Media Massa Daring dan Masalah Akut Bernama Penyuntingan

Kita wajib bertepuk tangan menggelegar membahana hingga ke ujung dunia karena perkembangan teknologi informasi berhasil menumbuhkan ribuan (lebih?) pegiat jurnalistik online. Kelompok ini pada bagian selanjutnya akan disebut (atau masuk dalam) media massa daring.
Perhatikan kalimat terakhir. Frasa "semangat kerinduan" menunjukkan subyektivitas penulis, sesuatu yang tidak dibenarkan dalam karya atau produk jurnalistik bernama berita (news) | Image dari fb page "Mereka Perlu Editor"

Media Massa Daring dan Masalah Akut Bernama Penyuntingan


Ada yang belum tahu media massa daring? Media massa tentu sudah tahu. Tetapi daring? Apakah berarti kekasih? Oh, daring. Please come back to me. Hmmm... Kalau ada yang menduga demikian tentang daring, mereka adalah anggota kelompok baper yang gagal move on dan tidak tahu bahwa kesayangan mereka itu darling.

Lalau apa sebenarnya daring itu? Daring adalah kata yang cocok untuk menanyakan asal seseorang. Kau berasal daring mana? Halaaaah... Itu juga salah. Yang benar, daring adalah akronim dari dalam jaringan. Dalam jaringan itu adalah bahasa Indonesia untuk online yang berarti aktivitas yang kita lakukan di internet; berselancar, mencari, kepo.

Kalau kalian tanya kenapa Saykoji tidak memakai daring untuk lagunya, jawabannya adalah karena secara rima, dia tir cocok. Bayangkan si Igor itu pakai kacamata hitam, terus nyanyi: aku daring, daring, daring, daring. Garing sekali, bukan? Barangkali akan ada yang protes kenapa Igor daring sambil goyang dan bukannya daring di tempat tidur. Eh, itu baring. *smile.

Baca juga: Jurnalistik Dasar: Media Massa 1

Sekarang mari kita bersama menyimak bagian utama tulisan ini. Tentang media massa dalam jaringan dan masalah akut mereka yang bernama penyuntingan.

Dalam dunia jurnalistik, ada tahapan-tahapan yang wajib dilalui sebelum produknya berupa berita (news) atau opini (views) boleh dinikmati publik atau khalayak. Beberapa di antaranya adalah rapat redaksi untuk menentukan agenda setting, pekerjaan peliputan atau reportase, penulisan, dan yang terakhir bernama penyuntingan.

Tulisan ini tidak akan mengutak-atik beberapa bagian awal di atas tetapi menitikberatkan perhatiannya (cie cieee, ini istila e aeh) pada soal penyuntingan. Paling tidak ada dua hal yang wajib diperhatikan di bagian yang biasanya dikerjakan oleh redaktur atau editor ini.

Pertama, penyuntingan isi. Ini berurusan dengan kesesuaian fakta dengan laporan (tertulis atau lisan) reporter. Bagian ini juga dipakai untuk memastikan kelengkapan/keseuaian reportase dengan ayat suci bernama 5W+1H. Redaktur wajib menanyakan reporternya tentang kejelasan narasumber, tanggal dan tempat kejadian, dan lain-lain. Ini penting agar produk jurnalistik yang muncul tidak menimbulkan pertanyaan seperti: ini kapan, di mana, siapa yang omong, dan lain-lain.
Jika itu adalah berita, redaktur wajib menghapus bagian-bagian yang berisi opini wartawannya. Frasa seperti cuaca yang dingin menggigit pada produk feature misalnya, harus diganti dengan informasi derajat celcius. Berlaku juga untuk kata sedih, gembira, semangat kerinduan; ganti dengan deskripsi suasana lapangan seperti menangis, bertepuk tangan, berteriak mengelu-elukan.
Kedua, penyuntingan bahasa. Urusan bagian ini adalah pada kesesuaian penulisan dengan aturan tata bahasa yang berlaku, baik dan benar. Dan persis bagian inilah yang jadi masalah kita bersama di era jurnalisme digital ini.

Dengan alasan kurangnya waktu karena desakan deadline yang berjarak detik ke detik, bertebaranlah berita-berita yang abai aturan tata bahasa yang baik dan benar. Ada banyak contoh tetapi saya memadatkannya dalam lima kesalahan paling fatal di media massa daring.

Lima Kesalahan Paling Fatal di Media Massa Daring


Menulis "Di"

"Di" sebagai kata depan harus ditulis terpisah. "Di" sebagai awalan ditulis sambung atau dilekatkan pada kata yang mengikutinya. Harusnya begitu. Tetapi yang terjadi adalah begitu banyak "di" yang ditulis semena-mena. Contoh: Dimana nasi itu di masak? Diperiuk. Gosh...! Itu salah? IYAAAAA! Yang benar adalah: Di mana nasi itu ditanak? Di dapur. Lagi pula, apa pentingnya pertanyaan ini? Eh...

Menambah "H"

Ini penyakit yang entah muncul dari mana. Barangkali agar terdengar seksi, banyak orang menambah huruf "h" pada kata-kata tertentu. Contoh: Dibawahnya sekuntum mawar merah sebagai tanda cintah ah ah ah. Masing beruntung dia tidak menghapus huruf itu dari kata merah. Mawar mera. Aduh!

Penulisan yang benar adalah: Dibawanya sekuntum mawar merah sebagai tanda cinta. Pada kalimat ini, "di" dilekatkan. "Di" dapat ditulis terpisah jika kalimatnya adalah: Di bawahnya ada sekuntum mawar merah; dengan catatan "nya" dipakai menjelaskan benda lain pada kalimat sebelumnya.

Sufiks "-kan"

Ini juga kerap keliru terutama pada kata-kata yang huruf terakhirnya adalah "k". Ada banyak kasus di mana para jurnalis hanya menulis satu "k". Contoh: Konser itu disemarakan oleh goyang heboh calon gubernur.

Ada dua kesalahan pada kalimat ini. Kesalahan pertama adalah pada kata disemarakan. Seharusnya ditulis: disemarakkan. Kesalahan kedua adalah pada calon gubernur itu. Kenapa dia bergoyang heboh? Halaaaah...

Kata yang Salah

Bertebaran. Para editor bahasa di berbagai media massa daring seharusnya dibekali Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau tidak bisa beli, bisa diunduh gratis dari play store (sekarang tersedia edisi V) sehingga para pembaca tidak berjumpa dengan kata-kata seperti hawatir (yang benar: khawatir), iklas (yang benar: ikhlas), nasehat (yang benar: nasihat), nafas (yang benar: napas), dan lain-lain.

Kata Serapan

Dalam bahasa Indonesia ada banyak kosakata serapan; kata-kata yang diambil dari bahasa lain (asing, lokal). Misalnya kata "komitmen". Kata ini adalah kata benda yang berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak.

Dalam penggunaannya, beberapa jurnalis menulis kata ini dalam posisi sebagai kata kerja. Misalnya: Dia sudah komitmen. Ini jelas salah karena seharusnya diawali dengan kata membuat atau prefiks pembentuk verba "ber-". Ah, ini teknis sekali. Tetapi memang harus begitu, bukan?

Lihat juga: Inilah Empat Kesalahan Dasar Media Massa Indonesia

Lima kasus di atas adalah sedikit di antara ribuan kekeliruan yang kerap ditemukan pada media massa daring. Tentu saja media massa konvensional juga melakukannya tetapi karena literasi digital berkembang sangat pesat, maka sorot perhatian saya mengarah pada para editor online mass media.

Jika mereka tidak segera berbenah maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, facebook fanpage Mereka Perlu Editor akan berkembang luar biasa, dan kedua, jutaan "generasi internet" akan terjebak pada kesalahan yang sama. Betapa sedih. Sedih, ya. Bukan sedi. Apalagi sepi. Itu urusannya lain.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

4 comments:

  1. Sepertinya beberapa media massa daring tidak pakai jasa editor, Pak Armin. Guru bahasa Indonesia hrs kerja keras utk meluruskan 'jebakan batman' media sosial dan media massa daring. Kalau tidak generasi internet akan terjebak trs.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama, betapa menyedihkan kondisi media massa tanpa editor. Kedua, tugas 'penyelematan" ini harus dilakukan bersama :-D

      Delete
  2. Itu yg paling pas e, Pak Armin. Jadi tugas bersama. Saya coba mulai dengan berusaha mengirim sms atau memberikan komentar dengan penggunaan tanda baca maupun kalimat yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Semakin banyak pihak yang menaruh perhatian, perbaikan pasti semakin cepat. Tabe.

      Delete