Mendidik Anak Menjadi Juara atau Menjadi Baik?

Setiap orang tua mestilah berharap agar anak-anak mereka berprestasi cemerlang. Masalahnya adalah, kita akan mendidi mereka menjadi juara atau menjadi baik?




Mendidik Anak Menjadi Juara atau Menjadi Baik?


Ruteng, 12 Agustus 2016

Sembari menikmati makan malam, kami ngobrol. Berdua saja. Rana dan Bapa. Bapa itu saya.


Lino, anak kami yang pertama, sudah tidur. Mama Celestin sedang ke luar kota. 
Saya lalu ditagih, bercerita tentang masa kecil.

Rana, sebagaimana anak-anak yang tak sering pergi ke hutan, selalu terkagum-kagum dengan kisah-kisah kampung; mencari kayu bakar, menanak nasi di tungku, berlari-lari di padang ilalang, atau mencuri gula merah yang disembunyikan Oma Yuli Rego. 

Matanya berbinar mendengar setiap bagian cerita dan tertawa pada babak Armin kecil mendapat sedikit sial karena lumayan nakal.

Malam ini saya ubah sudut pandangnya. Bahwa selain kegemaran mencuri gula merah, Ayahnya ini punya prestasi juga di masa kecil. Maka saya bilang: "Waktu SD dulu Bapa selalu juara." Rana tersenyum. Nah, kau lihat Ayahmu ini pernah keren, kan? Pikir saya dalam hati dengan sedikit bangga setelah menduga bahwa senyum perempuan kecil itu adalah tanda kagum. Tetapi meleset.

Setelah selesai dengan senyumannya, Rana bilang: "Bapa tidak kasihan dengan Bapa punya teman-teman?" Saya jawab tidak, dan tanya kenapa harus kasihan?

Rana menjawab, "Harusnya sesekali Bapa pura-pura tidak tahu, supaya Bapa punya teman yang juara. Biar mereka juga bisa senang."

Agak panjang obrolan kami setelahnya. Juga berisi bagian ketika saya berusaha menjelaskan bahwa juara kelas itu harus diperjuangkan semua pelajar, tidak harus dibagi-bagi seperti dia dan Mamanya yang kadang membawa sepiring nasi untuk seorang dengan gangguan jiwa yang biasa tidur malam di emperan toko dekat rumah kami.

Usaha yang sia-sia. Rana tetap tidak setuju. Mungkin kalau dia nanti SD, dia akan mengerti ketika saya menjelaskannya lagi. Otak diurus kemudian barangkali. Setelah hati.

Setelah semua urusan cerita tentang sang Ayah juara itu, saya berjuang memahami alur percakapan kami. 
Kira-kira begini:
Semua anak berhak bahagia. Kalau menjadi juara adalah kesempatan berbahagia lebih sekali dalam setahun, semua anak berhak mendapatkannya. Tidak boleh ada monopoli juara.

Begitu? Mungkin begitu. Kita bicarakan itu nanti.

Saya lalu ingat bahwa saya sering bilang: ketika dunia telah penuh orang pintar (atau merasa mereka pintar), anak-anak sebaiknya disiapkan menjadi orang baik. (*)

Tulisan ini sebelumnya disiarkan di Blog Ineame. Blog itu terpaksa ditutup sebab pengelolaannya tidak berjalan sesuai rencana dan kini sebagian besar materinya dipindahkan ke ranalino.id.

2 komentar: