku dalam dirinya. Aku berjanji akan perhatikan orang-orang seperti itu. Pengetahuan yang aku dapat di luar negeri akan kudedikasikan sepenuhnya pada mereka yang mau berusaha terutama mereka yang susah.

Aku tidak mau mereka mengalami hal yang sama sepertiku dulu karena aku tahu bagaimana hidup susah. Mereka harus menjadi lebih baik dariku. Mereka pasti bisa. Pasti. Pasti bias. Kali ini air mataku mengalir lebih deras. Aku tak peduli pada seorang penumpang yang duduk di sampingku. Aku menangis lepas tanpa suara.

Sekarang aku sudah siap mengabdi. Aku sudah siap dan mereka pasti bisa. Pasti bisa. Saat itu mobil melaju semakin kecang menuju Atambua.

Melbourne, menjelang akhir musim dingin 2018.

Lee Risar |
Penulis buku Kata: Antologi Puisi. Orang Wangka – Riung. Kini sedang belajar di CTC: University of Divinity Melbourne – Australia.

Saeh Go Lino

Tentang komunitas Saeh Go Lino di Ruteng
Saeh Go Lino
Saeh Go Lino, Ruteng

Saeh Go Lino


Saeh Go Lino adalah komunitas yang berada di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Komunitas ini berdiri sejak beberapa tahun silam. Cikal bakalnya adalah ketika beberapa anak muda di Ruteng terlibat dalam kegiatan pementasan opera berjudul Ora The Living Legend pada puncak Sail Komodo 2013 silam. Saat itu, nama Saeh Go Lino belum lahir.

Meski demikian, pegiat seni muda yang terlibat di Labuan Bajo itu, ditambah kehadiran anggota-anggota baru yang bersemangat sama, menjadi semakin sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan kesenian, kebudayaan, dan ekonomi kreatif di kota Ruteng. Berbagai pentasan digelar, kegiatan bersih-bersih lingkungan dilakukan, diskusi literasi media terus digulirkan.

Secara kebetulan, sebagian besar anggota komunitas ini tinggal di wilayah Paroki Katedral Ruteng, dan di antara mereka, banyak juga yang menjadi anggota OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa Saeh Go Lino adalah OMK LG atau sebaliknya. Pendapat itu tidak persis salah, tetapi juga tidak sangat benar.

Yang terjadi adalah, Saeh Go Lino dan OMK Lumen Gratiae saling mendukung. Perbedaannya terletak pada kegiatan-kegiatan, dan prinsip keterbukaan.

Sejauh ini, Saeh Go Lino tidak membatasi diri anggota pada garis agama, suku, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan juga tidak harus selalu berhubungan dengan liturgi atau hal-hal lain yang 'biasa' dilakukan oleh kelompok-kelompok kategorial di paroki.

Saeh Go Lino Menjadi Nama Komunitas


Setelah terlibat dan melaksanakan beberapa kegiatan seperti pementasan drama musikal Ombeng bersama Komisi Kepemudaan Keuskupan Ruteng tahun 2016 silam, nama Saeh Go Lino muncul. Adalah Claudia Febriany Djenadut, koreografer kami yang saat itu menjadi pemantik. Febry hendak menciptakan tarian baru yang bercerita tentang kerusakan lingkungan dan usaha manusia memperbaikinya.

Saya diajak mendiskusikan konsepnya, termasuk memberi judul tarian baru itu. Kami bersepakat memberinya judul "Saeh Go Lino Ge" yang berarti: Menarilah Kau Bumiku. Tarian itu saat ini menjadi tarian utama komuntas Saeh Go Lino dan telah diadaptasi gerakannya ke beberapa tarian lain yang kami ciptakan.

Dalam bahasa Manggarai, tarian atau menari disebut sae. Huruf /h/ pada ditambahkan sebagai (sebut saja) perintah atau permintaan. Perlu diketahui, bahasa Manggarai memiliki beberapa 'akhiran' satu huruf untuk menjelaskan maksud.

Kata sae, jika ditambahkan huruf /d/ (menjadi saed) akan berarti ajakan, huruf /m/ (menjadi saem) berarti mengizinkan atau membiarkan, huruf /s/ (menjadi saes) berarti menceritakan peristiwa atau tindakan yang dilakukan orang lain, huruf /g/ (menjadi saeg) berarti menceritakan peristiwa yang kita sendiri lakukan. Biasanya, dalam penulisan kata sae dengan akhiran-akhiran penanda tadi ditempatkan apostrof [ ' ] untuk memperjelas maksud: sae'h | sae'm | sae's | dan lain-lain.

Tentang ini, tentu saja ahli bahasa Manggarai pasti dapat menjelaskannya dengan lebih baik. Bahwa pada nama komunitas, kami menambahkan /h/ (memberi perintah, lebih tepat meminta) karena kami percaya bahwa bumi yang kita tinggali ini adalah 'sesuatu' yang merdeka. Oh, iya. Lino berarti bumi, dunia, semesta.

Sebagai bentuk tanggung jawab pada nama itu, tarian, dalam arti sesungguhnya, adalah 'bahasa' yang selalu ada pada setiap kegiatan komunitas kami. Beruntung bahwa sebagian besar anggota komunitas ini mencintai tarian. Pada bagian lainnya, kami berharap agar 'tarian' kami memberi arti pada bumi, pada Nuca Lale, dan pada pengembangan kreativitas orang-orang muda.

Saeh Go Lino Sekarang


Saat ini Saeh Go Lino memiliki semakin banyak anggota. Anak-anak muda di Ruteng. Pentas seni yang semula menjadi semangat awal mendirikan komunitas ini bukan lagi sebagai satu-satunya agenda komunitas. Kami mulai terlibat pada aneka kegiatan lain, mulai bergerak ke wilayah lain: pemberdayaan ekonomi kreatif kaum muda.

Beruntung bahwa beberapa kelompok kecil di bawah Saeh Go Lino mulai terbentuk dan berkegiatan. Ada sanggar tari nusantara Awit Te Sae, ada kelompok pelukis mural Ngaso Art, ada yang mengelola LG Corner Cafe, ada yang bergerak di bidang foto dan video, ada yang mulai belajar stand up comedy, ada yang buka usaha sablon kaos, dan ada yang jadi pengurus OMK Lumen Gratiae. Mereka berdiri atas nama masing-masing tetapi membawa semangat (dan melibatkan anggota) Saeh Go Lino pada setiap kegiatannya.

Kami berharap, suatu saat Saeh Go Lino menjadi semacam rumah besar bagi anak-anak muda di Ruteng yang mencintai kesenian, kebudayaan, dan siap menjadi generasi berdaya. Demikianlah keanggotaan Saeh Go Lino menjadi sangat terbuka. Siapa saja boleh bergabung asal memiliki semangat yang sama: support each other. Saeh Go Lino sendiri akan selalu memiliki kegiatan bersama yang dapat menggabungkan semua kelompok kecil yang 'lahir dari tubuhnya' itu.

Beberapa Kegiatan Saeh Go Lino


Ada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan, baik dengan membawa nama Saeh Go Lino sebagai 'pembawa acara tunggal', maupun yang dilakukan bersama pihak-pihak lain, di antaranya:

  1. Opera Ora The Living Legend (2013)
  2. Opera Wajah Pertiwi (2013)
  3. Pentas Drama di Kongres Pemuda Manggarai Raya (2014)
  4. Pentas Rahasia Pengakuan (2015)
  5. Drama Musikal Ombeng (2016)
  6. Repertoar Tari Saeh Go Lino Ge (2016)
  7. Workshop Keaktoran bersama Koalisi Seni Indonesia (2017)
  8. Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam (2018)
  9. Tablo di Katedral Ruteng (2016, 2017, 2018)
  10. Kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk Christmas Flashmob, dan lain-lain.
Pada tahun-tahun selanjutnya, akan semakin banyak kegiatan yang digelar. Tetapi konsentrasi terbesar saat ini adalah membangun kecerdasan literasi media pada seluruh anggota komunitas. Salah satunya adalah dengan membentuk grup whatsapp yang dipakai untuk 'mengingatkan' anggota agar tidak muda terjebak hoax, tidak membuat status yang mengandung ujaran kebencian, dan cerdas bermedia sosial.

Cerita tentang aneka kegiatan Saeh Go Lino dapat dilihat di tautan ini.

Bagi saya pribadi, literasi media ini adalah pekerjaan rumah terbesar. Kau bisa jadi apa saja yang kau inginkan kalau mampu memanfaatkan kemajuan teknologi ini dengan baik. Karena itulah secara perlahan kami membuat konten-konten positif, dan semoga akan semakin banyak di hari-hari selanjutnya.

Bagaimana Mendukung Saeh Go Lino?


Kami ingin agar komunitas ini dapat segera berbadan hukum. Rasanya ini cukup penting agar komunitas ini 'diakui' negara dan berhak atas akses sumber daya pengembangan komunitas/kaum muda yang sudah dianggarkan negara. Pada saat yang sama, jika telah berbadan hukum, Saeh Go Lino dapat membangun jaringan dengan 'legal' dengan berbagai komunitas, lembaga, dan instansi lain di negeri tercinta ini.

Selain soal badan hukum yang pasti pengurusannya membutuhkan dana tadi, dukungan dana untuk pengembangan beberapa kegiatan yang sudah ada serta kegiatan-kegiatan lain yang direncanakan juga dibutuhkan. Selama ini kami bergantung pada donasi dari orang-orang baik di sekitar kami, selain juga menyisihkan sebagian pendapatan dari kegiatan komunitas untuk pembiayaan kegiatan.

Donasi yang diharapkan adalah donasi yang tidak mengikat, tidak berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu, serta dilandasi semangat mendukung pengembangan/pemberdayaan kaum muda. Sebagai timbal balik atas dukungan itu, pencantuman dan penyebutan nama sponsor pada kegiatan tentu akan dilakukan. Pada bagian lain, jika dibutuhkan, banner iklan donatur dapat dipasang di www.ranalino.id ini dengan kesepakatan yang dibicarakan khusus.

Yang terutama adalah menerima kiriman proposal. Membacanya. Mendukungnya jika berkenan, atau mempengaruhi orang-orang di sekitar Anda untuk ikut mendukung. Komunitas Saeh Go Lino, sejauh ini bertahan karena 'dunia jaringan' dan kami ingin meluaskannya.

Hubungi kami di WA: 0852-3901-1178 atau email: armin.ranalino@gmail.com untuk berdiskusi tentang rencana Anda mendukung Saeh Go Lino. Nomor yang sama juga dapat dihubungi jika Anda membutuhkan pementasan drama, tari, monolog, dan lain-lain, atau ingin membuat kaos untuk komunitas Anda. Kami tunggu.

Akhirnya, karena catatan ini dibuat menjelang Natal, saya hadiahkan salah satu kegiatan santai kami setahun silam. Flashmob Natal. Tahun ini kami bikin lagi. Dengan gerakan baru, tentu saja.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

#saehgolino #saehgolinoruteng

Keruntuhan Dunia dan Merawat Kesadaran, Renungan Adven Minggu Pertama

Romo Beben Gaguk mengisi ranalino.id dengan catatan renungan. Di bagian pertama ini, pastor asal Karot - Ruteng ini berbagi cerita tentang Adven: Keruntuhan Dunia dan Merawat Kesadaran.
keruntuhan dunia dan merawat kesadaran, renungan adven minggu pertama
Rm. Beben Gaguk

Keruntuhan Dunia dan Merawat Kesadaran, Renungan Adven Minggu Pertama


Oleh: Rm. Beben Gaguk
Adven, Adven, satu per satu lilinnya akan dinyalakan! Yang pertama, kedua, ketiga, lalu keempat. Dan bayi Yesus mengetuk di depan pintu. Adakah cintamu tetap bernyala, untuk sekedar menghangatkan lampin dan jerami yang mengelilinginya? 
Demikian sebuah sajak sajak anak-anak untuk masa Adven.

Adven dan Adventskranz


Gereja Katolik sudah dan sedang memasuki Masa Adven. Selama masa Adven ini, Gereja mempersiapkan diri menyambut kehadiran sang Juru Selamat. Kata Adven sendiri berasal dari kata Adventus (bahasa Latin) yang artinya kedatangan. Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan GerejaNya dan selalu hadir di tengah-tengah umatNya.

Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiranNya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatanganNya kembali di akhir zaman. Itu berarti, Adven harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang, dan di waktu yang akan datang .

Di hadapan kita ada lingkaran atau korona Adven yang terbuat dari daun-daun segar. Orang Jerman menyebutnya Adventskranz. Korona Adven berbentuk lingkaran, tanpa ujung dan pangkal, tanpa awal dan akhir, melambangkan Tuhan yang abadi.  Empat batang lilin diletakkan sekeliling lingkaran Adven, tiga berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda.

Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal.

Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya lingkaran Adven ini, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba.

Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu), dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih—masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Adven dan Gambaran Kekacauan Dunia


Lukas membuka masa Adven ini dengan penggambaran akhir dunia yang mendebarkan. Tanda-tanda akan terlihat pada matahari, bulan, dan bintang-bintang, dan di bumi diliputi oleh orang-orang yang kecewa dan bingung.

Situasi yang digambarkan oleh Lukas ini tentu berbanding terbalik dengan atmosfer Adven yang benar-benar kita alami; pohon Natal yang menghiasi seluruh sudut kota, lampu yang berkelap-kelip di pagar-pagar rumah, lagu-lagu Natal yang mengalun indah di rumah dan pusat perbelanjaan, dan juga pasar Natal dengan aroma khas Gl├╝hwein, semacam sopi yang dihangatkan, yang senantiasa menggoda selera.

Lalu mengapa Lukas justru menghadirkan kisah yang menakutkan itu di masa yang penuh sukacita dan berahmat ini?

Baca juga: Bougenville pada Sebuah Perjalanan

Lukas menceritakan segala peristiwa yang mungkin terjadi di dunia yang fana ini. Bahwa di bawah matahari tak, ada sesuatupun yang kekal dan abadi. Penderitaan dan kemelaratan, tangisan dan duka air mata adalah sisi lain yang bisa selalu muncul di tengah kemajuan dan perkembangan peradaban yang semakin pongah.

Dunia, dengan segala hiruk-pikuknya, tidak cukup memiliki “kapasitas” untuk menolong dirinya sendiri. Maka kepada yang rapuh dan tak kekal, dan dangkal dan bukanlah hal yang patut, kepadanya digantungkan harapan dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan dasariah tentang kehidupan.

Lantas Kepada Siapa?

Lukas menerapkan gelagat kosmik mengenai akhir zaman (Luk. 21:25-26; yang diambil dari Mrk. 13:24-27) kepada peristiwa dihancurkannya kota Yerusalem pada tahun 70 oleh tentara Titus yang datang menumpas pemberontakan orang Yahudi. Runtuhnya Yerusalem diungkapkan dalam Lukas 21:20-24. Orang yang mengalami bencana itu dikatakan “akan melihat Anak manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya” (Luk. 21:27).

Maksudnya, orang akan teringat akan Daniel 7:13, yang intinya menunjukkan bahwa kekuatan jahat sudah dipunahkan Tuhan dan kini Anak Manusia, yakni Yesus, menerima kuasa atas seluruh alam semesta.

Bagi Lukas, kota Yerusalem dari zaman Perjanjian Lama sudah punah, seperti halnya kekuatan jahat yang dalam Daniel 7 digariskan punah karena terlalu dihuni oleh kekuatan-kekuatan jahat yang menolak kehadiran Yesus. Kehancuran Yerusalem oleh balatentara Romawi bagi Lukas menjadi penegasan dari kebenaran iman ini.

Tentu saja kota itu kemudian dibangun kembali pada zaman generasi kedua orang Kristiani. Tetapi bagi Lukas, Yerusalem ini sudah bukan lagi realitas fisik melainkan realitas iman, yakni Kota Suci tempat Yesus menyatakan siapa dirinya secara utuh ketika wafat dan bangkit.
Jadi bagi Lukas, yang paling penting dalam menghadapi prospek akhir zaman itu ialah keterbukaan kepada Tuhan yang mau menyertai manusia.
Maka kepada Yesus, yang adalah sang Juruselamat, kita mesti mengangkat muka dan menaruh harapan. Dia adalah jaminan akhir yang tak terbantahkan oleh karena cahaya keilahian yang ada padanya.

Bagaimana Kiamat?


Lukas menggambarkan kekacauan da keruntuhan tadi sebagai tanda akhir zaman atau lazim kita menyebutnya, kiamat. Lantas, kapankah itu?

Ajaran kristiani mengenai hari terakhir seperti terdapat dalam Kitab Suci, bukan ajaran yang menekankan kapan hari itu datang melainkan dua hal ini:

Pertama, orang Kristiani menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali (Parousia) yang akan mengajak orang-orang yang berkehendak baik dan percaya ikut serta ke dalam kebesarannya (Mrk. 13:24-32 dan paralelnya dalam Mat. dan Luk.). Hal ini adalah kepastian iman.

Kedua, mengenai penghakiman terakhir, yang ditekankan bukan perihal hukuman atau pahala, melainkan ajakan untuk mawas diri: apakah orang menghormati kemanusiaan, dan punya andil dalam meringankan penderitaan sesama, dan lain-lain, seperti dalam Mat 25:31-46. Kapan itu terjadi bukan urusan manusia, bukan urusan malaikat, bahkan Anak Manusia yang bakal datang dengan kebesarannya itu pun tidak tahu. Hanya Bapa, maksudnya Tuhan yang Maharahim, sajalah yang menentukan saatnya (Mrk 13:32).

Baca juga: Yang Paling Penting Bukanlah Mengetahui Yesus, Tetapi MengalamiNya

Namun yang dapat diketahui yakni bahwa dua peristiwa di atas itu benar-benar akan terjadi. Oleh karenanya orang diajak bersiap-siap. Caranya bukan dengan diam saja seumpama orang yang mendapat satu talenta, atau mendahului Tuhan seperti sekte-sekte hari kiamat, melainkan dengan ikut mengusahakan kemanusiaan yang makin cocok dengan martabat yang dimaui Pencipta: bertanggung jawab kepada sesama, membawakan wajah Tuhan yang Maharahim dan bukan Tuhan yang penghukum.

Advent sebagai Saat Merawat Kesadaran


Adven adalah saat untuk berhenti dan mereorientasi diri. Di tengah dunia yang memanjakan kita dengan lautan tawaran yang menggoda, bisa jadi kita kehilangan makna dan tidak tahu lagi ke mana kita mesti melangkah. Hidup akan menjadi seperti musafir yang kehilangan kompas, dan akhirnya tersesat dalam gurun kehidupan yang gersang.

Maka ajakan untuk berjaga-jaga di masa berahmat ini adalah panggilan untuk selalu menjadi sadar. Sadar untuk berada, sadar untuk mengambil keputusan, sadar untuk menentukan pilihan. (*)

Rm. Beben Gaguk |
Imam Projo asal Keuskupan Ruteng. Kini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Jerman. Penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung”.

Om Rafael Melihat Peluang Ahok Jadi Presiden

Menurut Om Rafael, Ahok berpeluang jadi presiden. Kalau tidak, maka Ahok tidak punya peluang jadi presiden. Begitulah.
om rafael melihat peluang ahok jadi presiden
Pawai kampanye | Foto: ranalino.id

Om Rafael Melihat Peluang Ahok Jadi Presiden


Om Rafael jatuh cinta berat dengan Ahok. Buktinya, ketika film A Man Called Ahok tayang, Om Rafael sibuk menjelek-jelekkan film Hanum dan Rangga. Hanya itu yang bisa Om Rafael lakukan untuk membuktikan kecintaannya.

Alasannya jelas. Rasa cinta sebesar dunia itu tidak mungkin ia wujudkan melalui pergi ke bioskop dan nonton Daniel Mananta. Bukan karena tidak mampu beli tiket. Om Rafael bisa saja jual seekor babi di kandangnya kalau dia mau. Soalnya adalah tak ada bioskop di kampung kami.

Tentu saja memilih menjelek-jelekkan film lain juga bukan pilihan yang tepat jika mempertimbangkan kondisi tak ada bioskop tadi. Tapi Om Rafael kan cuek, to? Dia bilang, selama Ahok masih hidup, tak ada Hanum dan Rangga. Karena Rangga harus berpasangan dengan Cinta dan cinta Om Rafael hanya untuk Ahok.

"Kalau soal polisi, saya pilih Ahok!" Katanya tegas.
"Hae... Kenapa polisi?"
"Iya to. Yang berurusan dengan pemerintahan dan Pemilu," jelasnya.
"Haissss... itu politisi, Om."
"Kurang beberapa huruf saja, Nana su mulai protes."

Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit dan berpikir: begini barangkali yang dipikirkan oleh pekerja media daring yang kerap lupa huruf itu. Tetapi di langit tak ada jawaban. Juga di rumput-rumput yang bergoyang.

Baca juga: Asyiknya Berkelahi di Era Milenial, Tak Ada Penonton Tak Ada Perkelahian

Nah, soal Ahok dan peluangnya menjadi presiden ini, Om Rafael angkat bicara. Pakai hipotesis (yang dia sebut hipotalamus) lengkap.

Menurut Om Rafael, tidak ada seorangpun di negeri ini yang membenci Ahok. Semua menyayanginya dan ingin agar beliau jadi presiden. Karena itulah banyak orang yang berusaha mem-bully Ahok dengan harapan beliau dipersepsikan teraniaya.

"Dengan mensalami Ahok, peluangnya menjadi presiden semakin terbuka," paparnya.
"Zalim, Om. Bukan salam. Menzalimi."
"Ya. Begitulah. Zamir. Di negara ini berlaku: siapa teraniaya dia dikasihani, siapa dikasihani dia dicintai lebih, siapa dicintai lebih dia dipilih jadi presiden."

Dengan bersemangat dia bercerita tentang periode pertama Pa Esbeye. Juga Pa Jokowi tahun 2014 lalu. "Yang kuli Ahok itu hanya pura-pura kejam. Mereka cerdas dan berharap Ahok semakin dikasihani atas segala sikap kasar yang dia terima. Hanya saja, Ahok bukan calon presiden. Kalau dia calon presiden, pasti menang talak."

Saya tahu, maksud Om Rafael pasti bully dan bukan kuli, telak dan bukan talak. Sudahlah. Jangan dipikirkan. Yang paling penting adalah bahwa menurut Om Rafael, siapa disakiti dia dikasihani. Siapa dikasihani dia bisa jadi apa saja yang dia mau. Berarti kalau Pak Prabowo terus di-bully, dia akan jadi presiden?

Baca juga: Dialog Om Rafael: Betapa Kita Merindukan Ahok

Percakapan kami tiba-tiba berpindah ke Hanum dan Rangga. Bukan soal filmnya tetapi soal orang di balik orang yang membuat film itu ada. Maksudnya, orang di balik Hanum Rais. Siapa lagi kalau bukan Amin Rais?

"Nana ingat dulu Pak Amin janji jalan kaki dari Jogja ke Jakarta?"
"Iya. Dan batal."
"Memang harus batal. Kalau tidak ada batal, bagaimana kita bisa tidur?"
"Itu bantal, Om.

Om Rafael tertawa panjang. Lalu melemparkan pertanyaan yang dia anggap pamungkas. Kalau Pak Amin saja mengingkari janjinya, kenapa kita harus percaya pada anaknya? Saya ingin sekali bilang bahwa dua hal itu tidak berhubungan. Tetapi Om Rafael segera menyampaikan peribahasa: air cukuran atap jatuhnya ke pelimpahan juga. "OM! ITU SALAH. YANG BENAR ITU: AIR CUCURAN ATAP JATUHNYA KE PELIMBAHAN JUGA!"

Om Rafael tidak peduli. Baginya, kalau mertuanya kejam, mantan menantunya pasti kejam juga. What? Ini omong Hanum dan Amin atau orang lain? Om Rafael tersenyum saja. Baginya, suatu saat, Ahok pasti jadi presiden. Kalau kau tanya kenapa, Om Rafael akan jawab: "Daripada tidak jadi presiden?"

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Di Kampung Ada Satu Televisi: Pemirsa Nonton dari Balik Jendela, Ada yang Terlibat Cinta Lokasi

Ini adalah catatan ringan dari desa. Kristoforus Aman a.k.a. Bob Itok, penulis buku puisi Viabel Nostrum (PCM, 2018) bercerita tentang nasib orang-orang yang jauh dari listrik. Orang-orang di kampung. Di Flores.
di kampung hanya ada dua televisi kami nonton dari jendela
Nonton TV di kampung. Rame-rame | Image: ist.

