Setelah Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam, Ucapan Terima Kasih ini Ditulis Terburu-buru

Hari Sabtu, 11 Agustus 2018 kemarin, Perjalanan Mencari Ayam dibahas di LG Corner Ruteng. Kegiatannya bernama Bincang Buku. Yang menyelenggarakannya adalah Komunitas Saeh Go Lino Ruteng.
Cerpen Kopi dipentaskan dalam bentuk dramatic reading | Foto: Daeng Irman Matara

Setelah Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam, Ucapan Terima Kasih ini Ditulis Terburu-buru


Komunitas Saeh Go Lino, Ruteng telah menyelenggarakan kegiatan bertajuk Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam. Kegiatan itu berjalan dengan sangat baik. Ini adalah kali pertama saya tidak terlibat sama sekali di teknis persiapan, pelaksanaan, hingga bersih-bersih dalam kegiatan komunitas ini.

Saya jadi penonton dan bertindak sebagai orang yang hasil pekerjaannya diterjemahkan ke berbagai bentuk. Agak aneh untuk orang yang suka perbaik sana-sini, tunjuk sana-sini, marah sana-sini seperti saya untuk duduk diam. Bahkan diatur juga jam datang saya di lokasi. Apakah saya cemas?
Setelah sekian lama berproses bersama, saya yakin mereka akan baik-baik saja. Tetapi bagaimanapun, harapan harus sedikit diturunkan. Ada ketergantungan yang mungkin masih banyak dengan saya sebagai orang tua.
Saya ikuti saja iramanya. Dalam posisi itu, tugas yang tetap harus saya lakukan adalah membangunkan mereka di pagi hari--semoga tugas ini akan berlalu--lalu menyerahkan seluruh prosesnya kepada mereka. Saya lepas tangan.

Ketika acara itu berlangsung sore hari Sabtu, 11 Agustus 2018 kemarin, saya sadar bahwa harapan saya terlalu rendah. Mereka ada di atasnya. Bahkan di atas harapan saya sebelum diturunkan standarnya. Maka saya harus mengucapkan terima kasih. Terima kasih 1000. Bukan kepada Saeh Go Lino saja, tetapi kepada semua pihak yang terlibat. Saya buat saja daftarnya berikut ini.

Satu, Saeh Go Lino. Komunitas yang menyelenggarakan kegiatan bincang buku ini. Adeng Crova, Enno Juna, Ferdi 'Mozakk' Iring, Ronald Iring, Febry 'Djiboel' Djenadut, Haris Saputra, Nathan Dalo, Dio Darni, Chandra Lopez, Jimmo Mboi, Celly Djehatu, Oan Djehatu, Miss Rossy, Munic, Jessica, Dodo, Gerry Alamani, Kevin, Chandra, dan semua pasukan Saeh Go Lino yang dengan caranya masing-masing dan ajaib telah ikut membuat kegiatan ini terselenggara dengan baik.

Akhirnya saya bisa menikmati posisi dewan penasihat di komunitas ini. Kamu yang kerja, saya yang kipas-kipas bangga, duduk pangku kaki. Itu nikmat sekali kawan. Ke depan, akan selalu begitu. Kamu semua jago. Itu panggung dan dramatic reading yang hebat membuat keputusan saya duduk di kursi penasihat menjadi lebih mantap. Saya kaget bahwa cerpen Hujan Satu Oktober bisa menjadi tata panggung dan cerpen Kopi ditampilkan dengan hebat.

Juga terima kasih kepada Om Inno Peni, pengelola LG Corner yang telah merelakan tempat yang baik hati ini kami utak-atik.

Dua, Marcelus Ungkang. Dosen Sastra di STKIP St. Paulus Ruteng yang juga adalah anggota komunitas Petra Book Club. Pendiri Teater Saja ini bertugas banyak sekali untuk iven ini. Gambaran besar kegiatan ini berasal dari gerakan tangannya--sesekali dia pegang kepala--ketika menjelaskan pikirannya.

Terima kasih juga untuk praesai yang mencerahkan. Kuliah gratis seperti ini harus terus dilakukan. Tidak. Tidak gratis. Kami siap kopi, Celus siap materi kuliah. Saya pikir itu pembagian tanggung jawab yang adil sekali. Kalau Celus pikir itu tidak adil, itu hanya perasaan Anda saja. Begitu.

Tiga, Para Pembicara. Dr. Marsel Payong, dr. Ronald Susilo, Olik Moon, Elsa Sambang, Cici Ndiwa. Saya selalu kagum pada cara orang lain melihat karya saya. Pada bincang buku Perjalanan Mencari Ayam kemarin, kalian telah membuka banyak pintu bagi saya. Terima kasih. Naskah-naskah resepsi itu akan disiarkan di blog ini. Sekali lagi terima kasih.

Empat, Ramlan Ponggo. Resonansi itu benar-benar resonansi e. Bagaimana mengatakannya? Saya sudah lama meyakini bahwa Ponggo itu jenius. Pembacaannya atas cerpen Lapak di Atas Tulang Kekasih dalam satu komposisi itu bikin kami semua hening. Dan sorry e. Saya tidak menangis tadi malam. Mata ada kena pecahan gelas. Makanya begitu. Yang menangis banyak, tapi bukan saya. Sorry sorry saja.

Bai de wei, ini baru. Apa namanya? Bukan scoring sepertinya. Tetapi karya yang lahir dari hasil membaca cerpen. Harus bikin lagi e. Ada banyak teks hebat di dunia ini yang Ponggo bisa gubah ke dalam notasi. Aiiih... Adek membaca. Dunia semakin indah saja.

Lima, Tim Dokumentasi. Kurang beruntung apa saya ini? Fotografer dan videografer hebat di Ruteng kumpul dengan senjata lengkap di bincang buku Perjalanan Mencari Ayam. Mereka itu yang terbaik di kota ini. Tapi sa tir mau puji berlebihan. Mereka ada rencana lempar rumah kalau su terlalu dipuji. Mereka tir suka.

Mereka kerja saja. Kaka Ited, Daeng Irman Matara, Angga Hardani. Itu nama paten di ini bidang. Dan tentu saja Orind Vitroz yang senjatanya tepat untuk segala situasi. Hasil kerja mereka akan segera tayang di mana-mana. Dan ketika itu terjadi, kami sedang duduk santai sambil omong Adeng punya nama. Kadang begitu.

Enam, Para Donatur. Ronald Susilo, Ka Watty Rachman, Celestin, dan Romana. Ini ada di daftar teratas kami untuk urusan di belakang layar. Orang-orang yang hatinya terbuat dari bahan yang mulia. Selalu ada, membantu dalam hening. Mereka barangkali tidak suka diumumkan namanya, tetapi saya harus melakukannya. Kesenian akan tumbuh baik karena orang-orang seperti mereka.

Tujuh, Dusun Flobamora. Ini adalah penerbit buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam. Tadi malam mereka hadir di bincang buku dan membawa oleh-oleh selemari banyaknya. Maria Pankratia yang datang. Semoga laporannya ke Dusun Flobamora baik adanya. Agar penerbit ini tidak menyesal telah memilih naskah saya sebagai buku terbitan pertama mereka.

Karena Maria datang dari Kupang, kami mempersembahkan paduan suara merdu setelah acara selesai. Di teras markas Saeh Go Lino di Kedutul. Mungkin setelah peristiwa itu, dia akan merekomendasikan saya sebagai penyanyi jika Dusun Flobamora ingin mengembangkan sayapnya ke rumah produksi musik. Kaka Ited akan jadi gitaris saya. Pasti paten sekali. Ah, lupakan...

Delapan, Para Peserta. Terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengapresiasi. Terima kasih telah menghabiskan empat jam waktu Anda dengan lesehan bersama saya. Semoga kegiatan malam tadi menyenangkan.

Ucapan terima kasih ini ditulis terburu-buru. Sehingga selalu ada peluang bahwa ada yang telah ikut bekerja lalu menjadi anonim. Saya mohon maaf. Kalian adalah bagian dari semesta yang ajaib. Semesta yang selalu menemukan jalan agar keinginan sampai pada kenyataan. Ada doa untuk semua. Sekian dan terima kasih. Saya kembalikan. Halaaah...

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores
12 Agustus 2018

0 Komentar:

Post a Comment