Analisis Cerpen Armin Bell - Lelaki dari Malaysia

Lelaki dari Malaysia adalah satu dari 16 cerpen yang ada di buku cerpen Perjalanan Mencari Ayam (Dusun Flobamora, 2018). Disiarkan pertama kali di Pos Kupang edisi Minggu, 31 Agustus 2014, dan 'dibaca' oleh Arie Putra.  Simak pembacaan Arie berikut ini. 
analisis cerpen armin bell lelaki dari malaysia
Arie Putra | Image: FB Arie Putra

Analisis Cerpen Armin Bell - Lelaki dari Malaysia


Oleh: Arie Putra

“Lelaki dari Malaysia” adalah judul cerita pendek yang ditulis oleh Armin Bell di Pos Kupang edisi Minggu, 31 Agustus 2014. Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki yang lama merantau di Malaysia meninggalkan istri dan anak semata wayangnya, Wella.

Gara-gara sebuah surat yang dikirimkan oleh istrinya perihal pernikahan Wella, dia pun pulang. Seperti biasa, setiap lelaki yang telah menjadi suami, lelaki itu membawa serta dari negeri Jiran sejumlah uang dan sejuta kisah: entah manis, entah pahit.

Di kampung halamannya, dia sibuk dengan pertanyaan yang ia bawa dari Jiran: mengapa berita tentang pernikahan Wella ditulis oleh istrinya dalam notabene? Ia menanti jawaban istrinya atas pertanyaan itu bak menanti hujan di musim kemarau.

Cerpen ini jadi menarik karena beberapa hal.

Pertama, Armin Bell mengungkapkan sebuah situasi sosial yang terjadi di dalam masyarakat nyata dalam ceritanya. Manggarai, yang menjadi latar tempat dari cerita ini merupakan salah satu kabupaten yang menjadi lumbung terbesar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia.
Tokoh utama cerita dalam imajinasi Armin Bell merupakan gambaran sosok yang benar-benar ada di dalam kenyataan. Mencari pekerjaan di luar negeri, terutama ke Malaysia demi menunjang kehidupan rumah tangga telah menjadi kebiasaan dari orang-orang Manggarai terutama yang telah beristri. 
Di muka kisah Armin menjelaskan tentang Malaysia itu: “Telah lama dia tak kembali ke tempat ini, sejak bertahun-tahun merantau ke Malaysia: tempat banyak lelaki mencari jawaban atas mimpi yang datang sejak mereka mengenal perempuan dan menjadikannya istri.”

Malaysia memang menjadi tempat mewujudkan mimpi-mimpi. Meskipun pada akhirnya tidak semua orang Manggarai yang merantau ke negeri jiran dapat membawa pulang mimpi indah yang dapat membahagiakan para istri.

Kedua, Armin Bell dengan apik mendeskrispisikan situasi diskriminatif yang dilakukan oleh masyarakat terhadap para perempuan yang ditinggalkan oleh suami mereka yang merantau ke Malaysia. Para istri kerap dipanggil Jamal: Janda Malaysia.

Armin dalam bagian lain cerita itu menuliskan: “Giliran istrinya yang bercerita tentang statusnya sebagai Janda Malaysia dan Wella yang menyantap sindiran, setelah makan pagi. Di sekolah, dirinya dipanggil anak janda oleh teman-temannya sembari tertawa. Anak-anak itu tak lebih baik pakaiannya. Benarlah sudah, selalu ada yang bahagia ketika yang lain tidak.”

Entah alasan apa yang berada di balik jargon Jamal yang menyakiti hari para istri ini. Sebutan Janda Malaysia tentu saja menjadi hal yang tidak mengenakkan para istri yang ditinggalkan oleh para suami yang merantau ke negeri jiran. Kata Jamal ini menjadi olokkan yang menyakitkan.

Ketiga, Armin Bell tidak sekedar menyampaikan kisah semata. Melalui cerita ini ia telah mengajak pembaca untuk menyusuri sebuah lorong refleksi. Sebuah frasa yang menandai hal ini yakni frasa: menanti hujan. Frasa ini dapat dikatakan sebagai kunci penceritaan. Di awal cerita Armin melukiskan tokoh utama yang menanti hujan pertama di halaman rumahnya. Kemudian di paragraf lain ia juga menuliskan kalimat ini: lelaki itu menanti hujan pertama.... Hujan tak kunjung turun.

Di bagian lain, ia ibaratkan frasa itu dengan istrinya. Demikian deskripsinya: Mengapa cerita tentang pernikahan Wella kau tulis di notabene? Akhirnya terungkap juga pertanyaan itu. Istrinya diam. Berlalu. Seperti awan yang menghilang tanpa datang hujan. Apakah sebenarnya ‘hujan’ itu?
Menanti hujan merupakan sebuah laku yang penuh harapan. Hujan memiliki unsur yang menghidupkan dan menyegarkan. Tokoh utama dalam cerpen Armin Bell Lelaki dari Malaysia tidak sekedar menanti hujan yang biasa, akan tetapi ia merindukan sebuah hujan yang dapat menyirami penantiannya. 
Kerinduan akan hujan telah menjadi kerinduan eksistensial setiap manusia. Tokoh utama cerita tidak mendapatkan hujan itu di negeri jiran, tidak pula di halaman rumah di kampung halamannya. Hujan itu perlu dinanti dengan rindu.

Di samping hal-hal di atas, di dalam cerpen ini Armin Bell membawa para pembaca kepada situasi kegetiran pada bagian menjelang akhir cerita. Pembaca setidaknya diberi harapan positif daripada disuguhi dengan keadaan fatalis. Dalam bayangan pembaca, kepulangan lelaki dari Malaysia dapat menyelesaikan soal pernikahan Wella yang tidak biasa. Namun, dalam cerita ini Marius tidak membela anaknya, yang ia tinggalkan saat sedang belajar bercerita.

Begitu pun dengan sang isteri. Nuansa fatalis terjadi ketika Marius bertanya tentang kebahagiaan kepadanya. Inilah adegannya:

Lelaki dari Malaysia: “Kau bahagia?”
Istri: “Hari ini? Kalau pertanyaan itu tentang hari ini, ya! Aku bahagia. Anakku akan segera menikah, kita akan punya cucu, sawah telah boleh digarap sendiri, dan kau ada di sini. Sepertinya aku adalah orang paling tidak bersyukur jika masih menyebut diriku tak bahagia.”

Tokoh utama cerita dan sang istri menerima begitu saja situasi yang mendera hidup mereka. Sebagai sosok ayah yang baik sebenarnya dia harus melakukan sesuatu untuk Wella yang telah dihamili tanpa pernikahan yang sah oleh anak kepala desa. Namun, keduanya terperangkap adat yang berlaku serta konsep kebahagiaan yang sempit. Tokoh utama dan isterinya memelihara benih yang buruk untuk Wella: menyerah pada nasib.

Akan tetapi, tidak semua cerita memang harus berakhir dengan kemenangan tokoh protagonis, kemenangan bagi yang berjuang. Cerpen Armin ini menjadi contohnya.

Akhirnya, apresiasi yang tinggi kuberikan kepada Armin Bell yang telah menulis cerita ini. Tentu saja cerita ini merupakan sebuah karya sastra yang ditulis oleh orang NTT dan mengandung nilai-nilai kehidupan, keindahan, dan kegunaan (dulce et utile) untuk semua pembaca yang membacanya. Sudah saatnya dunia sastra NTT berkisah tentang NTT. (*)

Arie Putra |
Adrianus Prima Putra. Lahir di Poka, 19 Mei 1991. Pernah belajar Filsafat di STFK Ledalero, selesai tahun 2015. Saat ini menetap di Labuan Bajo, Flores.

Catatan:
  • Tulisan ini disiarkan pertama kali di blog atapoka.blogspot.com, diunggah-kembali di ranalino.id atas persetujuan penulis.
  • Blog ini menerima resensi buku, cerpen, puisi, dan lain-lain. Informasi teknis pengiriman dapat dilihat laman contact.

0 Komentar:

Post a Comment