Perjalanan Mencari Ayam dan Cinta yang Rahasia

Ketika buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam tiba di Paurundang, sebuah cinta yang rahasia terungkap. Tentang seorang lelaki yang menyediakan seluruh dirinya agar perempuannya dapat membaca.
perjalanan mencari ayam dan cinta yang rahasia
Guru Don dan buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam | Ist.

Perjalanan Mencari Ayam dan Cinta yang Rahasia


Saya pulang kampung. Hendak bertemu Guru Don dan Muder Yuliana, orang tua saya. Juga hendak menyampaikan laporan bahwa buku cerpen kedua saya telah terbit. Judulnya Perjalanan Mencari Ayam (Komunitas Sastra Dusun Flobamora, 2018).

Dari Ruteng ke Paurundang via Reo biasanya 'hanya' memerlukan waktu tiga jam. Tetapi tidak kali ini. Lebih dari empat jam sebelum akhirnya saya memencet klakson panjang di gerbang rumah; kabar bahwa anak bungsu ganteng ini sudah tiba. Guru Don menjemput dengan tawa lebar, membantu Rana turun dari boncengan.

Iya. Saya pulang bersama Rana. Memakai sepeda motor pinjaman. Motor laki. Agar perjalanan terasa nyaman karena jalur yang agak sulit untuk motor matic. Oh, iya. Waktu tempuh memang menjadi lebih lama karena Rana baru pertama kali menikmati perjalanan jauh dengan sepeda motor.
Dia senang. Menikmati tarian burung-burung bangau di Wae Pesi, makan siang dengan menu tunggal nasi bambu lalu berdoa di Gua Maria Torong Besi. "Opaaa," teriaknya girang di pelukan Guru Don. Muder Yuliana segera datang dari rumah tetangga, memeluk Rana, mengelus kepala saya, menjadikan liburan kali ini sah adanya.
Paurundang adalah salah satu kampung di Rego. Saat ini menjadi bagian dari Desa Watu Manggar, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Ini kampung asal Muder. Guru Don berasal dari Rawuk, Kolang. Ka'eng one. Tinggal di tempat keluarga perempuan. Beo de anak rona. Kampung setelah Pateng pusat Paroki St. Markus.

Dulu saya tinggal di Pateng. Ketika kecil. Ketika Guru Don masih aktif mengajar di SDK Pateng. Itulah kali pertama saya mengenal buku. Guru Don bertanggungjawab memegang kunci perpustakaan sekolah dan saya berhak istimewa mengaksesnya kapan saja.

Singkat cerita, bacaan-bacaan dari masa kecil tersebut membuat saya akhirnya belajar menulis. Selain keinginan agar Muder Yuliana pada suatu masa mengganti novel Marga T. dan Mangunwijaya di tangannya dengan buku Armin Bell. Yup. Muder adalah pembaca yang tekun dan Guru Don adalah penyedia yang hebat.

Ketika saya SD, Guru Don berlangganan koran Suara Karya. Ada kisah Johny Indo, penjahat kelas kakap yang berhasil kabur dari Nusa Kambangan. Dimuat berseri di koran itu. Muder membuat kliping, meminjamkan hasil klipingan itu kepada siapa saja yang tertarik membacanya. Dari Muder dan kisah Jhony Indo itu saya tahu bahwa Stella Maris berarti Bintang Samudra.

Stella Maris adalah nama istri Johny Indo dan menjadi perempuan yang dikagumi Yuliana. Stella Maris memiliki hati seluas samudra dan setia pada suaminya yang seorang penjahat--pemimpin geng perampok Pachinko atau Pasukan China Kota. Tentu pelajaran dari kisah Stella Maris, Karmila, dan perempuan-perempuan hebat lainnya ikut menebalkan cinta Yuliana pada Donatus. Atau alasan lain?

Ketika berbincang tentang buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam, terungkaplah kisah yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. "Bapa tahu, saya suka baca. Tetapi ketika kita di Kupang dulu, kita tidak bisa beli buku. Bapa biasanya pinjam buku bacaan dari teman kuliahnya supaya saya bisa tetap membaca," cerita Muder Yuliana. What a story, right?

Tentu saja saya merasa berutang besar pada Guru Don setelah mendengar cerita itu. Kalau saja dia tidak melakukan "cinta yang rahasia" itu di Kupang, Muder barangkali telah lama meninggalkan hobi membaca. Artinya, saya tidak akan mengalami masa kecil di mana setiap sebelum tidur, Guru Don menyalakan lampu gas (petromaks) agar Muder bisa membaca sambil berbaring. Cinta yang rahasia lainnya. Ps: Lampu gas hanya dinyalakan sebelum tidur untuk menghemat minyak tanah.
Menyaksikan Muder membaca, membuat saya perlahan akrab dengan buku. Juga mewarisi caranya menikmati bacaan; sambil berbaring, di kamar tidur. Lalu menjadi senang menulis, lalu melingkar terus dan terus, menulis-membaca-menulis-membaca-bikin buku cerpen.
Atas dasar itulah saya menyerahkan Perjalanan Mencari Ayam ke tangan Guru Don. Sebagai ucapan terima kasih. Dia membacanya. Menikmati kata pengantar dari penerbit Komunitas Sastra Dusun Flobamora, lalu mengalami kesulitan mengakses beberapa cerpen di buku itu. "Memang harus banyak baca e," katanya sambil terus menimang-nimang buku itu, "Mama pasti suka."

Lalu saya cerita bahwa sekarang ini berusaha mewariskan kebiasaan membaca pada Rana dan Lino. "Biar tidak baca buku daftar arisan saja," kata saya dan Guru Don terkekeh. Di kampung, di masa pensiun, Guru Don aktif dalam semua kelompok arisan. Bersama Muder Yuliana, tentu saja. Arisan sekolah. Mereka bahagia kalau melihat ada anak dari kampung itu diwisuda.

Selama tiga hari liburan Rana sibuk bermain dengan para sepupunya. Mencoba tebu, buah coklat (kakao), kelapa muda, dan pisang yang tumbuh di sekitar rumah. Sesekali bertukar bacaan. Sesekali Rana menunjuk buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam. "Itu Bapa yang bikin," katanya. Ada nada bangga pada suaranya.

Semua anak pasti berbangga pada apa saja yang baik yang dilakukan orang tua mereka. Seperti saya. Berbangga sekali pada Guru Don dan istrinya. Dari mereka, saya belajar menjadi pencerita. Karena meski tidak sering membaca buku-buku sastra, Guru Don membaca dunia di sekitarnya dan menceritakan dengan lucu pada kami semua.

Satu buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam sudah ada di Paurundang. Ketika kami pulang ke Ruteng, Guru Don sedang berjuang menikmatinya. Muder Yuliana mengantre. Selain karena bukunya cuma satu, juga karena mereka saling berbagi kacamata baca. Sebuah lanjutan cinta yang rahasia, barangkali.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment