Arie Hanggara

Arie Hanggara meninggal dunia pada tanggal 8 November 1984. Dia korban kekerasan dalam rumah tangga.
ist

Arie Hanggara


Tanggal 8 November 2019 kemarin, Tirto menyiarkan satu tulisan menarik. Kisah Arie Hanggara dan Kekerasan yang Menghantui Anak-Anak. Begitu judul artikel itu. Membahas kisah Arie Hanggara, seorang anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Arie Hanggara, yang lahir pada tanggal 31 Desember 1977, meninggal dunia pada tanggal 8 November 1984.

Saya berumur 4 tahun lebih beberapa bulan ketika peristiwa itu terjadi sehingga tidak tahu persis berlangsungnya kejadian itu. Selain alasan umur yang masih terlalu kecil, alasan lain adalah karena kami tinggal di Pateng, kampung yang begitu jauh dari sumber-sumber informasi atau bacaan-bacaan lain. Maksudnya, misalkan peristiwa duka itu terjadi pada saat saya sudah bisa baca-tulis, rasanya butuh waktu cukup lama setelah kejadian baru saya bisa dapatkan ceritanya.

Maka ketika pada tahun 1985, kisah sedih Arie Hanggara itu diangkat ke layar lebar, butuh waktu beberapa tahun lagi setelahnya sebelum akhirnya cerita itu sampai ke Pateng.

Sejauh yang saya ingat, kakak perempuan saya, Lumini Alwi Petronela (almarhumah) adalah yang pertama membawa cerita itu ke rumah. Dia sekolah di Ruteng kala itu. Ruteng adalah ibukota Kabupaten Manggarai, dan karena dia kota maka lebih cepatlah segala informasi sampai ke tempat itu.

Muder Yuliana adalah orang berikutnya yang menceritakan kisah Arie Hanggara. Mama kami itu membaca kisahnya, mungkin di koran Suara Karya atau di Majalah Kartini, dan membagi ceritanya pada suatu kesempatan.

Saya sedih sekali kala itu, dan oleh sebab itulah rasanya, mau tidak mau, saya mengingat Arie Hanggara hingga sekarang: seorang anak jadi korban kekerasan orang tua--kisah yang saya anggap adalah anomali (terjadi satu di antara seribu, sepuluh ribu, atau seratus ribu lebih rumah tangga) dan karena itulah dia meninggalkan luka, ada anak mati disiksa.

Baca juga: Menolonglah Seperti Ibu Piara

Setelah menjadi orang tua, juga setelah berteman dengan sangat banyak anak (muda), saya sadar bahwa kekerasan dalam rumah tangga oleh sebab relasi kuasa bukan anomali melainkan hal yang 'sehari-hari'. Yang anomali dari kasus Arie Hanggara barangkali adalah akibatnya yakni kematian, sedangkan kekerasannya terjadi begitu sering. Dalam bentuk verbal atau siksaan fisik, kita sering menemukannya di sekitar kita, atau bahkan kerap melakukannya.

"Kau bodok skali tah!", "Anak tir ada guna!", "Bikin malu keluarga!" "Kau tidak seperti si X anak tetangga yang rajin itu!", adalah contoh kekerasan verbal orang tua pada anaknya yang semula ditujukan sebagai motivasi namun pada waktu-waktu berikutnya justru seperti pisau tumpul yang diasah dengan rajin dan akhirnya menjadi pembunuh yang cepat.

Saya tentu saja beruntung bahwa Guru Don dan Muder Yuliana tidak tergoda membanding-bandingkan kami dengan anak-anak dari keluarga lain, yang lebih rajin, misalnya. Mereka punya cara lain (entah apa) yang membuat kami berjuang menjadi baik tanpa harus berusaha 'mengejar secara memaksa kemampuan' prestasi anak-anak lain.

Kalau saya diminta mendeskripsi Guru Don dan Muder Yuliana dalam satu kata, maka kata itu pastilah demokratis. Maksudnya, sejauh yang saya sadari hingga sekarang, dua orang itu membiarkan kami menjadi apa saja dan tugas mereka hanyalah mengingatkan dan mencurahkan cinta kasih secara terus menerus.

Baca juga: Mora Masa, Menabung Rumput Menuai Rupiah

Soalnya adalah, saya sekarang menjadi orang tua dari dua orang anak. Oleh karena merasa bertanggung jawab atas masa depan mereka serta keterbatasan kemampuan mendidik atau pendeknya kesabaran, saya pikir saya kadang melakukan kekerasan. Verbal, tentu saja. Dan saya menjadi khawatir.

Kekerasan verbal juga berbahaya, bukan? Sulli merasakannya beratnya (dari para netizen) dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Kisah kematian Sulli dapat dibaca di sini. Beberapa cerita di sekitar saya juga menguatkan fakta itu: orang-orang menjadi patah arang karena dirisak orang dekat mereka.

Membaca lagi kisah Arie Hanggara ini membuat saya sedih sekali. Entah pada bagian apa, tetapi menjadikan seseorang lebih baik (sesuai yang kita pikirkan), bukankah dapat saja menempatkan orang itu pada situasi yang buruk sekali? Solusinya? Saya tidak tahu. Maksud saya, saya tidak tahu persisnya. Tapi saya kira, cinta kasih yang tulus dan memerdekakan adalah panduannya. Semoga kita semua bisa. Amin!

Oh, iya. Tirto.id menyiarkan artikel tentang kisah sengsara tersebut sebagai peringatan atas hari kematian Arie Hanggara. Saya merasa, itu adalah keputusan yang baik sekali. Bahwa, kita, dalam posisi sebagai apa saja, penting mengenang hal-hal demikian; agar menjadi lebih mawas.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Be Happy, You!

Be happy, You! Saya senang mengatakannya sekarang. Saya senang kalau lihat orang-orang hidup dengan senang. Be happy, You. Yes, you, my friend!
be happy you
Image: Courtesy of Saeh Go Lino, taken by Lisa Djeranu

Be Happy, You!


Saya tahu Kunto Aji dari lagunya yang "Terlalu Lama Sendiri". Saya suka lagu itu karena liriknya bagus dan Kunto Aji adalah penyanyi yang hebat. Juga karena lagu itu, salah satu bagiannya asyik juga dipakai buat olok-olok; sudah terlalu lama sendiri... Yang jadi sasaran adalah teman-teman sekomunitas yang masih jomlo. Yang jadi target utama adalah mereka yang jomlonya telah panjang sekali.

Awalnya itu terasa menyenangkan karena lucu. Namanya juga olok-olok di antara orang-orang yang sudah besar. Biasanya memang bukan untuk saling menyakiti tapi biar ada bahan untuk tertawa bersama-sama. Makanya saya heran kalau ada orang besar yang saling olok lalu berubah ke perkelahian. Harusnya ya buat ditertawakan saja. Seberapa sulit tertawa pada orang-orang yang mengolok-olok kita dengan berpikir bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang kita? Bukankah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tetapi ngotot itu memang pantasnya jadi tertawaan saja?

Idealnya begitu. Tetapi dunia ini barangkali ini sudah lama tidak ideal, atau kita sudah tidak ideal lagi untuk dunia yang bergerak maju dengan pesat seperti ini. Soal ini harus dibicarakan lagi dengan serius; mencocokkan ideal gerak maju dunia dengan sikap/pikiran/perkataan kita.

Tetapi olok-olok tidak lagi menyenangkan ketika telah meninggalkan luka yang besar. Menganga, tak terobati, semakin lebar karena bumbu olok-olok ditambah kepedasannya; yang semula lucu menjadi tidak lagi lucu, yang semula diniatkan sebagai pendatang tawa malah menyisakan perih. Yang tak terkatakan. Yang mendekam di ingatan. Yang menjadi beban. Dan yang mengolok-olok tak jua kunjung berhenti.

Kembali ke soal Kunto Aji tadi. Setelah "Terlalu Lama Sendiri" itu tidak viral lagi sebab dalam sekian waktu saja sebuah lagu akan mudah digusur oleh lagu lainnya--entah apa yang merasuki para penggemar musik kita--saya tidak banyak lagi mendengar cerita tentang penyanyi yang pernah adu nasib di Indonesian Idol ini. Saya merasa itu hal yang biasa-biasa saja, yakni seorang mantan 'artis Indonesian Idol' lantas lenyap dari percakapan pencinta musik. Joy, Delon, Iksan, siapa lagi?

Namun ternyata tidak persis demikian. Bahwa mereka hilang dari percakapan, mungkin hanya perasaan saya saja. Perasaan yang lain tentu beda. Buktinya? Kunto Aji tetap ada setelah "Terlalu Lama Sendiri". Saya mengetahuinya beberapa hari yang lalu.

Kunto Aji dan Pilu Membiru


Untuk kepentingan yang barangkali tidak terlampau penting, suatu malam saya menghabiskan banyak waktu dengan Mantra Mantra, album yang rasanya begitu personal dari Kunto Aji. Ah, iya. Awalnya saya terjebak di twitter. Ada akun @tidakadasalju yang posting video bagus sekali. Personal tapi baik. Dan lagu yang dia pakai di video itu adalah "Pilu Membiru", salah satu lagu di album Mantra Mantra. Saya sedang mengumpulkan bahan cerita, sesungguhnya. Tentang kehilangan, tentang perasaan ditinggalkan, tentang diam yang bahaya, dan lain-lain; depresi rasanya berawal dari unfinished situation: hal-hal yang (sesungguhnya) belum selesai tetapi kita diamkan saja.

Setelah twitter, malam itu juga saya ke Youtube, ke akun resmi Kunto Aji. Lalu membaca komentar para netizen (bukan jalan ninja saya tetapi kerap saya lakukan untuk 'tambahan suasana'). Di sana saya melihat ratusan komentar tentang Pilu Membiru yang orang-orang pakai untuk menyembuhkan luka. Beberapa orang mengaku menangis deras sekali selama mendengar lagu itu (sebab mengingat orang-orang tercinta mereka yang telah pergi) lalu merasa lega setelahnya karena tangis yang deras ternyata itu baik untuk release/healing.

Dari komentar para netizen itu saya akhirnya tahu bahwa Kunto Aji pernah diundang ke Narasi TV dan membuat Najwa Shihab menangis. Ya, Narasi TV adalah kanal youtube yang di dalamnya ada Najwa Shihab. Di kanal itu, pada suatu ketika di bulan Desember 2018 silam, Najwa ngobrol dengan Kunto Aji. Tentang album "Mantra Mantra".

Lagu-lagu di album itu, seperti juga album dia sebelumnya, Suara dan Gema, adalah kisah-kisah dari ruang privat. Dan, karena kisahnya sebagian besar adalah tentang bagaimana menyelesaikan 'soal-soal pribadi' (di album itu, juga di wawancara Najwa dan Aji), saya lalu ingat betapa banyak orang yang memutuskan mendiamkan soal-soal mereka-- menyimpan semua perkara dalam hati seperti Maria--padahal mereka tak sekuat Ibu Yesus itu.

Kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang menyimpan semua perkara dalam hati padahal mereka tak sekuat Bunda? Depresi! Kau tahu apa yang harus kau lakukan ketika kau tak sekuat Bunda? Berbagi!

Baca juga: Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Saya pernah kehilangan seorang adik yang "memutuskan pergi" karena tak banyak bercerita padahal dia mengalami situasi yang sulit dalam beberapa masa hidupnya. Saya bersedih. Hingga sekarang, setiap kali mengingatnya, saya menyesal karena tidak berhasil memaksanya bercerita. Saya juga membaca begitu banyak berita tentang orang-orang yang berusaha menyelesaikan soalnya dengan 'kekuatan sendiri' lalu gagal dan akhirnya melakukan sesuatu yang buruk.

Mendengar "Mantra Mantra", juga mendengar cerita-cerita tentang hal-hal yang mirip, saya pikir, bercerita adalah hal terbaik untuk menyembuhkan; yang harus kau pikirkan terutama adalah dirimu sendiri.

Saya bertemu banyak orang yang sedang berjuang membahagiakan orang-orang di sekitar mereka dan oleh karena usaha itu begitu keras mereka lakukan mereka lantas depresi; saya sedih. Be happy, You! Setelahnya baru kau pikirkan nasib orang-orang di sekitarmu. Kau harus bahagia dulu. Bukan. Kau harus kuat dulu. Ah. Tidak persis begitu. Orang-orang bahagia adalah orang-orang yang kuat. Orang-orang yang kuat adalah mereka yang percaya bahwa telinga orang-orang di sekitarnya adalah tempat mereka bercerita.

Bisa paham jalan cerita ini?

Lalu, masihkah kita boleh tertawa ketika seorang teman datang dan menceritakan kesedihannya? Tidak adil sekali. Mereka datang, bercerita, menangis. Tugasmu adalah menyiapkan telinga. Itu saja. Bisa? Jangan hakimi siapa pun kalau kau tidak pernah jadi telinga.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Pesta Emas SDK Ruteng V; Pa Galus Ganggus, Alvand dan Ited, dan Paulo Freire

Pa Galus Ganggus pernah meraih penghargaan Guru Teladan Republik Indonesia. Kini dia telah pensiun. Pensiun dengan gembira. Kami bertemu di Pesta Emas SDK St. Theresia Ruteng V, Sabtu, 12 Oktober 2019.
pesta emas sdk ruteng v pa galus ganggus alvand dan ited dan paulo freire
Pa Galus Ganggus, Mama Rana, dan Rana di Pesta Emas SDK Ruteng V

Pesta Emas SDK Ruteng V; Pa Galus Ganggus, Alvand dan Ited, dan Paulo Freire


Hari ini saya bertemu Pa Galus Ganggus. Saya mengenalnya pertama-tama sebagai pemain saxophone. Harap dimaklumi, karena saya bukan anak kota. Anak-anak Ruteng, terutama yang pernah sekolah di SDK Ruteng V tentu saja mengenalnya sebagai guru. Guru yang cerdas. "Pintar betul dia, Kae," kata seorang alumni Ruteng V yang saya temui di sela kemeriahan Peringatan 50 Tahun SDK Ruteng V.

Bahwa pintu masuk perkenalan saya adalah melalui saxophone, adakah yang bisa melarang? Tidak ada. Saya SD di kampung dan mengenal guru-guru SD di kota bukan sebuah kewajiban. Bukankah begitu? Lagipula, ketika saya mengenalnya pertama kali beberapa tahun silam, Pa Galus tidak mengajar lagi. Dia pindah kerja. Dari guru ke 'pegawai kantoran'. Jalan hidup, bukankah kadang begitu?

Sekarang beliau telah pensiun. Tetapi tetap sehat dan bersemangat. Pertemuan kami hari ini terjadi di SDK Ruteng V. SDK St. Theresia Ruteng V, tepatnya. Pada perayaan emas. Ya. Sekolah itu sudah berusia 50 tahun dan hari ini, Sabtu, 12 Oktober 2019 adalah puncak perayaannya. Ada misa, ada pentas seni, ada Pa Galus Ganggus, ada Alvand Ndagu dan Kaka Ited. Dua nama terakhir adalah teman seangkatan saya di SMA. Mereka alumni SDK Ruteng V sehingga kehadiran dua anakota itu di sana adalah sesuatu yang masuk akal.

Saya, meskipun bukan anak kota dan tidak pernah sekolah di Ruteng V, tetap saja harus hadir di sana untuk paling tidak dua alasan. Pertama, istri saya adalah alumni di sekolah itu. Kedua, Rana, anak pertama kami, sekarang sekolah di sana. Demikianlah, sehingga akhirnya saya bertemu Pa Galus. "Dia pernah jadi Guru Teladan, Kae," kata Erlan Dugis, seorang alumni yang lain tentang Pa Galus.

Bahwa akhirnya saya memutuskan menulis tentang Pa Galus, sama sekali tidak berhubungan dengan fakta bahwa Uchy, salah seorang anaknya adalah anggota jauh Komunitas Saeh Go Lino. Tidak. Itu hal lain.

Hal utama adalah karena beberapa alumni yang duduk melingkar dengan saya terus menerus menceritakan Pa Galus sebagai guru yang hebat. Tentu saja semua guru telah dengan sendirinya hebat di mata para murid, tetapi jika ada seorang yang namanya sering disebut, maka mestilah ada sesuatu.

"Sehebat apa?"
"Kami mengenal pikiran Sukarno (yang lain) dari cerita-ceritanya di kelas."

Hmmmm... Berarti dia unik, pikir saya dalam hati, karena kami sekolah di era Orde Baru dan di era itu yang lebih sering diceritakan adalah hal-hal tentang Suharto, senyumnya, gelarnya sebagai Bapak Pembangunan, Ibu Tien, dan hal-hal lain di sekitar Cendana. Nama Sukarno hanya akan dikenal pada zaman itu sebagai Presiden Pertama RI dan Bapak Proklamator.

Baca juga: Kalau Mau Jadi Guru, Kamu Harus Lucu

"Bapa dulu di kelas cerita tentang Sukarno di kelas?" Saya akhirnya tanyakan itu kepada Pa Galus. Setengah berteriak, karena Alvan dan Ited juga sedang teriak-teriak menceritakan tentang sepatu Bruce Lee yang selalu mereka pakai di pelajaran Orkes supaya bisa 'potong tidur' lawan saat main sepak bola. Aneh. Mereka dua cerita tentang bola kaki padahal ketika SMA mereka lebih dikenal sebagai pemain bola kasti. But, people change, iya to? Lupakan dua figuran itu sejenak dan kita kembali ke Pa Galus Ganggus.

"Bapa dulu di kelas cerita tentang Sukarno?" Tanya saya. "Ya. Sukarno, CIA, Amerika, apa saja. Saya selalu senang menceritakan hal-hal tambahan di luar buku-buku pelajaran. Semua hal. Yang saya tahu dari buku-buku yang saya baca, (yang pantas untuk anak SD) pasti saya ceritakan di kelas," jawabnya. Bahagia sekali Alvan dan Ited, pikir saya. Tetapi pikiran itu tidak bertahan lama karena dua orang itu tampaknya lebih tertarik pada Bruce Lee dan Mahabaratha dan Kior dan Pepen yang senang bekelai di kelas. Begitulah.

Namun, saya sungguh memikirkan itu sekarang. Seorang guru membaca. Membaca banyak. Lalu menceritakan bacaannya kepada murid-muridnya. Membuatnya dikenang sebagai gudang cerita. Itu satu hal. Hal lain adalah bahwa cerita-ceritanya di kelas membuat beberapa orang di antara murid-muridnya mencari bacaan lain. Tentang yang diceritakan oleh gurunya. Kemudian menjadikan membaca sebagai 'kegiatan yang menyenangkan'. Dan semakin banyak orang menyukai buku. Aduh... Indah aeh.

Baca juga: Penetrasi Digital pada Generasi Milenial dan Urgensi Pendidikan Kritis

"Apa yang membuat seorang guru merasa senang telah menjalani profesi itu?" Saya menanyakan hal itu kepada sangat banyak guru di berbagai kesempatan. Dan, sebagian besar jawaban mereka adalah: melihat murid-murid kami berhasil jadi orang. Setelah menjawab demikian, deretan nama 'murid-murid yang berhasil' tadi akan disebut, lengkap dengan profesi mereka; si ini sudah jadi dokter, si itu sekarang di kejaksaan, kepala dinas itu dulu murid saya, bupati ini sekolahnya dulu di sini, pemilik toko besar di sana itu saya punya anak wali, kemarin saya punya murid muncul di tivi dan ikut debat. Hal-hal seperti itu.

"Apa yang membuat seorang guru merasa senang telah menjalani profesi itu?" Saya menanyakan hal itu kepada Pa Galus. "Ketika mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri dan bahagia," jawabnya. Lalu dia cerita tentang betapa nikmatnya menjadi orang yang merdeka. Yang menjalani pilihan hidupnya dengan sadar. Yang menikmati jalan hidupnya dengan sungguh. Sesuatu yang saya pikir didapatnya dari bacaan-bacaan. Barangkali tentang Sukarno, tentang Tan Malaka, tentang tokoh-tokoh yang 'merdeka itu'.

Pa Galus sudah pensiun. Dari guru dan dari pegawai kantor. Pekerjaan terakhirnya adalah memimpin sebuah dinas di Kabupaten Manggarai Timur. Tetapi tidak pensiun dari saxophone. Sesekali, dia berkolaborasi di panggung, bersama beberapa muridnya yang sudah jadi musisi. Bukan Alvand dan Ited. Dua orang itu tidak tahu main musik meski kadang kalau sudah duduk melingkar memiliki kecenderungan cari gitar; mereka bukan musisi. Mereka orang-orang merdeka. Tentu saja karena Pa Galus juga. Yang saya sebut sebagai musisi (dan pernah berkolaborasi dengan Pa Galus itu) adalah Ramlan, Eman, dan Ivan Nestorman.

"Apa yang kau pikirkan tentang Pa Galus, Ma?" Tanya saya pada Celestin, istri saya yang dulu adalah murid Ruteng V. "Rasanya, dia tidak pernah membiarkan otaknya beristirahat. Kecuali kalau sedang tidur," jawabnya. Istri saya pernah bercerita bagaimana Pa Galus tiba-tiba "bicara sendiri" ketika sedang mengajar.

Tentu saja, bagi alumni SDK St. Theresia Ruteng V, Pa Galus bukan satu-satunya guru yang dikenang dalam percakapan-percakapan. Semua guru mereka ceritakan. Semua kenangan mereka bagi-bagi. Tentang guru-guru yang paling sering mencubit, tentang guru-guru yang paling disiplin, tentang guru-guru yang berhasil mereka kelabui, tentang guru-guru yang selalu mereka hindari tatapannya, tentang guru-guru yang mereka rindukan kehadirannya, dan semua hal tentang guru.

Bahwa pada saat ini saya menulis tentang Pa Galus Ganggus, barangkali karena saya kaget saja. Jawabannya tidak biasa sama sekali. "Apa yang membuat seorang guru merasa senang telah menjalani profesi itu?" "Ketika mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri dan bahagia."

Baca juga: Dua Tawaran Menyiapkan Generasi Antikorupsi

Saya tiba-tiba ingat Paulo Freire. Seorang Brasil. Yang pikirannya dikena(ng)l sampai saat ini: pendidikan yang membebaskan. Pa Galus mestilah pernah membaca bukunya; Educação como prática da liberdade (Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan). Apakah semua guru pernah membaca buku itu juga? Atau pikiran-pikiran lain tentang kemerdekaan manusia? Harusnya begitu. Agar yang mereka kenang sebagai sumber kebahagiaan tidak lagi semata 'murid-murid yang sudah jadi orang' tetapi semua murid yang berhasil bahagia.

Saya kira, Pa Galus bahagia sekali hari ini. Melihat murid-muridnya semua bahagia di Pesta Emas SDK Ruteng V. Alvand, Ited, Mozakk, Sintus, dan semua yang lain. Mereka bahagia ketika duduk melingkar. Eh? Pokoknya begitu. Seharusnya begitu. Bukan duduk melingkar. Tetapi setiap murid semestinya dididik agar mencintai pilihan-pilihan mereka; tidak memberatkan pikiran anak didik dengan 'ini profesi elit dan yang itu tidak elit'.

Selamat Pesta Emas, SDK St. Theresia Ruteng V. Jaya selalu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Seorang Wartawan di Manggarai Timur Minta Uang Atas Nama Dewan Pers, Bagaimana Posisi Kita?

Agar tulisan tentang wartawan di Manggarai Timur yang meminta uang atas nama Dewan Pers ini dapat dibaca secara utuh, tulisan ini saya lengkapi dengan tautan-tautan ke media-media di mana Anda dapat mengakses berita selengkapnya.
Ekspresi saya waktu dengar kabar yang aneh | Foto: Kaka Ited

Seorang Wartawan di Manggarai Timur Minta Uang Atas Nama Dewan Pers, Bagaimana Posisi Kita?


Ada wartawan di Manggarai Timur. Berinisial KNJ. Dia mengirim SMS kepada seseorang berinisial KJ. Meminta uang sebanyak tujuh juta rupiah. Sebagai kompensasi (kata kompensasi ini berasal dari teks pesan itu). Menurut wartawan bernama KNJ ini, uang itu akan dipakai untuk memulihkan kepercayaan publik melalui jalur Lonto Leok.

Begini teks lengkap sms itu (saya ambil dari VoxNTT.com): Sore kaka..hari senin tman2 datang semua di rumah..kaka siap kompensasinya 7 juta. Ini bukan dari saya tapi dari dewan pers untuk pulihkan kepercayaan publik melalui jalur lonto leok yang nantinya semua media manggarai raya akan publikasi itu..tabe.

Yang belum paham tentang Lonto Leok, saya ceritakan saja. Dalam budaya Manggarai, lonto leok adalah semacam forum diskusi (umumnya untuk penyelesaian masalah) yang melibatkan banyak orang yang terkait dengan persoalan yang sedang dibicarakan.

Secara harafiah, dua kata tersebut berarti duduk melingkar; lonto berarti duduk dan leok berarti membentuk/berbentuk lingkaran--bentuk ini bisa jadi mengakomodir arsitektur Mbaru Niang yang berbentuk lingkaran.

Kata leok di beberapa bagian Manggarai juga berarti mengeroyok. Nah... Eh? Misalnya ada seorang anak yang dipukuli temannya beramai-ramai, tentang dia akan diceritakan begini: "Anak koe hio, leok latay (anak itu dikeroyok orang)." Leok yang berarti mengeroyok, di bagian Manggarai yang lain dikenal dengan istilah telo. Oh, iya. Vokal /e/ pada dua kata tadi dibunyikan seperti kita menyebut 'meja' atau 'desa'. Jangan dibunyikan seperti 'tempat' atau 'besar' karena berisiko pada kata telo yang akan berarti sesuatu yang lain yang tidak boleh disebut secara semena-mena.

Baca juga: Media Massa, Slowness-Quickness, dan Khalayak

Bagaimana? Sudah paham soal lontok leok? Semoga sudah. Karena sekarang kita akan bergerak ke soal lainnya. Soal nama Dewan Pers yang disebut sebagai pihak yang meminta uang untuk pulihkan kepercayaan publik melalui jalur lonto leok yang nantinya semua media manggarai raya akan publikasikan itu.

Ketika membaca berita tersebut, saya langsung menduga bahwa itu wartawan sedang 'jual nama'. Bahasa lainnya barangkali 'mencatut nama Dewan Pers'. Dugaan saya terbukti benar karena beberapa saat setelahnya VoxNtt.com menyiarkan berita bantahan Dewan Pers.

Agung Dharmajaya dari Komisi Hukum Dewan Pers menegaskan, lembaganya tidak pernah meminta uang kepada oknum siapa pun. “Sekali lagi, Dewan Pers tidak pernah meminta uang atau imbalan dalam bentuk apapun dalam setiap kegiatan,” tegas Dharmajaya saat dihubungi VoxNtt.com, Senin (07/10/2019) malam. Berita lengkapnya ada di sini.

Di berita yang sama, Lasarus Jehamat, Pengamat Sosial dari Universitas Nusa Cendana melihat dua hal penting dalam kasus itu: meminta uang dan mencatut nama dewan pers. Saya pikir saya setuju dengan Pak Lasa dan untuk itu saya harus bilang: Mammamia e. Tir tanggung-tanggung betul im. Dua kesalahan habok sekaligus oleh kakak KNJ ini. Ckckckck!

Tetapi ternyata tidak begitu, Bapa-Mama-Kaka-Ade. Tidak ada itu dua kesalahan. Yang benar adalah, memang ada permintaan uang tujuh juta. Tetapi bukan atas permintaan Dewan Pers, dan juga bukan atas keinginan KNJ untuk memeras KJ.

Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Online (AJO) Manggarai Timur, Andre Kornasen, bukan begitu ceritanya. Penjelasan Andre Kornasen selengkapnya ada di tautan ini. Saya kutip sebagian, begini:

“Setelah dia omong minta maaf, keluarga mulai hitung begini, ow kalau ini teman-teman pers yang awas ini kasus untuk datang ke sini, terus keluarganya dia, terus oknum guru-guru dari itu sekolah, warga di lingkungan sekitar. Pa’ang olo ngaung musi pe (semua warga dalam satu kampung). Keluarga coba hitung-hitung kalau mau buat itu acara berapa kira-kira, karena hambor pe (perdamaian) orang Manggarai bilang, hambor to untuk upaya damai.”

Maksudnya, uang sejumlah tujuh juta yang diminta itu bukan untuk diserahkan ke pihak mana pun tetapi untuk membiayai upacara perdamaian. Sekarang kita ada di leok yang pertama atau kedua? Eh?

Tentang mengapa KNJ dan KJ harus berdamai, masalahnya adalah karena KNJ merasa diintimidasi oleh KJ saat dia melaksanakan tugas jurnalistiknya. Kameranya dirampas. Sudah bisa paham arahnya?

Baca juga: Information Overload dan Wartawan yang Mati Karena Media Sosial

Begini. KNJ merasa dirugikan dan untuk itu dia akan mengadukan KJ melalui jalur hukum. Barangkali agar jalur hukum ini tidak perlu diambil, jalur lonto leok-lah yang lantas mau ditempuh. Begitu kira-kira. Hanya saja, sampai jadwal yang telah ditentukan, KJ tidak merespons permintaan uang tujuh juta rupiah itu. Sebagai akibatnya, mengutip VoxNtt.com, AJO Manggarai Timur kembali dengan sikap awal untuk membawa persoalan ini ke penegak hukum.

Ehhmmm... uhukk... uhukkk... Eh, maaf. Saya agak batuk. Hihihi...

Okay. Kita lanjutkan.

