Sanggar Tari di Ruteng: Awit Te Sae

Ini cerita tentang Sanggar Tari di Ruteng. Sanggar Tari Nusantara Awit Te Sae namanya.


Sanggar Tari di Ruteng: Awit Te Sae

Ruteng adalah kota kecil di Flores, Nusa Tenggara Timur. Geliat keseniannya berkembang baik. Banyak pegiat seni muda yang berusaha dengan caranya masing-masing membangun "cinta seni" bagi anak-anak. Claudia Febriani Djenadut, salah seorang koreografer muda di Kota 1000 Gereja ini, misalnya. Setelah bersama Komunitas Saeh Go Lino Ruteng menciptakan beberapa karya tari yang dipentaskan, tahun ini Febry memutuskan membuka sanggar tari. Sanggar tari milik Febry ini bernama Awit Te Sae, panggilan atau ajakan atau undangan agar menari. Siapa saja yang diundang untuk menari? Yuk, simak cerita Febry berikut ini. 

Mari Menari Bersama Sanggar Tari Awit Te Sae, Ruteng!

Hallo, saya Claudia Febriani Djenadut dan saya sangat suka menari. Ketika kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja, saya berkesempatan belajar beberapa tari tradisional Nusantara. ada tari Saman, Blantek Betawi, Dayak, dan beberapa lainnya.

Saya bahkan bergabung dengan salah satu sanggar tari profesional (spesialisasi tari Dayak) bernama Sanggar Bukonk Betaja. Di sini kemampuan saya terasah. Mulai dari tarian, organisasi, dan cara mengelola sanggar dengan baik. Saya berkesempatan mengikuti beberapa festival tari bersama sanggar ini; jalan-jalan gratis plus dibayar karena suka menari.

Hal ini yang kemudian memotivasi saya untuk membuka Sanggar Tari Tradisional Nusantara di Ruteng. Selain agar bisa terus menari, saya juga ingin menularkan semangat cinta budaya khususnya tari tradisional Nusantara kepada masyarakat Manggarai. Hal ini juga bukan tanpa alasan. Saya melihat, banyak sekali minat dan potensi dari masyarakat Manggarai khususnya para pemudi dan pemuda di Ruteng, Flores dalam bidang ini.

Dalam beberapa kesempatan, saya bersama Armin Bell mengorganisir pentasan dari beberapa naskah. Ada Sail Komodo 2013, Opera Wajah Pertiwi, Drama Musikal Ombeng, dan beberapa naskah kecil untuk acara-acara kecil.

Baca juga: Ombeng Itu Berarti Menari Kah?

Saya lalu membuka Sanggar Tari Nusantara di Ruteng bernama Awit Te Sae. Pada permulaannya, sanggar ini berisi dua tarian. Pertama, Tari Pendet dari Bali, dalam Kelas Diklat. Kelas ini diperuntukkan bagi yang belum pernah belajar tari sama sekali. Kedua, Tari Jaipong dan Blantek Betawi. Yang kedua dinamakan Kelas Komunitas; diperuntukkan bagi yang pernah belajar tari dan ingin belajar lebih lanjut.

Namun tidak menutup kemungkinan bagi yang sudah pernah belajar tari untuk masuk dalam Kelas Diklat apabila ingin belajar tari Pendet. Satu kelas berisi maksimal lima orang penari. Fasilitas yang didapatkan ketika belajar di sini adalah kain, korset, dan berlatih di depan cermin studio tari, sehingga bentuk penari akan lebih maksimal.

Sanggar Tari Awit Te Sae, Ruteng menerima siswa mulai dari usia minimal enam tahun, tanpa batas usia maksimal. Mengapa enam tahun? Ada beberapa alasan.

Pertama, pada usia ini anak sudah bisa menentukan keinginannya, mau ikut sanggar tari atau tidak, dan bukan karena paksaan orang tuanya. Dengan demikian, anak mengikuti kelas tari ini dengan senang dan merdeka.

Kedua, dengan alasan pertama maka anak akan lebih sepenuh hati belajar di sanggar ini. Saya pribadi bercita-cita agar output dari sanggar ini akan benar-benar punya “bentuk” penari, dalam arti tidak hanya sekadar bergerak dan memakai kostum tari yang cantik. Penari harus melakukan semuanya dengan hati sehingga wiraga, wirasa, dan wiramanya bisa diterima lalu menghasilkan bentuk yang indah.

Ketiga, sejak usia enam tahun, anak juga sudah lebih mudah diarahkan. Situasi ini memungkinkan proses 'transfer ilmu' akan berjalan lancar (dan sesuai dengan alasan kedua). Dengan ini penari akan lebih disiplin dan bertanggung jawab. 

Disiplin misalnya, rentangan tangan dalam tarian harus dilakukan dengan benar sesuai sudutnya yakni 45’, 60’, 90’, lurus, diagonal. Bertanggung jawab misalnya, dalam menyelesaikan hitungan gerakan. Seringkali dalam gerakan stakato (gerakan patah-patah atau gerakan cepat), penari khawatir tidak dapat mengejar gerakan selanjutnya sehingga melakukan kecurangan dengan tidak menyelesaikan hitungan. Hitungan yang seharusnya 1 sampai 8 hanya ditarikan 1 sampai 6. Hal ini kemudian membuat tarian terlihat terburu-buru, tidak selesai, bahkan yang terburuk adalah makna gerakan tidak akan sampai ke penikmat tarian. Ini menjadi salah satu dari banyak gol yang ingin dicapai bersama di sanggar ini.

Tentang Nama Sanggar: Awit Te Sae

Mungkin ada yang bertanya mengenai pemilihan nama Awit Te Sae? Di Manggarai, awit berarti memanggil dengan gerakan tangan--dilakukan dengan lembut. Te artinya untuk. Dan, sae merupakan salah satu gerakan dasar tarian Manggarai. Jadi ketika digabung akan menjadi sebuah ajakan untuk menari. Mari menari!

Baca juga: Tentang Proses Penciptaan Karya Seni; Apakah Tukang Plagiat Bersalah?

Selanjutnya, dalam setiap unggahan di media, akan menggunakan tagar (tanda pagar) atau hashtag (hestek) #AwitTeSaeh. Seperti pada umumnya, hashtag (hestek/tagar) berfungsi untuk menandai sebuah label secara spesifik. 

So, mari bergabung bersama #AwitTeSae. Untuk informasi lebih lanjut mengenai biaya pendaftaran dan biaya berlatih dapat langsung menghubungi saya via facebook messanger di akun Febry ‘Djiboel’ Djenadut. 

Selamat datang di #AwitTeSae.

Artikel ini sebelumnya disiarkan di blog ineame.

6 komentar: