Pentas Teater Tradisi Lingko Randang di Ruteng, Baik untuk Anak

STKIP St. Paulus Ruteng membuat terobosan menyenangkan. Dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018 silam, mereka melaksanakan kegiatan menarik di Lapangan Motang Rua, Ruteng

6 Langkah Mengenalkan Budaya Nusantara kepada Anak

Pentas Teater Tradisi Lingko Randang di Ruteng, Baik untuk Anak


Hari Sabtu, 5 Mei 2018, STKIP St. Paulus Ruteng menggelar pentas kolosal di Lapangan Motang Rua Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pentas teater tradisi berjudul "Lingko Randang" tersebut menampilkan cerita tentang Lodok di Manggarai.

Lodok, pola pembagian tanah ulayat menyerupai jaring laba-laba--lodok adalah nama titik utama/tengah, telah dikenal luas sebagai objek wisata Manggarai. Namun, bagaimana persisnya pembuatan suatu Lodok? Seperti apakah nilai-nilai yang melekat dalam bermacam ritual proses tersebut? Bagaimana memaknai Lodok dalam konteks pergaulan dengan kebudayaan lain? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang tertera dalam materi promo panitia (kecuali yang ditulis miring), dijawab dalam aksi gerak, tari, dan lagu, di Ruteng. Di Lapangan Motang Rua. Ratusan mahasiswa terlibat dalam pentas teater tradisi itu. Penulis naskah dan sutradara pentas teater tradisi Lingko Randang ini adalah Rm. Inosensius Sutam.

Romo Ino, demikian dosen STKIP (sekarang Unika) St. Paulus Ruteng ini disapa, menulis naskahnya berdasarkan riset tentang kebudayaan Manggarai yang dilakukannya selama ini. 

Pentas teater tradisi tersebut menyajikan tontonan menarik seperti Caci, Ndundu Ndake, Danding, Sanda, Mbata, dan lain-lain. Pentas Lingko Randang yang dihadirkan dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018 di Kabupaten Manggarai itu menjadi agenda kota yang menarik.

Meski demikian, untuk yang membawa anak-anak mereka, durasi pentas teater tradisi tersebut terbilang lama. Perpindahan satu adegan ke adegan lain tentu saja masih dapat dicepatkan (jika akan dipentaskan kembali). Rasanya, perlu juga memertimbangkan peluang memasukkan 'kejutan-kejutan', baik dalam bentuk gerak pemain atau bunyi musik, jika memang durasi pentas diperkirakan lebih dari satu jam.


Tetapi sebagai pentas teater tradisi pertama di Ruteng, usaha yang dilakukan oleh Romo Ino dan seluruh timnya tampak cukup berhasil. Penonton tampak puas mengetahui: jenis-jenis pukulan gong dan gendang di Manggarai, nama-nama untuk cara memecut larik dan memegang agang dan nggiling dalam tarian caci, serta jenis-jenis tari dan lagu dalam tradisi Manggarai

Ini adalah gerbang pengetahuan yang baik bagi anak-anak Manggarai untuk mengenal lebih dekat budaya mereka. Parade kain-kain songke, bali-belo, sapu (destar), selendang, gong, gendang, larik, agang, nggiling dalam satu pentasan membuat proses belajar menjadi lebih cepat.

Mengenalkan Seni Budaya Nusantara kepada Anak


Sesungguhnya, menyaksikan pentas budaya seperti teater tradisi Lingko Randang yang digelar oleh STKIP (sekarang Unika) St. Paulus Ruteng di Lapangan Motang Rua itu adalah kesempatan yang baik bagi anak-anak untuk belajar.

Ya. Anak-anak yang menyaksikannya akan mulai mengenal, agar kemudian dapat mencintai kebudayaan/seni budaya/tradisi tanah sendiri. Karena itu saya merasa sangat gembira ketika menyaksikan para orang tua yang datang bersama anak-anak mereka pada acara seperti itu.


Selain melalui kegiatan menikmati pertunjukan seni, ada cara lain yang dapat dilakukan sebagai usaha mengenalkan anak pada seni budaya Nusantara. Banyak artikel telah mengulasnya, tulisan ini adalah salah satu pengingat.

Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua agar anak-anak mengenal dan belajar mencintai budaya/tradisi Nusantara.

Satu, melakukan perjalanan. Ini memerlukan cukup banyak biaya. Barangkali. Tetapi bisa juga tidak. Perjalanan pulang kampung saat liburan adalah kesempatan yang baik. Di Manggarai, acara-acara kebudayaan kerap dilaksanakan saat liburan. Selain mengikuti pola panen, pertimbangan musim, dan hitungan-hitungan tradisi lainnya, juga agar seluruh klan bisa mengikutinya. Anak-anak harus diajak serta.

Dua, mengunjungi pameran. Yang seperti ini lebih mudah. Lahirnya Undang-undang Pemajuan Kebudayaan akan melahirkan banyak iven-iven kebudayaan, pameran budaya dan tradisi. Tentu akan baik sekali jika anak-anak diajak berkunjung. Sekolah-sekolah juga bisa merancang agenda khusus, mengunjungi lokasi pameran, sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Siswa-siswi kemudian diminta menceritakan pengalamannya.

Tiga, mendengar lagu daerah. Di setiap rumah, pasti ada koleksi lagu-lagu daerah. Sesekali dimainkan saat family time. Sesekali, Papa dan Mama mesti menyanyikannya. Sebagai lagu ninabobo atau dilagukan saat bermain bersama anak.


Empat, ke museum. Cara ini tentu hanya untuk anak-anak yang tinggal di tempat yang ada museumnya. Museum budaya, tentu saja. Atau setiap kota seharusnya memiliki satu

Lima, melihat pertunjukan seni. Selain pertunjukan live, tayangan-tayangan kebudayaan di televisi, siaran-siaran radio, dan (ini yang paling penting) buku-buku cerita adalah bagian dari 'melihat pertunjukan seni'. Bagaimana pengaruhnya, dapat dilihat pada penjelasan di atas.

Enam, melalui makanan tradisional. Bahwa Bika Ambon itu bukan dari Ambon, Rebok itu olahan tradisional Manggarai, sebaiknya diceritakan pada anak-anak saat mereka mencicipnya. Pada saat yang sama, Papa dan Mama bisa bercerita tentang hal-hal lain tentang kebudayaan di daerah tempat makanan itu berasal. Mudah bukan?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Tetapi blog itu telah ditutup dan demi kepentingan pengarsipan, sebagian besar tulisan yang pernah ada di Blog Ineame dipindahkan ke ranalino.id. Blog Ineame kini adalah sebuah kanal youtube.

Dunia Anak dalam Buku Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu

Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu adalah salah satu buku anak terbaik yang pernah kami baca. Kami itu: saya, Rana, Lino, dan Celestin. Kenapa itu adalah buku anak yang baik sekali. Saya membagi pengalaman itu di sini. Tulisan ini sesungguhnya sudah lama ada, bahkan sebelumnya pernah disiarkan di blog saya yang lain. Blog itu kini 'dimatikan' sebab mengelola dua blog seorang diri ternyata sungguh sulit. *smile 

Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu

Dunia Anak dalam Buku Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu

Buku anak yang baik adalah buku yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak. Buku anak (sastra anak) adalah buku yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat cerita. Dua pengertian tersebut dapat diakses di buku Sastra Anak karangan Burhan Nugriyanto (2010).

Hanya dengan dua pengertian itu saja, dapatlah disimpulkan bahwa Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu (selanjutnya Mirah Mini) karya Nukila Amal adalah buku anak, dan merupakan buku anak yang baik. Buku setebal 47 halaman (hardcover) itu diterbitkan pada November 2012 oleh Masyarakat Cipta Indonesia.

Buku ini berisi satu cerita, tentang Mirah Mini dan caranya melihat dunia, yang disajikan dalam dua bahasa, dilengkapi dengan lukisan-lukisan karya Hanafi. Membaca buku ini membawa kita, orang tua dan anak, pada beberapa hal baik sekaligus.

Nukila Amal membantu orang tua mengenal (kembali) hal-hal yang berhubungan dengan dunia dan tumbuh kembang anak. Melalui Mirah Mini, Nukila membantu anak percaya pada kehebatan imajinasi, membentuk empati, mengasihi sesama-lingkungan-alam ciptaan

Pertama, kehebatan imajinasi. Apa yang seorang anak lakukan ketika dia bersedih, kesepian, atau sedang bermain sendiri?

Rana, anak kami mengajak teman-teman imajinernya menemaninya.

"Enu bikin apa?" tanya saya suatu ketika.

"Main dengan teman," jawab Rana lalu meneruskan dialognya dengan seseorang atau sesuatu di kepalanya, menidurkan boneka lalu meminta seseorang atau sesuatu itu membantunya membuatkan susu. Rana selalu tersenyum sepanjang proses itu. Bahagia.

Maka saya lalu mengerti ketika Mirah memegang erat tangan tapirnya pada suatu ketika. Saat itu Mirah Mini bersedih karena orang-orang dewasa tidak 'mengakui' Tapir. Atau ketika Mirah mengagumi bulan yang mengikuti kita--rasa kagum yang dimilik setiap anak.

Bulan di luar jendela mobil, ikut sepanjang jalan pulang dari restoran sampai rumah. Ajaib betul... (hal. 31).

Kedua, membentuk empati. Dalam Mirah Mini, Mirah belajar membangun empati; proses yang tidak bisa diajarkan melalui teori-teori, tetapi dikondisikan agar tumbuh dari dalam diri seseorang. Mirah berhasil membangun empatinya setelah mendengar cerita Mama.

Kata mama, tapir adalah hewan langka. Jumlah mereka tidak banyak, sebab pohon-pohon di huta semakin habis ditebang (hal. 16). Kasihan Tapir, keluarga dan teman-temannya berkurang, terus berkurang, dan berkurang... (hal. 18)

Struktur cerita yang dituturkan Mama membuat Mirah belajar tentang hubungan sebab akibat (rantai lingkungan), yang membuatnya mampu membentuk atau membangun empati. Tapir telah langka, teman-temannya berkurang, dan Mirah memutuskan 'mengangkat' seekor tapir yang bernama Tapir sebagai temannya.

Nukila dengan jelas menawarkan kembali ingatan pada konsep pendidikan: anak belajar dari rumahnya--dikenal dengan istilah pendidikan keluarga. Menurut Hasan Langgulung dalam Manusia dan Pendidikan, Analisis Psikologi dan Pendidikan (1986) ada enam bidang pendidikan yang dapat dikembangkan oleh orang tua, yaitu pendidikan jasmani, kesehatan akal (intelektual), psikologi dan emosi, agama dan spiritual, akhlak, serta sosial.

Ketiga, mengasihi sesama-lingkungan-alam ciptaan. Melalui Tapir, teman imajinernya yang kehilangan hutan dan teman-teman bermain, Mirah belajar mengasihi.

"Tapir boleh tinggal di rumah kita. Semua tapir boleh." Aku bilang pada mama. "Mereka sedikit sama sekali, semua akan muat di dalam rumah." (hal. 21). 

Pada bagian ini saya menjadi mengerti mengapa banyak anak yang ingin mengajak orang-orang yang tidak punya rumah untuk tinggal bersama mereka. Suatu ketika Rana bertanya, "Kenapa kita tidak ajak dia tinggal di kita punya rumah saja, Mama?" Saat itu mereka baru saja selesai mengantar makanan pada seorang dengan gangguan jiwa yang tidur di emperan toko dekat rumah kami. 

Berada dalam peristiwa serupa itu, penjelasan yang baik dan tepat adalah hal yang harus dilakukan agar anak-anak mengerti. "Dia punya rumah, Nak. Tetapi dia mungkin senang tidur di situ. Ada beberapa orang yang senang begitu. Seperti Kaka Rana senang tidur di sofa. Iya, to?"

Baca juga: Cerita Rana - Petir 

Secara keseluruhan, buku anak Mirah Mini karangan Nukila Amal ini bercerita tentang anak kecil berumur lima tahun yang takjub pada segala hal. Dialog mama-anak membangun seluruh cerita. Nukila menempatkan mama sebagai ideal orang-orang dewasa yang barangkali kerap dibingungkan oleh alur pikir anak-anak mereka. 

Bagaimana merumuskan jawaban terbaik agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik adalah sebenar-benarnya tugas orang tua. Meski demikian, pada beberapa bagian, orang tua harus tetap membiarkan anak menemukan jawabannya sendiri. Mirah tidak menceritakan apakah kemudian dia diizinkan mengajak semua tapir tinggal di rumah mereka. Mama tidak memberi jawaban. Juga tidak menghakimi pendapat anaknya. 

Tetapi mama menjawab dengan baik ketika Mirah bertanya tentang mengapa orang-orang dewasa tidak takjub pada semua hal. 

"Mungkin karena sudah sering lihat. Yang ajaib, yang luar biasa, lalu tampak biasa saja." (hal. 38). "Hidupmu, keajaibanmu." (hal 42) 

Meski menjadi salah satu buku favorit saya, karena ditulis dalam dua bahasa dengan diksi yang sama-sama hebatnya pada teks Indonesia dan Inggris, dan karena lukisan-lukisan Hanafi yang ajaib, namun karena lukisan itu juga, pada sebagian besar pembaca anak yang terbiasa dengan gambar kartun, karakter boneka, dan lain-lain yang (terasa) lebih nyata, gambar-gambar ilustrasi dalam buku ini agak sulit diakses. Atau justru sangat baik untuk imajinasi? Entahlah. 

Hal lain adalah bahwa untuk dapat mengakses buku ini, bagi pembaca di pedesaan di Indonesia, akan dibutuhkan narasi lain untuk kesamaan skemata. Restoran, berjalan pada malam hari menggunakan mobil dan melihat bulan dari kaca jendela, dan bahkan tapir sendiri, adalah hal-hal di luar jangkauan anak desa. Bahkan juga orang tuanya. 

Baca juga: Cerita Rana - Benda Kesayangan

Selebihnya, Mirah Mini adalah salah satu cerita anak terbaik--merujuk penempatan sudut pandang anak dalam membangun cerita--yang ada di Indonesia. Rana dan Lino menyukainya. Lino senang dan meminta buku ini dibacakan menjelang tidur malamnya. Buku ini layak mendapat 4,5 dari lima bintang maksimal.

Lino baru dua tahun lebih dan selalu bertanya: kenapa dia, siapa, kenapa, dan apa, pada hal-hal yang sesungguhnya tidak benar-benar tepat konteks. Jika sudah begitu, pekerjaan membacakan cerita menjadi panjang karena harus diselingi dengan bermain, menjelaskan hal lain, menunjuk sana-sini tanpa arah; hal-hal yang membuat seluruh proses terasa menyenangkan. Sudah baca cerita apa untuk anak Anda hari ini? (*)

Salam

Armin Bell | Ruteng - Flores

--

Yang sudah pernah baca Mirah Mini, boleh berbagi pengalaman membacanya di kolom komentar ya.

