Catatan tentang Teater di NTT (Bagian 1): Rekonstruksi

Marcelus Ungkang adalah salah seorang pegiat teater di Ruteng. Beberapa waktu lalu, melalui Botol Kesedihan, dosen sastra di STKIP St. Paulus Ruteng ini menawarkan wajah baru dunia panggung di kota ini. Bagaimana mengembangkan teater adalah hal yang menjadi perhatiannya. Untuk ranalino.id, Marcelus Ungkang menulis beberapa catatan. Bagian pertama adalah tentang rekonstruksi.
catatan tentang teater di ntt bagian 1 rekonstruksi
Marcelus Ungkang. Pegiat teater, tinggal di Ruteng, Flores

Catatan tentang Teater di NTT (Bagian 1): Rekonstruksi


Oleh: Marcelus Ungkang

Pengantar
Pengembangan teater dalam suatu komunitas atau masyarakat dapat berbeda-beda. Karena itu, pemilihan strategi pengembangannya juga bisa bermacam. Saya sendiri memilih rekonstruksi sebagai hal yang perlu dilakukan pertama. Rekonstruksi masalah relatif dapat membantu saya mendapatkan gambaran mengenai kondisi masa kini dan apa yang mungkin dihadapi dalam mengembangkan teater di daerah. Untuk mempermudah rekonstruksi, saya menggunakan bentuk tanya-jawab sebagai penuntun alur berpikir.

Apakah ada teater dalam budaya-budaya di NTT?
Ada. Berbagai ritual adat pada dasarnya bisa dilihat sebagai teater. Setiap ritual adat punya script dalam memori kolektif, ada pelaku (aktor), ada pembagian peran, ada sekuensi peristiwa, ada properti, ada kostum, dan pemilihan latarnya disesuaikan dengan tuntutan script.

Kalau begitu, mengapa kita tidak menggali teater dari dalam budaya kita sendiri?
Karena ritual adat dan teater dipandang sebagai dua hal yang sama sekali berbeda. Ritual adat dipandang sebagai bagian dari budaya tradisional, sedangkan teater sebagai bagian dari budaya modern (yang diimpor). Ritual adat dipandang sebagai bagian dari adat-istiadat, tapi nyaris tidak memandang atau memikirkannya sebagai teater.

Mengapa sampai pandangannya demikian?
Karena skemata kita tentang teater pada umumnya berasal dari buku-buku pelajaran sekolah. Sayangnya, buku-buku pelajaran tersebut tidak menyebut ritual adat di NTT sebagai teater. Pembicaran tentang asal-muasal teater lebih banyak diinangkan ke tradisi Yunani atau yang relatif dekat adalah tradisi Jawa.

Apakah itu tidak benar?
Ada benarnya, cuma kurang lengkap. Jika pertanyaannya siapa yang punya tradisi teater relatif paling tua, pembicaraan tentang tradisi Yunani benar adanya. Namun, teater dapat berkembang dalam berbagai kebudayaan di dunia tanpa harus dipaksakan-paksakan genealoginya berasal dari tradisi teater Yunani.

Apa akibat dari pemahaman teater yang lebih banyak dibentuk dari buku pelajaran sekolah yang kurang kontekstual?
Teater kita di NTT menjadi terasing dari budaya-budaya lokal. Kalaupun ada pendekatan yang berusaha mengembangkan teater modern di daerah melalui penggalian ke dalam tradisi atau budaya lokal, saya kira itu belum banyak.
Saya pikir penggalian ke dalam tradisi ini yang perlu didukung, bila perlu dimasukkan dalam ekosistem, baik melalui proses penciptaan, pengelolaan pengetahuan, atau kombinasi antara keduanya. Cuma usulan itu juga tidak gampang. Sebagai contoh, hasil penelitian Maribeth Erb (2006) di Manggarai menyatakan ada kondisi yang disebutnya sebagai loss culture.
Apa bedanya teater dalam wawasan budaya-budaya lokal di NTT dengan wawasan modern?
Ritual adat sebagai teater, sebagai seni, dalam budaya lokal kita adalah milik kolektif, bukan milik penulis naskah, sutradara, aktor, atau kelompok teater. Wajar saja kalau masih banyak orang di NTT enggan beli tiket untuk nonton teater. (Milik bersama kok harus beli tiket.)

Baca juga: Soal Pengarang NTT dari Perspektif Sejarah dan Sosiologi Sastra

Apakah salah kalau memandang teater mengikuti cara pandang modern? Maksudnya, apakah teater harus dikembalikan kepada tradisi sebagai milik kolektif?
Tidak harus. Teater dalam budaya-budaya di NTT itu sudah punya ekosistemnya sendiri. Kalau mau mengikuti cara pandang modern, ya, bangunlah ekosistem sesuai tuntutan teater modern atau pascamodern (kalau mau terlihat seakan-akan lebih keren dengan istilah terakhir). Teater modern sebaiknya tidak usah dipaksakan untuk kompatibel dalam ekosistem budaya-budaya di NTT.

Seperti apa itu ekosistem teater?
Untuk mudahnya, gambar ekosistem teater dapat dilihat dalam bagan yang dicuplik dari materi Tiga Kota Temu Teater: Makasar-Pekanbaru-Jakarta 2017-2018 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dalam ekosistem tersebut terdapat lima komponen, yaitu pelaku teater, produk teater, publik, penciptaan, dan pengelolaan pengetahuan.
rekonstruksi teater di ntt
Apa masalah ekosistem teater ini hanya terjadi di NTT?
Kalau mengikuti diskusi dan materi temu teater yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, masalah ini bukan hanya terjadi di NTT, tetapi juga banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia.

Apa akibatnya kalau teater modern di daerah tidak punya ekosistem?
Sulit mengharapkan kualitas teater kita berkembang lebih baik. Kau buat pentas sendiri, jelaskan sendiri, puji sendiri, mengeluh sendiri, lalu menghibur diri dengan berkata “Memang masyarakat kita wawasannya gak nyampe”. (Padahal pentas teater modernmu memang buruk untuk standar masyarakat tradisional yang telah ratusan tahun kaya dengan ritual adat/teater.)

Marcelus Ungkang |
Pegiat teater, tinggal di Ruteng, Flores.

Tulisan Marcelus Ungkang lainnya dapat dilihat di tautan ini.

0 Komentar:

Post a Comment