KNJ adalah wartawan di posflores.com. Sayang sekali, di laman media itu tidak dicantumkan susunan pengurus/redaksi media sehingga saya kesulitan untuk menjelaskan posisi KNJ. Jika ternyata saya yang kurang cermat sehingga tidak dapat melihat 'kotak redaksi' itu, saya minta maaf. Meski demikian, berdasarkan penelusuran pada berita-berita sebelumnya di VoxNtt.com, dapatlah diduga bahwa KNJ adalah wartawan yang pada berita ini ditulis dengan nama Nardi Jaya. Jika benar, maka, memang benar KNJ adalah wartawan di posflores.com yang menulis berita ini: Panggung Kreasi SMPK Rosa Mistika Waerana Membuat Penonton Terhipnotis.

Soalnya adalah, media ini tidak mencantumkan susunan redaksi di laman mereka. Ataukah sengaja disembunyikan? Untuk alasan apa? FYI, saya mengakses media ini via laptop.

Padahal salah satu syarat agar dapat disebut media pers resmi adalah mencantumkan nama penanggung jawab serta alamat redaksi secara jelas. Itu ada di poin ke-14 dari 17 syarat lengkap sebuah media diakui sebagai media resmi sebagaimana ditetapkan Dewan Pers dalam Standar Perusahaan Pers.

Artinya? Mungkinkah media tempat KNJ bekerja adalah media yang oleh tulisan ini disebut sebagai media abal-abal? Jika demikian, seharusnya KJ tidak perlu khawatir diadukan ke ranah hukum jika pengaduannya menggunakan Undang-Undang Pers dan sejenisnya.

Baca juga: Media Massa Daring dan Masalah Akut Bernama Penyuntingan

Kita yang sesungguhnya perlu khawatir. Praktik-praktik permintaan uang, bahkan jika untuk membiayai upacara perdamaian tapi tidak melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan/bersengketa atau tidak dibicarakan dengan baik sehingga untuk itu perlulah dilakukan penagihan dengan mencatut nama institusi lain (barangkali dengan tujuan mengancam) sesungguhnya tidak boleh dibiarkan berkembang biak dan beranak cucu.

Sebagai konsumen media, saya jelas terganggu dengan berita-berita seputar KNJ dan KJ, terlepas dari siapa pun yang nanti akan diketahui sebagai pihak yang salah/keliru.

Saya pikir, wartawan tidak boleh dikasari. Itu pertama. Kedua, wartawan harus memahami kode etik jurnalistik termasuk menghargai keputusan seseorang atau sekelompok orang untuk menolak difoto dan jika benar-benar ingin mendapatkan informasi, harus menguasai teknik peliputan yang baik. Selanjutnya, wartawan harus memahami mekanisme pengurusan masalah sengketa jurnalistik; meminta uang kepada narasumber atau siapa saja bukanlah hal yang elok. Dan jangan lupa, wartawan sebaiknya bekerja di media yang benar-benar resmi agar seluruh nasibnya terjaga.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Jaga Orang Pu Jodoh Bukanlah Sebuah Kisah Sedih, Kakak!

Ya! Jaga orang pu jodoh itu bukan kisah sedih. Karena kalau itu kisah sedih maka setiap hari kita harus menangis; jumlah orang yang berada di pusaran jaga orang pu jodoh itu banyak sekali.
jaga orang pu jodoh bukanlah sebuah kisah sedih kakak
Foto oleh Kaka Ited (2016)

Jaga Orang Pu Jodoh Bukanlah Sebuah Kisah Sedih, Kakak!


Beberapa waktu lalu Near merilis single terbarunya via akun Youtube; Fenomenear. Judulnya “Jaga Orang Pu Jodoh”.

Kalau sebelumnya bersama Dian Sorowea, youtuber asal Flores ini menguasai mesin pencari sepanjang tahun 2018 melalui “Karna Su Sayang” dan membuatnya mendapat anugerah Top Trending Search 2018 dari Google, tahun ini barangkali tidak akan sampai sebesar itu karena isu-isu yang jauh lebih gugelable itu banyak sekali; Ustad Somad, Deddy Corbuzier, referendum, demonstrasi, dan masih banyak lagi. Soal Flores sendiri, yang akan panjang dikenang barangkali tentang seorang perempuan bernama Mawar yang keliru soal letak Danau Kelimutu dan dia keluar sebagai pemenang. Duh!

Meski demikian, lagu baru Near tetap punya potensi populer di setiap hati yang remuk redam, yang merasa betapa sia-sianya membuang waktu dan biaya dan rasa dan pelukan dan pesan singkat ‘jan lupa makan sayang em’, karena dia akhirnya pergi bersama yang lain. Mamamia e.

Di lagu itu, Near, berkolaborasi dengan Lhc Makassar dan Hlf, bercerita tentang sesal (cie ciee) karena usahanya membina hubungan kandas begitu saja; waktu muda sama-sama/  tapi tua su beda/ waktu muda berdua/ tapi tua ko deng dia.

Rasanya, lagu ini ditulis (atau barangkali disempurnakan) setelah kasus kisah cinta kandas berujung tuntutan di pengadilan antara Alfridus dan Fransiska di Maumere beberapa waktu lalu.

Bagi yang belum tahu, kisah itu terjadi di Maumere. Alfridus menggugat mantan pacarnya yang bernama Fransiska ke pengadilan. Dia bilang bahwa ia berpacaran dengan Fransiska di Surabaya sejak Januari 2015. Kemudian, pada Februari 2015, Fransiska pulang dan tinggal di Maumere. Menurut Alfridus ini, pada Maret 2015, Fransiska meneleponnya dan meminta dikirimi uang untuk membangun rumah yang akan jadi tempat tinggal mereka setelah menikah. Selain itu, Fransiska juga meminta Alfridus mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari–hari. Ditotal-total, angkanya mencapai Rp. 40.825.000,-. Si Alfridus ini berhasil menghitung angka itu setelah ditinggalkan; si Fransika memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Begitu ceritanya.

Dan home base Near juga di Maumere. Artinya, lirik dalam lagu Jaga Orang Pu Jodoh itu yang berbunyi: rasanya ditusuk tusuk/ sa rugi besar anggaran berlipat ganda/ baru dia dapat frei frei/ tanpa adanya usaha, bisa jadi memang berasal dari sana. Karena juga ada larik “gas ke pengadilan e”.

Hanya saja, soalnya adalah, kisah serupa Alfridus vs Fransiska itu jamak terjadi di muka bumi yang fana ini. Sebagian besar (untuk tidak menyebutnya: semua) anak manusia pernah mengalami situasi yang sama. Bukankah begitu, Don Antonio? Pacaran tidak harus berakhir dengan jawaban YES atas pertanyaan "will you marry me", Kakak!

Hanya saja, banyak yang merasa menjadi korban karena telah membuang sekian tahun menjalin hubungan percintaan yang ternyata berakhir kandas. Lalu datanglah hitung-hitungan: jumlah uang yang telah dikeluarkan untuk traktir bakso, jumlah malam yang sengaja ‘diinsomniakan’ agar lebih lama memikirkanmu, jumlah salam damai pada hari Minggu di Gereja saat pergi misa berdua, cubitan manja-ratap tangis dan kertak gigi, dan segala macam hal lain.

Baca juga: Fenomena Rakat; dari Sinisme, Humor Gelap, Hingga Modal Investasi Sosial

Selanjutnya, setelah seluruh hitung-menghitung itu selesai, kita lalu merasa paling dirugikan. Patah hati. Oh! Hmmm… Pada bagian awal, biasanya terasa wajar mendengar curahan hati seperti itu. Tetapi pada bagian selanjutnya, kita lantas sadar bahwa jika kita telah merasa sia-sia menghabiskan sekian waktu bersamanya, bukankah bisa jadi keputusannya meninggalkan kita dapat dibaca sebagai usaha menghentikan kesia-siaan itu berlangsung lebih lama lagi? Enaaak...

Begini. Kadang kita merasa, ditinggalkan oleh seseorang adalah peristiwa yang tiba-tiba. Padahal, bisa jadi, sesungguhnya telah ada gejala sebelumnya. Hanya saja, kita, oleh karena perasaan cinta dan gambar tentang masa depan penuh bahagia sebagai akibat percakapan pada malam-malam romantis, telanjur menutup mata atau mengabaikan gejala-gejala itu. Kalau dalam bahasa para motivator itu, kondisi demikian bisa jadi disebabkan oleh ketimpangan (kesadaran atas) relasi; kau merasa baik-baik saja dan dia tidak. Tuandeo e!

Artinya? Jaga orang pu jodoh itu bukan pekerjaan sia-sia dan tak perlu ‘dirayakan’ dengan tangisan sepanjang tahun atau menari-nari sendiri di pinggir jalan atau menuntut mantanmu ke pengadilan.  Karena sesungguhnya, jika benar kau ‘jaga orang pu jodoh’ itu dengan baik, maka pada saat yang sama orang lain pasti sedang ‘jaga kau pu jodoh’ dengan sama baiknya. Hukum alam biasanya berlaku begitu. Encooook.

Baca juga: Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019

Tidak ada yang sia-sia, Sayang. Sebagian besar (untuk tidak menyebutnya: semua) anak manusia pernah jaga orang pu jodoh. Pada saat itu, bukankah kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik; belajar mengelola perbedaan, bertukar pendapat, mengenal karakter manusia lain? Pengalaman-pengalaman seperti itu akan jadi modal yang penting ketika kau ketemu kau pu jodoh yang sekarang sedang orang lain jaga juga.

Karena itu, Don Antonio, bersedihlah seperlunya saja. Tak perlu berlarut-larut. Jika mampu, berlakulah seperti Didi Kempot. Yang mampu mengelola setiap patah hati menjadi lagu dan pundi-pundi uang. Jika tak tak mampu, mengumpatlah serileks mungkin. Panduan mengumpat itu bisa diambil dari mana saja.

Di lagu Jaga Orang Pu Jodoh, Near sudah beri contoh. Perhatikan baris-baris ini: sa jaga bae bae dong kasi tagae/ sa jaga sampe  bodok ko orang pu jodoh/ jang sampe tuhan salah tunjuk/ sampe sa salah jaga tulang rusuk/ ko pi cari yang model tiada bentuk. BOOOM!

Lihat bagian akhir itu? Ko pi cari yang model tiada bentuk! Yang agak kesulitan memahami baris ini oleh karena ditulis menggunakan dialek Melayu Timur, saya bantu jelaskan. Ko pi cari yang model tiada bentuk itu artinya muka jodohmu yang sekarang itu remuk redam sekali. Lebih remuk dari hatiku yang sekarang dan berarti aku menaaaang.
Remuk redam hati ini akan segera selesai seiring berjalannya waktu, tetapi remuk redam muka jodohmu itu akan menemanimu sepanjang sisa hidupmu. 
Cara mengumpat yang rileks sekali, bukan? Selamat mengumpat. Eh?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Nuca Lale Taekwondo Club, Medali, Pemerintah, Orang-Orang Baik, dan Koordinasi

Tulisan ini adalah cerita (yang semoga lengkap) tentang apa yang terjadi di balik prestasi besar yang diraih atlet-atleh taekwondo asal Kabupaten Manggarai pada ajang Menpora Cup Taekwondo di Jakarta pada tahun ini.
Nuca Lale Taekwondo Club bersama Bapak Gabriel Mahal dan Ibu Watty Rahman Mahal

Nuca Lale Taekwondo Club, Medali, Pemerintah, Orang-Orang Baik, dan Koordinasi


Rasanya, tulisan ini akan panjang. Barangkali memang harus begitu karena ada banyak hal yang harus dibicarakan. Lihat saja judulnya: Nuca Lale Taekwondo Club, medali, pemerintah, orang-orang baik, koordinasi. Ada berapa subjek, coba? Lima. Banyak to?

Namun, alih-alih membicarakan setiap subjek itu satu per satu, saya akan menulisnya dalam bentuk campuradukcampurbaur saja dengan tetap menjadikan lima hal itu sebagai benang dan semoga niat ini berhasil tersampaikan secara runtut. Akan ada tiga kali 'begini' dan satu kali 'begitulah ceritanya' pada tulisan ini dan di setiap jedanya Anda bisa minum kopi dan makan kue.

Begini (pertama),


Sebagai Ketua Nuca Lale Taekwondo Club (NLTC), saya turut mendapat ucapan selamat dari banyak teman menyusul prestasi luar biasa yang diraih NLTC pada Menpora Cup Taekwondo Championship Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI) 2019 yang digelar tanggal 20 sampai 22 September 2019 di GOR POPKI Cibubur.

Ada 13 atlet dari klub yang bermarkas di Kabupaten Manggarai yang terlibat pada turnamen ini dan pulang membawa 11 medali: 7 emas, 1 perak, 3 perunggu. Mereka juga meraih trofi Tim Favorit. Saya jelas berbangga seperti juga sangat banyak orang yang berbangga karena ada anak-anak Manggarai yang meraih prestasi di tingkat nasional. Di rumah, setiap perkembangan para atlet itu saya ceritakan pada Celestin, istri saya. Dia berulang-ulang menyampaikan selamat. Turut berbangga. Juga begitu senang karena salah seorang atlet asal Manggarai dipercaya memberi pengalungan kepada Ketua Taekwondo Indonesia, sebuah kehormatan besar untuk seorang atlet.

Kemudian, sebagaimana biasanya terjadi, cerita prestasi--selain dibicarakan sebagai pencapaian yang hebat dan mendapat tepuk tangan meriah seperti seharusnya--juga memunculkan kisah-kisah lain; cerita-cerita sebelum prestasi itu berhasil diraih. Hal-hal demikian tentu saja tidak terhindarkan, bukan sesuatu yang salah, dan kadang penting untuk 'memberi konteks' pada narasi besar.

Kadang, yang demikian bisa meneguhkan narasi besar, bahwa prestasi yang diraih memang sudah selayaknya diraih. Misalnya seseorang yang menjadi penyanyi hebat akan segera 'dimaklumi' prestasinya setelah publik mengetahui beratnya masa latihan dan lamanya proses dia menempa dirinya sendiri untuk dapat menjadi penyanyi yang hebat.

Tetapi juga ada terjadi, kisah-kisah lain yang muncul 'pasca-prestasi' justru lebih dominan dipercakapkan daripada prestasi itu sendiri. Diskusi yang berkembang tidak lagi pada bagaimana orang-orang berprestasi itu menempa dirinya (agar kisah prestasi itu inspiratif), tetapi justru melebar pada hal-hal yang jauh: pembandingan-pembandingan, justifikasi, bahkan bisa lebih jauh hingga sampai sejauh-jauhnya. Begitulah, dan tak seorang pun berdaya menghentikannya.

Hal itu tentu saja dimaklumi karena sebagai teks, setiap peristiwa apa saja boleh melahirkan reaksi yang beragam di setiap kepala pembacanya dan (bahkan) pemilik teks bisa jadi kehilangan wewenang; penulis telah mati.

Baca juga: Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat

Saya tidak tahu persis pada bagian mana dari dua tipe reaksi itu yang cocok dengan kisah lain di belakang prestasi anak-anak Manggarai yang tergabung dalam NLTC, tetapi kisah-kisah lain itu muncul. Di kalangan internal klub saja, ada kisah lain yang dibicarakan yakni pencapaian ini jauh di atas ekspektasi. Karena tujuan paling besar para atlet dikirim ke kejuaraan ini adalah agar mereka mendapat pengalaman tanding, menambah jam terbang. Itu saja cukup. Bahwa mereka meraih medali yang banyak, itu jauh sekali dari rencana.

Di luar klub, berbagai percakapan tentang kisah lain itu berlangsung dalam banyak topik, dan yang cukup ramai adalah soal perjalanan mereka ke Jakarta yang melelahkan. Ya. Kontingen NLTC berangkat via jalur laut. Itu tentu saja melelahkan padahal mereka akan berlaga di kejuaraan nasional yang membutuhkan kondisi fisik yang bagus. Tetapi begitulah yang terjadi sebab hal-hal yang akan saya ceritakan di bagian berikutnya.

Namun sebelum ke soal kenapa mereka naik kapal laut saja, saya mau ceritakan saja bahwa di bahwa topik ini, muncul subtopik-subtopik atas dasar kemerdekaan membaca teks. Yang paling banyak adalah sorotan atas kemiskinan kepedulian pada pembinaan prestasi. Yang disorot tentu saja Pemerintah Kabupaten Manggarai, KONI Kabupaten Manggarai, para pengusaha di Manggarai yang tidak ikut membantu dana, Induk Organisasi, dan masih banyak lagi. Saya juga sempat memikirkannya, tapi benarkah demikian?

Begini (kedua),


Tiga pekan silam, Sardi Jeramat dan Blasius Aman, dua pelatih di NLTC mau bertemua saya tetapi tidak jadi. Bukan karena saya tidak mau bertemu mereka tetapi jadwal kami tidak kunjung pas. Padahal mereka mau bawa proposal yang harus saya tanda tangani sebab mereka akan membawa beberapa atlet untuk ikut kejuaraan nasional di Jakarta.

Pertemuan baru terjadi sepekan sebelum mereka berangkat ke Jakarta. Sebelum menandatangani proposal klub, saya dapat cerita soal kegiatan yang akan diikuti klub kami itu. Saya dengar semuanya, termasuk 'kita tidak punya dana, Pa Ketua', sebuah kabar menyedihkan karena saya juga tidak punya dana. Dalam hati, saya menyesal telah bersedia saja menerima tanggung jawab sebagai Ketua NLTC, karena tidak punya cukup 'kekuatan' untuk memberangkatkan mereka dengan mudah ke turnamen besar itu.

Lalu saya sadar, situasi ini bukan yang pertama kami alami. Sebelumnya, ada dua kejuaraan nasional yang juga mereka ikuti dengan modal dasar yang sama saja: dana minim. Tetapi toh mereka berhasil mengikutinya. Dan modal kami semua "hanya" jaringan. Jaringan itu bernama orang-orang baik. Yang dengan suka hati membantu meski hanya dikontak lewat media sosial.

Baca juga: Hadiah-Hadiah Tiba (Tak) Tepat Waktu

"Kita coba dekati KONI." Saya bilang itu ke Sardi dan Belsi. Mereka setuju tetapi juga mengingatkan bahwa prosesnya biasanya cukup panjang karena urusan administrasi harus melalui induk organisasi padahal waktu mereka ke Jakarta akan tiba segera. "Saya nanti kontak Pa Ketua Harian KONI," janji saya. "Apa kita bisa ketemu Pa Bupati?" Tanya mereka. Saya bilang akan coba atur jadwalnya karena pekerjaan saya yang sekarang memang juga berhubungan dengan jadwal kerja bupati.

Yang janji kontak Ketua Harian KONI, Bapak Apri Laturake, saya tunaikan. "Kaka, bisa bantu kami?" Tanya saya sambil menebak jawaban apa yang akan saya terima. "Bisa, Ade," jawabnya setelah saya ceritakan perihal permohonan bantuan untuk NLTC. "Tetapi dana KONI hanya bisa keluar melalui Induk Organisasi," jelasnya. Saya paham bahwa jika oleh karena faktor kedekatan dengan saya saja Ketua Harian KONI mengeluarkan disposisi pemberian bantuan, beliau bisa terjebak dalam masalah: penyalahgunaan keuangan negara.

Saya tidak mau menempatkan siapa saja dalam situasi demikian, apalagi orang yang saya kenal dekat seperti Ka Apri. "Bagaimana sudah?" Tanya saya. Beliau mengarahkan saya bertemu Bupati Manggarai selaku Ketua Umum KONI. Saya setuju. Tetapi sayangnya, hingga Sardi dan kawan-kawan berangkat ke Jakarta, saya tak kunjung berhasil mengatur jadwal pertemuan karena agenda kerja yang padat: kunjungan kerja ke luar kota, hingga ke luar daerah (ke Banyuwangi untuk penandatanganan kerja sama e-Government).

Saya baru bisa bertemu Bupati Manggarai untuk topik NLTC ini pada hari ini, Selasa, 24 September 2019 di ruang kerjanya. Saya datang sebagai ketua klub yang menghadap pimpinan daerah; posisi ini berbeda dari biasanya yakni saya sebagai staf dan Bupati Manggarai sebagai atasan. Saya ceritakan seluruh soal termasuk masalah kekurangan dana tadi, juga tentang prestasi para atlet di pentas nasional itu, juga jadwal kepulangan mereka ke Manggarai.

"Saya baru tahu soal ini, Nana Armin," katanya, "setelah dapat informasi dari Pak Gabriel Mahal. Saya senang sekali melihat foto-foto mereka di Jakarta. Saya juga sudah beri tahu Kadis Perhubungan agar kontingen kita dijemput pakai bus perhubungan di Labuan Bajo."

Itu kalimat pertama yang Bapak Deno Kamelus sampaikan sebelum menanggapi keluhan saya soal kekurangan dana yang menyebabkan kontingen NLTC berangkat dengan biaya dan fasilitas yang minim. Terkait dana, menurut Bupati Deno Kamelus, Pemerintah Kabupaten Manggarai akan selalu mendukung setiap upaya pengembangan prestasi.

"Prinsipnya, pemerintah pasti hadir untuk pengembangan prestasi. Ada mekanismenya karena ini menyangkut penggunaan keuangan negara. Sayang memang saya tidak sempat bertemu mereka sebelum berangkat. Misalkan dari KONI tidak bisa, mungkin kita bisa pakai cara lain. Misalnya dana pribadi atau saya bantu hubungkan dengan orang-orang yang bisa membantu. Tolong Nana sampaikan ke mereka, saya berterima kasih sekali atas pencapaian prestasi mereka. Bisa jadwalkan supaya saya bertemu mereka setelah mereka tiba di Ruteng. Saya senang sekali karena mereka dibantu oleh Pak Gabriel (Mahal) dan orang-orang Manggarai di Jakarta. Saya akan bersurat resmi untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah mendukung anak-anak kita ini," jelasnya.

Lalu kami bicara soal prestasi NLTC, soal komunikasi yang tersendat, soal-soal lain terkait olahraga dan dukungan pemerintah, soal persiapan dan koordinasi yang sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, juga soal hubungan antaratlet dan antarklub. Saya lalu tahu bahwa selalu ada jalan kalau ruang diskusi dibuka; sesuatu yang untuk situasi kali ini menjadi tidak tercapai karena kejaran waktu penyelenggaraan turnamen.

Sardi Jeramat menjelaskan ke saya situasi itu. Bahwa keikutsertaan mereka pada ajang Menpora Cup di Jakarta memang berlangsung dalam 'kejaran waktu'. Bahwa NLTC berinisiatif mengikuti kegiatan itu dan telah mengajak klub/dojang Taekwondo lain di Manggarai untuk ikut terlibat termasuk mengkomunikasikannya dengan Induk Organisasi.

"Di taekwondo memang sekarang begitu, Kae. Menpora Cup ini bisa diikuti oleh semua klub, baik atas nama induk organisasi maupun atas nama klub. Ketika dapat informasi ini kami langsung kasih tahu ke teman-teman juga ke Induk Organisasi tetapi mungkin karena kesibukan atau agenda lain sehingga banyak yang tidak sempat menanggapi. Hanya dari Dojang Kodim yang kirim satu dengan kita. Tetapi keikutsertaan kami sudah saya laporkan ke Induk Organisasi dan kami sudah dapat rekomendasi. Dari tingkat kabupaten dan provinsi. Agak kecewa juga karena tidak dapat dana dari pemerintah tetapi semoga di waktu berikutnya sudah bisa lebih mudah," terangnya.

Baca juga: Asal Ikut Trending Topic Bisa Bikin Kita Bebal?

Karena soal "waktu" itulah maka mereka berangkat dengan modal apa adanya; kami tidak sempat mengumpulkan banyak uang untuk membeli tiket pesawat. Mereka juga sempat bertemu Wakil Bupati Manggarai yang turut mendukung dari uang pribadinya. Juga beberapa kepala dinas di Kabupaten Manggarai. Beberapa teman saya juga ikut kumpul uang.

Ketika mereka hendak pergi, saya ulang-ulang bertanya apakah mereka siap pergi naik kapal laut saja? Mereka bilang siap. Lalu saya bilang, "Pulang baru kita naik pesawat e." Saya omong lepas saja padahal saya tetap tidak tahu bagaimana itu akan terjadi. Saya berpikir, ketika mereka di Jakarta, di Ruteng saya akan mencari kesempatan agar bertemu Bupati Manggarai untuk membicarakannya, tapi ternyata tak kunjung terjadi. Puji Tuhan, mereka mendapat dukungan penuh dari Pak Gabriel Mahal dan istrinya, Ibu Watty Rahman Mahal.

Begini (ketiga),


Ketika tahun ini NLTC hendak berpartisipasi lagi di kejuaraan nasional di Jakarta, sebagai ketua, saya turut bertanggung jawab dan harus siap mendukung 1.000 persen. Saya mulai berpikir tentang orang-orang baik mana yang akan saya hubungi untuk melancarkan rencana ini.

Untunglah, sebuah pertemuan informal telah Sardy buat dengan Om Gabriel Mahal di suatu kesempatan melalui facebook. Tugas saya adalah melanjutkan 'kesepakatan' mereka saat itu dengan menghubungi Om Gabriel dan Ka Watty. Okay, fix, ini agak aneh karena pasutri itu saya panggil dengan jabatan berbeda dan saya tetap tidak bisa mengubahnya (misalnya menjadi Ka Gaby atau Tanta Watty).

Singkat cerita, tahun ini, yang menjadi tumpuan harapan kami untuk urusan penginapan dan hal-hal lainnya adalah keluarga baik hati ini setelah pada event sebelumnya kami mendapat bantuan penginapan dari Pak Johny Plate melalui Ka Dedy Latubara dan Walberto Wisang.

Keluarga Mahal ini melakukan kebaikan yang sungguh langka dan betapa mahal artinya buat kami. Di Jakarta, kontingen Manggarai mendapat perlakuan yang baik sekali, dukungan yang penuh sekali, dan jaringan yang bertambah banyak sekali. Melalui berbagai media, Om Gabriel mewartakan tentang NLTC, tentang prestasi mereka, dan berhasil mengumpulkan semakin banyak orang baik yang turut membantu. Akhirnya, apa yang seminggu lalu saya bilang 'pulang baru kita naik pesawat e' benar-benar terwujud.

Baca juga: Anda Kritik Karya Saya, Karya Anda Sudah Bagus?

Kontingen dari Manggarai akan tiba di Labuan Bajo pada hari Rabu, 25 September 2019 setelah beberapa jam di pesawat terbang. Di Labuan Bajo mereka dijemput oleh bus milik Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai. "Kalau mereka tiba di Ruteng pada jam kantor, kita akan ajak mereka langsung bertemu Bupati. Kalau tidak, kita jadwalkan sehari setelahnya," jelas Ketua Harian KONI yang juga adalah Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai ketika saya menelepon untuk koordinasi urusan penjemputan ini.

Begitulah ceritanya,


Bahwa yang tersumbat adalah komunikasi dan koordinasi, yang harus segera diperbaiki adalah mekanisme kerja di semua level, yang perlu dipercakapkan adalah prestasi dan kisah-kisah yang menginspirasi, yang tidak perlu adalah usaha mencari yang salah dan benar secara berlebihan, dan yang kita butuhkan adalah jumlah Gabriel Mahal dan Watty Rahman serta orang-orang Manggarai yang peduli semakin beranak-pinak dan beranak-cucu.

Sebagai Ketua NLTC, yang memasuki dunia ini dengan ketidakcakapan pengetahuan seputar pengelolaan anggaran dan manajemen organisasi, saya jelas beruntung karena hidup di dunia jaringan. Saya juga beruntung (dan untuk itu saya tersungkur berterima kasih) karena memiliki pengurus klub yang daya juangnya baik sekali, yang visinya mulia sekali, yang kerendahan hari mereka baik sekali untuk diwartakan. Semoga mereka tetap memilikinya di hari-hari yang akan datang.

Via facebook, WA, dan dalam pertemuan-pertemuan langsung, saya mendapat banyak ucapan selamat. Saya sempat tergoda untuk angkat dada bahwa saya berhasil, lalu batal. Celestin, istri saya itu bilang, jangan besar-besarkan hal itu karena sesungguhnya tugas saya hanya sebagai jembatan. Saya jadi jengkel karena mendadak malu padahal tadi maunya bersombong-sombong sedikit. Tapi dia benar. Apakah ada jembatan yang bersorak karena sebuah truk gandeng berhasil tiba di seberang?

Orang-orang itu bertemu karena mereka ada di energi yang sama. Dengan atau tidak dengan saya ada di dalamnya, setiap orang dengan niat baik yang sama pasti akan bertemu di satu titi. Begitulah dunia bekerja. Dunia orang-orang yang bekerja dengan tulus, tentu saja. Rasanya begitu.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Foto Hutan - Cerpen di Jurnal Sastra Santarang

Cerpen Foto Hutan ini disiarkan pertama kali di Jurnal Sastra Santarang. Diolah dari naskah monolog berjudul sama yang saya tulis beberapa tahun lalu dan belum dipentaskan.
ilustrasi

Foto Hutan - Cerpen di Jurnal Sastra Santarang


Oleh: Armin Bell

Kau tak sempat pulang membawa hasil buruan. Sebuah lubang menganga di kepalamu. Beberapa saksi mata pertama menduga itu adalah lubang hasil tembakan jarak dekat. Ketika mereka sibuk berdebat tentang apakah itu hasil pekerjaan revolver ataukah senapan angin, kau sedang mengenang kalimat yang kaudengar sebelum senjata itu menyalak: "Sama petugas kok macam-macam!"

Bagaimana mereka menemukanmu tak bernyawa dengan lubang peluru di kepala adalah cerita yang lain. Tapi di suatu pesta, ketika beberapa gelas sopi telah beredar di antara kerumunan lelaki yang duduk melingkar di sudut ruangan, seseorang bercerita tentang cerita yang didengarnya dari temannya yang mendengar cerita itu dari teman yang lain, tentang seorang temannya yang berteman dengan salah seorang kerabat saksi.

Perjalanan cerita itu begitu panjangnya sehingga kisah itu kini berwajah seumpama pertarungan sengit di film-film laga lengkap dengan adegan tinju yang dilayangkan berulang di rahang lawan sebelum tokoh yang sempoyongan itu mengangkat senjata yang disembunyikannya di sepatu dan dorrr…. kepalamu bocor. Kau bisa apa? Meski sangat ingin, kau takkan pernah sempat menceritakan peristiwa itu dengan lengkap. Lagipula, nikmat juga kaurasa telah jadi pahlawan di cerita itu.

"Dia wartawan investigasi dari ibukota yang sedang melacak tempat persembunyian harta karun seorang petinggi partai. Dia dapat kabar bahwa harta itu dikubur di hutan itu. Berbekal informasi itu dia ke sana. Sayang sekali, yang tidak dia ketahui adalah bahwa tempat itu dijaga berlapis. Di lingkar paling luar beberapa preman bersenjata api. Dia gagal menembus barisan pertama itu. Kalau toh kala itu mampu, di lapis kedua dia harus berhadapan dengan binatang buas. Seperti mutan dengan kaki sebanyak milik laba-laba yang di setiap ujungnya berkuku harimau. Otaknya bekerja lebih baik dari gurita. Mustahil misi itu berhasil."

Kau sependapat dengan pencerita yang kini sekali lagi menenggak sopi. Seandainya kau tidak mati dengan lubang di kepala, mungkin perutmu yang terbuka lebar dan isinya terburai keluar. Mengerikan sekali nasib pahlawan, pikirmu. Kau urung beranjak dari ruang pesta itu karena di tengah dentum lagu-lagu pesta, kerumunan malah semakin berminat mendengar kisah itu dan pencerita di tengahnya menjadi lebih berapi-api menuturkannya seolah dia adalah salah seorang saksi mata. Kau ingin tahu juga apa yang akan terjadi seandainya berhasil mengalahkan binatang hasil perkawinan silang laba-laba, harimau, dan gurita itu; di mana mereka kawin dan seperti apa rupa wajahnya?

"Di lapis ketiga, siapa saja yang berhasil melewati rintangan kedua akan berhadapan dengan ujian terakhir. Seorang bidadari berbaring setengah telanjang menjaga harta karun itu. Rambutnya yang panjang digerai menutup buah dadanya dan dari pusat ke bawah ditutup aneka buah. Anggur menumpuk di selangkangan. Bidadari itu akan mengajak sang jagoan bercinta sebanyak empat ratus sembilan puluh kali dan jika sanggup menyelesaikan tantangan itu boleh menggali harta karun yang disembunyikan petinggi partai itu. Tetapi biasanya pada percintaan kelima, si lelaki kelelahan dan karena tak dapat bercinta lagi dia dicekik hingga lidahnya keluar. Bidadari itu lalu memuaskan dirinya dengan lidah yang telah menjulur kaku. Sampai tujuh kali tujuh puluh kali jumlahnya. Setelah itu bidadari itu tidur menunggu jagoan lainnya."

“ANJING!” Suaramu, entah bagaimana, didengar orang-orang di kerumunan itu. Mereka telah mabuk semuanya sehingga begitu mudah tersundut emosinya. Mendengar makianmu itu mereka lantas saling tuduh. Semua merasa sebagai yang dimaki. Mereka berkelahi karena merasa dikatai anjing. Saling tunjuk, nada suara semakin tinggi, saling pukul, beberapa kursi melayang, musik berhenti, pesta bubar.

Baca juga: Hadiah-Hadiah Tiba (Tak) Tepat Waktu

Kau menyesal melihat pengantin putri menjerit-jerit histeris di pelaminan menyaksikan suami yang dikasihinya jatuh pingsan. Perkelahian itu dengan cepat berpindah tempat ke tengah arena dansa. Seseorang menyentak dasi pengantin pria itu dari belakang ketika dia berusaha melerai perkelahian tanpa sebab yang jelas itu. Kau mengutuk malam pesta itu, memarahi kematianmu sendiri yang tak sempat kauceritakan. Kau terutama meradang karena urutan cerita tentang penjagaan harta karun yang sama sekali tidak kau inginkan. Kau bertanya-tanya kenapa mereka tidak menempatkan bidadari di lingkar paling luar agar kau ditemukan mati tanpa celana dan lidah menjulur? Dalam cerita yang dikarang-karang sekalipun, kau ingin juga dianggap pernah menikmati percintaan yang berulang dengan seorang bidadari; tujuh kali masih bisalah!

Kau pergi ketika keributan mereda dan beberapa orang berpelukan untuk dua hal sekaligus: berdamai dan menopang tubuh yang limbung karena sopi. Yang membuatmu kini gusar adalah bayangan bahwa perkelahian serupa itu akan terus terjadi di setiap pesta pernikahan. Kau ngeri memikirkan bahwa kemungkinan lelaki berdasi yang pingsan di lantai dansa itu adalah suami putrimu. Bahkan setelah menjadi arwah, setiap Ayah menginginkan pesta terbaik pada pernikahan putrinya.

***

Pagi baru saja datang ketika aku tiba di hutan itu. Kepada istri dan anakku telah kusampaikan niatku. Mereka setuju karena telah lama kuyakinkan bahwa suatu hari nanti pohon-pohon tua di sana akan hilang dan berganti dengan rumah-rumah istirahat milik orang-orang kaya.

“Bapa, nanti foto pohon-pohonnya yang banyak, ya,” kata anak perempuanku yang baru berumur enam tahun tetapi telah membayangkan bahwa foto-foto hasil bidikanku nanti akan dicetak dan dibingkai dengan cantik. Akan dia tunjukkan pada anak-anaknya. Istriku tersenyum aneh ketika kukatakan kepada perempuan kecil itu bahwa kelak dia tidak menikah karena menjadi seorang biarawati.

Baca juga: Rosario - Cerpen di Pos Kupang

Di hutan itu burung-burung bernyanyi menyambut pagi, terbang tinggi ke langit, bermain-main ceria lalu hinggap di dahan yang dekat denganku yang serentak membidik mereka dengan jepretan bersambung. Aku sedang memeriksa hasil bidikan itu ketika dari arah belakang seseorang bicara dengan nada keras menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Aku melompat maju selangkah lalu berbalik. Dia ada di sana, separuh wajahnya tertutup topi, yang terlihat hanya ujung hidungnya dan kumis tebal yang menutup bibir atasnya yang segera bergerak mengulang pertanyaannya yang tadi hanya berhasil membuatku mencelat.

“Apa yang kau lakukan?” Suaranya lebih menggelegar kini. “Wartawan, ya?” tambahnya.

“Ehm… eh… anu… foto, Pak. Bapak siapa?”

Nada bicaranya meninggi ketika menjelaskan bahwa sesungguhnya akulah yang harus menjawab dan bukan malah bertanya.

Burung-burung terbang menjauh dengan cicit yang menyebarkan berita kekhawatiran seolah percakapan kami tentang identitas membuat mereka dilanda cemas.

“Gabriel, Pak. Seperti malaikat pembawa kabar,” kataku sekadar membuat suasana kasar itu segera berlalu. Tetapi dia tidak tersenyum. Hanya mengangkat sedikit topinya hendak melihatku lebih jelas. Kulihat ada codet di antara alisnya, entah telah berapa lama ada di sana. Dia mengulang bagian pertanyaan yang belum kujawab.

“Bukan, Pak. Bukan wartawan. Saya bapak rumah tangga.”

Entah apa yang lucu dari kalimat itu tetapi sesaat kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal. Di sela-sela tawanya yang parau kudengar dia bilang bahwa tak ada pekerjaan bernama bapak rumah tangga karena yang ada adalah ibu rumah tangga. Sempat berpikir bahwa suara semenggelegar itu hanya berasal dari mahkluk dunia lain, dunia para raksasa, aku segera sadar bahwa lelaki di hadapanku adalah sesamaku manusia—dari dunia para lelaki. Lalu sunyi.

“Bapak suka sastra? Ada penulis yang namanya Gabriel García Márquez, Pak. Kata orang tuaku, namaku datang dari situ. Oh iya, dia pernah menulis tentang kesunyian yang panjang. Seratus tahun lamanya. Bapak siapa?” tanyaku di akhir penjelasan panjang yang aku sendiri tak pahami.

Lelaki itu menjawab dengan bentakan keras. Dia bilang bahwa usahaku menghilangkan sunyi di antara kami adalah sebenar-benarnya kesia-siaan. Dia tidak akan menjelaskan tentang siapa dirinya karena pada saat itu dia adalah penanya. Hanya bertanya. Aku bertugas menjawab.

“Harus mulai dari mana, Pak? Seluruh penjelasanku akan terdengar seperti omong kosong. Bapak sudah terpingkal-pingkal ketika kuceritakan tentang pekerjaanku. Kalau itu saja tidak mudah dimengerti, bagaimana aku harus menjelaskan dengan kalimat yang sederhana bahwa tujuanku ke tempat ini adalah mengambil gambar pohon-pohon di hutan ini agar kelak anak dari anakku tidak hanya mengenal mereka dari cerita?”

“KAU MENGANGGAPKU BODOH?” Dia menunduk seperti hendak membetulkan tali sepatunya. Kugunakan kesempatan itu meraih botol air yang kuletakkan di kantong belakang celanaku. Agak sesak sehingga butuh beberapa saat sebelum botol itu lolos.

“MAU MELAWAN? ANJING! KALIAN SEMUA SAMA. DATANG KE SINI. CARI BERITA. LALU PERAS PAK BOS!” Di akhir suara kerasnya itu dia menodongkan pistol. Aku masih berusaha keras meloloskan botol air sialan itu. “MAU MELAWAN, HAH? SAMA PETUGAS KOK MACAM-MACAM!” Dorrrr!

***

Dengan sangat lembut perempuan muda itu mengetuk pintu kamar ibunya. Mereka bertengkar hebat siang tadi. Tentang cita-cita. "Aku mau jadi fotografer, Bu." Kalimat itu membuat ibunya marah. Marah yang panjang dalam nada-nada paling tinggi. Ibunya berteriak-teriak menyampaikan pendapatnya tentang betapa sia-sia cita-cita itu. “Supaya kau mati di hutan?” Pertanyaan ibunya menutup dialog mereka siang tadi dan dia tak ingin tidur sebelum berdamai.

***

Selesai menemaninya menyelesaikan PR, sambil menunggu Ibunya pulang dari bank tempat dia bekerja—hari itu akhir bulan dan Ibunya selalu pulang lebih lama—aku  bercerita tentang dinosaurus. Di hadapan kami halaman buku cerita anak-anak terbuka.

“Benar seperti ini bentuknya, Bapa?” tanyanya dengan jari menunjuk gambar dinosaurus. Kukatakan bahwa para ahli berhasil meminta para seniman untuk mereka-ulang bentuk dinosaurus berdasarkan temuan-temuan mereka.

“Berarti mungkin tidak persis seperti ini,” katanya kecewa.

Baca juga: Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Ketika Ibunya pulang dia bertanya lagi tentang dinosaurus. Perempuan yang sedang lelah itu hanya menjawab sekenanya dan mengakhirinya dengan sabda harian: percaya bapa saja. Usai percakapan tentang dinosaurus, ibunya bercerita tentang seorang kaya yang datang menarik uang dalam jumlah yang banyak di kantor unit mereka.

“Dia mau beli hutan,” katanya.

“Kalau begitu saya nanti hunting ke sana,” kataku.

Mereka, anak perempuanku dan ibunya, setuju setelah kuyakinkan bahwa suatu hari nanti pohon-pohon akan hilang dan berganti dengan rumah-rumah istirahat milik orang-orang kaya.

“Bapa, nanti foto pohon-pohonnya yang banyak, ya. Kalau suatu saat pohon-pohon itu hilang, foto-foto itu bisa jadi bukti. Biar tidak seperti dinosaurus,” kata perempuan kecil itu. Ibunya tertawa.

***

Malam itu mereka bercakap-cakap lebih lama dari biasanya. Di kamar ibunya. Lengkap dengan adegan peluk dan cium; seorang perempuan muda mendengar ibunya.

“Kau bisa jadi apa saja. Jadi wartawan juga bagus. Mungkin kau bisa mencari tahu siapa yang melakukan itu pada bapa,” kata Ibunya.

***

Kau datang padaku. Bercerita tentang pesta pernikahan yang kacau dan perasaanmu yang juga kacau membayangkan menantumu jatuh pingsan di tengah lantai dansa. Kau ceritakan juga percakapan ibu-anak yang baru saja kau saksikan. Kau berjanji akan datang lagi dan lagi.

Sepekan setelahnya beberapa media lokal menurunkan berita tentang pelaku penembakan di tengah hutan yang menyerahkan diri.

Selesai

Hadiah-Hadiah Tiba (Tak) Tepat Waktu

Saya lupa. Hanya itu alasan kenapa saya sering terlambat menyampaikan ucapan pada hari-hari yang penting. Dan itu mencemaskan sekali.
hadiah hadiah tak tepat waktu
Foto: Orind Vitroz

Hadiah-Hadiah Tiba (Tak) Tepat Waktu


Saya kira begitu. Seperti anak-anak sekolah yang bangun terlambat dan berangkat sekolah dengan cemas, hadiah-hadiah yang tiba setelah perayaan selesai akan datang dengan cemas. Seperti hari ini. Kue ulang tahun belum bisa diambil pada jam seharusnya kue itu datang. Yang cemas tentu saja bukan kue itu tetapi saya.

Sesungguhnya bukan kue datang tak tepat waktu. Saya terlambat memesan. Semestinya kemarin. Pada tanggal 27 Agustus. Agar pada pukul 00.00 tanggal 28 Agustus 2019, lilin 38 dinyalakan dan lagu Selamat Ulang Tahun kami nyanyikan. Untuk Celestin. Istri saya yang cantik itu berulang tahun.

Tetapi saya lupa. Dan karena dalam setiap kelupaan harus ada yang disalahkan, maka saya menyalahkan 'kesibukan' (karena saya menolak menyalahkan faktor usia sebab saya belum setua itu juga). Saya memang sibuk. Lumayan sibuk. Agak sibuk. Ah, sesungguhnya tidak sesibuk itu juga. Tetapi toh tetap saja kesibukan harus disalahkan karena tidak ada pihak lain lagi yang harus menerima tuduhan keji dari seorang lelaki yang melupakan hari ulang tahun istrinya.

Baca juga: Paskah di Ruteng, Seorang Perempuan Memakai Gincu yang Lembut

"Pa, mai dulu de," panggilnya dari kamar sedang saya mengurus kuitansi-kuitansi pagi tadi karena pemasok bahan-bahan bangunan datang pagi-pagi sekali. "Iya, Ma," jawab saya lalu bergegas ke kamar. Dia sudah cantik dengan seragam hitam putih karena hari ini hari Rabu dan dia harus segera ke Puskesmas.

"Saya ulang tahun," katanya. Matanya berkaca-kaca. Barangkali terharu bahwa dia tetap sehat dan di usia yang baru tetapi saya pikir, bisa juga karena sedih sebab suaminya lupa menyampaikan ucapan yang dipikirkannya akan ada sejak pukul 00.00 tadi malam sejak dia berdoa syukur atau tadi pagi ketika membangunkan saya.

Saya kaget bukan main. Bukan kaget karena dia ulang tahun (semua orang pasti punya hari ulang tahun) tetapi kaget bahwa setelah sekian tahun berjuang tampil sebagai lelaki yang hebat di depannya, saya tiba-tiba menjadi buruk sekali justru di hari di mana seseorang harus mengawalinya dengan senyum paling ceria.

Saya merasa buruk dan tidak bisa pura-pura. Juga tidak bisa omong apa-apa dan mengatasi kecanggungan saya yang bodoh itu dengan memeluknya. Agar dia tak melihat wajah saya aneh.

"Saya minta maaf, Ma. Selamat ulang tahun," bisik saya kemudian. Lalu memikirkan akan memesan kue. Akan terlambat dari jadwal biasanya yakni pada pukul 00.00 Wita tetapi selalu lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Terima kasih kepada siapa pun yang menemukan kalimat itu pertama kali.

Saya ingat, tahun ini memang hubungan saya dengan hadiah memang seringkali tak tepat waktu. Juli kemarin, ketika usia pernikahan kami bertambah, hadiah yang semula saya rencanakan sebagai kejutan justru datang beberapa hari kemudian. Saya juga terlambat menyadari ulang tahun sendiri tahun ini dan baru sadar ketika pasukan Saeh Go Lino, atas kerja sama yang baik dengan Celestin dan Kaka Rana datang tengah malam dan membawa kue 39.

Aduh. Kita bisa apa selain minta maaf?

Baca juga: Menjadi Lelaki Tanpa Kata

Saya ke toko kue favorit kami sekeluarga. Pesan kue. "Mau tulis bagaimana, Kak? Untuk Istri Tercinta?" tanya pramuniaga di sana. Saya menggeleng. Meminjam pensilnya dan menulis: CELESTIN.

Tentu saja dia adalah istri saya tercinta, tetapi kue itu bukan dari suami untuk istri. Dari semua orang yang mencintainya, yang memandangnya sebagai Celestin yang baik dan mengharapkan semua tetap terbaik untuknya selamanya. Dan terutama, kue itu untuknya, sebagai manusia yang utuh dan merdeka; bukan dalam embel-embel tugas-tugasnya yang lain.

Karena itulah, ketika diminta memilih bentuk kue, saya serahkan pada mereka di toko kue itu. Sebagai seniman, mereka pasti tahu, apa yang tepat untuk seorang perempuan yang berulang tahun pada hari ini. Bukankah seorang seniman tattoo yang hebat merajah punggung kita bukan karena permintaan tetapi karena dia tahu gambar apa yang tepat untuk tubuh kita?

Kami saling berjanji, saya dan si pramuniaga itu, kue akan diambil pukul tiga. Semoga tidak terlambat.

Hanya saja, (sekali lagi) terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali. Termasuk bahwa akhirnya, melalui WA, saya akhirnya mengirim pesan permintaan maaf (bukan karena lupa hari ulang tahunnya) yang terlambat atas banyak hal buruk yang saya lakukan yang telah menyakitkan hatinya. Bukankah sehebat-hebatnya cinta selalu ada saat di mana kita pernah berlaku buruk pada kekasih kita?

Baca juga: Mengunjungi Jakarta itu Baik

Dia balas. Bahwa itu bukan masalah. Bahwa dia senang sekali hari ini. Bahwa Tuhan baik sekali. Bahwa dia sudah minta kado dari Dia agar semua yang dia pikir telah jadi berkat baginya, terutama Miku (begitu dia memanggil saya, dan Rana serta beberapa orang lain juga pernah ikut memanggil saya begitu karena mereka tidak tahu bahwa Miku itu berasal dari suamiku), mendapat kepenuhan berkat seperti yang dia dapatkan selama ini.

Saya senang. Lalu sedih ketika membayangkan bahwa tahun berikutnya saya terpaksa harus share tulisan ini lagi karena (sekali lagi menuduh) kesibukan sebagai penyebab lupa. Tetapi sesungguhnya, barangkali pada situasi tertentu, yang terlambat itu justru yang terbaik. Seperti saya yang terlambat mengenalnya, perempuan yang kini jadi istri saya itu, karena sesungguhnya itulah waktu yang tepat; segala sesuatu indah pada waktunya.

Selamat ulang tahun, Ma!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores