Setelah Covid-19, Apakah Kita Sanggup Lebih Sering Diam?

Covid-19 ini memang menyerang semua sisi. Ekonomi, politik, sosial, budaya, psikologis, pantat, dan lain sebagainya. Juga membuat kita saling serang. Orang di kota kecil macam kami ini, yang hingga saat ini bukan daerah terpapar, merasa begitu terganggu dengan arus kepulangan yang besar.

setelah covid-19 apakah kita sanggup lebih sering diam
Di Rumah Saja

Setelah Covid-19, Apakah Kita Sanggup Lebih Sering Diam?


Saya baca The Pandemic is A Portal dan serentak merasa begitu kacau. Beberapa jam sebelum menemukan catatan Arundhati Roy ini, saya tertawa (bahkan hingga terpingkal-pingkal) mendapat kiriman meme tentang Covid-19 di India: ratusan orang terdata positif corona, jumlah yang meninggal dunia karena pandemi itu nol, dan yang pantatnya bengkak lebih dari lima ribu orang. Saya tertawa sebab itu terasa lucu sekali ketika itu; sebelumnya saya berkali-kali menyaksikan flash video tentang bagaimana para polisi di India memukuli pantat orang-orang yang berkerumun atau melintas di jalan dengan pentungan. 

Saya merasa senang karena akhirnya bisa tertawa setelah cukup lama dibekap kecemasan. Hingga saya menulis ini, NTT belum masuk dalam zona merah. Provinsi kami itu bukan daerah terpapar. Hanya ada dua yang masih "bersih". NTT dan Gorontalo. Semula saya senang. Lalu menjadi cemas; orang-orang ramai bertanya: apakah benar nol atau karena tidak berhasil diketahui? Alat-alat yang diperlukan untuk mendeteksi virus itu tidak tersedia di NTT. Untuk tahu hasil tes swab tenggorokan saja, sampai PDP 1 dari Kabupaten Manggarai meninggal dunia--dan itu sudah berhari-hari yang lalu (semoga dia beristirahat dalam kedamaian abadi), kami diminta menunggu dengan sabar. Maka 'hiburan' dari India sedikit menghibur.

Namun ternyata tidak lama perasaan terhibur itu bertahan. Atau memang barangkali begitu. Di masa pandemi seperti ini, tidak ada yang bertahan lama. Protokol kesehatan saja sudah mengalami revisi beberapa kali hanya dalam waktu dua mingguan. Masa 'liburan sekolah' telah diperpanjang. Keputusan-keputusan berubah cepat. Kesedihan dapat mudah 'diselewengkan' menjadi lelucon. Tertawa yang terpingkal-pingkal dengan segera menjadi perasaan yang kacau. 

Dengan sedikit 'memahami' betapa cepatnya situasi-situasi berubah, saya berjuang menikmati saja kekacauan perasaan saya. Astaga... Sudah lebih dari sebulan terakhir ternyata saya kerap mengalaminya (lihat tulisan ini untuk tahu kekacauan lainnya) dan saya harus tetap berjuang. Lalu kita tahu bahwa di setiap ujung usaha, ada berhasil, ada gagal. Saya dapat yang terakhir. Gagal menikmati kekacauan perasaan dan mendapati hal yang lebih buruk lagi: kekacauan itu berlipat ganda, bersenyawa dengan kecemasan, meningkatkan asam lambung. 


The Pandemic is A Portal adalah tulisan yang mengiris-iris sejak paragraf-paragraf awal. Mewakili begitu banyak 'kebenaran'. Arundhati Roy menulis: .... Who can think of kissing a stranger, jumping on to a bus or sending their child to school without feeling real fear? Who can think of ordinary pleasure and not assess its risk? Who among us is not a quack epidemiologist, virologist, statistician and prophet? Which scientist or doctor is not secretly praying for a miracle? Which priest is not — secretly, at least — submitting to science?.... (lihat selengkapnya di: https://www.ft.com/content/10d8f5e8-74eb-11ea-95fe-fcd274e920ca). 

Saya mengangguk-angguk setuju membaca bagian itu sembari menata lagi letak ketenangan bathin saya pada tempatnya. Saya jelas merasa begitu terwakilkan pada bagian ...sending their child to school without feeling real fear. Saya membayangkan, misalkan waktu 'sekolah di rumah' tidak direvisi dan Rana-Lino harus masuk sekolah tanggal 6 April kemarin, asam lambung saya barangkali naik melampaui kepala dan saya sekarat oleh ketakutan sendiri. 

Hanya saja, bukan bagian itu yang membuat tulisan Arundhati Roy ini sungguh menampar. Ada bagian lain. Tentang lockdown. Di India. Yang membuat orang-orang pinggiran tiba di bagian paling luar dari garis tepi.

Singkatnya begini kira-kira. Agar Covid-19 tidak menyebar, pemerintah 'sigap' membuat kebijakan. Ya (sebut saja) lockdown itu tadi. Bus-bus dan angkutan penumpang lainnya dilarang beroperasi. Perusahaan-perusahaan tutup. Orang-orang dilarang berkerumun. Mereka-mereka itu, yang sering berkerumun itu, adalah yang sudah tak lagi bekerja: tidak lagi dapat penghasilan. Mereka diusir. Dipukuli pantatnya (seperti yang kita lihat di video-video itu). Padahal, barangkali, mereka sedang mengumpulkan semacam kekuatan sosial (atau psikologis?)--saling menguatkan. Tetapi berkumpul di masa corona adalah kesalahan sebab melawan aturan negara. Negara yang juga tidak tahu bagaimana agar orang-orang pinggiran itu tetap hidup ketika mereka tiba di garis tepi. Di kampung-kampung kumuh yang juga padat. Asal jangan di tempat umum. Mungkin begitu pemerintah di sana berpikir.

Dan, laparlah mereka. Dijauhkan dari kerumunan, tinggal di permukiman yang padat, tanpa stok makanan yang cukup, tanpa pengetahuan yang memadai tentang 'kapan pandemi ini selesai?' mereka ingat rumah. 

Mereka pulang. Berjalan kaki. Dengan kesadaran bahwa mereka mungkin akan menjadi carrier virus itu ke keluarga mereka. Mereka harus pulang. Ke kampung. Ke Opa-Oma (kelompok paling rentan pada masa pandemi ini). Mereka harus dapat makan, kalau bukan cinta. Sebagian meninggal dunia dalam perjalanan. Sebagian ditolak kembali ke kota setelah dipukul pantatnya oleh petugas keamanan di perbatasan. D*mn! Arundhati Roy memilih kalimat-kalimat yang 'meningkatkan kekacauan' perasaan saya: They knew they were going home potentially to slow starvation. Perhaps they even knew they could be carrying the virus with them, and would infect their families, their parents and grandparents back home, but they desperately needed a shred of familiarity, shelter and dignity, as well as food, if not love.

Begitu kacau di India. Begitu kacau. Semakin kacau. Perasaan saya. Sebab di artikel itu juga diceritakan tentang Perdana Menteri yang membagikan video yoga sebagai panduan bagi masyarakat agar tidak tertekan pada masa pandemi ini: bersenamlah. Faaaak!

Covid-19 ini memang menyerang semua sisi. Ekonomi, politik, sosial, budaya, psikologis, pantat, dan lain sebagainya. Juga membuat kita saling serang. Orang di kota kecil macam kami ini, yang hingga saat ini bukan daerah terpapar, merasa begitu terganggu dengan arus kepulangan yang besar. Anak-anak kami di daerah terpapar, ramai-ramai pulang. Untuk macam-macam alasan. Ada yang tidak bisa bekerja lagi karena perusahaan-perusahaan tutup, ada yang takut bahwa jika mereka bertahan maka mereka akan terpapar, ada yang pulang sebab rumah adalah tempat paling aman di dunia, dan ada yang tersinggung sebab di beranda media sosial mereka sekian banyak orang memaki-maki para pemudik/pengungsi. Semua tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling menderita. Dan serentak sama-sama berdoa agar pandemi ini segera berlalu.


Itu baik. Mendoakan agar rantai corona ini terputus. Setelahnya? Ini adalah soal yang sesungguhnya lebih serius. Setelah semua 'kekacauan' ini, apakah kita akan dapat kembali seperti semula; berpesta, bergandeng tangan, berpelukan, membiarkan anak-anak bermain di sekolah dengan bahagia dan kita yang lain kembali bekerja?

Saya sedang memikirkannya sekarang. Pada hari Kamis Putih ini. Sembari mengenang hari lahir Ekaristi. Juga membayangkan Pilatus yang mencuci tangan. Ah... Cuci tangan. Kita sering melakukannya akhir-akhir ini. Agar bersih. Atau agar tampak bersih? 

Saya kira, kita semua bertanggung jawab. Bertanggung jawab memutus rantai penyebaran wabah ini. Memutus rantai penyebaran wabah ini dengan cara yang paling mudah: diam. Di rumah saja juga berarti di dalam diri sendiri saja, bukan? Diam tentu bukan sikap kita yang biasa. Tetapi ini bukan virus yang biasa. Seperti Arundhati Roy bilang, pandemi ini seperti portal. Mari tangkap saja maksudnya sebagai: gerbang menuju relung diri yang paling dalam--memikirkan bahwa dengan diam saya membantu menyelematkan orang lain. Agar kita tak selalu (terlampau berjuang) memikirkan 'ini salah siapa' pada setiap soal yang kita pikir tidak beres. Siapa tahu, di dalam diam itu, kita sadar bahwa kita terlibat di dalam penciptaannya. Penciptaan soal itu.

Aishhh.... Tulisan ditutup dengan kacau ya? Saya bisa apa?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Lihat artikel tentang Public Speaking:

0 Komentar:

Posting Komentar