Ibu, Maafkan Kami Warganet di Seluruh Negeri

Selamat Lebaran kepada yang merayakannya. Izinkan saya memakai 'momen maaf-memaafkan' ini untuk meminta maaf kepada Ibu Ani. Semoga beliau berisitrahat dalam kedamaian karena kerahiman Tuhan.
Selamat Jalan, Ibu Ani Yudhoyono

Ibu, Maafkan Kami Warganet di Seluruh Negeri


Instagram belum sepopuler sekarang ketika akun @aniyudhoyono milik Ibu Ani Yudhoyono telah di-follow oleh lebih dari 90 ribu orang pada tahun 2013 silam. Mengetahui fakta itu, barangkali ada yang lantas berdoa agar bisa mendapat followers sebanyak itu biar bisa ngendors, tetapi mereka bukan Lambe Turah (lalu merasa sedih).

Di media sosial berbagi foto itu, Ibu Ani menampilkan hasil jepretannya. Semua lantas tahu, betapa beliau mencintai fotografi. Tetapi semua juga tahu bahwa warganet sangat senang jika berhasil menjadi kejam memancing diskusi yang panas. Apalagi jika yang disasar adalah  figur publik. Di tahun itu, Ibu Ani lebih dari sekadar figur publik, beliau seorang Ibu Negara. Setia di samping presiden kita kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Akibatnya, Ibu Ani dan seluruh penampilan publiknya, sesekali digoda (baca: dihantam) kritik-nan-pedas-penuh-semangat, meski kadang tak masuk akal karena didasarkan pada kesenangan panjat sosial (pansos) semata.

Sekali waktu, di bulan Agustus tahun 2013, Ibu Ani mengunggah foto cucunya. Di foto itu, Alimara Tunggadewi, yang akrab dipanggil Aira berpose di teras Istana Merdeka dengan latar belakang Monumen Nasional dan ondel-ondel, saat pelaksanaan Kirab Budaya HUT Ke-68 RI. Ada warganet, yang bermodalkan perasaan pribadinya semata, mempertanyakan keaslian foto itu. Seperti fotografer ulung (barangkali beberapa di antara mereka yang meragukan keaslian foto itu adalah benar-benar fotografer meski kurang ulung), mereka menuduh Ibu Ani menempel foto Aira di atas foto yang lain.

Sekilas, foto itu memang tampak begitu. Tetapi Arbain Rambey, seorang fotografer kenamaan tanah air ini berpendapat, foto Ibu Ani adalah hasil jepretan asli dan bukan gambar "tempelan". Yang sebenarnya terjadi, lanjut Arbain, adalah disharmoni pencahayaan foreground dan background karena Aira mendapat pencahayaan dari lampu flash kamera secara langsung (direct flash), sementara latar belakang disinari oleh cahaya matahari berwarna kekuningan. Baca beritanya di sini!

Saya jelas lebih percaya Bang Arbain ini ketimbang warganet yang berapi-api berpendapat tetapi lemah bangunan argumennya. Bukan karena penjelasannya sememadai yang diharapkan, tetapi karena juga rasanya begitu sedih bahwa, ihkwal unggahan medsos saja, seorang Ibu Negara mesti membuat klarifikasi sepanjang tujuh poin.

Betapa melelahkannya pekerjaan itu karena pada saat yang sama tetap harus mendampingi suami tercinta, mendukung karir anak-anaknya, dan menyayangi cucunya. Dan betapa lelahnya kita berhadapan dengan warganet yang barangkali lebih akrab dengan foreplay daripada foreground, backing soda daripada background, dan Lucinta Luna daripada Arbain Rambey.

Namun, kita juga tahu, betapa tak kenal lelahnya warganet—yang selalu merasa paling benar hanya karena mereka memiliki paket data yang banyak sehingga bisa googling sesukanya lalu mengutip artikel yang sesuai harapan mereka agar bisa menyerang orang lain—berusaha mengganggu kenyamanan Ibu Ani bermedia sosial.

Bertahun-tahun setelah lepas tugas sebagai Ibu Negara, ketika tugas berikutnya adalah mendampingi suami tercinta yang menjadi ketua umum partai, Ibu Ani tetap harus berurusan dengan gangguan warganet.

Bulan Juni tahun 2018, ketika putra pertamanya memutuskan melepas baju tentara dan terjun ke kancah politik, Ibu Ani harus mengisi hari-harinya juga dengan membela anaknya itu di Twitter.
Kala itu, warganet cum para-manusia-maha-tahu-karena-google menyayangkan keputusan AHY maju ke pentas Pilkada DKI. Mereka berharap AHY tetap jadi tentara.

Ibu Ani, yang sempat menjawab dengan keras: "Lho koq sampeyan yg ngatur?" Kemudian memutuskan melunak dan bilang: "Ya terima kasih sarannya, tapi keputusan sudah diambil. Mari kita hormati keputusan AHY."

Dasar sebagian besar warganet modal pulsa doang, baca artikel hanya sampai di judul saja tak pernah merasa puas jika tak merisak, ketika Ibu Ani sakitpun, mereka masih mengganggunya. Lebih kejam, bahkan.

Di Twitter (lagi), pemilik akun  @IskndrSnjaya menulis: "Ibu Ani sakit apa sih.. kok berbulan-bulan di RS Singapura? Modus kayaknya.. kasian mantan ibu negara dijadikan alat modus deh, andai benar.. maaf." Astaganaga! Sungguh tidak berperasaan.

Dari tiga peristiwa itu saja, kita dapat mengerti, tak pernah mudah menjadi Ibu Ani. Menjadi istri presiden, menjadi mama dari seorang tentara yang memutuskan menjadi politisi, dan belajar fotografi di era jari warganet lebih tajam dari pisau Joseph Ignace Guillotin, adalah seberat-beratnya posisi bagi seorang perempuan yang lembut hatinya.

Kini, Ibu Ani telah pergi. Untuk selama-lamanya. Kembali ke pangkuan sang ilahi. Yang pasti memeluknya dengan kasih yang penuh dan rengkuh yang lembut. Ibu Ani pasti bahagia. Karena hidup abadi, bukankah hanya berisi suka cita selamanya?

Yang tak bahagia, tentu saja, adalah warganet yang tak sempat meminta maaf atas segala perbuatan yang tak menyenangkan yang pernah dilakukannya pada seorang ibu yang pernah merawat negara ini. Seperti saya, yang pernah merasa jengkel karena berpendapat bahwa Ibu Ani terlampau menyibukkan dirinya dengan menjawab keusilan warganet padahal seharusnya Ibu Ani tidak perlu melakukannya jika saja dalam mengelola media sosialnya beliau dibantu para pakar seperti yang beberapa tokoh politik lakukan saat ini dan mereka jadi keren sekali di medsos padahal aslinya tidak begitu.

Sudah semestinya kita (atau saya saja?) meminta maaf. Pada Ibu Ani. Dan seluruh keluarganya.
Untuk apa? Untuk kesadaran yang terlambat bahwa: (1) setiap risakan kita pada tokoh publik, entah ditujukan sebagai pengingat atau sebagai sarana pansos, telah mengganggu kerja-kerja mereka yang lebih besar; (2) sesekali, tokoh publik dapat saja keliru tetapi mengolok-oloknya tidak akan membantu apa-apa selain melahirkan debat kusir; (3) dengan berhasil mengolok-olok orang lain, kita tidak akan pernah menjadi lebih baik; (4) seorang perempuan telah ikut berperan dalam menjalankan roda bangsa ini tetapi kita memilih mengabaikannya.

Setelah meminta maaf (dalam doa yang tak berhenti), saya kira wajar bahwa kita mengharapkan yang terbaik untuk seluruh keluarga yang ditinggalkan. Juga berharap bahwa segala amal ibadah Ibu Ani di bumi ini dapat memuluskan jalannya ke surga; segala dosanya tidak diperhitungkan. Juga wajar, bahkan sudah seharusnya, kita mulai melatih jemari kita menjadi lebih ‘layak surga’. Menebar kebencian, menjadi terkenal karena (merasa) berhasil mempermalukan orang lain, apakah ada gunanya?

Ibu, maafkan kami para warganet ini. Yang followers-nya adalah teman-teman sendiri semata tetapi berharap populer dengan menyerang orang terkenal biar bisa diskrinsut. Selamat jalan, Ibu. Beristirahatlah dalam kedamaian karena kerahiman Tuhan. Amin.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment