Mora Masa: Menabung Rumput Menuai Rupiah

Mama-mama di Desa Ulubelu membentuk kelompok tani. Nama kelompok itu adalah Mora Masa. Mereka memelihara sapi dengan konsep menabung rumput. Seperti apa kisah perempuan hebat di salah satu desa di Kabupaten Ngada itu? Yeris Meka menulis cerita itu untuk pembaca ranalino.id.
mora masa menabung rumput menuai rupiah
Yeris Meka

Mora Masa: Menabung Rumput, Menuai Rupiah


Oleh: Yeris Meka

Memelihara sapi untuk sebagian orang memang jadi hobi. Entahlah bagaimana mereka menikmatinya. Sebagian yang lain memelihara sapi dengan tujuan. Market oriented.

Sejak ruminansia (hewan pemamah biak) ini disapih dan mulai belajar mengunyah rumput, seharusnya peternak sudah bisa mengkalkulasikan berapa ton rumput yng bisa dikonversi menjadi daging sampai seekor sapi dijual. Sayangnya beberapa peternak mengabaikan bagian awal ini.

Dan, di kampung-kampung, sederhananya beternak sapi adalah menabung rumput. Rumput dimakan sapi. Sapi tumbuh jadi besar. Makin besar, makin banyak dagingnya. Bukan begitu, Paman?
Nah, kalau tidak tanam rumput di kebun sendiri, macam mana itu sapi makan. Ambil rumput di kebun orang? Baik kalau diizinkan. Kalau mereka juga punya sapi? Macam mana sapimu merumput? Ah, masa musti diajar juga yang begini ne? 
Mari kuceritakan kau tentang peternak di kampung sebelah. Sekali-kali tengoklah mereka. Ulubelu.

Desa Ulubelu. Desa yang baru dimekarkan dari inangnya Todabelu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Di belakang Kemah Tabor. Tak sampai satu kilo. Persis di lokasi pengeboran gas bumi. Di mana? Ya, di Mana.

Kami ke Ulubelu. Menjelang akhir Agustus 2018 lalu. Mengunjungi kelompok Mora Masa. Kelompok yang sudah mantap dan sukses beternak sapi. Kunjungan biasa, pikir saya awalnya. Lalu, yang terjadi di lapangan? Kejutan-kejutan kecil. Setidaknya untuk saya.

Anggota Mora Masa semuanya mama-mama. Ini wah. Tidak biasa. Sebab yang pa'u ngawu[1] dan dheso selo[2] dalam sub tugas tradisi orang Bajawa, biasanya kaum bapak. Butuh tenaga besar untuk jadi gembala atau menghela talinya.
Sapi itu kuat, kadang brutal. Biar kami saja.
Bagaimana kalau  ternyata sapi-sapi itu bandel, tidak mau dituntun untuk segera berpindah tempat merumput? Atau, ternyata seekor sapi masih mewarisi sifat-sifat liar dan main seruduk. Haruslah bapak-bapak yang turun tangan. Macam mana kalau mama-mama yang urus begini?

Lalu saya ingat. The power of emak-emak. Di kota, ada mama-mama yang bisa bawa motor, sein kiri belok kanan. Bikin celaka. Dimarahi, malah balik memarahi. Menang mereka, setelah suara tinggi dan muntahkan banyak kata. Dia pikir hebat laku macam tu.

Di kampung, ya begini. Urus kebun, pelihara sapi. Kerja kasar. Ah... Akan susah kau jumpai yang kukunya dicat merah. Juga tak akan mengeluh mereka dijilat panas. Padahal menjerit-jerit yang lain ketika dirajam matahari. Sudah macam cacing saja. Aiz..

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik yang Bercerita Jujur tentang Manggarai Lima Lagu

Ok! Tentang Mora Masa.

Dalam bahasa Bhajawa, Mora berarti mencintai, menyayangi. Masa artinya semua. Mora Masa dapat diartikan mencintai sehingga mengayomi dan melindungi semua. Itu!

Sebelum konsen memelihara sapi, kelompok yang sudah aktif sejak 2005 ini, menggarap kegiatan arisan sampai urusan kebersihan lingkungan. Mama-mama  yang sama. Belum jua terganti. Mereka selalu hadir dalam setiap event yang diselenggarakan desa. Lomba masak, lomba seni, lomba kebersihan lingkungan. Mereka aktif. Melibatkan diri. Warbiasa!

Atas partisipasi aktif kelompok ini menggalakkan kegiatan peternakan, sejak menyiapkan hijauan pakan di masing-masing kebun, sampai konsep beternak sapi paron oleh anggotanya, pada tahun 2015 Mora Masa mendapat stimulan beberapa induk sapi.

Adalah mama Emirensiana Wawo, the woman behind the scene. Ketua kelompok. Orangnya ramah bukan main. Ngomong tentang beternak jago, mau tarik sapi ju bisa.

Sebenarnya, jadwal kami sehari saja berada di kelompok ini. Tetapi, saya memerlukan waktu lebih bersama Mama Emy. Begitu ia saya panggil. Penasaran saya. Susah bersua socialpreneur macam beliau ne. Kapan lay?

Esok harinya, saya ke sana lagi. Kami bercakap-cakap di belakang rumah. Di kandang sapi. Dua ekor sapi jantan tampak gemuk. Jinak lagi. Tenang-tenang saja mengunyah rumput. Juga tidak keberatan waktu pantat dan punggungnya ditepuk.

Satu meter dari kandang, kotoran sapi menggunung. Sudah jadi kompos. Sengaja dikumpulkan. Menunggu pesanan. Menurut Mama Emy, biasanya dipesan orang Kematabor. Ditebar di kebun misi. Sekali diangkut truk. Dihargai satu juta rupiah. Dalam sebulan bisa dikumpulkan satu truk. Lumayan. Ta'i jadi doi. Mutlak sudah. Yang tak ada harga dari seekor sapi hanya kentutnya saja.

“Ya, begini sudah. Hiburan. Tidak ada mereka di kandang, rasanya ada yang kurang. Jadi aneh,” kata Mama Emy. Tangannya mengelus-elus jidat sapi.
Dari kandang Mama Emy ini, pernah seekor sapi hendak diikutkan ke kontes ternak ke Nangapanda pada 2016. Tapi batal. “Sapinya mendadak lemah. Saya sudah stress. Tapi untungnya kembali segar.” Mama Emy bercerita.
“Kebun rumput? Semua anggota ada ko Mama Emy?” Saya mencari tahu.

“Mau makan apa sapi, kalau kita tak punya kebun rumput? Gotong-royong kita dulu. Zo[3]. Semua mama-mama. Kerja. Tanam rumput. Kalau satu kebun su habis kita tanam, kita pindah lagi ke kebun anggota lain,” jelasnya tentang konsep menyediakan hijauan untuk sapi ala kelompok Mora Masa.

Mama Emy, pernah beberapa kali dipercaya jadi pemateri untuk pelatihan kelompok-kelompok lain. “Padahal saya ini kuliah juga tidak,” katanya merendah.

Berkat keuletan dan garangnya beliau, sampai saat ini kelompok Mora Masa telah menjadi kelompok yang sukses. Populasi sapi sudah mencapai tujuh puluh ekor. Tersebar di dua puluh anggotanya. Ya mama-mama itu.

Baca juga: Public Speaking: Pengertian, Pelaku, Tujuan dan Alur 

Bagaimana pengawasannya supaya anggota kelompok tidak serampangan menjual sapi? Kelompok ini sudah berkomitmen. Melaporkan keadaan sapi. Sapi betina produktif misalnya tidak boleh dijual, apalagi dijagal. “Kita data ke setiap pemilik. Jumlah jantan, betina, yang lagi bunting. Itu! Tidak cuma di kertas. Setiap bulan kita periksa. Apel sapi.”

Saya kaget.
What?
Apel?
Sapi?
Sapi apel?

Belum pulih saya dari keterkejutan itu, Mama Emy sudah melanjutkan. “Itu di belakang sana tu. Sapi mereka ikat di situ. Kita periksa satu-satu. Ya! Kita ini kelompok ternak sapi. Memang manusia yang kelola. Kelompok ini, ada manusia. Tapi yang utama kita sapi. Jangan hanya nama saja. Sapinya mana?” Mama Emy semangat menjelaskan.

Mantap betul ini.

Sudah tengah hari. Saya harus pulang. Mama Emy mungkin mau pi potong rumput. Kete kuru[4]. Sip.

Okay, Mama Emy. Mora Masa. Thanks! (*)

  • Baca juga artikel terkait dalam kategori Dari Desa atau tulisan menarik lain Yeris Meka di ranalino.id.

Catatan:
Pa'u ngawu. Pa'u: Ikat, Ngawu: Hewan besar (kuda, kerbau, sapi).
Dheso selo: Aktivitas memindahkan ternak pada pagi atau sore hari.
Zo. Rau Zo: Aktivitas membersihkan kebun yang dilakukan dengan cara bergilir. Menanam juga sering dilakukan dengan sistem ini.
Kete kuru: Potong rumput.

0 Komentar:

Post a Comment