Lima Film Anak Paling Sering Tayang di Rumah Kami, Ada Cats and Peachtopia

Sudah lebih dari setahun terakhir kami mematikan televisi. Tayangan sinetron yang berbelit-belit, berita dan dialog politik yang membingungkan, dan beberapa alasan lainnya membuat kami memutuskan berhenti berlangganan televisi. Update berita dapat dilakukan via media daring dan langganan surat kabar.
Catatan: Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Ditayangkan lagi di ranalino.id--seperti juga tulisan-tulisan lainnya--karena blog itu akan segera 'dimatikan'. Keputusan mematikan blog tersebut tentu saja bukan hal yang mudah. Blog Ineame dibangun dengan niat menjadi sumber bacaan keluarga. Blog Ineame memang ditujukan untuk itu; penyedia artikel parenting, serta publikasi tulisan anak-anak. Dalam perjalanannya, blog itu tidak dapat diurus dengan baik sehingga diputuskan untuk dihapus saja.

Tulisan ini, yang berjudul "Lima Film Anak Paling Sering Tayang di Rumah Kami, Ada Cats and Peachtopia" ini membahas film-film yang pada suatu masa memang menjadi tayangan favorit di rumah kami.    

lima film anak paling sering tayang ada cats and peachtopia
Cats and Peachtopia | Image: Ist.

Lima Film Anak Paling Sering Tayang di Rumah Kami, Ada Cats and Peachtopia


Oleh: Armin Bell

Sebagai ganti atas televisi yang dimatikan itu, untuk Rana dan Lino, saya dan mama mereka mengubah arus kas keluar, dari biaya langganan televisi ke biaya paket data. Maka kini pesawat televisi di rumah kami lebih sering tersambung ke Youtube dengan bermacam-macam pilihan.

Agar aman untuk usia anak, mode tayangnya diatur ke redistricted mode. Mereka, Rana dan Lino, bisa memilih tayangan princess-princess, ABC Kids Tv, Ryan Toys Review, CKN Toys, sampai behind the scene untuk film-film anak.

Pada waktu-waktu tertentu, kuota data akan kami pakai untuk mengunduh (download) film-film anak. Ada banyak di koleksi kami dan lima film anak berikut ini adalah yang paling sering tayang, diputar berulang-ulang, dengan kegembiraan yang selalu sama setiap menyaksikannya.

Lino, anak kami yang baru tiga tahun itu bahkan hafal nada-nada yang dinyanyikan Tamatoa di film Moana. Tamatoa, keong laut bertubuh raksasa itu menyanyikan (sebut saja) nada-nada miring, dan Lino selalu senang menyaksikan bagian itu, ikut bernyanyi, dalam ketepatan gerak nada yang selalu berhasil membuat kami kagum. Tepuk tangaaaaan. Lalu dia melompat-lompat tak tentu arah, belum tahu bagaimana bereaksi dengan benar pada pujian. Ah, lucu sekali.

Inilah daftar lima film anak yang menyenangkan dan menjadi tontonan favorit keluarga kami.


1. Sing

Di indiatimes.com, film ini mendapat tiga setengah bintang dari kritikus. Film animasi garapan Garth Jennings ini bergenre drama/musik, dibintangi oleh Matthew McConauhey, Reese Whiterspoon, Seth MacFarlene, dan sejumlah aktor/aktris lainnya.

Film Sing yang diproduksi oleh Illumination Entertainment tahun 2016 ini berkisah tentang Buster Moon, koala yang berusaha menyelamatkan ruang pertunjukan teater miliknya. Perjalanan film secara keseluruhan akan mengingatkan kita pada ajang pencarian penyanyi berbakat yang kerap kita lihat akhir-akhir ini.

Tetapi, yang membuatnya menarik--selain drama khas "kisah di belakang layar" para peserta idol-idol yang biasanya dibuat para produser untuk menaikkan rating--adalah Sing mengambil sudut penceritaan tentang perjuangan para produser bertahan di industri kesenian. Buster Moon adalah wajah para produser, orang-orang kreatif, yang seperti tidak pernah kehabisan energi.

Film ini baik sekali untuk menumbuhkan semangat juang itu pada anak-anak. Once you hit rock bottom, there’s nowhere else to go but up. Begitu kata Moon.

2. Moana

Selain tentang Tamatoa yang lagunya disukai Lino tadi, Moana (2016) adalah film yang berhasil membuat Rana merasa sebagai bagian dari cerita. Merasa seperti Moana. Tentang ini barangkali dapat dijelaskan dengan baik melalui konsep pembaca tersirat atau implied readers yang dikemukan oleh Wolfgang Iser.

Tetapi itu nanti saja. Sekarang tentang Moana, film animasi tiga dimensi yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios, disutradarai oleh Roy Clements dan John Musker. Sejak pertama kali ada di laptop kami, film ini telah ribuan kali tayang ulang. Ribuan kali pula kami menyanyi bersama Auliʻi Cravalho, Dwayne Johnson, Rachel House, Temuera Morrison, Jemaine Clement, Nicole Scherzinger, Alan Tudyk, dan lain-lain.

Baca juga: Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Ketika menontonnya untuk kali pertama, saya langsung bilang: Film ini saya sekali! Penggambaran tentang alam yang indah, pentingnya usaha bersama menjaga keutuhan ciptaan, dan konsep mesianisme adalah bagian yang paling saya sukai. Ada kesadaran yang tiba-tiba mengirim saya ke perjalanan yang lain ketika mendapati dialog ini:

Moana: You did everything fot them so they'd love you.
Maui: It was never enough.

Maui itu demigod. Manusia setengah dewa. Atau sebaliknya? Pernyataannya tentang it was never enough itu mengganggu sekali. Seperti itukah kita manusia fana ini? Saya pikir...

Eh, kok malah tentang saya? Ini kan tentang film anak. Piye iki? Tetapi begitulah. Bahwa Moana adalah salah satu film anak terbaik yang dapat menjadi gerbang pengenalan cinta lingkungan kepada anak-anak kita. Juga tentang keyakinan bahwa setiap anak dapat tumbuh sebagai penyelamat. Di dunia kecilnya, di lingkungannya.

3. Cats and Peachtopia

Cats and Peachtopia baru saja dirilis. Tahun 2018 ini. Sutradaranya adalah Gary Wang yang juga adalah pemilik Light Chaser Animation Studios. Wang juga dikenal sebagai novelis, penulis naskah dan seorang entrepreneur di China.

Menurut layar.id, film Cats and Peachtopia atau Mao Yu Tao Hua Yuan ini memakan waktu empat tahun dalam proses produksinya. Beberapa nama terlibat sebagai pengisi suara, yakni: Li Yufeng, Yang Yan Duo, Zhang Zhe, dan Chen Lin Sheng. Nama-nama itu barangkali asing di telinga penggemar film di Indonesia.

Tetapi film ini menjadi salah satu film favorit di rumah kami. Tentang perjalanan anak kucing bernama Cloak mencari ibunya, yang dalam cerita Blanket ayahnya telah ada di Peachtopia, surga kucing.

Relasi ayah-anak, kerinduan akan kasih sayang ibu yang membangkitkan semangat dan keberanian, serta (lagi-lagi kita dikritik) kemampuan manusia merusak keutuhan alam ciptaan adalah benang merah cerita. Agak sulit untuk menyebut ini sebagai tontonan yang mengibur kalau yang dimaksudkan dengan hiburan itu adalah cerita-cerita lucu, ha-ha-hi-hi, dan aneka komedi lainnya.

Cerita dalam film Cat and Peachtopia diolah dengan baik; bahwa konsekuensi pencarian adalah kesulitan-kesulitan, kebutuhan akan bantuan pihak lain, dan ujung yang tidak pasti. Di Cat and Peachtopia, pergumulan paling sulit adalah ketika ciptaan lain harus bertemu dengan ciptaan Tuhan yang paling sempurna bernama manusia. Manusia menyulitkan!

Bagi anak-anak, bagi Rana dan Lino, film ini baik untuk pelajaran tentang tidak mudah menyerah. Sebagai film animasi, Mao Yu Tao Hua Yuan ini berhasil menampilkan narasi Asia dari dalam, hal yang mungkin sulit kita temui dalam film-film garapan Hollywood.

4. Ernest and Celestine

Film anak berjudul asli Ernest et Célestine ini mendapat penghargaan César Award for Best Animated Film. Ernest and Celestine (2012) adalah film produksi studio GKIDS, dibintangi oleh Forest Whitaker, Lauren Bacall, Mackenzie Foy.

Di tengah arus animasi tiga dimensi yang serba canggih, trio sutradara Stéphane Aubier, Benjamin Renner, Vincent Patar memutuskan untuk menggarap film yang diadopsi dari buku cerita anak ini dalam bentuk lama, animasi lukisan tangan (goresan cat air), yang justru menjadi poin unggulnya.

Oleh commonsensemedia.org, film ini diberi empat bintang. Tentu saja selain karena digarap dalam konsep yang berbeda, cerita dalam Ernest and Celestine tentang persahabatan tak biasa antara tikus bernama Celestin dan Ernest si beruang adalah bagian paling penting.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Terbesar porsinya tentu saja tentang persahabatan; kau bisa berteman dengan siapa saja, dan bagian lainnya adalah tentang kemerdekaan menentukan masa depan. Celestine tidak harus menjadi dokter gigi sebagaimana yang diinginkan komunitasnya. Dia mau menjadi pelukis, dan untuk itu dia harus "keluar" dari konsensus tentang "profesi yang baik".

Hmmm... di rumah kami, dokter giginya bernama Celestin. Apakah dulu dia juga seekor tikus, eh, maksudnya pernah bercita-cita menjadi pelukis? Entahlah. Yang pasti, Celestin yang di rumah kami itulah yang pertama kali merekomendasikan film itu pada saya, Rana dan Lino.

Kami suka. Film ini baik untuk pelajaran menghindari kecenderungan stigma, bahwa beruang pasti buas, dan stigma lainnya yang dengan mudah kita timpakan pada orang atau kelompok tertentu.

5. Coco

Saya (atau kita?) selalu menyukai film-film garapan Pixar. Terutama Coco (2017), film yang sebagian besar mengambil latar di purgatory, yang begitu dekat dengan irama kehidupan orang Katolik Manggarai dengan konsep api pande nggelok-nya.

Coco mendapat anugerah Film Animasi Terbaik dari Academy Award tahun 2018, diperankan oleh Anthony Gonzalez sebagai Miguel, Alanna Ubach sebagai Mama Imelda, Gael Garcia Bernal sebagai Hector, Benjamin Bratt sebagai Ernesto de la Cruz, Ana Ofelia Murguia sebagai Mama Coco, dan lainnya.

Film garapan Lee Unkrich ini adalah salah satu film favorit keluarga kami. Gitar, lagu, relasi keluarga tujuh turunan yang tak putus, keyakinan akan kehidupan yang tidak hilang tetapi hanya berpindah tempat--dan karenanya kita membutuhkan jembatan penghubung bernama kenangan (dalam doa)--adalah hal-hal yang begitu dekat dengan apa yang kami yakini dan hidupi.

Kehidupan setelah kematian adalah salah satu dialog yang mau tidak mau harus mulai kita pelajari dalam interaksi dengan anak-anak. "Kalau Bapa Mama nanti mati, bagaimana saya mengenali Bapa Mama di Surga?" Tanya Rana suatu ketika. Dia masih berumur empat tahun ketika itu.

Film Coco membantunya menemukan jawaban sendiri karena jawaban saya tentang roh, tanpa wujud, dan hal-hal lain tentang Surga ketika itu tidak cukup memuaskannya.

Terlepas dari itu semua, film Coco, sama seperti Ernest and Celestine, Sing, dan cukup banyak film anak lainnya, menuturkan tentang pentingnya membiarkan anak menjadi seperti apa yang mereka inginkan.

Tugas orang tua adalah membantu mereka mewujudkannya dan bukan memaksakan kehendak. Anak harus tumbuh sebagai pribadi yang merdeka.

Saya kira begitu. Dan, catatan Lima Film Anak yang Sering Tayang di Rumah Kami ini saya akhiri sampai di sini. (*)

Salam

Armin Bell | Tinggal di Ruteng, mengelola blog ranalino.id.

Baja juga: TELINGA TAK SELALU MENDENGAR

0 Komentar:

Posting Komentar