Jaga Orang Pu Jodoh Bukanlah Sebuah Kisah Sedih, Kakak!

Ya! Jaga orang pu jodoh itu bukan kisah sedih. Karena kalau itu kisah sedih maka setiap hari kita harus menangis; jumlah orang yang berada di pusaran jaga orang pu jodoh itu banyak sekali.
jaga orang pu jodoh bukanlah sebuah kisah sedih kakak
Foto oleh Kaka Ited (2016)

Jaga Orang Pu Jodoh Bukanlah Sebuah Kisah Sedih, Kakak!


Beberapa waktu lalu Near merilis single terbarunya via akun Youtube; Fenomenear. Judulnya “Jaga Orang Pu Jodoh”.

Kalau sebelumnya bersama Dian Sorowea, youtuber asal Flores ini menguasai mesin pencari sepanjang tahun 2018 melalui “Karna Su Sayang” dan membuatnya mendapat anugerah Top Trending Search 2018 dari Google, tahun ini barangkali tidak akan sampai sebesar itu karena isu-isu yang jauh lebih gugelable itu banyak sekali; Ustad Somad, Deddy Corbuzier, referendum, demonstrasi, dan masih banyak lagi. Soal Flores sendiri, yang akan panjang dikenang barangkali tentang seorang perempuan bernama Mawar yang keliru soal letak Danau Kelimutu dan dia keluar sebagai pemenang. Duh!

Meski demikian, lagu baru Near tetap punya potensi populer di setiap hati yang remuk redam, yang merasa betapa sia-sianya membuang waktu dan biaya dan rasa dan pelukan dan pesan singkat ‘jan lupa makan sayang em’, karena dia akhirnya pergi bersama yang lain. Mamamia e.

Di lagu itu, Near, berkolaborasi dengan Lhc Makassar dan Hlf, bercerita tentang sesal (cie ciee) karena usahanya membina hubungan kandas begitu saja; waktu muda sama-sama/  tapi tua su beda/ waktu muda berdua/ tapi tua ko deng dia.

Rasanya, lagu ini ditulis (atau barangkali disempurnakan) setelah kasus kisah cinta kandas berujung tuntutan di pengadilan antara Alfridus dan Fransiska di Maumere beberapa waktu lalu.

Bagi yang belum tahu, kisah itu terjadi di Maumere. Alfridus menggugat mantan pacarnya yang bernama Fransiska ke pengadilan. Dia bilang bahwa ia berpacaran dengan Fransiska di Surabaya sejak Januari 2015. Kemudian, pada Februari 2015, Fransiska pulang dan tinggal di Maumere. Menurut Alfridus ini, pada Maret 2015, Fransiska meneleponnya dan meminta dikirimi uang untuk membangun rumah yang akan jadi tempat tinggal mereka setelah menikah. Selain itu, Fransiska juga meminta Alfridus mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari–hari. Ditotal-total, angkanya mencapai Rp. 40.825.000,-. Si Alfridus ini berhasil menghitung angka itu setelah ditinggalkan; si Fransika memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Begitu ceritanya.

Dan home base Near juga di Maumere. Artinya, lirik dalam lagu Jaga Orang Pu Jodoh itu yang berbunyi: rasanya ditusuk tusuk/ sa rugi besar anggaran berlipat ganda/ baru dia dapat frei frei/ tanpa adanya usaha, bisa jadi memang berasal dari sana. Karena juga ada larik “gas ke pengadilan e”.

Hanya saja, soalnya adalah, kisah serupa Alfridus vs Fransiska itu jamak terjadi di muka bumi yang fana ini. Sebagian besar (untuk tidak menyebutnya: semua) anak manusia pernah mengalami situasi yang sama. Bukankah begitu, Don Antonio? Pacaran tidak harus berakhir dengan jawaban YES atas pertanyaan "will you marry me", Kakak!

Hanya saja, banyak yang merasa menjadi korban karena telah membuang sekian tahun menjalin hubungan percintaan yang ternyata berakhir kandas. Lalu datanglah hitung-hitungan: jumlah uang yang telah dikeluarkan untuk traktir bakso, jumlah malam yang sengaja ‘diinsomniakan’ agar lebih lama memikirkanmu, jumlah salam damai pada hari Minggu di Gereja saat pergi misa berdua, cubitan manja-ratap tangis dan kertak gigi, dan segala macam hal lain.

Baca juga: Fenomena Rakat; dari Sinisme, Humor Gelap, Hingga Modal Investasi Sosial

Selanjutnya, setelah seluruh hitung-menghitung itu selesai, kita lalu merasa paling dirugikan. Patah hati. Oh! Hmmm… Pada bagian awal, biasanya terasa wajar mendengar curahan hati seperti itu. Tetapi pada bagian selanjutnya, kita lantas sadar bahwa jika kita telah merasa sia-sia menghabiskan sekian waktu bersamanya, bukankah bisa jadi keputusannya meninggalkan kita dapat dibaca sebagai usaha menghentikan kesia-siaan itu berlangsung lebih lama lagi? Enaaak...

Begini. Kadang kita merasa, ditinggalkan oleh seseorang adalah peristiwa yang tiba-tiba. Padahal, bisa jadi, sesungguhnya telah ada gejala sebelumnya. Hanya saja, kita, oleh karena perasaan cinta dan gambar tentang masa depan penuh bahagia sebagai akibat percakapan pada malam-malam romantis, telanjur menutup mata atau mengabaikan gejala-gejala itu. Kalau dalam bahasa para motivator itu, kondisi demikian bisa jadi disebabkan oleh ketimpangan (kesadaran atas) relasi; kau merasa baik-baik saja dan dia tidak. Tuandeo e!

Artinya? Jaga orang pu jodoh itu bukan pekerjaan sia-sia dan tak perlu ‘dirayakan’ dengan tangisan sepanjang tahun atau menari-nari sendiri di pinggir jalan atau menuntut mantanmu ke pengadilan.  Karena sesungguhnya, jika benar kau ‘jaga orang pu jodoh’ itu dengan baik, maka pada saat yang sama orang lain pasti sedang ‘jaga kau pu jodoh’ dengan sama baiknya. Hukum alam biasanya berlaku begitu. Encooook.

Baca juga: Kisah Sedih Lain dari Peristiwa 22 Mei 2019

Tidak ada yang sia-sia, Sayang. Sebagian besar (untuk tidak menyebutnya: semua) anak manusia pernah jaga orang pu jodoh. Pada saat itu, bukankah kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik; belajar mengelola perbedaan, bertukar pendapat, mengenal karakter manusia lain? Pengalaman-pengalaman seperti itu akan jadi modal yang penting ketika kau ketemu kau pu jodoh yang sekarang sedang orang lain jaga juga.

Karena itu, Don Antonio, bersedihlah seperlunya saja. Tak perlu berlarut-larut. Jika mampu, berlakulah seperti Didi Kempot. Yang mampu mengelola setiap patah hati menjadi lagu dan pundi-pundi uang. Jika tak tak mampu, mengumpatlah serileks mungkin. Panduan mengumpat itu bisa diambil dari mana saja.

Di lagu Jaga Orang Pu Jodoh, Near sudah beri contoh. Perhatikan baris-baris ini: sa jaga bae bae dong kasi tagae/ sa jaga sampe  bodok ko orang pu jodoh/ jang sampe tuhan salah tunjuk/ sampe sa salah jaga tulang rusuk/ ko pi cari yang model tiada bentuk. BOOOM!

Lihat bagian akhir itu? Ko pi cari yang model tiada bentuk! Yang agak kesulitan memahami baris ini oleh karena ditulis menggunakan dialek Melayu Timur, saya bantu jelaskan. Ko pi cari yang model tiada bentuk itu artinya muka jodohmu yang sekarang itu remuk redam sekali. Lebih remuk dari hatiku yang sekarang dan berarti aku menaaaang.
Remuk redam hati ini akan segera selesai seiring berjalannya waktu, tetapi remuk redam muka jodohmu itu akan menemanimu sepanjang sisa hidupmu. 
Cara mengumpat yang rileks sekali, bukan? Selamat mengumpat. Eh?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Sa setuju 3000 dengan ini artikel. Macam bemana sekali itu istilah "jaga orang pu jodoh". Lebe ta! Tolong jang bikin diri inti, 90% orang di dunia ini rata-rata ada mantan semua. Makanya jan terlalu banyak baca artikel pemburu klik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahahahahah... artikel ini sesungguhnya juga dalam nada memburu klik. Eh? Hahahahah

      Delete