Karena Kita Inferior, Hidup ini Menyedihkan Sekali

Catatan ini akan berjalan begitu saja. Mulai dari self esteem, ke alasan operasi plastik, sampai ke ujaran kebencian. Felix pernah bilang: "Sedih sekali hidup ini. Menangyis syudah." Begitulah kita. Orang-orang inferior yang bahagia ketika yang lain lebih buruk.
karena kita inferior hidup ini menyedihkan sekali
Ilustrasi | Foto: Daeng Irman Matara

Karena Kita Inferior, Hidup ini Menyedihkan Sekali


Alasan utama setiap orang merasa bahwa orang lain di luar dirinya lebih bahagia, lebih hebat, lebih ganteng, lebih cantik, lebih beruntung adalah karena self esteem yang rendah. Apa self esteem itu? Ada banyak ahli yang menjelaskan pengertiannya. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menghubungkannya dengan sekolah teknik menengah alias es-te-em. Menyedihkan sekali. Halaaah.

Atas berbagai pendapat para ahli itu serta bahan-bahan/sumber-sumber lainnya, self esteem saya sebut saja sebagai: cara seseorang melihat (harga) dirinya terhadap lingkungan atau standar (konsensus) yang diakui masyarakat umum.
Pada bagian berikutnya, cara melihat diri sendiri ini berpengaruh pada cara kita melihat orang di luar kita.
Sebagai contoh: Seseorang yang belum memiliki pekerjaan tetap, meski penghasilan bulanannya sama baiknya bahkan lebih dari mereka yang berangkat-jam-delapan-pulang-jam-dua-selama-enam-hari, akan dianggap 'aduh, kasihan sekali dia e' oleh masyarakat yang mengagungkan jam kerja teratur (normal).

Jika kita memiliki perasaan yang sama, maka sesungguhnya memiliki kecenderungan sebagai orang yang ber-self esteem rendah meski kita adalah lulusan terbaik di es-te-em dan kini menyandang gelar sarjana ekonomi. Ooops.

Tetapi sesungguhnya kita hidup di dunia (yang kita bangun sendiri) yang penuh standar ganda. Situasi seseorang dengan jam kerja teratur, oleh lingkungan yang sama, akan dianggap sebagai orang yang menyedihkan karena pembandingnya dengan orang yang jam kerjanya tidak teratur dan sesuka hati tetapi uangnya banyak. Calo proyek misalnya. Ehmmm...

Lalu masyarakat apa sebenarnya kita ini? Apakah self esteem kita baik-baik saja? Jangan-jangan kita tidak baik-baik saja. Saya jadi ingat Felix. Teman saya yang selama beberapa waktu meng-update status tentang betapa menyedihkannya (cara kita melihat) hidup kita. Felix benar.

Standar ganda yang kita pakai membuat kita selalu berubah dari waktu ke waktu dan menjadi tampak sangat menyedihkan. Seperti pohon yang dedaunannya bergerak pasrah pada angin? Cie cieee... Pasti sulit sekali. Harusnya kita jadi tiang listrik saja. Bisa kokoh. Asal hati-hati saja. Jangan sampai 'menabrak' mobil Novanto. Eh...

Baca juga: Cinta yang Terlalu dan Plagiarisme yang Berlalu

Tetapi begini saja dulu. Agar cara kita melihat self esteem ini menjadi mirip, baiknya kita melihat informasi-informasi lain yang dapat menjadi asupan penunjang, seperti Abraham Maslow, Harga Diri, Self Efficacy, Dubium Metodicum, Psikologi Populer, sampai Coopersmith. Cari di google. Tersedia ribuan tautan.

Dari pencarian model itulah saya berhasil melakukan konfirmasi bahwa berdasarkan self esteem, kita manusia dibagi ke dalam dua kelompok besar. Yang satu adalah individu dengan self esteem tinggi dan yang lain ber-self esteem rendah. Nah, kata inferior yang dipakai sebagai judul tulisan ini, berhubungan dengan self esteem yang rendah.

Dalam kalimat paling sederhana, inferior adalah pribadi yang merasa dirinya lebih rendah dari orang lain. Rendah diri. Kondisi ikutannya adalah, untuk membenarkan pandangan atau konsep dirinya, dia harus memasang penampilannya (pengetahuan, keputusan, dan lain-lain) berdasarkan harapan masyarakat kebanyakan.

Akibatnya banyak. Operasi plastik adalah salah satunya. Tetapi yang paling besar adalah kita menjadi masyarakat yang latah.

Kalau sebagian besar pembaca mengagumi Pramoedya Ananta Toer, kita juga mengaguminya. Bahkan tanpa perlu membaca karyanya. Toh, orang-orang hebat itu mengaguminya. Pada saat yang sama, kita malu mengakui bahwa kita lebih nyaman dengan penulis lain. Tere Liye misalnya.

Tetapi menjadi masyarakat latah barangkali tidak terlalu buruk. Terutama jika para penggiring opini yang kerap disebut social influencer itu berselera baik. Yang buruk adalah, masyarakat inferior akan memiliki kerinduan agar orang-orang hebat itu segera jatuh. Agar mengalami nasib serupa mereka? Ini berat sekali. Lebih berat dari apa yang bisa ditanggung Dylan.

Baca juga: Untuk Bahagia, Kita Hanya Butuh Orang Lain Menderita

Para penggemar Messi membenci Ronaldo karena merasa penampilan hebat Ronaldo akan membuat Messi menjadi kecil. Maka ketika Ronaldo bermain buruk, mereka senang sekali. Ini juga berlaku sebaliknya. Meski nampak lucu di permukaan, namun situasi seperti itu rasanya berpotensi merusak alam bawah sadar.

Ujaran kebencian, hoax, dan hal-hal serupa lainnya lahir dari masyarakat yang inferior. Yang tidak percaya bahwa sesungguhnya junjungan mereka baik-baik saja tanpa harus membuat saingannya terlihat buruk. Itu situasi yang preeeettt minta ampun, bukan?

Bagi bangsa dan negara kita tercinta ini, situasi ini menjadi semakin parah karena yang self esteem-nya rendah itulah yang banyak kita kirim ke senayan. Demikianlah kita akan mendengar kampanye: Pilih saya karena saya tidak seperti dia yang bla bla bla. Itu model kampanye paling taik sekakus yang pernah ada.

Gus Mus pernah tanya: Apakah tidak cukup dengan membuktikan kehebatan diri dan memuji diri sendiri, mengapa harus juga merendahkan orang lain? Kalau ditanyakan pada orang-orang ber-self esteem rendah, mereka akan balik tanya: Memangnya yang begitu bisa bikini kita menang, Gus? Dan Felix pantas bilang: Syedih syekali hyidup ini. Menangyisss sudah.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Blogger Ruteng

Klik tautan ini untuk catatan-catatan lain yang senada.

0 Komentar:

Post a Comment