Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?

Bagaimana mengucapkan selamat tinggal pada usia tiga puluh delapan dengan pantas? Itu yang saya pikirkan setelah Kaka Rana dan Celestin memberi ucapan selamat.
bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas
Foto: Kaka Ited

Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?


Kemarin saya ulang tahun. Dan melewatkan detik kosong-kosong di depan komputer jinjing terkutuk. Bukan. Bukan laptop-nya yang terkutuk, tetapi blog, media sosial, website baru kami, dan semua yang rasanya telah mengambil banyak sekali waktu. Bukan mereka juga barangkali. Tetapi ketakberdayaan menghadapi godaan.

Atau sama sekali tidak ada yang terkutuk Semua baik-baik saja, sampai saya merasa agak bersedih karena ulang tahun berarti juga meninggalkan usia yang lama. Perkara meninggalkan, ditinggalkan, memutuskan untuk saling pergi (tinggal berjauhan juga begitu) memang bikin sedih. Saya memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.

Dalam perjalanan dari Rego ke Ruteng — saya memilih jalur yang telah lama saya tinggalkan: via Pacar, Noa, Golo Gonggo, Golowelu, dan seterusnya, Cancar lalu Ruteng — saya berjuang membagi konsentrasi antara silih-silih batu dengan memikirkan apa yang pantas disampaikan sebagai ucapan perpisahan dengan usia yang lama: tiga puluh delapan tahun. Tetapi jalan itu buruk sekali buruknya. Lebih buruk dari apa yang pernah kau pikirkan tentang jalan yang buruk.

Maka, berpikir tentang ucapan selamat tinggal dengan cara yang pantas pada usia tiga puluh delapan tahun, serentak berganti: apa saja yang dilakukan oleh bapak-ibu di Labuan Bajo selama ini? Jalur Rego - Ruteng via Pacar ada di Kabupaten Manggarai Barat, dan rasanya tidak berubah ke arah yang lebih baik sejak kabupaten itu berdiri sendiri. Tidak juga jalan di tempat. Dia bergerak ke arah yang lebih buruk. Rasanya begitu.

Beberapa kali sepeda motor saya miring-miring dan saya harus kasi turun kaki di dua jalur berbeda; Pateng sampai Doro, Lalong sampai Noa. Usia 38 tahun barangkali tidak terlalu tua, tetapi soal nyali adalah hal yang berjalan terbalik dari usia. Sejak umur 20 tahun, setiap usia bertambah berarti nyali berkurang. Dulu sa bisa kros ini jalan, pikir saya.

Hanya saja, nyali memang tidak seharusnya dihubung-hubungkan dengan jalan umum. Johny Pranata, si legenda motocross itu toh tidak bertarung di jalan umum. Jalan umum harus bagus. Infrastruktur seperti itu berhubungan dengan biaya angkut barang yang lebih murah, sehingga ekonomi kita tidak 'selesai di jalan'; keuntungan jual hasil bumi ke Ruteng menjadi sangat sedikit karena biaya transportasi yang mahal. Mau omong soal kesejahteraan? Aeh...

Karena itulah, saya merasa (berharap) kondisi jalan yang buruk itu harus segera ditinggalkan. Siapa saja yang punya akses untuk menentukan nasib jalan itu harus berani mengucapkan salam perpisahan. Mengucapkannya secara pantas.

Di pinggir lapangan sepak bola di Nara - Rego, ketika PS Gempar berhadapan dengan PS Lewat (pertandingan itu berakhir seri 2 - 2), saya sempat ngobrol dengan seseorang. Tentang jalan yang buruk itu. Kami sudah lupa kapan terakhir kali 'kasi gigi satu' di kendaraan kami hanya ketika mulai jalan saja. Sudah bertahun-tahun rasanya. Lama sekali. Sekarang, gigi tiga hampir tidak pernah berfungsi. Apalagi di atasnya. Mereka pasti sedih sekali diabaikan seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Gigi satu, dua, satu lagi, dua lagi, satu, satu, dan sa cape sekali.

Tiba di Ruteng, saya sedikit lelah. Lalu memutuskan tidur saja. Agak demam juga. Sampai kemarin, ke kantor (sejak masuk pasca-liburan) saya 'on-off'. Bukan kesalahan jalan buruk semata, tentu saja. Selama liburan kemarin, di Paurundang, di rumah Guru Don dan Muder, saya memang makan sesukanya, tidak tidur sesukanya, dan minum kopi-air putih-sopi dalam porsi yang sama.

Lalu saya ulang tahun. 39 tahun sekarang. Artinya, selamat tinggal 38, usia yang sejauh yang saya ingat, saya nikmati sekali. Ketika saya tahu bahwa menulis itu menyenangkan. Lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan sebelumnya. Saya menulis apa saja. Sebagian mendapat bayaran dengan harga yang baik, saya juga menerbitkan buku kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam, menjalankan bacapetra.co dengan tim kerja yang ajaib dan menyenangkan, usia yang kemarin itu rasanya baik sekali.

Meski sama sekali tidak berniat untuk tinggal selamanya di usia itu — tak ada seorang pun akan bisa — tetapi mengucapkan selamat tinggal secara pantas adalah hal yang sulit sekali. Bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada sesuatu yang telah begitu baik padamu?

Saya memikirkannya. Dengan serius. Sampai akhirnya sadar bahwa, selain hal-hal yang buruk, tidak ada yang perlu ditinggalkan dari usia itu. Juga usia-usia sebelum itu. Dibawa serta saja selamanya. Dalam bentuk kenangan atau pekerjaan yang musti diteruskan. Dikerjakan dengan sama seriusnya dan sama menyenangkannya di usia yang baru, tiga puluh sembilan tahun.

Yang harus dibuang adalah hal-hal yang buruk. Apa saja. Terutama jalan yang buruk di jalur Rego sampai Golowelu itu. Maksud saya, atas dasar perbandingan terbalik antara usia dan nyali tadi, saya membayangkan bahwa di usia empat puluh nanti, saya mungkin akan menuntun sepeda motor saya ketika liburan; membuat liburan terasa buruk sekali. Padahal liburan seharusnya menyenangkan, bukan?

Ah... Itu nanti saja. Dipikirkan kemudian. Yang harus saya lakukan sekarang adalah menulis ucapan terima kasih kepada siapa saja yang telah ada bersama saya di usia 38 tahun kemarin. Terutama Celestin, Rana dan Lino. Juga memikirkan bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada semua hal yang buruk yang memang harus ditinggalkan seberapa menyenangkan pun hal-hal itu. Bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada kebiasaan bergosip? Saya pikir, saya akan memikirkannya nanti.

Terima kasih, 38. Selamat datang, 39.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Yang sudah putus sekolah, apalagi jika alasannya adalah ketiadaan biaya, dan telah sangat mantap hidupnya sekarang, tulisan ini tidak perlu dibaca. Yang sedang ragu-ragu, mari baca sampai selesai!
Dokumentasi Pribadi

Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates


Tiga nama kerap dipakai sebagai pembanding ketika para mahasiswa memasuki fase krisis—saat di mana mereka berada di titik kritis, antara lanjut menyelesaikan masa studi itu hingga sarjana, atau berhenti. Tiga pembanding itu adalah Bill Gates si pemilik Microsoft, Mark Zuckerberg yang menduniakan Facebook, dan Susi Pudjiastuti, Menteri Perikanan dan Kelautan, menteri paling populer di era Jokowi.

Tentang fase krisis di bangku kuliah, barangkali tidak semua mahasiswa mengalaminya. Tetapi, sebagian yang pernah (atau sedang) merasakannya, memiliki beberapa alasan/situasi: (1) jenuh karena ternyata jurusan yang dipilih tidak semenyenangkan yang dibayangkan, (2) kesadaran (yang terlambat) bahwa jurusan yang ditekuninya sesungguhnya tidak sesuai dengan panggilan jiwanya (passion), (3) terlibat konflik yang melelahkan, baik dengan dosen, dengan teman kuliah, maupun (yang paling sering) dengan dosen pembimbing skripsi.

Poin yang ketiga, berdasarkan pengamatan random, rasanya adalah alasan/situasi terbanyak yang paling sering disampaikan sehubungan dengan fase krisis tadi. Konflik yang melelahkan di kampus—terutama dengan dosen pembimbing skripsi—menjadi alasan mengapa banyak mahasiswa yang memutuskan terminal, atau berhenti kuliah sama sekali.

Pada situasi itulah, nama-nama tadi disebut. Entah sekadar menghibur diri, menguatkan alasan pengambilan keputusan berhenti kuliah, atau berusaha optimis, cukup sering terdengar bagaimana pengalaman Gates, Zuckerberg, dan Susi Pujiastuti (serta beberapa tokoh lain) diceritakan kembali; tidak tamat kuliah tetapi meraih sukses besar.

Tentu saja baik. Membandingkan kisah hidup tokoh-tokoh terkenal dengan 'situasi sulit' yang kita hadapi. Tetapi, tentu saja, penting untuk menyadari hal lain. Gates, Zuckerberg, dan Pudjiastuti membuat keputusan tersebut karena melihat bahwa kehidupan mereka akan lebih bersinar di luar kampus. Dalam kalimat lain, mereka menjadi besar karena telah tahu bahwa jika bertahan di bangku kuliah, mereka akan terlambat memulai sesuatu yang mereka yakini akan membuat mereka hebat.

Susi Pudjiastuti dalam sebuah wawancara dengan detik.com bercerita: "Saya pikir, saya akan bisa bergerak lebih baik bila saya tidak terkungkung oleh waktu saya sekolah...." Dan itulah yang terjadi. Setelah memutuskan berhenti sekolah, Susi, yang tidak terkukung lagi berhasil mewujudkan mimpinya, dan sukses.

Pada situasi Susi ini—juga pada Bill Gates dan Mark Zuckerberg dan beberapa orang lainnya yang 'tidak sarjana tapi sukses', ada visi yang mereka rancang sendiri, ada misi yang dikerjakan dengan yakin, ada kesiapan diri yang besar untuk menghadapi/menerima risiko. Bandingkan dengan tiga alasan/situasi kita di atas tadi. Apakah sama? Tentu saja berbeda. Secara motif, secara keyakinan, dan secara nasib (setelahnya).

Kompas.com edisi 26 April 2017 menayangkan artikel yang bersumber dari theconversation.com yang berjudul "Mengapa Hanya Sedikit Orang yang Berhenti Kuliah dan Hidupnya Sukses?". Di dalamnya, terdapat beberapa penjelasan.

Pertama, Gates dan Zuckerberg adalah anomali di dunia nyata. Faktanya, mayoritas pemimpin puncak di perusahaan bergelar sarjana dan memiliki prestasi akademik cemerlang.

Kedua, dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat terhadap lebih dari 11 ribu petinggi, termasuk CEO, politikus, orang terkaya, hakim, pemilik perusahaan internasional, dan orang-orang berpengaruh lainnya, baik pria dan wanita, adalah orang berpendidikan. Menurut survei tersebut, 94 persen pemimpin dan petinggi lulus kuliah dan 50 persennya merupakan lulusan universitas ternama.

Bill Gates sendiri tetap merasa bahwa menempuh pendidikan tinggi hingga selesai adalah hal yang penting. Dalam sebuah catatan di blognya pada tahun 2015 dia menulis: "Meskipun saya keluar dari kampus dan beruntung mengejar sebuah karier di bidang software, tetap saja, mendapatkan gelar sarjana adalah jalan terpasti menuju sukses."

Sementara itu, baru beberapa hari yang lalu Mark Zuckerberg meraih gelar akademiknya. Doktor di bidang hukum. Dari Universitas Harvard. Honoris Causa, memang. Tetapi dia telah memiliki gelar akademik. Susi Pudjiastuti sendiri sudah meraih gelar (kehormatan juga) akademik pada tahun 2017.

Artinya, orang-orang yang putus kuliah/sekolah namun sukses tadi tetap percaya bahwa kesarjanaan adalah hal yang penting.

Menurut Gates, lulusan perguruan tinggi lebih mudah mencari pekerjaan, penghasilan yang lebih tinggi, bahkan sejumlah bukti menunjukkan, dapat hidup lebih panjang dibanding yang tidak lulus perguruan tinggi. Kuliah juga memberikan pelatihan dan kemampuan dalam menghadapi dunia kerja.
Dengan demikian, memakai alasan 'toh meski tidak tamat, Gates-Zuckerberg-Pudjiastuti tetap sukses' sesungguhnya tidak perlu dipakai ketika kita tiba di fase krisis. Kita bukan mereka.

Hanya saja, bagaimana mengatasi fase krisis ini adalah hal yang tak pernah mudah. Kejenuhan dan kesadaran akan passion yang datang terlambat tentu saja mengganggu kenyamanan bersekolah/kuliah. Ada kekhawatiran, jika dipaksakan hingga tamat, ijazah menjadi tidak berguna. Lalu takut bahwa, suatu saat akan tiba di masa di mana kita menyesal telah menghabiskan waktu empat sampai enam tahun di bangku kuliah. Ah, tau gini kan saya gak usah kuliah aja kemaren, pikir kita.

Sarjana di Indonesia


Jika ijazah memang dikejar agar bisa mendapat pekerjaan yang sesuai keahlian—atau berharap setelah tamat langsung menjadi ahli, baiklah menyimak penjelasan Mohamad Nasir, Menrisetdikti kita. Tentang situasi pendidikan tinggi di tanah air.

Menurut Nasir, integrasi antara perguruan tinggi dengan industri masih belum cukup baik di Indonesia. "Produktivitas kita belum tinggi kalau dilihat dari pendidikan tinggi ya. Katakan yang lulus di perguruan tinggi mereka bekerja tapi bukan pada bidang ilmunya. Nah ini masalah, bagaimana itu bisa nyambung," papar Nasir di kantor Kemenristekdikti, Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2019), sebagaimana ditulis Tirto.id.

Untuk itu, kata Nasir, pihaknya mendorong agar lulusan perguruan tinggi dapat menghasilkan tenaga yang profesional di bidangnya. Menristekdikti, saat ini sedang dalam proses mengharmonisasikan kedua aspek tersebut. Semoga informasi ini bisa dipahami sebagai: semua yang berhubungan dengan penciptaan keahlian atau tenaga ahli di negeri ini sedang dalam proses pengerjaan. Belum final.

Namun, tentu tidak bisa juga (semata dengan) hal itu dengan cepat dijadikan alasan pembenar bahwa kuliah itu tidak penting. Bukankah tadi Bill Gates telah mengingatkan—dan hampir sebagian besar pengalaman hidup kita membenarkannya—bahwa gelar sarjana adalah jalan terpasti menuju sukses. Jika belum percaya, perhatikan dengan saksama informasi lowongan kerja yang bertebaran di media sosial. Kuliah, dan menamatkannya adalah hal yang penting (dan diimpikan semua orang tua; semoga semua anak menjadi sarjana).

Baca juga: Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat

Sebentar lagi, tahun ajaran baru akan dimulai. Ribuan lulusan sekolah menengah atas sedang berburu brosur. Mencari-cari, kira-kira kampus mana yang tepat dan sesuai dengan cita-cita mereka. Situasi yang sedang dialami oleh para calon mahasiswa baru ini adalah idealisme yang menggebu-gebu. Mimpi tentang masa depan yang cemerlang sedang mekar di kepala.

Suatu ketika, entah di tahun keberapa, mereka mungkin saja tiba di fase krisis. Soalnya adalah, apakah berhenti kuliah merupakan jalan keluar maksimal?

Jika sependapat bahwa Gates-Zuckberg-Susi adalah anomali, dan tetap sadar bahwa (mengutip Gates) lulusan perguruan tinggi lebih mudah mencari pekerjaan, penghasilan yang lebih tinggi, bahkan sejumlah bukti menunjukkan, dapat hidup lebih panjang dibanding yang tidak lulus perguruan tinggi. Kuliah juga memberikan pelatihan dan kemampuan dalam menghadapi dunia kerja; seharusnya kita tahu jalan mana yang harus ditempuh.

Pada titik tertentu, memilih jurusan yang kita anggap sesuai passion adalah sesuatu yang hebat. Tetapi kuliah, sesungguhnya, bukan semata tentang passion. Kuliah juga tentang: bertemu orang yang lebih banyak dan beragam serta menimba pengalaman dari dari mereka; memahami konsep berpikir yang baru (terbuka dan terstruktur); belajar menjadi mandiri; dan (terutama), ijazahnya lebih 'menjual'.

Bahwa kemudian, berbekal pemahaman tentang teknologi digital di era Revolusi Industri 4.0 di mana setiap orang bisa menjadi digital nomad dan hidup darinya, pengetahuan tentang hal tersebut akan lebih banyak diperoleh di bangku kuliah. Tentu saja ini tidak berlaku untuk mereka yang datang, isi absen, duduk, dengar dosen, lalu diwisuda.

Yang harus dilakukan adalah, jika beruntung dan dibiayai kuliah, selesaikan! Sampai kelar. Sembari meningkatkan keahlian melalui interaksi di kampus. Setelahnya, jika ijazah ternyata tak bisa digunakan, keahlian tertentu akan menghidupkan. Juga berlaku sebaliknya.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ibu, Maafkan Kami Warganet di Seluruh Negeri

Selamat Lebaran kepada yang merayakannya. Izinkan saya memakai 'momen maaf-memaafkan' ini untuk meminta maaf kepada Ibu Ani. Semoga beliau berisitrahat dalam kedamaian karena kerahiman Tuhan.
Selamat Jalan, Ibu Ani Yudhoyono

Ibu, Maafkan Kami Warganet di Seluruh Negeri


Instagram belum sepopuler sekarang ketika akun @aniyudhoyono milik Ibu Ani Yudhoyono telah di-follow oleh lebih dari 90 ribu orang pada tahun 2013 silam. Mengetahui fakta itu, barangkali ada yang lantas berdoa agar bisa mendapat followers sebanyak itu biar bisa ngendors, tetapi mereka bukan Lambe Turah (lalu merasa sedih).

Di media sosial berbagi foto itu, Ibu Ani menampilkan hasil jepretannya. Semua lantas tahu, betapa beliau mencintai fotografi. Tetapi semua juga tahu bahwa warganet sangat senang jika berhasil menjadi kejam memancing diskusi yang panas. Apalagi jika yang disasar adalah  figur publik. Di tahun itu, Ibu Ani lebih dari sekadar figur publik, beliau seorang Ibu Negara. Setia di samping presiden kita kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Akibatnya, Ibu Ani dan seluruh penampilan publiknya, sesekali digoda (baca: dihantam) kritik-nan-pedas-penuh-semangat, meski kadang tak masuk akal karena didasarkan pada kesenangan panjat sosial (pansos) semata.

Sekali waktu, di bulan Agustus tahun 2013, Ibu Ani mengunggah foto cucunya. Di foto itu, Alimara Tunggadewi, yang akrab dipanggil Aira berpose di teras Istana Merdeka dengan latar belakang Monumen Nasional dan ondel-ondel, saat pelaksanaan Kirab Budaya HUT Ke-68 RI. Ada warganet, yang bermodalkan perasaan pribadinya semata, mempertanyakan keaslian foto itu. Seperti fotografer ulung (barangkali beberapa di antara mereka yang meragukan keaslian foto itu adalah benar-benar fotografer meski kurang ulung), mereka menuduh Ibu Ani menempel foto Aira di atas foto yang lain.

Sekilas, foto itu memang tampak begitu. Tetapi Arbain Rambey, seorang fotografer kenamaan tanah air ini berpendapat, foto Ibu Ani adalah hasil jepretan asli dan bukan gambar "tempelan". Yang sebenarnya terjadi, lanjut Arbain, adalah disharmoni pencahayaan foreground dan background karena Aira mendapat pencahayaan dari lampu flash kamera secara langsung (direct flash), sementara latar belakang disinari oleh cahaya matahari berwarna kekuningan. Baca beritanya di sini!

Saya jelas lebih percaya Bang Arbain ini ketimbang warganet yang berapi-api berpendapat tetapi lemah bangunan argumennya. Bukan karena penjelasannya sememadai yang diharapkan, tetapi karena juga rasanya begitu sedih bahwa, ihkwal unggahan medsos saja, seorang Ibu Negara mesti membuat klarifikasi sepanjang tujuh poin.

Betapa melelahkannya pekerjaan itu karena pada saat yang sama tetap harus mendampingi suami tercinta, mendukung karir anak-anaknya, dan menyayangi cucunya. Dan betapa lelahnya kita berhadapan dengan warganet yang barangkali lebih akrab dengan foreplay daripada foreground, backing soda daripada background, dan Lucinta Luna daripada Arbain Rambey.

Namun, kita juga tahu, betapa tak kenal lelahnya warganet—yang selalu merasa paling benar hanya karena mereka memiliki paket data yang banyak sehingga bisa googling sesukanya lalu mengutip artikel yang sesuai harapan mereka agar bisa menyerang orang lain—berusaha mengganggu kenyamanan Ibu Ani bermedia sosial.

Bertahun-tahun setelah lepas tugas sebagai Ibu Negara, ketika tugas berikutnya adalah mendampingi suami tercinta yang menjadi ketua umum partai, Ibu Ani tetap harus berurusan dengan gangguan warganet.

Bulan Juni tahun 2018, ketika putra pertamanya memutuskan melepas baju tentara dan terjun ke kancah politik, Ibu Ani harus mengisi hari-harinya juga dengan membela anaknya itu di Twitter.
Kala itu, warganet cum para-manusia-maha-tahu-karena-google menyayangkan keputusan AHY maju ke pentas Pilkada DKI. Mereka berharap AHY tetap jadi tentara.

Ibu Ani, yang sempat menjawab dengan keras: "Lho koq sampeyan yg ngatur?" Kemudian memutuskan melunak dan bilang: "Ya terima kasih sarannya, tapi keputusan sudah diambil. Mari kita hormati keputusan AHY."

Dasar sebagian besar warganet modal pulsa doang, baca artikel hanya sampai di judul saja tak pernah merasa puas jika tak merisak, ketika Ibu Ani sakitpun, mereka masih mengganggunya. Lebih kejam, bahkan.

Di Twitter (lagi), pemilik akun  @IskndrSnjaya menulis: "Ibu Ani sakit apa sih.. kok berbulan-bulan di RS Singapura? Modus kayaknya.. kasian mantan ibu negara dijadikan alat modus deh, andai benar.. maaf." Astaganaga! Sungguh tidak berperasaan.

Dari tiga peristiwa itu saja, kita dapat mengerti, tak pernah mudah menjadi Ibu Ani. Menjadi istri presiden, menjadi mama dari seorang tentara yang memutuskan menjadi politisi, dan belajar fotografi di era jari warganet lebih tajam dari pisau Joseph Ignace Guillotin, adalah seberat-beratnya posisi bagi seorang perempuan yang lembut hatinya.

Kini, Ibu Ani telah pergi. Untuk selama-lamanya. Kembali ke pangkuan sang ilahi. Yang pasti memeluknya dengan kasih yang penuh dan rengkuh yang lembut. Ibu Ani pasti bahagia. Karena hidup abadi, bukankah hanya berisi suka cita selamanya?

Yang tak bahagia, tentu saja, adalah warganet yang tak sempat meminta maaf atas segala perbuatan yang tak menyenangkan yang pernah dilakukannya pada seorang ibu yang pernah merawat negara ini. Seperti saya, yang pernah merasa jengkel karena berpendapat bahwa Ibu Ani terlampau menyibukkan dirinya dengan menjawab keusilan warganet padahal seharusnya Ibu Ani tidak perlu melakukannya jika saja dalam mengelola media sosialnya beliau dibantu para pakar seperti yang beberapa tokoh politik lakukan saat ini dan mereka jadi keren sekali di medsos padahal aslinya tidak begitu.

Sudah semestinya kita (atau saya saja?) meminta maaf. Pada Ibu Ani. Dan seluruh keluarganya.
Untuk apa? Untuk kesadaran yang terlambat bahwa: (1) setiap risakan kita pada tokoh publik, entah ditujukan sebagai pengingat atau sebagai sarana pansos, telah mengganggu kerja-kerja mereka yang lebih besar; (2) sesekali, tokoh publik dapat saja keliru tetapi mengolok-oloknya tidak akan membantu apa-apa selain melahirkan debat kusir; (3) dengan berhasil mengolok-olok orang lain, kita tidak akan pernah menjadi lebih baik; (4) seorang perempuan telah ikut berperan dalam menjalankan roda bangsa ini tetapi kita memilih mengabaikannya.

Setelah meminta maaf (dalam doa yang tak berhenti), saya kira wajar bahwa kita mengharapkan yang terbaik untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan. Juga berharap bahwa segala amal ibadah Ibu Ani di bumi ini dapat memuluskan jalannya ke surga; segala dosanya tidak diperhitungkan. Juga wajar, bahkan sudah seharusnya, kita mulai melatih jemari kita menjadi lebih ‘layak surga’. Menebar kebencian, menjadi terkenal karena (merasa) berhasil mempermalukan orang lain, apakah ada gunanya?

Ibu, maafkan kami para warganet ini. Yang followers-nya adalah teman-teman sendiri semata tetapi berharap populer dengan menyerang orang terkenal biar bisa diskrinsut. Selamat jalan, Ibu. Beristirahatlah dalam kedamaian karena kerahiman Tuhan. Amin.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019

Keputusan negara membatasi beberapa fitur WhatsApp telah menghancurkan mimpi seorang pemuda. Ini adalah kisah sedih yang terjadi di satu sudut kota.
kisah sedih lain dari peristiwa 22 mei 2019
Ferdinandus Alamani Vitroz

Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019


Pagi-pagi sekali, tanggal 22 Mei, seorang pemuda, namanya Ferdinandus Alamani Vitroz, mampir ke kios kecil di depan rumahnya. Membeli paket data mingguan. “Sudah, Kak,” kata penjaga kios. Buru-buru dihidupkannya ikon ‘data seluler’ di telepon pintar kesayangannya. Berharap bisa segera memeriksa status whatsapp gebetannya. Kosong. Tak ada cerita yang dia harapkan di sana. “Sepertinya WA diblokir, Kak. Mungkin seminggu.” Penjaga kios yang cantik itu memberi informasi yang membuat mulut pemuda itu menganga.

Penjelasan panjang tentang kekhawatiran negara pada penyebaran hoax dan provokasi via whatsapp, yang disampaikan gadis di depannya, tidak mampu membuat mulutnya katup. Telah lama dia menabung untuk hari ini. Agar bisa membeli paket data, hendak menghadiahi dirinya sendiri yang sedang berulang tahun; hadiah yang diinginkannya adalah WA Story gebetannya yang berisi gambar bunga matahari di belakang tulisan ‘selamat ulang tahun, masa depan’.

Pemuda itu tahu, gebetannya tahu hari ulang tahunnya, karena beberapa hari lalu dia menulis status 'yes, ultah tinggal empat hari lagi’ dan gebetannya itu ikut mengintip status itu.

Pemuda itu mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat menguap, memaksakan diri berjalan pulang, terhenti langkahnya setiap empat meter, berjalan lagi, dan hatinya menangis lara. Lara sekali. “Negara telah menghancurkan mimpiku yang paling sederhana,” rutuknya. Juga dalam hati. Bercampur tangis. Tak terdengar telinga biasa, tetapi gaduh sekali jiwanya.

Tibalah dia di rumah, tempat tangis dan rutukan dalam hati menjelma suara. Pilu sekali. Seisi rumah mendengar tangis itu, tetapi tak segera ikut bersedih. Malah marah-marah. Dituduh sebagai manusia paling egois yang pernah ada karena menuding negara sebagai penghalang cintanya.

Dia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang tlah tiada karena sakit yang tak terobati janjinya yang dia tulis di buku hariannya. “Dear Diary… Kalau di hari ulang tahunku, dia tidak buat story gambar bunga matahari dan tulisan selamat ulang tahun, selesailah sudah.” Begitu tertulis di sana. Sebelum menunjukkan buku hariannya itu kepada seisi rumah, dia sempat bilang: Aku haus!

Seisi rumah ikut bersedih. Menangis seorang diri, hatiku… slalu ingin bertemu… dengarlah Ayah aku bernyanyi bersama-sama, ikut merutuki negara yang telah menghancurkan mimpi seorang pemuda. Mimpi yang sederhana. Bahkan lebih sederhana dari kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu: sebuah status whatsapp berisi gambar bunga matahari dan ucapan selamat ulang tahun, adakah yang dapat lebih sederhana lagi?

Hari sudah siang ketika pintu rumah diketuk. Gadis penjual korek api menggigil di tengah guyuran salju pulsa datang. Membawa uang kembalian yang tak sempat diambil pemuda itu pagi tadi. Tetapi dia tak bergegas pulang. “Ada yang bantu jaga kios,” katanya tanpa ditanya, lalu menyambung cerita ikhwal fitur gambar di whatsapp yang dimatikan negara. Lengkap sekali ceritanya. Lebih lengkap dari lengkap itu sendiri. Barangkali akan begitu komentar seorang penunggang kuda kalau saja dia bisa mendengar tutur gadis itu dari balik kaca mata hitamnya. Eh?

Mendengar cerita itu, seisi rumah kembali marah-marah. Menuduh pemuda itu telah sangat egois karena menuduh negara merenggut kebahagiaannya di hari ulang tahunnya yang kedua puluh sekian. “Negara sedang dalam keadaan bahaya, dan kau menuduhnya tak berpihak padamu. Egois sekali kau ini,” kata seseorang.

Giliran pemuda itu marah-marah. Berkotbah panjang tentang sikap egois. Dipakainya dalil-dalil dari segala buku yang dibacanya, dijelaskannya berapi-api.

Ditutupnya dengan pertanyaan: “Siapakah yang egois? Sekelompok orang yang menyebar hoax dan provokasi demi kepentingan pribadi hanya karena kecewa dengan hasil pertandingan sehingga membuat negara membatasi fitur gambar whatsapp, atau saya yang telah menabung sekian lama agar bisa membeli paket data yang ternyata tak bisa saya gunakan seminggu ke depan padahal saya harus melihat gambar bunga matahari di belakang ucapan selamat ulang tahun jika tak ingin masa depan saya berakhir suram karena hidup lara sendiri, atau negara yang terlampau khawatir?”

Diucapkannya khotbah itu dengan cepat seperti seorang rapper—kecuali bahwa yang disampaikannya tak berima sama sekali, membuat semua yang ada di sana terpaksa memintanya mengulangnya secara perlahan.

“Dipenggal-penggal saja, Kak,” usul gadis manis yang menatapnya dengan mata yang bening dan sayu. Pemuda itu melihat wajahnya sendiri di mata gadis itu, seperti terhipnotis, memenggal kotbahnya menjadi kalimat-kalimat pendek. Asal ikut trending topic gadis itu mengerti.

“Sekelompok orang yang menyebar hoax dan provokasi demi kepentingan pribadi.”
“Mereka lakukan itu karena kecewa.”
“Hasil pertandingan tidak sesuai dengan cita-cita mereka.”
"Negara khawatir, hoax dan provokasi yang mereka sebarkan via whatsapp akan mengacaukan situasi bangsa.”
“Negara membatasi fitur gambar whatsapp.”
“Saya yang telah menabung sekian lama agar bisa membeli paket data.”
“Karena negara membatasi fitur gambar whatsapp, paket data saya tidak berguna.”
“Seminggu ke depan.”
“Padahal hari ini saya ulang tahun.”
“Kepada buku harian saya telah berjanji.”
“Dia harus membuat status whatsapp hari ini atau saya harus segera menghancurkan mimpi tentang masa depan kami berdua.”
“Gambar bunga matahari di belakang ucapan selamat ulang tahun.”
“Siapa yang egois?”
“Aku haus,” katanya kemudian. Lalu bilang bahwa khotbahnya telah selesai.

Seisi rumah hening. Cukup lama. Sampai gadis penjual pulsa itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan. “Kakak yang egois. Butuh berapa kali beli pulsa paket sampai Kakak sadar bahwa selama ini saya selalu mengisi paket 4 giga padahal Kakak hanya membeli 2 giga?” Kata gadis itu sambil menahan tangis dan berlari pulang. Menutup kiosnya.

Sebuah pengumuman kecil di kertas folio bergaris tertempel di pintu bangunan kecil itu. Kios ini tutup selama seminggu. Sampai kita semua di kota yang sekecil kampung ini sadar.

Di tempat lain, seorang gadis merutuki printer-nya yang tiba-tiba ngadat. Padahal dia sedang ingin mencetak gambar bunga matahari. Di belakang tulisan: Selamat ulang tahun, Kakak. Semoga kita tetap jadi teman diskusi selamanya. Ferdinandus Alamani Vitroz sama sekali tak menyadarinya. Bisakah kalian bayangkan? Kalian jatuh cinta pada seseorang, tetapi orang itu jatuh cinta pada seorang yang lain, dan negara membatasi akses media sosial? Sedih sekali 22 Mei 2019 ini.

Ketika sampai di bagian terakhir ini, saya tiba-tiba sadar, tulisan ini sama sekali tidak jelas. Tetapi mau bagaimana lagi? Hari ini saya sedih sekali. Betapa kita telah begitu ingat diri. Semuanya. Siapa saja. Kapan kita bisa baik-baik saja? Tak bisakah kau menungguku hingga nanti tetap menunggu kita menyatakan dukungan kita sesederhana awan yang tak sempat menyampaikan isyarat kepada hujan yang menjadikannya tiada?

Salam
Armin Bell
Ruteng,Flores

Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat ...

Kuliah di mana saja, jurusan apa saja, akan biasa-biasa saja kalau yang dicari adalah ijazah.
andai dulu saya pilih kampus dan jurusan yang tepat
Perbincangan aneh

Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat ...


Pertama, tulisan ini barangkali hanya akan berisi 'omong kosong banyak', meski sebenarnya diniatkan untuk berbagi (sebut saja) panduan memilih jurusan ketika kuliah. Kedua, tidak persis berisi panduan praktis memilih jurusan di kampus—dan karenanya yang sudah selesai kuliah bertahun-tahun silam juga boleh mampir baca, catatan ini sesungguhnya lebih dari itu. Agar menjadi diskusi. Juga jadi titik sorot balik.

Begini ...

Tahun ajaran baru akan segera datang. Tamatan SLTA yang beruntung karena bisa 'lanjut kuliah' sedang berburu brosur. Mau kuliah di mana? Pilih jurusan apa? Setelah kuliah bisa langsung kerja kah? Pacar saya kuliah di kota mana? Saya ikut ah...; dan lain sebagainya, adalah obrolan yang akan sangat sering terjadi hari-hari ke depan.

Berbagai pertimbangan harus dibicarakan. Dengan pacar, tentu saja soal: "Kita kuliah di mana, Sayang? Aku tak bisa jauh darimu!" Dengan guru, para murid akan angguk-angguk ketika mendengar penjelasan tentang masa depan dan pilihan jurusan yang (diharapkan) visioner. Dengan orang tua? Biaya! Betul. Karena kita bukan Sandiaga yang dengan mudah meraih beasiswa penuh. Iya to?

Pada masa-masa seperti inilah saya ingat Guru Don dan Muder Yuliana, Bapa dan Mama saya. Yang meminta saya beristirahat setahun setelah tamat SMA, karena mereka ingin 'tarik napas' dulu. Tahu maksudnya, bukan? Kesulitan biaya. Itu sudah. Padahal saya sedang bersemangat sekali bersekolah ketika itu. Mau kuliah di IKJ. Atau kampus sejenis itu yang kira-kira bisa membuat saya jadi seniman, penulis, atau apa saja yang pada masa itu rasanya keren sekali.

Meski menikmati masa istirahat setahun, cita-cita kuliah di kampus yang seni-seni dorang itu tidak kunjung padam. Di tengah masa istirahat itu, ketika menggebu-gebu bercerita tentang akan jadi apa saya nanti setamat sekolah kesenian, Guru Don dan Muder Yuliana mengingatkan bahwa seniman—sebagaimana yang mereka lihat zaman itu—bukan pilihan hidup yang mensejahterakan. Padahal, niat agar anak-anak bernasib lebih baik dari mereka adalah cita-cita setiap orang tua di mana saja. Juga Bapa dan Mama.

Tetapi saya tahu, alasan lain yang enggan mereka sampaikan adalah biaya. Kampus-kampus seperti itu, berdasarkan informasi yang saya peroleh dan saya teruskan ke mereka, umumnya mahal. Mau tidak mau harus kompromi. Tahun depan bisa kuliah, tetapi di kampus dan kota yang biaya hidupnya 'masuk akal'. Selamat tinggal (mimpi) Jakarta.

Saya akhirnya kuliah di Malang. Memilih jurusan yang kira-kira cukup dekat dengan dunia tulis menulis. Kuliah menulis adalah sesuatu yang saya pikir lebih masuk akal saya jadikan cita-cita karena saya takut arus listrik sehingga tidak bisa ngotot kuliah elektro, tidak akrab dengan bangun ruang untuk bisa ada di kelas teknik sipil, tidak senang dengan pembukuan sehingga harus jauh dari kampus ekonomi, dan tidak suka bau obat-obatan untuk paksadiri ambil farmasi.

Jurusan komunikasi adalah pilihan paling tepat. Bisa belajar jadi jurnalis. Kira-kira begitu hasil komprominya. Kuliah semampunya. Masuk pagi pulang siang di tahun-tahun awal, masuk siang pulang sore di tahun-tahun berikutnya, tidak masuk sama sekali di hari libur atau ketika sedang ingin meliburkan diri atau karena tak ingin bertemu mantan yang sudah punya gebetan baru.

Lalu, di pertengahan masa kuliah, semua mimpi menghilang begitu saja. Maksud saya, tujuan terutama bukan lagi visi menjadi penulis, tetapi bagaimana agar segera lulus. Begitulah. Pada saat-saat tertentu, di kampus, kita merasa bosan. Pertanyaan 'kapan lulus' yang datang bertubi-tubi membuat kebosanan bertambah kadarnya. "Jadi saya dikirim kuliah ini supaya lulus?"

Untunglah di tengah situasi demikian, kita bisa terlibat di berbagai kegiatan di luar kampus. Yang, pada situasi pribadi, memaksa saya belajar hal lain, bertemu orang lain (juga pacar orang lain—bagian ini lebih menyenangkan), dan mau tidak mau harus membaca buku-buku lain selain buku bikinan dosen yang sedang mengejar nilai kredit atau apalah namanya. Lalu sadar, sekarang, buku-buku lain itu telah berperan sama besarnya dengan yang saya dapatkan di kelas.

Maksud saya, andai dulu 'kuliah saja' dan lupa bergaul, barangkali saya akan cepat lulus dan cepat terserap di dunia kerja; yang setelah dipikir-pikir, modal dari ruang kelas saja tidak akan mampu membuat saya 'bersaing di dunia kerja' selain menjadi mesin. Tentu saja beberapa bagian hidup saya sekarang adalah mesin. Tetapi hanya beberapa bagian. Bagian lainnya adalah hal yang lebih menyenangkan karena boleh melakukan sesuatu selain menjadi mesin. Misalnya, dengan menjadi bloger, menulis (dan mendapat bayaran; kesenangan berlipat), dan berteman dengan banyak orang.

Di Ruteng-Manggarai, saya berteman dengan Daeng Irman dan Kaka Ited, dua orang yang saya pikir telah salah jurusan ketika kuliah. Daeng Irman menyukai fotografi dan desain grafis dan menikmati bagian hidupnya itu, Kaka Ited menyukai fotografi dan videografi, juga hidup dari dunia itu. Padahal mereka, di sisi pertama hidupnya, telah hidup dari jurusan kuliah mereka. Fyi, jurusan kuliah mereka jauh sekali dari foto, video, desain grafis. Jauh. Bukankah perikanan itu jauh dari desain grafis, Daeng?

Bagaimana bisa begitu? Ya karena begitu. Eh, maksudnya begini. Kuliah tentu saja penting. Memilih jurusan yang benar juga penting. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana mengisi hari-hari kita di luar kelas (juga setelah lulus). Itu yang saya pikirkan sekarang. Maksudnya, bukankah tidak semua lulusan jurusan pendidikan itu mendapat kesempatan menjadi pengajar? Bukankah ada lulusan keperawatan yang kini kerja di bank? Bukankah ada dokter yang buka bengkel motor di Ruteng? Bukankah ada seorang guru SD yang juga seorang rapper?

Siapa saja boleh kuliah di mana saja, memilih jurusan apa saja, dengan motivasi apa saja. Tetapi jangan lupa, beberapa tahun kemudian, sebagian orang akan bekerja dari rumah saja. Menggantung toga di dinding, menyimpan ijazahnya di lemari, dan mulai menciptakan pekerjaan sendiri. Sesuatu yang barangkali akan begitu jauh dari 'ruang kelas kita di kampus'. Di zaman saya kuliah, percakapan tentang digital nomad belum ada. Alamat email saja, tidak semua mahasiswa punya. See?

Bukan berarti kau tak perlu kuliah. Jika beruntung dan dibiayai kuliah, kuliahlah. Ijazah, bagaimanapun, akan sangat penting di dunia kerja formal. Tetapi misalkan peluang di dunia kerja formal itu sulit sekali diperoleh, pengalaman berinteraksi dengan orang lain ketika kuliah adalah modal lain di hari-hari mendatang.

Begini. Tulisan ini akan segera saya akhiri. Dengan buruk sekali. Sebuah nasihat. Panduan memilih jurusan ketika kuliah, yang paling pertama adalah soal biaya. Percakapkan dengan baik dengan para pemilik uang. Mampunya nanti untuk jurusan apa. Jurusan tidak elit, tidak apa-apa. Sepanjang, ketika kuliah nanti, jangan lupa bergaul, belajar sesuatu yang lain, yang barangkali adalah passion-mu tetapi tidak dapat kau paksakan kuliah di jurusan itu karena masalah biaya tadi.

Menegaskan paragraf yang buruk di atas, izinkan saya bertanya: berapa banyak ijazah yang tidak terpakai, dan para pemiliknya tidak tahu harus buat apa karena mereka tidak memiliki keahlian lain selain berharap pada lembaran yang telah dilaminating itu?

Aih... catatan ini buruk sekali. Maafkan saya, Daeng Irman. Ide yang anda tawarkan kemarin itu untuk jadi bahan tulisan saya ternyata berat sekali. Tetapi terima kasih, telah mengerjakan ilustrasi untuk bacapetra.co, meski saya menggambarkan konsepnya dengan tidak jelas. Kau jago. Ited juga. Semoga kali berikut dia bawa sebotol penuh tulisan saya lebih baik lagi. Soal besok-besok kita jadi apa, hari ini kita masih terus belajar, bukan? Karena di Ruteng, asal kita mau ngobrol, semua akan baik-baik saja.

Salam
Armin Bell
Ruteng - Flores

Menjadi Ketua KBG

Beberapa waktu lalu saya terpilih sebagai Ketua KBG. Apa itu?
menjadi ketua kbg
Ketua KBG St. Helena | Foto: Kaka Ited

Menjadi Ketua KBG


KBG adalah akronim dari Komunitas Basis Gerejani. Dalam struktur atau hirarki Gereja Katolik, KBG merupakan kelompok kecil yang terdiri atas kurang lebih 30-an keluarga Katolik yang hidup berdampingan di satu tempat. Kegiatannya macam-macam, umumnya berhubungan dengan hal-hal gerejani, juga terkait dengan kebersihan lingkungan, saling menolong saat kesusahan, bergembira bersama, doa bersama.

Yang terakhir ini adalah hal yang menyenangkan. Doa bersama. Di Manggarai namanya Ngaji Giliran. Beberapa orang menyebutnya Sembayang Gilir. Ada juga yang bilang Doa Giliran. Yang lain bilang Giliran saja. Terjadi pada bulan Mei dan Oktober, dua bulan dalam tradisi Gereja Katolik, di mana seluruh umatnya berdevosi kepada Bunda Maria; memuji kesuciannya, berdoa melalui perantaraannya.

Ngaji Giliran itu begini. Selama sebulan penuh (Mei dan Oktober), umat di satu KBG secara bergiliran mengunjungi rumah-rumah di KBG itu, mendaraskan peristiwa-peristiwa Rosario, lalu berbagi cerita. Tentang apa saja. Blog ranalino.id sudah menyajikan informasi lengkap tentang dua hal itu melalui tulisan Ucique Jehaun. Simak di sini:


Silakan baca dua catatan menarik itu dengan penuh sukacita.

Tentang judul catatan ini, saya sebenarnya hanya sedang ingin berbagi cerita. Cerita tentang saja menjadi Ketua KBG.

Begini. KBG itu pasti punya ketua. Secara kebetulan, tahun 2018 kemarin, masa bakti kepengurusan yang lama sudah selesai. Anggota KBG kemudian berkumpul, memilih kepengurusan baru. Untuk masa kerja empat tahun berikutnya. Saya terpilih sebagai ketua. Padahal saya sebenarnya tidak tahu apa-apa soal hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengurus KBG. Btw, fyi, di Manggarai, KBG kerap dikenal dengan sebutan Kelompok. Saya adalah Ketua Kelompok. KBG kami bernama Santa Helena. Ketua Kelompok Santa Helena adalah saya.

Anggota kelompok kami terdiri dari hampir empat puluh keluarga. Tepatnya, 37 KK. Artinya, di bulan Mei ini, kami akan secara bergiliran berdoa di 37 rumah itu. Apa yang kami doakan?

Setiap malam, ada lima peristiwa rosario yang didaraskan. Ujudnya macam-macam. Mulai dari perdamaian dunia, kesehatan orang-orang beriman, sampai meningkatkan semangat kaum muda. Soal kaum muda inilah yang menarik.

Saya dipilih menjadi Ketua Kelompok karena dianggap cukup dekat dengan kaum muda. Kaum ini adalah yang agak sulit diajak bergabung di kegiatan-kegiatan kerohanian. Katanya begitu. Saya lalu diharapkan dapat 'menyelesaikan kesulitan' itu. Tugas yang berat. Lalu menjadi mudah. Karena beberapa anak muda di KBG St. Helena adalah anggota Saeh Go Lino.

Saeh Go Lino punya grup whatsapp. Nama grupnya bukan Saeh Go Lino. Nama grupnya adalah Flashmob. Apa hubungannya? Panjang kalau diceritakan di sini. Tetapi, intinya, posisi itulah yang membuat saya menggunakan segala kuasa dan kewenangan sebagai anggota kelompok dan anggota paling tua di Saeh Go Lino. Memaksa Mozakk dan Sintus melalui WAG Flashmob untuk ikut Ngaji Giliran. Mereka datang. Saya senang. Senang sekali. Berapa banyak anak muda yang ikut Doa Giliran hari-hari terakhir ini?

Di Ruteng, juga mungkin di kampung-kampung, di berbagai tempat di mana Katolik adalah penduduk mayoritas, Ngaji Giliran hanya diikuti (umumnya) oleh orang-orang tua dan anak-anak. Generasi di antara keduanya yang bernama anak muda jarang sekali ikut hadir. Maka, ketika melihat Mozakk, Sintus, Muna, dan beberapa anak muda lainnya hadir di kegiatan sebulanan itu (meski pasti akan bolong-bolong), saya senang. Bahwa mereka akan segera bosan, itu urusan lain. Yang penting mereka hadir dulu. Biar tidak jadi gosip: "Ini anak-anak muda dorang bikini apa saja di rumah sampai mereka tidak mau ikut sembayang?"

Doa giliran ini umumnya hanya berlangsung selama satu jam. Kalau toh sampai dua jam, satu jam berikutnya adalah percakapan yang menyenangkan, kopi yang nikmat, dan kue yang enak.

Tetapi tugas menjadi Ketua KBG tentu tidak semudah mengkordinir kegiatan Ngaji Giliran selama Mei dan Oktober. Ada banyak tugas lain. Yang saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Maka saya sering bertanya kepada orang-orang tua. Para sesepuh di kelompok. Ini bagaimana? Itu bagaimana? Kolekte kumpul di siapa? Dan lain sebagainya.

Sambil bertanya, saya berharap bahwa di setiap KBG di Manggarai ini, semakin banyak anak muda ikut Ngaji Giliran. Apa manfaatnya? Entahlah. Tapi mungkin yang paling mudah adalah bahwa kau tidak lagi dibebani dengan tugas 'harus berdoa sebelum tidur' karena di giliran selalu ada: Sembayang Malaaaam... Ya, Tuhanku dan Allahku, aku berlutut di hadapanmu dan bersembah sujud kepadamu ... Malaikat Allaaaah, engkau yang diserahi oleh kemurahan Tuhan ...

Mari!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Dapatkah Komunitas Literasi di NTT Mendukung Gerakan Literasi Nasional?

Tulisan ini adalah keseluruhan materi yang saya sampaikan pada kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Ruteng tanggal 23 Maret 2019 silam. Informasi tentang kegiatan tersebut dapat disimak di sini.
dapatkah komunitas literasi di ntt mendukung gerakan literasi nasional
Taman Baca

Dapatkah Komunitas Literasi di NTT Mendukung Gerakan Literasi Nasional?


Pendahuluan


Sebelum Gerakan Literasi Nasional dikampanyekan secara luas, geliat ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ telah dilakukan dengan banyak tagline. Baik sebagai agenda bangsa, maupun kegiatan-kegiatan kelompok—tanpa pernah sadar bahwa yang dilakukan itu sesungguhnya berhubungan dengan agenda nasional, konsentrasi terbesar dari geliat ini adalah meningkatkan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) atau dalam bahasa paling familiar adalah memberantas buta aksara.

Dari sekian banyak alasan, kenyataan bahwa penyandang buta aksara berkorelasi dengan kualitas sumber daya manusia, yang pada bagian berikutnya berhubungan erat dengan pembangunan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana diungkapkan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan Daerah Dr. James Modouw MMT, adalah alasan yang paling utama mengapa kegiatan ini gencar dilaksanakan beberapa tahun silam.

Namun harus diakui bahwa usaha membangun literasi calistung sebagai bagian dari lima dimensi literasi untuk meningkatkan kesejahteraan, justru berhadapan dengan kondisi lain (untuk tidak menyebutnya sebagai ironi) yakni kemiskinan sebagai satu dari tiga kendala pemberantasan buta huruf, selain lokasi yang tidak terjangkau dan motivasi belajar yang kurang. Tiga kendala ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Harris Iskandar tahun 2016 silam.

Pada titik inilah, komunitas-komunitas yang ada di tengah masyarakat saat ini diharapkan hadir sebagai salah satu alternatif.

Komunitas Literasi dan Soal-soal di Sekitarnya


Agar catatan ini dapat dibaca dari sudut pandang yang sama, baik rasanya jika kita mengenal lebih dahulu apa itu komunitas? Ada banyak tautan yang muncul di search engine result page (SERP) jika kata kunci ‘pengertian komunitas’ kita pakai dalam pencarian menggunakan mesin pencari google. Dalam setiap tautannya, tertera lebih banyak lagi jawaban atas pertanyaan itu. Pengertian komunitas menurut McMillan dan Chavis berikut ini adalah salah satunya.

Dalam “Sense of Community: A Definition and Theory” (1986), McMillan & Chavis  menjelaskan bahwa komunitas merupakan kumpulan dari para anggota yang memiliki rasa saling memiliki, terikat di antara satu dan lainnya, dan percaya bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi selama para anggota berkomitmen untuk terus bersama-sama.
Community is “a feeling that members have of belonging, a feeling that members matter to one another and to the group, and a shared faith that members needs will be meet through their commitment to be together “ – McMillan & Chavis (1986).
Jika (hanya) mengacu pada pengertian ini, membacanya sepintas saja, maka usaha meluaskan kecerdasan literasi melalui komunitas akan dengan mudah dianggap sebagai kegiatan ‘orang-orang dalam’ saja; mereka yang bergiat atau menjadi anggota komunitas.

Adalah terma ‘kebutuhan para anggota’ dan ‘komitmen untuk terus bersama’ yang dapat memicu pandangan demikian, selain beberapa situasi yang kerap menjadi ‘masalah’ cukup banyak komunitas seperti: 1) ketergesaan melaksanakan kegiatan yang ‘menyenangkan diri sendiri’, 2) merasa telah ikut berkontribusi menyelesaikan persoalan namun tanpa tidak memiliki cukup alat ukur untuk menilai dampak kontribusi, 3) ketergantungan pada pihak lain (sumber dana dan kontribusi lain) yang besar—menjadi mudah putus asa karena perasaan ‘kami tidak didukung’, 4) semangat baru untuk mengerjakan ‘hal-hal lama’, dan lain sebagainya.

Namun sesungguhnya justru dua hal tersebut seharusnya menjadi kunci sukses komunitas, mengandaikan hal-hal berikut ini diperhatikan.

Pertama, bahwa mewujudkan masyarakat yang memiliki atau meningkat kecerdasan literasinya adalah alasan dibentuknya sebuah komunitas, mestilah didahului oleh penguatan kapasitas personal para (calon) anggota. Yang dibutuhkan pada tahap ini adalah memastikan bahwa komunitas itu dibangun atas kesadaran yang sama: anggota atau calon anggota sama-sama membutuhkan ‘masyarakat yang memiliki kecerdasan literasi yang mumpuni. Namun sebelumnya, yang harus ditambah (diberi bekal cukup) adalah anggota dan para calon anggotanya.

Poin ini tentu saja selalu menjadi perhatian setiap komunitas sejak pertama kali dibentuk, meski dalam perjalananannya, entah karena mudah lupa atau merasa ‘yang penting kami sudah buat’, banyak anggota komunitas—bukan hanya yang bergerak di bidang literasi tetapi semua—yang tidak cukup paham alasan keterlibatan mereka, dan karenanya tidak mampu melakukannya dengan baik. Situasi rentan dari kondisi seperti ini adalah pelaksanaan kegiatan asal jadi, dan, ketika berhadapan dengan tekanan (kritik) menjadi cenderung emosional dan mulai membangun tembok pertahanan diri yang tebal.

Akibatnya, kegiatan yang semula ditujukan untuk melayani publik menjadi berjarak. Penguatan kapasitas internal juga mencakup menetapkan visi dan misi komunitas, membuat aturan-aturan tegas tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan agar tujuan itu tercapai.

Baca juga: Cukup Sudah Bagi Bagi-Bagi Buku Gratis, Maria

Kedua, proses menjadikan hal tersebut viral (menularkan virus kepada masyarakat luas) hanya boleh dilakukan jika seluruh anggota komunitas telah siap menghadapi konsekuensi; membuka diri pada kritik dan rendah hati pada pujian. Tanpa kesiapan pada dua hal minimalis itu, seluruh niat baik di awal pembentukan komunitas dapat berujung pada situasi yang kurang menyenangkan. Poin ini berhubungan dengan kecenderungan penggunaan media sosial saat ini:

  • Setiap kegiatan disiarkan segera;
  • Setiap pengguna media sosial dapat dengan leluasa memberikan penilaian (pujian, kritik, bully);
  • Kecenderungan mudah puas setelah mendapat publikasi. 

Ketiga, memastikan bahwa yang dilakukan bukanlah pengulangan atas hal-hal lama atau hal-hal yang sudah dilakukan oleh komunitas lain. Pada titik inilah kemampuan melebur dan berjejaring dengan komunitas lain yang searah menjadi sangat penting.

Dalam banyak pengalaman, komunitas-komunitas yang tumbuh di berbagai kota sesungguhnya memiliki kemiripan bahkan sama dengan komunitas yang sudah ada. Bahkan dalam beberapa kerja komunitas, di mana para pegiatnya merasa bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang baru, yang sesungguhnya terjadi (dibaca publik) adalah pengulangan utuh dari program-program ‘resmi’ yang sudah ada. Diharapkan hadir dengan kekhasan baru, banyak komunitas yang tanpa sadar justru sedang mengulang hal-hal lama, sesuatu yang sesungguhnya ingin diperbaiki; untuk tidak menyebutnya sebagai hanya beda nama saja.

Mengapa situasi seperti ini terjadi? Sejauh yang saya alami, ketergesaan pada saat merancang kegiatan atau agenda komunitas adalah alasan terutama. Tanpa riset yang memadai atau evaluasi atas kegiatan sejenis yang sudah lebih dahulu ada, kegiatan berikutnya hanya mengulang ‘yang sudah-sudah'.

Ini yang terjadi ketika beberapa tahun silam kami mendirikan taman baca gratis di Paroki Katedral Ruteng. Karena dilaksanakan dengan "modal semangat semata", taman baca itu hanya hidup di tahun pertama. Selanjutnya, seperti yang kerap kita dengar tentang taman baca di berbagai tempat, taman baca di LG Corner itu perlahan hilang, dan saat ini benar-benar mati. Bahwa kemudian muncul dalam wajah lain dengan model yang lebih sederhana (peminjaman langsung di rumah), ‘kematian’ taman baca yang berdiri tahun 2013 silam itu seolah melanjutkan tradisi ‘kematian’ taman baca di berbagai tempat.

Padahal modal berupa ketersediaan buku dengan mudah diperoleh melalui jaringan-jaringan. Pada tiga bulan pertama saja telah terkumpul hampir 2.000 judul buku, sesuatu yang membuat kami merasa sangat puas dan lupa merancang dengan serius bagaimana kelanjutan pengelolaannya. Dalam evaluasi setelah taman baca itu benar-benar mati, ditemukanlah hal-hal yang sudah diurai di atas tadi sebagai penyebabnya selain yang paling klasik yakni masalah finansial.

Mencari Jalan Menghindar dari Matinya Komunitas Literasi


Ada banyak model yang dapat dipakai oleh komunitas-komunitas literasi jika ingin terlibat dalam GLN. Tiga di antaranya adalah seperti yang ditawarkan Sandiah (2017) berikut ini:

Pertama, komunitas literasi sebagai gerakan kolektif yang dikelola sepenuhnya sebagai komunitas literasi. Bentuk kegiatan yang umumnya dipakai adalah rumah baca, perpustakaan jalanan, ekoliterasi dan kampanye literasi urban, literasi jalanan, dan lain-lain. Komunitas literasi jenis pertama ini terbentuk oleh praktik baru akvitisme tetapi bersifat non-LSM (lembaga swadaya masyarakat).

Komunitas literasi semacam ini aktif memproduksi sendiri isu-isu literasi yang dianggapnya relevan sehingga tidak selalu bergerak berdasarkan isu-isu formal yang dikelola negara atau media massa.
Di NTT, bentuk ini telah dipakai oleh cukup banyak komunitas, seperti: Buku Bagi NTT, Dusun Flobamora (Kupang), Lakoat.Kujawas (Kapan), Komunitas Leko (Kupang), Taman Baca Lalong Beo (Manggarai Barat), Komunitas Saeh Go Lino (Ruteng), Komunitas Huruf Kecil dan Komunitas Kahe (Maumere), Pondok Baca Wathan Lamahala (Flores Timur), dan lain-lain melalui advokasi dunia perbukuan, hibah buku, membuat penerbitan, mengelola media literasi, kegiatan ekoliterasi, sekolah literasi, perpustakaan bergerak, seni, hibah buku, serta membentuk kegiatan kolaborasi pendirian gerakan literasi lain.

Kedua, lembaga baca masyarakat atau lembaga edukasi masyarakat, seringkali bersifat informal sekaligus non-formal, atau salah satunya. Jenis komunitas literasi kedua ini pada umumnya berbentuk Taman Baca Masyarakat (TBM) atau TBM sekaligus institusi penyelenggara pendidikan anak semacam PAUD atau TK. Jika komunitas literasi itu berbentuk TBM, maka termasuk ke dalam pendidikan informal, sedangkan jika digabung atau dikelola bersama dengan TK atau PAUD termasuk non-formal.

Pola ini telah lama dikembangkan oleh Wahana Visi Indonesia di Manggarai dan beberapa NGO yang, selain menyelenggarakan perpustakaan masyarakat, juga mengelola aktivitas pendidikan sebagai respons atas tersedianya kesempatan membangun institusi pendidikan non formal yang terbuka luas, baik dengan dukungan negara melalui APBN maupun sumber-sumber lain. TBM yang mengelola perpustakaan masyarakat juga mempermudah mengakses bahan bacaan untuk perpustakaannya melalui program-program kerjasama dengan pihak swasta.

Sesungguhnya, Gerakan Buku Bagi NTT akan dapat berkembang ke arah ini melalui pembangunan jaringan (kolaborasi) dengan perpustakaan kampung, kemudian berkolaborasi dengan sekolah dasar untuk mengelola perpustakaan sekolah.

Ketiga, terdiri dari beragam model inisiasi apresiasi literasi, dikelola secara individual atau berkelompok. Komunitas literasi semacam ini disebut sebagai model “apresiasi literasi” karena sangat fleksibel menunjukkan sikap partisipasinya atas literasi. Aktivitas literasi komunitas ketiga ini sangat fleksibel; warung makan yang membuka barter makanan dengan buku, pojok baca di tempat potong rambut, perpustakaan jalanan, apresiasi seni dan sastra, gerakan poster, layanan situs peminjaman buku antar pembaca, kegiatan diskusi di alun-alun, sanggar melukis, dan banyak lainnya.

Komunitas Leko di Kupang melalui Kencan Buku di Tamnos dan Komunitas Sastra Hujan di Ruteng melalui perpustakaan jalanan adalah contoh penerapan model ini. Yang sedang dikembangkan oleh Klub Buku Petra (Ruteng) melalui penggabungan pemanfaatan teknologi dengan peminjaman buku dalam konsep perpustakaan bergerak adalah contoh yang lainnya.

Baca juga: Penetrasi Digital pada Generasi Milenial dan Urgensi Pendidikan Kritis

Namun, tiga model tersebut atau model-model lainnya yang dapat dicoba atau dicari bersama, akan selalu berhadapan dengan soal konsistensi. Pertanyaan terutama yang harus dijawab dengan serius dan jujur adalah apakah setiap pegiat komunitas melakukannya untuk visi yang tepat atau sekadar mengisi waktu luang atau sebagai sarana pansos/social climbing—sesuatu yang tanpa disadari menjadi dasar kegiatan atau pembentukan komunitas atau sekadar ingin mengalahkan komunitas lain atau karena ingin menjadi caleg?
Saya khawatir, jika yang terjadi adalah komunitas bergerak tanpa visi dan misi yang jelas melainkan alasan-alasan remeh tadi, maka setiap tahun kita akan menemukan ratusan komunitas baru didirikan. Jumlahnya akan menjadi ribuan jika ada stimulus finansial dari negara atau pihak-pihak lainnya.

Penutup


Selain beberapa komunitas yang telah disebutkan di atas, sesungguhnya ratusan komunitas di NTT yang juga bergerak di pengembangan literasi. Dalam skala kecil, kegiatan dilakukan di berbagai tempat namun tidak terekam, atau tidak bertahan. Kendala finansial dan masalah-masalah lain yang telah diuraikan tadi umumnya menjadi penyebab utama. Pada saat yang sama, peletakan dasar dan arah (visi) yang jelas dalam pembentukan komunitas—hal yang umumnya diabaikan akibat kebiasaan instan—menjadi penting untuk dipikirkan.

Berkomunitas seharusnya dilakukan untuk: (1) meningkatkan kemampuan anggota, (2) mempererat hubungan demi komitmen bersama antaranggota, dan (3) berdampak pada perubahan di sekitar kita. Untuk yang terakhir ini, yang harus segera dilakukan oleh komunitas-komunitas literasi adalah menyiapkan alat ukur yang tepat agar setiap kegiatan dirancang dengan benar, berkelanjutan, dan mencapai tujuan/cita-cita bersama.

Kecerdasan literasi tentu tidak semata diukur dari meningkatnya jumlah peminjam buku, tetapi berhubungan dengan Indeks Pembangunan Manusia. Dengan kesadaran ini, setiap pegiat komunitas literasi tidak akan membentengi dirinya sebagai ‘telah berjasa’ ketika berhadapan dengan statistik IPM yang (mungkin akan tetap) rendah, tetapi bergumul dengan sungguh-sungguh, memakai indikator-indikator universal sebagai pedoman gerakan.

Pekerjaan ini akan panjang. Jika siap, silakan bentuk komunitas. Jika belum terlampau siap, mengapa tidak memperkuat komunitas-komunitas yang sudah ada? (*)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Bahan Bacaan

  • McMillian, David W. and Chavis, David M. 1986. Sense of Community: A Definition and Theory. Jurnal of Community Psychology. Diakses dari: https://onlinelibrary.wiley.com, tanggal 19 Maret 2019 pukul 11.30 Wita.
  • Sandiah, Fauzan A. 2018. “Komunitas yang Memperluas Makna Membaca”. Dalam pustakamu.id 27 Februari 2018. Diakses dari https://pustakamu.id/komunitas-yang-memperluas-makna-membaca/, tanggal 18 Maret 2018 pukul 15.00 Wita.
  • Indriani. 2018. “Pendidikan Solusi untuk Kesejahteraan Masyaraka Papua”. Dalam www.antaranews.com 9 Desember 2018. Diakses dari  https://www.antaranews.com/berita/776129/pendidikan-solusi-untuk-kesejahteraan-masyarakat-papua,  tanggal 19 Maret 2019 pukul 12.00 Wita.
  • Taufik Ismail. 2016. “Tiga Kendala Pemberantasan Buta Huruf di Indonesia”. Dalam www.tribunnews.com 9 September 2016. Diakses dari http://www.tribunnews.com/nasional/2016/09/09/tiga-kendala-pemberantasan-buta-huruf-di-indonesia tanggal 19 Maret 2019 pukul 12.00 Wita.

Om Rafael dan Kisah Seputar Pemilihan Umum

Ini adalah percakapan pada hari Pemilu. 17 April 2019. Saat saya sedang sibuk melihat dengan penuh harap ke layar hape.
om rafael dan kisah seputar pemilihan umum
Apa itu?

Om Rafael dan Kisah Seputar Pemilihan Umum


Sudah cukup lama Om Rafael tidak menelepon. Meski demikian, tidak ada rasa rindu juga sesungguhnya. Apalagi jika sedang sibuk seperti sekarang ini, di mana seluruh langit Indonesia berisi percakapan-percakapan yang menguras akal sehat karena Pemilu yang tidak bisa bikin gembira, telepon darinya adalah hal terakhir yang dapat saya pikirkan.

Yang paling ditunggu sesungguhnya adalah telepon dari calon-calon yang saya dukung betul pada Pemilu kali ini. Dukungan saya tentu saja tidak bisa via kampanye, tetapi semata-mata melalui bilik suara. Tapi saya berharap mereka menelepon, memberi tahu bahwa perolehan suara mereka lumayan baik. Tetapi telepon seperti itu tak kunjung datang. Yang masuk adalah, siapa lagi kalau bukan, Om Rafael. Aduh ...

Tiba-tiba saja dia menelepon. Ya. Om Rafael menelepon. Om Rafael yang itu. Tidak ceria. Menangis dia. Lalu bilang, "Itu to, Nana. Sa bilang dulu juga apa. Sekarang terbukti. Nomor satu yang menang. Jokowi kalah sudah." Saya heran tentu saja heran. Berusaha mencerna arah percakapan yang diawali dengan tangisan itu.

Baca juga: Soal Sandiaga Uno Diusir Pedagang Ikan dan Hal-Hal di Sekitarnya

Lalu ingat saya ingat. Kemudian menjelaskan. "Om. Tahun ini nomor 01 itu Jokowi. Yang dulu Om bilang itu waktu tahun 2014. Nomor 01 memang Prabowo waktu itu." Om Rafael kaget. "Sejak kapan itu nomor berubah? Jadi Jokowi tetap menang?" Tanyanya dengan nada tinggi seolah-olah setiap perubahan harus diberitahukan kepadanya secara langsung. Haissssh...

Perlu waktu panjang untuk menjelaskan bahwa nomor urut capres tahun ini memang begitu. Bukan karena sengaja ditukar biar adil, tetapi hasil undiannya memang begitu. Untunglah Om Rafael segera maklum. Meski rasanya agak setengah mati dia berusaha mencerna. Belum lagi sinyal yang hilang muncul seturut tiupan angin.

"Om tadi pilih nomor berapa?" Tanya saya kemudian. Sambil melihat informasi hasil hitung cepat di layar hape.
"Pilih apa? Memangnya ada acara apa?" Om Rafael berseru seolah-olah pertanyaan saya adalah sesuatu yang sangat jauh dari apa yang kami bicarakan beberapa detik sebelumnya. "Kan hari ini Pemilu, Om?" Kata saya kemudian.
"APA? HARI INI? TERUS BESOK SUDAH TIDAK ADA?"
"Besok Kamis Putih, Om. Kalau Om bilang "APA" lagi, saya pukul ini meja. Mau?"
"APA?"

Saya lalu memutuskan memukul meja. Pelan-pelan saja. Karena meja ini belum lunas. Minta maaf.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores