Ineame, Blog Keluarga Indonesia Kini Hadir di Youtube

Apa kabar semua? Maaf agak lama tidak berkabar melalui blog ini. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, termasuk menyiapkan laman youtube Blog Ineame.

Happy | Karya: Rana Maria Bellarmin

Ineame, Blog Keluarga Indonesia Kini Hadir di Youtube

Oleh: Armin Bell

Betul sekali. Meski pada awalnya kanal youtube Blog Ineame dibuat hanya untuk jalan-jalan, subscribe dan komen dan like di beberapa akun favorit kami, namun beberapa waktu terakhir terdapat hal lain.

Setelah berbagi cerita dengan Kaka Rana, kami memutuskan untuk mulai menciptakan konten-konten khusus keluarga dan anak (seperti juga blog ini ditujukan). Konten-konten awal tentu saja masih sangat sederhana penggarapannya karena selama mengembangkannya kami harus juga belajar melakukan penyuntingan dengan mencoba beberapa aplikasi.

Konten pertama di kanal ini yang diunggah beberapa bulan silam dibuat dengan menggunakan aplikasi Viva Video. Itu adalah aplikasi yang baik dengan pengoperasian yang mudah. Meski demikian, teraan watermark yang tak bisa dihapus (dari aplikasi versi gratis) membuat kami memutuskan untuk mencoba aplikasi lainnya. Hasilnya lumayan. Sudah ada dua konten baru yang penggarapannya menggunakan aplikasi tanpa watermark itu.

Oh iya, aplikasi itu bernama VideoShow dan dapat diunduh gratis di play store. Menyunting video pertama dengan menggunakan aplikasi ini lumayan menyenangkan meski juga sangat terburu-buru. Berikut hasilnya.


Konten kedua dengan aplikasi VideoShow ini adalah sebuah vlog dari kegiatan Sanggar Tari Awit Te Sae. Hari Sabtu, 2 Maret 2019, sanggar tari binaan Claudia Febriany Djenadut ini menggelar uji tampil yang kedua di Aula Assumpta Katedral Ruteng. Berikut hasilnya.


Apakah kalian suka? Sebelum berani menebak jawaban para penonton, pertanyaan yang sama kami ajukan pada diri sendiri. Apakah kami suka? Sejauh ini, iya. VideoShow adalah aplikasi yang sederhana dengan sistem kerja yang ramah. Terutama, aplikasi ini tidak memunculkan watermark perusahaan pengembangnya pada video kita, sesuatu yang sangat penting bagi kami. Bandingkan dengan video dari konten pertama kami berikut ini.


Bagaimana? Senang? Jangan lupa subscribe kanal youtube Blog Ineame dan ikuti terus konten yang kami siapkan selanjutnya. Sedapat mungkin, setiap konten tetap berhubungan dengan visi ketika pertama kali blog keluarga Indonesia ini kami kembangkan.

Salam

Saeh Go Lino Ruteng Mulai Garap Web Series

Saeh Go Lino adalah satu dari sekian banyak komunitas muda di Ruteng. Mulai pekan ini, komunitas ini mencoba sesuatu yang baru. Mengisi kanal youtube-nya dengan Baku Sayang, The Web Series. Apa itu?

saeh go lino the web series
Poster by Daeng Irman

Saeh Go Lino Ruteng Mulai Garap Web Series


Saeh Go Lino sudah lama ada di Youtube. Tetapi isi kanal youtube kami itu hanya beberapa sejak pertama kali dibuat. Yang pertama adalah tayangan Flashmob Natal di Katedral Ruteng. Kemudian beberapa konten diunggah. Rata-rata video-video dokumentasi. Hampir tak ada yang benar-benar sengaja dipersiapkan sebagai youtube content.

Kanal Saeh Go Lino itu jadi semakin menyedihkan sebab kegiatan-kegiatan komunitas yang 'layak video' juga tidak banyak. Aksi bersih-bersih kota, pungut sampah, dan beberapa lagi yang kami buat mungkin baik saja jika divideokan tetapi rasanya dia masuk di tipe 'bukan yutub'. Bagusnya buat facebook atau instagram saja. Akibatnya? Tak ada konten baru di kanal itu sejak beberapa bulan terakhir--ketika video tarian Saeh Go Lino Ge diunggah. Hiks...

Ada juga konten baru. Ketika akhir November 2019 kemarin kami bikin Kalender untuk Bumi. Ya. Kami cetak kalender. Kuno sekali, bukan? Su tir banyak yang bikin kalender konvensional selain toko, bank, kantor, atau caleg. Padahal Saeh Go Lino tir termasuk di kategori itu. Tapi kami bikin karena merasa itu penting. Supaya orang sayang bumi karena kalender akan ada di dinding sepanjang tahun dan kampanyenya bisa dibaca setiap hari. Idenya unik. Kami bikin video behind the scene. Tapi kan dokumentasi juga to? (Ada di sini).

Lalu, dibuatlah rencana. Banyak rencana. Tahun ini. 2020. Selain rencana pementasan dan jalan-jalan, ada juga pikiran untuk mulai serius menciptakan konten-konten youtube. Sampai corona datang dan semua rencana burai. Bagaimana mengumpulkannya? Dapatkah semua dirangkai lagi? Misalkan dapat, kapan akan bisa diwujudkan? Maksudnya, setelah pandemi Covid-19 ini, akankah kami tetap bersemangat mewujudkan rencana-rencana itu atau justru sibuk menata diri dan ekonomi masing-masing yang terpuruknya minta ampun akibat wabah ini? Kami sedih. Corona berarti semua rencana tirakan bisa jalan. Saeh Go Lino terancam 'tirada buat' tahun ini. 

Kemudian, di tengah masa menyedihkan, yang menyebabkan kami #dirumahsaja, dibuatlah zoom meeting sekomunitas. Lipooz dan Luis Thomas Ire berhasil kami paksa gabung. Mereka berbagi soal proses kreatif mereka. Tentang pentingnya menjaga konsistensi. Tentang disiplin. Tentang tahan banting. Lalu tentang disiplin lagi. Sebab disiplin adalah sesuatu yang rasanya tidak ingin kami jumpai di sepanjang jalan kenangan. Paling tidak, begitulah yang kami akui bersama. "Kita susah di itu barang, Kae." Itu barang berarti disiplin. 

Siapa Lipooz dan Luis Thomas Ire? Keduanya adalah seniman, pekerja kreatif, orang-orang yang dengan senang hati mendukung teman-teman muda (macam saya ini) tumbuh di 'dunia baru': digital platform.


Sakira, percakapan dengan dua musisi itu berhasil membangkitkan semangat. Semangat yang tidak datang tepat waktu. Kami bersemangat tetapi corona melarang perkumpulan. Bagaimana ini?

Sebagai akibatnya, kami harus baku kontak terus di WhatsApp. Apa pun caranya. Bahkan jika harus jadi fakir wi-fi. Bukankah mayoritas kita adalah fakir pada masa-masa sekarang ini? Komunikasi harus tetap berjalan, Kak. Saeh Go Lino juga begitu. Hasilnya? Ada #kampanyebaik di facebook Saeh Go Lino. Dimulai dari obrolan santai saja di WAG. Lalu beberapa pasukan mulai garap. Info soal kampanye baik disebar di facebook. Banyak teman yang ikut bergabung. Kami senang. Tetapi tetap saja, itu bukan produksi original. Kami hanya sekadar mengubah make-up challenge menjadi masker challenge. Dan mengandalkan beberapa kawan (dan kesaksian mereka) untuk jadi materi kampanye #cegahcovid19.

Hingga pada suatu sore yang sendu, Haris--yang kemudian jadi sutradara #bakusayang #thewebseries berkunjung. Obrolan meningkat. Dan saya menulis empat naskah sekali duduk.

