Ivan Nestorman: Budaya Kita, Masa Depan Kita

Ivan Nestorman sedang dalam perjalanan keliling NTT. Dia mengusung tagline "Budaya Kita, Masa Depan Kita". Di Ruteng, saya menemukan sisi Ivan yang luput dari perhatian saya sebagai penggemar selama ini. Sebut saja ini adalah pengenalan terbarukan yang saya rasakan tentang pria bernama lengkap Flavianus Nestor Embun ini.
ivan nestorman budaya kita masa depan kita
Ivan Nestorman, Trie Utami, dan Ramlan Ponggo di Toto Kopi, Ruteng | Foto: FB Kaka Ited

Ivan Nestorman: Budaya Kita, Masa Depan Kita


Di luar apa pun yang sedang ingin dibangun, acara di Toto Kopi pada malam itu berjalan baik sekali. Tata acaranya menarik, mulai dari launching tempat usaha yang dikelola Jeli Jehaut (MM Mini Mart, Toto Kopi, Pertamini), sampai pada saat Flavianus Nestor Embun a.k.a Ivan Nestorman mengambil alih panggung dan menyerap perhatian ratusan audiens yang hadir.

Ada dua tagar (hashtag) yang ramai pada acara yang berlangsung mulai pukul 16.00 Wita tanggal 28 Februari 2018 itu. Pertama, #totokopi dan kedua, #budayakitamasadepankita. Tentang Toto Kopi, sekilas tentangnya akan hadir di bagian akhir. Saya ingin memulai catatan ini dengan Ivan Nestorman.

Ivan Nestorman telah lama dikenal sebagai artis penyanyi asal Manggarai yang karya-karya lagunya sebagian besar ditulis dalam bahasa Manggarai. Ada juga dalam bahasa daerah lain di Flores, termasuk yang sedang hits adalah "Mogi".

Atas kerja panjang dan penuh dedikasi itu, dia kemudian menyandang predikat musisi neo tradisi. Musik neo tradisi sendiri kira-kira didefinisikan sebagai musik yang berbasis kekayaan tradisi nusantara yang dimainkan dengan sentuhan alat musik dan aransemen modern (neo).

Maka penikmat musik jenis ini akan mendengar lagu jazz, blues, pop, atau genre lainnya yang mengandung atau nuansa tradisi di dalamnya, baik gerak nada, intonasi vokal, instrumen, maupun lirik.

Baca juga: Ivan Nestorman, Lagu Mogi, Award, dan Musik Neo Tradisi

Mengapa Neo Tradisi?


Dalam sebuah wawancara Ivan menjelaskan bahwa neo tradisi adalah musik seni tradisi yang terbarukan; ekspresi kontemporer: tetap menjaga motif tradisi musik, sedangkan penyampaian motif itu sendiri bisa dengan instrumentasi tradisi bisa juga instrumentasi modern. Tujuannya? Musik (baca: tradisi) itu menjadi ramah telinga (baca: percakapan).

Jalur neo tradisi membawa Flavianus Nestor Embun ini ke berbagai negara. Ivan Nestorman melalang buana ke banyak festival musik di pelbagai benua, mempromosikan budaya Indonesia ke dunia internasional, bercerita tentang komodo, sasando, dan lain-lain.
Di mana saja bermain, Ivan memakai hasil karya tenun dari semua daerah di NTT. Cara yang unik sekaligus hebat--tak banyak dipikirkan atau dilakukan--yang dipakai untuk menyadarkan semua orang tentang kebudayaan melalui musik.
Kebudayaan atau produk kebudayaan tentu saja tidak semata lagu-lagu dalam bahasa daerah. Ada sangat banyak hal di dalamnya, termasuk karya-karya seni kerajinan, etos kerja, gaya hidup, pola interaksi dan lain-lain, yang pada tahap selanjutnya membentuk identitas.

Pada sisi yang lain, kebudayaan dapatlah disebut sebagai material/bahan dasar yang membentuk tatanan hidup bermasyarakat, termasuk di dalamnya hidup yang gemah ripah loh jinawi, sejahtera, adil, makmur, aman, sentosa bla bla bla.

Artinya, jika visi kita adalah hidup yang makmur tadi maka benarlah sudah kalau Flavianus Nestor Embun a.k.a Ivan Nestorman ini berusaha meyakinkan semua orang bahwa: Budaya Kita, Masa Depan Kita. Waduuuh... kenapa saya baru sadar? Sebenarnya bukan baru sadar. Saya sadar sudah lama. Tetapi sumber kesadarannya, ya, Mr. Nestor itu.

Dalam sebuah obrolan beberapa waktu silam, Ivan Nestorman menjelaskan visi pribadinya itu. Lengkap dengan paparan yang sangat menarik. Min, ke depan, budaya itu harus dihidupkan karena akan menghidupkan. Begitu kira-kira yang saya tangkap saat itu.

Maka sebagai orang yang senang pakai Songke Manggarai ke mana-mana, saya bersemangat sekali ke Toto Kopi dan menyaksikan Ivan menyampaikan pokok pikiran ke ini ke ratusan orang yang hadir. Saya ingin mendengar lagi penjelasannya tentang budaya itu.

Tetapi malam itu saya mendapat lebih. Ivan tidak hanya bicara tentang budaya sebagai masa depan dalam tataran konsep besar, tetapi juga menarikturun konsep itu pada level praktis; ekonomi kreatif dalam perspektif pelaku.

A ha... ini dia. Ivan Nestorman barangkali adalah jembatan terbaik untuk siapa saja yang ingin sampai ke sana. Tapi analogi jembatan mungkin tidak tepat karena kita tidak bisa melindas Flavianus, bukan? Contoh. Ya, 'contoh' barangkali adalah kata yang tepat. Mr. Nestor adalah contoh hidup bagaimana kebudayaan "disulap" dengan sentuhan energi kreatif dan berujung hidup yang gemah ripah loh jinawi itu.

Dua puluh lima tahun memilih bermusik dengan mengedepankan unsur musik NTT dalam nada dan lirik--kemudian dirumuskan sebagai musik neo tradisi--Ivan telah mencapai taraf (dan terutama kepuasan) hidup yang didambakan banyak orang; tokoh panutan, idola, inspirator, influencer. Ini orang memang orang betul e aeh.

Tetapi Flavianus tidak hanya memikirkan usaha promosi kebudayaan NTT ke pentas internasional. Kepada kami yang hadir di pelataran Gedung Maria Moe malam itu, dia bercerita tentang isu kemanusiaan. Cerita itu mengantar kami (atau hanya saya?) pada sisi Ivan Nestorman yang lain.

He is no ordinary artist. Bukan seniman biasa. Bukan orang yang hanya menjual kebudayaan NTT untuk kepentingan kesejahteraan pribadi. Dia mencintai tanah ini dan berusaha ikut mengurai soal-soal yang membelit, mengungkung, dan membuat daerah ini sering menangis.

Saya, dan saya pikir hampir semua yang datang, terharu mendengar ceritanya tentang human trafficking, kegelisahannya tentang perdagangan orang. "Saya melihat sendiri, mendengar cerita-cerita para TKI yang saya jumpai di Hongkong, mengetahui proses perekrutan yang tidak baik, dan saya berpikir hal ini harus segera dihentikan. Kita harus berkampanye bersama menghentikan ini," cerita.

Sebagai seniman, Ivan Nestorman memilih jalur yang dia pahami itu untuk menyerukan anti perdagangan orang. Dia membuat sejumlah lagu yang kemudian terkumpul dalam album "Mama Lekas Pulang" yang beberapa di antaranya dinyanyikan dan membuat semua yang hadir malam itu larut dalam suasana haru. "Lagu-lagu seperti itu hanya dapat diciptakan oleh orang yang memiliki empati yang tinggi," kata Marcelus Ungkang, teman saya yang mengajar sastra di STKIP St. Paulus Ruteng itu.

Tentu saja saya sependapat dengan Njeuk. Seperti juga saya sependapat dengan Jeli Jehaut, pemilik Toto Kopi yang melihat Ivan sebagai tokoh yang konsisten. "Yang saya lihat dari Ka Ivan adalah bahwa konsistensi akan membawa kita ke level lain yang kita harapkan. Itu yang saya ambil sehingga saya mendirikan usaha ini. Menjadi orang yang bekerja dengan passion," kata Bapanya Erich ini.

Baca juga: Orang Manggarai Harus Tahu Tentang Pekosamaraga

Flavinus Nestor Embun, Identitas yang Terbarukan


Kalau ada yang bertanya bagaimana Flavianus Nestor Embun a.k.a Ivan Nestorman di mata saya, sejak tadi malam saya mengenalnya sebagai orang yang mencintai NTT dan mau melakukan apa saja yang dia ketahui untuk daerah ini.

Ini pengenalan atau identitas terbarukan barangkali. Selama ini saya mengenalnya sebagai (hanya sebagai) seniman yang membuat musik-musik yang sa suka matipunya, tokoh yang membuat musik tujuh per delapan menjadi begitu ramah telinga dan pinggul, musisi asal NTT yang berhasil menembus pasar internasional.

Tetapi mendengarnya bercerita di Toto Kopi malam ini, tiba-tiba saya melihat Ivan Nestorman sebagai pribadi yang lebih besar. More than just an artist, Ivan itu tokoh!

Atas identitas atau pengenalan terbarukan itu--termasuk rasa haru yang belum selesai setelah saya mendengar beberapa lagu di album "Mama Lekas Pulang", saya pikir Ivan Nestorman harus ditempatkan pada top of mind semua orang jika mereka terlibat dalam percakapan tentang budaya, NTT, ekonomi kreatif, isu-isu kemanusiaan, dan karya.

Apa saja yang sedang Flavianus Nestor Embun rencanakan saat ini untuk visi besarnya, saya percaya, dia adalah orang yang tepat untuk mewujudkannya; seperti kita juga adalah orang yang tepat untuk mimpi-mimpi kita. Orang-orang yang tepat tentu saja akan saling dukung. Harusnya begitu. Atau?

Trie Utami bisik ke saya malam itu. "Min, Ivan itu hebat." Lalu kami minum sopi, eh, kopi yang enak. Malam yang menyenangkan.

Trie Utami itu bilang, "Min, Ivan itu hebat." | Foto: Tommy
Yup! Selain bahwa kami semua menyaksikan penampilan Trie Utama yang selama ini hanya kami lihat di televisi atau melalui album-album Krakatau, saya juga senang karena seniman-seniman muda Ruteng juga ada di sana (lihat video di bagian akhir catatan ini). Pasukan Saeh Go Lino tentu saja hadir dan turut berpartisipasi di sana.

Ada Claudia Febriany Djenadut sebagai MC, dan Etind Damon bersama Cesilliana Putry menarikan salah satu karya Saeh Go Lino yang menginterpretasi karya Ivan Nestorman "Ce Ce Ce" di album Legacy. Pasukan Saeh Go Lino yang lain juga duduk rapi dan belajar sesuatu dari Flavianus Nestor Embun yang biasa mereka panggil Om Ivan ini.

Di akhir catatan ini, saya ingin menyampaikan selamat kepada Jeli Jehaut yang terjun ke dunia wirausaha dengan sukacita dan menjadikan Gedung Maria Moe di Jalan Arabika menjadi salah satu sentra wirausaha sekaligus tempat berkunjung yang baik di Ruteng. Itu hebat!


Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ps: Tentang Toto Kopi akan saya ceritakan pada bagian lain, bersama dengan meluncurnya seri tentang tempat-tempat nongkrong yang baik di Kota Ruteng yang menyenangkan ini. Ayo ke Ruteng. Kota ini menyenangkan.


Video: Igen Marley dari Studio One dan Pepet Ngadut dari Komunitas Kuni Agu Kalo membawakan lagu "Indonesia", salah satu track di album "Mama Lekas Pulang" karya Ivan Nestorman.


Video by: Kaka Ited


2 comments:

  1. Perjalanan panjang karir Om Ivan luar biasa e, Pak Armin! Just like 'from zero to hero' journey... kami di Borong kemarin nonton mini konser beliau dengan rasa bangga. Ternyata bahasa Manggarai indah ya! Rasa malu saya terbit seketika karna sampai hari ini tak satu pun lagu Manggarai yg saya hafal. Btw.. fotonya bagus2..Salut utk Ranalino yg menulis ttg ini.Mudah2an banyak yg baca.. Last but not least, totokopi keren!Bikin Ruteng makin hidup sj.. dan kami makin rindu pulang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. A ha... terima kasih sudah mampir dan menyimak. Senang karena sekarang ka Ivan bergerak di zona terbaiknya untuk menyuarakan soal-soal publik. Yes. Toto Kopi keren. Infonya akan hadir di ranalino beberapa waktu ke depan.

      Delete