Jangan Berhenti Jualan Buku, Felix

Felix K. Nesi, penulis yang juga menjalankan Toko Buku Fanu mengumumkan rencana berhenti jualan buku. Melalui laman facebooknya, Felix mengobral beberapa koleksi terakhirnya. Sedih juga rasanya mendapat kabar seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi?
jangan berhenti jualan buku felix
www.ranalino.id

Jangan Berhenti Jualan Buku, Felix


Terlepas dari beragam alasan kita membeli buku, membeli buku tetaplah berarti menambah jumlah buku yang tersebar. Tidak menumpuk saja di gudang penerbit, di toko buku, atau di lemari milik Felix. Selanjutnya buku-buku yang ada di tangan para pembaca akan dibaca. Ini situasi ideal: buku dibeli, dibaca (hingga tuntas), dipahami.

Ada juga dua situasi tak enak yang mungkin terjadi. Pertama, buku itu tidak selesai dibaca pembelinya. Kedua, buku itu tidak dibaca pembelinya tetapi oleh temannya. Meski masuk dalam 'hal tak enak' tetapi sebagai penganut konsep minus malum, dua hal itu menunjukkan bahwa ada buku yang dibaca.

Kita pindah sejenak.

Ketika melakukan pencarian di google dengan kata kunci hasil riset tentang hubungan membaca buku dengan kecerdasan, SERP halaman satu berisi beberapa tautan hasil-hasil penelitian tentang hubungan membaca dengan: kecerdasan verbal, motivasi belajar, kecerdasan emosional, prestasi belajar, prestasi akademik, dan keterampilan menulis narasi.

Rata-rata penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa hal-hal tadi berjalan lurus dengan kebiasaan membaca. Tentu saja tidak lantas berarti bahwa yang tidak membaca itu tidak cerdas.
Ada yang (merasa) cerdas hanya dengan mendengar. Ada juga yang tak kunjung cerdas meski telah banyak membaca. Misalnya kawan-kawan saya yang hanya membaca judul lalu merasa telah banyak tahu. Atau membaca tetapi sudah telanjut memiliki konsep sendiri (yang salah) dan tidak mau 'diganggu'.
Tetapi apa pun kemungkinan yang terjadi pasca-buku sampai ke tangan pembeli, kita wajib optimis--merujuk penelitian--jumlah orang yang semakin cerdas akan bertambah.

Baca juga: Cinta yang Terlalu dan Plagiarisme yang Berlalu

Karena itu saya kaget ketika Felix K. Nesi mengumumkan tentang Toko Buku Fanu akan segera berhenti jualan buku. Hampir setahun terakhir, Toko Buku Fanu ada di NTT. Selain berjualan di berbagai event di Kupang dan sekitarnya, Felix menjual buku-buku secara daring via laman facebook dan instagram: @fanubooks.

Langkah berjualan daring, merujuk pada pandangan bahwa masa depan penjualan buku adalah toko daring independen sebagaimana ditulis Tirto, adalah sesuatu yang hebat. Felix membaca tanda-tanda zaman. Lalu mengapa dia menutup toko bukunya?

Saya belum sempat menanyakan hal tersebut kepada Felix K. Nesi. Tetapi memantau beberapa status facebooknya, dan berdasarkan pemandangan 'hidup enggan mati tak mau'-nya beberapa toko buku di NTT, saya menduga alasan utamanya adalah daya beli kita yang rendah. Buku tidak laku, uang tidak jalan, untuk apa jualan?

Ini tentang buku. Bukan tentang hal-hal lainnya. Maksudnya, tidak 'terlampau' berhubungan dengan kondisi ekonomi. Toh, kita masih bisa beli gadget mahal, baju natal, dan cinta palsu. Daya beli buku yang rendah, di NTT, barangkali berhubungan dengan hal-hal berikut ini.

Pertama, minat baca yang buruk. Sayang sekali saya tidak menemukan hasil riset tentang minat baca di NTT. Mungkin memang belum ada. Ini tentu saja tugas para peneliti. Atau para pegiat literasi yang bagi-bagi buku gratis. Di mesin pencari google, kata kunci minat baca NTT malah mengarahkan kita pada artikel tentang minat baca Indonesia. Yang memang rendah.
Survei Most Littered Nation In the World tahun 2016 menampilkan hasil: minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 Negara. Beberapa tahun sebelumnya, UNESCO melansir hasil surveinya yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Hanya satu orang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. 
Bagaimana kita berharap Felix K. Nesi dan toko-toko buku kecil di NTT (atau Indonesia?) bisa hidup di tengah masyarakat yang tidak gemar membaca?

Baca juga: Cukup Sudah Bagi Buku-buku Gratis, Maria

Kedua, harga jual yang tidak adil. Ini barangkali alasan tambahan saja. Tetapi penting untuk dipikirkan bersama. Saya juga baru menyadari ini setelah membaca salah satu status panjang Felix. Kalau harga BBM bisa seragam dari Sabang sampai Merauke, kenapa harga buku tidak bisa?

Status itu tidak persis membahas tentang 'keadilan harga' tetapi keheranan Felix tentang bagaimana toko buku besar macam Gramedia dorang bisa hidup? Saya juga heran. Kok bisa?

Kalau tesis pertama tadi 'ditarik' ke sini, Gramedia di Kupang itu sudah menaikkan harga jualnya loh. Tetapi masih bisa hidup, masih ada yang beli buku. Hmmm... tentu saja ini karena sistem jaringan. Yang sangat kuat. Yang membuat banyak toko buku kecil itu mati. Tambahkan sedikit dengan gaya hidup; merasa keren kalau berhasil mengunggah foto buku dalam kresek Gramedia di instagram. Akhirnya bisa ke Gramedia dan beli buku di sini #kalabukukalagramedia. Begitu caption foto mereka.

Ada juga dugaan lain mengapa banyak toko buku yang tutup. Pemiliknya ingin menjalankan pekerjaan lain. Silakan 'tarik garis' ke soal hidup tadi. Atau ke arah lain, bahwa Felix ingin berkonsentrasi sepenuhnya menjadi penulis. Kita tidak bisa bilang apa-apa selain mendukung keputusan itu. Meski saya sungguh berharap bahwa Toko Buku Fanu tidak mati, pemilik toko buku ini adalah Felix.

Kalau dia memutuskan berhenti, jangan dilarang. Itu melanggar hak asasi manusia. Kita hanya bisa berharap bahwa akan ada toko buku lain yang mampu menjual buku semenarik cara Felix berjualan. Ada penjelasan singkat tentang isi buku. Agar kita tidak terjebak membeli buku karena endorse penulis besar atau karena buku itu diterbitkan penerbit besar.

Pada saat yang sama, marilah berdoa agar harga jual buku sama dengan harga jual BBM. Seragam se-Indonesia. Tentu saja kalau negara ini sepakat bahwa kecerdasan masyarakat mengendarai sepeda motor dan memanfaatkan trotoar juga dipengaruhi oleh keseringan mereka membaca. Baca buku. Bukan baca status atau judul-judul artikel click-bait seperti di ranalino.id ini.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Disclaimer: Kalau Toko Buku Fanu tidak jadi ditutup, catatan ini bisa dibaca sambil memikirkan nasib toko buku lain yang mungkin akan segera tutup.

0 Komentar:

Post a Comment