Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 1)

Di Lewotolok, ada ritual pesta kacang. Warisan leluhur ini dijaga sampai saat ini. Simak cerita Zafry Taran Lamataro di ranalino.id. Bagian pertama ini juga berisi informasi aneka ritus yang dipelihara orang-orang Lewotolok.
utan wun lolon ritual pesta kaca di kampung adat lewotolok lembata
Rekan Belait, salah satu bagian dari Utan Wun Lolon | Foto: Zafry Taran Lamataro

Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 1)


Oleh: Zafry Taran Lamataro

Secara administrasi pemerintahan, kampung adat Lewotolok yang ada di kaki gunung Ile Lewotolok adalah bagian dari Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. Tetapi Lewotolok itu sendiri merupakan rumpun desa-desa yang ada di sekitar kaki Gunung Ile Lewotolok (Lewotolok Lewo Belen).

Pada zaman dahulu Lewotolok memiliki beragam kebudayaan. Beberapa di antaranya dilestarikan dengan baik dan hidup sampai saat ini.

Sebagai contoh, orang-orang Lewotolok sampai saat ini memiliki ketaatan terhadap Lera wulan tana ekan, lewo tana rian wetan, sukuekan umalango, nuba nara kokerbale (Sang Ilahi, wujud tertinggi yang diyakini sebagai sang pemberi kehidupan, kampung halaman atau tempat tinggal, rumah adat suku beserta isinya (leluhur dalam suku yang telah meninggal), tempat memberi sesajen kepada leluhur).

Ketaatan-ketaatan itu tercermin dalam dalam kehidupan sehari-hari (way of life) dan tampak dalam berbagai tradisi dan ritus; mulai dari peristiwa kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Tradisi dan ritus-ritus tersebut lahir dalam peradaban leluhur dari setiap suku lango (suku besar).

Beberapa ritus yang ‘hidup’ di Lewotolok sampai saat ini, di antaranya:

Utan wun lolon, sawar orok. Utan wun lolon adalah ritus ucapan syukur atas hail panen serta nilai-nilai kehidupan lainnya dalam masyarakat Lewotolok, sedangkan sawar orok adalah ritus makan jagung ketika pertama kali dipanen oleh kepala-kepala suku.

Pao boe ama opo koda kwokot. Ini yakni ritus memberi makan atau sesajen kepada leluhur nenek moyang.

Tewu hode, nawo dopeng ama opo koda kewokot. Ritus ini berhubungan dengan menjemput dan mengantar leluhur dalam suatu upacara adat.

Ohong lau dai. Ohong lau dai adalah ritus menerima kelahiran anak. Biasanya dilakukan beberapa hari setelah kelahiran.

Koda baya ha ana, tetek bang nawo kebarek. Ini adala ritus perkawinan orang-orang Lewotolok. Mulai dari peminangan sampai pada mengantar anak gadis ke rumah mempelai laki-laki.

Maten murung, hebo nebo, kayo maten. Ritus kematian. Ritus ini bertujuan ‘memastikan’ bahwa orang yang meninggal dunia bisa sampai ke alamnya (kewokot).

Tula mei nawa, tapan holoy, tewu hode alang kiring. Ritus ini dilakukan untuk mempersatukan kembali tali persaudaraan dua suku akibat pembunuhan yang telah dilakukan nenek moyang pada masa lalu.

Lou bao, lebek luba, butek teluk, tobung tahik. Ini adalah ritus memanggil hujan atau mendatangkan hujan ketika hujan tak kunjung turun pada musim hujan.

Selain itu, masih banyak ritus lain yang dipelihara, dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dan menjadi bagian dari seluruh sendi kehidupan orang-orang Lewotolok.

Baca juga: Di Langa Bajawa, Orang Muda Meramu Masa Depan Wisata Desa

Catatan ini secara khusus akan membahas tentang utan wun lolon atau ritual pesta kacang. Ritual ini secara umum dilihat sebagai bentuk ucapan syukur atas rezeki selama satu tahun. Namun sesungguhnya, utan wun lolon lebih dari itu. Segala unsur nilai-nilai kehidupan masuk di dalamnya.

Utan Wun Lolon di Lewotolok 


Saya beruntung karena tahun 2018 kemarin bisa mengikutinya. Ini merupakan kali kedua saya menjadi bagian dari ritual tersebut, setelah kali pertama pada tahun 2014 silam.

Tanggal 18 September 2018, saya berangkat dari kota Kupang menuju Kabupaten Lembata menggunakan KMP Ile Labalekan. Enam belas jam perjalanan terasa singkat, merindukan momenkumpul-kumpul bersama keluarga besar mengalahkan segala penat dan mabuk perjalanan.

Ya. Sebagai anak muda Lewotolok saya sangat merindukan ini; momen berkumpul bersama seluruh keluarga besar—sebagian menjadikan ini sebagai ajang mencari jodoh. Namanya juga anak muda.
Tiba di rumah, Ibu menjadi orang pertama yang saya cari. Dia satu-satunya orang tuaku saat ini setelah kematian Ayah. Ibu memeluk erat, menangis bahagia. Empat tahun kami tidak bertemu. Itu rentang waktu yang lama untuk ukuran Ibu dan anak.

Setelah melepas rindu, Ibu mengajakku makan dan beristirahat. Waktu-waktu itu saya pakai untuk bertanya tentang ritual utan wun lolon yang akan segera dilaksanakan. “Tiga hari lagi ritual ini akan dimulai,” kata Ibu. Lalu mengalirlah cerita tentang ritual ini, mulai dari orang-orang yang terlibat, penentuan waktu, sampai pada tahapan-tahapannya.

Utan wun lolon merupakan ritual tahunan masyarakat Lewotolok yang menghuni tiga kampung yakni Amakaka, Tanjung Batu dan Waowala. Orang-orang Lewotolok sendiri merupakan gabungan dari enam suku besar yakni Lamataro, Ladopurap, Sabaleku, Langobelen, Langoday, dan Lewohokol.

Ritual ini dilaksanakan setiap tahun bisa pada awal bulan September atau minggu terakhir bulan September. Penentuan hari H ritual ini dilakukan oleh Kepala Suku Sabaleku berdasarkan perhitungan bulan Kabisat atau orang Lewotolok menyebutnya dengan wulan lei tou, lei rua, dan seterusnya.

Ada beberapa tahapan pada ritual ini, yakni:

  1. Luat watan/welu wua malu;
  2. Rekan belait;
  3. Haban Nakal; 
  4. Lusi pai atau lusi gere lewo;
  5. Dorak kedopel;
  6. Pao nuba lewo weran dan lewo lein;
  7. Utan tak;
  8. Uwe tak;
  9. Nawo lusi
  10. Nawo dopeng ama opo koda kewokot;

Cerita lengkap tentang tahapan-tahapan utan wun lolon akan hadir pada bagian kedua (terakhir) catatan ini.

Tari-tarian Adat Lewotolok


Selama proses ritual utan wun lolon berlangsung, masyarakat Lewotolok melaksanakan sole oha hamang basa atau tari-tarian adat Lewotolok. Tari-tarian adat ini terdiri dari:

Oha. Oha merupakan tarian adat berbentuk lingkaran yang diselingi syair-syair berbalas. Oha, dulunya merupakan ajang anak muda Lewotolok mencari jodoh.

Lian. Tarian ini mirip dengan oha hanya saja syair maupun sastra-sastra lisan yang di lantunkan berupa teka-teki yang menggambarkan utang-piutang nenek moyang dahulu. Biasanya satu lantunan teka-teki sastra lisan bisa menghabiskan satu malam untuk menjawab, ada juga yang tidak bisa di jawab hingga di lanjutkan tahun berikutnya pada momen ritual utan wun lolon.

Hedung. Merupakan tarian perang masayarakat Lewotolok, sehingga alat-alat tarinya berupa parang, tombak dan dopi (sebilah papan) yang di pegang saat menari.

Ketaong. Ketoang merupakan tarian silat kampong. Tarian ini biasanya diperankan oleh laki-laki.

Sileken. Tarian dilakukan oleh dua orang. Masing-masing penari memegang rotan untuk saling memukul betis pasangan.

Sole oha hamang basa atau segala jenis tari-tarian ini dilaksanakan di namang kampung adat Lewotolok. Namang adalah sebuah area luas, terletak di tengah kampung. (bersambung)

Zafry Taran Lamataro |
Nama lengkapnya adalah Siprianus Taran Lamataro. Putra Lewotolok, sekarang menetap di Kota Kupang. Zafry mengelola blog lamatarotaran.blogspot.com.

Kalau Saya Tidak Buang Sampah di Sini, Terus Mau Buang di Mana?

Ruteng 'dinobatkan' sebagai salah satu dari beberapa kota kecil paling kotor di Indonesia. Tahun ini. Awal 2019. Berita itu viral. Tentu 'prestasi' itu tidak diraih dengan mudah. Ada jalan panjang berliku, mungkin sejak empat atau lima tahun lalu.
kalau saya tidak buang sampah di sini terus mau buang di mana
Foto ini saya jepret dari balkon rumah toko kami.

Kalau Saya Tidak Buang Sampah di Sini, Terus Mau Buang di Mana?


Kami masih tinggal di kompleks pertokoan ketika itu. Kompleks yang sepi sekali kalau semua toko sudah tutup. Jam tujuh malam. Di Ruteng memang begitu. Sebagian besar toko tutup paling lambat jam setengah tujuh malam.

Di deretan pertokoan (lama) di Jalan Katedral, kami biasa menyebutnya 'tangsi polisi lurus terus ke bawah' hanya ada tiga ruko yang penghuninya 'tinggal dalam'. Maksudnya, selain sebagai tempat usaha, ruko digunakan juga sebagai tempat tinggal. Tiga ruko berpenghuni itu bersisian. Tempat praktek drg. Celestin (itu rumah kami), Jakarta Elektronik, dan Toko Sulawesi.

Pagi-pagi sekali, sebelum toko dibuka, kakak-kakak sebelah--panggilan akrab kami untuk pasukan Jakarta Elektronik--biasanya membersihkan pelataran toko mereka. Kami juga. Toko Sulawesi juga. Sebagian besar toko di deretan itu rata-rata begitu. Lalu masuk. Menyiapkan segala sesuatu. Berdoa. Kemudian toko dibuka. Jam delapan pagi.

Jam sembilan, satu per satu pengunjung datang. Rezeki. Disambut senyum yang ramah para penjaga toko. Klinik drg. Celestin belum buka. Karena dokternya harus ke Watu Alo setiap pagi, Senin sampai Sabtu. Bekerja di Puskesmas. Praktek dimulai jam empat sore. Saya yang menjaga rumah. Bermain dengan Rana, sampai mamanya pulang. Waktu kerja saya kala itu masih boleh sesuka hati. Indah im.

Waktu bermain itu kami isi dengan membuka setengah pintu klinik, bermain ke tetangga kiri dan kanan. Nonton tivi layar lebar di toko sebelah, melihat para pembeli dan penjual sibuk berinteraksi, sesekali ke toko kue yang letaknya beberapa belas meter dari rumah kami, lalu kembali lagi ke Jakarta Elektronik. Kakak-kakak penjaga di situ ramah-ramah dan Rana senang berlama-lama dengan mereka. Kakak-kakak yang pagi tadi membersihkan halaman toko mereka.

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng

Seorang pengunjung datang. Bapak-bapak. Mau beli tivi barangkali. Saya lupa. Toh dia tidak jadi bawa pulang apa-apa hari itu. Dia beristirahat sejenak di antara rumah kami dan Jakarta Elektronik. Bersandar di dinding. Menatap ke segara arah. Mungkin sedang memikirkan rencana perjalanan berikutnya.

Dari kresek belanjaannya dia ambil sesuatu. Makanan ringan dalam kemasan. Disobeknya kemasan itu, dimakannya makanan yang ringan itu, dan dengan ringan, tangannya membuang kemasan di halaman kami. Saya marah. Mau menegurnya, tapi terlambat. Seorang dari kakak-kakak sebelah sudah sigap.

"Om, jangan buang sampah di situ ka."

Bapak-bapak itu asyik sekali. Menoleh ke kakak perempuan yang cantik itu lalu tersenyum. Santai sekali dia. Santai yang bodoh. Lalu tidak melakukan apa-apa.

"OM! SAMPAHNYA ITU KA!"

Si bapak marah karena kali kedua teguran itu datang dalam rupa bentakan. Saya menunggu detik-detik berikutnya sambil memperhitungkan kemungkinan menendang kepalanya kalau sampai dia bertindak kasar pada tetangga kami itu.

Untunglah dia tidak melakukannya. Dia masih tersenyum lalu dengan asyik dan santai dan bodoh malah bertanya: "Kalau saya tidak buang sampah di sini, terus mau buang di mana?" Masuk akal. Memang tidak ada tempat sampah di sekitar situ.

Kakak yang tadi menegurnya langsung melotot. Tanpa kata-kata tetapi saya tahu itu adalah pandangan murka. Itu kemasan makanan kan bisa dikantongin. Disimpan di saku. Saya menduga itu yang dia pikirkan tetapi terlampau lelah menghadapi pertanyaan bodoh si bapak sehingga tidak mampu mengungkapkannya dengan bahasa. Dia masih melotot.

Baca juga: Orang-orang ini Dilarang Mengunjungi Tempat Wisata Kami

Saya meminta Rana masuk ke rumah, lalu mendekati si bapak. Menepuk pundaknya perlahan lalu menjelaskan bahwa membuang sampah di sembarang tempat itu tidak baik. Eh, ternyata si bapak tahu. Dia menjelaskan bahwa dia tahu soal itu tetapi melakukannya karena di sekitar situ tidak ada tempat sampah.

"Kalau saya tidak buang sampah di sini, terus mau buang di mana?"

Kalimat itu dia sampaikan lagi. Kali ini kepada saya. Lalu saya menawarkan solusi: "Om tidak perlu buang di sini." Saya memberinya jeda untuk berpikir. Tetapi dia malah tertawa. Maka saya lanjutkan kalimat saya. "Om bisa makan sekalian dengan ini bungkusan."

Ketika mengatakan itu, saya memungut kemasan makanannya dan meletakkannya di tangannya seperti seorang penyuap memberi amplop kepada pemeriksa proyek. Penuh kesopanan. Dia tersinggung. Saya tersenyum.

Saya tahu dia marah. Tetapi saya sungguh berharap dia mencobanya sesekali. Makan jajanan ringan lengkap dengan kemasannya. Dengan itu kita membantu mengurangi sampah di kota Ruteng ini dan menjadi lebih kenyang.

HOIIIIII! ITU KULIT PERMEN KAN KAU BISA KANTONGI! BAWA PULANG. BUANG DI TEMPAT SAMPAH DI RUMAHMU! ATAU DI TEMPAT TIDURMU JIKA BERKENAN! BODOH SEKALI!

Saya selalu heran dengan kemampuan kita membenarkan diri: karena di sini tidak ada tempat sampah, maka saya buang sampah saya di halaman orang saja. Saya juga heran bahwa ketika Ruteng 'dinobatkan' sebagai kota kecil yang kotor, kita langsung tahu bahwa bukan kita yang bertanggung jawab. Asyik sekali kita ini. Asyik sekali kota ini!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Dua Tawaran Menyiapkan Generasi Antikorupsi

Seringkali kita lebih suka mengampanyekan perang terhadap korupsi yang sudah besar namun kita lupa bicara tentang perang terhadap korupsi ‘kelas teri’. Lalu ada fenomena lain yakni perang yang lucu: hukum lebih tajam ke bawah namun tumpul ke atas. 
Bonefasius Zanda

Dua Tawaran Menyiapkan Generasi Antikorupsi


Oleh: Bonefasius Zanda

Perang melawan korupsi yang semestinya mempertaruhkan kebenaran, martabat bangsa, dan juga hukum yang adil dan bermartabat, berubah menjadi ajang mempertaruhkan kekayaan, jabatan, dan status. Yang memiliki banyak uang dan jabatan, akan menang, sedangkan yang lemah dan miskin akan kelah.

Yang curi kakao akan diperangi dengan begitu cepat. Dalam sekejap mata, dijebloskan ke dalam jeruji besi. Kepada pejabat negara yang melakukan penyimpangan dan merugikan negara yang amat besar, cara perangnya begitu lamban. Kadang, saking lambannya, lalu lenyap tanpa arah. Entah ke mana. Kelucuan ini menjadi konsumsi publik. Tanpa menyebutkannya, semua orang tahu. Mengapa?

Ya, masalah korupsi di Indonesia sudah semacam kebutuhan pokok bagi para pejabat yang kian merajalela dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah yang terpencil. Padahal kita semua tahu bahwa perilaku korup adalah salah satu penyebab buramnya potret wajah bangsa kita dari dulu hingga kini.

Ironisnya, perilaku koruptif seringkali dipertontonkan oleh para pejabat bangsa kita. Kekuasaan acapkali digunakan untuk ‘melegitimasinya’. Kasus Hambalang, kasus pajak, kasus 100 Kepala Daerah terjerat korupsi, OTT yang rentan terjadi pada setiap Kepala Daerah, hingga e-KTP, seakan-akan mau melegitimasi bahwa korupsi adalah hal yang biasa yang terus dipraktikkan oleh para pejabat bangsa kita.

Fakta buram ini juga, mau menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia telah menjadi masalah laten karena telah dipraktikkan secara luas dan sistematik dan berkelanjutan. Karena itu korupsi telah merugikan bahkan mematikan sendi-sendi kehidupan berbangasa dan bernegara. Mulai dari merendahnya martabat manusia dan bangsa, kerugian keuangan negara, perekonomian, hingga roda pembangunan nasional.

Baca juga: Indonesia Negeriku Amnesia

Untuk merespons realitas destruktif itu sekaligus sebagai salah satu langkah awal yang dibuat oleh bangsa Indonesia untuk menanggulangi prilaku koruptif, dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2002 silam. Kehadiran KPK memberi harapan besar. Eksekutif, legislatif hingga yudikatif pernah merasakan panasnya ‘baju khas’ KPK itu. Meskipun demikian, KPK tidak mampu bekerja sendirian karena fokus mereka pada puncak ‘Gunung Es’, sehingga korupsi recehan atau kelas teri (seolah) belum bisa tersentuh.

Meski usaha pemberantasan korupsi adalah pekerjaan yang maha berat, tetapi bila upaya preventifnya kita temukan maka bibit-bibit korupsi akan ditanggulangi dengan baik dan berkelanjutan. Apa usaha preventifnya?

Penulis menawarkan dua hal.

Pertama, keluarga merupakan tempat, fondasi untuk membentuk karakter seorang anak dan juga agen sosialisasi yang pertama. Dalam keluarga, seorang anak mengetahui banyak hal termasuk mampu membedakan mana yang baik dan buruk.

Ibarat sebuah bangunan, yang harus dibuat pertama kali adalah fondasi. Fondasi yang kokoh akan membuat bangunan rumah menjadi kuat dan tidak mudah roboh jika badai datang menerjangnya. Proses penanaman ideologi terhadap anak terjadi pertama kalinya adalah dalam lingkungan keluarga. Karena itu dapat kita yakini bahwa keluarga dapat menjadi alat yang paling efektif dan sangat fundamental dalam menumbuhkembangkan budaya antikorupsi.

Peran orang tua menjadi sangat sentral. Penanaman nilai-nilai, termasuk di dalamnya nilai kejujuran dan perilaku antikorupsi diteladani anak dari perilaku orang tuanya. Karenanya, ketika anak membuat kesalahan, orang tua langsung mengambil sikap. Jangan membiarkannya hingga larut dalam waktu yang lama.

Sebaliknya, kebiasaan orang tua tertentu yang selalu berharap pada guru atau melapor pada guru ketika anak melakukan penyimpangan di rumah, segera dihentikan. Sebab, di rumah harus dan tetap menjadi medan atau wadah mendidik oleh orang tua; bukan melempar tanggung jawab kepada guru.

Seperti cerita yang dituturkan oleh Ketua KPK non aktif, Abraham Samad, yang ‘mencuri’ kapur tulis berjumlah lima batang, tapi ketika ibunya tahu, kapur yang ‘hanya’ lima batang itu harus dikembalikan karena untuk membelinya memakai uang Negara. Mencuri lima batang kapur tulis itu adalah hal yang sangat sepele. Tapi hal-hal sepele itulah yang akan terus membekas dalam hati, dan akan membentuk karakter anak bangsa yang luar biasa.

Hal yang lainnya adalah pola asuh antikorupsi dalam keluarga juga harus diimbangi dengan penerapan sikap dan pola hidup sederhana. Pola hidup sederhana ini dapat membentuk kepribadian anak yang kuat, sehingga dapat dijadikan benteng bila diserang dengan rayuan uang ataupun rayuan lainnya yang menjerumuskan anak ke dalam perilaku korupsi.
Karena itu, untuk mendidik anak menjadi pribadi antikorupsi sejak dini, keteladanan, kejujuran, tanggungjawab, dan kerja keras dari para orang tua adalah keharusan.
Kedua, sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak. Selama 7 sampai 11 jam sehari mereka berada di lingkungan sekolah. Sekolah sebagai rumah juga semakin dipertegas oleh gagasan Mendikbud Muhadjir Effendy. Bahwasanya Presiden Joko Widodo telah berpesan bahwa kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah ketika dua aspek pendidikan bagi siswa terpenuhi: pendidikan karakter dan pengetahuan umum.

Oleh karenanya Muhadjir Effendy mengusulkan penerapan full day school di Indonesia. Full day school atau sekolah sehari penuh di usulkan penerapannya oleh Mendikbud untuk seluruh sekolah yang ada di Indonesia, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Tujuan dari program full day school ini adalah untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Juga mengurangi risiko pergaulan bebas seperti, memakai narkoba, perilaku koruptif, dan tindak kriminal lainnya.

Karena itu, selain rumah, sekolah juga harus mampu menjadi tempat berseminya nilai-nilai dan budaya antikorupsi. Hal ini bisa dilakukan dengan pendidikan karakter melalui pembentukan soft skills para peserta didik.

Baca juga: Ahok, Kita Bukan Gading Kan?

Menurut Robert K. Cooper, ada beberapa kecerdasan dalam diri manusia, yakni aspek rasio atau kecerdasan akal budi (IQ), aspek ‘hati’ atau kecerdasan emosi (EQ), dan aspek ‘ilahi’ atau kecerdasan spiritual (SQ). Apa yang mereka tinggalkan dan acapkali dilupakan adalah aspek ‘hati’ atau kecerdasan emosi (EQ) dan aspek ‘ilahi’ kecerdasan spiritual (SQ). Padahal, budaya pembentukan karakter anak yang antikorupsi harus terus dipraktikkan di lingkungan sekolah dengan menyentuh aspek hati, spiritual dan intelektual.

Untuk bisa mempraktikkannya secara benar maka, keteladanan para guru baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah hal yang paling diutamakan. Keteladanan (sikap) dari para guru justru jauh lebih menyentuh ketimbang kata-kata berupa nasihat atau KBM di kelas. Guru harus tetap menjadi cermin hidup dalam segala aspek bagi anak murid dalam menata dan membentuk kepribadian mereka.

Para guru harus menjauhi perilaku koruptif dalam bentuk apa pun karena pendidikan erat kaitannya dengan kebenaran dan keteladanan hidup. Mengapa? Karena guru yang belajar dan mengetahui yang benar akan mempraktikkan hal yang benar pula di hadapan anak-anak, dan sebaliknya guru yang belajar hal-hal yang salah akan mempraktikkan atau mengajarkan hal yang salah pula kepada anak-anak.

Selain itu, hindari juga praktek keliru yang menjadikan lembaga pendidikan hanya berfokus pada peningkatan kecerdasan otak dan mengabaikan kecerdasan yang lain. Sebaliknya, hindari juga memaknai pendidikan ‘hanya’ sebagai medan atau tempat untuk sekadar mendapatkan ijazah yang minus praksis dan melupakan pembentukan pribadi-pribadi berkarakter.

Untuk mewujudkan harapan membudayakan pendidikan antikorupsi, maka orang tua dan guru harus menanamkan dalam diri anak nilai kejujuran, tanggungjawab, dan takut akan Tuhan lewat keteladanan hidup, di rumah dan di sekolah. Jangan biarkan virus perilaku koruptif menyerang sendi-sendi kehidupan para generasi penerus kita menjadi besar seperti gunung es.

Kerja sama antara orang tua dan sekolah mesti juga menjadi dasar pijak yang kuat dan terus dirawat, sebab pendidikan karakter serta ikhtiar untuk mewujudkanya hanya bisa tercapai apabila, menumbuhkembangkannya hingga menjadi budaya yang mendarah daging. Jika sikap-sikap humanis ini dihidup oleh orang tua, sekolah dan lingkungan sosial, maka niscaya, perilaku-perilaku menyimpang yang merongrong hidup akan diberantas sejak dini

Saya menutup tulisan sederhana ini dengan sebuah cerita. Suatu ketika, seorang pemburu yang perkasa pergi ke hutan. Di sana ia bertemu kurcaci yang masih kecil. Kurcaci itu menantang si pemburu berkelahi. Mendengar tawaran kurcaci ini, pemburu mengatakan: “Kurcaci, kau masih terlalu kecil dan lemah untuk melawan saya. Sebaiknya kau pulang, dan tunggu kau besar dulu baru melawan saya”.

Lima tahun kemudian, si pemburu kembali lagi ke hutan yang sama dan bertemu lagi dengan kurcaci yang sama pula. Namun kali ini kurcaci itu sudah besar dan kekar. Seperti Sang Pemburu. Dan ketika kurcaci menantangnya lagi, si pemburu menarik napas dalam-dalam sembari bertanya dalam hatinya: mampukah saya mengalahkan kurcaci yang sudah besar ini?

Si pemburu melayani permintaan kurcaci itu. Pertempuran sengit terjadi. Si Pemburu akhirnya mampu mengalahkan Kurcaci dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Kedua kakinya patah, kepalanya terluka, juga sekujur tubuhnya. Dia harus menjalani sisa hidupnya dengan derita lumpuh. (*)

Bonefasius Zanda |
Pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa - Flores - NTT. Selain mengajar, juga menangani kegiatan ekskul: menulis, berdebat, dan majalah sekolah Sura Ratu Damai (SRD) Regina Pacis.

Anda Kritik Karya Saya, Karya Anda Sudah Bagus?

Judul tulisan ini adalah reaksi paling umum yang kita dengar jika seseorang merasa kritik atas karyanya datang dari orang yang tidak punya karya serupa. Anda kritik karya saya, memangnya karya Anda sudah bagus?
anda kritik karya saya karya anda sudah bagus
Anda kritik karya saya, karya Anda sudah bagus? Mikir! | Foto: RLiD

Anda Kritik Karya Saya, Karya Anda Sudah Bagus?


Jangan heran kalau dunia kritik, mulai dari seni (sastra, film, teater, musik, dan lain-lain) sampai politik, tidak berkembang baik di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Kita sudah telanjur memeluk agama pro dan kontra. Menjadi anak-anak yang gemar berkelahi. Melupakan substansi.

Akibatnya? Ketika satu kritik muncul, katakanlah kritik puisi, yang pro langsung pakai itu sebagai bahan sindiran. Menyerang yang dikritik. Habis-habisan. Pakai meme jika perlu. Biar lebih milenial. Yang kontra? Tersinggung berat. Langsung pakai senjata pamungkas: "Receh banget sih. Bisanya cuma kritik. Situ sudah bikin puisi berapa ribu?"

Katakanlah yang mengkritik bernama Umar Bakrie. Dia kaget sekali bahwa orang-orang tak lagi membicarakan substansi kritikannya tetapi lebih asyik saling serang. “Kenapa jadi begini?” Tanya Pak Umar di atas sepedanya. "Berkelahi, Pak!" Jawab murid seperti jagoan. Bapak Umar Bakrie kaget bukan kepalang. Itu sepeda butut dikebut kalang kabut, cepat pulang. Standing dan terbang.

Setibanya di rumah, Pak Umar coba menulis puisi agar nantinya 'dianggap layak' membedah puisi orang. Tak berhasil. Karena sesungguhnya, ilmu yang dia pelajari adalah tentang kritik sastra dan bukan tentang cara mudah menulis puisi a la Narudin. Pak Umar memutuskan berhenti menulis kritik. Dan dunia kritik menjadi sepi, dunia puisi jalan di tempaaaat grak!

Akibat selanjutnya adalah seumpama apa yang telah dipotres Pamusuk Eneste berpuluh-puluh tahun silam. Di majalah Budadja Djaja edisi 60 tahun keenam, Mei 1973, Pamusuk menulis: Ada pula gejala yang kini terlihat dalam dunia kesusastraan Indonesia, bahwa banyak pengarang-pengarang kita yang bergantian saling menyoroti karya sesama pengarang, bak yang sifatnya cuma pemujaan dan pemujian maupun yang bersifat "kritik sastra".
Ya, karena itu tadi. Kita lebih cenderung percaya kalau kritik harus datang dari seseorang yang berpengalaman menghasilkan sesuatu seperti objek yang dikritikanya, dan sangat bagus. 
Sesungguhnya yang begitu juga baik-baik saja. Tetapi dampak berikutnya adalah sebagaimana pandangan Ajip Rosidi dalam artikel Pamusuk Eneste itu: Penyair-penyair muda kita banyak yang kemudian menjadi 'kritikus' menghakimi karya temannya penyair yang lain. Saling menghakimi.

Adooo, Tuan Deo e. Kita berkelahi lagi. Pak Umar kaget lagi. Standing dan terbang lagi. Nasiiip, nasip. Maavkan kami, Pak Umar.

Baca juga: Jeff Goins: Penulis Tak Boleh Puas dengan Karyanya

Tidak hanya di urusan seni. Pola yang sama ada di seluruh sendi kehidupan di negeri ini. Di kampus, di dusun-dusun, di senayan, di sana dan di sini. Urusan kritik-mengkritik ini berujung pada: "Emang kalo situ jadi saya, situ bisa?" Yaelaaah, Kakaaaak. Kalau untuk mengkritik Presiden Amerika kita harus (pernah) jadi Presiden Amerika juga, kapan tempo? Jadi Presiden Indonesia saja susahnya minta ampun. Tidak percaya? Berarti Anda tidak lihat pengalaman beberapa tahun terakhir.

Jadi ya, begitu. Perdebatan-perdebatan kita di segala lini menjadi tidak substansial. Termasuk di urusan pemilihan presiden dan wakil presiden. Pemeluk agama pro dan kontra terjun bebas dalam “perkelahian”.

Kalau paslon nomor satu dikritik, pendukung paslon nomor dua menari-nari, dan pendukung paslon nomor satu mencari-cari. Yang dicari adalah bahan serangan balik. Alih-alih memperbaiki diri, tema baru dimunculkan. Begitu sebaliknya, dan berlaku seterusnya. Bagaimana ini, Pak Umar?

Rasanya, atas dasar itulah, kelompok-kelompok intelektual yang diharapkan hadir dengan wacana kritis menjadi malas berpikir. Ada yang malah memilih menikmati sorotan kamera: para ‘intelektual’ social climber, yang sadar bahwa pernyataan kontroversi nirsubstansi akan membuat mereka lebih terkenal. Daripada lelah-lelah membaca segala macam teori dan melakukan riset untuk sebuah kajian kritis, bukankah kita bisa belajar dari meme?

Demikianlah basis kritik kita adalah meme. Membalasnya dengan meme pula. Lalu menjadi lupa, apa seharusnya yang harus diperbaiki? Gelombang lain yang pasti muncul adalah kebencian yang mengalir deras kepada kritikus yang keukeuh mendasarkan narasinya pada metode-metode yang kuat.

Baca juga: Belajar Menulis pada William Forrester

Pamusuk Eneste menulis: Alangkah tidak lucunya jika seseorang membenci seorang kritikus, hanya karena karyanya dikritik. Sebab, yang paling penting bukanlah orangnya, tetapi sampai sejauh mana kritik sastra yang ditulis itu bisa kita terima.

Ya, memang tidak lucu. Justru menyedihkan. Apalagi kalau kebencian itu terjadi karena kita sudah punya junjungan masing-masing. Atau karena kita grasa-grusu. Memangnya kita atau junjungan kita itu sudah jadi benar sejak lahir? Aneh-aneh saja. Berharap bisa tampil semakin baik, tetapi justru berjuang memaksimalkan potensi antikritik.

By the way, siapa pun yang berniat mengkritik tulisan ini, saya cuma mau tanya: Anda kritik karya saya, karya Anda sudah bagus? Halaaaah.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Kirim tulisan Anda (tema bebas) untuk menjangkau lebih banyak pembaca, ke: armin.ranalino@gmail.com.

Kalau Mau Jadi Guru Kamu Harus Lucu

Catatan ini bisa saja keliru. Akan diperbaiki jika memang perlu. Tetapi baca saja dulu. Jangan buru-buru beri nilai satu. Berlatihlah bersabar selalu. Harus begitu!
Begitu? | Ilustrasi: Ist.

Kalau Mau Jadi Guru Kamu Harus Lucu


Hari guru sudah berlalu. Setiap peringatan selalu begitu. Dirayakan, kemudian diabaikan karena datang cerita baru. Tetapi cerita tentang peran guru tidak begitu. Akan selalu ada sepanjang segala masa, dan selalu. Membuat refleksi juga begitu.

Kalau mengenang jasa para guru dan membuat refleksi tentang peran mereka hanya dilakukan pada hari guru, itu namanya terlalu. Sungguh ter-la-lu, seperti kata Rhoma Irama sebelum memulai lagu. Semenakutkan bagaimanapun seorang guru, cerita tentangnya tidak akan terhapus meski kita telah besar dan sudah membangun rumah tangga baru. Karena kalau dihapus, bagaimana negara ini bisa maju?

Di pundak merekalah nasib bangsa ini ditentukan; apakah akan lahir generasi baru yang cerdas atau justru membuat kita kembali ke zaman batu. Untuk itulah kita memerlukan para guru yang cakap, berkapasitas baik, dan menjadi bagian dari sepuluh pemuda yang diminta Sukarno, alih-alih seribu orang tua yang hendak diajaknya memindahkan Semeru.

Tetapi tidak semua guru lantas harus ditiru. Ada beberapa tipe yang justru menghambat niat kita bergerak maju. Tipe-tipe berikut ini adalah beberapa contoh dari seribu. Tentu saja berasal dari pengalaman-pengalaman pribadi, baik masa lalu maupun yang paling baru.

Tipe Guru yang Terburu-buru


Ini tipe guru yang ingin para muridnya segera menjadi pintar sehingga cenderung tidak sabar menunggu. Akibatnya, dia akan mudah memberi label pada muridnya-muridnya itu: anak pintar, anak malas, anak bodoh, anak belagu, bahkan ada yang diberi label sebagai anak bau.

Tipe guru seperti itu lumayan banyak jumlahnya, untuk tidak menyebut sebagian besar guru memang begitu. Yang tidak disadari adalah akibat pelabelan-pelabelan demikian, yang mendapat julukan buruk merasa bahwa pandangan gurunya itu benar, meyakininya dengan sungguh, lantas enggan bergerak maju.

Baca juga: Surat Terbuka dari Ruteng untuk Najwa Shihab

Masih sebagai akibat, yang lainnya adalah pengaruhnya pada pendekatan sang guru. Kepada anak yang bau guru tidak lagi ingin mendekat, kepada yang belagu guru lebih sering memberi siksa, yang pintar didampingi selalu--diutus ke lomba-lomba, dipuja dan dipuji, direkomendasikan ke universitas nomor satu.

Guru yang terburu-terburu seperti itu umumnya akan menciptakan situasi yang buruk terutama pada pembentukan karakter siswa-siswa yang 'dipinggirkan', dan karenanya tidak perlu ditiru.

Tipe Guru yang Tidak Banyak Tahu


Ini banyak ditemukan pada zaman now di mana seluruh teknologi pesat melaju. Sebagian guru masih 'tertinggal' di zaman dahulu sehingga tidak bisa lagi menyesuaikan pengajarannya dan menjadi mati kutu. Ya, begitu. Di hadapan gerak revolusi digital 4.0, banyak guru yang tidak tahu lagi cara meningkatkan mutu.

Guru seperti itu menjadi mudah tersinggung karena muridnya lebih banyak tahu. Akibatnya, mereka mengulang-ulang pernyataan bahwa nomor satu guru selalu benar dan jika guru salah maka semua harus kembali melihat peraturan nomor satu. Kegiatan belajar mengajar akan menjadi kacau. Murid-murid yang telah banyak tahu akan menjadi kepala batu.

Guru yang tidak banyak tahu, yang melengkapi ketidaktahuannya itu dengan tidak pernah berusaha belajar adalah batu sandungan bagi gerak maju dunia pendidikan di negeri ini, negeri seribu pulau.

Guru yang Mirip Serdadu


Serdadu adalah orang-orang yang dianggap kejam di zaman dahulu. Membawa senjata, mengamankan negara, mengancam jiwa-jiwa pemberontak dengan lars sepatu atau tang pencabut kuku. Ada guru yang seperti itu.
Kehadirannya di ruang kelas akan membuat seluruh kelas terdiam membisu. Guru killer, istilah populernya begitu. Umumnya yang mengampu mata pelajaran tertentu. 
Guru yang seperti itu membuat anak-anak tidak bisa apa-apa selain setuju. Kreativitas siswa menjadi mati dan lonceng tanda pelajaran berakhir seumpama jawaban atas sejuta rasa rindu. Kecerdasan apakah yang dapat diperoleh dari proses pengajaran seperti itu?

Tiga tipe guru di atas sudah seharusnya tidak perlu ada di zaman sekarang yang serba maju dan penuh semangat baru. Bukankah begitu? Yang kita butuhkan adalah guru-guru yang banyak tahu, mengajar dengan lucu, memberi perhatian yang sama pada semua murid dari yang paling pintar sampai yang paling lugu.

Tentu saja perhatian yang sama berarti bahwa setiap murid mendapat perhatian sesuai dengan apa yang paling dia perlukan, bukan apa yang dipikirkan oleh guru. Karena guru tidak boleh sok tahu. Karena itulah negara perlu menyiapkan para guru. Agar menjadi lebih bermutu. Melalui pendidikan dan pelatihan yang dirancang dengan jitu. Lihat video ini dulu!


Ada juga hal selain itu. Guru-guru seharusnya tidak dipaksa berurusan dengan urusan-urusan administrasi yang membuat mereka lupa menyiapkan pelajaran bahkan lupa menyetrika baju. Padahal guru-guru harus tampil prima: baju disetrika, sepatu disemir, dan tidak memakai kaus kaki bau.

Baca juga: Om Rafael Bertemu Guru Don

Beberapa guru yang saya temui di sela peringatan hari guru kemarin itu mengeluhkan kurangnya waktu mereka membaca buku. "Bagaimana kami baca buku kalau setiap hari hanya sibuk dengan administrasi yang banyaknya sepulau?" Saya mendadak setuju. Tetapi kalau mereka tidak mau mengurus administrasi, bagaimana bisa beli kaus kaki baru?

Urusan-urusan administrasi umumnya berhubungan dengan kesejahteraan para guru. Idealnya adalah mereka semua belajar mengatur diri agar menggapai kesejahteraan tidak membuat mereka lupa membaca buku. Saya kira begitu.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan: Sadarkah Anda bahwa setiap kalimat pada catatan ini diakhiri dengan huruf /u/?

Kritikus Bukan "Haters", Jangan Pakai Dua Jawaban Ini

Bob Itok menulis pendapatnya tentang reaksi yang perlu agar kritik dapat dipakai sebagai senjata memperbaiki diri dan karya. Selamat menikmati!
kritikus bukan haters jangan pakai dua jawaban ini
Bob Itok

Kritikus Bukan "Haters", Jangan Pakai Dua Jawaban Ini


Oleh: Bob Itok

Apakah yang memberi kritikan layak dilabeli "haters"? Kritik, sebuah kata yang membuat jeri sebagian orang, terutama yang berkarya untuk publik. 

Harus diakui, menerima kritik dengan lapang dada itu butuh proses. Saat awal kita belajar menghasilkan karya, kritik terasa begitu menyakitkan. Saya sudah bikin cape-cape, eh malah dihina-hina. Jahat sekali. Begitu kira-kira perasaan orang yang dikritik. 

Tapi lambat laun, saya mulai merasa kritik itu penting. Dan kalau berbicara dalam hal begini biar dianggap terkesan sportif atau legowo, tidak sebegitunya juga. I seriously embrace critics

Menurut saya kritikus ada dua macam. Kritikus biasa dan kritikus pasar.

Kritikus Biasa

Ini adalah tipe kritikus pada umumnya. Argumen dalam kritikan mereka biasanya substansial dan lugas. Kritikus ini mencakup kritik populer yang ditujukan untuk konsumsi umum, kritik jurnalis yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. 

Juga ada kritik keilmuan, bersifat akademis dengan wawasan dan keilmuan yang luas serta kepakarannya telah teruji dalam sebuah karya yang menjadi objek sasaran kritik tersebut, dan kritik kependidikan yang biasanya diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar di sekolah dengan referensi buku-buku atau dokumentasi yang akurat. 

Kritikus Pasar 

Istilah ' Kritikus Pasar' ini disematkan pada kritikus yang mengkritik sudah bukan pada substansinya saja, melainkan sudah melancarkan serangan yang bersifat pribadi. Ciri-ciri kritik seperti ini biasanya dipenuhi istilah-istilah yang bombastis dengan tujuan memberi hinaan semaksimal mungkin. Sehingga seolah-olah mengajak kita untuk berpikir bahwa dia seakan iri dan tidak menyukai kita dalam berkarya.  

Bisa saja ia mengkritik karena merasa dikalahkan atau disaingi. 

Baca juga: Membedakan Kritik dan Ungkapan Sakit Hati Bertopeng Kritikan

Lantas, apakah yang 'pasar' ini tidak perlu kita dengar? Tidak juga. Justru mereka perlu ada, agar warna kita dalam berkarya lebih nampak dengan kehadiran tanpa mengenyampingkan kritikus tipe pertama tadi. Sebab dari kritikus dengan lidah paling tajam sekalipun, hampir selalu ada kebenaran yang bisa dijadikan pelajaran. 

Hanya saja butuh kedewasaan ekstra. Ibaratnya, ini menu kritik yang disajikan panas dari penggorengan. Butuh kesabaran sebelum menyantap. Tetapi tetap tidak mengurangi esensinya sebagai hidangan yang bergizi. 

Dan, karena memang butuh kematangan untuk menerima kritik, sebagian orang menghadapi kritik dengan pose defensif. Ada pembelaan yang biasanya dilancarkan. Meski saya sendiri seniman (penulis) atau bukan, saya mau membahas betapa pembelaan-pembelaan semacam itu bukan hanya tidak valid, tapi juga memupuk pola pikir yang salah.

Kritikus Bukan "Haters" 


Tentang reaksi atas kritik, berikut adalah dua pembelaan paling umum yang sering kita dengar.

Pembelaan Pertama: “Ah bisanya menghina saja, kamu bisa bikin lebih bagus dari yang saya bikin, tidak?” Dengan logika seperti ini, berarti kalo saya makan kompiang dan protes karena saya tidak suka dengan isi dagingnya, maka saya harus bisa bikin kompiang tandingan? Ribet amat

Pembelaan Kedua: “Hargai sedikit kah. Saya sudah bikin cape-cape, yang ada bisamu menghina...!” Again, mari kita pake analogi kompiang. Ini sama saja protes bahwa daging di kompiang saya alot, lalu orang Manggarai yang menjualnya menjawab: “Eh, hargai sedikit kah! Ko tir tau kah? Sa bikin kompiang itu semalaman!”

Relevan? Tidak. Audiens itu menilai berdasarkan hasil, bukan usaha. Untuk memaksa mereka mempertimbangkan faktor usaha ke dalam penilaian adalah sesuatu yang egois dan salah kaprah. 

Lalu, apakah yang boleh mengkritik hanya kritikus? Tidak juga. Bagi saya, semua orang yang sudah meluangkan waktu dan atau uang untuk menikmati karya kita, 100% berhak untuk omong apa pun, tanpa harus dilabeli haters, tanpa perlu dihakimi seleranya.
Yang selanjutnya dibutuhkan adalah kemampuan memilah, mana omongan yang perlu dijadikan masukan dan mana yang tidak. Kita tidak berhak mengurangi hak orang untuk berkomentar dengan bebas. 
Bagaimana dengan para pemula (dalam hal ini penulis) yang belajar berkarya, sungguh-sungguh ingin berkarya? Kembali pada pernyataan saya di awal bahwa menerima kritik dengan lapang dada itu butuh proses. Sama seperti seorang anak kampung yang ingin belajar mengemudi sepeda motor, tentu ada bagian-bagian tubuh yang mau tidak mau harus mau diterima bila lecet. Tulang kering, kuku jungkit sedikit bahkan hingga terlepas, gigi patah, betis kena cap dari kenalpot. 

Ketika dia menghargai proses dan mau belajar dengan sungguh-sungguh (juga lebih hati-hati) maka bukan tidak mungkin dia akan bisa menguasai jalur tikungan Kaju Ala, Rana Mese, dan lintas dalam kota di Flores, misalnya. 

Baca juga: Orang Cerdas itu Mendengar dengan Baik

Kritikan-kritikan yang tidak lari jauh seperti contoh di atas layak diterima oleh para pemula dalam karyanya. 

Yang sudah pakar dalam bidangnya sekalipun, tidak luput dari kritikan. Secara manusiawi kadang hati terluka, namun jika sungguh-sungguh mau berkarya dengan sungguh, menerima dan belajar dari kritikan yang datang menyerang, bisa membuat kita lebih hebat di masa yang akan datang. 

Seorang kritikus tidak dilahirkan untuk menghasilkan sebuah karya. Namun dengan kritiknya seorang kritikus menjadikan sebuah karya menjadi mahakarya. Kritikus mengajarkan bahwa kritik lebih berharga dibanding  pujian. 

Ketika dipuji, kita puas dan dengan penuh rasa bangga lalu nyaman berjalan di tempat. Sedangkan kritik sebaliknya. Pedasnya membuat kita mundur selangkah untuk ancang-ancang dengan persiapan yang lebih matang maju seribu langkah. 

Dalam berkarya juga kita sering dihadapkan pada dua opsi. Dikritik atau dipuji. Kritik bisa membuat kita kuat juga bisa mengakibatkan kita jengah. Dipuji, tanpa kita sadari membuat kita nyaman dan tidak ingin belajar. 

Acapkali pujian membuat kita tersanjung lalu tersandung hingga jatuh terjerembab. Dan ada juga orang-orang di sekitar yang mengapresiasi karya kita hanya karena dengan label teman, saudara, kenalan, keluarga, hendak mengkritik namun segan. Takut kita kecewa dan patah semangat. Bahkan mereka pun menikmati karya kita dengan cuma-cuma tanpa memberi masukan lain selain memuji. 

Tibalah saatnya kita pada posisi bahwa orang-orang menikmati karya kita bukan karena hasil karyanya tetapi karena siapa yang berkarya. Bukan karena kualitas karya yang dihasilkan tetapi karena kita telah menghasilkan sebuah karya. Nyamankah kita pada posisi ini? Bagi saya, tidak. 

Orang-orang yang menikmati karya Albert Camus bukan karena mereka berasal dari Perancis Algeria. Para penganut ilmu fisika mempelajari teori relativitas milik Albert Einstein (yang dalam gambarnya terlihat jarang mandi dan jarang sisir rambut) itu, bukan karena Einstein nenek moyang atau keluarga mereka. Karya-karya dari orang-orang besar di dunia ini dinikmati karena kualitasnya, bukan karena siapa pengarangnya. 

Akhir kata, buat teman-teman yang berkarya, ingat ini baik-baik: kritik itu ibarat obat. Rasanya pahit, tapi berkhasiat dan menyembuhkan. Menyembuhkan kita dari penyakit malas untuk belajar dan berkarya lebih baik. Jadi jikalau mau lebih kuat, jangan jauhi obatnya. Tapi latih dirimu supaya kuat minum lebih banyak obat saat sadar ada penyakit yang menyerang. Jangan banyak protes tapi hargai proses. Kita punya kewajiban memilah setiap penilaian.

Bob Itok |
Sedang menyiapkan buku Kumpulan Senandika, bukunya yang kedua setelah buku puisi "Viabel Nostrum". Puisi-puisinya juga dapat dinikmati di kanal Youtube "Bob Itok".

Anda bisa bergabung di ranalino.id dengan mengirim catatan-catatan menarik via surel: armin.ranalino@gmail.com.

Spiritualitas "Beri Abis", Renungan Adven Minggu Terakhir

Maria menjadi besar bukan karena dirinya sendiri tetapi karena Yesus Kristus Puteranya. 
spiritualitas beri abis renungan adven minggu terakhir
Rm. Beben Gaguk

Spritualitas "Beri Abis", Renungan Adven Minggu Terakhir


Oleh: Rm. Beben Gaguk

Kita memasuki pekan terakhir dalam persiapan untuk merayakan natal. Bacaan-bacaan Kitab Suci perlahan-lahan namun pasti mengarahkan kita untuk masuk dalam peristiwa Natal. Pada Pekan Adven III yang baru saja dilewati, kita semua diajak untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan karena kasih dan kesetiaan Tuhan yang tiada batasnya bagi kita semua.
Kita sebagai manusia tidak setia, tetapi Tuhan setia adanya. 
Bacaan Injil pada Minggu IV Adven mengajak kita untuk mengarahkan perhatian pada Bunda Maria.

Maria, Dia yang Terberkati


Lukas 1:39-45 mengisahkan kunjungan Maria yang sedang hamil muda ke Elisabeth, yang sduah enam bulan mengandungYohanes Pembaptis. Ketika tiba di rumah Zakaria, Maria menyalami Elisabeth. Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan dalam rahim Elisabeth ibundanya.

Pengalaman sukacita Yohanes ini bersama Roh Kudus yang memenuhinya membuat Elisabeth mengidungkan madah ini: “Diberkatilah Engkau di antara para perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialahia yang telah percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana.” (Luk 1:42-45).

Kisah kunjungan Bunda Maria memiliki makna yang sangat mendalam. Elisabeth mengakui Yesus di dalam rahim Maria sebagai Mesias dengan berkata, “Ibu Tuhanku”.  Bukan hanya Elisabeth sekeluarga yang mengakui Yesus sebagai Anak Maria tetapi kita semua saat ini juga percaya dan menerima Yesus sebagai Anak Bunda Maria.

Bunda Maria merupakan perempuan yang terberkati. Ia memainkan peranan yang sangat penting di dalam sejarah keselamatan. Ia melahiran Yesus, ibu Tuhan! Maria menjadi besar bukan karena dirinya sendiri tetapi karena Yesus Kristus Puteranya.

Dalam bacaan pertama Mikha menganggap Yerusalem sebagai kota yang tidak dikenal tetapi akan muncul seorang pemimpin yang kuat; demikian Bunda Maria juga seorang wanita sederhana akan melahirkan Yesus, Sang Penyelamat Dunia.
Hal terpenting dalam diri Maria dan menjadi segala-galanya adalah bahwa dia percaya! Maria adalah orang percaya. Elisabeth menyapa Maria sebagai “Bahagia” bukan karena Maria adalah ibu Yesus,  tetapi karena Maria percaya pada Sabda Allah. 
Elisabeth penuh dengan Roh Kudus maka ia juga tidak mengatakan berbahagialah “engkau” (hanya Maria) yang telah percaya melainkan “berbahagialah ia (saat ini kita semua) yang telah percaya”. Berbahagialah semua orang, anda dan saya, yang percaya kepada Tuhan dan SabdaNya.

Maria dan Spiritualitas “Beri Abis”


Menjadi pengikut Kristus adalah panggilan kepada sebuah pelayanan. Seorang pengikut dipanggil untuk melayani sesama, yang terpatri secara jelas dalam tritugas imamat: sebagai imam, nabi dan raja. Tugas pelayanan bersifat universal yang menyapa, merangkum, dan menyelamatkan  manusia dan budayanya.

Sebuah pelayanan yang menuntut komitmen dan dedikasi kepada Allah yang mencipta, penyelenggara dan teristimewa yang memanggil kita untuk menjadi rekan kerjaNya di dunia.

Melalui pelayanan ini, kita diikutsertakan dalam “tender proyek” keselamatan bersama Allah. Tugas pelayanan ini pada akhirnya mesti bermuara pada satu misi: Kerajaan Allah semakin menyata di dunia ini.

Menghidupi sebuah tugas pelayanan membutuhkan spiritualitas. Spiritualitas menjadi roh atau spirit yang memdorong dan memotivasi kita menjalankan sebuah misi pelayanan. Spiritualitas menjadi semacam elan vital yang menggerakkan kehendak dan kemauan kita untuk menjalankan sebuah tugas atau pekerjaan. Spiritualitas menjadi sebuah conditio sine qua non, karena spiritualitas menjamin pelayanan kita untuk selalu “dilahirkan dari atas” dan bukan lahir dari ambisi, cita-cita, pertimbangan dan kepuasan duniawi semata.

Baca juga: Natal di Ruteng, Tenda Kampung Cahaya, dan Pohon Natal Media Sosial

Spiritualitas pun memungkinkan kita tidak terjebak dalam sikap aktivisme belaka: berbuat sesuatu hanya sebagai formalitas tanpa makna, tanpa kesadaran, tanpa masa depan dan yang terjadi hanyalah bayang-bayang. Kita butuh spiritualitas, agar tugas pelayanan kita menjadi bermakna, berjiwa dan pebuh arti.

Maria telah menghidupi sebuah model spiritualitas dalam tugas panggilannya di muka bumi ini. Ia telah menyangkali “dirinya” untuk sebuah rencana Allah. Kehidupan Maria menunjukkan pemberian diri yang total bagi karya Allah. Maria rela menginggalkan pertimbangan manusiawinya untuk mengikuti kehendak Allah. Ia  melepaskan masa muda yang indah untuk segera “bergegas” menjadi seorang ibu.

Menjadi ibu dari seorang bayi tanpa kehadiran seorang ayah. Bagaimana mungkin?

Maria memberikan seluruh dirinya bagi proyek keselamatan Allah: membimbing Yesus hingga semakin besar dan dicintai oleh Allah dan sesama. Ia senantiasa hadir kemana saja puteraNya pergi. Sejak kehilangan di Yerusalem,  hingga sang Putera menghembuskan nafasnya yang terakhir di puncak Golgota.

Maria pun tetap setia di bawah kaki Puteranya, menemani sang Putera melepaskan tubuh fanaNya di dunia, sebelum bangkit menuju surga, bertahta bersama Sang Khalik. Maria menghidupi sebuah spiritualitas penyangkalan diri dan pemberian diri yang total bagi Allah dan sesama. Sebuah spiritualitas Beri Abis.

Model spiritualitas Maria merupakan sebuah tuntutan teramat signifikan bagi setiap kita, apa pun model dan bentuk pelayanan kita. Sebuah tugas pelayanan mengharuskan kita untuk rela meninggalkan kepentingan diri, ”menyangkal diri”, dan menyapa orang-orang yang merindukan rahmat keselamatan Allah.

Pemberian diri yang total menuntut kita untuk meruntuhkan tembok kedegilan hati yang egois, meluruskan proyek-proyek pribadi yang bengkok, menjernihkan aneka ambisi dan motivasi yang dangkal dan membuyarkan jumputan mimpi dan harapan yang hampa dan menggoda.
Pemberian diri yang total ini pada gilirannya memungkinkan kita untuk membuka diri terhadap orang lain. 
Artinya, ada ruang dalam diri untuk orang lain. Ada hati untuk mencinta. Ada mata untuk melihat. Ada kepekaan untuk merasa. Ada kata untuk menyapa. Dan ada tangan untuk merangkul. Dengan demikian, pelayanan kita menjadi sebuah pengabdian, tanpa ongkos, untuk Tuhan dan Sesama. (*)

Rm. Beben Gaguk |
Imam Projo asal Keuskupan Ruteng. Kini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Jerman. Penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung”.

Senandika Bob Itok - Elegi Anamnesis

Selain memproduksi konten-konten menarik untuk kanal youtube-nya, Bob Itok kini menyiapkan buku kumpulan senandika. "Elegi Anamnesis" adalah salah satu senandika di buku terbarunya itu.
senandika bob itok elegi anamnesis
Bob Itok

Senandika Bob Itok - Elegi Anamnesis


Oleh: Bob Itok

Bola matamu tempat yang paling sejuk untukku berteduh,
pelukmu tempat yang paling nyaman untukku bersembunyi dari kesunyian,
tawamu adalah alasan mengapa aku sebahagia itu.

Bila atas kehilanganmu aku sejatuh ini,
biarkan aku berteduh dalam diam,
dalam labirin yang menguatkan lewat angan-angan.

Tak mungkin lagi menjadikanmu kekasih,
aku bukan cemburu, bukan aku mengejarmu, 
menjadikanmu bagian dari lamunanku adalah sebuah kebiasaan.

Aku teringat pada lembut lingkar tanganmu yang memeluk pinggangku di perjalanan senja itu. Kadang tangan itu bergerak bebas. Semakin nakal dengan mencubit lenganku, memukul pelan kepalaku dari belakang, juga menunjuk ke sudut-sudut jalan sambil kita berdebat ke mana kita akan berhenti. Kalau memang berpaling itu dilarang, baiklah aku berkata jujur sekarang, pada saat-saat denganmu yang kudambakan hanya melangkah. Ke mana saja, asal bersamamu aku tak akan kehilangan arah. 

Lalu tiba-tiba rengekanmu membuyarkan lamunan dan kita memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan, sembari menghitung daun-daun gugur dan menikmati kepak sayap burung pada langit senja di bawah lampu kota yang sebentar lagi dengan malu-malu menampakkan cahayanya. Kita terbiasa mengabadikan kenangan lewat gambar yang direkam lensa kamera.

Malam pun kembali menyembunyikan bintang, menandai kau sebagai satu-satunya pusat terang. Menyala di hatiku, hangatnya mencairkan rindu yang lama membeku. Mengulang semua celotehmu di kedai kopi tempat biasa kita berjumpa. Aku suka mendengar sayup nyanyianmu yang membuatku tetap terjaga saat kita membelah bising jalanan. Kemudian kau kembali mencubit lenganku berulang kali, memencet hidungku, dan menatap tajam kedua mataku untuk menyampaikan pesan jangan lagi terlambat menjemputmu saat pulang sekolah. Aku tidak tahu harus membalas dengan apa, cuma bisa tertawa menanggapi ketusmu itu, lucu. Sepertinya di hadapanku kau memang butuh dimanja. Dengan tingkah manja yang kekanak-kanakan, kau selalu saja menggemaskan.

Pada diam yang sengaja disembunyikan dengan senyum simpul di hadapanmu, saat-saat tertentu kau seolah bukan saja kuposisikan sebagai kekasih. Kau adalah adik perempuan yang patut dijaga, dicubit saat salah bertingkah, dielus saat ingin dimanja. Dipeluk saat kedinginan sambil memberi kecup-kecup lambat di pinggiran keningmu. 


Entah mengapa aku selalu suka melihatmu cemberut. Kau jadi lebih lepas bercerita tentang banyak hal, diselipi tawa yang memenuhi ruangan, kau adalah ratu yang setiap tingkah lakunya selalu kuterima menetap di singgasana. Sebelum akhirnya aku tersadar pipimu yang menggembung saat cemberut itu kini sudah mendarat di telapak tangan yang baru. Aku menulis kisah ini sebagai ucapan selamat atas rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. Terima kasih sudah memberiku ingatan pada setiap kenangan terbaik di masa itu, dan semoga di peluknya kelak kau tetap bisa berbagi kisah.

Aku yang jarang peduli dengan lampu lalu lintas, walau nyalanya merah pertanda kita berhenti, namun aku lupa tak sadarkan diri untuk bersabar menanti warna hijau membias. Bayangkan! Sebodoh itu aku di jalanan, lantas kau di benakku selalu terlintas. Jelas-jelas kau melingkar peluk dari belakangku, namun alur pikirku jauh membayangkan bagaimana perjalanan kita saat senja bersama anak-anak nanti.

Beberapa orang, termasuk aku, sangat sulit untuk bisa bangun pagi. Terutama karena kebiasaan begadang nestapa, semacam tak bisa tidur akibat memikirkan orang yang sekalipun tak peduli akan perasaanku sendiri, hidup tak teratur, hati kian tersungkur. Yang paling menyebalkan adalah begitu bangun tersadar telah terlewatkan banyak hal. Entah itu dari berita, kabar-kabar tetangga, terutama dari kamu; apa kamu baik-baik saja? Sebab aku sedari tadi mencari senyummu dari telaga hati, memahat atap atas rinduku yang deras meluap meminta kau kembali. Kini yang menemani malamku hanya ada selimut yang pernah bersama kita pakai. 

Hangat begitu lembut, persis pelukanmu saat hatiku dilanda kalut. Yang masih menggigil hanyalah rasa cemas, terutama saat rinduku ini tak kau balas. Jadi sekarang aku tidak harus bertanya lagi tentang kapan kau beri aku kepastian, sampai saat ini aku telah lelah menanti saat semuanya telah kudengar dari seberang jauh bahwa baru-baru ini dengan yang lain kau mulai membuka hati.  Atau jangan-jangan perpisahan kita ini sejak lama kau sudah menunggu, karena pagi kita terbagi berbeda waktu? Bagaimanapun itu percayalah, walau aku bangun kesiangan, kau pernah kujadikan kesayangan. 

Kau selalu bisa menghalang lamunanku di saat-saat kita bertemu pada waktu melanjutkan perbincangan ke akun media sosial milikmu yang sudah lapuk itu, kadang kurang aesthetic, dan tone yang tidak folk sama sekali. Kau mengeluh berulang kali, aku diam karena kau cantik sekali. Gurat mukamu selalu mengombak imut di saat-saat seperti ini, telapak jemariku langsung merupa papan selancar untuk beraksi. Tiba-tiba kau berteriak, "aghh...!!" gerak modusku langsung rusak. Internet membuatmu lebih dulu berselancar untuk mencari tahu tempat-tempat indah yang masih alami dan setiap sudutnya bisa membentuk keteduhan, syukur-syukur ada kabutnya, jadi kain tenun pemberian yang kubawa dari Flores itu bisa kau pakai untuk menyelimuti tubuh sambil bergaya. 

Ternyata begitu banyak pasang mata yang menyaksikan senyummu di sana, di antara mereka ada aku salah satunya. Dengan mereka selalu saja kau disanjung, aku terus yang tersandung. Jatuh terjerembab yang meremukkan tulang-tulangku hingga merindukanmu menjadikan aku sebagai kelumpuhan yang paling liar di kepalaku. Berkelana bersama imajinasi, menjadikanmu inspirasi atas tulisan yang panjang lebar di beranda mediaku sendiri. Kau satu-satunya sosok perempuan yang pernah membuatku patah hati dan hingga begitu mengalir derasnya kekecewaan yang menyalakan bara cemburu sejauh ini. 

Pokoknya siapa pun kau sekarang, apa pun panggilan yang diberikan suamimu sekarang, di hatiku ada kau yang pernah kujadikan paling tersayang. Berbahagialah dengan pasanganmu, biar aku sendiri yang mengurus kesepianku. 
Pada waktunya rindu datang menghantam kepalamu dengan tiba-tiba kau akan paham bahwa pertengkaran-pertengkaran kecil itu yang membuatmu mengerti arti dari kerinduan. Perlahan kau akan sadar seiring bergulirnya waktu, bahwa bertahan dalam rindu membuatmu kuat dan sabar untuk menunggu untuk bertemu. Kau tetap tabah. Kau tetap sabar. Oleh jalan yang kupilih kini kau akan lebih kuat dari Dilan dan Milea sebab mereka terlalu lemah untuk menahan rindu untuk dipertemukan kembali, dan kau merindukan kenangan yang tak akan bisa kau kunjungi dengan mengulanginya kembali.

Sekarang aku di jalan yang paling sunyi, berkelana sendiri. Kau tahu, aku pemuda yang suka berpetualang. Mimpi-mimpiku terwujud di setiap jejakku. Memang, kau agak cemas tentang bahagia kita nanti. Karena mantanmu pekerja nyata, dan aku hanya pejalan yang merangkai dua hal yaitu mimpi dan nyata yang kadang tak sejalan.

Mungkin menulis bagimu, adalah aktivitas membosankan. Tapi bagiku itu adalah pekerjaan. Menghasilkan uang yang bisa membelikan kado di saat ulang tahunmu. Setelah aku pulang nanti, apa yang kau mau untuk kubawakan kepadamu? Jangan malu. Katakan. Di sini tersimpan banyak hal yang menjadi oleh-oleh sebagai kenangan sebelum aku tidak bisa lagi memberikanmu sesuatu, sebelum kau benar-benar jatuh pada pelukannya. Dan kemudian pada suatu saat nanti, kau akan dikunjungi oleh setiap barisan puisi.Tersaji di cangkir pertemuan dan selalu tak kau hindari dengan pekat aroma kopi yang akan kau datangi. Lalu di perapian kau mulai terbakar oleh bara selir penantian. Lalu kita bergantian saling merindukan, sekarang masih bagianku, saat itu akan menjadi bagianmu. Sakitnya sama; menyiksa batin sebab tak akan ada lagi pertemuan setelahnya.

Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahkuyang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja kita hanya bisa kembali teringat pada sebuah kelapa muda yang dicampuri susu dan es sebagai menu membuka segala perbincangan, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.

Kubiarkan diriku memaku di tengah belantara, menatap kenangan pada pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu masih berbekas. Apa kabar kau di sana? Semoga baik-baik saja dengan orang-orang di sekitarmu yang tak pernah kukenali. Aku tidak cemburu, aku hanya ingin memastikan doaku tentang kebahagiaanmu itu. (*)

Bob Itok |
Selain menulis buku puisi "Viabel Nostrum", Bob Itok juga menekuni stand-up comedy, mengelola akun Youtube-nya sendiri. Klik tautan ini untuk melihat konten-konten menariknya di youtube.

Catatan:
Senandika/se·nan·di·ka/ n wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.