Cerpen Yeris Meka - Yang Lahir Saat Purnama

Yeris Meka hadir dengan cerpen terbarunya. Berjudul Yang Lahir Saat Purnama. Seperti telah menjadi 'alirannya', cerpen ini juga mengambil kisah kampung; sahaja, jujur, tanpa banyak usaha berbunga kata. Mari simak.
cerpen yeris meka yang lahir saat purnama
Yeris Meka

Cerpen: Yang Lahir Saat Purnama


Oleh: Yeris Meka

“Tamo, ma’e rita! Kau da ana wula dara.” Suara  Margaretha selalu menenangkan bila saya menangis menunggu ibu yang belum juga menjemput. Margaretha nenek saya. Ibu dari lelaki yang seharusnya saya panggil bapak.

Oleh karena Margaretha, sepenuhnya saya percaya. Lebih tepatnya yakin. Bahwa saya memang akan selalu gembira. Bahagia. Itu cukup.

*******

Hujan sudah reda. Ibu memetik marungga. Sayur untuk kami makan malam itu. Setelah sibuk di dapur sebentar, sayur pun jadilah. Hanya berbumbu garam. Kuahnya bening.

“Kita makan sudah!” Kata ibu setelah semuanya digelar di tikar pandan. Kami makan. Nira, adik saya mengambil piring dengan malas. Mulutnya jadi manyun. Ia kurang setuju sayur dibuat dengan cara yang selalu terlalu sederhana. Direbus, digarami, matang, lalu makan.

Ibu mengerti. Buru-buru memberi semangat supaya kami punya alasan untuk menghabiskan sayur ini lagi dan lagi. “Sayur ini bagus untuk badan. Sayur sehat. Ayo kita makan sudah ee…!” Ibu memaksa. Kami manut. Sendok demi sendok makanan ditelan. Ibu makan juga. Sambil mengawasi. Setelah tuntas, semua dibereskan. Piring, gelas, juga pikiran yang mungkin sesak.

Saya mengurai dalam benak. Bagaimana wanita yang bersama kami ini selalu bisa begitu tabah? Mengenyam semua keadaan dengan tenang. Membandingkan nasib untuk kemudian diratapi, tak pernah masuk kamus hidupnya. Ia tetap bisa dengan tenang menjawab masalah demi masalah yang datang membelit.

Beberapa kali saya bertanya. Bagaimana hidup beberapa orang menjadi serba ada sedangkan sebagian yang lain hanya bercukup-cukup saja. Dan terutama, bagaimana hidup kami macam begini. Dilumat rumit yang tumbuh membelukar.

“Mereka lahir ketika purnama.” Ibu menjawab sekenanya saja setiap kali saya bertanya menyingkap nasib. Saya selalu tidak puas dengan jawaban itu. Mana mungkin purnama tak adil macam begini. Disinarinya orang yang bakal kaya tapi tidak hadir ketika jabang yang lain diniatkan lahir.

Saya tidak pernah puas dengan jawaban ibu. Lebih setuju kalau ibulah anak kandung purnama. Anak-anak terang yang mewariskan sifat-sifat ratu malam.
Ia wanita yang tenang, teduh dan menenangkan. Ia tak pernah mengeluh tapi selalu mengalah. Mengalah tanpa mengeluh. Tak pernah terlihat terlalu gembira atau juga terlampau sedih. Dunianya selalu sedang-sedang saja. Tak pernah berlebihan. 
Doa-doanya pun demikian. Ia hampir hanya meminta agar kami diberi kesehatan juga kesabaran. Permintaan yang menurut saya terlampau sedikit kepada Yang Maha Kaya.

“Mama, doanya hanya minta itu saja ka?” Tanya adik saya suatu malam segera setelah doa yang kami panjat berujung amin. “Terus, kau minta apa?” Ibu balas bertanya. “Dia minta sepatu dan sepeda mama,” kata saya. Ibu menarik napas dalam-dalam. Lalu dengan sengaja udara ditahan di dalam paru. Dihembuskan pelan dari sana.

“Sepatu, sepeda, atau apa saja hanya bisa kau dapat kalau kau punya uang. Kau punya uang kalau kau kerja keras. Kau bisa kerja kalau kau kuat dan sehat.” Katanya setengah berbisik. Mata teduhnya setengah membelalak.

“Supaya selalu sehat kau harus apa?” Tanya Ibu menguji. “Rajin berdoa to, Mama?” Sahut adik saya yakin. Ibu mendengarnya sebagai jawaban polos. Ia tersenyum tapi tidak lebar.

“Makan.Terus, jangan sampai jauh malam di depan tivi. Rusak itu mata nanti. Darah juga kurang percuma!” Digelarnya semua akibat dari kebiasaan kami yang menurutnya tidak baik. Tangannya sudah mengelus kepala kami. Sementara kami pasrah mengiyakan. Dan saya tahu, sepeda, permintaan yang terlalu besar untuk bisa ibu kabulkan

“Kalau kau masih bisa makan, tidur aman, bersyukurlah sudah.” Kata ibu menasihati. Saya dan Nira diam saja. Saya mengagumi wanita ini sebagai seutuh-utuhnya petarung hidup. Sebagai ibu sekaligus bapak untuk kami.

Bertahun-tahun ditinggal bapak. Pun saya. Terakhir melihat lelaki itu di ujung tahun sembilan puluhan. Setelah seekor kuda diterima ibu. Tepatnya paman saya. Adik bungsu ibu yang menuntun kuda itu dari rumah lelaki yang dipensiunkan dari tugasnya sebagai penafkah.

Sebagaimana adat, lelaki itu diwajibkan memberi seekor kuda. Waja! Kuda jantan yang baru beberapa bulan diceraikan dari puting induknya. Belum bisa memuat beban, apalagi ditunggangi. Tuntutan disanggupi.

Margaretha, ibu dari lelaki yang seharusnya saya sebut bapak, menangis sejadi-jadinya hari itu. Saya yang tidak mengerti menjadi heran. Ibu menceritakannya di kemudian hari. Perihal lelaki yang meninggalkannya. Ia anak tunggal. Me’a li’e.

Saya memahami mengapa Margaretha pada sidang perceraian itu perlu menangis sejadi-jadinya. Kesedihannya melampaui duka yang pernah singgah dalam hidupnya. Beberapa ibu yang lain turut terisak. Membuat situasi hari itu mengharu biru. Kecuali, beberapa beberapa lelaki dari pihak ibu memasang wajah geram. Terutama paman-paman saya.

Ibu masih lebih beruntung. Beberapa wanita yang menuntut waja karena sudah merasa tidak berkenan dengan lelaki yang sudah menggarapnya pada zaman itu, kadang-kadang hanya mendapatkan selembar sirih pinang. Nata rogho.

Baca juga: Analisis Cerpen Armin Bell - Radiogram

Lelaki itu ditalak karena tabiatnya. Lebih sering ia tiba di rumah setelah separuh kesadarannya hilang di tempat minum tuak atau arak. Ia memaki setiap mendapati orang rumah. Paman yang lebih tua dari ibu, juga kakek tidak sudi dengan gelagatnya. Ibu masih mengharapkan paman dan kakek untuk memaklumi.

Tapi hanya sampai pada suatu saat, ketika berlumbung-lumbung padi terbakar di ladang, dan lelaki itu mengaku sebagai pelaku. Juga karena ia mabuk arak. Ibu mengusirnya dari rumah. Saya ingat sore itu saya dijemput ibu dari rumah Oma Margaretha. Mata ibu sembab. Sementara perutnya kian membuncit memikul bakal adik saya.

“Entahlah. Padahal sebelumnya ia tidak begitu.” Kata ibu menutup cerita bila dengan terpaksa ia berkisah tentang lelaki itu lagi.
 
Saya baru menjelang kelas satu. Ketika pemufakatan di sekitar tungku api untuk memisahkan ibu dan ayah dirundingkan paman, kakek, juga saudara-saudara kakek. Paman-paman ibu. Ibu yang sedang meracik kopi hitam untuk mereka pagi itu hanya diam. Ia pasrah pada keputusan saudara juga paman-pamannya.

“Sawah yang dikelola penggarap itu, jatahnya untuk makan cucu-cucu saya kelak.” Kata kakek. Semua diam. Setuju.

Pada akhirnya ibu berpisah dengan lelaki itu. Katanya itu lebih baik. Sebelum hubungan diikat dan disahkan secara gereja. Katanya, setelah itu ia merantau. Ke Malaysia. Entahlah apa yang lelaki itu kerjakan di sana. Ibu tak pernah ambil pusing setelah itu. Juga segala perkara bahwa ia punya istri dan anak lagi di sana. Itu berarti saya sudah punya saudara tiri.

“Biar kata dunia ini tak selebar daun kelor, kalau mau kawin, tanya-tanya dulu, siapa bapaknya?” Paman sering dengan lugas berpesan pada saat-saat tertentu. Saya kira ia mengingatkan bahwasanya saya mungkin punya saudara tiri nun jauh di seberang.

Selesai

Yeris Meka | Alumni School of Alam Raya. Beberapa tulisannya di ranalino.id berkisah tentang kisah-kisah menarik dari tempatnya berasal.

Di ranalino.id, cerpen-cerpen menarik lainnya dapat disimak di tautan ini.

Catatan:
  • Tamo, ma’e rita! Kau da ana wula dara: Tamo, jangan menangis! Kau anak bulan purnama.
  • Marungga: Kelor
  • Tentang Waja: Dalam tradisi beberapa daerah di Ngada, bila ketidakcocokan terjadi dalam perjalanan kehidupan rumah tangga yang sudah diresmikan secara adat, talak bisa terjadi setelah proses mediasi gagal. Pihak laki-laki atau wanita bisa menuntut mahar berupa kuda atau kerbau.
  • Nata rogho: Sirih pinang dikasih dengan pertimbangan tertentu. Berhubungan atau berkaitan pula dengan 'waja'.

0 Komentar:

Post a Comment