Apa yang Harus Dikerjakan? Renungan Adven Minggu Ketiga

Pertobatan yang sungguh baru bisa terjadi bila berawal dalam suasana kesunyian yang sarat dengan kehadiran ilahi.
apa yang harus dikerjakan renungan adven minggu ketiga
Rm. Beben Gaguk

Apa yang Harus Dikerjakan? 


Oleh: Rm. Beben Gaguk

Bacaan Injil pada Minggu Advent III bercerita tentang keterpukauan orang banyak akan pewartaan dan bahkan sabda keras Yohanes Pempabtis. Mereka datang dari berbagai kota di sekitar untuk menjumpai Pemuda Padang Gurun tersebut. Mereka terkesima dengan kata-katanya yang penuh kuasa dan berdaya ubah, ditambah lagi dengan penampilan dan gaya hidupnya yang nyentrik.

Namun Yohanes menyambut mereka bukan dengan kata-kata pujian sebagai pahala atas ketergerakan hati mereka untuk mau mendengar suaranya yang berseru-seru di Padang Gurun, tapi justru menghujani mereka dengan serangkaian peringatan dan kecaman yang menggetarkan. Lukas 3:10-18 mencatat bahwa kata-kata Yohanes berhasil menerobos ke inti pertobatan, yakni transformasi atau pembaharuan diri.

Yohanes Pembaptis menyebut mereka sebagai “keturunan ular berbisa”. Bahwasanya mereka lahir sebagai keturunan Abraham, sama sekali bukan jaminan untuk bebas dari kemurkaan akhir zaman. Identitas sebagai bangsa terpilih bukanlah tiket gratis untuk memperoleh keselamatan. Jalan satu-satunya agar selamat ialah bila mereka menghasilkan buah yang baik. Bila tidak, mereka ibarat pohon yang akan ditebang dan dimusnahkan dengan api.

Merasa Cukup dan Berbela Rasa 


Ada tiga kelompok yang mendapat kecaman yang tak tanggung-tanggung dari Yohanes. Merekaa dalah orang kaya, para pemungut cukai dan barisan para prajurit. Meskipun termasuk “kaum terhormat” dalam masyarakat, mereka sering dianggap sudah terlampau jauh terpisah dari kehidupan orang Yahudi yang beragama. Mereka dinilai sebagai kaum egois, orang-orang kemaruk dan kawanan pemeras.

Namun demikian, dalam Injil Lukas digambarkan bagaimana orang-orang yang biasanya dianggap sudah tak tertolong lagi itu masih mempunyai kesempatan. Ingat perumpamaan anak yang hilang tetapi kembali (Luk 15:11-32), perumpamaan pemungut cukai yang dengan tulus mengakui keberdosaannya (Luk 18:9-14), Zakheus yang ikhlas mengamalkan separuh miliknya (Luk 19:1-10). Mereka ditonjolkan Lukas sebagai orang-orang yang dengan rendah hati bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat?”

Cara-cara memperbaiki diri yang dianjurkan Yohanes sejalan dengan profesi dan kehidupan masing-masing. Yang serba berkecukupan dianjurkan berbagi kelebihan dengan orang lain, yang mempunyai wewenang menarik pajak hendaknya belajar berlaku jujur, yang memiliki kekuasaan, senjata, dan organisasi dapat belajar agar tidak mempraktikkan kekerasan.

Baca juga: Gnothi Seauton dan Redefinisi Diri, Renungan Adven Minggu Kedua

Yohanes membuat orang berpikir bahwa kedudukan dan kekuasaan tak dapat dilepaskan dari kewajiban untuk menjalankannya, sesuai dengan maksud kedudukan itu. Begitu pula kelebihan material, menuntut pengamalan, bukan penimbunan belaka. Inilah prinsip penalaran moral yang berlaku di mana-mana dan kapan saja.

Mari Bertanya Diri


Dalam konteks Injil Lukas, orang-orang yang datang ke Yohanes itu sebenarnya orang-orang yang sudah maju dalam pengetahuan.  Mereka tahu apa yang mesti mereka perbuat dalam hidup. Tetapi menariknya mereka tetap mengajukan pertanyaan: “Apa yang harus dikerjakan?”
Bertanya adalah jalan menuju pengetahuan. Tetapi terus mempertanyakan diri dalam sebuah refleksi yang panjang adalah jalan menuju kebijaksanaan. Maka pertanyaan apakah yang harus kami kerjakan lebih merupakan sebuah ikhtiar untuk belajar berbenah diri. 
Bukan untuk memenuhi isi kepala, tetapi mengumpulkan kebajikan-kebajikan hidup yang kemdian di wujudkan dalam kata-kata dan tindakan.

Dalam konteks injil tadi, para pendengar Yohanes diajak untuk belajar mengubah diri, belajar memperhatikan sesama, belajar berlaku adil dan lurus bahkan sejak dalam pikiran, seperti kata Pramoedya Ananta Toer.

Maka bertanya dalam semangat Injil adalah bukan berarti karena kekurangan pengetahuan, tetapi wujud kerendahan hati manusia di hadapan Allah. Ia bertanya bukan untuk terutama memahami secara sempurna siapakah Allah, tetapi untuk mengenal siapakah dirinya di hadapan Allah. Dengan demikian Sabda Allah-lah yang menjadi terang yang menuntun langkah hidup manusia menuju keselamatan.

Menelusuri Jalan Sunyi


Sebuah transformasi diri butuh banyak jalan. Salah satunya adalah jalan kesunyian. Orang perlu sejenak meninggalkan kebisingan hidup dan menemukan ketenangan batin. Mereka yang mendengarkan Yohanes Pembaptis itu datang ke padang gurun untuk “nyepi” ke daerah Yordan.
Mereka meninggalkan Yerusalem yang hingar-bingar dan penuh kezaliman untuk melihat prospek kembali ke Yerusalem yang jadi tempat keselamatan. Di situ orang boleh berharap mendapat pertolongan kekuatan-kekuatan ilahi.

Dalam keheningan orang akan mendengarkan isyarat dan suara ilahi. Dalam suasana seperti inilah ajakan untuk memperbaiki diri akan lebih merasuki batin dan budi. Kekuatan-kekuatan ilahi itulah yang akan meluruskan batin orang dan menimbun lubang-lubang kehidupan yang penuh dengan dosa dan kegelapan.

Pertobatan yang sungguh baru bisa terjadi bila berawal dalam suasana kesunyian yang sarat dengan kehadiran ilahi. Karena kesunyian adalah rahim yang melahirkan kata dan sikap tobat yang sejati.

Baca juga: Lomba Blog Exotic NTT dan Keputusan Juri yang Mengabaikan Kriteria Panitia

Adven adalah sebuah momentum pertobatan dan memperbaiki diri di hadapan Allah dan sesama. Kita semua memaknai ini sebagai masa pembaharuan diri untuk merasakan lebih dalam kasih Tuhan. Pada masa ini, kita tidak saja melakukan pertobatan dosa, tetapi juga mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa. Namun terkadang semangat untuk mempersiapkan euforia Natal secara fisik membuat kita kehilangan keheningan dan kedamaian Adventus.

Pastor Henri Nouwen, salah seorang imam Katolik Belanda memberikan sebuah doa yang indah untuk menjawab tantangan itu. Ini merupakan sebuah doa khusus selama masa Adven untuk membantu kita menjaga semangat keheningan dan pembaharuan diri.

Tuhan Yesus, Tuan dari terang dan kegelapan, utuslah Roh KudusMu ke dalam persiapan kami menjelang Natal.
Kami yang memiliki begitu banyak hal harus mencari ruang yang tenang untuk mendengar suara-Mu setiap hari.
Kami yang cemas atas banyak hal menantikan kedatanganMu di antara kami.
Kami yang diberkati dalam banyak hal merindukan suka cita penuh dalam KerajaanMu.
Kami yang hatinya berat mencari suka cita kehadiranMu.
Kami adalah umatMu, berjalan dalam kegelapan, namun mencari cahaya.
KepadaMu kami berseru, “DatanglahTuhanYesus!”
---

Rm. Beben Gaguk |
Imam Projo asal Keuskupan Ruteng. Kini sedang menempuh pendidikan lanjutan di Jerman. Penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung”.

0 Komentar:

Post a Comment