Be Happy, You!

Be happy, You! Saya senang mengatakannya sekarang. Saya senang kalau lihat orang-orang hidup dengan senang. Be happy, You. Yes, you, my friend!
be happy you
Image: Courtesy of Saeh Go Lino, taken by Lisa Djeranu

Be Happy, You!


Saya tahu Kunto Aji dari lagunya yang "Terlalu Lama Sendiri". Saya suka lagu itu karena liriknya bagus dan Kunto Aji adalah penyanyi yang hebat. Juga karena lagu itu, salah satu bagiannya asyik juga dipakai buat olok-olok; sudah terlalu lama sendiri... Yang jadi sasaran adalah teman-teman sekomunitas yang masih jomlo. Yang jadi target utama adalah mereka yang jomlonya telah panjang sekali.

Awalnya itu terasa menyenangkan karena lucu. Namanya juga olok-olok di antara orang-orang yang sudah besar. Biasanya memang bukan untuk saling menyakiti tapi biar ada bahan untuk tertawa bersama-sama. Makanya saya heran kalau ada orang besar yang saling olok lalu berubah ke perkelahian. Harusnya ya buat ditertawakan saja. Seberapa sulit tertawa pada orang-orang yang mengolok-olok kita dengan berpikir bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang kita? Bukankah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tetapi ngotot itu memang pantasnya jadi tertawaan saja?

Idealnya begitu. Tetapi dunia ini barangkali ini sudah lama tidak ideal, atau kita sudah tidak ideal lagi untuk dunia yang bergerak maju dengan pesat seperti ini. Soal ini harus dibicarakan lagi dengan serius; mencocokkan ideal gerak maju dunia dengan sikap/pikiran/perkataan kita.

Tetapi olok-olok tidak lagi menyenangkan ketika telah meninggalkan luka yang besar. Menganga, tak terobati, semakin lebar karena bumbu olok-olok ditambah kepedasannya; yang semula lucu menjadi tidak lagi lucu, yang semula diniatkan sebagai pendatang tawa malah menyisakan perih. Yang tak terkatakan. Yang mendekam di ingatan. Yang menjadi beban. Dan yang mengolok-olok tak jua kunjung berhenti.

Kembali ke soal Kunto Aji tadi. Setelah "Terlalu Lama Sendiri" itu tidak viral lagi sebab dalam sekian waktu saja sebuah lagu akan mudah digusur oleh lagu lainnya--entah apa yang merasuki para penggemar musik kita--saya tidak banyak lagi mendengar cerita tentang penyanyi yang pernah adu nasib di Indonesian Idol ini. Saya merasa itu hal yang biasa-biasa saja, yakni seorang mantan 'artis Indonesian Idol' lantas lenyap dari percakapan pencinta musik. Joy, Delon, Iksan, siapa lagi?

Namun ternyata tidak persis demikian. Bahwa mereka hilang dari percakapan, mungkin hanya perasaan saya saja. Perasaan yang lain tentu beda. Buktinya? Kunto Aji tetap ada setelah "Terlalu Lama Sendiri". Saya mengetahuinya beberapa hari yang lalu.

Kunto Aji dan Pilu Membiru


Untuk kepentingan yang barangkali tidak terlampau penting, suatu malam saya menghabiskan banyak waktu dengan Mantra Mantra, album yang rasanya begitu personal dari Kunto Aji. Ah, iya. Awalnya saya terjebak di twitter. Ada akun @tidakadasalju yang posting video bagus sekali. Personal tapi baik. Dan lagu yang dia pakai di video itu adalah "Pilu Membiru", salah satu lagu di album Mantra Mantra. Saya sedang mengumpulkan bahan cerita, sesungguhnya. Tentang kehilangan, tentang perasaan ditinggalkan, tentang diam yang bahaya, dan lain-lain; depresi rasanya berawal dari unfinished situation: hal-hal yang (sesungguhnya) belum selesai tetapi kita diamkan saja.

Setelah twitter, malam itu juga saya ke Youtube, ke akun resmi Kunto Aji. Lalu membaca komentar para netizen (bukan jalan ninja saya tetapi kerap saya lakukan untuk 'tambahan suasana'). Di sana saya melihat ratusan komentar tentang Pilu Membiru yang orang-orang pakai untuk menyembuhkan luka. Beberapa orang mengaku menangis deras sekali selama mendengar lagu itu (sebab mengingat orang-orang tercinta mereka yang telah pergi) lalu merasa lega setelahnya karena tangis yang deras ternyata itu baik untuk release/healing.

Dari komentar para netizen itu saya akhirnya tahu bahwa Kunto Aji pernah diundang ke Narasi TV dan membuat Najwa Shihab menangis. Ya, Narasi TV adalah kanal youtube yang di dalamnya ada Najwa Shihab. Di kanal itu, pada suatu ketika di bulan Desember 2018 silam, Najwa ngobrol dengan Kunto Aji. Tentang album "Mantra Mantra".

Lagu-lagu di album itu, seperti juga album dia sebelumnya, Suara dan Gema, adalah kisah-kisah dari ruang privat. Dan, karena kisahnya sebagian besar adalah tentang bagaimana menyelesaikan 'soal-soal pribadi' (di album itu, juga di wawancara Najwa dan Aji), saya lalu ingat betapa banyak orang yang memutuskan mendiamkan soal-soal mereka-- menyimpan semua perkara dalam hati seperti Maria--padahal mereka tak sekuat Ibu Yesus itu.

Kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang menyimpan semua perkara dalam hati padahal mereka tak sekuat Bunda? Depresi! Kau tahu apa yang harus kau lakukan ketika kau tak sekuat Bunda? Berbagi!

Baca juga: Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Saya pernah kehilangan seorang adik yang "memutuskan pergi" karena tak banyak bercerita padahal dia mengalami situasi yang sulit dalam beberapa masa hidupnya. Saya bersedih. Hingga sekarang, setiap kali mengingatnya, saya menyesal karena tidak berhasil memaksanya bercerita. Saya juga membaca begitu banyak berita tentang orang-orang yang berusaha menyelesaikan soalnya dengan 'kekuatan sendiri' lalu gagal dan akhirnya melakukan sesuatu yang buruk.

Mendengar "Mantra Mantra", juga mendengar cerita-cerita tentang hal-hal yang mirip, saya pikir, bercerita adalah hal terbaik untuk menyembuhkan; yang harus kau pikirkan terutama adalah dirimu sendiri.

Saya bertemu banyak orang yang sedang berjuang membahagiakan orang-orang di sekitar mereka dan oleh karena usaha itu begitu keras mereka lakukan mereka lantas depresi; saya sedih. Be happy, You! Setelahnya baru kau pikirkan nasib orang-orang di sekitarmu. Kau harus bahagia dulu. Bukan. Kau harus kuat dulu. Ah. Tidak persis begitu. Orang-orang bahagia adalah orang-orang yang kuat. Orang-orang yang kuat adalah mereka yang percaya bahwa telinga orang-orang di sekitarnya adalah tempat mereka bercerita.

Bisa paham jalan cerita ini?

Lalu, masihkah kita boleh tertawa ketika seorang teman datang dan menceritakan kesedihannya? Tidak adil sekali. Mereka datang, bercerita, menangis. Tugasmu adalah menyiapkan telinga. Itu saja. Bisa? Jangan hakimi siapa pun kalau kau tidak pernah jadi telinga.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment