Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 2)

Di Lewotolok, ada ritual pesta kacang. Warisan leluhur ini dijaga sampai saat ini. Simak cerita Zafry Taran Lamataro di ranalino.id. Bagian kedua ini akan berisi penjelasan tentang tahapan-tahapan dalam Utan Wun Lolon.
utan wun lolon pesta kacang di lewotolok lembata
Salah satu bagian dalam Utan Wun Lolon di Kampung Adat Lewotolok | Foto: Dok. Zafry

Utan Wun Lolon, Ritual Pesta Kacang di Kampung Adat Lewotolok Lembata (Bagian 2)


Oleh: Zafry Taran Lamataro

Telah diceritakan pada bagian sebelumnya bahwa Utan wun lolon adalah ritual tahunan orang-orang Lewotolok. Ritual pesta kacang ini ini dilaksanakan setiap tahun, bisa pada awal bulan September atau minggu terakhir bulan September. Penentuan hari H ritual ini dilakukan oleh Kepala Suku Sabaleku berdasarkan perhitungan bulan Kabisat. Oleh masyarakat setempat, perhitungan bulan Kabisat ini disebut wulan lei tou, lei rua, dan seterusnya.

Adapun tahapan-tahapan Utan Wun Lolon adalah sebagai berikut:

Pertama: Luat Watan/Welu Wua Malu


Luat watan/welu wua malu adalah titik mula dari keseluruhan rangkaian ritual yang dilaksanakan oleh suku Sabaleku. Prosesnya berawal dari rumah adat Suku Sabaleku menuju watan wai wulan(sumur tua yang terletak di pinggir pantai desa Amakaka) dengan membawa sirih pinang yang di bungkus dalam daun lontar dan luba (kendi dari tanah liat tempat mengisi air).

Di watan wai wulan, anak gadis dari suku Sabaleku yang membawa luba menimba air dari sumur wai wulan, melarung sirih pinang yang dibawa dari rumah adat tersebut ke pantai, dan membawa pulang air dari sumur tadi ke rumah adat tanpa menoleh ke belakang. Ritual ini dilaksanakan pada pagi hari sebelum matahari terbit.

Kedua: Rekan Belait 


Rekan belait merupakan tahapan kedua, dilaksanakan keesokan harinya oleh dua suku besar yakni suku Sabaleku dan suku Langobelen. Rekan belait merupakan ritual potong nasi tumpeng adat yang dilakukan oleh anak perempuan dari kedua suku ini, belait tersebut disimpan di atas liwang (tempat menyimpan nasi tumpeng adat dari anyaman daun lontar) yang dikelilingi oleh beragam jenis buah.

Anak gadis kedua suku ini memotong belait dan memberikan kepada pihak Opulake untuk disantap di tempat yang oleh orang Lewotolok disebut koker. Pihak Opulake (om atau saudara laki-laki dari ibu anak gadis masing-masing kedua suku) menyediakan watek (kain tenun adat Lewotolok), baju dan perlengkapan lainnya untuk diberikan kepada anak gadis sebagai balasan dari belait tersebut.
Ritual ini juga memiliki makna mempererat tali persaudaraan antara Opulake dan Opuwae atau anak gadis yang memberi belait.Di bagian akhir upacara ini, sebagian belaitnya diantar ke rumah adat suku Lamataro untuk disantap sebagai bentuk penghargaan terhadap suku tuan tanah Lewotolok.

Ketiga: Haban Nakal


Upacara ini dilaksanakan pada hari ketiga oleh dua suku besar yakni suku Sabaleku dan suku Langoday. Haban nakal merupakan ritual pasar barter dari kedua suku ini. Suku Langoday menyediakan hasil kebun seperti, kelapa, pisang dan hasil lainnya sedangkan suku Sabaleku menyiapkan hasil laut seperti ikan yang sudah dikeringkan.

Pertemuan kedua suku ini terjadi di suatu tempat di sebelah timur dari lokasi kampung adat Lewotolok.Konon ajang ini dilakukan oleh anak muda dari dua suku untuk mencari jodoh.

Keempat: Lusi Pai atau Lusi Gere Lewo


Lusi pai atau lusi gere lewo dilakukan oleh suku Lamataro. Lusi sendiri merupakan benda pusaka suku Lamataro yang disimpan di rumah adat Lango Lusi. Lango lusi terletak di luar dari kampung adat Lewotolok, sehingga sebelum utan tak atau perayaan puncak pesta kacang, lusi tersebut diarak menuju kampung adat Lewotolok dengan diiringi bunyi-bunyian gong gendang serta tari-tarian.

Dalam perjalanan perarakan menuju kampung adat,ada tempat persinggahan yakni Rian Wao. Di sini sudah ada keluarga suku Lamataro lainnya yang menunggu. Rian Wao merupakan tempat tinggal suku Lamataro sebelum migrasi ke kampung adat Lewotolok.

Suku Lamataro dan Ladopurap merupakan suku tuan tana Lewotolok yang muncul dari puncak gunung Ile Lewotolok (tana tawa ekan gere) dan mendiami dataran sekitar puncak Ile Lewotolok, kemudian migrasi ke Rian Wao dan lanjut lagi ke kampung adat Lewotolok.

Sebelum lusi memasuki kampung diterima oleh suku Langobelen, sebagai belen lewo weran (penjaga sisi utara kampung adat Lewotolok) lanjut ke suku lewohokol, Langoday, Ladopurap dan perarakan terus berlanjut menuju ke rumah adat suku Lamataro.

Lusi dan orang-orang dari suku Lamataro diterima oleh beberapa suku ini memiliki makna penghargaan terhadap suku tuan tanah sekaligus suku yang memiliki peran yang cukup penting dalam rangkaian ritual ini, sehingga dalam peroses perarakan melewati rumah adat dari beberapa suku ini, ada penerimaan dalam bentuk suguhan tembakau dan sirih pinang (ta’an wua malu dan golo bako).

Di rumah adat suku Lamataro inilah lusi menetap selama peroses ritual utan wun lolon berlangsung dengan ditandai pemancangan ranting bambu dan diikat kain hitam sejenis benderadi depan rumah adat suku Lamataro.

Baca juga: Tarian Caci, Warisan Leluhur Manggarai

Perlu diketahui bahwa setiap kepala suku dalam rumpun kampung adat Lewotolok terlebih dahulu melakukan ritual adat tewu hode ama opo koda kewokot dan pao boe ama opo koda kewokot. Yang pertama merupakan ritual memanggil leluhur untuk hadir dalam rumah adat selama utan wun lolon berlangsung, sehingga diyakini semua kegiatan ritual tidak terlepas dari campur tangan leluhur.

Juga ada pao boe ina ama koda kewokot yakni ritual memberi makan leluhur berupa sesajen: sedikit nasi, ikan kering dan tuak(sejenis minuman keras, air hasil sadapan pohon lontar) yang ditempatkan di tiang kanan rumah adat (rie wanan) serta diberi penerangan pada malam hari dengan menyalakan padu. Padu merupakan sumber penerangan orang Lewotolok tempo dulu, dibuat dengan menumbuk biji damar dicampur kapas dan dililitkan pada sebilah bambu.

Kelima: Dorak Kedopel


Dorak kedopel merupakan ritual perburuan ayam di tiga kampung, yakni kampung Amakaka, Tanjung Batu dan Waowala. Hasil buruan akan dibakar dan disantap bersama kacang dan nasi di malam utan tak. Biasanya perburuan dilakukan oleh anak muda seluruh Lewotolok, dimulai dari ritual menangkap kedopel (ikan kecil di pinggir pantai yang biasanya melompat dari batu satu ke batu yang lainnya).
Kedopel hasil tangkapan itu kemudian dibungkus daun lontar dan digantung pada ranting bambu, diletakan di nuba (tempat yang dianggap sakral dan biasanya tempat kepala suku memberi sesajen kepada leluhur) dekat wai wulan.
Selanjutnya, ayam hasil perburuan tersebut dibawa ke kampung adat Lewotolok dan diserahkan ke rumah adat suku Lamataro. Dorak kedopel ini terjadi selama dua hari. Hari pertama dilakukan oleh suku Lamataro dan hari kedua dari suku Sabaleku.

Pada perburuan kali ini saya hanya bertugas mengumpulkan ayam-ayam yang ditangkap, sekitar enam puluhan ekor ayam hasil di hari pertama. Kata mereka, ini hasil perburuan yang lumayan banyak dibanding tahun sebelumnya.

Ini ritual yang unik. Dari sekian banyak ayam yang ditangkap tak ada satu pun warga Lewotolok, pemilik ayam, yang marah. Mereka meyakini bahwa satu atau dua ekor yang diberikan kepada leluhur dan ribu ratu Lewotolok maka ayam-ayam mereka akan bertambah banyak nantinya.

Keenam: Pao Nuba Lewo Weran dan Lewo Lein


Ritual ini dilaksanakan pada malam hari sesaat sebelum kegiatan makan kacang yang dilakukan oleh kepala suku Lamataro. Pao nuba berarti memberi sesajen pada tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral. Biasanya ditandai dengan tumpukan atau susunan batu. Lewo weran artinya sisi utara kampung dan lewo lein adalalah sisi selatan kampung. Kedua nuba ini dipercaya menjaga kampung Lewotolok dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

Ketujuh: Utan Tak


Ritual ini merupakan ritual puncak dari serangkaian ritual yang ada. Terjadi pada malam hari, dimulai dari sekitar pukul 18.00. Yang memasak kacang, nasi, dan minyak kelapa adalah winay atau suami dari saudari perempuan dalam suku, dan ditentukan melalui peroses yang unik.

Masing-masing suku memiliki winay untuk memasak kacang dan nasi. Winay dari suku Lamataro menghidupkan api dengan cara menggesekan dua bilah bambu sampai api hidup. Proses ini oleh orang Lewotolok disebut geheng knehek.

Geheng knehek berjalan dengan lancar apabila semua orang dalam suku memiliki ketulusan hati dan kesamaan pikiran. Apabila ada perselisihan maka walaupun asap terus keluar dari bilah bambu, api tidak akan cepat menyala. Setelah api di tungku utama dihidupkan maka tetua dari suku Lamataro memberitahu kepada orangtua dari suku Ladopurap dan Langoday untuk mengambil api guna memasak kacang dan nasi yang nantinya akan disantap bersama di rumah adat masing-masing.

Suku Langobelen dan Lewohokol mengambil api di tungku utama suku Sabaleku melalui proses geheng knehek yang sama. Winay dari masing-masing suku juga melakukan proses itu di rumah adat masing-masing untuk memasak minyak kelapa yang nantinya digunakan untuk proses haru dulat (pembersihan diri).

Baca juga: Ora, The Living Legend di Sail Komodo 2013

Sebagai gambaran, ayam hasil dorak kedopel dibakar di dua rumah adat yakni Lamataro dan Sabaleku, yang nantinya akan dibagikan untuk disantap bersama kacang dan nasi di rumah adat masing-masing. Untuk suku Ladopurap dan Langoday mengambil ayam dan nasi di rumah adat suku Lamataro sedangkan suku Langobelen dan Lewohokol di rumah adat suku Sabaleku.

Setiap laki-laki Lewotolok yang menyantap kacang malam itu wajib menyebut nama anggota keluarga laki-laki yang tidak sempat hadir dalam ritual utan wun lolon ini sehingga bagiannya pun ikut dibagikan secara simbolis. Akhir dari proses ini dengan diskusi bersama di rumah adat masing-masing.

Kedelapan: Uwe Tak


Proses ini merupakan lanjutan utan tak. Kalau utan tak untuk kaum laki-laki maka sekarang giliran kaum perempuan. Uwe tak ini dilaksanakan pagi-pagi sekali keesokan harinya dengan membakar ubi yang nantinya disantap bersama dengan ikan kering yang dibakar. Proses ini dilaksanakan di masing-masing rumah adat.

Kesembilan: Nawo Lusi


Ritual ini dilaksanakan oleh suku Lamataro. Jika sebelumnya lusi di arak masuk ke kampung Lewotolok dan menetap di rumah adat suku Lamataro maka kini diantar kembali ke lango lusi diringi bunyi-bunyian gong gendang.

Kesepuluh: Nawo Dopeng Ama Opo Koda Kewokot


Ritual ini dilakukan oleh masing-masing kepala suku. Pada ritus ini, leluhur yang sebelumnya dipanggil untuk datang ke rumah adat, diantar kembali ke alamnya yang oleh orang Lewotolok disebu wokot dengan melakukan peket ehang (menggantung anak ayam pada ranting bambu dan dipasang di depan rumah adat). Dengan selesainya ritual ini maka berakhir pula rangkaian ritual utan wun lolon di kampung adat Lewotolok. (Selesai)

Zafry Taran Lamataro |

Nama lengkapnya adalah Siprianus Taran Lamataro. Putra Lewotolok, sekarang menetap di Kota Kupang. Zafry mengelola blog lamatarotaran.blogspot.com.

Kirim cerita-cerita menarik seputar ritus adat di tempat Anda ke: armin.ranalino@gmail.com.

0 Komentar:

Post a Comment