Hal Tak Terlihat Namun Penting Terkait Video Viral Pengakuan Istri Migran di Manggarai

Seorang Istri Migran bicara jujur tentang bagaimana dia memenuhi kebutuhan biologisnya. Video itu menjadi viral. Banyak yang kaget ketika berjumpa dengan kejujuran seorang istri migran tentang hasrat seksualnya. Roy Dampung menulis pendapatnya tentang video viral tersebut; seputar hal-hal tak terlihat namun penting.
hal tak penting terkait video viral pengakuan istri migran
Roy Dampung | Foto: Kaka Ited

Hal Tak Terlihat Namun Penting Terkait Video Viral Pengakuan Istri Migran di Manggarai


Pengantar Ed.

Istri Migran (ISMI) adalah terminologi yang mulai dipopulerkan di Manggarai oleh para pegiat advokasi buruh migran untuk mengganti sebutan Jamal atau Janda Malaysia yang dianggap sangat diskriminatif.

Namun meski sebutan berganti, stigma bahwa mereka adalah perempuan yang haus belaian dan karenanya dapat dengan mudah menjadi objek seksual para pria hidung belang, rasanya agak sulit diubah.
Maka, ketika ada perempuan, ISMI, yang secara jujur menyampaikan bahwa dirinya berkuasa atas hasratnya dan berkewajiban memenuhinya, dalam arti dia adalah subjek, semua orang menjadi kaget. Begitulah.
Para pengguna media sosial di Manggarai sedang ramai membicarakan sebuah video yang berisi pengakuan seorang perempuan tentang alasannya (sebut saja) berselingkuh. Video itu beredar luas, menjadi viral, karena keterusterangan yang tidak biasa; perempuan secara jujur bercerita bahwa dirinya memiliki kebutuhan biologis (hasrat seksual) yang harus dipenuhi.

Sesungguhnya tidak ada yang sangat istimewa dari pengakuan tersebut karena video ini (menurut dugaan saya) diambil pada saat acara/urusan adat. Siapa saja yang pernah mengikuti acara adat serupa di Manggarai, pasti pernah mendengar percakapan segamblang dan pengakuan sejujur itu.

Yang membuatnya menjadi viral adalah karena momen dari ruang pribadi itu, entah untuk apa, diunggah ke media sosial oleh orang lain. Dari sanalah percakapan tentang video ini bermula. Video tersebut, atas alasan kepantasan dan penghargaan pada momen-momen pribadi orang lain, tidak unggah kembali di sini.

Tetapi sebagai gambaran bagi yang belum menyaksikannya (atau sudah tetapi tidak mengerti isi dialognya), saya ceritakan secara singkat. "Seorang ibu mengakui bahwa karena kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi sehubungan dengan suaminya yang telah lama merantau ke Malaysia, dia mencari pemenuhan dengan cara yang dia putuskan sendiri; berhubungan dengan laki-laki lain."

Tak lama setelah video itu viral, beranda facebook orang-orang Manggarai penuh dengan perdebatan. Sebagian besar menganggap situasi dalam video itu sebagai sesuatu yang lucu. Sebagian lagi membuat tagar (hashtag) dari kata-kata yang disampaikan perempuan itu. Beberapa bahkan mengolok-olok, entah kepada perempuan itu, juga kepada suaminya yang merantau. Viral dan menjadi buruk.

Salah seorang teman saya, Roy Dampung, kemudian membuat empat status bersambung. Status-status tersebut sangat menarik sehingga atas izinnya saya unggah di ranalino.id. Mari simak catatannya berikut ini.

hal tak terlihat namun penting terkait video viral pengakuan istri migran
Image dari poskotanews.com

Empat Bagian tentang Hal-hal Di Balik Video Viral Istri Migran di Manggarai


Oleh: Roy Dampung

Bagian Satu

Video yang lagi viral saat ini, buat saya, seolah mau menggugah kita akan fenomena yang kurang lebih berlangsung 10 - 15 tahun terakhir. Di mana cukup banyak saudara-saudara kita yang mengadu peruntungan di tanah rantau, sebut saja Malaysia, dan lain-lain. Maka muncullah istilah-istilah baru yangg mengiringi fenomena itu, seperti JaMal, JaKal, dan lain sebagainya.

Di sini ada beberapa persoalan yang muncul bersamaan, yakni: persoalan ekonomi, persoalan sosial, dan persoalan-persoalan lain yang mungkin tidak sedominan dua soal di atas. Fenomena ngo pala/ngo mbeot lau tana data tentu berangkat dari persoalan ekonomi. Namun persoalan ekonomi ini juga kadang masih bisa diperdebatkan.

Mengapa demikian? Karena kepergian saudara-saudara kita ke tanah rantau, tidak terjadi semata-mata karena sudah tidak punya sumber daya ekonomi yang bisa diandalkan untuk kehidupan. Sumber daya di sini bisa diartikan sebagai tanah, baik itu dalam bentuk Uma (kebun) maupun Galung (sawah). Tentu saja masih ada sumber-sumber daya lainnya, tetapi dalam konteks Manggarai atau juga negara agraris seperti Indonesia, sumber daya ini sering diartikan sebagai lahan pertanian.

Tidak semua saudara kita yang merantau itu karena memang sudah tidak punya tanah. Tidak sedikit dari mereka yang malah memiliki tanah yang cukup luas. Lalu, mengapa dgn kepemilikan sumber daya itu mereka masih memutuskan untuk ngo pala/ngo mbeot atau merantau?

Bagian Dua

Ada dua alasan ekonomi yang paling dominan yang membuat masyarakat kita memilih merantau bekerja (pala) ke luar negeri atau ke tempat lain. Pertama, luas lahan pertanian yang terbatas. Ini disebabkan karena jumlah keturunan (baca: penduduk) yang semakin bertambah, sementara lahan garapan tidak bertambah luas. Kedua, ase-kae kita dari desa yang mayoritas petani itu tidak melihat sektor pertanian sebagai sektor yang menjanjikan. Atau, profesi bertani itu (dipandang) bukan sebuah jaminan hidup cukup.

Pola pikir dan ketekunan berperan besar dalam hal ini. Masyarakat kita masih rendah dalam kesadaran memanfaatkan lahan produktif. Pemahaman akan intensifikasi dan lain sebagainya, masih rendah. Manajemen hasil panen masih rendah. Tidak heran para petani kita susah keluar dari kondisi terpuruk karena pasca panen, mereka sudah dihadapkan dengan melunasi ijon, dan lain-lain.

Kualitas komoditi juga tidak terjaga karena kurangnya modal dan pengetahuan. Di sini Pemerintah dan lembaga non pemerintah bisa mengintervensi dan memberi advokasi. Saya kira teman-teman saya di Dinas Pertanian lebih paham akan hal ini.

Bagian Tiga

Masalah sosial. Inilah yang terjadi sebagai (sebut saja) efek domino dari persoalan yang sudah saya sedikit uraikan bagian satu dan dua di atas. Mayoritas ase-kae kita yang merantau (pala) ke luar negeri/daerah meninggalkan istri dan anak. Bahwasanya kemudian persoalan ekonomi bisa diatasi, ada soal lain yg perlu didiskusikan bersama.

Istri punya kebutuhan yang sama layaknya kaum pria (suami). Seorang perempuan yang ditinggal merantau oleh suaminya cenderung mendapat stigma negatif. Makanya kemudian muncul istilah JaMal, dan lain-lain. Kehadiran seorang suami (Bapak Rumah Tangga) bukan saja soal kebutuhan biologis.

