Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Dua hal lumayan penting tentang baku olok kita soal demonstrasi omnibus law itu ternyata bisa bikin sedih, mailav!

Foto: Kaka Ited

Baku Olok Soal Demonstrasi Omnibus Law, Di Situ Kadang Sa Merasa Sedih

Demonstrasi pecah. Di banyak kota. Yang terbesar adalah di kota-kota besar. Terbesar sebab diberitakan berulang-ulang. Diberitakan sebab memang ramai. Ramai baku jual narasi. Ada yang bilang bahwa aksi itu ditunggangi. Tentu saja sa tir terlalu yakin sebab ini pola yang umumnya dipakai untuk memecah konsetrasi. Ada yang menyesalkan ujung aksi yang anarkis (mereka pakai kata itu untuk menjelaskan bakar-bakar). Sa kira bukan ujung. Ujung aksi, bukankah seharusnya akan berupa keputusan?

Demonstrasi yang sedang ramai, dan menjadi alasan catatan ini dibuat, adalah tentang aksi menolak Omnibus Law. Ada beberapa nama yang disebut juga tentang ini. Cipta Kerja, Cilaka, dan apa? Pokoknya begitu. Ramai. Pro dan kontra. Dan lucu.

Oh, iya. Tulisan ini tidak akan membahas hal-hal teknis tentang seberapa tepat atau tidak tepat undang-undang itu, dan seberapa pantas atau tidak pantas demonstrasi dilaksanakan di tengah pandemi. Bagian terakhir ini agak bikin malas. Bagaimana tidak? Yang omong soal ini adalah mereka yang merasa tirapa-apa ini Pilkada digelar di masa ini padahal pontensi kerumunan massa juga ada. Iya to?

Lalu tulisan ini tentang apa? 

Pertama, Sudah Baca Draf Undang-Undang Itu?


Yup. Ini sa pu soal. Mendadak (atau sesungguhnya sudah disiapkan kelompok tertentu?) dinding-dinding media sosial ramai mengolok-olok para demonstran. Mereka dituding sebagai orang yang terburu-buru bikin aksi padahal Undang-Undang itu tebalnya 900-an halaman. Sa kok agak jengkel ya? Bukan. Bukan agak. Tetapi sangat. Terutama karena sa ju tau kalau yang bertanya seperti itu ju belum baca itu Undang-Undang secara keseluruhan. Draf finalnya memang tirada di publik to? Bukankah aneh bahwa sesuatu yang tidak diketahui publik tiba-tiba disahkan dan yang melakukannya begitu percaya diri bahwa itu untuk kepentingan publik?

Sa kira, salah satu hal yang membuat saya merasa aksi itu baik adalah karena para pelakunya (baca: yang turun ke jalan) ingin meluruskan satu hal penting: kalau itu tentang kami, mari kita bicarakan bersama. Pernah dengar soal public hearing?

Baca juga: Membaca Itu Penting bagi Penulis

Hal lain adalah, sa tir yakin bahwa mereka yang turun jalan itu tir tau apa-apa. Mereka tahu sesuatu. Bahwa draf finalnya tidak muncul ke publik, beberapa orang telah membaca draf awalnya dan menemukan ruang-ruang tak nyaman di sana, ruang-ruang yang harus dibicarakan.

Tetapi saya kira, tidak nyaman juga melihat percakapan tentang 'sudah baca draf undang-undang itu'? Ketidaknyamanan terutama adalah sebab narasi demikian umumnya ditujukan sebagai olok-olok yang datang dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa kepada orang yang lumayan tahu.

Saya lalu menulis status ini di facebook:

Kalau besok kau ngobrol soal Omnibus Law terus ada kaup teman yang tanya tentang 'pasal-pasal spesifik', kau tanya dia juga pertanyaan yang sama. Kalau dia jawab "kan saya yang tanya pertama to"?, itu artinya dia tanyakan itu untuk mengolok-olok dan dia kaget bahwa dia langsung diolok-olok juga. Kita begitu. Tanya sesuatu dengan harapan seseorang terjebak (supaya dengan demikian kita mudah mematahkan pendapatnya) tetapi kita sendiri tidak tahu kenapa kita bela itu barang. Eh, bukan kita. Tapi saya. Saya yang sedang baca sendiri ini status. Saya yang merasa bahwa saya harus sudah selesai baca itu sembilan ratusan halaman baru boleh bersuara. Hihihihi.... Eh... Maapken. Sa ketawa. 900-an halaman? Baca berita sepotong (yang datang dari sumber yang tersistematis) terus kau rasa bahwa yang bersikap berseberangan itu harus baca lengkap? Coba sa pegang kau pu dahi? Kau reaktif barangkali! Reaktif bau tahi. Atau bau kandang babi! Macam sa, yang baca sendiri(an) ini status dan merasa sedang mandi tahi di kakus. Ps: (1).Sesekali, coba lihat komposisi UU. Undang-undang 29 halaman: hal. 1-7 berisi hal-hal umum (menimbang, dll.), hal. 20-29 adalah penjelasan atas pasal-pasal. Yuk, buat persentase; (2).Kalau kau sendiri belum baca itu 900-an halaman lalu merasa pantas menghakimi mereka yang turun jalan sebab menduga mereka terlampau reaktif, sa kira kau harus mandi tahi. Sa tir tahu manfaatnya,tapi di zaman ini kita berhak memberi saran yang kita sendiri tir tahu kegunaannya. Salam.

Status itu penuh kemarahan. Beberapa teman membaca demikian. Barangkali memang demikian. Atau tidak. Atau apa saja.

Kedua, Mahasiswa Sebaiknya di Kampus Saja


Ini adalah yang bikin sa rasa tir tahan sedih. Duh! Lalu saya bikin status facebook lagi. Sebab 'permintaan-permintaan' seperti itu memang ramai di facebook. Semacam ingin menyeimbangkan saja. Sa pikir itu yang sa buat. Melalui status ini:

Kamu tir tau apa-apa. Tirusah ikut itu aksi. Pi kuliah saja. Kita bilang begitu. Sekilas bijak. Sa lihat begitu. Sampai kemudian sa sadar, itu kalimat dorang sedang menjelaskan bahwa di kita pu mata, para mahasiswa itu tir bisa pikir, tir bisa pake mereka pu kepala; kita meremehkan mereka: kita pu anak-anak dan adek-adek dorang. Paling buruk adalah, kita hanya setuju mereka pu kegiatan yang sesuai dengan yang kita pikirkan atau rancang. Kita larang mereka merdeka, kita larang mereka memikirkan sendiri hidup mereka dan belajar akan risikonya. Lalu sa tiba-tiba ingat puisi "Surat dari Ibu". Pergi ke dunia luas, anakku sayang, pergi ke alam bebas...

Besok, barangkali saya akan bikin status lagi. Mungkin yang lebih berdarah-darah atau justru yang bikin kita terbahak-bahak. Sebab pada titik tertentu, hal-hal menyedihkan kadang bisa bikin kita tertawa. Misalnya ada orang yang bodoh sekali dan begitu percaya diri, kita harusnya tertawa. Iya to?

Salam

Armin Bell, Ruteng - Flores

Baca juga: DURENG DI RUTENG DAN ORANG-ORANG YANG MENYERAH

0 Komentar:

Posting Komentar