Om Rafael Belajar Menikmati Kritik Meski Pedas

Bagi Om Rafael, kritik adalah kritik dan membangun adalah membangun. Keduanya adalah kata yang harus berdiri sendiri. Mengharuskan penggabungan keduanya hanya akan melahirkan sikap antikritik. Hmmm...
om rafel belajar menikmat kritik meski pedas
Ilustrasi

Om Rafael Belajar Menikmati Kritik Meski Pedas


Menurut Om Rafael, ada empat sikap yang harus kita ambil ketika berhadapan dengan atau mendapat kritik. Nikmati, syukuri, buat evaluasi berdasarkan kritik, perbaiki diri. Tentu saja karena ini adalah pendapat Om Rafael, maka proses sebelum saya mendapatkan empat poin itu cukup rumit.

"Kritik ya kritik, membangun ya membangun. Itu dua perkara yang sama sekali berbeda," katanya suatu ketika. Saat itu senja sedang merah. Matahari perlahan berjalan pulang. "Tapi saya pernah dengar ada ungkapan kritik yang membangun, Om," kata saya. Om Rafael tertawa. Dia bilang saya salah dengar.

Baca juga: Kritik Tak Pernah Sepedas Kripik

"Yang harus membangun itu orang, Nana. Bukan kritik!" Katanya lalu menjelaskan bahwa tugas orang yang memberi kritik adalah memberi kritik. "Jangan paksa dia siapkan somasi," tambahnya.
"Somasi, Om?"
"Itu ka, Nana. Jalan keluar alternatif."
"Oh. Solusi."

Lalu saya bertanya tentang apa reaksi Om Rafael jika dikritik? Mengejutkan. Meski tampak bijak dan sering bingung, Om Rafael mengaku kritik selalu membuatnya sakit hati. "Tidak ada kritik yang baik. Mau disampaikan dengan santun, sopan, atau brutal, semua kritik itu bikin sakit hati. Ya, semua."

Tetapi menurutnya rasa sakit hati itu tidak bertahan lama. Setelahnya dia bersyukur karena merasa dicintai. Kok bisa? "Kalau saya orang benci saya, dia tidak akan berusaha membuat saya lebih baik. Kritik itu yang bisa bikin kita merelaksasi diri. Intromusik dan perbaik," tegasnya. Saya pikir maksudnya mungkin refleksi dan introspeksi.

"Memang pasti ada poin baik dari kritik, Om?"
"Iya, ka. Pasti ada. Kita bicara tentang kritik. Bukan tentang caci maki. Beda."
"Bagaimana membedakannya?"
"Pergi sekolah. Belajar!"

Baca juga: Membedakan Kritik dan Ungkapan Sakit Hati Bertopeng Kritikan

Sesungguhnya sepanjang obrolan itu, kata kritik di mulut Om Rafael beberapa kali berubah bunyi. Kadang kristik, kripik, krimbat, dan yang paling jauh adalah keramas. Tetapi mungkin memang baginya, semua yang keluar dari mulutnya sudah benar secara bunyi dan maksud. Aduh, Om Rafael e.

Dia mendelik marah ketika saya tanya apa itu keramas yang membangun? Katanya: "Nana harus tahan diri. Jangan terlalu sering kristen orang tua."

Hari telah sepenuhnya menjadi malam. Waktunya pamit. Di rumah, Guru Don menanti dengan cerita tentang orang-orang yang dibunuh karena menjadi tukang kritik. "Demikianlah bangsa kita pernah berhenti," katanya. Aku mengangguk saja. Tidak paham apa artinya kalimat itu. Saya hanya mengerti bahwa meski Om Rafael menguasai seluruh kebajikan, sesekali dia antikritik juga. Mungkin kita semua memang begitu.

#OmRafael

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment