Tahukah Kamu Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video Viral "Will You Marry Me"?

Warganet sedang penasaran. Siapa cewek berbaju kuning yang langsung menerima ajakan menikah dari pria tak dikenal pada video "Will You Marry Me" yang sedang viral itu? 
tahukah kamu siapa cewek berbaju kuning di video will you marry me
Tangkapan layar dari kanal youtube Midollo Vita

Tahukah Kamu Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video Viral "Will You Marry Me"?


Sebagai pembuka saya ingin menjelaskan bahwa kalimat "Will You Marry Me" saya pakai menggantikan "Marriage Proposal" karena merasa kalimat ini lebih ramah. Ada tujuannya. Begini. Selain ingin menjawab berbagai pertanyaan tentang siapa cewek berbaju kuning itu, tulisan ini ingin membahas bagaimana kata kunci atau keyword bekerja?
Tidak persis membahas tips-tips memenangkan SERP sesungguhnya, tetapi menguji apakah model postingan seperti ini akan berfungsi untuk SEO.
Oh, iya. SERP itu adalah akronim dari Search Engine Result Page atau hasil yang dimunculkan oleh mesin pencari (google, yahoo, alta vista, dll) ketika kita mencari sesuatu di internet dengan kata kunci tertentu. Untuk dapat memenangkannya, semua pejuang digital diminta (siapa yang minta? karang-karang saja!) untuk melakukan SEO atau Search Engine Optimization.

Apa itu Search Engine Optimization? Dalam bahasa Indonesia, ini diterjemahkan sebagai: optimisasi mesin pencari. Beberapa orang menyebutnya secara lebih singkat yakni optimasi mesin pencari.

Apapun itu, SEO atau search engine optimization atau optimisasi/optimasi mesin pencari berarti serangkaian proses yang dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan volume dan kualitas trafik kunjungan melalui mesin pencari menuju situs web tertentu dengan memanfaatkan mekanisme kerja atau algoritme mesin pencari tersebut. Selengkapnya dapat dibaca di tautan ini.

Kembali soal siapa cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" yang sedang viral itu. Siapakah dia? Apakah dia benar-benar a random beautiful girl di a random place dengan random feelings atau sesungguhnya adalah tokoh yang sengaja disiapkan untuk meningkatkan trafik pengunjung kanal youtube Midollo Vita? Apa hubungan cewek berbaju kuning itu dengan SERP dan SEO sehingga tulisan ini ditempatkan di Kolom Blogging di ranalino.id?

Saya jawab satu per satu sebagai berikut:

Satu: Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video "Will You Marry Me"?


Saya tidak tahu. Sungguh. Saya tidak tahu. Tetapi meski saya tidak tahu, saya tetap harus menulis tentang cewek berbaju kuning di video itu karena saya sedang ingin menempatkan cewek berbaju kuning itu dan cewek-cewek lainnya di setiap video prank pada tujuan yang lebih mulia, seperti menyelamatkan hari-hari blogger yang bersedih meski tidak lagi jomblo. Emang jomblo doang yang bisa bersedih? Nah loe...

Dua: Apakah Cewek Berbaju Kuning itu Dipakai untuk Meningkatkan Trafik Youtube Midollo Vita?


Saya tidak berani menduga. Mencermati berbagai komentar di kanal tersebut, para subscribers atau yang kebetulan mampir dan ikut berkomentar terpecah dalam dua kelompok besar.

Kelompok pertama setuju bahwa cewek berbaju kuning di video viral tersebut adalah artis yang sengaja dipakai untuk meningkatkan trafik. Mereka menyodorkan alasan seperti: 1) gak mungkin ada cewek yang sedesperado itu, 2) mana ada prank yang tidak melibatkan 'orang dalam', dan 3) (ini bagian paling menegangkan) sudah sepasrah itukah para jomblowati?

Tidak ada satupun komentar yang meyakinkan sekaligus menunjukkan bahwa pendapat kelompok ini adalah pendapat yang kuat.

Kelompok kedua adalah yang merasa bahwa prank a la Midollo Vita ini memang benar-benar makan korban. Kelompok ini menyodorkan alasan: 1) mungkin lho ada cewek yang sedesperado itu (ihhh...) 2) ini asli prank karena dua cewek sebelumnya juga begitu (ini pendapat apa?), dan 3) (ini bagian yang juga menegangkan) kenapa bukan saya yang ada di posisi cewek berbaju kuning itu? Mammamia e. Pendapat kelompok ini juga sama sekali tidak kuat. Karenanya tidak perlu dipercaya.

Berhadapan dengan dua pendapat dari dua kelompok besar yang sama-sama tidak kuat itu membuat saya mengambil kesimpulan bahwa identitas cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" hanya diketahui oleh orang-orang dekatnya (Bapa, Mama, Kaka, Ade) dan orang-orang di balik akun youtube Midollo Vita.

Tiga: Apa Hubungan Cewek Berbaju Kuning di Video "Will You Marry Me" dengan SERP dan SEO?


Hubungan jelas. Untuk meningkatkan trafik pada blog ranalino. Eits... jangan marah. Perhatikan beberapa fakta berikut ini.

Saya berulang kali menulis "cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" alih-alih menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal 'dia'. Mengapa? Karena saya sedang mengejar keyword atau kata kunci di mesin pencari.

Yang saya bayangkan adalah, setelah menonton video tersebut, warganet akan penasaran dengan identitas cewek berbaju kuning itu. Maka saya harus menulis kata kunci tersebut secara berulang-ulang untuk menjaga sekaligus menangkap serangan orang-orang penasaran yang dengan segera mengetik kata kunci itu di mesin pencari.

Beberapa keyword(s) yang mungkin dipakai adalah 'siapa cewek berbaju kuning di video will you marry me', cewek baju kuning will you marry me', 'baju kuning marry me', 'marry-lah me oh cewek baju kuning', atau 'marrylah kemarry hei hei sayang baju kuning di video viral'. Keyword(s) terakhir ini mestilah diketik oleh orang yang sedang melucu tapi melakukannya di mesin pencari. Salah tempat!

Btw, jika strategi saya berhasil--mengetik berkali-kali 'jagaan' keyword(s) tadi--maka dalam beberapa hari ke depan, SERP untuk pencarian 'cewek berbaju kuning' akan menempatkan artikel ini di halaman pertama. Jika tidak berhasil maka pasti tidak akan ada di halaman pertama. Biarkan waktu dan algoritme google yang memutuskan.

Nah, kembali soal hubungan cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" dengan SERP dan SEO tadi, tulisan (sampah) ini hanya ingin menunjukkan bagaimana para blogger pemburu klik bekerja. Sebenarnya bukan hanya blogger. Media-media pemburu klik macam tribunnews, suara, cerpen, idntimes, dan lain-lain itu sesungguhnya melakukan hal yang sama.

Mengapa mereka melakukannya? Karena dengan itu, mereka akan menarik (baca: menjebak) manusia-manusia digital untuk mampir ke website mereka, menaikkan peringkat mereka di alexa, dan menambah penghasilan mereka dari adsense atau pihak pemasang iklan lainnya.
Ya, setiap klik kita pada website tertentu akan berpotensi rupiah apalagi jika jumlah pengunjungnya mencapai ribuan orang sehari. Anda mampir ke artikel ini juga karena penasaran dengan identitas cewek itu, bukan? Lihatlah bagaimana judul tautan bekerja!
Apakah ranalino.id sedang berjuang melakukan hal yang sama? Ho-ho-ho. Tidak, Fergusso. Tidak salah, maksudnya. Ah,... tidak. Itu salah. Semua artikel di ranalino.id, selain artikel ini, sama sekali tidak ditujukan untuk SERP. Ada sih intensi begitu, tapi sedikit sekali.

Sejak awal berdirinya, blog ini ditujukan sebagai tempat menulis yang baik untuk penulis yang tulisannya baik. Ya. Penulis yang baik yang rela tidak dibayar. Terima kasih, teman-teman. Adsense kita tidak ada apa-apanya tetapi tulisan-tulisan keren kalian telah dibaca ribuan orang dan beberapa di antaranya berhasil tergerak. Iya kah? IYA!

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng

Well, sebelum tulisan ini saya akhiri, tanpa bermaksud memperbanyak 'keyword(s)' dengan tujuan SERP atau SEO, saya sendiri merasa bahwa cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" itu adalah pertunjukan terbaik tentang bagaimana Youtubers bekerja.

Misalkan dia benar-benar 'orang dalam' maka pengelola kanal Midollo Vita tahu betul bagaimana memancing viewers dengan baik. Misalkan dia benar-benar seorang tak dikenal yang tiba-tiba dilamar, dia berhasil membuat banyak viewers menjadi baper. "Kenapa bukan saya yang ada di situ?" Terdengar isak tangis di sudut kamar-kamar yang sepi.

Ooooops. Jangan menangis. Kalau 'sudah terlalu lama sendiri'-mu bikin kamu sedih, pikirkan nasib si cewek berbaju kuning itu kalau ternyata dia adalah benar-benar random girl yang dijebak secara tidak beradab itu. Sedih sekali, bukan?

Sampai di sini pelajaran ngeblog kita hari ini. Mohon maaf atas artikel tak penting ini dan selamat berjuang mencari cewek berbaju kuning, eh, menjadi cewek berbaju kuning, halah, maksudnya menjadi pemain-pemain digital yang cerdas dan sehat. Hidup Unicorn! Haissssh...

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Ps: 

  1. Jika tulisan ini benar-benar berjodoh dengan mesin pencari maka bukan tidak mungkin beberapa keyword juga akan dimenangkan, seperti: Apa itu SERP, Pengertian SEO, Optimasi atau Optimisasi Mesin Pencari. Kira-kira begitu.
  2. Dalam rangka SERP dan SEO tadi, tulisan ini memakai kata 'cewek' dan bukan 'perempuan' karena kata yang pertama itu lebih sering dipakai dalam pencarian di search engine. Bisa tangkap?
  3. Sudah mengerti alasan saya mengganti "marriage proposal" dengan "will you marry me"?

Ketika Tuhan Campur Tangan pada Kisah Pius Lustrilanang

Pada suatu ketika, di masa lalu, ketika nama Pius Lustrilanang ramai dibicarakan di NTT terutama daerah pemilihan Flores - Lembata - Alor, saya sempat heran. Sekarang, saya tidak heran lagi. Biasa saja.
ketika tuhan campur tangan pada kisah pius lustrilanang
Ilustrasi | Foto: Kaka Ited

Ketika Tuhan Campur Tangan pada Kisah Pius Lustrilanang


Sudah dua kali Pemilu, Pius Lustrilanang berhasil meraup suara yang cukup untuk mengantarnya menjadi anggota DPR RI dari Partai GERINDRA, mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan selama dua kali Pemilu itu pula, saya selalu berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa politik bisa sehebat itu.

Hal yang membuat saya merasa bahwa keterpilihannya mewakili provinsi kami ini oh betapa hebatnya adalah karena dia "orang luar" yang jadi wakil orang NTT di lembaga legislatif.

Betul. Pius Lustrilanang bukan orang NTT. Dia dari Palembang. Tentu saja Pius bukan satu-satunya orang luar NTT yang (pernah) jadi wakil kami di Senayan. Setya Novanto itu dari Bandung. Tetapi terlepas dari soal tiang listrik, e-ka-te-pe, dan hal-hal lainnya yang membuat tokoh Partai Golkar ini sempat viral, Setya Novanto sesungguhnya punya jejak-jejak manis di NTT. Kalau tidak percaya, silakan pesiar ke pulau Timor dan tanyakan bagaimana dia ‘menyapa’ orang-orang di sana.

Tetapi Pius tidak begitu. Maksudnya, dia tidak membangun Pius Lustrilanang Center di Flores seperti yang Setya Novanto lakukan di Timor. Tetapi (lagi), Pius toh meraih banyak suara di Flores-Lembata-Alor pada dua kali Pemilu. Kau kagum ka tida? Sungguh tak berperasaan kalian itu kalau tidak kagum padanya.

Meski di semua daerah pasti ada, tetapi jumlah orang seperti Pius Lustrilanang dan Setya Novanto sesungguhnya tidak banyak. Berjuang menjadi wakil dari daerah yang jauh, berjibaku dengan calon-calon asli daerah, dan menang. Peristiwa itu hanya dapat terjadi karena keberanian dan strategi komunikasi politik yang baik. Bayangkan. Alih-alih berjuang untuk tanah lahirnya sendiri, Pius memilih memikul aspirasi dari tanah air beta. Kalau sedang pakai topi, saya sarankan kalian angkat topi.

Misalkan situasi di atas tidak cukup melahirkan kekaguman, semoga yang berikut ini bisa. Bukankah mengagumkan bahwa keramahan kami di Flores - Lembata - Alor yang memang terkenal ramah ini, berujung pada sikap tak terduga? Memilih orang Palembang yang adalah keturunan campuran Padang – Yogyakarta sebagai penyuara aspirasi kami di Jakarta.

Sejauh yang saya tahu, pertunjukan keramahan kami itu biasanya adalah dengan menyajikan kopi pada setiap ‘orang asing’ yang berkunjung. Mengizinkannya menginap, kadang dilakukan. Tetapi membiarkannya bicara tentang nasib kami? Biasanya tidak semudah itu, Fergusso. Masih banyak orang dalam yang bisa melakukannya. Tetapi mengapa kami memilih Pius?

Saya menduga—dan karena ini dugaan maka bisa saja salah—kami memilihnya karena nama. Nama Pius itu ‘terdengar’ sangat Flores. Jumlah orang bernama Pius itu sebanyak orang bernama Benediktus, Marius, Frans, Margareta, Virgula, Robertus, atau Ursula seperti di “Seratus Tahun Kesunyian”, novel tebal dan hebat karya Gabriel Garcia Marquez. Maka, asal Pius tidak memperkenalkan biodata lengkap di awal kampanyenya, dia akan dengan mudah diterima sebagai orang kita a.k.a “rakat”.

Baca juga: Fenomena Rakat: Dari Sinisme, Humor Gelap, Hingga Medan Investasi Sosial

Kalau AHY juga maju dari daerah kami, namanya sudah memecah gunung es keterasingan. Agus. Kami akan menyimpulkannya sebagai Agustinus. Mudah sekali, bukan?

Siapa Pius Lustrilanang?


Pius Lustrilanang, sebelum menjadi anggota DPR RI mewakili Provinsi NTT, adalah salah seorang Aktivis '98. Ini informasi penting bagi generasi kekinian yang kalau diajak bicara soal '98 selalu bilang: “Wah, sudah lama sekali, ya? Saya belum lahir. Ada apa di tahun ini?”

Hmmm ... ‘98 itu, Bro, adalah tahun di mana para mahasiswa turun ke jalan. Berjuang menurunkan Suharto dan mengakhiri apa yang dikenal dengan nama Orde Baru. Ada banyak mahasiswa yang jadi korban penembakan saat aksi demonstrasi besar berlangsung. Ada peristiwa lain yang lebih traumatik lagi. Pemerkosaan. Ah, saya tidak senang mengingat bagian ini. Pokoknya begitu. Kalau sempat, silakan jalan-jalan ke google. Ketik kata kunci "tragedi mei 1998". Atau "tragedi mei" saja, nanti google akan menambah sendiri kata 1998 di belakangnya.

Nah, pada tahun itu, saat negara sedang dalam 'situasi luar biasa', beberapa nama dipercaya mendesain gerakan. Mereka-mereka itu diburu. Sebagian diculik. Kabarnya, Pius Lustrilanang adalah salah seorang di antara mereka.

Btw, saya tidak berniat memakai kata culik ini tetapi Pius sendiri menyampaikannya. Media-media lokal NTT memberitakannya. Saya kutip dari media daring floresa.co.

“Kenapa? Karena saya dan Prabowo punya sejarah khusus. Yang diculik dan menculik. Itu sejarahnya. Apa yang disatukan oleh Tuhan jangan dipisahkan oleh manusia. Itu saja pokoknya. Jadi, Tuhanlah yang mempertemukan kami. Ibarat jodohlah,” katanya saat menghadiri kampanye Partai Gerindra di Kampung Racang, Desa Racang Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Minggu, 9 Desember 2018 lalu.

Selengkapnya bisa dibaca di tautan ini

Di sinilah kita. Dipertemukan dengan kenyataan bahwa Tuhan telah campur tangan pada hubungan Pius Lustrilanang dan Prabowo. Tentang Tuhan campur tangan, tentu saja terjadi dalam kehidupan semua orang yang percaya. Tetapi yang menarik pada kisah Pius Lustrilanang dan Prabowo Subianto, terutama pada refleksi Pius terhadap peristiwa campur tangan itu adalah ayat Kitab Suci yang dipilihnya.

"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ah, indah sekali. Ada sisi romantisme yang dimainkan secara cerdas.

Maksudnya begini. Dalam konteks perjuangannya menjadi wakil dari daerah pemilihan Flores - Lembata - Alor, Pius tahu bahwa selain karena namanya yang bernuansa rakat itu, Sabda Yesus yang dikutipnya bikin kami tak bisa berpaling; ayat yang selalu ada di setiap misa nikah.Sampai di sini, ada pertanyaan? Kalau tidak, mari kita jalan terus.

Tuhan (dan Apa Saja Bisa Terjadi) dalam Politik Kita


Saya pikir, kita semua pasti sepakat bahwa agama—yang berarti Tuhan ada dalam setiap percakapan tentangnya—masih menjadi jualan primadona dalam pentas politik kita di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Tetapi sebelum membicarakannya, baiklah kita sejenak kembali ke soal Pius - Prabowo.

Saya tahu bahwa di film-film sering terjadi. Penculik dan yang diculik kemudian saling jatuh cinta. Tetapi barangkali kita tidak pernah menduga bahwa seorang Aktivis ’98 kemudian bergabung ke partai yang didirikan oleh tokoh yang kala itu (atau sampai sekarang?) dianggap bertanggung jawab pada aksi-aksi kekera... Ah, sudahlah. Toh, tidak ada bukti.

Hanya saja, katakanlah anggapan kita benar, bukankah mengherankan bahwa Pius Lustrilanang kini menjadi sahabat Prabowo? Pasti sulit sekali baginya untuk meyakinkan bahwa dalam politik apa saja bisa terjadi. Karena itulah, mau tidak mau, suka tidak suka, ayat-ayat Kitab Suci harus diturutsertakan dalam komunikasi politiknya.

Dengan demikian, karena agama-agama mengajarkan kasih sayang dan di dalamnya perintah saling memaafkan pasti ada, hubungan yang runcing di masa lalu dapat terselesaikan dengan baik. Secara kebetulan, Pius Lustrilanang maju dari Dapil yang mayoritas pemilihnya beragama Katolik. Maka ayat suci yang dipakai haruslah yang paling akrab dengan pemilihnya. No mention soal ayat itu sungguh romantis, Sabda Yesus yang dipakai pada kampanye politik akan membuat kami langsung luluh. Kira-kira begitu.

Agama memang masih jadi jualan favorit, bukan? Karena di Flores banyak Nasrani, dipakailah ayat yang dirasa paling sering didengar. Di tempat lain, bisa kutip ayat-ayat dari kitab-kitab lainnya. Sesuaikan dengan khalayak yang hadir, lalu menang. Politik itu seasyik itu, bukan?

Karena sesungguhnya begini. Jauh di kamar-kamar kecil, kami yang kerap muncul dengan narasi besar bernama toleransi di ruang publik, akan tetap memakai agama seseorang sebagai pertimbangan untuk mencintai (baca: memilih). Maksudnya, terpilihnya Pius Lustrilanang mewakili kami bisa jadi karena alasan itu: Pius bukan nama (kata) yang asing, dan kampanyenya memakai ayat Kitab Suci.

Tetapi cinta dan keputusan memilih memang selalu mengherankan. Annie Porter (Sandra Bullock) dan Jack Traven (Keanu Reeves) dalam film “Speed” saling jatuh cinta setelah peristiwa menegangkan. Pius Lustrilanang dan Prabowo adalah kisah korban dan penculik yang saling jatuh cinta. Dapil Flores - Lembata - Alor dan Pius Lustrilanang adalah kisah cinta yang lain. Kita bisa apa?

Bahwa kemudian kita kembali terlibat dalam percakapan tentang betapa kita tidak sering bertemu dengan wakil kita itu setelah Pemilu, atas nama cinta dan keterlibatan Tuhan di dalamnya, kita akan dengan mudah saling memaafkan. Bukankah itu yang selalu kita lakukan? Memaafkan para politisi yang melupakan janji-janji mereka?

Jika catatan ini membingungkan, percayalah, Anda tidak sendiri. Saya juga bingung. Atau sedih?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Surat Ahok dari Penjara dan Tiga Kelompok Garis Keras yang Harus Dihadapi BTP

Ahok sudah keluar dari penjara. Tidak hanya mengubah positioning-nya melalui usaha 'ganti nama', Ahok, eh, BTP, akan berhadapan dengan tiga kelompok yang boleh dibilang garis keras. Wah...
Ahok | Foto: Ist.

Surat Ahok dari Penjara dan Tiga Kelompok Garis Keras yang Harus Dihadapi BTP


Setelah sekian lama dipanggil Ahok sekaligus memantapkan nama itu sebagai "merk dagang" yang membuatnya dikenali sebagai pribadi dengan karakter kepemimpinan yang kuat plus kontroversif—membuatnya dicintai publik sekaligus dibui di Mako Brimob, Basuki Tjahaja Purnama meminta kita semua memanggilnya BTP. Disampaikannya permintaan itu dalam surat yang ditulisnya pakai tinta biru dengan huruf yang lucu, bersama kalimat-kalimat lainnya yang menerbitkan rasa haru.

Apakah hanya saya yang terharu? Bisa jadi. Yang lain barangkali kecewa membaca surat di instagram itu. Bayangkan! Ketika Ahokers di DKI bersedih pasca-kekalahannya di Pilkada 2017, dan karenanya kerap bikin meme menyindir Gubernur mereka yang sekarang, Ahok malah bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI 2017.  Mamamia e.

Baca juga: Kangen Ahok atau Mau Ikut Basuki Tjahaja Purnama?

Tetapi memang begitu. Dalam suratnya itu dia menulis: ... jika terpilih lagi di pilkada tsb, saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai Balai kota saja. Ketika baca kalimat ini, saya pikir mungkinkah sesungguhnya Ahok ingin menguasai istana negara? Ternyata tidak. Sambungan kalimat itu adalah: ... tetapi saya disini belajar menguasai diri seumur hidup saya. Maksudnya di Mako Brimob. Kalimat yang ditulis italic dan underline adalah kutipan lurus dari surat di IG @basukibtp dengan jumlah love-nya mencapai lebih dari 300 ribu.

Di sinilah letak soal surat itu. Soal tata penulisan, tentu Ivan Lanin akan dengan mudah menunjukkan kesalahannya sekaligus menjelaskan kenapa itu salah. Misalnya, kata “tsb” yang ditulis tanpa tanda titik [.] di bagian akhir, atau “Balai kota” yang seharusnya ditulis “Balai Kota” atau “disini” yang mestinya ditulis terpisah: “di sini”.

Tetapi soal lain dan justru yang terbesar dalam surat itu adalah falasi. Ahok sepertinya merasa bahwa kalau dia menang di Pilkada maka dia tidak akan dipenjara. Ah. Terpilih atau tidak terpilih jadi Gubernur rasanya bukan hal yang membuat Buni Yani, Cs membawa Ahok ke Pengadilan. Mengutip ayat suci Al-Quran secara tidak bijak itu yang bikin beliau dipenjara. MUI juga mengeluarkan fatwa untuk itu, bukan? Masih ingat siapa Ketua MUI waktu itu? Oooops…

Hanya saja, kita tidak boleh mengingat masa lalu. Itu kira-kira yang ingin disampaikan Ahok dengan permintaannya: saya keluar dari sini dgn harapan panggil saya BTP bukan Ahok. Jadi seperti: No more Ahok, welkam BTP. Sebagai bukti keseriusannya, selain menceritakan transformasinya dalam surat, dia langsung bikin akun youtube dengan nama "Panggil Saya BTP." Juga menceritakan niat-niatnya.

Tetapi proses tranformasi Ahok ke BTP tentu tidak akan mudah. Paling tidak, BTP akan menghadapi tiga situasi sulit berikut ini.

Satu, Orang-orang yang Kesulitan dengan Banyak Suku Kata


Ahok itu mudah dieja. A-hok. Hanya dua suku kata. A dan Hok. Bandingkan dengan BTP. Jadi tiga sukukata. Be-te-pe. Barangkali tidak banyak yang kesulitan dengan suku kata sebanyak itu. Tetapi ada. Yang lebih mengkhawatirkan justru adalah kemiripan be-te-pe dengan es-be-ye. Ketika dibunyikan, huruf vokalnya sama dan dua nama itu sama-sama ada B-nya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang keliru dan bilang es-te-pe atau be-te-ye atau be-es-pe dan mulai menyanyi seperti peserta Bahana Suara Pelajar di tahun ’90-an itu?

Tetapi yang paling sulit adalah kalau ternyata dengan menjadi BTP, tokoh kita ini menjadi selembut SBY. Tidak ada penjelasan ilmiah, tetapi bisa saja begitu. Ahok tidak mau lagi dikenali sebagai pribadi yang keras dan lugas, tetapi menjadi pribadi baru yang lembut, bukankah itu akan berarti mirip SBY? Nah, rasanya sulit sekali membayangkan bahwa kita akan dengan rela menerima BTP bilang: “Saya prihatin.” Oh.

Dua, Youtuber Serius


Ini adalah kesulitan lain yang akan (atau sudah?) dihadapi. Para yutuber yang terganggu dengan kehadiran akun "Panggil Saya BTP". Mereka pasti akan membandingkan penderitaan mereka mengumpulkan subscriber, menjaring like, dan menembus adsense yang butuh waktu bertahun-tahun itu dengan betapa singkatnya anak baru di yutub ini mengumpulkan subscriber yang begitu banyak itu.

Dan karena terganggu, mereka akan menyerbu setiap konten baru di akun itu dengan boom dislike. Masih mending. Kalau tiba-tiba mereka melakukan apa yang di dunia blogging dikenal dengan nama boom click ketika BTP mulai ngadsense? Bisa di-banned akun itu nanti.

Saya curiga. Jangan-jangan yang menitipkan ‘jempol ke bawah’ di vlog episode pertama kemarin itu bukan lawan politik tetapi para youtuber yang berusaha merangkak dan mau menikmati jalan hidup sebagai digital nomad. Akun Panggil Saya BTP membahayakan persaingan.

Apakah BTP sudah siap bermain di dunia digital yang adalah wilayah pertemuan terbesar (untuk tidak menyebutnya peperangan) para suporter dan haters ini? Jangan-jangan malah jadi perang baru lagi, dan BTP yang semula berniat lebih kalem malah unggah konten yang berisi pernyataan ketersinggungannya karena postingannya di-dislike. Waduh. Bakal hilang penonton akun rapper yang kerap bikin dis itu kalau begini.

Tiga, Para Penggemar Veronica Tan


Yang ini serius ada. Asli. Jumlahnya banyak. Entah yang patah hati karena BTP merebut Puput dari mimpi-mimpi mereka, atau yang merasa bahwa Ahok melupakan Veronica sebagai perempuan yang ikut membuatnya sukses dengan terlampau cepat memutuskan akan menikah dengan Puput (sekaligus merenggutnya dari mimpi-mimpi mereka), atau yang memang menyayangi Veronica Tan setulus hati.

BTP harus lebih hati-hati untuk soal yang satu ini. Jangan sekali-kali membuat pernyataan yang keliru. Menerima perubahan nama dari Ahok ke BTP saja sudah sulit, jangan tambah dengan kalimat-kalimat yang ‘menyerang’ Vernonica. Please, BTP.

Di facebook ada teman saya yang menulis, "Menjelek-jelekan seorang mantan yang sudah menemani Anda selama berpuluh-puluh tahun dan sudah pasti yang sangat berperan dalam kesuksesan Anda selama ini bukanlah suatu perbuatan yang bijak. Terus terang saya telah kehilangan respek dan kekaguman saya. (Silahkan yang mau bilang saya baper wkwkwkwk)."

Itu yang sopan. Yang lebih dari itu? Banyak! Kemarin ada yang bilang bahwa Ahok keren tapi BTP suka daun muda. Hayooo… Kalimatnya tidak persis begitu, tetapi maksudnya begitu. Dan mahabenar warganet di negeri ini.

Untuk mengujinya, saya mengusulkan agar Ibu Veronica Tan membuat akun youtube juga. Nama akunnya: Saya Tetap Veronica. Pasti subscriber-nya langsung banyak. Apalagi kalau konten pertama berisi cerita-cerita personal Bu Vero plus klip-klip di mana dia memainkan cello.

Baca juga: Ahok, Kita Bukan Gading Kan?

Tentu saja BPT masih akan bertemu banyak hal sulit lainnya. Termasuk misalnya jika Veronica Tan menerima usul saya untuk bikin akun youtube dengan nama "Saya Tetap Veronica" itu, akan sangat mungkin Puput juga akan bikin dengan nama: "Aku Puput Situ Bisa Apa". Artinya, tiga kelompok 'garis keras' di atas hanyalah contoh dari sekian banyak kesulitan yang mungkin akan dihadapi BTP.

Saya merangkumnya dalam poin-poin, sebagai berikut:

  1. Mampukah Ahok benar-benar menjadi BTP tanpa sesekali menjadi Ahok lagi?
  2. Relakah kita kehilangan Ahok dan menerima BTP tanpa rasa prihatin?
  3. Apakah posisi Mario Teguh tidak akan terancam kalau BTP menjadi motivator?
  4. Apakah BTP memikirkan perasaan Mario Teguh?
  5. Apakah Ahok menjadi BTP akan semanis Madiba menjadi Nelson Mandela?
  6. Apakah BTP akan mesra dengan Ma'ru... ah, sudahlah, dan lain sebagainya.

Tetapi bagaimanapun, saya mengucapkan selamat jalan Ahok. Selamat datang BTP. Sesungguhnya saya bisa saja memberi penjelasan tetapi situasi bangsa ini sedang sulit, rakyat sedang… halaaah. Yang ini kalimat Pak SBY kan? Tu, kan. Belum apa-apa saya sudah keliru.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Ke Timur Flores: Sehari di Adonara, Mengunjungi Nuha di Kampung Meko

Pada bagian kedua catatan tentang kunjungannya ke ujung timur Flores, Yeris bercerita tentang perjalanan ke Adonara dan kelelawar yang terbang di Nuha Pnike. Selamat menikmati.
ke timur flores sehari di adonara ke nuha di kampung meko
Nelayan Kampung Meko. Tampak Gunung Ile Boleng di kejauhan.

Ke Timur Flores: Sehari di Adonara, Mengunjungi Nuha di Kampung Meko


Oleh: Yeris Meka

Kami berdiri di pelabuhan Pante Palo. Melempar pandang ke seberang. Pasir putih di pesisir pulau Adonara terlihat jelas. Dekat saja. Setelah Larantuka, tidak lengkap rasanya tidak ke sana. Saya pikir begitu. Mengapa harus ke Adonara? Ya, pergi saja. Karena saya, belum pernah ke sana. Hahahaha. Peace! Damai. Santai! Seperti di Pantai.

Adonara. Pulau seribu kelapa. Itu kesimpulan saya ketika pesawat kami berada tepat di atas pulau itu, sebelum mendarat di Gewayantana, Larantuka. Barisan kelapa tertata rapi, seumpama tentara apel pagi. Btw, cerita tentang Larantuka dapat disimak di sini: Ke Timur Flores: Larantuka, Kota Reinha.

Hari ini ke Adonara. Kamis, 12 April 2018.

Pukul delapan pagi kami sudah di pelabuhan. Hendak menyeberang. Ke seberang. Pakai perahu motor. Juga bawa sepeda motor, plus lima liter bensin tambahan. Di Adonara tak ada terminal pengisian bahan bakar. Ini bekal. Sekalipun tangki motor yang akan dikendarai sudah terisi penuh, jaga-jaga saja.

Petualangan dimulai. Cerita tentang ganasnya arus selat Gonzalu masih hangat. Terngiang. Saya takut. Gugup. Untung saja pengemudi perahu meyakinkan. Gonzalu sedang dalam tenangnya hari itu. Penyeberangan yang cukup ramai, secukupnya menjadi bukti ketenangan Gonzalu. Kami jalan.

Di tengah selat dari arah Pante Palo, sebelum melaju sepanjang pesisir Adonara, perahu harus memutar seratus delapan puluh derajat. Mengakali arus supaya tidak terseret jauh. Saya angkat topi untuk para penakluk Gonzalu dalam situasi ini. Entah karena anak gunung memang jarang dalam keadaan macam begini, atau ketenangan dan kharisma sang pengemudi telah lahir sejak hari pertama mereka terciprat ombak Gonzalu. Ah... Tapi tetap saja. Saya kagum. Wajib.

Okay. Setelah kurang lebih lima belas menit penyeberangan, kami tiba. Dua penumpang dan satu sepeda motor. Biaya angkutan kategori reguler, satu penumpang lima ribu rupiah. Sepeda motor dua puluh ribu rupiah. Kami bayar dengan tarif normal. Total tigapuluh ribu rupiah dibayar tunai. Sah.

Saya resmi jadi ae wu'u. "Bahasa Adonara yang berarti orang baru yang menjejakkan kakinya pertama kali di pulau ini," kata kawan perjalanan saya, Eghy Ola. Ia menjelaskan dengan detail bagaimana mengucapkan kata itu dalam aksen setempat. “Diucapkan seperti agak sengau. Semacam ada -ng di kata wu’u. Begitu!” Katanya. Saya sepenuhnya mengiyakan. Beliau ini tulen Adonara, orang baik, mengetahui banyak tentang Adonara.

Baca juga: Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 1)

Lanjut!

Dari sini, dari Tanah Merah, Adonara Barat ini, kami akan ke Witihama, Adonara Timur, kota kecamatan di sekitar kaki Gunung Ile Boleng, melintasi trans Adonara.

Pukul sembilan kami sampai Kolilanang. Masih separuh perjalanan ke Witihama, jalan agak curam dan berbelok tajam. Perlu hati-hati. Sampai Witihama kira-kira pukul sepuluh. Waktu mepet, perlu segera bergegas lagi bila berniat mengunjungi beberapa tempat.

Terlebih dahulu kami ke Waiwerang. Alasannya sama: saya belum pernah ke sana. Sekedar untuk menyaksikan bagimana suasananya. Setelahnya, pantai yang sudah cukup terkenal di sana kami sambangi. Pantai Watatona, juga Ina Burak. Dua destinasi wisata ini tidak berjauhan. Berada di satu garis pantai. Punya karakter sama, berpasir putih. Watatona dalam bahasa setempat bisa diartikan batu yang berbentuk kapal. Sedangkan Ina Burak berarti gadis putih yang cantik.

Pukul dua siang kami tancap gas. Pulang. Kembali ke Witihama, kami akan ke Kampung Meko. Sekitar dua puluh kilo dari Witihama. Tapi, butuh empat puluh lima menit dari Witihama untuk sampai ke kampung Meko. Go!

Akses masuk kampung ini belum sebaik di ibukota kecamatan. Kami harus menyusuri jalan tani. Masih dari tanah. Pada banyak bagian malah sudah terkikis erosi. Petualangan di medan begini memang butuh mesin sepeda motor prima, juga tekad dan stamina, juga kegilaan. Kami tahu ini akan bikin lelah. Tapi ada harga yang mesti dibayar. Jika ada penganut kepercayaan pembeli adalah raja, maka saya mengimani tidak ada raja yang kabur setelah tahu harga. Itu!

Kami lewat kebun-kebun jagung dan kacang hijau. Setelahnya padang stepa. Kami tiba Kampung Meko pukul empat sore. Warga sedang rapat persis di jalan utama masuk kampung. Aroma ikan kering langsung bisa ditangkap hidung dari sini.

Kami lewat. Warga mungkin sudah menduga bahwa kami pengunjung biasa yang hendak ke pulau pasir: Nuha. Kami mencari tahu pada warga bagaimana ke pulau pasir putih itu? Syukurlah yang kami butuhkan didapat: perahu juga pengemudi yang akan mengantar kami ke sana. Om Musa namanya. Warga kampung yang kebetulan tidak ikut rapat. Kami diantar ke Nuha, pulau pasir seluas sepertiga lapangan bola yang muncul kala laut surut.

Baca juga: Di Langa Bajawa, Orang Muda Menata Masa Depan Wisata Desa

Bila sedang ramai, kata Om Musa, untuk sampai ke sana penumpang perahu dikenakan biaya lima belas ribu rupiah. Lima menit sampai. Petang itu Om Musa dibayar lima puluh ribu rupiah. Pergi pulang. Let’s go! Sebentar lagi matahari terbenam. Senja mungkin cantik dinikmati dari sana.

Senja di Nuha | Foto: Eghy Ola
Nuha dalam bahasa setempat bisa berarti tempat. Pulau. Ada beberapa di sana. Pulau-pulau kecil yang dekat kampung Meko: Nuha Pasir Putih, Nuha Penatan, Nuha Watanteni, Nuha Gambus, Nuha Pnike. Pnike dalam bahasa setempat berarti kelelawar.

Setelah matahari tenggelam sepenuhnya kami pulang. Dan benar saja, kelelawar dari Nuha Pnike berarak menuju pulau. Ratusan jumlahnya.

Cerita Om Musa, Dusun Meko masuk wilayah administrasi Desa Pledo, Kecamatan Witihama. Penduduk kampung adalah orang-orang dari suku Bajo. Sekitar lima puluh kepala keluarga, hari-hari bekerja sebagai nelayan, semua muslim. Sebuah mushola sudah ada di sana. Tempat anak-anak belajar shalat dan mengaji. PLN belum masuk. Penerangan masih mengandalkan sebuah genset dengan jam operasi terbatas.

Om Musa juga nelayan. Punya perahu motor sendiri. Berbahan viber. Mesinnya diesel. Berbahan bakar solar. Dicat biru. Ya, yang kami tumpangi ini.

“Ini juga karena dapat kredit dari bank,” katanya.  Kekesalan turut mengalir dari ceritanya. "Nelayan di sini tidak semua punya perahu. Orang gunung malah punya. Sumbangan perahu untuk kelompok nelayan, pernah ada.  Tapi malah nama pengelola orang dari gunung. Perahunya sudah tidak beroperasi lagi. Rusak. Kecewa betul."

Saya yang awam dengan geliat kehidupan orang laut selalu hanya mendengar saja. Kekesalan Om Musa, sampai proses nelayan di sini membuat ikan kering. Dijual ke pasar di Witihama. Pada pukul dua pagi sudah harus bersiap ke sana. Mobil-mobil pick up punya jadwal tetap. Bila telat, ketinggalan angkutan.

Untuk pengepul ikan kering, kampung Meko pasti masuk daftar kunjungan. Kualitas ikan di sini bagus. Harganya lebih murah, tanpa pengawet, langsung dari nelayannya. Tangan pertama. Saya membeli beberapa. Di rumah Om Musa, setelah sedikit tawar menawar dengan istrinya, Bibi Fatima.

“Kalau beli banyak, lebih murah lagi,” kata Bibi Fatima.
“Sudah, Bibi. Ini berat. Nanti besok kalau kurang, beli lagi di Witihama.”

Hari sudah gelap. Kelelawar dari Pnike sudah terbang ke pulau yang jauh, hendak cari makan. Kami pulang. Kembali ke Witihama. Sampe sini dolo jo!

Yeris Meka |
Tinggal di Kupang. Tulisan Yeris lainnya tentang pariwisata dapat disimak di tautan ini.

Ke Timur Flores: Larantuka, Kota Reinha

Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan Yeris Meka tentang kunjungannya ke Larantuka, sebuah kota yang terletak di ujung timur Pulau Flores, Ibukota Kabupaten Flores Timur.
ke timur flores larantuka kota reinha
Larantuka Kota Reinha | Foto: Yeris Meka

Ke Timur Flores: Larantuka, Kota Reinha


Oleh: Yeris Meka

Ketika orang-orang bercerita tentang kunjungan mereka ke Larantuka di zaman lalu, yang kami tahu tentang kota itu: berada paling timur pulau Flores, jagung titi, dan Oa Lina. Yang terakhir itu adalah judul lagu karangan Om Wens Kopong.  Oa Lina. Lagu itu hits sekali. Favorit. Sering dimainkan di tenda-tenda pesta. Dulu.

Lebih  bahagia lagi kalau kami ditawarkan jagung titi. Oleh-oleh khas Nagi. Tak beda dengan jagung goreng dari dapur sendiri, tetapi yang ini dititi. Dan didatangkan dari Larantuka. Tambahan pula, yang membawa sedang bersemangat membagikan kisahnya yang masih hangat tentang Larantuka. Kami makan. Jagung titi dan ceritanya. Lahap. Sampai habis.

Saya belum sekalipun menjejak kota itu. Memang Umsini, pada suatu libur Lebaran 2017 berlabuh di Larantuka. Memuntahkan penumpangnya di situ dan melaju lagi. Menantang arus Gonzalu, memutari Tanjung Bunga menuju Maumere. Tetapi saya tetap ada di kapal sebagai salah seorang penumpang Umsini yang baru akan berlabuh di kota lain. Hanya mencium aroma Larantuka dari pelabuhan. Dari dek atas kapal. Melihat.
Ile Mandiri kekar berdiri tenang. Lorong-lorong kota, gereja-gereja, juga rumah-rumah penghuni Larantuka kota Reinha sedang dijalari gerimis. Kau ingin jelajahi tapi tujuanmu bukan di sini. Macam kebelet pipis tapi yang bisa dilakukkan hanya meringis. Tahan!
Kapan main ke Nagi e, kaka? Aiiis…! Itu Oa pu suara ka? Dan akhirnya, 11 April 2018, saya ke Larantuka. Benar-benar menjelajahinya setelah rindu yang lama tertahan. Oleh beberapa hal, saya berada di kota kecil ujung timur Flores ini. Kota yang sudah lama menghuni daftar rencana “kunjungan”; dan rindu, sudah begitu membuncah. Kejutan dan hadiah-hadiah kecil ini patut dirayakan. Tetap menyenangkan setelah dikurung hal-hal yang selalu terlalu biasa. Ini baik, daripada duduk-duduk saja.

Prosesi Tuan Ma sudah lewat dua minggu ketika saya menjejakkan kaki di kota ini. Pertama kali. Peziarah yang sempat mengikuti prosesi sakral ini mungkin sudah tuntas membagi-bagi pengalamannya kepada sanak keluarga dan kenalannya di seantero jagad. Namun tetap saja kota ini mengundang minat.

Baca juga: Mora Masa: Menabung Rumput, Menuai Rupiah

Setiap orang punya cara berbeda menikmati sesuatu. Untuk saya, kalau tidak sebagai peziarah di Tri Hari Suci, menjadi pengunjung di hari-hari biasa tidak mengapa. Tetap akan ada hal yang bisa diceritakan.

Setelah mendarat di Gewayantana, perjalanan dilanjutkan ke barat. Sekitar lima kilometer menuju jantung kota, Ibukota Flores Timur: Larantuka. Kota pesisir ini mengandung seribu pesona. Untuk wajah baru macam saya ini, hiruk pikuk transportasi laut sudah cukup mencuri perhatian. Bikin kagum.

Saban hari, penakluk arus selat Gonzalu berlalu lalang dari Larantuka via Pante Palo menuju Tanah Merah, Adonara. Lalu lintas perahu kecil dan sedang, mengantar penumpang dan sepeda motor dari dan ke seberang. Bagi saya bukan pemandangan yang biasa.

Tentang Gonzalu, nama ini sudah terkenal. Terlebih karena prosesi laut tahun 2014 meminta korban. Sebagian menganggap sebab ada kesalahan teknis, tetapi tidak sedikit yang percaya bila laut marah. Konon ada proses yang salah. Gonzalu marah.

Okay. Next.

Ada lagi pelabuhan penyeberangan antar pulau di Waibalun yang cukup sibuk. Tidak sepi. Melayani rute antar pulau di Flores Timur: Larantuka - Adonara - Lembata - Kupang. Selain ferry yang dikelola ASDP, ada juga kapal-kapal penumpang yang dikelola orang dalam, melayani rute Larantuka - Solor - Adonara sampai Lembata.

Pada hari libur penumpang lebat. Kalau jadi orang Larantuka bisa pilih, misalnya tiket pesawat mahal, pakai jasa angkutan laut. Ada ferry yang nanti bersandar di Waibalun. Bila tidak, pakai jasa kapal penumpang sejenis Umsini yang nanti bersandar di pelabuhan laut Larantuka. Di Posto. Semuanya di radius dalam kota. Berdekatan.

Kekaguman itu bisa lebih berlipat seandainya saya datang pada prosesi Samana Santa. Sayang, belum sekalipun saya ikut. Rasa menyesal menjalar. Ada yang saya lewatkan. “Ke Larantuka, tapi Samana Santa su lewat, buat apa kau ini?” Sampai akhirnya diskusi-diskusi kecil membuat saya merasa keliru menghukum diri dengan cara itu; menyesali saya yang absen dari prosesi suci itu.
“Mengikuti prosesi sakral itu tanpa ujud dan niat, percuma. Jangan ikut ramai saja. Dengan atau tanpa pengunjung, prosesi akan tetap jalan. Ini tradisi!” Kata pengemudi perahu. Suaranya saya dengar jelas sebelum ditelan ombak Pante Palo.
Kalau sekedar turut ramai, tak usah ikut. Saya mengamini ini. Sepakat!

Larantuka, Kota Reina


Aroma laut, lorong kota, dan yang lainnya mungkin sama. Seperti kota-kota pesisir bernama lain di pulau ini. Tetapi cerita yang hidup lalu mengabadi dalam memori kolektif orang Nagi, akan merawat jejaknya sebagai pusat Kerajaan Katolik di Flores.

Membayangkan bagaimana ritus tua Semana Santa dirawat, sulit bagi siapa pun untuk tidak mengakui ketatnya disiplin yang diterapkan demi prosesi laut tersebut. Setidaknya itu cerita yang saya tangkap.

Momen-momen di masa lalu jadi monumen untuk hari ini. Ketika melewati titik tertentu, tidak lagi menjadi hal biasa. Selalu ada cerita kuat. Dari pelabuhan Pante Palo, Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana, Kapela Tuan Meninu, sampai arus selat Gonzalu. (Bersambung)

Yeris Meka |
Tinggal di Kupang. Tulisan Yeris lainnya dapat disimak di tautan ini.

Catatan:

Tentang Nama "Kota Reinha"


Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria. Nama ini berasal dari peristiwa lima abad silam, ketika patung Tuan Ma--yang kini diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka--ditemukan oleh seorang anak laki-laki bernama Resiona ketika ia sedang mencari siput di pantai. 

Patung Tuan Ma diduga berasal dari kapal Spanyol atau Portugis yang terdampar di lokasi itu pada tahun 1510. Tentang hal ini dapat dilihat pada tulisan Samuel Oktora dan Kornelis Kewa Ama di Kompas.com.

Mengapa Kita Harus Membalas Senyum Ramah Para Caleg Jelang Pemilu?

Kita memang harus melakukannya. Membalas senyum yang ditebar para caleg menjelang Pemilu ini. Karena kita kenal mereka. Bisa keluarga, sahabat, bisa juga mantan. Maka tersenyumlah. Mari berbalas senyum. Tersenyum senantiasa.
Senyum | Foto: ranalino.id

Mengapa Kita Harus Membalas Senyum Ramah Para Caleg Jelang Pemilu?


Jika bertemu dengan caleg yang selalu tersenyum, jangan sesekali merasa terganggu. Jangan juga menghubungkan senyumnya itu dengan niatnya menjadi anggota legislatif. Karena belum tentu begitu. Apalagi kalau sampai bikin status yang menghina keramahan serupa itu. Ada dua soal tentang Anda dari sikap demikian.

Pertama, Anda bermasalah dengan orang yang selalu tersenyum. Ini masalah berat. Harus segera diatasi. Bagaimana mungkin ada orang yang terganggu hanya karena melihat seorang yang lain tersenyum? Bahwa alasannya adalah Anda sedang tidak ingin tersenyum saat itu, tidak berarti bahwa orang lain tidak boleh tersenyum, bukan?

Itu sama saja dengan memaksa seseorang mencintai Anda hanya karena Anda sangat mencintainya. Ho-ho-ho, hidup tak sesederhana itu, Alejandro. Perlu usaha lebih keras lagi agar cinta berujung kemesraan. Mungkin butuh biaya yang mahal sekali. Delapan puluh juta? Bisa!

Bahwa alasan Anda adalah karena yang tersenyum itu seorang caleg, ini lebih berat lagi. Apakah karena caleg maka seseorang harus selalu terlihat serius memikirkan bangsa dan negara ini? Mikir. Dia berhak tersenyum. Seperti Anda berhak menangis karena tak punya uang delapan puluh juta, atau seperti Paket Dildo berhak membuat kita berusaha keras membaca huruf-huruf bertinta merah pada setiap quote mereka. Begitu.

Kedua, dengan berpikir demikian Anda masuk di golongan orang-orang yang suudzon. Berburuk sangka. Suka curiga. Dan itu bukan sikap yang baik, bukan? Maksud saya, curiga bahwa seorang caleg tersenyum sebagai strategi mendulang suara itu rasanya berlebihan. Bisa jadi dia tersenyum karena wajah Anda tampak lucu. Kan bisa. Iya to?

Iya, sih. Rene Descrates menyarankan agar kita semua memiliki kesangsian metodis karena ".... our sense sometimes decieve us". Tetapi berburuk sangka menghubungkan senyum dengan niat seseorang menjadi caleg kok seperti jauh panggang dari penggorengan dan sama sekali tidak metodis.

Cartesian doubts mengidealkan situasi yang di dalamnya terdapat proses penalaran yang lebih mendalam sebelum mengeluarkan kesimpulan—considering the fact that all the same thoughts we have when we are awake can also come to us when we are asleep, without any of them being true. Bukan tidak mungkin caleg yang Anda lihat sedang tersenyum itu sesungguhnya sedang hendak menangis karena anggaran belanja kampanye yang menipis akibat ditipu tim sukses.

Bertrand Russel dalam bukunya berjudul “Sejarah Filsafat Barat”, mengurai ‘kesangsian metodis’ milik Descrates, menjelaskan bahwa: … mimpi, bagaimanapun juga, seperti para pelukis yang menghadiahi kita salinan dari barang aslinya, paling tidak dalam hal elemennya; kau bisa memimpikan kuda  bersayap, hanya karena kau telah melihat kuda dan sayap.

Nah! Bukankah di dunia nyata kita pernah melihat orang yang menangis tetapi wajahnya mirip orang tertawa, juga sebaliknya? Jadi, janganlah terburu-buru mengambil kesimpulan. Lagipula, jika memang dia ramah dan selalu tersenyum karena sedang menjadi caleg, hal itu sama sekali bukan sebuah kesalahan. Malah memang sudah seharusnya demikian.

Baca juga: Membaca Norwegian Wood, Mendengar Dongeng Murakami dan Kritiknya bagi Para Aktivis

Paling tidak ada tiga alasan mengapa seorang wajib ramah dan selalu tersenyum ketika menjadi caleg.

Pertama, kita semua memerlukan anggota legislatif yang ramah. Orang-orang begitulah yang akan dengan senang hati mendengar keluh-kesah kita. Bahwa nanti keluh-kesah itu berujung pada solusi atau hanya sampai di ‘pendengaran’ saja, itu urusan lain. Yang penting dia mau dengar dulu. Sesekali kita butuh orang-orang seperti Eko Patrio yang lucu itu di kursi dewan. Sesekali saja. Biar kita bisa tertawa. Agar dunia tetap terasa menyenangkan.

Kedua, ini masalah ingatan. Peristiwa kebaikan atau kehebatan seorang sebelum dia menjadi caleg yang tersimpan di long-term memory kita harus dibangkitkan lagi. Caleg berkewajiban melakukan itu agar dia dipilih. Bukan karena rajin tersenyum tetapi karena kebaikannya di masa lalu. Artinya, senyum caleg ditujukan untuk mengingatkan kita pada rekam jejaknya.

Bukankah ini baik buat kita? Maksudnya, para pemilih akan menggali ingatan jangka panjang mereka tentang seseorang dengan melihat senyumnya beberapa bulan terakhir ini. Kalau track record-nya baik, kita pilih. Kalau buruk, kita bilang: “Ah. Senyum yang palsu!” See? Kita berhasil menggunakan kesangsian metodis melalui keramahan dan senyum seorang caleg. Bukan main, Esmeralda. Hebat sekali!
Masih soal ingatan, kita adalah sekumpulan orang dengan short-term memory yang sungguh kuat--dan umumnya sebagai yang paling sering kita pelihara. Ini penting sekali bagi para caleg. Agar ketika sampai di TPS nama/fotonya dicoblos, dia wajib tersenyum dan ramah setiap saat.
Ketiga, berhubungan dengan keajaiban 21 hari. Saya pernah dengar tentang ini. Hal-hal apa saja jika secara konsisten dilakukan selama tiga minggu, akan menjadi kebiasaan hidup. Kalau selama 21 hari selalu membaca puisi Fadly Zon, karya puisimu akan serupa itu. Kalau ingin selalu bangun pagi, berlatihlah melakukannya selama 21 hari. Kalau ingin dirindukan, cobalah mengirim pesan secara konsisten pada jam yang sama selama 21 hari. Ehmmm.

Baca juga: Panduan Pedekate Terkini Berdasarkan Pengalaman Para Pendahulu (Bagian 1)

Untuk para caleg, ini penting sekali. Ramah dan selalu tersenyum selama 21 hari berturut-turut, hari-hari kehidupannya berikutnya akan diisi dua hal itu. Dia menjadi pribadi yang ramah dan selalu tersenyum. Termasuk ketika nanti tidak terpilih.

Bayangkan kalau dia tidak konsisten melakukannya. Bukan tidak mungkin, pasca-pemilu kita akan sering menjumpai orang-orang yang menangisi kekalahannya. Selama tiga minggu kita berjumpa situasi seperti itu, kita akan melihat dunia sebagai sesuatu yang murung. Mau begitu? Tentu tidak.

Karena itu, janganlah menyindir para caleg yang ramah dan selalu tersenyum itu. Dukung mereka. Dibalas saja dengan senyuman terbaik. Mereka membutuhkannya. Agar optimis. Juga agar ketika terpilih mereka akan mengingat kita. Mendengar keluh-kesah kita. Meski mereka tahu bahwa di TPS kita memilih orang-orang yang membayar. Eh?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kangen Ahok atau Mau Ikut Basuki Tjahaja Purnama?

Pertanyaan ini tidak penting kalau yang kita pikirkan adalah Ahok dan Basuki Tjahaja Purnama adalah orang yang sama; semacam dwitunggal. Tetapi bagaimana kalau dia memutuskan menjadi berbeda?
Ahok | Foto: Ist.

Kangen Ahok atau Mau Ikut Basuki Tjahaja Purnama?


Catatan ini sesungguhnya tidak sangat penting. Oleh karenanya, bacalah dengan santai seperti kau sedang di pantai dan menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi. Artinya, bukan seperti suasana pantai akhir-akhir ini yang sedang tidak bersahabat. Jangankan pantai. Gebetan saja belum tentu bersahabat bulan-bulan begini. Sudah mau Februari, belum ada clue bahwa kau akan menembaknya. Mau sampai kapan? Oooops.

Pokoknya kita tidak sedang di pantai. Tetapi bukan alasan untuk tidak bersantai. Lagipula kalau sedang di pantai, apa kau yakin bahwa Dian Sastro sudah pulang dari sana setelah selesai berteriak-teriak dan sekarang sedang memecahkan gelas biar ramai? Jadi begitu. Bersantai tidak harus di pantai. Di sini juga bisa. Ketika saya sedang menawarkan pertanyaan yang santai ini.

Kita, sebelum Ahok bebas, merindukan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama? Pertanyaan ini harus dijawab (dalam hati saja) karena dengan demikian kita akan bersiap menerima konsekuensinya. Maksudnya, kalau kita merindukan Ahok sedangkan dia memutuskan menjadi Basuki Tjahaja Purnama, maka barangkali kita akan kecewa.

Baca juga: Dialog Om Rafael: Betapa Kita Merindukan Ahok

Begini. Ahok dirindukan karena pesonanya yang luar biasa ketika memimpin Jakarta, lengkap dengan kata-katanya yang keras (sebagian orang menganggapnya keterlaluan), terutama karena kebijakan-kebijakannya dengan sangat baik mengubah wajah Jakarta. Tetapi oleh karena kata-katanya yang keras itu--lalu suatu ketika keceplosan dan dimanfaatkan oleh Buni Yani--dia masuk penjara.

Kemudian Ahok memutuskan (dan meminta kita semua memanggilnya) Basuki Tjahaja Purnama sebagai identitasnya yang baru. Apakah kita yakin bahwa karakter-karakter yang kita rindukan itu masih tetap ada, atau justru dia menjadi pribadi yang sama sekali baru. Misalnya, Ahok yang lugas berubah menjadi Basuki Tjahaja Purnama yang terlalu penuh pertimbangan, apakah kita akan mampu menerimanya atau justru semakin merindukan Ahok?

Sekali lagi, pertanyaan ini tidak penting. Saya unggah saja di ranalino.id sebagai (bahan) pengingat bahwa perubahan nama biasanya disertai oleh perubahan beberapa kekhasan. Bagaimana kalau kekhasan yang diubah itu justru adalah yang paling kita rindukan?

Ketika Dewa 19 berubah menjadi Dewa kemudian menjadi Dewa 19 kemudian menjadi apa lagi setelahnya, saya bingung. Saya mau Dewa 19 yang pertama yang ada Ari Lasso-nya. Tetapi dia dihilangkan Dhani Ahmad yang kemudian menjadi Ahmad Dhani setelah pernah menjadi Dhani saja. Untunglah dia tidak pernah menjadi Deny Siregar. Halaaaah.

Beberapa tokoh yang namanya pernah berubah juga menjadi orang-orang baru. Sebagian menjadi lebih hebat daripada ketika memakai nama lama, sebagian malah menjadi tidak hebat dan membuat penggemar nama lamanya kecewa. Madiba ke Nelson Mandela,  Cassius Marcellus Clay, Jr ke Muhammad Ali, Kla Project ke NuKla ke Kla Project lagi, Peter Pan ke Noah, Ariel ke Luna Maya (eh?), dan lain sebagainya.

Baca juga: Ahok, Kita Bukan Gading Kan?

Maksud saya begini. Keputusan Ahok dikenali sebagai Basuki Tjahaja Purnama tentu bukan tanpa pertimbangan. Maka sebagai penggemar Ahok, kita tidak perlu lantas menjadi penggemar Basuki Tjahaja Purnam pada detik ini juga. Berikan waktu pada BTP untuk membangun karakter barunya baru kemudian memutuskan masih tetap mengaguminya atau tidak.

Kalau ternyata Basuki Tjahaja Purnama tidak sehebat Ahok, tidak perlu kecewa. Tetapi kalau ternyata dia lebih hebat dari Ahok, jangan pernah bilang "Ahok memang hebat" karena yang hebat itu Basuki Tjahaja Purnama. Bisa tangkap? Seharusnya bisa. Kalau tadi kalian mulai membaca ini dengan santai. Seperti di pantai. Tetapi kalau tidak, mungkin pantainya sedang berangin kencang seperti hari-hari terakhir ini.

Sebentar lagi Februari. Ahok, eh, BTP akan segera bertemu kekasihnya yang baru. Kamu apa kabar? Mau ikut Dian Sastro ke pantai setelah memecahkan gelas biar ramai dan mengaduh sampai gaduh? Aduh!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 2)

Di Lewotolok, ada ritual pesta kacang. Warisan leluhur ini dijaga sampai saat ini. Simak cerita Zafry Taran Lamataro di ranalino.id. Bagian kedua ini akan berisi penjelasan tentang tahapan-tahapan dalam Utan Wun Lolon.
utan wun lolon pesta kacang di lewotolok lembata
Salah satu bagian dalam Utan Wun Lolon di Kampung Adat Lewotolok | Foto: Dok. Zafry

Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 2)


Oleh: Zafry Taran Lamataro

Telah diceritakan pada bagian sebelumnya bahwa Utan wun lolon adalah ritual tahunan orang-orang Lewotolok. Ritual pesta kacang ini ini dilaksanakan setiap tahun, bisa pada awal bulan September atau minggu terakhir bulan September. Penentuan hari H ritual ini dilakukan oleh Kepala Suku Sabaleku berdasarkan perhitungan bulan Kabisat. Oleh masyarakat setempat, perhitungan bulan Kabisat ini disebut wulan lei tou, lei rua, dan seterusnya.

Adapun tahapan-tahapan Utan Wun Lolon adalah sebagai berikut:

Pertama: Luat Watan/Welu Wua Malu


Luat watan/welu wua malu adalah titik mula dari keseluruhan rangkaian ritual yang dilaksanakan oleh suku Sabaleku. Prosesnya berawal dari rumah adat Suku Sabaleku menuju watan wai wulan(sumur tua yang terletak di pinggir pantai desa Amakaka) dengan membawa sirih pinang yang di bungkus dalam daun lontar dan luba (kendi dari tanah liat tempat mengisi air).

Di watan wai wulan, anak gadis dari suku Sabaleku yang membawa luba menimba air dari sumur wai wulan, melarung sirih pinang yang dibawa dari rumah adat tersebut ke pantai, dan membawa pulang air dari sumur tadi ke rumah adat tanpa menoleh ke belakang. Ritual ini dilaksanakan pada pagi hari sebelum matahari terbit.

Kedua: Rekan Belait 


Rekan belait merupakan tahapan kedua, dilaksanakan keesokan harinya oleh dua suku besar yakni suku Sabaleku dan suku Langobelen. Rekan belait merupakan ritual potong nasi tumpeng adat yang dilakukan oleh anak perempuan dari kedua suku ini, belait tersebut disimpan di atas liwang (tempat menyimpan nasi tumpeng adat dari anyaman daun lontar) yang dikelilingi oleh beragam jenis buah.

Anak gadis kedua suku ini memotong belait dan memberikan kepada pihak Opulake untuk disantap di tempat yang oleh orang Lewotolok disebut koker. Pihak Opulake (om atau saudara laki-laki dari ibu anak gadis masing-masing kedua suku) menyediakan watek (kain tenun adat Lewotolok), baju dan perlengkapan lainnya untuk diberikan kepada anak gadis sebagai balasan dari belait tersebut.
Ritual ini juga memiliki makna mempererat tali persaudaraan antara Opulake dan Opuwae atau anak gadis yang memberi belait.Di bagian akhir upacara ini, sebagian belaitnya diantar ke rumah adat suku Lamataro untuk disantap sebagai bentuk penghargaan terhadap suku tuan tanah Lewotolok.

Ketiga: Haban Nakal


Upacara ini dilaksanakan pada hari ketiga oleh dua suku besar yakni suku Sabaleku dan suku Langoday. Haban nakal merupakan ritual pasar barter dari kedua suku ini. Suku Langoday menyediakan hasil kebun seperti, kelapa, pisang dan hasil lainnya sedangkan suku Sabaleku menyiapkan hasil laut seperti ikan yang sudah dikeringkan.

Pertemuan kedua suku ini terjadi di suatu tempat di sebelah timur dari lokasi kampung adat Lewotolok.Konon ajang ini dilakukan oleh anak muda dari dua suku untuk mencari jodoh.

Keempat: Lusi Pai atau Lusi Gere Lewo


Lusi pai atau lusi gere lewo dilakukan oleh suku Lamataro. Lusi sendiri merupakan benda pusaka suku Lamataro yang disimpan di rumah adat Lango Lusi. Lango lusi terletak di luar dari kampung adat Lewotolok, sehingga sebelum utan tak atau perayaan puncak pesta kacang, lusi tersebut diarak menuju kampung adat Lewotolok dengan diiringi bunyi-bunyian gong gendang serta tari-tarian.

Dalam perjalanan perarakan menuju kampung adat,ada tempat persinggahan yakni Rian Wao. Di sini sudah ada keluarga suku Lamataro lainnya yang menunggu. Rian Wao merupakan tempat tinggal suku Lamataro sebelum migrasi ke kampung adat Lewotolok.

Suku Lamataro dan Ladopurap merupakan suku tuan tana Lewotolok yang muncul dari puncak gunung Ile Lewotolok (tana tawa ekan gere) dan mendiami dataran sekitar puncak Ile Lewotolok, kemudian migrasi ke Rian Wao dan lanjut lagi ke kampung adat Lewotolok.

Sebelum lusi memasuki kampung diterima oleh suku Langobelen, sebagai belen lewo weran (penjaga sisi utara kampung adat Lewotolok) lanjut ke suku lewohokol, Langoday, Ladopurap dan perarakan terus berlanjut menuju ke rumah adat suku Lamataro.

Lusi dan orang-orang dari suku Lamataro diterima oleh beberapa suku ini memiliki makna penghargaan terhadap suku tuan tanah sekaligus suku yang memiliki peran yang cukup penting dalam rangkaian ritual ini, sehingga dalam peroses perarakan melewati rumah adat dari beberapa suku ini, ada penerimaan dalam bentuk suguhan tembakau dan sirih pinang (ta’an wua malu dan golo bako).

Di rumah adat suku Lamataro inilah lusi menetap selama peroses ritual utan wun lolon berlangsung dengan ditandai pemancangan ranting bambu dan diikat kain hitam sejenis benderadi depan rumah adat suku Lamataro.

Baca juga: Tarian Caci, Warisan Leluhur Manggarai

Perlu diketahui bahwa setiap kepala suku dalam rumpun kampung adat Lewotolok terlebih dahulu melakukan ritual adat tewu hode ama opo koda kewokot dan pao boe ama opo koda kewokot. Yang pertama merupakan ritual memanggil leluhur untuk hadir dalam rumah adat selama utan wun lolon berlangsung, sehingga diyakini semua kegiatan ritual tidak terlepas dari campur tangan leluhur.

Juga ada pao boe ina ama koda kewokot yakni ritual memberi makan leluhur berupa sesajen: sedikit nasi, ikan kering dan tuak(sejenis minuman keras, air hasil sadapan pohon lontar) yang ditempatkan di tiang kanan rumah adat (rie wanan) serta diberi penerangan pada malam hari dengan menyalakan padu. Padu merupakan sumber penerangan orang Lewotolok tempo dulu, dibuat dengan menumbuk biji damar dicampur kapas dan dililitkan pada sebilah bambu.

Kelima: Dorak Kedopel


Dorak kedopel merupakan ritual perburuan ayam di tiga kampung, yakni kampung Amakaka, Tanjung Batu dan Waowala. Hasil buruan akan dibakar dan disantap bersama kacang dan nasi di malam utan tak. Biasanya perburuan dilakukan oleh anak muda seluruh Lewotolok, dimulai dari ritual menangkap kedopel (ikan kecil di pinggir pantai yang biasanya melompat dari batu satu ke batu yang lainnya).
Kedopel hasil tangkapan itu kemudian dibungkus daun lontar dan digantung pada ranting bambu, diletakan di nuba (tempat yang dianggap sakral dan biasanya tempat kepala suku memberi sesajen kepada leluhur) dekat wai wulan.
Selanjutnya, ayam hasil perburuan tersebut dibawa ke kampung adat Lewotolok dan diserahkan ke rumah adat suku Lamataro. Dorak kedopel ini terjadi selama dua hari. Hari pertama dilakukan oleh suku Lamataro dan hari kedua dari suku Sabaleku.

Pada perburuan kali ini saya hanya bertugas mengumpulkan ayam-ayam yang ditangkap, sekitar enam puluhan ekor ayam hasil di hari pertama. Kata mereka, ini hasil perburuan yang lumayan banyak dibanding tahun sebelumnya.

Ini ritual yang unik. Dari sekian banyak ayam yang ditangkap tak ada satu pun warga Lewotolok, pemilik ayam, yang marah. Mereka meyakini bahwa satu atau dua ekor yang diberikan kepada leluhur dan ribu ratu Lewotolok maka ayam-ayam mereka akan bertambah banyak nantinya.

Keenam: Pao Nuba Lewo Weran dan Lewo Lein


Ritual ini dilaksanakan pada malam hari sesaat sebelum kegiatan makan kacang yang dilakukan oleh kepala suku Lamataro. Pao nuba berarti memberi sesajen pada tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral. Biasanya ditandai dengan tumpukan atau susunan batu. Lewo weran artinya sisi utara kampung dan lewo lein adalalah sisi selatan kampung. Kedua nuba ini dipercaya menjaga kampung Lewotolok dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

Ketujuh: Utan Tak


Ritual ini merupakan ritual puncak dari serangkaian ritual yang ada. Terjadi pada malam hari, dimulai dari sekitar pukul 18.00. Yang memasak kacang, nasi, dan minyak kelapa adalah winay atau suami dari saudari perempuan dalam suku, dan ditentukan melalui peroses yang unik.

Masing-masing suku memiliki winay untuk memasak kacang dan nasi. Winay dari suku Lamataro menghidupkan api dengan cara menggesekan dua bilah bambu sampai api hidup. Proses ini oleh orang Lewotolok disebut geheng knehek.

Geheng knehek berjalan dengan lancar apabila semua orang dalam suku memiliki ketulusan hati dan kesamaan pikiran. Apabila ada perselisihan maka walaupun asap terus keluar dari bilah bambu, api tidak akan cepat menyala. Setelah api di tungku utama dihidupkan maka tetua dari suku Lamataro memberitahu kepada orangtua dari suku Ladopurap dan Langoday untuk mengambil api guna memasak kacang dan nasi yang nantinya akan disantap bersama di rumah adat masing-masing.

Suku Langobelen dan Lewohokol mengambil api di tungku utama suku Sabaleku melalui proses geheng knehek yang sama. Winay dari masing-masing suku juga melakukan proses itu di rumah adat masing-masing untuk memasak minyak kelapa yang nantinya digunakan untuk proses haru dulat (pembersihan diri).

Baca juga: Ora, The Living Legend di Sail Komodo 2013

Sebagai gambaran, ayam hasil dorak kedopel dibakar di dua rumah adat yakni Lamataro dan Sabaleku, yang nantinya akan dibagikan untuk disantap bersama kacang dan nasi di rumah adat masing-masing. Untuk suku Ladopurap dan Langoday mengambil ayam dan nasi di rumah adat suku Lamataro sedangkan suku Langobelen dan Lewohokol di rumah adat suku Sabaleku.

Setiap laki-laki Lewotolok yang menyantap kacang malam itu wajib menyebut nama anggota keluarga laki-laki yang tidak sempat hadir dalam ritual utan wun lolon ini sehingga bagiannya pun ikut dibagikan secara simbolis. Akhir dari proses ini dengan diskusi bersama di rumah adat masing-masing.

Kedelapan: Uwe Tak


Proses ini merupakan lanjutan utan tak. Kalau utan tak untuk kaum laki-laki maka sekarang giliran kaum perempuan. Uwe tak ini dilaksanakan pagi-pagi sekali keesokan harinya dengan membakar ubi yang nantinya disantap bersama dengan ikan kering yang dibakar. Proses ini dilaksanakan di masing-masing rumah adat.

Kesembilan: Nawo Lusi


Ritual ini dilaksanakan oleh suku Lamataro. Jika sebelumnya lusi di arak masuk ke kampung Lewotolok dan menetap di rumah adat suku Lamataro maka kini diantar kembali ke lango lusi diringi bunyi-bunyian gong gendang.

Kesepuluh: Nawo Dopeng Ama Opo Koda Kewokot


Ritual ini dilakukan oleh masing-masing kepala suku. Pada ritus ini, leluhur yang sebelumnya dipanggil untuk datang ke rumah adat, diantar kembali ke alamnya yang oleh orang Lewotolok disebu wokot dengan melakukan peket ehang (menggantung anak ayam pada ranting bambu dan dipasang di depan rumah adat). Dengan selesainya ritual ini maka berakhir pula rangkaian ritual utan wun lolon di kampung adat Lewotolok. (Selesai)

Zafry Taran Lamataro |

Nama lengkapnya adalah Siprianus Taran Lamataro. Putra Lewotolok, sekarang menetap di Kota Kupang. Zafry mengelola blog lamatarotaran.blogspot.com.

Kirim cerita-cerita menarik seputar ritus adat di tempat Anda ke: armin.ranalino@gmail.com.