Tamelo, Manusia Pertama di Pegunungan Mandosawu

Kisah tentang Tamelo, manusia pertama di Manggarai ini sebelumnya pernah disiarkan di basabasi.co. Beberapa bagian awal di sini ditambahkan kemudian.

Sketsa Tamelo oleh Komunitas Saeh Go Lino pada acara Petunra Kemkoinfo

Tamelo, Manusia Pertama di Pegunungan Mandosawu

Deret Pegunungan Mandosawu membentang dari tengah Manggarai ke timur. Puncak tertingginya adalah Gunung Ranaka. 2.350 meter di atas permukaan laut. Ada danau di dekat puncaknya. Danau, dalam bahasa Manggarai adalah rana. Ka adalah nama Manggarai untuk buruk gagak. Bagaimana hubungan nama Gunung Ranaka dengan burung gagak? Nanti kita bicara tentang itu. Ya... nanti. Kapan-kapan. Ada sesuatu yang saat ini (menurut saya) lebih menarik untuk dibahas. Tentang Tamelo, manusia pertama di Manggarai. Begitu legendanya. Seseorang bernama Tamelo dikisahkan sebagai manusia pertama di deret Pegunungan Mandosawu.

Kok? Ya... Eh?

Saya tiba-tiba memikirkan Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) ketika membaca kisah tentang seorang lelaki dari Turki memperistri satu dari tujuh bidadari yang mencuri buah-buahan dan tebu di humanya. Bukan Pram yang menulis kisah itu, melainkan Dami N. Toda, penulis asal Manggarai, NTT. Kisah Tamelo terdapat dalam buku Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (Nusa Indah, 1999). Alasan mengapa saya malah mengenang Pram setelah membaca kisah Tamelo, akan saya ceritakan nanti. Kisah Tamelo adalah satu dari sekian banyak kisah hasil penelitian Toda dalam buku tersebut yang merupakan bagian dari usahanya dalam mencari asal-usul suku Manggarai.

Selama menulis buku ini, Toda menggunakan empat tahap metode kerja penelitian, yakni: 1) studi induktif terhadap sumber-sumber tertulis Bima yang telah ditransliterasi dari aksara Jawi, 2) membentang penelitian bibliografi khusus yang berhubungan dengan tema Manggarai, 3) metode libat langsung (observasi partisipatif) untuk mengais fakta sejarah dari tradisi audi-oral Manggarai, dan 4) membandingkan hasil dari berbagai sumber secara vertikal dan horisontal (bdk. Toda, 1999: 34–46).

Tamelo yang tercantum di subbagian “Asal Keturunan Mandosawu (Wangsa Kuleng)” kemungkinan berasal dari tahap tiga yang mencakup penelitian hikayat-hikayat, peribahasa, lirik-lirik folklorik, persajakan, yang mengandung libatan sejarah moyang atau kodifikasi hukum adat.

Kisah Tujuh Bidadari: di Nuca Lale dan Daerah Lainnya


Diceritakan, setelah menempuh perjalanan laut yang sangat jauh, Tamelo terdampar di Nanga Rawa, salah satu pantai di Nuca Lale (sekarang Manggarai) dengan tujuh batang tebu dan dua belas parang sebagai bekal tersisa. Perahu miliknya dia tambatkan di pantai lalu berjalan (barangkali) tak tentu arah dan tiba di puncak sebuah gunung di deret Pegunungan Mandosawu. Di sana dia menetap, membuka huma/ladang dan menanam buah-buahan dan tebu. Begitu suburnya huma itu, makhluk-makhluk di langit datang mencicipi. Tujuh bidadari pun turun untuk mencuri hasil huma. Hari pertama berhasil. Barangkali dua atau tiga kali kemudian, tujuh bidadari itu selalu berhasil melakukannya, hingga Tamelo menyadari buah-buahan dan tebu miliknya berkurang. Yakin bahwa ada yang kerap mencuri, Tamelo memutuskan memata-matai si pencuri.

Di suatu malam bulan purnama, tujuh bidadari turun, “… melepaskan sayap, berlompatan gembira bermain-main, bernyanyi, menari-nari sambil memetik timun dan menikmatinya.” (Toda, 1999: 224). Selanjutnya bisa ditebak. Satu bidadari tak berhasil menemukan sayapnya ketika sudah saatnya kembali ke langit. Tamelo menyembunyikan sayap bidadari cantik itu, dan karena berhasil menahannya di bumi, “… menuntut tebusan dengan menjemputnya sebagai istri. Dari hasil perkawinan itu lahirlah Jelmone.” (Toda, 1999: 225).

Baca juga: Kisah Pater Roosmalen, Menuju Timur

Kisah Tamelo mau tidak mau membuat kita terhubung pada Jaka Tarub dalam Babad Tanah Jawi, kumpulan naskah yang berisi sejarah raja-raja yang pernah bertakhta di Pulau Jawa. Yang membedakan keduanya, Jaka Tarub melakukannya karena terpikat dengan kecantikan Nawangwulan. Selain itu, “alat penahannya” juga berbeda; bidadari Tamelo menanggalkan sayap, bidadari Jaka Tarub melepas selendang. Namun, akhir dari kisah-kisah yang melibatkan seorang manusia (pria) dengan tujuh bidadari hampir pasti sama. Pada satu titik, bidadari yang ditahan akan menemukan tiket (sayap atau selendang) yang akhirnya membuat mereka dapat terbang kembali ke langit; tentu setelah dari “perkawinan paksa” mereka melahirkan keturunan.

Plot Jaka Tarub tidak jauh berbeda dari Awang Sukma, legenda dari Hulu Sungai Selatan, sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan yang melibatkan telaga kemudian diabadikan menjadi nama desa, Telaga Bidadari, di Kecamatan Sungai Raya. Di Madura, tokoh prianya bernama Aryo Menak. Malim Deman adalah nama pria yang memperistri satu dari tujuh bidadari yang turun di Sumatra Barat.

Menulis, Bekerja untuk Keabadian


Kisah Tamelo, oleh Dami N. Toda, diduga berhubungan dengan kisah misi pengiriman 500-an personal pasukan/ahli senjata bersama 500 buah meriam dan sejumlah besar perlengkapan perang dari Sultan Turki atas permintaan Sultan Aceh Alauddin Riayah Syah al-Kahhar untuk menyerang Portugis pada tahun 1500-an. Toda menuliskan hal tersebut sebagai catatan kaki, membandingkannya dengan tulisan Zakaria Achmad: Sekitar Kerajaan Aceh dalam Tahun 1520–1967 (1972) dan I.A. Macgegor: A Portugese Sea Fight Near of Singapore (1957).

Menimbang bahwa Toda menulis tentang Tamelo dalam buku yang menggunakan kaidah-kaidah penelitian yang ketat, tidak mengherankan jika sebagai orang Manggarai, saya menganggap ini sebagai salah satu versi kisah cinta manusia dan bidadari, meskipun Jaka Tarub tetaplah menjadi yang terpopuler. Fakta bahwa legenda Jaka Tarub ditulis lebih awal adalah penyebab utama. Umumnya, dokumen tertulis tentang legenda serupa di daerah lain baru muncul pada tahun 1900-an. Sementara Babad Tanah Jawi ditulis pada tahun 1700-an.

Kesadaran inilah yang kemudian di awal tadi saya sebut sebagai “memikirkan Pramoedya Ananta Toer”, terutama pada satu kutipannya yang paling dikenal: Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Maksud saya, berapa banyak pun kisah yang akan kita dengar di kemudian hari tentang tujuh bidadari, kisah Jaka Tarub akan senantiasa ada di barisan pertama memori. Bahkan ketika menulis tentang Tamelo, Jaka Tarub tetap ada di kepala.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik yang Bercerita Jujur tentang Manggarai

Misalkan tidak menyertakan sumber tertulis, yakni buku Dami N. Toda, kisah Tamelo akan dengan mudah dianggap sebagai versi lain dari legenda Jaka Tarub. Padahal, tidak sesederhana itu. Perahu yang membatu di Nanga Rawa adalah salah satu bukti fisik yang merujuk pada legenda Tamelo. Selain itu, Jelmone selanjutnya dikenal sebagai muasal dari Randong Mataleso yang sekarang turunannya tersebar di Lambaleda, Riwu, Cibal, Poka, Carep, Lando, Tenda, Kumba, Ngaker, Desu, Sita, dan Kolang/Torok.

Dalam Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi, Dami N. Toda menyertakan lampiran-lampiran tertulis yang digunakan selama menyelesaikan tulisan penting ini, yang membuatnya menjadi salah satu sumber penting dan dapat dipercaya dalam menelusuri sejarah orang Manggarai. Meski Toda mengakui bahwa “… penulisan sejarah selalu bisa ditulis kembali kapan pun oleh subjek siapa yang merasa bertanggung jawab secara metodologis menggarapnya” (1999: 11), sampai saat ini buku setebal 442 halaman tersebut masih menjadi sumber terpercaya untuk melihat Manggarai di masa lalu dan akibatnya pada hari ini. Paling tidak, sampai ada penulis lain yang entah menyempurnakannya atau membantahnya dengan kaidah-kaidah penelitian yang sama atau lebih baik dari yang dilakukan pria yang lahir di Pongkor, Manggarai, 29 September 1942 dan meninggal dunia di Hamburg, Jerman, pada tanggal 10 November 2006 tersebut.

Salam

Armin Bell, Ruteng - Flores

Catatan: Legenda Tamelo dipentaskan pertama kali oleh Komunitas Saeh Go Lino, Ruteng pada acara Pertunjukan Rakyat (Virtual) yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI di Spring Hill Ruteng, Jumat, 8 Oktober 2021.

0 Komentar:

Posting Komentar