Tiga Langkah Mengatasi Patah Hati

Ada banyak cara mengatasi patah hati. Bisa sampai seribu langkah. Kalau pada catatan ini yang muncul hanya tiga, itu karena panduan mengatasi patah hati lainnya disiapkan untuk konten selanjutnya. Eh?
tiga langkah mengatasi patah hati
Dokumentasi Saeh Go Lino Ruteng

Tiga Langkah Mengatasi Patah Hati


Setiap hari pasti ada cerita patah hati di dunia yang fana ini. Beberapa waktu lalu, jumlahnya meningkat drastis menyusul kabar perceraian Song Hye Kyo dan Song Joong Ki. Wajar. Keduanya adalah pasangan kesayangan seluruh penggemar drama Korea dan tidak ada yang pernah menduga bahwa mereka akan berpisah.

Di negeri kelapa ini, jumlahnya bertambah pasca-pilpres sebagai akibat dari beberapa peristiwa: putusan MK menolak semua gugatan BPN Prabowo-Sandi, sesuatu yang sesungguhnya telah dipredi… eh… yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, dan rekonsiliasi yang dianggap mengkhianati proses.

Begitulah. Situasi patah hati biasanya terjadi karena datangnya peristiwa menyedihkan. Misalnya kekalahan, perceraian yang terjadi tanpa pernah kita duga, seorang idola pindah agama, dan lain sebagainya.

Seperti seorang teman saya. Yang meraung-raung meratap sambil menatap senja yang, sepertinya matanya, memerah. Dia menangis dan marah. Menurutnya, kekasihnya telah memutuskan hubungan cinta mereka tanpa alasan yang kuat. Tiba-tiba minta putus.

Baca juga: Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?

Dia merasa kalah dan karenanya sangat menderita. Kurang apa? Untuk apa kami kumpulkan berkarung-karung barang bukti beralbum-album foto romantis jika hasilnya seburuk ini? Kira-kira begitu bunyi protes itu dalam rangkuman.

Dia sampaikan pada saya, setelah sebelumnya dia sampaikan pada pacarnya itu, yang menjawab dengan template: “Su tir bisa diperjuangkan lagi, Kak. Jika dilanjutkan ke mahkamah internasional, kita mungkin akan kehilangan segalanya di masa-masa yang akan datang. Rekonsiliasi juga belum waktunya." Halaaah...

Kita semua mafhum belaka, pertanyaan semacam 'kok bisa?', 'tapi kenapa?', 'apakah bukti cinta saya tak cukup kuat?', hanya akan membuat jawaban super-klasik itu didendangkan berulang-ulang. Kalau toh berubah versinya, paling banter hanya tambahan kata ‘pokoknya’ di bagian awal, atau ‘begitu’ dan ‘sa harap kau mengerti’ di bagian akhir.

Tentu saja situasi atau jawaban seperti itu sulit dimengerti. Sebagaimanapun kerasnya usaha, menerima hasil akhir yang buruk setelah sebuah perjuangan panjang lengkap dengan pengerahan massa dan biaya yang tak sedikit bukan perkara mudah.

Kalau tidak percaya, silakan tanya teman kita yang sudah el-de-er-an sekian lama lalu mendapat undangan pernikahan yang dikirim via WA; nama kekasihnya tertera di sana bersama nama orang lain. Pakai tinta emas pula. Mamamia e. Yang akan jadi reaksi bersama ketika mengetahui cerita seperti itu adalah pertama-tama penghakiman. Kejam betul Song Jong Ki, eh MK, eh maksudnya, kekasih yang seperti itu.

Reaksi yang wajar karena peristiwa-peristiwa tadi sangat tiba-tiba. Meski, kalau mau jujur, tidak ada yang tiba-tiba dalam situasi kalah-menang-jadian-putus-pacaran-nikah-cerai.

Kecuali, sekali lagi, kecuali kalau dulu, ketika awal jadian, kau tidak pe-de-ka-te dulu. Tiba-tiba jadian. Di lorong kampus, bertabrakan dengan seseorang tak dikenal, buku berhamburan, sambil bereskan buku, alih-alih minta maaf kau malah bilang: sepertinya kita cocok deh. mau jadi pacarku? Lalu dia langsung mengangguk dan kalian segera pacaran.

Peristiwa seperti itu mungkin saja terjadi, tetapi tidak umum. Langsung jadian setelah tabrakan pertama itu semacam anomali dari seluruh kisah percintaan yang biasa kita tahu. Tahu anomali, kan? Contoh anomali paling sering diceritakan adalah Bill Gates dan Mark Zuckerberg: drop out dari bangku sekolah tetapi berhasil menguasai dunia.

Baca juga: Tahukah Kamu Siapa Cewek Berbaju Kuning di Video Viral "Will You Marry Me?"

Kalah di sidang MK karena bukti-bukti yang diajukan tidak kuat, eh maaf, maksud saya perceraian dua kesayangan kita di Korea dan peristiwa teman saya diputus secara sepihak itu tentu bukan anomali. Dia bermain di jalur yang umum, seseorang (atau dua-duanya) merasa tidak cocok lagi >> berusaha bertahan >> hampir berhasil >> didoakan agar menang tetap langgeng >> barang bukti alasan untuk bertahan kurang kuat >> tak berhasil.

Harusnya, jika dia bermain di template umum, hasil akhir yang buruk mestilah sudah teprediksi. Artinya, kemungkinan patah hati sudah dapat diduga sehingga cara menghadapinya sudah disiapkan; waktu yang dibutuhkan untuk move-on tidak terlampau lama.

Namun, kenyataannya tidak begitu, bukan? Nasihat-nasihat dalam tema usaha menyembuhkan patah hati akan dijawab dengan kalimat menyedihkan macam: hidup tak semudah cocot-e Mario Teguh. Pasti begitu. Maksud saya, hidup memang tak semudah komentar-komentar Mario Teguh, tetapi move-on, pada beberapa kasus, akan mudah jika tiga hal berikut ini dilakukan.

Pertama, sadar bahwa bukan kita yang rugi tetapi dia!


Ya, jelas! Pikirkan saja begitu. Yang rugi itu pasti dia. Yang meninggalkan kita, orang yang telah setia menjaga hati untuknya, yang telah merelakan segalanya: waktu-biaya-tenaga-ambulans-batu-lengan agar bisa memenangkan hatinya.

Kita semua pasti merasa begitu, kan? Merasa telah menunjukkan bukti terbaik tetapi dicampakkan begitu saja seperti sampah di area open dumping. Nah, orang yang melakukan itu pada kita-lah yang seharusnya bersedih. Bukan kita. Mengapa mereka yang harus bersedih? Karena mereka tak akan lagi mendapatkan orang sebaik kita.

Katakan itu secara terus-menerus. Ya. Dan seterusnya dikatakan. "Kita yang terbaik dan melepaskan kita adalah sebesar-besarnya kerugian!"

Lagipula, kalau kita benar-benar hebat dan telah mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku, ada dua situasi yang seharusnya terjadi: 1) kita tidak akan kalah dan dipermalukan begitu saja, dan 2) kita akan segera dapat yang jauh lebih istimewa daripada sekadar jadi presiden di hatinya. Iya ka tida?

Kedua, hindari hal-hal yang membuat kau memikirkannya


Asli! Ini harus. Untuk apa menyusuri lorong-lorong kenangan di kotamu hanya jika setiap pohon, jembatan penyeberangan, warung pinggir jalan, tembok belakang kampus, kedai kopi, dan lain-lain membuatmu terjatuh dan tak bisa bangkit lagi lalu tenggelam dalam lautan luka?

Kau hanya boleh melakukannya, berjalan ke tempat-tempat itu, bersama seseorang yang lain; yang lebih baik darinya! So? Daripada menangis, berusahalah dengan cepat mendapatkan pengganti. Masa sih ketika dulu kalian pacaran, engkau telah begitu setianya sampai tak sempat flirting dan ditanggapi positif. Hmmm...

Kejar jalan itu secepatnya, Kakak. Atau siapkan lagi strategi yang lebih matang untuk lima tahun berikutnya. Berhenti pakai cara-cara lama. Eh? Apa sih?

Ketiga, tampil sebagai pribadi yang bahagia


Kau membutuhkannya. Selain baik untuk kesehatan fisik dan mentalmu, juga sebagai penjelasan pada seluruh bangsa bahwa kau baik-baik saja, Pak Prab… eh, Song Hye Kyo dan seluruh penggemarnya. Kalau dia meninggalkanmu dalam posisi sebagai orang yang kalah karena niat ingin membuatmu bersedih, dia akan sangat menderita melihatmu bahagia.

Angkat kepalamu tegak. Melangkah dengan penuh kepercayaan diri. Menjadi bahagia kan tidak harus dengan menjadi presiden berada di sisinya senantiasa.

Eitsss... Jangan menangis lagi. Cup cup cup... Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang tiba-tiba, Kakak. Mungkin kemarin, waktu Pemilu hidup bersama, tanpa sengaja, kau telah menamparnya, mencubit terlalu kencang, atau melotot berulang-ulang. Coba diingat-ingat. Jika benar, kekalahan adalah sesuatu yang harus diterima dengan rela. Semangat, Kakak.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Jogja yang Murah dan Sudut-Sudut Kota yang Merindukanmu

Di Jogja, entah bagaimana, semua harga terasa lebih murah dari kota lain yang pernah saya kunjungi. Paling dekat barangkali Malang. Atau keduanya sama?
Jogja. Sa lupa nama tempat ini. Ada yang tahu?

Jogja yang Murah dan Kami yang Kaya


Misalkan harus memilih, apakah Malang atau Jogjakarta, saya pikir saya butuh waktu yang cukup lama untuk memikirkannya. Malang jelas telah punya tempat sendiri di hati saya. Kurang lebih lima tahun tinggal di sana, cari uang makan di kota itu, pernah agak terkenal di udara karena saya pernah jadi penyiar di sana, saya sedang tipu diri kalau bilang tidak ingat itu kota. Asli!

Tetapi Jogjakarta atau Jogja atau kota yang oleh Jokpin disebut terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan itu adalah sesuatu yang juga tidak bisa terlepas begitu saja dari lemari ingatan. Cie cieee... Yang pernah punya 'cerita' di sana pasti agak memerah mukanya sekarang. Tir apa-apa. Sante. Tirada yang liat. Lanjut?

Begini. Tulisan ini tidak akan membuat dadamu sesak karena rindu yang penuh oleh lampu jalan, Malioboro, Amplaz, atau kamar kos, eh?

Saya hanya sedang ingin mengenang cerita dari beberapa kali berkunjung ke sana. Ya. Beberapa kali saya berkesempatan main ke Jogja. Dalam rentang waktu yang cukup panjang di antara setiap kunjungan itu. Tentu saja akan ke sana lagi suatu saat.

Namun yang paling diingat adalah ketika akhirnya berkesempatan mengunjungi kota itu bersama Celestin, Mamanya anak-anak. Ehmmmm... Ini adalah perjalanan yang paling saya ingat, selain karena kami pergi berdua saja (you know what i mean), juga karena itu adalah satu-satunya perjalanan yang seluruh biayanya berasal dari kantong sendiri. Hihihi...

Begitulah. Beberapa kali mengunjungi Jogja, saya jarang keluar uang sendiri. Kalau bukan ditanggung panitia, ya pasti dibiayai teman-teman, atau, ternyata panitia adalah teman-teman sendiri. Banyak yang begitu. Sante sa.

Baca juga: Dari Ruteng ke Jogja ke Borobudur Writers and Cultural Festival

Oleh karena itulah, perjalanan di tahun 2013 itu (What? Itu sudah lama sekali, Roberto!) sejak awal dirancang dengan baik. Maksudnya, merancang waktu liburan yang disesuaikan dengan ketersediaan biaya. Kami tidak ingin jika terpaksa harus pulang jalan kaki karena kehabisan uang. Jalan kaki dari Jogja ke Ruteng dan di tas ada oleh-oleh asbak dari Borobudur. Itu mungkin akan masuk dalam rekor nasional – Pasutri asal Ruteng-Flores berjalan kaki antar-pulau demi menemui anak mereka – tetapi kami tidak ingin begitu.

Pasal biaya inilah yang membuat saya tiba-tiba merindukan Jogja. Saya pikir, Jogja juga merindukanmu. Ya. Semua yang pernah tinggal di Jogja entah untuk berapa lama, pulanglah sesekali ke sana. Tidakkah kalian merindukan angkringan dan musisi jalanan mulai beraksi mengiring lara kehilangan halaaah...

Sebagai orang yang tinggal di Ruteng, yang biaya makan di warungnya lumayan mahal, saya terkaget-kaget ketika istri saya mengajak banyak sekali ade-ade dorang setiap kali kami hendak pergi makan. Jadi su kami pulang jalan kaki ini ta, pikir saya. Tetapi ternyata semua baik-baik saja. Biaya yang biasa kami keluarkan untuk makan berdua di Ruteng (kami biasa sesekali begitu), ternyata bisa untuk traktir cukup banyak orang.

"Mereka punya harga beras di sini berapa, Ma?"
"Tir tau lagi, Pa. Murah im..."
"Iya, Ma. Murah sekali. Berarti sa bisa beli buku cukup banyak im."
"APA? TIDAK! SA PERLU SEPATU!"
"Tapi, Ma. Buku itu penting."
"Kalau ada yang diskon sampai 70%, kita beli."
"Tirada, Ma."
"SU JELAS TO?"

Begitulah kira-kira dialognya. Kami akhirnya beli sepatu. Haissssh....

Demikianlah, di Jogja, kami bisa jalan ke mana saja dengan santai. Terlihat sebagai orang kaya karena selalu bisa traktir Dion, Ronys, Djiboel, Danil, Iwan, Induk, Ican, Endak, Uchy, dan masih banyak lagi. Padahal, asli, kami tir kaya. Itu uang yang dipakai untuk traktir itu adalah uang yang sudah dianggarkan untuk biaya makan berdua; kami pakai standar harga Ruteng dan beberapa kota lain ketika merancangnya.

Kelak, ketika sekali lagi mengunjungi kota itu sendiri, saya juga tetap berlaku sama pada Ronys, Jento, Dion, Fadfad, Andrian, dan Colin. Trakteeeer. Beli bukuuuu. Sambil terngiang-ngiang pesan di telinga: INGAT! SEPATU! Hadeeeeh... Mamanya anak-anak juga tetap bisa tampil sebagai horang kayah ketika mengunjungi kota itu sendiri.

Sampai sekarang, saya tetap merasa, Jogja adalah salah satu destinasi yang ramah kantong. Entah bagaimana pemerintah di sana melakukannya, tetapi rasanya selalu lebih murah biaya hidup di Jogja daripada di kota-kota lainnya. Seperti di Malang, kira-kira. Ya. Secara biaya.

Karena alasan itu, saya kira, dalam setiap pencarian dengan kata kunci destinasi wisata murah di Indonesia, Jogja ada di urutan pertama dan Malang ada di urutan berikutnya. Tidak jauh. Bisa cek di sini dan di sini.

Yang mengherankan adalah, kenapa keramahan biaya seperti itu tidak bisa diterapkan di tempat lain padahal kita masih sama-sama Indonesia? Tentu saja akan ada yang dapat menjelaskannya secara rinci; soal ekonomi makro dan mikro, pasokan bahan, jalur distribusi, dan lain sebagainya. Tetapi, bisakah kita belajar dari sana?

Jika biaya barangkali adalah soal lain yang rumit, keramahan adalah soal penting yang harus dipelajari. Saya dan Celestin tidak merasa sebagai orang asing di kota itu. Karena itulah saya selalu berusaha membuat siapa saja yang berkunjung ke Ruteng tidak diperlakukan sebagai orang asing. Memangnya bagaimana?

Begini! Setiap orang wajib mendapat harga yang sama, apakah dia baru berkunjung atau sudah lama tinggal di sini. Itu berlaku untuk semua. Dari ojek, penginapan, kopi, dan lain-lain. Jangan karena yang datang itu 'muka baru', kita mulai pasang harga lebi-lebi. Itu namanya cari untung sembarang. Jangan begitu!

Baca juga: Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Setiap orang yang melakukan perjalanan, tidak melakukannya karena dia telah kaya. Tidak. Dia ingin menikmati suasana yang lain. Dan karenanya dia menabung. Menghitung seluruh biaya hidupnya di lokasi yang hendak dikunjunginya secara cermat dan membawa uang yang cukup untuk itu. Cukup, ya. Bukan berlebih. Karena itu, ketika mereka merasa dirampok akibat kebijakan harga sekenanya karena model cari untung sembarang tadi, dia tidak akan berkunjung lagi. Su mengerti?

Kalau belum, mungkin kau perlu jalan-jalan. Ke Jogja-lah sesekali. Lalu kau akan pulang dengan rindu pada angkringan yang murah. Yang membuatmu tampak kaya, sebuah perasaan yang membuatmu liburanmu akan terasa lebih menyenangkan.

"Ma. Asyik ini liburan im."
"Iya. Menyenangkan."
"Kita liburan dalam rangka apa, Ma?"
"Wisudanya Djiboel tah!"
"Oooo... makanya kita traktir dia terus im. Maka dia lagi yang pilih menu. Issshhh!"

Begitulah. Di Jogja, kami merasa senang. Jogja juga seharusnya merasa senang karena kami termasuk orang yang tertib sampah. Setiap kota pasti senang jika yang berkunjung tidak menyampah di sembarang tempat. Bukankah begitu? Harusnya begitu!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kita, Anti-Asing Tetapi Tetap Cinta

Sejak zaman dahulu kala, anti-asing sering sekali dibicarakan. Sebagai narasi perlawanan, kata berdikari digelorakan. Berdiri di atas kaki sendiri. Sudah berhasil? Belum, Alamani. Belum!
kita anti asing tetapi tetap cinta
Ilustrasi Kita, Anti-Asing Tetapi Tetap Cinta | Foto: Dok. Saeh Go Lino

Kita, Anti-Asing Tetapi Tetap Cinta


Ketika tahu bahwa dalam materi gugatannya ke Mahkamah Konstitusi, Prabowo bersama tim kuasa hukumnya mengutip pendapat Tom Power seorang kandidat doktor dari Australian National University, para cebong netizen serentak bersatu padu dalam paduan suara bernada miring. Mereka  mengkritik narasi anti-asing yang jadi jargon kampanye Prabowo dalam dua helat Pilpres terakhir.

“Katanya anti-asing. Kenapa untuk bilang bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo mempunyai gaya pendekatan otoritarian seperti Orde Baru, Bapak mesti mengutip pendapat orang asing? Di dalam negeri kan banyak yang bisa bilang begitu. Fadli Zon, misalnya. Atau Mas Rocky Gerung yang kini hilang kabar bagai ditelan ruang-ruang kosong. Amin Rais yang sudah jelas-jelas doktor juga. Merasa kurang afdol dengan produk dalam negeri, Pak?”

Begitu kira-kira kritik sindiran itu dikumandangkan. Tom Power memang akan tetap dianggap sebagai seorang asing karena dia berasal dari luar negeri, meski risetnya adalah soal situasi politik di Indonesia, termasuk gaya pemerintahan Joko Widodo.

Ketika Tom Power yang seorang asing itu melayangkan protes karena pernyataannya dikutip sebagian saja—membuat hasil risetnya digerakkan ke arah yang sama sekali berbeda dengan maksud tulisannya secara keseluruhan, semua yang bersuara miring tadi semakin gembira. Merasa memiliki alasan lebih untuk mengolok-olok orang lain. Aduh... kita ini e aeh!

Beberapa penyair barangkali berada di pihak Tom. Mereka merasa, tulisan Tom telah bernasib sama dengan puisi-puisi mereka, yang ditulis tinta emas di sejumlah undangan pernikahan—puisi-puisi itu secara keseluruhan berkisah tentang cinta yang berakhir getir atau kasih tak sampai. Kenapa dirayakan sebagai puisi cinta?

Para penyair itu, seperti kandidat doktor di nganu ANU itu, merasa sedih karena tak berhasil dimengerti secara utuh. Semakin sedih karena kisah cinta nan membara di ruang resepsi pernikahan, berdiri di atas satu-dua larik puisi patah hati. Kaka nona e. Pikir-pikir dulu ka sebelum pake orang pu puisi di undangan nikah!

Ketika menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa itu, saya lalu merasa bahwa tagline “Jokowi adalah Kita” yang populer di tahun 2014 silam, sudah waktunya diganti menjadi dua tagline yang harus segera viral: (1) Anti-Asing Tetapi Tetap Cinta adalah Kita; (2) Lagu Patah Hati di Pesta Kawin adalah Kami.

Untuk yang pertama, begini ceritanya:

Seorang teman seangkatan di bangku kuliah dulu adalah aktivis kampus yang masuk dalam kategori siap-sedia-setiap-saat. Maksudnya, untuk demonstrasi apa saja, dia turun ke jalan. Asal seseorang berhasil meyakinkan bahwa bangsa ini sedang dalam keadaan bahaya karena kecurangan sedang terjadi di mana-mana, dia siap pegang spanduk berisi tulisan-tulisan protes.

Karena kami kuliah di masa presiden negeri seribu pulau ini sedang gemar melepas aset bangsa dan isu privatisasi sedang begitu seksi semlohai untuk dielus-elus, maka para aktivis mahasiswa kerap turun jalan dan berseru-seru tentang anti-asing. Si aktivis-siap-sedia-setiap-saat itu juga bersemangat ikut.

Suatu ketika, dia tak sadar bahwa baru saja keluar dari restoran fried chicken yang justru dipakai sebagai simbol asing yang sedang ditolak. Sambil sesekali membersihkan cuil daging ayam yang nyempil di sela-sela gigi, dia ikut demo sampai selesai. Lalu mengajak teman-temannya makan siang. Bukan di restoran yang tadi, tetapi di restoran lain yang kentang gorengnya enak sekali, yang kemasannya baru saja dibakar bersama ban sebagai simbol anti-asing tadi.

Merasa bingung dengan narasi super-ribet tadi? Saya bikin jelas saja. Dua restoran itu adalah KFC dan McD, sedangkan tahun kuliah kami adalah di zaman Presiden Megawati. Su lama skali to?

Iya! Sudah lama sekali. Dan sepanjang rentang waktu itu, sikap warga di negeri rayuan pulau kelapa ini tetap tak berubah. Anti-asing tetapi tetap cinta.

Makanya saya tidak heran-heran amat dengan keputusan Prabowo mengutip pendapat seorang asing meski dia telah sukses mencitrakan dirinya sendiri sebagai capres abadi anti-asing. Prabowo dan seluruh relasinya dengan narasi anti-asing adalah kita. Prabowo adalah kita, Kakak. Anti-asing tetapi tetap cinta adalah kita. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk mendeklarasikannya.

Jangan malu-malu. Semua juga begitu, to?

Menolak wacana maskapai asing boleh masuk agar harga tiket penerbangan domestik semakin murah, tetapi merasa harga diri kita naik satu tingkat kalau berhasil foto dengan some random tourist di Labuan Bajo. Kurang bodoh apa itu?

Membangga-banggakan prestasi anak negeri di pentas internasional, tetapi lebih nyaman kalau yang kerja proyek besar itu adalah perusahaan luar negeri.

Mendorong ibu-ibu di NTT melestarikan tenun ikat, tetapi parfummu dari Paris, sepatumu dari Itali, kau bilang demi gengsi semua serba luar negeri… Manalah mungkin mengikuti caramu yang penuh pura-pura ta-ra-ram ta-ra-ram…

Karena itu, janganlah terlampau nyaring berseru-seru anti-asing. Sebentar juga, kalau berhasil beli barang branded, kamu akan tertawa mengolok-olok Pak Salim yang bilang: cintai ploduk-ploduk eindonesa! Sama seperti kita menertawai Pak Amin atau Mas Rocky yang mengkritik pemerintah—menganggapnya sebagai tak berdasar kuat selain kebencian—tetapi serentak diam ketika membaca riset ‘orang asing’ tentang kecenderungan yang sama. Iya, to?

Bukankah kita baru bisa tertawa setelah materi riset Tom Power dikutip sebagian oleh Prabowo dan oleh karena itu Prabowo mendapat protes (sekaligus cebongers kita mendapat alasan untuk mem-bully-nya sekali lagi)? Maksudnya, kita tetap gugup kalau asing berhasil menunjukkan kelemahan kita dan menuduh orang dalam sebagai pembenci ketika menyampaikan hal yang sama. Mau tipu lagi? Aeh... Kau bisa tipu sama Indonesia. Macam penguasa-penguasa itu saja!

Begini. Kalau benci, jangan terlalu. Kalau cinta, juga jangan terlalu. Selalu ada peluang bahwa apa yang kau benci sungguh, akan kau peluk di kemudian hari. Juga berlaku sebaliknya. Oleh karena itu, saya sungguh ingin memopulerkan tagline kedua: Lagu Patah Hati di Pesta Kawin adalah Kami!

Di Ruteng yang dingin ini, selalu ada yang begitu. Di tengah kemeriahan resepsi pernikahan, entah wedding band atau keluarga pengantin, selalu ada yang menyanyikan lagu-lagu patah hati. Dan pengantinnya berdansa swing dengan lagu Broken Souvenirs. Seperti isyarat kepada mantan yang duduk mengkerut di sudut aula: kalau sedih jangan terlalu, kalau ada sumur di ladang, kita akan mandi sama-sama lagi.

Toh, tak ada yang perasaan yang benar-benar abadi, entah cinta atau benci (pada asing sekalipun). Yang penyair isyaratkan sebagai puisi patah hati saja kita pahami sebagai puisi cinta nan membara. Iya, to? Yang abadi barangkali adalah keinginan untuk selalu menang dan menjadi penguasa alam raya. Bukankah kita semua begitu, Bapak?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Daripada Petisi, Lebih Baik Bikin Grup WhatsApp, Mashita!

Di nusantara yang indah ini, jangankan petisi, orang-orang berpayung hitam yang selalu bertanya tentang nasib anak-anak mereka setiap hari Kamis di depan sebuah gerbang saja diabaikan.
daripada bikin petisi lebih baik bikin grup whatsapp mashita
Begitu, Mashita!

Daripada Petisi, Lebih Baik Bikin Grup WhatApp, Mashita!


Beberapa waktu lalu, dua film karya anak negeri dipetisi oleh you-know-who-lah. Pertama, film “Kucumbu Tubuh Indahku” arahan sutradara senior nan asyik bernama Garin Nugroho. Ditolak oleh puluhan ribu pemilik tanda tangan digital di situs change.org. Cie cieee…. Senang betul yang sudah generasi Z dan bisa tanda tangan onlen-onlen e.

Petisi untuk film ini dimulai oleh Rakhmi Mashita. Kakak yang satu ini tampaknya adalah pengamat film yang berhasil merumuskan genre baru di dunia film. Bukan film eksyen, film fantasi, film drama, film drama, atau film animasi, sebagaimana kategorisasi film di anugerah-anugerah itu, Kak Rakhmi memasukkan film Om Garin ini di kategori baru: felem el-ge-be-te. Barangkali panitia Oscar atau tim kerja FFI harus segera bikin kategori untuk anugerah penghargaan tahun berikutnya: Penata busana terbaik untuk Film LGBT anugerah ef-ef-i tahun ini, nominasinya adalah …. jeng jengggg….

Kak Rakhmi Mashita mengajak sodara-sodara-sebangsa-dan-setanah-aer untuk menolak penayangan film ini dengan alasan: … jika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yg mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini.

Deee ndeee… hi kakak ga-o… aeh…. 

Kalau sebuah film akan dengan semudah itu membentuk perilaku, dari zaman dahulu kala kita tidak perlu repot-repot sekolah, bukan? Untuk apa semua pelajaran: Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Orkes, Fisika, Kimia, dan cara mencintaimu dengan rahasia diajarkan di Seminari, Pesantren, Sekolah Negeri, dan sekolah-sekolah lainnya kalau ternyata untuk membentuk dan mengajak orang berbuat baik itu kita hanya butuh film?

Petisi ini dibuat dengan marah-marah sehingga lupa bahwa dasar mengajak orang yang paling baik adalah dengan menampilkan data yang tepat, disampaikan dengan persuasif, dan ditulis dengan kaidah yang tepat. Penayangan, Kakak. Bukan penanyangan, seperti yang kakak tulis di kalimat pertama petisi menyedihkan itu. Eh?

Yang tidak disertakan pembuat petisi dan diabaikan begitu saja oleh para penolak yang puluhan ribu itu adalah data tentang berubahnya perilaku publik setelah menonton sebuah film sambil makan popcorn dan menutup mata malu-malu. Maksudnya, apakah telah ada riset bahwa perilaku LGBT dapat terbentuk hanya karena menonton film? Itu satu hal.

Hal lain adalah, menolak penayangan film ini seperti juga seruan mengharamkan LGBT. Tidak berdampak apa-apa, sesungguhnya. Perilaku seksual seseorang dibentuk oleh sangat banyak faktor; pilihan personal dan merdeka. Seruan lembaga apa pun tidak termasuk di dalam proses pembentukan perilaku itu. Jika pun termasuk, barangkali kecil sekali porsinya.

Kakak Mashita e… aeh. Jalan-jalan, ka. Supaya lebih banyak tahu. Ke portal-portal informasi di dunia maya nan kejam ini. Kalau sempat, kalian akan bertemu dengan Diagnostic ans Statistical Manual III (DSM) yang disusun oleh American Psychiatric Association pada tahun 1974, yang menjadi pegangan psikolog dan psikiater di seluruh dunia, bahwa: homoseksual bukan penyakit kejiwaan atau kelainan. Badan Kesehatan Internasional, WHO, juga telah mencoret homoseksual dari daftar penyakit melalui pedoman International Classification of Desease (ICD-10).

Jadi, mengapa kita membenci mereka? Hmmmm... Mungkin Kaka Mashita merasa bukan bagian dari masyarakat dunia, tetapi bagian dari masa lalu yang tertinggal dalam ingatannya tentang mantan. Sedi betul e.

Selain “Kucumbu Tubuh Indahku” itu, film lain yang juga dapat petisi penolakan adalah “Dua Garis Biru”. Judul ini langsung dihubungkan dengan test pack, padahal film ini sesungguhnya adalah tes kehamilan hi-hi-hi-hi-hi. Pokoknya begitu. Film ini ditolak karena ceritanya tentang pergaulan bebas yang berujung kehamilan. Bagaimana mereka tahu? Ya, dari test pack itu.

“Bukan. Bukan itu maksud saya, Nirmantho.”
“Lalu apa maksudnya, Francezcho?”
“Maksud saya, bagaimana mereka tahu bahwa film itu tentang pergaulan bebas berujung kehamilan padahal mereka belum nonton filmnya?”

Itu dia! Selain soal bahwa para pembuat petisi di negeri gemah ripah loh jinawi ini umumnya adalah orang-orang yang ‘sedikit sekali tahu’-nya tentang hal yang mereka tolak itu, rata-rata setiap penolakan hanya didasarkan pada kekhawatiran yang berlebihan. Padahal, kalau kita menolak, harusnya memakai alasan lain yang lebih masuk akal. Misalnya: dia kurang tajir, mulutnya bau jigong, aku masih belum bisa melupakan kisah yang lalu, kita cocoknya temenan ajah. Eh?

Soal saya adalah, apakah penolakan kita melalui petisi itu akan benar-benar berdampak pada berhenti/dihentikannya sesuatu? Hmmm…

Di bangsa dan tanah air yang sedang senang-senangnya bicara soal Revolusi Industri 4.0 ini, sebagian besar petisi yang kita tanda tangani selalu menampar angin. Bukan angin yang sakit tapi tangan kita yang lelah karena berjuang menyakiti kekosongan. Bandingkan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Perih, Titus, perih sekali!

Karena itu, pekerjaan membuat petisi tanpa data dan analisis dampak yang kuat adalah sebetul-betulnya membuang energi secara percuma. Yang titip tanda tangan digitalnya pada petisi seperti itu, bisa jadi, seumur hidup memang tidak pernah ke bioskop. Macam kami yang di Ruteng -Flores ini. Tak ada bioskop, bajakan pun lama munculnya. Nah, kalau kami ikut tanda tangan, efeknya apa? Tidak tanda tangan juga tidak nonton bukan?

“Lalu aku harus bagaimana?”
“Bikin grup WA, Maria! Kau pasti tahu caranya.”

Begini. Grup WA akan lebih efektif membentuk perilaku. Iya to? Di negeri ini, setiap jenis kegiatan, hoi, atau hal-hal lainnya, sudah ada grup WA-nya masing-masing. Umumnya lebih tepat sasaran. Misalnya: WAG Peduli Bencana. Isinya orang-orang yang berniat baik membantu orang-orang yang tertimpa bencana. Meski kadang kepeduliannya hanya dalam bentuk teks: Wah, sedih sekali ya. Semoga Pemerintah lekas bantu.

Atau, WAG Keluarga Kita, Keluarga Damai. Isinya tentang keharmonisan keluarga besar. Meski tentu saja tetap ada peluang WAG keluarga yang isinya orang-orang terbatas yang bergosip tentang beberapa orang di WAG yang pertama tadi. Kadang-kadang salah kirim. Maksudnya ke grup terbatas, eh, gosip itu tersesat jauh dan jatuh ke grup besar. Admin langsung ganti nama grup: WAG Keluarga Kita Tak Lagi Damai.

Kira-kira begitu. Kalau tidak suka dua film itu, atau film-film lainnya, jangan repot-repot bikin petisi. Kecuali kalau mau jadi bahan berita. Kalau sungguh-sungguh menolak, daripada bikin petisi lebih baik bikin grup WA. WAG yang harus dibentuk hendaklah bernama: WAG Kita Tolak Film-Film Tertentu. Penamaan tertentu akan memudahkan peluang: (1) menulis judul film yang harus ditolak, (2) mengajak semua anggotanya memboikot film tersebut—cara ini lebih terukur hasilnya, dan (3) link download film-film tertentu boleh dikirim ke grup dan direkomendasikan kepada seluruh anggota, misalnya film bokep yang pasti disukai semua orang.

