76 Tahun RRI, Saya Mau Cerita tentang Radio Ini

Radio adalah teman terbaikmu ketika sedang patah hati dan matamu bengkak sehingga tak bisa mengakses youtube. Semilenial apa pun kau sekarang, radio akan tetap ada. Selamat ulang tahun ke-76 RRI. Radio Republik Indonesia.

Ada radio di belakang saya | Foto: Kaka Ited

76 Tahun RRI, Saya Mau Cerita tentang Radio Ini

Radio Republik Indonesia atau RRI membantu saya mengenal Ellyas Pical, Ribut Waidi, Butir-Butir Pasir di Laut, dan hal-hal yang memaksa saya membuat gambar di kepala ketika kecil. Mereka menyiarkan pertandingan tinju, sepak bola, dan drama radio ke kami punya rumah. Radio Philips warna oranye dengan tenaga empat baterai adalah teman yang hebat sekali. Hook kiri Eli, kenakalan Ribut di lapangan hijau, puluhan episode yang hebat dari Butir-Butir Pasir di Laut datang dalam bentuk suara. 

Butir-Butir Pasir di Laut adalah sandiwara radio yang ditayangkan RRI dalam rentang waktu yang sangat panjang. Pertama kali disiarkan pada 22 Februari 1972, sandiwara radio ini berlangsung dalam 5.700 episode hingga tahun 90-an. Saya mengikutinya ratusan episodenya dan menggambar pantai, tarian ombak, langit mendung dan halilintar dengan asyik sebab RRI melakukannya dengan baik hanya dengan suara. 

Generasi sekarang barangkali agak sulit membayangkannya. Generasi sekarang yang saya maksudkan adalah angkatan yang tidak pernah mendengar siaran langsung sepak bola via radio. Di masa serba streaming dengan lebih dari sepuluh kamera beroperasi dalam satu pertandingan, angkatan ini tidak perlu berat-berat berpikir bagaimana ekspresi para pemain Jerman ketika keok lawan Inggris di Euro yang baru saja berlalu (tetapi ingatan tentang Inggris yang spektakuler tapi gagal di detik terakhir masih membekas hiks...). Gambar bergerak memudahkan segalanya, Sambas tak ada lagi dalam cerita.

Siapa Sambas? Nama lengkapnya Sambas Mangundikarta. Seorang yang penting sekali bagi masa kecil kami yang jauh dari televisi. Sambas dikenal sebagai komentator dan reporter acara olahraga, terutama pertandingan sepak bola dan bulu tangkis. Tirto.id menulis Sambas adalah tipe pembicara publik yang langka. Suaranya kadang datar, kadang melengking, kadang diselipkan guyonan ringan. Meski tak hiperbolis, Sambas mampu mengobarkan emosi para pemirsa, terutama penonton sepak bola dan bulu tangkis. Terakhir kali suaranya yang “menenangkan kalbu” didengar pemirsa adalah di kejuaraan sepak bola Piala Eropa 1996. Generasi sekarang tidak tahu bagaimana rasanya 'melihat' gol dan perayaan para pemain atas gol itu dari 'penjelasan' seorang penyiar, tanpa gambar. Saya melakukannya ketika kecil dan turut melonjak kegirangan. See?

Ah... Masa itu memang sudah dulu sekali. Radio, ketika itu, tidak hanya sebagai sarana hiburan tetapi juga penanda ekonomi bagi orang Manggarai. Pernah tahun PEKOSAMARAGA? Itu indikator kesejahteraan masyarakat Manggarai dan radio ada di dalamnya. Radio yang berisi RRI, BBC, ABC, dan RPD Ruteng, sumber suara yang membantu kami menggambar lanskap di kepala. 

Baca juga: Orang Manggarai Harus Tahu PEKOSAMARAGA

Theatre of mind. Begitu radio dijelaskan dan RRI melakukannya pada masa kecil saya. 

Angkasawan--saya tidak tahu apakah masih digunakan sekarang, sebutan untuk penyiar RRI adalah hal lain yang begitu imajinatif; seseorang bicara padamu dari angkasa masa kecilmu. Wah! Pengalaman mendengar RRI (juga ABC, BBC, dan RPD) di gelombang SW menolong saya lebih adaptif ketika masuk ke dunia FM, menjadi penyiar. 

Ya, saya pernah siaran. Di Malang di Radio MAS FM dan di Ruteng di Radio Lumen 2003 dan RSPD Suara Manggarai. Saya senang melakukannya, menolong orang yang harus tetap bekerja tetapi juga harus mendengar cerita, berita, dan lagu. Saya menggarap iklan-iklan radio dengan basis pengalaman mendengar RRI ketika kecil; bagaimana menjelaskan sesuatu ketika yang kau punya hanya suara. Seperti pengalamanmu mendengar dongeng dan mulai menggambar di kepala, bukan?

Baca juga: Sejarah Hari Dongeng Sedunia, Manfaat dan Cara Memilih Dongeng untuk Anak

RRI sekarang berusia 76 tahun. Sebagaimana nasib radio pada umumnya, RRI juga pernah diramalkan akan segera bernapas kembang kempis sebab new media sedang begitu pesat tumbuhnya. Koran-koran mati. Televisi mulai susah hidup. Apakah radio akan pingsan? No, mameeen. Selama orang-orang masih bergerak, radio masih akan tetap ada. Satu-satunya media massa yang dapat kau nikmati sembari melakukan pekerjaanmu yang lain. Kau tidak bisa menonton televisi sambil menyetir, baca koran ketika mandi, mengakses youtube ketika air matamu sedang mengalir deras karena patah hati. Iya to? Radio ada di situasi itu dan situasi-situasi lainnya yang mirip. Kau membutuhkannya bahkan ketika kau hidup di zaman yang telah selesai milenial. 

Begitulah!

Sekarang, setelah tidak di call box lagi, menyaksikan RRI berkembang baik dan tidak 'matikutu' di hadapan teknologi informasi ini membuat saya senang: sebagian masa kecil saya tetap selamat dan (semoga) terwariskan ke anak-anak saya--menggambar dunia hanya dengan mendengar suara. Selamat ulang tahun, RRI. Sekali di udara, tetap di udara!

Salam dari Ruteng

Armin Bell

Isoman dan Betapa Rapuhnya Kita Diserbu Suara Ambulans

Suara ambulans sudah lebih banyak dari aturan minum obat. Lima kali sehari. Pengalaman yang sungguh buruk di masa-masa orang terdekatmu sedang isoman: isolasi mandiri karena Covid-19. Berita-berita mengabarkan jumlah orang-orang yang harus pergi selamanya ke keabadian bertambah setiap hari. Betapa rapuhnya kita!

Rumah Dinosaurus

Isoman dan Betapa Rapuhnya Kita Diserbu Suara Ambulans

DISCLAIMER: Catatan ini sebelumnya adalah status facebook yang kemudian diunggah kembali oleh sebuah media daring. Judul aslinya adalah "Kami Masih Isoman, Kamu Masih Harus Jaga Diri!" 

Begini. Pekan lalu, Celestin demam. Kaka Rana, yang sedang senang-senangnya buka salon di rumah, merawat wajah mamanya. Sambil ngobrol, sambil putar musik relaksasi, sambil mengusir saya dari kamar. Saya menurut saja, pura-pura sibuk sebarang di sekitar rumah. Demam turun, Mama Rana memutuskan melakukan rapid test antigen. Hasilnya, dia terkonfirmasi positif Covid-19. Panik? Panik dong... Hari itu juga saya ke klinik Wae Laku, rapid juga, negatif. Puji Tuhan.

Sehari setelahnya, kami sekeluarga rapid lagi sebab meski kami tahu bahwa rapid tracing paling efektif dilakukan lima hari setelah kontak erat, kami tinggal serumah to? Kontak erat terjadi setiap hari dan kami tidak tahu sudah berapa lama virus itu ada di Mama Rana. Kami semua negatif: saya, Kaka Rana, Lino, Alamani, Kaka Rita, Kaka Ilda--orang-orang serumah. Juga bersama beberapa orang lain yang beberapa waktu terakhir sering di rumah kami, negatif juga. Itu adalah hari kedua Mama Rana berada di kamar sendiri dan hari kedua kami sekeluarga memakai masker sepanjang waktu kecuali waktu mandi, makan, atau sedang berjauhan dengan penduduk rumah yang lain. 

Baca juga: Semua Ayah yang Beruntung

Jika terpaksa ke luar rumah untuk membeli sesuatu, masker dobel. Sesekali saya pikir juga masker triple yaitu masker muka sebab asyik juga rasanya wajah ini dirawat, tetapi tidak tega rasanya melihat orang-orang di sekitar kami terkejut.

Masih pada hari kami sekeluarga melakukan rapid test sekeluarga, teman-teman Puskesmas Kota datang membawa obat dan vitamin untuk Mama Rana dan kabar untuk kami yang lain bahwa tracing kontak erat bagi kami akan dilakukan di Puskot lima hari kemudian. Hari Selasa kemarin seharusnya, tetapi karena bertepatan dengan tanggal merah--Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya--diundur ke hari ini. Rabu, 21 Juli 2021. 

Kami berangkat tadi pagi. Oma Yuli Rangkat juga ikut sebab sebelum Mama Rana terkonfirmasi, sempat juga mereka bertemu: kontak erat. Semua pake masker berlapis-lapis. Bertujuh kami di-rapid. Enam orang negatif, satu terkonfirmasi positif. Kaka Rana. Astaga... 

Saya dan Lino pasti akan merindukan pelukan mereka dua pekan ke depan (atau lebih?). Tetapi untunglah mereka baik-baik saja. Kaka Rana masih ceria dan memasuki kamar isoman setelah menyiapkan semua perlengkapannya untuk dua pekan ke depan. Mama Rana, yang sedikit kehilangan sedikit kemampuan merasa dan menghidu--tetapi rasa sayangnya padaku tidak berkurang cie cie cieee--menyambutnya di kamar isoman itu. Saya dan Lino dan pasukan serumah menyaksikannya, Lino menyilangkan jempol dan telunjuk tangan kanannya sambil bilang 사랑해; saranghae

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng

Saya semakin terbiasa melakukan isoman ini (atau semakin baik dalam membiasakan diri?) sambil berpikir bahwa tidak ada yang mudah pada masa-masa seperti ini. Mama Rana menambah daftar panjang tenaga kesehatan yang terpapar; berapa banyak orang-orang sakit gigi, pasien-pasiennya, yang tidak tertangani beberapa waktu ini? Mama Rana juga menambah panjang daftar pelaku ekonomi yang kehilangan pendapatan harian; kami sempat membeli beras yang cukup tetapi bagaimana dengan mereka yang 'karantina berarti mati'? Kami di kota. Akses pada obat-obat dan vitamin juga video-video lucu yang menambah imun tubuh adalah sesuatu yang mudah. Bagaimana nasib mereka yang di kampung-kampung? Dan, bagaimana nasib tenaga kesehatan yang terpaksa berjibaku dengan kita yang tidak terlampau percaya bahwa virus ini berbahaya (kita mungkin kuat tetapi beberapa orang kesayangan kita rentan sekali!)?

Percayalah... Ketika mulai menulis ini, saya berharap catatan ini akan menyenangkan. Tetapi barangkali memang tidak semua harapan bertemu kenyataan. Kita berharap semua patuh prokes tetapi seseorang di luar sana sedang tidak bisa membeli masker dan terpaksa menjadi tukang ojek dengan risiko tertular atau menularkan. Apa yang terjadi setelah hari ini?

Di rumah kami, lima orang yang masih boleh bergerak bebas di dalam rumah dengan tetap memakai masker tentu saja, akan di-rapid lagi lima hari berikutnya. Semoga semua baik-baik saja. Kami menyemprot uang dan tangan kami dengan disinfektan ketika hendak berbelanja agar tidak ada lagi yang tertular oleh penghuni rumah ini. Lalu siapa yang akan mengendalikan laju persebaran virus ini di luar sana? 

Baca juga: Piala Pertama Kita yang Patah dan Terlupakan

Kami serumah adalah Army. Penggemar BTS--kecuali Alamani yang sedang konsentrasi belajar lagu-lagu Rohit Lando. Karena itulah setiap hari selalu ada lagu-lagu BTS. Yang terbaru adalah "Permission to Dance". Kami akan menari setiap pagi. Dan tentu saja akan sepenuh hati menyanyikan Life Goes On: Like an echo in the forest/ 하루가 돌아오겠지/ 아무 일도 없단 듯이/ Yeah, life goes on// Like an arrow in the blue sky/ 또 하루 더 날아가지/ On my pillow, on my table/ Yeah, life goes on like this again/ Biarkan saya memberi tahu Anda dengan lagu ini/ Orang bilang dunia telah berubah/ Tapi untungnya antara kamu dan aku/ Tidak ada yang berubah//

Seharusnya begitu, barangkali. Tidak ada yang berubah sepanjang kita sepakat bahwa pada masa yang tidak baik-baik saja ini kita saling jaga. Yang bertugas membuat kebijakan menjaga kita dengan kebijakan yang menyelamatkan, kita menjaga orang-orang di sekitar kita dengan melaksanakan himbauan-himbauan: patuhi prokes! Seperti kata Alamani: buka, buka, buka hatimu... Atau seperti kami para Army sering berteriak-bersuka: Side step right left to my beat (Heartbeat)/ High like the moon rock with me baby/ Know that I got that heat/ Let me show you 'cause talk is cheap/ Side step right left to my beat (Heartbeat)/ Get it, let it roll... Kita bisa, Guys!

