Surat Ahok dari Penjara dan Tiga Kelompok Garis Keras yang Harus Dihadapi BTP

Ahok sudah keluar dari penjara. Tidak hanya mengubah positioning-nya melalui usaha 'ganti nama', Ahok, eh, BTP, akan berhadapan dengan tiga kelompok yang boleh dibilang garis keras. Wah...
Ahok | Foto: Ist.

Surat Ahok dari Penjara dan Tiga Kelompok Garis Keras yang Harus Dihadapi BTP


Setelah sekian lama dipanggil Ahok sekaligus memantapkan nama itu sebagai "merk dagang" yang membuatnya dikenali sebagai pribadi dengan karakter kepemimpinan yang kuat plus kontroversif—membuatnya dicintai publik sekaligus dibui di Mako Brimob, Basuki Tjahaja Purnama meminta kita semua memanggilnya BTP. Disampaikannya permintaan itu dalam surat yang ditulisnya pakai tinta biru dengan huruf yang lucu, bersama kalimat-kalimat lainnya yang menerbitkan rasa haru.

Apakah hanya saya yang terharu? Bisa jadi. Yang lain barangkali kecewa membaca surat di instagram itu. Bayangkan! Ketika Ahokers di DKI bersedih pasca-kekalahannya di Pilkada 2017, dan karenanya kerap bikin meme menyindir Gubernur mereka yang sekarang, Ahok malah bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI 2017.  Mamamia e.

Baca juga: Kangen Ahok atau Mau Ikut Basuki Tjahaja Purnama?

Tetapi memang begitu. Dalam suratnya itu dia menulis: ... jika terpilih lagi di pilkada tsb, saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai Balai kota saja. Ketika baca kalimat ini, saya pikir mungkinkah sesungguhnya Ahok ingin menguasai istana negara? Ternyata tidak. Sambungan kalimat itu adalah: ... tetapi saya disini belajar menguasai diri seumur hidup saya. Maksudnya di Mako Brimob. Kalimat yang ditulis italic dan underline adalah kutipan lurus dari surat di IG @basukibtp dengan jumlah love-nya mencapai lebih dari 300 ribu.

Di sinilah letak soal surat itu. Soal tata penulisan, tentu Ivan Lanin akan dengan mudah menunjukkan kesalahannya sekaligus menjelaskan kenapa itu salah. Misalnya, kata “tsb” yang ditulis tanpa tanda titik [.] di bagian akhir, atau “Balai kota” yang seharusnya ditulis “Balai Kota” atau “disini” yang mestinya ditulis terpisah: “di sini”.

Tetapi soal lain dan justru yang terbesar dalam surat itu adalah falasi. Ahok sepertinya merasa bahwa kalau dia menang di Pilkada maka dia tidak akan dipenjara. Ah. Terpilih atau tidak terpilih jadi Gubernur rasanya bukan hal yang membuat Buni Yani, Cs membawa Ahok ke Pengadilan. Mengutip ayat suci Al-Quran secara tidak bijak itu yang bikin beliau dipenjara. MUI juga mengeluarkan fatwa untuk itu, bukan? Masih ingat siapa Ketua MUI waktu itu? Oooops…

Hanya saja, kita tidak boleh mengingat masa lalu. Itu kira-kira yang ingin disampaikan Ahok dengan permintaannya: saya keluar dari sini dgn harapan panggil saya BTP bukan Ahok. Jadi seperti: No more Ahok, welkam BTP. Sebagai bukti keseriusannya, selain menceritakan transformasinya dalam surat, dia langsung bikin akun youtube dengan nama "Panggil Saya BTP." Juga menceritakan niat-niatnya.

Tetapi proses tranformasi Ahok ke BTP tentu tidak akan mudah. Paling tidak, BTP akan menghadapi tiga situasi sulit berikut ini.

Satu, Orang-orang yang Kesulitan dengan Banyak Suku Kata


Ahok itu mudah dieja. A-hok. Hanya dua suku kata. A dan Hok. Bandingkan dengan BTP. Jadi tiga sukukata. Be-te-pe. Barangkali tidak banyak yang kesulitan dengan suku kata sebanyak itu. Tetapi ada. Yang lebih mengkhawatirkan justru adalah kemiripan be-te-pe dengan es-be-ye. Ketika dibunyikan, huruf vokalnya sama dan dua nama itu sama-sama ada B-nya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang keliru dan bilang es-te-pe atau be-te-ye atau be-es-pe dan mulai menyanyi seperti peserta Bahana Suara Pelajar di tahun ’90-an itu?

Tetapi yang paling sulit adalah kalau ternyata dengan menjadi BTP, tokoh kita ini menjadi selembut SBY. Tidak ada penjelasan ilmiah, tetapi bisa saja begitu. Ahok tidak mau lagi dikenali sebagai pribadi yang keras dan lugas, tetapi menjadi pribadi baru yang lembut, bukankah itu akan berarti mirip SBY? Nah, rasanya sulit sekali membayangkan bahwa kita akan dengan rela menerima BTP bilang: “Saya prihatin.” Oh.

Dua, Youtuber Serius


Ini adalah kesulitan lain yang akan (atau sudah?) dihadapi. Para yutuber yang terganggu dengan kehadiran akun "Panggil Saya BTP". Mereka pasti akan membandingkan penderitaan mereka mengumpulkan subscriber, menjaring like, dan menembus adsense yang butuh waktu bertahun-tahun itu dengan betapa singkatnya anak baru di yutub ini mengumpulkan subscriber yang begitu banyak itu.

Dan karena terganggu, mereka akan menyerbu setiap konten baru di akun itu dengan boom dislike. Masih mending. Kalau tiba-tiba mereka melakukan apa yang di dunia blogging dikenal dengan nama boom click ketika BTP mulai ngadsense? Bisa di-banned akun itu nanti.

Saya curiga. Jangan-jangan yang menitipkan ‘jempol ke bawah’ di vlog episode pertama kemarin itu bukan lawan politik tetapi para youtuber yang berusaha merangkak dan mau menikmati jalan hidup sebagai digital nomad. Akun Panggil Saya BTP membahayakan persaingan.

Apakah BTP sudah siap bermain di dunia digital yang adalah wilayah pertemuan terbesar (untuk tidak menyebutnya peperangan) para suporter dan haters ini? Jangan-jangan malah jadi perang baru lagi, dan BTP yang semula berniat lebih kalem malah unggah konten yang berisi pernyataan ketersinggungannya karena postingannya di-dislike. Waduh. Bakal hilang penonton akun rapper yang kerap bikin dis itu kalau begini.

Tiga, Para Penggemar Veronica Tan


Yang ini serius ada. Asli. Jumlahnya banyak. Entah yang patah hati karena BTP merebut Puput dari mimpi-mimpi mereka, atau yang merasa bahwa Ahok melupakan Veronica sebagai perempuan yang ikut membuatnya sukses dengan terlampau cepat memutuskan akan menikah dengan Puput (sekaligus merenggutnya dari mimpi-mimpi mereka), atau yang memang menyayangi Veronica Tan setulus hati.

BTP harus lebih hati-hati untuk soal yang satu ini. Jangan sekali-kali membuat pernyataan yang keliru. Menerima perubahan nama dari Ahok ke BTP saja sudah sulit, jangan tambah dengan kalimat-kalimat yang ‘menyerang’ Vernonica. Please, BTP.

Di facebook ada teman saya yang menulis, "Menjelek-jelekan seorang mantan yang sudah menemani Anda selama berpuluh-puluh tahun dan sudah pasti yang sangat berperan dalam kesuksesan Anda selama ini bukanlah suatu perbuatan yang bijak. Terus terang saya telah kehilangan respek dan kekaguman saya. (Silahkan yang mau bilang saya baper wkwkwkwk)."

Itu yang sopan. Yang lebih dari itu? Banyak! Kemarin ada yang bilang bahwa Ahok keren tapi BTP suka daun muda. Hayooo… Kalimatnya tidak persis begitu, tetapi maksudnya begitu. Dan mahabenar warganet di negeri ini.

Untuk mengujinya, saya mengusulkan agar Ibu Veronica Tan membuat akun youtube juga. Nama akunnya: Saya Tetap Veronica. Pasti subscriber-nya langsung banyak. Apalagi kalau konten pertama berisi cerita-cerita personal Bu Vero plus klip-klip di mana dia memainkan cello.

Baca juga: Ahok, Kita Bukan Gading Kan?

Tentu saja BPT masih akan bertemu banyak hal sulit lainnya. Termasuk misalnya jika Veronica Tan menerima usul saya untuk bikin akun youtube dengan nama "Saya Tetap Veronica" itu, akan sangat mungkin Puput juga akan bikin dengan nama: "Aku Puput Situ Bisa Apa". Artinya, tiga kelompok 'garis keras' di atas hanyalah contoh dari sekian banyak kesulitan yang mungkin akan dihadapi BTP.

Saya merangkumnya dalam poin-poin, sebagai berikut:

  1. Mampukah Ahok benar-benar menjadi BTP tanpa sesekali menjadi Ahok lagi?
  2. Relakah kita kehilangan Ahok dan menerima BTP tanpa rasa prihatin?
  3. Apakah posisi Mario Teguh tidak akan terancam kalau BTP menjadi motivator?
  4. Apakah BTP memikirkan perasaan Mario Teguh?
  5. Apakah Ahok menjadi BTP akan semanis Madiba menjadi Nelson Mandela?
  6. Apakah BTP akan mesra dengan Ma'ru... ah, sudahlah, dan lain sebagainya.

Tetapi bagaimanapun, saya mengucapkan selamat jalan Ahok. Selamat datang BTP. Sesungguhnya saya bisa saja memberi penjelasan tetapi situasi bangsa ini sedang sulit, rakyat sedang… halaaah. Yang ini kalimat Pak SBY kan? Tu, kan. Belum apa-apa saya sudah keliru.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

0 Komentar:

Post a Comment