Di Kampung Ada Satu Televisi: Pemirsa Nonton dari Balik Jendela, Ada yang Terlibat Cinta Lokasi

Ini adalah catatan ringan dari desa. Kristoforus Aman a.k.a. Bob Itok, penulis buku puisi Viabel Nostrum (PCM, 2018) bercerita tentang nasib orang-orang yang jauh dari listrik. Orang-orang di kampung. Di Flores.
di kampung hanya ada dua televisi kami nonton dari jendela
Nonton TV di kampung. Rame-rame | Image: ist.

Di Kampung Ada Satu Televisi: Pemirsa Nonton dari Balik Jendela, Ada yang Terlibat Cinta Lokasi


Oleh: Bob Itok
Berbahagialah kamu di kota-kota besar yang memiliki bioskop. Sebab bioskop di kampung kami hanya ada di rumah pemilik TV yang pasti memiliki generator.
Pada era 80-an sampai tahun 2000-an, daerah-daerah di Flores masih jauh dari PLN. Sampai sekarang juga belum merata. Gambar di atas hendak menjelaskan kepada Anda yang lahir di kota-kota besar, yang memiliki bioskop di daerahmu dan TV di rumahmu: bukan hanya kamu yang bisa nonton 'bareng' kami juga bisa 'nonton bersama'. Kamu NOBAR, kami NOBER. Beda!

Fakta mencatat bahwa di satu desa, hanya ada satu atau dua televisi. Syukur dan Puji Tuhan kalau dua atau lebih. Listriknya pakai generator set (genset). Dari proses pemasangan antena parabola sampai adegan 'putar-putar piring' supaya 'dapat' saluran, warga desa menjadikannya sebagai tempat pariwisata baru. Beramai-ramai menyaksikan peristiwa mengharukan itu.

Hari-hari pertama televisi itu tiba di kampung dan bisa menayangkan siaran dari jauh walau ada 'pasir-pasir yang mengamuk' di layarnya, tuan rumah alias pemilik televisi masih menerima penonton dengan baik, lapang dada, dan senang hati. Pintu terbuka lebar. Bebas.

Di bulan kedua, ketiga, dan seterusnya, tuan rumah membuat aturan. Penonton wajib membawa air PAM atau air dari kali untuk diisi ke generator. Maklum. Mesin diesel itu butuh air. Kalau bukan air, minimal kayu bakar. Supaya tuan rumah tidak pusing lagi untuk masak makanan mereka di dapur. Yang makan bukan para penonton televisi. Anggota rumah saja. Hmmm.

Baca juga: Televisi 14 Inci

Anehnya, meski tuan rumah sudah membuat aturan seperti itu, manusia-manusia yang tidak tahu malu macam saya ini, masih saja pergi dengan sukarela menonton dengan menyanggupi aturan-aturan itu.
Kalau pergi nonton tapi tidak taat aturan maka dia akan dikucilkan selama menonton. Bahkan dijadikan bahan perbincangan warga satu desa yang tidak ada sangkut paut darahnya bertalian dengan pemilik televisi. Kejam sekali hidup ini.
Ada saat di mana kekacauan terjadi di luar rumah. Penonton yang dapat tempat di dalam rumah, wajib menanggalkan sandal. Itu 'hukum moral dan etika' yang juga berlaku di rumah pemilik televisi. Meski televisinya hanya hitam putih dan siarannya hanya dapat tiga saluran: TVRI, TV5, MTV.

Kalau TVRI sudah mulai siarkan reklame (baca: iklan), berarti pindah saluran ke TV5. TV5 reklame, pindah ke MTV. Kalau masing-masing tiga saluran itu menayangkan reklame, tuan rumah pengendali remote memilih saluran yang dia sukai. Perasaan penonton tamu adalah debu yang beterbangan di musim kering. Abaikan saja.

Kekacauan Sandal

Bai de wei, kekacauan apa saja yang terjadi di luar rumah tadi? Banyak penonton yang hanya sanggup menyaksikan tayangan itu dari pintu yang sengaja dibuka. Ruang tamu padat merayap. Tetapi semua tampak rela. Tak ada yang gubris dengan nyamuk, walau darah mereka diisap dan nyamuk menelurkan anak baru dari darah daging manusia-manusia yang kena gigitan ini.

Ada juga yang hanya kebagian tempat di balik jendela. Bila tidak dapat tempat berdiri di pintu atau jendela, mulailah pencarian lubang dilakukan. Betul. Cari lubang yang bisa digunakan untuk mengintip walaupun hanya dengan satu mata saja, dengan lirikan a la penembak jitu, asalkan tujuan tatapan tetap terarah ke layar televisi.

Kalau masih ada penonton yang tidak dapat lubang maka tanpa peduli tuan rumah atau penonton lain di situ dia mulai beraksi diam-diam menciptakan lubang sendiri. Merobek dinding rumah bila dindingnya terbuat dari papan, gedek, atau bambu. Dia sedih kalau rumah itu berdinding tembok. Kasihan sekali. Pulang saja, Kakaaak.

Penonton yang ongkang-ongkang di dalam rumah tak sedikitpun peduli dengan penderitaan 'orang-orang luar' tadi. Sungguh bikin sakit hati. Balaaaas!

Nah, sebagai balasannya, yang tadi tanggalkan sandalnya di depan pintu, kalau dari rumah pakai sandal merk Jumbo, pulangnya bisa pakai dua merk. Kiri Jumbo, kanan Sunly. Dua merk itu hampir ada setiap rumah karena tebal, kuat, dan harganya terjangkau. Bila talinya putus bisa disambung lagi dengan cara dibakar.

Masih untung kalau begitu. Kiri Jumbo, kanan Sunly. Kalau kiri Jumbo, kanan jempol? Atau 'pulang kaki kosong'? Kadang begitu. Datang pakai sandal, pulang tak diantar, eh, maksudnya pulang tanpa sandal. Kasus pencurian mulai terjadi tanpa memandang cinta kasih, hukum agama, dan norma sosial. Duh, bahasanya.

Tuan rumah, si pemilik televisi tunggal nan hitam putih itu mulai risih. Banyak penonton yang mengeluh kehilangan sandal. Meski demikian, ada juga sandal yang luput dari curian. Merk Lily. Karena hanya ada di kaki orang-orang tertentu. Bila hilang, lalu ada yang pakai saat acara keluarga, ketahuanlah: dia pencurinya.

Masalah Solar

Penonton-penonton tidak tahu malu macam saya ini, tidak pernah (berusaha) paham bahwa solar untuk menghidupkan generator itu dibeli dengan uang dan untuk membelinya harus ke ibukota kabupaten. Ya. Bahan bakar seperti itu tidak ada dijual di desa. Sebab pembelinya hanya satu atau dua orang. Mendapatkan solar itu susah dan kita mesti berhemat.

Tetapi penonton tidak akan pulang kalau tuan rumah belum bilang: "Malam ini sampai di sini dulu. Besok malam baru kita nonton lagi." Kalau sudah begitu, ada yang langsung pulang tanpa pamit, ada juga yang berpamitan, juga ada yang ucapkan terima kasih karena telah mendapat hiburan.
Astaga! Kalau tuan rumah pakai pesan seperti itu terus, manusia siapa yang lama-lama tidak bosan? Seharusnya ingat jam dan sadar diri. Tapi sama saja. Fokus perhatian tertuju ke layar kaca, perasaan tuan rumah seumpama debu yang beterbangan di musim kering. Abaikan saja. Duh... pembalasan ini sungguh segera.
Baca juga: Inilah Empat Kesalahan Dasar Media Massa Indonesia

Apa pun tayangannya, di luar rumah pencurian sandal masih tetap berjalan. Namun tidak ada yang bosan atau kapok bahkan walaupun tiap hari berkorban membeli sandal baru sebagai pengganti. Untunglah ada juga yang tahu cara mengatasinya. Misalnya sandal disembunyikan di bawah pohon bunga di taman halaman rumah pemilik televisi.

Ada juga yang menyembunyikannya di kain sarung, dibawa masuk ke dalam rumah sambil menonton. Kalau duduk di lantai, diam-diam sandalnya diambil untuk dijadikan alas duduk. Tidak peduli kalau sandal kotor dan tuan rumah akan kepayahan menyapunya.

Ada juga yang nekat tidak memakai sandal dari rumah sendiri agar bisa menghindari para pencuri sandal. Asalkan bisa masuk ke dalam rumah, dapat tempat duduk posisi aman, tidak peduli kalau lantai rumah pemilik TV juga kotor. Oh, Gusti.

Pemilik Televisi Menjadi Tegas

Walaupun aturan 'air dan kayu bakar' masih berlangsung, kasus pencurian sandal ini dan lantai rumah yang selalu kotor mau tidak mau bikin tuan rumah semakin resah dan gelisah. Pelan-pelan dia mematikan generatornya tanpa pesan dan peringatan. Agar penonton pulang ke rumah masing-masing. Alasannya: bahan solar habis.

Untunglah, tidak berakhir buruk. Peristiwa demi peristiwa terus berlanjut. Tuan rumah dan penonton masing-masing mempertahankan sikap egois. Persetan dengan pamit kepada penonton, persetan dengan lantai rumah yang kotor, persetan dengan sandal yang hilang, asalkan satu desa masih bisa menonton. Bahagia sekali, bukan?

Kasus pertengkaran karena baku senggol saat duduk berhimpitan di dalam rumah sering terjadi antara sesama perempuan, sesama lelaki, perempuan dan laki-laki. Di luar rumah pun terjadi pertengkaran, tua-muda berebut tempat berdiri di jendela atau pintu.

Tetapi ada yang selalu bahagia. Mereka yang sudah memiliki tempat mengintip langganan. Di lubang yang diciptakan sendiri. Rumah pemilik televisi semakin berlubang dan berliku. Eh?

Cerita Menarik Lainnya

Para penonton mahir menceritakan kejadian yang mereka lihat di televisi. Berbagi cerita pada perjalanan pulang. Di rumah masing-masing juga begitu. Bila ada anggota keluarga yang dua tiga orang di antaranya pergi menonton, namun ada yang tinggal di rumah karena kelelahan pulang bekerja dari kebun atau ladang, yang nonton akan berebut bercerita. Ckckckck.

Musim hujan, televisi mulai jarang dibuka. Warga desa saling merindukan satu sama lain. Penasaran dengan kelanjutan cerita atau berita yang ditayangkan sebelumnya. Cinta lokasi kerap terjadi di lokasi nonton bersama. Tuan rumah tetap membuka rumahnya, walau kada merasa risih dengan bau pesing di sekitar rumahnya. Para penonton pipis sembarangan saja. Di halaman, di dinding rumah.

Sampai saat ini, tidak ada televisi di rumah kami. Sebab saya akan masuk TV dulu sebelum TV masuk rumah kami. Jika ada yang bilang mimpimu terlalu besar, saya akan menjawab dengan senyum. Dia berpikir terlalu kecil.
Bermimpilah sesukamu, raihlah dengan doa dan usahamu. Jangan lupa membagi cinta dan tawa, sebab setiap tawa adalah doa dengan cara yang berbeda. (*)
Bob Itok |
Saat ini sedang berjuang mewujudkan mimpinya agar tampil di televisi. Selain menulis buku puisi dan menyebut dirinya sebagai 'femuda tamfan, lelaki rebutan', Bob Itok juga menekuni stand-up comedy, dan kini mengelola akun Youtube-nya sendiri. Klik di tautan ini.

Anda punya catatan ringan seperti ini? Kirim ceritanya untuk ditayangkan di ranalino.id ke alamat surel: armin.ranalino@gmail.com.

0 Komentar:

Post a Comment