Kritikus Bukan "Haters", Jangan Pakai Dua Jawaban Ini

Bob Itok menulis pendapatnya tentang reaksi yang perlu agar kritik dapat dipakai sebagai senjata memperbaiki diri dan karya. Selamat menikmati!
kritikus bukan haters jangan pakai dua jawaban ini
Bob Itok

Kritikus Bukan "Haters", Jangan Pakai Dua Jawaban Ini


Oleh: Bob Itok

Apakah yang memberi kritikan layak dilabeli "haters"? Kritik, sebuah kata yang membuat jeri sebagian orang, terutama yang berkarya untuk publik. 

Harus diakui, menerima kritik dengan lapang dada itu butuh proses. Saat awal kita belajar menghasilkan karya, kritik terasa begitu menyakitkan. Saya sudah bikin cape-cape, eh malah dihina-hina. Jahat sekali. Begitu kira-kira perasaan orang yang dikritik. 

Tapi lambat laun, saya mulai merasa kritik itu penting. Dan kalau berbicara dalam hal begini biar dianggap terkesan sportif atau legowo, tidak sebegitunya juga. I seriously embrace critics

Menurut saya kritikus ada dua macam. Kritikus biasa dan kritikus pasar.

Kritikus Biasa

Ini adalah tipe kritikus pada umumnya. Argumen dalam kritikan mereka biasanya substansial dan lugas. Kritikus ini mencakup kritik populer yang ditujukan untuk konsumsi umum, kritik jurnalis yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. 

Juga ada kritik keilmuan, bersifat akademis dengan wawasan dan keilmuan yang luas serta kepakarannya telah teruji dalam sebuah karya yang menjadi objek sasaran kritik tersebut, dan kritik kependidikan yang biasanya diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar di sekolah dengan referensi buku-buku atau dokumentasi yang akurat. 

Kritikus Pasar 

Istilah ' Kritikus Pasar' ini disematkan pada kritikus yang mengkritik sudah bukan pada substansinya saja, melainkan sudah melancarkan serangan yang bersifat pribadi. Ciri-ciri kritik seperti ini biasanya dipenuhi istilah-istilah yang bombastis dengan tujuan memberi hinaan semaksimal mungkin. Sehingga seolah-olah mengajak kita untuk berpikir bahwa dia seakan iri dan tidak menyukai kita dalam berkarya.  

Bisa saja ia mengkritik karena merasa dikalahkan atau disaingi. 

Baca juga: Membedakan Kritik dan Ungkapan Sakit Hati Bertopeng Kritikan

Lantas, apakah yang 'pasar' ini tidak perlu kita dengar? Tidak juga. Justru mereka perlu ada, agar warna kita dalam berkarya lebih nampak dengan kehadiran tanpa mengenyampingkan kritikus tipe pertama tadi. Sebab dari kritikus dengan lidah paling tajam sekalipun, hampir selalu ada kebenaran yang bisa dijadikan pelajaran. 

Hanya saja butuh kedewasaan ekstra. Ibaratnya, ini menu kritik yang disajikan panas dari penggorengan. Butuh kesabaran sebelum menyantap. Tetapi tetap tidak mengurangi esensinya sebagai hidangan yang bergizi. 

Dan, karena memang butuh kematangan untuk menerima kritik, sebagian orang menghadapi kritik dengan pose defensif. Ada pembelaan yang biasanya dilancarkan. Meski saya sendiri seniman (penulis) atau bukan, saya mau membahas betapa pembelaan-pembelaan semacam itu bukan hanya tidak valid, tapi juga memupuk pola pikir yang salah.

Kritikus Bukan "Haters" 


Tentang reaksi atas kritik, berikut adalah dua pembelaan paling umum yang sering kita dengar.

Pembelaan Pertama: “Ah bisanya menghina saja, kamu bisa bikin lebih bagus dari yang saya bikin, tidak?” Dengan logika seperti ini, berarti kalo saya makan kompiang dan protes karena saya tidak suka dengan isi dagingnya, maka saya harus bisa bikin kompiang tandingan? Ribet amat

Pembelaan Kedua: “Hargai sedikit kah. Saya sudah bikin cape-cape, yang ada bisamu menghina...!” Again, mari kita pake analogi kompiang. Ini sama saja protes bahwa daging di kompiang saya alot, lalu orang Manggarai yang menjualnya menjawab: “Eh, hargai sedikit kah! Ko tir tau kah? Sa bikin kompiang itu semalaman!”

Relevan? Tidak. Audiens itu menilai berdasarkan hasil, bukan usaha. Untuk memaksa mereka mempertimbangkan faktor usaha ke dalam penilaian adalah sesuatu yang egois dan salah kaprah. 

Lalu, apakah yang boleh mengkritik hanya kritikus? Tidak juga. Bagi saya, semua orang yang sudah meluangkan waktu dan atau uang untuk menikmati karya kita, 100% berhak untuk omong apa pun, tanpa harus dilabeli haters, tanpa perlu dihakimi seleranya.
Yang selanjutnya dibutuhkan adalah kemampuan memilah, mana omongan yang perlu dijadikan masukan dan mana yang tidak. Kita tidak berhak mengurangi hak orang untuk berkomentar dengan bebas. 
Bagaimana dengan para pemula (dalam hal ini penulis) yang belajar berkarya, sungguh-sungguh ingin berkarya? Kembali pada pernyataan saya di awal bahwa menerima kritik dengan lapang dada itu butuh proses. Sama seperti seorang anak kampung yang ingin belajar mengemudi sepeda motor, tentu ada bagian-bagian tubuh yang mau tidak mau harus mau diterima bila lecet. Tulang kering, kuku jungkit sedikit bahkan hingga terlepas, gigi patah, betis kena cap dari kenalpot. 

Ketika dia menghargai proses dan mau belajar dengan sungguh-sungguh (juga lebih hati-hati) maka bukan tidak mungkin dia akan bisa menguasai jalur tikungan Kaju Ala, Rana Mese, dan lintas dalam kota di Flores, misalnya. 

Baca juga: Orang Cerdas itu Mendengar dengan Baik

Kritikan-kritikan yang tidak lari jauh seperti contoh di atas layak diterima oleh para pemula dalam karyanya. 

Yang sudah pakar dalam bidangnya sekalipun, tidak luput dari kritikan. Secara manusiawi kadang hati terluka, namun jika sungguh-sungguh mau berkarya dengan sungguh, menerima dan belajar dari kritikan yang datang menyerang, bisa membuat kita lebih hebat di masa yang akan datang. 

Seorang kritikus tidak dilahirkan untuk menghasilkan sebuah karya. Namun dengan kritiknya seorang kritikus menjadikan sebuah karya menjadi mahakarya. Kritikus mengajarkan bahwa kritik lebih berharga dibanding  pujian. 

Ketika dipuji, kita puas dan dengan penuh rasa bangga lalu nyaman berjalan di tempat. Sedangkan kritik sebaliknya. Pedasnya membuat kita mundur selangkah untuk ancang-ancang dengan persiapan yang lebih matang maju seribu langkah. 

Dalam berkarya juga kita sering dihadapkan pada dua opsi. Dikritik atau dipuji. Kritik bisa membuat kita kuat juga bisa mengakibatkan kita jengah. Dipuji, tanpa kita sadari membuat kita nyaman dan tidak ingin belajar. 

Acapkali pujian membuat kita tersanjung lalu tersandung hingga jatuh terjerembab. Dan ada juga orang-orang di sekitar yang mengapresiasi karya kita hanya karena dengan label teman, saudara, kenalan, keluarga, hendak mengkritik namun segan. Takut kita kecewa dan patah semangat. Bahkan mereka pun menikmati karya kita dengan cuma-cuma tanpa memberi masukan lain selain memuji. 

Tibalah saatnya kita pada posisi bahwa orang-orang menikmati karya kita bukan karena hasil karyanya tetapi karena siapa yang berkarya. Bukan karena kualitas karya yang dihasilkan tetapi karena kita telah menghasilkan sebuah karya. Nyamankah kita pada posisi ini? Bagi saya, tidak. 

Orang-orang yang menikmati karya Albert Camus bukan karena mereka berasal dari Perancis Algeria. Para penganut ilmu fisika mempelajari teori relativitas milik Albert Einstein (yang dalam gambarnya terlihat jarang mandi dan jarang sisir rambut) itu, bukan karena Einstein nenek moyang atau keluarga mereka. Karya-karya dari orang-orang besar di dunia ini dinikmati karena kualitasnya, bukan karena siapa pengarangnya. 

Akhir kata, buat teman-teman yang berkarya, ingat ini baik-baik: kritik itu ibarat obat. Rasanya pahit, tapi berkhasiat dan menyembuhkan. Menyembuhkan kita dari penyakit malas untuk belajar dan berkarya lebih baik. Jadi jikalau mau lebih kuat, jangan jauhi obatnya. Tapi latih dirimu supaya kuat minum lebih banyak obat saat sadar ada penyakit yang menyerang. Jangan banyak protes tapi hargai proses. Kita punya kewajiban memilah setiap penilaian.

Bob Itok |
Sedang menyiapkan buku Kumpulan Senandika, bukunya yang kedua setelah buku puisi "Viabel Nostrum". Puisi-puisinya juga dapat dinikmati di kanal Youtube "Bob Itok".

Anda bisa bergabung di ranalino.id dengan mengirim catatan-catatan menarik via surel: armin.ranalino@gmail.com.

0 Komentar:

Post a Comment