Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020; Plagiarisme?

Ada karya yang membahas buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan karya Puji Pistols di daftar pemenang. Karya yang sebagian besar pernah kami siarkan di bacapetra.co.

Materi Promo Sayembara Kritik Sastra Badan Bahasa 2020

Tentang Karya Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020

 

Ruteng, 19 Desember 2020

Bahan bacaan untuk tulisan ini ada di tautan ini: SEPULUH LOMPATAN PUITIK PUJI PISTOLS.

Pekan terakhir bulan September 2020, Grup WhatsApp Redaksi Bacapetra.co agak ramai, ramai yang sedikit lain, sebab rasanya kami seperti sedang bergosip, sesuatu yang tidak sering terjadi di grup yang jika tidak berisi laporan hasil kurasi maka akan berisi siraman rohani (eh?). 

Saat itu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengumumkan nama-nama dan karya pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020. Ada karya yang membahas buku Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan karya Puji Pistols di daftar pemenang, dan ada yang ingat bahwa bacapetra pernah menyiarkan ulasan yang juga membahas buku itu, dan penulisnya adalah orang yang sama. 

Saya lalu membaca pertanggungjawaban juri dan bertemu penjelasan yang membuat dugaan bahwa "kayaknya ini karya yang sama yang kita su muat e" semakin kuat. Tentu saja hal semacam itu bukan masalah andai tidak ada syarat 'naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme' dalam salah satu syarat sayembara itu. 

Baca juga: Buku Harian atau Diary; Sejarah Pengertian dan Manfaat

Namun, modal dugaan semata bukan alasan yang baik untuk menyalahkan siapa pun. Iya to? Maka kami, Tim Redaksi Bacapetra.co--media literasi yang bergerak dari Ruteng, NTT--memutuskan untuk tanya baek-baek ke panitia melalui alamat surel penyelenggara.

Surat yang dikirim tanggal 30 September 2020 itu sebagai berikut:

Salam, 

Sehubungan dengan diumumkannya Penetapan Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, di mana karya Sucipto atau naskah nomor. 9 berjudul: "Poetika Pelenyapan Diri ala Zhang Daqian dan Lompatan Puitik Puji Pistols", terpilih sebagai Terbaik III (Sumber: Pemetapan Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020) serta menimbang salah satu syarat bahwa: naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme (Bdk.: SAYEMBARA KRITIK SASTRA 2020), maka melalui surat ini kami memohon kesediaan Panitia/Juri untuk memastikan kembali orisinalitas tulisan dimaksud. 

Kami menduga bahwa tulisan tersebut sama/mirip/mengambil tulisan yang sebelumnya telah disiarkan di media kami (www.bacapetra.co) dengan judul: Sepuluh Lompatan Puitik Puji Pistols, yang ditulis oleh penulis dimaksud (dengan nama pena Dwi Cipta).

Surat ini kami kirim agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, termasuk kemungkinan bahwa Panitia/Juri akan dianggap mengingkari syarat lomba yang ditetapkannya sendiri.

Kami memohon maaf manakala dugaan kami ini ternyata tidak terbukti benar.

Begitu. Suratnya begitu, dikirim dari email redaksi dengan nama saya tertera di bagian akhir lengkap dengan jabatannya halaaaah....

Kami menunggu. Tak ada kabar dari penerima surat. Mungkin sedang membalas surat yang lain. Kami pikir begitu sehingga memutuskan untuk meneruskan surat yang sama ke DM IG Badan Bahasa. Juga tak dibalas. Sekretaris redaksi, yang rajin sekali membalas surat-surat yang masuk ke email kami itu, agak sedih. Barangkali merasa diabaikan. Duh... 

Tetapi sesungguhnya kami semua merasa (atau berharap?) bahwa surat kami sudah dibaca dan tidak dibalas sebab apa yang kami duga sama sekali tidak terbukti.

Baca juga: Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Hari ini, 19 Desember 2020, pagi-pagi sekali, grup redaksi berisi foto-foto. Yang saya sertakan di sini. Dan, ya. Tulisan yang jadi salah satu pemenang sayembara itu memang adalah tulisan yang pernah kami siarkan di bacapetra.co bulan Desember 2019. Setengah bagian pertama. Bagian selanjutnya yang "Poetika Melenyapkan Diri...." itu tidak ada di tulisan yang kami siarkan dulu. 

Tetapi setengah bagian pertama itu, Kak. Sudah kami siarkan dan tentu saja disiarkan setelah penulisnya ngobrol dengan redaktur ulasan; ada proses penyuntingan dan lain sebagainya to? Lalu apa kabar persyaratan naskah terpilih tidak pernah disiarkan dan tidak diduga mengandung unsur plagiarisme itu?

Saya menulis ini hanya sebagai curhat saja. Panitia, juri, penulis, dan siapa saja yang terlibat dalam sebuah sayembara, sebaiknya benar-benar hati-hati. Itu saja. Agar tidak lagi ada situasi yang seperti ini. Seperti apa? Ya, seperti ini.

Terkait juri dan pengabaian pada kriteria, bisa baca tautan ini: LOMBA BLOG EXOTIC NTT DAN JURI YANG MENGABAIKAN KRITERIA PANITIA


Salam

Armin Bell - Pemimpin Redaksi Bacapetra.co

*** 

Tambahan:

Oleh karena postingan ini sebelumnya saya unggah di status facebook saya, maka saya sertakan juga interaksi kami dengan penulis naskah tersebut yang saya ambil dari kolom komentar, sebagai berikut:

Penulis: Haloo Pak Armin Bell: saya dulu memang mengirim resensi buku ke baca petra. panjangnya sekitar 5 halaman spasi 1,5 kalau tidak salah. Esai saya yang masuk dalam lomba ini adalah pendalaman dari resensi buku itu. Memang ada bagian yang sama antara resensi buku itu dengan esai sastra yang saya kirim ke lomba. Kesalahan saya adalah tidak menyebutkan sumber tulisan. Namun sependek yang saya pahami, naskah kritik sastra yang saya kirim ke panitia lomba lebih luas cakupannya.

Namun diproses penulisan rujukan, itu memang baru diminta panitia setelah pengumuman. Saya punya keterbatasan waktu untuk melacak sumber-sumber tulisan.

Saya: Siap, Pak. Di bagian awal status saya, sudah disertakan juga tautan ke tulisan Bapak di bacapetra. Di bagian akhir status saya bilang bahwa setengah bagian tulisan yang menang sayembara adalah tulisan yang sudah kami siarkan. Saya kira, jumlah setengah (atau justru lebih?) ini cukup besar untuk sebuah tulisan yang disertakan pada lomba yang salah satu syaratnya adalah belum pernah disiarkan dan bukan plagiarism. Tetapi saya bisa saja keliru atau tidak terlampau memahami aturan dan bagaimana penyelenggara 'membaca' aturan yang mereka buat sendiri. Terima kasih (telah) mengirim tulisan ke bacapetra. Salam.

0 Komentar:

Posting Komentar