Sepakat? Harusnya sih, sepakat. Kalau kita sadar bahwa di nusantara yang indah ini, jangankan petisi, kisah sedih tentang ibu-ibu berpayung hitam yang selalu bertanya tentang nasib anak-anak mereka sekali sepekan di depan istana saja diabaikan. Lagian, petisi kok jadi jalan keluar. Heran. Lama kelamaan, kalian akan bikin petisi: Ayo Tolak Undangan Nikahan Para Mantan. Hisssssh… Situ yang tidak suka, sebangsa yang diajak. Situ sehat?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?

Bagaimana mengucapkan selamat tinggal pada usia tiga puluh delapan dengan pantas? Itu yang saya pikirkan setelah Kaka Rana dan Celestin memberi ucapan selamat.
bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas
Foto: Kaka Ited

Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?


Kemarin saya ulang tahun. Dan melewatkan detik kosong-kosong di depan komputer jinjing terkutuk. Bukan. Bukan laptop-nya yang terkutuk, tetapi blog, media sosial, website baru kami, dan semua yang rasanya telah mengambil banyak sekali waktu. Bukan mereka juga barangkali. Tetapi ketakberdayaan menghadapi godaan.

Atau sama sekali tidak ada yang terkutuk Semua baik-baik saja, sampai saya merasa agak bersedih karena ulang tahun berarti juga meninggalkan usia yang lama. Perkara meninggalkan, ditinggalkan, memutuskan untuk saling pergi (tinggal berjauhan juga begitu) memang bikin sedih. Saya memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.

Dalam perjalanan dari Rego ke Ruteng — saya memilih jalur yang telah lama saya tinggalkan: via Pacar, Noa, Golo Gonggo, Golowelu, dan seterusnya, Cancar lalu Ruteng — saya berjuang membagi konsentrasi antara silih-silih batu dengan memikirkan apa yang pantas disampaikan sebagai ucapan perpisahan dengan usia yang lama: tiga puluh delapan tahun. Tetapi jalan itu buruk sekali buruknya. Lebih buruk dari apa yang pernah kau pikirkan tentang jalan yang buruk.

Maka, berpikir tentang ucapan selamat tinggal dengan cara yang pantas pada usia tiga puluh delapan tahun, serentak berganti: apa saja yang dilakukan oleh bapak-ibu di Labuan Bajo selama ini? Jalur Rego - Ruteng via Pacar ada di Kabupaten Manggarai Barat, dan rasanya tidak berubah ke arah yang lebih baik sejak kabupaten itu berdiri sendiri. Tidak juga jalan di tempat. Dia bergerak ke arah yang lebih buruk. Rasanya begitu.

Beberapa kali sepeda motor saya miring-miring dan saya harus kasi turun kaki di dua jalur berbeda; Pateng sampai Doro, Lalong sampai Noa. Usia 38 tahun barangkali tidak terlalu tua, tetapi soal nyali adalah hal yang berjalan terbalik dari usia. Sejak umur 20 tahun, setiap usia bertambah berarti nyali berkurang. Dulu sa bisa kros ini jalan, pikir saya.

Hanya saja, nyali memang tidak seharusnya dihubung-hubungkan dengan jalan umum. Johny Pranata, si legenda motocross itu toh tidak bertarung di jalan umum. Jalan umum harus bagus. Infrastruktur seperti itu berhubungan dengan biaya angkut barang yang lebih murah, sehingga ekonomi kita tidak 'selesai di jalan'; keuntungan jual hasil bumi ke Ruteng menjadi sangat sedikit karena biaya transportasi yang mahal. Mau omong soal kesejahteraan? Aeh...

Karena itulah, saya merasa (berharap) kondisi jalan yang buruk itu harus segera ditinggalkan. Siapa saja yang punya akses untuk menentukan nasib jalan itu harus berani mengucapkan salam perpisahan. Mengucapkannya secara pantas.

Di pinggir lapangan sepak bola di Nara - Rego, ketika PS Gempar berhadapan dengan PS Lewat (pertandingan itu berakhir seri 2 - 2), saya sempat ngobrol dengan seseorang. Tentang jalan yang buruk itu. Kami sudah lupa kapan terakhir kali 'kasi gigi satu' di kendaraan kami hanya ketika mulai jalan saja. Sudah bertahun-tahun rasanya. Lama sekali. Sekarang, gigi tiga hampir tidak pernah berfungsi. Apalagi di atasnya. Mereka pasti sedih sekali diabaikan seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Gigi satu, dua, satu lagi, dua lagi, satu, satu, dan sa cape sekali.

Tiba di Ruteng, saya sedikit lelah. Lalu memutuskan tidur saja. Agak demam juga. Sampai kemarin, ke kantor (sejak masuk pasca-liburan) saya 'on-off'. Bukan kesalahan jalan buruk semata, tentu saja. Selama liburan kemarin, di Paurundang, di rumah Guru Don dan Muder, saya memang makan sesukanya, tidak tidur sesukanya, dan minum kopi-air putih-sopi dalam porsi yang sama.

Lalu saya ulang tahun. 39 tahun sekarang. Artinya, selamat tinggal 38, usia yang sejauh yang saya ingat, saya nikmati sekali. Ketika saya tahu bahwa menulis itu menyenangkan. Lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan sebelumnya. Saya menulis apa saja. Sebagian mendapat bayaran dengan harga yang baik, saya juga menerbitkan buku kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam, menjalankan bacapetra.co dengan tim kerja yang ajaib dan menyenangkan, usia yang kemarin itu rasanya baik sekali.

Meski sama sekali tidak berniat untuk tinggal selamanya di usia itu — tak ada seorang pun akan bisa — tetapi mengucapkan selamat tinggal secara pantas adalah hal yang sulit sekali. Bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada sesuatu yang telah begitu baik padamu?

Saya memikirkannya. Dengan serius. Sampai akhirnya sadar bahwa, selain hal-hal yang buruk, tidak ada yang perlu ditinggalkan dari usia itu. Juga usia-usia sebelum itu. Dibawa serta saja selamanya. Dalam bentuk kenangan atau pekerjaan yang musti diteruskan. Dikerjakan dengan sama seriusnya dan sama menyenangkannya di usia yang baru, tiga puluh sembilan tahun.

Yang harus dibuang adalah hal-hal yang buruk. Apa saja. Terutama jalan yang buruk di jalur Rego sampai Golowelu itu. Maksud saya, atas dasar perbandingan terbalik antara usia dan nyali tadi, saya membayangkan bahwa di usia empat puluh nanti, saya mungkin akan menuntun sepeda motor saya ketika liburan; membuat liburan terasa buruk sekali. Padahal liburan seharusnya menyenangkan, bukan?

Ah... Itu nanti saja. Dipikirkan kemudian. Yang harus saya lakukan sekarang adalah menulis ucapan terima kasih kepada siapa saja yang telah ada bersama saya di usia 38 tahun kemarin. Terutama Celestin, Rana dan Lino. Juga memikirkan bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada semua hal yang buruk yang memang harus ditinggalkan seberapa menyenangkan pun hal-hal itu. Bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada kebiasaan bergosip? Saya pikir, saya akan memikirkannya nanti.

Terima kasih, 38. Selamat datang, 39.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Yang sudah putus sekolah, apalagi jika alasannya adalah ketiadaan biaya, dan telah sangat mantap hidupnya sekarang, tulisan ini tidak perlu dibaca. Yang sedang ragu-ragu, mari baca sampai selesai!
Dokumentasi Pribadi

Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates


Tiga nama kerap dipakai sebagai pembanding ketika para mahasiswa memasuki fase krisis—saat di mana mereka berada di titik kritis, antara lanjut menyelesaikan masa studi itu hingga sarjana, atau berhenti. Tiga pembanding itu adalah Bill Gates si pemilik Microsoft, Mark Zuckerberg yang menduniakan Facebook, dan Susi Pudjiastuti, Menteri Perikanan dan Kelautan, menteri paling populer di era Jokowi.

Tentang fase krisis di bangku kuliah, barangkali tidak semua mahasiswa mengalaminya. Tetapi, sebagian yang pernah (atau sedang) merasakannya, memiliki beberapa alasan/situasi: (1) jenuh karena ternyata jurusan yang dipilih tidak semenyenangkan yang dibayangkan, (2) kesadaran (yang terlambat) bahwa jurusan yang ditekuninya sesungguhnya tidak sesuai dengan panggilan jiwanya (passion), (3) terlibat konflik yang melelahkan, baik dengan dosen, dengan teman kuliah, maupun (yang paling sering) dengan dosen pembimbing skripsi.

Poin yang ketiga, berdasarkan pengamatan random, rasanya adalah alasan/situasi terbanyak yang paling sering disampaikan sehubungan dengan fase krisis tadi. Konflik yang melelahkan di kampus—terutama dengan dosen pembimbing skripsi—menjadi alasan mengapa banyak mahasiswa yang memutuskan terminal, atau berhenti kuliah sama sekali.

Pada situasi itulah, nama-nama tadi disebut. Entah sekadar menghibur diri, menguatkan alasan pengambilan keputusan berhenti kuliah, atau berusaha optimis, cukup sering terdengar bagaimana pengalaman Gates, Zuckerberg, dan Susi Pujiastuti (serta beberapa tokoh lain) diceritakan kembali; tidak tamat kuliah tetapi meraih sukses besar.

Tentu saja baik. Membandingkan kisah hidup tokoh-tokoh terkenal dengan 'situasi sulit' yang kita hadapi. Tetapi, tentu saja, penting untuk menyadari hal lain. Gates, Zuckerberg, dan Pudjiastuti membuat keputusan tersebut karena melihat bahwa kehidupan mereka akan lebih bersinar di luar kampus. Dalam kalimat lain, mereka menjadi besar karena telah tahu bahwa jika bertahan di bangku kuliah, mereka akan terlambat memulai sesuatu yang mereka yakini akan membuat mereka hebat.

Susi Pudjiastuti dalam sebuah wawancara dengan detik.com bercerita: "Saya pikir, saya akan bisa bergerak lebih baik bila saya tidak terkungkung oleh waktu saya sekolah...." Dan itulah yang terjadi. Setelah memutuskan berhenti sekolah, Susi, yang tidak terkukung lagi berhasil mewujudkan mimpinya, dan sukses.

Pada situasi Susi ini—juga pada Bill Gates dan Mark Zuckerberg dan beberapa orang lainnya yang 'tidak sarjana tapi sukses', ada visi yang mereka rancang sendiri, ada misi yang dikerjakan dengan yakin, ada kesiapan diri yang besar untuk menghadapi/menerima risiko. Bandingkan dengan tiga alasan/situasi kita di atas tadi. Apakah sama? Tentu saja berbeda. Secara motif, secara keyakinan, dan secara nasib (setelahnya).

Kompas.com edisi 26 April 2017 menayangkan artikel yang bersumber dari theconversation.com yang berjudul "Mengapa Hanya Sedikit Orang yang Berhenti Kuliah dan Hidupnya Sukses?". Di dalamnya, terdapat beberapa penjelasan.

Pertama, Gates dan Zuckerberg adalah anomali di dunia nyata. Faktanya, mayoritas pemimpin puncak di perusahaan bergelar sarjana dan memiliki prestasi akademik cemerlang.

Kedua, dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat terhadap lebih dari 11 ribu petinggi, termasuk CEO, politikus, orang terkaya, hakim, pemilik perusahaan internasional, dan orang-orang berpengaruh lainnya, baik pria dan wanita, adalah orang berpendidikan. Menurut survei tersebut, 94 persen pemimpin dan petinggi lulus kuliah dan 50 persennya merupakan lulusan universitas ternama.

Bill Gates sendiri tetap merasa bahwa menempuh pendidikan tinggi hingga selesai adalah hal yang penting. Dalam sebuah catatan di blognya pada tahun 2015 dia menulis: "Meskipun saya keluar dari kampus dan beruntung mengejar sebuah karier di bidang software, tetap saja, mendapatkan gelar sarjana adalah jalan terpasti menuju sukses."

Sementara itu, baru beberapa hari yang lalu Mark Zuckerberg meraih gelar akademiknya. Doktor di bidang hukum. Dari Universitas Harvard. Honoris Causa, memang. Tetapi dia telah memiliki gelar akademik. Susi Pudjiastuti sendiri sudah meraih gelar (kehormatan juga) akademik pada tahun 2017.

Artinya, orang-orang yang putus kuliah/sekolah namun sukses tadi tetap percaya bahwa kesarjanaan adalah hal yang penting.

Menurut Gates, lulusan perguruan tinggi lebih mudah mencari pekerjaan, penghasilan yang lebih tinggi, bahkan sejumlah bukti menunjukkan, dapat hidup lebih panjang dibanding yang tidak lulus perguruan tinggi. Kuliah juga memberikan pelatihan dan kemampuan dalam menghadapi dunia kerja.
Dengan demikian, memakai alasan 'toh meski tidak tamat, Gates-Zuckerberg-Pudjiastuti tetap sukses' sesungguhnya tidak perlu dipakai ketika kita tiba di fase krisis. Kita bukan mereka.

Hanya saja, bagaimana mengatasi fase krisis ini adalah hal yang tak pernah mudah. Kejenuhan dan kesadaran akan passion yang datang terlambat tentu saja mengganggu kenyamanan bersekolah/kuliah. Ada kekhawatiran, jika dipaksakan hingga tamat, ijazah menjadi tidak berguna. Lalu takut bahwa, suatu saat akan tiba di masa di mana kita menyesal telah menghabiskan waktu empat sampai enam tahun di bangku kuliah. Ah, tau gini kan saya gak usah kuliah aja kemaren, pikir kita.

Sarjana di Indonesia


Jika ijazah memang dikejar agar bisa mendapat pekerjaan yang sesuai keahlian—atau berharap setelah tamat langsung menjadi ahli, baiklah menyimak penjelasan Mohamad Nasir, Menrisetdikti kita. Tentang situasi pendidikan tinggi di tanah air.

Menurut Nasir, integrasi antara perguruan tinggi dengan industri masih belum cukup baik di Indonesia. "Produktivitas kita belum tinggi kalau dilihat dari pendidikan tinggi ya. Katakan yang lulus di perguruan tinggi mereka bekerja tapi bukan pada bidang ilmunya. Nah ini masalah, bagaimana itu bisa nyambung," papar Nasir di kantor Kemenristekdikti, Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2019), sebagaimana ditulis Tirto.id.

Untuk itu, kata Nasir, pihaknya mendorong agar lulusan perguruan tinggi dapat menghasilkan tenaga yang profesional di bidangnya. Menristekdikti, saat ini sedang dalam proses mengharmonisasikan kedua aspek tersebut. Semoga informasi ini bisa dipahami sebagai: semua yang berhubungan dengan penciptaan keahlian atau tenaga ahli di negeri ini sedang dalam proses pengerjaan. Belum final.

Namun, tentu tidak bisa juga (semata dengan) hal itu dengan cepat dijadikan alasan pembenar bahwa kuliah itu tidak penting. Bukankah tadi Bill Gates telah mengingatkan—dan hampir sebagian besar pengalaman hidup kita membenarkannya—bahwa gelar sarjana adalah jalan terpasti menuju sukses. Jika belum percaya, perhatikan dengan saksama informasi lowongan kerja yang bertebaran di media sosial. Kuliah, dan menamatkannya adalah hal yang penting (dan diimpikan semua orang tua; semoga semua anak menjadi sarjana).

Baca juga: Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat

Sebentar lagi, tahun ajaran baru akan dimulai. Ribuan lulusan sekolah menengah atas sedang berburu brosur. Mencari-cari, kira-kira kampus mana yang tepat dan sesuai dengan cita-cita mereka. Situasi yang sedang dialami oleh para calon mahasiswa baru ini adalah idealisme yang menggebu-gebu. Mimpi tentang masa depan yang cemerlang sedang mekar di kepala.

Suatu ketika, entah di tahun keberapa, mereka mungkin saja tiba di fase krisis. Soalnya adalah, apakah berhenti kuliah merupakan jalan keluar maksimal?

Jika sependapat bahwa Gates-Zuckberg-Susi adalah anomali, dan tetap sadar bahwa (mengutip Gates) lulusan perguruan tinggi lebih mudah mencari pekerjaan, penghasilan yang lebih tinggi, bahkan sejumlah bukti menunjukkan, dapat hidup lebih panjang dibanding yang tidak lulus perguruan tinggi. Kuliah juga memberikan pelatihan dan kemampuan dalam menghadapi dunia kerja; seharusnya kita tahu jalan mana yang harus ditempuh.

Pada titik tertentu, memilih jurusan yang kita anggap sesuai passion adalah sesuatu yang hebat. Tetapi kuliah, sesungguhnya, bukan semata tentang passion. Kuliah juga tentang: bertemu orang yang lebih banyak dan beragam serta menimba pengalaman dari dari mereka; memahami konsep berpikir yang baru (terbuka dan terstruktur); belajar menjadi mandiri; dan (terutama), ijazahnya lebih 'menjual'.

Bahwa kemudian, berbekal pemahaman tentang teknologi digital di era Revolusi Industri 4.0 di mana setiap orang bisa menjadi digital nomad dan hidup darinya, pengetahuan tentang hal tersebut akan lebih banyak diperoleh di bangku kuliah. Tentu saja ini tidak berlaku untuk mereka yang datang, isi absen, duduk, dengar dosen, lalu diwisuda.

Yang harus dilakukan adalah, jika beruntung dan dibiayai kuliah, selesaikan! Sampai kelar. Sembari meningkatkan keahlian melalui interaksi di kampus. Setelahnya, jika ijazah ternyata tak bisa digunakan, keahlian tertentu akan menghidupkan. Juga berlaku sebaliknya.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ibu, Maafkan Kami Warganet di Seluruh Negeri

Selamat Lebaran kepada yang merayakannya. Izinkan saya memakai 'momen maaf-memaafkan' ini untuk meminta maaf kepada Ibu Ani. Semoga beliau berisitrahat dalam kedamaian karena kerahiman Tuhan.
Selamat Jalan, Ibu Ani Yudhoyono

Ibu, Maafkan Kami Warganet di Seluruh Negeri


Instagram belum sepopuler sekarang ketika akun @aniyudhoyono milik Ibu Ani Yudhoyono telah di-follow oleh lebih dari 90 ribu orang pada tahun 2013 silam. Mengetahui fakta itu, barangkali ada yang lantas berdoa agar bisa mendapat followers sebanyak itu biar bisa ngendors, tetapi mereka bukan Lambe Turah (lalu merasa sedih).

Di media sosial berbagi foto itu, Ibu Ani menampilkan hasil jepretannya. Semua lantas tahu, betapa beliau mencintai fotografi. Tetapi semua juga tahu bahwa warganet sangat senang jika berhasil menjadi kejam memancing diskusi yang panas. Apalagi jika yang disasar adalah  figur publik. Di tahun itu, Ibu Ani lebih dari sekadar figur publik, beliau seorang Ibu Negara. Setia di samping presiden kita kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Akibatnya, Ibu Ani dan seluruh penampilan publiknya, sesekali digoda (baca: dihantam) kritik-nan-pedas-penuh-semangat, meski kadang tak masuk akal karena didasarkan pada kesenangan panjat sosial (pansos) semata.

Sekali waktu, di bulan Agustus tahun 2013, Ibu Ani mengunggah foto cucunya. Di foto itu, Alimara Tunggadewi, yang akrab dipanggil Aira berpose di teras Istana Merdeka dengan latar belakang Monumen Nasional dan ondel-ondel, saat pelaksanaan Kirab Budaya HUT Ke-68 RI. Ada warganet, yang bermodalkan perasaan pribadinya semata, mempertanyakan keaslian foto itu. Seperti fotografer ulung (barangkali beberapa di antara mereka yang meragukan keaslian foto itu adalah benar-benar fotografer meski kurang ulung), mereka menuduh Ibu Ani menempel foto Aira di atas foto yang lain.

Sekilas, foto itu memang tampak begitu. Tetapi Arbain Rambey, seorang fotografer kenamaan tanah air ini berpendapat, foto Ibu Ani adalah hasil jepretan asli dan bukan gambar "tempelan". Yang sebenarnya terjadi, lanjut Arbain, adalah disharmoni pencahayaan foreground dan background karena Aira mendapat pencahayaan dari lampu flash kamera secara langsung (direct flash), sementara latar belakang disinari oleh cahaya matahari berwarna kekuningan. Baca beritanya di sini!

Saya jelas lebih percaya Bang Arbain ini ketimbang warganet yang berapi-api berpendapat tetapi lemah bangunan argumennya. Bukan karena penjelasannya sememadai yang diharapkan, tetapi karena juga rasanya begitu sedih bahwa, ihkwal unggahan medsos saja, seorang Ibu Negara mesti membuat klarifikasi sepanjang tujuh poin.

Betapa melelahkannya pekerjaan itu karena pada saat yang sama tetap harus mendampingi suami tercinta, mendukung karir anak-anaknya, dan menyayangi cucunya. Dan betapa lelahnya kita berhadapan dengan warganet yang barangkali lebih akrab dengan foreplay daripada foreground, backing soda daripada background, dan Lucinta Luna daripada Arbain Rambey.

Namun, kita juga tahu, betapa tak kenal lelahnya warganet—yang selalu merasa paling benar hanya karena mereka memiliki paket data yang banyak sehingga bisa googling sesukanya lalu mengutip artikel yang sesuai harapan mereka agar bisa menyerang orang lain—berusaha mengganggu kenyamanan Ibu Ani bermedia sosial.

Bertahun-tahun setelah lepas tugas sebagai Ibu Negara, ketika tugas berikutnya adalah mendampingi suami tercinta yang menjadi ketua umum partai, Ibu Ani tetap harus berurusan dengan gangguan warganet.

Bulan Juni tahun 2018, ketika putra pertamanya memutuskan melepas baju tentara dan terjun ke kancah politik, Ibu Ani harus mengisi hari-harinya juga dengan membela anaknya itu di Twitter.
Kala itu, warganet cum para-manusia-maha-tahu-karena-google menyayangkan keputusan AHY maju ke pentas Pilkada DKI. Mereka berharap AHY tetap jadi tentara.

Ibu Ani, yang sempat menjawab dengan keras: "Lho koq sampeyan yg ngatur?" Kemudian memutuskan melunak dan bilang: "Ya terima kasih sarannya, tapi keputusan sudah diambil. Mari kita hormati keputusan AHY."

Dasar sebagian besar warganet modal pulsa doang, baca artikel hanya sampai di judul saja tak pernah merasa puas jika tak merisak, ketika Ibu Ani sakitpun, mereka masih mengganggunya. Lebih kejam, bahkan.

Di Twitter (lagi), pemilik akun  @IskndrSnjaya menulis: "Ibu Ani sakit apa sih.. kok berbulan-bulan di RS Singapura? Modus kayaknya.. kasian mantan ibu negara dijadikan alat modus deh, andai benar.. maaf." Astaganaga! Sungguh tidak berperasaan.

Dari tiga peristiwa itu saja, kita dapat mengerti, tak pernah mudah menjadi Ibu Ani. Menjadi istri presiden, menjadi mama dari seorang tentara yang memutuskan menjadi politisi, dan belajar fotografi di era jari warganet lebih tajam dari pisau Joseph Ignace Guillotin, adalah seberat-beratnya posisi bagi seorang perempuan yang lembut hatinya.

Kini, Ibu Ani telah pergi. Untuk selama-lamanya. Kembali ke pangkuan sang ilahi. Yang pasti memeluknya dengan kasih yang penuh dan rengkuh yang lembut. Ibu Ani pasti bahagia. Karena hidup abadi, bukankah hanya berisi suka cita selamanya?

Yang tak bahagia, tentu saja, adalah warganet yang tak sempat meminta maaf atas segala perbuatan yang tak menyenangkan yang pernah dilakukannya pada seorang ibu yang pernah merawat negara ini. Seperti saya, yang pernah merasa jengkel karena berpendapat bahwa Ibu Ani terlampau menyibukkan dirinya dengan menjawab keusilan warganet padahal seharusnya Ibu Ani tidak perlu melakukannya jika saja dalam mengelola media sosialnya beliau dibantu para pakar seperti yang beberapa tokoh politik lakukan saat ini dan mereka jadi keren sekali di medsos padahal aslinya tidak begitu.

Sudah semestinya kita (atau saya saja?) meminta maaf. Pada Ibu Ani. Dan seluruh keluarganya.
Untuk apa? Untuk kesadaran yang terlambat bahwa: (1) setiap risakan kita pada tokoh publik, entah ditujukan sebagai pengingat atau sebagai sarana pansos, telah mengganggu kerja-kerja mereka yang lebih besar; (2) sesekali, tokoh publik dapat saja keliru tetapi mengolok-oloknya tidak akan membantu apa-apa selain melahirkan debat kusir; (3) dengan berhasil mengolok-olok orang lain, kita tidak akan pernah menjadi lebih baik; (4) seorang perempuan telah ikut berperan dalam menjalankan roda bangsa ini tetapi kita memilih mengabaikannya.

Setelah meminta maaf (dalam doa yang tak berhenti), saya kira wajar bahwa kita mengharapkan yang terbaik untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan. Juga berharap bahwa segala amal ibadah Ibu Ani di bumi ini dapat memuluskan jalannya ke surga; segala dosanya tidak diperhitungkan. Juga wajar, bahkan sudah seharusnya, kita mulai melatih jemari kita menjadi lebih ‘layak surga’. Menebar kebencian, menjadi terkenal karena (merasa) berhasil mempermalukan orang lain, apakah ada gunanya?

Ibu, maafkan kami para warganet ini. Yang followers-nya adalah teman-teman sendiri semata tetapi berharap populer dengan menyerang orang terkenal biar bisa diskrinsut. Selamat jalan, Ibu. Beristirahatlah dalam kedamaian karena kerahiman Tuhan. Amin.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019

Keputusan negara membatasi beberapa fitur WhatsApp telah menghancurkan mimpi seorang pemuda. Ini adalah kisah sedih yang terjadi di satu sudut kota.
kisah sedih lain dari peristiwa 22 mei 2019
Ferdinandus Alamani Vitroz

Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019


Pagi-pagi sekali, tanggal 22 Mei, seorang pemuda, namanya Ferdinandus Alamani Vitroz, mampir ke kios kecil di depan rumahnya. Membeli paket data mingguan. “Sudah, Kak,” kata penjaga kios. Buru-buru dihidupkannya ikon ‘data seluler’ di telepon pintar kesayangannya. Berharap bisa segera memeriksa status whatsapp gebetannya. Kosong. Tak ada cerita yang dia harapkan di sana. “Sepertinya WA diblokir, Kak. Mungkin seminggu.” Penjaga kios yang cantik itu memberi informasi yang membuat mulut pemuda itu menganga.

Penjelasan panjang tentang kekhawatiran negara pada penyebaran hoax dan provokasi via whatsapp, yang disampaikan gadis di depannya, tidak mampu membuat mulutnya katup. Telah lama dia menabung untuk hari ini. Agar bisa membeli paket data, hendak menghadiahi dirinya sendiri yang sedang berulang tahun; hadiah yang diinginkannya adalah WA Story gebetannya yang berisi gambar bunga matahari di belakang tulisan ‘selamat ulang tahun, masa depan’.

Pemuda itu tahu, gebetannya tahu hari ulang tahunnya, karena beberapa hari lalu dia menulis status 'yes, ultah tinggal empat hari lagi’ dan gebetannya itu ikut mengintip status itu.

Pemuda itu mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat menguap, memaksakan diri berjalan pulang, terhenti langkahnya setiap empat meter, berjalan lagi, dan hatinya menangis lara. Lara sekali. “Negara telah menghancurkan mimpiku yang paling sederhana,” rutuknya. Juga dalam hati. Bercampur tangis. Tak terdengar telinga biasa, tetapi gaduh sekali jiwanya.

Tibalah dia di rumah, tempat tangis dan rutukan dalam hati menjelma suara. Pilu sekali. Seisi rumah mendengar tangis itu, tetapi tak segera ikut bersedih. Malah marah-marah. Dituduh sebagai manusia paling egois yang pernah ada karena menuding negara sebagai penghalang cintanya.

Dia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang tlah tiada karena sakit yang tak terobati janjinya yang dia tulis di buku hariannya. “Dear Diary… Kalau di hari ulang tahunku, dia tidak buat story gambar bunga matahari dan tulisan selamat ulang tahun, selesailah sudah.” Begitu tertulis di sana. Sebelum menunjukkan buku hariannya itu kepada seisi rumah, dia sempat bilang: Aku haus!

Seisi rumah ikut bersedih. Menangis seorang diri, hatiku… slalu ingin bertemu… dengarlah Ayah aku bernyanyi bersama-sama, ikut merutuki negara yang telah menghancurkan mimpi seorang pemuda. Mimpi yang sederhana. Bahkan lebih sederhana dari kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu: sebuah status whatsapp berisi gambar bunga matahari dan ucapan selamat ulang tahun, adakah yang dapat lebih sederhana lagi?

Hari sudah siang ketika pintu rumah diketuk. Gadis penjual korek api menggigil di tengah guyuran salju pulsa datang. Membawa uang kembalian yang tak sempat diambil pemuda itu pagi tadi. Tetapi dia tak bergegas pulang. “Ada yang bantu jaga kios,” katanya tanpa ditanya, lalu menyambung cerita ikhwal fitur gambar di whatsapp yang dimatikan negara. Lengkap sekali ceritanya. Lebih lengkap dari lengkap itu sendiri. Barangkali akan begitu komentar seorang penunggang kuda kalau saja dia bisa mendengar tutur gadis itu dari balik kaca mata hitamnya. Eh?

Mendengar cerita itu, seisi rumah kembali marah-marah. Menuduh pemuda itu telah sangat egois karena menuduh negara merenggut kebahagiaannya di hari ulang tahunnya yang kedua puluh sekian. “Negara sedang dalam keadaan bahaya, dan kau menuduhnya tak berpihak padamu. Egois sekali kau ini,” kata seseorang.

Giliran pemuda itu marah-marah. Berkotbah panjang tentang sikap egois. Dipakainya dalil-dalil dari segala buku yang dibacanya, dijelaskannya berapi-api.

Ditutupnya dengan pertanyaan: “Siapakah yang egois? Sekelompok orang yang menyebar hoax dan provokasi demi kepentingan pribadi hanya karena kecewa dengan hasil pertandingan sehingga membuat negara membatasi fitur gambar whatsapp, atau saya yang telah menabung sekian lama agar bisa membeli paket data yang ternyata tak bisa saya gunakan seminggu ke depan padahal saya harus melihat gambar bunga matahari di belakang ucapan selamat ulang tahun jika tak ingin masa depan saya berakhir suram karena hidup lara sendiri, atau negara yang terlampau khawatir?”

Diucapkannya khotbah itu dengan cepat seperti seorang rapper—kecuali bahwa yang disampaikannya tak berima sama sekali, membuat semua yang ada di sana terpaksa memintanya mengulangnya secara perlahan.

“Dipenggal-penggal saja, Kak,” usul gadis manis yang menatapnya dengan mata yang bening dan sayu. Pemuda itu melihat wajahnya sendiri di mata gadis itu, seperti terhipnotis, memenggal kotbahnya menjadi kalimat-kalimat pendek. Asal ikut trending topic gadis itu mengerti.

“Sekelompok orang yang menyebar hoax dan provokasi demi kepentingan pribadi.”
“Mereka lakukan itu karena kecewa.”
“Hasil pertandingan tidak sesuai dengan cita-cita mereka.”
"Negara khawatir, hoax dan provokasi yang mereka sebarkan via whatsapp akan mengacaukan situasi bangsa.”
“Negara membatasi fitur gambar whatsapp.”
“Saya yang telah menabung sekian lama agar bisa membeli paket data.”
“Karena negara membatasi fitur gambar whatsapp, paket data saya tidak berguna.”
“Seminggu ke depan.”
“Padahal hari ini saya ulang tahun.”
“Kepada buku harian saya telah berjanji.”
“Dia harus membuat status whatsapp hari ini atau saya harus segera menghancurkan mimpi tentang masa depan kami berdua.”
“Gambar bunga matahari di belakang ucapan selamat ulang tahun.”
“Siapa yang egois?”
“Aku haus,” katanya kemudian. Lalu bilang bahwa khotbahnya telah selesai.

Seisi rumah hening. Cukup lama. Sampai gadis penjual pulsa itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan. “Kakak yang egois. Butuh berapa kali beli pulsa paket sampai Kakak sadar bahwa selama ini saya selalu mengisi paket 4 giga padahal Kakak hanya membeli 2 giga?” Kata gadis itu sambil menahan tangis dan berlari pulang. Menutup kiosnya.

Sebuah pengumuman kecil di kertas folio bergaris tertempel di pintu bangunan kecil itu. Kios ini tutup selama seminggu. Sampai kita semua di kota yang sekecil kampung ini sadar.

Di tempat lain, seorang gadis merutuki printer-nya yang tiba-tiba ngadat. Padahal dia sedang ingin mencetak gambar bunga matahari. Di belakang tulisan: Selamat ulang tahun, Kakak. Semoga kita tetap jadi teman diskusi selamanya. Ferdinandus Alamani Vitroz sama sekali tak menyadarinya. Bisakah kalian bayangkan? Kalian jatuh cinta pada seseorang, tetapi orang itu jatuh cinta pada seorang yang lain, dan negara membatasi akses media sosial? Sedih sekali 22 Mei 2019 ini.

Ketika sampai di bagian terakhir ini, saya tiba-tiba sadar, tulisan ini sama sekali tidak jelas. Tetapi mau bagaimana lagi? Hari ini saya sedih sekali. Betapa kita telah begitu ingat diri. Semuanya. Siapa saja. Kapan kita bisa baik-baik saja? Tak bisakah kau menungguku hingga nanti tetap menunggu kita menyatakan dukungan kita sesederhana awan yang tak sempat menyampaikan isyarat kepada hujan yang menjadikannya tiada?

Salam
Armin Bell
Ruteng,Flores