Asal Ikut "Trending Topic", Jalan Pintas Menuju Puncak Kebebalan Bermartabat

Anggap saja saya sedang memarahi diri sendiri dan orang-orang dekat saya yang menganut prinsip "daripada tidak ikut trending topic lebih baik ikut trending topic", karena (akhirnya) tahu, sikap asal ikut trending topic membuat saya terlihat bebal.
asal ikut trending topic jalan pintas menuju puncak kebebalan bermartabat
Memikirkan dari mana trending topic datang? | Foto: Daeng Irman

Asal Ikut "Trending Topic", Jalan Pintas Menuju Puncak Kebebalan Bermartabat


Trending topic adalah sebutan untuk hal yang sedang populer, sedang terkenal, sedang ramai dibicarakan publik pada jangka waktu tertentu. Ada istilah lain, tetapi kurang populer, untuk situasi seperti ini yakni hot trend. Yang terakhir ini menjadi kurang dipakai karena kata hot yang lebih banyak diasosiasikan—atau kita berharap—dengan konten-konten dewasa (baca: porno matipunya) pada penelusuran digital.
Dalam penjelasan lain, sesuatu menjadi trending topic apabila banyak orang yang membicarakannya. Biasanya adalah topik-topik hangat yang sedang menjadi perbincangan sebagian besar pengguna internet, entah itu di Facebook, Google+, Twitter. Linkedin, Instagram, dan lain-lain, yang berkontribusi pada meningkatnya jumlah percakapan tentang hal yang sama pada interaksi di jembatan, warung kopi, sembahyang giliran, atau di kantor ketika bos sedang keluar.
Penanda trending topic umumnya adalah hashtag atau tagar (dari: tanda-pagar) dan sejauh ini biasa bersumber dari twitter. Tentang bagaimana trending topic berhubungan dengan apa yang pada judul tulisan ini saya sebut sebagai kebebalan bermartabat, (semoga) akan ditemukan pada uraian lumayan panjang pada catatan ini. Tetapi sebelumnya, agar persepsi kita menjadi mirip, saya bertanggung jawab untuk menjelaskan apa itu kebebalan bermartabat?

Kebebalan bermartabat yang saya maksudkan adalah perilaku-perilaku bodoh/bebal—saya senang menggunakan dua kata ini sebagai ungkapan kemarahan yang jujur—yang dilakukan oleh generasi yang akrab dengan teknologi (penanda martabat zaman now), di mana mereka mengabaikan sikap kritis ketika berhadapan dengan informasi sehingga terjebak menjadi penyebar hoax bahkan hate speech.

Bagaimana? Semoga persepsi kita sudah mulai mirip. Jika belum, saya tidak bisa apa-apa. Kadang begitu. Alih-alih ingin mengetahui sesuatu secara cukup baik, kita malah cenderung terlibat dalam diskusi medsos yang buruk hanya dengan modal membaca judul. Jangan berkecil hati. Anda tidak sendiri. Teman dekat Anda juga begitu. Teman diskusi Anda juga begitu. Pacar Anda yang bodoh itu juga begitu. Santai saja.

Dari Mana Trending Topic Datang?


Seorang teman pernah bilang, semua tagar menjadi ramai karena twitter. Tidak berlebihan, meski juga tidak seluruhnya benar.

Yang paling tepat adalah, kemudahan yang disiapkan smartphone dalam membuat screenshot atau tangkapan layar menjadikan twitter lebih tepat disebut sebagai tempat asal tagar. Karena pada bagian selanjutnya, tagar atau hashtag itu disebar dengan tangkapan layar tadi di berbagai platform medsos lainnya, lalu menjadi bahan percakapan publik (warganet).

We Are Social, sebuah perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite baru-baru ini merilis data bahwa Youtube, Facebook dan WhatsApp adalah tiga besar medsos/messenger app di Indonesia. Twitter ada di peringkat ketujuh setelah Instagram, Line, dan BBM. Twitter beruntung karena memiliki mesin—dan digunakan dengan baik—yang menghitung sebaran dan penggunaan tagar, untuk kemudian diumumkan sebagai trending topic. In fact, twitter adalah platform medsos pertama yang mengenalkan istilah ini dan menggunakan hashtag sebagai produk resmi.

Belum tahu soal ini? Tidak apa-apa. Kalau punya waktu lebih, bisa mampir ke sini: Sejarah Hashtag atau Tagar dan Pengguna Medsos Kekinian yang Asal Pakai. Nah, karena soal sejarah hashtag atau tagar sudah dibahas pada bagian lain di blog ini, maka catatan ini tidak bertujuan mengulang bahasan apalagi mengutak-atik cara mesin twitter bekerja.
Yang dibahas di sini adalah tentang tagar (hashtag) yang berhasil bekerja membentuk perilaku khalayak, atau mengacu pada kondisi yang kerap ada akhir-akhir ini, bagaimana khalayak menggantungkan lakunya justru pada tagar. Apa yang pada tahun 1950-an dikenal dengan nama Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik) rasanya berlaku pada zaman "kita anak peka tagar, horeeee” seperti saat ini.
Saya setuju jika ada yang mengingatkan bahwa tidak semua tagar populer di Indonesia dapat dimasukkan atau dilihat dengan menggunakan teori jarum hipodermik ini. Tagar #SaveHajiLulung misalnya, tidak benar-benar berhubungan dengan perilaku tetapi hanya menjadi ajang percakapan seru dan lucu para warganet. Tagar #ShameOnYouSBY juga demikian. Warganet memakainya—jika bukan untuk melucu—untuk merundung mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Tetapi tagar #BoikotSariRoti, #UninstallTraveloka, #2019GantiPresiden, #OrangBaikPilihOrangBaik, sampai #UninstallBukalapak jelas berhubungan dengan aksi/sikap/perbuatan: tidak membeli sari roti, mencopot aplikasi traveloka dan bukalapak dari smartphone, sampai memilih dan tidak memilih calon presiden tertentu.

Mari bahas yang #UninstallBukalapak saja untuk merangkum seluruh hal terkait kegemaran kita 'dididik tagar' dan melihat dampak yang dapat timbul setelah kepuasan menghukum seseorang atau sekelompok orang melalui aksi copot dan boikot itu terjadi.

Tagar #UninstallBukalapak dengan segera menjadi trending topic menyusul cuitan Achmad Zaky soal alokasi anggaran negara dalam menyambut era industry 4.0. Meski narasi yang kemudian dimunculkan terkait populernya tagar itu adalah karena CEO Bukalapak itu salah mengutip data sebagai landasan cuitan kritisnya, namun banyak yang menduga bahwa penggunaan frasa ‘presiden baru’ pada adalah pemicu utama. Cuitan itu dianggap menyerang Jokowi, dan menyerangnya dengan data yang salah, dan oleh karenanya Achmad Zaky dianggap sebagai pendukung Prabowo.

Bahwa kemudian, berdasarkan penjelasan sekaligus permintaan maaf Achmad Zaky diketahui bahwa yang terjadi atau dimaksudkannya sama sekali tidak demikian, para warganet yang mulia yang sudah kadung membuat kesimpulan sendiri bergerak secara serempak, menyerukan agar 'sikap kurang ajar' CEO Bukalapak dibalas dengan pelajaran: Boikot Bukalapak; kemudian menyatu dalam bentuk tagar #UninstallBukalapak.

Tagar itu kemudian menyebar di semua platform media sosial dan secara masif membentuk perilaku kerumunan. Publik, yang tidak terima dengan serangan Achmad Zaky pada Jokowi, mencopot aplikasi Bukalapak dari smartphone masing-masing. Sepintas, perilaku itu terlihat masuk akal. Apalagi publik kemudian mengetahui bahwa sesungguhnya Jokowi pernah meng-endorse Bukalapak—membuat cuitan Achmad Zaky dianggap sebagai perilaku #LupaBapak—maka menghukumnya dengan mencopot produknya dianggap sebagai hal yang wajar dan setimpal. Benarkah demikian?

Mencopot Aplikasi, Menghukum Banyak Orang, Puncak Kebebalan Bermartabat


Yang tidak disadari dari perilaku mencopot aplikasi berdasarkan dorongan tagar #UninstallBukalapak adalah ruginya sejumlah pengusaha mikro, kecil dan menengah yang melapak di situs unicorn itu.

Sebagaimana diketahui, yang juga ikut melapak di sana adalah para pelaku UMKM dengan skema terbalik sederhana sebagai berikut: 1) CEO Bukalapak mendapat uang dari hasil kerja para pelapak, 2) para pelapak mendapat uang dari orang-orang yang berbelanja, 3) orang-orang yang berbelanja dimudahkan dengan hadirnya aplikasi; maka, mencopot aplikasi sesungguhnya berarti menghentikan kegiatan berbelanja, menghilangkan keuntungan para pelaku UMKM, selanjutnya menghilangkan keuntungan CEO.

See? Sebelum hukumannya sampai kepada CEO yang dianggap melakukan kekeliruan besar, yang pertama kali merasakan dampak dari kegiatan masif mencopot aplikasi (baca: boikot) justru adalah orang-orang yang menggantungkan harapannya pada kehadiran aplikasi tersebut di hape calon pelanggan.

Dalam kasus Bukalapak, yang terancam adalah para pedagang mikro, kecil, dan menengah. Dalam kasus Sari Roti atau Traveloka juga kurang lebih sama. Ada ratusan (atau ribuan?) reseller dan tangan-tangan kecil lainnya yang berada di balik—dan turut menggerakkan—sesuatu yang kemudian kita boikot karena kesalahan/kekeliruan seseorang di level puncak manajemen. Paling buruk adalah jika aksi boikot justru dilakukan padahal kita tidak sempurna memahami soal tetapi dengan bersemangat berperilaku destruktif hanya karena tagar.

Baca juga: Diskusi di Facebook itu Seperti Itu (Bagian 1)

Bukalapak, Sari Roti, Traveloka dan lain sebagainya adalah seumpama gedung besar yang di dalamnya terdapat kamar-kamar yang disewakan. Ah… iya. Seperti Pasar Inpres. Gedungnya dibangun Pemerintah dan disewakan kepada para pedagang. Di Ruteng kami sebut lapak-lapak di pasar itu sebaga los. Pengguna los adalah pelaku ekonomi paling depan.

Kalau pasarnya (gedung itu) hilang atau (dalam kasus boikot) kita menolak pergi ke sana, maka selesailah nasib para pedagang di los-los itu. Perputaran modal tidak bisa terjadi, mandegnya roda ekonomi justru di barisan primer, mereka tidak bisa berjualan. Ada yang barangkali terpaksa mengambil trotoar dan menjajakan sayur-mayur mereka di pinggir jalan. Itu juga kalau trotoarnya belum dipenuhi pohon-pohon palsu. Ribet.

Akibatnya, alih-alih langsung merugikan 'si bersalah', perilaku grasa-grusu kita justru menghukum banyak orang. Lalu?

Jangan Asal Meramaikan Trending Topic


Kegemaran kita terlibat atau ambil bagian meramaikan trending topic melalui kegiatan ikut serta ber-tagar ria dan melakukan hal yang disarankan tagar, sesungguhnya berbahaya jika dilakukan tanpa melibatkan rasio, tanpa berpikir cukup panjang, tanpa menghitung kerugiannya.

Lebih berbahaya lagi jika kita melakukannya karena dorongan ketersinggungan politis (sebagaimana yang sering terjadi pada setiap aksi boikot di Indonesia akhir-akhir ini), karena bisa jadi justru sangat bertolak belakang dengan ide besar yang sedang dibangun. Inilah yang saya sebut sebagai puncak kebebalan bermartabat, yakni perilaku dungu yang dilakukan oleh orang-orang yang melek teknologi yang menanggalkan saringan kritis dari kepalanya. Bayangkan. Alih-alih mencari sumber informasi yang benar (yang tersedia secara luas dan dapat diakses cepat di internet), kita memilih untuk hanya melakukan scroll up scroll down di linimasa media sosial. Iieeeks...

Begini. Berdasarkan uraian-uraian tadi, bukankah menghukum pelaku ekonomi primer justru bertentangan dengan cita-cita besar negara ini yakni memperkuat sendi ekonomi bangsa? Ironi. Kita terlibat dalam aksi boikot sebagai bentuk dukungan pada calon presiden kita justru dengan mematikan para pelaku ekonomi yang nasibnya hendak diperjuangkan oleh capres-cawapres junjungan kita sebagaimana tergambar dalam poster visi misi mereka. Menangys syudah kau!

Karenanya, ada beberapa hal yang sebaiknya dipikirkan kembali dan berulang kali. Percayalah bahwa tidak pada semua trending topic kita mesti ikut ambil bagian. Jika hanya berniat melucu seperti pada tagar #SaveHajiLulung, tentu saja semua yang merasa bisa melucu boleh terlibat. Meski kita tahu, sebagian besar usaha melucu kita teramat garing atau teramat copy-paste. Tak masalah.

Tetapi jika risiko tindakan kita adalah matinya sejumlah pelaku ekonomi, kita harus berpikir dengan lebih jernih. Siapa saja presidennya, jika dia memimpin di era revolusi industri 4.0, tanpa aplikasi dan para pelaku usaha yang terlibat di dalamnya, ide-ide cemerlang soal ekonomi kerakyatan dan lain sebagainya hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Kita beruntung bahwa soal install-uninstall ini akhirnya menemui jalan yang baik. Pada kasus Bukalapak, Achmad Zaky bertemu Presiden Joko Widodo, dan Presiden meminta agar tidak ada lagi gerakan tak perlu seperti mencopot aplikasi itu. Salah seorang anak Presiden Jokowi juga mengingatkan agar tindakan remeh itu tidak perlu ada; juga mengingatkan tentang pelaku UMKM yang hidup dari aplikasi itu.

Sebuah akhiran yang baik untuk kasus ini. Tetapi bagaimana jika terpelesetnya CEO pada beberapa perusahaan besar akan terjadi lagi? Apakah kita harus terjun bebas lagi melakukan boikot? Semoga tidak. Tidak semua yang populer adalah hal-hal yang benar, bukan? Karena kalau semakin banyak orang menganggap bahwa setiap trending topic itu benar, sesungguhnya yang harus segera di-uninstall dari smartphone kita adalah semua aplikasi media sosial. Atau, install ulang kepala masing-masing. (*)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

0 Komentar:

Post a Comment