Agar Anak Tidak Takut ke Dokter Gigi, Lakukan Tiga Hal Ini

drg. Celestin Hadi kembali menulis untuk Ineame - Blog Keluarga Indonesia. Kali ini dia berbagi pengalamannya tentang perawatan gigi anak. Banyak anak takut ke dokter gigi. Kenapa?
Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Oleh karena blog parenting tersebut akan segera ditutup dan setiap tulisan yang pernah tayang di sana dipindahkan ke ranalino.id, maka tulisan ini, yang membahas tentang cara agar anak-anak tidak takut ke dokter gigi juga turut dipindahkan ke sini.  

3 tips agar anak tidak takut ke dokter gigi | Grafis: INEAME

Agar Anak Tidak Takut ke Dokter Gigi, Lakukan Tiga Hal Ini


Oleh: drg. Celestin Hadi

Dalam Ilmu Kedokteran Gigi Anak, dikenal istilah Segitiga Perawatan Gigi Anak. Ini adalah sebuah diagram di mana anak berada di puncak segitiga dan pada dua kaki segitiga itu ada orang tua dan dokter gigi. Maksud dari diagram ini adalah orang tua dan dokter gigi bekerja sama untuk mengusahakan kesehatan gigi anak.

Yang termasuk di dalam usaha kesehatan gigi anak, bukan saja dalam hal perawatan atau membentuk perilaku kesehatan gigi sejak dini, tapi juga dalam hal mengatasi rasa takut pada anak. 

Wright membagi tingkat kooperatif anak sebagai berikut:

Pertama, Kooperatif. Berarti, anak dapat diajak kerja sama. Contoh sikap anak yang dapat diajak bekerja sama dengan dokter gigi: mau menerima perawatan gigi, tidak menangis atau bersikap tidak menyenangkan, tertarik dengan tindakan dokter gigi, dan sebagainya.

Kedua, Tidak Kooperatif. Terdiri dari tiga bagian, yakni:

Anak Tidak Mampu Menjadi Kooperatif. Biasanya terjadi pada anak tuna mental dengan kemampuan atau keterampilan yang terbatas sehingga kemampuan untuk kooperatif juga terbatas.

Anak Belum Mampu Menjadi Kooperatif. Biasanya terjadi pada anak balita atau anak yang berumur kurang dari 3 tahun. Hal ini disebabkan karena usianya yang terlalu muda dan belum dapat berkomunikasi. Namun, dengan adanya pertambahan usia diharapkan anak dapat menjadi kooperatif.

Anak Mempunyai Potensi Menjadi Kooperatif. Hal ini dapat terjadi jika proses pendekatan serta komunikasi dilakukan dengan lebih baik. Anak yang mula-mula tidak kooperatif, dapat berubah tingkah lakunya dan dapat dirawat.

Baca juga: Mari Bentuk Perilaku Hidup Sehat Sejak Usia Dini

Dalam pengalaman saya berpraktek sebagai dokter gigi selama delapan tahun terakhir, jauh lebih mudah mengendalikan pikiran anak daripada orang dewasa dalam hal mengatasi rasa takut pada perawatan gigi anak. Ini bisa dimaklumi.

Rasa takut yang tertanam dalam diri seseorang tentu saja semakin kuat seiring berjalannya waktu. Apalagi jika mengalami situasi tidak menyenangkan pada pengalaman kunjungan pertama ke dokter gigi, atau mendengar pengalaman berobat gigi yang tidak menyenangkan dari orang lain.

Oleh karenanya, pengalaman pertama anak berkunjung ke dokter gigi hendaknya (diciptakan agar) menjadi pengalaman yang menyenangkan. 

Berikut adalah beberapa tips untuk orang tua agar anak tidak takut ke dokter gigi.

Satu, anak dipersiapkan di rumah. Bisa dilakukan dengan memberikan pengertian atau gambaran yang akan diterima anak dengan bahasa mereka. Misalnya:

  • Mengajak anak ke dokter gigi untuk dilihat ada kuman dalam mulutnya dengan mengatakan bahwa yang bisa melihat kumannya hanya dokter gigi;
  • Ganti kata "cabut" gigi dengan kata "mengambil" gigi;
  • Ganti kata "bius" dengan kata "diisi obat"--tambahkan keterangan: diisi obat supaya tidak sakit saat giginya diambil.
  • Memotivasi anak bahwa dengan mengambil gigi yang lama akan tumbuh gigi baru yang lebih bagus. Dapat juga ditambahkan bahwa dengan bergantinya gigi berarti anak sudah mulai besar. Biasanya anak ada kebanggaan tersendiri saat dibilang akan tumbuh menjadi anak besar.
  • Memotivasi anak untuk menyikat gigi sebelum tidur malam dengan mengatakan: jangan tidur dengan kuman dalam mulut. Usir dulu kumannya pakai sikat gigi dan odol.

Mempersiapkan anak di rumah juga bisa dilakukan dengan bermain peran. Orang tua sebagai dokter gigi dan anak sebagai pasien. Tentu saja orang tua menggunakan bahasa-bahasa seperti di atas yg membuat anak nyaman. Gunakan kata-kata yang positif untuk memotivasi anak. "Kalau tidak gosok gigi, gigi akan rusak. Lalu nanti sakit." Jangan menggunakan kata-kata yang bernilai rasa negatif.

Selain memotivasi dengan kata-kata positif dan bermain peran, bisa juga dengan memperlihatkan video tentang anak-anak yang berani ke dokter gigi. Namun, orang tua harus tetap mendampingi dan memberi penjelasan dengan baik pada anak.

Dua, jangan menularkan rasa takut pada anak, apalagi menakut-nakuti anak. Yang sering terjadi adalah orang tua menakuti anak-anaknya dengan mengancam akan diapa-apakan oleh dokter gigi.

Baca juga: Memberitahu Anak Tanpa Menghakimi Pendapatnya

Kadang-kadang jika anak sedang rewel, orang tua menakut-nakutinya dengan bilang bahwa kalau rewel akan disuntik atau dicabut giginya. Yang akan terjadi kemudian adalah anak akan takut pada dokter gigi dan menolak perawatan.

Perlu diingat, kecemasan atau rasa takut bisa menular pada anak. Saat anak dirawat, pandai-pandailah orang tua menyembunyikan rasa takutnya. Bila orang tua takut, rasa takut atau cemas bisa dirasakan anak dengan memperhatikan wajah orang tuanya, mendengar suara-suara kecemasan seperti mendesis atau tarikan napas yang pendek/tidak teratur. Atau juga, orang tua memegang tangan anaknya terlampau kuat. 

Jika itu terjadi, ketakutan orang tua tertular. Anak akan cemas atau menolak perawatan atau bahkan memberontak. Sayang sekali bila ini terjadi pada anak yang sudah mengumpulkan keberaniannya lalu dipatahkan begitu saja.

Tiga, beri penghargaan pada anak. Adalah suatu pencapaian yang besar jika seorang anak mampu mengumpulkan keberanian dan mengalahkan rasa takutnya dalam hal apapun. Termasuk dalam kunjungan ke dokter gigi, atau menerima perawatan gigi. Hal ini perlu diapresiasi.

Tidak usah muluk-muluk. Pujian yang tulus, sentuhan di tangan, pelukan yang hangat, tepukan di pundak akan membuat anak-anak merasa dihargai pencapaiannya.

Demikian. Semoga bermanfaat. (*)

| drg. Celestin Hadi sehari-hari bertugas di Puskesmas Watu Alo, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai. Alumni FKG UI ini juga membuka praktek mandiri di Kedutul Ruteng.

0 Komentar:

Posting Komentar