Spiritualitas "Beri Abis", Renungan Adven Minggu Terakhir

Maria menjadi besar bukan karena dirinya sendiri tetapi karena Yesus Kristus Puteranya. 
spiritualitas beri abis renungan adven minggu terakhir
Rm. Beben Gaguk

Spritualitas "Beri Abis", Renungan Adven Minggu Terakhir


Oleh: Rm. Beben Gaguk

Kita memasuki pekan terakhir dalam persiapan untuk merayakan natal. Bacaan-bacaan Kitab Suci perlahan-lahan namun pasti mengarahkan kita untuk masuk dalam peristiwa Natal. Pada Pekan Adven III yang baru saja dilewati, kita semua diajak untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan karena kasih dan kesetiaan Tuhan yang tiada batasnya bagi kita semua.
Kita sebagai manusia tidak setia, tetapi Tuhan setia adanya. 
Bacaan Injil pada Minggu IV Adven mengajak kita untuk mengarahkan perhatian pada Bunda Maria.

Maria, Dia yang Terberkati


Lukas 1:39-45 mengisahkan kunjungan Maria yang sedang hamil muda ke Elisabeth, yang sduah enam bulan mengandungYohanes Pembaptis. Ketika tiba di rumah Zakaria, Maria menyalami Elisabeth. Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan dalam rahim Elisabeth ibundanya.

Pengalaman sukacita Yohanes ini bersama Roh Kudus yang memenuhinya membuat Elisabeth mengidungkan madah ini: “Diberkatilah Engkau di antara para perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialahia yang telah percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana.” (Luk 1:42-45).

Kisah kunjungan Bunda Maria memiliki makna yang sangat mendalam. Elisabeth mengakui Yesus di dalam rahim Maria sebagai Mesias dengan berkata, “Ibu Tuhanku”.  Bukan hanya Elisabeth sekeluarga yang mengakui Yesus sebagai Anak Maria tetapi kita semua saat ini juga percaya dan menerima Yesus sebagai Anak Bunda Maria.

Bunda Maria merupakan perempuan yang terberkati. Ia memainkan peranan yang sangat penting di dalam sejarah keselamatan. Ia melahiran Yesus, ibu Tuhan! Maria menjadi besar bukan karena dirinya sendiri tetapi karena Yesus Kristus Puteranya.

Dalam bacaan pertama Mikha menganggap Yerusalem sebagai kota yang tidak dikenal tetapi akan muncul seorang pemimpin yang kuat; demikian Bunda Maria juga seorang wanita sederhana akan melahirkan Yesus, Sang Penyelamat Dunia.
Hal terpenting dalam diri Maria dan menjadi segala-galanya adalah bahwa dia percaya! Maria adalah orang percaya. Elisabeth menyapa Maria sebagai “Bahagia” bukan karena Maria adalah ibu Yesus,  tetapi karena Maria percaya pada Sabda Allah. 
Elisabeth penuh dengan Roh Kudus maka ia juga tidak mengatakan berbahagialah “engkau” (hanya Maria) yang telah percaya melainkan “berbahagialah ia (saat ini kita semua) yang telah percaya”. Berbahagialah semua orang, anda dan saya, yang percaya kepada Tuhan dan SabdaNya.

Maria dan Spiritualitas “Beri Abis”


Menjadi pengikut Kristus adalah panggilan kepada sebuah pelayanan. Seorang pengikut dipanggil untuk melayani sesama, yang terpatri secara jelas dalam tritugas imamat: sebagai imam, nabi dan raja. Tugas pelayanan bersifat universal yang menyapa, merangkum, dan menyelamatkan  manusia dan budayanya.

Sebuah pelayanan yang menuntut komitmen dan dedikasi kepada Allah yang mencipta, penyelenggara dan teristimewa yang memanggil kita untuk menjadi rekan kerjaNya di dunia.

Melalui pelayanan ini, kita diikutsertakan dalam “tender proyek” keselamatan bersama Allah. Tugas pelayanan ini pada akhirnya mesti bermuara pada satu misi: Kerajaan Allah semakin menyata di dunia ini.

Menghidupi sebuah tugas pelayanan membutuhkan spiritualitas. Spiritualitas menjadi roh atau spirit yang memdorong dan memotivasi kita menjalankan sebuah misi pelayanan. Spiritualitas menjadi semacam elan vital yang menggerakkan kehendak dan kemauan kita untuk menjalankan sebuah tugas atau pekerjaan. Spiritualitas menjadi sebuah conditio sine qua non, karena spiritualitas menjamin pelayanan kita untuk selalu “dilahirkan dari atas” dan bukan lahir dari ambisi, cita-cita, pertimbangan dan kepuasan duniawi semata.

Baca juga: Natal di Ruteng, Tenda Kampung Cahaya, dan Pohon Natal Media Sosial

Spiritualitas pun memungkinkan kita tidak terjebak dalam sikap aktivisme belaka: berbuat sesuatu hanya sebagai formalitas tanpa makna, tanpa kesadaran, tanpa masa depan dan yang terjadi hanyalah bayang-bayang. Kita butuh spiritualitas, agar tugas pelayanan kita menjadi bermakna, berjiwa dan pebuh arti.

Maria telah menghidupi sebuah model spiritualitas dalam tugas panggilannya di muka bumi ini. Ia telah menyangkali “dirinya” untuk sebuah rencana Allah. Kehidupan Maria menunjukkan pemberian diri yang total bagi karya Allah. Maria rela menginggalkan pertimbangan manusiawinya untuk mengikuti kehendak Allah. Ia  melepaskan masa muda yang indah untuk segera “bergegas” menjadi seorang ibu.

Menjadi ibu dari seorang bayi tanpa kehadiran seorang ayah. Bagaimana mungkin?

Maria memberikan seluruh dirinya bagi proyek keselamatan Allah: membimbing Yesus hingga semakin besar dan dicintai oleh Allah dan sesama. Ia senantiasa hadir kemana saja puteraNya pergi. Sejak kehilangan di Yerusalem,  hingga sang Putera menghembuskan nafasnya yang terakhir di puncak Golgota.

Maria pun tetap setia di bawah kaki Puteranya, menemani sang Putera melepaskan tubuh fanaNya di dunia, sebelum bangkit menuju surga, bertahta bersama Sang Khalik. Maria menghidupi sebuah spiritualitas penyangkalan diri dan pemberian diri yang total bagi Allah dan sesama. Sebuah spiritualitas Beri Abis.

Model spiritualitas Maria merupakan sebuah tuntutan teramat signifikan bagi setiap kita, apa pun model dan bentuk pelayanan kita. Sebuah tugas pelayanan mengharuskan kita untuk rela meninggalkan kepentingan diri, ”menyangkal diri”, dan menyapa orang-orang yang merindukan rahmat keselamatan Allah.

Pemberian diri yang total menuntut kita untuk meruntuhkan tembok kedegilan hati yang egois, meluruskan proyek-proyek pribadi yang bengkok, menjernihkan aneka ambisi dan motivasi yang dangkal dan membuyarkan jumputan mimpi dan harapan yang hampa dan menggoda.
Pemberian diri yang total ini pada gilirannya memungkinkan kita untuk membuka diri terhadap orang lain. 
Artinya, ada ruang dalam diri untuk orang lain. Ada hati untuk mencinta. Ada mata untuk melihat. Ada kepekaan untuk merasa. Ada kata untuk menyapa. Dan ada tangan untuk merangkul. Dengan demikian, pelayanan kita menjadi sebuah pengabdian, tanpa ongkos, untuk Tuhan dan Sesama. (*)

Rm. Beben Gaguk |
Imam Projo asal Keuskupan Ruteng. Kini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Jerman. Penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung”.

0 Komentar:

Post a Comment