Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Cerpen Suatu Hari di Rumah Idrus ini disiarkan pertama kali di Radar Selatan pada tanggal 8 Juli 2019. 
suatu hari di rumah idrus cerpen di radar selatan
Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan

Suatu Hari di Rumah Idrus - Cerpen di Radar Selatan


Oleh: Armin Bell

Sekali waktu Ratna memintaku mengupas mangga. Yang kusajikan padanya adalah daging mangga dengan bercak-bercak merah. Darahku ada di daging kuning yang lezat itu karena pisau ikut mengupas sedikit kulit dari jempol kiriku. Di waktu yang lain dia memintaku membetulkan gantungan pakaian di kamar mandi. Berhasil, tapi jempolku bengkak terkena palu.

Sejak saat itu Ratna mengambil alih semua pekerjaan rumah yang memerlukan kecermatan tangan dan memintaku belajar melakukan sesuatu yang membuat tanganku berguna—apa saja asal tidak menjadikannya terluka atau memar. Aku memutuskan belajar mengetik dan sejak saat itu menjadi penulis cerita. Aku pernah bilang ingin belajar angkat senjata dan terjun ke medan perang, Ratna tak setuju. “Mengupas mangga saja kau tak bisa,” katanya.

Pernah kuduga istriku yang cantik itu menyesali keputusannya melarangku ke medan perang. Dugaan saja, oleh karena tak sekalipun dia membaca karanganku meski menikmati hasilnya. Honor-honor dari surat kabar yang memuat cerita-cerita itu. Kupikir Ratna pernah berpikir, barangkali, lebih baik suaminya ikut angkat senjata saja. Jika gugur akan disebut istri pahlawan, jika selamat dia akan menikmati uang pensiun veteranku. Dia tak tahu saja veteran perang tidak sebahagia itu. Tentu semua hanya dugaanku yang sekali waktu kuceritakan padanya, dia nampak bersedih. Katanya aku harus sesekali berhenti menulis. Bagaimana bisa?

Baca juga: Mencari Penulis Surat - Cerpen di Lombok Post

Pagi tadi seorang perempuan hamil mengetuk pintu rumah kami. Kubuka, dan perempuan itu tersenyum ramah, mengucapkan salam, bertanya apakah aku melihat suaminya. Namun seolah tak mendengar pertanyaanku tentang nama suami yang dia cari itu, dalam sekejap senyum menghilang dari wajahnya. Dia lalu bercerita tentang suaminya yang pergi dari rumah karena mengira dirinya berselingkuh.

“Apakah Anda melakukannya?” Kepalanya segera menunduk. Pamit lalu pergi dengan kepala yang tetap menunduk. Kulihat bahunya berguncang. Mungkin dia sedang menangis.

Meski tidak sempat memperkenalkan dirinya, kuduga dia Wartini. Perempuan dari cerita yang kutulis beberapa tahun silam. Kusampaikan itu pada Ratna, tapi rencana kepindahan kami yang memusingkannya dan baginya sikapku banyak tak masuk akal—Ratna menuduhku tak lagi mampu membedakan fiksi dan hidup sesungguhnya—membuatnya tak segera memberi pendapat. Dia hanya memberi segelas air dan beberapa butir pil yang harus kuminum. Kuturuti saja sembari mengingat peristiwa pagi tadi.

“Rasanya itu tadi Wartini.” Kukatakan lagi beberapa menit kemudian. Ratna masih mengabaikanku. Dia sedang merapikan buku-buku lama yang beberapa waktu terakhir kubaca-baca lagi, susunannya menjadi amburadul di rak buku. Ratna tak pernah nyaman dengan kekacauan urutan abjad pada deretan buku-buku, sesuatu yang kurasa aneh karena dia tak gemar membaca. “Bagaimana kau bisa dengan tepat memilih buku yang ingin kaubaca kalau tak dideret seturut abjad?” Tanyanya.

Baca juga: Analisis Cerpen "Lelaki dari Malaysia"

“Ya. Wartini. Perempuan dari Ave Maria.” Pertanyaannya yang telah berulang kali kudengar tak kujawab karena tahu dia tak perlu jawaban. Toh jika kujawab jujur, seperti ketika dulu kusampaikan bahwa buku-buku itu memanggilku, dia hanya tersenyum kecil dan mengulang hal lain, yang juga berulang-ulang dia sampaikan, bahwa aku harus lebih sering istirahat.

“Dan Ave Maria adalah?” Dia kini berbaik hati menimpaliku. Bahwa dia tak tahu apa-apa tentang cerita Ave Maria, aku tak heran. Juga cerita-cerita lainnya. Maka sekali lagi tak kujawab pertanyaannya—Ratna kembali sibuk dengan buku-buku lama itu—dan memutuskan sendiri bahwa perempuan yang tadi datang adalah benar-benar Wartini.

Andai benar demikian maka yang dicarinya pasti Zulbahri, lelaki patah hati yang bergabung ke Jibaku. Benar bahwa dia bersedih karena istrinya mencintai lelaki lain, Syamsu, tetapi bukan karena itu Zulbahri menjadi anggota pasukan bunuh diri itu.

***
Syamsu adalah adik kandung Zulbahri. Suatu ketika, dari Shonanto, Syamsu mengirim surat. Mengabarkan dia akan segera pulang karena tak lagi betah kuliah di kota itu. Berencana menyelesaikan pendidikan di Jakarta, Syamsu meminta izin untuk tinggal di rumah mereka. Zulbahri cemas tetapi tak disampaikannya perasaan itu pada Wartini. Istrinya itu tak sedikitpun merasa keberatan menampung Syamsu, dan Zulbahri mendapat janji bahwa tak akan terjadi apa-apa lagi di antara Wartini dan Syamsu meski mereka adalah sepasang kekasih di masa lalu.

Syamsu benar-benar pulang dan apa yang dicemaskannya terjadi. Ada cinta lama yang bersemi kembali di rumah mereka ketika suatu malam Wartini dengan piano dan Syamsu dengan biola, memainkan lagu Ave Maria karangan Gounod, dan Wartini menangis, bertanya padanya apakah tak mungkin seorang perempuan mencintai dua lelaki sekaligus?

Zulbahri memikirkan pertanyaan itu sekian lama, berjalan tak tentu arah sekian lama, selama itu dianggap sudah gila oleh orang-orang di sekitarnya, kembali ke rumah dan mendapati Wartini telah hamil entah telah berapa lama. Tiba-tiba Zulbahri merasa bebas, menjadi lebih ringan hatinya, memutuskan meninggalkan rumah selama-lamanya. Dia terjun ke medan perang, menjadi anggota pasukan bunuh diri, yang disebutnya sebagai: pembayaran utangku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri.

***
Memikirkan perempuan yang pagi tadi datang mencari suaminya—kuyakin dia Wartini—lalu pergi dengan bahu yang berguncang pagi tadi itu, kupikir dia memang mencintai dua lelaki seperti yang dituduhkan suaminya yang menghilang itu.

“Apakah seorang perempuan dapat mencintai dua lelaki sekaligus dengan sama besarnya?” Kutanyakan itu pada Ratna. “Bisa lebih banyak sekaligus,” jawabnya, “seperti aku. Mencintaimu, mencintai Nirwan, mencintai Slamet, mencintai Rizal, mencintai Taufik dan tidak berani memutuskan mana yang kucintai paling besar.”

“Bukan itu. Bukan seperti kau padaku dan anak-anak kita. Tetapi seperti Wartini pada dua lelaki itu. Zulbahri dan Syamsu. Kakak beradik. Yang kakak sudah dinikahinya dan yang adik adalah mantan kekasihnya.”

Baca juga: Mengandung (di Luar) Sastra

Ratna menatapku seperti penuh iba. “Kau harus segera berhenti memikirkan orang-orang dalam cerita-ceritamu. Biarkan mereka di sana saja,” keluhnya. Dia telah berulang kali mengingatkanku agar melepas nasib tokoh-tokoh dalam ceritaku segera setelah menulis ‘tamat’ di bagian akhir lembar terakhir. Sebuah permintaan yang kupikir tak perlu karena memang telah kulakukan demikian.

Namun telah beberapa bulan terakhir ini mereka sesekali datang—sejak saat itu, Ratna rutin memberi obat-obat yang didapatnya entah dari mana; katanya, “Kau tak lagi mampu membedakan fiksi dan hidup yang sesungguhnya.”

“Kau yakin yang pagi tadi itu Wartini?” Tanyanya lagi sebelum bercerita tentang tetangga baru kami. Pasangan suami istri. Baru seminggu terakhir pindah ke lingkungan ini. Suaminya bercerita bahwa istrinya sedang hamil dan mengalami gangguan kecemasan.

“Maksudmu perempuan pagi tadi itu bukan Wartini?”

“Maksudku perempuan pagi tadi itu bukan Wartini atau siapa saja dari ceritamu, Idrus,” jawabnya lalu melanjutkan pekerjaan membereskan rak buku. Kukatakan padanya agar berhenti melakukannya karena kami akan segera pindah, katanya: “Kau harus menyelesaikan beberapa hal lagi sebelum kita ke meninggalkan negeri ini.” Dari radio umum kedengaran lagu Menuetto in G ciptaan Beethoven.

(Selesai)

3 comments:

  1. Sa jadi mau ulas ini cerpen ka Mkn. Tema-tema begini kurang di sastra Indonesia. Sa tahu itu Aku minum obat apa 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoooo... sa lagi kumpulkan materi-materi dengan tema ini e.

      Delete
  2. Ulasannya sudah ada di sini: https://www.bacapetra.co/melihat-penyebab-gangguan-jiwa-tokoh-utama-cerpen-suatu-hari-di-rumah-idrus/

    ReplyDelete