Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019

Keputusan negara membatasi beberapa fitur WhatsApp telah menghancurkan mimpi seorang pemuda. Ini adalah kisah sedih yang terjadi di satu sudut kota.
kisah sedih lain dari peristiwa 22 mei 2019
Ferdinandus Alamani Vitroz

Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019


Pagi-pagi sekali, tanggal 22 Mei, seorang pemuda, namanya Ferdinandus Alamani Vitroz, mampir ke kios kecil di depan rumahnya. Membeli paket data mingguan. “Sudah, Kak,” kata penjaga kios. Buru-buru dihidupkannya ikon ‘data seluler’ di telepon pintar kesayangannya. Berharap bisa segera memeriksa status whatsapp gebetannya. Kosong. Tak ada cerita yang dia harapkan di sana. “Sepertinya WA diblokir, Kak. Mungkin seminggu.” Penjaga kios yang cantik itu memberi informasi yang membuat mulut pemuda itu menganga.

Penjelasan panjang tentang kekhawatiran negara pada penyebaran hoax dan provokasi via whatsapp, yang disampaikan gadis di depannya, tidak mampu membuat mulutnya katup. Telah lama dia menabung untuk hari ini. Agar bisa membeli paket data, hendak menghadiahi dirinya sendiri yang sedang berulang tahun; hadiah yang diinginkannya adalah WA Story gebetannya yang berisi gambar bunga matahari di belakang tulisan ‘selamat ulang tahun, masa depan’.

Pemuda itu tahu, gebetannya tahu hari ulang tahunnya, karena beberapa hari lalu dia menulis status 'yes, ultah tinggal empat hari lagi’ dan gebetannya itu ikut mengintip status itu.

Pemuda itu mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat menguap, memaksakan diri berjalan pulang, terhenti langkahnya setiap empat meter, berjalan lagi, dan hatinya menangis lara. Lara sekali. “Negara telah menghancurkan mimpiku yang paling sederhana,” rutuknya. Juga dalam hati. Bercampur tangis. Tak terdengar telinga biasa, tetapi gaduh sekali jiwanya.

Tibalah dia di rumah, tempat tangis dan rutukan dalam hati menjelma suara. Pilu sekali. Seisi rumah mendengar tangis itu, tetapi tak segera ikut bersedih. Malah marah-marah. Dituduh sebagai manusia paling egois yang pernah ada karena menuding negara sebagai penghalang cintanya.

Dia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang tlah tiada karena sakit yang tak terobati janjinya yang dia tulis di buku hariannya. “Dear Diary… Kalau di hari ulang tahunku, dia tidak buat story gambar bunga matahari dan tulisan selamat ulang tahun, selesailah sudah.” Begitu tertulis di sana. Sebelum menunjukkan buku hariannya itu kepada seisi rumah, dia sempat bilang: Aku haus!

Seisi rumah ikut bersedih. Menangis seorang diri, hatiku… slalu ingin bertemu… dengarlah Ayah aku bernyanyi bersama-sama, ikut merutuki negara yang telah menghancurkan mimpi seorang pemuda. Mimpi yang sederhana. Bahkan lebih sederhana dari kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu: sebuah status whatsapp berisi gambar bunga matahari dan ucapan selamat ulang tahun, adakah yang dapat lebih sederhana lagi?

Hari sudah siang ketika pintu rumah diketuk. Gadis penjual korek api menggigil di tengah guyuran salju pulsa datang. Membawa uang kembalian yang tak sempat diambil pemuda itu pagi tadi. Tetapi dia tak bergegas pulang. “Ada yang bantu jaga kios,” katanya tanpa ditanya, lalu menyambung cerita ikhwal fitur gambar di whatsapp yang dimatikan negara. Lengkap sekali ceritanya. Lebih lengkap dari lengkap itu sendiri. Barangkali akan begitu komentar seorang penunggang kuda kalau saja dia bisa mendengar tutur gadis itu dari balik kaca mata hitamnya. Eh?

Mendengar cerita itu, seisi rumah kembali marah-marah. Menuduh pemuda itu telah sangat egois karena menuduh negara merenggut kebahagiaannya di hari ulang tahunnya yang kedua puluh sekian. “Negara sedang dalam keadaan bahaya, dan kau menuduhnya tak berpihak padamu. Egois sekali kau ini,” kata seseorang.

Giliran pemuda itu marah-marah. Berkotbah panjang tentang sikap egois. Dipakainya dalil-dalil dari segala buku yang dibacanya, dijelaskannya berapi-api.

Ditutupnya dengan pertanyaan: “Siapakah yang egois? Sekelompok orang yang menyebar hoax dan provokasi demi kepentingan pribadi hanya karena kecewa dengan hasil pertandingan sehingga membuat negara membatasi fitur gambar whatsapp, atau saya yang telah menabung sekian lama agar bisa membeli paket data yang ternyata tak bisa saya gunakan seminggu ke depan padahal saya harus melihat gambar bunga matahari di belakang ucapan selamat ulang tahun jika tak ingin masa depan saya berakhir suram karena hidup lara sendiri, atau negara yang terlampau khawatir?”

Diucapkannya khotbah itu dengan cepat seperti seorang rapper—kecuali bahwa yang disampaikannya tak berima sama sekali, membuat semua yang ada di sana terpaksa memintanya mengulangnya secara perlahan.

“Dipenggal-penggal saja, Kak,” usul gadis manis yang menatapnya dengan mata yang bening dan sayu. Pemuda itu melihat wajahnya sendiri di mata gadis itu, seperti terhipnotis, memenggal kotbahnya menjadi kalimat-kalimat pendek. Asal ikut trending topic gadis itu mengerti.

“Sekelompok orang yang menyebar hoax dan provokasi demi kepentingan pribadi.”
“Mereka lakukan itu karena kecewa.”
“Hasil pertandingan tidak sesuai dengan cita-cita mereka.”
"Negara khawatir, hoax dan provokasi yang mereka sebarkan via whatsapp akan mengacaukan situasi bangsa.”
“Negara membatasi fitur gambar whatsapp.”
“Saya yang telah menabung sekian lama agar bisa membeli paket data.”
“Karena negara membatasi fitur gambar whatsapp, paket data saya tidak berguna.”
“Seminggu ke depan.”
“Padahal hari ini saya ulang tahun.”
“Kepada buku harian saya telah berjanji.”
“Dia harus membuat status whatsapp hari ini atau saya harus segera menghancurkan mimpi tentang masa depan kami berdua.”
“Gambar bunga matahari di belakang ucapan selamat ulang tahun.”
“Siapa yang egois?”
“Aku haus,” katanya kemudian. Lalu bilang bahwa khotbahnya telah selesai.

Seisi rumah hening. Cukup lama. Sampai gadis penjual pulsa itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan. “Kakak yang egois. Butuh berapa kali beli pulsa paket sampai Kakak sadar bahwa selama ini saya selalu mengisi paket 4 giga padahal Kakak hanya membeli 2 giga?” Kata gadis itu sambil menahan tangis dan berlari pulang. Menutup kiosnya.

Sebuah pengumuman kecil di kertas folio bergaris tertempel di pintu bangunan kecil itu. Kios ini tutup selama seminggu. Sampai kita semua di kota yang sekecil kampung ini sadar.

Di tempat lain, seorang gadis merutuki printer-nya yang tiba-tiba ngadat. Padahal dia sedang ingin mencetak gambar bunga matahari. Di belakang tulisan: Selamat ulang tahun, Kakak. Semoga kita tetap jadi teman diskusi selamanya. Ferdinandus Alamani Vitroz sama sekali tak menyadarinya. Bisakah kalian bayangkan? Kalian jatuh cinta pada seseorang, tetapi orang itu jatuh cinta pada seorang yang lain, dan negara membatasi akses media sosial? Sedih sekali 22 Mei 2019 ini.

Ketika sampai di bagian terakhir ini, saya tiba-tiba sadar, tulisan ini sama sekali tidak jelas. Tetapi mau bagaimana lagi? Hari ini saya sedih sekali. Betapa kita telah begitu ingat diri. Semuanya. Siapa saja. Kapan kita bisa baik-baik saja? Tak bisakah kau menungguku hingga nanti tetap menunggu kita menyatakan dukungan kita sesederhana awan yang tak sempat menyampaikan isyarat kepada hujan yang menjadikannya tiada?

Salam
Armin Bell
Ruteng,Flores

Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat ...

Kuliah di mana saja, jurusan apa saja, akan biasa-biasa saja kalau yang dicari adalah ijazah.
andai dulu saya pilih kampus dan jurusan yang tepat
Perbincangan aneh

Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat ...


Pertama, tulisan ini barangkali hanya akan berisi 'omong kosong banyak', meski sebenarnya diniatkan untuk berbagi (sebut saja) panduan memilih jurusan ketika kuliah. Kedua, tidak persis berisi panduan praktis memilih jurusan di kampus—dan karenanya yang sudah selesai kuliah bertahun-tahun silam juga boleh mampir baca, catatan ini sesungguhnya lebih dari itu. Agar menjadi diskusi. Juga jadi titik sorot balik.

Begini ...

Tahun ajaran baru akan segera datang. Tamatan SLTA yang beruntung karena bisa 'lanjut kuliah' sedang berburu brosur. Mau kuliah di mana? Pilih jurusan apa? Setelah kuliah bisa langsung kerja kah? Pacar saya kuliah di kota mana? Saya ikut ah...; dan lain sebagainya, adalah obrolan yang akan sangat sering terjadi hari-hari ke depan.

Berbagai pertimbangan harus dibicarakan. Dengan pacar, tentu saja soal: "Kita kuliah di mana, Sayang? Aku tak bisa jauh darimu!" Dengan guru, para murid akan angguk-angguk ketika mendengar penjelasan tentang masa depan dan pilihan jurusan yang (diharapkan) visioner. Dengan orang tua? Biaya! Betul. Karena kita bukan Sandiaga yang dengan mudah meraih beasiswa penuh. Iya to?

Pada masa-masa seperti inilah saya ingat Guru Don dan Muder Yuliana, Bapa dan Mama saya. Yang meminta saya beristirahat setahun setelah tamat SMA, karena mereka ingin 'tarik napas' dulu. Tahu maksudnya, bukan? Kesulitan biaya. Itu sudah. Padahal saya sedang bersemangat sekali bersekolah ketika itu. Mau kuliah di IKJ. Atau kampus sejenis itu yang kira-kira bisa membuat saya jadi seniman, penulis, atau apa saja yang pada masa itu rasanya keren sekali.

Meski menikmati masa istirahat setahun, cita-cita kuliah di kampus yang seni-seni dorang itu tidak kunjung padam. Di tengah masa istirahat itu, ketika menggebu-gebu bercerita tentang akan jadi apa saya nanti setamat sekolah kesenian, Guru Don dan Muder Yuliana mengingatkan bahwa seniman—sebagaimana yang mereka lihat zaman itu—bukan pilihan hidup yang mensejahterakan. Padahal, niat agar anak-anak bernasib lebih baik dari mereka adalah cita-cita setiap orang tua di mana saja. Juga Bapa dan Mama.

Tetapi saya tahu, alasan lain yang enggan mereka sampaikan adalah biaya. Kampus-kampus seperti itu, berdasarkan informasi yang saya peroleh dan saya teruskan ke mereka, umumnya mahal. Mau tidak mau harus kompromi. Tahun depan bisa kuliah, tetapi di kampus dan kota yang biaya hidupnya 'masuk akal'. Selamat tinggal (mimpi) Jakarta.

Saya akhirnya kuliah di Malang. Memilih jurusan yang kira-kira cukup dekat dengan dunia tulis menulis. Kuliah menulis adalah sesuatu yang saya pikir lebih masuk akal saya jadikan cita-cita karena saya takut arus listrik sehingga tidak bisa ngotot kuliah elektro, tidak akrab dengan bangun ruang untuk bisa ada di kelas teknik sipil, tidak senang dengan pembukuan sehingga harus jauh dari kampus ekonomi, dan tidak suka bau obat-obatan untuk paksadiri ambil farmasi.

Jurusan komunikasi adalah pilihan paling tepat. Bisa belajar jadi jurnalis. Kira-kira begitu hasil komprominya. Kuliah semampunya. Masuk pagi pulang siang di tahun-tahun awal, masuk siang pulang sore di tahun-tahun berikutnya, tidak masuk sama sekali di hari libur atau ketika sedang ingin meliburkan diri atau karena tak ingin bertemu mantan yang sudah punya gebetan baru.

Lalu, di pertengahan masa kuliah, semua mimpi menghilang begitu saja. Maksud saya, tujuan terutama bukan lagi visi menjadi penulis, tetapi bagaimana agar segera lulus. Begitulah. Pada saat-saat tertentu, di kampus, kita merasa bosan. Pertanyaan 'kapan lulus' yang datang bertubi-tubi membuat kebosanan bertambah kadarnya. "Jadi saya dikirim kuliah ini supaya lulus?"

Untunglah di tengah situasi demikian, kita bisa terlibat di berbagai kegiatan di luar kampus. Yang, pada situasi pribadi, memaksa saya belajar hal lain, bertemu orang lain (juga pacar orang lain—bagian ini lebih menyenangkan), dan mau tidak mau harus membaca buku-buku lain selain buku bikinan dosen yang sedang mengejar nilai kredit atau apalah namanya. Lalu sadar, sekarang, buku-buku lain itu telah berperan sama besarnya dengan yang saya dapatkan di kelas.

Maksud saya, andai dulu 'kuliah saja' dan lupa bergaul, barangkali saya akan cepat lulus dan cepat terserap di dunia kerja; yang setelah dipikir-pikir, modal dari ruang kelas saja tidak akan mampu membuat saya 'bersaing di dunia kerja' selain menjadi mesin. Tentu saja beberapa bagian hidup saya sekarang adalah mesin. Tetapi hanya beberapa bagian. Bagian lainnya adalah hal yang lebih menyenangkan karena boleh melakukan sesuatu selain menjadi mesin. Misalnya, dengan menjadi bloger, menulis (dan mendapat bayaran; kesenangan berlipat), dan berteman dengan banyak orang.

Di Ruteng-Manggarai, saya berteman dengan Daeng Irman dan Kaka Ited, dua orang yang saya pikir telah salah jurusan ketika kuliah. Daeng Irman menyukai fotografi dan desain grafis dan menikmati bagian hidupnya itu, Kaka Ited menyukai fotografi dan videografi, juga hidup dari dunia itu. Padahal mereka, di sisi pertama hidupnya, telah hidup dari jurusan kuliah mereka. Fyi, jurusan kuliah mereka jauh sekali dari foto, video, desain grafis. Jauh. Bukankah perikanan itu jauh dari desain grafis, Daeng?

Bagaimana bisa begitu? Ya karena begitu. Eh, maksudnya begini. Kuliah tentu saja penting. Memilih jurusan yang benar juga penting. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana mengisi hari-hari kita di luar kelas (juga setelah lulus). Itu yang saya pikirkan sekarang. Maksudnya, bukankah tidak semua lulusan jurusan pendidikan itu mendapat kesempatan menjadi pengajar? Bukankah ada lulusan keperawatan yang kini kerja di bank? Bukankah ada dokter yang buka bengkel motor di Ruteng? Bukankah ada seorang guru SD yang juga seorang rapper?

Siapa saja boleh kuliah di mana saja, memilih jurusan apa saja, dengan motivasi apa saja. Tetapi jangan lupa, beberapa tahun kemudian, sebagian orang akan bekerja dari rumah saja. Menggantung toga di dinding, menyimpan ijazahnya di lemari, dan mulai menciptakan pekerjaan sendiri. Sesuatu yang barangkali akan begitu jauh dari 'ruang kelas kita di kampus'. Di zaman saya kuliah, percakapan tentang digital nomad belum ada. Alamat email saja, tidak semua mahasiswa punya. See?

Bukan berarti kau tak perlu kuliah. Jika beruntung dan dibiayai kuliah, kuliahlah. Ijazah, bagaimanapun, akan sangat penting di dunia kerja formal. Tetapi misalkan peluang di dunia kerja formal itu sulit sekali diperoleh, pengalaman berinteraksi dengan orang lain ketika kuliah adalah modal lain di hari-hari mendatang.

Begini. Tulisan ini akan segera saya akhiri. Dengan buruk sekali. Sebuah nasihat. Panduan memilih jurusan ketika kuliah, yang paling pertama adalah soal biaya. Percakapkan dengan baik dengan para pemilik uang. Mampunya nanti untuk jurusan apa. Jurusan tidak elit, tidak apa-apa. Sepanjang, ketika kuliah nanti, jangan lupa bergaul, belajar sesuatu yang lain, yang barangkali adalah passion-mu tetapi tidak dapat kau paksakan kuliah di jurusan itu karena masalah biaya tadi.

Menegaskan paragraf yang buruk di atas, izinkan saya bertanya: berapa banyak ijazah yang tidak terpakai, dan para pemiliknya tidak tahu harus buat apa karena mereka tidak memiliki keahlian lain selain berharap pada lembaran yang telah dilaminating itu?

Aih... catatan ini buruk sekali. Maafkan saya, Daeng Irman. Ide yang anda tawarkan kemarin itu untuk jadi bahan tulisan saya ternyata berat sekali. Tetapi terima kasih, telah mengerjakan ilustrasi untuk bacapetra.co, meski saya menggambarkan konsepnya dengan tidak jelas. Kau jago. Ited juga. Semoga kali berikut dia bawa sebotol penuh tulisan saya lebih baik lagi. Soal besok-besok kita jadi apa, hari ini kita masih terus belajar, bukan? Karena di Ruteng, asal kita mau ngobrol, semua akan baik-baik saja.

Salam
Armin Bell
Ruteng - Flores

Menjadi Ketua KBG

Beberapa waktu lalu saya terpilih sebagai Ketua KBG. Apa itu?
menjadi ketua kbg
Ketua KBG St. Helena | Foto: Kaka Ited

Menjadi Ketua KBG


KBG adalah akronim dari Komunitas Basis Gerejani. Dalam struktur atau hirarki Gereja Katolik, KBG merupakan kelompok kecil yang terdiri atas kurang lebih 30-an keluarga Katolik yang hidup berdampingan di satu tempat. Kegiatannya macam-macam, umumnya berhubungan dengan hal-hal gerejani, juga terkait dengan kebersihan lingkungan, saling menolong saat kesusahan, bergembira bersama, doa bersama.

Yang terakhir ini adalah hal yang menyenangkan. Doa bersama. Di Manggarai namanya Ngaji Giliran. Beberapa orang menyebutnya Sembayang Gilir. Ada juga yang bilang Doa Giliran. Yang lain bilang Giliran saja. Terjadi pada bulan Mei dan Oktober, dua bulan dalam tradisi Gereja Katolik, di mana seluruh umatnya berdevosi kepada Bunda Maria; memuji kesuciannya, berdoa melalui perantaraannya.

Ngaji Giliran itu begini. Selama sebulan penuh (Mei dan Oktober), umat di satu KBG secara bergiliran mengunjungi rumah-rumah di KBG itu, mendaraskan peristiwa-peristiwa Rosario, lalu berbagi cerita. Tentang apa saja. Blog ranalino.id sudah menyajikan informasi lengkap tentang dua hal itu melalui tulisan Ucique Jehaun. Simak di sini:


Silakan baca dua catatan menarik itu dengan penuh sukacita.

Tentang judul catatan ini, saya sebenarnya hanya sedang ingin berbagi cerita. Cerita tentang saja menjadi Ketua KBG.

Begini. KBG itu pasti punya ketua. Secara kebetulan, tahun 2018 kemarin, masa bakti kepengurusan yang lama sudah selesai. Anggota KBG kemudian berkumpul, memilih kepengurusan baru. Untuk masa kerja empat tahun berikutnya. Saya terpilih sebagai ketua. Padahal saya sebenarnya tidak tahu apa-apa soal hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengurus KBG. Btw, fyi, di Manggarai, KBG kerap dikenal dengan sebutan Kelompok. Saya adalah Ketua Kelompok. KBG kami bernama Santa Helena. Ketua Kelompok Santa Helena adalah saya.

Anggota kelompok kami terdiri dari hampir empat puluh keluarga. Tepatnya, 37 KK. Artinya, di bulan Mei ini, kami akan secara bergiliran berdoa di 37 rumah itu. Apa yang kami doakan?

Setiap malam, ada lima peristiwa rosario yang didaraskan. Ujudnya macam-macam. Mulai dari perdamaian dunia, kesehatan orang-orang beriman, sampai meningkatkan semangat kaum muda. Soal kaum muda inilah yang menarik.

Saya dipilih menjadi Ketua Kelompok karena dianggap cukup dekat dengan kaum muda. Kaum ini adalah yang agak sulit diajak bergabung di kegiatan-kegiatan kerohanian. Katanya begitu. Saya lalu diharapkan dapat 'menyelesaikan kesulitan' itu. Tugas yang berat. Lalu menjadi mudah. Karena beberapa anak muda di KBG St. Helena adalah anggota Saeh Go Lino.

Saeh Go Lino punya grup whatsapp. Nama grupnya bukan Saeh Go Lino. Nama grupnya adalah Flashmob. Apa hubungannya? Panjang kalau diceritakan di sini. Tetapi, intinya, posisi itulah yang membuat saya menggunakan segala kuasa dan kewenangan sebagai anggota kelompok dan anggota paling tua di Saeh Go Lino. Memaksa Mozakk dan Sintus melalui WAG Flashmob untuk ikut Ngaji Giliran. Mereka datang. Saya senang. Senang sekali. Berapa banyak anak muda yang ikut Doa Giliran hari-hari terakhir ini?

Di Ruteng, juga mungkin di kampung-kampung, di berbagai tempat di mana Katolik adalah penduduk mayoritas, Ngaji Giliran hanya diikuti (umumnya) oleh orang-orang tua dan anak-anak. Generasi di antara keduanya yang bernama anak muda jarang sekali ikut hadir. Maka, ketika melihat Mozakk, Sintus, Muna, dan beberapa anak muda lainnya hadir di kegiatan sebulanan itu (meski pasti akan bolong-bolong), saya senang. Bahwa mereka akan segera bosan, itu urusan lain. Yang penting mereka hadir dulu. Biar tidak jadi gosip: "Ini anak-anak muda dorang bikini apa saja di rumah sampai mereka tidak mau ikut sembayang?"

Doa giliran ini umumnya hanya berlangsung selama satu jam. Kalau toh sampai dua jam, satu jam berikutnya adalah percakapan yang menyenangkan, kopi yang nikmat, dan kue yang enak.

Tetapi tugas menjadi Ketua KBG tentu tidak semudah mengkordinir kegiatan Ngaji Giliran selama Mei dan Oktober. Ada banyak tugas lain. Yang saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Maka saya sering bertanya kepada orang-orang tua. Para sesepuh di kelompok. Ini bagaimana? Itu bagaimana? Kolekte kumpul di siapa? Dan lain sebagainya.

Sambil bertanya, saya berharap bahwa di setiap KBG di Manggarai ini, semakin banyak anak muda ikut Ngaji Giliran. Apa manfaatnya? Entahlah. Tapi mungkin yang paling mudah adalah bahwa kau tidak lagi dibebani dengan tugas 'harus berdoa sebelum tidur' karena di giliran selalu ada: Sembayang Malaaaam... Ya, Tuhanku dan Allahku, aku berlutut di hadapanmu dan bersembah sujud kepadamu ... Malaikat Allaaaah, engkau yang diserahi oleh kemurahan Tuhan ...

Mari!

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Dapatkah Komunitas Literasi di NTT Mendukung Gerakan Literasi Nasional?

Tulisan ini adalah keseluruhan materi yang saya sampaikan pada kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Ruteng tanggal 23 Maret 2019 silam. Informasi tentang kegiatan tersebut dapat disimak di sini.
dapatkah komunitas literasi di ntt mendukung gerakan literasi nasional
Taman Baca

Dapatkah Komunitas Literasi di NTT Mendukung Gerakan Literasi Nasional?


Pendahuluan


Sebelum Gerakan Literasi Nasional dikampanyekan secara luas, geliat ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ telah dilakukan dengan banyak tagline. Baik sebagai agenda bangsa, maupun kegiatan-kegiatan kelompok—tanpa pernah sadar bahwa yang dilakukan itu sesungguhnya berhubungan dengan agenda nasional, konsentrasi terbesar dari geliat ini adalah meningkatkan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) atau dalam bahasa paling familiar adalah memberantas buta aksara.

Dari sekian banyak alasan, kenyataan bahwa penyandang buta aksara berkorelasi dengan kualitas sumber daya manusia, yang pada bagian berikutnya berhubungan erat dengan pembangunan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana diungkapkan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan Daerah Dr. James Modouw MMT, adalah alasan yang paling utama mengapa kegiatan ini gencar dilaksanakan beberapa tahun silam.

Namun harus diakui bahwa usaha membangun literasi calistung sebagai bagian dari lima dimensi literasi untuk meningkatkan kesejahteraan, justru berhadapan dengan kondisi lain (untuk tidak menyebutnya sebagai ironi) yakni kemiskinan sebagai satu dari tiga kendala pemberantasan buta huruf, selain lokasi yang tidak terjangkau dan motivasi belajar yang kurang. Tiga kendala ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Harris Iskandar tahun 2016 silam.

Pada titik inilah, komunitas-komunitas yang ada di tengah masyarakat saat ini diharapkan hadir sebagai salah satu alternatif.

Komunitas Literasi dan Soal-soal di Sekitarnya


Agar catatan ini dapat dibaca dari sudut pandang yang sama, baik rasanya jika kita mengenal lebih dahulu apa itu komunitas? Ada banyak tautan yang muncul di search engine result page (SERP) jika kata kunci ‘pengertian komunitas’ kita pakai dalam pencarian menggunakan mesin pencari google. Dalam setiap tautannya, tertera lebih banyak lagi jawaban atas pertanyaan itu. Pengertian komunitas menurut McMillan dan Chavis berikut ini adalah salah satunya.

Dalam “Sense of Community: A Definition and Theory” (1986), McMillan & Chavis  menjelaskan bahwa komunitas merupakan kumpulan dari para anggota yang memiliki rasa saling memiliki, terikat di antara satu dan lainnya, dan percaya bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi selama para anggota berkomitmen untuk terus bersama-sama.
Community is “a feeling that members have of belonging, a feeling that members matter to one another and to the group, and a shared faith that members needs will be meet through their commitment to be together “ – McMillan & Chavis (1986).
Jika (hanya) mengacu pada pengertian ini, membacanya sepintas saja, maka usaha meluaskan kecerdasan literasi melalui komunitas akan dengan mudah dianggap sebagai kegiatan ‘orang-orang dalam’ saja; mereka yang bergiat atau menjadi anggota komunitas.

Adalah terma ‘kebutuhan para anggota’ dan ‘komitmen untuk terus bersama’ yang dapat memicu pandangan demikian, selain beberapa situasi yang kerap menjadi ‘masalah’ cukup banyak komunitas seperti: 1) ketergesaan melaksanakan kegiatan yang ‘menyenangkan diri sendiri’, 2) merasa telah ikut berkontribusi menyelesaikan persoalan namun tanpa tidak memiliki cukup alat ukur untuk menilai dampak kontribusi, 3) ketergantungan pada pihak lain (sumber dana dan kontribusi lain) yang besar—menjadi mudah putus asa karena perasaan ‘kami tidak didukung’, 4) semangat baru untuk mengerjakan ‘hal-hal lama’, dan lain sebagainya.

Namun sesungguhnya justru dua hal tersebut seharusnya menjadi kunci sukses komunitas, mengandaikan hal-hal berikut ini diperhatikan.

Pertama, bahwa mewujudkan masyarakat yang memiliki atau meningkat kecerdasan literasinya adalah alasan dibentuknya sebuah komunitas, mestilah didahului oleh penguatan kapasitas personal para (calon) anggota. Yang dibutuhkan pada tahap ini adalah memastikan bahwa komunitas itu dibangun atas kesadaran yang sama: anggota atau calon anggota sama-sama membutuhkan ‘masyarakat yang memiliki kecerdasan literasi yang mumpuni. Namun sebelumnya, yang harus ditambah (diberi bekal cukup) adalah anggota dan para calon anggotanya.

Poin ini tentu saja selalu menjadi perhatian setiap komunitas sejak pertama kali dibentuk, meski dalam perjalananannya, entah karena mudah lupa atau merasa ‘yang penting kami sudah buat’, banyak anggota komunitas—bukan hanya yang bergerak di bidang literasi tetapi semua—yang tidak cukup paham alasan keterlibatan mereka, dan karenanya tidak mampu melakukannya dengan baik. Situasi rentan dari kondisi seperti ini adalah pelaksanaan kegiatan asal jadi, dan, ketika berhadapan dengan tekanan (kritik) menjadi cenderung emosional dan mulai membangun tembok pertahanan diri yang tebal.

Akibatnya, kegiatan yang semula ditujukan untuk melayani publik menjadi berjarak. Penguatan kapasitas internal juga mencakup menetapkan visi dan misi komunitas, membuat aturan-aturan tegas tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan agar tujuan itu tercapai.

Baca juga: Cukup Sudah Bagi Bagi-Bagi Buku Gratis, Maria

Kedua, proses menjadikan hal tersebut viral (menularkan virus kepada masyarakat luas) hanya boleh dilakukan jika seluruh anggota komunitas telah siap menghadapi konsekuensi; membuka diri pada kritik dan rendah hati pada pujian. Tanpa kesiapan pada dua hal minimalis itu, seluruh niat baik di awal pembentukan komunitas dapat berujung pada situasi yang kurang menyenangkan. Poin ini berhubungan dengan kecenderungan penggunaan media sosial saat ini:

  • Setiap kegiatan disiarkan segera;
  • Setiap pengguna media sosial dapat dengan leluasa memberikan penilaian (pujian, kritik, bully);
  • Kecenderungan mudah puas setelah mendapat publikasi. 

Ketiga, memastikan bahwa yang dilakukan bukanlah pengulangan atas hal-hal lama atau hal-hal yang sudah dilakukan oleh komunitas lain. Pada titik inilah kemampuan melebur dan berjejaring dengan komunitas lain yang searah menjadi sangat penting.

Dalam banyak pengalaman, komunitas-komunitas yang tumbuh di berbagai kota sesungguhnya memiliki kemiripan bahkan sama dengan komunitas yang sudah ada. Bahkan dalam beberapa kerja komunitas, di mana para pegiatnya merasa bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang baru, yang sesungguhnya terjadi (dibaca publik) adalah pengulangan utuh dari program-program ‘resmi’ yang sudah ada. Diharapkan hadir dengan kekhasan baru, banyak komunitas yang tanpa sadar justru sedang mengulang hal-hal lama, sesuatu yang sesungguhnya ingin diperbaiki; untuk tidak menyebutnya sebagai hanya beda nama saja.

Mengapa situasi seperti ini terjadi? Sejauh yang saya alami, ketergesaan pada saat merancang kegiatan atau agenda komunitas adalah alasan terutama. Tanpa riset yang memadai atau evaluasi atas kegiatan sejenis yang sudah lebih dahulu ada, kegiatan berikutnya hanya mengulang ‘yang sudah-sudah'.

Ini yang terjadi ketika beberapa tahun silam kami mendirikan taman baca gratis di Paroki Katedral Ruteng. Karena dilaksanakan dengan "modal semangat semata", taman baca itu hanya hidup di tahun pertama. Selanjutnya, seperti yang kerap kita dengar tentang taman baca di berbagai tempat, taman baca di LG Corner itu perlahan hilang, dan saat ini benar-benar mati. Bahwa kemudian muncul dalam wajah lain dengan model yang lebih sederhana (peminjaman langsung di rumah), ‘kematian’ taman baca yang berdiri tahun 2013 silam itu seolah melanjutkan tradisi ‘kematian’ taman baca di berbagai tempat.

Padahal modal berupa ketersediaan buku dengan mudah diperoleh melalui jaringan-jaringan. Pada tiga bulan pertama saja telah terkumpul hampir 2.000 judul buku, sesuatu yang membuat kami merasa sangat puas dan lupa merancang dengan serius bagaimana kelanjutan pengelolaannya. Dalam evaluasi setelah taman baca itu benar-benar mati, ditemukanlah hal-hal yang sudah diurai di atas tadi sebagai penyebabnya selain yang paling klasik yakni masalah finansial.

Mencari Jalan Menghindar dari Matinya Komunitas Literasi


Ada banyak model yang dapat dipakai oleh komunitas-komunitas literasi jika ingin terlibat dalam GLN. Tiga di antaranya adalah seperti yang ditawarkan Sandiah (2017) berikut ini:

Pertama, komunitas literasi sebagai gerakan kolektif yang dikelola sepenuhnya sebagai komunitas literasi. Bentuk kegiatan yang umumnya dipakai adalah rumah baca, perpustakaan jalanan, ekoliterasi dan kampanye literasi urban, literasi jalanan, dan lain-lain. Komunitas literasi jenis pertama ini terbentuk oleh praktik baru akvitisme tetapi bersifat non-LSM (lembaga swadaya masyarakat).

Komunitas literasi semacam ini aktif memproduksi sendiri isu-isu literasi yang dianggapnya relevan sehingga tidak selalu bergerak berdasarkan isu-isu formal yang dikelola negara atau media massa.
Di NTT, bentuk ini telah dipakai oleh cukup banyak komunitas, seperti: Buku Bagi NTT, Dusun Flobamora (Kupang), Lakoat.Kujawas (Kapan), Komunitas Leko (Kupang), Taman Baca Lalong Beo (Manggarai Barat), Komunitas Saeh Go Lino (Ruteng), Komunitas Huruf Kecil dan Komunitas Kahe (Maumere), Pondok Baca Wathan Lamahala (Flores Timur), dan lain-lain melalui advokasi dunia perbukuan, hibah buku, membuat penerbitan, mengelola media literasi, kegiatan ekoliterasi, sekolah literasi, perpustakaan bergerak, seni, hibah buku, serta membentuk kegiatan kolaborasi pendirian gerakan literasi lain.

Kedua, lembaga baca masyarakat atau lembaga edukasi masyarakat, seringkali bersifat informal sekaligus non-formal, atau salah satunya. Jenis komunitas literasi kedua ini pada umumnya berbentuk Taman Baca Masyarakat (TBM) atau TBM sekaligus institusi penyelenggara pendidikan anak semacam PAUD atau TK. Jika komunitas literasi itu berbentuk TBM, maka termasuk ke dalam pendidikan informal, sedangkan jika digabung atau dikelola bersama dengan TK atau PAUD termasuk non-formal.

Pola ini telah lama dikembangkan oleh Wahana Visi Indonesia di Manggarai dan beberapa NGO yang, selain menyelenggarakan perpustakaan masyarakat, juga mengelola aktivitas pendidikan sebagai respons atas tersedianya kesempatan membangun institusi pendidikan non formal yang terbuka luas, baik dengan dukungan negara melalui APBN maupun sumber-sumber lain. TBM yang mengelola perpustakaan masyarakat juga mempermudah mengakses bahan bacaan untuk perpustakaannya melalui program-program kerjasama dengan pihak swasta.

Sesungguhnya, Gerakan Buku Bagi NTT akan dapat berkembang ke arah ini melalui pembangunan jaringan (kolaborasi) dengan perpustakaan kampung, kemudian berkolaborasi dengan sekolah dasar untuk mengelola perpustakaan sekolah.

Ketiga, terdiri dari beragam model inisiasi apresiasi literasi, dikelola secara individual atau berkelompok. Komunitas literasi semacam ini disebut sebagai model “apresiasi literasi” karena sangat fleksibel menunjukkan sikap partisipasinya atas literasi. Aktivitas literasi komunitas ketiga ini sangat fleksibel; warung makan yang membuka barter makanan dengan buku, pojok baca di tempat potong rambut, perpustakaan jalanan, apresiasi seni dan sastra, gerakan poster, layanan situs peminjaman buku antar pembaca, kegiatan diskusi di alun-alun, sanggar melukis, dan banyak lainnya.

Komunitas Leko di Kupang melalui Kencan Buku di Tamnos dan Komunitas Sastra Hujan di Ruteng melalui perpustakaan jalanan adalah contoh penerapan model ini. Yang sedang dikembangkan oleh Klub Buku Petra (Ruteng) melalui penggabungan pemanfaatan teknologi dengan peminjaman buku dalam konsep perpustakaan bergerak adalah contoh yang lainnya.

Baca juga: Penetrasi Digital pada Generasi Milenial dan Urgensi Pendidikan Kritis

Namun, tiga model tersebut atau model-model lainnya yang dapat dicoba atau dicari bersama, akan selalu berhadapan dengan soal konsistensi. Pertanyaan terutama yang harus dijawab dengan serius dan jujur adalah apakah setiap pegiat komunitas melakukannya untuk visi yang tepat atau sekadar mengisi waktu luang atau sebagai sarana pansos/social climbing—sesuatu yang tanpa disadari menjadi dasar kegiatan atau pembentukan komunitas atau sekadar ingin mengalahkan komunitas lain atau karena ingin menjadi caleg?
Saya khawatir, jika yang terjadi adalah komunitas bergerak tanpa visi dan misi yang jelas melainkan alasan-alasan remeh tadi, maka setiap tahun kita akan menemukan ratusan komunitas baru didirikan. Jumlahnya akan menjadi ribuan jika ada stimulus finansial dari negara atau pihak-pihak lainnya.

Penutup


Selain beberapa komunitas yang telah disebutkan di atas, sesungguhnya ratusan komunitas di NTT yang juga bergerak di pengembangan literasi. Dalam skala kecil, kegiatan dilakukan di berbagai tempat namun tidak terekam, atau tidak bertahan. Kendala finansial dan masalah-masalah lain yang telah diuraikan tadi umumnya menjadi penyebab utama. Pada saat yang sama, peletakan dasar dan arah (visi) yang jelas dalam pembentukan komunitas—hal yang umumnya diabaikan akibat kebiasaan instan—menjadi penting untuk dipikirkan.

Berkomunitas seharusnya dilakukan untuk: (1) meningkatkan kemampuan anggota, (2) mempererat hubungan demi komitmen bersama antaranggota, dan (3) berdampak pada perubahan di sekitar kita. Untuk yang terakhir ini, yang harus segera dilakukan oleh komunitas-komunitas literasi adalah menyiapkan alat ukur yang tepat agar setiap kegiatan dirancang dengan benar, berkelanjutan, dan mencapai tujuan/cita-cita bersama.

Kecerdasan literasi tentu tidak semata diukur dari meningkatnya jumlah peminjam buku, tetapi berhubungan dengan Indeks Pembangunan Manusia. Dengan kesadaran ini, setiap pegiat komunitas literasi tidak akan membentengi dirinya sebagai ‘telah berjasa’ ketika berhadapan dengan statistik IPM yang (mungkin akan tetap) rendah, tetapi bergumul dengan sungguh-sungguh, memakai indikator-indikator universal sebagai pedoman gerakan.

Pekerjaan ini akan panjang. Jika siap, silakan bentuk komunitas. Jika belum terlampau siap, mengapa tidak memperkuat komunitas-komunitas yang sudah ada? (*)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Bahan Bacaan

  • McMillian, David W. and Chavis, David M. 1986. Sense of Community: A Definition and Theory. Jurnal of Community Psychology. Diakses dari: https://onlinelibrary.wiley.com, tanggal 19 Maret 2019 pukul 11.30 Wita.
  • Sandiah, Fauzan A. 2018. “Komunitas yang Memperluas Makna Membaca”. Dalam pustakamu.id 27 Februari 2018. Diakses dari https://pustakamu.id/komunitas-yang-memperluas-makna-membaca/, tanggal 18 Maret 2018 pukul 15.00 Wita.
  • Indriani. 2018. “Pendidikan Solusi untuk Kesejahteraan Masyaraka Papua”. Dalam www.antaranews.com 9 Desember 2018. Diakses dari  https://www.antaranews.com/berita/776129/pendidikan-solusi-untuk-kesejahteraan-masyarakat-papua,  tanggal 19 Maret 2019 pukul 12.00 Wita.
  • Taufik Ismail. 2016. “Tiga Kendala Pemberantasan Buta Huruf di Indonesia”. Dalam www.tribunnews.com 9 September 2016. Diakses dari http://www.tribunnews.com/nasional/2016/09/09/tiga-kendala-pemberantasan-buta-huruf-di-indonesia tanggal 19 Maret 2019 pukul 12.00 Wita.

Om Rafael dan Kisah Seputar Pemilihan Umum

Ini adalah percakapan pada hari Pemilu. 17 April 2019. Saat saya sedang sibuk melihat dengan penuh harap ke layar hape.
om rafael dan kisah seputar pemilihan umum
Apa itu?

Om Rafael dan Kisah Seputar Pemilihan Umum


Sudah cukup lama Om Rafael tidak menelepon. Meski demikian, tidak ada rasa rindu juga sesungguhnya. Apalagi jika sedang sibuk seperti sekarang ini, di mana seluruh langit Indonesia berisi percakapan-percakapan yang menguras akal sehat karena Pemilu yang tidak bisa bikin gembira, telepon darinya adalah hal terakhir yang dapat saya pikirkan.

Yang paling ditunggu sesungguhnya adalah telepon dari calon-calon yang saya dukung betul pada Pemilu kali ini. Dukungan saya tentu saja tidak bisa via kampanye, tetapi semata-mata melalui bilik suara. Tapi saya berharap mereka menelepon, memberi tahu bahwa perolehan suara mereka lumayan baik. Tetapi telepon seperti itu tak kunjung datang. Yang masuk adalah, siapa lagi kalau bukan, Om Rafael. Aduh ...

Tiba-tiba saja dia menelepon. Ya. Om Rafael menelepon. Om Rafael yang itu. Tidak ceria. Menangis dia. Lalu bilang, "Itu to, Nana. Sa bilang dulu juga apa. Sekarang terbukti. Nomor satu yang menang. Jokowi kalah sudah." Saya heran tentu saja heran. Berusaha mencerna arah percakapan yang diawali dengan tangisan itu.

Baca juga: Soal Sandiaga Uno Diusir Pedagang Ikan dan Hal-Hal di Sekitarnya

Lalu ingat saya ingat. Kemudian menjelaskan. "Om. Tahun ini nomor 01 itu Jokowi. Yang dulu Om bilang itu waktu tahun 2014. Nomor 01 memang Prabowo waktu itu." Om Rafael kaget. "Sejak kapan itu nomor berubah? Jadi Jokowi tetap menang?" Tanyanya dengan nada tinggi seolah-olah setiap perubahan harus diberitahukan kepadanya secara langsung. Haissssh...

Perlu waktu panjang untuk menjelaskan bahwa nomor urut capres tahun ini memang begitu. Bukan karena sengaja ditukar biar adil, tetapi hasil undiannya memang begitu. Untunglah Om Rafael segera maklum. Meski rasanya agak setengah mati dia berusaha mencerna. Belum lagi sinyal yang hilang muncul seturut tiupan angin.

"Om tadi pilih nomor berapa?" Tanya saya kemudian. Sambil melihat informasi hasil hitung cepat di layar hape.
"Pilih apa? Memangnya ada acara apa?" Om Rafael berseru seolah-olah pertanyaan saya adalah sesuatu yang sangat jauh dari apa yang kami bicarakan beberapa detik sebelumnya. "Kan hari ini Pemilu, Om?" Kata saya kemudian.
"APA? HARI INI? TERUS BESOK SUDAH TIDAK ADA?"
"Besok Kamis Putih, Om. Kalau Om bilang "APA" lagi, saya pukul ini meja. Mau?"
"APA?"

Saya lalu memutuskan memukul meja. Pelan-pelan saja. Karena meja ini belum lunas. Minta maaf.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Illo Djeer, Musisi Asal Manggarai di Double Doors dan Panggung-Panggung Lain

Catatan tentang Illo Djeer ini seharusnya sudah saya tulis sejak lama. Sejak saya berniat memakai blog ini sebagai ruang menceritakan Ata Manggarai. Bukan asal orang Manggarai. Tetapi yang telah dan akan menjadi inspirator.
illo djeer musisi asal manggarai di double doors
Illo Djeer di Double Doors

Illo Djeer, Musisi Asal Manggarai di Double Doors dan Panggung-Panggung Lain


Setelah beberapa urusan selesai, dua adik saya datang menjemput. Dari hotel, kami sempat cari makan malam dan beberapa buku, lalu ke Double Doors. Itu di Jakarta Barat. Illo Djeer punya jadwal tampil solo di tempat nongkrong itu malam itu. Main gitar akustik sambil nyanyi sambil pakai topi. Eh. Musisi asal Cewonikit, Ruteng, Manggarai, NTT ini baru saja hendak memulai penampilannya hari Selasa malam itu. Tanggal 9 April 2019.

Ketika kami bertiga, saya dan dua adik saya, pasutri muda  yang tinggal di Barat Jakarta masuk, Illo Djeer sedang mengurus kabel dan beberapa hal di panggung. Sendiri. Tidak ada yang bantu. Karena dia akan tampil solo. Saya sudah bilang tadi to? Di lantai dua itu kami mencari tempat duduk, dapat yang paling dekat panggung.

Illo Djeer menyapa. "Selamat malam semua. Juga selamat malam buat Armin Bell yang jauh-jauh datang dari Ruteng." Nama saya disebut di salah satu tempat hangout asyik di ibukota. Oleh musisi yang telah lama saya kagumi karya-karyanya. Di situ saya merasa asyik. Sedikit merinding. Untunglah tidak sampai kehilangan sandal seperti nasib Habiburokhman saat mendengar pidato Prabowo. Lagi pula, saya pakai sepatu. Halaaah.

Illo Djeer memulai penampilannya malam itu dengan "(They Long to Be) Close to You" milik The Carpenters. Sudah jelas saya ambel suara dua ketika gitaris Keroncong Tugu itu tiba di bagian: So they sprinkled moon dust in your hair of gold and starlight in your eyes of blue. Dan fals. Saya. Bukan musisinya. Tapi saya menikmatinya karena peristiwa fals itu terjadi dalam hati saja. Ada bir. Satu pitcher sumbangan dari meja sebelah. Indah.

Sehari sebelumnya, kami sepesawat. Dari Labuan Bajo. Illo Djeer 'pulang' ke Jakarta setelah mengisi panggung milik KPU Kabupaten Manggarai di Lapangan Motang Rua Ruteng, hari Sabtu, 6 April 2019. Dia diundang sebagai artis. Mengisi salah satu kegiatan jelang Pemilu 2019. Ajakan agar jangan golput. Sesuatu yang jarang. Bukan kampanye tolak golput-nya. Tapi panggung kami di Ruteng diisi oleh artis kami sendiri. Itu jarang. Maka saya senang sekali di Motang Rua malam itu.

Di kursi penonton di lapangan tengah kota Ruteng itu, saya menulis status facebook yang panjang. Tentang terurainya perasaan (sebut saja) inferior kami dalam kesenian; bahwa yang disebut artis harus yang tampil di tivi atau pentas-pentas pencarian bakat.
Kehadiran Illo Djeer, orang kami sendiri, di panggung sebesar Motang Rua Ruteng, adalah langkah baru. Artis ibukota yang sering tampil di tivi atau di gosip Lambe Turah, atau artis dangdut dari seberang laut, tidak lagi jadi pilihan. Telah ada penghargaan untuk seniman-seniman Manggarai sendiri yang menginspirasi. 
Di Ruteng - Manggarai, sudah sekian lama percakapan tentang 'kita ambil kita pu panggung sendiri' ini kami mulai. Sejak merasa bahwa perasaan inferior (baca: merasa artis tivi lebih hebat) ini merugikan dalam banyak hal: (1) berpikir bahwa anak Manggarai jadi seniman bukan pilihan terbaik. Padahal seniman itu nuraninya pasti baik, (2) ekonomi yang buruk; uang dari Manggarai untuk orang luar Manggarai karena artis tivi pasti dibayar mahal, (3) seniman Manggarai pasti sulit dikenal di tanahnya sendiri, dan lain sebagainya.

Maka kehadiran Illo Djeer sebagai penampil utama di Motang Rua adalah salah satu titik penting.

Baca juga: Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan Tentang Para Perantau Digital

Sebelum malam itu, dia dikenal dengan "Lompong Cama", single yang  hampir saya selalu mainkan di Lumen dan RSPD dulu. Ketika saya seorang penyiar. Beberapa lagu lainnya juga dengan cepat populer di Manggarai. Melalui youtube dan digital tools lainnya. Rastamangga, Molas Sale Mau Pau, Mai Sae, Congka Chacha, dan Wicul, siapa tidak kenal?

Selain mengeluarkan lagu-lagu yang enak-enak itu, Illo Djeer secara serius menekuni musik sebagai jalan hidup. Dalam beberapa kesempatan ngobrol, saya kerap mendengarnya bercerita tentang pengalaman ngamen musik di awal-awal karirnya.

Bersama Ivan Nestorman, bersama Keroncong Tugu, dan lain sebagainya. Mengeluarkan album rohani, menggarap ulang album Edy Ngambut, sesekali menangis menulis tentang tokoh-tokoh yang dia anggap penting—tulisannya sangat bagus karena dia pernah jadi jurnalis dan gemar membaca, Illo Djeer tampil juga di panggung-panggung yang jauh. Di Portugal, di Afrika, di Timur Tengah. Illo Djeer hidup dari musik. Dari kesenian. Dunia yang (saya pikir) dicintainya sungguh.

Bagaimana bisa? Konsistensi adalah kata kunci. Di dalamnya ada belajar tanpa henti, percaya diri, terbuka pada kritik, dukungan keluarga, kerja sepenuh hati. Illo Djeer membuktikannya. Seperti juga Lipooz. Ivan Nestorman. Dan orang-orang Manggarai lainnya yang memilih jalur ini sebagai jalan hidup.

Lalu kita bagaimana? Bapa-Mama dorang masih merasa bahwa seniman itu baru seniman kalau muncul di tivi dan masuk di instagram Lambe Turah? Atau justru yang konsisten berkarya? Saya pasti memilih yang terakhir. Yang konsisten berkarya.

Pengunjung Double Doors semakin asyik. Berteriak-teriak kegirangan ketika lagu yang mereka minta dimainkan Illo Djeer dengan gayanya sendiri. Pada lagu Change The World, saya turut bernyanyi. Kali ini tidak hanya dalam hati. Lagu milik Eric Clapton itu saya sukai sekali. Maka saya bernyanyi sepenuh hati setelah segelas penuh bir tandas tanpa jeda. Tetap ambel suara dua. Tidak fals. Pasti karena bir bir yang enak. Terima kasih.

Ada Gazpar Araja juga di Double Doors malam itu. Musisi asal Manggarai lainnya yang juga mulai konsisten di jalur yang agak membuat banyak orang tua khawatir jika anak-anak mereka menyampaikan itu sebagai cita-cita. Kami bercerita. Saya, Gapak, dua adik saya Jerry dan Elna. Tentang hal yang sama. Konsistensi. Bahwa bakat saja tidak cukup. Bahwa kerja keras dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri adalah kemestian. Bahwa hidup bukan semata agar bisa viral. Bahwa kesenian bukan hiburan saja. Dia jalan hidup. Yang dipilih. Yang harus diapresiasi.

Kami pamit dari Double Doors. Ketika melihat saya dan dua adik saya berdiri hendak pergi, Illo Djeer mengucapkan terima kasih. Juga mengatakan kepada pengunjung lain bahwa Armin Bell dari Ruteng adalah seorang penulis. Saya tersipu malu. Terharu. Musisi ini mengenalkan buku saya "Perjalanan Mencari Ayam" kepada semua orang di Double Doors malam itu. Mereka tepuk tangan. Mungkin karena mereka sedang lapar dan menduga bahwa buku saya itu berisi resep aneka makanan rasa ayam. Padahal bukan. Itu buku kumpulan cerpen saya yang kedua. Mau pesan? Halaaaah...

Terima kasih, Ka'e Illo. Saya sudah di Ruteng ketika menulis ini. Menulis catatan ini dengan penuh syukur. Bertemu dengan orang-orang yang tahu apa yang dipilihnya dan dikerjakannya untuk hidupnya sendiri, dan, membahagiakan orang lain. Tuhan pasti senang sekali telah menciptakan mereka.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan Tentang Para Perantau Digital

Lipooz dan MukaRakat sedang jadi percakapan. Setiap video baru mereka di Youtube akan mendapat ribuan viewers hanya dalam hitungan menit. Apakah mereka adalah para perantau digital atau digital nomad?
lipooz dan mukarakat dan percakapan tentang para perantau digital
Lipooz dan Mukarakat | Image: FB Lipooz

Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan Tentang Para Perantau Digital


Pada suatu malam jelang akhir Desember 2018 lalu, Lipooz mampir ke Kedutul. Ya. Lipooz yang itu. Yang 16 Bar The Rap Series-nya di Youtube itu sangat menginspirasi, yang MukaRakat-nya itu jadi idola baru di negeri ini, yang membawa hip-hop ke Ruteng beberapa tahun silam itu. Di tengah waktu liburannya yang pendek, dia menyempatkan diri berkunjung dan berbuat baik. Ke rumah kami. Iya. Ke gang kedua rumah sakit belok kanan nanti ada plang dokter gigi di bagian kiri pas di pertigaan mau ke kuburan umum, begitu biasanya alamat rumah kami dijelaskan. Karena nama jalan adalah sesuatu yang masih asing di kota ini apalagi untuk orang baru.

Tapi Lipooz bukan orang baru di Ruteng. Orang lama. Kan dia anak Ruteng. Yang pernah jatuh cinta pada perempuan berbaju merah di tengah guyuran hujan ketika bersama penjual bawang dia terkaget-kaget dengan hujan yang deras di suatu siang setelah malam sebelumnya dia ikut pesta di Watu. Halaaah. Tahu lagu itu bukan? Molas Baju Wara. Salah satu komposisi paling kuat (menurut saya) dari sekian banyak lagu tentang Ruteng yang pernah diciptakan.

Kembali soal dia mampir ke rumah. Sebelumnya sempat kontak. Di WA atau facebook kalau saya tidak salah. Saya tunggu. Karena dia pasti tiba dengan selamat. Kalau toh dia kesulitan menemukan alamat rumah, itu karena dia sudah agak lama meninggalkan kota ini dan saya sudah beberapa kali pindah rumah.

Namun Lipooz tidak tersesat, Fernanda. Karena ada Kaka Ited dan Daeng Irman dan Orind Vitroz yang menemani rapper kenamaan itu. Tiga orang ini sudah khatam melintasi jalanan Kedutul sehingga saya pernah menduga bahwa mereka bisa tiba di rumah saya dengan tepat waktu dan arah bahkan jika jalan tutup mata atau jungkir balik atau muka ke belakang. Tentu saja mereka tidak bisa jalan dengan kaki di kepala karena yang seperti itu hanya ada di lagunya Peter Pan yang berjudul Di Atas Normal padahal teman-teman saya ini jarang sekali berada di atas normal. Sesekali. Kalau sedang ingin menangis bersama. Halaaaah.

Ada Zlo Flores juga malam itu. Ikut hadir dengan sumbangan terbaik yang bisa dibawa oleh orang yang hidup di daerah penghasil sopi. Sebotol akua besar sopi. Bingung dengan istilah ini? Sopi di Ruteng itu terbagi dalam beberapa takaran. Botol akua kecil, botol akua besar, dan botol palpi orens. Yang terakhir ini kalau Guru Don yang bawa dari Paurundang. Lebih sedikit dari akua kecil. Hemat sekali Guru Don ini. Untunglah Zlo bawa yang botol akua besar (in fact, malam itu dia isi di botol sperait plastik).

Zlo Flores ini adalah rapper dengan karakter vokal yang kuat sekali. Saya biasa menyebutnya demikian karena tidak terlampau tahu istilah teknis dalam dunia hip hop itu. Saya mengenalnya sejak dia masih SMA dan tetap mengenalnya ketika sekarang dia jadi Guru. Dan tetap sebagai rapper. Anak Rapublic Ruteng Clan.

Dan kami bicara banyak hal. Dari kenangan-kenangan ketika Lipooz masih di Ruteng dan merintis tumbuhnya hip hop di kota ini (bagian ini diisi juga oleh Kaka Ited yang dengan senang hati membongkar aib-aib masa lalu), ke bagaimana Lipooz membangun profil dirinya di Youtube dan panggung hip hop melalui 16 Bar dan MukaRakat, hingga ke (apa yang saya sebut) usaha membangun sentra baru dalam industri musik.

"Selama ini kiblatnya selalu ke pusat, Kae. Kalau bisa kuasai Jakarta atau kita datang dari Jakarta, baru diakui. Dengan media teknologi informasi sekarang ini, pusat bisa ada di mana saja," cerita Lipooz. Mungkin kalimatnya tidak persis begitu tetapi kira-kira begitulah yang saya ingat. Kalau ingatan saya tidak jernih, hubungkan dengan bagian akua besar tadi. Obrolan tentang "pusat baru di mana saja" itu mengisi bagian terbesar percakapan.

Perantau Digital atau Digital Nomad


Ketika menulis catatan ini, saya sedang ingat soal digital nomad. Pernah dengar soal itu? Di voxpop.id ada artikel menarik tentang itu. Tautannya saya sertakan di bagian akhir catatan ini, tetapi beberapa bagiannya saya kutip saja.

"Digital nomad bisa diartikan sebagai perantau digital. Maksudnya, tipe orang yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi ketika bekerja mencari nafkah. Mereka kerap bekerja secara nomaden, semisal dari rumah, kedai kopi, perpustakaan umum, ruang kerja bersama (coworking space), atau bahkan dari tempat rekreasi."

"Menurut survei IWG, sekitar 70% pekerja profesional di seluruh dunia kini bekerja remote (dari mana saja) setidaknya sehari dalam seminggu. Dan, sekitar 53% dari bagian tersebut bekerja secara remote setidaknya 3-4 hari dalam seminggu."

Yup. Dua keterangan di atas adalah bagian yang penting untuk kita ketahui tentang perantau digital ini. Lipooz tentu saja adalah bagian dari masyarakat digital nomad di Indonesia karena membangun hidupnya dari kamarnya di Bali. Tetapi lebih dari itu, melalui pilihannya sebagai perantau digital tadi Lipooz mewujudkan cita-citanya yang lain: mengurai pusat industri--agar tidak lagi Jakartasentris atau televisisentris.

Begini. Beberapa tahun lalu (sebagian bahkan menganggapnya tetap berlaku hingga kini) tampil di Jakarta dan disiarkan stasiun televisi nasional adalah penanda keartisan atau kebesaran seseorang. Sebagai akibatnya, pentas-pentas panggung lokal di daerah baru akan dianggap bergengsi kalau ada artis ibukota-nya. Bahkan jika kemunculannya di televisi sesungguhnya adalah sebuah jalan pembuka semata (mis: tampil di ajang pencarian bakat), masih banyak yang merasa bahwa mereka lebih artis dari artis. Halaaah.

Tanpa bermaksud mengecilkan para jawara yang berasal dari NTT di panggung pencarian bakat tadi, rasanya penting untuk diingat bahwa mereka sedang di tahap awal (saja). Perlu ada usaha yang konsisten setelahnya agar keartisan itu layak disandang; perlu juga mereka diingatkan bahwa popularitas via ajang pencarian berbakat tadi harus dijaga melalui penciptaan/karya yang berkualitas. Pada titik inilah pilihan menjadi perantau digital dapat digunakan.
Maksud saya, bukan televisi yang menciptakan keterkenalan tetapi karya. Dan karena akses menyiarkan karya menjadi sangat luas saat ini, maka setiap orang wajib memanfaatkannya agar namanya tetap dibicarakan bertahun-tahun setelah mereka menjadi juara di sebuah perlombaan. 
Ada yang tahu di mana Kia, Very, Mario Klau, dan beberapa nama lain lagi sekarang? Kita sedang asyik bicara tentang Aldo dan Rambu yang baru saja menang di ajang pencarian berbakat. Ada yang tahu di mana mereka beberapa tahun kemudian?

Jika tidak berani keluar dari pusat yang lama (Jakarta dan televisi) dan bertempur di jalur digital nomad, mereka akan diganti oleh pemenang baru karena televisi akan tetap berjuang mengadakan acara serupa. Acara tersebut, selain sebagai mesin uang, juga sebagai satu-satunya alasan para penonton duduk di depan pesawat televisi mereka lebih lama. Jika tidak, pilihan banyak masyarakat saat ini adalah mengakses Youtube atau media-media daring (untuk berita).

Apakah Lipooz adalah seorang artis sekarang? Tidak. Dia artis sejak dulu. Sejak konsisten melahirkan karya dan memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan platform paling baru. Lipooz pernah ada di friendster, pindah ke facebook, main di soundcloud, ada di reverbnation, ngoceh di twitter, mengelola akun youtube-nya dengan sangat serius, dan entah apa lagi beberapa tahun kemudian. Tidak hanya agar namanya dibicarakan, dia sedang berjuang untuk "mengurai pusat" tadi ke berbagai titik; bahwa pusat bisa ada di mana saja sepanjang kau berkarya.

Menjelaskan Perantau Digital ke Guru Don dan Yang Masih Sepaham Dengannya


Guru Don lahir dua tahun setelah Proklamasi. Maka saya maklum saja ketika saya cerita soal Lipooz adalah salah satu musisi hebat dari Manggarai, dia bilang: "Pernah muncul di tivi?" Guru Don tentu saja masih menganggap Jakarta dan televisi dan segala antena parabola-nya adalah standar kehebatan seseorang.

Namun jika generasi yang lahir berpuluh-puluh tahun setelah Guru Don masih memperlakukan Jakarta dan televisi dengan cara yang sama, saya agak sulit maklum. Sekali lagi, it's not a TV, Dude. It's you who can make us believe that you are someone. Menciptakan sentra baru seperti yang Lipooz lakukan mungkin terlampau besar. Yang kecil saja dulu. Konsisten berkarya. Menampilkannya ke publik melalui berbagai platform teknologi informasi yang berkembang pesat, tumbuh di sana, belajar dari kritik dan maki-makian yang niscaya menyertainya, dan meletakkan dasar untuk generasi berikutnya.

Beberapa orang Ruteng mulai melakukannya. Di Youtube. Misalnya akun Denny Creative. Di blog. Misalnya jagarimba, welakaweng, marselgunas.com, dan beberapa lagi. Di instagram. Ada @rieshalajar dan beberapa nama lainnya. Apakah akan segera mendapatkan banyak uang? Ah... Begini. Dengan serius menelusuri dan bermain di dunia digital tadi, itu barang akan datang. Barangkali tidak serentak banyak, tetapi konsistensi berkaryamu akan diperhatikan lalu beberapa tawaran kerja sama akan datang. Uangnya mungkin ada di situ.

Di dunia tulis menulis, "pusat" sesungguhnya telah terurai lama. Kehadiran beberapa website populer di luar Jakarta adalah contohnya. Mojok dan Basabasi itu ada di Jogja. Kemunculan penerbitan indie di berbagai kota adalah contoh lainnya. Mereka dikenal melalui kerja-kerja digital, promo dan jualan di berbagai platform daring.

Apakah itu berarti bahwa kerja kantoran tidak lagi penting? Tergantung bagaimana kita melihat kantor. Selain di daring, kerjaan luring (sebut saja begitu) juga penting. Sebagian besar perantau digital melakukannya. Kerja siang di kantor, kerja malam di cafe. Mereka rajin. Semua orang bisa. Kalau percaya. Kalau tidak percaya ya sudah. Urusan saya apa?

Setelah malam itu, lebih tepat pagi itu, kami tidak tahu apa yang kami bicarakan. Tetapi rasanya beberapa di antara kami meyakini bahwa setiap orang yang mau belajar pasti akan baik-baik saja di hari-hari selanjutnya. Saya dan Daeng kemudian bergabung di Yayasan Klub Buku Petra yang sedang mengembangkan website literasi: www.bacapetra.co. Akankah ini jadi pusat baru? Perlu kerja yang rajin untuk dapat mewujudkannya tetapi sudah dimulai.

Ketika melihat Lipooz dan MukaRakat tampil di banyak panggung di banyak kota, saya semakin yakin bahwa digital nomad adalah salah satu pilihan terbaik setelah fotokopian ijazah kita yang sudah dilegalisir telah habis dititipkan di tempat-tempat yang membuka lowongan kerja.

Saya tidak ingat persis jam berapa obrolan kami berakhir. Sopi dari Coal sisa sedikit. Zlo berjanji akan membawanya lagi ke Kedutul. Tapi lebih sering, titipan itu habis di Watu. Di markas kami yang lainnya. Di salonnya Kaka Ited. Sedih sekali.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Bacaan tentang digital nomad dapat dilihat di: https://voxpop.id/tren-menjadi-perantau-digital-dan-alasannya-kalau-ditanya-macam-macam/

Mencari Penulis Surat - Cerpen di Lombok Post

Cerpen "Mencari Penulis Surat" pertama kali disiarkan di Lombok Post tanggal 16 April 2017. Disiarkan kembali di ranalino.id untuk kepentingan dokumentasi.
mencari penulis surat cerpen di lombok post
Mencari Penulis Surat - Cerpen di Lombok Post

Mencari Penulis Surat


Oleh: Armin Bell

Kampung kami di bawah dua ancaman. Pertama, telah beberapa minggu terakhir debet mata air kami berkurang—semakin sering terdengar anak-anak menangis, mereka menggaruk-garuk sela jari dan pangkal paha, aroma tubuh mereka berubah, menusuk, agak sulit saya bernafas saat mengajar di pinggir hutan yang mulai gundul. Yang tua tak banyak tertawa, sawah mengering dan tanah merekah terbelah. Kedua, Tu’a Golo, tua adat di kampung kami menerima surat tanpa nama pengirim.

“Ada surat dari hutan,” katanya kepada kami yang berkumpul di Mbaru Gendang, rumah adat di tengah kampung kami, siang ini. Dibukanya perlahan dan mulai membaca.

“Tu’a Golo yang terhormat, salam sejahtera. Kita tidak pernah bertemu. Alasannya adalah karena kita memang tidak harus bertemu. Dunia kita berbeda, kelak kau akan mengerti. Untuk sementara, sebut saja kami sebagai tetangga tak terlihat. Tentang mengapa menulis surat, rangkaian pertemuan telah kami gelar. Rapat alot berhari-hari akhirnya sampai pada keputusan bahwa kami harus menulis. Kita mulai saja dengan kesadaran bahwa kau dan wargamu merusak kampung kami.”

Sampai di sini Tu’a Golo terdiam. Kami saling memandang. Sorot mata satu kepada yang lain menyiratkan tanya hingga terdengar bisik-bisik. “Kampung apa?” “Warga kita telah menyerang kampung lain?” “Mungkin Ame Japi membawa ternaknya ke kampung tetangga?”

Semua mata memandang Ame Japi, seorang tua yang hidup dengan berpuluh-puluh ekor sapi. Namanya Petrus, tetapi sekian lama menjadi peternak sapi membuatnya dipanggil Ame Japi. Japi berarti sapi dan Petrus tak memiliki anak. Ame Japi menoleh ke arah suara yang menuduhnya.

“TIDAK!” katanya, “saya tidak ke kampung tetangga. Memang saya harus pergi agak jauh membawa sapi-sapi merumput karena kampung kita gersang, tetapi itu masih di lingko kita,” sambungnya lagi seraya menyebut lokasi tanah ulayat mereka tempat dia membawa sapi-sapinya merumput, Lingko Huek, daerah pinggir hutan yang berbatasan dengan kampung tetangga.

“Kalau hanya di Lingko Huek, tak ada yang salah,” Tu’a Golo menengahi dan lagi membaca surat itu. Kertas putih di tangannya basah. Tu’a Golo berkeringat, juga sebagian besar peserta rapat. Beberapa mengibas wajah. Hari-hari ini, siang lebih panas.

“Kalian mungkin akan bertanya kampung mana yang telah dirusak itu. Jangan berdebat. Selesaikan saja membaca surat ini. Sesungguhnya kami pernah senang karena kita tak saling mengusik. Kami menikmati pesta-pesta kalian setiap masa panen. Hasil yang melimpah patutlah disyukuri. Tetapi ingatkah kalian kapan kali terakhir menggelarnya? Pesta-pesta itu tak lagi ada beberapa tahun terakhir. Panen kalian tak lagi banyak. Ada yang tahu alasannya?”

Tu’a Golo terdiam lagi. Lebih lama. Lebih ramai orang-orang bicara. Terdengar nostalgia tentang pesta panen terakhir lima tahun silam. Ame Japi mengorbankan sapi terbaiknya, dibayar warga kampung dengan sepuluh kilogram beras per keluarga dari hasil panen yang melimpah. Begitu meriahnya pesta itu bahkan ada pertunjukkan Caci selama tiga hari. Setelahnya, agar pada tahun berikutnya pesta lebih meriah, disepakati bahwa jumlah panenan mestilah lebih melimpah. Karenanya perlu membuka lahan yang baru. Hutan di dekat kampung pun dirambah. Hanya tersisa beberapa pohon di bagian yang berbatu setelah yang lain tumbang rebah.

Saya ingat, setelah pesta terakhir itu tak ada lagi panen melimpah. Saya sedang mengenang masa-masa kami menanti hujan beberapa tahun terakhir dan mencari jawaban atas pertanyaan si pengirim surat ketika Tu’a Golo kembali membaca. Keringat menderas di bagian ketiak kami. Mulai tercium aroma tak sedap.

“Kami percaya kau dan wargamu akan mempunyai alasannya masing-masing. Tetapi biarkanlah kami bercerita beberapa kejadian penting yang membuat kami menulis ini. Pertama, ketika kalian merambah huta, beberapa keluarga di kampung kami kehilangan tempat tinggal. Mereka menangis meraung-raung lalu pergi jauh. Betapa lara nasib mereka yang diusir dari rumah sendiri. Sesekali mereka berkunjung juga, berharap rumah-rumah telah baik, tetapi butuh waktu bertahun-tahun untuk sebuah rumah yang nyaman. Kedua, kami yang tersisa bertahan seadanya di rumah-rumah tersisa.”

Tiba-tiba Ame Japi berdiri.“Itu surat dari hutan,” teriaknya. Tu’a Golo tak lanjut membaca surat. Seperti kami yang lain, dia memandang Ame Japi. Tatapan tajam Tu’a Golo menyurutkan niat Ame Japi berteriak lebih banyak. Dia duduk diiringi tatapan prihatin dari yang lain. Ame Japi selain mempunyai banyak sapi, telah lama dikenal sebagai warga yang bersikap tak biasa. Ketika yang lain bersepakat membuka lahan pertanian baru, Ame Japi menolak tanpa alasan yang jelas. Pernah sekali terdengar dia menggerutu bahwa kampung kami dikutuk sehingga tidak lagi datang hujan. Sejak itu tak banyak pendapatnya yang dianggap waras.

Tu’a Golo, yang kini mulai lagi membaca surat, bahkan pernah menyarankannya berobat agar kembali normal.

“Hingga beberapa waktu yang lalu kami mendengar kabar bahwa kau dan warga kampungmu akan menebang pohon-pohon tersisa, kami tak lagi dapat berdiam diri. Pohon-pohon itu rumah kami. Kampung kamilah yang selama ini memberi kau dan wargamu hujan. Menebang pohon-pohon tersisa adalah juga menebang mimpi akan panenan berlimpah. Menghabiskan hutan bukan hanya mengusir kami ke tempat lain tetapi juga mengusir dirimu sendiri. Sudah berapa warga kampungmu yang pindah?”

Tu’a Golo tak lanjut membaca. Puluhan keluarga telah pindah lima tahun terakhir. Beberapa orang mati pada sebuah kelaparan hebat. Pertanyaan surat itu jelas mengejutkan kami semua. Tetapi untunglah dengan cepat akal sehat menyeruak dari Klemens, menantu Tu’a Golo.

“Itu surat dari Ame Japi!” Ujarnya ketus. Semua menoleh. Bergantian, ke arah Ame Japi, ke arah Klemens, ke segala arah, dengan heran. Ame Japi tak bisa baca tulis. Bahkan ketika menjual sapi-sapinya, dia tak menerima uang. Ditukarnya sapi-sapi itu dengan apa saja yang dia butuhkan. Semen untuk rumah, besi beton untuk rumah, televisi dan antena parabola, beras, pakaian dan lain-lain. “Ame Japi tidak bisa menulis,” kata seseorang mengingatkan. Klemens terdiam. Tu’a Golo yang kini bicara. Untuk dua hal sepertinya. Membela menantunya dan mengajukan tawaran kemungkinan lain bahwa usulan surat itu memang dari Ame Japi dan ditulis oleh orang lain. Yang biasa menulis surat adalah Darius.

Saya Darius. Pernah bersekolah hingga SMA lalu pulang ke kampung ini dan menggarap satu-satunya tanah warisan yang ditinggal pergi oleh Ayah dan Ibu ke kampung orang tua Ibu. Di sana hujan masih turun. Selama ini sayalah yang kerap diminta menulis surat oleh hampir semua warga kampung. Tu’a Golo paling sering meminta saya menulis surat permohonan bantuan beras dari kabupaten. Saya juga mengajar anak-anak menulis. Sekolah terdekat terlampau jauh.

“Darius?” Tanya Tu’a Golo. Saya menggeleng. Meminta Tu’a Golo melanjutkan membaca surat yang sepertinya belum selesai. Dia setuju meski kulihat ada kilat ragu di matanya.

“Sembari kau dan wargamu mengenang mereka yang pindah, kami ingatkan bahwa kini hanya ada tujuh pohon tersisa di tempat kami. Artinya hanya ada tujuh rumah kini. Tak akan ada hujan dari tujuh pohon tersisa. Jika kau dan wargamu menebang lagi, kita akan sama-sama kehilangan. Rumah kami, hujan kalian. Kami memberi hanya satu pilihan akhir ini: jangan hancurkan rumah-rumah terakhir dan bantu kami membangun yang lainnya. Kepadamu akan kami turunkan hujan. Salam hormat dari kami. Penghuni hutan terakhir.”

Semua keluar dari Mbaru Gendang dengan gontai. Tak ada wajah yang tersenyum. Ame Japi berjalan pulang bersamaku. Rumah kami bersisian. Diceritakannya ini di sepanjang perjalanan.

“Saya pernah menikah dengan Kakartana. Perempuan cantik dari dunia lain. Kau mungkin menyebutnya jin. Saya sering ke rumahnya di tengah hutan. Dari luar memang terlihat hanya pohon-pohon besar dan tinggi. Tetapi saat kau bersama Kakartana, matamu akan terbuka dan pohon-pohon itu sebenarnya adalah tempat tinggal mereka. Kampung mereka persis seperti kampung kita, hanya saja semua terlihat lebih baik. Kisah kami berakhir ketika saya menikah dengan Lusia. Ada tumbal pada cerita itu. Saya dan Lusia tidak akan punya anak. Sebagai gantinya saya diberinya karunia memelihara sapi hingga sukses seperti sekarang.”

Kudengar saja cerita itu sebagai dongeng. Sulit untuk percaya bahwa ada yang menikah dengan perempuan dari dunia lain. Ketika kecil pernah kudengar sebagai dongeng sebelum tidur. Sang lelaki biasanya kurus karena tak pernah tidur. Pada malam hari dia akan dijemput Kakartana ke rumahnya dan pada pagi diantar pulang, bekerja seperti biasa. Dulu Ame Japi memang kurus.

“Ame Japi percaya kalau itu surat dari Kakartana?”

Tak ada jawaban. Kami terus melangkah bersisian. Ketika akan berpisah dia mengingatkan hasil kesepakatan kami di Mbaru Gendang, “Besok jangan lupa, jam delapan kita sudah berangkat. Bawa bibit pohon apa saja. Kita bangun rumah-rumah mereka.”

*

Itu cerita bertahun-tahun silam ketika beberapa anak mati karena lapar juga borok bernanah di tubuh mereka yang tidak pernah mandi karena mata air yang berhenti. Hari ini bersama istri, saya baru saja kembali dari pemakaman Ame Japi di pinggir hutan yang mulai hijau. Di pemakaman juga hadir seorang dari tempat lain, wanita cantik jelita berdandan seperti orang kota. "Kerabat Ame Japi," kata orang-orang tanpa penjelasan lengkap. Hujan mulai turun ketika kami menikmati kopi di rumah Lusia, perempuan tua yang tak pernah menangis. Tidak ada lagi percakapan tentang siapa yang dahulu menulis surat. (Selesai)

Baca juga cerpen bertema sama: Yang Bangkit di Hari Keempat