Setelah Membaca Buku Puisi Perdana Felix K. Nesi

Sebagian besar tulisan ini telah ada di akun facebook saya; sebuah caption foto yang panjang berjudul "Kita Pernah Saling Menghibur".

Buku puisi Felix K. Nesi Kita Pernah Saling Mencinta

Setelah Membaca Buku Puisi Perdana Felix K. Nesi

Felix K. Nesi baru saja menerbitkan buku puisi. Itu adalah buku puisinya yang pertama, berjudul Kita Pernah Saling Mencinta (GPU, 2021). Sebelumnya, Felix telah menerbitkan dua buku. Kumpulan cerpen Usaha Membunuh Sepi (Pelangi Sastra, 2016) dan novel Orang-Orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019). Orang-Orang Oetimu sendiri adalah naskah yang adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. 

Ulasan tentang Orang-Orang Oetimu dapat dibaca di sini!

Buku puisi Kita Pernah Saling Mencinta sendiri dijelaskan sebagai: ...buku puisi perdana Felix K. Nesi. Dalam buku ini terangkum jejak kepenyairan Felix selama rentang 2008-2019. Persoalan keluarga, kerontangnya alam, dan peliknya menjadi yang bukan diutamakan adalah tema-tema yang digaungkan dalam buku puisi ini (GPU, 2021)

Saya dapat buku ini, beredisi bertanda tangan penulis, lengkap dengan ucapan. "Selamat membaca, berhentilah bersedih. Semua akan baik-baik saja." Felix menulis demikian dan saya senang sebab harapan itu, bahwa semua akan baik-baik saja, adalah yang diperlukan semua orang. Bukankah memang harus begitu? Dalam setiap persoalan keluarga, kerontangnya alam, dan segala peliknya, yang ingin kita dengar adalah suara yang dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. 

Maka saya lalu membaca buku puisi itu, sambil berharap bahwa setelahnya saya akan mampu mengatakan pada diri sendiri atau siapa saja yang pernah dan sedang bergelut dengan kesedihan (setiap orang memiliki kesedihannya masing-masing) bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi ternyata tidak. Tidak segera. Mungkin setelah berjarak beberapa hari setelah membaca buku itu, saya akan mampu mengatakannya. Pada kesempatan pertama? Saya ragu.

Baca juga: Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020: Plagiarisme?

Sebagaimana yang kerap terjadi--harapan dan kenyataan kadang tak berjalan beriringan, saya kira saya harus berhenti sejenak selesai membaca beberapa puisi; berusaha merumuskan dalam bahasa yang paling mudah dimengerti tentang apa yang sedang saya rasakan? Mungkin kesedihan, tetapi semoga saja keyakinan bahwa semua akan benar-benar baik-baik saja, atau sesuatu yang sama sekali lain. 

Usai membaca "Di Rumah Seorang Asing yang Tak Henti Membicarakan Rambut dan Warna Kulit" saya ambil waktu berhenti lebih banyak. Felix menulis puisi ini di Malang, pada tahun 2015. Sebuah protes barangkali. Atau curahan hati. Atau yang menggabungkan keduanya. Atau sesuatu yang mungkin sedang disiapkan sebagai landasan harapan (atau doa?) agar perkara identitas: diskriminasi-curiga-ketidakadilan-pengabaian segera selesai; ....// Di perhentian berikut/ kita berpandang-pandangan/ Tak ada persimpangan/ tetapi kita/ tak ingin beriringan.//

Dan bahkan setelah memutuskan mulai lanjut membaca puisi-puisi yang lain, rumusan yang paling mudah dimengerti tentang apa sebenarnya yang sedang saya rasakan tentang yang baru saja selesai saya baca itu tetap saja tidak pasti; mungkin kesedihan, tetapi semoga saja keyakinan bahwa semua akan benar-benar baik-baik saja.

Baca juga: Hoiiiii....

Saya berhenti lagi. Lebih lama. Pada satu puisi yang lain. Dan sepertinya akan selalu berhenti. Cara membaca seperti ini barangkali akan terjadi sepanjang menikmati Kita Pernah Saling Pencinta ini. Ah, iya. Keterwakilan. Saya kira itu yang saya rasakan. Kira-kira begitu. Felix menulis tentang kita. Oleh sebab itulah buku yang di dalamnya ada puisi "Doa Kakak" ini menjadi wajib ada di rak-rak buku kita semua:

Doa Kakak

Potong tanganku, Aina

Bawa ke atas ke awan-awan

Tunjukkan jalan menuju surga.

Malang, 2014

Namun tentu saja, resepsi kita atas setiap bacaan sangatlah subjektif. Ada istilah frame of reference dan field of experience dalam Ilmu Komunikasi yang turut serta memberi pengaruh pada bagaimana kita menanggapi sesuatu. Termasuk di dalamnya adalah tanggapan siapa saja yang telah membaca Kita Pernah Saling Mencinta akan sangat berbeda dengan apa yang saya ceritakan tadi. Tetapi di luar semua itu, Felix K. Nesi selalu menulis dengan enak. Ini bahasa yang tepat kah? Pokoknya begitu.

Terima kasih, Felix. Semangat selalu. Semua akan baik-baik saja! Saya masih tunggu kiriman Tua Kolo. (*)

Salam dari Ruteng

Armin Bell

0 Komentar:

Posting Komentar