Foto Hutan - Cerpen di Jurnal Sastra Santarang

Cerpen Foto Hutan ini disiarkan pertama kali di Jurnal Sastra Santarang. Diolah dari naskah monolog berjudul sama yang saya tulis beberapa tahun lalu dan belum dipentaskan.
ilustrasi

Foto Hutan - Cerpen di Jurnal Sastra Santarang


Oleh: Armin Bell

Kau tak sempat pulang membawa hasil buruan. Sebuah lubang menganga di kepalamu. Beberapa saksi mata pertama menduga itu adalah lubang hasil tembakan jarak dekat. Ketika mereka sibuk berdebat tentang apakah itu hasil pekerjaan revolver ataukah senapan angin, kau sedang mengenang kalimat yang kaudengar sebelum senjata itu menyalak: "Sama petugas kok macam-macam!"

Bagaimana mereka menemukanmu tak bernyawa dengan lubang peluru di kepala adalah cerita yang lain. Tapi di suatu pesta, ketika beberapa gelas sopi telah beredar di antara kerumunan lelaki yang duduk melingkar di sudut ruangan, seseorang bercerita tentang cerita yang didengarnya dari temannya yang mendengar cerita itu dari teman yang lain, tentang seorang temannya yang berteman dengan salah seorang kerabat saksi.

Perjalanan cerita itu begitu panjangnya sehingga kisah itu kini berwajah seumpama pertarungan sengit di film-film laga lengkap dengan adegan tinju yang dilayangkan berulang di rahang lawan sebelum tokoh yang sempoyongan itu mengangkat senjata yang disembunyikannya di sepatu dan dorrr…. kepalamu bocor. Kau bisa apa? Meski sangat ingin, kau takkan pernah sempat menceritakan peristiwa itu dengan lengkap. Lagipula, nikmat juga kaurasa telah jadi pahlawan di cerita itu.

"Dia wartawan investigasi dari ibukota yang sedang melacak tempat persembunyian harta karun seorang petinggi partai. Dia dapat kabar bahwa harta itu dikubur di hutan itu. Berbekal informasi itu dia ke sana. Sayang sekali, yang tidak dia ketahui adalah bahwa tempat itu dijaga berlapis. Di lingkar paling luar beberapa preman bersenjata api. Dia gagal menembus barisan pertama itu. Kalau toh kala itu mampu, di lapis kedua dia harus berhadapan dengan binatang buas. Seperti mutan dengan kaki sebanyak milik laba-laba yang di setiap ujungnya berkuku harimau. Otaknya bekerja lebih baik dari gurita. Mustahil misi itu berhasil."

Kau sependapat dengan pencerita yang kini sekali lagi menenggak sopi. Seandainya kau tidak mati dengan lubang di kepala, mungkin perutmu yang terbuka lebar dan isinya terburai keluar. Mengerikan sekali nasib pahlawan, pikirmu. Kau urung beranjak dari ruang pesta itu karena di tengah dentum lagu-lagu pesta, kerumunan malah semakin berminat mendengar kisah itu dan pencerita di tengahnya menjadi lebih berapi-api menuturkannya seolah dia adalah salah seorang saksi mata. Kau ingin tahu juga apa yang akan terjadi seandainya berhasil mengalahkan binatang hasil perkawinan silang laba-laba, harimau, dan gurita itu; di mana mereka kawin dan seperti apa rupa wajahnya?

"Di lapis ketiga, siapa saja yang berhasil melewati rintangan kedua akan berhadapan dengan ujian terakhir. Seorang bidadari berbaring setengah telanjang menjaga harta karun itu. Rambutnya yang panjang digerai menutup buah dadanya dan dari pusat ke bawah ditutup aneka buah. Anggur menumpuk di selangkangan. Bidadari itu akan mengajak sang jagoan bercinta sebanyak empat ratus sembilan puluh kali dan jika sanggup menyelesaikan tantangan itu boleh menggali harta karun yang disembunyikan petinggi partai itu. Tetapi biasanya pada percintaan kelima, si lelaki kelelahan dan karena tak dapat bercinta lagi dia dicekik hingga lidahnya keluar. Bidadari itu lalu memuaskan dirinya dengan lidah yang telah menjulur kaku. Sampai tujuh kali tujuh puluh kali jumlahnya. Setelah itu bidadari itu tidur menunggu jagoan lainnya."

“ANJING!” Suaramu, entah bagaimana, didengar orang-orang di kerumunan itu. Mereka telah mabuk semuanya sehingga begitu mudah tersundut emosinya. Mendengar makianmu itu mereka lantas saling tuduh. Semua merasa sebagai yang dimaki. Mereka berkelahi karena merasa dikatai anjing. Saling tunjuk, nada suara semakin tinggi, saling pukul, beberapa kursi melayang, musik berhenti, pesta bubar.

Baca juga: Hadiah-Hadiah Tiba (Tak) Tepat Waktu

Kau menyesal melihat pengantin putri menjerit-jerit histeris di pelaminan menyaksikan suami yang dikasihinya jatuh pingsan. Perkelahian itu dengan cepat berpindah tempat ke tengah arena dansa. Seseorang menyentak dasi pengantin pria itu dari belakang ketika dia berusaha melerai perkelahian tanpa sebab yang jelas itu. Kau mengutuk malam pesta itu, memarahi kematianmu sendiri yang tak sempat kauceritakan. Kau terutama meradang karena urutan cerita tentang penjagaan harta karun yang sama sekali tidak kau inginkan. Kau bertanya-tanya kenapa mereka tidak menempatkan bidadari di lingkar paling luar agar kau ditemukan mati tanpa celana dan lidah menjulur? Dalam cerita yang dikarang-karang sekalipun, kau ingin juga dianggap pernah menikmati percintaan yang berulang dengan seorang bidadari; tujuh kali masih bisalah!

Kau pergi ketika keributan mereda dan beberapa orang berpelukan untuk dua hal sekaligus: berdamai dan menopang tubuh yang limbung karena sopi. Yang membuatmu kini gusar adalah bayangan bahwa perkelahian serupa itu akan terus terjadi di setiap pesta pernikahan. Kau ngeri memikirkan bahwa kemungkinan lelaki berdasi yang pingsan di lantai dansa itu adalah suami putrimu. Bahkan setelah menjadi arwah, setiap Ayah menginginkan pesta terbaik pada pernikahan putrinya.

***

Pagi baru saja datang ketika aku tiba di hutan itu. Kepada istri dan anakku telah kusampaikan niatku. Mereka setuju karena telah lama kuyakinkan bahwa suatu hari nanti pohon-pohon tua di sana akan hilang dan berganti dengan rumah-rumah istirahat milik orang-orang kaya.

“Bapa, nanti foto pohon-pohonnya yang banyak, ya,” kata anak perempuanku yang baru berumur enam tahun tetapi telah membayangkan bahwa foto-foto hasil bidikanku nanti akan dicetak dan dibingkai dengan cantik. Akan dia tunjukkan pada anak-anaknya. Istriku tersenyum aneh ketika kukatakan kepada perempuan kecil itu bahwa kelak dia tidak menikah karena menjadi seorang biarawati.

Baca juga: Rosario - Cerpen di Pos Kupang

Di hutan itu burung-burung bernyanyi menyambut pagi, terbang tinggi ke langit, bermain-main ceria lalu hinggap di dahan yang dekat denganku yang serentak membidik mereka dengan jepretan bersambung. Aku sedang memeriksa hasil bidikan itu ketika dari arah belakang seseorang bicara dengan nada keras menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Aku melompat maju selangkah lalu berbalik. Dia ada di sana, separuh wajahnya tertutup topi, yang terlihat hanya ujung hidungnya dan kumis tebal yang menutup bibir atasnya yang segera bergerak mengulang pertanyaannya yang tadi hanya berhasil membuatku mencelat.

“Apa yang kau lakukan?” Suaranya lebih menggelegar kini. “Wartawan, ya?” tambahnya.

“Ehm… eh… anu… foto, Pak. Bapak siapa?”

Nada bicaranya meninggi ketika menjelaskan bahwa sesungguhnya akulah yang harus menjawab dan bukan malah bertanya.

Burung-burung terbang menjauh dengan cicit yang menyebarkan berita kekhawatiran seolah percakapan kami tentang identitas membuat mereka dilanda cemas.

“Gabriel, Pak. Seperti malaikat pembawa kabar,” kataku sekadar membuat suasana kasar itu segera berlalu. Tetapi dia tidak tersenyum. Hanya mengangkat sedikit topinya hendak melihatku lebih jelas. Kulihat ada codet di antara alisnya, entah telah berapa lama ada di sana. Dia mengulang bagian pertanyaan yang belum kujawab.

“Bukan, Pak. Bukan wartawan. Saya bapak rumah tangga.”

Entah apa yang lucu dari kalimat itu tetapi sesaat kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal. Di sela-sela tawanya yang parau kudengar dia bilang bahwa tak ada pekerjaan bernama bapak rumah tangga karena yang ada adalah ibu rumah tangga. Sempat berpikir bahwa suara semenggelegar itu hanya berasal dari mahkluk dunia lain, dunia para raksasa, aku segera sadar bahwa lelaki di hadapanku adalah sesamaku manusia—dari dunia para lelaki. Lalu sunyi.

“Bapak suka sastra? Ada penulis yang namanya Gabriel García Márquez, Pak. Kata orang tuaku, namaku datang dari situ. Oh iya, dia pernah menulis tentang kesunyian yang panjang. Seratus tahun lamanya. Bapak siapa?” tanyaku di akhir penjelasan panjang yang aku sendiri tak pahami.

Lelaki itu menjawab dengan bentakan keras. Dia bilang bahwa usahaku menghilangkan sunyi di antara kami adalah sebenar-benarnya kesia-siaan. Dia tidak akan menjelaskan tentang siapa dirinya karena pada saat itu dia adalah penanya. Hanya bertanya. Aku bertugas menjawab.

“Harus mulai dari mana, Pak? Seluruh penjelasanku akan terdengar seperti omong kosong. Bapak sudah terpingkal-pingkal ketika kuceritakan tentang pekerjaanku. Kalau itu saja tidak mudah dimengerti, bagaimana aku harus menjelaskan dengan kalimat yang sederhana bahwa tujuanku ke tempat ini adalah mengambil gambar pohon-pohon di hutan ini agar kelak anak dari anakku tidak hanya mengenal mereka dari cerita?”

“KAU MENGANGGAPKU BODOH?” Dia menunduk seperti hendak membetulkan tali sepatunya. Kugunakan kesempatan itu meraih botol air yang kuletakkan di kantong belakang celanaku. Agak sesak sehingga butuh beberapa saat sebelum botol itu lolos.

“MAU MELAWAN? ANJING! KALIAN SEMUA SAMA. DATANG KE SINI. CARI BERITA. LALU PERAS PAK BOS!” Di akhir suara kerasnya itu dia menodongkan pistol. Aku masih berusaha keras meloloskan botol air sialan itu. “MAU MELAWAN, HAH? SAMA PETUGAS KOK MACAM-MACAM!” Dorrrr!

***

Dengan sangat lembut perempuan muda itu mengetuk pintu kamar ibunya. Mereka bertengkar hebat siang tadi. Tentang cita-cita. "Aku mau jadi fotografer, Bu." Kalimat itu membuat ibunya marah. Marah yang panjang dalam nada-nada paling tinggi. Ibunya berteriak-teriak menyampaikan pendapatnya tentang betapa sia-sia cita-cita itu. “Supaya kau mati di hutan?” Pertanyaan ibunya menutup dialog mereka siang tadi dan dia tak ingin tidur sebelum berdamai.

***

Selesai menemaninya menyelesaikan PR, sambil menunggu Ibunya pulang dari bank tempat dia bekerja—hari itu akhir bulan dan Ibunya selalu pulang lebih lama—aku  bercerita tentang dinosaurus. Di hadapan kami halaman buku cerita anak-anak terbuka.

“Benar seperti ini bentuknya, Bapa?” tanyanya dengan jari menunjuk gambar dinosaurus. Kukatakan bahwa para ahli berhasil meminta para seniman untuk mereka-ulang bentuk dinosaurus berdasarkan temuan-temuan mereka.

“Berarti mungkin tidak persis seperti ini,” katanya kecewa.

Baca juga: Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Ketika Ibunya pulang dia bertanya lagi tentang dinosaurus. Perempuan yang sedang lelah itu hanya menjawab sekenanya dan mengakhirinya dengan sabda harian: percaya bapa saja. Usai percakapan tentang dinosaurus, ibunya bercerita tentang seorang kaya yang datang menarik uang dalam jumlah yang banyak di kantor unit mereka.

“Dia mau beli hutan,” katanya.

“Kalau begitu saya nanti hunting ke sana,” kataku.

Mereka, anak perempuanku dan ibunya, setuju setelah kuyakinkan bahwa suatu hari nanti pohon-pohon akan hilang dan berganti dengan rumah-rumah istirahat milik orang-orang kaya.

“Bapa, nanti foto pohon-pohonnya yang banyak, ya. Kalau suatu saat pohon-pohon itu hilang, foto-foto itu bisa jadi bukti. Biar tidak seperti dinosaurus,” kata perempuan kecil itu. Ibunya tertawa.

***

Malam itu mereka bercakap-cakap lebih lama dari biasanya. Di kamar ibunya. Lengkap dengan adegan peluk dan cium; seorang perempuan muda mendengar ibunya.

“Kau bisa jadi apa saja. Jadi wartawan juga bagus. Mungkin kau bisa mencari tahu siapa yang melakukan itu pada bapa,” kata Ibunya.

***

Kau datang padaku. Bercerita tentang pesta pernikahan yang kacau dan perasaanmu yang juga kacau membayangkan menantumu jatuh pingsan di tengah lantai dansa. Kau ceritakan juga percakapan ibu-anak yang baru saja kau saksikan. Kau berjanji akan datang lagi dan lagi.

Sepekan setelahnya beberapa media lokal menurunkan berita tentang pelaku penembakan di tengah hutan yang menyerahkan diri.

Selesai

0 Komentar:

Post a Comment