Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Dongeng dapat membantu pembentukan kemampuan anak memahami perintah sederahana. Pada kegiatan mendongeng, anak-anak akan lebih tenang, mendengar, lalu melaksanakan perintah.
Tulisan ini, sebelumnya ada di Blog Ineame. Blog tersebut kini tidak lagi aktif dan sebagian besar kontennya (tentang anak dan keluarga) dikumpulkan dan disunting lagi untuk ranalino.id. Blog Ineame sendiri akan hadir dalam format yang lain (audio dan video). Salah satu video akan kami tayangkan di bagian akhir tulisan ini.

Image dari public domain vectors

Manfaat Dongeng Sebelum Tidur, Membantu Anak Memahami Perintah Sederhana

Oleh: Armin Bell

Ada pendapat ahli. Tentang pengaruh pendengaran yang lebih baik dari visual. Perbandingan kekuatan audio dan visual dalam merangsang kepekaan anak--dan selanjutnya membangun kemampuan empati sebagai human being--mestilah menjadi salah satu sebab para pegiat gambar gerak beralih dari film bisu ke versi motion picture saat ini.

Kita perlu suara. Seperti gerakan pertobatan yang dimulai dari seruan Yohanes barangkali. Bahwa pada bagian berikutnya contoh dalam perbuatan menjadi penting, agar seperti Thomas yang melihat untuk percaya, seruan tetap dianggap sebagai awal gerakan.

Atas dasar itulah, kebiasaan mendongeng diharapkan menjadi agenda keluarga. Anak-anak diajak bergerak setelah mendengar. Tanpa memahami perintah (simple order) seperti ayo makan, tolong buang ini di tempat sampah, mari berhitung, anak-anak tentu sulit memulai. 

Beberapa gerakan (baca: tindakan, perbuatan) sangat mungkin terjadi karena inisiatif. Namun terdapat kecenderungan "tanpa batas" pada gerakan demikian. Berlari, melompat, memukul, dan beberapa lagi adalah hasil inisiatif (intuisi). Tanpa arahan--melalui suara, gerakan-gerakan itu akan cenderung (sebut saja) liar. Pada titik itulah perintah sederhana menjadi penting.

Mari kembali ke pendapat ahli tadi. Tentang audio yang lebih kuat dari visual. Hubungkan dengan kebiasaan mendongeng yang diharapkan menjadi agenda keluarga. Di mana irisan antar-keduanya terjadi?

Berdasarkan beberapa riset, diketahui bahwa stimulasi melalui dongeng akan mampu merangsang kepekaan anak usia 3-7 tahun terhadap berbagai situasi sosial. Anak-anak akan mampu belajar untuk lebih berempati pada lingkungan sekitarnya. Katakanlah, ketika mendengar kisah Gadis Korek Api, anak-anak akan belajar tentang perjuangan hidup, menolong sebelum terlambat, dan lain sebagainya.

Melalui dongeng dunia karya H.C. Andersen itu anak-anak akan membangun kerangka pikirnya dengan baik (karena melalui imajinasi tanpa batas). Perangsangan atau stimulasi visual melalui televisi atau game gambar gerak, meski mampu membangun kepandaian visual, dianggap tidak akan merangsang kepekaan perasaan dan empati anak.

Dengan pendengaran, dan melalui cerita-cerita yang mendidik, anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai positif dan berempati dengan orang lain.

Pada titik inilah dongeng menjadi fasilitas terbaik yang dapat digunakan orang tua. Pada dongeng, orang tua terhindar dari kewajiban mengajarkan atau menggurui. Nasihat pada anak tidak lagi berupa pewarisan teori-teori moral. Pembentukan karakter anak justru dilakukan melalui tokoh-tokoh dalam dongeng.

Bukankah akan sangat aneh jika kepada anak berusia empat tahun kita menjelaskan tentang dampak lingkungan akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan? Butuh usaha ekstra keras jika kita ingin melakukannya. Namun melalui dongeng, tokoh dongeng dapat kita ciptakan. Tentang seorang anak yang membuang semua sampah ke kali. Pada musim hujan, air sungai meluap. Kampung kebanjiran.

Pada saat mendongeng, anak-anak diberi kesempatan untuk membangun imajinasinya sendiri. Pada saat menyaksikan tayangan televisi, dunia imajinasi itu dikekang oleh yang disajikan di layar. Karena itulah dongeng menjadi sangat penting. Pada saat menuturkannya, pencerita atau pendongeng wajib memberi jeda atau pertanyaan yang merangsang atau menstimulasi daya pikir anak.

Baca juga:

Bagi anak, manfaat dongeng tentu tidak terbatas pada membangun imajinasi. Yang jauh lebih penting adalah, selama proses mendengar itu, anak-anak belajar menjadi lebih tenang, diam, mencermati perintah-perintah sederhana, dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Karena itulah, mendongeng sebaiknya dilakukan sebelum tidur, ketika anak-anak sudah lebih tenang. Kita tidak bisa mendongeng pada anak-anak yang sedang bermain. Tahap selanjutnya adalah pembiasaan. Dari dongeng sebelum tidur, menjadi dongeng yang terjadwal, dan ketika jadwal mendongen itu tiba, anak-anak menyiapkan dirinya agar menjadi lebih tenang.

Selanjutnya mari berharap bahwa, dalam ketenangan anak-anak membangun imajinasinya dengan baik sekaligus belajar membuat refleksi sederhana. Pertanyaan panduan orang tua sangat dibutuhkan.

Apa manfaat dongeng? Tulisan ini tidak ingin menyajikan poin per poin. Cerita di atas sengaja dibangun dalam pola narasi. Seperti dongeng. Selanjutnya kita membuat kesimpulan-kesimpulan.

Blog Ineame di Youtube:




Salam
Armin Bell
Ruteng - Flores

0 Komentar:

Posting Komentar