Hadapi Corona, Jaga Jarak (Media) Sosial

Selain fakta bahwa Covid-19 telah menyebabkan ribuan kematian, wabah corona juga telah membuat banyak sekali orang yang hidup dalam kecemasan. Saya mengalaminya dan memutuskan menyembuhkan kecemasan itu dengan menjauh dari media sosial. Ya, saya lakukan social media distancing.
Distance | Foto: Kaka Ited

Hadapi Corona, Jaga Jarak (Media) Sosial


Rasanya, ini adalah masa yang cukup berat dalam hal 'saya dan tulis-menulis'. Saya ingat, beberapa bulan yang lalu membuat niat agar menulis lebih giat. Saya buka lagi draf novel yang telah telantar beberapa tahun lamanya. Mulai menambah seribu sampai seribu lima ratus kata sehari. Mula-mula bisa. Saya percaya diri. Lalu mengkerut karena pada hari keempat saya gagal. Saya tinggalkan (lagi) naskah itu dan beralih ke babak yang lain.

Saya kumpulkan cerpen-cerpen yang sudah selesai. Baik yang sudah disiarkan di media-media, maupun yang sudah saya kirim ke para redaktur tapi tak kunjung dapat balasan--tetapi cerpen itu saya anggap sudah selesai. Lumayan banyak. Bisa jadi dua kumpulan cerpen (dari segi jumlah) tetapi setelah dipisah berdasarkan benang merah tertentu, saya harus: tambal sulam lagi atau bikin tambahan beberapa cerpen 'biar dapat benang merahnya'. Bagian terakhir ini adalah yang paling sulit.

Untunglah saya sedang bersemangat dan cukup percaya diri sehingga dengan segera melakukannya. Sialnya, saya tidak berhasil. Menulis cerpen baru berdasarkan keinginan agar 'benang merah' cerita sesuai dengan sebagian besar cerpen yang hendak dikumpulkan ke satu antologi itu sulit. Kesulitan yang sama selalu juga saya temui setiap kali ingin turut serta dalam lomba-lomba penulisan yang tema-nya telah ditentukan panitia. Lalu saya tinggalkan niat itu (semoga untuk sementara) dan mengerjakan hal lain. Yang juga sulit.

Beberapa waktu lalu, Panitia Lomba Cerpen Bertema Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)--diselenggarakan oleh Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose dan Bacapetra.co--menghubungi saya. Mereka hendak membukukan beberapa naskah peserta lomba dalam satu buku. Saya bersama beberapa penulis NTT yang lain diminta untuk 'sumbang cerpen' agar jumlah cerpennya cukup untuk satu antologi. Saya menyatakan bersedia. Mereka mengeluarkan pengumuman; nama saya ada di sana sebagai 'penulis tamu'. Artinya, saya harus menyumbang satu cerpen. Bertema ODGJ. Saya sudah bilang kalau menulis dengan tema yang disiapkan orang lain itu sulit, bukan?

Baca juga: Jeff Goins: Penulis Tidak Boleh Puas dengan Karyanya

Memang sulit. Tetapi saya berjuang. Hampir selesai cerpen itu ketika datang situasi besar. Coronavirus Disease (Covid-19) menyerang. Seluruh konsentrasi mendadak ditarik ke sana. Mendadak ditarik, barangkali bukan term yang tepat. Sesungguhnya saya, sebagaimana sebagian besar manusia di Indonesia, mau tidak mau akhir-akhir ini, harus mengisi detik demi detik hidup ini dengan percakapan tentang virus corona.

Social atau Physical Distancing, ODP, PDP, APD, Terpapar, Disinfektan, Work from Home, dan beberapa istilah lagi rebut-merebut tempat di kepala saya; menggeser ODGJ, Multiple Personality Disorder, Dissociative Identity Disorder, dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan pengumpulan bahan penulisan cerpen.

Seketika saya panik. Asam lambung naik serentak sebab sumber kepanikannya ada dua. Pertama, Covid-19. Kedua, cerpen ODGJ itu akan gagal. Seolah dua sebab itu belum cukup, media-media berlomba-lomba menulis berita yang judulnya bikin panik. "Gawat! Tenaga Kesehatan Tanpa APD Memadai Urus PDP Covid-19"; "Inilah yang Terjadi pada Paru-Paru Perokok Jika Terjangkit Virus Corona"; "Bertambah Lagi Jumlah ODP Covid-19, Warga Minta Tutup Pintu Kedatangan", dan banyak judul dengan tipe yang mirip.

Judul-judul tadi tidak persis begitu. Tetapi yang saya tangkap, nuansanya begitu. Sebab ketika di-share para netizen, kengerian ditambahkan. Asam lambung saya seperti malas turun. Dan siapa saja yang pernah mengalami 'naik asam lambung' ini pasti tahu bahwa situasi begitu akan dengan segera memicu meningkatnya. Saya menjadi lebih mudah panik.

Baca juga: Information Overload dan Wartawan yang Mati Karena Media Sosial

Suatu malam, setelah selesai membaca satu tautan yang berisi kabar bahwa virus berkembang biak lebih cepat pada kondisi lembab dan gelap, listrik. Gelap total kota kami. Dan Ruteng adalah kota yang selalu basah. Tuhan Yesuuuus. Itu adalah malam paling buruk dalam hidup saya sepnjang bulan Maret tahun 2020 ini. Saya merapal doa. Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, sa habok satukaligus. Kadang tertukar-tukar sebab saya cemas sekali; bapakami yang ada di surga, terpujilah engkau di antara wanita yang disalibkan pada masa pontius pilatus.... Aduh! Ampuni saya, Bapa!

Pagi, saya bangun dengan kondisi yang buruk. Mencuci tangan dengan antiseptik, berulang-ulang, padahal saya baru bangun tidur dan tidak bersalaman dengan siapa-siapa sebelumnya. Beberapa jam setelahnya saya sadar. Ini buruk. Tidak boleh dibiarkan.

Saya lalu memutuskan merunut asal mula kecemasan berlebih itu. Jarang sarapan; saya segera sarapan. Kurang fit; saya segera minum vitamin. Setelah sarapan tentu saja. Baca berita tentang virus corona; saya segera putuskan: hanya baca dari sumber yang tepat dan benar. Saya lakukan semuanya. Hasilnya? Lumayan membaik.

Baca juga: Asal Ikut "Trending Topic", Jalan Pintas Menuju Puncak Kebebalan Bermartabat

Saya kurang waktu di media sosial. Cara itu terbukti ampuh sekali. Saya perlahan kembali ke titik yang baik. Kecemasan berangsur mengurang. Saya lanjutkan beberapa pekerjaan menulis (termasuk menulis catatan ini) dan menyelesaikan utang menulis cerpen ODGJ. Sudah selesai cerpen itu. Paling tidak saya pikir demikian. Kini sudah ada di tangan panitia. Mungkin sedang dibaca editor dan saya dengan santai menunggu saran penyuntingannya.

Meski sesekali sedih, saya juga senang bahwa social atau physical distancing benar-benar dipatuhi oleh kawan-kawan saya. Ketika sedang menulis ini, saya sedang merindukan beberapa teman ada di sekitar meja kerja saya, bernyanyi, curhat, berbagi sopi dan rokok sebagaimana biasa. Tetapi tentu saja kami tidak bisa melakukannya sekarang. Semua harus tetap di rumah masing-masing sampai masa sulit ini selesai. Saya berharap, mereka mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan dan mulai mengatur jarak dengan media sosial. Itu baik. Social Media Distancing. Dan mulailah cari sumber berita yang tepat tentang Covid-19.

Tetap sehat. Tetap jaga penjarakan sosial. Jangan lupa bahwa pandemi ini akan cepat berakhir jika kita sama-sama melaksanakan himbauan tentang protokol kesehatan di masa sulit ini.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan-catatan lain tentang JURNALISTIK dapat dilihat di tautan ini!

Tahbisan Uskup Ruteng dan Betapa Kacaunya Perasaan Saya

Misa Pentahbisan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat akan dihadiri oleh jauh, jauh, jauh lebih banyak dari 30 orang. Ribuan orang yang akan berkumpul. Dari seluruh penjuru negeri. Mengapa kami harus pergi dan mengikuti 'pertemuan' seakbar itu?
Ruteng

Tahbisan Uskup Ruteng dan Betapa Kacaunya Perasaan Saya


Kamis, 19 Maret 2020, kami bersiap-siap ke Gereja Katedral Ruteng. Saya dan istri. Anak-anak tidak kami ajak sebab sebelumnya kami telah tahu bahwa Covid 19 sedang menyebar dan telah disarankan bahwa pertemuan publik yang melibatkan lebih dari 30 orang sebaiknya tidak dilakukan. Di berita-berita tertulis begitu. Beberapa edaran juga begitu. Corona berbahaya. Kita tahu!

Misa Pentahbisan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat akan dihadiri oleh jauh, jauh, jauh lebih banyak dari 30 orang. Ribuan orang yang akan berkumpul. Dari seluruh penjuru negeri. Mengapa kami harus pergi dan mengikuti 'pertemuan' seakbar itu?

Istri saya bertugas di Pojok Sehat. Bersama puluhan tenaga medis lainnya. Mereka, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, diberi tugas untuk memastikan bahwa seluruh protokol kesehatan yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai antisipasi virus corona dapat dijalankan; setiap orang yang hendak mengikuti misa pentahbisan itu wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh dan tangan mereka 'di-hand sanitizer-kan'. Itu protapnya. Tentu saja tidak akan pernah menjamin bahwa segalanya akan beres dengan dua hal itu sebab kita sungguh-sungguh tahu bagaimana corona ini bekerja. Mendapat tugas artinya, Celestin harus ke gereja.

Saya? Mengapa harus ikut juga? Duh... Bagaimana menjelaskannya?

Sejak beberapa bulan silam, saya adalah bagian (kecil) dari perayaan pada hari Kamis ini. Anggota panitia. Yang pada beberapa hari menjelang hari puncak, mau tidak mau, harus selalu ada di lokasi; memastikan bahwa acara berlangsung, memastikan bahwa para tamu duduk pada tempat yang telah ditentukan, memastikan bahwa beberapa pihak yang membutuhkan informasi tentang pentahbisan itu dapat segera memperolehnya dari sumber yang tepat. Semacam penghubung (sebut saja begitu). Artinya, saya harus ke gereja.

Selain 'alasan pekerjaan' itu, menghadiri misa pentahbisan adalah yang utama. Sampai kami menyiapkan diri pada Kamis pagi itu, tidak ada informasi bahwa misa dibatalkan. Beberapa menit sebelum tidur pada malam sebelumnya pun tak ada.

Tak adakah satu saja informasi yang berhubungan dengan Corona dan Pentahbisan Uskup Ruteng ini? Ada.

Satu atau dua hari sebelumnya, Mgr Silvester San, dalam hari-hari terakhir bertugas sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng telah mengeluarkan Himbauan Pastoral. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang wajib diperhatikan. Termasuk tidak bersalaman ketika menyambut tamu yang datang dari jauh; menggantinya dengan mengatupkan dua tangan di depan dada sambil setengah membungkuk. Tidak mengurangi rasa hormat dan tetap menunjukkan keramahan. Hal lain adalah himbauan agar yang sedang 'tidak enak badan' sebaiknya tidak menghadiri Misa Pentahbisan. Poin ini berangkat dari kesadaran bahwa yang imun-nya tidak baik akan lebih mudah terpapar corona. Tak ada yang mampu memastikan bahwa tak seorang pun di misa itu yang adalah carrier, bukan?

Ada juga informasi lainnya, yakni: Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai melakukan pengecekan suhu tubuh dengan menggunakan thermo-gun kepada setiap orang yang masuk ke Kabupaten Manggarai melalui jalur darat, laut, dan udara. Sebuah keputusan yang baik meski juga membuat saya bersedih sebab tak bisa bersalaman dengan Kardinal ketika menyambutnya di Bandara Frans Sales Lega. Demi kesehatan. Juga karena saya berjuang mematuhi protokol khusus yang telah diputuskan.

Baca juga: Saya Novena, Saya Berhasil, Mereka Tertawa

Tiba di gereja, setelah memastikan bahwa tugas saya di bagian awal sudah beres dan misa belum dimulai, saya lihat HP dan di sana ada berita: BNPB meminta agar agenda pentahbisan ini, yang melibatkan ribuan orang, dibatalkan. Saya kaget, sedih, terpukul, dan macam-macam lagi. Negara telah meminta (secara resmi?) tetapi kami melanggarnya. Duh...

Saya cari lebih banyak informasi. Hendak memastikan bahwa larangan itu telah tiba sejak lama dan panitia dengan sengaja mengabaikannya. Tidak ada informasi yang saya butuhkan itu. Belakangan saya tahu bahwa hingga berita itu viral dan beberapa jam setelahnya, tak ada surat seperti itu yang masuk, baik ke panitia, ke Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, pun ke KWI. Barangkali dalam bentuk pesan WhatsApp yang dikirim dan tiba dinihari, sesuatu yang membuatnya menjadi begitu dilematis.

Maksud saya, misalkan benar begitu, bahwa pesan soal larangan menggelar misa itu datang dinihari, bagaimana melaksanakannya?

Pertama, katakanlah Mgr. Silvester San memutuskan untuk melakukan langkah 'pembatalan', pada jam berapakah pada hari Kamis pagi itu pengumuman pembatalan itu disiarkan? Umat-umat barangkali sedang bersiap-siap ke gereja, sedang dalam perjalanan ke gereja, atau bahkan sudah ada di gereja ketika pengumuman itu keluar. Secara publikasi, tentu saja itu (mengumumkan pembatalan sesuai anjuran pemerintah pusat) akan membuat Gereja Lokal Keuskupen Ruteng tampak heroik, tetapi sudah banyak orang berkumpul. Kemungkinan risiko tetap tak terhindarkan.

Kedua, yang terjadi adalah Misa Pentahbisan Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat tetap dijalankan. Dan oleh karena kesadaran bahwa pertemuan besar ini terjadi di masa dunia sedang diserang pandemi Corona, protokol kesehatan (yang telah disiapkan beberapa hari sebelumnya) dijalankan dengan sangat maksimal. Saya berjalan di samping rombongan para imam yang berarak menuju Gereja dan melihat para petugas kesehatan melakukan tugas mereka: menyemprot hand sanitizer ke tangan para imam itu, ke tangan saya, juga ke tangan umat-umat yang mulai berdatangan. Tenaga kesehatan yang memegang thermo gun juga melaksanakan tugasnya.

Misa berlangsung. Agung. Koor menyanyi indah sekali. Saya pikir, saya terharu. Entahlah. Bukankah telah saya ceritakan bahwa perasaan saya kacau? Misalnya, saya senang mendapati berderet-deret kursi yang disiapkan panitia tampak kosong. Banyak yang tidak datang. Mungkin sedang kurang fit dan mematuhi Himbauan Pastoral yang telah disebar sebelumnya. Bisa juga karena kesadaran bahwa mereka tak perlu hadir karena bahaya Corona mengintai. Saya juga sedih membayangkan Gereja Lokal Keuskupan Ruteng akan 'dibantai' di media sosial karena 'tidak pro kemanusiaan'. Saya juga menggoyang-goyangkan kepala dengan riang sebab pukulan gendang pada beberapa lagu liturgi--sebagian besar lagu misa dalam bahasa Manggarai--begitu indah. Campur aduk.

Baca juga: The Two Popes, Naskah yang Hebat dan Dua Aktor yang Sempurna

Saya ceritakan situasi 'perasaan kacau' itu pada istri saya setelah misa. Setelah membaca komentar-komentar (yang telah saya duga sebelumnya) pedas: demi tahbisan uskup, gereja menempatkan ribuan nyawa dalam bahaya. Komentar yang tentu saja secara maksud sangatlah benar, tetapi mungkin, sekali lagi: mungkin, begitu emosional dan terburu-buru. Ada situasi-situasi dilematis. Beberapa orang, atau pihak-pihak yang memiliki otoritas yang tepat pasti akan mampu menjelaskan ini dengan baik. Terutama tentang mengapa gereja mesti menunggu surat resmi? Atau, mengapa yang berkewenangan membuat surat resmi itu tidak menulis surat itu jauh-jauh hari sebelumnya padahal rencana tahbisan ini sudah berulang kali tersiar di berbagai media massa sejak beberapa waktu yang lalu?

Celestin terdiam. Perasaannya tentu saja sedang kacau juga. Jika benar begitu maka saya pasti lebih kacau lagi sebab saya mencintainya dan jika dia bersedih maka saya akan dua kali lebih bersedih berarti dia akan empat kali lebih bersedih lagi dan saya enam belas kali lagi jumlahnya, dan sampai kapan? Tambahkan jumlah kekacauan itu dengan melihat betapa 'ngerinya' kita beradu pendapat tentang peristiwa ini dan lupa bahwa dia sudah terjadi dan seharusnya yang kita pikirkan adalah hari-hari berikutnya.

Ya. Hari-hari berikutnya. Ketika kita, dengan kesadaran masing-masing, memutuskan untuk membuat social distancing; dapatkah kita melakukannya dengan baik?

Hari-hari berikutnya akan sedikit sulit di rumah kami. Beberapa hari sebelum pentahbisan ini, saya dan Celestin bicara tentang hal lain.
"Istirahat dulu praktik, Ma."
"Berapa lama?" Tanyanya. "Saya juga pikir begitu. Sudah ada himbauan juga dari PDGI. Tapi berapa lama?"
Saya terdiam. Berapa lama? Ini pertanyaan yang penting. Istirahat praktik berarti pendapatan rumah tangga akan serentak berhenti. Bagaimana tagihan-tagihan kami? Di lembaga-lembaga keuangan, di toko-toko bahan bangunan, dan lain-lain. Bagaimana beras?

"Pa, saya istirahat praktik mulai hari ini," katanya siang tadi. Setelah Misa Pentahbisan. Dia dokter gigi.
Saya setuju. Tidak juga bertanya: untuk berapa lama?

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, di Koperasi Kita Menolong

Dan, yang tertinggal adalah betapa kacaunya perasaan saya. Bagaimana mengatasinya? Saya kirim pesan WA kepada seorang pastor. Meminta doa. Bukan semata agar 'situasi corona' ini segera berlalu. Yang terutama adalah agar saya tidak hidup dalam kecemasan. Sebab hidup dalam kecemasan itu kacau sekali. Padahal kekacauan akan membuat kita sulit berpikir dengan baik sedangkan pikiran yang baik adalah yang paling kita butuhkan pada saat-saat seperti ini.

Saya tidak tahu bagaimana wajah tulisan ini. Saya ingin sekali menulis peristiwa hari ini dengan jernih. Untuk itu, seharusnya saya mengambil jarak. Tidak segera menulis pada saat ini. Tetapi, Pentahbisan Uskup Ruteng hari ini dan betapa kacaunya perasaan saya membuat saya harus menulis segera. Saya berharap bisa mengalami sedikit kelegaan setelah melakukannya. Setelah mengatakannya. Setelah menuliskannya. Meski barangkali dengan struktur yang amburadul dan dengan perspektif yang tidak jernih. Lalu kita berdoa. Menyembuhkan kecemasan-kecemasan.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kita Punya Pesta Demokrasi Itu Begitu; Tidak Perlu Umbar Pujian atau Cari Muka

Kita punya pesta demokrasi selalu asyik sebab berisi banyak sekali hal-hal menarik.
Kita Punya Pesta Demokrasi Itu Begitu; Tidak Perlu Umbar Pujian dan Cari Muka
Kampanye

Kita Punya Pesta Demokrasi Itu Begitu


Banyak sekali daerah di negeri ini yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan pada tahun 2020 ini. 270 daerah tepatnya. Dengan perincian: pemilihan gubernur dan wakil gubernur sebanyak sembilan, pemilihan walikota dan wakil walikota terjadi di 37 kota, dan masyarakat di 224 kabupaten (diharapkan oleh kakak-kakak kita di Komisi Pemilihan Umum) akan berbondong-bondong penuh sukacita ke tempat pemungutan suara untuk memilih bupati dan wakil bupati kecintaan mereka.

Soal pesta demokrasi, meski istilah ini jadul sekali—diperkenalkan Pak Harto pada tahun 1982 (baca ceritanya di tautan ini) –tetap saja asyik dipakai sampai zaman ini. Sebab selain berbondong-bondong ke TPS pada tanggal 23 September 2020, sejak beberapa bulan sebelum itu, kemeriahan telah terjadi di kantong-kantong pemenangan a.k.a sekretariat para pasangan calon. Sampai larut malam, kadang seperti pesta-pesta nikah di Flores; tembus pagi, kaka!

Kesibukannya macam-macam. Ada tim yang serius mengutak-atik data-data statistik, data hasil utak-atik itu lalu diteruskan di tim khusus yang dipercaya mampu merancang strategi kampanye, rancangan itu di-breakdown menjadi rencana kerja kampanye, dan lain-lain. Tidak lupa pula—bahkan kelompok ini justru yang paling merayakan kemeriahan kesibukan itu—mereka yang datang dengan optimisme setinggi Gunung Ranaka, mengacungkan jempol setiap ada kesempatan bertemu langsung calon yang diusung, dengan kata-kata sakti: kita satu putaran, bapa! Yang dipanggil ‘bapa’ tentu saja angguk-angguk dengan senyum yang bijak sambil berpikir: siapa ini orang bisa ada di sini? “Mereka tim hore, Bapa,” kata saya dari kejauhan. Hadeeeh!

Baca juga: Public Speaking untuk Semua, Bukan Soal Bakat atau Usia

Oleh karena ini adalah pesta dan setiap pesta mestilah berkonsekuensi biaya, maka setiap pasangan calon harus “kuat-kuat modal”. Ungkapan itu, di NTT berarti: siapkan uang yang banyak, bapa!

Berapa Jumlah Dana yang Harus Disiapkan oleh Pasangan Calon dalam Pilkada?


Plt. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, pada bulan Desember 2019 silam mengungkapkan, pasangan calon kepala daerah bisa mengeluarkan biaya ratusan miliar hingga triliunan rupiah untuk biaya pilkada. Beritanya ada di tautan ini--minimal 25 miliar sampai 30 miliar rupiah; itu untuk calon bupati/wakil bupati; yang mau maju di tingkat provinsi lebih tinggi lagi pasti.

Pak Mendagri juga berpendapat sama. Mungkin karena keduanya kerja di kantor yang sama. Eh? "Bupati kalau enggak punya 30 M, gak akan berani. Wali Kota dan Gubernur lebih tinggi lagi. Kalau dia bilang gak bayar, 0 persen, saya mau ketemu orangnya," kata Pak Tito Karnavian di Senayan pada suatu hari di bulan November. Bisa cek di tautan ini.

Lalu bagaimana?

Kita Bagaimana?


Yang saya maksud dengan kita adalah kita bukan saya. Halaaah. Maksud saya, kita di sini, merujuk ke orang-orang kebanyakan: yang datang ke tempat pesta bernama sekretariat dengan modal jempol dan berharap bahwa puja-puji dan kisah optimisme kita (baca: omong kosong banyak) soal ‘kita satu putaran, bapa’ akan menambah kepercayaan diri para paslon yang saldo di rekeningnya berkurang dari hari ke hari.

Apa yang harus kita buat?

Pertama, jangan mengacaukan suasana di sekretariat para pasangan calon jika tidak berani sumbang modal. Kau tidak akan pernah layak disebut tim sukses jika yang kau lakukan setiap hari adalah menyiapkan kalimat pujian baru dan menyampaikannya seolah-olah kau ikut membaca data-data. Sebab, kalimatmu yang ‘kita satu putaran, bapa’ itu sesungguhnya tidak kau yakini sungguh juga, kan? Ini satu putaran menang atau satu putaran ambyar? Ingat! Tak seorang pun dapat memenangkan pertarungan tanpa menguasai medan perang.

Kedua, jika yang ingin kau lakukan adalah menunjukkan kepada para pasangan calon bahwa kau adalah satu dari ratusan ribu orang yang akan memilih mereka bulan September nanti, tidak perlu duduk berjam-jam di sekretariat. Kirim pesan WA saja. Atau collect SMS kalau sedang kurang modal. Itu akan menghemat pengeluaran sekretariat di mata anggaran konsumsi.

Ketiga, sadarlah bahwa pujian tidak akan berkontribusi apa-apa pada pemenangan Pilkada. Daripada menyiapkan pujian untuk paslon, bukankah lebih baik menyiapkan pujian untuk calon pemilih? “Wah, usahamu sudah berkembang besar. Kamu memang hebat! Pasti akan lebih besar lagi kalau nanti bapa (kau sebut nama calon yang kau dukung) terpilih karena salah satu visinya adalah mendukung para pengusaha seperti kamu,” katamu pada seorang pengusaha—yang suara dan modalnya bisa kau ‘tarik’ untuk junjunganmu. Itu namanya bekerja. Ya! Kita-kita ini, yang menyebut diri jadi tim pemenangan, harus kerja.

Paslon Bagaimana?


Selain ‘kuat-kuat modal’ para paslon juga harus ‘kuat-kuat mental’. Pilkada akan penuh dengan intrik. Tiba-tiba saja foto mesramu dengan seseorang yang bukan istri/suamimu beredar di media sosial. Tak ada yang peduli bahwa itu adalah sepupumu, lawan politik akan memakai foto-foto itu untuk menghajarmu. Yang juga harus kalian kuat-kuatkan mentalnya adalah seluruh keluarga. Sebab ‘dosa-dosa’ mereka juga akan jadi komoditas politik. Ini baru satu soal.

Baca juga: Mengenal Tiga V, Komponen-Komponen Penting dalam Public Speaking

Soal lain adalah, dalam hal kuat-kuat modal, tentu saja angka 30 M sebagaimana diramalkan Pak Mendagri tadi tidak bisa kau talangi sendiri. Perlu ada (meminjam Adam Smith) tangan-tangan tak terlihat yang ikut mendukungmu. Bantu-bantu talang, kalau kami di Flores bilang. Yang juga ternyata melahirkan soal lain bernama balas jasa. Dalam hal inilah pasangan calon perlu benar-benar hati-hati.

Pastikan bahwa para pemodal itu tidak datang dari kelompok mafia yang, ketika kalian menang, akan menjadi dalang yang menggerakanmu melawan kampanyemu sendiri. Misalnya, salah satu kampanyemu adalah soal menyelamatkan lingkungan hidup tetapi pemodalmu adalah ‘pemain besar’ di bidang penguasaan lahan perkebunan. Kau bisa apa kalau menang?

Artinya? Modal semangat saja tir cukup, Bapa. Maju Pilkada tidaklah elok jika dasar berpikirnya adalah siapa tahu bisa menang. Kalian harus berusaha menang karena sudah pasti tahu bahwa jika kalian menang, daerahmu (masyarakat dan lingkungannya) akan lebih baik.

Tim Sukses Bagaimana?


Singkat saja. Kita semua sama-sama tahu, apa pun hasil Pilkada, tim sukses akan selalu sukses. Sebab namanya adalah tim sukses. Sedangkan yang bekerja agar menang itu, nama mereka adalah tim pemenangan. Sa kira begitu.

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, di Koperasi Kita Menolong

Duh! Kakak e! Itu hal-hal dorang di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak soal di kitaran perhelatan politik seperti ini. Kadang bikin cemas.

ICW, sebelum Pileg, Pilkada dan Pilpres tahun 2018 silam memprediksi, ada sekitar sepuluh potensi permasalahan yang mungkin terjadi di Pilkada 2018. Mulai dari jual beli pencalonan, politisasi birokrasi, sampai pada praktik korupsi untuk pengumpulan modal. Tentang ini bisa dibaca di tautan ini. Prediksi itu rasanya benar saja sebab setelahnya banyak ‘kasus-kasus demikan’ terungkap. Semoga tak ada lagi yang menyebut ajang ini sebagai pesta demokrasi. Begitu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Saya Novena, Saya Berhasil, Mereka Tertawa

Sejauh mana kau percaya bahwa setiap hal dalam hidupmu digerakkan oleh kekuatan dari luar dirimu, dapat diukur dari reaksimu pada cerita-cerita orang tentang keajaiban yang mereka alami.
saya novena saya berhasil mereka tertawa
Ucique Jehaun

Saya Novena, Saya Berhasil, Mereka Tertawa


Oleh: Ucique Jehaun

Sejak sehari sebelum menulis ini, pikiran saya terusik. Dan kemudian, niat menuangkannya dalam tulisan muncul dalam benak sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor. Hari ini.

Sebelumnya ada cerita dalam sebuah obrolan santai. Ada seseorang, peserta tes CPNS di Manggarai Timur, mendapatkan nilai yang tinggi saat tes dan mengakui bahwa itu dia peroleh karena Novena. Ada yang mendengar kesaksian itu dan tergelak. "Ma'u lako le run ket komputer wale soal hitu (Ya, ya, ya, komputer jalan sendiri jawab itu soal-soal [cynical])," begitu tambahan komentarnya.

Saya tidak tertawa. Sibuk berpikir; mencari bagian mana yang lucu?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan orang yang tertawa itu. Mungkin dia belum pernah merasakan mukjizat dalam hidupnya. Atau pengertian mukjizat baginya sedikit berbeda. Ada yang percaya akan adanya keajaiban berupa gunung batu berpindah dengan sendirinya. Sehingga jika ia penulis dan menulis artikel judulnya sangat click bait.

Saya paham dengan pengalaman yang dialami si pemberi kesaksian Novena. I have experienced uncountable simple miracles in my life semata-mata karena doa. Doa biasa yang sepintas lewat atau memang karena devosi dan novena.

Saya membayangkan beberapa wajah yang saya kenal saat mengetik ini dan akan bilang "ho kole gi suster ho'o (ini lagi ini suster sudah)", sebab belakangan ini memang saya macam nampak religius sekali di facebook dan juga beberapa tulisan.

Baca juga: The Two Popes, Naskah yang Hebat dan Dua Aktor yang Sempurna

"Yang ingin aku katakan adalah ini: sering kita diberi sesuatu yang bisa kita maknai indah secara personal. Keajaiban kecil adalah ketika suatu peristiwa jadi bermakna sebab ia bermakna sesuai dengan sitem atau kepercayaan yang telah hidup dalam diri kita. Jika sepanjang hidupmu kau menyukai bunga seruni, lalu suatu hari kau berlibur di sebuah vila untuk pesta perkawinanmu dan kau melihat seruni bermekaran di bungalow itu, nah, semua itu akan berlipat makna sebagai sebuat keajaiban kecil. Keajaiban hanya bisa difahami oleh mereka yang memiliki sistem makna. Seperti nubuat yang terpenuhi". Ini saya kutip Simple Miracles (Ayu Utami, hal.168).

Baca juga: Menjadi Ketua KBG

Demikian juga dengan saudaraku yang mengakui bahwa dia bisa dapat nilai tinggi pada tes CPNS di Manggarai Timur karena Novena. Bahwa dia melihat bahwa usahanya untuk belajar soal soal TIU, TWK sama seperti orang lain. Bahkan ada orang lain yang jauh lebih pandai, pintar dan punya waktu yang banyak untuk belajar materi dan contoh soal. Dengan novena dia membuka diri dan mengakui kelemahannya. Doa membuat dia percaya diri.

Dia mempunyai sistem makna bahwa doa membantunya menyelesaikan soal-soal tes. Tiap orang mempunyai sistem makna yang berbeda-beda.

It's not you/ it's HIM//  Itulah yang dibilang Armin Bell dalam puisinya berjudul "Upstairs" yang selengkapnya belum saya baca.

Ada juga orang yang sistem maknanya lebih mengena jika pakai bahasa Inggris "when you want something so bad, you really do, the power of the whole universe would help"; kalimat yang barangkali mengingatkan sebagian orang pada The Alchemist-nya Paulo Coelho.

Bagi rasionalitas, tentu saja hal ini hanya urusan kekuatan pikiran, sugesti, atau frekuensi. Hanya masalah teknis dan ada rumusan. Ada juga yang bilang ini tergantung nasib. Kalau sudah sebut kata "nasib" tulisan ini langsung selesai. Apalagi yang mau diargumentasikan? (*)


Ucique Jehaun | 
Tinggal di Ruteng. Anggota Klub Buku Petra. 

===

Tentang Novena 


A novena (from Latin: novem, "nine") is an ancient tradition of devotional praying in Christianity, consisting of private or public prayers repeated for nine successive days or weeks. During a novena, the devotees make petitions, implore favors, or obtain graces by worshiping Jesus Christ, and asking for intercessions of the Virgin Mary or the saints of the faith. Individuals may express love and honor by kneeling, burning candles or placing flowers before for the person represented by a statue. In some Christian communities, the popularity of novenas has waned; in others such as in Africa, Latin America and the Philippines, novena traditions are popular and include devotional rituals such as congregational prayers, statue decoration, hymn singing with music, as well as community fiesta events over beverages, refreshments or processions.[....] | Sumber: Wikipedia.

Di Koperasi Kita Ditolong, di Koperasi Kita Menolong

Kisah Koperasi Kredit dimulai dari abad ke-19. Seorang Walikota di Jerman mengajak orang-orang yang ditolong harus juga menolong orang lain.
di koperasi kita ditolong di koperasi kita menolong
Salah satu kegiatan pelayanan KSP Kopdit Mawar Moe

Di Koperasi Kita Ditolong, di Koperasi Kita Menolong


Banyak sekali orang baik di muka bumi ini yang ingin menolong orang-orang yang berkesusahan. Mereka melakukannya dalam banyak cara. Memberi bantuan langsung, menulis kata-kata penghiburan, juga berdoa/mendoakan mereka yang sedang menderita.

Friedrich Wilhelm Raiffeisen memilih jalan lain. Jalan yang hingga kini dilakukan oleh banyak orang di seluruh dunia: koperasi kredit.

Raiffeisen adalah Walikota Flammersfield. Itu di Jerman. Pada abad ke-19. Negeri itu sedang dilanda krisis ekonomi sebab badai salju sedang melanda seluruh negeri. Para petani tak dapat bekerja, tanaman-tanaman tak menghasilkan, penduduk kelaparan.

Orang-orang kaya di tempat itu memancing di air keruh. Meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi. Banyak orang terjerat hutang, banyak barang milik mereka disita para lintah darat, dan banyak soal yang datang setelahnya, termasuk Revolusi Industri.

Ya. Revolusi Industri datang tak jauh setelah masa sulit itu. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, diambil alih oleh mesin-mesin. Banyak pekerja terkena PHK. Jerman dilanda masalah pengangguran secara besar-besaran.

Sang Walikota merasa prihatin dan ingin menolong kaum miskin. Ia mengundang orang-orang kaya untuk menggalang bantuan. Ia berhasil mengumpulkan uang dan roti kemudian dibagikan kepada kaum miskin, tetapi kita tahu derma tak memecahkan masalah kemiskinan. Kita, seperti juga Raiffeisen paham betul, kemiskinan adalah akibat dari cara berpikir yang keliru. Penggunaan uang tak terkontrol dan tak sedikit penerima derma memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Para dermawan lalu menjadi tak berminat lagi membantu.

Baca juga: Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Raiffeisen tak putus asa. Ia mengambil cara lain. Mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman untuk dibagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Usaha yang juga tak menyelesaikan masalah; hari ini diberi roti, besok sudah habis, begitu seterusnya.

"Bagaimana ini?" Kira-kira begitu Raiffeisen berpikir sebelum akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan: "Kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri. Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama mereka juga. Pinjaman harus digunakan untuk tujuan yang produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam."

Apakah kesimpulan Raiffeisen ini terdengar tidak asing? Jika demikian, maka kalian telah tahu tentang Koperasi Kredit atau Credit Union (CU). Ya. Untuk mewujudkan impiannya soal si miskin menolong si miskin itu, Raiffeisen bersama kaum buruh dan petani miskin akhirnya membentuk koperasi bernama Credit Union (CU): kumpulan orang-orang yang saling percaya.

Dari Credit Union yang dibangun oleh Raiffeisen ke petani miskin dan kaum buruh yang akhirnya hidup baik di Jerman, kini Koperasi Kredit telah menyebar ke seluruh dunia. Di Ruteng, sudah ada lebih dari tiga koperasi kredit dan kami sekeluarga bergabung/menjadi anggota dua di antaranya. Kopdit Florette dan KSP Kopdit Mawar Moe. Saya mau cerita soal yang terakhir ini.

Koperasi Kredit Mawar Moe


Koperasi ini didirikan oleh Ibu Maria Moe (semoga beristirahat dalam kedamaian abadi) bertahun-tahun silam, sebagai wadah bagi beberapa perempuan penenun yang ada dalam dampingannya. Kini, anggota koperasi ini telah mencapai angka 3.000-an. Sebuah perjalanan yang hebat.

Saya bergabung, menjadi anggotanya, sejak tahun 2010. Tahun itu saya menikah, dan kau tahu, rumah tangga baru memerlukan tempat tidur baru, lemari baru, rice cooker baru, dll.

Bersama istri, yang telah lebih dahulu menjadi anggota, saya ke kantor koperasi Mawar. Mendaftar menjadi anggota. Juga membuka rekening pendidikan untuk anak kami yang masih dalam kandungan. Juga mulai berbincang-bincang tentang peluang meminjam.

Singkat cerita, KSP Kodit Mawar Moe menjadi bagian penting dalam perjalanan rumah tangga kami. Iya, kami pinjam uang di sana, membayar cicilan (kadang tidak lancar), menyetor tabungan pendidikan Rana dan Lino, hadir pada RAT, ikut pendidikan anggota, dan lain sebagainya. "Kalau tidak ada ini koperasi, kita pasti sesak napas," kata saya pada istri ketika kami tiba di masa-masa sulit.

Dulu, alasan menjadi anggota koperasi sederhana saja. Agar bisa pinjam uang. Sekarang? Setelah bertahun-tahun bergabung, saya akhirnya tahu, bergabung di KSP Kopdit Mawar Moe membuat saya tiba di babak hidup yang lain: bertambahnya jumlah keluarga. Ya. Keluarga. Sebab koperasi berprinsip dari-oleh-untuk anggota. Maksudnya? Yang saya pinjam adalah uang anggota lain dan seseorang (yang bukan bank) yang meminjamkanmu uang adalah keluargamu sendiri, bukan?

Setelah sekian lama menjadi anggotanya, saya masuk di bursa pengurus. Lalu terpilih. Menjadi Sekretaris. Bersama pengurus baru--Ucique Jehaun juga ada di komposisi itu--kami teruskan apa yang telah dirancang oleh pengurus sebelumnya. Termasuk membangun gedung kantor sendiri setelah sekian lama menumpang di rumah Ibu Maria Moe.

Baca juga:
Belajar dari Danhil Aznar, Kerja Tidak Harus Sesuai Ijazah 
Nuca Lale Taekwondo Club, Medali, Pemerintah, Orang-Orang Baik, dan Koordinasi

Membaca cerita tentang Raiffeisen dan berkaca pada pengalaman sekian lama bergabung di koperasi, saya semakin yakin bahwa ini adalah wadah yang paling tepat bagi seseorang yang ingin menolong orang lain sekaligus mendapat pertolongan mereka. Di koperasi, kita berjejaring dengan semakin banyak orang: saling membantu (dalam kesulitan keuangan). Ada ungkapan begini: mbolot daku caca le meu, mbolot de meu caca laku (kalian membantu mengurai kesulitanku, kesulitanmu akan saya urai/bantu). Baik sekali, bukan?

Hmmm... Agak sulit tentu saja membayangkan kebaikan seperti ini jika kita belum pernah merasakan langsung manfaatnya. Dan, agar bisa merasakannya, kita harus jadi anggotanya. Ya. Menjadi anggota Koperasi Kredit Mawar Moe. Syaratnya mudah saja. Terutama karena koperasi ini dijalankan oleh pihak manajemen yang profesional nan ramah. Yang tidak semata bekerja di garis 'anda nasabah kami pemilik uang', tetapi lebih dari itu, mereka bekerja karena 'kita keluarga'.

Salam
Armin Bell

NB:
Kisah Friedrich Wilhelm Raiffeisen saya olah dari Wikipedia.

The Two Popes, Naskah yang Hebat dan Dua Aktor yang Sempurna

Kehebatan film ini, sekali lagi, saya akui saat memasuki adegan-adegan dengan dialog yang serius di ruangan tempat konklaf dilangsungkan. I am so mesmerized saat mereka berdua saling mengaku dosa.
The Two Popes

"The Two Popes", Naskah yang Hebat dan Dua Aktor yang Sempurna


Oleh: Ucique Klara Jehaun

Begini, saya baru saja selesai nonton "The Two Popes", film yang direkomendasikan oleh dokter gigiku, drg. Celestin. Saya biasanya panggil dia Kaka Etin. Istrinya Kaka Min (pemilik blog ini). Ada beberapa film yang menceritakan tentang seseorang yang mendapatkan rekomendasi dari dokter giginya--atau dokter lain--berkaitan dengan suatu hal, dan it works!

Dan ternyata, sungguh saya belum bisa move on dari film itu. Biasanya film (atau hal lain) yang bikin kita sulit move on berkaitan dengan hal yang personal dan emosional. Misalnya yang bernuansa asmara atau film keluarga. Bukan berarti film yang diangkat dari sandiwara The Pope garapan Anthony McCarten (2017) ini tidak personal. Namun karena ini semacam biography, bahkan tentang Paus, pengganti Santo Petrus di dunia yang menjadi pemimpin 1,2 biliun umat Katolik di dunia, awalnya saya pikir pasti akan sangat "teological".

Jadi, saya memutuskan nonton film ini semata-mata karena penasaran atas rekomendasi plus informasi dari portal berita online tentang film-film yang masuk nominasi Oscar. Saya sudah ajak Bapanya Jilis (suami saya) untuk nonton bareng, tapi dia menolak karena malam sebelumnya kami nostalgia dengan Bruce Willis di "Death Wish".

Saya pun nonton sendirian.

Bagian awal saya langsung senyam-senyum dan memori saya sedikit flashback pada 'Cinema Paradiso' saat adegan seorang pemuda berjalan di gang yang bermural Bunda Maria. Musik latar dan narator (yang ternyata adalah kotbah Jorge Bertoglio) memberi kesan awal bahwa film ini akan asyik. Saya pun mulai serius menikmatinya.

Sepanjang film berdurasi 2 jam 5 menit ini, saya rasanya ingin memorize, bahkan kalau bisa, mencatat hampir semua bagian dialog sebagai quote. Kalau ini adalah buku, pasti sudah saya hilite pake stabilo semua. Luar biasa betul ini script. Detailnya juga membuat saya berpikir: kok bisaaaa mirip betul si Jonathan Pryce dan Anthony Hopkins dengan kedua Paus? Kalau secara fisik, bantuan make-up yang sudah canggih tentu saja tidak terlalu luar biasa bahkan jika aktornya tidak mirip. Tetapi sungguh: ekspresi dan gerak laku--le fa├žon orang Perancis bilang--dari kedua aktor senior ini sudah pada tahap sempurna. Gilaaa... Mirip sekali! Aura Paus-nya dapat! Pas dan natural.

Pikiran konyol--atau barangkali tidak sebenarnya konyol jika dilihat dari kacamata iman--saya bermain-main: memang, kayaknya film yang ada hubungannya dengan Gereja, pasti Roh Kudus turun langsung ke TKP untuk menyempurnakan semua. Ameeeeen!

Baca juga: Rahasia Pengakuan di Katedral Ruteng dalam Analisis SWOT

Ekspresi Benedict XVI saat Jorge bilang kalau siulannya saat cuci tangan di wastafel adalah lagu Dancing Queen, oh-mai-gad, orang yang tidak tahu, bisa menebak bahwa Ratzinger ini orangnya sangaaatttt konservatif. Sebaliknya, Jorge langsung memberi kesan yang menyenangkan dan gaul. Suddenly, at the moment saya merasa terhubung dengan kemanusiaannya Kardinal Jorge. I like him! Saya sudah beberapa kali ngakak sampai pada adegan ini; film ini ternyata tidak seserius judulnya.

Nikmat sekali saya nonton sambil minum kopi satu mug besar, meski sesekali pause untuk mengecek Jilis yang masih lelap; apakah ada peran Roh Kudus juga dalam hal ini yang menginginkan saya menonton film ini? Who knows... Seperti kata Jorge saat baru saja menerima undangan Paus ke Roma: "Tidak ada yang kebetulan, Tuhan sudah atur semuanya."

Si Jorge ini, memang mengasyikkan sekaligus menjengkelkan. Kalau saya di posisi Bapa Paus, saya juga akan merajuk dan lebih baik jalan-jalan sendiri daripada ngobrol dengan orang yang selalu ada jawaban dan bantahan akan segalanya. Penghayatan karakter Anthony Hopkins memang luar biasa. Saya bisa ikut.merasakan betapa menjengkelkannya si Kardinal dari Argentina ini. Paling tidak dengar saja dulu Bapa Suci punya uneg-uneg, baru nanti jawab pas benar-benar ditanya. Toh dia sudah sangat tua. Begitu kira-kira excuse-nya toooo... Hehe.

Namun, keasyikan tokoh Jorge ni tidak serta-merta membuat saya menganggap Ratzinger sebagai antagonis. Saya justru punya pemamahan emosional yang kuat, sebagai pribadi maupun sebagai umat, dengan Paus Emeritus ini.

Ingat adegan di helikopter saat Benedict XVI menyinggung soal kepopuleran Kardinal Bergoglio dan yang disinggung menjawab dengan rileks: "I just be my self". Memang jawaban ini santuy dan normal. Tetapi entah mengapa, saya melihat ada arogansi di sini yang tidak disadari Bergoglio. Saat Benediktus menimpali dengan jawaban yang kira-kira begini: "well, the last time I did that, people don't like me", saya sedih sekali. See? You know what I mean? If you don't, saya hanya mau bilang bahwa Ratzinger adalah orang yang tough--justru dengan pernyataan itu sudah menunjukkan bahwa dia punya penerimaan diri yang sudah sampai di level "embracing my self just the way I am"; perfect!

Dan, sebagai umat, saya bangga bahwa Paus (Emeritus) Benediktus XVI tidak memaksakan dirinya berubah haluan menjadi reformis. Dia tetap orang yang percaya dengan ajaran konservatif, tapi dia yakin bahwa si Jorge yang progresif akan memperbaiki gereja. Duh!

Screenplay bagian dialog-dialog ini, saking kuatnya, membuat saya merasakan beberapa emosi dalam waktu yang sama: marah, jengkel, kaget, setuju, sedih, tersindir, sekaligus tertawa. Jago sekali si McCarten ini! Semacam lumpia--tahu isi juga boleh: isiannya macam-macam tapi dibungkus rapi oleh kulit lumpia. Isinya adalah macam-macam emosi tapi lelucon membungkusnya jadi enak sekali.

IMHO, terlepas dari jokes dan beberapa materi teologi Katolik, film ini bisa dinikmati juga oleh non-Katolik. Bahkan lelucon soal "smoking while praying", rasanya 'mashoookk Pak Ekooo!" Saya jadi penasaran dengan Ordo Yesuit, apakah benar juga kisah tentang tiga saudara Yesuit yang selalu mencicipi hidangan sebelum Paus memakannya?

Baca juga: Travelling Light dan Kekasih dalam Ransel

Saya makin terbawa pada kesukaan saya pada Jorge Bergoglio saat obrolan malam ketika Paus Benedict main piano. Yup! The Beatles. Namun tidak serta merta saya jadi tidak suka dengan Bapa Suci (ampun Tuhan). Saya justru sedih dan meneteskan air mata saat Paus bilang kalau dia lonely. Loneliness yang pahit dan sungguh menyedihkan adalah ketika kau merasa ditinggalkan oleh Tuhan yang kau anggap kuat dan maha segala-galanya.

Biarpun hafal Yesaya 41, seorang Paus tetap 'menyedihkan' saat bertanya-tanya: does He laugh?
Sepele mungkin tapi, bagi saya, bisa jadi Bennedict mundur karena hal ini. Kemudian kita tahu, Jorge tiba-tiba membisu, hilang semua kata-kata dunia persilatan.

Saya menyadari mata saya berkaca-kaca. Seperti melihat Benenedict XVI sebagai kakek yang sangat menyedihkan. Paus juga manusia; mengutip dari film ini: Allah tinggal di dalam kita, tapi kita bukan Allah.

Kehebatan film ini, sekali lagi saya akui, saat memasuki adegan-adegan dengan dialog yang serius di ruangan tempat konklaf dilangsungkan. I am so mesmerized saat mereka berdua saling mengaku dosa. Memang ini diangkat dari kisah nyata, but maaann... Roh Kudus benar-benar turun di atas kepalanya McCarten saat dia tulis ini screenplay.

There are things I hilite after watching this movie, khusus sebagai orang Katolik.

Salah satunya bahwa saya baru paham betul betapa pentingnya kita berdoa bagi Bapa Paus, para imam, biarawan dan biarawati. Jujur, dari dulu saya tahu itu penting tapi dengan pemahaman yang tidak iklas dan tulus, sehingga tidak pernah merasa perlu berdoa untuk ujud ini saat doa pribadi. Sebelumnya saya ikut dalam ujud ini hanya ketika bagian konsekrasi dan kalau doa bersama. Sekarang? Saya juga berusaha menyelipkan dalam setiap doa pribadi: berdoa bagi Bapa Paus, para imam, biarawan dan biarawati.

Salah duanya: sakramen pengakuan itu penting sekali.

Dari semuanya itu, film ini memberi afirmasi bahwa Tuhan itu baik, pengampun, dan penuh kasih. God is funny. God is good and merciful. God is love. (*)

---

Identitas Film

Judul: The Two Popes
Tahun: 2019
Genre: Drama/Comedy
Durasi: 2 jam 6 menit
Sutradara: Fernando Meirelles
Skenario: Anthony McCarten, berdasarkan naskah sandiwaranya sendiri "The Pope" (2017)
Penghargaan: Nominasi Oscar 2019 untuk Best Actor dan Best Actor in a Supporting Role

Deskripsi: Di balik tembok Vatikan, Paus Benediktur XVI dan Paus berikutnya (Fransiskus) harus menemukan landasan bersama untuk membentuk 'jalan baru' bagi Gereja Katolik.

----

Tulisan dalam tema ini dapat disimak di RESENSI.

Tentang Proses Penciptaan Karya Seni; Apakah Tukang Plagiat Itu Bersalah?

Apakah tukang plagiat itu bersalah? Hmmm... Tidak ada yang baru di bawah kolong langit. Tetapi tentu saja tidak berarti bahwa kita boleh mengakui karya orang lain sebagai karya kita. Kenapa? Karena memang tir boleh begitu. Halaaah!
Claudia Febriani Djenadut saat pementasan perdana tarian "Saeh Go Lino Ge" (2015) | Foto: Kaka Ited

Apakah Tukang Plagiat Itu Bersalah?


Yang main facebook dan tinggal di sekitar tempat kami tinggal sekarang, juga yang senang cek-cek whatsapp story tentu saja, bebeberapa waktu terakhir mungkin agak akrab dengan soal penjiplakan karya tari. Pasukan Saeh Go Lino melihat gerakan, ide cerita, konsep busana dan musik yang mereka pilih untuk tarian mereka, dibajak komunitas lain; diunggah ke youtube dan menjelaskannya sebagai 'hasil kreasi' mereka. Dengan segera, video itu jadi percakapan ramai di komunitas kami.

Tentang Proses Penciptaan Karya Seni


Sebelum menduga (atau memastikan?) bahwa video itu adalah jiplakan atas karya yang sudah kami pentaskan sebelumnya, beberapa penari yang pernah membawakan tarian-tarian produksi Saeh Go Lino, bersama koreografer kami Claudia Febriani Djenadut, mengingat-ingat lagi karya cipta tari yang sudah kami buat sejak tahun 2015 silam.

Ada beberapa. Saeh Go Lino Ge, Natas Labar Cama, Naka Naring Mose, dan apa lagi? Lupa. Tetapi saya tahu adalah bahwa dalam menciptakan tarian-tarian itu, Febry bersama tim memulainya dari merumuskan ide cerita, kemudian melakukan riset, lalu merumuskan simbolnya (baik dalam bentuk gerak, musik, maupun busana) pada tarian yang akan diciptakan. Setelah memastikan semuanya--membuat (sebut saja) storyboard hingga pola lantai--barulah proses latihan dimulai, musik di-mix, dan lain-lain.

Yang saya ingat betul adalah ketika hendak menciptakan tarian Saeh Go Lino Ge yang kemudian dipilih sebagai tarian utama (kami sebut anthem) komunitas kami. Video tarian itu sudah ada di kanal youtube Saeh Go Lino dan akan saya sertakan di bagian-bagian akhir catatan ini, di kolom deskripsinya juga disertakan narasi sinposis tarian itu.

Singkat cerita, untuk mendapatkan gerakan mengepak-ngepak sayap untuk tarian itu, kami belajar tentang Ngkiong (Kancilan Flores), burung endemik di Manggarai; kecantikannya, keindahan gerakannya, kebiasaannya, dll. Maka jadilah. Proses penciptaan itu terbantu karena musik yang dipilih adalah lagu Ngkiong Le Poco karya Ivan Nestorman. Tarian ini kami sebut sebagai tarian bumi karena mulai dari kisah penciptaan (pohon-pohon tumbuh), dan untuk itulah, sebagai simbol, pada bagian awal tiga orang penari diam (duduk, rebah). Dua gerakan itulah yang paling sering kami temukan ada di karya orang lain setelahnya. Semoga saja mereka paham maknanya. Atau, jika mereka menginginkannya untuk makna yang lain, semoga berhasil.

Sedangkan untuk tarian lainnya, Natas Labar Cama, kami bercerita tentang satu dari lima hal penting dalam hidup orang Manggarai yakni: Mbaru Bate Ka'eng (Rumah), Uma Bate Duat (Ladang), Wae Bate Teku (Mata Air), Natas Bate Labar (Halaman/Tanah Lapang), Compang Bate Takung (Altar Persembahan). Tarian ini, yang seperti "Saeh Go Lino Ge" juga diciptakan pada tahun 2015, bercerita tentang pentingnya harmoni. Lagu yang dipilih adalah Ngkiong sebuah lagu tradisional Manggarai yang diaransemen dengan indah oleh Ivan Nestorman, dan Cau Lime Taude (diciptakan oleh Ivan Nestorman) dan ada di album milik Tohpati. Relasi muda-mudi diceritakan dalam tarian itu, dan gerakan dansa double step kami pakai di bagian akhir. Pilihan musik ini juga ada di video tari di youtube yang saya ceritakan di bagian awal tadi.

Baca juga: Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Apakah yang mereka lakukan itu plagiat? Barangkali tidak benar-benar diniatkan begitu. Kami bisa saja telah keliru. Tetapi bisa diperhatikan lagi? Fakta-fakta ini: dua gerakan penting pada Saeh Go Lino Ge (mengawali tarian dengan duduk dan rebah), konsep busana/wardrobe daun-daun, dan pilihan musik yang sama persis dengan yang ada di Natas Labar Cama. Dua tarian tersebut telah dipentaskan berulang, termasuk lima kali pada tahun 2015 ketika dua tarian itu masuk dalam pentas Drama Musikal Ombeng. Artinya, tarian itu sudah jadi 'pengetahuan umum' sebagai produksi komunitas kami.

Namun, kami hanya bisa mempercakapkan itu--bahwa karya kami dibajak--karena belum pernah menyiarkan videonya kepada publik. Meski demikian, cukup banyak pihak, yang pernah menyaksikan "Ombeng" atau pementasan kami di beberapa tempat, dengan segera terhubung pada karya komunitas kami itu ketika melihat video youtube itu. Maka ramailah beranda Facebook dan WA-Story. Itu plagiat! Mereka bilang begitu, kami juga berpikir begitu.

Apakah Tukang Plagiat Itu Bersalah?


Ketika tiba di bagian ini, saya sesungguhnya mau sekali bilang: ya! Tetapi mungkin tidak bisa begitu di mata orang-orang yang merasa bahwa menciptakan sesuatu itu sama dengan "kau lihat beberapa orang punya karya lalu kau gabung-gabung lalu kau unggah di youtube lebih awal lalu kau jelaskan bahwa itu karyamu". Begitulah.

Baca juga: Ucapan Terima Kasih Setelah Pementasan Drama Musikal Ombeng

Masih banyak yang merasa bahwa sepanjang tidak mengambil selurus-lurusnya, kau berhak mengakui karya orang sebagai karyamu sendiri. Tentu saja itu bukan soal. Bahkan, itu biasa. Tetapi ada satu hal penting dalam proses mengumumkan karya yang kau ciptakan dari hasil menonton-membaca-mendengar karya orang lain yakni menyertakan nama pencipta pertamanya dalam pengumuman itu.

Apakah kalimat terakhir tadi terlalu sulit dimengerti?

Begini. Ketika kau merayu pacarmu dengan kalimat "aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu", dan pacarmu memelukmu erat karena berpikir kau romantis sekali, kau harus dengan segera mengakui bahwa kalimat itu kau ambil dari puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono.

Atau begini. Ketika kau menulis cerita, tentang seorang pemilik kebun yang membebaskan dua penjaga kebunnya memetik buah apa saja kecuali dari pohon apel di tengah kebun itu, jangan tersinggung dan berapi-api menjelaskan bahwa itu adalah karya orisinalmu ketika ada yang bilang bahwa kau menulis cerita itu berdasarkan kisah Adam dan Hawa di Kitab Suci Perjanjian Lama.

Bisa juga begini. Ketika ada yang setelah menyaksikan video di youtube itu segera menuduhmu membajak tarian Saeh Go Lino, kau tidak perlu repot-repot bilang: siapa yang pertama kali upload di youtube adalah pemilik karya sesungguhnya.

Percayalah! Kita tidak akan pernah menjadi kecil hanya karena tampil dengan karya orang lain. Tidak. Kita hanya menjadi kecil ketika tidak mengerti bagaimana cara memberikan kredit atas proses penciptaan orang lain dan menjadi semakin kecil ketika kita dengan jumawa mengakui karya orang lain sebagai karya kita sendiri.

Di dunia bernama penciptaan karya seni, kita semua adalah 'pencuri' sebab tidak ada yang benar-benar baru di bawah kolong langit. Kami 'mencuri' gerakan burung Ngkiong untuk tarian Saeh Go Lino Ge dan berjuang membuatnya tetap indah kalau tidak bisa lebih indah. Karena jika membuatnya lebih buruk, Sintus, salah satu penari kami pasti akan marah dan bilang: tidak masalah plagiat ka, tapi jangan bikin itu tarian jadi lebih buruk dari aslinya ka deee. Sa setuju!

Selebihnya? Berterima kasih kepada kreator sebelum kita bukan hanya soal sopan santun belaka tetapi terutama adalah penghargaan atas sebuah proses penciptaan. Sebelum sa tutup ini tulisan, kita nonton video tari Saeh Go Lino Ge dulu em.


Bagaimana. Su paham ceritanya? Terima kasih. Selanjutnya, izinkan saya menyiapkan diri untuk menangkis hujatan dari pasukan Saeh Go Lino setelah mereka baca tulisan ini. Mereka akan bilang: kae eee aeh, harus skali tulis dengan sopa-sopan ka? Hiks.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Sebagai bagian kecil dari gerakan besar "save our planet", Komunitas Saeh Go Lino mengisi akhir tahun 2019 dengan menyiapkan kado bernama Kalender untuk Bumi.
saeh go lino dan kalender untuk bumi
Kalender untuk Bumi dari Saeh Go Lino

Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi


Aksi selamatkan bumi terjadi di mana-mana. Di Ruteng, seperti juga di kota-kota lainnya di Indonesia, banyak komunitas yang melakukannya. 


Dalam banyak cara, baik cara-cara lama, cara-cara baru, cara-cara lama yang diperbaharui, semua bergiat di atas satu fondasi yang sama: membuat lingkungan menjadi lebih sehat agar kota semakin layak dihuni dan menjadi tempat tumbuh kembang yang baik.

Saeh Go Lino, sebuah komunitas kecil dengan semangat yang menggebu-gebu untuk berpartisipasi dalam apa saja yang baik, juga sesekali terlibat dalam kegiatan-kegiatan serupa. Pungut-pungut sampah di Gua Maria, bersih-bersih lapangan Motang Rua selepas acara besar di tempat itu, tanam-tanam bunga di beberapa tempat publik agar kota ini lebih indah, dan terutama saling mengingatkan agar setiap anggotanya berlaku baik pada lingkungan: tir buang sampah sembarang, kemasan permen disimpan di saku baju atau celana kalau tidak ada tempat sampah di sekitar, dll.

Namun, tentu saja hal-hal baik tadi belum cukup. Belum cukup besar? Entahlah. Pokoknya, rasanya belum cukup jika ditujukan untuk sesuatu yang lain: membuat bumi tetap baik-baik saja. Perlu ada sesuatu yang lain. Apa itu? Modelnya bagaimana? Apakah kita bisa? Untuk siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu mampir di kepala sejak akhir tahun 2018 silam.

Dalam perjalanannya, beberapa ide mampir. Mulai dari membuat jadwal reguler bakti lingkungan, ikut challenge-challenge yang macam di IG-IG itu, dan masih banyak lagi. Lalu gagal di jadwal. Beberapa orang memutuskan melakukannya sendiri-sendiri. Sembari tetap memikirkan kegiatan bersama yang kira-kira dibuat sesuai dengan apa yang disukai, dapat dikerjakan setiap anggota, dan berdaya-tendang panjang dan luas.

Baca juga: Asyiknya Berkelahi di Era Milenial, Tak Ada Penonton Tak Ada Perkelahian

Hal-hal itu penting: (1) kegiatan yang hendak dipilih haruslah kegiatan yang disukai karena kita sudah terlampau sering melakukan sesuatu dengan terpaksa sehingga meskipun itu sesuatu yang baik tetap saja tir bisa bikin kita bahagia; (2) dapat dikerjakan oleh anggota karena ini community project dan kita harus berhemat anggaran; (3) berdaya-tendang panjang juga perlu dipikirkan agar tidak selesai di linimasa media sosial tapi menjangkau lebih banyak orang.

Kemudian kami melihat kekuatan anggota. Ada fotografer, ada desainer grafis, ada penata tari, ada sutradara, ada perupa, dan masih banyak lagi. Kita buat apa dengan modal manusia-manusia ini?
"Foto-foto!" "Muat di IG!" "Bikin infografis kampanye!" "Tetapi itu biasa!" "Su banyak yang buat!" "Kalau begitu kita bikin kalender!" "Sepakat!" "Kenapa?"

Kalender untuk Bumi


Pertengahan November 2019, diskusi tentang pembuatan kalender dimatangkan. Mulai dari percakapan grup, hingga ke pertemuan di markas. Nama program ini menjadi "Kalender untuk Bumi", dengan alasan-alasan berikut ini.

Pertama, kalender akan dipajang sepanjang tahun, dilihat setiap hari, dan berada di tempat yang sangat strategis di rumah/ruang kerja kita masing-masing. Untuk itu, bentuk kalender itu haruslah menarik: diisi pesan-pesan terkait lingkungan hidup, kutipan-kutipan dari tokoh-tokoh dunia (tentang plastik, tentang bumi, tentang relasi manusia dan lingkungan, dll.).

Kedua, sebab dipasang di dinding, narasi lingkungan hidup itu akan dapat dibaca setiap hari oleh bapa-mama-kaka-ade dan kita semua, pesan-pesan yang dibaca setiap hari akan jadi 'naskah hidup' dan selanjutnya berubah menjadi 'panduan'. Bagi anak-anak sekolah, kalender ini bisa memiliki banyak fungsi, mulai dari latihan membaca hingga merenungi!

Ketiga, kita bisa mengerjakannya dengan biaya yang murah; didanai sendiri. Foto-foto dalam kalender ini, yang fotografer dan modelnya adalah pasukan Saeh Go Lino, adalah foto-foto satire, tentang apa yang mungkin terjadi kalau kita tak peduli lingkungan; setiap foto dan narasi berhubungan tetapi juga dapat dinikmati sendiri-sendiri.

Keempat, bagi Saeh Go Lino sendiri, project ini adalah self-reminder: agar kami tidak semena-mena pada lingkungan.

Seluruh tim terlibat mengerjakannya. Melakukan riset foto (terutama yang berada dalam keyword "stuck in plastic"), merumuskan ide cerita, menentukan tim kerja, mengumpulkan modal produksi, mencari properti pendukung, riset lokasi, hingga penentuan tanggal pemotretan: Jumat, 29 November 2019. Daftar tim kerja tertera di halaman pertama kalender. Macam di poster-poster film dorang.

Kami memilih Golo Lusang sebagai tempat pemotretan setelah tim riset lokasi berkeliling ke seluruh penjuru kota. Tim lain bekerja untuk hal-hal lain termasuk menentukan tempat percetakan, kertas yang akan digunakan, dan hal-hal lain agar kegiatan itu tidak selesai di 'foto-foto' saja. Saya yang mendapat tugas itu dan segera memutuskan Surabaya sebagai tempat kalender ini dicetak sebab saya bisa meminta bantuan seorang teman di sana. Ya, kami bekerja juga dalam dunia jaringan.

Baca juga: Setelah Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam, Ucapan Terima Kasih Ini Ditulis Terburu-buru

Popind Davianus, Pemimpin Redaksi Tabeite.com saya kontak. Dia setuju membantu seluruh prosesnya dengan tambahan pesan: Jangan kasi saya uang bensin, Kae. Sa siap bantu untuk kegiatan baik begini. Dan dia memang melakukannya. Membantu mengurus segala proses percetakannya, pake tahan diap uang untuk depe, berdiskusi tentang jenis kertas yang ramah lingkungan, dll. Saya berutang sepiring nasi babi dan kopi yang benar untuk ini anak atas kerja baiknya. Beberapa orang kemudian ikut terlibat. Ada Rian yang mengurus pengirimannya, dan seorang lagi yang membawa kalender ini ke Ruteng sebab biaya pengiriman lewat jasa pengiriman yang besar ternyata mahal sekali.

Begitulah. Seluruh kerja produksi telah selesai. Kalender untuk Bumi itu sudah ada di Ruteng. Ya! Kalender untuk Bumi, dengan spesifikasi: (1) dicetak menggunakan kertas ramah lingkungan; (2) berisi kutipan tokoh dunia tentang lingkungan dan data kerusakan lingkungan plus upaya mengatasinya, serta foto-foto satire yang dikerjakan fotografer dan aktor Saeh Go Lino; (3) tersedia dalam bentuk kalender meja dan kalender dinding.

Dengan membelinya, Anda berpartisipasi dalam kampanye bersama menyelamatkan bumi, juga mendukung kegiatan komunitas kami. Kontak pasukan Saeh Go Lino sekarang. Kalender ini dicetak 100 eksemplar saja. Dana yang Anda keluarkan adalah 100 ribu rupiah. Di Kalender untuk Bumi ini, selain bertemu pasukan Saeh Go Lino, Anda bisa bertemu dengan cerita tentang Greta Thunberg, John Paul II, Sartre, Joko Pinurbo, data-data kerusakan lingkungan, cara sederhana menyelamatkan bumi, dan lain-lain.

Salam
Armin Bell
Ruteng

Tulisan lain tentang Komunitas Saeh Go Lino dapat dibaca di tautan ini!