Kebutuhan sosial juga sangat vital. Dari sisi kebutuhan biologis (seksual), pria dan wanita punya kebutuhan yang sama dan sederajat.
Dalam pandangan saya, masyarakat kita masih melihat kaum perempuan dalam posisi subordinat untuk hal ini. Pemenuhan kebutuhan biologis bagi kaum perempuan masih dilihat sebagai konsekuensi hasrat biologis kaum pria.
Tidak heran jika kita pun masih berasumsi tidak adil dalam menilai perilaku perempuan dan pria ketika ingin memenuhi kebutuhan ini.

Baca juga: Analisis Cerpen "Lelaki dari Malaysia"

Mungkin tidak semua kaum pria yang merantau (pala) itu tipe yang setia. Maaf. Di sana mereka bisa saja memenuhi kebutuhan biologis dengan pasangan yang tidak sah atau bisa saya katakan berzinah. Sementara kaum perempuan yang menunggu di kampung harus menanggung stigma kurang mengenakkan. Mereka tidak sebebas kaum pria ketika ingin memenuhi kebutuhan biologisnya.

Tidak berzinah saja sudah jadi bahan gunjingan. Apalagi kalo berzinah. Cilaka 13! Itulah alasan saya mengapa tidak semata-mata menyalahkan perempuan yang ada dalam video yang sedang viral di dunia maya, khususnya di kalangan orang Manggarai itu.

Bahwa dia menggunakan bahasa yang kurang patut atau terlalu vulgar, itu saya akui. Tapi poinnya adalah: itu bentuk kejujuran dan saya yakin bukan cuma dia yang mengalami beban itu. Bukan cuma itu, masalah sosial lain adalah anak-anak. Itu akan kita bahas pada bagian berikut.

Bagian Empat

Anak-anak. Tidak semua anak-anak siap ketika ditinggal ayahnya merantau (pala). Apalagi ketika mereka, anak-anak itu, masih dalam usia pertumbuhan. Dalam pergaulan seusianya, mereka tidak jarang jadi minder dengan teman sebayanya. Mereka seperti kehilangan sosok yang tangguh yang melindungi mereka.

Bukan saya menyangsikan peran ibu, tapi sosok ayah, walau bukan sosok yang melahirkan, tetapi kehadirannya di tengah keluarga merupakan kekuatan tersendiri (secara psikologis). Teman-teman yang kuliah atau belajar khusus Psikologi tentu paham maksud saya.

Sehingga ada benarnya istilah yang saya pernah dengar beberapa tahun lalu: "Kehilangan Ibu adalah kehilangan kasih sayang, dan kehilangan ayah adalah kehilangan kehormatan."
Bayangkan saja perasaan anak yang ditinggal ayahnya merantau tanpa kejelasan apakah ayahnya akan pulang atau tidak. Beban psikologis pasti terasa, apalagi ketika mereka sudah paham beban psikologis dan stigma yang ibu mereka tanggung. 
Suka tidak suka, inilah wajah sebagian generasi penerus kita. Inilah potret besar seperti yang ceritakan dalam empat bagian tulisan di atas. Potret ini banyak terjadi di daerah kita, di kampung-kampung kita. Silakan disimpulkan sendiri. Tabe.

Roy Dampung | 
Tinggal di Leda, Ruteng.

Klik tautan ini untuk membaca catatan lain tentang interaksi kita di Media Sosial.

Ed: Armin Bell

Catatan:

  1. Telah terjadi penyuntingan pada beberapa kata tanpa mengubah maksud tulisan Roy Dampung. Penyuntingan terutama dilakukan pada kata-kata yang pada status ditulis singkat, seperti yg menjadi yang, dsbx menjadi dan lain sebagainya, dan beberapa kata/bentuk penulisan lain.
  2. Tulisan ini, sebagaimana ditulis Roy pada statusnya, dimaksudkan sebagai bahan diskusi bersama.
  3. Blog ranalino.id menerima tulisan-tulisan lain, dapat dikirim via email ke: armin.ranalino@gmail.com

0 Komentar:

Post a Comment