Ceritakan secara singkat perlawanan rakyat maluku terhadap dominasi portugis

Ceritakan secara singkat perlawanan rakyat maluku terhadap dominasi portugis

Jawaban

Perlawanan rakyat Maluku terhadap dominasi Portugis dilakukan terjadi sebanyak dua kali. Berikut perlawanan rakyat Maluku tersebut.

  1. Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis pertama kali dilakukan di bawah Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun. Perlawanan rakyat Maluku tersebut terjadi pada awal tahun 1565.
  2. Perlawanan kedua dipimpin oleh Sutan Baabullah yang merupakan putra dari Sultan Hairun. Perlawanan Sultan Baabullah dilakukan pada tahun 1570, tepat setelah Portugis melalukan tipu daya dan pembunuhan Sultan Hairun.

Pembahasan

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis dilakukan sebanyak dua kali. Perlawanan rakyat Maluku pertama dipimpin oleh Sultan Hairun yang berjalan pada awal tahun 1570. Sementara itu, upaya perlawanan kedua dipimpin oleh Sultan Baabullah.

Pada perlawanan pertama, Sultan Hairun berhasil membawa kemenangan bagi rakyat Maluku. Tepatnya, dengan direbutnya wilayah Ambon dari tangan Portugis. Pihak Portugis yang berhasil dikalahkan oleh rakyat Maluku, kemudian mengajukan permohonan damai. Permohonan tersebut mendapatkan sambutan baik dari Sultan Hairun. Karena itu, Portugis masih tetap diberikan izin melakukan perdagangan di Ternate, tetapi hak monopoli perdagangan yang mereka miliki dicabut oleh Sultan Hairun.

Sayangnya, kebaikan Sultan Hairun tersebut dibalas dengan kelicikan oleh Portugis. Untuk dapat kembali menguasai Ternate, Portugis mengatur siasat licik dengan menggunakan upaya penjebakan. Siasat penjebakan Sultan Hairun dilakukan dengan alasan mengadakan perayaan membaiknya hubungan antara Ternate dan Portugis. Tanpa curiga, Sultan Hairun menghadiri undangan tersebut tanpa pengawalan. Namun sesampainya Sultan Hairun di Benteng Sau Paulo, Portugis langsung membunuh Sultan Hairun. Peristiwa tersebut terjadi pada 25 Februari 1570.

Kematian Sultan Hairun menjadi pukulan berat bagi rakyat Maluku. Meski demikian, perlawanan terhadap Portugis tetap dilakukan di bawah pimpinan Sultan Baabullah yang merupakan putra dari Sultan Hairun. Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate dan Tidore dan beberapa kerajaan lainnya bekerja sama untuk melawan Portugis.

Serangan demi serangan dilancarkan oleh Sultan Baabullah beserta dengan prajuritnya. Akibatnya, satu per satu benteng pertahanan Portugis berhasil dikuasai oleh Sultan Baabullah dan prajuritnya. Keadaan Portugis pun semakin terdesak, terlebih tidak adanya bantuan dari luar karena pasukan Portugis di Selat Malaka pun sedang menghadapi berbagai serangan dari Kesultanan Demak dan Aceh.

Keberadaan Portugis di Maluku sendiri berakhir dengan dikeluarkannya ultimatum oleh Sultan Baabullah pada 1575 agar Portugis meninggalkan Ternate dalam waktu 24 jam. Tepat pada 15 Juli 1575, Portugis pergi dari Ternate, kecuali mereka yang memiliki istri dari golongan pribumi.

BACA JUGA  Posisi Wasit Pada Waktu Tendangan Sudut Adalah
error: Content is protected !!