---

Ah, iya. Selama masa Mama Rana dan Kaka Rana melakukan isoman, selama masa itu pula kecemasan rasanya tidak pernah selesai. Semoga mereka yang meninggalkan kita di masa pandemi ini mendapat kebahagiaan kekal, Amin! 

---

Selama isoman, Kaka Rana latihan bikin video dan ini hasilnya...


Salam

Armin Bell, 21 Juli 2021

Lawless Jakarta Menendang Gofar; Tak Ada Lagi Tangan Besar Lindungi Pelaku Pelecehan

Siapa Gofar Hilman? Ada apa dengan Lawless? Bagaimana hubungan keduanya pasca-kasus (yang ramai disebut sebagai) kasus pelecehan seksual?

Gofar Hilman dan pengumuman Lawless pasca ramainya percakapan tentang pelecehan seksual

Lawless Menendang Gofar; Tangan Ada Lagi Tangan Besar untuk Pelaku Pelecehan

Gofar Hilman adalah satu dari beberapa orang terkenal, yang namanya jadi lebih ramai dibicarakan oleh orang-orang dari seluruh kalangan karena kasus pelecehan seksual. Maksudnya, pembicaranya datang dari lingkaran , bukan dari lingkaran yang telah mafhum tentang kiprah mereka. Saya termasuk orang dari lingkaran lain itu; tidak punya sedikit pengertian pun tentang siapa Gofar sebelumnya--juga tentang Lawless yang akan turut dibahas di dalam tulisan ini. 

Tetapi tentu saja tidak adil jika saya lantas bilang bahwa Gofar Hilman menjadi lebih terkenal karena pelecehan seksual. Barangkali benar, tetapi tidak sepenuhnya benar. Tetapi yang pasti benar adalah  saya jadi atau tahu tentang penyiar radio cum youtuber cum aktor cum pembaca acara ini dari sana. Dari percakapan yang ramai di internet. Dari percakapan yang lalu membelah 'mahabenar netizen' ke dua kubu besar, pro- dan kontra-, dengan irisan kecil bernama orang-orang bijaksana di tengahnya. 

Hmmm... Orang-orang bijaksana itu adalah mereka yang tidak bisa memilih kubu pada situasi pelecehan seksual dengan alasan bahwa mereka adalah umat Bang Napi dari tayangan televisi di masa lalu yang selalu bilang "kejahatan bukan hanya karena ada niat tetapi juga karena ada peluang". Entah karena usia mereka telah menua--sebab Bang Napi sudah lama pensiun--dan karenanya lantas merasa harus bijak (padahal sama sekali tidak bijak) atau karena isi kepala mereka sedang lelah saja, mereka mereduksi ungkapan legendaris Bang Napi itu sebagai: seorang perempuan yang ke tempat hiburan dan hendak bertemu idolanya adalah peluang. Sehingga, pelecehan yang sempat ramai dibicarakan itu tidak terjadi karena niat semata-mata niat (kebiasaan) si Gofar ini. Kelompok dalam irisan ini tentu saja menjadi kelompok paling tidak menarik dalam percakapan tentang pelecehan seksual. Asli! Ada yang mengaku sebagai korban, Kakaaak. Bagaimana kalian itu? Eh, tapi kenapa saya malah bahas kelompok tidak menarik ini? Haissssh... 

Balik ke hal 'menjadi lebih terkenal' saja tah...

Baca juga: Agnez Mo Begitu, Kita Begini, Tidak Sama

Begini. Beberapa tahun silam, ada penyair terkenal (di lingkaran penggemar sastra) yang juga ada di situasi seperti ini. Saya kenal karya-karyanya sebab saya kira saya adalah bagian dari lingkaran itu. Orang-orang dari luar lingkaran dengan segera mengenal (atau jadi tahu?) tentang si penyair gara-gara percakapan tentang dugaan pelecehan seksual yang dilakukannya. Lalu kasus itu raib. Dugaan sebab menguapnya percakapan tentang hal itu: si penyair ada di komunitas yang disegani dan berbagai narasi perlawanan (sebut saja begitu) dilakukan oleh orang-orang dari komunitas itu. Akibatnya? Ya..., begitu itu. 

Makanya ketika tahu bahwa Gofar Hilman adalah bagian dari sesuatu yang besar bernama Lawless Jakarta, saya segera menduga kasus si Gofar ini akan berujung mirip dengan kasus si penyair, apalagi Gofar adalah seorang penyiar, halaaah... Dalam hal ini, saya tentu saja menikmati pro-kontra netizen, tetapi juga kerap mengira-ngira bahwa selain berguna menghabiskan paket data, silang pendapat di twitter tidak banyak berguna. 

Kita boleh baku hantam tetapi ujung sebuah kasus besar selalu ada di tangan besar yang ada di belakang orang-orang terkenal: tangan besar yang menyelamatkan orang-orang bersalah, tangan besar yang berkuasa membuat silent jeritan korban dan kita semua yang mendukungnya hanya dalam sekali tepukan, tangan besar untuk pelaku pelecehan seksual. 

Namun, dugaan saya, sebagaimana umumya nasib dugaan, ternyata salah--menjadi momen yang aneh sebab saya justru senang bahwa dugaan saya salah. Rare moment! Biasanya saya sedih kalau dugaan saya soal 'angka keluar di Sydney dan Singapura' itu salah (dan saya telah berkali-kali sedih karenanya).

Ya! Dalam kasus Gofar Hilman dan Lawless Jakarta, saya senang bahwa dugaan saya salah. Lawless Jakarta, dengan jejaring dan penggemar yang banyak, justru tidak ada di sisi orang yang disebut sebagai pelaku pelecehan seksual. Mereka (mengutip judul-judul berita clickbait) menendang-mendepak-mengkhianati(?)-menjadi hujan sehari setelah kemarau setahun-memunggungi-menghapus Gofar dari lingkaran mereka. Melalui pengumuman resmi. Dengan alasan yang jelas dan membahagiakan: BERDIRI BERSAMA KORBAN. Padahal, Gofar telah sangat identik dengan tangan besar ini. Wah...

Baca juga: Surat Keberatan Atas Surat Keberatan Hendra Eiger

Ada beberapa hal baik dari keputusan Lawless Jakarta ini.

Pertama, netizen pro-Gofar lantas perlahan mengecilkan suara sebab peluang opini mereka menang segera dihentikan oleh langkah tak biasa Lawless. "Hei, itu jahat dan kami tidak menyukainya. Gofar bukan bagian dari kami lagi!" Kira-kira begitu Lawless Jakarta berteriak dan yang semula merasa akan didukung tangan besar segera melipir. Kau jadi ingat komunitas sastra yang tadi saya ceritakan tadi? Hmmm...! 

Kedua, setiap orang terkenal yang merasa bahwa telah terdapat tangan besar yang selalu siap menyelamatkannya, akan segera memikirkan kemungkinan menjadi Gofar Hilman berikutnya: kesalahanmu--yang nyata-nyata melawan dunia--akan berubah menjadi hujan sehari untuk setahun kemaraumu. Betewe, tentang peribahasa ini, rasanya aneh bahwa hujan adalah sesuatu yang buruk. Kau tiba-tiba ingat Sapardi (semoga beristirahat dalam damai) dan hujan dari puisinya yang begitu menenangkan. Semoga keputusan Lawless Jakarta ini membesarkan keberanian korban-korban pelecehan seksual lainnya untuk bicara. 

Ketiga, jumlah orang-orang yang merasa bijaksana sebab berada di irisan antara pro- dan kontra- (semoga) segera berkurang sebab pelecehan seksual adalah senyata-nyatanya kejahatan. Mereka haruslah sadar bahwa Lawless Jakarta berpotensi tidak populer dengan keputusan menendang salah seorang pentolannya, tetapi tetap mengambil risiko itu. Keputusan sebesar itu hanya akan dapat dilakukan oleh orang, sekekompok orang, atau institusi yang sadar bahwa sikap netral sama sekali tidak dibenarkan pada situasi ada korban. Ada yang terluka, ada yang akan lebih panjang lukanya setelah speak-up: kau berdiri bersama korban. Kau ingat budak seks pada zaman penguasaan Jepang di Indonesia yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menemukan suara mereka. Pertanyaan (maaf) bodohmu tentang kenapa baru sekarang bicara padahal peristiwa itu terjadi tahun 2018 dan Gofar Hilman sedang mabuk tentu terasa lebih layak kau telan lagi. Anggap saja tadi kau muntah tak sengaja dan hendak menyembunyikannya; sedikit jijik banyak untungnya.

Baca juga: Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Ada hal yang akan jauh lebih baik lagi. 

Selain bahwa langkah Lawless Jakarta ini akan ditiru oleh banyak perusahaan, organisasi, atau kelompok arisan, tentu akan lebih dahsyat rasanya jika setelah memunggungi Gofar Hilman, Lawless Jakarta membantu korban segera pulih, bagaimana pun caranya, dan bersama seluruh kepopulerannya ada di barisan paling depan berkampanye melawan pelecehan seksual. Barangkali ini adalah kesadaran baru. Barangkali dulu Lawless Jakarta tidak begitu. Barangkali! 

Yang pasti, kau harus ingat bahwa pelecehan seksual tidak pernah terjadi karena korban menyiapkan dirinya sebagai peluang. Kau punya niat itu yang jadi penyebabnya, bakbi! 

Lalu apa pesan moralnya? Barangkali ini. Jika kau terkenal sebagai orang hebat di komunitasmu oleh karena 'kejagoanmu' dalam petualangan seksual, belum tentu kau jadi terkenal dan hebat di mata orang lain yang melihatmu sebagai pelecehan seksual. Begitu, Far. So long and farewell! 

Salam

Armin Bell - Ruteng, Flores

Lima (Plus Beberapa) Hal Pasca-Final Euro 2020

Sepak bola pulang ke Inggris? Nanti. Pasti!

sepatu bola

Lima (Plus Beberapa) Hal Pasca-Final Euro 2020

Menulis catatan sepak bola tentu tidak bisa rileks ketika tim yang kau dukung tidak berhasil menang. Semakin buruk sebab peristiwa itu terjadi saat kau dan seluruh teman sefrekuensi, dan orang-orang terdekat tim itu yakni di negeri asalnya, begitu merdu dan penuh vibra plus improvisasi menyanyikan football is coming home. Lengkap dengan suara dua, suara tiga, dan suara empat, sebab kau, seperti saya, adalah orang Flores yang senang 'bagi suara' dalam momen nyanyi bersama. Duh...

Piala Eropa 2020, yang diselenggarakan tahun 2021, adalah langkah terbaik Timnas Inggris sejauh 1966-2021. Gareth Southgate mematahkan banyak sekali mitos, yang paling besar adalah bahwa Inggris bukan tim yang dapat tampil di partai final. Mitos itu gugur sebab Harry Kane, dkk., yang memulangkan Jerman dan bermain full energy di partai semifinal kontra Denmark, lolos ke final. Sontak 'football is coming home' bergema, bergema, bergemaaa... Penggemar macam kami ini lantas tersungkur di hadapan lirik Bang Haji Rhoma yang lainnya: begadang boleh sajaaaa... kalau ada England-nya

Football is coming home, it's coming home, dan ungkapan sejenisnya, yang kemudian menjadi kalimat olok-olok (ckckckck...) adalah pengingat ke semesta raya bahwa sepak bola modern yang membuat kalian rela begadang dan (maaf Bang Haji) berjudi itu berasal dari Inggris. Ya! Dari Inggris; seperti The Beatles, Coldplay, dan Bahasa Inggris yang kalian kagumi itu.

Sudah lama sekali sejak Inggris menemukan sepak bola modern dan memegang piala terakhir mereka, posisi puncak di pentas sepak bola dunia dan Eropa tidak lagi terjangkau--terakhir itu pas dinosaurus dorang masih hidup, begitu salah satu olok-oloknya. 

Baca juga: Nonton Bola di Indonesia Bisa Bikin Kita Lelah

Maka, ini kali, tak ada lagi yang mencari cinta di antara tiang-tiang, eh, maksudnya tak ada lagi penggemar Inggris yang tidak ikut meneriakkan it's coming home. Teriakan yang baru hilang perlahan pada babak kedua partai final Euro 2020 yang berlangsung tahun 2021. Dan, kau tahu akhir kisah ini:

1. It's not coming home, yet.

Penting sekali kata yet itu. Sebab Inggris masih akan berlaga di banyak laga, dan Saka yang jadi korban olok-olokan rasis itu masih 19 tahun, dan Philips dan Shaw dan Mount dan Maguire dan sebagian besar skuad tahun ini sedang on fire; piala dunia sebentar lagi. Argentina yang juara Piala Amerika Latin itu masih bertumpu pada Di Maria, Messi, dan nama-nama lama to? Ah... iyaaa... Italia tentu saja kuat sekali. Tapi Gareth Southgate sudah mengakui kesalahannya menunjuk pemain muda jadi eksekutor adu penalti; dia belajar banyak sekali tahun ini--dia tahu sumber kelirunya (satu-satunya hal yang membantumu menjadi lebih baik sebab mereka yang selalu ngotot bilang "apa salahku?" tidak akan pernah tahu bagaimana memulai sesuatu yang baru dan hebat, cie cieee)

2. Migrasi penggemar itu nyata

Itu sungguh-sungguh terjadi, Guys. Polanya masih tradisional. Yang di babak sebelumnya dikalahkan Italia dan Inggris, di partai final mendadak meneriakkan Inggris dan Italia harga mati. Teriakannya lebih kencang sebab ketika kalah mereka tidak sempat berteriak sekencang itu oleh karena malu; sesak di dada harus dilepas ke laut bersama foto mantan yang disobek jadi serpih-serpih kecil, halaaaah...

Baca juga: Kita adalah Komentator Sepak Bola Bagian Pertama dan Bagian Kedua

Menarik bahwa di dinding medsos kita, teman-teman kita yang tersayang dorang itu, yang sebelumnya memuja timnas Jerman dengan segera menahbiskan dirinya sendiri sebagai anak Gli Azzuri sejak dulu kala melambai-lambai nyiur di pantai berbisik-bisik raja kelana. Hisssh...

Btw, soal migrasi ini, ada juga yang polanya modern. Melalui jalur bernama 'siapa tahu kali ini bisa menang'. Hiks... Judi, gengs. Judi lagi. Mabuk? Setelah kalah, bisa jadi. Macam Hooligan yang di Wembley itu. Tapi kita tidak sampai pukul orang, to?

3. Tak ada koperasi hari ini

Maksudnya, 12 Juli adalah Hari Koperasi Nasional. Tetapi tahun ini, percakapan tentangnya lenyap begitu saja. Semua omong bola. Sebagai anggota koperasi, saya jelas bersedih. Tetapi tidak lama. Sebab sepak bola juga pada prinsipnya sama seperti koperasi: bekerja sama, tolong menolong. Saat kau jatuh, aku ada untuk membantu, saat Saka tertunduk lesu, ada Shaw dan Southgate yang memeluk; di pihak lain sekelompok orang berlaku seperti burung dan babi di Angry Bird hihihi.

Mental saling membantu, sebagaimana dasar gerakan perkoperasian, haruslah ada di sepak bola. Agar, meskipun percakapan tentang koperasi hilang pada hari Senin kemarin, rohnya tetap terasa di lapangan hijau. Maksaaa....

4. Ada yang salah, kakak

Sudah jelas seharusnya bahwa football is coming home itu merujuk pada sejarah. Inggris adalah tuan rumah sepak bola modern. Bahwa tahun ini tidak jadi pulang itu sepak bola, tidak berarti bahwa kau bisa bilang football is coming Rome. Itu sudah keliru, baik secara struktur (kau tidak menambahkan to setelah coming; lebih baik lagi kalau kau bilang football is going to Rome) maupun secara sejarah.

Baca juga: Om Rafael Tanggapi Sepak Bola Menyerang

Gladiator dan pizza barangkali lebih cocok untuk frasa coming to Rome. Dan, tentu saja kalian menyederhanakan seluruh Italia dengan hanya menyebut Roma. Hissssh... Mungkin kalian itu orang yang hanya melihat Flores sebagai Labuan Bajo tah... Sempit. Jangan bikin kesalahan begitu lagi ka. Akibatnya kan pembangunan infrastruktur di Flores juga jadi tidak merata, eh?

5. Kapan kita lepas masker?

Euro 2020 terpaksa terjadi pada tahun 2021. Karena pandemi tentu saja. Dan tahun ini, tak ada masker menutup hidung-mulut-dagu David Beckham dan Pangeran William sekeluarga. Pesta-pesta di jalanan Italia penuh manusia tanpa masker. Kita?

Jangan tiru-tiru. Pandemi sedang tinggi-tingginya. Jalanan mungkin sepi tapi rumah sakit dan ruang-ruang isolasi sedang penuh-penuhnya. Pakai itu masker. Begadang tak lagi boleh sebab imun busa turun. Kau bisa terserang kapan saja; Covid-19 menyebar lebih cepat dari kemampuan lari Sterling. Bahkan jika kau penggemar Argentina dan Italia, kesenanganmu tak harus dirayakan dengan buka masker. 

Baca juga: Main Bola Paskah

Kita masih di ruang yang sulit. Paramedis semakin lelah--mereka penggemar bola yang kehilangan waktu nongkrong di depan Piala Argentina dan Piala Eropa--sebab kau merasa bahwa kau kebal dan boleh jalan-jalan tanpa masker dan kumpul-kumpul karaoke. Please, dudes! Patuhi prokes sepatuh-patuhnya. Suatu saat kau akan menang. Kalau ternyata kalah? Kita sudah berjuang, Nyo. Sebaik-baiknya. Sekuat-kuatnya.

Terakhir, selamat kepada seluruh penggemar Timnas Italia. Sampai jumpa di Piala Dunia 2022; sepak bola akan pulang dari Qatar ke tanah asalnya.

Salam

Armin Bell - Ruteng, Flores

Tentang Segelas Capuccino dan Tiga Pekerjaan

Hari ini saya ulang tahun. 16 Juni 2021. Kaka Rana, anak kami yang pertama, membuat video ucapan yang indah. Lalu saya ingat, dia kerap melakukan, menciptakan, mengatakan, hal-hal mengejutkan dalam hidup saya. Ini adalah beberapa di antaranya, saya ceritakan lagi.
Kaka Rana

Tentang Segelas Capuccino dan Tiga Pekerjaan


Kalau dunia memutuskan bahwa hanya ada sedikit hal yang membuat para Ayah bahagia, salah satunya adalah pujian dari anak-anak mereka. Ada dua cerita pada bagian ini, Segelas Capuccino dan Tiga Pekerjaan.

2016 | Segelas Capuccino


Nikmati masa-masa menjadi Ayah ketika anakmu masih kecil dan belum banyak tahu. Kemarin saya beli capuccino kemasan lengkap dengan choco granule-nya. Ini gara-gara kopi Manggarai di rumah habis. Maka jadilah tadi malam saya meracik minuman kemasan itu, dua gelas. Satu buat istri dan satu untuk sendiri.

Rana melihat proses saya melakukan semua itu dengan takjub dan berbinar matanya ketika saya berhasil membentuk hati dari taburan choco granule di gelas capuccino milik Celestin. Rana bilang: "Dad, you're so great. I'm proud of you!" Tentu saja the proud is all mine, actually. Tapi saya tidak bilang.


Saya menikmati masa-masa dipuji seperti itu dan mungkin hanya ketika umur mereka seperti ini mereka menyampaikannya dengan kata-kata live. Kelak ketika besar mereka barangkali hanya menulis pujian itu sekali setahun di dinding facebook pada hari ulang kita.

Pujian live akan mereka berikan pada lelaki lain yang tidak mereka kenal hari ini; seperti Celestin yang memujiku--lelaki yang tidak datang dari masa kecilnya yang lucu, saat segelas capuccino kuhidangkan. Kaka Min memang ganteng, katanya sambil tersipu malu. Kau ge-er ka tidak?


2017 | Tiga Pekerjaan


Pada sebuah hari Jumat. Beberapa kesibukan membuat saya tidak bisa melaksanakan tugas menjemput selama beberapa hari ini. But, thanks God it's Friday. Jam setengah sebelas siang saya meluncur. Dia sudah menunggu.

Dalam perjalanan pulang, di boncengan dia memeluk saya erat. Dia bercerita tentang harinya. Menyenangkan. Di bagian lain dia bicara tentang saya. Katanya, saya kini punya tiga pekerjaan. Pertama, sebagai seniman. Kedua, di kantor bupati.

"Ketiga, Kaka Rana?" Tanya saya. "Sebagai pahlawannya saya dan Lino dan Mama," jawab Rana.

Perjalanan menjadi begitu ringan. Terima kasih!

Anak Indonesia, dari Batasan Usia Anak ke Peringatan Hari Anak Nasional

Tanggal 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional. Sampai berusia 18 tahun, orang Indonesia masuk dalam kategori anak. Yuk, simak informasinya berikut ini. 
Peserta program Dongeng untuk Anak di LG Corner Ruteng

Anak Indonesia, dari Batasan Usia Anak ke Peringatan Hari Anak Nasional


Anak-anak Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang. Undang-Undang Perlindungan Anak. Ini lahir pertama kali pada tahun 2002. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002. 

Tahun 2014, sebuah Undang-undang baru lahir dengan semangat perubahan (baca: memerbaiki hal-hal yang dianggap kurang) pada UU 23 2002 tersebut. Undang-undang yang lahir kemudian itu adalah UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. 

Kelahiran UU tentang Perlindungan Anak yang baru itu, mempertegas perlunya pemberatan sanksi pidana dan denda bagi pelaku kejahatan terhadap anak, terutama kepada kejahatan seksual. Tujuannya adalah untuk memberikan efek jera, serta mendorong adanya langkah konkrit untuk memulihkan kembali fisik, psikis dan sosial anak. Kejahatan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dekat, akan dihukum lebih berat. Perhatikan pasal 82 pada UU 35 Tahun 2014 berikut ini.

Ayat (1): Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Ayat (2): Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

*** 


Siapakah Anak Indonesia?

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014).

Apa itu Perlindungan Anak?

Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 2 Ayat 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014).

Ada hal menarik terkait ayat (1) di atas. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun. Tanpa batasan jenis kelamin tentu saja. Tetapi pada Undang-undang lainnya yakni Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, terdapat perbedaan batas usia nikah antara laki-laki dan perempuan.

Dalam Undang-undang tersebut, usia minimal laki-laki adalah 19 tahun sedangkan perempuan adalah 16 tahun. Bukankah itu berarti bahwa pada Undang-undang tersebut (jika dibandingkan dengan UU 35 2014) seorang anak sudah boleh menikah?

Atas dasar itu barangkali (dan sejumlah alasan lainnya), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berencana menaikkan batas usia anak sekaligus merevisi Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. 


Senin, 16 April 2018 silam, CNN Indonesia merilis berita berjudul Pemerintah Bakal Naikkan Batas Usia Nikah di Undang-undang Perkawinan. Rencananya, kenaikan batas usia pernikahan berada pada kisaran tiga sampai empat tahun. Demikian CNN Indonesia melansir pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohanna Yembise.

Tentu saja ini adalah sebuah kabar yang baik untuk anak-anak Indonesia. Semoga akan menjadi hadiah negara untuk mereka pada peringatan Hari Anak Nasional tahun 2018 ini.

Hari Anak Nasional dan Hari Anak Internasional


Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli. Tanggal peringatan HAN di Indonesia itu diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984.

Peringatan Hari Anak berbeda di setiap negara. Secara internasional, PBB menetapkan tanggal 20 November sebagai Hari Anak Internasional atau Hari Anak Sedunia. Organisasi anak dunia UNICEF, mengadakan iven Hari Anak Sedunia yang pertama pada bulan Oktober tahun 1953. Setahun kemudian, yakni pada tanggal 14 Desember 1954, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 20 November sebagai Children's Day.

Konferensi Dunia untuk Kesejahteraan Anak di Jenewa Swiss pada tahun 1925 disebut-sebut sebagai cikal-bakal lahirnya peringatan Hari Anak. Federasi Demokrasi Wanita di Moskow pada 1949 melanjutkan jalan tersebut hingga selanjutnya 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Perlindungan Anak Internasional.

Setiap negara di dunia merayakan hari anak pada tanggal yang berbeda-beda. Meski demikian, semangat perayaan hari anak adalah kesadaran tentang pentingnya hak-hak anak dilindungi agar masa tumbuh-kembangnya berlangsung dalam suasana bahagia.


Di Indonesia, selain Keputusan Presiden RI pada tahun 1984 No. 44 tentang penetapan Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli, terdapat banyak peraturan yang berhubungan dengan anak, seperti: UU No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, Instruksi Presiden No. 2 Tahun 1989 tentang Pembinaan Kesejahteraan Anak sebagai landasan hukum terciptanya dasawarsa Anak Indonesia 1 pada tahun 1986 - 1996 dan dasawarsa anak II pada tahun 1996 - 2006, Lahirnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Penggantian nama Kementrian Pemberdayaan Perempuan menjadi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan lain-lain.

Semoga setiap peraturan tersebut membuat anak-anak Indonesia semakin terlindungi dan generasi emas yang dicita-citakan dapat terwujud. (*/dari berbagai sumber)

Salam dari Ruteng
Armin Bell

Membuka Gerbang: Dari Konser Virtual ke Klinik Jiwa Renceng Mose

Halo... Ini adalah script untuk video dan podcast Behind The Scene Konser Virtual Salam Natal dari Ruteng yang dipersembahkan oleh Komunitas Saeh Go Lino untuk membantu pengarusutamaan karya kemanusiaan Bruder-Bruder Karitas yang mengelola Klinik Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose di Ruteng, Manggarai.

Cover BTS Konser Virtual di Youtube Saeh Go Lino

Membuka Gerbang: Dari Konser Virtual ke Klinik Jiwa Renceng Mose

Adakah yang dapat kita lakukan, sebagai komunitas, di akhir tahun yang sulit ini, untuk tetap menunjukkan kepedulian kita pada alam dan sesama?

Pertanyaan itu hadir dalam percakapan-percakapan kami menjelang akhir tahun 2020 kemarin. Ini berawal dari nostalgia-nostalgia kecil tentang beberapa hal yang kami anggap cukup baik dan mewakili komunitas kami beberapa waktu sebelumnya. 

Kita bisa lihat bersama, baik di media sosial komunitas maupun di kanal Youtube Saeh Go Lino, jejak-jejak yang kami torehkan. Barangkali kecil, namun menyenangkan. Akhir tahun 2019 silam, ada Kalender untuk Bumi. Ketika wabah Covid-19 merebak, kami hadir dengan pelbagai bentuk kampanye baik, bahkan sampai berhasil menggarap web series--sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Apakah semua itu menyenangkan? TENTU SAJA! 

Namun, sampai kapan kita terjebak dalam percakapan menyenangkan tentang karya yang sudah dibuat saja? Dan, terutama, sejauh mana sebagai komunitas kita berusaha hadir lebih nyata bagi orang lain?

Baca juga: Saeh Go Lino, Tujuh Tahun dan Berlipat Ganda 

Pertanyaan-pertanyaan demikian lantas berhadapan dengan situasi yang tak kalah sulitnya. Ini masa pandemi! Jangan berkumpul! Jangan mengumpulkan banyak orang! Bagaimana mungkin kita dapat hadir bagi banyak orang sementara kita tak boleh berkumpul dengan mereka?

Lalu kami sadar bahwa, di tengah masa yang sulit ini, gerbang lain sedang dibuka. Gerbang Virtual

KITA BIKIN KONSER VIRTUAL! Kami bersemangat ketika mengatakan itu. Semangat yang kemudian sempat terhenti, sebab kami tidak punya sumber daya yang cukup; teknologi, sasaran, keterjangkauan, pendanaan, dan masih banyak lagi.  Ini bagaimana?

Beruntung bahwa komunitas, sebagaimana umumnya, adalah sesuatu yang terbentuk dan dibentuk untuk dunia jejaring. Maka kami melakukannya. Menyambung jejaring, agar Natal 2020 tidak berlangsung datar dan garing, mengajak lebih banyak orang untuk bertolak lebih dalam ke hatinya: membantu perluasan percakapan tentang Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Di Ruteng, para Bruder Karitas telah membangun Klinik Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose (profilnya dapat dibaca di sini). Klinik baik hati, yang menampung dan berjuang keras menyembuhkan orang-orang dengan gangguan jiwa. Mereka, pada beberapa titik, mengalami kesulitan-kesulitan, terutama dana.

KITA BIKIN KONSER VIRTUAL NATAL UNTUK RENCENG MOSE! Kami menjadi bersemangat lagi dan lebih bersemangat, sebab banyak orang baik dari lual Komunitas Saeh Go Lino yang turut terlibat. Para musisi, penyanyi-penyanyi, sponsor, dan para donatur. Mereka, oleh karena semangat yang sama, ingin membantu.

Simak kami di Spotify:

Orang-orang dengan gangguan jiwa adalah kelompok yang belum banyak mendapat perhatian. Kita sama-sama ke sana, ke tempat itu, dan mulai berbagi kebaikan!

Latihan, perubahan konsep, perjuangan meminjam peralatan, usaha mengatasi rasa kurang percaya diri, penentuan tim kerja, perdebatan-perdebatan kecil, berlangsung sekitar dua pekan. Semua berlangsung dalam suasana yang beragam. Kekhawatiran bahwa ini akan menjadi kluster baru penyebaran Covid-19, berusaha diatasi dengan membatasi ruang gerak anggota komunitas sepanjang waktu itu. Jangan berkumpul di tempat lain dulu! Kita berkumpul sesama kita saja, agar risiko tertular dan menulari dapat diminimalisasi!

Dan terjadilah! Proses tapping dilakukan sehari saja. Tanggal 6 Desember. Sampai larut. Sampai lelah. Sampai berhasil. Selanjutnya tim penyunting bekerja. Sangat keras. Sampai lelah. Sampai berhasil. 

Baca juga: Tentang Proses Penciptaan Karya Seni; Apakah Tukang Plagiat itu Bersalah?

Lalu tibalah kami pada saat-saat menegangkan. Materi telah siap, harus diunggah ke akun Youtube Saeh Go Lino. Dan ini Ruteng. Tempat jaringan internet yang lancar jaya adalah sebuah kemewahan. Tim kerja berkeringat deras. Tinggal beberapa saat saja waktu tayang yang sudah dijadwalkan di poster, materi baru terunggah 23 persen--setelah sehari penuh ada di dashboard youtube.

Apakah ini akan berhasil? Pertanyaan itu datang pada saat-saat genting, menambahkan deras keringat dan melorotkan semangat hingga ke tepi. Tetapi Tuhan baik, dan selalu baik pada siapa saja, juga pada kami, pada tim kerja yang harus mencari cara terbaik mengunggah konten pada menit-menit terakhir.

BERHASIL! Materi terunggah 100 persen setengah jam sebelum waktu tayang. Kami menghadiahi diri kami dengan bakso, kopi, roti, dan napas panjang tanda telah lega.

Pukul 19.00 Wita, ratusan orang menyaksikan KONSER VIRTUAL NATAL yang dipersembahkan untuk Klinik Rehabilitas Jiwa Renceng Mose, via akun youtube Saeh Go Lino. Beberapa jam setelahnya, kami mendapat banyak skrinsut dari orang-orang baik yang telah berdonasi ke Renceng Mose. Ya! Sebab konser virtual itu ditayangkan di youtube, kami tidak menjual tiket. Di layar, kami sertakan nomor rekening pengelola Renceng Mose, tempat orang-orang baik bisa berdonasi. Kami senang sekali.

Baca juga: Saeh Go Lino Ruteng Mulai Garap Web Series

Betul! Kami senang untuk banyak hal. Konser berjalan dengan baik; yang terlibat adalah orang-orang dekat kami; pada project ini kami mulai bekerja profesional dalam melibatkan sponsor; dan terutama, percakapan tentang Orang dengan Gangguan Jiwa berhasil kami sebarkan. 

Semoga ini bukan sesuatu yang sia-sia. Semoga ini menyenangkan. Semoga ini menjadi salah satu gerbang yang berhasil dibuka di masa pandemi, sembari tetap berharap, Komunitas Saeh Go Lino dapat membuka gerbang lainnya; gerbang yang kita masuki bersama-sama. 

Sebab bukankah demikian? Bahwa komunitas adalah dunia jejaring dan saling mendukung adalah nama tengahnya!

Terima kasih untuk semua yang telah terlibat membantu. Di bagian akhir video konser kami, ada nama-nama mereka. Orang-orang baik yang bersama kami melaksanakan project ini. Dan, di bagian akhir video ini, ada kalian semua, orang-orang baik yang menyaksikan tayangan ini, yang lantas akan bergerak bersama, membantu siapa saja yang membutuhkan uluran kasih kita semua. Orang-orang baik, yang akan terus berjuang dari dalam keterbatasannya, bagi mereka-mereka yang terlupakan.

Cek video BTS ini di Youtube Saeh Go Lino:

Terima kasih 2020! Selamat datang 2021! Kita bergandeng tangan, membuat dunia ini kembali menari. Saeh Go Lino!

(*)

Kisah (Tidak) Klasik untuk Masa Depan

Tahun 2017 silam, menjelang akhir tahun, beberapa pekan sebelum Rana berulang tahun, kami membuat perjanjian. Cerita tentang perjanjian itu kemudian saya unggah di facebook

Di Torong Besi, Reo

Kisah (Tidak) Klasik untuk Masa Depan

Ruteng, 22 November 2017

Saya dan Rana membuat perjanjian yang berisi: Rana mulai belajar mengarang dan kalau karangannya sudah mencapai sepuluh judul, maka akan diunggah sekali seminggu di blog ini. Ini perjanjian yang di bagian awal rasanya hanya akan menguntungkan saya karena berarti bahwa saya akan punya materi tetap lagi untuk diunggah ke blog di saat sedang seret ide. Tetapi Rana bersemangat, artinya dia juga merasa akan mendapat keuntungan. Barangkali alam bawah sadarnya memberitahu bahwa blog ini akan besar dan dokumentasi karyanya akan bermanfaat di kala dia besar nanti--kalau di zaman itu blog tidak old school seperti nasib koran zaman now. Saya untung sekarang, Rana untung nanti. Fair enough.

Sejauh ini, lima cerita telah hasilkan. Menurut saya cerita-cerita itu sangat baik--andai naskahnya nanti bertemu ilustrator keren pasti akan jadi buku cerita anak yang bagus--karena Rana masih enam tahun, kelas satu esde dan imajinasinya berkembang dengan baik, IMHO.

Tugas saya dalam proses kreatifnya selama ini adalah membuat pertanyaan yang membantunya menemukan jawaban untuk kemudian dia pakai dalam cerita, serta membetulkan beberapa kosakata yang keliru. Itu saja. Selebihnya saya tidak bikin apa-apa.

Baca juga: Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

Termasuk ketika kemarin dia membuat cerita berjudul Petir yang dia awali demikian: Setiap kali hujan, pasti ada petir. Setiap kali aku mendengarnya, aku mulai berpikir, "Apakah itu adalah kemarahan dari Tuhan?" Selanjutnya Petir berkembang ke bagian tentang kemungkinan alasan Tuhan marah, dan ending-nya adalah kesadaran bahwa kita tidak perlu takut petir meski kadang petir bisa menyebabkan kecelakaan.

Apa kabar Lino? Dia sedang sibuk memeragakan gaya Ayah Johny yang membongkar jeruji penjara ketika menyaksikan Johny menyanyi 'i still standing yeah yeah yeah' di televisi. Dari seluruh skena di film "Sing", Lino menikmati lebih adegan itu. Barangkali dia berencana membuat vlog--juga kalau di zaman dia besar nanti vlog masih diminati--dan komando alam bawah sadarnya mulai muncul perlahan. 

Namun, Lino masih dua tahun dan hobinya dengan cepat berubah, seperti juga hobi seluruh anak yang sedang tumbuh pasti berubah-ubah. Barangkali tidak terlampau adil jika sejak kecil mereka dipaksa menyukai hal-hal tertentu saja. Banyak orang tua melakukannya karena berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi ahli. Saya agak kurang sependapat. Menjadi ahli adalah keputusan mereka kelak. Tidak perlu rasanya harus menciptakannya sekarang, apalagi kalau itu akan membuat mereka kehilangan banyak waktu bermain. 

Baca juga: Menabur Benih-benih Puisi di Halaman Pondok Baca Tapo Naga

Tugas Papa dan Mama adalah memberikan semua fasilitas yang baik untuk pertumbuhan mereka; buku, tontonan, tempat kerja untuk anak, dan terutama kehadiran. 

Tentang Lino yang baru berusia dua tahun, beberapa bulan lalu, setiap hari, rumah kami adalah lapangan sepak bola. Hari-hari terakhir ini menjadi panggung konser lagu dan dance. Lalu arena pertarungan Hulk dan Thor. Mungkin besok jadi panggung pidato seiring bertambahnya jumlah kosa kata lelaki kecil itu. Atau panggung teriak-teriak meminta jajan?

Kita tidak tahu. Yang pasti, dua anak ini selalu berbaring manis kalau sudah ada gejala saya atau mama mereka Celestin akan ambil buku dan mulai baca cerita. Ini naluriah barangkali. Karena (mengutip Peter Carey) kebutuhan utama manusia setelah makan dan minum adalah cerita.(*)

Salam

Armin Bell

--- 

Simak video-video menarik di kanal youtube Blog Ineame

---

Tulisan ini, yang kini berjudul Kisah (Tidak) Klasik untuk Masa Depan, sebelumnya telah disiarkan di Blog Ineame yang sudah dinonaktifkan, dengan judul Perjanjian untuk Masa Depan. Beberapa kisah dari blog itu secara perlahan dipindahkan ke ranalino.id.