Cerita Rana - Petir

Kami percaya, ada ribuan bahkan lebih cerita di kepala anak. Rana belum genap tujuh tahun ketika pada cerita ini dia menghubungkan petir dengan Tuhan, Tuhan dengan dosa, dosa dengan dendam, dan dendam dengan leraiannya. Cerita yang dikarang anak-anak mendapat tempat besar di Ineame - Blog Keluarga Indonesia.
Proses menyunting cerita anak dilakukan dengan cara mengusulkan perbaikan atau memberi pertanyaan-pertanyaan pancingan sambil menjelaskan versi yang tepat dengan bahasa yang tepat dan tidak menyinggung perasaan anak
 

cerita rana petir
Catatan Rana: Jangan Takut!

Cerita Rana - Petir


Oleh: Rana Maria Bellarmin

Setiap kali hujan, pasti ada petir. Setiap kali aku mendengarnya, aku mulai berpikir, apakah itu adalah kemarahan dari Tuhan? Aku berpikir mungkin Tuhan marah karena ada banyak orang berdosa. Misalnya, ada yang memaki temannya karena temannya itu mengolok-oloknya.

Jadi, caranya membalas dendam adalah dengan memaki. Lalu ada juga pencuri anak yang berkeliaran pada malam hari. Mungkinkah pencuri mau membalas dendam pada teman kantornya karena teman kantornya itu memberitahu rahasia terbesarnya yang membuat dia dimarahi bosnya?

Jadi balas dendamnya adalah dengan menjadi pencuri anak-anak supaya dia bisa mencuri anak temannya itu.

Lalu ada lagi yang seperti ini:

Ada tiga anak laki-laki bermain bola. Lalu ada teman mereka berkata, "Oh, menyebalkan sekali. Kalian tidak tahu cara bermain bola, ya? Biar aku tunjukkan!" Lalu anak itu memberi contoh kemudian berkata: "Begitu caranya!"

Tetapi saat melihat teman-temannya, mereka menghilang. Dia pun berkata, "Penakut!" Ternyata, teman-temannya itu berada di belakangnya. Dan, mereka mengagetkannya. "BUUUUU!"

Dia pun berteriak. "AAAAA... Kalian ini. Lihat saja besok. Aku akan balas dendam!" Aku akan mencuri barang-barang sekolah mereka, katanya dalam hati.

Ternyata semua itu tidaklah benar.

Memang. Hujan datang bersama petir. Tetapi bukanlah kemarahan Tuhan. Jadi sekarang, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita harus tenang dan tetap berada di dalam rumah ketika hujan turun dan petir datang. Karena petir masih bisa membuat kecelakaan.

Ruteng, 21 November 2017

Rana | Lahir di Ruteng tahun 2010.


***

Tentang Membiasakan Anak Bercerita (Dua)

Bagian pertama bisa dibaca di sini!

Bagaimana anak-anak dapat menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain--yang sangat berjauhan temanya--dalam satu cerita? Saya tidak tahu.

Tetapi berdasarkan pengalaman mendampingi Rana 'menemukan bahasanya sendiri', saya menduga, dunia referensi anak akan berkembang berdasarkan pengalaman lapangan dan jumlah cerita yang dibacakan orang tuanya. Mestilah begitu.

Dalam cerita petir misalnya, ada dua referensi yang berasal dari dua sumber berbeda.

Pertama, pengalaman lapangan tentang petir berasal dari langit. Setiap anak (apalagi yang tinggal di Ruteng, Flores) pasti pernah menyaksikannya sambaran kilat sebelum gemuruh guntur. Petir berbahaya. Kalau tidak berbahaya mengapa banyak orang menutup telinga atau mencari tempat berlindung saat petir datang?

Kedua, cerita sebelum tidur tentang tempat Tuhan berada. Tuhan di tempat tinggi. Di atas langit. Dalam cerita itu dituturkan bahwa Tuhan tidak senang apabila orang berbuat dosa.

Berdasarkan dua referensi itu, maka kita melihat kalimat ini dalam cerita: "Setiap kali aku mendengarnya, aku mulai berpikir, apakah itu adalah kemarahan dari Tuhan?"

Ini dugaan saya saja. Bahwa ternyata ada hal lain yang membuat seorang anak mampu menghubungkan petir, Tuhan, dosa, main bola, dendam, menculik anak, dan lain sebagainya, saya percaya bahwa kepala anak-anak berisi ribuan cerita.

Tugas orang tua adalah mendengar mereka bercerita. Sesekali bertanya agar mereka bisa membuat jembatan sendiri--dan masuk akal--dari bagian satu ke bagian lainnya.

Proses menyunting cerita anak dilakukan dengan cara mengusulkan perbaikan atau memberi pertanyaan-pertanyaan pancingan sambil menjelaskan versi yang tepat dengan bahasa yang tepat dan tidak menyinggung perasaan anak.

Jika anak-anak Anda gemar bercerita, tuliskan. Kirimkan ke alamat kami. Proses penyuntingan akan dilakukan seperlunya. (*/rlid)

#ceritaanak #blogkeluargaindonesia

0 Komentar:

Posting Komentar