Soal Sandiaga Uno Diusir Pedagang Ikan dan Hal-hal di Sekitarnya

Dalam kunjungannya ke Labuan Bajo, Sandiaga Uno diberitakan diusir pedagang ikan ketika berkunjung ke pasar ikan di Kampung Ujung. Yang diusir sesungguhnya bukan Sandiaga Uno. Tetapi yang (selalu) viral adalah yang pertama dan menggoda.
soal sandiaga uno diusir pedagang ikan dan hal hal di sekitarnya
Ilustrasi: Perahu Nelayan

Soal Sandiaga Uno Diusir Pedagang Ikan dan Hal-hal di Sekitarnya


Kabar Sandiaga Uno ke Labuan Bajo, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, hari Selasa, 27 Februari 2019 membuat saya mendapat banyak pertanyaan dari teman-teman di tempat yang jauh. Mereka ingin tahu bagaimana reaksi kami orang-orang Manggarai mendapat kunjungan seorang calon wakil presiden. Mengapa saya yang ditanyai? Mereka tahu saya tinggal di Manggarai.

Yang mereka tidak tahu adalah jarak tempat saya tinggal yakni Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai ke tempat cawapres milenial itu berkunjung adalah dua jam bersepeda motor dengan kecepatan tinggi, tiga jam kalau pakai mobil kecepatan cukup, empat jam jika bermobil sekeluarga dan dua atau tiga anggota keluarga mabuk darat, dan empat atau lima hari berjalan kaki. Tapi kita begitu, kan? Asal dibangun oleh kata yang sama, meski dua tempat itu berjauhan letaknya, kita pikir itu adalah tempat yang sama.

Siapa yang bisa jamin bahwa seseorang di Stasiun Manggarai di Jakarta tidak ditanyai juga seputar kunjungan Sandiaga Uno ke Labuan Bajo?

Kemungkinan dialog:

"Pak Sandi ke Manggarai?"
"Bukan. Ke Labuan Bajo. Manggarai Barat. NTT.”
"Oh, Labuan Bajo bukannya di Stasiun Manggarai?"
"Bukaaan."
"Yaaah... Berarti di Stasiun Manggarai tidak ada Komodo? Padahal kita sekeluarga sudah mau piknik di stasiun, lihat Komodo dan Pak Sandi."
“%$RV&$^*U(*&^##@k...”

Begitulah. Tidak perlu heran. Apa saja bisa terjadi di dunia yang fana ini. Daun semangka saja bisa berdaun sirih di lagu nostalgia paling memorable milik Broery Marantika, terus kau paksa orang tidak boleh keliru soal lintang dan bujur Labuan Bajo, tempat kunjungan Sandiaga Uno? Kaka sedang sakit barangkali.

Maka saya tidak marah meski harus satu per satu membalas pesan-pesan itu dengan menyertakan berbagai tautan, tentang sejarah pendirian kabupaten, sejarah provinsi, dan lain-lain. Juga karena itu bukan pekerjaan yang sulit. Lha, yang skripsi saja bisa pakai Wikipedia jadi sumber, kenapa yang balas sms atau WA tidak bisa melakukannya?

Tetapi ternyata tautan Wiki yang saya sertakan tidak dibaca. Hiks… Begitulah kita. Selalu merasa malas mengklik tautan dan bertanya lagi. “Kok malah dikirimi link ini sih, Min? Ini link apa? Nggak nyambung deh. Saya kan tanya, kemarin ketemu Sandiaga nggak?”

Saya tidak menangis. Saya masih anggap itu wajar. Apalagi soal Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat dan satu lagi namanya Manggarai Timur, semua penduduknya disebut Ata Manggarai. Orang Manggarai. Dan saya orang Manggarai. Maka saya tahan saja air mata itu, lalu ke pasar membeli mentimun. Katanya baik untuk mengurangi tekanan darah.

Saya memang senang beli mentimun kalau hubungannya sudah dengan geografi. Dulu, waktu Sumba di NTT dinobatkan jadi pulau terindah di dunia oleh salah satu majalah pariwisata terkemuka di dunia fana ini, dan kami yang di NTT sedang bangga-bangga-bangganya, beberapa media memberitakannya sebagai "Sumba di NTB", kami (atau saya saja barangkali) tidak marah-marah dan hanya beli mentimun segar saja.
Toh, kebodohan dan kekeliruan bukan hanya milik yang tidak pernah baca peta buta, tetapi sesekali bisa jadi milik semua termasuk para jurnalis-jurnalis hebat di media yang onlen-onlen itu.
Maka, alih-alih merasa terganggu dengan pertanyaan salah alamat yang diulang-ulang itu, saya mengajak mereka mencermati linimasa facebook. Itu lebih mudah daripada mengirim tautan dari portal berita. Kenapa bukan twitter? Karena orang NTT tak sering nongkrong di taman baca maksudnya di twitter. Kami adalah anak-anak Mark Zuckerberg. Begitulah.

Baca juga: Media Massa Daring dan Masalah Akut Bernama Penyuntingan

Sebenarnya bukan hanya NTT. Indonesia kan begitu. Trending topic di twitter itu jualan tagar saja. Ramainya tetap di facebook. Ada datanya kok. Data agak lama, memang. Tahun 2018 awal, We Are Social, sebuah perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite melaporkan bahwa twitter ada di peringkat ketujuh sebagai medsos (social network dan messenger/chat app/voip) paling populer di Indonesia. Di peringkat pertama sampai enam: youtube, facebook, whatsapp, instagram, line, bbm. Iya. BBM yang dulu itu. Masih ada yang pakai ternyata.

Nah, balik lagi soal linimasa facebook seputar kunjungan Sandiaga Uno ke Labuan Bajo tadi. Ternyata memang ramai. Ramai yang seperti biasa. Pro dan kontra. Hoax dan hate speech. Aktivis medsos dan juru kampanye. Kapan 17 April itu datang, Tuhan?

Yang paling ramai adalah potongan rekaman ketika seorang penjual ikan di pasar, mengamuk saat Sandiaga Uno dan rombongan plus kakak-kakak jurnalis itu blusukan. Si penjual ikan berbaju merah ini berteriak-teriak. “Jangan injak di atas. Hei… Jangan injak di atas. Puk… Orang mau belanja nanti ….!”

Teriakan itu terdengar di video yang menayangkan muka Sandiaga Uno yang terkaget-kaget mendengar teriakan itu. Ya, iyalah. Masa Sandiaga terkaget-kaget karena dia bukan di Stasiun Manggarai. Iya to?

Akibatnya sungguh luar biasa. Video itu viral di facebook, dilengkapi dengan kepsyen: Sandiaga Uno diusir pedagang ikan. Kepsyen itu yang bikin videonya viral dan menyinggung hal-hal seumpama: Labuan Bajo Basis Jokowi, Jangan ke Labuan Kalau Bukan Jokowi, Orang Flores itu Suaranya Saja yang Keras, dan lain-lain. Berita (atau cerita?) bahwa Sandiaga Uno diusir pedagang ikan menjadi seolah-olah benar. Padahal memang benar, eh, maksudnya tidak benar-benar amat.

Yang terjadi adalah, yang diusir diteriaki pedagang ikan itu bukan Sandiaga Uno. Seseorang di pasar itu ingin melihat Sandi dari dekat dan mengambil gambar. Naiklah dia ke surga, eh, ke tempat yang lebih tinggi, yang ternyata adalah tempat si pedagang menggerai ikan-ikan kering dagangannya. Hei… Dia pasti marah. Jualannya diinjak-injak, pedagang mana yang tak marah?

Atau Kaka dorang mau kalau orang datang injak Kaka dorang punya muka yang sering dijual di medsos itu? Tidak to? Tetapi yang tampak di video adalah muka Sandiaga Uno yang kebingungan. Bisa tebak kelanjutan kisah ini, bukan?

Baca juga: Lima Kesalahan Penulisan Terpopuler di Media Massa Daring

Begitulah. Linimasa facebook ramai riuh. Tiba-tiba saja percakapan bergeser ke orang Flores tidak hargai tamu, orang NTT kasar-kasar, pedagang ikan harus pakai baju merah (halaaaah), dan di NTT Jokowi akan menang 100%. Para what-so-called filsuf turun gelanggang, membuat analisis kebudayaan.

Barangkali di satu sudut kamar, seorang mahasiswa semester akhir mengubah judul tugas akhirnya menjadi: Pengaruh Pasar Ikan dan Teriakan Pedagang pada Perilaku Konsumen dan Pemilih Pemula. Di tempat lain, stigma bahwa orang Flores selalu kasar semakin menguat. Beberapa orang menjadi setuju dengan wacana penutupan Pulau Komodo. Orang Flores yang terkenal toleran menjadi begitu ganas kalau menyangkut perbedaan pilihan politik. Dan lain-lain, dan lain-lain. Ampun, Kakaaaaak.

Saya kasi tau e. SATU VIDEO PENDEK SAMA SEKALI TIDAK BISA JADI DASAR PENGAMBILAN KESIMPULAN PENTING.

“Kata siapa? Tuh, buktinya. Ada cawapres ke pasar, malah diteriakin.” Begitu kata teman saya dari jauh, dan teman-teman lainnya di media sosial. Mereka adalah aktivis-aktivis politik di media sosial yang enggan disebut bersumbu pendek. Dari kedua kubu. Sama saja. Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya izin makan mentimun dulu.

Situasi: Saya makan mentimun, minum air putih, menahan tangis. Berlangsung selama tiga menit.