"Ini sudah. Kita harus garap ini," saya bilang begitu setelah selesai menulis empat episode. 

Pasukan Saeh Go Lino segera bergerak. Menentukan tim kerja. Adenk jadi pimpro. Djiboel jadi penanggung jawab. Membagi tugas, merancang timeline, dan episode pertama tayang akhir pekan kemarin. Ini adalah konten kedua yang secara sungguh-sungguh disiapkan untuk youtube. Yang pertama adalah tentang persiapan natal di Ruteng yang sudah tayang beberapa tahun lalu.


Semoga akan konsisten. Karena tanpa itu barang, bagaimana kita akan mencatatkan nama di papan skor beberapa tahun kemudian?

Ketika menulis ini, jumlah subscriber di kanal youtube kami bertambah. Sesuatu yang sungguh menggembirakan. Juga sangat menantang. Di episode dua, apakah kami bisa hadir lebih baik lagi? Baku Sayang, The Web Series adalah project pertama. More to come, kata para serdadu. Saya senang. Sambil berharap: ini jalan yang benar dan mempertemukan kami dengan semakin banyak orang baik.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ps: Dukung misi kami. Baca tautan ini untuk informasi selengkapnya.

Kebaikan-Kebaikan yang Ternyata Tidak Terlampau Baik

Arundathi Roy bilang bahwa pandemik ini adalah portal. Kira-kira berarti: wabah yang menakutkan ini semacam gerbang kepada hal-hal lain--kebaikan-kebaikan--setelah masa yang sulit ini. Tetapi di masa sekarang, pada saat Covid-19 sedang melanda, kebaikan-kebaikan telah tumbuh. Seumpama cendawan di musim hujan. Apakah semua kebaikan itu baik?
kebaikan-kebaikan yang tidak terlampau baik
Foto: Daeng Irman

Kebaikan-Kebaikan yang Ternyata Tidak Terlampau Baik


Semua orang berlomba mewartakan hal-hal baik. Agar Covid-19 tidak merajalela. Sebab telah sangat banyak banyak korban. Ini semacam perlombaan di banyak sisi.

Di sisi satu, peserta lomba adalah sesama orang baik yang, meski tidak diniatkan, tampak berusaha saling mendahului—menjadi yang paling cepat mengabarkan informasi yang benar seputar pandemi ini. Corona tetap bergerak di lintasan saat itu. Atau, saat ini? Hendak 'mengalahkan' siapa saja. Di sisi yang lain lagi, ada peserta lomba lainnya. Orang-orang baik yang melawan (sebut saja) orang kurang baik.

Orang kurang baik yang saya maksud adalah mereka yang seolah tanpa beban membanjiri linimasa media sosial dengan pesimisme: mereka tidak yakin bahwa segala usaha dan kerja keras selama ini akan mampu membawa bangsa ini keluar dari badai. Saya tahu, ketakyakinan itu bukan tak berdasar. Ada data. Juga fakta. Sebaran virus yang cepat, kegamangan di berbagai level pengambil kebijakan, angka kematian yang lebih tinggi dari angka kesembuhan, fasilitas yang minim ada di berita-berita. Tapi kan tir harus diumbar dengan caption yang mengolok-olok to?

Namun, begitulah. Perlombaan di sisi terakhir tadi berlangsung agak panas. Sebab diwarnai aksi saling sikut. Ada unsur lain juga. Politik. Orang baik mengingatkan tentang pentingnya membangun kekuatan bersama melalui sebaran optimisme. Yang (saya sebut) kurang baik tadi merasa bahwa yang mereka lakukan adalah membangkitkan kesadaran; dengan menebar fakta dan data cum pesimisme? Please...


Lalu, masih di lintasan yang sama, ada peserta yang lain. Para penyebar hoax. Ada yang niatnya baik tapi bohong. Ada yang tidak tahu bahwa dia meluaskan kebohongan. Ada yang dengan sengaja berbohong untuk kepentingan sempit: tenar, dapat uang dari click and share. Ada juga yang pakai motif super-personal. Suasana lomba amburadul.

Untunglah, di samping para pewarta yang berlomba tadi, ada orang-orang yang tetap bekerja. Dengan niat yang tulus. Bekerja sungguh-sungguh. Begitu sungguh-sungguhnya sampai mereka lupa bahwa yang mereka lakukan justru berpotensi bahaya: ada yang berdoa bersama-sama agar badai ini berlalu di tengah imbauan agar kita menjaga penjarakan fisik, dan ada yang positif Covid-19 tetapi tetap jalan-jalan (seperti) hendak mengatakan pada dunia bahwa virus ini tidak berbahaya.

Ada yang menyemprot seluruh kota dan manusia dengan disinfektan padahal menurut WHO, praktek penyemprotan desinfektan yang meluas dengan alkohol di udara, di jalan, kendaraan, maupun pada manusia perlu dihindari karena kandungan dalam desinfektan berpotensi membahayakan manusia. (Baca di sini untuk konfirmasi soal bahaya disinfektan). Ada yang melarang orang mudik sebab berpotensi membawa serta virus itu kampung mereka padahal yang pulang kampung itu hendak mengungsi karena hidup di kota menjadi sulit di masa virus ini; susah cari makan. 

Lihat betapa ramainya (baca: kacaunya) kita? 

Begini. Saya percaya bahwa setiap keterlibatan kita dalam karut-marut situasi ini berdasar satu: kita ingin semua segera membaik. Tetapi oleh karena pengetahuan yang tak cukup serta pertimbangan yang tak panjang, tanpa sadar, kita justru membuat semuanya memburuk. Lalu bagaimana? 

Nah... Ini dia. Bagaimana? 

'Di rumah saja' adalah ajakan yang baik sekali. 'Di rumah saja dan membiarkan pihak berwenang bekerja' adalah sikap yang baik. 'Di rumah saja, membiarkan pihak berwenang bekerja dengan baik, dan kita tidak nyinyir' adalah perbuatan baik yang bisa kita lakukan sekarang ini. 'Di rumah saja, membiarkan pihak berwenang bekerja dengan baik, kita tidak nyinyir, dan mulai lebih serius bertanggung jawab pada keselamatan masing-masing dengan mematuhi protokol kesehatan' adalah perbuatan yang lebih baik lagi. 

Baca juga: Main Bola Paskah

Di atas semuanya, respect adalah yang paling penting:

Hargai bahwa pemerintah bekerja terbata-bata. Sebab tak pernah menduga bahwa dunia akan segawat sekarang. Siapakah yang sungguh-sungguh bersiap menghadapi musuh yang tak pernah ada dalam cerita dan tak tampak wujud? Ya. Hargai itu. Sambil berharap agar 'barang ini' tidak dipakai untuk pencitraan. Uhukkk.

Hargai bahwa beberapa orang tetap harus ada di jalanan. Sebab mereka harus mencari makan. Tak perlu dimaki-maki. Diingatkan saja. Bahwa mereka rentan. Dan untuk itu mereka harus patuh aturan. Protokol kesehatan sudah beredar luas. Agar kita tak jadi carrier. Atau korban.

Hargai bahwa pengetahuanmu terbatas. Karena itu jangan memaksakan diri. Untuk bicara. Atau melakukan sesuatu. Sebab ini berat. Dan tak semua bisa jadi Google. Atau Dylan.

Hargai bahwa tidak setiap niat baik harus ditunjukkan dengan menyingsingkan lengan baju. Kadang bahkan harus pakai baju lengan panjang. Piyama. Lalu bisa rebahan saja. Iya to? Sebab selalu ada kebaikan-kebaikan yang tidak terlampau baik. Sebab memang semua sedang terbalik. Yang dulu dianggap malas, sekarang pahlawan. Yang dulu kuper, sekarang super. Sebab kadang harus begitu. Sebab goyong royong, sekarang, berarti jangan terlalu sering berkumpul. Agar musuh tak dapat inang.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Lihat juga serial "Kota Ruteng dalam Koper"


Main Bola Paskah

Selamat Pesta Paskah bagi kita semua. Tahun 2020 ini, Paskah dirayakan secara domestik. Misa disuguhkan ke rumah-rumah umat via media dalam jaringan. Via radio. Via televisi. Memaksa kita memanggil cerita lama. Tentang Paskah pada tahun-tahun dulu. Yang dirayakan dengan meriah. Dan ada turnamen: main bola paskah.

main bola paskah
Sa pernah jago main bola Paskah :-D

Main Bola Paskah


Hari ini hari Minggu. Tanggal 12. Bulan April. Tahun 2020. Bukan hari Minggu Biasa. Ini hari Minggu Paskah. Bukan juga Minggu Paskah sebagaimana biasa. Tak ada umat yang beramai-ramai ke Gereja. Tak ada yang berkeliling ke rumah-rumah untuk saling ucap selamat. Tak banyak daging babi yang laku di pasar. Sebab orang-orang diminta berhati-hati. Dan memang mesti begitu. Ke pasar, membeli sekilo daging babi? Meski dapat dilakukan dengan sangat berhati-hati, tetap saja bukan pilihan yang buat kita bersukacita penuh. Mesti hati-hati, dan berbelanja daging dengan terlampau hati-hati rasanya bukan pilihan yang menarik. Tetapi ini tetap Hari Minggu Paskah.

Ah, iya. Paskah. Minggu Paskah. Saya ingat. Tentang turnamen sepak bola di kampung. Pada hari ini, biasanya, setelah Misa ada partai final. Final sepak bola. Sebab final pertandingan voli sudah dilakukan pada hari Sabtu sore. Agar pada hari Minggu semua konsentrasi diarahkan ke satu titik. Di lapangan pusat paroki. Ramai. Pentekosten juga begitu. Riuh.

Penonton menyemut. Di pinggir lapangan. Lengkap dengan baju gereja. Sepatu sudah semir atau sandal-sandal jepit baru. Mengkilap. Menanti dua kesebelasan lopas ke lapangan. Dari sudut-sudut yang telah dipilih oleh orang tua. Ata ba loho. Kami di Rego bilang begitu. Tugasnya adalah memikirkan rute lopas agar tak ada sial menimpa pemain saat bertanding. Para pemain harus percaya. Karena yang jadi ata ba loho adalah orang berpengalaman.

Saya ingat. Selalu ada di penutup barisan. Baju nomor punggung 10. Lari penuh gaya. Di pundak saya (atau di kaki?) telah dititipkan nama besar klub. GEMPAR. Nama klub yang hebat sekali. Menggetarkan. Menawarkan garansi bahwa kami akan mengguncang lapangan. Menggemparkan. GEMPAR: Gerakan Pemuda Paurundang. Yang sungguh-sungguh muda hanya saya dan dua atau tiga orang lain. Selain itu, umurnya sudah tidak muda lagi. Saya punya Om, saya punya Bapakoe, dan lain-lain. Sebuah kenyataan yang juga bikin gempar; pemuda tapi sudah tua. Tapi begitulah di kampung. Semua terlibat dalam sukacita gereja.

Dan nomor punggung 10? Itu semacam tahbisan bahwa kau adalah yang terbaik di tim. Adalah Maradona, Pele, Batistuta, Ronaldo (yang dari Brasil itu), Kurniawan Dwi Yulianto selalu pakai nomor punggung sepuluh. Mereka jago. Benang itu ditarik sampai ke Paurundang. Ke kampungnya Muder Yuliana. Mama saya yang selalu menonton setiap pertandingan kami. 


Pluit ditiup. Oleh Kaka Rikus Gulmin. Wasit terbaik di paroki kami pada zamannya. Paroki St. Markus Pateng. Saya meliuk-liuk. Di lini depan. Berteriak-teriak mengatur saya punya Om, Bapakoe, Ka'e-ka'e. Memaksa mereka berlari sekuat saya. Mereka ngos-ngosan. Tapi penuh semangat. Menyuplai bola ke titik saya menunggu.

Kami melawan PS Lamba Nanga. Salah satu klub terbaik di paroki itu. Saya dapat 'bola lomba' dari Bapa Fabi. Yang sebelumnya mendapat sorongan bola dari Om Sel. Fuiiit. Saya lari. Baku sikut dengan Om Pe. Bek tim lawan yang pendek tapi gesit. Saya menang. Dan di depan saya, ada Om Nabas Nala. Penjaga gawang paling 'lekat' kala itu. Saya berdebar-debar. Keputusan harus segera dibuat. Wow! Menegangkan sekali. Dalam versi slow motion barangkali akan terlihat jelas saya punya bibir bergetar. Merapal doa. "Bunda tolong!"

Dan bola saya sorong saja. Ke sudut. Om Nabas tidak bisa berkutik. Kurang sigap 'merayap'. Gooool.... Itu gol pertama. Dari 7 gol yang saya cetak sendiri pada pertandingan itu.

Oh, iya. Itu bukan partai final. Itu pertandingan pertama kami. Dan membuat kegemparan terus terjadi sepanjang turnamen. Saya jadi pencetak gol terbanyak. 17 gol. Dalam satu turnamen. Pele dan Maradona pernah bikin berapa banyak?


Kami juara 3 di akhir turnamen. AIR juara 2. Anak Istana Rego. Jasa Samudra juara 1. Klub baru dari Pogol yang berisi Teus Maleng dan beberapa pemain hebat lainnya. Itu masa yang indah sekali. Pada akhir 90-an. Ketika setiap pemain bola akan jahit ulang sepatu bola karena akan ikut 'main bola paska'.

Tahun ini sepi. Tidak ada lagi turnamen. Orang-orang tetap bertanding. Tetapi dengan cara yang lain. Berjuang memenangkan pertarungan melawan sepi. Jauh lebih sulit sebab tak ada sorak-sorai. Semua kemeriahan disarankan hanya boleh terjadi secara domestik. Di masing-masing rumah saja. Siapa yang bertahan adalah yang akan menang. Melawan wabah. Corona. Tak ada lagi saran a la sepak bola Brasil: menyerang adalah pertahan terbaik. Kini dibalik. Bertahan adalah serangan terbaik. Dan harus.

Rasanya tak ada yang pernah menduga sebelumnya. Siapakah yang pernah membayangkan bahwa pintu-pintu gereja akan ditutup pada hari Paskah? Dan masih akan ditutup juga hingga wabah ini selesai. Tak boleh ada yang berkumpul. Jaga jarak fisik. Tetapi hati harusnya tetap dekat. Saling mendoakan. Dan merayakan apa saja secara meriah. Jangan tanya bagaimana merayakan sesuatu dengan meriah dalam hati. Semua rasanya bisa melakukannya. Seperti bersorak-sorai dalam hati, menari-nari dalam hati, ketik gebetan tersenyum pada kita di suatu kesempatan setelah sekian tahun kita menunggu senyuman itu. Enaaaak.

Ah... Paskah. Minggu Paskah. Hari ini. Tuhan bangkit. Kami mengenangnya. Dia telah mengalahkan maut. Kami selalu mengulang-ulang kebenaran itu. Dan dia akan menampakkan dirinya. Di Galilea yang sederhana. Di rumah-rumah kecil kita. Dan melindungi. Dan menolong kita memenangkan ini semua. Pertama-tama dengan menghilangkan kecemasan.

"Bunda tolong!" Saya ingat. Menggumamkan itu sembari menggerakkan kaki, menyentuh bola, mengarahkannya ke gawang Om Nabas. Sudut kanan. Dan gol. Dan tahu bahwa berdoa dan bekerja itu baik sekali. Bahwa sekarang, bekerja berarti diam di rumah, kita harus melakukannya. Untuk menang.

Salam
Armin Bell
Ruteng - Flores

Hari Raya Paskah 2020

Beberapa hal tentang menulis dapat dilihat: CREATIVE WRITING

Setelah Covid-19, Apakah Kita Sanggup Lebih Sering Diam?

Covid-19 ini memang menyerang semua sisi. Ekonomi, politik, sosial, budaya, psikologis, pantat, dan lain sebagainya. Juga membuat kita saling serang. Orang di kota kecil macam kami ini, yang hingga saat ini bukan daerah terpapar, merasa begitu terganggu dengan arus kepulangan yang besar.

setelah covid-19 apakah kita sanggup lebih sering diam
Di Rumah Saja

Setelah Covid-19, Apakah Kita Sanggup Lebih Sering Diam?


Saya baca The Pandemic is A Portal dan serentak merasa begitu kacau. Beberapa jam sebelum menemukan catatan Arundhati Roy ini, saya tertawa (bahkan hingga terpingkal-pingkal) mendapat kiriman meme tentang Covid-19 di India: ratusan orang terdata positif corona, jumlah yang meninggal dunia karena pandemi itu nol, dan yang pantatnya bengkak lebih dari lima ribu orang. Saya tertawa sebab itu terasa lucu sekali ketika itu; sebelumnya saya berkali-kali menyaksikan flash video tentang bagaimana para polisi di India memukuli pantat orang-orang yang berkerumun atau melintas di jalan dengan pentungan. 

Saya merasa senang karena akhirnya bisa tertawa setelah cukup lama dibekap kecemasan. Hingga saya menulis ini, NTT belum masuk dalam zona merah. Provinsi kami itu bukan daerah terpapar. Hanya ada dua yang masih "bersih". NTT dan Gorontalo. Semula saya senang. Lalu menjadi cemas; orang-orang ramai bertanya: apakah benar nol atau karena tidak berhasil diketahui? Alat-alat yang diperlukan untuk mendeteksi virus itu tidak tersedia di NTT. Untuk tahu hasil tes swab tenggorokan saja, sampai PDP 1 dari Kabupaten Manggarai meninggal dunia--dan itu sudah berhari-hari yang lalu (semoga dia beristirahat dalam kedamaian abadi), kami diminta menunggu dengan sabar. Maka 'hiburan' dari India sedikit menghibur.

Namun ternyata tidak lama perasaan terhibur itu bertahan. Atau memang barangkali begitu. Di masa pandemi seperti ini, tidak ada yang bertahan lama. Protokol kesehatan saja sudah mengalami revisi beberapa kali hanya dalam waktu dua mingguan. Masa 'liburan sekolah' telah diperpanjang. Keputusan-keputusan berubah cepat. Kesedihan dapat mudah 'diselewengkan' menjadi lelucon. Tertawa yang terpingkal-pingkal dengan segera menjadi perasaan yang kacau. 

Dengan sedikit 'memahami' betapa cepatnya situasi-situasi berubah, saya berjuang menikmati saja kekacauan perasaan saya. Astaga... Sudah lebih dari sebulan terakhir ternyata saya kerap mengalaminya (lihat tulisan ini untuk tahu kekacauan lainnya) dan saya harus tetap berjuang. Lalu kita tahu bahwa di setiap ujung usaha, ada berhasil, ada gagal. Saya dapat yang terakhir. Gagal menikmati kekacauan perasaan dan mendapati hal yang lebih buruk lagi: kekacauan itu berlipat ganda, bersenyawa dengan kecemasan, meningkatkan asam lambung. 


The Pandemic is A Portal adalah tulisan yang mengiris-iris sejak paragraf-paragraf awal. Mewakili begitu banyak 'kebenaran'. Arundhati Roy menulis: .... Who can think of kissing a stranger, jumping on to a bus or sending their child to school without feeling real fear? Who can think of ordinary pleasure and not assess its risk? Who among us is not a quack epidemiologist, virologist, statistician and prophet? Which scientist or doctor is not secretly praying for a miracle? Which priest is not — secretly, at least — submitting to science?.... (lihat selengkapnya di: https://www.ft.com/content/10d8f5e8-74eb-11ea-95fe-fcd274e920ca). 

Saya mengangguk-angguk setuju membaca bagian itu sembari menata lagi letak ketenangan bathin saya pada tempatnya. Saya jelas merasa begitu terwakilkan pada bagian ...sending their child to school without feeling real fear. Saya membayangkan, misalkan waktu 'sekolah di rumah' tidak direvisi dan Rana-Lino harus masuk sekolah tanggal 6 April kemarin, asam lambung saya barangkali naik melampaui kepala dan saya sekarat oleh ketakutan sendiri. 

Hanya saja, bukan bagian itu yang membuat tulisan Arundhati Roy ini sungguh menampar. Ada bagian lain. Tentang lockdown. Di India. Yang membuat orang-orang pinggiran tiba di bagian paling luar dari garis tepi.

Singkatnya begini kira-kira. Agar Covid-19 tidak menyebar, pemerintah 'sigap' membuat kebijakan. Ya (sebut saja) lockdown itu tadi. Bus-bus dan angkutan penumpang lainnya dilarang beroperasi. Perusahaan-perusahaan tutup. Orang-orang dilarang berkerumun. Mereka-mereka itu, yang sering berkerumun itu, adalah yang sudah tak lagi bekerja: tidak lagi dapat penghasilan. Mereka diusir. Dipukuli pantatnya (seperti yang kita lihat di video-video itu). Padahal, barangkali, mereka sedang mengumpulkan semacam kekuatan sosial (atau psikologis?)--saling menguatkan. Tetapi berkumpul di masa corona adalah kesalahan sebab melawan aturan negara. Negara yang juga tidak tahu bagaimana agar orang-orang pinggiran itu tetap hidup ketika mereka tiba di garis tepi. Di kampung-kampung kumuh yang juga padat. Asal jangan di tempat umum. Mungkin begitu pemerintah di sana berpikir.

Dan, laparlah mereka. Dijauhkan dari kerumunan, tinggal di permukiman yang padat, tanpa stok makanan yang cukup, tanpa pengetahuan yang memadai tentang 'kapan pandemi ini selesai?' mereka ingat rumah. 

Mereka pulang. Berjalan kaki. Dengan kesadaran bahwa mereka mungkin akan menjadi carrier virus itu ke keluarga mereka. Mereka harus pulang. Ke kampung. Ke Opa-Oma (kelompok paling rentan pada masa pandemi ini). Mereka harus dapat makan, kalau bukan cinta. Sebagian meninggal dunia dalam perjalanan. Sebagian ditolak kembali ke kota setelah dipukul pantatnya oleh petugas keamanan di perbatasan. D*mn! Arundhati Roy memilih kalimat-kalimat yang 'meningkatkan kekacauan' perasaan saya: They knew they were going home potentially to slow starvation. Perhaps they even knew they could be carrying the virus with them, and would infect their families, their parents and grandparents back home, but they desperately needed a shred of familiarity, shelter and dignity, as well as food, if not love.

Begitu kacau di India. Begitu kacau. Semakin kacau. Perasaan saya. Sebab di artikel itu juga diceritakan tentang Perdana Menteri yang membagikan video yoga sebagai panduan bagi masyarakat agar tidak tertekan pada masa pandemi ini: bersenamlah. Faaaak!

Covid-19 ini memang menyerang semua sisi. Ekonomi, politik, sosial, budaya, psikologis, pantat, dan lain sebagainya. Juga membuat kita saling serang. Orang di kota kecil macam kami ini, yang hingga saat ini bukan daerah terpapar, merasa begitu terganggu dengan arus kepulangan yang besar. Anak-anak kami di daerah terpapar, ramai-ramai pulang. Untuk macam-macam alasan. Ada yang tidak bisa bekerja lagi karena perusahaan-perusahaan tutup, ada yang takut bahwa jika mereka bertahan maka mereka akan terpapar, ada yang pulang sebab rumah adalah tempat paling aman di dunia, dan ada yang tersinggung sebab di beranda media sosial mereka sekian banyak orang memaki-maki para pemudik/pengungsi. Semua tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling menderita. Dan serentak sama-sama berdoa agar pandemi ini segera berlalu.


Itu baik. Mendoakan agar rantai corona ini terputus. Setelahnya? Ini adalah soal yang sesungguhnya lebih serius. Setelah semua 'kekacauan' ini, apakah kita akan dapat kembali seperti semula; berpesta, bergandeng tangan, berpelukan, membiarkan anak-anak bermain di sekolah dengan bahagia dan kita yang lain kembali bekerja?

Saya sedang memikirkannya sekarang. Pada hari Kamis Putih ini. Sembari mengenang hari lahir Ekaristi. Juga membayangkan Pilatus yang mencuci tangan. Ah... Cuci tangan. Kita sering melakukannya akhir-akhir ini. Agar bersih. Atau agar tampak bersih? 

Saya kira, kita semua bertanggung jawab. Bertanggung jawab memutus rantai penyebaran wabah ini. Memutus rantai penyebaran wabah ini dengan cara yang paling mudah: diam. Di rumah saja juga berarti di dalam diri sendiri saja, bukan? Diam tentu bukan sikap kita yang biasa. Tetapi ini bukan virus yang biasa. Seperti Arundhati Roy bilang, pandemi ini seperti portal. Mari tangkap saja maksudnya sebagai: gerbang menuju relung diri yang paling dalam--memikirkan bahwa dengan diam saya membantu menyelematkan orang lain. Agar kita tak selalu (terlampau berjuang) memikirkan 'ini salah siapa' pada setiap soal yang kita pikir tidak beres. Siapa tahu, di dalam diam itu, kita sadar bahwa kita terlibat di dalam penciptaannya. Penciptaan soal itu.

Aishhh.... Tulisan ditutup dengan kacau ya? Saya bisa apa?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Lihat artikel tentang Public Speaking:

Hadapi Corona, Jaga Jarak (Media) Sosial

Selain fakta bahwa Covid-19 telah menyebabkan ribuan kematian, wabah corona juga telah membuat banyak sekali orang yang hidup dalam kecemasan. Saya mengalaminya dan memutuskan menyembuhkan kecemasan itu dengan menjauh dari media sosial. Ya, saya lakukan social media distancing.
Distance | Foto: Kaka Ited

Hadapi Corona, Jaga Jarak (Media) Sosial


Rasanya, ini adalah masa yang cukup berat dalam hal 'saya dan tulis-menulis'. Saya ingat, beberapa bulan yang lalu membuat niat agar menulis lebih giat. Saya buka lagi draf novel yang telah telantar beberapa tahun lamanya. Mulai menambah seribu sampai seribu lima ratus kata sehari. Mula-mula bisa. Saya percaya diri. Lalu mengkerut karena pada hari keempat saya gagal. Saya tinggalkan (lagi) naskah itu dan beralih ke babak yang lain.

Saya kumpulkan cerpen-cerpen yang sudah selesai. Baik yang sudah disiarkan di media-media, maupun yang sudah saya kirim ke para redaktur tapi tak kunjung dapat balasan--tetapi cerpen itu saya anggap sudah selesai. Lumayan banyak. Bisa jadi dua kumpulan cerpen (dari segi jumlah) tetapi setelah dipisah berdasarkan benang merah tertentu, saya harus: tambal sulam lagi atau bikin tambahan beberapa cerpen 'biar dapat benang merahnya'. Bagian terakhir ini adalah yang paling sulit.

Untunglah saya sedang bersemangat dan cukup percaya diri sehingga dengan segera melakukannya. Sialnya, saya tidak berhasil. Menulis cerpen baru berdasarkan keinginan agar 'benang merah' cerita sesuai dengan sebagian besar cerpen yang hendak dikumpulkan ke satu antologi itu sulit. Kesulitan yang sama selalu juga saya temui setiap kali ingin turut serta dalam lomba-lomba penulisan yang tema-nya telah ditentukan panitia. Lalu saya tinggalkan niat itu (semoga untuk sementara) dan mengerjakan hal lain. Yang juga sulit.

Beberapa waktu lalu, Panitia Lomba Cerpen Bertema Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)--diselenggarakan oleh Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose dan Bacapetra.co--menghubungi saya. Mereka hendak membukukan beberapa naskah peserta lomba dalam satu buku. Saya bersama beberapa penulis NTT yang lain diminta untuk 'sumbang cerpen' agar jumlah cerpennya cukup untuk satu antologi. Saya menyatakan bersedia. Mereka mengeluarkan pengumuman; nama saya ada di sana sebagai 'penulis tamu'. Artinya, saya harus menyumbang satu cerpen. Bertema ODGJ. Saya sudah bilang kalau menulis dengan tema yang disiapkan orang lain itu sulit, bukan?

Baca juga: Jeff Goins: Penulis Tidak Boleh Puas dengan Karyanya

Memang sulit. Tetapi saya berjuang. Hampir selesai cerpen itu ketika datang situasi besar. Coronavirus Disease (Covid-19) menyerang. Seluruh konsentrasi mendadak ditarik ke sana. Mendadak ditarik, barangkali bukan term yang tepat. Sesungguhnya saya, sebagaimana sebagian besar manusia di Indonesia, mau tidak mau akhir-akhir ini, harus mengisi detik demi detik hidup ini dengan percakapan tentang virus corona.

Social atau Physical Distancing, ODP, PDP, APD, Terpapar, Disinfektan, Work from Home, dan beberapa istilah lagi rebut-merebut tempat di kepala saya; menggeser ODGJ, Multiple Personality Disorder, Dissociative Identity Disorder, dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan pengumpulan bahan penulisan cerpen.

Seketika saya panik. Asam lambung naik serentak sebab sumber kepanikannya ada dua. Pertama, Covid-19. Kedua, cerpen ODGJ itu akan gagal. Seolah dua sebab itu belum cukup, media-media berlomba-lomba menulis berita yang judulnya bikin panik. "Gawat! Tenaga Kesehatan Tanpa APD Memadai Urus PDP Covid-19"; "Inilah yang Terjadi pada Paru-Paru Perokok Jika Terjangkit Virus Corona"; "Bertambah Lagi Jumlah ODP Covid-19, Warga Minta Tutup Pintu Kedatangan", dan banyak judul dengan tipe yang mirip.

Judul-judul tadi tidak persis begitu. Tetapi yang saya tangkap, nuansanya begitu. Sebab ketika di-share para netizen, kengerian ditambahkan. Asam lambung saya seperti malas turun. Dan siapa saja yang pernah mengalami 'naik asam lambung' ini pasti tahu bahwa situasi begitu akan dengan segera memicu meningkatnya. Saya menjadi lebih mudah panik.

Baca juga: Information Overload dan Wartawan yang Mati Karena Media Sosial

Suatu malam, setelah selesai membaca satu tautan yang berisi kabar bahwa virus berkembang biak lebih cepat pada kondisi lembab dan gelap, listrik. Gelap total kota kami. Dan Ruteng adalah kota yang selalu basah. Tuhan Yesuuuus. Itu adalah malam paling buruk dalam hidup saya sepnjang bulan Maret tahun 2020 ini. Saya merapal doa. Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, sa habok satukaligus. Kadang tertukar-tukar sebab saya cemas sekali; bapakami yang ada di surga, terpujilah engkau di antara wanita yang disalibkan pada masa pontius pilatus.... Aduh! Ampuni saya, Bapa!

Pagi, saya bangun dengan kondisi yang buruk. Mencuci tangan dengan antiseptik, berulang-ulang, padahal saya baru bangun tidur dan tidak bersalaman dengan siapa-siapa sebelumnya. Beberapa jam setelahnya saya sadar. Ini buruk. Tidak boleh dibiarkan.

Saya lalu memutuskan merunut asal mula kecemasan berlebih itu. Jarang sarapan; saya segera sarapan. Kurang fit; saya segera minum vitamin. Setelah sarapan tentu saja. Baca berita tentang virus corona; saya segera putuskan: hanya baca dari sumber yang tepat dan benar. Saya lakukan semuanya. Hasilnya? Lumayan membaik.

Baca juga: Asal Ikut "Trending Topic", Jalan Pintas Menuju Puncak Kebebalan Bermartabat

Saya kurang waktu di media sosial. Cara itu terbukti ampuh sekali. Saya perlahan kembali ke titik yang baik. Kecemasan berangsur mengurang. Saya lanjutkan beberapa pekerjaan menulis (termasuk menulis catatan ini) dan menyelesaikan utang menulis cerpen ODGJ. Sudah selesai cerpen itu. Paling tidak saya pikir demikian. Kini sudah ada di tangan panitia. Mungkin sedang dibaca editor dan saya dengan santai menunggu saran penyuntingannya.

Meski sesekali sedih, saya juga senang bahwa social atau physical distancing benar-benar dipatuhi oleh kawan-kawan saya. Ketika sedang menulis ini, saya sedang merindukan beberapa teman ada di sekitar meja kerja saya, bernyanyi, curhat, berbagi sopi dan rokok sebagaimana biasa. Tetapi tentu saja kami tidak bisa melakukannya sekarang. Semua harus tetap di rumah masing-masing sampai masa sulit ini selesai. Saya berharap, mereka mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan dan mulai mengatur jarak dengan media sosial. Itu baik. Social Media Distancing. Dan mulailah cari sumber berita yang tepat tentang Covid-19.

Tetap sehat. Tetap jaga penjarakan sosial. Jangan lupa bahwa pandemi ini akan cepat berakhir jika kita sama-sama melaksanakan himbauan tentang protokol kesehatan di masa sulit ini.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan-catatan lain tentang JURNALISTIK dapat dilihat di tautan ini!

Tahbisan Uskup Ruteng dan Betapa Kacaunya Perasaan Saya

Misa Pentahbisan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat akan dihadiri oleh jauh, jauh, jauh lebih banyak dari 30 orang. Ribuan orang yang akan berkumpul. Dari seluruh penjuru negeri. Mengapa kami harus pergi dan mengikuti 'pertemuan' seakbar itu?
Ruteng

Tahbisan Uskup Ruteng dan Betapa Kacaunya Perasaan Saya


Kamis, 19 Maret 2020, kami bersiap-siap ke Gereja Katedral Ruteng. Saya dan istri. Anak-anak tidak kami ajak sebab sebelumnya kami telah tahu bahwa Covid 19 sedang menyebar dan telah disarankan bahwa pertemuan publik yang melibatkan lebih dari 30 orang sebaiknya tidak dilakukan. Di berita-berita tertulis begitu. Beberapa edaran juga begitu. Corona berbahaya. Kita tahu!

Misa Pentahbisan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat akan dihadiri oleh jauh, jauh, jauh lebih banyak dari 30 orang. Ribuan orang yang akan berkumpul. Dari seluruh penjuru negeri. Mengapa kami harus pergi dan mengikuti 'pertemuan' seakbar itu?

Istri saya bertugas di Pojok Sehat. Bersama puluhan tenaga medis lainnya. Mereka, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, diberi tugas untuk memastikan bahwa seluruh protokol kesehatan yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai antisipasi virus corona dapat dijalankan; setiap orang yang hendak mengikuti misa pentahbisan itu wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh dan tangan mereka 'di-hand sanitizer-kan'. Itu protapnya. Tentu saja tidak akan pernah menjamin bahwa segalanya akan beres dengan dua hal itu sebab kita sungguh-sungguh tahu bagaimana corona ini bekerja. Mendapat tugas artinya, Celestin harus ke gereja.

Saya? Mengapa harus ikut juga? Duh... Bagaimana menjelaskannya?

Sejak beberapa bulan silam, saya adalah bagian (kecil) dari perayaan pada hari Kamis ini. Anggota panitia. Yang pada beberapa hari menjelang hari puncak, mau tidak mau, harus selalu ada di lokasi; memastikan bahwa acara berlangsung, memastikan bahwa para tamu duduk pada tempat yang telah ditentukan, memastikan bahwa beberapa pihak yang membutuhkan informasi tentang pentahbisan itu dapat segera memperolehnya dari sumber yang tepat. Semacam penghubung (sebut saja begitu). Artinya, saya harus ke gereja.

Selain 'alasan pekerjaan' itu, menghadiri misa pentahbisan adalah yang utama. Sampai kami menyiapkan diri pada Kamis pagi itu, tidak ada informasi bahwa misa dibatalkan. Beberapa menit sebelum tidur pada malam sebelumnya pun tak ada.

Tak adakah satu saja informasi yang berhubungan dengan Corona dan Pentahbisan Uskup Ruteng ini? Ada.

Satu atau dua hari sebelumnya, Mgr Silvester San, dalam hari-hari terakhir bertugas sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng telah mengeluarkan Himbauan Pastoral. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang wajib diperhatikan. Termasuk tidak bersalaman ketika menyambut tamu yang datang dari jauh; menggantinya dengan mengatupkan dua tangan di depan dada sambil setengah membungkuk. Tidak mengurangi rasa hormat dan tetap menunjukkan keramahan. Hal lain adalah himbauan agar yang sedang 'tidak enak badan' sebaiknya tidak menghadiri Misa Pentahbisan. Poin ini berangkat dari kesadaran bahwa yang imun-nya tidak baik akan lebih mudah terpapar corona. Tak ada yang mampu memastikan bahwa tak seorang pun di misa itu yang adalah carrier, bukan?

Ada juga informasi lainnya, yakni: Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai melakukan pengecekan suhu tubuh dengan menggunakan thermo-gun kepada setiap orang yang masuk ke Kabupaten Manggarai melalui jalur darat, laut, dan udara. Sebuah keputusan yang baik meski juga membuat saya bersedih sebab tak bisa bersalaman dengan Kardinal ketika menyambutnya di Bandara Frans Sales Lega. Demi kesehatan. Juga karena saya berjuang mematuhi protokol khusus yang telah diputuskan.

Baca juga: Saya Novena, Saya Berhasil, Mereka Tertawa

Tiba di gereja, setelah memastikan bahwa tugas saya di bagian awal sudah beres dan misa belum dimulai, saya lihat HP dan di sana ada berita: BNPB meminta agar agenda pentahbisan ini, yang melibatkan ribuan orang, dibatalkan. Saya kaget, sedih, terpukul, dan macam-macam lagi. Negara telah meminta (secara resmi?) tetapi kami melanggarnya. Duh...

Saya cari lebih banyak informasi. Hendak memastikan bahwa larangan itu telah tiba sejak lama dan panitia dengan sengaja mengabaikannya. Tidak ada informasi yang saya butuhkan itu. Belakangan saya tahu bahwa hingga berita itu viral dan beberapa jam setelahnya, tak ada surat seperti itu yang masuk, baik ke panitia, ke Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, pun ke KWI. Barangkali dalam bentuk pesan WhatsApp yang dikirim dan tiba dinihari, sesuatu yang membuatnya menjadi begitu dilematis.

Maksud saya, misalkan benar begitu, bahwa pesan soal larangan menggelar misa itu datang dinihari, bagaimana melaksanakannya?

Pertama, katakanlah Mgr. Silvester San memutuskan untuk melakukan langkah 'pembatalan', pada jam berapakah pada hari Kamis pagi itu pengumuman pembatalan itu disiarkan? Umat-umat barangkali sedang bersiap-siap ke gereja, sedang dalam perjalanan ke gereja, atau bahkan sudah ada di gereja ketika pengumuman itu keluar. Secara publikasi, tentu saja itu (mengumumkan pembatalan sesuai anjuran pemerintah pusat) akan membuat Gereja Lokal Keuskupen Ruteng tampak heroik, tetapi sudah banyak orang berkumpul. Kemungkinan risiko tetap tak terhindarkan.

Kedua, yang terjadi adalah Misa Pentahbisan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat tetap dijalankan. Dan oleh karena kesadaran bahwa pertemuan besar ini terjadi di masa dunia sedang diserang pandemi Corona, protokol kesehatan (yang telah disiapkan beberapa hari sebelumnya) dijalankan dengan sangat maksimal. Saya berjalan di samping rombongan para imam yang berarak menuju Gereja dan melihat para petugas kesehatan melakukan tugas mereka: menyemprot hand sanitizer ke tangan para imam itu, ke tangan saya, juga ke tangan umat-umat yang mulai berdatangan. Tenaga kesehatan yang memegang thermo gun juga melaksanakan tugasnya.

Misa berlangsung. Agung. Koor menyanyi indah sekali. Saya pikir, saya terharu. Entahlah. Bukankah telah saya ceritakan bahwa perasaan saya kacau? Misalnya, saya senang mendapati berderet-deret kursi yang disiapkan panitia tampak kosong. Banyak yang tidak datang. Mungkin sedang kurang fit dan mematuhi Himbauan Pastoral yang telah disebar sebelumnya. Bisa juga karena kesadaran bahwa mereka tak perlu hadir karena bahaya Corona mengintai. Saya juga sedih membayangkan Gereja Lokal Keuskupan Ruteng akan 'dibantai' di media sosial karena 'tidak pro kemanusiaan'. Saya juga menggoyang-goyangkan kepala dengan riang sebab pukulan gendang pada beberapa lagu liturgi--sebagian besar lagu misa dalam bahasa Manggarai--begitu indah. Campur aduk.

Baca juga: The Two Popes, Naskah yang Hebat dan Dua Aktor yang Sempurna

Saya ceritakan situasi 'perasaan kacau' itu pada istri saya setelah misa. Setelah membaca komentar-komentar (yang telah saya duga sebelumnya) pedas: demi tahbisan uskup, gereja menempatkan ribuan nyawa dalam bahaya. Komentar yang tentu saja secara maksud sangatlah benar, tetapi mungkin, sekali lagi: mungkin, begitu emosional dan terburu-buru. Ada situasi-situasi dilematis. Beberapa orang, atau pihak-pihak yang memiliki otoritas yang tepat pasti akan mampu menjelaskan ini dengan baik. Terutama tentang mengapa gereja mesti menunggu surat resmi? Atau, mengapa yang berkewenangan membuat surat resmi itu tidak menulis surat itu jauh-jauh hari sebelumnya padahal rencana tahbisan ini sudah berulang kali tersiar di berbagai media massa sejak beberapa waktu yang lalu?

Celestin terdiam. Perasaannya tentu saja sedang kacau juga. Jika benar begitu maka saya pasti lebih kacau lagi sebab saya mencintainya dan jika dia bersedih maka saya akan dua kali lebih bersedih berarti dia akan empat kali lebih bersedih lagi dan saya enam belas kali lagi jumlahnya, dan sampai kapan? Tambahkan jumlah kekacauan itu dengan melihat betapa 'ngerinya' kita beradu pendapat tentang peristiwa ini dan lupa bahwa dia sudah terjadi dan seharusnya yang kita pikirkan adalah hari-hari berikutnya.

Ya. Hari-hari berikutnya. Ketika kita, dengan kesadaran masing-masing, memutuskan untuk membuat social distancing; dapatkah kita melakukannya dengan baik?

Hari-hari berikutnya akan sedikit sulit di rumah kami. Beberapa hari sebelum pentahbisan ini, saya dan Celestin bicara tentang hal lain.
"Istirahat dulu praktik, Ma."
"Berapa lama?" Tanyanya. "Saya juga pikir begitu. Sudah ada himbauan juga dari PDGI. Tapi berapa lama?"
Saya terdiam. Berapa lama? Ini pertanyaan yang penting. Istirahat praktik berarti pendapatan rumah tangga akan serentak berhenti. Bagaimana tagihan-tagihan kami? Di lembaga-lembaga keuangan, di toko-toko bahan bangunan, dan lain-lain. Bagaimana beras?

"Pa, saya istirahat praktik mulai hari ini," katanya siang tadi. Setelah Misa Pentahbisan. Dia dokter gigi.
Saya setuju. Tidak juga bertanya: untuk berapa lama?

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, di Koperasi Kita Menolong

Dan, yang tertinggal adalah betapa kacaunya perasaan saya. Bagaimana mengatasinya? Saya kirim pesan WA kepada seorang pastor. Meminta doa. Bukan semata agar 'situasi corona' ini segera berlalu. Yang terutama adalah agar saya tidak hidup dalam kecemasan. Sebab hidup dalam kecemasan itu kacau sekali. Padahal kekacauan akan membuat kita sulit berpikir dengan baik sedangkan pikiran yang baik adalah yang paling kita butuhkan pada saat-saat seperti ini.

Saya tidak tahu bagaimana wajah tulisan ini. Saya ingin sekali menulis peristiwa hari ini dengan jernih. Untuk itu, seharusnya saya mengambil jarak. Tidak segera menulis pada saat ini. Tetapi, Pentahbisan Uskup Ruteng hari ini dan betapa kacaunya perasaan saya membuat saya harus menulis segera. Saya berharap bisa mengalami sedikit kelegaan setelah melakukannya. Setelah mengatakannya. Setelah menuliskannya. Meski barangkali dengan struktur yang amburadul dan dengan perspektif yang tidak jernih. Lalu kita berdoa. Menyembuhkan kecemasan-kecemasan.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kita Punya Pesta Demokrasi Itu Begitu; Tidak Perlu Umbar Pujian atau Cari Muka

Kita punya pesta demokrasi selalu asyik sebab berisi banyak sekali hal-hal menarik.
Kita Punya Pesta Demokrasi Itu Begitu; Tidak Perlu Umbar Pujian dan Cari Muka
Kampanye

Kita Punya Pesta Demokrasi Itu Begitu


Banyak sekali daerah di negeri ini yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan pada tahun 2020 ini. 270 daerah tepatnya. Dengan perincian: pemilihan gubernur dan wakil gubernur sebanyak sembilan, pemilihan walikota dan wakil walikota terjadi di 37 kota, dan masyarakat di 224 kabupaten (diharapkan oleh kakak-kakak kita di Komisi Pemilihan Umum) akan berbondong-bondong penuh sukacita ke tempat pemungutan suara untuk memilih bupati dan wakil bupati kecintaan mereka.

Soal pesta demokrasi, meski istilah ini jadul sekali—diperkenalkan Pak Harto pada tahun 1982 (baca ceritanya di tautan ini) –tetap saja asyik dipakai sampai zaman ini. Sebab selain berbondong-bondong ke TPS pada tanggal 23 September 2020, sejak beberapa bulan sebelum itu, kemeriahan telah terjadi di kantong-kantong pemenangan a.k.a sekretariat para pasangan calon. Sampai larut malam, kadang seperti pesta-pesta nikah di Flores; tembus pagi, kaka!

Kesibukannya macam-macam. Ada tim yang serius mengutak-atik data-data statistik, data hasil utak-atik itu lalu diteruskan di tim khusus yang dipercaya mampu merancang strategi kampanye, rancangan itu di-breakdown menjadi rencana kerja kampanye, dan lain-lain. Tidak lupa pula—bahkan kelompok ini justru yang paling merayakan kemeriahan kesibukan itu—mereka yang datang dengan optimisme setinggi Gunung Ranaka, mengacungkan jempol setiap ada kesempatan bertemu langsung calon yang diusung, dengan kata-kata sakti: kita satu putaran, bapa! Yang dipanggil ‘bapa’ tentu saja angguk-angguk dengan senyum yang bijak sambil berpikir: siapa ini orang bisa ada di sini? “Mereka tim hore, Bapa,” kata saya dari kejauhan. Hadeeeh!

Baca juga: Public Speaking untuk Semua, Bukan Soal Bakat atau Usia

Oleh karena ini adalah pesta dan setiap pesta mestilah berkonsekuensi biaya, maka setiap pasangan calon harus “kuat-kuat modal”. Ungkapan itu, di NTT berarti: siapkan uang yang banyak, bapa!

Berapa Jumlah Dana yang Harus Disiapkan oleh Pasangan Calon dalam Pilkada?


Plt. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, pada bulan Desember 2019 silam mengungkapkan, pasangan calon kepala daerah bisa mengeluarkan biaya ratusan miliar hingga triliunan rupiah untuk biaya pilkada. Beritanya ada di tautan ini--minimal 25 miliar sampai 30 miliar rupiah; itu untuk calon bupati/wakil bupati; yang mau maju di tingkat provinsi lebih tinggi lagi pasti.

Pak Mendagri juga berpendapat sama. Mungkin karena keduanya kerja di kantor yang sama. Eh? "Bupati kalau enggak punya 30 M, gak akan berani. Wali Kota dan Gubernur lebih tinggi lagi. Kalau dia bilang gak bayar, 0 persen, saya mau ketemu orangnya," kata Pak Tito Karnavian di Senayan pada suatu hari di bulan November. Bisa cek di tautan ini.

Lalu bagaimana?

Kita Bagaimana?


Yang saya maksud dengan kita adalah kita bukan saya. Halaaah. Maksud saya, kita di sini, merujuk ke orang-orang kebanyakan: yang datang ke tempat pesta bernama sekretariat dengan modal jempol dan berharap bahwa puja-puji dan kisah optimisme kita (baca: omong kosong banyak) soal ‘kita satu putaran, bapa’ akan menambah kepercayaan diri para paslon yang saldo di rekeningnya berkurang dari hari ke hari.

Apa yang harus kita buat?

Pertama, jangan mengacaukan suasana di sekretariat para pasangan calon jika tidak berani sumbang modal. Kau tidak akan pernah layak disebut tim sukses jika yang kau lakukan setiap hari adalah menyiapkan kalimat pujian baru dan menyampaikannya seolah-olah kau ikut membaca data-data. Sebab, kalimatmu yang ‘kita satu putaran, bapa’ itu sesungguhnya tidak kau yakini sungguh juga, kan? Ini satu putaran menang atau satu putaran ambyar? Ingat! Tak seorang pun dapat memenangkan pertarungan tanpa menguasai medan perang.

Kedua, jika yang ingin kau lakukan adalah menunjukkan kepada para pasangan calon bahwa kau adalah satu dari ratusan ribu orang yang akan memilih mereka bulan September nanti, tidak perlu duduk berjam-jam di sekretariat. Kirim pesan WA saja. Atau collect SMS kalau sedang kurang modal. Itu akan menghemat pengeluaran sekretariat di mata anggaran konsumsi.

Ketiga, sadarlah bahwa pujian tidak akan berkontribusi apa-apa pada pemenangan Pilkada. Daripada menyiapkan pujian untuk paslon, bukankah lebih baik menyiapkan pujian untuk calon pemilih? “Wah, usahamu sudah berkembang besar. Kamu memang hebat! Pasti akan lebih besar lagi kalau nanti bapa (kau sebut nama calon yang kau dukung) terpilih karena salah satu visinya adalah mendukung para pengusaha seperti kamu,” katamu pada seorang pengusaha—yang suara dan modalnya bisa kau ‘tarik’ untuk junjunganmu. Itu namanya bekerja. Ya! Kita-kita ini, yang menyebut diri jadi tim pemenangan, harus kerja.

Paslon Bagaimana?


Selain ‘kuat-kuat modal’ para paslon juga harus ‘kuat-kuat mental’. Pilkada akan penuh dengan intrik. Tiba-tiba saja foto mesramu dengan seseorang yang bukan istri/suamimu beredar di media sosial. Tak ada yang peduli bahwa itu adalah sepupumu, lawan politik akan memakai foto-foto itu untuk menghajarmu. Yang juga harus kalian kuat-kuatkan mentalnya adalah seluruh keluarga. Sebab ‘dosa-dosa’ mereka juga akan jadi komoditas politik. Ini baru satu soal.

Baca juga: Mengenal Tiga V, Komponen-Komponen Penting dalam Public Speaking

Soal lain adalah, dalam hal kuat-kuat modal, tentu saja angka 30 M sebagaimana diramalkan Pak Mendagri tadi tidak bisa kau talangi sendiri. Perlu ada (meminjam Adam Smith) tangan-tangan tak terlihat yang ikut mendukungmu. Bantu-bantu talang, kalau kami di Flores bilang. Yang juga ternyata melahirkan soal lain bernama balas jasa. Dalam hal inilah pasangan calon perlu benar-benar hati-hati.

Pastikan bahwa para pemodal itu tidak datang dari kelompok mafia yang, ketika kalian menang, akan menjadi dalang yang menggerakanmu melawan kampanyemu sendiri. Misalnya, salah satu kampanyemu adalah soal menyelamatkan lingkungan hidup tetapi pemodalmu adalah ‘pemain besar’ di bidang penguasaan lahan perkebunan. Kau bisa apa kalau menang?

Artinya? Modal semangat saja tir cukup, Bapa. Maju Pilkada tidaklah elok jika dasar berpikirnya adalah siapa tahu bisa menang. Kalian harus berusaha menang karena sudah pasti tahu bahwa jika kalian menang, daerahmu (masyarakat dan lingkungannya) akan lebih baik.

Tim Sukses Bagaimana?


Singkat saja. Kita semua sama-sama tahu, apa pun hasil Pilkada, tim sukses akan selalu sukses. Sebab namanya adalah tim sukses. Sedangkan yang bekerja agar menang itu, nama mereka adalah tim pemenangan. Sa kira begitu.

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, di Koperasi Kita Menolong

Duh! Kakak e! Itu hal-hal dorang di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak soal di kitaran perhelatan politik seperti ini. Kadang bikin cemas.

ICW, sebelum Pileg, Pilkada dan Pilpres tahun 2018 silam memprediksi, ada sekitar sepuluh potensi permasalahan yang mungkin terjadi di Pilkada 2018. Mulai dari jual beli pencalonan, politisasi birokrasi, sampai pada praktik korupsi untuk pengumpulan modal. Tentang ini bisa dibaca di tautan ini. Prediksi itu rasanya benar saja sebab setelahnya banyak ‘kasus-kasus demikan’ terungkap. Semoga tak ada lagi yang menyebut ajang ini sebagai pesta demokrasi. Begitu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores