Keruntuhan Dunia dan Merawat Kesadaran, Renungan Adven Minggu Pertama

Romo Beben Gaguk mengisi ranalino.id dengan catatan renungan. Di bagian pertama ini, pastor asal Karot - Ruteng ini berbagi cerita tentang Adven: Keruntuhan Dunia dan Merawat Kesadaran.
keruntuhan dunia dan merawat kesadaran, renungan adven minggu pertama
Rm. Beben Gaguk

Keruntuhan Dunia dan Merawat Kesadaran, Renungan Adven Minggu Pertama


Oleh: Rm. Beben Gaguk
Adven, Adven, satu per satu lilinnya akan dinyalakan! Yang pertama, kedua, ketiga, lalu keempat. Dan bayi Yesus mengetuk di depan pintu. Adakah cintamu tetap bernyala, untuk sekedar menghangatkan lampin dan jerami yang mengelilinginya? 
Demikian sebuah sajak sajak anak-anak untuk masa Adven.

Adven dan Adventskranz


Gereja Katolik sudah dan sedang memasuki Masa Adven. Selama masa Adven ini, Gereja mempersiapkan diri menyambut kehadiran sang Juru Selamat. Kata Adven sendiri berasal dari kata Adventus (bahasa Latin) yang artinya kedatangan. Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan GerejaNya dan selalu hadir di tengah-tengah umatNya.

Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiranNya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatanganNya kembali di akhir zaman. Itu berarti, Adven harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang, dan di waktu yang akan datang .

Di hadapan kita ada lingkaran atau korona Adven yang terbuat dari daun-daun segar. Orang Jerman menyebutnya Adventskranz. Korona Adven berbentuk lingkaran, tanpa ujung dan pangkal, tanpa awal dan akhir, melambangkan Tuhan yang abadi.  Empat batang lilin diletakkan sekeliling lingkaran Adven, tiga berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda.

Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal.

Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya lingkaran Adven ini, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba.

Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu), dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih—masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Adven dan Gambaran Kekacauan Dunia


Lukas membuka masa Adven ini dengan penggambaran akhir dunia yang mendebarkan. Tanda-tanda akan terlihat pada matahari, bulan, dan bintang-bintang, dan di bumi diliputi oleh orang-orang yang kecewa dan bingung.

Situasi yang digambarkan oleh Lukas ini tentu berbanding terbalik dengan atmosfer Adven yang benar-benar kita alami; pohon Natal yang menghiasi seluruh sudut kota, lampu yang berkelap-kelip di pagar-pagar rumah, lagu-lagu Natal yang mengalun indah di rumah dan pusat perbelanjaan, dan juga pasar Natal dengan aroma khas Gl├╝hwein, semacam sopi yang dihangatkan, yang senantiasa menggoda selera.

Lalu mengapa Lukas justru menghadirkan kisah yang menakutkan itu di masa yang penuh sukacita dan berahmat ini?

Baca juga: Bougenville pada Sebuah Perjalanan

Lukas menceritakan segala peristiwa yang mungkin terjadi di dunia yang fana ini. Bahwa di bawah matahari tak, ada sesuatupun yang kekal dan abadi. Penderitaan dan kemelaratan, tangisan dan duka air mata adalah sisi lain yang bisa selalu muncul di tengah kemajuan dan perkembangan peradaban yang semakin pongah.

Dunia, dengan segala hiruk-pikuknya, tidak cukup memiliki “kapasitas” untuk menolong dirinya sendiri. Maka kepada yang rapuh dan tak kekal, dan dangkal dan bukanlah hal yang patut, kepadanya digantungkan harapan dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan dasariah tentang kehidupan.

Lantas Kepada Siapa?

Lukas menerapkan gelagat kosmik mengenai akhir zaman (Luk. 21:25-26; yang diambil dari Mrk. 13:24-27) kepada peristiwa dihancurkannya kota Yerusalem pada tahun 70 oleh tentara Titus yang datang menumpas pemberontakan orang Yahudi. Runtuhnya Yerusalem diungkapkan dalam Lukas 21:20-24. Orang yang mengalami bencana itu dikatakan “akan melihat Anak manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya” (Luk. 21:27).

Maksudnya, orang akan teringat akan Daniel 7:13, yang intinya menunjukkan bahwa kekuatan jahat sudah dipunahkan Tuhan dan kini Anak Manusia, yakni Yesus, menerima kuasa atas seluruh alam semesta.

Bagi Lukas, kota Yerusalem dari zaman Perjanjian Lama sudah punah, seperti halnya kekuatan jahat yang dalam Daniel 7 digariskan punah karena terlalu dihuni oleh kekuatan-kekuatan jahat yang menolak kehadiran Yesus. Kehancuran Yerusalem oleh balatentara Romawi bagi Lukas menjadi penegasan dari kebenaran iman ini.

Tentu saja kota itu kemudian dibangun kembali pada zaman generasi kedua orang Kristiani. Tetapi bagi Lukas, Yerusalem ini sudah bukan lagi realitas fisik melainkan realitas iman, yakni Kota Suci tempat Yesus menyatakan siapa dirinya secara utuh ketika wafat dan bangkit.
Jadi bagi Lukas, yang paling penting dalam menghadapi prospek akhir zaman itu ialah keterbukaan kepada Tuhan yang mau menyertai manusia.
Maka kepada Yesus, yang adalah sang Juruselamat, kita mesti mengangkat muka dan menaruh harapan. Dia adalah jaminan akhir yang tak terbantahkan oleh karena cahaya keilahian yang ada padanya.

Bagaimana Kiamat?


Lukas menggambarkan kekacauan da keruntuhan tadi sebagai tanda akhir zaman atau lazim kita menyebutnya, kiamat. Lantas, kapankah itu?

Ajaran kristiani mengenai hari terakhir seperti terdapat dalam Kitab Suci, bukan ajaran yang menekankan kapan hari itu datang melainkan dua hal ini:

Pertama, orang Kristiani menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali (Parousia) yang akan mengajak orang-orang yang berkehendak baik dan percaya ikut serta ke dalam kebesarannya (Mrk. 13:24-32 dan paralelnya dalam Mat. dan Luk.). Hal ini adalah kepastian iman.

Kedua, mengenai penghakiman terakhir, yang ditekankan bukan perihal hukuman atau pahala, melainkan ajakan untuk mawas diri: apakah orang menghormati kemanusiaan, dan punya andil dalam meringankan penderitaan sesama, dan lain-lain, seperti dalam Mat 25:31-46. Kapan itu terjadi bukan urusan manusia, bukan urusan malaikat, bahkan Anak Manusia yang bakal datang dengan kebesarannya itu pun tidak tahu. Hanya Bapa, maksudnya Tuhan yang Maharahim, sajalah yang menentukan saatnya (Mrk 13:32).

Baca juga: Yang Paling Penting Bukanlah Mengetahui Yesus, Tetapi MengalamiNya

Namun yang dapat diketahui yakni bahwa dua peristiwa di atas itu benar-benar akan terjadi. Oleh karenanya orang diajak bersiap-siap. Caranya bukan dengan diam saja seumpama orang yang mendapat satu talenta, atau mendahului Tuhan seperti sekte-sekte hari kiamat, melainkan dengan ikut mengusahakan kemanusiaan yang makin cocok dengan martabat yang dimaui Pencipta: bertanggung jawab kepada sesama, membawakan wajah Tuhan yang Maharahim dan bukan Tuhan yang penghukum.

Advent sebagai Saat Merawat Kesadaran


Adven adalah saat untuk berhenti dan mereorientasi diri. Di tengah dunia yang memanjakan kita dengan lautan tawaran yang menggoda, bisa jadi kita kehilangan makna dan tidak tahu lagi ke mana kita mesti melangkah. Hidup akan menjadi seperti musafir yang kehilangan kompas, dan akhirnya tersesat dalam gurun kehidupan yang gersang.

Maka ajakan untuk berjaga-jaga di masa berahmat ini adalah panggilan untuk selalu menjadi sadar. Sadar untuk berada, sadar untuk mengambil keputusan, sadar untuk menentukan pilihan. (*)

Rm. Beben Gaguk |
Imam Projo asal Keuskupan Ruteng. Kini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Jerman. Penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung”.

2 comments:

  1. Terimakasih Romo, kesadaran akan makna adven yang sesungguhnya memang perlu diingatkan terus mmenerus. Apalagi untuk kami ibu- ibu yang hanyamemikirkan sembako dan kue natal serta kemeriahan yang bersifat komersial tiap kali mulai bulan Desember.

    ReplyDelete