Saya sudah lebih tenang sekarang. Saya bisa melanjutkan tulisan ini, yang telah tiba di bagian akhir.
Begini. Reaksi pedagang ikan yang suaranya menggelegar di video yang viral di NTT dan dipakai pendukung Prabowo-Sandi dan Jokowi-Amin itu, tidak akan menyumbang apa pun untuk perolehan suara kedua kubu capres-cawapres itu. Mereka sudah menentukan pilihannya jauh sebelum peristiwa itu terjadi dan mereka memandang yang belum menentukan pilihan hingga detik ini adalah orang sakit. Kau bisa apa?
Berhentilah menggunakan waktumu untuk berdebat tak penting, dan mulailah belajar peta. Biar nanti tidak keliru lagi soal Stasiun Manggarai dan Manggarai, NTT dan NTB, Flores dan Lembata, Papua dan Timor, dan lain-lain. “Min, emang bener ya, kalau konser Australia itu suaranya bisa kedengaran di Flores?” Tanya teman saya lagi. MENTIMUN MANA MENTIMUN?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ketika Tahu Ketua Komunitas Blogger Milenial Berasal dari NTT, Saya Terharu

Begitulah. Sekian lama merasa bahwa NTT tidak terlampau diperhitungkan dalam peta hal-hal hebat nasional, mau tidak mau dada saya sesak juga ketika beberapa waktu lalu mendapat kabar bahwa Ketua Komunitas Blogger Milenial berasal dari NTT.
ketika tahu komunitas blogger milenial dari ntt saya terharu
Rifaiz Lamahoda yang mengaku sebagai Ketua Komunitas Blogger Milenial di layar metro tivi

Ketika Tahu Ketua Komunitas Blogger Milenial Berasal dari NTT, Saya Terharu


Namanya Rifaiz Lamahoda. Muncul di tivi. Mammamia e. Bahagia sekali rasanya. Ada orang NTT muncul di tivi dan jabatannya hebat sekali. Ketua Komunitas Blogger Millennial. Bikin terharu saja berita itu. Di metro tivi pula. Halaaaah.

Begini. Bagaimanapun, saya selalu merasa bahwa saya adalah bloger paling terkenal di kelompok doa kami, KBG St. Helena, Kedutul – Ruteng – NTT. Saya juga merasa bahwa ngeblog itu pekerjaan yang mulia—karena menciptakan bacaan alternatif ketika media menstrim cenderung seragam—dan percaya bahwa dari NTT akan lahir bloger-bloger hebat. Mungkin saya sedang sakit dan iri hati kalau tidak bahagia dengan kemunculan kaka ganteng Rifaiz di layar kaca. Sunggumati, sa bahagia betul.

Tetapi kebahagiaan saya tidak bertahan lama. Direnggut dengan kejam dalam hitungan menit oleh para blogger dari seluruh nusantara jaya. Kak Rifaiz, panutan baru saya itu diolok-olok karena alasan sederhana. Kak Rifaiz diketahui telah menjadi pemimpin komunitas yang maya.

Bahwa ngeblog itu daerah mainnya adalah dunia maya, saya tahu. Tetapi Komunitas Blogger Milkennial ini dituding benar-benar maya dalam arti sebenar-benarnya, sebagaimana pengertian kata itu dalam KBBI V versi daring: ma.ya (1) 1. a  hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dalam angan-angan; khayalan.

Sa tir trima. Asli. Sulit sekali rasanya menerima tudingan bahwa ada orang NTT memimpin komunitas yang tidak nyata adanya, padahal dia sudah muncul di tivi, berorasi, menentang meluasnya kebodohan soal yunikon-yunikon yang onlen-onlen itu, melakukannya dengan puluhan orang yang semula saya percayai adalah anggota komunitasnya.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati yang dalam saya heran juga dengan kemunculan Rifaiz dan komunitas yang dipimpinnya ini di televisi, melakukan aksi demonstrasi. Bagaimana mungkin ada blogger yang alih-alih menyampaikan pendapatnya lewat tulisan di blog mereka, malah memutuskan turun ke jalan dan berdemonstrasi?
Blogger itu kerjanya menulis di blog, bukan? Blogger turun ke jalan-jalan itu kan biasanya untuk cari bahan. Bahasa kerennya riset. Bukan untuk menyampaikan aspirasi. Kan pendapatnya bisa (dan memang harus) disampaikan di blog. 
Kalau pendapatnya disampaikan di gedung dewan sambil tidur itu namanya anggota dewan, di kantor kelurahan namanya peserta rapat, di ruang makan namanya anggota keluarga. Di jalan? Yang pasti bukan blogger.

Kalau blogger sesekali berkumpul di dunia nyata juga biasanya untuk diskusi. Kadang-kadang untuk memburu goodie bag juga. Tempatnya di gedung ber-AC, ada pembicara, ada pendengar, ada yang tidur sambil menanti waktunya kuis berhadiah. Tapi bukan untuk demonstrasi. Apalagi demonstrasi yang ada politik-politiknya seperti yang dibuat kaka Rifaiz kebanggaan kami itu.

Tetapi saya menolak keras terenggutnya kebahagiaan itu begitu saja. Sebagai blogger sejati, saya segera blog walking dengan harapan, segera menemukan alasan yang mampu mematahkan olok-olokan pada tokoh muda baru kami itu. Saya saya harapkan adalah ketika mengetik Rifaiz Lamahoda di address bar, google mengarahkan saya ke blog kaka ganteng kami dari NTT itu.

Yang saya temukan adalah di halaman pertama tidak ada blog Rifaiz Lamahoda di search engine result page a.k.a SERP. Yang ada hanya tautan ke akun facebook, padahal facebook bukan blog. Di halaman dua juga begitu. Di halaman tiga? Ah, google keterlaluan sekali. Bisa-bisanya hanya menyediakan dua halaman untuk nama seseorang yang sudah muncul di tivi dan menjadi ketua komunitas blogger. Entah sejak kapan google jadi kejam pada orang NTT, eh, maksudnya blogger. Apa belum cukup siksaan mereka dengan menutup Google+?

Maka mau tidak mau, dada saya sesak lagi. Dengan alasan yang berbeda. Kalian tahulah alasan itu. Kalau kalian dari Rwanda terus ada satu orang Rwanda diolok-olok di media sosial, apa iya dada kalian tidak sesak karena malu?

Baca juga: Surat Terbuka dari Ruteng untuk Najwa Shihab

Demi mengurangi dada sesak itu, saya berusaha berpikir positif. Tarik napas dan hembuskan, seperti ibu-ibu di kelas yoga; berkali-kali, dengan tenang, dan taraaaa… Namaste. Hasilnya benar-benar positif.

Begini ...

Ketua komunitas blogger kan tidak harus pernah menjadi blogger, sama seperti Ketua PSSI kan tidak harus bisa main bola, Kepala Dinas Pariwisata tidak harus orang yang paham soal pariwisata, ketua badan pemenangan nasional tidak harus bebas narkoba, eh? Artinya, meski tidak punya blog, Kak Rifaiz tetap berhak menjadi ketua komunitas blogger. Masih wajar.
Kebanggaan saya sebagai orang NTT membuncah lagi. Persetan dengan kamu blogger tukang olok dorang, kami pu orang jadi ketua komunitas. Apa, apa?
Lalu kebanggaan itu melorot lagi. Ke titik yang lebih rendah. Merayap mungkin bahasa yang tepat. Bersetubuh dengan bumi kalau orang Malaysia bilang. Atau kalau mau lebih buruk, kebanggaan saya itu mendadak menguburkan dirinya sendiri. Karena ya itu tadi. Komunitas Blogger Milenial itu memang benar-benar maya. Tidak ada. Mesin pencari tidak berdaya memanggil apa pun selain berita soal bahwa mereka pernah berdemonstrasi.

Bagaimana mungkin ada komunitas blogger yang tidak terekam jejak digitalnya? Sa malu betul. Lebih malu dari seorang lelaki tampan yang mabuk bir lalu ditampar anak kelas tiga es-de. Pukultuju e.

Yang bikin terharu bin kesal adalah karena cerita-cerita hebat tentang geliat literasi di NTT yang juga diperjuangkan para blogger tanah ini akhirnya seolah tertutup oleh loncatan kuantum Kak Rifaiz Lamahoda tercinta. Padahal, belum juga kering luka kami (cie cieee) akibat peristiwa beberapa waktu lalu.

Ceritanya, ada lomba blog di NTT. Hadiahnya puluhan juta rupiah. Berjalan buruk. Panitianya diprotes karena mengabaikan kriteria mereka sendiri dan memenangkan blogger yang jumlah kata dalam postingannya—no mention buruknya tata bahasa mereka—tidak sesuai standar yang ditetapkan. Suram sudah nasib para blogger NTT dan semakin jauhlah kita dari usaha mengenalkan NTT melalui persaingan SEO. Kalau mau tahu cerita ini, silakan klik tautan ini.

Akibatnya telah saya perkirakan. Ketika blogger seperti saya ini menulis bahwa yang di NTT itu namanya Sumba dan yang di NTB itu Sumbawa, para blogger senusantara jaya akan bilang, “Boong. Tuh kemarin blogger NTT yang muncul di tivi aja boong apalagi yang gak muncul di mana-mana.” Ada juga yang akan bilang (seperti pertanyaan bodoh yang pernah saya dengar), “Ayam peliharaan orang Flores itu bisa terbang sampai ke Australia. Mereka kan tetanggaan. Mata uangnya aja sama.”

Hmmm… Bagaimana ya menjelaskannya? Bukan soal NTT yang kerap disebut-sebut sebagai tempat yang seolah-olah ada di luar negeri saking sering dianggap eksotis, tapi soal pilihan Rifaiz Lamahoda menamai komunitas yang dipimpinnya. Blogger? Seriously?

Rifaiz benar-benar tidak tahu soal dunia blogging ini. Bahwa yang dilakukan para pegiatnya adalah menampilkan cerita dari ruang-ruang tak tersentuh, kisah yang sulit didapatkan dari media-media mainstream, atau (paling buruk) tulisan-tulisan yang sudah dikirim ke mana-mana tetapi tak kunjung dimuat dengan alasan mulia seperti: mohon maaf kami belum bisa menayangkannya tetapi teruslah mengirim tulisan dengan tema lain, apakah Rifaiz dan komunitas yang dipimpinnya itu tahu?

Rasanya tidak. Kalau mereka tahu, komunitas blogger tidak akan dipilih sebagai nama sekelompok demonstran yang diduga sedang kelaparan dan butuh nasi bungkus itu. Toh sudah ada komunitas yang jauh lebih kredibel untuk melakukan hal-hal besar di jalanan politik, seperti lihat ikatan alumni dari beberapa universitas ternama, kelompok-kelompok sayap agama, ikatan keluarga, dan lain-lain. Semua punya tugas dan ruang masing-masing.

Kalau Rifaiz dan anggotanya komunitasnya mau dikenali sebagai blogger, mulailah jalan-jalan, kumpulkan cerita, lalu bikin blog. Daripada bikin malu?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Asal Ikut "Trending Topic", Jalan Pintas Menuju Puncak Kebebalan Bermartabat

Anggap saja saya sedang memarahi diri sendiri dan orang-orang dekat saya yang menganut prinsip "daripada tidak ikut trending topic lebih baik ikut trending topic", karena (akhirnya) tahu, sikap asal ikut trending topic membuat saya terlihat bebal.
asal ikut trending topic jalan pintas menuju puncak kebebalan bermartabat
Memikirkan dari mana trending topic datang? | Foto: Daeng Irman

Asal Ikut "Trending Topic", Jalan Pintas Menuju Puncak Kebebalan Bermartabat


Trending topic adalah sebutan untuk hal yang sedang populer, sedang terkenal, sedang ramai dibicarakan publik pada jangka waktu tertentu. Ada istilah lain, tetapi kurang populer, untuk situasi seperti ini yakni hot trend. Yang terakhir ini menjadi kurang dipakai karena kata hot yang lebih banyak diasosiasikan—atau kita berharap—dengan konten-konten dewasa (baca: porno matipunya) pada penelusuran digital.
Dalam penjelasan lain, sesuatu menjadi trending topic apabila banyak orang yang membicarakannya. Biasanya adalah topik-topik hangat yang sedang menjadi perbincangan sebagian besar pengguna internet, entah itu di Facebook, Google+, Twitter. Linkedin, Instagram, dan lain-lain, yang berkontribusi pada meningkatnya jumlah percakapan tentang hal yang sama pada interaksi di jembatan, warung kopi, sembahyang giliran, atau di kantor ketika bos sedang keluar.
Penanda trending topic umumnya adalah hashtag atau tagar (dari: tanda-pagar) dan sejauh ini biasa bersumber dari twitter. Tentang bagaimana trending topic berhubungan dengan apa yang pada judul tulisan ini saya sebut sebagai kebebalan bermartabat, (semoga) akan ditemukan pada uraian lumayan panjang pada catatan ini. Tetapi sebelumnya, agar persepsi kita menjadi mirip, saya bertanggung jawab untuk menjelaskan apa itu kebebalan bermartabat?

Kebebalan bermartabat yang saya maksudkan adalah perilaku-perilaku bodoh/bebal—saya senang menggunakan dua kata ini sebagai ungkapan kemarahan yang jujur—yang dilakukan oleh generasi yang akrab dengan teknologi (penanda martabat zaman now), di mana mereka mengabaikan sikap kritis ketika berhadapan dengan informasi sehingga terjebak menjadi penyebar hoax bahkan hate speech.

Bagaimana? Semoga persepsi kita sudah mulai mirip. Jika belum, saya tidak bisa apa-apa. Kadang begitu. Alih-alih ingin mengetahui sesuatu secara cukup baik, kita malah cenderung terlibat dalam diskusi medsos yang buruk hanya dengan modal membaca judul. Jangan berkecil hati. Anda tidak sendiri. Teman dekat Anda juga begitu. Teman diskusi Anda juga begitu. Pacar Anda yang bodoh itu juga begitu. Santai saja.

Dari Mana Trending Topic Datang?


Seorang teman pernah bilang, semua tagar menjadi ramai karena twitter. Tidak berlebihan, meski juga tidak seluruhnya benar.

Yang paling tepat adalah, kemudahan yang disiapkan smartphone dalam membuat screenshot atau tangkapan layar menjadikan twitter lebih tepat disebut sebagai tempat asal tagar. Karena pada bagian selanjutnya, tagar atau hashtag itu disebar dengan tangkapan layar tadi di berbagai platform medsos lainnya, lalu menjadi bahan percakapan publik (warganet).

We Are Social, sebuah perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite baru-baru ini merilis data bahwa Youtube, Facebook dan WhatsApp adalah tiga besar medsos/messenger app di Indonesia. Twitter ada di peringkat ketujuh setelah Instagram, Line, dan BBM. Twitter beruntung karena memiliki mesin—dan digunakan dengan baik—yang menghitung sebaran dan penggunaan tagar, untuk kemudian diumumkan sebagai trending topic. In fact, twitter adalah platform medsos pertama yang mengenalkan istilah ini dan menggunakan hashtag sebagai produk resmi.

Belum tahu soal ini? Tidak apa-apa. Kalau punya waktu lebih, bisa mampir ke sini: Sejarah Hashtag atau Tagar dan Pengguna Medsos Kekinian yang Asal Pakai. Nah, karena soal sejarah hashtag atau tagar sudah dibahas pada bagian lain di blog ini, maka catatan ini tidak bertujuan mengulang bahasan apalagi mengutak-atik cara mesin twitter bekerja.
Yang dibahas di sini adalah tentang tagar (hashtag) yang berhasil bekerja membentuk perilaku khalayak, atau mengacu pada kondisi yang kerap ada akhir-akhir ini, bagaimana khalayak menggantungkan lakunya justru pada tagar. Apa yang pada tahun 1950-an dikenal dengan nama Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik) rasanya berlaku pada zaman "kita anak peka tagar, horeeee” seperti saat ini.
Saya setuju jika ada yang mengingatkan bahwa tidak semua tagar populer di Indonesia dapat dimasukkan atau dilihat dengan menggunakan teori jarum hipodermik ini. Tagar #SaveHajiLulung misalnya, tidak benar-benar berhubungan dengan perilaku tetapi hanya menjadi ajang percakapan seru dan lucu para warganet. Tagar #ShameOnYouSBY juga demikian. Warganet memakainya—jika bukan untuk melucu—untuk merundung mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Tetapi tagar #BoikotSariRoti, #UninstallTraveloka, #2019GantiPresiden, #OrangBaikPilihOrangBaik, sampai #UninstallBukalapak jelas berhubungan dengan aksi/sikap/perbuatan: tidak membeli sari roti, mencopot aplikasi traveloka dan bukalapak dari smartphone, sampai memilih dan tidak memilih calon presiden tertentu.

Mari bahas yang #UninstallBukalapak saja untuk merangkum seluruh hal terkait kegemaran kita 'dididik tagar' dan melihat dampak yang dapat timbul setelah kepuasan menghukum seseorang atau sekelompok orang melalui aksi copot dan boikot itu terjadi.

Tagar #UninstallBukalapak dengan segera menjadi trending topic menyusul cuitan Achmad Zaky soal alokasi anggaran negara dalam menyambut era industry 4.0. Meski narasi yang kemudian dimunculkan terkait populernya tagar itu adalah karena CEO Bukalapak itu salah mengutip data sebagai landasan cuitan kritisnya, namun banyak yang menduga bahwa penggunaan frasa ‘presiden baru’ pada adalah pemicu utama. Cuitan itu dianggap menyerang Jokowi, dan menyerangnya dengan data yang salah, dan oleh karenanya Achmad Zaky dianggap sebagai pendukung Prabowo.

Bahwa kemudian, berdasarkan penjelasan sekaligus permintaan maaf Achmad Zaky diketahui bahwa yang terjadi atau dimaksudkannya sama sekali tidak demikian, para warganet yang mulia yang sudah kadung membuat kesimpulan sendiri bergerak secara serempak, menyerukan agar 'sikap kurang ajar' CEO Bukalapak dibalas dengan pelajaran: Boikot Bukalapak; kemudian menyatu dalam bentuk tagar #UninstallBukalapak.

Tagar itu kemudian menyebar di semua platform media sosial dan secara masif membentuk perilaku kerumunan. Publik, yang tidak terima dengan serangan Achmad Zaky pada Jokowi, mencopot aplikasi Bukalapak dari smartphone masing-masing. Sepintas, perilaku itu terlihat masuk akal. Apalagi publik kemudian mengetahui bahwa sesungguhnya Jokowi pernah meng-endorse Bukalapak—membuat cuitan Achmad Zaky dianggap sebagai perilaku #LupaBapak—maka menghukumnya dengan mencopot produknya dianggap sebagai hal yang wajar dan setimpal. Benarkah demikian?

Mencopot Aplikasi, Menghukum Banyak Orang, Puncak Kebebalan Bermartabat


Yang tidak disadari dari perilaku mencopot aplikasi berdasarkan dorongan tagar #UninstallBukalapak adalah ruginya sejumlah pengusaha mikro, kecil dan menengah yang melapak di situs unicorn itu.

Sebagaimana diketahui, yang juga ikut melapak di sana adalah para pelaku UMKM dengan skema terbalik sederhana sebagai berikut: 1) CEO Bukalapak mendapat uang dari hasil kerja para pelapak, 2) para pelapak mendapat uang dari orang-orang yang berbelanja, 3) orang-orang yang berbelanja dimudahkan dengan hadirnya aplikasi; maka, mencopot aplikasi sesungguhnya berarti menghentikan kegiatan berbelanja, menghilangkan keuntungan para pelaku UMKM, selanjutnya menghilangkan keuntungan CEO.

See? Sebelum hukumannya sampai kepada CEO yang dianggap melakukan kekeliruan besar, yang pertama kali merasakan dampak dari kegiatan masif mencopot aplikasi (baca: boikot) justru adalah orang-orang yang menggantungkan harapannya pada kehadiran aplikasi tersebut di hape calon pelanggan.

Dalam kasus Bukalapak, yang terancam adalah para pedagang mikro, kecil, dan menengah. Dalam kasus Sari Roti atau Traveloka juga kurang lebih sama. Ada ratusan (atau ribuan?) reseller dan tangan-tangan kecil lainnya yang berada di balik—dan turut menggerakkan—sesuatu yang kemudian kita boikot karena kesalahan/kekeliruan seseorang di level puncak manajemen. Paling buruk adalah jika aksi boikot justru dilakukan padahal kita tidak sempurna memahami soal tetapi dengan bersemangat berperilaku destruktif hanya karena tagar.

Baca juga: Diskusi di Facebook itu Seperti Itu (Bagian 1)

Bukalapak, Sari Roti, Traveloka dan lain sebagainya adalah seumpama gedung besar yang di dalamnya terdapat kamar-kamar yang disewakan. Ah… iya. Seperti Pasar Inpres. Gedungnya dibangun Pemerintah dan disewakan kepada para pedagang. Di Ruteng kami sebut lapak-lapak di pasar itu sebaga los. Pengguna los adalah pelaku ekonomi paling depan.

Kalau pasarnya (gedung itu) hilang atau (dalam kasus boikot) kita menolak pergi ke sana, maka selesailah nasib para pedagang di los-los itu. Perputaran modal tidak bisa terjadi, mandegnya roda ekonomi justru di barisan primer, mereka tidak bisa berjualan. Ada yang barangkali terpaksa mengambil trotoar dan menjajakan sayur-mayur mereka di pinggir jalan. Itu juga kalau trotoarnya belum dipenuhi pohon-pohon palsu. Ribet.

