Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

 Mojok menyiarkan artikel berjudul Nama-nama Anak Orang Manggarai yang Selalu Melampaui Zamannya. Penulisnya, Salimulloh Tegar Sanubarianto, bukan orang Manggarai, sehingga tulisan yang (barangkali) dimaksudkan untuk jadi dark joke, malah jatuh-jatuhnya ke bullying. Saya orang Manggarai dan merasa tidak enak hati membacanya. Saya menulis artikel ini untuk menambah perspektif kita tentang bagaimana kami, orang-orang Manggarai, melakukannya: memberi nama pada seseorang.


Nama adalah Doa, Nama Kami Tidak Dipilih Secara Acak

Artikel yang disiarkan Mojok itu merupakan tulisan pertama Salimulloh di media itu. Tulisan pertama yang ditayangkan; saya tidak tahu telah berapa kali dia mencoba dan saya senang sekali bahwa media itu, yang menayangkan tulisan-tulisan nan santai, memberi ruang pada Salimulloh. 

Sebab Salimulloh tinggal di NTT (berdasarkan keterangan di profil Mojok) dan saya orang NTT, saya ikut senang juga. Tetapi lalu merasa sedikit sedih. Dia, penulis itu, tidak terlampau baik (IMHO) menyampaikan sesuatu yang (barangkali) dimaksudkan sebagai dark joke (saya berusaha menjelaskannya nanti di bagian akhir tulisan ini). 

Kalau saja Salimulloh Tegar Sanubarianto mau lebih banyak ngobrol dengan orang-orang Manggarai--yang punya nama belakang yang membuatnya tercengang, mengambil waktu lebih bertanya-tanya (sebab begitu sebaiknya laku seorang yang ingin menulis), dia pasti tidak akan berani menulis kalimat ini di artikelnya: Nama-nama anak di Manggarai betul-betul diracik secara acak oleh orang tua mereka.

Baca juga: Inspirasi Menulis dari Hal-hal Remeh di Sekitar Kita

Tidak ada yang acak, Kak. Sebab siapakah yang berani melakukan sesuatu yang acak pada sebuah ritual yang tata upacaranya terwariskan dari ratusan/ribuan tahun lampau? Jumlah dan paduan warna bulu ayam jantan yang dipersembahkan tidak boleh asal. Titik tempat penyembelihan tidak boleh serampangan. Doa-doa puitis (torok) yang didaraskan dalam go'et, dengan rima kata dan huruf, tidak boleh tersendat; tersendat berarti pertanda akan ada bala dan kau perlu seekor ayam hitam untuk menolaknya. Masih banyak lagi, hal-hal bukan random, pada upacara pemberian nama bagi orang Manggarai. 

Cear cumpe adalah nama ritual itu. Sesuatu, yang dalam terminologi Dave Pelzer adalah It (lihat buku pertama trilogi Dave Pelzer), setelah upacara itu resmi menjadi seseorang. Seseorang bernama Robot, Samsung, Supervisi, Peristiwa, Jutnadin, Hormat, dan lain-lain. Mereka menyandang nama itu. Juga harapan-harapan yang terkandung di dalamnya, harapan yang hanya diketahui oleh orang tua selaku pemilik anak yang mendapat panduan/persetujuan dari opa-oma si anak bersama tua adat yang mempersembahkan doa-doa. Si tua adat mendapat kemampuan itu melalui wahyu: mimpi, tanda alam, dan lain-lain. 

Tidak acak, Kak. Nama itu, yang juga dikenal dengan istilah ngasang manuk (nama ayam)--sebab untuk disematkan pada si it, seekor ayam jantan dipersembahkan kepada leluhur--bisa saja berarti: agar anak lelaki itu kelak sekuat robot, agar anak perempuan itu bisa sehebat Cut Nyak Dien, agar saya bisa menjadi anak yang baik; Nak, jadilah good --> Nagut.

Baca juga: Anda Kritik Karya Saya, Karya Anda Sudah Bagus?

Harusnya, kalau Salimulloh mau bersabar bertanya tentang semua itu sebelum menulis artikel itu, dia tidak akan tega menyebutnya sebagai: kecerdasan verbal para orang tua Manggarai inilah yang saya sebut melampaui zaman. Ah, iya. Saya bilang tega sebab meski sepintas terlihat sebagai pujian tetapi terbaca juga niat mengolok-olok; semoga saja tidak dimaksudkan demikian.

Maksud saya, bahwa kemudian dirasa melampaui zaman, ritual pemberian nama pada seseorang di Manggarai (dan di seluruh dunia fana ini, saya kira) adalah sesuatu yang kontekstual. Sehingga, meski nampak lucu, tidaklah untuk dijadikan lelucon. Lelucon tentang nama orang tidak pernah lucu, sama tidak lucunya dengan menjadikan kearifan lokal sebagai materi lawakan (kecuali jika dark joke itu dilakukan 'orang dalam').

Salimulloh harus tahu juga bahwa sebelum diberi nama, kami, bayi-bayi di Manggarai disebut ta'i (tahi) ketika lahir; dilakukan untuk mengelabui setan yang berniat mengambil nyawa anak-anak manusia. Setan tentu tidak berniat mengambil tahi, kan? 

Kearifan-kearifan demikian, sekali lagi, meski nampak lucu dan aneh, sesungguhnya adalah sesuatu yang sakral dengan tujuan mulia: pro-life; sebuah kehidupan mesti diselamatkan dan bullying bukanlah salah satu tindakan yang mendukung kehidupan.

Baca juga: Tentang Proses Penciptaan Karya Seni, Apakah Tukang Plagiat itu Bersalah?

Namun, bisa saja saya yang overthinking. Salimulloh barangkali hanya ingin meneruskan lelucon teman-teman Manggarainya. Sebuah niat yang mulia. Yang sayang sekali tidak diikuti oleh kesadaran lain: yang boleh menyapa Nigga kepada orang Afro-Amerika adalah orang Afro-Amerika sendiri; yang bikin Mop Papua adalah orang Papua; yang boleh merasa sedikit lucu dengan keterbatasan gerak fisik adalah orang-orang berkebutuhan khusus. Di luar itu? Jika kau bukan orang dalam, tertawalah di ruang privat. Atau tertawa bersama kami ketika kami menceritakannya sebagai lelucon.

Sebab begini. Lelah juga rasanya melihat orang-orang melakukan/mengatakan sesuatu untuk/tentang kami dengan perspektif mereka: orang-orang membangun taman mewah untuk Komodo yang liar--terlihat seperti menyelamatkan tetapi tentu saja mencerabut mereka dari akarnya; membuat sesorang bernama Jutnadin menyalahkan para leluhur yang merestui namanya sebagai kaum yang menempatkan pada obyek lelucon: cie cie cie... pahlawan nasional ni yeee.

Di Ruteng, bersama-sama teman-teman Saeh Go Lino, kami kerap main plesetan. Lucu. Tetapi jika plesetannya sudah menyebut nama orang, pelakunya dapat sanksi. Sebab nama adalah doa. Begitu.

Salam

Robertus Bellarminus Nagut

0 Komentar:

Posting Komentar