Mencari Penulis Surat - Cerpen di Lombok Post

Cerpen "Mencari Penulis Surat" pertama kali disiarkan di Lombok Post tanggal 16 April 2017. Disiarkan kembali di ranalino.id untuk kepentingan dokumentasi.
mencari penulis surat cerpen di lombok post
Mencari Penulis Surat - Cerpen di Lombok Post

Mencari Penulis Surat


Oleh: Armin Bell

Kampung kami di bawah dua ancaman. Pertama, telah beberapa minggu terakhir debet mata air kami berkurang—semakin sering terdengar anak-anak menangis, mereka menggaruk-garuk sela jari dan pangkal paha, aroma tubuh mereka berubah, menusuk, agak sulit saya bernafas saat mengajar di pinggir hutan yang mulai gundul. Yang tua tak banyak tertawa, sawah mengering dan tanah merekah terbelah. Kedua, Tu’a Golo, tua adat di kampung kami menerima surat tanpa nama pengirim.

“Ada surat dari hutan,” katanya kepada kami yang berkumpul di Mbaru Gendang, rumah adat di tengah kampung kami, siang ini. Dibukanya perlahan dan mulai membaca.

“Tu’a Golo yang terhormat, salam sejahtera. Kita tidak pernah bertemu. Alasannya adalah karena kita memang tidak harus bertemu. Dunia kita berbeda, kelak kau akan mengerti. Untuk sementara, sebut saja kami sebagai tetangga tak terlihat. Tentang mengapa menulis surat, rangkaian pertemuan telah kami gelar. Rapat alot berhari-hari akhirnya sampai pada keputusan bahwa kami harus menulis. Kita mulai saja dengan kesadaran bahwa kau dan wargamu merusak kampung kami.”

Sampai di sini Tu’a Golo terdiam. Kami saling memandang. Sorot mata satu kepada yang lain menyiratkan tanya hingga terdengar bisik-bisik. “Kampung apa?” “Warga kita telah menyerang kampung lain?” “Mungkin Ame Japi membawa ternaknya ke kampung tetangga?”

Semua mata memandang Ame Japi, seorang tua yang hidup dengan berpuluh-puluh ekor sapi. Namanya Petrus, tetapi sekian lama menjadi peternak sapi membuatnya dipanggil Ame Japi. Japi berarti sapi dan Petrus tak memiliki anak. Ame Japi menoleh ke arah suara yang menuduhnya.

“TIDAK!” katanya, “saya tidak ke kampung tetangga. Memang saya harus pergi agak jauh membawa sapi-sapi merumput karena kampung kita gersang, tetapi itu masih di lingko kita,” sambungnya lagi seraya menyebut lokasi tanah ulayat mereka tempat dia membawa sapi-sapinya merumput, Lingko Huek, daerah pinggir hutan yang berbatasan dengan kampung tetangga.

“Kalau hanya di Lingko Huek, tak ada yang salah,” Tu’a Golo menengahi dan lagi membaca surat itu. Kertas putih di tangannya basah. Tu’a Golo berkeringat, juga sebagian besar peserta rapat. Beberapa mengibas wajah. Hari-hari ini, siang lebih panas.

“Kalian mungkin akan bertanya kampung mana yang telah dirusak itu. Jangan berdebat. Selesaikan saja membaca surat ini. Sesungguhnya kami pernah senang karena kita tak saling mengusik. Kami menikmati pesta-pesta kalian setiap masa panen. Hasil yang melimpah patutlah disyukuri. Tetapi ingatkah kalian kapan kali terakhir menggelarnya? Pesta-pesta itu tak lagi ada beberapa tahun terakhir. Panen kalian tak lagi banyak. Ada yang tahu alasannya?”

Tu’a Golo terdiam lagi. Lebih lama. Lebih ramai orang-orang bicara. Terdengar nostalgia tentang pesta panen terakhir lima tahun silam. Ame Japi mengorbankan sapi terbaiknya, dibayar warga kampung dengan sepuluh kilogram beras per keluarga dari hasil panen yang melimpah. Begitu meriahnya pesta itu bahkan ada pertunjukkan Caci selama tiga hari. Setelahnya, agar pada tahun berikutnya pesta lebih meriah, disepakati bahwa jumlah panenan mestilah lebih melimpah. Karenanya perlu membuka lahan yang baru. Hutan di dekat kampung pun dirambah. Hanya tersisa beberapa pohon di bagian yang berbatu setelah yang lain tumbang rebah.

Saya ingat, setelah pesta terakhir itu tak ada lagi panen melimpah. Saya sedang mengenang masa-masa kami menanti hujan beberapa tahun terakhir dan mencari jawaban atas pertanyaan si pengirim surat ketika Tu’a Golo kembali membaca. Keringat menderas di bagian ketiak kami. Mulai tercium aroma tak sedap.

“Kami percaya kau dan wargamu akan mempunyai alasannya masing-masing. Tetapi biarkanlah kami bercerita beberapa kejadian penting yang membuat kami menulis ini. Pertama, ketika kalian merambah huta, beberapa keluarga di kampung kami kehilangan tempat tinggal. Mereka menangis meraung-raung lalu pergi jauh. Betapa lara nasib mereka yang diusir dari rumah sendiri. Sesekali mereka berkunjung juga, berharap rumah-rumah telah baik, tetapi butuh waktu bertahun-tahun untuk sebuah rumah yang nyaman. Kedua, kami yang tersisa bertahan seadanya di rumah-rumah tersisa.”

Tiba-tiba Ame Japi berdiri.“Itu surat dari hutan,” teriaknya. Tu’a Golo tak lanjut membaca surat. Seperti kami yang lain, dia memandang Ame Japi. Tatapan tajam Tu’a Golo menyurutkan niat Ame Japi berteriak lebih banyak. Dia duduk diiringi tatapan prihatin dari yang lain. Ame Japi selain mempunyai banyak sapi, telah lama dikenal sebagai warga yang bersikap tak biasa. Ketika yang lain bersepakat membuka lahan pertanian baru, Ame Japi menolak tanpa alasan yang jelas. Pernah sekali terdengar dia menggerutu bahwa kampung kami dikutuk sehingga tidak lagi datang hujan. Sejak itu tak banyak pendapatnya yang dianggap waras.

Tu’a Golo, yang kini mulai lagi membaca surat, bahkan pernah menyarankannya berobat agar kembali normal.

“Hingga beberapa waktu yang lalu kami mendengar kabar bahwa kau dan warga kampungmu akan menebang pohon-pohon tersisa, kami tak lagi dapat berdiam diri. Pohon-pohon itu rumah kami. Kampung kamilah yang selama ini memberi kau dan wargamu hujan. Menebang pohon-pohon tersisa adalah juga menebang mimpi akan panenan berlimpah. Menghabiskan hutan bukan hanya mengusir kami ke tempat lain tetapi juga mengusir dirimu sendiri. Sudah berapa warga kampungmu yang pindah?”

Tu’a Golo tak lanjut membaca. Puluhan keluarga telah pindah lima tahun terakhir. Beberapa orang mati pada sebuah kelaparan hebat. Pertanyaan surat itu jelas mengejutkan kami semua. Tetapi untunglah dengan cepat akal sehat menyeruak dari Klemens, menantu Tu’a Golo.

“Itu surat dari Ame Japi!” Ujarnya ketus. Semua menoleh. Bergantian, ke arah Ame Japi, ke arah Klemens, ke segala arah, dengan heran. Ame Japi tak bisa baca tulis. Bahkan ketika menjual sapi-sapinya, dia tak menerima uang. Ditukarnya sapi-sapi itu dengan apa saja yang dia butuhkan. Semen untuk rumah, besi beton untuk rumah, televisi dan antena parabola, beras, pakaian dan lain-lain. “Ame Japi tidak bisa menulis,” kata seseorang mengingatkan. Klemens terdiam. Tu’a Golo yang kini bicara. Untuk dua hal sepertinya. Membela menantunya dan mengajukan tawaran kemungkinan lain bahwa usulan surat itu memang dari Ame Japi dan ditulis oleh orang lain. Yang biasa menulis surat adalah Darius.

Saya Darius. Pernah bersekolah hingga SMA lalu pulang ke kampung ini dan menggarap satu-satunya tanah warisan yang ditinggal pergi oleh Ayah dan Ibu ke kampung orang tua Ibu. Di sana hujan masih turun. Selama ini sayalah yang kerap diminta menulis surat oleh hampir semua warga kampung. Tu’a Golo paling sering meminta saya menulis surat permohonan bantuan beras dari kabupaten. Saya juga mengajar anak-anak menulis. Sekolah terdekat terlampau jauh.

“Darius?” Tanya Tu’a Golo. Saya menggeleng. Meminta Tu’a Golo melanjutkan membaca surat yang sepertinya belum selesai. Dia setuju meski kulihat ada kilat ragu di matanya.

“Sembari kau dan wargamu mengenang mereka yang pindah, kami ingatkan bahwa kini hanya ada tujuh pohon tersisa di tempat kami. Artinya hanya ada tujuh rumah kini. Tak akan ada hujan dari tujuh pohon tersisa. Jika kau dan wargamu menebang lagi, kita akan sama-sama kehilangan. Rumah kami, hujan kalian. Kami memberi hanya satu pilihan akhir ini: jangan hancurkan rumah-rumah terakhir dan bantu kami membangun yang lainnya. Kepadamu akan kami turunkan hujan. Salam hormat dari kami. Penghuni hutan terakhir.”

Semua keluar dari Mbaru Gendang dengan gontai. Tak ada wajah yang tersenyum. Ame Japi berjalan pulang bersamaku. Rumah kami bersisian. Diceritakannya ini di sepanjang perjalanan.

“Saya pernah menikah dengan Kakartana. Perempuan cantik dari dunia lain. Kau mungkin menyebutnya jin. Saya sering ke rumahnya di tengah hutan. Dari luar memang terlihat hanya pohon-pohon besar dan tinggi. Tetapi saat kau bersama Kakartana, matamu akan terbuka dan pohon-pohon itu sebenarnya adalah tempat tinggal mereka. Kampung mereka persis seperti kampung kita, hanya saja semua terlihat lebih baik. Kisah kami berakhir ketika saya menikah dengan Lusia. Ada tumbal pada cerita itu. Saya dan Lusia tidak akan punya anak. Sebagai gantinya saya diberinya karunia memelihara sapi hingga sukses seperti sekarang.”

Kudengar saja cerita itu sebagai dongeng. Sulit untuk percaya bahwa ada yang menikah dengan perempuan dari dunia lain. Ketika kecil pernah kudengar sebagai dongeng sebelum tidur. Sang lelaki biasanya kurus karena tak pernah tidur. Pada malam hari dia akan dijemput Kakartana ke rumahnya dan pada pagi diantar pulang, bekerja seperti biasa. Dulu Ame Japi memang kurus.

“Ame Japi percaya kalau itu surat dari Kakartana?”

Tak ada jawaban. Kami terus melangkah bersisian. Ketika akan berpisah dia mengingatkan hasil kesepakatan kami di Mbaru Gendang, “Besok jangan lupa, jam delapan kita sudah berangkat. Bawa bibit pohon apa saja. Kita bangun rumah-rumah mereka.”

*

Itu cerita bertahun-tahun silam ketika beberapa anak mati karena lapar juga borok bernanah di tubuh mereka yang tidak pernah mandi karena mata air yang berhenti. Hari ini bersama istri, saya baru saja kembali dari pemakaman Ame Japi di pinggir hutan yang mulai hijau. Di pemakaman juga hadir seorang dari tempat lain, wanita cantik jelita berdandan seperti orang kota. "Kerabat Ame Japi," kata orang-orang tanpa penjelasan lengkap. Hujan mulai turun ketika kami menikmati kopi di rumah Lusia, perempuan tua yang tak pernah menangis. Tidak ada lagi percakapan tentang siapa yang dahulu menulis surat. (Selesai)

Baca juga cerpen bertema sama: Yang Bangkit di Hari Keempat

0 Komentar:

Post a Comment