Sejarah Hari Dongeng Sedunia, Manfaat dan Cara Memilih Dongeng untuk Anak

Tidak banyak yang tahu bahwa di awal era 90-an, para pendongeng di Swedia merancang All Storytellers Day. Apa itu All Storytellers Day dan bagaimana hubungannya dengan Hari Dongeng Sedunia?

sejarah hari dongeng sedunia manfaat dan cara memilih dongeng untuk anak
Hari Dongeng Sedunia 

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Ineame - Blog Keluarga Indonesia. Dalam perjalanannya, blog tersebut--yang semua diniatkan jadi ruang cerita seluruh keluarga di negeri ini--ternyata agak sulit diurus sendiri. Berbagai kesibukan membuat rencana baik membangun ruang certa itu terpaksa dihentikan. Blog Ineame yang masih memakai blogspot akan segera dihapus permanen. 

Atas alasan itulah, artikel tentang sejarah hari dongeng sedunia ini dipindahkan ke ranalino.id, dengan harapan bahwa tulisan ini tidak ikut hilang. Selamat membaca.

Sejarah Hari Dongeng Sedunia, Manfaat dan Cara Memilih Dongeng untuk Anak


1. Sejarah dan Tujuan Peringatan Hari Dongeng Sedunia


Situs National Geographic menulis, pada tanggal 20 Maret 1991, negara Swedia mulai merayakan All Storytellers Day. Perayaan tersebut kemudian diadopsi oleh dunia internasional sehingga tanggal 20 Maret kini dikenal sebagai World Storytelling Day atau Hari Dongeng Sedunia.

Sebuah situs lain yang fokus pada peringatan hari-hari penting di dunia bernama daysoftheyear.com menulis, tujuan peringatan World Storytelling Day atau Hari Dongeng Sedunia adalah untuk merayakan/memperingati seni oral storytelling atau mendongeng dengan cara melibatkan sebanyak mungkin orang di berbagai belahan dunia menuturkan dan mendengar dongeng dalam bahasa mereka masing-masing.

Peringatan Hari Dongeng Sedunia ini tentu saja mendasarkan dirinya pada fakta bahwa dongeng dapat mengubah dunia melalui transfer nilai (pesan moral) kepada para pendengarnya. Dongeng, yang biasanya ditujukan kepada pendengar usia anak-anak, dipercaya dapat menjadi jembatan yang baik untuk mendidik anak dalam bentuk yang menyenangkan (fun learning).

Baca juga: HUT Kedua Dongeng untuk Anak di Ruteng, Ada Gadis Korek Api

Caryl-Sue dari National Geographic Society yang menulis laporan tentang World Storytelling Day  juga mengutip Vyasa, penulis epos Mahabharata, yang mengatakan bahwa jika seseorang mendengar (sebuah cerita) dengan sangat baik, di bagian akhir dia akan menjadi seseorang yang berbeda. Hal itu tentu berhubungan dengan manfaat dongeng bagi para pendengarnya.

2. Penelitian tentang Manfaat Dongeng untuk Anak


Metode dongeng dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus edisi Desember 2010 menampilkan artikel berjudul Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah yang dikerjakan oleh Latifah Nur Ahyani.

Latifah, berdasarkan risetnya, kemudian menyimpulkan bahwa metode dongeng sebagai stimulasi
berperan dalam meningkatkan perkembangan kecerdasan moral anak usia 5 tahun yang menjadi siswa di TK B di sekolah dengan fasilitas terbatas dan bukan sekolah favorit.

Anak yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng memiliki tingkat kecerdasan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng. Juga terdapat peningkatan kecerdasan moral antara sebelum dan setelah mendengar dongeng.

Pada beberapa tulisan sebelumnya, Ineame - Blog Keluarga Indonesia telah membahas manfaat dongeng untuk anak. Ps: Baca "Manfaat Dongeng untuk Anak, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana".

3. Bagaimana Memilih Dongeng yang Baik untuk Anak?


Pertanyaan tersebut diajukan atas fakta bahwa tidak semua dongeng dapat dituturkan untuk anak-anak. Beberapa cerita asli dari pendongeng dunia seperti Brothers Grimm menampilkan adegan-adegan sadis.

Dalam Putri Salju dan Tujuh Kurcaci misalnya, Jacob dan Wilhelm Grimm menulis tentang Ratu yang meminta bawahannya membunuh Putri Salju dan sebagai bukti harus membawa jantung Snow White kepadanya. Adegan seperti itu tentu saja tidak cukup baik untuk diceritakan pada anak-anak.

Beberapa dongeng lain dalam versi aslinya juga dirasa cukup kejam. Atas dasar itulah maka melakukan modifikasi atas dongeng-dongeng yang sudah ada--sepanjang tidak mengubah ide cerita secara keseluruhan--menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan ketika kita ingin memilih dongeng yang baik untuk anak.

Pertama, memilih dongeng dari cerita yang dekat dengan hidup harian mereka. Dongeng-dongeng yang telah dimodifikasi (disesuaikan dengan konteks dan pemahaman bahasa anak) adalah salah satunya. Cara lainnya adalah dengan mengubah teks-teks lama (kitab suci, cerita rakyat) menjadi naskah yang baru. Pada cara ini, orang tua, mau tidak mau harus lebih banyak membaca.

Kedua, memilih dongeng yang tepat usia. Cerita fabel lebih baik untuk anak-anak usia pra-sekolah. Pada usia sekolah (awal Sekolah Dasar) dongeng putri-putri, kisah kepahlawanan lokal, dapat menjadi pilihan yang tepat. Orang tua harus tahu, dan dengan sadar memilih cerita yang tepat dan sesuai untuk anak-anak mereka.

Ketiga, memilih dongeng yang ringkas. Tidak banyak barangkali dongeng yang ringkas atau pendek. Pada titik inilah orang tua diharapkan memiliki kemampuan meringkas cerita agar dapat dituturkan dalam rentang waktu yang pendek. Dongeng yang baik adalah yang dituturkan/dibacakan sebelum anak tidur. Cara ini akan baik digunakan jika kita percaya bahwa dongeng sebelum tidur akan membangun kecintaan anak pada cerita (bacaan) sehingga ketika mereka telah dapat membaca sendiri, mereka akan memilih bacaan yang 'gerbangnya' telah kita buka sebelumnya.

Baca juga: Pesan Moral Dongeng untuk Anak, Apakah Ada?

Masih banyak cara lain yang dapat dipakai dalam hal memilih cerita dongeng yang tepat. Setiap orang tua tentu tahu cerita dongeng apa yang tepat untuk anak mereka. Pada saat yang sama, Bapa dan Mama harus menjadi penyedia cerita bagi anak-anak mereka.

Armin Bell
Tinggal di Ruteng

0 Komentar:

Posting Komentar