Di Kampung Ada Satu Televisi: Pemirsa Nonton dari Balik Jendela, Ada yang Terlibat Cinta Lokasi


Oleh: Bob Itok
Berbahagialah kamu di kota-kota besar yang memiliki bioskop. Sebab bioskop di kampung kami hanya ada di rumah pemilik TV yang pasti memiliki generator.
Pada era 80-an sampai tahun 2000-an, daerah-daerah di Flores masih jauh dari PLN. Sampai sekarang juga belum merata. Gambar di atas hendak menjelaskan kepada Anda yang lahir di kota-kota besar, yang memiliki bioskop di daerahmu dan TV di rumahmu: bukan hanya kamu yang bisa nonton 'bareng' kami juga bisa 'nonton bersama'. Kamu NOBAR, kami NOBER. Beda!

Fakta mencatat bahwa di satu desa, hanya ada satu atau dua televisi. Syukur dan Puji Tuhan kalau dua atau lebih. Listriknya pakai generator set (genset). Dari proses pemasangan antena parabola sampai adegan 'putar-putar piring' supaya 'dapat' saluran, warga desa menjadikannya sebagai tempat pariwisata baru. Beramai-ramai menyaksikan peristiwa mengharukan itu.

Hari-hari pertama televisi itu tiba di kampung dan bisa menayangkan siaran dari jauh walau ada 'pasir-pasir yang mengamuk' di layarnya, tuan rumah alias pemilik televisi masih menerima penonton dengan baik, lapang dada, dan senang hati. Pintu terbuka lebar. Bebas.

Di bulan kedua, ketiga, dan seterusnya, tuan rumah membuat aturan. Penonton wajib membawa air PAM atau air dari kali untuk diisi ke generator. Maklum. Mesin diesel itu butuh air. Kalau bukan air, minimal kayu bakar. Supaya tuan rumah tidak pusing lagi untuk masak makanan mereka di dapur. Yang makan bukan para penonton televisi. Anggota rumah saja. Hmmm.

Baca juga: Televisi 14 Inci

Anehnya, meski tuan rumah sudah membuat aturan seperti itu, manusia-manusia yang tidak tahu malu macam saya ini, masih saja pergi dengan sukarela menonton dengan menyanggupi aturan-aturan itu.
Kalau pergi nonton tapi tidak taat aturan maka dia akan dikucilkan selama menonton. Bahkan dijadikan bahan perbincangan warga satu desa yang tidak ada sangkut paut darahnya bertalian dengan pemilik televisi. Kejam sekali hidup ini.
Ada saat di mana kekacauan terjadi di luar rumah. Penonton yang dapat tempat di dalam rumah, wajib menanggalkan sandal. Itu 'hukum moral dan etika' yang juga berlaku di rumah pemilik televisi. Meski televisinya hanya hitam putih dan siarannya hanya dapat tiga saluran: TVRI, TV5, MTV.

Kalau TVRI sudah mulai siarkan reklame (baca: iklan), berarti pindah saluran ke TV5. TV5 reklame, pindah ke MTV. Kalau masing-masing tiga saluran itu menayangkan reklame, tuan rumah pengendali remote memilih saluran yang dia sukai. Perasaan penonton tamu adalah debu yang beterbangan di musim kering. Abaikan saja.

Kekacauan Sandal

Bai de wei, kekacauan apa saja yang terjadi di luar rumah tadi? Banyak penonton yang hanya sanggup menyaksikan tayangan itu dari pintu yang sengaja dibuka. Ruang tamu padat merayap. Tetapi semua tampak rela. Tak ada yang gubris dengan nyamuk, walau darah mereka diisap dan nyamuk menelurkan anak baru dari darah daging manusia-manusia yang kena gigitan ini.

Ada juga yang hanya kebagian tempat di balik jendela. Bila tidak dapat tempat berdiri di pintu atau jendela, mulailah pencarian lubang dilakukan. Betul. Cari lubang yang bisa digunakan untuk mengintip walaupun hanya dengan satu mata saja, dengan lirikan a la penembak jitu, asalkan tujuan tatapan tetap terarah ke layar televisi.

Kalau masih ada penonton yang tidak dapat lubang maka tanpa peduli tuan rumah atau penonton lain di situ dia mulai beraksi diam-diam menciptakan lubang sendiri. Merobek dinding rumah bila dindingnya terbuat dari papan, gedek, atau bambu. Dia sedih kalau rumah itu berdinding tembok. Kasihan sekali. Pulang saja, Kakaaak.

Penonton yang ongkang-ongkang di dalam rumah tak sedikitpun peduli dengan penderitaan 'orang-orang luar' tadi. Sungguh bikin sakit hati. Balaaaas!

Nah, sebagai balasannya, yang tadi tanggalkan sandalnya di depan pintu, kalau dari rumah pakai sandal merk Jumbo, pulangnya bisa pakai dua merk. Kiri Jumbo, kanan Sunly. Dua merk itu hampir ada setiap rumah karena tebal, kuat, dan harganya terjangkau. Bila talinya putus bisa disambung lagi dengan cara dibakar.

Masih untung kalau begitu. Kiri Jumbo, kanan Sunly. Kalau kiri Jumbo, kanan jempol? Atau 'pulang kaki kosong'? Kadang begitu. Datang pakai sandal, pulang tak diantar, eh, maksudnya pulang tanpa sandal. Kasus pencurian mulai terjadi tanpa memandang cinta kasih, hukum agama, dan norma sosial. Duh, bahasanya.

Tuan rumah, si pemilik televisi tunggal nan hitam putih itu mulai risih. Banyak penonton yang mengeluh kehilangan sandal. Meski demikian, ada juga sandal yang luput dari curian. Merk Lily. Karena hanya ada di kaki orang-orang tertentu. Bila hilang, lalu ada yang pakai saat acara keluarga, ketahuanlah: dia pencurinya.

Masalah Solar

Penonton-penonton tidak tahu malu macam saya ini, tidak pernah (berusaha) paham bahwa solar untuk menghidupkan generator itu dibeli dengan uang dan untuk membelinya harus ke ibukota kabupaten. Ya. Bahan bakar seperti itu tidak ada dijual di desa. Sebab pembelinya hanya satu atau dua orang. Mendapatkan solar itu susah dan kita mesti berhemat.

Tetapi penonton tidak akan pulang kalau tuan rumah belum bilang: "Malam ini sampai di sini dulu. Besok malam baru kita nonton lagi." Kalau sudah begitu, ada yang langsung pulang tanpa pamit, ada juga yang berpamitan, juga ada yang ucapkan terima kasih karena telah mendapat hiburan.
Astaga! Kalau tuan rumah pakai pesan seperti itu terus, manusia siapa yang lama-lama tidak bosan? Seharusnya ingat jam dan sadar diri. Tapi sama saja. Fokus perhatian tertuju ke layar kaca, perasaan tuan rumah seumpama debu yang beterbangan di musim kering. Abaikan saja. Duh... pembalasan ini sungguh segera.
Baca juga: Inilah Empat Kesalahan Dasar Media Massa Indonesia

Apa pun tayangannya, di luar rumah pencurian sandal masih tetap berjalan. Namun tidak ada yang bosan atau kapok bahkan walaupun tiap hari berkorban membeli sandal baru sebagai pengganti. Untunglah ada juga yang tahu cara mengatasinya. Misalnya sandal disembunyikan di bawah pohon bunga di taman halaman rumah pemilik televisi.

Ada juga yang menyembunyikannya di kain sarung, dibawa masuk ke dalam rumah sambil menonton. Kalau duduk di lantai, diam-diam sandalnya diambil untuk dijadikan alas duduk. Tidak peduli kalau sandal kotor dan tuan rumah akan kepayahan menyapunya.

Ada juga yang nekat tidak memakai sandal dari rumah sendiri agar bisa menghindari para pencuri sandal. Asalkan bisa masuk ke dalam rumah, dapat tempat duduk posisi aman, tidak peduli kalau lantai rumah pemilik TV juga kotor. Oh, Gusti.

Pemilik Televisi Menjadi Tegas

Walaupun aturan 'air dan kayu bakar' masih berlangsung, kasus pencurian sandal ini dan lantai rumah yang selalu kotor mau tidak mau bikin tuan rumah semakin resah dan gelisah. Pelan-pelan dia mematikan generatornya tanpa pesan dan peringatan. Agar penonton pulang ke rumah masing-masing. Alasannya: bahan solar habis.

Untunglah, tidak berakhir buruk. Peristiwa demi peristiwa terus berlanjut. Tuan rumah dan penonton masing-masing mempertahankan sikap egois. Persetan dengan pamit kepada penonton, persetan dengan lantai rumah yang kotor, persetan dengan sandal yang hilang, asalkan satu desa masih bisa menonton. Bahagia sekali, bukan?

Kasus pertengkaran karena baku senggol saat duduk berhimpitan di dalam rumah sering terjadi antara sesama perempuan, sesama lelaki, perempuan dan laki-laki. Di luar rumah pun terjadi pertengkaran, tua-muda berebut tempat berdiri di jendela atau pintu.

Tetapi ada yang selalu bahagia. Mereka yang sudah memiliki tempat mengintip langganan. Di lubang yang diciptakan sendiri. Rumah pemilik televisi semakin berlubang dan berliku. Eh?

Cerita Menarik Lainnya

Para penonton mahir menceritakan kejadian yang mereka lihat di televisi. Berbagi cerita pada perjalanan pulang. Di rumah masing-masing juga begitu. Bila ada anggota keluarga yang dua tiga orang di antaranya pergi menonton, namun ada yang tinggal di rumah karena kelelahan pulang bekerja dari kebun atau ladang, yang nonton akan berebut bercerita. Ckckckck.

Musim hujan, televisi mulai jarang dibuka. Warga desa saling merindukan satu sama lain. Penasaran dengan kelanjutan cerita atau berita yang ditayangkan sebelumnya. Cinta lokasi kerap terjadi di lokasi nonton bersama. Tuan rumah tetap membuka rumahnya, walau kada merasa risih dengan bau pesing di sekitar rumahnya. Para penonton pipis sembarangan saja. Di halaman, di dinding rumah.

Sampai saat ini, tidak ada televisi di rumah kami. Sebab saya akan masuk TV dulu sebelum TV masuk rumah kami. Jika ada yang bilang mimpimu terlalu besar, saya akan menjawab dengan senyum. Dia berpikir terlalu kecil.
Bermimpilah sesukamu, raihlah dengan doa dan usahamu. Jangan lupa membagi cinta dan tawa, sebab setiap tawa adalah doa dengan cara yang berbeda. (*)
Bob Itok |
Saat ini sedang berjuang mewujudkan mimpinya agar tampil di televisi. Selain menulis buku puisi dan menyebut dirinya sebagai 'femuda tamfan, lelaki rebutan', Bob Itok juga menekuni stand-up comedy, dan kini mengelola akun Youtube-nya sendiri. Klik di tautan ini.

Anda punya catatan ringan seperti ini? Kirim ceritanya untuk ditayangkan di ranalino.id ke alamat surel: armin.ranalino@gmail.com.

Aktivis Juga Manusia, Mereka Berhak Tampil Sangat Lucu

Di masa seperti sekarang ini, hari-hari politik, beberapa aktivis akan sering tampil di linimasa kita. Menawarkan perubahan tetapi dengan wajah (keyakinan) yang lama. Mereka juga manusia.
Ratna Sarumpaet dan temannya | Image dari: infmenia.net

Aktivis Juga Manusia, Mereka Berhak Tampil Sangat Lucu


Ketika pertama kali mendengar kasus hoax yang melibatkan seniman dan aktivis Ratna Sarumpaet, saya menduga sempat menduga bahwa Bu Ratna baru saja selesai membaca buku Tanah Air yang Hilang. Di buku itu, Martin Aleida menulis hasil wawancaranya dengan beberapa aktivis di era Sukarno. Yang kehilangan bangsanya. Bangsa Indonesia.

Bagi sebagian pembaca, kisah-kisah dalam buku itu tentu saja mencengangkan; bagaimana negara mencabut hak anak-anaknya sendiri pulang ke tanah air. Tetapi bagi yang lain, kisah-kisah yang ditulis Martin Aleida di sana akan mengingatkan mereka pada cerita-cerita lainnya.

Membaca satu kisah di buku itu, saya langsung membayangkan kecantikan Lintang Utara di novel Pulang karangan Leila S. Chudori. Juga tentang ayahnya yang rindu pada bau tanah selepas hujan di Karet, setelah sekian lama mengganti identitasnya sebagai orang Prancis. Ayah Lintang adalah aktivis yang kehilangan kewarganegaraan Indonesia menyusul gonjang-ganjing politik sekitar tahun 1965.

Baca juga: Novel "Pulang" Leila S. Chudori, Melawan Lupa

Kisah lain yang mirip juga ada di Larung. Di novel itu, Ayu Utami menggambarkannya dengan sangat dramatis. Ada aktivis (tahun 1998) yang terpaksa dilarikan ke luar negeri agar tidak hilang. Belakangan saya menduga, lelaki yang ditulis Ayu itu sesungguhnya sudah kembali. Jadi orang partai. Namanya Pius Lustrilanang.
Tetapi namanya dugaan, saya bisa saja salah. Seperti ketika saya menduga bahwa Ratna Sarumpaet baru saja membaca buku Om Martin tadi. Bu Ratna mungkin belum membacanya, tetapi kisah-kisah tentang aktivis yang mengalami kekerasan dia tahu dari riset.
Tentu saja Ratna Sarumpaet sering melakukan riset. Jika tidak, bagaimana dia bisa menulis sejumlah naskah yang bagus? Ingat! Ratna Sarumpaet adalah penulis naskah sekaligus sutradara teater. Kisah Marsinah pernah dipentaskannya. Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh itu. Juga kisah-kisah heroik lainnya.

Atas hasil interaksinya dengan riset-riset itu, Ratna meyakini bahwa aktivis barulah aktivis kalau dikasari negara. Entah bagaimana, keyakinan itu selanjutnya tumbuh menjadi obsesi. Wow! Karena itulah Ratna mengarang cerita itu. Kebetulan dapat momen yang tepat. Beberapa saat setelah operasi plastik, wajahnya bengkak-bengkak. Mirip korban pemukulan. Pas sudah!

"Wajah bengkak ini akan menjadi gerbang ke kesahihan saya sebagai aktivis. Tinggal karang cerita, sebar ke media daring pemburu klik, akan ada pihak yang diserang. Syukur-syukur kalau itu adalah pemerintah.” Barangkali begitu pikirnya. Pikiran macam apa itu? Para aktivis dalam arti sebenar-benarnya pasti terluka sekali.

Baca juga: Ratna Sarumpaet, dari Seniman ke Aktivis ke Bandung dan Dipermalukan Generasi Z

Tetapi perkiraan Ratna tepat. Sebagai sutradara teater, dia tidak mengalami kesulitan berperan sebagai korban di depan kamera. Serentak kabar tentangnya menyebar. Ungkapan iba datang dari berbagai kalangan. Juga dari politisi senior asal NTT yang menyampaikan kemungkinan tentang mengapa negara diam pada kasus pemukulan Ratna.

Di twitter dia menulis tiga kemungkinan itu dalam satu cuitan. Termasuk menduga bahwa Ratna dipukuli preman-preman Presiden Jokowi. Ckckckck... Di kemudian hari, setelah Ratna bercerita bahwa kisah heboh itu adalah karangan belaka, politisi kami ini menyesal. Di twitter, beliau bilang bahwa dia masih berpikir Ratna adalah aktivis tetapi ternyata sudah tidak lagi. Politisi ini menyesal.

Sekarang saya yang kesal. Apakah menjadi aktivis itu ada masa berlakunya? Kalau benar Ratna dipukuli, apakah itu karena dia aktivis? Astagaaa. Ada apa dengan obsesi kekerasan ini? Haissss....

Baca juga: Hamka, Cinta Kami Sering Kandas

Pokoknya begitu. Saya pikir, bahaya terbesar dari para aktivis zaman now adalah menyiapkan skenario bahwa dirinya akan dikasari negara. Ketika negara tak kunjung kasar, skenario itu lalu dimainkan sendiri agar negara dapat dituding. Kan uaseeem itu namanya.
Mereka harusnya tahu bahwa di era yang sangat terbuka ini, akan semakin sedikit jumlah kekerasan fisik pada aktivis. Yang paling mungkin hanyalah pengabaian. Seperti diabaikannya begitu saja kematian pemilik lahan di Sumba, atau di beberapa tempat lainnya. 
Yang mengabaikannya adalah wakil-wakil mereka yang dulu aktivis dan sekarang jadi anggota dewan. Yang ketika kampanye mengaku akan berjuang untuk rakyat kecil dan ketika terpilih menjadi pejuang untuk kelompok kecil. Yang jurkamnya adalah mantan aktivis mahasiswa juga. Kadang, aktivisme bisa selucu itu.

Jadi begitu. Aktivis juga manusia. Mereka berhak tampil sangat lucu. Pilihan ada di tangan kita. Mau pilih aktivis yang jadi politisi dan menjadi lucu, atau yang aktivis dan mengerjakan ide-idenya dengan sungguh-sungguh. Demikian.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Jangan Berhenti Jualan Buku, Felix

Felix K. Nesi, penulis yang juga menjalankan Toko Buku Fanu mengumumkan rencana berhenti jualan buku. Melalui laman facebooknya, Felix mengobral beberapa koleksi terakhirnya. Sedih juga rasanya mendapat kabar seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi?
jangan berhenti jualan buku felix
www.ranalino.id

Jangan Berhenti Jualan Buku, Felix


Terlepas dari beragam alasan kita membeli buku, membeli buku tetaplah berarti menambah jumlah buku yang tersebar. Tidak menumpuk saja di gudang penerbit, di toko buku, atau di lemari milik Felix. Selanjutnya buku-buku yang ada di tangan para pembaca akan dibaca. Ini situasi ideal: buku dibeli, dibaca (hingga tuntas), dipahami.

Ada juga dua situasi tak enak yang mungkin terjadi. Pertama, buku itu tidak selesai dibaca pembelinya. Kedua, buku itu tidak dibaca pembelinya tetapi oleh temannya. Meski masuk dalam 'hal tak enak' tetapi sebagai penganut konsep minus malum, dua hal itu menunjukkan bahwa ada buku yang dibaca.

Kita pindah sejenak.

Ketika melakukan pencarian di google dengan kata kunci hasil riset tentang hubungan membaca buku dengan kecerdasan, SERP halaman satu berisi beberapa tautan hasil-hasil penelitian tentang hubungan membaca dengan: kecerdasan verbal, motivasi belajar, kecerdasan emosional, prestasi belajar, prestasi akademik, dan keterampilan menulis narasi.

Rata-rata penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa hal-hal tadi berjalan lurus dengan kebiasaan membaca. Tentu saja tidak lantas berarti bahwa yang tidak membaca itu tidak cerdas.
Ada yang (merasa) cerdas hanya dengan mendengar. Ada juga yang tak kunjung cerdas meski telah banyak membaca. Misalnya kawan-kawan saya yang hanya membaca judul lalu merasa telah banyak tahu. Atau membaca tetapi sudah telanjut memiliki konsep sendiri (yang salah) dan tidak mau 'diganggu'.
Tetapi apa pun kemungkinan yang terjadi pasca-buku sampai ke tangan pembeli, kita wajib optimis--merujuk penelitian--jumlah orang yang semakin cerdas akan bertambah.

Baca juga: Cinta yang Terlalu dan Plagiarisme yang Berlalu

Karena itu saya kaget ketika Felix K. Nesi mengumumkan tentang Toko Buku Fanu akan segera berhenti jualan buku. Hampir setahun terakhir, Toko Buku Fanu ada di NTT. Selain berjualan di berbagai event di Kupang dan sekitarnya, Felix menjual buku-buku secara daring via laman facebook dan instagram: @fanubooks.

Langkah berjualan daring, merujuk pada pandangan bahwa masa depan penjualan buku adalah toko daring independen sebagaimana ditulis Tirto, adalah sesuatu yang hebat. Felix membaca tanda-tanda zaman. Lalu mengapa dia menutup toko bukunya?

Saya belum sempat menanyakan hal tersebut kepada Felix K. Nesi. Tetapi memantau beberapa status facebooknya, dan berdasarkan pemandangan 'hidup enggan mati tak mau'-nya beberapa toko buku di NTT, saya menduga alasan utamanya adalah daya beli kita yang rendah. Buku tidak laku, uang tidak jalan, untuk apa jualan?

Ini tentang buku. Bukan tentang hal-hal lainnya. Maksudnya, tidak 'terlampau' berhubungan dengan kondisi ekonomi. Toh, kita masih bisa beli gadget mahal, baju natal, dan cinta palsu. Daya beli buku yang rendah, di NTT, barangkali berhubungan dengan hal-hal berikut ini.

Pertama, minat baca yang buruk. Sayang sekali saya tidak menemukan hasil riset tentang minat baca di NTT. Mungkin memang belum ada. Ini tentu saja tugas para peneliti. Atau para pegiat literasi yang bagi-bagi buku gratis. Di mesin pencari google, kata kunci minat baca NTT malah mengarahkan kita pada artikel tentang minat baca Indonesia. Yang memang rendah.
Survei Most Littered Nation In the World tahun 2016 menampilkan hasil: minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 Negara. Beberapa tahun sebelumnya, UNESCO melansir hasil surveinya yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Hanya satu orang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. 
Bagaimana kita berharap Felix K. Nesi dan toko-toko buku kecil di NTT (atau Indonesia?) bisa hidup di tengah masyarakat yang tidak gemar membaca?

Baca juga: Cukup Sudah Bagi Buku-buku Gratis, Maria

Kedua, harga jual yang tidak adil. Ini barangkali alasan tambahan saja. Tetapi penting untuk dipikirkan bersama. Saya juga baru menyadari ini setelah membaca salah satu status panjang Felix. Kalau harga BBM bisa seragam dari Sabang sampai Merauke, kenapa harga buku tidak bisa?

Status itu tidak persis membahas tentang 'keadilan harga' tetapi keheranan Felix tentang bagaimana toko buku besar macam Gramedia dorang bisa hidup? Saya juga heran. Kok bisa?

Kalau tesis pertama tadi 'ditarik' ke sini, Gramedia di Kupang itu sudah menaikkan harga jualnya loh. Tetapi masih bisa hidup, masih ada yang beli buku. Hmmm... tentu saja ini karena sistem jaringan. Yang sangat kuat. Yang membuat banyak toko buku kecil itu mati. Tambahkan sedikit dengan gaya hidup; merasa keren kalau berhasil mengunggah foto buku dalam kresek Gramedia di instagram. Akhirnya bisa ke Gramedia dan beli buku di sini #kalabukukalagramedia. Begitu caption foto mereka.

Ada juga dugaan lain mengapa banyak toko buku yang tutup. Pemiliknya ingin menjalankan pekerjaan lain. Silakan 'tarik garis' ke soal hidup tadi. Atau ke arah lain, bahwa Felix ingin berkonsentrasi sepenuhnya menjadi penulis. Kita tidak bisa bilang apa-apa selain mendukung keputusan itu. Meski saya sungguh berharap bahwa Toko Buku Fanu tidak mati, pemilik toko buku ini adalah Felix.

Kalau dia memutuskan berhenti, jangan dilarang. Itu melanggar hak asasi manusia. Kita hanya bisa berharap bahwa akan ada toko buku lain yang mampu menjual buku semenarik cara Felix berjualan. Ada penjelasan singkat tentang isi buku. Agar kita tidak terjebak membeli buku karena endorse penulis besar atau karena buku itu diterbitkan penerbit besar.

Pada saat yang sama, marilah berdoa agar harga jual buku sama dengan harga jual BBM. Seragam se-Indonesia. Tentu saja kalau negara ini sepakat bahwa kecerdasan masyarakat mengendarai sepeda motor dan memanfaatkan trotoar juga dipengaruhi oleh keseringan mereka membaca. Baca buku. Bukan baca status atau judul-judul artikel click-bait seperti di ranalino.id ini.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Disclaimer: Kalau Toko Buku Fanu tidak jadi ditutup, catatan ini bisa dibaca sambil memikirkan nasib toko buku lain yang mungkin akan segera tutup.