Memori Penderitaan dan Karya Sastra

Dalam esai ini, Rio Nanto mengajak kita melihat cara kesenian bekerja merawat ingatan terhadap peristiwa di masa lalu. Peristiwa-peristiwa besar. Seperti tsunami di Maumere tahun 1992 silam. Yang tidak cukup diingat hanya dengan membaca data statistik. Kesenian adalah salah satu pintu ke sana.
memori penderitaan dan karya sastra
Rio Nanto

Memori Penderitaan dan Karya Sastra


Oleh: Rio Nanto

Gempa dan tsunami yang menerjang Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah hari Jumat, 28 September 2018 menyimpan duka yang mendalam. Data terakhir  yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Selasa, 2 Oktober, sebanyak 1.234 orang tewas. Gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang Palu dan Donggala diikuti tsunami mengejutkan para ahli dari sisi daya rusaknya.

Berhadapan dengan bencana Palu ini, Penulis yang sekarang berdomilisi di Maumere tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi kami sadar, Palu dan kota lain di Indonesia sama seperti kota kami memiliki potensi besar terjadi bencana.
Sekitar 26 tahun lalu, terjadi gempa tsunami yang menghancurkan hampir seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Maumere. Hari itu 12 Desember 1992 lautan berguncang menutupi kota Maumere dan sekitarnya. Sebanyak 2.080 orang tewas akibat tsunami itu, 1.490 korban berasal dari Maumere dan 590 korban berasal dari pulau Babi.
Memaknai peristiwa bersejarah ini, apa yang bisa kita buat? (Baca juga: Tsunami dan Bencana Kemanusiaan di Flores, Catatan Jelang Maumerelogia III)

Kalau kita memperhatikan kejahatan genosida pembantaian massa G30S PKI 1965, merawat ingatan menjadi suatu opsi fundamentalis. Intensi utama agar kejahatan itu tidak terulang di masa depan. Misalnya kita lihat seperti tertulis di depan Relief Patung korban G30S PKI: Waspada ... dan mawas diri agar peristiwa semacam ini tidak terulang lagi.

Apakah merawat ingatan peristiwa tsunami di Palu dan Maumere menjadi suatu yang urgen? Artikel ini berusaha mengantar kita untuk memahami esensi kedua pertanyaan mendasar itu.

Merawat Ingatan Tsunami, Mungkinkah?


Dalam bahasa Indonesia, mengingat berasal dari kata “ingat” yang berarti “berada dalam pikiran; tidak lupa; timbul kembali dalam pikiran; menaruh perhatian; memikirkan akan;. Kata “mengingat” dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang lebih luas apabila kita bandingkan dengan kata “remember” dari bahasa Inggris. Kata “remember” berarti menjaga dalam ingatan, tidak melupakan dan membawa kembali ke dalam pikiran kita”.

Bahasa Indonesia menunjuk bahwa mengingat bukan hanya ketika kita memanggil sesuatu untuk kembali dalam pikiran, namun juga menyangkut peringatan dan hal yang berhubungan dengan aksi nyata di masa yang akan datang. Jadi, menurut arti katanya, mengingat adalah sebuah tindakan untuk memanggil kembali peristiwa yang terjadi di masa lampau ke dalam pikiran kita masa kini (Binsar J. Pakpahan, 2013: 253-277).

Avishai Margalit, seorang filosof memelopori pentingnya merawat ingatan. Dia percaya bahwa mengingat sejarah di masa silam menjadi suatu cara mengubah masa depan. Mengutip Binsar J. Pakpahan, dalam Jurnal Ledalero, Margalit menulis “Striking examples of radical evil and crimes against humanity, such as enslavement, deportations of civilian populatioan, and mass exterminations”. Margalit tidak menggambarkan cara mengingat sejarah kelam masa silam. Tetapi baginya, mengingat itu adalah suatu seni untuk mengelola sejarah masa silam.

Baca juga: Soal Pengarang NTT dari Persepektif Sejarah dan Sosiologi Sastra

Pada dasarnya diskursus tentang ingatan akan tsunami bukan membangkitkan energi yang negatif dari duka masa silam. Memang, ingatan akan peristiwa tsunami pertama-tama tertimbun di dalam hati dan pikiran korban, dan dapat mewarnai seluruh hidupnya. Tetapi apabila hendak membicarakan pengalaman ini pada forum rasio sebagai sebuah pengkomunikasian gagasan tentang penderitaan, kita membutuhkan ingatan kolektif akan penderitaan itu sendiri.

Berkaitan dengan ini, Paul Budi Kleden (2006: 24) dalam bukunya “Membongkar Derita” menegaskan bahwa yang dicari dalam pengalaman kelam masa silam adalah ungkapan kolektif, ingatan yang ditunjukkan keluar, ingatan yang mengundang orang lain untuk mengingat. Bentuk ingatan itu dapat mencegah menghilangnya penderitaan dan para korban dari ingatan kolektif.
Di dalam pengertian ini, bentuk yang paling sanggup mengungkapkan ingatan kolektif akan pengalaman kelam masa silam adalah karya-karya seni dan sastra, sebab kesenian menekankan pada orisinalitas. Bagi Budi Kleden yang dimaksud adalah kesenian secara relatif lebih dapat dijadikan rujukan untuk menemukan ingatan kolektif sebuah masyarakat dan zaman akan penderitaan. 
Kalau demikian, kita juga perlu menciptakan sebuah kerangka pemikiran yang mendasarkan pengungkapan penderitaan di dalam kesenian dan terus-menerus mempertahankan warta kesenian ini dari kooptasi kepentingan lain.

Karya Sastra dan Solidaritas Terhadap Korban


Pengandaian tentang seni dan sastra sebagai ingatan kolektif akan penderitaan tidak berarti menafikkan kebenaran fakta empiris. Menempatkan kesenian sebagai bentuk ingatan kolektif akan penderitaan juga tidak dimaksud membatalkan studi ilmiah tentang penderitaan.

Kekuatan seni dan sastra terletak pada bentuk penuturan tentang penderitaan di dalam karya sastra lebih mengendap ke dalam ingatan masyarakat kolektif. Walaupun karya tersebut merupakan hasil karya seorang penulis novel atau seniman, dan bukan karya bersama, tetapi karena sensitivitas perasaannya, mampu membangkitkan ingatan orang lain akan penderitaaannya sendiri dan penderitaan orang lain.

Gambaran data objektif seringkali mengingatkan kita akan penderitaan korban. Dalam fakta itu terpampang jelas prinsip transparansi yang mengetengahkan data-data berupa angka dan grafik. Tetapi kedinginan transparasi itu kurang menyentuh sisi psikologis korban. Liputan fakta empiris hanya bergerak pada taraf rasio. Sementara korban membutuhkan sentuhan emosi yang mampu mengenangkan malum dalam sebuah mantel keindahan.

Karya sastra lebih tepat mengungkapkan, membahasakan dan menyimpan kenangan akan penderitaan, sebab karya sastra menyapa fantasi dan perasaan manusia. Lebih lanjut menurut Aristoteles dalam Poetics-nya menganggap sastra baik dan berguna karena mampu menimbulkan Katharsis pada emosi. Karya sastra mengundang subjek korban untuk terlibat; mereka lebih menggugah subjek untuk turut masuk ke dalam peristiwa dibandingkan dengan fakta empiris yang menitikberatkan pada angka dan data statistika.

Karya sastra melalui tutur kata dan tulisan para penyair membuka mata kita untuk melihat penderitaan yang dialami orang lain. Dengan itu, kepekaan dan solidaritas diasah, serta kita didorong untuk melenyapkan semua bentuk penderitaan, atau minimal menguranginya. Melalui tulisan para para penyair atau novelis, solidaritas yang didasarkan atas imaginasi atas penderitaan bersama dapat tercipta.

Baca juga: Catatan tentang Teater di NTT (Bagian 1): Rekonstruksi

Menurut Antonius Watimena (2011: 250), hanya melalui puisi dan novellah kita bisa sungguh-sungguh mengenali penderitaan dan mampu solider dengan korban. Para penulis fiksi seperti Dickens dan Elie Wiesel mampu menggambarkan secara detail penderitaan manusia dan secara perlahan menggubah kesadaran orang.

Lebih lanjut menurut Rorry, cara merawat ingatan yang diekspresikan melalui imajinasi dan bukan akal budi adalah fakultas manusia yang paling utama adalah suatu bentuk realisasi dari kemampuan orang untuk berbicara berbeda dan bukan untuk berargumentasi secara baik, yang sekaligus merupakan eleman utama solidaritas terhadap korban.

Penting diingat di sini bahwa cara merawat ingatan terhadap korban tidak hanya menuntut objektivitas. Penderitaan membutuhkan keterlibatan. Karena itu, kontribusi karya sastra menjadi sebuah memoria keindahan untuk mengungkapkan sejarah dengan gaya yang baru.

Solidaritas sosial terhadap korban melalui karya sastra bukanlah tanda menutup penderitaan dengan kosakata indah tetapi merupakan perubahan cara menggunakan metafor untuk mengungkapkan penderitaan dengan unsur seni. Bahasa seni dalam sastra sanggup menggerakkan sesuatu yang mesti terjadi kalau hendak berbicara tentang penderitaan: keterlibatan seluruh diri manusia.

Bahasa karya sastra dapat memberikan kehidupan baru kepada peristiwa masa lampau dan dengan demikian menyentuh sisi sensitivitas masyarakat untuk membangun solidaritas dengan korban.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap korban, cara merawat ingatan melalui sastra tidak hanya pada slogan Art for Art’s Sake, Dulce et Utile akan tetapi membantu korban untuk menjawab pertanyaan sulit tetapi riil tentang posisi sastra berhadapan dengan pengalaman batas seperti tsunami dan berbagai rangkaian penderitaan yang ditimbulkannya.

Berdasarkan uraian tersebut dapatlah kita sampai pada jawaban atas pertanyaan awal tulisan ini. Bahwa, merawat ingatan adalah suatu bentuk devosi untuk berdamai dengan sejarah penderitaan di masa silam sekaligus menjadi suatu cara mengubah masa depan. Cara merawat ingatan tersebut dapat digunakan melalui karya sastra.
Peranan karya sastra, selain mereproduksi solidaritas sosial, sekaligus menjawab pertanyaan esensial untuk berdamai dengan penderitaan serentak berdimensi transformatif untuk masa depan. 
Rio Nanto |
Bernama lengkap Yohanes De Brito Nanto. Anggota Serikat Sabda Allah. Selain dipercayakan sebagai Ketua Kelompok Menulis di Koran dan Diskusi Filsafat Ledalero, juga bergiat di Komunitas Teater Aletheia Ledalero, Arung Sastra Ledalero (ASAL), dan Komunitas KAHE Maumere.

Esai menarik lainnya dapat disimak di tautan ini.

0 Komentar:

Post a Comment