Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Tulisan ini adalah ‘pecahan’ dari tulisan saya sebelumya tentang lagu-lagu yang mengisi berbagai pengalaman hidup saya (tulisan pertama ini akan juga disiarkan di sini, ed). Namun kali ini saya persempit dengan membahas lagu-lagu dari satu penyanyi saja. Dan saya memilih The Carpenters. Mengapa The Carpenters? Mereka kan penyanyi jadul. Karen, si vokalisnya saja sudah meninggal puluhan tahun lalu. Mari, Nyak, Babe, Ncang, Ncing, Asé, Ka’é sekalian, sini duduk berkumpul..Saya jelaskan mengapa..*eh belum boleh ya bikin kerumunan?

The Carpenters | Source: richardandkarencarpenter.com

Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Oleh: Eusebia

Saya sudah akrab dengan lagu-lagu duo ini semenjak masih usia SD (tahun 90-an). Memang, belum banyak lagu-lagu The Carpenters yang saya ketahui saat itu. Wajah kedua kakak-beradik ini pun tak pernah saya ketahui. Maklum, saya mulai mengenal karya-karya mereka melalui VCD karaoke yang klip videonya kalau bukan pemandangan alam ya ciwi-ciwi bule berkacamata hitam yang rambutnya ditiup angin, sedang berjalan dengan gerakan lambat atau merenung di bangku taman atau dermaga.

Saya harap visual tersebut cukup ya..., adik-adikku yang menyebut diri generasi milenial…

Nah, setelah mengenal internet dengan segala kecanggihan yang ditawarkannya, saya pun ‘membalaskan dendam’ untuk menuntaskan rasa penasaran saya akan duo ini; baik tentang lagu-lagunya maupun potretnya. Ah, akhirnya saya tahu seperti apa wajah mereka berdua.

Kembali ke alasan saya memilih The Carpenters sebagai pengisi tema berbagai momen dalam kehidupan saya dalam tulisan ini (ada beberapa penyanyi sebenarnya yang menempati posisi ini tetapi Carpenters tetap no.1). 

Baca juga: Mimpi-Mimpi yang Menepuk Pundak

Pertama, saya sangat menyukai karakter vokal Karen. Mungkin ia bukan penyanyi dengan kemampuan meraih nada tinggi yang luar biasa, tetapi dalam kesederhanaannya bernyanyi saya menemukan bahwa ia sungguh istimewa. Ia bernyanyi dengan indah sekali, tanpa banyak akrobat sebagai penghias aksinya.

Kedua, karena memang lagu-lagu mereka sangat ‘kena’ di hati. Ada yang mengatakan: when you are happy, you enjoy the music, and when you’re sad, you understand the lyrics. Nah, pas banget itu sama saya.

Ketiga, karena Karen ini juga berjasa dalam bidang akademik saya, terutama mengenai ‘pronunciation’ alias pengucapan bahasa Inggris saya. Bagi saya, pronunciation si Karen ini ‘gurih’ sekali (maaf, saya hanya bisa menerangkannya dengan kata tersebut). Setiap kata dalam lagu yang ia dendangkan terdengar ‘manis’ dan ‘sopan’ sekali di telinga saya. Krenyes krenyes begitu. Jadi ketika mendengar lagunya, saya juga berusaha mengikuti caranya menyebutkan kata-kata dalam bahasa Inggris(ya iyalah!). Hasilnya? Menurut guru bahasa Inggris saya sih pronunciation saya bagus. Ini menurut beliau ya... hehehe.. sombong dikit boleh ya… 

Intro tulisan ini kepanjangan ya? Kapan mulai membahas sesuai judul nih? Baiklah, kita ke isi tulisan yang disebutkan di judul ya....

The Carpenters dan Momen Jatuh Cinta


Sebelum jatuh cinta kan pedekate dulu, yakhaan? Nah pas pedekate, ada tuh yang pas lagunya. Judulnya Please Mr. Postman. Hah? Hare gene masih ada yang pake surat-suratan dan nungguin pak pos yang rajin sekali mengantar surat naik sepeda mendatangi semua rumah tanpa memilih miskin dan kaya kring kring pos? Ya... ga gitu juga... 

Pak Pos sekarang sudah digantikan sama aplikasi chat bernama WhatsApp. Surat-suratannya ya lewat bunyi kring si aplikasi. Eh, ada chat yang ditunggu-tunggu dari gebetan yang bikin senyum-senyum sendiri. Membaca obrolan sambil memutar lagu I’ll Be Yours atau Maybe It’s You, tetap sembari tersenyum sama ponsel yang katanya pintar itu. 

Lalu saat ditembak si gebetan lagunya Top Of The World. Namanya orang lagi jatuh cinta, berbunga-bunga, berasa di puncak dunia. Lalu, saat malam datang, wajah si mbak atau mas terbayang terus. Di situlah lagu You’re The one atau Sweet, Sweet Smile. Yah bisa dikatakan saat sedang bahagia begitu, air muka biasanya selalu ceria dan tersenyum. Pokoknya I Can’t Smile Without You, dan tak ingin jauh-jauh dari si pujaan hati. Maunya Close To You terus. Hadeh.... Dasar orang mabuk! Orang yang sedang terbang ke langit, yang entah keberapa tersebut, perlu disuruh mendengar lagu We’ve Only Just Begun; Sayangku.... perjalanan baru saja dimulai, jalan masih panjang.

The Carpenters dan Momen Konflik


Hayo..., siapa yang pernah pacaran tanpa berantem? Saya rasa tidak ada. Konflik, mulai dari yang remeh sampai yang bikin pengen ngacak-ngacak kasur atau lemari pasti ada. Kan konon katanya hubungan yang sehat juga harus ada konfliknya agar kita bisa lebih mengenal satu sama lain eaaaaaaaa. Tapi siapa yang bisa bertahan marah-marahan, diem-dieman

Coba deh dengar lagu For All We Know, Where Do I Go From Here, Rainy Days And Mondays, atau I Won’t Last A Day Without You. Ambil tisu, jongkok di pojokan. Nangis dah tuh sampe mata tinggal segaris. Perasaan baru berapa lama jadian kok bikin kesel. Biarkan Karen dan Richard mengemas perasaan-perasaan itu ke dalam melodi dan lirik yang bikin persediaan air mata berkurang.

The Carpenters dan Momen Perpisahan


Kalau saat berantem persediaan air mata berkurang, pada saat ini air mata rasanya terkuras habis. Mari akui: patah hati itu pasti berat. 

Nah, sebelum berpisah, biasanya, biasanya loh ya, ada masanya di mana hubungan renggang. Di situlah kita berpikir apakah sebuah hubungan layak dipertahankan atau tidak. Lagu Hurting Each Other seperti mewakili perasaan tersebut. Liriknya membuat kita bertanya pada diri sendiri: apakah bisa kita (hah, kita?) berhenti menyakiti satu sama lain? 

Belum cukup galaunya dengan status hubungan yang masih mau dilanjutkan atau tidak? Dengarkan lagu Caught Between Goodbye And I Love You. Dari judulnya sudah ketahuan ya, isinya bakal seperti apa. Setelah lagu ini, biar makin mantap ambyarnya, dengarkan lagu Love Me For What I am. Nah ini! Jleb banget, kena di hati yang lagi perih-perihnya (trus disiram air perasan jeruk; kurang perih apa coba?). 

Fase ini ditutup dengan perpisahan, pokoknya benar-benar berpisah. Akhiri dengan Goodbye To Love. Menangislah sampai puas, asal jangan pernah lupa makan. Hey, kesehatan harus tetap dijaga yakaaan?

The Carpenters dan Momen atau Fase Move On


Move on: melanjutkan hidup tanpa si mbak atau mas yang pernah mengisi hati.

Penting untuk disadari terlebih dahulu bahwa move on bukan berarti mendapatkan pengganti, tetapi lebih ke menerima keadaan. Ikhlas melepas, begitu. Biasanya dalam proses melepas, ada orang-orang yang setia mendampingi dan mendukung setiap usaha untuk bangkit dari keterpurukan. Bisa keluarga atau sahabat. 

Good Friends Are For Keeps merangkum betapa kehadiran orang-orang terdekat dan sahabat dalam masa-masa sulit adalah obat yang sangat manjur dan mampu mengembalikan kepercayaan diri serta kebahagiaan yang hilang. Setuju? Dan kalau saatnya tiba, dan kita siap, orang yang kita nantikan pasti akan datang(dengan cara yang tidak pernah kita duga). Mendoakan hal tersebut juga adalah hal yang baik. 

Seandainya sudah siap, biarkanlah masa lalu menjadi masa lalu yang membuat kita makin dewasa, dan anggaplah kita sedang membuka sebuah buku yang baru dan masih kosong untuk kita tuliskan kisah yang baru. Seperti yang dikatakan Karen dan Richard dalam lagu Make Believe It’s Your First Time; lepaskan kesedihan yang telah berlalu--then is then, now is now.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik...

Hmmm.... Tidak cukup rasanya hanya menyebutkan lagu-lagu di atas. Rasanya masih banyak karya-karya The Carpenters yang harus saya ‘bedah’. Namun menyelesaikan tulisan ini saja sudah membuat saya sedikit pusing dan bingung karena harus mengingat-ingat kembali lagu mana untuk momen yang mana (ya karena saking banyaknya lagu yang harus disortir tentunya).

Akhirnya, untuk menutup ocehan tak jelas saya ini, saya hanya ingin bilang..bilang apa e? Tuh kan bingung lagi. Baik, dengarkan lagu Look To Your Dreams saja. Begitu saja.


Nekang, 13 Juni 2020

Eusebia-Ranting Kayu

Ps: Punya tulisan personal nan asyik seperti ini? Kirim ke [email protected] em. Tirada honor. Tapi kita bisa sama-sama belajar bercerita. Iya to?

Dongeng Brothers Grimm - Hansel dan Gretel

Kali ini kita akan menikmati Hansel dan Gretel. Dongeng yang disiarkan di sini sedapat mungkin adalah penceritaan ulang, bukan pengalihbahasaan, dengan memertimbangkan kenyamanan membaca. Alur asli cerita tetap dipertahankan. 
Tentang dongen Brothers Grimm

Dongeng Brothers Grimm - Hansel dan Gretel


Pada zaman dahulu kala, hiduplah satu keluarga yang bahagia. Terdiri dari Ayah, Ibu, dan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Kedua anak itu bernama Hansel dan Gretel. 

Namun sayang, kebahagiaan keluarga itu tidak berlangsung selamanya. Suatu ketika Ibu mereka meninggal dunia karena sakit. Sejak saat itu Hansel dan Gretel selalu bersedih. Ayah mereka mencoba menghibur dua anaknya itu, namun tidak berhasil. Bahkan ketika Ayah mengambil istri baru dengan harapan akan mampu menceriakan hari-hari mereka, semua hal malah menjadi semakin buruk.

Ibu baru mereka sangat jahat. Dari pagi hingga petang Hansel dan Gretel disuruh terus bekerja. Mereka hanya diberi makan satu kali. Hidup kedua anak itu menjadi semakin menderita.

Ketika musim kemarau tiba, dan keluarga mereka tidak mempunyai pasokan makanan, Ibu baru mengusulkan kepada Ayah agar Hansel dan Gretel dibawa ke hutan. Tinggalkan mereka di sana, katanya pada Ayah. Ayah sangat terkejut mendengarnya.

"Kau ingin anak-anak mati?" Tanya Ayah.
"Kau ini memang bodoh. Kalau kita tidak melakukannya, kita semua yang akan mati!"
Ayah akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena istrinya terus mendesaknya.

Dari balik kamar, Hansel dan Gretel mendengarkan percakapan itu. Mereka sangat ketakutan, dan Gretel pun menangis. "Apa kita akan mati di hutan?" Tanya Gretel. "Aku punya ide," kata Hansel. Dia lalu keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih. Batu-batu itu akan bersinar bila terkena cahaya bulan.

Keesokan paginya Ibu membangunkan Hansel dan Gretel, memberitahu bahwa mereka sekeluarga akan pergi ke hutan. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada dua anak itu. Sambil berjalan Hansel membuang batu kecil putih yang telah dikumpulkannya. Dibuangnya batu-batu itu satu per satu. Karena Hansel berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayahnya menjadi curiga.

"Sedang apa, Hans?" Tanya Ayah.
"Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hans berbohong.


Tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi menjauh dengan alasan akan menebang kayu. Saat itulah Hansel dan Gretel ditinggalkan. Mereka menjadi sedih. Tetapi tak lama.

Di tengah hutan, Hans menemukan seekor kupu-kupu dan mengejarnya dengan ceria. Gretel asyik membuat kalung dari bunga. Mereka semakin gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru. Kelinci, bajing, dan burung-burung kecil. Tanpa terasa waktu berlalu. Matahari pun mulai tenggelam dan hari menjadi gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir. Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hans berkata menenangkan. “Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat," katanya pada adik perempuannya itu.

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon, cahaya bulan menerobos menyinari bumi. Hans segera mengajak Gretel pulang ke rumah, memegang tangannya dan menyusuri jalan tanpa ragu.
"Bagaimana Kakak bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap begini?” Gretel bertanya heran.
“Oh. Batu-batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang. Mereka bersinar karena cahaya bulan. Itu akan menolong kita pulang ke rumah.”

Mereka tiba di rumah dengan selamat. Sang Ibu heran melihatnya dan segera mencari tahu bagaimana dua anak kecil dapat pulang dengan selamat dari hutan yang jauh. Dia akhirnya tahu ketika membuka pintu dan melihat batu-batu kecil putih yang bersinar. Aku tahu cara kalian. Besok kita akan pergi lagi, tetapi kalian tidak bisa mengandalkan batu-batu kecil putih itu lagi, kata Ibu dalam hati. Hansel dan Gretel disuruhnya masuk ke kamar mereka, menguncinya dari luar, lalu tidur.


Keesokan harinya, rencana meninggalkan dua anak itu di hutan kembali dilakukan. Mereka melalui jalan yang lain. Hansel panik karena tidak sempat mengumpulkan batu-batu kecil putih. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti bekal mereka, dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.
Sampailah mereka di tengah hutan dan Ayah dan Ibu meninggalkan mereka seperti sebelumnya. Hansel dan Gretel bermain-main seperti kemarin sampai malam tiba. 

Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah mereka mencari potongan-potongan roti sebagai petunjuk, namun tak kunjung menemukannya. Hansel tidak pernah tahu bahwa jejak yang dibuatnya dengan susah payah, telah dimakan oleh burung-burung kecil.
"Kakak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu?" Gretel berteriak cemas. "Kita akan mati. Aku takut," teriaknya lagi dan mulai menangis.
"Jangan khawatir, Dik. Ibu yang ada di surga pasti menolong kita," Hansel menghibur adiknya sambil berusaha berjalan menembus malam.

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur di bawah pohon. Ketika cahaya matahari mulai bersinar, Hansel dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung. Tiba-tiba mereka mencium aroma masakan yang lezat.

Mereka segera berlari ke arah datangnya aroma lezat itu. Seperti mimpi, mereka melihat rumah kue. Atapnya terbuat dari tart, pintunya dari cokelat, dan dindingnya dari biskuit. Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. 

Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar. “Siapa yang berani memakan rumah kue kesayanganku?” Sesaat kemudian muncullah Nenek Sihir Tua. Wajahnya seram, matanya memancarkan sinar berwarna merah. Hansel dan Gretel segera ditangkap. "Anak-anak yang lezat. Sebagai hukuman karena telah memakan rumah kue kesukaanku, aku akan memakan kalian," katanya sambil tertawa. Tawa yang menyeramkan.

Dengan kasar, Nenek Sihir Tua itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara. Setelah itu ia berkata kepada Gretel, “Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya. Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak."

Nenek Sihir itu sudah tua sekali. Matanya mulai rabun. Pada saat itu Hans dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah. "Tabahlah Gretel. Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita."

Beberapa waktu kemudian, Nenek Sihir Tua mendekati penjara Hans. Dia ingin melihat apakah tubuh Hans sudah menjadi gemuk. “Aku lapar. Sudah seberapa gemuk tubuhmu? Ayo ulurkan tanganmu," kata Nenek Sihir Tua itu di depan pintu penjara Hansel.


Hansel anak yang pintar. Dia tidak kehilangan akal. Ia tahu mata Nenek Sihir Tua itu sudah rabun. Segera diulurkannya tulang sisa makanan kepada Nenek yang rabun itu. Betapa kecewanya Nenek karena Hans tidak bertambah gemuk.

Karena kecewa, ia lalu bermaksud untuk memakan Gretel. Disuruhnya Gretel membakar roti. Ketika Gretel menyalakan api di tungku, Nenek Sihir Tua itu mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel dapat menebak maksud jahat itu. Dengan cepat ia berbalik.
"Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini,” katanya sambil meminta Nenek Sihir Tua itu membantunya. Nenek tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel. Ia pun membuka tutup tungku. Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong Nenek Sihir Tua itu ke dalam tungku.

Nenek berteriak kesakitan. "Tolong. Ini panas sekali," jeritnya. Gretel tidak peduli. Dengan cepat ia menutup pintu tungku. Setelah memastikan bahwa pintu tungku tak bisa dibuka dari dalam, Gretel berlari ke arah penjara untuk menolong Hans. “Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Mereka berpelukan dan berencana segera pergi dari rumah Nenek Sihir Tua itu.

Ketika akan pergi, tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Mereka membawanya serta.
Mereka bergegas tetapi segera berhenti ketika sadar bahwa jalan yang mereka lalu melintas sungai yang besar. Tak ada jembatan, dan sungai sedang banjir. Mereka menjadi bingung. Saat itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul seekor angsa cantik. "Naiklah ke punggungku," ucap angsa itu ramah. Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberangi sungai.

Tidak hanya sampai di situ, angsa menemani mereka dalam perjalanan pulang. Dari langit dia menunjukkan jalan pulang pada Hansel dan Gretel hingga tiba di batas hutan. Tanpa mereka ketahui, angsa itu sesungguhnya adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang.

Pada saat itu, muncullah Ayah mereka yang sangat cemas. “Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi." Lalu diceritakannya bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal dunia. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

Selesai

Disclaimer: Dongeng Hansel dan Gretel yang saja Anda baca adalah hasil tulis ulang berdasarkan sejumlah tulisan dan kisah lisan yang telah didengar dan cukup banyak versi. Bukan terjemahan atau alih bahasa. Pernah didongengkan di LG Corner Ruteng pada kegiatan Sore Cerita - Dongeng untuk Anak.

* * *

Beberapa Cerita di Balik Dongeng Brothers Grimm - Hansel dan Gretel


Hansel dan Gretel adalah salah satu dongeng paling terkenal di dunia. Dongeng ini ditulis oleh Brothers Grimm (Jacob dan Wilhel Grimm) dua penulis kenamaan Jerman di abad ke-19.

Dongeng Hansel dan Gratel ini juga dikenal dengan beberapa judul lain, seperti: Hansel and Grettel, Hansel and Grethel, dan Little Brother and Little Sister. Secara keseluruhan, dongeng ini berkisah tentang dua bersaudara yang diculik oleh seorang kanibal yang hidup di tengah hutan.

Linda Raedisch, penulis The Old Magic of Christmas: Yuletide Traditions for the Darkest Days of the Year (2013) dalam analisisnya menulis kemungkinan tahun asal dongeng dan lingkungan sosial saat ini. Menurut Raedisch, Hansel dan Gratel sangat mungkin berasal dari abad pertengahan pada era the great famine (kelaparan besar).

Pada masa yang berlangsung antara 1315 – 1321, derita kelaparan membuat orang-orang putus asa dan terpaksa meninggalkan anak-anak untuk menjaga diri mereka sendiri. Ada yang bahkan terpaksa melakukan kanibalisme.

Dongeng karya Brothers Grimm ini telah diadaptasi ke berbagai medium, termasuk sebuah opera karya Engelbert Humperdinck pada tahun 1893. Cerita-cerita yang dihasilkan Grimm Bersaudara ini banyak dianggap sebagai kisah-kisah yang tidak ditujukan untuk dongeng anak. Beberapa pemerhati mengemukakan pandangan bahwa kisah-kisah yang ditulis Brothers Grimm pada versi aslinya adalah cerita-cerita yang kejam.

Cerita-cerita Jacob dan Wilhelm Grimm yang dikenal dewasa ini telah mengalam perubahan serius, baik pada ending maupun pada bagian-bagian kejam yang lalu dihaluskan agar dapat menjadi bacaan keluarga. (*dari berbagai sumber)

Mendidik Anak Menjadi Juara atau Menjadi Baik?

Setiap orang tua mestilah berharap agar anak-anak mereka berprestasi cemerlang. Masalahnya adalah, kita akan mendidi mereka menjadi juara atau menjadi baik?




Mendidik Anak Menjadi Juara atau Menjadi Baik?


Ruteng, 12 Agustus 2016

Sembari menikmati makan malam, kami ngobrol. Berdua saja. Rana dan Bapa. Bapa itu saya.


Lino, anak kami yang pertama, sudah tidur. Mama Celestin sedang ke luar kota. 
Saya lalu ditagih, bercerita tentang masa kecil.

Rana, sebagaimana anak-anak yang tak sering pergi ke hutan, selalu terkagum-kagum dengan kisah-kisah kampung; mencari kayu bakar, menanak nasi di tungku, berlari-lari di padang ilalang, atau mencuri gula merah yang disembunyikan Oma Yuli Rego. 

Matanya berbinar mendengar setiap bagian cerita dan tertawa pada babak Armin kecil mendapat sedikit sial karena lumayan nakal.

Malam ini saya ubah sudut pandangnya. Bahwa selain kegemaran mencuri gula merah, Ayahnya ini punya prestasi juga di masa kecil. Maka saya bilang: "Waktu SD dulu Bapa selalu juara." Rana tersenyum. Nah, kau lihat Ayahmu ini pernah keren, kan? Pikir saya dalam hati dengan sedikit bangga setelah menduga bahwa senyum perempuan kecil itu adalah tanda kagum. Tetapi meleset.

Setelah selesai dengan senyumannya, Rana bilang: "Bapa tidak kasihan dengan Bapa punya teman-teman?" Saya jawab tidak, dan tanya kenapa harus kasihan?

Rana menjawab, "Harusnya sesekali Bapa pura-pura tidak tahu, supaya Bapa punya teman yang juara. Biar mereka juga bisa senang."

Agak panjang obrolan kami setelahnya. Juga berisi bagian ketika saya berusaha menjelaskan bahwa juara kelas itu harus diperjuangkan semua pelajar, tidak harus dibagi-bagi seperti dia dan Mamanya yang kadang membawa sepiring nasi untuk seorang dengan gangguan jiwa yang biasa tidur malam di emperan toko dekat rumah kami.

Usaha yang sia-sia. Rana tetap tidak setuju. Mungkin kalau dia nanti SD, dia akan mengerti ketika saya menjelaskannya lagi. Otak diurus kemudian barangkali. Setelah hati.

Setelah semua urusan cerita tentang sang Ayah juara itu, saya berjuang memahami alur percakapan kami. 
Kira-kira begini:
Semua anak berhak bahagia. Kalau menjadi juara adalah kesempatan berbahagia lebih sekali dalam setahun, semua anak berhak mendapatkannya. Tidak boleh ada monopoli juara.

Begitu? Mungkin begitu. Kita bicarakan itu nanti.

Saya lalu ingat bahwa saya sering bilang: ketika dunia telah penuh orang pintar (atau merasa mereka pintar), anak-anak sebaiknya disiapkan menjadi orang baik. (*)

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Blog itu terpaksa ditutup sebab pengelolaannya tidak berjalan sesuai rencana dan kini sebagian besar materinya dipindahkan ke ranalino.id.

Pentas Teater Tradisi Lingko Randang di Ruteng, Baik untuk Anak

STKIP St. Paulus Ruteng membuat terobosan menyenangkan. Dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018 silam, mereka melaksanakan kegiatan menarik di Lapangan Motang Rua, Ruteng

6 Langkah Mengenalkan Budaya Nusantara kepada Anak

Pentas Teater Tradisi Lingko Randang di Ruteng, Baik untuk Anak


Hari Sabtu, 5 Mei 2018, STKIP St. Paulus Ruteng menggelar pentas kolosal di Lapangan Motang Rua Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pentas teater tradisi berjudul "Lingko Randang" tersebut menampilkan cerita tentang Lodok di Manggarai.

Lodok, pola pembagian tanah ulayat menyerupai jaring laba-laba--lodok adalah nama titik utama/tengah, telah dikenal luas sebagai objek wisata Manggarai. Namun, bagaimana persisnya pembuatan suatu Lodok? Seperti apakah nilai-nilai yang melekat dalam bermacam ritual proses tersebut? Bagaimana memaknai Lodok dalam konteks pergaulan dengan kebudayaan lain? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang tertera dalam materi promo panitia (kecuali yang ditulis miring), dijawab dalam aksi gerak, tari, dan lagu, di Ruteng. Di Lapangan Motang Rua. Ratusan mahasiswa terlibat dalam pentas teater tradisi itu. Penulis naskah dan sutradara pentas teater tradisi Lingko Randang ini adalah Rm. Inosensius Sutam.

Romo Ino, demikian dosen STKIP (sekarang Unika) St. Paulus Ruteng ini disapa, menulis naskahnya berdasarkan riset tentang kebudayaan Manggarai yang dilakukannya selama ini. 

Pentas teater tradisi tersebut menyajikan tontonan menarik seperti Caci, Ndundu Ndake, Danding, Sanda, Mbata, dan lain-lain. Pentas Lingko Randang yang dihadirkan dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018 di Kabupaten Manggarai itu menjadi agenda kota yang menarik.

Meski demikian, untuk yang membawa anak-anak mereka, durasi pentas teater tradisi tersebut terbilang lama. Perpindahan satu adegan ke adegan lain tentu saja masih dapat dicepatkan (jika akan dipentaskan kembali). Rasanya, perlu juga memertimbangkan peluang memasukkan 'kejutan-kejutan', baik dalam bentuk gerak pemain atau bunyi musik, jika memang durasi pentas diperkirakan lebih dari satu jam.


Tetapi sebagai pentas teater tradisi pertama di Ruteng, usaha yang dilakukan oleh Romo Ino dan seluruh timnya tampak cukup berhasil. Penonton tampak puas mengetahui: jenis-jenis pukulan gong dan gendang di Manggarai, nama-nama untuk cara memecut larik dan memegang agang dan nggiling dalam tarian caci, serta jenis-jenis tari dan lagu dalam tradisi Manggarai

Ini adalah gerbang pengetahuan yang baik bagi anak-anak Manggarai untuk mengenal lebih dekat budaya mereka. Parade kain-kain songke, bali-belo, sapu (destar), selendang, gong, gendang, larik, agang, nggiling dalam satu pentasan membuat proses belajar menjadi lebih cepat.

Mengenalkan Seni Budaya Nusantara kepada Anak


Sesungguhnya, menyaksikan pentas budaya seperti teater tradisi Lingko Randang yang digelar oleh STKIP (sekarang Unika) St. Paulus Ruteng di Lapangan Motang Rua itu adalah kesempatan yang baik bagi anak-anak untuk belajar.

Ya. Anak-anak yang menyaksikannya akan mulai mengenal, agar kemudian dapat mencintai kebudayaan/seni budaya/tradisi tanah sendiri. Karena itu saya merasa sangat gembira ketika menyaksikan para orang tua yang datang bersama anak-anak mereka pada acara seperti itu.


Selain melalui kegiatan menikmati pertunjukan seni, ada cara lain yang dapat dilakukan sebagai usaha mengenalkan anak pada seni budaya Nusantara. Banyak artikel telah mengulasnya, tulisan ini adalah salah satu pengingat.

Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua agar anak-anak mengenal dan belajar mencintai budaya/tradisi Nusantara.

Satu, melakukan perjalanan. Ini memerlukan cukup banyak biaya. Barangkali. Tetapi bisa juga tidak. Perjalanan pulang kampung saat liburan adalah kesempatan yang baik. Di Manggarai, acara-acara kebudayaan kerap dilaksanakan saat liburan. Selain mengikuti pola panen, pertimbangan musim, dan hitungan-hitungan tradisi lainnya, juga agar seluruh klan bisa mengikutinya. Anak-anak harus diajak serta.

Dua, mengunjungi pameran. Yang seperti ini lebih mudah. Lahirnya Undang-undang Pemajuan Kebudayaan akan melahirkan banyak iven-iven kebudayaan, pameran budaya dan tradisi. Tentu akan baik sekali jika anak-anak diajak berkunjung. Sekolah-sekolah juga bisa merancang agenda khusus, mengunjungi lokasi pameran, sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Siswa-siswi kemudian diminta menceritakan pengalamannya.

Tiga, mendengar lagu daerah. Di setiap rumah, pasti ada koleksi lagu-lagu daerah. Sesekali dimainkan saat family time. Sesekali, Papa dan Mama mesti menyanyikannya. Sebagai lagu ninabobo atau dilagukan saat bermain bersama anak.


Empat, ke museum. Cara ini tentu hanya untuk anak-anak yang tinggal di tempat yang ada museumnya. Museum budaya, tentu saja. Atau setiap kota seharusnya memiliki satu

Lima, melihat pertunjukan seni. Selain pertunjukan live, tayangan-tayangan kebudayaan di televisi, siaran-siaran radio, dan (ini yang paling penting) buku-buku cerita adalah bagian dari 'melihat pertunjukan seni'. Bagaimana pengaruhnya, dapat dilihat pada penjelasan di atas.

Enam, melalui makanan tradisional. Bahwa Bika Ambon itu bukan dari Ambon, Rebok itu olahan tradisional Manggarai, sebaiknya diceritakan pada anak-anak saat mereka mencicipnya. Pada saat yang sama, Papa dan Mama bisa bercerita tentang hal-hal lain tentang kebudayaan di daerah tempat makanan itu berasal. Mudah bukan?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Tetapi blog itu telah ditutup dan demi kepentingan pengarsipan, sebagian besar tulisan yang pernah ada di Blog Ineame dipindahkan ke ranalino.id. Blog Ineame kini adalah sebuah kanal youtube.

Dunia Anak dalam Buku Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu

Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu adalah salah satu buku anak terbaik yang pernah kami baca. Kami itu: saya, Rana, Lino, dan Celestin. Kenapa itu adalah buku anak yang baik sekali. Saya membagi pengalaman itu di sini. Tulisan ini sesungguhnya sudah lama ada, bahkan sebelumnya pernah disiarkan di blog saya yang lain. Blog itu kini 'dimatikan' sebab mengelola dua blog seorang diri ternyata sungguh sulit. *smile 

Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu

Dunia Anak dalam Buku Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu

Buku anak yang baik adalah buku yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak. Buku anak (sastra anak) adalah buku yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat cerita. Dua pengertian tersebut dapat diakses di buku Sastra Anak karangan Burhan Nugriyanto (2010).

Hanya dengan dua pengertian itu saja, dapatlah disimpulkan bahwa Mirah Mini - Hidupmu, Keajaibanmu (selanjutnya Mirah Mini) karya Nukila Amal adalah buku anak, dan merupakan buku anak yang baik. Buku setebal 47 halaman (hardcover) itu diterbitkan pada November 2012 oleh Masyarakat Cipta Indonesia.

Buku ini berisi satu cerita, tentang Mirah Mini dan caranya melihat dunia, yang disajikan dalam dua bahasa, dilengkapi dengan lukisan-lukisan karya Hanafi. Membaca buku ini membawa kita, orang tua dan anak, pada beberapa hal baik sekaligus.

Nukila Amal membantu orang tua mengenal (kembali) hal-hal yang berhubungan dengan dunia dan tumbuh kembang anak. Melalui Mirah Mini, Nukila membantu anak percaya pada kehebatan imajinasi, membentuk empati, mengasihi sesama-lingkungan-alam ciptaan

Pertama, kehebatan imajinasi. Apa yang seorang anak lakukan ketika dia bersedih, kesepian, atau sedang bermain sendiri?

Rana, anak kami mengajak teman-teman imajinernya menemaninya.

"Enu bikin apa?" tanya saya suatu ketika.

"Main dengan teman," jawab Rana lalu meneruskan dialognya dengan seseorang atau sesuatu di kepalanya, menidurkan boneka lalu meminta seseorang atau sesuatu itu membantunya membuatkan susu. Rana selalu tersenyum sepanjang proses itu. Bahagia.

Maka saya lalu mengerti ketika Mirah memegang erat tangan tapirnya pada suatu ketika. Saat itu Mirah Mini bersedih karena orang-orang dewasa tidak 'mengakui' Tapir. Atau ketika Mirah mengagumi bulan yang mengikuti kita--rasa kagum yang dimilik setiap anak.

Bulan di luar jendela mobil, ikut sepanjang jalan pulang dari restoran sampai rumah. Ajaib betul... (hal. 31).

Kedua, membentuk empati. Dalam Mirah Mini, Mirah belajar membangun empati; proses yang tidak bisa diajarkan melalui teori-teori, tetapi dikondisikan agar tumbuh dari dalam diri seseorang. Mirah berhasil membangun empatinya setelah mendengar cerita Mama.

Kata mama, tapir adalah hewan langka. Jumlah mereka tidak banyak, sebab pohon-pohon di huta semakin habis ditebang (hal. 16). Kasihan Tapir, keluarga dan teman-temannya berkurang, terus berkurang, dan berkurang... (hal. 18)

Struktur cerita yang dituturkan Mama membuat Mirah belajar tentang hubungan sebab akibat (rantai lingkungan), yang membuatnya mampu membentuk atau membangun empati. Tapir telah langka, teman-temannya berkurang, dan Mirah memutuskan 'mengangkat' seekor tapir yang bernama Tapir sebagai temannya.

Nukila dengan jelas menawarkan kembali ingatan pada konsep pendidikan: anak belajar dari rumahnya--dikenal dengan istilah pendidikan keluarga. Menurut Hasan Langgulung dalam Manusia dan Pendidikan, Analisis Psikologi dan Pendidikan (1986) ada enam bidang pendidikan yang dapat dikembangkan oleh orang tua, yaitu pendidikan jasmani, kesehatan akal (intelektual), psikologi dan emosi, agama dan spiritual, akhlak, serta sosial.

Ketiga, mengasihi sesama-lingkungan-alam ciptaan. Melalui Tapir, teman imajinernya yang kehilangan hutan dan teman-teman bermain, Mirah belajar mengasihi.

"Tapir boleh tinggal di rumah kita. Semua tapir boleh." Aku bilang pada mama. "Mereka sedikit sama sekali, semua akan muat di dalam rumah." (hal. 21). 

Pada bagian ini saya menjadi mengerti mengapa banyak anak yang ingin mengajak orang-orang yang tidak punya rumah untuk tinggal bersama mereka. Suatu ketika Rana bertanya, "Kenapa kita tidak ajak dia tinggal di kita punya rumah saja, Mama?" Saat itu mereka baru saja selesai mengantar makanan pada seorang dengan gangguan jiwa yang tidur di emperan toko dekat rumah kami. 

Berada dalam peristiwa serupa itu, penjelasan yang baik dan tepat adalah hal yang harus dilakukan agar anak-anak mengerti. "Dia punya rumah, Nak. Tetapi dia mungkin senang tidur di situ. Ada beberapa orang yang senang begitu. Seperti Kaka Rana senang tidur di sofa. Iya, to?"

Baca juga: Cerita Rana - Petir 

Secara keseluruhan, buku anak Mirah Mini karangan Nukila Amal ini bercerita tentang anak kecil berumur lima tahun yang takjub pada segala hal. Dialog mama-anak membangun seluruh cerita. Nukila menempatkan mama sebagai ideal orang-orang dewasa yang barangkali kerap dibingungkan oleh alur pikir anak-anak mereka. 

Bagaimana merumuskan jawaban terbaik agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik adalah sebenar-benarnya tugas orang tua. Meski demikian, pada beberapa bagian, orang tua harus tetap membiarkan anak menemukan jawabannya sendiri. Mirah tidak menceritakan apakah kemudian dia diizinkan mengajak semua tapir tinggal di rumah mereka. Mama tidak memberi jawaban. Juga tidak menghakimi pendapat anaknya. 

Tetapi mama menjawab dengan baik ketika Mirah bertanya tentang mengapa orang-orang dewasa tidak takjub pada semua hal. 

"Mungkin karena sudah sering lihat. Yang ajaib, yang luar biasa, lalu tampak biasa saja." (hal. 38). "Hidupmu, keajaibanmu." (hal 42) 

Meski menjadi salah satu buku favorit saya, karena ditulis dalam dua bahasa dengan diksi yang sama-sama hebatnya pada teks Indonesia dan Inggris, dan karena lukisan-lukisan Hanafi yang ajaib, namun karena lukisan itu juga, pada sebagian besar pembaca anak yang terbiasa dengan gambar kartun, karakter boneka, dan lain-lain yang (terasa) lebih nyata, gambar-gambar ilustrasi dalam buku ini agak sulit diakses. Atau justru sangat baik untuk imajinasi? Entahlah. 

Hal lain adalah bahwa untuk dapat mengakses buku ini, bagi pembaca di pedesaan di Indonesia, akan dibutuhkan narasi lain untuk kesamaan skemata. Restoran, berjalan pada malam hari menggunakan mobil dan melihat bulan dari kaca jendela, dan bahkan tapir sendiri, adalah hal-hal di luar jangkauan anak desa. Bahkan juga orang tuanya. 

Baca juga: Cerita Rana - Benda Kesayangan

Selebihnya, Mirah Mini adalah salah satu cerita anak terbaik--merujuk penempatan sudut pandang anak dalam membangun cerita--yang ada di Indonesia. Rana dan Lino menyukainya. Lino senang dan meminta buku ini dibacakan menjelang tidur malamnya. Buku ini layak mendapat 4,5 dari lima bintang maksimal.

Lino baru dua tahun lebih dan selalu bertanya: kenapa dia, siapa, kenapa, dan apa, pada hal-hal yang sesungguhnya tidak benar-benar tepat konteks. Jika sudah begitu, pekerjaan membacakan cerita menjadi panjang karena harus diselingi dengan bermain, menjelaskan hal lain, menunjuk sana-sini tanpa arah; hal-hal yang membuat seluruh proses terasa menyenangkan. Sudah baca cerita apa untuk anak Anda hari ini? (*)

Salam

Armin Bell | Ruteng - Flores

--

Yang sudah pernah baca Mirah Mini, boleh berbagi pengalaman membacanya di kolom komentar ya.

Buku Harian atau Diary; Sejarah, Pengertian, dan Manfaat

Buku harian barangkali akan jadi kenangan. Buku harian konvensional. Yang terbuat dari kertas, dijilid berlembar-lembar, bergaris, dan belum ditulisi. Dia akan menjadi buku harian atau diary ketika telah diisi. Dengan pena atau pensil dan cerita. Apa itu buku harian?
buku harian atau diary sejarah pengertian dan manfaat
Sejarah Buku Harian atau Diary

Buku Harian atau Diary; Sejarah, Pengertian, dan Manfaat


Ajak anak-anak kita menuliskan setiap peristiwa hidupnya dalam sebuah buku harian atau diary. Berdasarkan pengalaman pribadi--dan kini saya lihat pada anak perempuan saya, buku harian atau diary bermanfaat penting: merawat ingatan, menjaga kesadaran, dan meminimalisir peluang 'mudah lupa'.

Saya jelas sangat dibantu oleh buku harian atau diary dan karenanya berusaha mengisinya setiap ada kesempatan. Saat ini sudah tidak sesering dulu, tetapi usaha mencatat peristiwa-peristiwa penting dengan tulisan tangan di sebuah buku selalu saya lakukan.

Anak perempuan saya mulai melakukannya sejak dia mengenal tulisan dan terus berjuang mengisi buku harian atau diary-nya setiap hari. Tentang mengapa setiap orang harus memiliki buku harian, saya kerap menjawabnya dengan cerita. Sebuah pengalaman pribadi.


Saya Ditolong Buku Harian


Ruteng, 19 Maret 2015

Saya sedang membongkar catatan transaksi via ATM ketika pada salah satu resi tertera nama orang yang tidak saya kenal (atau ingat?). Saya kaget karena jumlah yang ditransfer dari rekening saya cukup besar. Saya tiba-tiba disergap khawatir. Jangan-jangan ATM saya dibajak.

Pertanyaan terbesar ketika melihat nama pemilik rekening tujuan di resi itu adalah: Mengapa saya melakukan transfer kepada orang ini? Saya berulang-ulang berpikir dan tidak bertemu jawaban. Lalu saya ingat, saya adalah penulis buku harian yang masih rajin mengisi diary.
Saya buka buku oranye itu hadiah dari Donnie Dnezco awal tahun 2014 silam, kemudian memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada hari, tanggal dan bulan tempat saya menemukan transaksi mencurigakan di rekening saya itu. 
Taraaaaa.... jawabannya ada. Saya ternyata melakukan transfer untuk sesuatu yang sangat penting dan pemilik rekening penerima yang tak dikenal itu adalah seorang kenalan di dunia maya yang dengan senang hati membantu urusan saya ketika itu. Maka transaksi itu adalah sah dan benar-benar saya lakukan.

Ingatan itu pendek. Demikianlah alasan saya menulis catatan harian sampai hari ini. Cerita itu sampai di sini.

Apa itu Buku Harian?


Buku harian atau diary adalah sebuah catatan pribadi yang berisi peristiwa sehari-hari, apa saja, baik yang dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan.
Yang diceritakan di dalam buku harian adalah segala hal yang tidak ditujukan untuk dikomentari, disukai, atau dibagi-bagi ke banyak orang.
Karena alasan itulah maka sifat buku harian berbeda dengan media sosial. Di media sosial, kita juga menulis apa yang kita rasakan tetapi cenderung ditujukan agar diketahui banyak orang, disukai, diberi tanda love, atau disebarluaskan.

Kita tidak bisa menulis nama orang yang kita benci di media sosial (paling tidak, saya begitu), tetapi kita bisa menulisnya di buku harian. Hal ini jugalah yang membuat buku harian tidak boleh dibaca oleh orang lain. Saya tidak membaca buku harian anak saya, juga sebaliknya.

Cerita atau kisah yang ditulis di buku harian biasanya akan bermanfaat untuk refleksi, pelajaran personal, pembangun kepribadian (setelah membaca ulang teks yang telah kita tulis).


Siapa Orang Pertama yang Menulis Buku Harian?


Orang pertama yang diakui sebagai 'penemu' buku harian adalah Samuel Pepys (1633-1703). Samuel Pepys ini adalah seorang administrator angkatan laut kerajaan Inggris. Kini buku hariannya disimpan di Magdalene College, Cambridge. Karena dianggap sebagai penemu, buku hariannya akhirnya diterbitkan lebih dari seabad setelah Samuel Pepys meninggal dunia, yakni pada tahun 1825.

Ada banyak macam buku harian. Yang paling populer adalah buku atau kertas. Beberapa waktu terakhir, karena perkembangan teknologi informasi yang pesat, banyak orang menulis buku harian yang di perangkat elektronik seperti komputer, smartphone, dan lain-lain.

Beberapa manfaat buku harian atau diary adalah:

  • Mendokumentasikan peristiwa atau kegiatan sehari-hari.
  • Mencurahkan isi hati (curhat), obat stress, meluapkan emosi, menyampaikan keluh kesah, atau mengekspresikan pikiran ke dalam tulisan.
  • Berkreasi. Misalnya, untuk menyimpan suatu karya cerita hasil kreasi pikiran kita agar tidak hilang/lupa.

Tentu saja ada banyak manfaat lain yang hanya dapat diceritakan oleh orang-orang yang memang memilikinya. Ya. Manfaat terpenting buku harian hanya bisa diceritakan oleh orang-orang yang menulis buku harian, bukan? Saya percaya, anak-anak yang memiliki buku harian akan memiliki ingatan yang panjang serta kemampuan memaknai teks dengan lebih baik.

*Materi tentang sejarah dan manfaat diolah dari berbagai sumber.

Salam

Armin Bell - Ruteng, Flores 

Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Dua hal lumayan penting tentang baku olok kita soal demonstrasi omnibus law itu ternyata bisa bikin sedih, mailav!

Foto: Kaka Ited

Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Demonstrasi pecah. Di banyak kota. Yang terbesar adalah di kota-kota besar. Terbesar sebab diberitakan berulang-ulang. Diberitakan sebab memang ramai. Ramai baku jual narasi. Ada yang bilang bahwa aksi itu ditunggangi. Tentu saja sa tir terlalu yakin sebab ini pola yang umumnya dipakai untuk memecah konsetrasi. Ada yang menyesalkan ujung aksi yang anarkis (mereka pakai kata itu untuk menjelaskan bakar-bakar). Sa kira bukan ujung. Ujung aksi, bukankah seharusnya akan berupa keputusan?

Demonstrasi yang sedang ramai, dan menjadi alasan catatan ini dibuat, adalah tentang aksi menolak Omnibus Law. Ada beberapa nama yang disebut juga tentang ini. Cipta Kerja, Cilaka, dan apa? Pokoknya begitu. Ramai. Pro dan kontra. Dan lucu.

Oh, iya. Tulisan ini tidak akan membahas hal-hal teknis tentang seberapa tepat atau tidak tepat undang-undang itu, dan seberapa pantas atau tidak pantas demonstrasi dilaksanakan di tengah pandemi. Bagian terakhir ini agak bikin malas. Bagaimana tidak? Yang omong soal ini adalah mereka yang merasa tirapa-apa ini Pilkada digelar di masa ini padahal pontensi kerumunan massa juga ada. Iya to?

Lalu tulisan ini tentang apa? 

Pertama, Sudah Baca Draf Undang-Undang Itu?


Yup. Ini sa pu soal. Mendadak (atau sesungguhnya sudah disiapkan kelompok tertentu?) dinding-dinding media sosial ramai mengolok-olok para demonstran. Mereka dituding sebagai orang yang terburu-buru bikin aksi padahal Undang-Undang itu tebalnya 900-an halaman. Sa kok agak jengkel ya? Bukan. Bukan agak. Tetapi sangat. Terutama karena sa ju tau kalau yang bertanya seperti itu ju belum baca itu Undang-Undang secara keseluruhan. Draf finalnya memang tirada di publik to? Bukankah aneh bahwa sesuatu yang tidak diketahui publik tiba-tiba disahkan dan yang melakukannya begitu percaya diri bahwa itu untuk kepentingan publik?

Sa kira, salah satu hal yang membuat saya merasa aksi itu baik adalah karena para pelakunya (baca: yang turun ke jalan) ingin meluruskan satu hal penting: kalau itu tentang kami, mari kita bicarakan bersama. Pernah dengar soal public hearing?

Baca juga: Membaca Itu Penting bagi Penulis

Hal lain adalah, sa tir yakin bahwa mereka yang turun jalan itu tir tau apa-apa. Mereka tahu sesuatu. Bahwa draf finalnya tidak muncul ke publik, beberapa orang telah membaca draf awalnya dan menemukan ruang-ruang tak nyaman di sana, ruang-ruang yang harus dibicarakan.

Tetapi saya kira, tidak nyaman juga melihat percakapan tentang 'sudah baca draf undang-undang itu'? Ketidaknyamanan terutama adalah sebab narasi demikian umumnya ditujukan sebagai olok-olok yang datang dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa kepada orang yang lumayan tahu.

Saya lalu menulis status ini di facebook:

Kalau besok kau ngobrol soal Omnibus Law terus ada kaup teman yang tanya tentang 'pasal-pasal spesifik', kau tanya dia juga pertanyaan yang sama. Kalau dia jawab "kan saya yang tanya pertama to"?, itu artinya dia tanyakan itu untuk mengolok-olok dan dia kaget bahwa dia langsung diolok-olok juga. Kita begitu. Tanya sesuatu dengan harapan seseorang terjebak (supaya dengan demikian kita mudah mematahkan pendapatnya) tetapi kita sendiri tidak tahu kenapa kita bela itu barang. Eh, bukan kita. Tapi saya. Saya yang sedang baca sendiri ini status. Saya yang merasa bahwa saya harus sudah selesai baca itu sembilan ratusan halaman baru boleh bersuara. Hihihihi.... Eh... Maapken. Sa ketawa. 900-an halaman? Baca berita sepotong (yang datang dari sumber yang tersistematis) terus kau rasa bahwa yang bersikap berseberangan itu harus baca lengkap? Coba sa pegang kau pu dahi? Kau reaktif barangkali! Reaktif bau tahi. Atau bau kandang babi! Macam sa, yang baca sendiri(an) ini status dan merasa sedang mandi tahi di kakus. Ps: (1).Sesekali, coba lihat komposisi UU. Undang-undang 29 halaman: hal. 1-7 berisi hal-hal umum (menimbang, dll.), hal. 20-29 adalah penjelasan atas pasal-pasal. Yuk, buat persentase; (2).Kalau kau sendiri belum baca itu 900-an halaman lalu merasa pantas menghakimi mereka yang turun jalan sebab menduga mereka terlampau reaktif, sa kira kau harus mandi tahi. Sa tir tahu manfaatnya,tapi di zaman ini kita berhak memberi saran yang kita sendiri tir tahu kegunaannya. Salam.

Status itu penuh kemarahan. Beberapa teman membaca demikian. Barangkali memang demikian. Atau tidak. Atau apa saja.

Kedua, Mahasiswa Sebaiknya di Kampus Saja


Ini adalah yang bikin sa rasa tir tahan sedih. Duh! Lalu saya bikin status facebook lagi. Sebab 'permintaan-permintaan' seperti itu memang ramai di facebook. Semacam ingin menyeimbangkan saja. Sa pikir itu yang sa buat. Melalui status ini:

Kamu tir tau apa-apa. Tirusah ikut itu aksi. Pi kuliah saja. Kita bilang begitu. Sekilas bijak. Sa lihat begitu. Sampai kemudian sa sadar, itu kalimat dorang sedang menjelaskan bahwa di kita pu mata, para mahasiswa itu tir bisa pikir, tir bisa pake mereka pu kepala; kita meremehkan mereka: kita pu anak-anak dan adek-adek dorang. Paling buruk adalah, kita hanya setuju mereka pu kegiatan yang sesuai dengan yang kita pikirkan atau rancang. Kita larang mereka merdeka, kita larang mereka memikirkan sendiri hidup mereka dan belajar akan risikonya. Lalu sa tiba-tiba ingat puisi "Surat dari Ibu". Pergi ke dunia luas, anakku sayang, pergi ke alam bebas...

Besok, barangkali saya akan bikin status lagi. Mungkin yang lebih berdarah-darah atau justru yang bikin kita terbahak-bahak. Sebab pada titik tertentu, hal-hal menyedihkan kadang bisa bikin kita tertawa. Misalnya ada orang yang bodoh sekali dan begitu percaya diri, kita harusnya tertawa. Iya to?

Salam

Armin Bell, Ruteng - Flores

Baca juga: DURENG DI RUTENG DAN ORANG-ORANG YANG MENYERAH

Bagaimana Ivan Nestorman Melihat "World Music"?

Artikel ini ditulis oleh musisi Ivan Nestorman dan disebar via WhatsApp. Tentang bagaimana Ivan melihat world music. Saya menemukannya pertama kali di WAG yang saya dan Ka Ivan sama-sama jadi anggotanya. Membaca artikel ini pertama kali, saya langsung menghubungi seniman kebanggaan kami ini dan meminta agar artikel ini boleh saya unggah ulang di ranalino.id. Beliau setuju. Saya senang. 

Artikel ini berjudul asli "World Music dari Sisi Praktisi", judul yang menjelaskan isi artikel secara utuh: Ivan Nestorman menggeluti 'jenis' musik ini dan ingin berbagi cerita tentang apa yang dia rasa dan tahu tentang world musik ini. Yuk, kita simak!

Ivan Nestorman, Trie Utami, dan Ramlan Ponggo di Toto Kopi | Foto: Kaka Ited

World Music dari Sisi Praktisi

Oleh: Ivan Nestorman

World music adalah rumah, sebuah konsep musik yang memberi ruang kepada musik-musik etnis untuk berkembang dalam konteks industri. World adalah istilah marketing, industrial; terinspirasi World Harmony (harmonia mundi) yang menampilkan musik dari lima benua pada sebuah iven olahraga di Jerman dan juga beberapa iven budaya yang memberi ruang untuk musik-musik non-Eropa tampil.

World music hadir dalam dua kutub yaitu Eropa dan Amerika.

Di Eropa, world music lebih cenderung kepada upaya menghadirkan suatu peradaban musik dunia yang menggabungkan eksotisme oriental dan tradisi oksiden. Eksotisme musik Timur dianggap sebagai energi baru untuk satu sajian hybrid yang bernama suguhan musik dunia (world music); berangkat dari kegelisahan pemusik untuk terus berkarya melampau batas-batas peradaban yang diketahuinya.

Oleh karena itulah, kemudian, world music menjadi rumah, sebuah konsep musik yang mempunyai banyak bilik di dalamnya, seperti jazz yang merupakan sebuah konsep juga, bukan pola irama. Tidak ada irama world music atau irama jazz.

Di Amerika, umumnya istilah world music adalah (untuk) musik-musik dari sisa dunia, budaya lain selain Amerika Serikat. Atau, musik primitif, namun bukan dalam pengertian yang peyoratif, lebih kepada pengertian antropologis.

Baca juga: Ivan Nestorman Bicara tentang Pemajuan Kebudayaan di NTT

Bilik bilik World Music


Begitu beragam kamar kamarnya:

  • Musik indigenous (primitive): Musik-musik asli masyarakat;
  • Kreasi baru atau gaya baru: Contohnya musik Brazilyang dalam bahasa Portugis dinamakan bosanova yaitu upaya menggabungkan jazz dan slow-samba; tokohnya Carlos Jobim;
  • Etnis kontemporer: Suatu penyampaian musik etnis dengan lebih kontemporer, keluar dari pakem yan ada namun meninggalkan nuansa etnis.
  • New Age: Lebih ditandai musik-musik elektronis dengan hadirnya ritmik-ritmik elektronis dari looping-an mekanis atau sampling ritmis. Sesekali dikombinasikan dengan vokal-vokal unik dari bangsa lain, ditempel ke dalam teknologi rekaman. Kitaro merupakan contoh yang kita kenal.

Namun terkadang penamaan suatu genre merupakan hasil kerja tim marketing atau media. Pemusik selalu bekerja dengan hatinya berdasarkan inpirasi yang didapatkannya. Pihak lain yang cendrung melabelisasi dalam frame industri.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik...


Neo Tradisi (dari Sisi Praktisi)


Ini adalah salah satu kamar dalam world music yang saya geluti:

Neo tradisi sejatinya adalah sikap minimalis dalam bermusik dengan upaya memberi interpretasi ulang terhadap motif-motif asli dan terutama memberikan nuansa inovatif di dalamnya. Universalitas rasa digodok.

Pengertian minimalis bisa juga dalam bentuk non-material dengan tidak harus menghadirkan alat-alat etnik asli di dalam penampilannya. Yang diutamakan adalah idealisme nuansa atau spirit yang dihadirkan. 

Misalnya dengan memainkan slendro (kadang kala dieja sebagai saléndro) pada gitar-gitar atau piano dapat juga menghadirkan nuansa etnis tertentu, dan sebagainya. Contoh irama sawah dari drum. Gilang Ramadhan bisa memainkan motif-motif Tebe (Timor) dari puluhan penabuh likurai, misalnya. Banyak contoh lainnya dan hal itu berpulang kepada misi masing-masing pemusik.

Sisi lain dari world music sebagai katalog industri adalah produk yang radio friendly/ramah radio. Mungkin sekarang ramah anak muda. World  music membuka peluang hadirnya nuansa ekspresi genre lain seperti jazz atau reggae/rock, dan lain-lain. 

Di situlah upaya kita menghadapi tantangan dengan membangun keseimbangan antara art dan commerce. Kita tidak melulu memikirkan sisi art tetapi juga sisi commerce. Meskipun itu berpulang pada pilihan masing masing pemusik. 

Di Indonesia, pemusik (baca: world music) berada pada posisi berat; berdiri pada kutub art atau commerce. Seperti orang normal lainnya, para pemusik world music juga berhadapan dengan masalah domestik. Sandang, pangan, papan, tentu saja menjadi kebutuhan dasar hidup. Mempertahankan idealisme di tengah arus kehidupan merupakan pilihan super-berat dari sisi finansial di daerah-daerah. Di situlah 'musik idealisme' itu kadang ditinggal. 

Itulah yang saya jumpai, di Labuan Bajo misalnya. Mengapa?

Ekosistem world music di Indonesia, dalam bingkai industri hiburan, masih belum selesai terbentuk. Dia masih menjadi musik komunitas dengan segelintir penikmat. Masyarakat kita asing terhadap musik tanahnya sendiri. Alhasil, nuansa art harus mengalah pada commerce: banyak  pemusik akhirnya tidak fokus dengan world music.

Baca juga: Sebuah Telepon Pintar, Kumatikan!

Padahal, dari sisi demografi, akan ada saatnya banyak anak muda berubah juga taste-nya. Mereka ingin menukik lebih dalam, dalam pencarian jati dirinya.

Belum adanya label-label khusus yang seperti Putumayo di AS mengakomodasi katalog musik world music di Indonesia juga merupakan kendala tersendiri, belum lagi radio-radio swasta yang tidak memutar lagu berbahasa daerah misalnya; seakan-akan musik etnis itu musik daerah yg hanya boleh diputar di RRI Pro 4. Langkanya sponsorship (kecuali ada hubungan baik) juga jadi kendala dalam menggelar konser-konser. 

Di sisi lain, kita, para pemusik harus memikirkan telinga audiens juga. Ini sedikit dari sisi commerce. Musik etnis kita harus bisa lentur juga, sesuai situasi dan kondisi. Ini perlu kreativitas dan musikalitas yang mendukung agar penguatan nuansa tertentu terjadi. Misalnya, dalam sebuah iven jazz, aransemen etnis diberi nuansa jazz yang cukup. Karena, orang datang menonton jazz, bukan etnis.

Dalam event-event luar negeri, saya menggunakan pendekatan lain lagi. Beruntung karena world music adalah sebuah konsep seperti jazz, happening art bisa saja terjadi sesuai sikon setempat. Kolaborasi bisa menjadi gimmick yang menarik. Contoh rekaman seperti yang saya buat dengan kang Dwiki Dharmawan yang seorang pejazz, dalam lagu "Benggong" pada albumnya. Ketika menyodorkan lagu tersebut, chord-chord jazz saya masukan untuk dasar lagu itu. Namun tentu harus cermat dan hati hati menggarap chord dan harmoninya.

Dalam grup Nera, bersama Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Adi Darmawan, kami padukan instrumentasi modern dengan spirit etnis. Apakah itu ada unsur new age, neo tradisi, bisa saja. Ada pula yang menyebutnya jazz etnis, moderen etno, dan  lain sebagainya.

Pada akhirnya hanya ada dua jenis musik. Musik enak dan tidak enak. Itupun bisa disanggah karena, soal rasa tidak bisa diperdebatkan.


Posisi Tawar World Music pada Destinasi Pariwisata


Indonesia yang beragam budaya musiknya, jelas merupakan sebuah kekuatan di tengah  gelombang musik yang terdengar generik saat ini. Ketika dunia jadi kampung global, identitas diri itu yang justru dipertegas di destinasi wisata kita. Keotentikan musik yang ada niscaya mempunyai posisi tawar yang tinggi. Orang ke Brazil ingin nikmati sambanya boda novanta. Ini membuktikan kekuatan musik lokal itu benar adanya pada sebuah destinasi.

Namun sekali lagi, perlu dipertimbangkan rasa “enak atau tidak”-nya dalam konteks universalitas rasa. Itu dari pengalaman pribadi saya. Referensi perlu terus diperkaya. Niscaya world music bisa jadi tuan rumah di radio-radio kota besar yang merupakan acuan dan referensi musik nasional.

Dari pengamatan terhadap teman-teman di Labuan Bajo atau NTT umumnya, pilihan untuk melakukan world music ini sesuatu yang berat. Dari sekian banyak hotel atau kafe musik yang ada, belum ada yang berani tampilkan musik-musik etnis atau world music. Dari keluhan keluhan mereka, nyata bahwa audiens/pemilik tempat hiburan masih keberatan lagu-lagu etnis dimainkan.

Di daerah pariwisata pantai di Indonesia saya melihat sudah menjadi habitat komunitas musik reggae. Nah itu bisa diolah dgn memasukan unsur tropical reggae itu ke dalam musik etnis. Sebagai salah satu bentuk ekpresi selain jazz atau rock misalnya.

Sebuah kenyataan adalah genre benar-benar melebur dewasa ini menjadi satu musik dunia saja dengan rupa rupa ingredient.(*)

----

Bonus dari Youtube Nestornation Channel