Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?

Bagaimana mengucapkan selamat tinggal pada usia tiga puluh delapan dengan pantas? Itu yang saya pikirkan setelah Kaka Rana dan Celestin memberi ucapan selamat.
bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas
Foto: Kaka Ited

Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal Secara Pantas?


Kemarin saya ulang tahun. Dan melewatkan detik kosong-kosong di depan komputer jinjing terkutuk. Bukan. Bukan laptop-nya yang terkutuk, tetapi blog, media sosial, website baru kami, dan semua yang rasanya telah mengambil banyak sekali waktu. Bukan mereka juga barangkali. Tetapi ketakberdayaan menghadapi godaan.

Atau sama sekali tidak ada yang terkutuk Semua baik-baik saja, sampai saya merasa agak bersedih karena ulang tahun berarti juga meninggalkan usia yang lama. Perkara meninggalkan, ditinggalkan, memutuskan untuk saling pergi (tinggal berjauhan juga begitu) memang bikin sedih. Saya memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.

Dalam perjalanan dari Rego ke Ruteng — saya memilih jalur yang telah lama saya tinggalkan: via Pacar, Noa, Golo Gonggo, Golowelu, dan seterusnya, Cancar lalu Ruteng — saya berjuang membagi konsentrasi antara silih-silih batu dengan memikirkan apa yang pantas disampaikan sebagai ucapan perpisahan dengan usia yang lama: tiga puluh delapan tahun. Tetapi jalan itu buruk sekali buruknya. Lebih buruk dari apa yang pernah kau pikirkan tentang jalan yang buruk.

Maka, berpikir tentang ucapan selamat tinggal dengan cara yang pantas pada usia tiga puluh delapan tahun, serentak berganti: apa saja yang dilakukan oleh bapak-ibu di Labuan Bajo selama ini? Jalur Rego - Ruteng via Pacar ada di Kabupaten Manggarai Barat, dan rasanya tidak berubah ke arah yang lebih baik sejak kabupaten itu berdiri sendiri. Tidak juga jalan di tempat. Dia bergerak ke arah yang lebih buruk. Rasanya begitu.

Beberapa kali sepeda motor saya miring-miring dan saya harus kasi turun kaki di dua jalur berbeda; Pateng sampai Doro, Lalong sampai Noa. Usia 38 tahun barangkali tidak terlalu tua, tetapi soal nyali adalah hal yang berjalan terbalik dari usia. Sejak umur 20 tahun, setiap usia bertambah berarti nyali berkurang. Dulu sa bisa kros ini jalan, pikir saya.

Hanya saja, nyali memang tidak seharusnya dihubung-hubungkan dengan jalan umum. Johny Pranata, si legenda motocross itu toh tidak bertarung di jalan umum. Jalan umum harus bagus. Infrastruktur seperti itu berhubungan dengan biaya angkut barang yang lebih murah, sehingga ekonomi kita tidak 'selesai di jalan'; keuntungan jual hasil bumi ke Ruteng menjadi sangat sedikit karena biaya transportasi yang mahal. Mau omong soal kesejahteraan? Aeh...

Karena itulah, saya merasa (berharap) kondisi jalan yang buruk itu harus segera ditinggalkan. Siapa saja yang punya akses untuk menentukan nasib jalan itu harus berani mengucapkan salam perpisahan. Mengucapkannya secara pantas.

Di pinggir lapangan sepak bola di Nara - Rego, ketika PS Gempar berhadapan dengan PS Lewat (pertandingan itu berakhir seri 2 - 2), saya sempat ngobrol dengan seseorang. Tentang jalan yang buruk itu. Kami sudah lupa kapan terakhir kali 'kasi gigi satu' di kendaraan kami hanya ketika mulai jalan saja. Sudah bertahun-tahun rasanya. Lama sekali. Sekarang, gigi tiga hampir tidak pernah berfungsi. Apalagi di atasnya. Mereka pasti sedih sekali diabaikan seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Gigi satu, dua, satu lagi, dua lagi, satu, satu, dan sa cape sekali.

Tiba di Ruteng, saya sedikit lelah. Lalu memutuskan tidur saja. Agak demam juga. Sampai kemarin, ke kantor (sejak masuk pasca-liburan) saya 'on-off'. Bukan kesalahan jalan buruk semata, tentu saja. Selama liburan kemarin, di Paurundang, di rumah Guru Don dan Muder, saya memang makan sesukanya, tidak tidur sesukanya, dan minum kopi-air putih-sopi dalam porsi yang sama.

Lalu saya ulang tahun. 39 tahun sekarang. Artinya, selamat tinggal 38, usia yang sejauh yang saya ingat, saya nikmati sekali. Ketika saya tahu bahwa menulis itu menyenangkan. Lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan sebelumnya. Saya menulis apa saja. Sebagian mendapat bayaran dengan harga yang baik, saya juga menerbitkan buku kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam, menjalankan bacapetra.co dengan tim kerja yang ajaib dan menyenangkan, usia yang kemarin itu rasanya baik sekali.

Meski sama sekali tidak berniat untuk tinggal selamanya di usia itu — tak ada seorang pun akan bisa — tetapi mengucapkan selamat tinggal secara pantas adalah hal yang sulit sekali. Bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada sesuatu yang telah begitu baik padamu?

Saya memikirkannya. Dengan serius. Sampai akhirnya sadar bahwa, selain hal-hal yang buruk, tidak ada yang perlu ditinggalkan dari usia itu. Juga usia-usia sebelum itu. Dibawa serta saja selamanya. Dalam bentuk kenangan atau pekerjaan yang musti diteruskan. Dikerjakan dengan sama seriusnya dan sama menyenangkannya di usia yang baru, tiga puluh sembilan tahun.

Yang harus dibuang adalah hal-hal yang buruk. Apa saja. Terutama jalan yang buruk di jalur Rego sampai Golowelu itu. Maksud saya, atas dasar perbandingan terbalik antara usia dan nyali tadi, saya membayangkan bahwa di usia empat puluh nanti, saya mungkin akan menuntun sepeda motor saya ketika liburan; membuat liburan terasa buruk sekali. Padahal liburan seharusnya menyenangkan, bukan?

Ah... Itu nanti saja. Dipikirkan kemudian. Yang harus saya lakukan sekarang adalah menulis ucapan terima kasih kepada siapa saja yang telah ada bersama saya di usia 38 tahun kemarin. Terutama Celestin, Rana dan Lino. Juga memikirkan bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada semua hal yang buruk yang memang harus ditinggalkan seberapa menyenangkan pun hal-hal itu. Bagaimana mengucapkan selamat tinggal secara pantas pada kebiasaan bergosip? Saya pikir, saya akan memikirkannya nanti.

Terima kasih, 38. Selamat datang, 39.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment