Apoly Bala yang Saya Tahu

Tanggal 24 Januari 2020, saya menulis tentang Apoly Bala. Salah seorang komposer yang saya kenal namanya ketika saya masih tinggal di Pateng, Rego. Saya masih kecil dan ini adalah cerita tentang Apoly Bala yang saya tahu. Saya menulis ini ketika mendapat kabar bahwa pencipta lagu dan pemimpin kor itu meninggal dunia. Rest in Peace, Maestro!
apoly bala yang saya tahu


Apoly Bala yang Saya Tahu


Di tangannya nada-nada Sopran mengalun bergelombang mengungkapkan keagungan Tuhan beriringan dengan Alto yang memberi sentuhan keindahan yang sempurna pada lagunya. Akord bas ia gubah bagai kijang yang berpacu lincah, melompat naik dan menukik turun, meliuk-liuk menjadi latar belakang yang harmonis bagi Tenor yang melambung tinggi menggapai cakrawala nada setiap lagu gubahannya. Mendengarkan karyanya adalah mendengarkan keindahan suara ciptaan yang memuliakan Penciptanya.

Paragraf di atas saya ambil dari cakrawalantt.com. Mereka menyiarkan artikel yang memuat paragraf di atas beberapa saat setelah Apoly Bala kembali ke panguan Ilahi. Siapa Apoly Bala?

Saya dengar namanya ketika saya masih SD di Pateng. Apoly Bala

Guru Don dan Muder Yuliana, Bapa dan Mama saya, menceritakannya di sela latihan kor keluarga pada suatu sore di Bulan Maria. Saya lupa tahunnya tetapi tidak lupa bagaimana dua orang itu bercerita tentang Apoly Bala dengan kagum. 

Mereka (dalam pengakuan keduanya) mengenalnya saat kami sekeluarga masih di Kupang dan Guru Don bersama Muder Yuliana mengingat Apoly Bala sebagai pemimpin kor yang hebat. Cerita itu, tentang komposer hebat itu, dikisahkan sebab hari itu kami sedang latihan satu lagu ciptaan Apoly Bala.

Saya lupa judul lagu itu tetapi saya ingat--dan masih bisa menyanyikannya dengan lancar terutama bagian suara tiga di refrein--liriknya: "perawan murni yang murah dan penuh cinta/ doakanlah kami semua/ yang memuji kesucianmu/ oh bunda doakanlah kami selalu//" 

Saya kira saya tahu baca not, dan mengerti bahwa di satu ketukan dapat saja diisi oleh lebih dari dua not, ketika di rumah kami lagu itu sering dinyanyikan. Lumini Alwy Petronela, saudari kami yang cantik itu (semoga dia beristirahat dalam damai surga) mengajarkannya dengan baik karena dia seorang dirigen. Guru Don juga dirigen. Muder Yuliana itu seperti metronom dalam setiap latihan. 

Dan mereka semua mengagumi Apoly Bala.

Demikianlah satu lagu ciptaannya itu dan nama Apoly Bala, kuat sekali menancap di ingatan saya. 


Bisa saja saya salah ingat. Bahwa, mungkin itu bukan komposisi orisinil Apoly Bala dan dirinya hanya sebagai pengaransemen. Tetapi saya tetap merasa bahwa lagu itulah yang membuat saya terhubung dengan namanya. Apoly Bala.

Pada tahun-tahun itu, nama Paul Widyawan dan Fredy Levi sedang kuat-kuatnya--terpujilah Tuhan atas karunia besarnya bagi kita melalui orang-orang ini.

Oh, iya. Lagu yang saya ceritakan tadi, tidak lagi sering saya dengar sekarang ini. Mungkin karena notasinya yang sulit (?) atau teks-nya yang tidak banyak dipegang para dirigen saat ini. Tetapi, sungguh, itu lagu yang bagus sekali. Liriknya, saya pikir, bagus sekali: (ayat 1) "salam yang penuh rahmat/ salam bunda juru selamat/ salam junjungan para raja/ dst...."


Lalu hari ini, 24 Januari 2020, saya dapat berita duka. Di WAG Dusun Flobamora, Linda Tagie mengabarkan bahwa Ayah dari salah seorang teman, bernama Oan Wutun, meninggal dunia. Apoly Bala

Sebelumnya, di dinding facebook saya lihat ucapan duka cita dari beberapa teman kepada Oan Wutun dan menulis harapan semoga Pak Apoly Bala beristirahat dalam damai. Membaca pesan Linda, saya langsung tanya: "Pak Apoly Bala yang komposer itu ka?" Linda bilang iya, dan lagu Maria itu segera ada di kepala; doakanlah kami semua/ yang memuji kesucianmu/ oh bunda doakanlah kami selalu//.

Saya sedih...

Tentang Apoly Bala, website Majalah Hidup (hidupkatolik.com) menulis begini:

"Apoly (Bala) banyak berkarya dalam diam dengan tujuan utama membangkitkan jiwa umat yang tidur dan malas. Dan sejak awal karyanya di bidang Musik Liturgi, lagu-lagu ciptaannya sudah tersebar ke berbagai sudut negeri dan dunia ini, dinyanyikan oleh kelompok-kelompok Katolik diaspora di berbagai belahan dunia. Selain sebagai dirigen, organis dan pencipta lagu, mantan Kepala Sekolah SMPK St. Yoseph Naikoten ini adalah anggota Dewan Paroki selama beberapa periode di Paroki Santo Yoseph Naikoten, Kupang. Dia sepertinya tidak mengenal lelah dalam urusan melayani Tuhan. Requiescat In Pace!"

Terima kasih, Apoly Bala. Beristirahatlah dalam damai.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan

Ah..., iya. Beberapa waktu silam saya tulis ini. Saya senang telah menulis ini dan terutama sangat senang karena akhirnya menemukan lagi tulisan ini dalam masa memindahkan konten di Blog Ineame ke ranalino.id. Ya, begitulah. Oleh karena blog tersebut--yang pada mulanya diniatkan sebagai parenting blog keroyokan--tidak lagi bisa dirawat, sebagian besar konten dipindahkan ke sini. Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan, ini adalah salah satunya.  

sebuah telepon pintar kumatikan
Lima Strategi Menggunakan Smartphone di Rumah

Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan


Judul tulisan ini berutang pada judul buku puisi Dorothea Rosa Herliani, Sebuah Radio, Kumatikan. Ada tujuh fragmen di bawah "judul" itu yakni fragmen ke-2, 9, 21, 22, 23 kepada XG, 24, dan 25, di samping beberapa (sebut saja) bab dalam buku KILL THE RADIO - Sebuah Radio, Kumatikan (Indonesiatera, 2001).

Radio yang dipakai Dorothea barangkali adalah analogi untuk 'dunia luar' yang tidak seharusnya menjadi 'seluruh dunia' dan hanya boleh menjadi sebagian. Pada titik tertentu, beberapa hal dari dunia luar justru menyesatkan persepsi. Di sini 'dunia dalam' menjadi penting. Termasuk menyadari bahwa yang semula dikira sebagai Beethoven ternyata bukan Beethoven, seperti pada fragmen ke-9 berikut ini.

Sebuah Radio, Kumatikan
-fagmen ke 9
kukira tadi beethoven yang mengulurkan tangan
: sepi yang sedih telah beku di engsel pintu, lalu dekap
yang lengkap
aku belum tidur, untuk sebuah kantuk yang berat.
ada kudengar langkahlangkah mendekat,
tapi terlalu lirih untuk kerinduan menunggu.
kamar ini telah jauh dan ngelangut: berapa kilometer
deru mobil--menuju rumah di separo perjalanan jauh.
lalu sepi yang tua--amat tua, menarinari sendiri.
dan ia bukan beethoven.
Jakarta, 1999

Atas semangat yang sama--bahwa semakin banyak orang tua yang menjadikan telepon pintar (smartphone) sebagai titik pusat hidup--judul tulisan ini memakai pola Dorothea di atas. Selanjutnya, smartphone akan lebih sering muncul dalam tulisan ini sebagai pengganti telepon pintar. Meski adalah bahasa asing, namun smartphone jauh lebih populer dalam percakapan kita dibanding telepon pintar.


Berhubungan dengan judul buku puisi Dorothea tadi, smartphone dapat dibaca sebagai gawai favorit masa kini. Berposisi seimbang dengan radio pada zaman puisi di atas lahir. Sedangkan, dunia dalam pada uraian awal tadi adalah rumah dan segala isinya.

Namun, meski meminjam pola dari judul buku puisi yang hebat, tulisan ini sesungguhnya akan tampil biasa-biasa saja. Dalam arti, peristiwa-peristiwa rumahlah yang akan menjadi pusat cerita, rumah kami. Agar memudahkan proses membaca (dan terutama proses saya menyelesaikan catatan ini), alur pikirnya saya bagi tiga bagian, yakni: Anak yang Meniru, Kesepakatan Rumah, Smartphone Sesekali Hidup.

Pertama, Anak yang Meniru

Sudah jamak bahwa anak memiliki kecenderungan meniru yang besar. Peniruan biasanya terjadi pada peristiwa sekitar. Artinya, kebiasaan anak akan terbentuk (dibentuk) berdasarkan kejadian yang dialaminya sehari-hari.

Ketika masih berumur dua tahun, Rana, anak kami terluka. Dia menangis hebat melihat darah mengalir dari garis vertikal yang menghubungkan hidung dan bibir itu di cermin. Tangisannya terdengar sampai jauh ke tempat saya dan Mamanya sedang menonton televisi.

Saya segera berlari kencang. Ke kamar. Rana memandangi wajahnya sendiri di cermin. Di tangannya ada alat cukur saya dan bercak darah terlihat jelas di atas warna kuning kulitnya. Saya segera sadar, Rana baru saja "mencukur kumisnya".

Tentu saja Rana tidak punya kumis. Dia anak perempuan kecil yang berumur dua tahun, yang setiap pagi melihat pemandangan Ayahnya membabat kumis di depan cermin. Suatu ketika dia bertanya mengapa saya selalu mencukur kumis.

"Supaya Bapa jadi lebih ganteng," jawab saya.
"Kalau Mama, ganteng juga?" Tanyanya.
"Mama perempuan, Nak. Kalau perempuan itu cantik. Kalau laki-laki, apa tadi?"
"Ganteeeeng," serunya girang mengetahui kata barunya hari itu.

Tentu saja selain mendapat kata baru, informasi bahwa seseorang mencukur kumis agar terlihat ganteng--yang terekam dalam rekaman anak: jika perempuan melakukannya maka akan cantik--adalah pengetahuan lain yang Rana dapatkan dari percakapan itu. Maka terjadilah peristiwa dia mencoba mencukur kumis.


Pekerjaan pertama saya adalah memeriksa luka di bagian atas bibirnya itu. Hanya sedikit tergores. Tidak berbahaya. Saya bersihkan segera sambil mendengar 'kalimat-kalimat' Mamanya tentang kebiasaan saya meletakkan alat cukur di tempat yang bisa dijangkau Rana. Saya meminta maaf pada keduanya. Pada Rana dan pada istri saya.

Pengobatan selanjutnya ditangani oleh Mamanya. Tugas saya adalah menjelaskan tentang perempuan umumnya tidak berkumis, dan Rana adalah anak yang cantik.

"Seperti Mama?"
"Iya, Nak. Cantik seperti Mama. Mama tidak pernah cukur kumis, to?"

Kesepakatan Rumah

Kali lain, ketika Rana sudah besar, anak kedua kami lahir. Namanya Lino. Lino tumbuh sehat, dan sampai juga di usia dua tahun. Usia di mana anak mencoba apa saja dan meniru apa saja. Rana sudah memiliki sangat banyak informasi, termasuk dari cerita-cerita yang dia peroleh dari koleksi buku-bukunya.

Ini babak baru dalam parenting yang menjadi sedikit lebih sulit karena terjadi kala teknologi informasi berkembang pesat. Kita semua mafhum bahwa pada situasi seperti itu, sebagian besar orang dewasa menghabiskan lebih banyak waktu untuk tersenyum pada layar smartphone.

Saya dan Celestin istri saya juga tiba di masa itu. Bermain girang dengan smartphone dan menjadi lupa bahwa anak belajar dengan meniru. Untunglah pada masa-masa Rana bertumbuh, kami menciptakan kegirangan yang lain. Dia pada buku. Maka dia tidak terlalu mendapat pengaruh dari 'kelupaan-kelupaan' kami. Tetapi Lino, anak kami yang kedua, melihat bagaimana kami berlaku terhadap telepon pintar itu.

Sekarang saya ingin berbagi tentang perjuangan kami melawan smartphone. Kami adalah saya dan Celestin. Orang tua Rana dan Lino. Pengalaman Rana dengan alat cukur tentu saja sangat membantu; bahwa sesuatu yang berbahaya bagi anak sebaiknya tidak dilakukan di depan mereka.


Soal smartphone atau telepon pintar itu. Kami menyadari bahwa beberapa pekerjaan kami mau tidak mau membuat kami harus 'berinteraksi' dengannya, kami menyepakati skema sebagai berikut:

  1. Jika harus menggunakan smartphone untuk mencari informasi atau berselancar di media sosial dan diprediksi akan memakan waktu yang lama, jangan melakukannya di depan anak-anak;
  2. Jika harus menggunakan smartphone di depan anak maka itu hanya untuk menerima telepon agar anak-anak mengerti bahwa fasilitas itu dipakai untuk berkomunikasi dengan orang di tempat yang jauh;
  3. Jika harus membalas pesan WA (ngobrol di grup untuk sesuatu yang penting) maka sebaiknya didahului dengan menyampaikan informasi dimaksud--seberapa penting itu harus dilakukan segera--kepada anak. "Mama minta maaf e. Mama harus balas ini dulu." Katakan demikian bahkan kepada anak yang belum banyak mengerti;
  4. Mengakses hiburan via smartphone bersama-sama (youtube for kids);
  5. Mengenalkan manfaat smartphone dengan contoh, misalnya mencari gambar bunga raflesia, atau zebra; hal-hal yang sulit ditemukan di lingkungan sehari-hari. "Oh. Zebra. Yuk, kita lihat di HP Bapa."

Apakah kami berhasil melakukannya? Well, pada beberapa situasi barangkali berhasil, tetapi pada situasi lain kadang kami lupa. Maka, anak-anak, akhirnya tergoda untuk melakukan hal yang sama. Pada titik inilah aturan menjadi penting. Mau main HP? Tiga puluh menit, ya. Atau: Setelah makan, ya. Atau batasan-batasan lainnya.

Smartphone Sesekali Hidup

Melarang anak bermain (belajar menggunakan) smartphone jelas sangat tidak disarankan. Bahwa ribuan ulasan menjelaskan tentang bahaya smartphone bagi anak, toh, ada ribuan ulasan lain yang juga menjelaskan tentang manfaatnya. Mereka akan tumbuh dengan fasilitas itu juga, kan?

Yang salah barangkali, kalau smartphone diletakkan pada tingkat tertinggi dalam daftar kebutuhan (menyenangkan diri) anak. Akibatnya, fasilitas itu dipakai sebagai obat penenang ketika anak mulai merengek. Anak-anak diiming-imingi smartphone asal tidak menggangu tidur siang kita. Soal bisa muncul dari sana. Lalu bagaimana?

Baca juga: 


Saya selalu percaya bahwa interaksi anak dengan lingkungannya (teman, pengasuh, buku-buku) adalah bagian terhebat di masa tumbuh kembang mereka. Hanya saja selalu banyak yang merasa kesulitan membuat anak-anak mencintai lingkungannya dan karenanya memilih smartphone sebagai solusi.

Atas dasar itu, dan seiring dengan perkembangan literasi digital, pola pemanfaatan smartphone untuk anak dapat dimodifikasi. Tentu saja langkah awal adalah mengaturnya ke mode aman. Pada saluran Youtube misalnya, telah tersedia fasilitas pengaman bernama restricted mode

Fasilitas pengamanan lain juga bisa diatur pada gadget secara keseluruhan dengan catatan bahwa orang dewasa (orang tua, kakak, pengasuh) tetap melakukan pengawasan. Menyerahkan sepenuhnya hak memilih konten pada anak barangkali bukan pilihan yang bijak. Banyak penyedia konten yang memiliki kemampuan mengakali mesin pencari agar dapat lolos sensor.

Seorang teman pernah mengingatkan tentang pentingnya membersihkan riwayat pencarian (chache, dll) agar smartphone tetap dalam keadaan nol ketika hendak digunakan pihak lain, terutama anak-anak. Selain itu, modifikasi penggunaan smartphone untuk anak-anak dapat dimulai dengan "membentuk selera". Beberapa strategi berikut ini dapat dicoba.

Pertama, orang tua harus senang dengan tayangan yang ingin diberikan/ditunjukkan pada anak. Tampakkan wajah gembira dan seruan sukacita. Misalnya, "Horeee, kita mau nonton teletubies."

Dengan demikian, anak akan berpikir bahwa tayangan tersebut sungguh menggembirakan. Menggunakan alur pikir AIDDA (Attention, Interest, Desire, Decision, Action), pada tahap selanjutnya, anak-anak akan beraksi memilih tayangan teletubies sebagai kegiatan menggembirakan.

Kedua, membuat perjanjian dan disiplin menjaga perjanjian itu. "Kita nonton tiga puluh menit ya." Anak-anak tentu belum tahu rentang waktu dengan baik. Tetapi orang dewasa pasti tahu. Di menit kedua puluh lima, ingatkan anak-anak. "Nak, tinggal lima menit ya."

Dalam pengalaman, strategi seperti itu akan membuat anak segera memanfaatkan lima menit terakhir mereka dengan maksimal. Di menit ketiga puluh: "DONE!" Lalu ambil smartphone dan simpan. Anak-anak akan merajuk, tetapi juga akan belajar banyak hal dari sikap tegas orang tua.

Ketiga, membawa smartphone ke layar televisi. Maksudnya, sajian Youtube, jika dapat, ditayangkan (disambung) di televisi yang diakses bersama. Bukan televisi di kamar anak. Dengan demikian, anak-anak terhindar dari "dunia sendiri" dan belajar menikmati "dunia bersama".

Teknologi modern memungkinkan kita menghubungkan perangkat-perangkat tersebut. Smartphone ke televisi, smartphone ke laptop ke televisi, atau berlangganan internet-tv.

Keempat, menawarkan dunia yang lebih menarik setelah smartphone. Ini berarti bahwa setelah kita berhasil membuat anak-anak melepaskan waktu bermain dengan smartphone, orang tua harus mengajak anak terlibat dalam kegiatan lain yang lebih menyenangkan.

Strategi pertama di atas wajib diterapkan. Orang tua menampakkan wajah gembira (bahkan lebih) ketika menawarkan dunia lain itu. "Kita nanti menggambar kuda ya. Horeee... gambar kuda, gambar kuda, kita gambar kuda." Lakukan dengan melompat-lompat kecil sampai anak benar-benar berpikir bahwa itu lebih menyenangkan daripada menonton Teletubies.

Kelima, menjelaskan dalam bahasa yang sederhana tentang akibat negatif jika terlalu lama berinteraksi dengan smartphone. Pada tahap ini, interaksi dapat dibangun melalui cerita yang menarik. Gunakan contoh, pakai bahasa tubuh yang baik, tidak perlu menghakimi atau menakut-nakuti, memakai metode mendongeng.

Hemat saya, jika lima strategi tersebut ingin diterapkan, soal kita bukan lagi tentang mengkhawatirkan perkembangan anak karena smartphone tetapi tentang seberapa mau kita mendisiplinkan diri sendiri menjalankannya. Karena bagaimanapun, kita tidak bisa menjauhkan anak-anak dari smartphone.

Anak-anak akan tumbuh bersama gawai canggih itu--dan yang lainnya yang akan terus lahir. Yang dibutuhkan adalah pengaturan. Smartphone dapat membantu. Hanya membantu. Bukan seluruh dunia. Karena itu, pada titik-titik yang telah diatur, orang tua harus berani bilang: sebuah telepon pintar, kumatikan!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Sepuluh, 12 Juli 2020

Catatan ini dibuat setelah beberapa menit berlalu dari tanggal 12 Juli 2020. Tengah malam sekali. Saya terbangun lagi setelah pengaruh sopi benar-benar hilang.


Sepuluh, 12 Juli 2020


Sesekali pada saat kumpul-kumpul dan saya ikut minum sopi, ada saja yang tanya: hae, ibu dokter tida marah ka? Biasanya saya bilang: jan kasitau dia ka. Tentu saja mereka tidak akan kasitau Mama Rana sebab mereka teman yang baik. Dan, tentu saja kalau mereka kasitau, saya tidak akan dapat marah yang begitu hebat.

Kami, saya dan istri, sejak awal telah bongkar-bangkir seluruh cerita. Dari yang paling ingin disembunyikan hingga ke yang paling mewah dan harus diketahui seluruh dunia oleh sebab kami dua punya jiwa mau tampil agak mirip-mirip frekuensinya.

Saya dengan bangga pernah cerita bahwa saya 'sudah puisi' sejak SD. Saya memang merayunya dengan beberapa puisi kala itu, dan agar bagi dia puisi saya meyakinkan, saya tambahkan CV soal saya juara dua lomba deklamasi puisi "Surat dari Ibu" ketika saya masih kelas dua SD. Juara dua tingkat kecamatan. Saya sempat merasa hebat sampai dia bilang bahwa dia sudah masuk TV dan jadi reporter cilik ketika SD.


Maksud saya, jika hal-hal membanggakan telah kau ceritakan pada istrimu, mengapa kau takut dia mengetahui hal-hal tidak membanggakan yang kau buat? Menikahi seseorang adalah menerima dia dalam satu paket utuh. Kami memutuskan menyepakati itu sejak awal dan berjuang menjaganya. Marah-marah tentu saja ada, karena siapakah yang kuat hidup menikah tanpa marah-marah? 

Saya pernah marah karena dia tidak segera sadar bahwa saya sudah gunting rambut. Dia tertawa saja. Lalu bilang, "botak atau gondrong, kaka min su ganteng sejak dulu." Sa bisa apa kalau begini?

Ah, iya. Saya kira itu. Yang membuat kami senang. Kalau satu marah, yang lain lebih sering memilih diam. Bisa diam yang singkat, bisa diam yang sehari dua. Lalu berbaikan dan saling minta maaf; mau lari ke mana? Kita serumah, sekamar, seranjang, terlalu kalau tidak pernah bekelai, tidak pernah saling minta maaf, tidak pernah bilang terima kasih.

Terima kasih, Ma. Sa bilang begitu tiap kali dia bikin kopi untuk saya dan tidak tergoda ikut meminumnya juga. Sama-sama, Pa. Dia bilang begitu sambil minum itu kopi lalu buru-buru minta maaf. Deee... ndeee...


Itu kira-kira. Bahwa rebutan kopi masih terjadi di pernikahan kami. Bahwa kami baik-baik saja juga karena kami ada di lingkungan yang baik; orang-orang yang sesekali memberitahukan kepada istri saya hal tidak membanggakan yang saya buat, juga sebaliknya, sehingga kami, di kamar, bisa saling mengingatkan. Bahwa kami telah sepuluh tahun menikah dan berterima kasih kepada siapa saja yang telah turut serta membesarkan kami sekeluarga melalui tegur-sapa-kritik-saran dan doa-doa.


Pada ulang tahun pernikahan kami, saya menghadiahi diri sendiri dengan sopi dan dia dengan sepatu baru. Kami saling marah. Dia marah karena saya limbung--dia mengkhawatirkan kesehatan saya--dan saya marah karena dia membeli sepatu yang murah--saya mengkhawatirkan kemungkinan bahwa dia akan beli sepatu baru lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Lalu kami saling memaafkan dan saling bilang: terima kasih sudah ada untuk saya selama ini.

Selamat sepuluh tahun, Celestin.

Salam dari Ruteng

Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Dongeng dapat membantu pembentukan kemampuan anak memahami perintah sederahana. Pada kegiatan mendongeng, anak-anak akan lebih tenang, mendengar, lalu melaksanakan perintah.
Tulisan ini, sebelumnya ada di Blog Ineame. Blog tersebut kini tidak lagi aktif dan sebagian besar kontennya (tentang anak dan keluarga) dikumpulkan dan disunting lagi untuk ranalino.id. Blog Ineame sendiri akan hadir dalam format yang lain (audio dan video). Salah satu video akan kami tayangkan di bagian akhir tulisan ini.

Image dari public domain vectors

Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Oleh: Armin Bell

Ada pendapat ahli. Tentang pengaruh pendengaran yang lebih baik dari visual. Perbandingan kekuatan audio dan visual dalam merangsang kepekaan anak--dan selanjutnya membangun kemampuan empati sebagai human being--mestilah menjadi salah satu sebab para pegiat gambar gerak beralih dari film bisu ke versi motion picture saat ini.

Kita perlu suara. Seperti gerakan pertobatan yang dimulai dari seruan Yohanes barangkali. Bahwa pada bagian berikutnya contoh dalam perbuatan menjadi penting, agar seperti Thomas yang melihat untuk percaya, seruan tetap dianggap sebagai awal gerakan.

Atas dasar itulah, kebiasaan mendongeng diharapkan menjadi agenda keluarga. Anak-anak diajak bergerak setelah mendengar. Tanpa memahami perintah (simple order) seperti ayo makan, tolong buang ini di tempat sampah, mari berhitung, anak-anak tentu sulit memulai. 

Beberapa gerakan (baca: tindakan, perbuatan) sangat mungkin terjadi karena inisiatif. Namun terdapat kecenderungan "tanpa batas" pada gerakan demikian. Berlari, melompat, memukul, dan beberapa lagi adalah hasil inisiatif (intuisi). Tanpa arahan--melalui suara, gerakan-gerakan itu akan cenderung (sebut saja) liar. Pada titik itulah perintah sederhana menjadi penting.

Mari kembali ke pendapat ahli tadi. Tentang audio yang lebih kuat dari visual. Hubungkan dengan kebiasaan mendongeng yang diharapkan menjadi agenda keluarga. Di mana irisan antar-keduanya terjadi?

Berdasarkan beberapa riset, diketahui bahwa stimulasi melalui dongeng akan mampu merangsang kepekaan anak usia 3-7 tahun terhadap berbagai situasi sosial. Anak-anak akan mampu belajar untuk lebih berempati pada lingkungan sekitarnya. Katakanlah, ketika mendengar kisah Gadis Korek Api, anak-anak akan belajar tentang perjuangan hidup, menolong sebelum terlambat, dan lain sebagainya.

Melalui dongeng dunia karya H.C. Andersen itu anak-anak akan membangun kerangka pikirnya dengan baik (karena melalui imajinasi tanpa batas). Perangsangan atau stimulasi visual melalui televisi atau game gambar gerak, meski mampu membangun kepandaian visual, dianggap tidak akan merangsang kepekaan perasaan dan empati anak.

Dengan pendengaran, dan melalui cerita-cerita yang mendidik, anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai positif dan berempati dengan orang lain.

Pada titik inilah dongeng menjadi fasilitas terbaik yang dapat digunakan orang tua. Pada dongeng, orang tua terhindar dari kewajiban mengajarkan atau menggurui. Nasihat pada anak tidak lagi berupa pewarisan teori-teori moral. Pembentukan karakter anak justru dilakukan melalui tokoh-tokoh dalam dongeng.

Bukankah akan sangat aneh jika kepada anak berusia empat tahun kita menjelaskan tentang dampak lingkungan akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan? Butuh usaha ekstra keras jika kita ingin melakukannya. Namun melalui dongeng, tokoh dongeng dapat kita ciptakan. Tentang seorang anak yang membuang semua sampah ke kali. Pada musim hujan, air sungai meluap. Kampung kebanjiran.

Pada saat mendongeng, anak-anak diberi kesempatan untuk membangun imajinasinya sendiri. Pada saat menyaksikan tayangan televisi, dunia imajinasi itu dikekang oleh yang disajikan di layar. Karena itulah dongeng menjadi sangat penting. Pada saat menuturkannya, pencerita atau pendongeng wajib memberi jeda atau pertanyaan yang merangsang atau menstimulasi daya pikir anak.

Baca juga:

Bagi anak, manfaat dongeng tentu tidak terbatas pada membangun imajinasi. Yang jauh lebih penting adalah, selama proses mendengar itu, anak-anak belajar menjadi lebih tenang, diam, mencermati perintah-perintah sederhana, dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Karena itulah, mendongeng sebaiknya dilakukan sebelum tidur, ketika anak-anak sudah lebih tenang. Kita tidak bisa mendongeng pada anak-anak yang sedang bermain. Tahap selanjutnya adalah pembiasaan. Dari dongeng sebelum tidur, menjadi dongeng yang terjadwal, dan ketika jadwal mendongen itu tiba, anak-anak menyiapkan dirinya agar menjadi lebih tenang.

Selanjutnya mari berharap bahwa, dalam ketenangan anak-anak membangun imajinasinya dengan baik sekaligus belajar membuat refleksi sederhana. Pertanyaan panduan orang tua sangat dibutuhkan.

Apa manfaat dongeng? Tulisan ini tidak ingin menyajikan poin per poin. Cerita di atas sengaja dibangun dalam pola narasi. Seperti dongeng. Selanjutnya kita membuat kesimpulan-kesimpulan.

Blog Ineame di Youtube:




Salam
Armin Bell
Ruteng - Flores

Cerita Rana - Bulan di Langit

Ketika anak bercerita, orang tua akan lebih mudah mengetahui apa yang putra-putri mereka inginkan. Mendengar cerita Rana berjudul Bulan di Langit, kita akan dengan mudah mengetahui kebutuhannya; alat-alat menggambar. Yuk, simak cerita anak tujuh tahun ini.

cerita rana bulan di langit
Bulan di Langit | image dari freepik.com

Artikel ini pertama kali disiarkan di Blog Ineame. Blog itu, yang semula ditujukan sebagai ruang bersama bagi siapa saja yang ingin berbagi tentang rumah, terpaksa dihapus karena mimpi tentang pengelolaan bersama ternyata agak sulit diwujudkan. Karenanya, beberapa tulisan dari Blog Ineame dipindahkan ke ranalino.id sedangkan Blog Ineame sendiri akan lebih sering hadir di youtube dan beberapa platform lainnya.

Mari simak cerita Rana ini, dan teruskan membaca sampai selesai untuk tahu tentang mengapa kita sebaiknya membiasakan anak bercerita.

Bulan di Langit


Oleh: Rana Maria Bellarmin

Setiap kali aku keluar rumah pada malam hari, aku suka melihat bulan. Ada bulan sabit dan bulan purnama, juga bulan lain-lainnya. Cahaya bulan sungguh terang.

Kata Mama, bulan, kalau terlihat dari jauh berwarna putih. Tetapi kalau dilihat dari dekat berwarna kuning.

Hal yang lain yang aku suka tentang bulan adalah teman kecilnya yaitu bintang. Karena aku bisa melihat rasi bintang. Ada rasi bintang yang berbentuk layang-layang, ada rasi bintang yang berbentuk ikan.

Apakah kalian tahu? Ada satu bintang yang cahayanya sungguh terang. Bintang itu bernama bintang kejora.

Mungkin, bulan dan bintang melihat ke bumi dan bulan berkata: "Hei, Bintang. Bukankah indah melihat bumi dari atas sini?"

Lalu bintang berkata, "Betul, Bulan. Bayangkan saja kita adalah manusia. Bukankah akan menyenangkan?"

Tetapi bulan berkata, "Memang akan menyenangkan, tetapi kita harus bersyukur Tuhan menciptakan kita seperti ini."

Bintang pun berkata, "Betul, Bulan. Seharusnya aku bersyukur hidup damai seperti begini."


Hidupku damai sejak kecil. Aku banyak belajar tentang bulan dan bintang. Dari kecil sampai besar, aku menyukai bulan juga bintang. Karena mereka menerangi malam hari sehingga orang-orang bisa melihat dalam gelap.

Jika aku besar, aku ingin menjadi seniman. Mungkin suatu hari aku akan melukis bulan dan bintang dengan gaya yang indah. Supaya terlihat nyata. Dan aku tidak akan menyerah sampai aku berhasil.

Ruteng, 27 September 2017

Rana menjelang tujuh tahun ketika membuat cerita ini.

***

Tentang Membiasakan Anak Bercerita (Lima)


Apa pentingnya kita membiasakan seorang anak bercerita? Tentu saja ada banyak alasan. Dengan bercerita, seorang anak akan belajar menemukan kata baru, mengungkapkan perasaannya, dan menyampaikan harapannya. Masih banyak alasan lainnya.

Namun bagi orang tua, seorang anak yang bercerita berarti terkumpulnya informasi tentang pengetahuan anak, pengalaman mereka, dan juga cita-cita.

Informasi tersebut menjadi penting sehingga Bapa dan Mama dapat dengan mudah menemukan (atau mencari) hal-hal yang dibutuhkan anaknya--tanpa harus menunggu seorang anak memintanya.

Ini tentu saja penting agar anak mengalami pengalaman terkejut sekaligus senang karena mengetahui bahwa orang tuanya "memahami dirinya".

Pada cerita Bulan di Langit misalnya, Rana mengungkapkan secara samar tentang apa yang dia butuhkan. Barangkali tidak direncanakan demikian, tetapi alam bawah sadarnya memberi komando; dia membutuhkan alat-alat untuk melukis.

Baca juga: Travelling Ligtht dan Kekasih dalam Ransel

Beberapa saat setelah mendengar cerita ini, saya mengajaknya ke stationery dan membolehkannya memilih crayon dan pensil warna yang dia butuhkan. "Bagaimana Bapa tahu bahwa saya perlu ini?" Tanyanya. Itulah waktu di mana Ayah menjadi superhero.

Pada titik seperti itulah, seorang anak menjadi semakin percaya pada orang tuanya. Kepercayaan seperti itu adalah hal yang kemudian dibutuhkan ketika pada titik tertentu orang tua harus menasihati anaknya, mempengaruhi pilihan anaknya (dalam cara positif), atau mengarahkan perilaku seorang anak.

Karena bagaimanapun, meski setiap orang lahir dengan pilihan bebas, orang-orang yang lebih tua memiliki kewajiban untuk membantu mereka menemukan pilihan yang baik.

Jadi, membiasakan anak bercerita, sesungguhnya membantu orang tua memproses pendekatannya dalam mendidika anak di rumah. Bukankan pendidikan keluarga adalah landasan untuk hidup selanjutnya?

Saya kira begitu.

Salam
Bapa Rana dan Lino

Sejarah Hari Dongeng Sedunia, Manfaat dan Cara Memilih Dongeng untuk Anak

Tidak banyak yang tahu bahwa di awal era 90-an, para pendongeng di Swedia merancang All Storytellers Day. Apa itu All Storytellers Day dan bagaimana hubungannya dengan Hari Dongeng Sedunia?

sejarah hari dongeng sedunia manfaat dan cara memilih dongeng untuk anak
Hari Dongeng Sedunia 

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Ineame - Blog Keluarga Indonesia. Dalam perjalanannya, blog tersebut--yang semua diniatkan jadi ruang cerita seluruh keluarga di negeri ini--ternyata agak sulit diurus sendiri. Berbagai kesibukan membuat rencana baik membangun ruang certa itu terpaksa dihentikan. Blog Ineame yang masih memakai blogspot akan segera dihapus permanen. 

Atas alasan itulah, artikel tentang sejarah hari dongeng sedunia ini dipindahkan ke ranalino.id, dengan harapan bahwa tulisan ini tidak ikut hilang. Selamat membaca.

Sejarah Hari Dongeng Sedunia, Manfaat dan Cara Memilih Dongeng untuk Anak


1. Sejarah dan Tujuan Peringatan Hari Dongeng Sedunia


Situs National Geographic menulis, pada tanggal 20 Maret 1991, negara Swedia mulai merayakan All Storytellers Day. Perayaan tersebut kemudian diadopsi oleh dunia internasional sehingga tanggal 20 Maret kini dikenal sebagai World Storytelling Day atau Hari Dongeng Sedunia.

Sebuah situs lain yang fokus pada peringatan hari-hari penting di dunia bernama daysoftheyear.com menulis, tujuan peringatan World Storytelling Day atau Hari Dongeng Sedunia adalah untuk merayakan/memperingati seni oral storytelling atau mendongeng dengan cara melibatkan sebanyak mungkin orang di berbagai belahan dunia menuturkan dan mendengar dongeng dalam bahasa mereka masing-masing.

Peringatan Hari Dongeng Sedunia ini tentu saja mendasarkan dirinya pada fakta bahwa dongeng dapat mengubah dunia melalui transfer nilai (pesan moral) kepada para pendengarnya. Dongeng, yang biasanya ditujukan kepada pendengar usia anak-anak, dipercaya dapat menjadi jembatan yang baik untuk mendidik anak dalam bentuk yang menyenangkan (fun learning).

Baca juga: HUT Kedua Dongeng untuk Anak di Ruteng, Ada Gadis Korek Api

Caryl-Sue dari National Geographic Society yang menulis laporan tentang World Storytelling Day  juga mengutip Vyasa, penulis epos Mahabharata, yang mengatakan bahwa jika seseorang mendengar (sebuah cerita) dengan sangat baik, di bagian akhir dia akan menjadi seseorang yang berbeda. Hal itu tentu berhubungan dengan manfaat dongeng bagi para pendengarnya.

2. Penelitian tentang Manfaat Dongeng untuk Anak


Metode dongeng dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus edisi Desember 2010 menampilkan artikel berjudul Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah yang dikerjakan oleh Latifah Nur Ahyani.

Latifah, berdasarkan risetnya, kemudian menyimpulkan bahwa metode dongeng sebagai stimulasi
berperan dalam meningkatkan perkembangan kecerdasan moral anak usia 5 tahun yang menjadi siswa di TK B di sekolah dengan fasilitas terbatas dan bukan sekolah favorit.

Anak yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng memiliki tingkat kecerdasan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng. Juga terdapat peningkatan kecerdasan moral antara sebelum dan setelah mendengar dongeng.

Pada beberapa tulisan sebelumnya, Ineame - Blog Keluarga Indonesia telah membahas manfaat dongeng untuk anak. Ps: Baca "Manfaat Dongeng untuk Anak, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana".

3. Bagaimana Memilih Dongeng yang Baik untuk Anak?


Pertanyaan tersebut diajukan atas fakta bahwa tidak semua dongeng dapat dituturkan untuk anak-anak. Beberapa cerita asli dari pendongeng dunia seperti Brothers Grimm menampilkan adegan-adegan sadis.

Dalam Putri Salju dan Tujuh Kurcaci misalnya, Jacob dan Wilhelm Grimm menulis tentang Ratu yang meminta bawahannya membunuh Putri Salju dan sebagai bukti harus membawa jantung Snow White kepadanya. Adegan seperti itu tentu saja tidak cukup baik untuk diceritakan pada anak-anak.

Beberapa dongeng lain dalam versi aslinya juga dirasa cukup kejam. Atas dasar itulah maka melakukan modifikasi atas dongeng-dongeng yang sudah ada--sepanjang tidak mengubah ide cerita secara keseluruhan--menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan ketika kita ingin memilih dongeng yang baik untuk anak.

Pertama, memilih dongeng dari cerita yang dekat dengan hidup harian mereka. Dongeng-dongeng yang telah dimodifikasi (disesuaikan dengan konteks dan pemahaman bahasa anak) adalah salah satunya. Cara lainnya adalah dengan mengubah teks-teks lama (kitab suci, cerita rakyat) menjadi naskah yang baru. Pada cara ini, orang tua, mau tidak mau harus lebih banyak membaca.

Kedua, memilih dongeng yang tepat usia. Cerita fabel lebih baik untuk anak-anak usia pra-sekolah. Pada usia sekolah (awal Sekolah Dasar) dongeng putri-putri, kisah kepahlawanan lokal, dapat menjadi pilihan yang tepat. Orang tua harus tahu, dan dengan sadar memilih cerita yang tepat dan sesuai untuk anak-anak mereka.

Ketiga, memilih dongeng yang ringkas. Tidak banyak barangkali dongeng yang ringkas atau pendek. Pada titik inilah orang tua diharapkan memiliki kemampuan meringkas cerita agar dapat dituturkan dalam rentang waktu yang pendek. Dongeng yang baik adalah yang dituturkan/dibacakan sebelum anak tidur. Cara ini akan baik digunakan jika kita percaya bahwa dongeng sebelum tidur akan membangun kecintaan anak pada cerita (bacaan) sehingga ketika mereka telah dapat membaca sendiri, mereka akan memilih bacaan yang 'gerbangnya' telah kita buka sebelumnya.

Baca juga: Pesan Moral Dongeng untuk Anak, Apakah Ada?

Masih banyak cara lain yang dapat dipakai dalam hal memilih cerita dongeng yang tepat. Setiap orang tua tentu tahu cerita dongeng apa yang tepat untuk anak mereka. Pada saat yang sama, Bapa dan Mama harus menjadi penyedia cerita bagi anak-anak mereka.

Armin Bell
Tinggal di Ruteng

Ineame, Blog Keluarga Indonesia Kini Hadir di Youtube

Apa kabar semua? Maaf agak lama tidak berkabar melalui blog ini. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, termasuk menyiapkan laman youtube Blog Ineame.

Happy | Karya: Rana Maria Bellarmin

Ineame, Blog Keluarga Indonesia Kini Hadir di Youtube

Oleh: Armin Bell

Betul sekali. Meski pada awalnya kanal youtube Blog Ineame dibuat hanya untuk jalan-jalan, subscribe dan komen dan like di beberapa akun favorit kami, namun beberapa waktu terakhir terdapat hal lain.

Setelah berbagi cerita dengan Kaka Rana, kami memutuskan untuk mulai menciptakan konten-konten khusus keluarga dan anak (seperti juga blog ini ditujukan). Konten-konten awal tentu saja masih sangat sederhana penggarapannya karena selama mengembangkannya kami harus juga belajar melakukan penyuntingan dengan mencoba beberapa aplikasi.

Konten pertama di kanal ini yang diunggah beberapa bulan silam dibuat dengan menggunakan aplikasi Viva Video. Itu adalah aplikasi yang baik dengan pengoperasian yang mudah. Meski demikian, teraan watermark yang tak bisa dihapus (dari aplikasi versi gratis) membuat kami memutuskan untuk mencoba aplikasi lainnya. Hasilnya lumayan. Sudah ada dua konten baru yang penggarapannya menggunakan aplikasi tanpa watermark itu.

Oh iya, aplikasi itu bernama VideoShow dan dapat diunduh gratis di play store. Menyunting video pertama dengan menggunakan aplikasi ini lumayan menyenangkan meski juga sangat terburu-buru. Berikut hasilnya.


Konten kedua dengan aplikasi VideoShow ini adalah sebuah vlog dari kegiatan Sanggar Tari Awit Te Sae. Hari Sabtu, 2 Maret 2019, sanggar tari binaan Claudia Febriany Djenadut ini menggelar uji tampil yang kedua di Aula Assumpta Katedral Ruteng. Berikut hasilnya.


Apakah kalian suka? Sebelum berani menebak jawaban para penonton, pertanyaan yang sama kami ajukan pada diri sendiri. Apakah kami suka? Sejauh ini, iya. VideoShow adalah aplikasi yang sederhana dengan sistem kerja yang ramah. Terutama, aplikasi ini tidak memunculkan watermark perusahaan pengembangnya pada video kita, sesuatu yang sangat penting bagi kami. Bandingkan dengan video dari konten pertama kami berikut ini.


Bagaimana? Senang? Jangan lupa subscribe kanal youtube Blog Ineame dan ikuti terus konten yang kami siapkan selanjutnya. Sedapat mungkin, setiap konten tetap berhubungan dengan visi ketika pertama kali blog keluarga Indonesia ini kami kembangkan.

Salam

Saeh Go Lino Ruteng Mulai Garap Web Series

Saeh Go Lino adalah satu dari sekian banyak komunitas muda di Ruteng. Mulai pekan ini, komunitas ini mencoba sesuatu yang baru. Mengisi kanal youtube-nya dengan Baku Sayang, The Web Series. Apa itu?

saeh go lino the web series
Poster by Daeng Irman

Saeh Go Lino Ruteng Mulai Garap Web Series


Saeh Go Lino sudah lama ada di Youtube. Tetapi isi kanal youtube kami itu hanya beberapa sejak pertama kali dibuat. Yang pertama adalah tayangan Flashmob Natal di Katedral Ruteng. Kemudian beberapa konten diunggah. Rata-rata video-video dokumentasi. Hampir tak ada yang benar-benar sengaja dipersiapkan sebagai youtube content.

Kanal Saeh Go Lino itu jadi semakin menyedihkan sebab kegiatan-kegiatan komunitas yang 'layak video' juga tidak banyak. Aksi bersih-bersih kota, pungut sampah, dan beberapa lagi yang kami buat mungkin baik saja jika divideokan tetapi rasanya dia masuk di tipe 'bukan yutub'. Bagusnya buat facebook atau instagram saja. Akibatnya? Tak ada konten baru di kanal itu sejak beberapa bulan terakhir--ketika video tarian Saeh Go Lino Ge diunggah. Hiks...

Ada juga konten baru. Ketika akhir November 2019 kemarin kami bikin Kalender untuk Bumi. Ya. Kami cetak kalender. Kuno sekali, bukan? Su tir banyak yang bikin kalender konvensional selain toko, bank, kantor, atau caleg. Padahal Saeh Go Lino tir termasuk di kategori itu. Tapi kami bikin karena merasa itu penting. Supaya orang sayang bumi karena kalender akan ada di dinding sepanjang tahun dan kampanyenya bisa dibaca setiap hari. Idenya unik. Kami bikin video behind the scene. Tapi kan dokumentasi juga to? (Ada di sini).

Lalu, dibuatlah rencana. Banyak rencana. Tahun ini. 2020. Selain rencana pementasan dan jalan-jalan, ada juga pikiran untuk mulai serius menciptakan konten-konten youtube. Sampai corona datang dan semua rencana burai. Bagaimana mengumpulkannya? Dapatkah semua dirangkai lagi? Misalkan dapat, kapan akan bisa diwujudkan? Maksudnya, setelah pandemi Covid-19 ini, akankah kami tetap bersemangat mewujudkan rencana-rencana itu atau justru sibuk menata diri dan ekonomi masing-masing yang terpuruknya minta ampun akibat wabah ini? Kami sedih. Corona berarti semua rencana tirakan bisa jalan. Saeh Go Lino terancam 'tirada buat' tahun ini. 

Kemudian, di tengah masa menyedihkan, yang menyebabkan kami #dirumahsaja, dibuatlah zoom meeting sekomunitas. Lipooz dan Luis Thomas Ire berhasil kami paksa gabung. Mereka berbagi soal proses kreatif mereka. Tentang pentingnya menjaga konsistensi. Tentang disiplin. Tentang tahan banting. Lalu tentang disiplin lagi. Sebab disiplin adalah sesuatu yang rasanya tidak ingin kami jumpai di sepanjang jalan kenangan. Paling tidak, begitulah yang kami akui bersama. "Kita susah di itu barang, Kae." Itu barang berarti disiplin. 

Siapa Lipooz dan Luis Thomas Ire? Keduanya adalah seniman, pekerja kreatif, orang-orang yang dengan senang hati mendukung teman-teman muda (macam saya ini) tumbuh di 'dunia baru': digital platform.


Sakira, percakapan dengan dua musisi itu berhasil membangkitkan semangat. Semangat yang tidak datang tepat waktu. Kami bersemangat tetapi corona melarang perkumpulan. Bagaimana ini?

Sebagai akibatnya, kami harus baku kontak terus di WhatsApp. Apa pun caranya. Bahkan jika harus jadi fakir wi-fi. Bukankah mayoritas kita adalah fakir pada masa-masa sekarang ini? Komunikasi harus tetap berjalan, Kak. Saeh Go Lino juga begitu. Hasilnya? Ada #kampanyebaik di facebook Saeh Go Lino. Dimulai dari obrolan santai saja di WAG. Lalu beberapa pasukan mulai garap. Info soal kampanye baik disebar di facebook. Banyak teman yang ikut bergabung. Kami senang. Tetapi tetap saja, itu bukan produksi original. Kami hanya sekadar mengubah make-up challenge menjadi masker challenge. Dan mengandalkan beberapa kawan (dan kesaksian mereka) untuk jadi materi kampanye #cegahcovid19.

Hingga pada suatu sore yang sendu, Haris--yang kemudian jadi sutradara #bakusayang #thewebseries berkunjung. Obrolan meningkat. Dan saya menulis empat naskah sekali duduk.

"Ini sudah. Kita harus garap ini," saya bilang begitu setelah selesai menulis empat episode. 

Pasukan Saeh Go Lino segera bergerak. Menentukan tim kerja. Adenk jadi pimpro. Djiboel jadi penanggung jawab. Membagi tugas, merancang timeline, dan episode pertama tayang akhir pekan kemarin. Ini adalah konten kedua yang secara sungguh-sungguh disiapkan untuk youtube. Yang pertama adalah tentang persiapan natal di Ruteng yang sudah tayang beberapa tahun lalu.


Semoga akan konsisten. Karena tanpa itu barang, bagaimana kita akan mencatatkan nama di papan skor beberapa tahun kemudian?

Ketika menulis ini, jumlah subscriber di kanal youtube kami bertambah. Sesuatu yang sungguh menggembirakan. Juga sangat menantang. Di episode dua, apakah kami bisa hadir lebih baik lagi? Baku Sayang, The Web Series adalah project pertama. More to come, kata para serdadu. Saya senang. Sambil berharap: ini jalan yang benar dan mempertemukan kami dengan semakin banyak orang baik.

Eh... dengar radio dulu yuks...



Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ps: Dukung misi kami. Baca tautan ini untuk informasi selengkapnya.