Senandika Bob Itok - Elegi Anamnesis

Selain memproduksi konten-konten menarik untuk kanal youtube-nya, Bob Itok kini menyiapkan buku kumpulan senandika. "Elegi Anamnesis" adalah salah satu senandika di buku terbarunya itu.
senandika bob itok elegi anamnesis
Bob Itok

Senandika Bob Itok - Elegi Anamnesis


Oleh: Bob Itok

Bola matamu tempat yang paling sejuk untukku berteduh,
pelukmu tempat yang paling nyaman untukku bersembunyi dari kesunyian,
tawamu adalah alasan mengapa aku sebahagia itu.

Bila atas kehilanganmu aku sejatuh ini,
biarkan aku berteduh dalam diam,
dalam labirin yang menguatkan lewat angan-angan.

Tak mungkin lagi menjadikanmu kekasih,
aku bukan cemburu, bukan aku mengejarmu, 
menjadikanmu bagian dari lamunanku adalah sebuah kebiasaan.

Aku teringat pada lembut lingkar tanganmu yang memeluk pinggangku di perjalanan senja itu. Kadang tangan itu bergerak bebas. Semakin nakal dengan mencubit lenganku, memukul pelan kepalaku dari belakang, juga menunjuk ke sudut-sudut jalan sambil kita berdebat ke mana kita akan berhenti. Kalau memang berpaling itu dilarang, baiklah aku berkata jujur sekarang, pada saat-saat denganmu yang kudambakan hanya melangkah. Ke mana saja, asal bersamamu aku tak akan kehilangan arah. 

Lalu tiba-tiba rengekanmu membuyarkan lamunan dan kita memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan, sembari menghitung daun-daun gugur dan menikmati kepak sayap burung pada langit senja di bawah lampu kota yang sebentar lagi dengan malu-malu menampakkan cahayanya. Kita terbiasa mengabadikan kenangan lewat gambar yang direkam lensa kamera.

Malam pun kembali menyembunyikan bintang, menandai kau sebagai satu-satunya pusat terang. Menyala di hatiku, hangatnya mencairkan rindu yang lama membeku. Mengulang semua celotehmu di kedai kopi tempat biasa kita berjumpa. Aku suka mendengar sayup nyanyianmu yang membuatku tetap terjaga saat kita membelah bising jalanan. Kemudian kau kembali mencubit lenganku berulang kali, memencet hidungku, dan menatap tajam kedua mataku untuk menyampaikan pesan jangan lagi terlambat menjemputmu saat pulang sekolah. Aku tidak tahu harus membalas dengan apa, cuma bisa tertawa menanggapi ketusmu itu, lucu. Sepertinya di hadapanku kau memang butuh dimanja. Dengan tingkah manja yang kekanak-kanakan, kau selalu saja menggemaskan.

Pada diam yang sengaja disembunyikan dengan senyum simpul di hadapanmu, saat-saat tertentu kau seolah bukan saja kuposisikan sebagai kekasih. Kau adalah adik perempuan yang patut dijaga, dicubit saat salah bertingkah, dielus saat ingin dimanja. Dipeluk saat kedinginan sambil memberi kecup-kecup lambat di pinggiran keningmu. 


Entah mengapa aku selalu suka melihatmu cemberut. Kau jadi lebih lepas bercerita tentang banyak hal, diselipi tawa yang memenuhi ruangan, kau adalah ratu yang setiap tingkah lakunya selalu kuterima menetap di singgasana. Sebelum akhirnya aku tersadar pipimu yang menggembung saat cemberut itu kini sudah mendarat di telapak tangan yang baru. Aku menulis kisah ini sebagai ucapan selamat atas rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. Terima kasih sudah memberiku ingatan pada setiap kenangan terbaik di masa itu, dan semoga di peluknya kelak kau tetap bisa berbagi kisah.

Aku yang jarang peduli dengan lampu lalu lintas, walau nyalanya merah pertanda kita berhenti, namun aku lupa tak sadarkan diri untuk bersabar menanti warna hijau membias. Bayangkan! Sebodoh itu aku di jalanan, lantas kau di benakku selalu terlintas. Jelas-jelas kau melingkar peluk dari belakangku, namun alur pikirku jauh membayangkan bagaimana perjalanan kita saat senja bersama anak-anak nanti.

Beberapa orang, termasuk aku, sangat sulit untuk bisa bangun pagi. Terutama karena kebiasaan begadang nestapa, semacam tak bisa tidur akibat memikirkan orang yang sekalipun tak peduli akan perasaanku sendiri, hidup tak teratur, hati kian tersungkur. Yang paling menyebalkan adalah begitu bangun tersadar telah terlewatkan banyak hal. Entah itu dari berita, kabar-kabar tetangga, terutama dari kamu; apa kamu baik-baik saja? Sebab aku sedari tadi mencari senyummu dari telaga hati, memahat atap atas rinduku yang deras meluap meminta kau kembali. Kini yang menemani malamku hanya ada selimut yang pernah bersama kita pakai. 

Hangat begitu lembut, persis pelukanmu saat hatiku dilanda kalut. Yang masih menggigil hanyalah rasa cemas, terutama saat rinduku ini tak kau balas. Jadi sekarang aku tidak harus bertanya lagi tentang kapan kau beri aku kepastian, sampai saat ini aku telah lelah menanti saat semuanya telah kudengar dari seberang jauh bahwa baru-baru ini dengan yang lain kau mulai membuka hati.  Atau jangan-jangan perpisahan kita ini sejak lama kau sudah menunggu, karena pagi kita terbagi berbeda waktu? Bagaimanapun itu percayalah, walau aku bangun kesiangan, kau pernah kujadikan kesayangan. 

Kau selalu bisa menghalang lamunanku di saat-saat kita bertemu pada waktu melanjutkan perbincangan ke akun media sosial milikmu yang sudah lapuk itu, kadang kurang aesthetic, dan tone yang tidak folk sama sekali. Kau mengeluh berulang kali, aku diam karena kau cantik sekali. Gurat mukamu selalu mengombak imut di saat-saat seperti ini, telapak jemariku langsung merupa papan selancar untuk beraksi. Tiba-tiba kau berteriak, "aghh...!!" gerak modusku langsung rusak. Internet membuatmu lebih dulu berselancar untuk mencari tahu tempat-tempat indah yang masih alami dan setiap sudutnya bisa membentuk keteduhan, syukur-syukur ada kabutnya, jadi kain tenun pemberian yang kubawa dari Flores itu bisa kau pakai untuk menyelimuti tubuh sambil bergaya. 

Ternyata begitu banyak pasang mata yang menyaksikan senyummu di sana, di antara mereka ada aku salah satunya. Dengan mereka selalu saja kau disanjung, aku terus yang tersandung. Jatuh terjerembab yang meremukkan tulang-tulangku hingga merindukanmu menjadikan aku sebagai kelumpuhan yang paling liar di kepalaku. Berkelana bersama imajinasi, menjadikanmu inspirasi atas tulisan yang panjang lebar di beranda mediaku sendiri. Kau satu-satunya sosok perempuan yang pernah membuatku patah hati dan hingga begitu mengalir derasnya kekecewaan yang menyalakan bara cemburu sejauh ini. 

Pokoknya siapa pun kau sekarang, apa pun panggilan yang diberikan suamimu sekarang, di hatiku ada kau yang pernah kujadikan paling tersayang. Berbahagialah dengan pasanganmu, biar aku sendiri yang mengurus kesepianku. 
Pada waktunya rindu datang menghantam kepalamu dengan tiba-tiba kau akan paham bahwa pertengkaran-pertengkaran kecil itu yang membuatmu mengerti arti dari kerinduan. Perlahan kau akan sadar seiring bergulirnya waktu, bahwa bertahan dalam rindu membuatmu kuat dan sabar untuk menunggu untuk bertemu. Kau tetap tabah. Kau tetap sabar. Oleh jalan yang kupilih kini kau akan lebih kuat dari Dilan dan Milea sebab mereka terlalu lemah untuk menahan rindu untuk dipertemukan kembali, dan kau merindukan kenangan yang tak akan bisa kau kunjungi dengan mengulanginya kembali.

Sekarang aku di jalan yang paling sunyi, berkelana sendiri. Kau tahu, aku pemuda yang suka berpetualang. Mimpi-mimpiku terwujud di setiap jejakku. Memang, kau agak cemas tentang bahagia kita nanti. Karena mantanmu pekerja nyata, dan aku hanya pejalan yang merangkai dua hal yaitu mimpi dan nyata yang kadang tak sejalan.

Mungkin menulis bagimu, adalah aktivitas membosankan. Tapi bagiku itu adalah pekerjaan. Menghasilkan uang yang bisa membelikan kado di saat ulang tahunmu. Setelah aku pulang nanti, apa yang kau mau untuk kubawakan kepadamu? Jangan malu. Katakan. Di sini tersimpan banyak hal yang menjadi oleh-oleh sebagai kenangan sebelum aku tidak bisa lagi memberikanmu sesuatu, sebelum kau benar-benar jatuh pada pelukannya. Dan kemudian pada suatu saat nanti, kau akan dikunjungi oleh setiap barisan puisi.Tersaji di cangkir pertemuan dan selalu tak kau hindari dengan pekat aroma kopi yang akan kau datangi. Lalu di perapian kau mulai terbakar oleh bara selir penantian. Lalu kita bergantian saling merindukan, sekarang masih bagianku, saat itu akan menjadi bagianmu. Sakitnya sama; menyiksa batin sebab tak akan ada lagi pertemuan setelahnya.

Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahkuyang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja kita hanya bisa kembali teringat pada sebuah kelapa muda yang dicampuri susu dan es sebagai menu membuka segala perbincangan, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.

Kubiarkan diriku memaku di tengah belantara, menatap kenangan pada pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu masih berbekas. Apa kabar kau di sana? Semoga baik-baik saja dengan orang-orang di sekitarmu yang tak pernah kukenali. Aku tidak cemburu, aku hanya ingin memastikan doaku tentang kebahagiaanmu itu. (*)

Bob Itok |
Selain menulis buku puisi "Viabel Nostrum", Bob Itok juga menekuni stand-up comedy, mengelola akun Youtube-nya sendiri. Klik tautan ini untuk melihat konten-konten menariknya di youtube.

Catatan:
Senandika/se·nan·di·ka/ n wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

5 comments:

  1. 👍👍Kecup kening nana Itok. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mekas, salam damai Natal. Apa kabar? Terima kasih sudah berkenan membaca. Pilihan tepat kecup kening, kalau kecup pipi, brewok sudah hambur di sini e Guru Muda. Ahahhaa

      Delete
  2. Terima kasih, Ichan Lagur. Tabe.

    ReplyDelete
  3. Makasih, Kak Suster. Hehehe. Jadi pesan bukunya? Hahahah

    ReplyDelete