Akibatnya, alih-alih langsung merugikan 'si bersalah', perilaku grasa-grusu kita justru menghukum banyak orang. Lalu?

Jangan Asal Meramaikan Trending Topic


Kegemaran kita terlibat atau ambil bagian meramaikan trending topic melalui kegiatan ikut serta ber-tagar ria dan melakukan hal yang disarankan tagar, sesungguhnya berbahaya jika dilakukan tanpa melibatkan rasio, tanpa berpikir cukup panjang, tanpa menghitung kerugiannya.

Lebih berbahaya lagi jika kita melakukannya karena dorongan ketersinggungan politis (sebagaimana yang sering terjadi pada setiap aksi boikot di Indonesia akhir-akhir ini), karena bisa jadi justru sangat bertolak belakang dengan ide besar yang sedang dibangun. Inilah yang saya sebut sebagai puncak kebebalan bermartabat, yakni perilaku dungu yang dilakukan oleh orang-orang yang melek teknologi yang menanggalkan saringan kritis dari kepalanya. Bayangkan. Alih-alih mencari sumber informasi yang benar (yang tersedia secara luas dan dapat diakses cepat di internet), kita memilih untuk hanya melakukan scroll up scroll down di linimasa media sosial. Iieeeks...

Begini. Berdasarkan uraian-uraian tadi, bukankah menghukum pelaku ekonomi primer justru bertentangan dengan cita-cita besar negara ini yakni memperkuat sendi ekonomi bangsa? Ironi. Kita terlibat dalam aksi boikot sebagai bentuk dukungan pada calon presiden kita justru dengan mematikan para pelaku ekonomi yang nasibnya hendak diperjuangkan oleh capres-cawapres junjungan kita sebagaimana tergambar dalam poster visi misi mereka. Menangys syudah kau!

Karenanya, ada beberapa hal yang sebaiknya dipikirkan kembali dan berulang kali. Percayalah bahwa tidak pada semua trending topic kita mesti ikut ambil bagian. Jika hanya berniat melucu seperti pada tagar #SaveHajiLulung, tentu saja semua yang merasa bisa melucu boleh terlibat. Meski kita tahu, sebagian besar usaha melucu kita teramat garing atau teramat copy-paste. Tak masalah.

Tetapi jika risiko tindakan kita adalah matinya sejumlah pelaku ekonomi, kita harus berpikir dengan lebih jernih. Siapa saja presidennya, jika dia memimpin di era revolusi industri 4.0, tanpa aplikasi dan para pelaku usaha yang terlibat di dalamnya, ide-ide cemerlang soal ekonomi kerakyatan dan lain sebagainya hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Kita beruntung bahwa soal install-uninstall ini akhirnya menemui jalan yang baik. Pada kasus Bukalapak, Achmad Zaky bertemu Presiden Joko Widodo, dan Presiden meminta agar tidak ada lagi gerakan tak perlu seperti mencopot aplikasi itu. Salah seorang anak Presiden Jokowi juga mengingatkan agar tindakan remeh itu tidak perlu ada; juga mengingatkan tentang pelaku UMKM yang hidup dari aplikasi itu.

Sebuah akhiran yang baik untuk kasus ini. Tetapi bagaimana jika terpelesetnya CEO pada beberapa perusahaan besar akan terjadi lagi? Apakah kita harus terjun bebas lagi melakukan boikot? Semoga tidak. Tidak semua yang populer adalah hal-hal yang benar, bukan? Karena kalau semakin banyak orang menganggap bahwa setiap trending topic itu benar, sesungguhnya yang harus segera di-uninstall dari smartphone kita adalah semua aplikasi media sosial. Atau, install ulang kepala masing-masing. (*)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Tahukah Kamu Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video Viral "Will You Marry Me"?

Warganet sedang penasaran. Siapa cewek berbaju kuning yang langsung menerima ajakan menikah dari pria tak dikenal pada video "Will You Marry Me" yang sedang viral itu? 
tahukah kamu siapa cewek berbaju kuning di video will you marry me
Tangkapan layar dari kanal youtube Midollo Vita

Tahukah Kamu Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video Viral "Will You Marry Me"?


Sebagai pembuka saya ingin menjelaskan bahwa kalimat "Will You Marry Me" saya pakai menggantikan "Marriage Proposal" karena merasa kalimat ini lebih ramah. Ada tujuannya. Begini. Selain ingin menjawab berbagai pertanyaan tentang siapa cewek berbaju kuning itu, tulisan ini ingin membahas bagaimana kata kunci atau keyword bekerja?
Tidak persis membahas tips-tips memenangkan SERP sesungguhnya, tetapi menguji apakah model postingan seperti ini akan berfungsi untuk SEO.
Oh, iya. SERP itu adalah akronim dari Search Engine Result Page atau hasil yang dimunculkan oleh mesin pencari (google, yahoo, alta vista, dll) ketika kita mencari sesuatu di internet dengan kata kunci tertentu. Untuk dapat memenangkannya, semua pejuang digital diminta (siapa yang minta? karang-karang saja!) untuk melakukan SEO atau Search Engine Optimization.

Apa itu Search Engine Optimization? Dalam bahasa Indonesia, ini diterjemahkan sebagai: optimisasi mesin pencari. Beberapa orang menyebutnya secara lebih singkat yakni optimasi mesin pencari.

Apapun itu, SEO atau search engine optimization atau optimisasi/optimasi mesin pencari berarti serangkaian proses yang dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan volume dan kualitas trafik kunjungan melalui mesin pencari menuju situs web tertentu dengan memanfaatkan mekanisme kerja atau algoritme mesin pencari tersebut. Selengkapnya dapat dibaca di tautan ini.

Kembali soal siapa cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" yang sedang viral itu. Siapakah dia? Apakah dia benar-benar a random beautiful girl di a random place dengan random feelings atau sesungguhnya adalah tokoh yang sengaja disiapkan untuk meningkatkan trafik pengunjung kanal youtube Midollo Vita? Apa hubungan cewek berbaju kuning itu dengan SERP dan SEO sehingga tulisan ini ditempatkan di Kolom Blogging di ranalino.id?

Saya jawab satu per satu sebagai berikut:

Satu: Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video "Will You Marry Me"?


Saya tidak tahu. Sungguh. Saya tidak tahu. Tetapi meski saya tidak tahu, saya tetap harus menulis tentang cewek berbaju kuning di video itu karena saya sedang ingin menempatkan cewek berbaju kuning itu dan cewek-cewek lainnya di setiap video prank pada tujuan yang lebih mulia, seperti menyelamatkan hari-hari blogger yang bersedih meski tidak lagi jomblo. Emang jomblo doang yang bisa bersedih? Nah loe...

Dua: Apakah Cewek Berbaju Kuning itu Dipakai untuk Meningkatkan Trafik Youtube Midollo Vita?


Saya tidak berani menduga. Mencermati berbagai komentar di kanal tersebut, para subscribers atau yang kebetulan mampir dan ikut berkomentar terpecah dalam dua kelompok besar.

Kelompok pertama setuju bahwa cewek berbaju kuning di video viral tersebut adalah artis yang sengaja dipakai untuk meningkatkan trafik. Mereka menyodorkan alasan seperti: 1) gak mungkin ada cewek yang sedesperado itu, 2) mana ada prank yang tidak melibatkan 'orang dalam', dan 3) (ini bagian paling menegangkan) sudah sepasrah itukah para jomblowati?

Tidak ada satupun komentar yang meyakinkan sekaligus menunjukkan bahwa pendapat kelompok ini adalah pendapat yang kuat.

Kelompok kedua adalah yang merasa bahwa prank a la Midollo Vita ini memang benar-benar makan korban. Kelompok ini menyodorkan alasan: 1) mungkin lho ada cewek yang sedesperado itu (ihhh...) 2) ini asli prank karena dua cewek sebelumnya juga begitu (ini pendapat apa?), dan 3) (ini bagian yang juga menegangkan) kenapa bukan saya yang ada di posisi cewek berbaju kuning itu? Mammamia e. Pendapat kelompok ini juga sama sekali tidak kuat. Karenanya tidak perlu dipercaya.

Berhadapan dengan dua pendapat dari dua kelompok besar yang sama-sama tidak kuat itu membuat saya mengambil kesimpulan bahwa identitas cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" hanya diketahui oleh orang-orang dekatnya (Bapa, Mama, Kaka, Ade) dan orang-orang di balik akun youtube Midollo Vita.

Tiga: Apa Hubungan Cewek Berbaju Kuning di Video "Will You Marry Me" dengan SERP dan SEO?


Hubungan jelas. Untuk meningkatkan trafik pada blog ranalino. Eits... jangan marah. Perhatikan beberapa fakta berikut ini.

Saya berulang kali menulis "cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" alih-alih menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal 'dia'. Mengapa? Karena saya sedang mengejar keyword atau kata kunci di mesin pencari.

Yang saya bayangkan adalah, setelah menonton video tersebut, warganet akan penasaran dengan identitas cewek berbaju kuning itu. Maka saya harus menulis kata kunci tersebut secara berulang-ulang untuk menjaga sekaligus menangkap serangan orang-orang penasaran yang dengan segera mengetik kata kunci itu di mesin pencari.

Beberapa keyword(s) yang mungkin dipakai adalah 'siapa cewek berbaju kuning di video will you marry me', cewek baju kuning will you marry me', 'baju kuning marry me', 'marry-lah me oh cewek baju kuning', atau 'marrylah kemarry hei hei sayang baju kuning di video viral'. Keyword(s) terakhir ini mestilah diketik oleh orang yang sedang melucu tapi melakukannya di mesin pencari. Salah tempat!

Btw, jika strategi saya berhasil--mengetik berkali-kali 'jagaan' keyword(s) tadi--maka dalam beberapa hari ke depan, SERP untuk pencarian 'cewek berbaju kuning' akan menempatkan artikel ini di halaman pertama. Jika tidak berhasil maka pasti tidak akan ada di halaman pertama. Biarkan waktu dan algoritme google yang memutuskan.

Nah, kembali soal hubungan cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" dengan SERP dan SEO tadi, tulisan (sampah) ini hanya ingin menunjukkan bagaimana para blogger pemburu klik bekerja. Sebenarnya bukan hanya blogger. Media-media pemburu klik macam tribunnews, suara, cerpen, idntimes, dan lain-lain itu sesungguhnya melakukan hal yang sama.

Mengapa mereka melakukannya? Karena dengan itu, mereka akan menarik (baca: menjebak) manusia-manusia digital untuk mampir ke website mereka, menaikkan peringkat mereka di alexa, dan menambah penghasilan mereka dari adsense atau pihak pemasang iklan lainnya.
Ya, setiap klik kita pada website tertentu akan berpotensi rupiah apalagi jika jumlah pengunjungnya mencapai ribuan orang sehari. Anda mampir ke artikel ini juga karena penasaran dengan identitas cewek itu, bukan? Lihatlah bagaimana judul tautan bekerja!
Apakah ranalino.id sedang berjuang melakukan hal yang sama? Ho-ho-ho. Tidak, Fergusso. Tidak salah, maksudnya. Ah,... tidak. Itu salah. Semua artikel di ranalino.id, selain artikel ini, sama sekali tidak ditujukan untuk SERP. Ada sih intensi begitu, tapi sedikit sekali.

Sejak awal berdirinya, blog ini ditujukan sebagai tempat menulis yang baik untuk penulis yang tulisannya baik. Ya. Penulis yang baik yang rela tidak dibayar. Terima kasih, teman-teman. Adsense kita tidak ada apa-apanya tetapi tulisan-tulisan keren kalian telah dibaca ribuan orang dan beberapa di antaranya berhasil tergerak. Iya kah? IYA!

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng

Well, sebelum tulisan ini saya akhiri, tanpa bermaksud memperbanyak 'keyword(s)' dengan tujuan SERP atau SEO, saya sendiri merasa bahwa cewek berbaju kuning di video "Will You Marry Me" itu adalah pertunjukan terbaik tentang bagaimana Youtubers bekerja.

Misalkan dia benar-benar 'orang dalam' maka pengelola kanal Midollo Vita tahu betul bagaimana memancing viewers dengan baik. Misalkan dia benar-benar seorang tak dikenal yang tiba-tiba dilamar, dia berhasil membuat banyak viewers menjadi baper. "Kenapa bukan saya yang ada di situ?" Terdengar isak tangis di sudut kamar-kamar yang sepi.

Ooooops. Jangan menangis. Kalau 'sudah terlalu lama sendiri'-mu bikin kamu sedih, pikirkan nasib si cewek berbaju kuning itu kalau ternyata dia adalah benar-benar random girl yang dijebak secara tidak beradab itu. Sedih sekali, bukan?

Sampai di sini pelajaran ngeblog kita hari ini. Mohon maaf atas artikel tak penting ini dan selamat berjuang mencari cewek berbaju kuning, eh, menjadi cewek berbaju kuning, halah, maksudnya menjadi pemain-pemain digital yang cerdas dan sehat. Hidup Unicorn! Haissssh...

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Ps: 

  1. Jika tulisan ini benar-benar berjodoh dengan mesin pencari maka bukan tidak mungkin beberapa keyword juga akan dimenangkan, seperti: Apa itu SERP, Pengertian SEO, Optimasi atau Optimisasi Mesin Pencari. Kira-kira begitu.
  2. Dalam rangka SERP dan SEO tadi, tulisan ini memakai kata 'cewek' dan bukan 'perempuan' karena kata yang pertama itu lebih sering dipakai dalam pencarian di search engine. Bisa tangkap?
  3. Sudah mengerti alasan saya mengganti "marriage proposal" dengan "will you marry me"?

Ketika Tuhan Campur Tangan pada Kisah Pius Lustrilanang

Pada suatu ketika, di masa lalu, ketika nama Pius Lustrilanang ramai dibicarakan di NTT terutama daerah pemilihan Flores - Lembata - Alor, saya sempat heran. Sekarang, saya tidak heran lagi. Biasa saja.
ketika tuhan campur tangan pada kisah pius lustrilanang
Ilustrasi | Foto: Kaka Ited

Ketika Tuhan Campur Tangan pada Kisah Pius Lustrilanang


Sudah dua kali Pemilu, Pius Lustrilanang berhasil meraup suara yang cukup untuk mengantarnya menjadi anggota DPR RI dari Partai GERINDRA, mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan selama dua kali Pemilu itu pula, saya selalu berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa politik bisa sehebat itu.

Hal yang membuat saya merasa bahwa keterpilihannya mewakili provinsi kami ini oh betapa hebatnya adalah karena dia "orang luar" yang jadi wakil orang NTT di lembaga legislatif.

Betul. Pius Lustrilanang bukan orang NTT. Dia dari Palembang. Tentu saja Pius bukan satu-satunya orang luar NTT yang (pernah) jadi wakil kami di Senayan. Setya Novanto itu dari Bandung. Tetapi terlepas dari soal tiang listrik, e-ka-te-pe, dan hal-hal lainnya yang membuat tokoh Partai Golkar ini sempat viral, Setya Novanto sesungguhnya punya jejak-jejak manis di NTT. Kalau tidak percaya, silakan pesiar ke pulau Timor dan tanyakan bagaimana dia ‘menyapa’ orang-orang di sana.

Tetapi Pius tidak begitu. Maksudnya, dia tidak membangun Pius Lustrilanang Center di Flores seperti yang Setya Novanto lakukan di Timor. Tetapi (lagi), Pius toh meraih banyak suara di Flores-Lembata-Alor pada dua kali Pemilu. Kau kagum ka tida? Sungguh tak berperasaan kalian itu kalau tidak kagum padanya.

Meski di semua daerah pasti ada, tetapi jumlah orang seperti Pius Lustrilanang dan Setya Novanto sesungguhnya tidak banyak. Berjuang menjadi wakil dari daerah yang jauh, berjibaku dengan calon-calon asli daerah, dan menang. Peristiwa itu hanya dapat terjadi karena keberanian dan strategi komunikasi politik yang baik. Bayangkan. Alih-alih berjuang untuk tanah lahirnya sendiri, Pius memilih memikul aspirasi dari tanah air beta. Kalau sedang pakai topi, saya sarankan kalian angkat topi.

Misalkan situasi di atas tidak cukup melahirkan kekaguman, semoga yang berikut ini bisa. Bukankah mengagumkan bahwa keramahan kami di Flores - Lembata - Alor yang memang terkenal ramah ini, berujung pada sikap tak terduga? Memilih orang Palembang yang adalah keturunan campuran Padang – Yogyakarta sebagai penyuara aspirasi kami di Jakarta.

Sejauh yang saya tahu, pertunjukan keramahan kami itu biasanya adalah dengan menyajikan kopi pada setiap ‘orang asing’ yang berkunjung. Mengizinkannya menginap, kadang dilakukan. Tetapi membiarkannya bicara tentang nasib kami? Biasanya tidak semudah itu, Fergusso. Masih banyak orang dalam yang bisa melakukannya. Tetapi mengapa kami memilih Pius?

Saya menduga—dan karena ini dugaan maka bisa saja salah—kami memilihnya karena nama. Nama Pius itu ‘terdengar’ sangat Flores. Jumlah orang bernama Pius itu sebanyak orang bernama Benediktus, Marius, Frans, Margareta, Virgula, Robertus, atau Ursula seperti di “Seratus Tahun Kesunyian”, novel tebal dan hebat karya Gabriel Garcia Marquez. Maka, asal Pius tidak memperkenalkan biodata lengkap di awal kampanyenya, dia akan dengan mudah diterima sebagai orang kita a.k.a “rakat”.

Baca juga: Fenomena Rakat: Dari Sinisme, Humor Gelap, Hingga Medan Investasi Sosial

Kalau AHY juga maju dari daerah kami, namanya sudah memecah gunung es keterasingan. Agus. Kami akan menyimpulkannya sebagai Agustinus. Mudah sekali, bukan?

Siapa Pius Lustrilanang?


Pius Lustrilanang, sebelum menjadi anggota DPR RI mewakili Provinsi NTT, adalah salah seorang Aktivis '98. Ini informasi penting bagi generasi kekinian yang kalau diajak bicara soal '98 selalu bilang: “Wah, sudah lama sekali, ya? Saya belum lahir. Ada apa di tahun ini?”

Hmmm ... ‘98 itu, Bro, adalah tahun di mana para mahasiswa turun ke jalan. Berjuang menurunkan Suharto dan mengakhiri apa yang dikenal dengan nama Orde Baru. Ada banyak mahasiswa yang jadi korban penembakan saat aksi demonstrasi besar berlangsung. Ada peristiwa lain yang lebih traumatik lagi. Pemerkosaan. Ah, saya tidak senang mengingat bagian ini. Pokoknya begitu. Kalau sempat, silakan jalan-jalan ke google. Ketik kata kunci "tragedi mei 1998". Atau "tragedi mei" saja, nanti google akan menambah sendiri kata 1998 di belakangnya.

Nah, pada tahun itu, saat negara sedang dalam 'situasi luar biasa', beberapa nama dipercaya mendesain gerakan. Mereka-mereka itu diburu. Sebagian diculik. Kabarnya, Pius Lustrilanang adalah salah seorang di antara mereka.

Btw, saya tidak berniat memakai kata culik ini tetapi Pius sendiri menyampaikannya. Media-media lokal NTT memberitakannya. Saya kutip dari media daring floresa.co.

“Kenapa? Karena saya dan Prabowo punya sejarah khusus. Yang diculik dan menculik. Itu sejarahnya. Apa yang disatukan oleh Tuhan jangan dipisahkan oleh manusia. Itu saja pokoknya. Jadi, Tuhanlah yang mempertemukan kami. Ibarat jodohlah,” katanya saat menghadiri kampanye Partai Gerindra di Kampung Racang, Desa Racang Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Minggu, 9 Desember 2018 lalu.

Selengkapnya bisa dibaca di tautan ini

Di sinilah kita. Dipertemukan dengan kenyataan bahwa Tuhan telah campur tangan pada hubungan Pius Lustrilanang dan Prabowo. Tentang Tuhan campur tangan, tentu saja terjadi dalam kehidupan semua orang yang percaya. Tetapi yang menarik pada kisah Pius Lustrilanang dan Prabowo Subianto, terutama pada refleksi Pius terhadap peristiwa campur tangan itu adalah ayat Kitab Suci yang dipilihnya.

"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ah, indah sekali. Ada sisi romantisme yang dimainkan secara cerdas.

Maksudnya begini. Dalam konteks perjuangannya menjadi wakil dari daerah pemilihan Flores - Lembata - Alor, Pius tahu bahwa selain karena namanya yang bernuansa rakat itu, Sabda Yesus yang dikutipnya bikin kami tak bisa berpaling; ayat yang selalu ada di setiap misa nikah.Sampai di sini, ada pertanyaan? Kalau tidak, mari kita jalan terus.

Tuhan (dan Apa Saja Bisa Terjadi) dalam Politik Kita


Saya pikir, kita semua pasti sepakat bahwa agama—yang berarti Tuhan ada dalam setiap percakapan tentangnya—masih menjadi jualan primadona dalam pentas politik kita di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Tetapi sebelum membicarakannya, baiklah kita sejenak kembali ke soal Pius - Prabowo.

Saya tahu bahwa di film-film sering terjadi. Penculik dan yang diculik kemudian saling jatuh cinta. Tetapi barangkali kita tidak pernah menduga bahwa seorang Aktivis ’98 kemudian bergabung ke partai yang didirikan oleh tokoh yang kala itu (atau sampai sekarang?) dianggap bertanggung jawab pada aksi-aksi kekera... Ah, sudahlah. Toh, tidak ada bukti.

Hanya saja, katakanlah anggapan kita benar, bukankah mengherankan bahwa Pius Lustrilanang kini menjadi sahabat Prabowo? Pasti sulit sekali baginya untuk meyakinkan bahwa dalam politik apa saja bisa terjadi. Karena itulah, mau tidak mau, suka tidak suka, ayat-ayat Kitab Suci harus diturutsertakan dalam komunikasi politiknya.

Dengan demikian, karena agama-agama mengajarkan kasih sayang dan di dalamnya perintah saling memaafkan pasti ada, hubungan yang runcing di masa lalu dapat terselesaikan dengan baik. Secara kebetulan, Pius Lustrilanang maju dari Dapil yang mayoritas pemilihnya beragama Katolik. Maka ayat suci yang dipakai haruslah yang paling akrab dengan pemilihnya. No mention soal ayat itu sungguh romantis, Sabda Yesus yang dipakai pada kampanye politik akan membuat kami langsung luluh. Kira-kira begitu.

Agama memang masih jadi jualan favorit, bukan? Karena di Flores banyak Nasrani, dipakailah ayat yang dirasa paling sering didengar. Di tempat lain, bisa kutip ayat-ayat dari kitab-kitab lainnya. Sesuaikan dengan khalayak yang hadir, lalu menang. Politik itu seasyik itu, bukan?

Karena sesungguhnya begini. Jauh di kamar-kamar kecil, kami yang kerap muncul dengan narasi besar bernama toleransi di ruang publik, akan tetap memakai agama seseorang sebagai pertimbangan untuk mencintai (baca: memilih). Maksudnya, terpilihnya Pius Lustrilanang mewakili kami bisa jadi karena alasan itu: Pius bukan nama (kata) yang asing, dan kampanyenya memakai ayat Kitab Suci.

Tetapi cinta dan keputusan memilih memang selalu mengherankan. Annie Porter (Sandra Bullock) dan Jack Traven (Keanu Reeves) dalam film “Speed” saling jatuh cinta setelah peristiwa menegangkan. Pius Lustrilanang dan Prabowo adalah kisah korban dan penculik yang saling jatuh cinta. Dapil Flores - Lembata - Alor dan Pius Lustrilanang adalah kisah cinta yang lain. Kita bisa apa?

Bahwa kemudian kita kembali terlibat dalam percakapan tentang betapa kita tidak sering bertemu dengan wakil kita itu setelah Pemilu, atas nama cinta dan keterlibatan Tuhan di dalamnya, kita akan dengan mudah saling memaafkan. Bukankah itu yang selalu kita lakukan? Memaafkan para politisi yang melupakan janji-janji mereka?

Jika catatan ini membingungkan, percayalah, Anda tidak sendiri. Saya juga bingung. Atau sedih?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Surat Ahok dari Penjara dan Tiga Kelompok Garis Keras yang Harus Dihadapi BTP

Ahok sudah keluar dari penjara. Tidak hanya mengubah positioning-nya melalui usaha 'ganti nama', Ahok, eh, BTP, akan berhadapan dengan tiga kelompok yang boleh dibilang garis keras. Wah...
Ahok | Foto: Ist.

Surat Ahok dari Penjara dan Tiga Kelompok Garis Keras yang Harus Dihadapi BTP


Setelah sekian lama dipanggil Ahok sekaligus memantapkan nama itu sebagai "merk dagang" yang membuatnya dikenali sebagai pribadi dengan karakter kepemimpinan yang kuat plus kontroversif—membuatnya dicintai publik sekaligus dibui di Mako Brimob, Basuki Tjahaja Purnama meminta kita semua memanggilnya BTP. Disampaikannya permintaan itu dalam surat yang ditulisnya pakai tinta biru dengan huruf yang lucu, bersama kalimat-kalimat lainnya yang menerbitkan rasa haru.

Apakah hanya saya yang terharu? Bisa jadi. Yang lain barangkali kecewa membaca surat di instagram itu. Bayangkan! Ketika Ahokers di DKI bersedih pasca-kekalahannya di Pilkada 2017, dan karenanya kerap bikin meme menyindir Gubernur mereka yang sekarang, Ahok malah bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI 2017.  Mamamia e.

Baca juga: Kangen Ahok atau Mau Ikut Basuki Tjahaja Purnama?

Tetapi memang begitu. Dalam suratnya itu dia menulis: ... jika terpilih lagi di pilkada tsb, saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai Balai kota saja. Ketika baca kalimat ini, saya pikir mungkinkah sesungguhnya Ahok ingin menguasai istana negara? Ternyata tidak. Sambungan kalimat itu adalah: ... tetapi saya disini belajar menguasai diri seumur hidup saya. Maksudnya di Mako Brimob. Kalimat yang ditulis italic dan underline adalah kutipan lurus dari surat di IG @basukibtp dengan jumlah love-nya mencapai lebih dari 300 ribu.

Di sinilah letak soal surat itu. Soal tata penulisan, tentu Ivan Lanin akan dengan mudah menunjukkan kesalahannya sekaligus menjelaskan kenapa itu salah. Misalnya, kata “tsb” yang ditulis tanpa tanda titik [.] di bagian akhir, atau “Balai kota” yang seharusnya ditulis “Balai Kota” atau “disini” yang mestinya ditulis terpisah: “di sini”.

Tetapi soal lain dan justru yang terbesar dalam surat itu adalah falasi. Ahok sepertinya merasa bahwa kalau dia menang di Pilkada maka dia tidak akan dipenjara. Ah. Terpilih atau tidak terpilih jadi Gubernur rasanya bukan hal yang membuat Buni Yani, Cs membawa Ahok ke Pengadilan. Mengutip ayat suci Al-Quran secara tidak bijak itu yang bikin beliau dipenjara. MUI juga mengeluarkan fatwa untuk itu, bukan? Masih ingat siapa Ketua MUI waktu itu? Oooops…

Hanya saja, kita tidak boleh mengingat masa lalu. Itu kira-kira yang ingin disampaikan Ahok dengan permintaannya: saya keluar dari sini dgn harapan panggil saya BTP bukan Ahok. Jadi seperti: No more Ahok, welkam BTP. Sebagai bukti keseriusannya, selain menceritakan transformasinya dalam surat, dia langsung bikin akun youtube dengan nama "Panggil Saya BTP." Juga menceritakan niat-niatnya.

Tetapi proses tranformasi Ahok ke BTP tentu tidak akan mudah. Paling tidak, BTP akan menghadapi tiga situasi sulit berikut ini.

Satu, Orang-orang yang Kesulitan dengan Banyak Suku Kata


Ahok itu mudah dieja. A-hok. Hanya dua suku kata. A dan Hok. Bandingkan dengan BTP. Jadi tiga sukukata. Be-te-pe. Barangkali tidak banyak yang kesulitan dengan suku kata sebanyak itu. Tetapi ada. Yang lebih mengkhawatirkan justru adalah kemiripan be-te-pe dengan es-be-ye. Ketika dibunyikan, huruf vokalnya sama dan dua nama itu sama-sama ada B-nya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang keliru dan bilang es-te-pe atau be-te-ye atau be-es-pe dan mulai menyanyi seperti peserta Bahana Suara Pelajar di tahun ’90-an itu?

Tetapi yang paling sulit adalah kalau ternyata dengan menjadi BTP, tokoh kita ini menjadi selembut SBY. Tidak ada penjelasan ilmiah, tetapi bisa saja begitu. Ahok tidak mau lagi dikenali sebagai pribadi yang keras dan lugas, tetapi menjadi pribadi baru yang lembut, bukankah itu akan berarti mirip SBY? Nah, rasanya sulit sekali membayangkan bahwa kita akan dengan rela menerima BTP bilang: “Saya prihatin.” Oh.

Dua, Youtuber Serius


Ini adalah kesulitan lain yang akan (atau sudah?) dihadapi. Para yutuber yang terganggu dengan kehadiran akun "Panggil Saya BTP". Mereka pasti akan membandingkan penderitaan mereka mengumpulkan subscriber, menjaring like, dan menembus adsense yang butuh waktu bertahun-tahun itu dengan betapa singkatnya anak baru di yutub ini mengumpulkan subscriber yang begitu banyak itu.

Dan karena terganggu, mereka akan menyerbu setiap konten baru di akun itu dengan boom dislike. Masih mending. Kalau tiba-tiba mereka melakukan apa yang di dunia blogging dikenal dengan nama boom click ketika BTP mulai ngadsense? Bisa di-banned akun itu nanti.

Saya curiga. Jangan-jangan yang menitipkan ‘jempol ke bawah’ di vlog episode pertama kemarin itu bukan lawan politik tetapi para youtuber yang berusaha merangkak dan mau menikmati jalan hidup sebagai digital nomad. Akun Panggil Saya BTP membahayakan persaingan.

Apakah BTP sudah siap bermain di dunia digital yang adalah wilayah pertemuan terbesar (untuk tidak menyebutnya peperangan) para suporter dan haters ini? Jangan-jangan malah jadi perang baru lagi, dan BTP yang semula berniat lebih kalem malah unggah konten yang berisi pernyataan ketersinggungannya karena postingannya di-dislike. Waduh. Bakal hilang penonton akun rapper yang kerap bikin dis itu kalau begini.

Tiga, Para Penggemar Veronica Tan


Yang ini serius ada. Asli. Jumlahnya banyak. Entah yang patah hati karena BTP merebut Puput dari mimpi-mimpi mereka, atau yang merasa bahwa Ahok melupakan Veronica sebagai perempuan yang ikut membuatnya sukses dengan terlampau cepat memutuskan akan menikah dengan Puput (sekaligus merenggutnya dari mimpi-mimpi mereka), atau yang memang menyayangi Veronica Tan setulus hati.

BTP harus lebih hati-hati untuk soal yang satu ini. Jangan sekali-kali membuat pernyataan yang keliru. Menerima perubahan nama dari Ahok ke BTP saja sudah sulit, jangan tambah dengan kalimat-kalimat yang ‘menyerang’ Vernonica. Please, BTP.

Di facebook ada teman saya yang menulis, "Menjelek-jelekan seorang mantan yang sudah menemani Anda selama berpuluh-puluh tahun dan sudah pasti yang sangat berperan dalam kesuksesan Anda selama ini bukanlah suatu perbuatan yang bijak. Terus terang saya telah kehilangan respek dan kekaguman saya. (Silahkan yang mau bilang saya baper wkwkwkwk)."

Itu yang sopan. Yang lebih dari itu? Banyak! Kemarin ada yang bilang bahwa Ahok keren tapi BTP suka daun muda. Hayooo… Kalimatnya tidak persis begitu, tetapi maksudnya begitu. Dan mahabenar warganet di negeri ini.

Untuk mengujinya, saya mengusulkan agar Ibu Veronica Tan membuat akun youtube juga. Nama akunnya: Saya Tetap Veronica. Pasti subscriber-nya langsung banyak. Apalagi kalau konten pertama berisi cerita-cerita personal Bu Vero plus klip-klip di mana dia memainkan cello.

Baca juga: Ahok, Kita Bukan Gading Kan?

Tentu saja BPT masih akan bertemu banyak hal sulit lainnya. Termasuk misalnya jika Veronica Tan menerima usul saya untuk bikin akun youtube dengan nama "Saya Tetap Veronica" itu, akan sangat mungkin Puput juga akan bikin dengan nama: "Aku Puput Situ Bisa Apa". Artinya, tiga kelompok 'garis keras' di atas hanyalah contoh dari sekian banyak kesulitan yang mungkin akan dihadapi BTP.

Saya merangkumnya dalam poin-poin, sebagai berikut:

  1. Mampukah Ahok benar-benar menjadi BTP tanpa sesekali menjadi Ahok lagi?
  2. Relakah kita kehilangan Ahok dan menerima BTP tanpa rasa prihatin?
  3. Apakah posisi Mario Teguh tidak akan terancam kalau BTP menjadi motivator?
  4. Apakah BTP memikirkan perasaan Mario Teguh?
  5. Apakah Ahok menjadi BTP akan semanis Madiba menjadi Nelson Mandela?
  6. Apakah BTP akan mesra dengan Ma'ru... ah, sudahlah, dan lain sebagainya.

Tetapi bagaimanapun, saya mengucapkan selamat jalan Ahok. Selamat datang BTP. Sesungguhnya saya bisa saja memberi penjelasan tetapi situasi bangsa ini sedang sulit, rakyat sedang… halaaah. Yang ini kalimat Pak SBY kan? Tu, kan. Belum apa-apa saya sudah keliru.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Ke Timur Flores: Sehari di Adonara, Mengunjungi Nuha di Kampung Meko

Pada bagian kedua catatan tentang kunjungannya ke ujung timur Flores, Yeris bercerita tentang perjalanan ke Adonara dan kelelawar yang terbang di Nuha Pnike. Selamat menikmati.
ke timur flores sehari di adonara ke nuha di kampung meko
Nelayan Kampung Meko. Tampak Gunung Ile Boleng di kejauhan.

Ke Timur Flores: Sehari di Adonara, Mengunjungi Nuha di Kampung Meko


Oleh: Yeris Meka

Kami berdiri di pelabuhan Pante Palo. Melempar pandang ke seberang. Pasir putih di pesisir pulau Adonara terlihat jelas. Dekat saja. Setelah Larantuka, tidak lengkap rasanya tidak ke sana. Saya pikir begitu. Mengapa harus ke Adonara? Ya, pergi saja. Karena saya, belum pernah ke sana. Hahahaha. Peace! Damai. Santai! Seperti di Pantai.

Adonara. Pulau seribu kelapa. Itu kesimpulan saya ketika pesawat kami berada tepat di atas pulau itu, sebelum mendarat di Gewayantana, Larantuka. Barisan kelapa tertata rapi, seumpama tentara apel pagi. Btw, cerita tentang Larantuka dapat disimak di sini: Ke Timur Flores: Larantuka, Kota Reinha.

Hari ini ke Adonara. Kamis, 12 April 2018.

Pukul delapan pagi kami sudah di pelabuhan. Hendak menyeberang. Ke seberang. Pakai perahu motor. Juga bawa sepeda motor, plus lima liter bensin tambahan. Di Adonara tak ada terminal pengisian bahan bakar. Ini bekal. Sekalipun tangki motor yang akan dikendarai sudah terisi penuh, jaga-jaga saja.

Petualangan dimulai. Cerita tentang ganasnya arus selat Gonzalu masih hangat. Terngiang. Saya takut. Gugup. Untung saja pengemudi perahu meyakinkan. Gonzalu sedang dalam tenangnya hari itu. Penyeberangan yang cukup ramai, secukupnya menjadi bukti ketenangan Gonzalu. Kami jalan.

Di tengah selat dari arah Pante Palo, sebelum melaju sepanjang pesisir Adonara, perahu harus memutar seratus delapan puluh derajat. Mengakali arus supaya tidak terseret jauh. Saya angkat topi untuk para penakluk Gonzalu dalam situasi ini. Entah karena anak gunung memang jarang dalam keadaan macam begini, atau ketenangan dan kharisma sang pengemudi telah lahir sejak hari pertama mereka terciprat ombak Gonzalu. Ah... Tapi tetap saja. Saya kagum. Wajib.

Okay. Setelah kurang lebih lima belas menit penyeberangan, kami tiba. Dua penumpang dan satu sepeda motor. Biaya angkutan kategori reguler, satu penumpang lima ribu rupiah. Sepeda motor dua puluh ribu rupiah. Kami bayar dengan tarif normal. Total tigapuluh ribu rupiah dibayar tunai. Sah.

Saya resmi jadi ae wu'u. "Bahasa Adonara yang berarti orang baru yang menjejakkan kakinya pertama kali di pulau ini," kata kawan perjalanan saya, Eghy Ola. Ia menjelaskan dengan detail bagaimana mengucapkan kata itu dalam aksen setempat. “Diucapkan seperti agak sengau. Semacam ada -ng di kata wu’u. Begitu!” Katanya. Saya sepenuhnya mengiyakan. Beliau ini tulen Adonara, orang baik, mengetahui banyak tentang Adonara.

Baca juga: Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 1)

Lanjut!

Dari sini, dari Tanah Merah, Adonara Barat ini, kami akan ke Witihama, Adonara Timur, kota kecamatan di sekitar kaki Gunung Ile Boleng, melintasi trans Adonara.

Pukul sembilan kami sampai Kolilanang. Masih separuh perjalanan ke Witihama, jalan agak curam dan berbelok tajam. Perlu hati-hati. Sampai Witihama kira-kira pukul sepuluh. Waktu mepet, perlu segera bergegas lagi bila berniat mengunjungi beberapa tempat.

Terlebih dahulu kami ke Waiwerang. Alasannya sama: saya belum pernah ke sana. Sekedar untuk menyaksikan bagimana suasananya. Setelahnya, pantai yang sudah cukup terkenal di sana kami sambangi. Pantai Watatona, juga Ina Burak. Dua destinasi wisata ini tidak berjauhan. Berada di satu garis pantai. Punya karakter sama, berpasir putih. Watatona dalam bahasa setempat bisa diartikan batu yang berbentuk kapal. Sedangkan Ina Burak berarti gadis putih yang cantik.

Pukul dua siang kami tancap gas. Pulang. Kembali ke Witihama, kami akan ke Kampung Meko. Sekitar dua puluh kilo dari Witihama. Tapi, butuh empat puluh lima menit dari Witihama untuk sampai ke kampung Meko. Go!

Akses masuk kampung ini belum sebaik di ibukota kecamatan. Kami harus menyusuri jalan tani. Masih dari tanah. Pada banyak bagian malah sudah terkikis erosi. Petualangan di medan begini memang butuh mesin sepeda motor prima, juga tekad dan stamina, juga kegilaan. Kami tahu ini akan bikin lelah. Tapi ada harga yang mesti dibayar. Jika ada penganut kepercayaan pembeli adalah raja, maka saya mengimani tidak ada raja yang kabur setelah tahu harga. Itu!

Kami lewat kebun-kebun jagung dan kacang hijau. Setelahnya padang stepa. Kami tiba Kampung Meko pukul empat sore. Warga sedang rapat persis di jalan utama masuk kampung. Aroma ikan kering langsung bisa ditangkap hidung dari sini.

Kami lewat. Warga mungkin sudah menduga bahwa kami pengunjung biasa yang hendak ke pulau pasir: Nuha. Kami mencari tahu pada warga bagaimana ke pulau pasir putih itu? Syukurlah yang kami butuhkan didapat: perahu juga pengemudi yang akan mengantar kami ke sana. Om Musa namanya. Warga kampung yang kebetulan tidak ikut rapat. Kami diantar ke Nuha, pulau pasir seluas sepertiga lapangan bola yang muncul kala laut surut.

Baca juga: Di Langa Bajawa, Orang Muda Menata Masa Depan Wisata Desa

Bila sedang ramai, kata Om Musa, untuk sampai ke sana penumpang perahu dikenakan biaya lima belas ribu rupiah. Lima menit sampai. Petang itu Om Musa dibayar lima puluh ribu rupiah. Pergi pulang. Let’s go! Sebentar lagi matahari terbenam. Senja mungkin cantik dinikmati dari sana.

Senja di Nuha | Foto: Eghy Ola
Nuha dalam bahasa setempat bisa berarti tempat. Pulau. Ada beberapa di sana. Pulau-pulau kecil yang dekat kampung Meko: Nuha Pasir Putih, Nuha Penatan, Nuha Watanteni, Nuha Gambus, Nuha Pnike. Pnike dalam bahasa setempat berarti kelelawar.

Setelah matahari tenggelam sepenuhnya kami pulang. Dan benar saja, kelelawar dari Nuha Pnike berarak menuju pulau. Ratusan jumlahnya.

Cerita Om Musa, Dusun Meko masuk wilayah administrasi Desa Pledo, Kecamatan Witihama. Penduduk kampung adalah orang-orang dari suku Bajo. Sekitar lima puluh kepala keluarga, hari-hari bekerja sebagai nelayan, semua muslim. Sebuah mushola sudah ada di sana. Tempat anak-anak belajar shalat dan mengaji. PLN belum masuk. Penerangan masih mengandalkan sebuah genset dengan jam operasi terbatas.

Om Musa juga nelayan. Punya perahu motor sendiri. Berbahan viber. Mesinnya diesel. Berbahan bakar solar. Dicat biru. Ya, yang kami tumpangi ini.

“Ini juga karena dapat kredit dari bank,” katanya.  Kekesalan turut mengalir dari ceritanya. "Nelayan di sini tidak semua punya perahu. Orang gunung malah punya. Sumbangan perahu untuk kelompok nelayan, pernah ada.  Tapi malah nama pengelola orang dari gunung. Perahunya sudah tidak beroperasi lagi. Rusak. Kecewa betul."

Saya yang awam dengan geliat kehidupan orang laut selalu hanya mendengar saja. Kekesalan Om Musa, sampai proses nelayan di sini membuat ikan kering. Dijual ke pasar di Witihama. Pada pukul dua pagi sudah harus bersiap ke sana. Mobil-mobil pick up punya jadwal tetap. Bila telat, ketinggalan angkutan.

Untuk pengepul ikan kering, kampung Meko pasti masuk daftar kunjungan. Kualitas ikan di sini bagus. Harganya lebih murah, tanpa pengawet, langsung dari nelayannya. Tangan pertama. Saya membeli beberapa. Di rumah Om Musa, setelah sedikit tawar menawar dengan istrinya, Bibi Fatima.

“Kalau beli banyak, lebih murah lagi,” kata Bibi Fatima.
“Sudah, Bibi. Ini berat. Nanti besok kalau kurang, beli lagi di Witihama.”

Hari sudah gelap. Kelelawar dari Pnike sudah terbang ke pulau yang jauh, hendak cari makan. Kami pulang. Kembali ke Witihama. Sampe sini dolo jo!

Yeris Meka |
Tinggal di Kupang. Tulisan Yeris lainnya tentang pariwisata dapat disimak di tautan ini.

Ke Timur Flores: Larantuka, Kota Reinha

Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan Yeris Meka tentang kunjungannya ke Larantuka, sebuah kota yang terletak di ujung timur Pulau Flores, Ibukota Kabupaten Flores Timur.
ke timur flores larantuka kota reinha
Larantuka Kota Reinha | Foto: Yeris Meka

Ke Timur Flores: Larantuka, Kota Reinha


Oleh: Yeris Meka

Ketika orang-orang bercerita tentang kunjungan mereka ke Larantuka di zaman lalu, yang kami tahu tentang kota itu: berada paling timur pulau Flores, jagung titi, dan Oa Lina. Yang terakhir itu adalah judul lagu karangan Om Wens Kopong.  Oa Lina. Lagu itu hits sekali. Favorit. Sering dimainkan di tenda-tenda pesta. Dulu.

Lebih  bahagia lagi kalau kami ditawarkan jagung titi. Oleh-oleh khas Nagi. Tak beda dengan jagung goreng dari dapur sendiri, tetapi yang ini dititi. Dan didatangkan dari Larantuka. Tambahan pula, yang membawa sedang bersemangat membagikan kisahnya yang masih hangat tentang Larantuka. Kami makan. Jagung titi dan ceritanya. Lahap. Sampai habis.

Saya belum sekalipun menjejak kota itu. Memang Umsini, pada suatu libur Lebaran 2017 berlabuh di Larantuka. Memuntahkan penumpangnya di situ dan melaju lagi. Menantang arus Gonzalu, memutari Tanjung Bunga menuju Maumere. Tetapi saya tetap ada di kapal sebagai salah seorang penumpang Umsini yang baru akan berlabuh di kota lain. Hanya mencium aroma Larantuka dari pelabuhan. Dari dek atas kapal. Melihat.
Ile Mandiri kekar berdiri tenang. Lorong-lorong kota, gereja-gereja, juga rumah-rumah penghuni Larantuka kota Reinha sedang dijalari gerimis. Kau ingin jelajahi tapi tujuanmu bukan di sini. Macam kebelet pipis tapi yang bisa dilakukkan hanya meringis. Tahan!
Kapan main ke Nagi e, kaka? Aiiis…! Itu Oa pu suara ka? Dan akhirnya, 11 April 2018, saya ke Larantuka. Benar-benar menjelajahinya setelah rindu yang lama tertahan. Oleh beberapa hal, saya berada di kota kecil ujung timur Flores ini. Kota yang sudah lama menghuni daftar rencana “kunjungan”; dan rindu, sudah begitu membuncah. Kejutan dan hadiah-hadiah kecil ini patut dirayakan. Tetap menyenangkan setelah dikurung hal-hal yang selalu terlalu biasa. Ini baik, daripada duduk-duduk saja.

Prosesi Tuan Ma sudah lewat dua minggu ketika saya menjejakkan kaki di kota ini. Pertama kali. Peziarah yang sempat mengikuti prosesi sakral ini mungkin sudah tuntas membagi-bagi pengalamannya kepada sanak keluarga dan kenalannya di seantero jagad. Namun tetap saja kota ini mengundang minat.

Baca juga: Mora Masa: Menabung Rumput, Menuai Rupiah

Setiap orang punya cara berbeda menikmati sesuatu. Untuk saya, kalau tidak sebagai peziarah di Tri Hari Suci, menjadi pengunjung di hari-hari biasa tidak mengapa. Tetap akan ada hal yang bisa diceritakan.

Setelah mendarat di Gewayantana, perjalanan dilanjutkan ke barat. Sekitar lima kilometer menuju jantung kota, Ibukota Flores Timur: Larantuka. Kota pesisir ini mengandung seribu pesona. Untuk wajah baru macam saya ini, hiruk pikuk transportasi laut sudah cukup mencuri perhatian. Bikin kagum.

Saban hari, penakluk arus selat Gonzalu berlalu lalang dari Larantuka via Pante Palo menuju Tanah Merah, Adonara. Lalu lintas perahu kecil dan sedang, mengantar penumpang dan sepeda motor dari dan ke seberang. Bagi saya bukan pemandangan yang biasa.

Tentang Gonzalu, nama ini sudah terkenal. Terlebih karena prosesi laut tahun 2014 meminta korban. Sebagian menganggap sebab ada kesalahan teknis, tetapi tidak sedikit yang percaya bila laut marah. Konon ada proses yang salah. Gonzalu marah.

Okay. Next.

Ada lagi pelabuhan penyeberangan antar pulau di Waibalun yang cukup sibuk. Tidak sepi. Melayani rute antar pulau di Flores Timur: Larantuka - Adonara - Lembata - Kupang. Selain ferry yang dikelola ASDP, ada juga kapal-kapal penumpang yang dikelola orang dalam, melayani rute Larantuka - Solor - Adonara sampai Lembata.

Pada hari libur penumpang lebat. Kalau jadi orang Larantuka bisa pilih, misalnya tiket pesawat mahal, pakai jasa angkutan laut. Ada ferry yang nanti bersandar di Waibalun. Bila tidak, pakai jasa kapal penumpang sejenis Umsini yang nanti bersandar di pelabuhan laut Larantuka. Di Posto. Semuanya di radius dalam kota. Berdekatan.

Kekaguman itu bisa lebih berlipat seandainya saya datang pada prosesi Samana Santa. Sayang, belum sekalipun saya ikut. Rasa menyesal menjalar. Ada yang saya lewatkan. “Ke Larantuka, tapi Samana Santa su lewat, buat apa kau ini?” Sampai akhirnya diskusi-diskusi kecil membuat saya merasa keliru menghukum diri dengan cara itu; menyesali saya yang absen dari prosesi suci itu.
“Mengikuti prosesi sakral itu tanpa ujud dan niat, percuma. Jangan ikut ramai saja. Dengan atau tanpa pengunjung, prosesi akan tetap jalan. Ini tradisi!” Kata pengemudi perahu. Suaranya saya dengar jelas sebelum ditelan ombak Pante Palo.
Kalau sekedar turut ramai, tak usah ikut. Saya mengamini ini. Sepakat!

Larantuka, Kota Reina


Aroma laut, lorong kota, dan yang lainnya mungkin sama. Seperti kota-kota pesisir bernama lain di pulau ini. Tetapi cerita yang hidup lalu mengabadi dalam memori kolektif orang Nagi, akan merawat jejaknya sebagai pusat Kerajaan Katolik di Flores.

Membayangkan bagaimana ritus tua Semana Santa dirawat, sulit bagi siapa pun untuk tidak mengakui ketatnya disiplin yang diterapkan demi prosesi laut tersebut. Setidaknya itu cerita yang saya tangkap.

Momen-momen di masa lalu jadi monumen untuk hari ini. Ketika melewati titik tertentu, tidak lagi menjadi hal biasa. Selalu ada cerita kuat. Dari pelabuhan Pante Palo, Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana, Kapela Tuan Meninu, sampai arus selat Gonzalu. (Bersambung)

Yeris Meka |
Tinggal di Kupang. Tulisan Yeris lainnya dapat disimak di tautan ini.

Catatan:

Tentang Nama "Kota Reinha"


Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria. Nama ini berasal dari peristiwa lima abad silam, ketika patung Tuan Ma--yang kini diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka--ditemukan oleh seorang anak laki-laki bernama Resiona ketika ia sedang mencari siput di pantai. 

Patung Tuan Ma diduga berasal dari kapal Spanyol atau Portugis yang terdampar di lokasi itu pada tahun 1510. Tentang hal ini dapat dilihat pada tulisan Samuel Oktora dan Kornelis Kewa Ama di Kompas.com.