Daripada Petisi, Lebih Baik Bikin Grup WhatsApp, Mashita!

Di nusantara yang indah ini, jangankan petisi, orang-orang berpayung hitam yang selalu bertanya tentang nasib anak-anak mereka setiap hari Kamis di depan sebuah gerbang saja diabaikan.
daripada bikin petisi lebih baik bikin grup whatsapp mashita
Begitu, Mashita!

Daripada Petisi, Lebih Baik Bikin Grup WhatApp, Mashita!


Beberapa waktu lalu, dua film karya anak negeri dipetisi oleh you-know-who-lah. Pertama, film “Kucumbu Tubuh Indahku” arahan sutradara senior nan asyik bernama Garin Nugroho. Ditolak oleh puluhan ribu pemilik tanda tangan digital di situs change.org. Cie cieee…. Senang betul yang sudah generasi Z dan bisa tanda tangan onlen-onlen e.

Petisi untuk film ini dimulai oleh Rakhmi Mashita. Kakak yang satu ini tampaknya adalah pengamat film yang berhasil merumuskan genre baru di dunia film. Bukan film eksyen, film fantasi, film drama, film drama, atau film animasi, sebagaimana kategorisasi film di anugerah-anugerah itu, Kak Rakhmi memasukkan film Om Garin ini di kategori baru: felem el-ge-be-te. Barangkali panitia Oscar atau tim kerja FFI harus segera bikin kategori untuk anugerah penghargaan tahun berikutnya: Penata busana terbaik untuk Film LGBT anugerah ef-ef-i tahun ini, nominasinya adalah …. jeng jengggg….

Kak Rakhmi Mashita mengajak sodara-sodara-sebangsa-dan-setanah-aer untuk menolak penayangan film ini dengan alasan: … jika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yg mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini.

Deee ndeee… hi kakak ga-o… aeh…. 

Kalau sebuah film akan dengan semudah itu membentuk perilaku, dari zaman dahulu kala kita tidak perlu repot-repot sekolah, bukan? Untuk apa semua pelajaran: Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Orkes, Fisika, Kimia, dan cara mencintaimu dengan rahasia diajarkan di Seminari, Pesantren, Sekolah Negeri, dan sekolah-sekolah lainnya kalau ternyata untuk membentuk dan mengajak orang berbuat baik itu kita hanya butuh film?

Petisi ini dibuat dengan marah-marah sehingga lupa bahwa dasar mengajak orang yang paling baik adalah dengan menampilkan data yang tepat, disampaikan dengan persuasif, dan ditulis dengan kaidah yang tepat. Penayangan, Kakak. Bukan penanyangan, seperti yang kakak tulis di kalimat pertama petisi menyedihkan itu. Eh?

Baca juga: Orang Cerdas Itu Mendengar dengan Baik

Yang tidak disertakan pembuat petisi dan diabaikan begitu saja oleh para penolak yang puluhan ribu itu adalah data tentang berubahnya perilaku publik setelah menonton sebuah film sambil makan popcorn dan menutup mata malu-malu. Maksudnya, apakah telah ada riset bahwa perilaku LGBT dapat terbentuk hanya karena menonton film? Itu satu hal.

Hal lain adalah, menolak penayangan film ini seperti juga seruan mengharamkan LGBT. Tidak berdampak apa-apa, sesungguhnya. Perilaku seksual seseorang dibentuk oleh sangat banyak faktor; pilihan personal dan merdeka. Seruan lembaga apa pun tidak termasuk di dalam proses pembentukan perilaku itu. Jika pun termasuk, barangkali kecil sekali porsinya.

Kakak Mashita e… aeh. Jalan-jalan, ka. Supaya lebih banyak tahu. Ke portal-portal informasi di dunia maya nan kejam ini. Kalau sempat, kalian akan bertemu dengan Diagnostic ans Statistical Manual III (DSM) yang disusun oleh American Psychiatric Association pada tahun 1974, yang menjadi pegangan psikolog dan psikiater di seluruh dunia, bahwa: homoseksual bukan penyakit kejiwaan atau kelainan. Badan Kesehatan Internasional, WHO, juga telah mencoret homoseksual dari daftar penyakit melalui pedoman International Classification of Desease (ICD-10).

Jadi, mengapa kita membenci mereka? Hmmmm... Mungkin Kaka Mashita merasa bukan bagian dari masyarakat dunia, tetapi bagian dari masa lalu yang tertinggal dalam ingatannya tentang mantan. Sedi betul e.

Selain “Kucumbu Tubuh Indahku” itu, film lain yang juga dapat petisi penolakan adalah “Dua Garis Biru”. Judul ini langsung dihubungkan dengan test pack, padahal film ini sesungguhnya adalah tes kehamilan hi-hi-hi-hi-hi. Pokoknya begitu. Film ini ditolak karena ceritanya tentang pergaulan bebas yang berujung kehamilan. Bagaimana mereka tahu? Ya, dari test pack itu.

“Bukan. Bukan itu maksud saya, Nirmantho.”
“Lalu apa maksudnya, Francezcho?”
“Maksud saya, bagaimana mereka tahu bahwa film itu tentang pergaulan bebas berujung kehamilan padahal mereka belum nonton filmnya?”

Itu dia! Selain soal bahwa para pembuat petisi di negeri gemah ripah loh jinawi ini umumnya adalah orang-orang yang ‘sedikit sekali tahu’-nya tentang hal yang mereka tolak itu, rata-rata setiap penolakan hanya didasarkan pada kekhawatiran yang berlebihan. Padahal, kalau kita menolak, harusnya memakai alasan lain yang lebih masuk akal. Misalnya: dia kurang tajir, mulutnya bau jigong, aku masih belum bisa melupakan kisah yang lalu, kita cocoknya temenan ajah. Eh?

Soal saya adalah, apakah penolakan kita melalui petisi itu akan benar-benar berdampak pada berhenti/dihentikannya sesuatu? Hmmm…

Di bangsa dan tanah air yang sedang senang-senangnya bicara soal Revolusi Industri 4.0 ini, sebagian besar petisi yang kita tanda tangani selalu menampar angin. Bukan angin yang sakit tapi tangan kita yang lelah karena berjuang menyakiti kekosongan. Bandingkan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Perih, Titus, perih sekali!

Karena itu, pekerjaan membuat petisi tanpa data dan analisis dampak yang kuat adalah sebetul-betulnya membuang energi secara percuma. Yang titip tanda tangan digitalnya pada petisi seperti itu, bisa jadi, seumur hidup memang tidak pernah ke bioskop. Macam kami yang di Ruteng -Flores ini. Tak ada bioskop, bajakan pun lama munculnya. Nah, kalau kami ikut tanda tangan, efeknya apa? Tidak tanda tangan juga tidak nonton bukan?

“Lalu aku harus bagaimana?”
“Bikin grup WA, Maria! Kau pasti tahu caranya.”

Baca juga: Nama Anak dan Harapan Orang Tua

Begini. Grup WA akan lebih efektif membentuk perilaku. Iya to? Di negeri ini, setiap jenis kegiatan, hoi, atau hal-hal lainnya, sudah ada grup WA-nya masing-masing. Umumnya lebih tepat sasaran. Misalnya: WAG Peduli Bencana. Isinya orang-orang yang berniat baik membantu orang-orang yang tertimpa bencana. Meski kadang kepeduliannya hanya dalam bentuk teks: Wah, sedih sekali ya. Semoga Pemerintah lekas bantu.

Atau, WAG Keluarga Kita, Keluarga Damai. Isinya tentang keharmonisan keluarga besar. Meski tentu saja tetap ada peluang WAG keluarga yang isinya orang-orang terbatas yang bergosip tentang beberapa orang di WAG yang pertama tadi. Kadang-kadang salah kirim. Maksudnya ke grup terbatas, eh, gosip itu tersesat jauh dan jatuh ke grup besar. Admin langsung ganti nama grup: WAG Keluarga Kita Tak Lagi Damai.

Kira-kira begitu. Kalau tidak suka dua film itu, atau film-film lainnya, jangan repot-repot bikin petisi. Kecuali kalau mau jadi bahan berita. Kalau sungguh-sungguh menolak, daripada bikin petisi lebih baik bikin grup WA. WAG yang harus dibentuk hendaklah bernama: WAG Kita Tolak Film-Film Tertentu. Penamaan tertentu akan memudahkan peluang: (1) menulis judul film yang harus ditolak, (2) mengajak semua anggotanya memboikot film tersebut—cara ini lebih terukur hasilnya, dan (3) link download film-film tertentu boleh dikirim ke grup dan direkomendasikan kepada seluruh anggota, misalnya film bokep yang pasti disukai semua orang.

Sepakat? Harusnya sih, sepakat. Kalau kita sadar bahwa di nusantara yang indah ini, jangankan petisi, kisah sedih tentang ibu-ibu berpayung hitam yang selalu bertanya tentang nasib anak-anak mereka sekali sepekan di depan istana saja diabaikan. Lagian, petisi kok jadi jalan keluar. Heran. Lama kelamaan, kalian akan bikin petisi: Ayo Tolak Undangan Nikahan Para Mantan. Hisssssh… Situ yang tidak suka, sebangsa yang diajak. Situ sehat?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Terimakasih sudah berbagi informasinya,.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir. Salam hangat!

      Delete