Om Rafael Memuji Komunitas Orang Muda dan Titip Beli Sinyal

Kisah-kisah Om Rafael di www.ranalino.id akan hadir dengan wajah baru. Lebih segar dan semakin tidak jelas. Latar berubah. Tidak lagi tentang tigapuluhan tahun silam, tetapi tentang hari-hari terakhir ini. Om Rafael kekinian. Lebih zaman now. Kali ini tentang kekagumannya pada komunitas orang muda.
om rafael memuji komunitas orang muda dan titip beli sinyal
Komunitas Saeh Go Lino, Ruteng | Foto: Haris Saputra

Om Rafael Memuji Komunitas Orang Muda dan Titip Beli Sinyal


Om Rafael kini memiliki smartphone. Sistem operasinya android. Untuk menggunakannya, Om Rafael harus ke bukit sinyal. Yup! Tidak ada sinyal di kampung, tetapi Om Rafael ngotot memiliki hape android. Waktu BBM masih populer, Om Rafael minta agar aplikasi itu ada di android miliknya.

"Tolong kasi masuk BBM, Nana," katanya. Saya menurut saja. Sinyal sedang baik di bukit itu. BBM Terpasang. Ketika akan digunakan, sinyal mulai kembang kempis. "Tidak ada sinyal, Om," jelas saya. "Nana tolong sekalian kasi masuk sinyal," perintahnya penuh percaya diri. Butuh waktu berjam-jam untuk menjelaskan tentang sinyal yang tidak bisa dibeli.

Empat jam kemudian.

"Kalau begitu Nana tolong kasi masuk WA," pintanya.
"Tidak ada sinyal, Om."
"Percuma saja Nana tinggal di kota Ruteng selama ini e aeh."

Tiga jam kemudian. Pohon-pohon akasia di bukit itu tumbang. SAYA POTONG SEMUA!

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng

Saya pulang ke Ruteng dengan hati gundah. Tidak berhasil memasang aplikasi Whatsapp di HP milik Om Rafael. Lumayanlah, kemarin sudah pasang BBM. Di hari-hari berikutnya Om Rafael mulai menggunakannya. Saya mendapat PING puluhan kali. Saya balas dengan menanyakan kabarnya, Om Rafael balas dengan PING. SAYA MENJADI LEBIH MUDAH LELAH!

Setelah dua puluh delapan kali PING, dialog penting akhirnya muncul. Om Rafael memuji komunitas saya. Dia baca di Flores Pos. Edisi setahun lalu. Berisi cerita kegiatan saya dan Erick "Ujack" Demang di LG Corner Ruteng. Kegiatan mendongeng.

"Hebat e, Nana," tulisnya di BBM. Saya bilang terima kasih dan dia menulis panjang sekali saat membalas pesan itu.

"Komunitas adalah kumpulan orang yang memiliki minat yang sama tetapi setiap pribadi di dalamnya tetap merdeka. Kalau mereka adalah sekumpulan manusia yang saling tukar pujian--tanpa mau bicara yang jelek sebagai jelek, pun sebaliknya; itu juga komunitas, tetapi sudah tampak kurang sehat."

"Misalkan tujuan komunitas itu adalah agar setiap pribadi di dalamnya menghasilkan karya, maka para kawan-sodara-sahabat sekomunitas adalah orang pertama yang membeli penilaian jujur. Bilang bagus jika bagus, bilang bau jika tahi. Karena seperti manusia dan roti, karya hidup bukan dari pujian saja tetapi juga dari sabda yang keras."

Saya terkaget-kaget. Bagaimana mungkin Om Rafael menemukan rumusan seperti itu? Saya tanyakan itu pada balasan kedua dan Om Rafael membalas: Saya copy dari Nana punya FB. Asataganaga. Om Rafael sudah punya facebook ternyata. Dan saya sudah lupa pernah menulis status seperti itu. Terima kasih, Om Rafael.

Saya lalu ingat peristiwa lain. Ketika kami masih kecil dan Om Rafael menjadi tokoh yang kerap memarahi saya dan Dar. Suatu ketika dia bilang, "Jangan makan puji, nanti kau tidak mampu jujur. Makanlah lebih banyak kacang hijau yang bisa diolah jadi bubur. Tetapi ingat, kamu hidup bukan dari bubur kacang saja tetapi juga dari tete yang di-tapa mame-mame, sebek!"

Hanya saja, bertahun-tahun kemudian, beberapa saat setelah Om Rafael mengenal facebook, dia lupa dengan nasihat hebatnya tentang pujian itu. Di akhir percakapan kami yang diwarnai PING sampai tujuh puluh kali tujuh kali banyaknya, Om Rafael mengirim tips tentang cara membangun komunitas dan agar lekas menjadi hebat.

Berikut tips menjadi hebat dan membangun komunitas orang muda a la Om Rafael.
Berkumpul dengan banyak teman;

  • Ajukan pertanyaan berakhiran "to". Contoh: "Saya hebat tadi, to?"
  • Mereka akan mengangguk dan tidak punya pilihan lain meski mereka tahu, kita tak sehebat dugaan kita;
  • Ulangi pertanyaan tadi, sampai mereka benar-benar seolah-olah yakin bahwa kita hebat;
  • Mereka akan menyebarkan kehebatan kita di facebook dengan alasan yang mereka karang-karang sendiri.

Saya tersinggung mendapat tips seperti itu. Om Rafael seperti berusaha menyindir saya dengan gaya yang halus. Saya ceritakan bahwa saya tidak seperti itu dalam berkomunitas. Om Rafael kirim emoticon. Gambar bendera. Bendera Kamboja. Haisss... Maksudnya?

Baca juga: Om Rafael Memuji dan Mengenang

Kemudian saya jelaskan bahwa komunitas orang muda yang tumbuh subur di kota kami adalah bukti bahwa kami lebih peduli pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dia angguk-angguk. Saya menduganya demikian. Kan saya tidak lihat, to? Tetapi sejak saya lulus kuliah, Om Rafael memang sering angguk-angguk kalau ngobrol langsung dan mendengar penjelasan saya.

"Berapa lama sebuah komunitas bertahan?" Tanyanya. Juga dengan emoticon. Kali ini gambar garpu dan sendok. Om Rafael sedang latihan memakai emoticon, barangkali. Sehingga asal tempel. Sudahlah. Saya jawab saja pertanyaan itu. Saya bilang bahwa komunitas orang muda, sejauh yang saya tahu, biasanya berumur panjang. Tetapi ada juga yang segera bubar.

"Mengapa komunitas orang muda bisa bubar?" BBM Om Rafael lagi. Emoticon-nya adalah gambar salju. Mamma Mia e. "Biasanya karena anggotanya mulai sibuk, Om," balas saya. "Atau karena sudah kehabisan bahan untuk saling puji?" Tanya Om Rafael dengan emoticon bendera Rusia. Ckckckck.

Percakapan itu harus diakhiri. Saya tulis bahwa saya harus segera mengurus Rana dan Lino. Dan bilang bahwa beberapa cerita saya dapat diikuti di facebook. Om Rafael saya undang untuk mampir dan berkomentar di sana kalau sempat. Tetapi dia balas lagi. "Facebook itu apa, Nana?" Saya tidak balas.

Saya terganggu sekali dengan emoticon yang dia kirim saat itu. Sebuah bendera. Diikuti pertanyaan, "Nana tahu ini Bendera apa?" ..... Lima jam kemudian. PING. Dari Om Rafael. Lalu sebuah permintaan. Bisa titip beli sinyal? Luar biasa.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments: