Cerpen Yeris Meka - Menjelang Panen

Ini adalah cerpen kedua Yeris Meka di ranalino.id. Sama seperti cerpen pertamanya yang berjudul Orang Asing, Yeris dengan lembut mengangkat kisah-kisah kampung dalam cerpen-cerpennya. Kali ini tentang petani yang menunggu waktu panen. Selamat menikmati.
cerpen yeris meka menjelang panen
Yeris Meka

Cerpen Yeris Meka - Menjelang Panen


Oleh: Yeris Meka

Cuaca tidak tentu. Musim panen sebentar lagi. Hujan masih giat berkunjung. Petani mengeluh. Bapak juga. Salah hitung, bulir padi bisa kembali berbaur lumpur.

“Kerja setengah mati, tetap hasilnya alam yang tentukan.” Keluh Bapak suatu petang. Kami sedang menghalau pipit. Tangannya membetulkan atap dangau tempat kami berteduh. Berkali-kali ia membuang napas bercampur bau kretek dari paru-paru. Keningnya mengerut ketika melakukan itu. Gerimis masih mengepung.

Jadi petani, tak perlu kau pintar-pintar ilmu hitung. Tak ada guna rumus-rumus di sini.  Pandai-pandai saja kau baca alam.” Bapak tekun melafalkan nasihat. Saya setia mendengar. Entah untuk keberapa kalinya. Nasihat yang sering diutarakan kakek semasa hidupnya dulu, yang juga memantrai Bapak memilih jalan. Antara sawah dan sekolah. “Kau lihat sudah! Kalau tidak sekolah macam begini ini!” kata Bapak lagi. Saya beruntung. Bapak bukan Kakek. Ia masih mengingatkan saya untuk tetap sekolah.

Bapak lebih kelihatan cemasnya belakangan ini. Masa panen ternyata lebih menguras pikiran dan tenaga dibanding masa tanam.
Bila hujan terus mengguyur, pipit dan tikus tiada ampun mencukur padi. Lebih parah lagi bila sawah tetangga sudah dipanen, maka tiada tempat kami berbagi hama. Burung pipit, bisa beratus-ratus jumlahnya menggunduli sawah. Di mana saja mereka hinggap.
Risau berkubang di kepala menular ke hati seperti flu. Untuk itu, memaki pun kami tak boleh. “Pamali! Bisa tuntas padi dalam semalam.” Kata Bapak ketika sekali saya muntahkan kesal.

“Sisakan kami!” Bapak sering melafalkan dua kata ini setengah berbisik. Saya mendengarnya sebagai permohonan. Bukan kepada Tuhan. Lebih seperti hamba mengharap belas kasih tuannya yang sedang berpesta dengan liarnya.

Saya heran. Bapak mestinya marah. Heran. Bagaimana mungkin doa-doa yang sudah diujudkan di Gereja, juga pada misa syukur panen, tidak menjadi ampuh untuk keadaan-keadaan ini?

******

“Harus pintar-pintar baca alam!” Berkali-kali Bapak melesatkan pesannya. Lebih untuk mengingatkan dirinya sendiri. Ini pelajaran berat untuk saya. Kata Bapak, kami hanya perlu terbiasa. Pengalaman lebih mengasah dari buku pelajaran.

Pernah beberapa kali setelah padi dikumpulkan di lumbung, berita kematian datang bertubi-tubi. Juga hajat perkawinan. Sebagaimana adat di kampung ini, kami turut juga ke sana. Padi selumbung habis sebelum masa tanam tiba. Dikuras hajat ke hajat. Itu membuat Bapak sibuk mencari cara supaya Ibu tetap bisa menanak nasi untuk kami.

Bapak menjadi tukang batu, kerja serabutan sambil menunggu masa tanam yang tertunda karena kemarau terlampau panjang.

“Lebih baik jadi orang rantau,” kata Ibu menghamburkan sesak di hatinya suatu malam. Bapak meliriknya sebentar, tersenyum lalu geleng-geleng kepala. Ia mengerti wanita yang telah menjadi Ibu kami sudah menabung resah cukup lama.

Saya mengerti suatu waktu kelak setelah menjadi orang rantau. Potret bentangan sawah yang menguning, juga bocah penghalau pipit bermain seruling, sekadar pemandangan yang memanjakan mata. Panen yang melimpah tak bisa diukur dari sana. Pemandangan tak akan bikin perut kenyang.

Ai? Sudah cukup Bapak memberi pelajaran. Jadi petani cukuplah berat, bertahan ketika darah disesap lintah sawah. Biar terik meruncing, tetap meluku dan mencincang lumpur. Urusan mengeluh sakit punggung, lalu padi diserang hama dan kutu, bisa dicicil di hari-hari yang masih menungggu.

Selesai

  • Ranalino.ID adalah blog yang dikelola independen, berisi catatan tentang Public Speaking, Jurnalistik, Creative Writing, Sastra, Traveling, Ruteng, Flores, Menjadi Blogger, Blogger Ruteng, dan hal-hal menarik lainnya. 
  • Anda bisa bergabung dan berbagi cerita di blog ini. Lihat laman Contact untuk informasi selengkapnya.

2 comments: