Gnothi Seauton dan Redefinisi Diri, Renungan Adven Minggu Kedua

Pengenalan diri yang benar membawa Yohanes pada sikap rendah hati.
gnothi seauton dan redefinisi diri renungan adven minggu kedua
Rm. Beben Gaguk

Gnothi Seauton dan Redefinisi Diri, Renungan Adven Minggu Kedua


Oleh: Rm. Beben Gaguk

Dalam Lukas 3:1-6 dikisahkan bagaimana Yohanes Pembaptis mewartakan baptisan tobat. Petikan Injil ini dibacakan pada hari Minggu Adven II bersama dengan Barukh 5:1-9 yang menyerukan agar orang menanggalkan pakaian berkabung dan berbesar hati karena mereka akan dekat kembali dengan Allah.

Kedua bacaan ini berusaha meyakinkan orang agar tidak lagi hidup dalam kegelisahan kala menyongsong kedatangan Tuhan. Bila dalam Minggu Adven I tahun C kita diajak melihat kelahiran Yesus di Betlehem dengan teropong kedatangan Anak Manusia di akhir zaman, pada Minggu Adven II kita didorong melangkah maju, lebih lanjut dengan bantuan Yohanes Pembaptis.

Karena perannya sedemikian besar, marilah kita coba lebih mengenalnya.

Yohanes dan Warta Pertobatan


Kita tahu siapa Yohanes. Dia adalah putra tunggal pasangan lansia, Zakharia dan Elizabeth. Proses perkandungan dan kelahirannya yang unik memancing tanya para tetangga: Akan jadi apakah anak ini kelak?

Yohanes adalah utusan Tuhan yang membawa misi pertobatan bagi manusia dalam menyambut kedatangan penebus. Yohanes mewartakan baptisan di seluruh kawasan Yordan sebagai tanda “tobat”. Orang yang menerima baptisan ini akan mendapat pengampunan dosa (Luk. 3:3). Baptisan yang diwartakan Yohanes ini disebut baptisan tobat (lihat juga Mat. 3:2-11; Mrk. 1:4-6), artinya baptisan yang menandai tekad untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan.

Dalam alam pikiran Kitab Suci, bertobat adalah upaya untuk menanggalkan pikiran-pikiran yang mengekang batin dan membiarkan diri dibawa oleh kekuatan ilahi. Memang, untuk bertobat seperti itu perlu ada dorongan yang membesarkan hati. Jadi, gagasan utama bertobat tidak sama dengan yang biasa terdengar dalam pembicaraan sehari-hari, yakni kapok dari berbuat dosa dan kesalahan.

Bukan itu, meskipun “jauh dari dosa” memang nanti menjadi buah dari tobat yang sungguh. Lha, lalu apa yang pokok? Ya, seperti di atas: membiarkan diri dipimpin Tuhan, dan tak usah lagi gelisah. Biasanya dalam Kitab Suci, tobat terjadi sebagai perubahan dari sikap hidup murung dan rasa terganjal menjadi lega dan leluasa. Itulah yang juga dikemukakan dalam bacaan dari Barukh 5:1-9.

Kenal Diri


Yohanes mengenal siapa dirinya. Dia sadar bahwa tugasnya adalah menyiapkan jalan bagi penebus. Yohanes kenal diri bahwa dia bukan Mesias. Dia hanyalah utusan yang mempersiapkan kedatangan penebus. Sehingga ketika ditanya apakah engkau Mesias yang kami nantikan? Di bilang aku bukan Mesias. Yohanes tahu diri. Dia tidak memanfaatkan anggapan orang tersebut untuk keuntungan pribadi.

Dengan mengenal dirinya secara benar, Yohanes berani melangkah ke padang gurun untuk mewartakan pertobatan sebagai persiapan menyambut kedatangan Juruselamat Yesus Kristus. Di sini identitas dirinya benar-benar diuji di tengah kerinduan umat Israel yang sedang menantikan kehadiran seorang Mesias. Yohanes tetap konsisiten: Aku bukanlah dia yang kalian nantikan.

Socrates menegaskan pentingnya mengenal diri dalam istilahnya yang sangat terkenal dalam dunia filsafat, yakni Gnothi Seauton. Erkenne sich sebst, atau kenallah diri anda. Dan ia merupakan proses yang tak pernah selesai hingga ajal menjemput.

Pertanyaan tentang siapakah diri kita adalah semacam lalat liar, yang senantiasa mengganggu identitas kita di tengah situasi yang terus berubah, agar kita tidak mudah tercebur dalam identitas massa mengambang yang anonim.

Lebih lanjut, dengan mengenal diri sendiri, kita menjadi tahu akan kekurangan serta kekuatan diri kita. Dengan demikian, kita akan lebih mudah untuk memperbaiki setiap kekurangan diri kita sekaligus mengoptimalkan kekuatan di dalam diri kita. Setiap diri kita mempunyai kekuatan dan kelebihan. Dan memang, terkadang kita belum mengenalnya dengan baik.

Baca juga: Tentang Cobaan Iblis yang Pertama, Renungan Tobat RD Lian Angkur

Banyak hal yang membuat seseorang belum mengenal dirinya dengan baik. Pertama, karena ia merasa dirinya seorang yang sempurna dan serba bisa. Orang yang seperti ini, sulit menerima masukan dari orang lain. Merasa serba tahu, padahal sebenarnya banyak hal yang belum ia ketahui dengan baik, khususnya tentang kekurangan dan kekuatan dirinya sendiri.

Kedua, karena ia tidak tahu bahwa sebenarnya mengenal diri sendiri adalah awal dari kekuatan setiap diri kita untuk melangkah. Anda pernah mengenal kata pepatah yang mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang?’ Orang-orang yang tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik, sangat sulit mengenali kekurangan dan kekuatannya. Orang-orang yang seperti ini, jika menghadapi kesulitan, cenderung menyalahkan kondisi ataupun orang lain, daripada dirinya sendiri

Semakin serius bertanya tentang diri membawa orang pada sebuah refleksi untuk mengetahui ada mengetahui siapa yang 'menghadirkan' kita di dunia ini. Agustinus, yang hidup di abad ke-4 dan ke-5, dapat menjadi model. Ia mengatakan, "Saya hanya ingin mengetahui Tuhanku dan jiwaku." Bagi Agustinus, mengenal Sang Ilahi dan mengenal diri adalah dua hal yang paling penting dalam hidupnya.

Dari Kenal Diri Menuju Rendah Hati


Pengenalan diri yang benar membawa Yohanes pada sikap rendah hati. Sejak saat sebelum kelahirannya, Yohanes sudah dipenuhi dengan Roh Kudus (lihat Luk 1:15). Roh Kudus-lah yang mengajar-Nya untuk mendengar suara Tuhan dan taat kepada-Nya. Selagi Yohanes bertumbuh dewasa, Roh Kudus memimpinnya kepada suatu kehidupan doa dan puasa serta mati-raga …… mencari kepuasan hanya dalam relasi yang intim/akrab dengan Allah.

Pengenalan akan Allah ini menghasilkan kerendahan-hati yang penuh kuasa dalam diri Yohanes. Ketika ditanyakan kepadanya apakah dirinya sang Kristus (Mesias), Yohanes menjawab bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak (lihat Yoh 1:27).

Thomas à Kempis, pengarang buku kecil terkenal “Mengikuti Jejak Kristus” menulis berkaitan dengan kerendahan hati seperti yang diperlihatkan oleh Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Tuhan melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati. Tuhan melimpahkan cinta-Nya dan memberi hiburan kepadanya. Orang yang rendah hati sungguh dekat pada Tuhan dan diberi rahmat banyak, dan setelah menderita penindasan ia dimuliakan Tuhan”.

Karena berkat-berkat seperti inilah maka Yohanes Pembaptis mampu bertahan dalam penjara Herodes Antipas dan kemudian dihukum pancung demi Tuhan Allah yang disembahNya. Sepanjang hidupnya, keprihatinan utama Yohanes adalah mencari kehadiran Allah dan bukan sibuk melihat siapa yang “pro” kepadanya atau “anti” terhadap dirinya. Tuhan Allah dan sabda-Nya kepada umat-Nya, adalah pokok yang paling penting dalam pikirannya, sehingga Yohanes dapat berbicara kebenaran dengan berani, bebas dari urusan hidup-matinya sendiri.

Thomas à Kempis melanjutkan: “Bila kita berusaha agar kita memperoleh damai dalam hati kita, maka barulah kita dapat memberi damai kepada orang lain.” Karena kedamaian yang ada antara Yohanes dan Allah, maka dia mampu mengenali Yesus (Yoh. 1:29) dan dengan efektif memimpin orang-orang kepada-Nya, tanpa peduli bahwa jumlah para pengikutnya sendiri akan menyusut sebagai akibatnya (Yoh. 3:28-30).

Sungguh merupakan suatu testimoni indah bagi Yohanes Pembaptis, bahwa beberapa rasul Yesus yang paling setia pada awalnya dibina oleh nabi rendah-hati dan martir ini, yang ambisinya hanyalah menyiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.

Kerendahan hati itu juga pada akhirnya melahirkan sikap sederhana. Dalam pewartaanya, dia tampil sederhana, mengenakan jubah buluh unta, ikat pinggang kulit dan dengan menu makannya belalang dan madu hutan. Sebuah penampilan yang sebenarnya tidak punya daya tarik apa-apa. Bahkan bisa saja orang lari ketakutan jika melihatnya.

Tapi itulah buah kerendahan hati Yohanes, dia mau menunjukkan ketulusan dan kesederhanan diri. Dia tidak menjadikan tubuhnya seperti papan iklan, tempat bergantung gambar dan asseoris yang berkemilauan. Ia tidak mementingkan yang tampak di luar, cassing, karena dia tahu bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.  Sungguh sebuah kerendahan hati, luar dalam.

Adven dan Redefinisi Diri


Bagaimana anda mendefinisikan diri anda, adalah ‘cara anda berada’ dalam kehidupan ini. Ini bukan atau belum bicara sukses atau tidak. Definisi yang anda berikan kepada diri, itu adalah identitas tersemat (embedded identity), yang akan membentuk pemikiran dan perilaku.

Bisa disimulasikan. Katakan: “Saya adalah ….”.  Coba isi titik-titik itu (untuk contoh saja) dengan “seorang yang pintar dan sukses”. Kemudian ganti dengan “seorang yang bodoh dan sial”. Coba rasakan, rasa atau sensasi apa yang muncul. Bayangkan jika ini berulang, dan dalam emosi yang tinggi.

Baca juga: Yubileum, Presiden SBY dan Celana Goni

Maka, “Anda adalah apa yang anda katakan/definisikan!” Pendefinisian diri menentukan cara anda berpikir dan bertindak; juga, cara anda hidup. Mulailah dengan mendefinisikan diri: “siapakah saya”, “saya adalah orang yang seperti apa”, “bagaimana cara saya berpikir”, “bagaimana cara saya bertindak” dan “bagaimana cara saya hidup”.

Keberhasilan Yohanes dalam menjalankan tugas menyiapkankan jalan bagi kedatangan Sang Almasih tidak lain karena dia mampu mendefinisikan dirinya secara benar.

Jika kita mungkin sudah salah atau terasa sudah jauh menyimpang dari definisi yang benar sebagai pengikut Kristus, maka masa Adven bagi kita adalah kesempatan untuk meredefinisi identitas diri. Tanpa sebuah definisi yang jelas kita akan menjadi pribadi yang samar-samar tanpa identitas, dangkal dan lalu mati angin. (*)

Rm. Beben Gaguk |
Imam Projo asal Keuskupan Ruteng. Kini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Jerman. Penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung”.

0 Komentar:

Post a Comment