Belajar dari Danhil Aznar, Kerja Tidak Harus Sesuai Ijazah

Buat yang sekarang sedang kuliah dan berpikir bahwa di dunia kerja nanti ijazah mereka akan terpakai penuh, ini ada cerita menarik. 
belajar dari danhil aznar kerja tidak harus sesuai ijazah
Jurusan apa?

Belajar dari Danhil Aznar, Kerja Tidak Harus Sesuai Ijazah


Saya kira begitu. Setelah melihat, memperhatikan, menimbang, dan seterusnya, akhirnya saya memutuskan untuk menulis catatan ini sebagai (sebut saja) tambahan bekal bagi teman-teman yang sekarang di bangku kuliah.

Di masa-masa kuliah, mimpi tentang pekerjaan di masa depan biasanya tidak jauh dari jurusan di kampus. Kuliah di FKIP? Jadi guru. Di FT? Jadi konsultan atau arsitek. Di jurusan IT? Jadi programmer. Pokoknya harus dekat-dekat dengan apa yang sedang dipelajari sekarang ini.

Tetapi ternyata tidak selalu demikian, Rossalinda! Lihatlah Danhil Aznar. Kuliah di jurusan ekonomi, sekarang jadi juru bicara partai. Masih banyak contoh lain, tetapi tulisan ini memang mau ambil contoh kasus itu saja. Biar lebih aktual hihihi.

Baca juga: Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat...

Sebelum sampai ke bagian tentang Om Danhil itu, kita mulai dari suatu masa di kala itu saja em.

Begini. Dulu, di zaman saya kuliah—saya ingin memakai frasa pada zaman dahulu kala tetapi gengsi juga—di  hampir semua kampus yang ada Fakultas Ekonomi-nya, anak-anak FE kerap dihubung-hubungkan dengan tajir dan cakep/cantik.

Parkiran ekonomi selalu mudah dikenali (karena tajir tadi) dan mahasiswa-mahasiswi cakep/cantik dari fakultas lain harus berjuang mati-matian menjelaskan bahwa biar kata bukan mahasiswa ekonomi, mereka tetap berhak cakep/cantik. Halaaaah…

Mungkin tidak terjadi di masa-masa sekarang ini, tetapi dalam semangat Jas Merah alias jangan sekali-kali melupakan sejarah, biarkan saya ceritakan saja pengalaman yang dulu itu.

Saya kuliah di Malang. Di Universitas Merdeka. Dan kita akan segera merayakan ulang tahun kemerdekaan negeri ini. Apa sih? Lanjut ya?

Sebagai akibat dari betapa lekatnya keunggulan finansial dan penampilan di atas rata-rata dari para mahasiswa ekonomi itu, mau tidak mau yang dari fakultas lain berjuang menonjolkan keunggulan yang lain. Maka dikenallah kemudian para mahasiswa dengan predikat per fakultas.

Mahasiswa Teknik itu asyik karena penampilan yang selengekan, mahasiswa Hukum umumnya sangat tertib, mahasiswa FISIP biasanya jago omong dan jadi tempat asal para aktivis, mahasiswa lain sedang di kamar-kamar kos—sibuk membicarakan bagaimana nasib anak-anak mereka nanti ketika jadi mahasiswa sambil berdoa semoga tidak mengulang perbuatan orang tuanya—eh?

Khusus untuk anak-anak FISIP (atau saya saja?), usaha agar dapat tampil maksimal tanpa mengandalkan tampang dan harta—begitu kami menuduh mahasiswa ekonomi, sebuah tuduhan yang datang dari ketakberdayaan semata—maka kemampuan terbaiknya yakni ‘jago omong’ atau sering ikut demo haruslah diasah sungguh-sungguh.

Maka terjadilah demikian. Dalam banyak forum atau kegiatan-kegiatan di mana seluruh fakultas bergabung, yang jadi seksi acara pasti dari FISIP, seksi dana dari FE, seksi perkap dari FT, dan lain-lain. Yang seperti itu dibawa terus ke hari-hari hidup berikutnya. Yang sudah S.Sos biasanya jadi ketua panitia. Yang SE di seksi penggalangan dana. Yang SH berurusan dengan kontrak kerja. Yang ST belum datang. Masih pada kuliah. Ooops... Monmaap!

Saya tidak tahu, situasi seperti itu dimulai dari zaman yang mana dan benar-benar berharap bahwa segala dikotomi (cie cieee istilah ini…) jurusan ini harus segera selesai.

Baca juga: Selesaikan Sekolahmu, Tidak Semua Orang Seberuntung Bill Gates

Maksud saya, di zaman seperti sekarang ini, di mana semua mahasiswa bisa sama-sama tahu tentang apa saja karena memakai sumber mesin pencari yang sama, dan semua mahasiswa bisa sama belaka tajir dan cakep/cantiknya karena media sosial hanya diisi foto-foto terbaik, penunjukan tanggung jawab berdasarkan jurusan sudah tidak boleh dipakai lagi. Yang harus dipakai adalah sejarah medsos.

Karena itulah saya akhirnya mampu menyambut dengan biasa-biasa saja ketika Dahnil Aznar ditunjuk sebagai juru bicara Ketua Umum Partai Gerindra. Ya, Dahnil yang S1 sampai S3-nya tidak jauh-jauh dari ilmu ekonomi itu, menjadi juru bicara sebuah partai politik—hal yang menjadi salah satu cita-cita para mahasiswa FISIP jurusan komunikasi (atau saya saja?).

Toh, ketika kuliah, Danhil juga adalah seorang aktivis mahasiswa. Bahwa mantan aktivis mahasiswa itu menjadi sangat dekat dengan tokoh yang oleh sebagian aktivis di masa dulu sangat ditakuti disegani, kita bisa apa selain bilang “people change”? Apalagi, Danhil di socmed-babe.

Dan, hei! Dahnil adalah antitesis dari seluruh pemetaan predikat berdasarkan fakultas tadi. Meski kuliah di Fakultas Ekonomi dan banyak orang berpikir bahwa anak-anak ekonomi itu tajir-tajir, Dahnil sebenarnya pernah mengalami masa-masa sulit secara finansial.

Meski demikian, ia tidak menyerah. Dahnil bersama teman-temannya membuka kursus Bahasa Inggris bernama Garis English Center Club (GECC). Selain itu, Dahnil juga menjadi tukang parkir demi mencukupi segala kebutuhannya. Kurang antitesis apa, coba?

Dan hanya pribadi-pribadi seperti itulah yang mampu keluar dari seluruh prediksi dan teori. Orang-orang yang hidupnya tidak biasa-biasa saja. Tidak bermain di standar umum macam ‘kalau belajar ekonomi pasti lebih paham soal ekonomi’ atau ‘mantan aktivis mahasiswa pasti tidak sudi dekat dengan orang-orang dekat Pak Harto suka kemapanan’.

Baca juga: Ketika Tuhan Campur Tangan pada Kisah Pius Lustrilanang

Lihat sepak terjang Danhil, bukan? Di televisi, dia pernah jadi narasumber di bidang ekonomi, politik, hankam, budaya, dan masih banyak lagi. Bagaimana bisa? Ya bisa saja. Dia belajar. Dari berbagai sumber. Tentu saja saya tidak berniat menuduhnya belajar dari google. Sama sekali tidak. Meski kita sama-sama tahu, google memang membuat kita (seperti) menguasai segala hal, tetapi untuk sampai di posisi seperti Danhil, perlu usaha yang jauh lebih keras.

Oleh alasan-alasan itulah, bahwa Danhil telah berhasil membuktikan dirinya sebagai antitesis konsep-konsep kuno nan aneh di zaman kami kuliah itu—saya merasa penunjukannya sebagai juru bicara oleh Pak Prabowo adalah keputusan yang tepat sekaligus pelajaran bahwa pekerjaan bisa sangat jauh larinya dari jurusan kuliah.

Baca juga: Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan Tentang Para Perantau Digital

Akan selalu ada titik balik mengejutkan dari langkah pribadi-pribadi seperti mereka (dan kita semua suatu saat). Karena itulah kita dilarang terlampau cepat terkejut.

Misalkan di pihak lain Pak Jokowi akan menunjuk Fadly Zon sebagai menteri di kabinetnya, juga jangan terkejut. Hentikan juga segala keterkejutan soal Surya Paloh yang bertemu Anies Baswedan. Mereka, dengan segala kemampuan yang dimiliki, dan sekian banyak tahun yang dipakai untuk belajar, hanya ingin menunjukkan kepada kita bahwa tak ada yang tahu bagaimana nasib bangsa ini seorang anak manusia lima tahun dari sekarang dan bahwa tak ada yang abadi selain kepentingan!

Btw, ini catatan soal apa sih? (*)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment