Cerpen Lee Risar - Cerita di Rumah Makan Singgalang Niki

Cerita di Rumah Makan Singgalang Niki adalah cerpen pertama sekaligus tulisan pertama Lee Risar di ranalino.id. Selamat menikmati.
cerpen lee risar cerita di rumah makan singgalang niki
Lee Risar

Cerita di Rumah Makan Singgalang Niki-Niki

: kudedikasikan untuk Elin Saka

Oleh: Lee Risar
“Putus Cinta Itu Biasa Tetapi Putus Rem Mati Kita”
Aku tersenyum lebar pada sebuah tulisan kecil dengan warna mencolok pada pintu mobil. Pernyataan tersebut seolah menjadi ucapan selamat datang padaku. Aku memang sedikit tertegun dalam senyum saat hendak memasuki pintu mobil Paris Indah yang siap membawaku dari Kupang menuju Atambua.

Beberapa penumpang lain hanya menatapku dengan wajah datar. Namun ada satu yang duduk pas di belakang pintu masuk, menyembulkan senyuman ramah. Mungkin dia mengerti kalau tulisan itu membuatku tersenyum.

Pi Atambua ko, Kaka?” Ia bertanya dengan senyum yang belum luntur dari wajahnya.
Ho...,” jawabku sambil tersenyum.

Kami berpapasan dan saling menyapa lalu aku maju menempati tempat duduk yang letaknya pas di belakang sopir. Mobil meluncur menuju Atambua diiringi lagu-lagu nostalgia dan beberapa lagu baru yang lagi tenarnya. Ada beberapa lagu barat namun rata-rata lagu-lagu lama.

Rumah Makan Singgalang Niki-Niki. Masih seperti yang dulu. Memang ada beberapa pelayan baru. Yang sudah lama dua orang. Pemuda hitam manis dari Oinlasi dan pemudi bermata oval itu berasal dari Besikama. Aku kenal betul mereka, karena memang selain mereka banyak kisah yang aku tulis di rumah makan ini.

Sesekali menguping percakapan-percakapan para konjak dan sopir mulai dari hal yang konyol sampai yang kotor, lalu kutuangkan dalam catatan kecilku. Catatan ini yang lebih banyak menemaniku dari buku-buku lain. Kadang aku tertawa sendiri ketika mengunjungi halaman-halaman lama yang lucu atau kadang aku bersedih ketika catatan itu adalah goresan-goresan pilu yang selalu memintaku untuk merasakan betapa perihnya sebuah perjalanan hidup.

Aku memesan nasi ikan. Sudah lama sekali aku tidak pernah menyantapnya. Aku makan dengan sangat lahap. Sesekali membaca pesan masuk pada aplikasi WhatsApp dari beberapa teman yang ingin menanyakan keadaanku. Pada meja kiri di sudut ruangan, aku melihat seorang gadis sawo matang berambut ikal. Ia sedang makan sendiri sambil menghadap dinding.

Menurutku, bahasa tubuhnya sedang mengirim informasi sedang ingin sendiri, atau ia sedang tak peduli dengan orang-orang sekitar, atau mungkin ia sedang galau. Aku pandangi dia dengan teliti dari cara ia makan dan membuang tatapan ke depan. Seolah aku sedang mencerminkan diri. Ah… memang aku sedang melihat diriku pada dirinya.

Baca juga: Yang Bangkit di Hari Keempat – Cerpen di Pos Bali

Beberapa tahun lalu aku seperti gadis itu. Waktu itu aku sedang mengajar pelajaran Bahasa Inggris di salah satu SMA swasta di Atambua. Menjadi guru dengan gaji pas-pasan. Itu pun hampir tidak mencukupi semua kebutuhan hidup. Saat kuliah dulu memang akal dipenuhi idealisme-idealisme yang rimbun dengan keinginan-keinginan yang tidak sesuai kenyataan saat ini. Hidup ini keras. Seperti apa yang dikatakan bapa dan mama namun aku setengah percaya, karena toh hampir semua kebutuhan kuliah dipenuhi walau kadang tersendat.

Kerasnya hidup membuatku lebih giat berusaha. Aku mendengar ada jalur beasiswa S2 yang ditawarkan pemerintah luar negeri bagi yang berminat. Beasiswa yang ditawarkan lebih banyak untuk orang-orang Indonesia Tengah dan Timur. Lamaran aku kirimkan lengkap dengan berbagai data sesuai permintaan lembaga penyelenggara yang menyeleksi kandidat-kandidat yang masuk.

Beberapa hari sebelum ujian aku sudah tiba di salah satu penginapan di Kota Kupang. Datang dari Atambua. Memang saat itu aku tidak memberitahu siapa pun untuk mengambil jalur beasiswa ini. Aku begitu percaya diri bahwa aku pasti lulus apalagi aku sendiri guru Bahasa Inggris. Dugaanku ternyata jauh panggang dari api. Apakah aku patah arang? Ah tidak mungkin. Bahkan aku lebih berusaha meningkatkan kualitas Bahasa Inggrisku.

Mama kadang berpikir aku sudah mulai gila karena stres. Kesempatan kedua masih ada dan aku melayangkan lamaran ke Kupang. Tuhan semoga aku lulus kali ini. Demikian doaku yang terus berulang saat sebelum atau setelah belajar. Aku ke Kupang lagi untuk tes dan hasilnya ternyata gagal juga. Sampai pada tes ketiga aku menerima kegagalan yang sama. Aku semakin malas berdoa, menjadi marah dan putus asa, namun mama seperti air yang menyejukkan di tengah panasnya gurun di dalam diriku.

Waktu itu aku memang mulai stres namun tetap berusaha menetralkan diri dengan lebih banyak waktu kuhabiskan menonton filem Korea sepulang mengajar. Aku juga membaca buku-buku cerita anak berbahasa Inggris terutama bukunya C. S. Lewis dan beberapa buku yang berhubungan dengan IELTS. International English Language Testing System. Di sisi lain aku tahu Bahasa Inggrisku tidak akan berkembang karena di dalam rumah tidak ada yang mampu berkomunikasi dalam bahasa yang kurang ajar itu.

Sepertinya ibu memahami kegalauanku namun ia hanya berlama-lama mendaraskan doa dengan Rosario di tangannya yang mulai rapuh.

Suatu kesempatan entah ilham apa yang tumbuh di dalam kepalaku saat sedang berkaca di kamar. Kuperhatikan mataku yang bulat dengan alis yang tipis, hidung yang tidak terlalu mancung dengan pipi yang sedikit kurus. Kuperhatikan rambut lalu perlahan ke tubuhku, jari-jariku yang runcing dan bekas kapur tulis masih bersangkar di kukuku.

“Etta!” Aku memanggil namaku sendiri di hadapan cermin.
“Kamu pasti bisa lulus dan mendapatkan beasiswa itu. Semua orang di dalam rumah memang tidak bisa berbicara Bahasa Inggris namun kamu dapat berbicara dengan bayanganmu sendiri. Bertanya jawablah padanya.Ia dihadapanmu ini adalah dirimu sendiri. Untuk menjadi pemenang atau pecundang itu tergantung dirimu, Etta.”

“Ingatkah kamu pada tulisan yang kau kutip dari bukunya Charlotte Eriksson itu. Masih ada dalam catatanmu kan? So many people will tell you ”no”, and you need to find something you believe in so hard that you just smile and tell them ”watch me”. Learn to take rejection as motivation to prove people wrong. Be unstoppable. Refuse to give up, no matter what. It’s the best skill you can ever learn. Jadi sekarang lakukan itu Etta! Lakukan!”

Baca juga: Cerpen Elvan de Porres – Cerita tentang Sepeda Bapak

Saat itu aku memang sempat menjadi seperti motor kehabisan bensin. Bagaimana aku gagal tiga kali berturut-turut, tentu ada kekecewaan. Namun setelah percakapan aku dan diriku dalam cermin, aku seolah mendapatkan bensin yang baru. Full tengki tentunya. Aku tersenyum pada bayangkanku sendiri. Mulai saat itu aku berbicara dalam bahasa asing dengan orang yang tidak asing dalam cermin.

Kadang ketika mama menyuruhku untuk menjaga sapi di padang, aku pun berbicara bahasa Inggris dengan sapi. Aku tidak peduli mereka memahamiku atau tidak. Suara moo.. moo… dari mulut sapi sudah cukup menimpal percakapanku. Atau saat aku memberi makanan babi aku memberi perintah dalam bahasa Inggris. Mereka mengangguk, Tentu saja bukan karena mengerti. Saat melihat makanan semua babi mengangguk-angguk.

Lamaran pun kulayangkan lagi lalu datang ke Kupang, kota yang mungkin sudah muak melihat kehadiran gadis Atambua yang gagal tiga kali dan pernah kepada Kota Kupang aku katakan: “Hei Kota Karang, aku ini gadis Atambua dengan tekad yang lebih keras dari karang. Aku akan terus datang untuk mengikuti tes ini sampai berhasil.”

Usai tes aku langsung kembali ke Atambua. Tentu selalu berhenti di rumah makan ini. Kupasrahkan semuanya pada Tuhan. Entah lulus atau tidak terserah pada kehendak-Nya. Menunggu hasil pun dengan dada yang lapang, dengan sedikit stres, tentu saja.

Mama pernah bilang kegagalan yang aku alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan aku dicobai melampaui kekuatanku. Aku percaya saja apa kata mama dan bapa pasti mendoakanku dari surga sana. Ia telah berpulang beberapa tahun lalu.

Hasil tes aku terima dengan rasa bangga yang luar biasa. Aku lulus. Air mataku tak kuasa menyembunyikan kebahagiaanku. Orang-orang mungkin menangis karena kesusahan namun saat itu aku menangis karena suka cita.

Baca juga: Cerpen Yeris Meka - Orang Asing

“Kaka, kita mau jalan su.” Suara seorang yang pagi tadi berpapasan denganku di pintu masuk mobil Paris Indah. Aku kaget dan cepat-cepat menghapus beberapa tetes air mata yang merembes dari sudut-sudut mataku sambil berlari-lari kecil memasuki mobil. Gadis itu? Sudah di manakah dia? Dia mau ke Kupang atau Atambua?

Aku bertanya-tanya di dalam hati. Apakah dia ingin mengikuti tes beasiswa itu atau ada agen di Kupang  yang siap menerima dia sebagai calon tenaga kerja wanita di luar negeri? Apalagi akhir-akhir ini berita kematian tenaga kerja asal NTT meningkat. Aduh, mama sayang e.

Rasa bersalah mendera lubuk hatiku karena tidak sempat menanyakan ke mana ia pergi, bahkan namanya pun aku tidak tahu. Aku sangat kasihan padanya. Aku seolah sedang mengasihani diriku dalam dirinya. Aku berjanji akan perhatikan orang-orang seperti itu. Pengetahuan yang aku dapat di luar negeri akan kudedikasikan sepenuhnya pada mereka yang mau berusaha terutama mereka yang susah.

Aku tidak mau mereka mengalami hal yang sama sepertiku dulu karena aku tahu bagaimana hidup susah. Mereka harus menjadi lebih baik dariku. Mereka pasti bisa. Pasti. Pasti bias. Kali ini air mataku mengalir lebih deras. Aku tak peduli pada seorang penumpang yang duduk di sampingku. Aku menangis lepas tanpa suara.

Sekarang aku sudah siap mengabdi. Aku sudah siap dan mereka pasti bisa. Pasti bisa. Saat itu mobil melaju semakin kecang menuju Atambua.

Melbourne, menjelang akhir musim dingin 2018.

Lee Risar |
Penulis buku Kata: Antologi Puisi. Orang Wangka – Riung. Kini sedang belajar di CTC: University of Divinity Melbourne – Australia.

0 Komentar:

Post a Comment