Buku Harian atau Diary; Sejarah, Pengertian, dan Manfaat

Buku harian barangkali akan jadi kenangan. Buku harian konvensional. Yang terbuat dari kertas, dijilid berlembar-lembar, bergaris, dan belum ditulisi. Dia akan menjadi buku harian atau diary ketika telah diisi. Dengan pena atau pensil dan cerita. Apa itu buku harian?
buku harian atau diary sejarah pengertian dan manfaat
Sejarah Buku Harian atau Diary

Buku Harian atau Diary; Sejarah, Pengertian, dan Manfaat


Ajak anak-anak kita menuliskan setiap peristiwa hidupnya dalam sebuah buku harian atau diary. Berdasarkan pengalaman pribadi--dan kini saya lihat pada anak perempuan saya, buku harian atau diary bermanfaat penting: merawat ingatan, menjaga kesadaran, dan meminimalisir peluang 'mudah lupa'.

Saya jelas sangat dibantu oleh buku harian atau diary dan karenanya berusaha mengisinya setiap ada kesempatan. Saat ini sudah tidak sesering dulu, tetapi usaha mencatat peristiwa-peristiwa penting dengan tulisan tangan di sebuah buku selalu saya lakukan.

Anak perempuan saya mulai melakukannya sejak dia mengenal tulisan dan terus berjuang mengisi buku harian atau diary-nya setiap hari. Tentang mengapa setiap orang harus memiliki buku harian, saya kerap menjawabnya dengan cerita. Sebuah pengalaman pribadi.


Saya Ditolong Buku Harian


Ruteng, 19 Maret 2015

Saya sedang membongkar catatan transaksi via ATM ketika pada salah satu resi tertera nama orang yang tidak saya kenal (atau ingat?). Saya kaget karena jumlah yang ditransfer dari rekening saya cukup besar. Saya tiba-tiba disergap khawatir. Jangan-jangan ATM saya dibajak.

Pertanyaan terbesar ketika melihat nama pemilik rekening tujuan di resi itu adalah: Mengapa saya melakukan transfer kepada orang ini? Saya berulang-ulang berpikir dan tidak bertemu jawaban. Lalu saya ingat, saya adalah penulis buku harian yang masih rajin mengisi diary.
Saya buka buku oranye itu hadiah dari Donnie Dnezco awal tahun 2014 silam, kemudian memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada hari, tanggal dan bulan tempat saya menemukan transaksi mencurigakan di rekening saya itu. 
Taraaaaa.... jawabannya ada. Saya ternyata melakukan transfer untuk sesuatu yang sangat penting dan pemilik rekening penerima yang tak dikenal itu adalah seorang kenalan di dunia maya yang dengan senang hati membantu urusan saya ketika itu. Maka transaksi itu adalah sah dan benar-benar saya lakukan.

Ingatan itu pendek. Demikianlah alasan saya menulis catatan harian sampai hari ini. Cerita itu sampai di sini.

Apa itu Buku Harian?


Buku harian atau diary adalah sebuah catatan pribadi yang berisi peristiwa sehari-hari, apa saja, baik yang dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan.
Yang diceritakan di dalam buku harian adalah segala hal yang tidak ditujukan untuk dikomentari, disukai, atau dibagi-bagi ke banyak orang.
Karena alasan itulah maka sifat buku harian berbeda dengan media sosial. Di media sosial, kita juga menulis apa yang kita rasakan tetapi cenderung ditujukan agar diketahui banyak orang, disukai, diberi tanda love, atau disebarluaskan.

Kita tidak bisa menulis nama orang yang kita benci di media sosial (paling tidak, saya begitu), tetapi kita bisa menulisnya di buku harian. Hal ini jugalah yang membuat buku harian tidak boleh dibaca oleh orang lain. Saya tidak membaca buku harian anak saya, juga sebaliknya.

Cerita atau kisah yang ditulis di buku harian biasanya akan bermanfaat untuk refleksi, pelajaran personal, pembangun kepribadian (setelah membaca ulang teks yang telah kita tulis).


Siapa Orang Pertama yang Menulis Buku Harian?


Orang pertama yang diakui sebagai 'penemu' buku harian adalah Samuel Pepys (1633-1703). Samuel Pepys ini adalah seorang administrator angkatan laut kerajaan Inggris. Kini buku hariannya disimpan di Magdalene College, Cambridge. Karena dianggap sebagai penemu, buku hariannya akhirnya diterbitkan lebih dari seabad setelah Samuel Pepys meninggal dunia, yakni pada tahun 1825.

Ada banyak macam buku harian. Yang paling populer adalah buku atau kertas. Beberapa waktu terakhir, karena perkembangan teknologi informasi yang pesat, banyak orang menulis buku harian yang di perangkat elektronik seperti komputer, smartphone, dan lain-lain.

Beberapa manfaat buku harian atau diary adalah:

  • Mendokumentasikan peristiwa atau kegiatan sehari-hari.
  • Mencurahkan isi hati (curhat), obat stress, meluapkan emosi, menyampaikan keluh kesah, atau mengekspresikan pikiran ke dalam tulisan.
  • Berkreasi. Misalnya, untuk menyimpan suatu karya cerita hasil kreasi pikiran kita agar tidak hilang/lupa.

Tentu saja ada banyak manfaat lain yang hanya dapat diceritakan oleh orang-orang yang memang memilikinya. Ya. Manfaat terpenting buku harian hanya bisa diceritakan oleh orang-orang yang menulis buku harian, bukan? Saya percaya, anak-anak yang memiliki buku harian akan memiliki ingatan yang panjang serta kemampuan memaknai teks dengan lebih baik.

*Materi tentang sejarah dan manfaat diolah dari berbagai sumber.

Salam

Armin Bell - Ruteng, Flores 

Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Dua hal lumayan penting tentang baku olok kita soal demonstrasi omnibus law itu ternyata bisa bikin sedih, mailav!

Foto: Kaka Ited

Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Demonstrasi pecah. Di banyak kota. Yang terbesar adalah di kota-kota besar. Terbesar sebab diberitakan berulang-ulang. Diberitakan sebab memang ramai. Ramai baku jual narasi. Ada yang bilang bahwa aksi itu ditunggangi. Tentu saja sa tir terlalu yakin sebab ini pola yang umumnya dipakai untuk memecah konsetrasi. Ada yang menyesalkan ujung aksi yang anarkis (mereka pakai kata itu untuk menjelaskan bakar-bakar). Sa kira bukan ujung. Ujung aksi, bukankah seharusnya akan berupa keputusan?

Demonstrasi yang sedang ramai, dan menjadi alasan catatan ini dibuat, adalah tentang aksi menolak Omnibus Law. Ada beberapa nama yang disebut juga tentang ini. Cipta Kerja, Cilaka, dan apa? Pokoknya begitu. Ramai. Pro dan kontra. Dan lucu.

Oh, iya. Tulisan ini tidak akan membahas hal-hal teknis tentang seberapa tepat atau tidak tepat undang-undang itu, dan seberapa pantas atau tidak pantas demonstrasi dilaksanakan di tengah pandemi. Bagian terakhir ini agak bikin malas. Bagaimana tidak? Yang omong soal ini adalah mereka yang merasa tirapa-apa ini Pilkada digelar di masa ini padahal pontensi kerumunan massa juga ada. Iya to?

Lalu tulisan ini tentang apa? 

Pertama, Sudah Baca Draf Undang-Undang Itu?


Yup. Ini sa pu soal. Mendadak (atau sesungguhnya sudah disiapkan kelompok tertentu?) dinding-dinding media sosial ramai mengolok-olok para demonstran. Mereka dituding sebagai orang yang terburu-buru bikin aksi padahal Undang-Undang itu tebalnya 900-an halaman. Sa kok agak jengkel ya? Bukan. Bukan agak. Tetapi sangat. Terutama karena sa ju tau kalau yang bertanya seperti itu ju belum baca itu Undang-Undang secara keseluruhan. Draf finalnya memang tirada di publik to? Bukankah aneh bahwa sesuatu yang tidak diketahui publik tiba-tiba disahkan dan yang melakukannya begitu percaya diri bahwa itu untuk kepentingan publik?

Sa kira, salah satu hal yang membuat saya merasa aksi itu baik adalah karena para pelakunya (baca: yang turun ke jalan) ingin meluruskan satu hal penting: kalau itu tentang kami, mari kita bicarakan bersama. Pernah dengar soal public hearing?

Baca juga: Membaca Itu Penting bagi Penulis

Hal lain adalah, sa tir yakin bahwa mereka yang turun jalan itu tir tau apa-apa. Mereka tahu sesuatu. Bahwa draf finalnya tidak muncul ke publik, beberapa orang telah membaca draf awalnya dan menemukan ruang-ruang tak nyaman di sana, ruang-ruang yang harus dibicarakan.

Tetapi saya kira, tidak nyaman juga melihat percakapan tentang 'sudah baca draf undang-undang itu'? Ketidaknyamanan terutama adalah sebab narasi demikian umumnya ditujukan sebagai olok-olok yang datang dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa kepada orang yang lumayan tahu.

Saya lalu menulis status ini di facebook:

Kalau besok kau ngobrol soal Omnibus Law terus ada kaup teman yang tanya tentang 'pasal-pasal spesifik', kau tanya dia juga pertanyaan yang sama. Kalau dia jawab "kan saya yang tanya pertama to"?, itu artinya dia tanyakan itu untuk mengolok-olok dan dia kaget bahwa dia langsung diolok-olok juga. Kita begitu. Tanya sesuatu dengan harapan seseorang terjebak (supaya dengan demikian kita mudah mematahkan pendapatnya) tetapi kita sendiri tidak tahu kenapa kita bela itu barang. Eh, bukan kita. Tapi saya. Saya yang sedang baca sendiri ini status. Saya yang merasa bahwa saya harus sudah selesai baca itu sembilan ratusan halaman baru boleh bersuara. Hihihihi.... Eh... Maapken. Sa ketawa. 900-an halaman? Baca berita sepotong (yang datang dari sumber yang tersistematis) terus kau rasa bahwa yang bersikap berseberangan itu harus baca lengkap? Coba sa pegang kau pu dahi? Kau reaktif barangkali! Reaktif bau tahi. Atau bau kandang babi! Macam sa, yang baca sendiri(an) ini status dan merasa sedang mandi tahi di kakus. Ps: (1).Sesekali, coba lihat komposisi UU. Undang-undang 29 halaman: hal. 1-7 berisi hal-hal umum (menimbang, dll.), hal. 20-29 adalah penjelasan atas pasal-pasal. Yuk, buat persentase; (2).Kalau kau sendiri belum baca itu 900-an halaman lalu merasa pantas menghakimi mereka yang turun jalan sebab menduga mereka terlampau reaktif, sa kira kau harus mandi tahi. Sa tir tahu manfaatnya,tapi di zaman ini kita berhak memberi saran yang kita sendiri tir tahu kegunaannya. Salam.

Status itu penuh kemarahan. Beberapa teman membaca demikian. Barangkali memang demikian. Atau tidak. Atau apa saja.

Kedua, Mahasiswa Sebaiknya di Kampus Saja


Ini adalah yang bikin sa rasa tir tahan sedih. Duh! Lalu saya bikin status facebook lagi. Sebab 'permintaan-permintaan' seperti itu memang ramai di facebook. Semacam ingin menyeimbangkan saja. Sa pikir itu yang sa buat. Melalui status ini:

Kamu tir tau apa-apa. Tirusah ikut itu aksi. Pi kuliah saja. Kita bilang begitu. Sekilas bijak. Sa lihat begitu. Sampai kemudian sa sadar, itu kalimat dorang sedang menjelaskan bahwa di kita pu mata, para mahasiswa itu tir bisa pikir, tir bisa pake mereka pu kepala; kita meremehkan mereka: kita pu anak-anak dan adek-adek dorang. Paling buruk adalah, kita hanya setuju mereka pu kegiatan yang sesuai dengan yang kita pikirkan atau rancang. Kita larang mereka merdeka, kita larang mereka memikirkan sendiri hidup mereka dan belajar akan risikonya. Lalu sa tiba-tiba ingat puisi "Surat dari Ibu". Pergi ke dunia luas, anakku sayang, pergi ke alam bebas...

Besok, barangkali saya akan bikin status lagi. Mungkin yang lebih berdarah-darah atau justru yang bikin kita terbahak-bahak. Sebab pada titik tertentu, hal-hal menyedihkan kadang bisa bikin kita tertawa. Misalnya ada orang yang bodoh sekali dan begitu percaya diri, kita harusnya tertawa. Iya to?

Salam

Armin Bell, Ruteng - Flores

Baca juga: DURENG DI RUTENG DAN ORANG-ORANG YANG MENYERAH

Bagaimana Ivan Nestorman Melihat "World Music"?

Artikel ini ditulis oleh musisi Ivan Nestorman dan disebar via WhatsApp. Tentang bagaimana Ivan melihat world music. Saya menemukannya pertama kali di WAG yang saya dan Ka Ivan sama-sama jadi anggotanya. Membaca artikel ini pertama kali, saya langsung menghubungi seniman kebanggaan kami ini dan meminta agar artikel ini boleh saya unggah ulang di ranalino.id. Beliau setuju. Saya senang. 

Artikel ini berjudul asli "World Music dari Sisi Praktisi", judul yang menjelaskan isi artikel secara utuh: Ivan Nestorman menggeluti 'jenis' musik ini dan ingin berbagi cerita tentang apa yang dia rasa dan tahu tentang world musik ini. Yuk, kita simak!

Ivan Nestorman, Trie Utami, dan Ramlan Ponggo di Toto Kopi | Foto: Kaka Ited

World Music dari Sisi Praktisi

Oleh: Ivan Nestorman

World music adalah rumah, sebuah konsep musik yang memberi ruang kepada musik-musik etnis untuk berkembang dalam konteks industri. World adalah istilah marketing, industrial; terinspirasi World Harmony (harmonia mundi) yang menampilkan musik dari lima benua pada sebuah iven olahraga di Jerman dan juga beberapa iven budaya yang memberi ruang untuk musik-musik non-Eropa tampil.

World music hadir dalam dua kutub yaitu Eropa dan Amerika.

Di Eropa, world music lebih cenderung kepada upaya menghadirkan suatu peradaban musik dunia yang menggabungkan eksotisme oriental dan tradisi oksiden. Eksotisme musik Timur dianggap sebagai energi baru untuk satu sajian hybrid yang bernama suguhan musik dunia (world music); berangkat dari kegelisahan pemusik untuk terus berkarya melampau batas-batas peradaban yang diketahuinya.

Oleh karena itulah, kemudian, world music menjadi rumah, sebuah konsep musik yang mempunyai banyak bilik di dalamnya, seperti jazz yang merupakan sebuah konsep juga, bukan pola irama. Tidak ada irama world music atau irama jazz.

Di Amerika, umumnya istilah world music adalah (untuk) musik-musik dari sisa dunia, budaya lain selain Amerika Serikat. Atau, musik primitif, namun bukan dalam pengertian yang peyoratif, lebih kepada pengertian antropologis.

Baca juga: Ivan Nestorman Bicara tentang Pemajuan Kebudayaan di NTT

Bilik bilik World Music


Begitu beragam kamar kamarnya:

  • Musik indigenous (primitive): Musik-musik asli masyarakat;
  • Kreasi baru atau gaya baru: Contohnya musik Brazilyang dalam bahasa Portugis dinamakan bosanova yaitu upaya menggabungkan jazz dan slow-samba; tokohnya Carlos Jobim;
  • Etnis kontemporer: Suatu penyampaian musik etnis dengan lebih kontemporer, keluar dari pakem yan ada namun meninggalkan nuansa etnis.
  • New Age: Lebih ditandai musik-musik elektronis dengan hadirnya ritmik-ritmik elektronis dari looping-an mekanis atau sampling ritmis. Sesekali dikombinasikan dengan vokal-vokal unik dari bangsa lain, ditempel ke dalam teknologi rekaman. Kitaro merupakan contoh yang kita kenal.

Namun terkadang penamaan suatu genre merupakan hasil kerja tim marketing atau media. Pemusik selalu bekerja dengan hatinya berdasarkan inpirasi yang didapatkannya. Pihak lain yang cendrung melabelisasi dalam frame industri.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik...


Neo Tradisi (dari Sisi Praktisi)


Ini adalah salah satu kamar dalam world music yang saya geluti:

Neo tradisi sejatinya adalah sikap minimalis dalam bermusik dengan upaya memberi interpretasi ulang terhadap motif-motif asli dan terutama memberikan nuansa inovatif di dalamnya. Universalitas rasa digodok.

Pengertian minimalis bisa juga dalam bentuk non-material dengan tidak harus menghadirkan alat-alat etnik asli di dalam penampilannya. Yang diutamakan adalah idealisme nuansa atau spirit yang dihadirkan. 

Misalnya dengan memainkan slendro (kadang kala dieja sebagai saléndro) pada gitar-gitar atau piano dapat juga menghadirkan nuansa etnis tertentu, dan sebagainya. Contoh irama sawah dari drum. Gilang Ramadhan bisa memainkan motif-motif Tebe (Timor) dari puluhan penabuh likurai, misalnya. Banyak contoh lainnya dan hal itu berpulang kepada misi masing-masing pemusik.

Sisi lain dari world music sebagai katalog industri adalah produk yang radio friendly/ramah radio. Mungkin sekarang ramah anak muda. World  music membuka peluang hadirnya nuansa ekspresi genre lain seperti jazz atau reggae/rock, dan lain-lain. 

Di situlah upaya kita menghadapi tantangan dengan membangun keseimbangan antara art dan commerce. Kita tidak melulu memikirkan sisi art tetapi juga sisi commerce. Meskipun itu berpulang pada pilihan masing masing pemusik. 

Di Indonesia, pemusik (baca: world music) berada pada posisi berat; berdiri pada kutub art atau commerce. Seperti orang normal lainnya, para pemusik world music juga berhadapan dengan masalah domestik. Sandang, pangan, papan, tentu saja menjadi kebutuhan dasar hidup. Mempertahankan idealisme di tengah arus kehidupan merupakan pilihan super-berat dari sisi finansial di daerah-daerah. Di situlah 'musik idealisme' itu kadang ditinggal. 

Itulah yang saya jumpai, di Labuan Bajo misalnya. Mengapa?

Ekosistem world music di Indonesia, dalam bingkai industri hiburan, masih belum selesai terbentuk. Dia masih menjadi musik komunitas dengan segelintir penikmat. Masyarakat kita asing terhadap musik tanahnya sendiri. Alhasil, nuansa art harus mengalah pada commerce: banyak  pemusik akhirnya tidak fokus dengan world music.

Baca juga: Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan!

Padahal, dari sisi demografi, akan ada saatnya banyak anak muda berubah juga taste-nya. Mereka ingin menukik lebih dalam, dalam pencarian jati dirinya.

Belum adanya label-label khusus yang seperti Putumayo di AS mengakomodasi katalog musik world music di Indonesia juga merupakan kendala tersendiri, belum lagi radio-radio swasta yang tidak memutar lagu berbahasa daerah misalnya; seakan-akan musik etnis itu musik daerah yg hanya boleh diputar di RRI Pro 4. Langkanya sponsorship (kecuali ada hubungan baik) juga jadi kendala dalam menggelar konser-konser. 

Di sisi lain, kita, para pemusik harus memikirkan telinga audiens juga. Ini sedikit dari sisi commerce. Musik etnis kita harus bisa lentur juga, sesuai situasi dan kondisi. Ini perlu kreativitas dan musikalitas yang mendukung agar penguatan nuansa tertentu terjadi. Misalnya, dalam sebuah iven jazz, aransemen etnis diberi nuansa jazz yang cukup. Karena, orang datang menonton jazz, bukan etnis.

Dalam event-event luar negeri, saya menggunakan pendekatan lain lagi. Beruntung karena world music adalah sebuah konsep seperti jazz, happening art bisa saja terjadi sesuai sikon setempat. Kolaborasi bisa menjadi gimmick yang menarik. Contoh rekaman seperti yang saya buat dengan kang Dwiki Dharmawan yang seorang pejazz, dalam lagu "Benggong" pada albumnya. Ketika menyodorkan lagu tersebut, chord-chord jazz saya masukan untuk dasar lagu itu. Namun tentu harus cermat dan hati hati menggarap chord dan harmoninya.

Dalam grup Nera, bersama Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Adi Darmawan, kami padukan instrumentasi modern dengan spirit etnis. Apakah itu ada unsur new age, neo tradisi, bisa saja. Ada pula yang menyebutnya jazz etnis, moderen etno, dan  lain sebagainya.

Pada akhirnya hanya ada dua jenis musik. Musik enak dan tidak enak. Itupun bisa disanggah karena, soal rasa tidak bisa diperdebatkan.


Posisi Tawar World Music pada Destinasi Pariwisata


Indonesia yang beragam budaya musiknya, jelas merupakan sebuah kekuatan di tengah  gelombang musik yang terdengar generik saat ini. Ketika dunia jadi kampung global, identitas diri itu yang justru dipertegas di destinasi wisata kita. Keotentikan musik yang ada niscaya mempunyai posisi tawar yang tinggi. Orang ke Brazil ingin nikmati sambanya boda novanta. Ini membuktikan kekuatan musik lokal itu benar adanya pada sebuah destinasi.

Namun sekali lagi, perlu dipertimbangkan rasa “enak atau tidak”-nya dalam konteks universalitas rasa. Itu dari pengalaman pribadi saya. Referensi perlu terus diperkaya. Niscaya world music bisa jadi tuan rumah di radio-radio kota besar yang merupakan acuan dan referensi musik nasional.

Dari pengamatan terhadap teman-teman di Labuan Bajo atau NTT umumnya, pilihan untuk melakukan world music ini sesuatu yang berat. Dari sekian banyak hotel atau kafe musik yang ada, belum ada yang berani tampilkan musik-musik etnis atau world music. Dari keluhan keluhan mereka, nyata bahwa audiens/pemilik tempat hiburan masih keberatan lagu-lagu etnis dimainkan.

Di daerah pariwisata pantai di Indonesia saya melihat sudah menjadi habitat komunitas musik reggae. Nah itu bisa diolah dgn memasukan unsur tropical reggae itu ke dalam musik etnis. Sebagai salah satu bentuk ekpresi selain jazz atau rock misalnya.

Sebuah kenyataan adalah genre benar-benar melebur dewasa ini menjadi satu musik dunia saja dengan rupa rupa ingredient.(*)

----

Bonus dari Youtube Nestornation Channel


Saeh Go Lino, 7 Tahun dan Berlipat Ganda

13 September 2020, Komunitas Saeh Go Lino, Ruteng masuk ke usia yang ketujuh. Ya. 7 tahun. Kami sudah siap masuk Sekolah Dasar. Normalnya begitu. Usia manusia. Tetapi komunitas tentu saja tidak begitu. 7 tahun seharusnya bukan 'anak baru' lagi. Lalu, kami di mana?

Saeh Go Lino, 7 Tahun dan Berlipat Ganda

Saeh Go Lino, 7 Tahun dan Berlipat Ganda

Judul ini barangkali terlampau bombastis. Ya. Macam talalu lebe, kalau orang kami bilang. "Berlipat ganda apanya? Baru sampai di usia tujuh tahun jugaaa... Hisssh!" Ada dengung begitu di kepala. Tetapi saya abaikan saja sebab hati ini sedang melonjak-lonjak kegirangan.

Ini adalah catatan tentang 7 tahun Saeh Go Lino, komunitas (lebih tepat kami rasa sebagai rumah) yang cikal bakalnya muncul tahun 2013 silam. 13 September 2013. Tentang bagaimana 'hari cikal bakal' diputuskan sebagai 'hari lahir Saeh Go Lino', ceritanya panjang dan anak-anak rumah telah memahaminya. Ada beberapa benang yang sudah dititipkan beberapa artikel di ranalino.id ini perihal itu: Ora The Living Legend di Sail Komodo 2013 dan Saeh Go Lino Menjadi Nama Komunitas.

Tentang usia tujuh tahunlah yang hendak saya ceritakan kali ini. Tentang hati saya yang melonjak-lonjak kegirangan; kami sampai di usia yang ke-7 juga akhirnya. Why so happy? 

Begini. Saya, sebagaimana sekian banyak manusia yang senang berkumpul, telah bergabung bahkan turut serta mendirikan banyak komunitas. Komunitas-komunitas itu hidup baik sekali di satu dua tahun pertama, beranggota banyak sekali, lalu perlahan ditinggalkan atau meninggalkan anggotanya. Soal-soal kesamaan atau ketidaksamaan arah pikir biasanya jadi alasan utama. Alasan kurang utama? Kadang soal uang. Ada beberapa yang menikmati keuntungan finansial berlebih, ada yang seperti menghidupkan lagi nuansa romusha (lalu sadar bahwa Perang Dunia II telah selesai dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa), ada yang karena telah bertemu dengan kekasih yang lain... halaaah.

Atas dasar pengalaman-pengalaman itulah, saya dan beberapa teman yang memutuskan membangun rumah bernama Saeh Go Lino, tidak terlampau menyiapkan diri untuk sampai di usia yang ketujuh. Juga karena alasan itu maka tidak ada perayaan-perayaan besar pada ulang tahun 1, 2, atau 3 (sebagaimana biasanya komunitas-komunitas tempat saya bergabung sebelumnya). 

Jalan saja dulu. Toh, ini bukan komunitas dalam arti yang sama dengan komunitas sebelum ini. Ini rumah. Artinya, sebagai rumah, dia bisa saja ditinggalkan tetapi akan tetap jadi tempat kembali. 

Begitu pikiran awal dulu dan itulah yang terjadi. Tak seorang pun dari rumah bernama Saeh Go Lino ini yang dilarang pergi atau dilarang kembali. Sebab, bukankah begitu seharusnya sebuah rumah; kau siapkan orang-orang di dalamnya agar ketika pergi tetap membawa semangat rumah dan ketika kembali akan tetap disambut dengan pelukan hangat. Tujuh tahun ini begitu.

Dan berlipat ganda!

Sejauh yang saya ingat, pasukan awal Saeh Go Lino tidak sebanyak sekarang. Sekitar sepuluh orang. Yang pertama kali bertemu tak sengaja di pentas opera Ora The Living Legend di Pede, Labuan Bajo dan sehari-hari bergabung di OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng. Oleh karena tidak setiap 'keinginan kreatif' dapat ditampung di kelompok kategorial paroki, rumah ini dibangun, dipelihara, dan diisi perlahan.

Berikutnya adalah bercerita melalui mulut dan tingkah laku tentang rumah ini. Berakibat baik. Satu, dua, tiga, empat orang datang. Semula berkunjung saja. Lalu dijerat (paksa?) untuk ikut membantu satu-dua kegiatan. Lalu mereka suka. Menerima begitu saja tawaran menjadi anggota rumah, memberikan seluruh kemampuan terbaiknya, dan rumah ini menjadi semakin kuat pondasinya. Perlakuannya sama saja: kau bisa sesekali pergi tetapi kau tentu saja akan kembali. Barangkali karena itulah Saeh Go Lino berlipat ganda anggotanya. Dan kami semua senang. Sepanjang mereka 'membawa' pelajaran rumah ke tempat lain dan tidak 'menjual' rumah untuk kesenangan pribadi.

Di Saeh Go Lino kami saling mengingatkan. 

"Besok saya ikut kegiatan bla bla bla..."

"Sip. Sukses. Jangan pake baju Saeh Go Lino em."

"Siap."

Dialog pendek semacam itu menjadi penting sebab di Saeh Go Lino, preferensi politik atau hobi seseorang sama sekali bukan urusan komunitas/rumah. Urusan rumah adalah bersama-sama terlibat sesuai kapasitas masing-masing untuk menyukseskan apa yang telah jadi rencana bersama. Urusan lain yang tak kalah pentingnya adalah sama-sama belajar menggunakan media sosial dengan baik; media sosial haruslah menyenangkan dan tidak jadi ladang untuk benih-benih kebencian. Untuk urusan terakhir ini, kami biasanya 'saling hajar' di WAG ketika seorang dari kami terlihat mulai memanfaatkan media itu untuk hal-hal yang berpotensi buruk.

Lalu apa yang kami lakukan ketika ada 'anak rumah' yang berkegiatan di tempat lain? Kami mendukungnya. Membekalinya dengan nasihat-nasihat, harapan-harapan, doa-doa; dia dilarang mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri dan kami melarang diri kami sendiri mengakui keberhasilan personalnya sebagai keberhasilan komunitas. Dia harus sukses. Sebab kalau dia gagal, kami sekeluarga yang akan sedih. Kalau dia berhasil? Kami bergembira bersama. Semalam penuh. Atau bermalam-malam. Sebab kami biasanya kumpulnya memang malam. Hihihi...

Dan...

Di rumah ini, semua orang mendapat kesempatan memimpin. Oh, iya. Tentu saja ada badan pengurus. Sebab Saeh Go Lino sudah memiliki akta komunitas. Tetapi dalam setiap kegiatan, selalu ada yang jadi (kami sebut) project manager. Tugasnya adalah memastikan bahwa kegiatan itu berjalan. Dan project manager ini tidak pernah orang yang sama, tidak pernah selalu orang yang kalau diskusi omongannya terdengar hebat, tidak pernah memandang tingkat pendidikan. Sebab jika memandang yang terakhir ini, mungkin project manager kami hanya satu atau dua orang saja.

Anehnya, kami semua, termasuk yang sudah berusia agak dewasa seperti saya, mau saja diatur-atur oleh project manager yang kadang usianya terpaut belasan tahun. Hiks.... Kadang sedih, tetapi terutama senang. Bahwa rumah yang kami ciptakan sebagai tempat belajar benar-benar menjadi tempat tumbuh kembang. Selama tujuh tahun terakhir ini. 

Bahwa ada pelajaran-pelajaran yang keliru, karena itulah kami membuka (atau menyerahkan?) diri pada begitu banyak orang baik di luar kami; yang kehadirannya selalu tepat waktu, tepat guna, tepat betul. Terlalu banyak nama sehingga memaksakan diri menulisnya satu per satu akan sangat mungkin membuat saya melupakan beberapa nama. Ingatan itu pendek, bukan? Tetapi doa akan panjang. Doa-doa dari kami semua kepada siapa saja yang telah membantu, yang telah memenuhi undangan kami, membeli produk-produk kami, menasihati kami, mengikuti kami di media sosial. Astaga! Kalian baik sekali. God must have spent little more time on you!

Begitulah... Kami berlipat ganda. Bukan semata jumlah anggota tetapi juga tanggung jawab. Dan, agar kami tidak terlipat kecil-kecil menjadi kenangan saja beberapa tahun ke depan, doakan agar rumah ini semakin kokoh. Terima kasih 1000, semuanya!

Salam dari Ruteng

Armin Bell

Hoiiiii....

Apakah ada yang sedang tidak tahu mau melakukan apa? Kita harus tos. Hi5, Kakak. Kita sama. Sa ju tir tau mau tulis apa padahal sa mau sekali tulis sesuatu. Bukan karena blog ini harus diisi tetapi karena blog ini harus mewartakan sesuatu. Hmmmm....

Hoiiii...

Hoiiiii....


Keharusan mengisi blog dan kewajiban mewartakan sesuatu via blog itu adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama mewajibkanmu mengisi blog secara reguler sedangkan yang kedua berarti isi blogmu harus berisi sesuatu yang (sebut saja) mampu jadi penambah pengalaman atau pengetahuan atau apa saja.

Nah... Soalnya persis di sana. Di yang kedua itu. Saya mau begitu. Bahwa setiap konten di blog ini sebaiknya mewartakan sesuatu. Sulit. Sebab mewartakan sesuatu di tengah pandemi--seperti saat ini--hanya berkonsekuensi dua: menjadi pengkotbah yang menjemukan atau menjadi pencerita yang membantu meringkankan beban. Mammamia!

Namun, menghabiskan waktu dengan memikirkan positioning macam itu akan buruk sekali akibatnya pada produktivitas. Maksud saya, misalkan mau menulis dan yang ingin saya tulis adalah kasus JRX, apakah saya sedang menjawab keharusan mengisi blog atau sedang ingin mewartakan sesuatu? Sila ganti JRX dengan nama lainnya. Dan selamat berputus asa, Kakak.

Maka saya putuskan untuk menulis saja. Tentang hal-hal random.

 Pertama, tentang perjuangan.

Saya, ketika sedang menulis ini, sedang kumpul bersama pasukan Saeh Go Lino. Sintus, Dodo, Adenk, Nathan. Kami sedang menikmati lagu baru MukaRakat. "Nona". Itu lagu bagus sekali. Kami semua suka. Video clip-nya, liriknya, vibe-nya, dan terutama "kami"-nya. 

Sa tir tau apakah Lipooz dan kawan-kawan sedang 'berjuang' tentang Indonesia Timur, tetapi percayalah, kami terwakili. Dalam banyak hal, single itu sedang menjelaskan tentang apa saja yang kami alami. Pesta, mau tampil prima di depan nona-nona dorang, gara-gara banyak, dan percaya diri full!

Di luar seluruh hal yang ada di lagu itu, hal di belakang lagu justru menjadi titik pusat obrolan kami. Tentang Lipooz dan perjuangannya.

Baca juga: Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan tentang Para Perantau Digital

Saya kenal Lipooz sejak lama. As a person. Sebagai pelaku industri kreatif juga sudah lama. Sa ikut dia pu perjalanan dengan serius. Dengan senang hati juga sebab karyanya selalu membuat saya terkagum-kagum.

Bahwa sekarang dia ada di level yang sangat baik, sa senang matipunya. Apa yang dia (dan MukaRakat) capai saat ini adalah sebuah penjelasan paling terbuka tentang apa yang selalu saya bilang dalam percakapan-percakapan spiritual kami di Saeh Go Lino: KONSISTENSI! Kau hanya bisa tepuk dada kalau kau konsisten. Lain tidak, Kaka! Sintus, Dodo, Adenk, Nathan angguk-angguk. Antara mengerti dan mengantuk. Tipis sekali bedanya. Tapi kita bisa apa?

Kedua, tentang meniru.

Sa lupa siapa yang bilang. Tapi sa ingat samar dia pu kalimat: seniman yang baik adalah yang mampu curi dan bikin lebi!

Kita semua sedang begitu sekarang ini to?

Di masa pandemi ini, semua orang berusaha menjadi kreator konten. Youtube sedang ramai-ramainya dengan pendatang baru. Ramai-ramai bikin konten. Sebagian menjiplak, sebagian menjiplak dan menambahi, sebagian lagi sibuk latihan bikin judul pemancing klik. Mammamia e!

Pada saat-saat tertentu saya seperti sedang menonton sampah-sampah digital. Sekian banyak orang melakukan duplikasi alih-alih replikasi. Sekian banyak media tumbuh. Dan menyampah!

Baca juga: Media Massa Online dan Soal-Soal di Sekitarnya

Lalu saya sadar bahwa di tengah situasi seperti ini kita tak bisa apa-apa. Apa yang kau harapkan dari orang-orang yang tidak tahu mengapa mereka dilarang berkumpul?

Ketiga, tentang kita.

Kau mau jadi apa?

Pertanyaan itu mengganggu sekali. Kita mau jadi apa? Kita barangkali bisa menjawab pertanyaan kau mau jadi siapa? Tetapi pertanyaan kau mau jadi apa adalah yang paling sulit dijawab. Jawaban paling normatif akan paling sering muncul: mau jadi diri sendiri. Tentu saja itu jawaban yang bagus kalau tidak ada pertanyaan lanjutan: diri sendiri yang bagaimana?

Sa ingat betul beberapa bagian yang sering sa bilang dulu waktu masih mengajar. Kepada para peserta didik sa minta: tulis di kau pu buku catatan, kau akan jadi apa sepuluh tahun dari sekarang?

Sa kira, pertanyaan itu sedang sa ajukan pada diri sendiri sekarang. Juga pada kita semua. Kaka dorang akan jadi apa sepuluh tahun dari sekarang?

Ini pertanyaan yang penting sekali. Setelah sekian banyak geliat aktivisme yang kau lakukan dengan penuh percaya diri itu, apakah kau yakin suatu saat tidak akan kapitalis?  (*)

Salam dari Ruteng

Armin Bell

Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?

Ini catatan lama. Bukan di blog ini. Tapi di akun facebook saya. Tanggal 17 Juli 2015. Judulnya aslinya bukan "Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?" seperti sekarang ini, tetapi ""Tentang Beribu-ribu Liter Air yang Kami Minum Ketika Tidur Sebulan Penuh". Saya unggah di blog ini bukan semata untuk kepentingan dokumentasi. Ini adalah pengingat. Untuk masa depan yang baik.

Photo by George Becker from Pexels

Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?

 

Ruteng, 17 Juli 2015

Tentang Beribu-ribu Liter Air yang Kami Minum Ketika Tidur Sebulan Penuh

Siang tadi saya menulis status tentang biaya rekening air yang harus saya bayar. Rp. 913.100,- untuk periode pemakaian Mei sampai Juni 2015. Sebulan. Dalam penjelasan yang saya terima di PDAM Tirta Komodo, Ruteng, angka sebesar itu untuk penggunaan sekitar 40 hari (karena pencatatan yang terlambat). Angka hampir sejuta pada rekening kami adalah hasil 'pemakaian' 242 meter kubik air dalam kurun tersebut. Jenis tarif kami adalah Niaga Besar--kompleks pertokoan Ruteng--dengan biaya Rp. 3.750,- per meter kubik.

Tertera pada rekening bertanggal 20 Juli 2015, angka awal meteran adalah 6.554 dan angka akhir, yang menurut petugas dicatat tanggal 27 Juni 2015, adalah 6.796; maka benarlah sudah jumlah meter kubik yang selama sebulan itu kami 'pakai', sehingga tepatlah pula jumlah uang yang harus kami bayar untuk air beribu-ribu liter itu.

Kami sama-sama bingung. Ya saya, ya petugasnya. Mengapa? 

Karena, dari mereka saya tahu bahwa, sesibuk-sibuknya atau sebanyak-banyaknya penggunaan air oleh lima orang dewasa dalam satu rumah sebulan, biasanya hanya mencapai 30 meter kubik. Dalam kasus saya bulan ini, ke mana 212 meter kubiknya? 242 - 30 = 212. Ya, 212 meter kubik siapa yang pakai?

Baca juga: Om Rafael Indonesianival

Dugaan awal adalah kebocoran yang tak diketahui. Dugaan tersebut terbantahkan dengan segera karena pipa air di rumah kami, sejak dari meteran sampai ke kran terakhir, tergeletak di atas lantai, tidak dikubur, terlihat; sesuatu yang akan dengan jelas kita ketahui bersama sebagai: kalau bocor pasti kelihatan.

Apakah meterannya bermasalah? 

Teknisi PDAM, saya kenal, teman saya, siang tadi bersama saya memeriksa. Meterannya baik-baik saja. Artinya, dugaan kedua juga terbantahkan.

Dugaan berikutnya adalah kesalahan pencatatan. Maka saya mengusulkan agar kami sama-sama melihat riwayat rekening kami. Semua normal, dalam arti: di bawah 30 meter kubik per bulan. Yang paling mencengangkan adalah bahwa dari 27 Juni - 20 Juli 2015, jumlah meter kubiknya kembali normal. Angka di meteran adalah 6.812 meter kubik. Jika dikurangi 6.796 berarti 16 meter kubik. Normal kan?

Pertanyaannya adalah ke mana 200 meter kubik air itu kami salurkan bulan lalu? Pada periode itu penggunaan air di rumah kami normal; mandi, makan, minum, pel, dan lain-lain. Misalkan ada kelalaian seperti lupa mematikan kran air, jumlahnya pasti tidak mencapai ratusan meter kubik. Karena kalau iya, rumah kami pasti kebanjiran dan tetangga kanan kiri akan ikut berenang. Iya to?

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, Di Koperasi Kita Menolong

Lalu saya menduga: benar, telah terjadi kekeliruan pencatatan, bukan pada bulan Juni tetapi sejak lama. Dugaan ini, sebagaimana dugaan lainnya tentu bisa salah, berawal dari obrolan bahwa cukup sering terjadi, petugas pencatat meteran tidak benar-benar mencatat setiap bulan. Kadang mereka alpa mengunjungi rumah-rumah pelanggan dan ketika menghitung rekening, asal menjumlahkan saja dengar pertimbangan logika sederhana: "Palingan bulan ini mereka hanya pakai sekian meter kubik." 

Maka didapat(terka)lah angka rekening kami pada periode sebelum-sebelumnya di kisaran 9 sampai 15 meter kubik per bulan. Misalkan pada kondisi sebenarnya kami memakai 20 sampai 25 meter kubik sebulan, bukankah itu berarti telah tidak dicatat 5 sampai 10 meter kubik setiap bulannya? Kalikan dengan 20 bulan, maka angkanya ya 200-an meter kubik tadi. Ya, kan? Sehingga terasa masuk akal saja ketika pada bulan Juni lalu petugas benar-benar mencatat dan ada foto meterannya juga pada komputer PDAM, angkanya telah mencapai hampir 6.800 itu tadi. 

Sekali lagi ini dugaan. Artinya, biaya hampir mencapai sebulan gaji saya di tagihan kami siang tadi adalah kekurangan pembayaran selama ini.

Baca juga: Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Saya baru pikirkan dugaan ini setelah membayar saja rekening air tak masuk akal itu. Saya memang tidak membayar penuh. "Hanya" Rp. 563.500,- sebuah angka yang tidak saya ketahui persis asalnya dari mana. Saya tanya: "Siapa yang bayar selisihnya?" Jawaban: "Petugas pencatat meteran di wilayah itu!"

Saya bingung. Mau kasihan pada diri sendiri atau petugas pencatat itu? Menurut keterangan, dia baru-baru saja (sejak Januari 2015) menjadi petugas pencatat dan (ini paling genting) dia hanya punya catatan meteran saya yang tanggal 27 Juni itu. Dia tidak punya catatan sebelumnya. Patut diduga, dia memang tidak benar-benar datang mencatat selama ini, meneruskan 'kekeliruan' masif bertahun sebelumnya.

Ya, ini dugaan, juga karena di PDAM siang tadi, kami memeriksa bersama riwayat meteran kami di buku catatan petugas pencatat sebelumnya, tidak diketahui jelas kapan catatan terakhir dibuat, lalu kosooong, sampai Juni lalu ketika pencatat yang baru menggunakan handphone dan merekam meteran dengan foto; PDAM Tirta Komodo sekarang menggunakan teknologi ini untuk pencatatan meteran pelanggan.

Berangkat dari dugaan ini, saya ikut-ikutan menduga, soal seperti yang kami alami hari ini mungkin akan (atau pernah?) dialami pelanggan lain. Jika dugaan saya benar, adalah baik jika manajemen PDAM memberi perhatian lebih pada soal catat mencatat ini.

Karena ini dugaan--saya menduga tidak dengan marah-marah--tentu saja kita semua diijinkan menduga kemungkinan penyebab lain. Misalnya, air yang 200-an meter kubik itu tanpa sadar kami minum ketika tidur malam dan terjadi setiap malam selama sebulan. Sah. Namanya juga dugaan. Iya to?

Ya begitulah...

Btw, terima kasih telah membaca catatan ini sampai selesai, silakan dibagi jika ingin disebarluaskan untuk kebaikan bersama. Jangan lupa periksa kran air anda sebelum tidur tetapi jangan biarkan kran berpikir ditutup terlampau lama. (*)

Salam

Armin Bell, Ruteng - Flores

Ps: Status facebook ini ramai dikomentari. Sebagian besar adalah kisah yang mirip tentang bagaimana kekeliruan di penyedia mau tidak mau harus ditanggung oleh pelanggan. Sesuatu yang tentu saja harus segera dibenahi. Saya lupa pernah membaca di mana, tetapi saya ingat satu informasi: di sebuah negara, jika penyedia listrik sengaja atau tidak sengaja mematikan listrik, maka pelanggan yang mengalami situasi itu dibebaskan dari biaya pembayaran sebulan. Ada hitung-hitungannya tentu saja. Hal yang begitu pasti baik sekali untuk meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan penyedia layanan publik di negeri ini.